Anda di halaman 1dari 5

HASIL

GAMBAR 1. Potongan transversal melalui faring anterior

GAMBAR 2 Potongan transversal melalui telinga dalam


GAMBAR 3 tahap tunas ekor
ANALISIS

1. Potongan transversal melalui faring bagian anterior


Pengamatan anatomi seri potongan transversal faring bagian anterior didapatkan hasil bakal
organ yang terbentuk yaitu rhombensefalon, faring, dan adhesive gland

2. Potongan transversal melalui telinga bag dalam


Pengamatan anatomi seri potongan transversal memalui telinga bagian dalam
didaptakan hasil bakal organ yang terbentuk yaitu rhombensefalon, otic vesicle,
notokord, faring, heart, pericardial coelom, dan adhesive gland
3. Tunas ekor irisan sagital
Pengamatan anatomi seri

4.

PEMBAHASAN

a. Embrio tunas ekor

Pembentukan macam-macam organ terjadi setelah tahap neurulasi. Organ terbentuk


dari lapisan ektoderm, mesoderm dan endoderm. Perkembangan bakal organ dapat diamati
pada embrio katak tahap tunas ekor (Tenzer, dkk., 2001). Embrio tunas eker terjadi saat
adanya pembentukan jaringan muscular. Jaringan muscular atau otot ini berasal
dari differensiasi mesoderm. mesoderm terbagi menjadi dua yaitu dorsal dan
ventral perkembangan jaringan otot ini bersal dari mesoderm ventral yang
terbagi-bagi dalam somit dimana setiap somit ini mempunyai rongga (miotom)
dan yang membagi dua lapisan dalam yang lebih tebal yang dinamakan miotom
dan bagian luar dinamakan dermatotom. Dari miotom inilah jaringan otot
berasal dan dari dermatotom inilah akan terbentuk jaringan ikat (Yatim, wildan.
1994. Reproduksi dan Embriology. Bandung: Tarsito). Ciptono (2008) menambahkan
seiring dengan neurulasi blastoporus mengecil danBentuk embrio tidak lagi bundar
melainkan agak lonjong.Ekor vertebrata muncul dari suatu massa dari jaringan, dikenal berbagai sebagai tunas ekor.

Selanjutnya, pada bagian anterior dari arah penutupan neural tube pertama akan berdifirensiasi menjadi 3 bagian yakni prosensefalon,

mesensefalon dan rombensefalon, sedangkan bagian posteriornya akan membentuk spinal cord. Pada pengamatan, tahap pembentukan awal

tail bud, bagian kepala atau anterior embrio tidak begitu jelas bagian-bagian otaknya karena preparat telah rusak, namun tunas ekor terlihat

jelas, begitu pula arkenteron yang telah memanjang sehingga dapat terlihat bagian fore-gut, mid-gut, dan hind-gut dari embrio.

b. Potongan transversal melalui faring anterior

Pada irisan melintang seri selanjutnya adalah irisan yang melewati rombensefalon,
infundibulum, hipofisis, faring, dan adhesive gland. Terlihat adanya rombensefalon, saraf
kranial, infundibulum, hipofisis, faring dan adhesive gland. Pada perkembangan embrio,
rombensefalon merupakan bagian paling kaudal dari otak yang memiliki rongga disebut
rhombocoel. Rombensefalon juga disebut sebagai hindbrain (Marshall, 1893). Faring
merupakan bagian foregut yang mengalami perluasan (Morgan, 1897). Pada irisan yang
melewati rombensefalon, notokord, thyroid anlage,dan adhesive gland dengan irisan yang
melewati rombensefalon, notokord, kapsul otik, dan thyroid anlage bagian-bagian yang
terlihat menunjukkan bagian yang sama yaitu masih terdapat rombensefalon dan faring. Di
bagian bawah dari rombensefalon terdapat notokord dan otik kapsul yang terletak di ventral
dari notokord. Notokord merupakan bagian dari sel mesoderm. Thyroid anlage terbentuk dari
lengkung brankhial yang mengalami evaginasi dari area buccopharyngeal (McDiarmid dan
Altig, 1999). Otik kapsul yang juga disebut sebagai kantung auditori terbentuk dari
invaginasi plakoda otik. Ketika optik kapsul telah berpisah dengan ektoderm kepala maka
akan membentuk telinga dalam.
c. Potongan transversal melalui telinga dalam
ketika embrio dipotong secara transversal melalui lubang hidung kita akan mengetahui
epidermis, prosephalon, olfactory pit, sedangkan pada waktu dipotong sacara transversal
melalui telinga dalam kita apat mengamati rhombensefalon, neural crest, otic vesicle,
notochord, faring, jantung, lubang pericardial, dan adhesive gland. Pembenukan system
syaraf pusat diawali dengan pembentukkan bumbung neural (neurulasi) dan embrio pada
tahap ini disebut dengan neurula. (Sudarwati, 1990).
DAFTAR RUJUKAN

(Yatim, wildan. 1994. Reproduksi dan Embriology. Bandung: Tarsito).

Sudarwati. 1990. Dasar-dasar struktur dan perkembangan hewan. Bandung: ITB

Dagala, Ned Arnnie. 2015. A Study of Frog Embryo. Department of Biological Sciences,
Institute of Arts and Sciences, Far Eastern University, Nicanor Reyes Sr.,
Manila.(Online), (DOI: 10.13140/RG.2.1.3696.9121), diakses 21 Oktober 2016