Anda di halaman 1dari 3

Data Pengamatan

No. Perlakuan Hasil


1. Analisis Fisik
a. Warna Kuning berbuih
b. Berat jenis Suhu = 34°C, berat jenis = 1,010
c. pH 6
2. Analisis Kimia
a. Glukosa Biru
b. Protein
a) Reagen millon Endapan warna putih (negatif)
b) Benda keton (aseton) Tidak ada keton (normal)
c) Pigmen empedu Tidak ada pigmen empedu (normal)

3. Analisis Mikroskopis
a. Diperiksa dibawah mikroskop Bersih (normal)

Perhitungan berat jenis urin

(suhu urin – suhu tera)


Rumus : berat jenis skala +/- x 0,001
3

(34−15)
1,010 + x 0,001 = 1,0164
3

Pembahasan

Percobaan pertama ialah melihat warna urine. Dari urine yang di dapat yaitu urine
berwarna kuning berbuih, kemungkinan penyebabnya naiknya pigmen melanin. Menurut Soewolo
(2005) warna urin normal ialah berwarna ambar atau kuning pucat. Pigmen utama dari urine yaitu
sedikit urobilin dan hematopofirin serta urokrom. Adanya pigmen melanin yang meningkat
merupakan pigmen sampingan yang dihasilkan oleh ginjal pada urine. Menurut Soewolo (2005)
adanya warna kuning yang tidak terlalu tua atau coklat mengindikasikan bahwa urine masih
normal dan tidak sedang mengalami demam dan penyakit hati. Apabila sedang sakit demam dan
penyakit hati maka urine akan berwarna coklat tua dan kuning tua.
Berat jenis dari urine yang akan diuji coba memiliki suhu 34°C dan berat jenisnya 1,010.
Menurut Soewolo (2005) berat jenis urine normal berkisar 1,003 – 1,030. Urine yang diuji coba
masih termasuk urine yang normal karena termasuk kisaran jenis urine normal yaitu 1,010. Suhu
urine 34°C tidak melebihi dan tidak terlalu jauh dengan suhu tubuh maka masih dapat dikatakan
suhu urine tersebut adalah suhu urine yang normal.

pH urine yang diuji cobakan yaitu 6. Menurut Soewolo (2005) reaksi urine yang normal
memiliki pH kurang dari 6 yaitu berkisar 4,7 – 8. Maka urine yang diuji cobakan termasuk urine
yang normal karena masih berkisar antara pH 4,7 sampai 8. Akan menjadi urine yang tidak normal
apabila terlalu asam yang mengindikasikan adanya banyak protein, dan apabila terlalu basa atau
alkali mengindikasikan ada penyakit yang setelah muntah-muntah maka urine menjadi alkali.

Percobaan selanjutnya adalah urine yang diuji cobakan dilakukan pengujian glukosa.
Adanya glukosa dapat saja terjadi pada urine. Pada pengujian glukosa ini digunakan larutan
benedict untuk melihat glukosa reduksi dalam urine. Di dalam tabung reaksi dicampur 8 tetes urine
dengan 5 ml larutan benedict, diletakkan tabung reaksi tersebut dalam air mendidih selama 5 menit
kemudian dilihat warnanya. Hasilnya adalah urine yang diuji cobakan berwarna biru saja yang
menandakan urine tersebut normal atau tidak terdapat glukosanya. Menurut Soewolo (2005)
glukosuria tidak tetap dapat ditemukan setelah stress emosi dan 15% kasus glukosuria tersebut
tidak disebabkan oleh diabetes. Laktosuria dan galaktosuria dapat terjadi pada ibu hamil, menyapih
maupun laktasi. Pentosuria terjadi ketika setelah makan makanan yang mengandung gula pentose.
Benda-benda keton dapat terjadi ketika lapar, anesthesia eter, kehamilan, dan diabetes. Pada
kerusakan ginjal dapat terjadi ketika terdapat bilirubin dan adanya kandungan darah.

Percobaan selanjutnya yaitu dilakukan pengujian dengan reagen millon untuk melihat
adanya protein, apabila terdapat protein maka warnanya menjadi warna lembayung. Kemudian
dilakukan pengujian benda keton yang ditandai cincin ungu apabila terdapat benda keton
(katabolisme lemak abnormal) dan pengujian pigmen empedu yang apabila positif ditandai dengan
adanya buih berwarna kuning yang berarti terdapat pigmen empedu. Hasil dari pengujian dengan
reagen millon yaitu terdapat endapan warna putih (negatif), pengujian benda keton yaitu tidak ada
keton (normal), dan pengujian pigmen empedu yaitu tidak ada pigmen empedu (normal). Tidak
adanya benda keton berarti urine tersebut normal karena menurut Soewolo (2005) benda-benda
keton dapat terjadi ketika lapar, anesthesia eter, kehamilan, dan diabetes. Menurut Soewolo (2005)
proteinuria (albuminuria) yaitu adanya albumin dan globulin dalam urin dengan konsentrasi
abnormal. Proteinuria fisiologis terdapat ±0.5% protein, dapat terjadi ketika setelah latihan berat,
gangguan sirkulasi ginjal, dan setelah banyak makan makanan yang mengandung protein.
Proteinuria patologis dapat disebabkan adanya kelainan pada ginjal yang disebabkan oleh sakit.
Proteinuria dapat juga terjadi disebabkan tubulus ginjal mengalami keracunan oleh jenis logam-
logam berat. Kemudian percobaan selanjutnya ialah analisis urine yang diuji cobakan dibawah
mikroskop, hasilnya urine tidak terdapat benda-benda seperti mikroba dan lain-lain berarti urine
yang diuji cobakan ini adalah urine yang normal (bersih). Setelah dilakukan percobaan kemudian
berat jenis urine dihitung hasilnya 1,0164 yaitu urine masih termasuk urine normal karena masih
kisaran berat jenis urine normal yang dinyatakan oleh Soewolo (2005) yaitu berat jenis urine
normal berkisar 1,003 – 1,030.