Anda di halaman 1dari 37

KONSEP DASAR PENYAKIT DAN KONSEP ASUHAN

KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN PENYAKIT TB PARU

A. Anatomi Fisiologi Paru


1. Anatomi Paru
Paru-paru terletak pada rongga dada yang ujungnya berada di atas
tulang iga pertama dan dasarnya berada pada diafragma. Paru terbagi
menjadi dua yaitu, paru kanan dan paru kiri. Paru-paru kanan mempunyai
tiga lobus sedangkan paru-paru kiri mempunyai dua lobus. Kelima lobus
tersebut dapat terlihat dengan jelas. Setiap paru-paru terbagi lagi menjadi
beberapa subbagian menjadi sekitar sepuluh unit terkecil yang disebut
bronchopulmonary segments. Paru-paru dibungkus oleh selaput tipis yaitu
pleura. Paru-paru kanan dan kiri dipisahkan oleh ruang yang disebut
mediastinum (Sherwood, 2001).

Bagian paru paru terdiri dari beberapa organ sebagai berikut :


1. Trakea
Trakea atau tenggorokan merupakan bagian paru-paru yang
berfungsi menghubungkan larynk dengan bronkus. Trakea pada
manusia teridiri dari jaringan tulang rawan yang dilapisi oleh sel
bersilia. Silia yang terdapat pada trakea ini berguna untuk menyaring
udara yang akan masuk ke dalam paru-paru.
2. Bronkus
Bronkus merupakan saluran yang terdapat pada rongga dada,
hasil dibagi menjadi dua, yaitu bronkus premier dan bronkus sekunder.

1
3. Bronkiolus
Bronkiolus merupakan bagian dari percabangan saluran udara dari
bronkus. Letaknya tepat di ujung bronkus. Bronkiolus mempunyai
diameter kurang lebih 1mm atau bisa lebih kecil. Bronkiolus berfungsi
untuk menghantarkan udara dari dari percabangan trakea yang
menghubungkan paru-paru bagian kiri dengan paru-paru bagian kanan.
Bronkus bagian sebelah kanan bentuknya lebih lebar, pendek serta lebih
lurus, sedangkan bronkus bagian sebelah kiri memiliki ukuran lebih
besar yang panjangnya sekitar 5cm. Jika dilihat dari asalnya bronkus
bronkus masuk menuju ke alveoli serta juga sebagai pengontrol jumlah
udara yang akan nantinya akan di distribusikan melalui paru-paru oleh
konstriksi dan dilatasi
4. Alveolus
Alveolus merupakan kantung kecil yang terletak di dalam paru-paru
yang memungkinkan oksigen dan karbondioksida untuk bisa bergerak
di antara paru-paru dan aliran darah. Di dalam tubuh manusia terdapat
kurang lebih hampir 300 juta alveoli untuk menyerap oksigen yang
berasal dari udara. Alveolus berfungsi untuk pertukaran karbon dioksida
(CO2) dengan oksigen (O2).
5. Pleura
Pleura adalah selaput yang fungsinya membungkus paru-paru
serta melindungi paru-paru dari gesekan-gesekan yang ada selama
proses terjadinya respirasi. Ada dua lapisan pada Pleura paru-paru
manusia diantarnya adalah:
a. Pleura visceral adalah bagian dalam yang membungkus langsung
paru
b. Pleura parietal adalah pleura bagian luar yang menempel di rongga
dada.

2. Fisiologi Paru
Paru-paru berfungsi sebagai pertukaran gas antara darah dan
atmosfer dengan tujuan untuk menyuplai oksigen bagi jaringan dan
mengeluargkan karbondioksida. Pertukaran gas melalui beberapa proses

2
udara masuk ke paru-paru melalui sistem berupa pipa yang menyempit yaitu
bronkus dan bronkiolus yang merupakan cabang dari trakea atau
tenggorokan. Udara tersebut menuju ke alveolus yang merupakan
gelembung udara tempat pertukaran antara oksigen dan karbondioksida
(Mc. Ardle, 2006). Terdapat empat mekanisme kerja paru-paru, antara lain
sebagai berikut :
a. Ventilasi paru, yang berarti masuk dan keluarnya udara antara alveoli
dan atmosfer
b. Difusi dari oksigen dan karbon dioksida antara alveoli dan darah
c. Transport dari oksigen dan karbon dioksida dalam darah dan cairan
tubuh
d. Pengaturan ventilasi (Guyton, 2007).
3. Definisi Penyakit
Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksius, yang biasanya
menyerang organ parenkim paru (Brunner & Suddarth, 2002). Tuberkulosis
adalah suatu penyakit infeksius yang menyerang paru-paru biasanya
ditandai oleh pembentukan granuloma dan menimbulkan nekrosis jaringan.
Penyakit ini bersifat menahun dan dapat menular dari penderita kepada
orang lain (Santa, dkk, 2009).
Menurut Depkes (2007) Tuberkulosis adalah penyakit menular
langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis).
Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai
organ tubuh lainnya.
Tuberkulosis (TB) paru adalah infeksi pada paru-paru dan kadang
pada struktur-struktur disekitarnya, yang disebabkan oleh Mycrobacterium
tuberculosis (Saputra, 2010). Sedangkan menurut Rubenstein, dkk (2007),
Tuberkulosis (TB) adalah infeksi bakteri berbentuk batang yang tahan
asam-alkohol (acid-alcohol-fast bacillus/AAFB) Mycrobacterium
tuberkulosis terutama mengenai paru, kelenjar getah bening, dan usus.
TB paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh
Mycobakterium tuberculosis suatu basil yang tahan asam yang menyerang
parenkim paru atau bagian lain dari tubuh manusia melalui droplet (bersin,

3
batuk dan berbicara) yang dapat menyerang lewat udara dari penderita ke
orang lain.
a. Epidemiologi
Dalam laporan WHO pada tahun 2013 diperkirakan terdapat 8,6 juta
kasus TB pada tahun 2012 dimana 1,1 juta orang (13%) diantaranya
adalah pasien dengan HIV positif. Sekitar 75 % dari pasien tersebut
berada di wilayah Afrika, pada tahun 2012 diperkirakan terdapat
450.000 orang yang menderita TB MDR dan 170.000 diantaranya
meninggal dunia.
Di Indonesia berpeluang mengalami penurunan angka kesakitan dan
kematian akibat TB menjadi setengahnya di tahun 2015 apabila
dibandingkan dengan data tahun 1990. Angka prevalensi TB pada
tahun1990 sebesar 443 per 100.000 penduduk, pada tahun 2015
ditargetkan menjadi 280 per 100.000 penduduk. Berdasarkan hasil
survei prevalensi TB tahun 2013, prevalesi TB Paru smear positif per
100.000 penduduk umur 15 tahun ke atas sebesar 257. Secara umum
angka notifikasi kasus BTA positif baru da semua kasus dari tahun ke
tahun di Indonesia mengalami peningkatan. Angka notifikasi kasus
(case notification rate/ CNR) pada tahun 2015 untuk semua kasus
sebesar 117 per 100.000 penduduk (Depkes RI., 2016).
b. Etiologi
Penyebab tuberkulosis adalah bakteri mycrobacterium tuberculosis,
sejenis kuman berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-4/um dan
tebal 0,3-0,6/um (Amin dan Asril, 2007). Mycobacterium tuberculosis
merupakan bakteri yang bersifat aerob sehingga sebagian besar kuman
menyerang jaringan yang memiliki konsentrasi tinggi oksigen seperti
paru-paru. Kuman ini berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu
tahan terhadap asam pada pewarnaan, oleh karena itu disebut sebagai
Basil Tahan Asam (BTA).
Mycobacterium tuberculosis rentan atau cepat mati terhadap
paparan sinar matahari langsung, namun dapat bertahan hidup sampai
beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh
kuman ini bisa mengalami dorman atau inaktif (tertidur lama) selama

4
beberapa tahun. Penyebaran mycobacterium tuberculosis yaitu melalui
droplet nukles, kemudian dihirup oleh manusia melalui udara dan
menginfeksi organ tubuh terutama paru-paru. Diperkirakan, satu orang
menderita TB paru BTA positif yang tidak diobati akan menulari 10-15
orang setiap tahunnya. (Depkes RI, 2002; Aditama, 2002).
c. Klasifikasi
Menurut Depkes (2007), klasifikasi penyakit TB paru, diantaranya
adalah sebagai berikut :

1. Klasifikasi berdasarkan organ tubuh yang terkena :


b. Tuberkulosis Paru
Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan
(parenkim) paru. tidak termasuk pleura (selaput paru) dan
kelenjar pada hilus.
c. Tuberkulosis Ekstra Paru
Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru,
misalnya pleura, selaput otak, selaput jantung (pericardium),
kelenjar lymfe, tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran
kencing, alat kelamin, dan lain-lain.
2. Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis pada
TB Paru
a. Tuberkulosis paru BTA positif
1) Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya
BTA positif.
2) satu spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto
toraks dada menunjukkan gambaran tuberkulosis.
3) Satu spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan kultur
atau biakan kuman TB positif.
4) satu atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3
spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya
BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian
antibiotika non OAT.
b. Tuberkulosis paru BTA negatif
Kriteria diagnostik TB paru BTA negatif harus meliputi:

5
1) Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif.
2) Foto toraks normal tidak menunjukkan gambaran
tuberkulosis.
3) Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.
4) Ditentukan atau dipertimbangkan oleh dokter untuk diberi
pengobatan.
3. Klasifikasi berdasarkan tingkat keparahan penyakit
a. TB paru BTA negatif foto toraks positif dibagi berdasarkan
tingkat keparahan penyakitnya, yaitu bentuk berat dan ringan.
Bentuk berat bila gambaran foto toraks memperlihatkan
gambaran kerusakan paru yang luas (misalnya proses “far
advanced”), dan atau keadaan umum pasien buruk.
b. TB ekstra-paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan
penyakitnya, yaitu:
1) TB ekstra paru ringan, misalnya: TB kelenjar limfe, pleuritis
eksudativa unilateral, tulang (kecuali tulang belakang),
sendi, dan kelenjar adrenal.
2) TB ekstra-paru berat, misalnya: meningitis, milier,
perikarditis, peritonitis, pleuritis eksudativa bilateral, TB
tulang belakang, TB usus, TB saluran kemih dan alat
kelamin.
4. Klasifikasi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya, dibagi
menjadi beberapa tipe pasien, yaitu :
a. Kasus Baru
Adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau
sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu).
b. Kasus Kambuh (relaps)
Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat
pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau
pengobatan lengkap, didiagnosis kembali dengan BTA positif
(apusan atau kultur).

6
c. Kasus setelah putus berobat (default)
Adalah pasien yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau
lebih dengan BTA positif.
d. Patofisiologi/Patologi
Sumber penularan adalah penderita TB BTA positif. Pada waktu
batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk
percikan dahak (droplet nuclei). Sekali batuk dapat menghasilkan
sekitar 3000 percikan dahak. Umumnya penularan terjadi dalam
ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama.
Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan, sementara sinar matahari
langsung dapat membunuh kuman.
Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan yang
gelap dan lembab.Daya penularan seorang penderita ditentukan oleh
banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya.Makin tinggi derajat
kepositifan hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut.
Faktor yang kemungkinkan seseorang terpajan kuman TB ditentukan
oleh konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara
tersebut.
Virus masuk melalui saluran pernapasan dan berada pada alveolus.
Basil ini langsung membangkitkan reaksi peradangan. Leukosit
memfagosit bakteri namun tidak membunuh, sesudah hari-hari pertama
leukosit diganti dengan makrofag. Alveoli yang terserang mengalami
konsolidasi. Makrofag yang mengadakan infiltrasi bersatu menjadi sel
tuberkel epiteloid. Jaringan mengalami nekrosis keseosa dan jaringan
granulasi menjadi lebih fibrosa dan membentuk jaringan parut
kolagenosa, Respon radang lainnya adalah pelepasan bahan tuberkel ke
trakeobronkiale sehingga menyebabkan penumpukan sekret.
Tuberkulosis sekunder muncul bila kuman yang dorman aktif kembali
dikarenakan imunitas yang menurun (Price dan Lorraine, 2007; Amin
dan Asril, 2007).

7
e. Manifestasi Klinis

Menurut Alsagaff dan Mukty (2006) tanda dan gejala tuberkulosis


dibagi atas 2 (dua) golongan yaitu gejala sistemik dan gejala
respiratorik.
a. Gejala Sistemik adalah:
1) Badan Panas
Panas badan merupakan gejala pertama dari tuberkulosis paru,
sering kali panas badan sedikit meningkat pada siang maupun
sore hari. Panas badan meningkat atau menjadi lebih tinggi bila
proses berkembang menjadi progresif sehingga penderita
merasakan badannya hangat atau muka terasa panas.
2) Menggigil
Menggigil dapat terjadi bila panas badan naik dengan cepat,
tetapi tidak diikuti pengeluaran panas dengan kecepatan yang
sama atau dapat terjadi sebagai suatu reaksi umum yang lebih
hebat.
3) Keringat Malam
Keringat malam bukanlah gejala yang patognomonis untuk
penyakit tuberkulosis paru. Keringat malam umumnya baru
timbul bila proses telah lanjut, kecuali pada orang-orang dengan
vasomotor labil, keringat malam dapat timbul lebih dini. Nausea,
takikardi dan sakit kepala timbul bila ada panas.
4) Malaise
Karena tuberkulosis bersifat radang menahun, maka dapat
terjadi rasa tidak enak badan, pegal-pegal, nafsu makan
berkurang, badan makin kurus, sakit kepala, mudah lelah.
b. Gejala Respiratorik
1) Batuk
Batuk baru timbul apabila proses penyakit telah melibatkan
bronchus. Batuk mula-mula terjadi oleh karena iritasi bronchus,
selanjutnya akibat adanya peradangan pada bronchus, batuk
akan menjadi produktif. Batuk produktif ini berguna untuk

8
membuang produk-produk ekskresi peradangan. Dahak dapat
bersifat mukoid atau purulen.
2) Sekret
Suatu bahan yang keluar dari paru sifatnya mukoid dan keluar
dalam jumlah sedikit, kemudian berubah menjadi
mukopurulen/kuning atau kuning hujau sampai purulen dan
kemudian berubah menjadi kental bila sudah terjadi pengejuan
dan perlunakan.
3) Nyeri Dada
Gejala ini timbul apabila sistem persyarafan yang terdapat di
pleura terkena, gejala ini dapat bersifat lokal atau pleuritik.
4) Ronchi
suatu bunyi tambahan yang terdengar gaduh terutama terdengar
selama ekspirasi disertai adanya sekret.

f. Pemeriksaan Penunjang
1. Anamnesis pada pemeriksaan fisik
2. Laboratorium darah rutin ( LED normal atau
meningkat,limfositosis)
3. Foto thoraks PA dan lateral.gambaran foto toraks yang menunjang
diagnosis TB, yaitu :
a. Bayangan lesi terletak di lapangan atas paru atau segmen apikal
lobus bawah.
b. Bayangan berawan (patchy) atau berbercak (nodular)
c. Adanya kavitas, tunggal atau ganda
d. Kelainan bilateral, terutama di lapangan atas paru
e. Adanya klasifikasi
f. Bayangan menetap pada foto ulang beberapa minggu kemudian
g. Bayangan milier
4. Pemeriksaan sputum BTA
pemeriksaan sputum BTA memastikan diagnosis TB paru, namun
pemeriksaan ini tidak sensitif karena hanya 30-70 persen pasien TB
yang dapat didiagnosis berdasarkan pemeriksaan ini
5. Tes PAP (peroksidase anti peroksidase)

9
merupakan uji serologi imunoperoksidase memakai alat histogen
imunoperoksidase staning untuk menentukan adanyan IgG spesifik
terhadap basil TB
6. Tes mantoux / tuberkulin
7. Teknik polymerase chain reaction
deteksi DNA kuman secara spesifik melalui aplifikasi dalam
berbagai tahap sehingga dapat mendeteksi meskipun hanya ada 1
mikroorganisme dalam spesimen. Juga dapat mendeteksi adanya
retensi
8. Becton Dickinson Diagnostik Instrumen System (BACTEC)
deteksi grouth index berdasarkan CO2 yang di hasilkan dari
metabolisme asam lemak oleh M. Tuberculosis
9. Enzyme Linked Immunosorbent Assay
deteksi respon humoral memakai antigen-antibody yang terjadi.
Pelaksanaannya rumit dan antibody dapat menetap dalam waktu
lama sehingga menimbulkan masalah
g. Penatalaksanaan
Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase yaitu fase intensif
(2-3 bulan) dan fase lanjutan 4 atau 7 bulan. Paduan obat yang
digunakan terdiri dari paduan obat utama dan tambahan. Obat utama
yang dipakai dalam terapi Tuberculosis Paru antara lain sebagai berikut:
i. Rifampisin
Rifampisin ; 10 mg/ kg BB, maksima l 600mg 2-3X/
minggu atau (BB > 60 kg : 600 mg, BB 40-60 kg : 450 mg, BB <
40 kg : 300 mg, Dosis intermiten 600 mg / kali)
Rifampisin dapat menyebabkan warna merah pada air seni,
keringat, air mata, air liur. Warna merah tersebut terjadi karena
proses metabolisme obat dan tidak berbahaya. Hal ini harus
diberitahukan kepada penderita agar dimengerti dan tidak perlu
khawatir.
Efek samping ringan yang dapat terjadi dan hanya memerlukan
pengobatan simtomatik ialah :
a. Sindrom flu berupa demam, menggigil dan nyeri tulang

10
b. Sindrom perut berupa sakit perut, mual, tidak nafsu makan,
muntah kadang kadang diare
c. Sindrom kulit seperti gatal-gatal kemerahan
ii. Isoniazid (INH)
Dosis yang diberikan untuk obat INH adalah 5 mg/kg BB,
maksimal 300mg, 10 mg /kg BB 3 X seminggu, 15 mg/kg BB 2 X
semingggu atau (300 mg/hari untuk dewasa. lntermiten : 600 mg /
kali).
Efek samping ringan dapat berupa tanda-tanda keracunan
pada syaraf tepi, kesemutan, rasa terbakar di kaki dan nyeri otot.
Efek ini dapat dikurangi dengan pemberian piridoksin dengan dosis
100 mg perhari atau dengan vitamin B kompleks. Pada keadaan
tersebut pengobatan dapat diteruskan. Kelainan lain ialah
menyerupai defisiensi piridoksin (syndrom pellagra).
Efek samping berat dapat berupa hepatitis yang dapat timbul
pada kurang lebih 0,5% penderita. Bila terjadi hepatitis imbas obat
atau ikterik, hentikan OAT dan pengobatan sesuai dengan pedoman
TB pada keadaan khusus.
iii. Pirazinamid
Obat ini digunakan pada saat fase intensif 25 mg/kg BB, 35
mg/kg BB 3 X semingggu, 50 mg /kg BB 2 X semingggu atau : BB
> 60 kg : 1500 mg, BB 40-60 kg : 1 000 mg, BB < 40 kg : 750 mg
Efek samping utama ialah hepatitis imbas obat
(penatalaksanaan sesuai pedoman TB pada keadaan khusus). Nyeri
sendi juga dapat terjadi (beri aspirin) dan kadangkadang dapat
menyebabkan serangan arthritis Gout, hal ini kemungkinan
disebabkan berkurangnya ekskresi dan penimbunan asam urat.
Kadang-kadang terjadi reaksi demam, mual, kemerahan dan reaksi
kulit yang lain.
iv. Streptomisin
Pada obat streptomisin ini di berikan dosis 15mg/kgBB atau
(BB >60kg : 1000mg, BB 40 - 60 kg : 750 mg, BB < 40 kg : sesuai
BB). Efek samping utama adalah kerusakan syaraf kedelapan yang

11
berkaitan dengan keseimbangan dan pendengaran. Risiko efek
samping tersebut akan meningkat seiring dengan peningkatan dosis
yang digunakan dan umur penderita.
v. Etambutol
Untuk obat ini diberikan fase intensif dengan dosis 20mg
/kg BB, fase lanjutan 15 mg/kg BB, 30mg/kg BB 3X seminggu, 45
mg/kg BB 2 X seminggu atau : (BB >60kg : 1500 mg, BB 40 -60 kg
: 1000 mg, BB < 40 kg : 750 mg, Dosis intermiten 40 mg/ kgBB/
kali).
Etambutol dapat menyebabkan gangguan penglihatan
berupa berkurangnya ketajaman, buta warna untuk warna merah dan
hijau. Meskipun demikian keracunan okuler tersebut tergantung
pada dosis yang dipakai, jarang sekali terjadi bila dosisnya 15-25
mg/kg BB perhari atau 30 mg/kg BB yang diberikan 3 kali
seminggu. Gangguan penglihatan akan kembali normal dalam
beberapa minggu setelah obat dihentikan. Sebaiknya etambutol
tidak diberikan pada anak karena risiko kerusakan okuler sulit untuk
dideteksi

12
4. Pathway
Mycrobacterium Tuberculosis

Alveolus

Respon radang

Leukosit Demam Pelepasan bahan tuberkel


memfagosit bacteri dari dinding kavitas

Leukosit digantikan
Trakeobronkial
oleh makrofag

Makrofag mengadakan Bersihan jalan


Penumpukan sekret
infiltrasi napas tidak efektif

Terbentuk Sel tuberkel Batuk Anoreksia, mual,


epiteloid muntah

Nekrosis kaseosa Nyeri droplet

Granulasi Gangguan keseimbangan


Resiko tinggi
nutrisi kurang dari
penyebaran
Jaringan parut kolagenosa kebutuhan
infeksi

Kerusakan membran Sesak


Gangguan pola tidur
alveolar nafas

Inadekuat oksigen untuk


Gangguan
pertukaran beraktivitas
Gas Intoleransi aktivitas

13
KONSEP ASKEP PADA PASIEN DENGAN
TUBERKOLOSIS PARU

A. Pengkajian
Tujuan dari pengkajian atau anamnesa merupakan kumpulan informasi
subyektif yang diperoleh dari apa yang dipaparkan oleh pasien terkait dengan
masalah kesehatan yang menyebabkan pasien melakukan kunjungan ke
pelayanan kesehatan (Niman, 2013). Identitas pasien yang perlu untuk dikaji
meliputi:
 Meliputi nama dan alamat
 Jenis kelamin : TB paru bisa terjadi pada pria dan wanita
 Umur: paling sering menyerang orang yang berusia antara 15 – 35 tahun.
 Pekerjaan: Tidak didapatkan hubungan bermakna antara tingkat
pendapatan, jenis pekerjaan
1. Pengkajian Riwayat Keperawatan
a. Riwayat Kesehatan Sekarang:
pengkajian ini dilakukan untuk mendukung keluhan utama. Lakukan
pertanyaan yang bersifat ringkas sehingga jawaban yang diberikan klien
hanya kata “ya” atau “tidak” atau hanya dengan anggukan kepala atau
gelengan.
b. Riwayat Kesehatan Sebelumnya:
pengkajian yang mendukung adalah mengkaji apakah sebelumnya klien
pernah menderita TB paru atau penyakit lain yang memperberat TB
Paru.
c. Riwayat Kesehatan Keluarga:
secara patologi TB Paru tidak diturunkan, tetapi perawat perlu
menanyakan apakah penyakit ini pernah dialami oleh anggota keluarga
lainnya sebagai faktor predisposisi penularan di dalam rumah.
d. Riwayat Tumbuh Kembang:
Kelainan-kelainan fisik atau kematangan dari perkembangan dan
pertumbuhan seseorang yang dapat mempengaruhi keadaan penyakit
seperti gizi buruk.

14
e. Riwayat Sosial Ekonomi:
Apakah pasien suka berkumpul dengan orang-orang yang likungan atau
tempat tinggalnya padat dan kumuh karena kebanyakan orang yang
terkena TB Paru berasal dari likungan atau tempat tinggalnya padat dan
kumuh itu.
f. Riwayat Psikologi:
Bagaimana pasien menghadapi penyakitnya saat ini apakah pasien dapat
menerima, ada tekanan psikologis berhubungan dengan sakitnya itu.
Kita kaji tingkah laku dan kepribadian, karena pada pasien dengan TB
Paru dimungkinkan terjadi perubahan tingkah laku seperti halnya
berhubungan dengan aib dan rasa malu dan juga ada rasa kekhawatiran
akan dikucilkan dari keluarga dan lingkungan akibat penyakitnya
sehingga dapat mengakibatkan orang tersebut menjauhkan diri dari
semua orang.
2. Pengkajian Berdasarkan NANDA
a. Domain Promosi Kesehatan
1) Arti sehat dan sakit bagi pasien.
2) Pengetahuan status kesehatan pasien saat ini.
3) Perlindungan terhadap kesehatan: program skrining, kunjungan ke
pusat pelayanan kesehatan, diet, latihan dn olahraga, manajemen
stress, faktor ekonomi.
4) Pemeriksan diri sendiri: riwayat medis keluarga, pengobatan yang
sudah dilakukan.
5) Perilaku untuk mengatasi masalah kesehatan.
6) Data pemeriksaan fisik yang berkaitan.
b. Domain Nutrisi
1) Kebiasaan jumlah makanan.
2) Jenis dan jumlah (makanan dan minuman)
3) Pola makan 3 hari terakhir/ 24 jam terakhir, porsi yang dihabiskan,
nafsu makan.
4) Kepuasaan akan berat badan.
5) Persepsi akan kebutuhan metabolic

15
6) Faktor pencernaan: nafsu makan, ketidaknyamanan, rasa dan bau,
gigi, mukosa mulut, mual atau muntah, pembatasan makanan,
alergi makanan.
7) Data pemeriksaan fisik yang berkaitan (berat badan saat ini dan
SMRS)
c. Domain Eliminasi dan Pertukaran
1) Kebiasaan pola buang air kecil: frekuensi, jumlah (cc), wana, bau,
nyeri, mokturia, kemampuan menontrol BAK, adanya perubahan
lain.
2) Kebiasaan pola buang air besar: frekuensi, jumlah (cc), warna, bau,
nyeri, mokturia, kemampuan mengontrol BAK, adanya perubhana
lain.
3) Keyakinan budaya dan kesehatan.
4) Kemampuan perawatan diri: ke kamar mandi, kebersihan diri.
5) Penggunaan bantuan untuk ekskresi
6) Data pemeriksaan fisik yang berhubungan (abdmen, genetalia,
rectum, prostat)
d. Domain Aktivitas / Istirahat
1) Aktivitas kehidupan sehari-hari
2) Olahraga: tipe, frekuensi, durasi, da inetensitas.
3) Aktivitas menyenangkan
4) Keyakinan tentang latihan dan olahraga
5) Kemampuan untuk merawat diri sendiri (berpakaian, mandi,
makan, kamar mandi)
6) Mandiri, bergantung atau perlu bantuan.
7) Penggunaan alat bantu (kruk, kaki tiga)
8) Data pemeriksaan fisik (pernapasan, kardiovaskular,
muskoloskeletal, neurologi)
9) Kebiasaan tidur sehari-hari (jumlah waktu tidur, jam tidur dan
bangun, ritual menjelang tidur, lingkungan tidur, tingkat kesegaran
setelah tidur)
10) Penggunaan alat mempermudah tidur (obat-obatan)
11) Jadwal istirahat dan relaksasi

16
12) Gejala gangguan pola tidur
13) Faktor yang berhubungan (nyeri, suhu, proses penuaan dll)
14) Data pemeriksaan fisik (lesu, kantung mata, keadaan umum,
mengantuk)
e. Domain Persepsi / Kognisi
1) Gambaran tentang indra khusus (penglihatan, penciuman,
pendengar, perasa, peraba)
2) Penggunaan ketidaknyaman nyeri (pengkajian nyeri secara
komprehensif)
3) Keyakinan budaya terhadap nyeri
4) Tingkat pengetahuan klien terhadap nyeri dan pengetahuan untuk
mengontrol dan mengatasi nyeri
5) Data pemeriksaan fisik yang berhubungan (neurologis,
ketidaknyamanan)
f. Domain Persepsi Diri
1) Keadan sosial: pekerjaan, situasi keluarga, kelompok sosial.
2) Identitas Personal: penjelasan tentang diri sendiri, kekuatan dan
kelemahan yang dimiliki
3) Keadaan fisik, segala sesuatu yang berkaitan dengan tubuh (yang
disukai dan tidak)
4) Harga diri: perasaan mengenai diri sendiri.
5) Ancaman terhadap konsep diri (sakit, perubahan peran).
6) Riwayat berhubungan denan masalah fisik dan tau psikologi.
7) Data meneriksaan fisik yang berkaitan (mengurung diri, murung,
gidak mau berintaksi)
g. Domain Hubungan Peran
1) Gambaran tentang peran berkaitan degan keluarga, teman, kerja
2) Kepuasan/ ketidak puasaan menjalankan peran
3) Efek terhadap status kesehatan
4) Petingnya keluarga
5) Struktur dan dukungan keluarga
6) Proses pengambilan keputusan keluarga
7) Pola membesarkan anak

17
8) Hubungan dengan orang lain
9) Orang terdekat dengan klien
10) Data pemeriksaan fisik yang berkaitan
h. Domain seksualitas
1) Masalah atau perhatian seksual
2) Menstruasi, jumlah anak, jumlah suami/istri
3) Gambaran perilaku seksual (perilaku seksual yang aman, peukan,
sentuhan, dll)
4) Pengetahuan yang berhubungan dengan seksualitas dan reprosuksi
5) Efek terhadap kesehatan
6) Riwayat yang berhubungan dengan masalah fisik dan psikologi
7) Data pemeriksaan fisik yang berkaitan (KU, genetalia, payudara,
rektum)
i. Domain Koping / Toleransi Stress
1) Sifat pencetus stress yang dirasakan baru-baru ini
2) Tingkat stress yang dirasakan
3) Gambaran respons umum dan khusus terhadap stress
4) Strategi mengatsai stress yang biasa digunakan dan keefektifannya.
5) Strategi koping yang biasa digunakan
6) Pengetahuan dan penggunaan teknik manajemen stress
7) Hubungan antara manajemen stress dengan keluarga.
j. Domain Prinsip Hidup
1) Latar belakang budaya/ etnik
2) Status ekonomi, perilaku kesehatan yang berkaitan dengan
kelompok budaya/ etnik
3) Tujuan kehidupan bagi pasien
4) Pentingnya agama/ spiritualitas
5) Dmapak masalah kesehatan terhadap spiritualitas
6) Keyakinan dalam budaya (mitos, kepercayaan, larangan, adat)
yang dpat mempengaruhi kesehatan
k. Domain Keamanan / Perlindungan
1) Infeksi
2) Cedera fisik

18
3) Perilaku kekerasan
4) Bahaya lingkungan
5) Proses pertahanan tubuh
6) Temoregulasi
l. Domain Kenyamanan
1) Berisikan Kenyamanan fisik, lingkungan dan sosial pasien
m. Domain Pertumbuhan / Perkembangan
1) Berisi tentang pertumbuhan dan perkembangan klien
3. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaaan umum
Keadaan umum pada klien dengan TB Paru dapat dilakukan
secara selintas pandang dengan menilai keadaan fisik tiap bagian tubuh.
Selain itu, perlu dinilai secara umum tentang kesadaran klien yang
terdiri dari compos mentis, apatis, somnolen, sopo, soporokoma, atau
koma. Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital pada klien dengan TB Paru
biasanya di dapatkan peningkatan suhu tubuh secara signifikan,
frekuensi napas meningkat apabila disertai sesak nafas, denyut nadi
biasanya meningkat seirama dengan peningkatan suhu tubuh dan
frekuensi pernafasan dan tekanan darah biasanya sesuai dengan adanya
penyakit seperti hipertensi.
b. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik pada klien TB Paru meliputi pemeriksaan fisik
umum per sistem dari observasi keadaan umum, pemeriksaan tanda-
tanda vital, B1 (breathing), B2 (Blood), B3 (Brain), B4 (Bladder), B5
(Bowel), B6 (Bone) serta pemeriksaan yang fokus pada B2 dengan
pemeriksaan menyeluruh sistem pernafasan.
Pemeriksaan Fisik ( ROS : Review of System )
1. B1 (Breathing) : pemeriksaan fisik pada klien TB Paru merupakan
pemeriksaan fokus yang terdiri atas inspeksi, palpasi,perkusi dan
auskultasi.
Inspeksi
Bentuk dada dan gerakan pernafasan. Sekilas pandang klien
dengan TB Paru biasanya tampak kurus sehingga terlihat adanya

19
penurunan proporsi diameter bentuk dada antero-posterior
dibandingkan proporsi diameter lateral. Apabila ada penyulit dari Tb
Paru seperti adanya efusi pleura yang masif, maka terlihat adanya
ketidaksimetrisan rongga dada, pelebaran intercostal space (ICS)
pada sisi yang sakit. TB Paru yang disertai etelektasis paru membuat
bentuk dada menjadi tidak simetris, yang membuat penderitanya
mengalami penyempitan intercostal space (ICS) pada sisi yang sakit.
Palpasi
Palpasi trakhea. Adanya pergeseran trakhea menunjukan-
meskipun tetapi tidak spesifik-penyakit dari lobus atau paru. Pada
TB Paru yang disertai adanya efusi pleura masif dan pneumothoraks
akan mendorong posisi trakhea kearah berlawanan dari sisi sakit.
Gerakan dinding thoraks anterior/ekskrusi pernafasan. TB
Paru tanpa komplikasi pada saat dilakukanpalpasi, gerakan dada saat
bernafas biasanya normal dan seimbang antara kiri dan kanan.
Getaran suara (fremitus vokal). Getaran yang terasa ketika
perawat meletakkan tangannya di dada klien saat klien berbicara
adalah bunyi yang dibangkitkan oleh penjalaran dalam laring arah
distal sepanjang pohon bronkhial untuk membuat dinding dada
dalam gerakan resonan, terutama pada bunyi konsonan.
Perkusi
Pada klien dengan TB Paru minimal tanpa komplikasi,
biasanya akan didapatkan bunyi resonan atau sonor pada seluruh
lapang paru. Pada klien TB Paru yang disertai komplikasi seperti
efusi pleura akan didapatkan bunyi redup sampai pekak pada sisi
yang sakit sesuai banyaknya akumulasi cairan di rongga pleura.
Auskultasi
Pada klien dengan TB paru didapatkan bunyi nafas tambahan
(ronkhi) pada sisi yang sakit. Penting bagi perawat pemeriksaan
untuk mendokumentasikan hasil auskultasi di daerah mana
didapatkan adanya ronkhi. Bunyi yang terdengar melalui stetoskop
ketika klien berbicara disebut sebagai resonan vokal.

20
2. B2 (Blood) : pada klien dengan TB paru pengkajian yang didapat
meliputi :
Inspeksi : inspeksi tentang adanya parut dan keluhan
kelemahan fisik
Palpasi : denyut nadi perifer melemah
Perkusi : batas jantung mengalami pergeseran pada TB Paru
dengan efusi pleura masif mendorong ke sisi sehat.
Auskultasi : tekanan darah biasanya normal. Bunyi jantung
tambahan biasanya tidak didapatkan.
3. B3 (Brain) : kesadaran biasanya compos mentis, ditemukan adanya
sianosis perifer apabila gangguan perfusi jaringan berat. Pada
pengkajian objektif, klien tampak dengan wajah mringis,
menangis,merintih, meregang, dan menggeliat. Saat dilakukan
pengkajian pada mata, biasanya didapatkan adanya konjungtiva
anemis pada TB Paru dengan hemoptoe masif dan kronis, dan sklera
ikterik pada TB paru dengan gangguan fungsi hati.
4. B4 (Bladder): pengukuran volume output urine berhubungan dengan
intake cairan. Olek karena itu, perawat perlu memonitor adanya
oliguria karena hal tersebut merupakan tanda awal dari syok. Klien
diinformasikan agar terbiasa dengan urine yang berwarna jingga
pekat dan berbau yang menandakan fungsi ginjal masih normal
sebagai ekskresi karena meminum OBAT terutama rifampisin.
5. B5 (Bowel) : klien biasanya mengalami mual,muntah, penurunan
nafsu makan, dan penurunan berat badan.
6. B6 (Bone) : aktivitas sehari-hari berkurang banyak pada klien
dengan TB Paru. Gejala yang muncul antara lain kelemahan,
kelelahan, insomnia, pola hidup menetap, dan jadwal olahraga
menjadi tak teratur.
4. Pemeriksaan Diagnostik
a. Pemeriksaan Rontgen Thoraks
b. Pemeriksaan CT Scan
c. Radiologi TB paru militer
1) TB paru militer akut

21
2) TB paru militer subakut (kronis)
d. Pemeriksaan Laboratorium

5. Analisa Data
Konsep Analisa Data
No Data Masalah Etiologi Paraf
1. DO : Ketidakefektif Ketidakefektifan IS
an bersihan bersihan jalan
1. pasien tampak batuk
jalan nafas nafas
2. suara terdengar serak
DS :
Spasme jalan
1. pasien mengatakan batuk
nafas
berdahak
2. pasien mengatakan dahak
Perubahan
tidak bisa keluar.
frekuensi nafas
3. Pasien mengatakan sesak
nafas
4. Auskultasi paru : Terdengar
suara ronkhi pada paru kanan

2. DO : Nyeri akut Nyeri akut

1. Pasien meringis kesakitan


Agen cedera
2. TTV : TD : 110/70 mmHg,
biologis
suhu: 36C, Nadi: 84x/menit,
RR: 28x/menit.
DS : Mengekspresikan
prilaku
1. pasien mengatakan nyeri
pada dada saat batuk.
2. Pengkajian nyeri P: batuk
menetap Q: menusuk R:
dada, S: 5, T: timbul kadang-
kadang saat batuk.

22
3. DO : Ketidakseimba Ketidakseimbang IS
ngan : kurang an : kurang dari
1. Pasien mengalami penurunan
dari kebutuhan kebutuhan tubuh
berat badan
tubuh.
2. Pasien tampak lemah
Kurang asupan
3. Makan tampak tidak habis 1
makanan
porsi
4. Pasien mengalami penurunn
Berat badan 20%
berat badan ± 6 kg
atau lebih
dibawah rentang
berat badan ideal.
DS :

1. Pasien mengatakan nafsu


makan menurun
2. Pasien mengeluh mual
3. Pasien mengatakan badan
terasa lemas

4. DO: Risiko tinggi Risiko tinggi


1. Pasien sering batuk di depan penyebaran penyebaran infeksi
orang lain tanpa menutup infeksi
mulut. Kurangnya
2. BTA positif pengetahuan
DS: untuk
1. Pasien mengatakan sering menghindari
kontak dengan orang lain pemajanan
2. Pasien mengatakan bahwa patogen
saat batuk di depan orang
lain tidak menutup mulut
3. Membuang dahak pada
plastik yang diikat dan
dibuang ketempat sampah

23
5. DO: Gangguan Gangguan IS
1. klien terlihat sesak, Pertukaran Pertukaran Gas
pernafasan takipnea dan Gas
ortopnoe,menggunakan Perubahan
otot bantu pernafasan , membran
retraksi dinding dada, batuk alveolar-kapiler.
berdahak dan kental,
menggunakan nafas cuping Pola pernafasan
hidung abnormal.
DS:
1. klien mengatakan nafasnya
terasa sesak
2. Klien mengeluh susah tidur.
3. Klien mengatakan anaknya
batuk-batuk , berdahak.
6. DO : Gangguan pola Gangguan pola tidur IS
1. Kantong mata bawah hitam. tidur
2. Konjungtiva anemis.
imobilisasi
3. Pasien tampak lemas.
4. Pasien sering terbangun pada
malam hari. penurunan

DS : kemampuan

1. Pasien mengatakan tidak berfungsi

dapat tidur nyenyak dan


sering terbangun karena
batuk.
2. Pasien tidur ± 6-7 jam sehari
dan tidur siang ± 1-2 jam
7. DO: Intoleransi Intoleransi IS
1. Klien tampak memanggil
Aktivitas Aktivitas
keluarga saat butuh sesuatu
2. Klien tampak lemas
DS : imobilisasi

24
1. Klien mengatakan badannya
lemas sehingga susah
keletihan
beraktivitas.
2. Pasien mengatakan kepalanya
pusing.
3. Pasien mengatakan sesak
nafas

B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis tentang respons manusia
terhadap gangguan kesehatan atau proses kehidupan, atau kerentanan respons
dari seorang individu, keluarga, kelompok, atau komunitas (Herdman, 2015).
Diagnosa yang mungkin muncul pada pasien dengan TB Paru, yaitu:
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan sekresi
mukus yang kental, hemoptisis, kelemahan, upaya batuk buruk, dan edema
trakheal/faringeal.
2. Ketidakefektifan pola nafas yang berhubungan dengan menurunnya
ekspresi paru sekunder terhadap penumpukan cairan dalam rongga pleura.
3. Gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan kerusakan membran
alveolar-kapiler.
4. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang
berhubungan dengan keletihan, anoreksia, dispnea, peningkatan
metabolisme tubuh.
5. Gangguan pola tidur yang berhubungan dengan adanya batuk, sesak nafas,
dan nyeri dada.
6. Intoleran aktivitas yang berhubungan dengan keletihan (keadaan fisik yang
lemah)
7. Cemas yang berhubungan dengan adanya ancaman kematian yang
dibayangkan (ketidakmampuan untuk bernafas) dan prognosis penyakit
yang belum jelas.

25
8. Kurangnya pengetahuan mengenai kondisi, aturan pengobatan yang
berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit dan
penatalaksanaan perawatan di rumah.

C. Intervensi
Konsep Intervensi Keperawatan
Diagnosa :
Domain 11 : Keamanan/perlindungan.
Kelas 2. Cedera fisik (00031)
Ketidakefektifan bersihan jalan nafas
Definisi: ketidakmampuan membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran
nafas untuk mempertahankan jalan nafas.

NOC

Kriteria Hasil :

Setelah dilakukan perawatan selama 2x24 jam masalah ketidakefektifan


bersihahan jalan nafas dapat teratasi.

(0410) status pernafasan : kepatenan jalan nafas

Definisi : saluran trakeobronkial yang terbuka dan lancar untuk pertukaran gas.

1. Frekuensi pernafasan dari skala 1(deviasi berat dari kisaran normal)

ditingkatkan ke skala 4 (deviasi ringan dari kisaran normal)

2. kedalaman inspirasi dari skala 1(deviasi berat dari kisaran normal)

ditingkatkan ke skala 4 (deviasi ringan dari kisaran normal)

3. Kemampuan untuk mengeluarkan sekret dari skala 1 (deviasi berat dari


kisaran normal)

ditingkatkan ke skala 4 (deviasi ringan dari kisaran normal)


NIC
(3160) penghisapan lendir pada jalan nafas

26
Definisi : membuang sekret dengan memasukkan kateter suksion kedalam mulut,
nasofaring atau trakhea pasien
1. Lakukan tindakan cuci tangan.
2. Lakukan tindakan pencegahan umum.
3. Gunakan alat pelindung diri sesuai dengan kebutuhan.
4. Tentukan perlunya suktion mulut atau trakhea.
5. Aukultasi suara nafas sebelum dan setelah tindakan suction.
6. Aspirasi nasopharingeal dengan kanul suction sesuai dengan kebutuhan
7. Berikan sedatif sebagaimana mestinya.
8. Masukan nasopharingeal airway untuk melakukan suction nasotracheal
sesuai kebutuhan
9. Instruksikan pada pasien untuk menarik nafas dalam sebelum dilakukan
suction nasotracheal dan gunakan oksigen sesuiai kebutuhan.
Diagnosa :
Domain 4: Aktivitas/ Istirahat
Kelas 4. Respons Kardiovaskuler/ Pulmonal (00032) Ketidakefektifan pola
nafas.
Definisi: Inspirasi dan/ atau ekspirasi yang tidak memberi ventilasi adekuat.
NOC

Kriteria Hasil :

setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam masalah ketidakefektifan pola nafas
dapat teratasi.

(0403) status pernafasan : ventilasi.

Definisi : keluar masuknya udara dari dan kedalam paru.

1. Frekuensi pernafasan dari sekala 1 (deviasi berat dari kisaran normal)

ditingkatkan ke skala 4 (deviasi ringan dari kisaran normal)

2. Irama pernafasan dari sekala 1 (deviasi berat dari kisaran normal)

ditingkatkan ke skala 4 (deviasi ringan dari kisaran normal)

3. Kedalaman inspirasi dari sekala 1 (deviasi berat dari kisaran normal)


ditingkatkan ke skala 4 (deviasi ringan dari kisaran normal)

27
NIC
3140 manajemen jalan nafas
Definisi: fasilitas kepatenan jalan nafas.
1. Buka jalan nafas dengan teknik chin lift atau jaw thrust sebagai mana
mestinya.
2. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi.
3. Identifikasi kebutuhan aktual/potensial pasien untuk memasukkan alat
membuka jalan nafas.
4. Masukkan alat (NPA) atau (OPA) sebagaimana mestinya.
5. Lakukan fisioterapi dada sebagaimana mestinya.
Diagnosa :
Domain 3: Eliminasi dan pertukaran
Kelas 4. Fungsi respirasi (00030) Gangguan pertukaran gas
Definisi: kelebihan atau defisit oksigenasi dan/atau eliminasi karbon dioksida
pada membran alveolar-kapiler
NOC
Kriteria Hasil:
Setelah dilakukan perawatan selama 2x24 jam gangguan pertukaran gas kembali
normal.
(0402) status pernafasan : pertukaran gas
Definisi:
pertukaran karbondioksida dan oksigen di alveoli untuk mempertahankan
konsentrasi darah arteri.

1. Tekanan parsial oksigen didarah arteri dari skala 1 (deviasi berat dari kisaran
normal) ditingkatkan ke skala 4 (deviasi ringan dari kisaran normal).

2. Tekanan parsial karbondioksida didarah arteri dari skala 1 (deviasi berat dari
kisaran normal) ditingkatkan ke skala 4 (deviasi ringan dari kisaran normal).

3. PH arteri dari skala 1 (deviasi berat dari kisaran normal) ditingkatkan ke skala
4 (deviasi ringan dari kisaran normal).

4. Saturasi oksigen dari skala 1 (deviasi berat dari kisaran normal) ditingkatkan
ke skala 4 (deviasi ringan dari kisaran normal).

28
NIC
(3140) Manajemen jalan nafas
Definsi: fasilitas kepatenan jalan nafas.
Aktivitas-aktivitas:
1. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
2.Motivasi pasien untuk bernafas pelan, dalam, berputar, dan batuk
3.Posisikan untuk meringankan sesak nafas
4.Monitor status pernafasan dan oksigenasi sebagaimana mestinya.
Diagnosa :
Domain 2: Nutrisi
Kelas 1. Makan (00002) Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari
kebutuhan tubuh
Definisi: asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
NOC
Kriteria Hasil:
Setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam intake nutrisi klien terpenuhi.
(1009) status nutrisi : asupan nutrisi.
Definisi:
asupan gizi untuk memenuhi kebutuhan - kebutuhan metabolik

1.Asupan protein dari skala 1 (tidak adekuat) ditingkatkan menjadi skala 4


(sebagian besar adekuat)

2.Asupan lemak dari skala 1 (tidak adekuat) ditingkatkan menjadi skala 4


(sebagian besar adekuat)

3.Asupan karbohidrat dari skala 1 (tidak adekuat) ditingkatkan menjadi skala 4


(sebagian besar adekuat)

4.Asupan vitamin dari skala 1 (tidak adekuat) ditingkatkan menjadi skala 4


(sebagian besar adekuat)

5.Asupan mineral dari skala 1 (tidak adekuat) ditingkatkan menjadi skala 4


(sebagian besar adekuat)

6.Asupan zat besi dari skala 1 (tidak adekuat) ditingkatkan menjadi skala 4
(sebagian besar adekuat)

29
7.Asupan kalsium dari skala 1 (tidak adekuat)ditingkatkan menjadi skala 4
(sebagian besar adekuat)
NIC
(1100) manajemen nutrisi
Definisi: menyediakan dan meningkatkan intake nurisi yang seimbang.
akvifitas-aktivitas:
1. Tentukan status gizi pasien dan kemampuan pasien untuk memenuhi
kebutuhan gizi
2. Identifikasi adanya elergi atau intoleransi makanan yang dimiliki pasien.
3. Tentukan apa yang menjadi prefensi makanan bagi pasien.
4. Instruksikan pasien mengenai kebutuhan nutrisi.
5. Tentukan jumlah kalori dan jenis nutrisi yang dibutuhkan untuk memenuhi
persyaratan gizi.
6. Berikan pilihan makanan sambil menawarkan bimbingan terhadap pilihan
yang lebih sehat.
Diagnosa :
Domain 4: aktivitas/istirahat
Kelas 1. Tidur/istirahat (000198) Gangguan pola tidur
Definisi: interupsi jumlah waktu dan kualitas tidur akibat faktor eksternal.
NOC
Kriteria Hasil:
Setelah dilakukan perawatan selama 2x24 jam masalah gangguan pola tidur
dapat teratasi.
(0003) istirahat
Definisi: berkurangnya kuantitas dan pola aktifitas untuk memulihkan mental
dan fisik.
1. Pola istirahat dari skala 1 (sangat terganggu) ditingkatkan menjadi skala 5
(tidak terganggu)
2. kualitas istirahat dari skala 1 (sangat terganggu) ditingkatkan menjadi skala 5
(tidak terganggu)
3. beristirahat secara fisik dari skala 1 (sangat terganggu) ditingkatkan menjadi
skala 5 (tidak terganggu)

30
4. beristirahat secara mental dari skala 1 (sangat terganggu) ditingkatkan menjadi
skala 5 (tidak terganggu)
NIC
(1850) peningkatan tidur
Definisi: memfasilitasi tidur/siklus bangun teratur.
Aktivitas-aktivitas:
1. tentukan pola tidur pasien
2. jelaskan pentingnya tidur yang cukup selama penyakit dan lain-lain
3. monitor pola tidur pasien dan catat kondisi fisik.
4. Sesuaikan lingkungan untuk meningkatkan tidur.
5. Mulai/terapkan langkah-langkah kenyamanan seperti pijat,pemberian posisi
dan sentuhan efektif.
6. Bantu meningkatkan jumlah jam tidur.
7. Diskusikan dengan pasien dan keluarga mengenai teknik untuk meningkatkan
tidur.
Diagnosa :
Domain 4: aktifitas/istirahat
Kelas 4. Respon kardiovaskular/pulmonal (00092) Intoleran aktivitas
Definisi: ketidakcukupan energi psikologis atau fisiologis untuk
mempertahankan atau menyelesaikan aktivitas kehidupan sehari-hari yang harus
atau yang ingin dilakukan.
NOC
Kriteria Hasil:
Setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam masalah intoleransi aktifitas
tercapai.
(0002) konservasi energi
Definisi: tindakan individu dalam mengelola energi untuk memulai dan
mempertahankan aktivitas.

1. Menyeimbangkan aktivitas dan istirahat dari skala 1 (tidak pernah


menunjukan) ditingkatkan menjadi skala 4 (sering menunjukan)

2.Menyadari keterbatasan energi dari skala 1 (tidak pernah menunjukan)


ditingkatkan menjadi skala 4 (sering menunjukan)

31
3.Menggunakan teknik konservasi energi dari skala 1(tidak pernah menunjukan)
ditingkatkan menjadi skala 4 (sering menunjukan)

4.Mengatur aktivitas untuk konservasi energi dari skala 1(tidak pernah


menunjukan) ditingkatkan menjadi skala 4 (sering menunjukan)
NIC
(4310) terapi aktivitas
Definisi: peresepan terkait dengan menggunakan bantuan aktivitas fisik, kognisi,
sosial dan spiritual untuk meningkatkan frekuensi dan durasi aktivitas kelompok.
1. Pertimbangkan kemampuan klien dalam berpartisipasi melalui aktivitas
spesifik.
2. Pertimbangkan komitmen klien untuk meningkatkan frekuensi dan jarak
aktifitas.
3. Bantu klien untuk tetap fokus pada kekuatan (yang dimilikinya)
dibandingkan dengan kelemahan (yang dimilikinya)
4. Dorong aktivitas kreatif yang tepat.
5. Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang diinginkan.
6. Bantu klien dan keluarga untuk mengidentifikasi kelemahan dalam level
aktivitas tertentu.
7. Sarankan metode-metode untuk meningkatkan aktivitas fisik yang tepat.
8. Bantu klien dan keluarga memantau perkembangan klien terhadap
pencapaian tujuan
Diagnosa :
Domain 9 : koping/toleransi stres Kelas 2. Respons koping
(00147) Ansietas Kematian
Definisi: perasaan tidak nyaman atau gelisah yang samar atau yang ditimbulkan
oleh persepsi tentang ancaman nyata atau imajinasi terhadap eksistensi
seseorang.
NOC
Kriteria Hasil:
Setelah dilakukan perawatan selama 2x24 jam klien mampu memahami dan
menerima keadaannya sehingga tidak terjadi kecemasan.
Ansietas

32
Definisi: perasaan tidak nyaman atau gelisah yang samar yang ditimbulkan oleh
persepsi ancaman nyawa atau imajinasi terhadap eksistensi seseorang.

1. Klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas

2. Klien mampu mengidentifikasi, mengungkapkan dan menunjukan teknik


untuk mengontrol cemas.

3. Postur tubuh, dan tingkat aktivitas menunjukan berkurangnya kecemasan.


NIC
(5820) pengurangan kecemasan
Definisi: mengurangi tekanan, kekuatan, firasat, maupun ketidaknyamanan
terkait dengan sumber-sumber bahaya yang tidak teridentifikasi.
Aktivitas-aktivitas:
1. Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan
2. Nyatakan dengan jelas harapan terhadap prilaku klien.
3. Berada di sisi klien untuk meningkatkan rasa aman dan mengurangi ketakutan
4. Dorong keluarga untuk mendampingi klien dengan cara yang tepat.
5. Dengarkan klien
6. Identifikasi pada saat terjadi perubahan tingkat kecemasan.
7. Bantu klien mengidentifikasi situasi yang memicu kecemasan.
8. Instruksikan klien untuk menggunakan teknik relaksasi.
Diagnosa :
Domain 5:
Persepsi/kognisi Kelas 4. Kognisi (00126) defisiensi pengetahuan
Definisi: ketidaan atau defisiensi informasi kognitif yang berkaitan dengan topik
tertentu.
NOC
Kriteria Hasil:
Setelah dilakukan perawatan selama 2x24 jam klien mampu melaksanakan apa
yang telah diinformasikan.
(1803) pengetahuan : proses penyakit
Definisi: tingkat pemahaman yang disampaikan tentang proses penyakit tertentu
dan komplikasinya.
1. Karakter spesifik penyakit dari skala 1 (tidak ada pengetahuan) ditingkatkan

33
menjadi skala 4 (pengetahuan banyak)
2. Faktor-faktor penyebab dan faktor yang berkontribusi dari skala 1 (tidak ada
pengetahuan) ditingkatkan menjadi skala 4 (pengetahuan banyak)
3. Faktor resiko dari skala 1 (tidak ada pengetahuan) ditingkatkan menjadi skala
4 (pengetahuan banyak)
4. Tanda dan gejala dari skala 1 (tidak ada pengetahuan) ditingkatkan menjadi
skala 4 (pengetahuan banyak)
5. Proses perjalanan penyakit biasanya dari skala 1 (tidak ada pengetahuan)
ditingkatkan menjadi skala 4 (pengetahuan banyak)
6. Strategi untuk meminimalkan
Perkembangan penyakit dari skala 1 (tidak ada pengetahuan) ditingkatkan
menjadi skala 4 (pengetahuan banyak)
NIC
(5602) pengajaran: proses penyakit
Definisi: membantu pasien untuk memahami informasi yang berhubungan
dengan proses penyakit secara spesifik.
Aktivitas-aktivitas:
1. Kaji tingkat pengetahuan pasien terkait dengan proses penyakit yang spesifik.
2. Review pengetahuan pasien mengenai kondisinya.
3. Jelaskan tanda dan gejala yang umum dari penyakit, sesuai kebutuhan.
4. Jelaskan mengenai proses penyakit, sesuai kebutuhan
5. Berikan informasi pada pasien mengenai kondisi, sesuai kebutuhan.
6. Berikan informasi kepada keluarga yang penting bagi pasien mengenai
perkembangan pasien sesuai kebutuhan.
7. Edukasi pasien mengenai tindakan untuk mengontrol/meminimalkan gejala
sesuai kebutuhan.

34
DAFTAR PUSTAKA

Aditama, TY. (2005). Tuberkulosis Paru: Masalah dan penanggulangannya.


Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta. Alpers.
Alsagaff, H dan Mukty, A. (2006). Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru. Surabaya:
Airlangga University Press

Bulechek, G.M., Butcher, H., Dochterman, J.M. 2013. Nursing Intervention


Classification (NIC). 6th Edition. Singapore: Elsevier. Terjemahan oleh
Nurjannah, I.,Tumanggor,R.D. 2016. Nursing Intervention Classification
(NIC). Edisi Indonesia Keenam. Yogyakarta: CV. Mocomedia.

Depkes RI. (2011). Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis. Jakarta.


Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal
Pengendalian Penyakit Dan Penyehatan Lingkungan 2011. [Serial Online]
Diunduh dari
http://www.dokternida.rekansejawat.com/dokumen/DEPKES-Pedoman-
Nasional-Penanggulangan-TBC-2011-Dokternida.com.pdf Diakses tanggal
12 Oktober 2017.
Departemen Kesehatan. 2007. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis.
Jakarta

Depkes RI. 2006. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberculosis.


Jakarta:Depkes RI.

Depkes RI. 2007. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberculosis.


Jakarta:Depkes RI.

Doenges E Marilyn.1999. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk


perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Ed3. Jakarta: EGC.
Evelyn CP, 2009. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta. Gramedia

Guyton A.C. and J.E. Hall 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9.
Jakarta: EGC. 74,76, 80-81, 244, 248, 606,636,1070,1340.

Hiswani. 2009. Tuberkulosis Merupakan Penyakit Infeksi Yang Masih Menjadi


Masalah Kesehatan Masyarakat.
http://library.usu.ac.id/download/fkmhiswani-6.pdf 2009.

Irman Somantri, S,Kp. M. Kep. 2009. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan
Gangguan pada Sistem Pernafasan. Jakarta: Salemba Medika.

Moorhead, S., Johnson, M., L. Maas, M., Swanson, E. 2013. Nursing Outcomes
Classification (NOC). 5th Edition. Singapore: Elsevier. Terjemahan oleh
Nurjannah, I.,Tumanggor,R.D. 2016. Nursing Outcomes Classification
(NOC). Edisi kelima. CV. Mocomedia.

35
Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Sistem
Pernafasan. Jakarta: Salemba Medika

NANDA International. (2015). Diagnosa Keperawatan : Definisi dan Klasifikasi


Edisi 10, 2015-2017. Jakarta : EGC.

Nugroho, AT. 2014. Kajian Asuhan Keperawatan Pada Tn. P dengan Gangguan
Oksigenasi Tuberkulosis Paru di Ruang Isolasi Rumah Sakit PKU
Muhammadiyah Surakarta. STIKES PKU Muhammadiyah Surakarta.
http://stikespku.com/digilib/files/disk1/2/stikes%20pku--ariyantitr-79-1-
karyatu-h.pdf

Panji Utomo, Susan Hendriarini Mety, Agung Wibawanto.(2013). Pembedahan


untuk Extensively Drug Resistant Tuberculosis (XDR TB) dengan
Perhatian Pencegahan Transmisi kepada Petugas Kesehatan di RSUP
Persahabatan. Jakarta. J Respir Indo Vol. 33, No. 2, April 2013. [Serial
Online] Diuduh dari http://jurnalrespirologi.org/wp-
content/uploads/2013/05/jri-2013-33-2-122-5.pdf Diakses tanggal 12
Oktober 2017.
Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. 2001. Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam edisi ketiga. Balai Penerbit FKUI : Jakarta.

PPTI. 2011. Buku Saku TBC Bagi Masyarakat. Denpasar:PPTI.

Price & Wilson. 2012. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.


Jakarta : EGC.

Santa Manurung dkk, (2009). Gangguan Sistem Pernafasan Akibat


Infeksi,CV.Trans Info Medika: Jakarta – timur.

Sudoyo, A.,dkk. (2007). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Interna Publishing,
Jakarta.

Susan Martin Tucker.1998. Standar perawatan Pasien: proses keperawatan,


diagnosis, dan evaluasi. Ed5. Jakarta:EGC.

Sherwood, L. 2001. Fisiologi Manusia;dari Sel ke Sistem. Edisi 2. Jakarta;EGC

Smeltzer c Suzanne.2002. Buku Ajar Keperawatan medical Bedah, Brunner and


Suddarth’s, Ed8. Vol.1, Jakarta:EGC.

WHO. (2010). Multidrug and extensively drug-resistant TB (M/XDR-TB). 2010


Global Report On Surveillance And Response. ISBN 978 92 4 159919 1
[Serial On Line]
Diunduh dari
http://apps.who.int/iris/bitstream/10665/44286/1/9789241599191_eng.pdf
Diakses tanggal 12 Oktober 2017.

36
37