Anda di halaman 1dari 8

RMK SAP 4

Akuntansi Manajemen
Activity-Based Management
Dosen : Dr. I Ketut Sujana, SE., Ak., M.Si., CA

Nama Kelompok :

Ni Komang Sri Cristi Okta Dewi (1707531149)

Ida Ayu Sinta Mahadewi (1707531151)

Program Studi Akuntansi


Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Udayana
2019
I. Konsep Activity-Based Management
Activity-Based Management (ABM) adalah suatu pendekatan di seluruh sistem dan
terintegrasi, yang memfokuskan perhatian manajemen pada berbagai aktivitas, dengan tujuan
meningkatkan nilai untuk pelanggan dan laba sebagai hasilnya. (Hansen dan Mowen, 2006:11)
Activity Based Management (ABM) merupakan suatu konsep yang mengerahkan
perhatian pada konsumsi sumber daya terhadap aktivitas yang dilakukan oleh suatu
perusahaan, sehingga untuk dapat mengetahui bagaimana suatu perusahaan menggunakan
sumber dayanya, maka terlebih dahulu haruslah dipahami mengenai aktivitas-aktivitas apa
saja yang telah terjadi didalam perusahaan tersebut. Aktivitas-aktivitas tersebut merupakan
aktivitas yang telah mengkonsumsi sumber daya melalui pengidentifikasian pemicu
biayanya dimana biaya-biaya ini timbul karena dilaksanakannya aktivitas-aktivitas
tersebut.
Activity Based Management (ABM) adalah pengembangan sistem, pendekatan
terintegrasi dengan pehatian berfokus pada kegiatan manajemen dengan tujuan
meningkatkan nilai pelanggan dan meningkatkan keuntungan yang dicapai. Activity based
costing adalah sumber informasi utama untuk sistem activity based management. ABM
mempunyai dua dimensi yaitu:
1) Dimensi Biaya
Dimensi biaya adalah dimensi ABM yang memberikan informasi biaya mengenai
sumber, aktivitas, produk, dan pelanggan. Dimensi biaya ini bertujuan untuk memperbaiki
keakuratan pembebanan biaya. Sumber biaya ditelusuri pada aktivitas dan kemudian biaya
dibebankan pada produk dan pelanggan.
Dimensi biaya atau dimensi Activity-Based Costing (ABC), didasarkan pada ABC
generasi kedua yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari ABC generasi pertama. ABC
generasi pertama adalah sistem penentuan biaya produk yang terdiri atas dua tahap yaitu: (1)
melacak biaya pada berbagai aktivitas, dan (2) membebankan biaya pada produk.
2) Dimensi Proses
Dimensi proses atau analisis nilai proses adalah dimensi ABM yang memberikan
informasi tentang aktivitas apa yang dikerjakan, mengapa dikerjakan dan seberapa baik
dikerjakannya. Tujuan dimensi proses adalah pengurangan biaya. Dimensi inilah yang
memberikan kemampuan untuk mengukur perbaikan berkelanjutan.
Dimensi proses adalah dimensi model ABM yang berisi informasi kinerja mengenai
pekerjaan yang dilaksanakan dalam organisasi sehingga mencakup: (a) analisis penyebab biaya,
(b) analisis aktivitas-aktivitas, dan (c) evaluasi kinerja dengan menggunakan informasi dari
ABC. Dimensi proses menyediakan informasi mengenai pekerjaan yang dilakukan dalam suatu
aktivitas dan hubungan antara pekerjaan tersebut dengan aktivitas lainnya. Proses adalah
serangkaian aktivitas yang terkait untuk melaksanakan tujuan tertentu.

1
II. Hubungan antara Activity Based Costing (ABC) dan Activity Based Management
(ABM)
Activity Based Costing adalah metode pembebanan aktivitas-aktivitas berdasarkan
besarnya pemakaian sumber daya, dan membebankan biaya pada objek biaya, seperti
produk atau pelanggan, berdasarkan besarnya aktivitas, serta untuk mengukur biaya dan
kinerja dari aktivitas yang terkait dengan proses dan objek biaya. Pengertian mendasar dari
sistem ABC adalah adanya analisa terhadap keseluruhan aktivitas-aktivitas yang bertujuan
untuk mengidentifikasi adanya hal-hal sebagai berikut :
1. Aktivitas yang ada dalam tiap-tiap dapartemen dan sebab timbulnya aktivitas
2. Dalam kondisi yang bagaimana setiap aktivitas tersebut dilaksanakan.
3. Bagaimana frekuensi masing-masing aktivitas dalam pelaksanaannya.
4. Sumber-sumber yang dikonsumsi untuk melakasanakan masing-masing aktivitas.
5. Faktor-faktor apa yang menjadi penyebab timbulnya aktivitas tersebut atau
pembenahan atas sumber daya yang dimiliki perusahaan.
Dalam Activity Based Costing (ABC) semua biaya dibebankan ke produk yang
menimbulkan aktivitas atau apabila ada alasan yang mendasar bahwa biaya tersebut
dipengaruhi oleh produk yang dibuat, baik biaya produksi, maupun biaya non-produksi.
Manajemen Activity Based Costing (ABC) membutuhkan informasi yang
berkualitas tinggi dengan tepat waktu, yang berhubungan dengan pekerjaan yang
dilakukan atau activity dan sasaran pekerjaan itu sendiri atau produk dan customer agar
dicapai apa yang disebut dengan continues improvement atau perbaikan yang
berkesinambungan. Setelah manajer mempunyai informasi akurat dan tepat waktu,
manajer akan menggunakan informasi tersebut untuk menetapkan strategi yang tepat,
mendesign ulang produk dan menekan pemborosan-pemborosan yang terdapat pada
aktifitas operasi dengan menggunakan cara-cara yang digunakan pada sistem ABC ini agar
dicapai suatu perbaikan yang disebut Activity Based Management (ABM).
ABM melibatkan ABC dan menggunakannya sebagai sumber informasi utama dengan
tujuan memperbaiki pengambilan keputusan dengan menginformasikan biaya yang akurat dan
mengurangi biaya dengan mendorong serta mendukung berbagai usaha perbaikan berkelanjutan.
Hubungan ABC dengan ABM terjadi karena ABM membutuhkan informasi dari ABC
untuk melakukan analisis yang berhubungan dengan perbaikan yang berkesinambungan ABM
untuk standar pemasaran. Biaya pemasaran adalah biaya yang timbul karena terjadinya pertukaran
dantara perusahaan dengan konsumen. Yang termasuk biaya pemasaran antara lain: biaya promosi,
biaya distribusi fisik, biaya riset pasar, biaya pengembangan produk.

III. Driver Analysis, Activity Analysis dan Performance Analysis Dalam Proses Value
Analysis (PVA)

2
Process Value Analysis (PVA) merupakan dasar aktivitas akuntansi
pertanggungjawaban, fokus pada akuntabilitas untuk kegiatan daripada biaya, dan
menekankan pada upaya untuk memaksimumkan sistem penilaian kinerja secara
keseluruhan dari pada performance individu. PVA berkaitan dengan: aktivitas penggerak
(driver analysis), analisis aktivitas (activity analysis), dan pengukuran kinerja
(Performance Measurement).
Melaksanakan kegiatan memerlukan pemahaman tentang faktor-faktor apa saja
yang menjadi penyebab aktivitas dan apa yang menyebabkan biaya aktivitas berubah.
Setiap aktivitas atau kegiatan akan mengkonsumsi input dan menghasilkan output. Input
aktivitas merupakan sumber-sumber ekonomi yang dibutuhkan dalam melaksanakan suatu
aktivitas, sedangkan output aktivitas merupakan produk yang dihasilkan dari suatu
aktivitas. Output yang dihasilkan oleh suatu akitivitas perlu diukur dalam satuan
kuantitatif tertentu yang disebut dengan Activity Output Measure. Tujuan analisis
penggerak untuk mengungkapkan faktor penyebab. Dengan demikian, analisi penggerak
adalah usaha yang dikeluarkan untuk mengidentifikasi faktor yang menjadi akar penyebab
biaya aktivitas.
a) Analisis Pemacu (Driver Analysis)
Pemacu adalah penyebab timbulnya konsumsi sesuatu. Ada dua macam pemacu
biaya (cost driver) yaitu resource driver dan activity driver. Resource driver adalah
faktor yang menjadi penyebab konsumsi sumber daya oleh aktivitas. Activity driver
adalah faktor yang menjadi penyebab timbulnya konsumsi aktivitas oleh cost object.
b) Analiysis Activity dalam Process Value Analysis (PVA)
Analisis aktivitas merupakan inti dari PVA. Analisi aktivitas adalah proses
pengidentifikasian, penggambaran dan evaluasi aktivitas yang dilaksanakan oleh
organisasi. Analisis aktivitas dilaksanakan dalam empat langkah:
1. Aktivitas apa yang dikerjakan
2. Berapa orang yang terlibat dalam aktivitas
3. Waktu dan sumber daya yang diperlukan untuk melaksanakan aktivitas
4. Penaksiran value aktivitas bagi organisasi, termasuk rekomendasi untuk memilih
dan mempertahankan hanya aktivitas yang menambah nilai.
c) Performance Measurement dalam Process Value Analysis (Pengukuran kinerja)
Pengelolaan Kinerja merupakan penilaian terhadap bagaimana aktivitas (dan
proses) diselenggarakan, yang merupakan dasar yang melandasi usaha untuk
meningkatkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba. Pengukuran kinerja
aktivitas dilaksanakan baik dalam bentuk keuangan dan non keuangan.
Langkah – langkah yang perlu ditempuh untuk penilaian aktivitas adalah sebagai
berikut:

3
1. Mengetahui informasi tentang aktivitas yang digunakan oleh perusahaan untuk
menghasilkan produk dan jasa bagai konsumen.
2. Mengidentifikasi value dan non value added activities yang terdapat dalam
aktivitas yang digunakan oleh perusahaan untuk menghasilkan produk dan jasa
bagi konsumen tersebut. Setelah daftar aktivitas dan hubungan antara aktivitas
diperoleh, informasi berikutnya yang diperlukan untuk pengurangan biaya adalah
indentifikasi value dan non value added activities. Hasil indentifikasi kategori
aktivitas tersebut dapat digunakan untuk memilih cara pengelolaan yang cocok
dengan kategori setiap aktivitas. Pemilihan aktivitas (activity selection) dan
pembagian aktivitas (activity sharing) diterapkan pada pengelolaan terhadap value
added activities. Pengurangan aktivitas (activity reduction) dan penghilangan
aktivitas (activity elimination) diterapkan dalam pengelolaan terhadap non value
added activities.
3. Mengidentifikasi apakah aktivitas yang dilaksanakan oleh perusahaan memiliki
customer. Setiap aktivitas layak untuk tetap dijalankan jika cost object yang
dihasilkan mempunyai customer yang memanfaatkan cost object tersebut. Aktivitas
yang tidak memiliki customer atau customernya tidak memperoleh manfaat dari
adanya cost object yang dihasilkan oleh aktivitas yang menajdi target untuk
dieliminasi.
4. Mengidentifikasi aktivitas yang memiliki cycle effectiveness (CE) rendah.
CE adalah ukuran seberapa besar non value added activities terdapat dalam
aktivitas yang digunakan untuk melayani customer. Suatu aktivitas yang memiliki
CE rendah (misal di bawah 30%) merupakan aktivitas yang menjadi target untuk
dikurangi (activity reduction) dalam jangka pendek atau dieliminasi (activity
elimination) dalam jangka panjang, karena 70% dari aktivitas tersebut terdiri dari
non value added activities.

IV. Berbagai Ukuran Efisiensi Aktivitas


A. Aktivitas Bernilai Tambah (Value Added Activity)
Aktivitas bernilai tambah adalah aktivitas yang harus dilaksanakan dalam proses
bisnis atau menciptakan nilai yang dapat memuaskan para konsumennya. Aktivitas ini
jika dieliminasi akan mengurangi pelayanan produk kepada konsumen dalam jangka
panjang. Artinya, apabila perusahaan mengeliminasi aktivitas ini maka kecil
kemungkinan perusahaan dapat bertahan karena produk yang dihasilkan tidak dapat
memuaskan pelanggan lagi, sehingga banyak pelanggan tidak akan membeli atau

4
mengkonsumsi produk perusahaan tersebut dan akan menyebabkan kekalahan dalam
persaingan di dalam pasar..
Aktivitas dapat disebut aktivits bernilai tambah apabila secara bersamaan
memenuhi ketiga kondisi berikut ini (Hansen dan Mowen, 2004: 489):
1) Aktivitas yang menghasilkan perubahan
2) Perubahan tersebut tidak dapat dicapai oleh aktivitas sebelumnya, dan
3) Aktivitas tersebut memungkinkan aktivitas lain untuk dilakukan

B. Aktivitas Tidak Bernilai Tambah (Non Value Added Activity)


Berdasarkan beberapa definisi aktivitas tidak bernilai tambah tersebut,tentunya
perusahaan berusaha untuk mengeleminasi aktivitas tidak bernilai tambah karena
hanya menambah biaya yang tidak berguna dan menghalangi kinerja penuh.
Perusahaan juga bekerja keras untuk mengoptimalkan aktivitas yang bernilai tambah.
Suatu aktivitas dapat dikategorikan sebagai aktivitas tidak bernilai tambah apabila
aktivitas tersebut tidak memenuhi satu dari ketiga kondisi kriteria aktivitas bernilai
tambah yang telah disebutkan sebelumnya.
Suatu aktivitas tidak bernilai tambah tidak mempunyai kontribusi pada customer
value atau terhadap kebutuhan – kebutuhan organisasi. Dalam operasional
manufaktur, ada lima aktivitas utama yang sering disebut sebagai suatu yang sia – sia
dan tidak perlu Penjadwalan, Pemindahan, Pemindahan, Penantian, Pengawasan,
Penyimpanan

Rumus:

C. Kaizen
Biaya Kaizen berkaitan dengan mengurangi biaya produk yang ada dan proses
pengendalian biaya ini, proses reduksi dicapai melalui penggunaan berulang dari dua
subcycles utama: (1) Kaizen atau perbaikan terus-menerus dan (2) siklus
pemeliharaan. The kaizen subcycle didefinisikan oleh urutan Plan-Do-Check-Act. Jika
sebuah perusahaan menekankan pengurangan biaya non-nilai tambah, jumlah
perbaikan yang direncanakan untuk periode mendatang diatur. Sebuah standar kaizen
mencerminkan perbaikan yang direncanakan untuk periode mendatang. Tindakan
yang diambil untuk mengimplementasikan perbaikan yang direncanakan (langkah
Do).

5
Selanjutnya, hasil aktual dibandingkan dengan standar kaizen untuk
memberikan ukuran tingkat perbaikan. Pengaturan tingkat yang baru ini sebagai
standar minimum untuk kunci kinerja masa depan dalam perbaikan menyadari dan
sekaligus memulai siklus pemeliharaan mengikuti Plan-Do-Check-Act urutan
tradisional. Sebuah standar diatur berdasarkan perbaikan sebelumnya dan selanjutnya,
tindakan yang diambil (langkah Do) dan hasilnya diperiksa untuk memastikan kinerja
yang sesuai dengan tingkat ini baru. Jika tidak, maka tindakan korektif yang diambil
untuk mengembalikan kinerja (langkah Seni).
D. Benchmarking
Benchmarking pelengkap untuk biaya kaizen dan ABM dan dapat digunakan
sebagai mekanisme pencari untuk mengidentifikasi kesempatan untuk peningkatan.
Bechmarking adalah penggunaan praktik terbaik sebagai standar untuk mengukur
kinerja aktivitas. Objek bachmarking adalah menjadi pelaksanaan kegiatan dan proses
terbaik.
 Internal Benchmarking
Dalam sebuah organisasi, perbedaan unit yang dilaksanakan melalui aktivitas yang
sama dapat dibandingkan. Internal benchmarking memiliki tiga keuntungan yaitu:
jimlah informasi yang signifikan selalu tersedia, pengurangan biaya yang sering
terjadi apat segera diketahui, dan standar internal terbaik dapat menjadi
perbandingan dengan organisasi atau perusahaan lain.
 Eksternal Banchmarking
Merupakan kegiatan membandingkan dengan pihak luar organisasi. terdapat tiga
jenis eksternal banchmarking yaitu: competitive benchmarking, functional
benchmarking, dan generic benchmarking.

6
DAFTAR PUSTAKA

Hansen, Don. R & Maryanne M. Mowen. 2011. Akuntansi Manajerial, Buku 1 Edisi 8.
Jakarta :Salemba Empat.
https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://e-
journal.uajy.ac.id/2732/2/2EA15193.pdf&ved=2ahUKEwjxtDY-
NzgAhWBpY8KHdbjD9UQFjAAegQIBRAB&usg=AOvVaw2lqMlznVbgS5j1-
LUs2xB2