Anda di halaman 1dari 22

PENYAKIT AKIBAT KERJA PADA PERAWAT :

PENYAKIT MENULAR DAN TIDAK MENULAR

Diajukan sebagai tugas mata kuliah Keselamatan Pasien dan


Keselamatan Kerja dalam Keperawatan

Oleh :

CHRISTOFORUS PRATAMA

INDAH OKTAVIANTI

SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH PONTIANAK

PRODI S1 KEPERAWATAN NON REGULER

2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa bahwa makalah “Penyakit Akibat
Kerja pada Perawat: Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular ” telah selesai dikerjakan
untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh dosen kami. Dalam proses pembuatan makalah
ini kami sebagai penyusun mengalami berbagai hambatan dan gangguan, akan tetapi dengan
kesabaran serta dukungan dari media yang memadai, makalah ini dapat terselesaikan dengan
baik. Tak ketinggalan pula kami sebagai penyusun makalah mengucapkan banyak terima kasih
kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat selesai tepat pada
waktunya, terutama Ibu Tri Wahyuni

Semua pihak dan rekan-rekan yang membantu dalam pengumpulan bahan, penyusunan
dan pembuatan makalah Penyakit Akibat Kerja padaPerawat: Penyakit Menular dan Penyakit
Tidak Menular.Tentunya sebagai manusia yang tak sempurna, kami selaku penyusun tak lepas
dari kesalahan. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca sebagai bahan
evaluasi atas makalah yang kami buat. Harapannya agar kami menjadi lebih baik lagi di
kemudian hari.
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN................................................................................................................4

BAB II PEMBAHASAN.................................................................................................................6

BAB III CONTOH KASUS............................................................................................................7

A. Penyakit Menular..................................................................................................................7

1. Kasus 1..............................................................................................................................7

2. Kasus 2..............................................................................................................................7

B. Penyakit Tidak Menular........................................................................................................8

1. Kasus 3..............................................................................................................................8

2. Kasus 4..............................................................................................................................9

C. Pembahasan Kasus................................................................................................................9

1. Kasus 1..............................................................................................................................9

2. Kasus 2..............................................................................................................................9

3. Kasus 3..............................................................................................................................9

4. Kasus 4..............................................................................................................................9

BAB IV PENUTUP.......................................................................................................................10

A. Kesimpulan.........................................................................................................................10

DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................................................11
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kondisi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) perusahaan di Indonesia secara umum
diperkirakan termasuk rendah. Pada tahun 2005 Indonesia menempati posisi yang buruk jauh
di bawah Singapura, Malaysia, Filipina dan Thailand.Kondisi tersebut mencerminkan
kesiapan daya saing perusahaan Indonesia di dunia internasional masih sangat rendah.
Indonesia akan sulit menghadapi pasar global karena mengalami ketidakefisienan
pemanfaatan tenaga kerja (produktivitas kerja yang rendah). Padahal kemajuan perusahaan
sangat ditentukan peranan mutu tenaga kerjanya.Karena itu disamping perhatian perusahaan,
pemerintah juga perlu memfasilitasi dengan peraturan atau aturan perlindungan Keselamatan
dan Kesehatan Kerja.Nuansanya harus bersifat manusiawi atau bermartabat.

Keselamatan kerja telah menjadi perhatian di kalangan pemerintah dan bisnis sejak
lama. Faktor keselamatan kerja menjadi penting karena sangat terkait dengan kinerja
karyawan dan pada gilirannya pada kinerja perusahaan.Semakin tersedianya fasilitas
keselamatan kerja semakin sedikit kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja.

Di era globalisasi dan pasar bebas WTO dan GATT yang akan berlaku tahun 2020
mendatang, kesehatan dan keselamatan kerja merupakan salah satu prasyarat yang ditetapkan
dalam hubungan ekonomi perdagangan barang dan jasa antar negara yang harus dipenuhi
oleh seluruh negara anggota, termasuk bangsa Indonesia. Untuk mengantisipasi hal tersebut
serta mewujudkan perlindungan masyarakat pekerja Indonesia; telah ditetapkan Visi
Indonesia Sehat 2010 yaitu gambaran masyarakat Indonesia di masa depan, yang
penduduknya hidup dalam lingkungan dan perilaku sehat, memperoleh pelayanan kesehatan
yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-
tingginya.
Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah salah satu bentuk upaya
untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran lingkungan,
sehingga dapat mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja
yang pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja.
Penyakit Akibat Kerja (PAK) di kalangan petugas kesehatan dan non kesehatan
kesehatan di Indonesia belum terekam dengan baik.Jika kita pelajari angka penyakit akibat
kerja di beberapa negara maju (dari beberapa pengamatan) menunjukan kecenderungan
peningkatan prevalensi.Sebagai faktor penyebab, sering terjadi karena kurangnya kesadaran
pekerja dan kualitas serta keterampilan pekerja yang kurang memadai.Banyak pekerja yang
meremehkan risiko kerja, sehingga tidak menggunakan alat-alat pengaman walaupun sudah
tersedia. Dalam penjelasan undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan telah
mengamanatkan antara lain, setiap tempat kerja harus melaksanakan upaya kesehatan kerja,
agar tidak terjadi gangguan kesehatan pada pekerja, keluarga, masyarakat dan lingkungan
disekitarnya.
Setiap orang membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuan hidupnya. Dalam
bekerja Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan faktor yang sangat penting untuk
diperhatikan karena seseorang yang mengalami sakit atau kecelakaan dalam bekerja akan
berdampak pada diri, keluarga dan lingkungannya.

B. Permasalahan
Berdasarkan penjelasan pada latar belakang di atas, maka permasalahan yang akan
dibahas dalam makalah ini adalah penyakit akibat kerja pada perawat, dan penyakit menular
dan tidak menular.

C. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui peran tenaga kesehatan dalam
menangani penyakit akibat kerja pada perawat, dan penyakit menular dan tidak menular.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Penyakit Menular

Penyakit menular dapat di definisikan sebagai sebuah penyakit yang dapat ditularkan
(berpindah dari satu orang ke orang yang lain, baik secara langsung dan secara perantara).
Penyakit menular ini ditandai dengan adanya agen atau penyebab penyakit yang hidup dan
dapat berpindah serta menterang host/inang (penderita). Dalam hal ini maka penyakit
menular dapat di kelompokan dalam 3 kelompok utama yakni:
1. Penyakit yang sangat berbahaya karena kematian cukup tinggi.
2. Penyakit menular yang dapat menimbulkan kematian atau cacat, walaupun,
akibatnya lebih ringan dibanding dengan yang pertama.
3. Penyakit menular yang jarang menimbulkan kematian, tetapi dapat mewabah
sehingga dapat menimbulkan kerugian waktu maupun materi/biaya.

B. Faktor Penyebab Penyakit Menular

Pada proses perjalanan penyakit menular di dalam masyarakat, maka dikenal adanya
beberapa faktor yang memegang peranan penting antara lain adanya faktor penyebab (agent)
yakni organisme penyebab penyakit, adanya sumber penularan (resorvoir maupun resources),
adanya cara penularan khusus (mode of transmission), adanya cara meninggalkaan penjamu
dan cara masuk ke penjamu lainnya, serta keadaan ketahanan penjamu sendiri, yang
merupakan penyebab kausal (agent) penyakit menular adalah unsur biologis, yang bervariasi
mulai dari partikel virus yang paling sederhana sampai organisme multi selular yang cukup
kompleks yang dapat menyebabkan penyakit manusia. Unsur penyebab ini dapat
dikelompokkan dalam beberapa kelompok yakni:
1. Kelompok arthropoda (serangga), seperti pada penyakit scabies, pediculosis dan
lain-lain.
2. Kelompok cacing/helminth baik cacing darah maupaun cacing perut dan yang
lainnya.
3. Kelompok protozoa, seperti plasmodium,amoeba,dan lain-lain.
4. Fungus atau jamur, baik uniseluler maupun multiseluler.
5. Bakteri termasuk spirocheata maupun ricketsia yang memiliki sifat tersendiri.

Sebagai makhluk biologis yang sebagian besar adalah kelompok mikro-organisme, unsur
penyebab penyakit menular tersebut juga mempuyai potensi untuk tetap berusaha untuk
mempertahankan diri terhadap faktor lingkungan di mana ia berada dalam usaha
mempertahankan hidupnya serta mengembangkan keturunannya.
Adapun usaha tersebut yang meliputi berkembang biak pada lingkungan yang
sesuai/menguntungkan, terutama pada penjamu /host dimana mikro-organisme tersebut
berada, berpindah tempat dari satu penjamu lainnya yang lebih sesuai/menguntungkan, serta
membentuk pertahanan khususnya pada situasi lingkungan yang jelek seperti membentuk
spora atau bentuk lainya.

C. Mekanisme Penyakit Menular

Aspek sentral penyebaran penyakit menular dalam masyarakat adalah mekanisime


penularan (mode of transmissions) yakni berbagai mekanisme di mana unsur penyebab
penyakit dapat mencapai manusia sebagai penjamu yang potensial. Mekanisme tersebut
meliputi cara unsur penyebab (agent) meninggalkan reservoir, cara penularan untuk
mencapai penjamu potensial, serta cara masuknya ke penjamu potensial tersebut. Seseorang
yang sehat sebagai salah seorang penjamu potensial dalam masyarakat, mungkin akan
ketularan suatu penyakit menular tertentu sesuai dengan posisinya dalam masyarakat serta
dalam pengaruh berbagai reservoir yang ada di sekitarnya. Kemungkinan tersebut sangat di
pengaruhi pula olah berbagai faktor antara lain:
1. Faktor lingkungan fisik sekitarnya yang merupakan media yang ikut
mempengaruhi kualitas maupun kuantitas unsur penyebab.
2. Faktor lingkungan biologis yang menentukan jenis vektor dan resevoir penyakit
serta unsur biologis yang hidup berada di sekitar manusia .
3. Faktor lingkungan sosial yakni kedudukan setiap orang dalam masyarakat,
termasuk kebiasaan hidup serta kegiatan sehari-hari.
Tiap kelompok memiliki jalur penularan tersendiri dan pada garis-garis besarnya dapat
di bagi menjadi dua bagian utama yakni:
1. Penularan langsung yakni penularan penyakit terjadi secara langsung dari
penderita atau resevoir, langsung ke penjamu potensial yang baru.
2. Penularan tidak langsung yakni penularan penyakit terjadi dengan melalui media
tertentu seperti melalui udara (air borne) dalam bentuk droplet dan dust, melalui benda
tertentu (vechicle borne), dan melalui vector (vector borne).

D. Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular

1. Pencegahan Penyakit Menular


Pengertian pencegahan secara umum adalah mengambil tindakan terlebih dahulu
sebelum kejadian. Dalam mengambil langkah-langkah untuk pencegahan, haruskan
didasarkan pada data/keterangan yang bersumber dari hasil analisis epidemiologi atau
hasil pengamatan penelitian epidemiologis. Pada dasarnya ada tiga tingkatan pencegahan
secara umum yakni:
a. Pencegahan tingkat pertama (primary prevention) yang meliputi:
1) promosi kesehatan dan pencegahan khusus, sasaran pencegahan pertama
dapat ditujukan pada faktor penyebab, lingkungan penjamu. Sasaran yang ditujukan
pada faktor penyebab atau menurunkan pengaruh penyebab serendah mungkin
dengan usaha antara lain: desinfeksi, pasteurisasi, sterilisasi, yang bertujuan untuk
menghilangkan mikro-organisme penyebab penyakit, penyemprotan inteksida
dalam rangka menurunkan menghilangkan sumber penularan maupun memutuskan
rantai penularan, di samping karantina dan isolasi yang juga dalam rangka
memutuskan rantai penularannya.
2) Mengatasi/modifikasi lingkungan melalui perbaikan lingkungan fisik
seperti peningkatan air bersih, sanitasi lingkungan dan perubahan serta bentuk
pemukiman lainnya, perbaikan dan peningkatan lingkungan biologis seperti
pemberantasan serangga dan binatang pengerat, serta peningkatan lingkungan sosial
seperti kepadatan rumah tangga, hubungan antar individu dan kehidupan sosial
masyarakat.
3) Meningkatkan daya tahan penjamu yang meliputi perbaikan status gizi,
status kesehatan umum dan kualitas hidup penduduk, pemberian imunisasi serta
berbagai bentuk pencegahan khusus lainnya, peningkatan status psikologis,
persiapan perkawinan serta usaha menghindari pengaruh faktor keturunan, dan
peningkatan ketahanan fisik melalui peningkatan kualitas gizi, serta olah raga
kesehatan.
4) Menggunakan APD (alat pelindung diri)
Perawat diwajibkan menggunakan APD saat bekerja karena berkontak secara
langsung

b. Pencegahan tingkat kedua (secondary prevention) yang meliputi:


1) diagnosis dini serta pengobatan yang tepat, sasaran pencegahan ini
terutama ditunjukkan pada mereka yang menderita atau dianggap menderita
(suspek) atau yang terancam akan menderita (masa tunas). Adapun tujuan usaha
pencegahan tingkat kedua ini yang meliputi diagnosis dini dan pengobatan yang
tepat agar dapat dicegah meluasnya penyakit atau untuk mencegah timbulnya
wabah, serta untuk mencegah proses penyakit lebih lanjut serta mencegah terjadi
akibat samping atau komplikasi.
2) Pencarian penderita secara dini dan aktif melalui peningkatan usaha
surveveillans penyakit tertentu, pemeriksaan berkala serta pemeriksaan kelompok
tertentu (calon pegawai, ABRI, mahasiswa dan sebagainya), penyaringan
(screening) untuk penyakit tertentu secara umum dalam masyarakat, serta
pengobatan dan perawatan efektif.
3) Pemberian chemoprophylaxis yang terutama bagi mereka yang dicurigai
berada pada proses prepatogenesis dan patogenesis penyakit tertentu.
c. Pencegahan tingkat ketiga (tertiary prevention) yang meliputi:
1) pencegahan terhadap cacat dan rehabilitasi, sasaran pencegahan tingkat ke
tiga adalah penderita penyakit tertentu dengan tujuan mencegah jangan sampai
mengalami cacat permanen, mencegah bertambah parahnya suatu penyakit atau
mencegah kematian akibat penyakit tersebut. Pada tingkatan ini juga dilakukan
usaha rehabilitasi untuk mencegah terjadinya akibat samping dari penyembuhan
suatu penyakit tertentu. Rehabilitasi adalah usaha pengembalian fungsi fisik,
psikologi dan sosial optimal mungkin yang meliputi rehabilitasi fisik/medis,
rehabilitasi mental/psikologis serta rehabilitasi sosial.
Pencegahan Penyakit Menular pada Perawat
1. Rajin mencuci tangan
Dilakukan sebelum makan, setelah berkontak dengan pasien atau melakukan pekerjaan
yang berhubungan dengan cairan kotoran, cairan tubuh pasien, sebelum memakai sarung
tangan, dan setelah melepas sarung tangan. Cara mencuci tangan adalah dengan
menggunakan air mengalir dan sabun atau cairan pembersih kuman, cuci kedua tangan
setidaknya dalam waktu 15-20 detik.
2. Memakai sarung tangan
Pada waktu ada kemungkinan berkontak dengan cairan darah, cairan tubuh, barang cairan
dan kotoran, harus mengenakan sarung tangan anti air yang terbuat dari bahan karet,
ethylene resin, atau asafetida dan sejenisnya. Pada waktu melepas sarung tangan, harus
melalui pergelangan yang ditarik keluar, kemudian sarung tangan dibalikkan keseluruhan,
kemudian dibuang, dan segera mencuci tangan. Perhatian: pemakaian sarung tangan tidak
dapat menggantikan pentingnya mencuci tangan.
3. Mengenakan masker mulut, masker mata atau masker muka
Pada saat menghadapi kemungkinan adanya cairan tubuh yang beterbangan, seperti :
pasien yang batuk atau bersin, harus mengenakan masker mulut atau masker muka dan
lain-lain sebagai alat pelindung. Hal-hal yang perlu diperhatikan mengenai masker
mulut :
a. Masker mulut berbentuk datar walaupun memiliki hasil perlindungan, tetapi
karena kurang melengkung dan tidak menempel rapat di wajah, hasilnya tidak
sebanding dengan masker mulut berbentuk gelas.
b. Masker mulut sebaiknya digunakan sekali pakai saja, apabila perlu dipakai
berulangkali, harus diperhatikan penyimpanan di tempat yang bersih dan berudara
lancar. Tetapi untuk kondisi berikut ini pemakaian tidak boleh dilanjutkan : ada
kecurigaan pencemaran, berlubang, berubah bentuk, kotor, berbau, hambatan untuk
bernafas bertambah dan lain-lain.
c. Pada saat melepas masker mulut harus menghindari tercemarnya masker
mulut,juga menghindari terkena pencemaran dari masker mulut. Sebelum dan sesudah
melepas masker mulut, harus mencuci tangan secara bersih.
d. Pada saat membuang masker mulut yang tercemar, harus menghindari tersebarnya
kuman, dengan cara melipat masker ke arah dalam, diletakkan ke dalam kantong
plastik yang ditutup rapat.
e. Memakai seragam kerja selama waktu kerja harus mengenakan seragam kerja
serta rajin diganti dan dicuci. Selesai kerja, meninggalkan kamar pasien untuk
istirahat, atau keruang makan untuk makan. Seragam kerja dan pakaian lainnya harus
dicuci secara terpisah.
Ketiga tingkat pencegahan tersebut saling berhubungan erat sehingga dalam pelaksanaan nya
sering dijumpai keadaan yang tumpang tindih.

E. Penyakit Tidak Menular (PTM)

Merupakan penyakit yang bukan disebabkan oleh kuman atau virus penyakit dan tidak
ditularkan kepada orang lain, termasuk cedera akibat kecelakaan dan tindak
kekerasan. Penyakit tidak menular (PTM), juga dikenal sebagai penyakit kronis, tidak
ditularkan dari orang ke orang, mereka memiliki durasi yang panjang dan pada umumnya
berkembang secara lambat. Penyakit ini ditimbulkan oleh aktivitas perawat dalam bekerja
PTM memiliki tingkat kefatalan yang tinggi. Hampir bisa dipastikan penderita PTM tidak
akan sembuh seperti sebelumnya bahkan cenderung memburuk. Penyakit yang termasuk
PTM utama di Indonesia yaitu: penyakit kardiovaskuler, kanker, penyakit paru obstruktif
kronis ( PPOK ), dan diabetes mellitus, serta cedera akibat kecelakaan dan tindak kekerasan.
Tahun 2002, Badan Kesehatan Dunia WHO menyatakan bahwa cedera ( injury ) merupakan
salah satu jenis penyakit ( disease ). Berikut ini yang merupakan PTM adalah :

1. Sakit otot dan tulang


Tindakan memindahkan pasien, membalikkan dan menepuk-nepuk punggung pasien,
latihan penyembuhan, dikarenakan sering mengeluarkan tenaga berlebihan, gerakan yang
tidak benar atau berulang-ulang, mudah menyebabkan cedera di bagian otot dan tulang,
apabila tenaga perawat berusia agak tua, maka akan menambah resiko dan tingkat
keseriusan cedera di otot dan tulang.
2. Gangguan tidur
Tenaga perawat perlu waktu sepanjang malam atau waktu yang tidak tentu untuk menjaga
pasien, sehingga mudah mengalami kondisi tidur pendek, tidur kurang lelap, kesulitan
tidur.
3. Low Back Pain
Perawat terutama yang ada di ruang IGD, cenderung untuk menderita sakit punggung
bawah karena terjadinya gerakan mengangkat pasien secara berulang-ulang. Posisi
pengangkatan yang salah merupakan faktor penyebab dari penyakit ini
4. Tindak Kekerasan
Perawat juga tak luput dari cedera akibat tindak kekerasan, hal tersebut dapat terjadi
karena pasien dalam keadaan tidak sadar atau pada pasien dengan penyakit jiwa, akhir-
akhir ini di Indonesia sering juga terjadi aksi pemukulan yang dilakukan oleh keluarga
pasien.

F. Pencegahan Penyakit Tidak Menular

1. Pencegahan cedera otot dan tulang


a. Pada saat memindahkan barang, tubuh sebisa mungkin dekat dengan barang
tersebut dan hindari gerakan membungkuk atau posisi membungkuk ke arah depan,
sebaiknya berlutut atau kedua kaki direndahkansehingga pusat beban berkurang untuk
menghindari cedera di bagian pinggang. Pada saat memindahkan barang jangan hanya
memutarkan pinggang, harus dengan satu kaki sebagai tumpuan, kaki yang lain
bergerak dan memutarkan seluruh badan untuk menghindari cedera di lutut dan
pinggang.
b. Pada saat merawat pasien apabila ada gerakan condong ke depan sebelum
membungkuk, harus dengan satu tangan sebagai tumpuan badan untuk menghindari
pinggang mendapat beban terlalu besar. Apabila perlu memindahkan pasien, harus
dengan kedua kaki merendah sehingga pusat beban terkurang untuk menghindari
terjadinya cedera di bagian pinggang.
c. Jagalah posisi duduk yang benar, bagian punggung sebaiknya menempel di
punggung kursi, untuk menghindari tulang pinggang melengkung, dapat diganjal
dengan barang tumpuan kecil atau bantal kecil, untuk mengurangi beban di tulang
pinggang.
2. Saran untuk istirahat tidur
a. Pergunakan waktu istirahat siang, atau istirahat singkat untuk mensuplai waktu
tidur.
b. Sebelum tidur lakukan gerakan peregangan, untuk membantu cepat tidur. Tetapi
sebelum tidur tidak boleh melakukan olah raga berat.
c. Kegiatan sebelum tidur hendaknya diusahakan penuh kehangatan jangan
membuat emosi terlalu tinggi.
d. Dalam hal makanan hendaknya normal, teratur, seimbang sebagai patokan,
sebelum tidur hindari konsumsi makanan berlebihan, minum kopi, teh, nikotin dan
makanan merangsang lainnya. Apabila lembur malam, makan malam boleh ditambah,
tetapi sebelum selesai kerja harus menghindari produk penambah energi dan sebelum
tidur jangan makan terlalu kenyang atau mengkonsumsi makanan berlemak tinggi..
3. Hal lain yang perlu diperhatikan
a. Merawat pasien dibatasi untuk satu pasien saja, batasan ruang gerak hanya di satu
kamar pasien saja, tidak dibenarkan bergerak di berbagai bagian rumah sakit.
b. Boleh mendapat suntikan vaksinasi untuk memperkecil kemungkinan penularan,
seperti vaksinasi untuk hepatitisB, TBC, flu dan lain-lain.
c. Memahami perawatan pasien, atau kondisi penyakit menular pasien satu ruangan,
untuk mengambil langkah perlindungan diri sendiri yang memadai.
d. Memelihara kebiasaan berolah raga teratur, mempergunakan waktu luang
perawatan untuk mengerakkan seluruh otot dan tulang tubuh.
e. Secara aktif mengikuti program pendidikan dan pelatihan yang bersangkutan.
f. Setiap tahun melakukan pemeriksaan kesehatan berkala.
BAB III
CONTOH KASUS

G. Penyakit Menular

H. Kasus 1

Seorang Perawat di RSU Dr Slamet Garut Jadi Pasien Difteri

Pihak Rumah Sakit Umum (RSU) Dr Slamet Garut, mengkonfirmasi satu di


antara perawat di rumah sakit tersebut positif mengidap penyakit menular difteri.
Diketahui, perawat itu bernama R (33) warga Kabupaten Ciamis.Ia biasanya bertugas
sebagai perawat di ruangan mutiara RSU Dr Slamet Kabupaten Garut, Jalan
Pembangunan, Kabupaten Garut. Saat ini, R menjalani proses perawatan selama tiga hari
oleh tim dokter di ruangan isolasi bagi pengidap difteri yakni gedung Puspa Utama.
Kepala ruang perawatan, Puspa Utama, Wahyudin, mengatakan setelah melewati
rangkaian perawatan, kondisi R sudah membaik dibandingkan tiga hari yang
lalu."Seorang perawat kita beri terus antibiotik dan diberi vaksin antidifteri," kata
Wahyudin kepada Tribun Jabar di gedung Puspa Utama, Senin (29/1/2018).Ia
mengatakan, penyebab perawat tersebut bisa tertular penyakit difteri yakni karena kondisi
tubuh tidak sedang dalam prima, sehingga mudah tertular.
"Awal mulanya seperti sakit biasa," katanya.
Gejala awal seseorang tertular penyakit difteri yakni demam tinggi, sakit
tenggorokan, nyeri saat menelan, dan timbulnya benjolan di sekitar leher.Wahyudin juga
mengatakan, sejak beberapa bulan terakhir ini wabah difteri meningkat dan menyerang
puluhan warga Kabupaten Garut.[ CITATION Bai \l 1033 ].
I. Kasus 2
Perawat Tertular Ebola

Seorang perawat yang terinfeksi Ebola saat merawat pasien di Amerika Serikat
menuntut rumah sakit yang mempekerjakannya.Meski tidak sampai di pengadilan,
perawat tersebut tetap mendapat kompensasi dari rumah sakit.Nina Pham merupakan
perawat yang bekerja khusus untuk bangsal infeksi di Texas Health Presbyterian
Hospital, Dallas, Amerika Serikat.Texas Health Presbyterian Hospital merupakan rumah
sakit yang merawat Thomas Duncan, pasien Ebola pertama di Amerika Serikat pada
tahun 2014 lalu.

Pham dan satu rekannya positif tertular Ebola dari Duncan.Setelah menjalani masa
perawatan dan dinyatakan sembuh, Pham menjadi simbol perlawanan Amerika Serikat
terhadap Ebola.Ia pun sempat diminta untuk bertemu dengan presiden Barack Obama.
Tuntutan bermula setelah rekaman video percakapan Pham dengan seorang dokter
diberikan ke media massa oleh pihak rumah sakit. Pham menyebut hal tersebut
melanggar privasinya karena penyebaran video tersebut tidak diberitahukan kepadanya
sebelumnya.

Selain itu, wanita keturunan Vietnam ini juga menyebut dirinya digunakan sebagai
'public relations icon' setelah rumah sakit menggunakan berbagai foto dan video dirinya
untuk tujuan komersial. Rumah sakit juga menyebut Pham menjalani pengobatan dengan
baik, padahal ia sempat berjuang melawan kematian saat proses penyembuhan.

Terakhir, Pham merasa dirugikan karena pihak rumah sakit tidak menyediakan sarana
dan prasana medis yang memadai untuk menghindari risiko infeksi dari pasien.
Menurutnya, kelalaian rumah sakitlah yang menyebabkan ia dan satu orang rekannya bisa
terinfeksi Ebola. "Aku mengalami kebotakan, nyeri hebat, insomnia hingga mimpi buruk
meskipun sudah dinyatakan sembuh dari Ebola.Rumah sakit harus bertanggung jawab
terhadap hal-hal ini," ungkap Pham dalam wawancara media beberapa waktu lalu.
Kasus ini sempat bergulir di pengadilan.Namun pihak Texas Health Presbyterian
Hospital, Texas Health Resources dan Pham sudah melakukan pertemuan
pribadi.Diputuskan kasus ini akhirnya diakhiri secara kekeluargaan dengan pihak rumah
sakit memberikan sejumlah uang ganti rugi kepada Pham."Pihak Texas Health
Presbyterian Hospital dan Nona Pham sudah mencapai kesepakatan untuk menarik kasus
dari pengadilan. Harapan terbaik diberikan untuk kedua belah pihak," tutur pernyataan
dari Texas Health Presbyterian Hospital, tanpa merinci lebih jauh apa saja kesepakatan
yang sudah dicapai, dikutip dari Reuters.[ CITATION Sul16 \l 1033 ]

J. Penyakit Tidak Menular

1. Kasus 3

Perawat Dikeroyok oleh Keluarga Pasien

Salah satu perawat di instalasi gawat darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daerah Abdul
Moeloek (RSUDAM) harus mendapatkan perawatan setelah dianiaya oleh empat orang
keluarga pasien di rumah sakit pelat merah tersebut, Selasa (27/3/2018).
Insiden pengeroyokan diduga karena keluarga pasien marah saat ditegur perawat agar
tidak emosional."Dari awal mereka datang sudah marah-marah.Mereka bawa pasien ke IGD
lama, padahal gedung itu masih renovasi, tapi keluarga korban langsung marah," ujar Kepala
Ruang IGD RSUDAM, Kriston Riyadi, kepada awak media.
Ia menceritakan, insiden bermula saat keluarga korban mendaftarkan pasien yang
kemudian dilakukan pengecekan awal, di antaranya tensi darah.
Namun saat pengecekan awal, suami pasien, YS marah-marah dan kemudian ditegur oleh
Ferry, perawat yang bertugas.
"Saat itu pasien sedang dicek, tensi dan lain-lain.Saat ditensi, suami pasien YS ribut dan
marah.Kemudian perawat menegur agar tidak emosi, tapi suaminya tidak terima dan
langsung memegang kerah baju perawat, dan memukul korban" jelasnya.Saat YS memukul
Ferry, lanjut dia, tiga kerabat pelaku lainnya yang berada di lokasi malah ikut menganiaya
korban.[ CITATION Rom18 \l 1033 ].
K. Kasus 4
Perawat Cedera Leher Akibat Diserang oleh Pasien

Maria Gaytan, seorang perawat IGD diserang oleh pasiennya dikarenakan pasien
tersebut mengamuk, aggressive, dengan tingkah laku yang tidak terkontrol dan berteriak
“jika kalian menyentuh saya, saya akan menendang kalian semua” maka dokter
memutuskan untuk merestrain pasien tersebut. Tetapi, ketika akan memasang restrain
pasien itu memberontak dan melilitkan stetoskop dileher perawat Maria dan
mencekiknya.hal tersebut menyebabkan perawat Maria menderita tidak bisa menunduk
dan sakit leher selama 6 minggu.[ CITATION Pat15 \l 1033 ].

L. Pembahasan Kasus

1. Kasus 1

Kasus ini terjadi karena seringnya terjadi kontak antara perawat dan pasien.Kelelahan
kerja pada perawat juga salah satu faktor yang menyebabkan turunnya imunitas sehingga
tertular penyakit dari pasien.Untuk menghindari kasus ini, maka perawat perlu
memperhatikan jadwal istirahat dan asupan nutrisinya.

M. Kasus 2

Kasus ini disebabkan oleh fasilitas Rumah Sakit yang kurang memadai, sehingga
memperbesar resiko tertular penyakit. Untuk mencegah tertular virus Ebola, seluruh
tubuh perawat harus tertutup dengan APD dan sirkulasi udara ruangan pun harus benar-
benar diperhatikan

N. Kasus 3
Dalam kasus ini, perawat menerapkan salah satu asuhan keperawatan yaitu untuk
mengontrol lingkungan, tetapi keluarga pasien tidak terima dan memukuli perawat. Pada
kasus ini, perawat benar-benar membutuhkan hukum sebagai ‘payung’ dalam
mengatasinya
O. Kasus 4

Kasus ini menyebabkan perawat cedera tulang leher, dimana dapat menyebabkan
kecacatan permanen bahkan henti nafas.Dalam hal ini, Rumah Sakit wajib meningkatkan
keamanan dan perawat wajib diberikan pelatihan untuk menghindari serangan kekerasan
yang dilakukan oleh pasien.

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan

Dapat disimpulkan bahwa bekerja sebagai perawat memiliki resiko yang amat tinggi, tak
hanya tertular penyakit, tetapi bisa juga terkena penyakit yang tidak menular.Untuk itu,
diharapkan perhatian khusus untuk meminimalisir kejadian kecelakaan kerja.Hal tersebut dapat
terwujud dengan penyediaan fasilitas rumah sakit yang memadai, sosialisasi penggunaan APD
untuk penyakit-penyakit tertentu, sosialisasi pemenuhan nutrisi untuk mencegah penyakit, serta
pelatihan dalam menghadapi pasien yang dapat menimbulkan bahaya (menyerang).
DAFTAR PUSTAKA

Baihaqi, H. (2018, 01 29). Retrieved 11 09, 2018, from http://jabar.tribunnews.com:


http://jabar.tribunnews.com/2018/01/29/seorang-perawat-di-rsu-dr-slamet-garut-jadi-pasien-
difteri

Rinando, R. (2018, 03 27). (nashrullah, Ed.) Retrieved 11 09, 2018, from


http://lampung.tribunnews.com: http://lampung.tribunnews.com/2018/03/27/perawat-dikeroyok-
keluarga-pasien-rs-abdul-moeloek-pilih-tempuh-jalur-hukum

Skerrett, P. (2015, 11 20). Retrieved 11 09, 2018, from https://www.statnews.com:


https://www.statnews.com/2015/11/20/nurses-patient-violence/

Sulaiman, M. R. (2016, 10 25). Retrieved 11 09, 2018, from https://health.detik.com:


https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-3328897/terinfeksi-ebola-saat-merawat-pasien-
perawat-ini-tuntut-rumah-sakit

Anda mungkin juga menyukai