Anda di halaman 1dari 30

PSIKOLOGI KEPRIBADIAN

HEINZ KOHUT & DONALD WOODS WINNICOTT

Diampu Oleh :

Rahmat Permadi, S.Psi,M.Psi, Psikolog

Oleh Kelompok 6 :

Muhammad Rifqi Yusri (1571040041)


Anugrana Nurhizza Lologau (1671042060)
Ancensius Tombo Bamba (1771041085)
Muh. Aulia Rahmat (1771040046)
Akbar Reza (1771041044)
Afnila Nur (1771042099)
Laura Dwi Ningrum (1771042123)
Muhammad Effendy (1771042101)

( Kelas A & D)

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2018
I. TEORI KEPRIBADIAN HEINZ KOHUT

A. Biografi Heinz Kohut

Lahir : 3 Mei 1913, Wina, Austria

Meninggal : 8 Oktober 1981, Chicago, Illinois, Amerika

Pendidikan : Universitas Wina

Orang Tua : Else Kohut, Felix Kohut

Heinz Kohut (1913-1981) lahir di Wina dari orangtua Yahudi yang


berpendidikan dan berbakat (Strozier,2001). Pada saat Perang Dunia II, ia pindah ke
Inggris. Satu tahun kemudian, ia pindah ke Amerika Serikat dimana ia menghabiskan
sebagian besar kehidupan profesionalnya. Ia adalah dosen profesional di Department
of Psychiatry, Universitas Chicago. Ia juga merupakan anggota Chicago Institute for
Psychoanalysis dan dosen tamu kuliah psikoanalisis di University of Cincinnati.
Heinz Kohut juga pernah menerbitkan sejumlah artikel penting, terutama psikologi
musik, namun kontribusi terbesarnya adalah esai tentang “empati” yang pertama kali
disajikan pada tahun 1956 dan diterbitkan pada tahun 1959. Di dalamnya Kohut
menyatakan bahwa cara mengetahui penting diri dalam psikoanalisis adalah melalui
empati, yang didefinisikan sebagai pengganti introspeksi.

Sebagai seorang neurologis dan psikoanalis, Kohut banyak menyinggung


para psikoanalis dengan terbitnya The Analysis of the Self pada tahun 1971. Heinz
Kohut tergolong orang penting dalam penciptaan ide baru tentang self . Dalam buku
tersebut, konsep mengenai ego diganti dengan konsep mengenai diri sendiri
(self).Melengkapi buku tersebut, aspek psikologi diri sendiri yang dikemukakan
olehnya ditemukan dalam buku The Restoration Self (1977)dan The Kohut Seminars
(1987) yang diedit oleh Miriam Elson dan diterbitkan setelah kematian Kohut. Kohut
menikah dengan Elizabeth Meyers pada 1948 dan memiliki seorang putra, Thomas
Agustus pada tahun 1951 (satu-satunya anak).

B. Teori Kepribadian Self Psychology


Kohut mengemukakan teori yang relatif baru yang disebut self-psychology.
Melebihi pencetus relasi objek yang lain, Kohut menekankan proses di mana diri
(self) berkembang dari suatu gambaran yang tak terdiferensiasi dan samar-samar
hingga menjadi identitas individu yang jelas dan tepat. Seperti halnya pencetus relasi
objek lainnya, ia juga memfokuskan awal hubungan ibu dan anak sebagai
pemahaman kunci untuk pengembangan manusia di kemudian hari. Kohut percaya
bahwa inti dari kepribadian manusia adalah hubungan antarmanusia, bukan insting
bawaan.
SIGMUND FREUD HEINZ KOHUT
Biologis Perkembangan self dalam konteks
human interaction
Dorongan seksual & agresi Human relatedness
Mencari kenikmatan, menghindari Peran narcissism dalam psikologi
kesakitan manusia dewasa
Patologi: frustrasi & represi dorongan Patologi: ancaman & kerusakan self
seksual & agresi perilaku seksual & agresif
menyimpang

Menurut Kohut, bayi memerlukan pengasuhan orang dewasa tidak hanya


untuk memuaskan kebutuhan secara fisik, tetapi juga untuk mencukupi kebutuhan
dasar psikologis. Dalam mengemban kebutuhan fisik dan psikologis, orang dewasa
atau objek diri (self objects) memperlakukan bayi seolah-olah mereka mempunyai
pengertian mengenai dirinya sendiri (sense of self). Sebagai contoh, ibu akan
bertindak hangat, dingin, atau acuh tak acuh, tergantung pada sebagian perilaku bayi
mereka. Melalui proses interaksi yang menimbulkan rasa empati, bayi menerima
respons objek terhadap diri sebagai rasa bangga, bersalah, malu, atau iri hati, semua
sikap yang pada akhirnya membentuk struktur bangunan diri sendiri (self).
Kohut (1977) menggambarkan diri sebagai “pusat dari alam semesta
psikologis setiap individu” dimana diri memberi keutuhan dan konsistensi pada
pengalaman seseorang yang relatif stabil dari waktu ke waktu dan diri sebagai “pusat
dari prakarsa dan penerima suatu impresi” dimana diri merupakan fokus seorang anak
pada hubungan antarpribadi, yang membentuk bagaimana ia akan berhubungan
dengan orangtua dan objek diri lainnya.
Heinz Kohut berpendapat bahwa permasalahan utama para pencemas adalah
ketakutan akan hilangnya objek cinta yang penting dan berharga bagi dirinya
(biasanya oang tua). Ia menangani pasien yang mengalami gangguan kepribadian
narsistik, yaitu mereka yang merasa tidak perdaya atau dependen namun bermulut
besar dan sombong. Ia merasa yakin bahwa permasalahan para pasien ini berakar dari
kurangnya penerimaan dari orang tua sang pasien, yang berpengaruh pada ketidak
mampuan pasien untuk menerima dirinya secara penuh. Ia menemukan bahwa dengan
memainkan peran terapis orangtua, ia sering dapat membalik proses ini dan hal ini
memungkinkan pasiennya mengembangkan konsep diri yang sehat.

Sebagai contoh, Philip, 24 tahun, berusaha memperbaiki harga dirinya yang


sangat rendah. Konsep dirinya begitu terkungkung pada apa yang orang lain pikirkan
mengenai dirinya, sehingga ia hampir tidak pernah membuat keputusan sendiri; ia
terus menerus mengkhawatirkan tentang apa yang orang lain pikirkan tentang dirinya.
Pada saat bersamaan rasa ketidakamanan tentang dirinya sendiri ini membuatnya
merasa berhak mendapatkan perhatian khusus. Terapisnya, yang menggunakan
kerangka kerja Kohut, melihat bahwa Philip mengalami peristiwa traumatis yang
melibatkan salah satu orang tuanya (kemungkinan ibunya) sebelum ia cukup dewasa
untuk dapat benar-benar membedakan antara “ibu” dan “diri sendiri”. Sebagai bagian
dari terapi yang dijalani oleh Philip, terapisnya menggunakan idealizing transference;
artinya Philip akan melihat terapisnya sebagai objek cinta akan orang tua. Sang
terapis, sebagai orang tua, nantinya dapat membantu Philip mengembangkan sistem
internal yang akan mempertahankan harga dirinya hingga ia tidak dapat lagi harus
menggantungkan dirinya pada orang lain untuk mendapat harga diri itu. Dalam
pendekatan ini, kualitas tertentu dari psikologi kepribadian humanistis yang
dikemukakan oleh Carl Rogers menjadi jelas. Teoi Kohut memang merupakan
jembatan antara psikoanalisis Freud dan pendekatan yang berdasar pada ego, yang
lebih optimis dan dianut oleh banyak psikolog humanistis.

C. Struktur dari Bipolar Nuclear Self

Kohut membuat hipotesis bahwa hubungan memadai dengan hasil kesehatan


objek diri dalam pembentukan diri nuklir bipolar yang memiliki tiga komponen:

1. Ambisi nuklir (nuclear ambitions), yang merupakan perjuangan belajar anak


untuk kekuasaan dan keberhasilannya dicerminkan dengan penuh kekaguman
oleh objek diri.
2. Nuklir ideal (nuclear ideals), yang merupakan tujuan ideal dan citra yang
berasal dari pengakuan anak dari kekuatan memuaskan dan menenangkan
yang dimodelkan oleh objek diri.
3. Bakat dan keterampilan dasar (basic talents and skills), yang terletak
metaforis antara dua kutub ambisi dan ideal dan yang membentuk semacam
metafora "lengkungan ketegangan" aktivitas psikologis orang tersebut
"didorong" oleh ambisi dan "dipimpin" oleh gagasan dalam mengejar tujuan
kehidupan menggunakan bakat dan keterampilan yang dimiliki.

Ambisi nuklir terbentuk sejak awal kehidupan , sekitar tahun kedua atau
ketiga, sedangkan nuklir ideal dimasukkan ke dalam diri sebagai tiang kedua sekitar
usia empat atau lima tahun.
Kohut membayangkan diri
nuklir sebagai entitas bipolar,
dengan ambisi dan penahan
kutub ideal yang berlawanan.
Proses sentral dalam
pembentukan dua kutub ini,
adalah hubungan dengan objek
diri empatik. Diri nuklir bukan
hanya menyalin langsung dari
objek diri tapi merupakan asimilasi beberapa aspek karakteristik
kepribadian, dan fitur utama dari objek diri dipersonalisasi dan
generalisasi dalam sebuah proses yang Kohut sebut "transmutasi
internalisasi (transmuting internalization)."

Transmutasi internalisasi berupa ‘percernaan’ psikologis dimana segi-segi


baik dan bermanfaat dari Self object yang (setelah melalui proses dipersonalisasi dan
generalisasi ) dileburkan dalam self anak. Sedikit frustrasi dan kekurangan empati
pada Self object mendorong anak untuk melihat mereka sebagai ‘hanya manusia’, dan
selanjutnya mendorong anak untuk membentuk self-structure/struktur-diri mereka
sendiri tanpa perlu meleburkan seluruh kepribadian Self object.

Tidak seperti penekanan Freud pada dorongan konflik, penekanannya Kohut


adalah jelas pada interaksi orang-ke-orang. Kohut menunjukkan bahwa salah satu
cara untuk konsep perbedaan antara psikoanalisis klasik dan psikologi-diri miliknya
adalah untuk memperlihatkan perbedaan kebiasaan "Orang Bersalah (Guilty Man)"
dan "Orang Tragis (Tragic Man)"
Orang Bersalah (Guilty Man) adalah konsep orang seperti biasanya yang
berjuang keras demi dorongan kepuasan mereka. Mereka digambarkan dalam
psikoanalisis klasik sebagai yang hidup di bawah dominasi prinsip kesenangan,
berjuang tanpa henti untuk mendamaikan konflik batin. Mereka seringkali dihambat
dalam mengurangi ketegangan mereka oleh kekurangan mereka sendiri atau orang-
orang yang mengangkat mereka.

Orang tragis (Tragic Man) menurut gambaran Kohut ialah orang yang berjuang
untuk memenuhi tujuan dari nuclear self mereka. Artinya, orang tragis mencoba
untuk mengungkapkan polanya yang sangat sejahtera, pola ambisi dan ideal yang
terdiri dari tujuan self-expressive kehidupan manusia

D. Perkembangan Kepribadian Narsisitik

Kohut percaya bahwa bayi mempunyai sifat narsistik alami. Mereka berpusat
pada diri sendiri (self centered) dan mencari kesejahteraan untuk mereka sendiri
secara ekslusif serta berharap dikagumi orang lain sebagai diri mereka sendiri dan
atas apa yang mereka lakukan. Diri terbentuk diseputar kebutuhan narsistik, yaitu:

1. Kebutuhan memamerkan diri yang hebat


2. Kebutuhan untuk mencapai suatu gambaran ideal dari salah satu atau kedua
orangtuanya.
Diri yang hebat dan ingin dipamerkan (grandiose-ex-hibitionistic self) ini
terbentuk ketika bayi yang berhubungan dengan objek-diri yang “menjadi cermin”
(mirroring self-object) menunjukkan persetujuan atas perilakunya. Bayi kemudian
membentuk sebuah gambar diri dasar (rudimentary elf-image) dari pesan-pesan
semacam: “Jika orang lain melihatku sempurna, maka sempurnalah aku”. Sementara
itu, gambaran orangtua yang ideal (idealized parent image) bertentangan dengan diri
yang-hebat (grandiose-self) karena dia menyiratkan bahwa seseorang yang lain itulah
yang sempurna. Meskipun begitu, hal ini juga memuaskan salah satu kebutuhan
narsisistiknya karena bayi mengambil sikap, “Kamu memang sempurna namun, aku
bagian darimu.”

Kedua gambar-diri narsisistik bayi semacam ini dibutuhkan bagi


perkembangan kepribadian yang sehat. Namun keduanya tetap harus berubah ketika
anak tumbuh dewasa. Jika mereka masih tidak bisa membedakan dirinya, maka
mereka akan berkembang menjadi pribadi dewasa yang narsistik secara patologis.
Kehebatan diri harus berubah menjadi sebuah pandangan yang realistik mengenai
diri, dan gambar orangtua yang ideal harus tumbuh menjadi gambar orangtua yang
realistik. Dua gambar ini tidak akan hilang sepenuhnya. Manusia dewasa yang sehat
akan meneruskan sikap yang positif terhadap dirinya sembari terus melihat kualitas-
kualitas yang baik pada orangtua dan figur-figur lain pengganti orangtua. Tetapi
manusia dewasa yang narsistik tidak mentransendensikan kebutuhan-kebutuhan
infantilnya ini dan terus memusat pada diri sendiri. Akibatnya, dia terus ingin melihat
sisa dunia sebagai penonton yang terkagum-kagum kepada dirinya. Freud percaya
bahwa pribadi narsistik seperti itu tidak bisa disembuhkan oleh psikoanalisis namun,
Kohut yakin bahwa psikoterapi dapat menyembuhkan secara efektif pasien-pasien
seperti ini.

E. Dinamika Kepribadian

Bila kebutuhan narsisis awal tidak terpenuhi, anak (orang dewasa) terus
mencari pengasuhan dan memvalidasi pengalaman self-object

Self Object

 Orang yang berpengalaman secara intrapsik, Self-object harus tersedia bagi


bayi untuk pengembangan diri
 Objek diri (self Object) adalah objek (orang) yang kita alami merupakan
sebagian dari diri kita; kontrol yang diharapkan atas mereka karenanya lebih
dekat dengan konsep kontrol yang dewasa diharapkan untuk memiliki lebih
dari tubuh dan pikiran sendiri daripada konsep kontrol yang ia harapkan untuk
memiliki lebih dari orang lain. (Kohut & Wolff, 1978, hal. 414)

Three Self Object Relationships

1. Mirroring Self-object: pencerminan self-object yang mengenali kemampuan


dan bakat anak, Ibu berfungsi sebagai pencerminan objek diri (mirroring self-
object) ketika dia mampu untuk mengkonfirmasi dan mengagumi atau
memberikan respon pada kekuatan, kesehatan, kebesaran, dan keistimewaan
anak. Kapasitas ibu untuk menyesuaikan diri dengan tegas dengan kebutuhan
anaknya untuk memenuhi permintaan dan kekaguman pribadi.

2. Idealizing Self-object: menghubungkan anak dengan pengasuh yang


dikagumi. Ibu juga berfungsi sebagai idealisasi objek diri yang agak
belakangan dalam perkembangan saat ia mendorong dan memungkinkan anak
untuk bergabung dengan kekuatannya sendiri dan ketenangan sebagai orang
dewasa yang kuat dan peduli. Dari sudut pandang anak, idealisasi objek diri
adalah model kesempurnaan, kekuasaan, dan ketenangan berpengalaman di
bagian yang sebagai komponen diri.

3. Twinship Self-object: (provides a sense of being the same) memberikan rasa


yang sama atau seimbang antara ibu dan anak Ibu sebagai penyedia kebutuhan
anaknya yang tidak dalam hal dorongan kepuasan tetapi dalam hal empati,
hangat, penuh kasih respon terhadap seluruh anak baik secara fisik dan
psikologis yang seimbang. Akibatnya, anak akan menikmati diri sebagai
orang yang menyenangkan, kompeten, dan berharga, ataupun sebagai yang
ditolak, habis, diri yang kosong.
F. Selfobjects Fail The Injured Self

Gangguan psikologis dari perspektif teoriKohut ini tidak lagi dilihat dari segi
kegagalan ego untuk menyeimbangkan realitas, keinginan id, superego dan penilaian.
Fungsi psikologis normal digambarkan dalam teori Kohut sebagai hasil dari kelainan
dalam pembentukan diri kohesif. Kerusakan tersebut merupakan penghinaan
perkembangan untuk narsisme normal.Ketika penghinaan atau cedera cukup intens,
distorsi patologis karakteristik diperkenalkan dalam mengembangkan diri bayi. Kohut
telah menjelaskan empat distorsi yang berbeda dari kegagalan pada objek diri, yaitu:
1. The under-stimulated self yaitu kondisi patologis dimana individu merasa
kosong, bosan, dan mati rasa karena objek diri (selfobject) mereka tidak
menyesuaikan dengan kebutuhan diri mereka untuk mirroring dan idealizing.
2. The fragmenting self yaitu sebuah kondisi patologis dimana orang merasa
terfragmentasi, tidak terkoordinasi, dan kurang keseimbangan dan kohesi karena
objek diri (selfobject) yang menimbulkan beberapa cedera narsis pasti pada anak
disaat yang sangat rentan.
3. The over-stimulated self yaitu sebuah kondisi patologis dimana individu itu tidak
tepat dirangsang dalam ambisi atau cita-citanya. Kekaguman yang tidak
proporsional, perhatian, dan persetujuan diberikan oleh objek diri (selfobject)
untuk kebutuhan megah dan mengidealkan anak. Individu sekarang hidup dalam
ketakutan.
4. The overburdened self yaitu sebuah kondisi patologis dimana individu tidak
memiliki kemampuan untuk menenangkan diri di saat stres karena objek diri
(selfobject) tidak memberikan kesempatan bagi anak untuk bergabung dengan
kekuatan dan ketenangannya sendiri. Orang tersebut mudah kewalahan dan
merasa bahwa dunia adalah tempat yang mengancam dan berbahaya.
G. Evaluasi Teori Heinz Kohut

1. Kekurangan

Teori ini terlalu berfokus kepada konsep diri sehingga kurang


memperhatikan konsep ego dan insting dari teori psikoanalisa dan hubungan
antar lingkungan. Kemudian teori ini juga hanya berfokus pada relasi antara
ibu dan anak padahal kita sebagai makhluk sosial membutuhkan orang lain.

2. Kelebihan

Kelebihan teori Kohut adalah mengubah praktik psikoanalisis dan


psikoterapi dengan memperdalam empati terapis untuk pasien dan
menjelaskan kebutuhan dasar manusia untuk perkembangan yang sehat,
khususnya idealisasi dan mirroring. Teori Kohut juga telah berkembang
menjadi studi tentang pengalaman selfobject, pengalaman (biasanya dengan
orang lain) yang memelihara dan yang menentukan pengalaman diri untuk
harga diri.
II. TEORI KEPRIBADIAN DONALD WINNICOTT

A. Biografi Donald Woods Winnicott

Lahir : 7 April 1896, Plymouth, Britania Raya


Meninggal : 25 Januari 1971, London, Britania Raya
Pendidikan : Jesus College, Cambridge, Universitas
Cambridge
Orang Tua : Sir John Frederick Winnicott, Elizabeth Martha Woods Winnicott

Donald Woods Winnicott lahir pada tanggal 7 April 1896 di Plymouth,


Inggris. Ayahnya adalah seorang pedagang yang makmur, dan ibunya menderita
depresi selama masa muda Winnicott. Winnicott adalah anak bungsu, dan ingatannya
tentang masa kecilnya dipenuhi kenangan mencoba mengangkat kegelapan di
rumahnya. Pengalaman awal dengan masalah kesehatan mental ini membuat
Winnicott membantu orang lain bermasalah dengan masalah psikologis. Winnicott
mulai belajar kedokteran di Jesus College di Cambridge pada tahun 1914, dan dia
bergabung dengan Royal Navy pada tahun 1917. Ia menyelesaikan pendidikan
medisnya di University of London's St Bartholomew's Hospital Medical College.
Pada tahun 1923, Winnicott mulai bekerja sebagai dokter anak di pada sebuah Rumah
Sakit Anak di Paddington Green, di mana dia tinggal sampai tahun 1962. Winnicott
mengembangkan minat pada psikoanalisis, dan dia belajar di bawah bimbingan
Melanie Klein, seorang psikoanalis yang sangat berpengaruh yang menolak banyak
teori Freud mengenai perkembangan anak. Winnicott menjadi seorang analis anak
pada tahun 1935 dan anggota penuh British Psychoanalytic Society pada tahun 1936.
Seiring waktu, Winnicott menjauhkan diri dari karya Klein, dan dia mengembangkan
teorinya sendiri tentang perkembangan anak. Pernikahan Winnicott yang pertama
dengan Alice Taylor berakhir pada tahun 1951, dan dia kemudian menikahi Clare
Britton, seorang pekerja sosial yang dengannya dia mulai bekerja pada tahun 1941.
Pasangan ini terus berkolaborasi secara profesional saat mereka menikah, dan Clare
menerbitkan sebagian besar karya Winnicott setelah dia meninggal pada tahun 1971.

B. Pandangan Dasar tentang Kepribadian menurut Donald Woods Winnicott


1. Awal Teori : Pengaruh Kleinian

Diluar karir Winnicot sebagai psikoanalitik, ia juga mengasimilasi formulasi


Freud, baik dari membaca maupun dari persepsi pribadinya dengan James Starchy
(1887-1967) seorang analisis Inggris yang juga menjadi penerjemah Freud.
Selama menganalisis, Strachey merekomendasikan Winnicot untuk bertemu
dengan Melanie Klein untuk belajar lebih banyak mengenai pengaplikasian
psikoanalisis pada anak. Winnicot pun mengikuti saran dari Strachey dan
menghubungi Klein pada tahun 1931, 2 tahun sebelum ia mengakhiri karirnya.

2. Pandangan Winnicott tentang Melanie Klein


Winnicott melihat bahwa pekerjaan yang dilakukan oleh Melanie Klein sangat
memberikan pengaruh besar terhadap fungsi emosional tahap awal saat masa
bayi. Klein telah memperluas teori psikoanalitiknya dari awal masa bayi hingga
untuk kehidupan bayi sehari hari. Suatu waktu, Winnicot berpikir bahwa klenian
merupakan teori yang sangat cocok dan gampang untuk diikuti. Observasinya
sendiri sebagai dokter anak telah ditinggalkannya karena ia telah menerima
pemikiran bahwa anak juga bisa sakit secara emosional sebelum periode oedipal
di umur 5 dan 6 tahun

Winnicott melihat Klein sebagai guru mengagumkan yang sangat fleksibel,


penuh perhatian akan detail kasus yang ia tangani serta memiliki visis yang besar.
Ia menjadikan klein sebagai pengawas pengobatannya selama 9 tahun, dari 1935-
1941. Setelah lebih dari 20 tahun, Winnicot merangkum signifikansi dari
pengalamannya dengan Melanie Klein.
“Klein mampu menjelaskan padaku dari kebutuhan pasienku, seberapa
besarnya kecemasan dan ketakutan yang dirasakannya, dan seberapa depresinya
manusia saat membesarkan bayi dan anak. Sampai pada tahap ini, terkait dengan
ideide restitusi, manusia tidak bisa menerima pemikiran perusak serta agresif
yang secara alami ada pada manusia tanpa langsung mengalaminya. Itulah
kontribusi Klein paling penting. Menurut saya, itu di urutkan sesuai dengan
konsep freud mengenai oedipus complex.”(1962b/1965a/hal.176)

3. The Manic Defense: Inner dan Outer Realitas


Dalam makalah aslinya mengenai topik ini, Winnicott (1935/1992) mengubah
posisi manik Klein terhadap penekanannya pada kekuasaan sepenuhnya dari
dunia luar. Dia berpendapat bahwa pertahanan perkembangan manic defense yang
normal melawan perasaan depresi dan memaksa defender untuk meminimalisir,
bukan memaksimalkan defensenya.

4. Depathologizing The Depressive Position: The Ruth and Ruthless


Pada makalah selanjutnya, Winnicott menerapkan strategi yang sama untuk
pembahasan yang lebih lengkap mengenai posisi depresi dari Kleinian. Depresi
adalah penyakit buruk dan Ia mengusulkan bahwa Klein menyarankan bahwa
istilah, tahap perhatian, akan lebih akurat. Sehingga Winnicott mengambil konsep
Kleinian yang tersirat kelainan dan berubah untuk menunjukkan suatu proses
yang lebih normal. Winnicott setuju dengan Klein bahwa bayi mulai
hubungannya dengan obyek eksternal lebih atau kurang "praruth," yaitu, kejam
(bengis) dalam upaya untuk memenuhi kebutuhannya. Dengan imajinasi dari
Lewis Carroll, Winnicott menunjukkan bahwa bayi secara bertahap melewati dari
tahap praruth ke tahap ruth (mampu kasihan).
5. Primitive Personality Development, Winnicott Style
Winnicott menyimpulkan bahwa posisi depresi Klein melibatkan
perkembangan kognitif dan emosional yang tidak ada hubungannya dengan
manuver defensif terhadap depresi. Winnicott mulai menggambarkan apa yang
terjadi sebelum tahap perhatian pada lima atau enam bulan. Dia akhirnya
memutuskan bahwa anak lima atau enam bulan telah berkembang dalam tiga
bidang; personalisasi kepribadian, dan realisasi.
- Personalization: From cleaning to weaning (Dari kebersihan menjadi
menyapih/berhenti)
- Personality: From muddle to caddled (Dari berantakan menjadi berdekatan)
- Realization: From dreaming to scheming (Dari mimpi menjadi rencana)

C. Struktur Kepribadian menurut Donald Woods Winnicott


Donald Woods Winnicot ialah seorang dokter anak yang berubah profesi
menjadi analis anak. Ia membuat sebuah perawatan psikologi kepada anak yang
sangat berbeda dari yang lain. Jika dibandingkan dengan Melanie Klein dan Anna
Freud, Winnicot adalah seorang analis yang dikendalikan oleh retorikanya sendiri,
gaya pengobaatannya sangat ceria dan suka bermain, sedangkan ia sangat keras
dalam melindungi kebebasan intelektualnya. Di samping itu, Winnicot adalah orang
yang dikaruniai kepandaian berkomunikasi dengan anak-anak. Ia sangat mudah
bergaul dan bermain dengan anak muda tanpa merendahkan mereka, ia punya
keterampilan khusus dalam membantu mereka merasa aman serta nyaman
bersamanya.
Tidak seperti Klein, Winnicot melihat anakanak sebagai teman yang bisa
diajak bekerja sama bukan sebagai antagonis (Phillips, 1988, p.52). Singkatnya,
Winnicot sudah seperti ibu yang baik bagi pasiennya.
1. The Squiggle, the Spatula, and the Niffle
Awal mula bekerja dengan anak-anak, Winnicot sering kali menggambar
garis-garis acak atau doodle yang terlihat ambigu di atas kertas. Ia kemudian
meminta si anak untuk membuat atau menggambar sesuatu dari garis yang telah
ia buat tadi, setelah itu ia akan meminta sang anak untuk bercerita tentang apa
yang ia gambar dan mengapa ia menggambar hal tersebut. Setelah mendengar
cerita si anak, kini giliran Winnicot, dengan bakat menggambarnya, ia akan
“menyulap” gambaran tadi menjadi gambar yang bermakna yang bahkan tak
terbayangkan oleh si anak tadi.
Squiggle demi squiggle Winnicot gunakan untuk membuat para pasiennya
bercerita dengan tenang dan nyaman. Setelah beberapa kali “konsultasi”
dilakukan, Winnicot mengajarkan para pasiennya untuk belajar mengekspresikan
dirinya. Setelah itu, Winnicot akan melakukan psikoterapi melalui permainan.
Dari Ilustrasi di bawah ini, dapat dilihat cara Winnicot menggunakan squiggle
pada pasiennya yang berumur 12 tahun bernama Patrick.
2. The Spatula

Winnicot sering kali menggunakan teknik yang aneh tetapi kreatif dalam
berkomunikasi dengan pasiennya. Ruang tunggu di rumah sakit tempatnya
bekerja sering kali dipenuhi oleh para ibu dan anaknya. Satu demi satu, mereka
masuk ke ruang konsultasi Winnicot dengan membuat langkah besar hingga
sampai ke kursi pasien, ia pun diminta untuk duduk bersama anaknya di
pangkuannya. Jarak yang agak jauh dari pintu hingga kursi dibuat agar Winnicot
bisa mengobservasi bagaimana sang ibu menangani anaknya serta sikap keduanya
saat mereka memasuki ruang konsultasi.
Ia lalu meminta sang ibu dan sang anak untuk duduk bersama di samping
meja yang diatasnya telah ditaruh benda berkilau, penekan lidah dari baja yang
disebut “spatula”. Winnicot menginstruksikan kepada si ibu dan setiap observer
yang hadir tentang apa yang harus ia lakukan, khususnya mengenai keinginan
mereka untuk membatasi keinginan sang anak.
Alhasil, “Situasi yang telah dibuat” oleh Winnicot tumbuh menjadi proses
yang cocok untuk mengukur kepribadian ibu dan anak. Meskipun instruksi dari
Winnicot ini terbilang kurang berbicara dan juga kurang bergerak, beberapa ibu
terkadang tidak mengikuti petunjuk yang diberikannya. Observasi yang dilakukan
Winnicot, misalnya, ibu yang “keberatan terhadap pergerakan mulut dan
penanganan benda yang dilakukan anak” serta mengkomunikasikan
“kemuakannya” dengan sang anak dengan cara yang halus dan juga tidak terlalu
halus. Kecemasan impusif ibu yaitu tidak bisa menahan keinginan mereka untuk
memperhatikan dan memberikan kenyamanan pada bayinya. Perhatian yang
terlalu besar seringkali memiliki efek paradoks yang mengganggu usaha spontan
anak dalam mengatasi berbagai situasi. Ibu yang kompetitif melihat situasi ini
sebagai tes intelegensi. Ibu-ibu tersebut melatih dan mendorong anak mereka ke
sesuatu yang mereka pikir suatu “kesuksesan” dalam menggenggam spatula.
Berdasarkan pengamatannya pada bayi dalam rentang umur 4-13 bulan,
Winnicot menjelaskan 3 tahap. Yang pertama, disebut juga periode keraguan,
yaitu perilaku yang cenderung diam disertai dengan harapan dan sedikit perilaku
yang terbuka. Tahapan yang kedua adalah bayi menggenggam spatula,
menunjukkan kepercayaan dirinya serta menunjukkan kepuasan dan mengambil
kontrol penuh atas hal tersebut. Akhirnya, tahapan yang ketiga adalah bayi terlihat
ceria, ia bahkan sengaja menjatuhkan benda-benda untuk mendengarnya
berdengung di lantai. Beberapa bayi di tahapan ketiga bahkan melibatkan
kolaborasi dengan orang dewasa untuk bermain “hilang” dan “temukan” dengan
menjatuhkan spatula berulang kali. Tabel dibawah ini menjelaskan lebih detail
mengenai perkembangan anak di tiga tahapan tadi.

Tahap Perilaku Bayi Bukti Kecemasan


1. Periode keraguan - Badan tetap diam tapi - Terhambat
(pengharapan dan tidak kaku.
keheningan) - Menyembunyikan
- Menyentuh spatula, wajah di pangkuan
ragu-ragu dan hati-hati. ibu.

- Membesarkan mata - Mengabaikan spatula


penuh harap, dan benar atau segera
memandang orang merebut dan melempar
dewasa. spatula

-Terkadang menarik
perhatian dan
menyembunyikan
wajahnya.

- Ragu sejenak lalu


menerima keinginannya
untuk menyentuh spatula.
2. Percaya diri dan - Mengambil spatula -Gigih, ragu-ragu
permainan kolaboratif dengan tegas. berkepanjangan.
(kepemilikan dan
kontrol) - Gembira dan tertarik, - Tenaga dibutuhkan
tercermin dari mulut bayi: untuk membawa
di dalam terlihat lembek, spatula dekat dengan
airliur mengalir dan lidah bayi atau menaruhnya
terlihat tebal dan lembut. ke dalam mulut bayi
yang membuatnya
- Mengeksplorspatula tertekanan, menangis,
dengan mulutnya sakit perut, atau
berteriak.
-Gerakanbadan bebas
untuk mengarahkan
spatula

-Memperlihatkan
kepercayaan dirinya pada
spatula dan kontrol penuh
atas spatula.

- Bermain dengan
spatula, memukulnya
pada
meja atau logam terdekat
agar menghasilkan suara
yang nyaring.

- Inginbermain orang
dewasa tetapi akan sedih
jika
orang dewasa
mengganggunya.

-Tidakterlalu kecewa
bahwa spatula tak bisa
dimakan.
3. Kebebasan dan -Menjatuhkan spatula -Persistent (kompulsif)
pemulihan (kehilangan dengan sengaja. pengulangan
dan pengembalian) pembebasan dan
-Senang ketika ada pemulihan, dengan
yang mengambilkannya. tidak ada bukti bosan
atau
- Menjatuhkannya lagi pudarnya ketertarikan.
setelah kembali.

-Sangat menikmati
saat menyingkirkan
spatula, apalagi saat
spatula membuat suara.

Ketika Winnicott menulis kertas pertamanya yang menggambarkan teknik


observasional yang tampak sederhana, dia masih di fase awal belajar tentang
psikoanalisis anak. Ide Melanie Klein memberikan pengaruh besar dalam
pelatihan Winnicott, dan ia berusaha untuk menafsirkan makna simbolis dari
spatula untuk anak. Ia berhipotesis bahwa spatula ditandai pada buah dada bayi,
penis, dan bahkan seseorang atau "bits" dari orang (1941//1992,hal.61).
Untungnya, kegemaran empiris Winnicott dan akal sehat akhirnya menang atas
antusiasme awal untuk spekulasi Kleinian. Dia bisa melihat bahwa "mengatur
situasi" adalah jendela untuk melihat transaksi interpersonal bayi dan kematangan
emosional pada bayi. (1941/1992, hal. 6465).

3. The Niffle
Tom yang berumur 5 tahun terluka saat sedang dalam perjalanan untuk
berlibur bersama keluarganya dan dievakuasi di rumah sakit yang jauh dari kota.
Ibunya menemaninya, tapi akhirnya meninggalkan Tom sendirian di rumah sakit.
Tom merasa sulit tidur tanpa apa yang ia sebut "niffle." Niffle-nya berbentuk
persegi bahan tenun yang berasal dari selendang wol. Bahkan, disana sudah
disediakan tiga niflles, tetapi hanya salah satu dari mereka yang merupakan niffle
Tom. Ia bisa membedakan niffle khususnya dari dua lainnya bahkan dalam
kondisi gelap (Winnicott), 1996a / 1996, hal.105). Saat kembali di rumah, ibu
Tom mencoba untuk mengirimkan niffle ke rumah sakit anaknya tapi niffle
tersebut tidak sampai ke rumah sakit dan tak pernah terlihat lagi.
Walaupun Tom telah pulih dan kembali ke keluarganya, ia tampak seperti
anak yang berbeda dari sebelumnya. Ia menjadi benci terhadap ibunya dan
bahkan menolak untuk dirawat oleh ibunya. Tom bertindak menjengkelkan dan
berbicara dengan nada tinggi. Ibu Tom sangat benci dengan suara yang dibuat
oleh anaknya. Ketika ditanya oleh Winnicott, Tom menuliskan semuanya: "Tapi
saya berharap saya memiliki niffle kecil tersebut. Itu membuat saya merasa ......"
Maksud Tom adalah tom tidak bisa lagi berkatakata. Winnicott memahami
kekuatan reaksi emosional Tom yang hilang.
Beberapa anak sangat melekat dengan boneka beruang mereka, mereka dibuat
nyaman oleh selimut lembut yang berada disekitarnya, dan kesenangan mereka
dalam hal-hal lain. Winnicott memahami bahwa boneka beruang, selimut, dan
niffles di dunia ini memiliki fungsi menjembatani kesenjangan antara
ketergantungan anak pada ibu mereka dan keinginan mereka untuk bebas.
Winnicott menyebutnya seperti “benda-benda transisi”. Pengalaman Tom akan
kehilangan nifflenya sebagai pengalaman yang menggambarkan kehilangan yang
mendalam pada cinta, keamanan, dan kepercayaan.

D. Dinamika Kepribadian
1. A Good- Enough Mother
A good-enough mother, atau ibu yang cukup baik menurut Winnicott
memberikan dorongan dan dukungan terhadap bayi. Ibu yang cukup baik
melindungi bayi dari kepuasan kebutuhan yang tidak dapat diandalkan,
perpisahan yang berkepanjangan, intoleransi dari kebutuhan dan agresi yang
kekanakan, atau ketidakmampuan untuk membuat bayi merasa aman. Kebalikan
dari ibu yang cukup baik adalah the not-good-enough mother atau ibu yang tidak
cukup baik.
2. False Self
Winnicott membuat hipotesis bahwa tujuan utama dari false self atau diri yang
palsu adalah mekanisme pertahanan diri dari true self. Diri yang palsu ini seperti
topeng atau cangkang yang orang lain persepsikan sebagai diri yang asli dan
dapat sepenuhnya menutupi true self seutuhnya. Asal mula diri yang palsu ini
adalah kegagalan hubungan antara ibu dan bayi pada fase sebelum penggabungan
kepribadian bayi. Ibu yang tidak cukup baik gagal dalam menjaga bayinya secara
aman dan tidak dapat diandalkan. Kesalahan selanjutnya adalah ibu yang tidak
cukup baik, tidak membantu bayinya menghubungkan gerakan yang spontan
dengan efek yang dapat diobservasi, termasuk reaksinya sendiri.

5 tingkatan dari diri yang palsu menurut winnicott:


False self True self Consequence
Extreme maladaptive: Sepenuhnya tersembunyi False self akan gagal
mask di bawah false self yang ketika kehidupan
sama sekali menurut menginginkan
seseorang
yang spontan
seutuhnya
spontan
Moderately Mengizinkan kehidupan Perawatan individual
maladaptive: caretaker yang rahasia, dianggap yang berada di
sebagai diri yang lingkungan abnormal,
potensial kurangnya spontanitas,
dan kehidupan
Minimally adaptive: Menunggu kondisi saat Kemungkinan bunuh
defender aman atau saat yang diri
diinginkan untuk apabila hilangnya
mengungkapkan true self harapan terhadap
kondisi
yang aman; kurangnya
kehidupan
Moderately adaptive: Mengidentifikasi dengan Hidup yang sukses,
imitator perhatian atau objek tapi
yang produktif sebagai dengan tidak adanya
model kejujuran, dan
kehidupan
Adaptive: facilitator Sosialisasi yang normal Kerendahan hati,
terhadap kesopanan dan kesopanan, dan sukses
pengekangandiri dalam besosialisasi

Extremely maladaptive : mask

False self terorganisir sebagai diri yang asli dan observer/pengamat hanya dapat
melihat dan merasakan apa yang dirasakan oleh false self. Hal ini dapat
melingkupi hubungan dalam pekerjaan, cinta, bermain, dan pertemanan. True self
benar benar bertopeng. Seiring berjalannya waktu,false self akan memperlihatkan
tanda-tanda kegagalan karena kelanjutan kehidupan yang menginginkan
seseorang yang utuh.

Moderately maladaptive : caretaker


False self mempertahankan true self dan bahkan berfungsi sebagai pelindung
atau penjaga. True self sedikit diakui sebagai potensi diri dan diizinkan oleh false
self, dalam hal ini Winnicott menyebutnya sebagai memiliki "kehidupan yang
rahasia".

Minimally adaptive : defender


False self dapat berfungsi sebagai pertanahan terhadap eksploitasi true self,
menunggu waktu yang tepat untuk munculnya dan ditemukannya true self. Jika
tidak terdapat kondisi yang aman, false self bisa membela true self hingga mati:
bunuh diri. Ketika tidak ada harapan yang tersisa bahwa true self bisa muncul
dengan aman, maka false self dapat memobilisasi ekuivalensi psikologis. Upaya
false self untuk melakukan bunuh diri dengan maksud mencegah pemusnahan
true self dengan mencapai yang kerusakan yang mutlak dari seluruh diri/ self.
Moderately adaptive: imitator
False self tersusun di dalam kepribadian, tetapi dimodelisasi pada orang orang
yang peduli, produktif, dan protektif. Meskipun orang tersebut merasa seolah-olah
dia kadang-kadang tidak benar-benar nyata, atau terus-menerus mencari jati
dirinya, False self terdiri dari identifikasi secara perlahan dan dapat bernegosiasi
untuk kehidupan yang sangat sukses.

Adaptive: facilitator
False self biasanya diorganisasikan sebagai elemen yang biasanya terjadi dalam
bersosialisasi, termasuk perilaku yang sopan, kesopanan pribadi, kesopanan yang
salah-tapi-menarik, dan kontrol yang disengaja atas keinginan pribadi dan
mendesak. Tanpa false self ini, true self yang apa adanya tidak akan
mendapatkan tempat yang sukses dan memuaskan di masyarakat.

3. The True Self : Aliveness


True self, dalam pandangan Winnicott, adalah nyata, spontan, dan kreatif.
Pada awalnya, true self ini terkait dengan proses berpikir utama dari alam bawah
sadar dan karena itu tidak responsif terhadap keaslian eksternal. Pada intinya, true
self adalah sinonim untuk "pengalaman terhadap kehidupan”.
Pada awalnya, realitas dipahami sebagai proyeksi dari dunia kebatinan.
kemudian, realitas menjadi benar-benar "nyata" dalam artian memiliki tujuan di
luar diri atau eksistensi. Akhirnya, diri sejati diperkuat menjadi mampu mentolerir
dua jenis istirahat yang sejenak dalam kontinuitas kepribadian. Pertama, trauma
fisik seperti kepentingan terhadap true self yang sebelumnya. Kedua, pengalaman
false self yang normal,seperti yang diajarkan untuk mengucapkan "terima kasih"
ketika anak tidak merasa berterima kasih. Dalam hal ini, setiap orang
mengembangkan topeng sosial yang normal atau false self untuk memberikan
kepatuhan dangkal dalam konteks sosial di mana sesuai dan secara rutin
diperlukan. False self yang berfungsi dalam cara ini adalah kompromi sosial.
Tingkat menengah dari fungsi false self yaitu kebohongan yang terletak di
antara kompromi yang sehat dan pertahanan patologis dapat ditemukan antara
mimpi dan realitas. Orang yang mengembangkan diri yang sesuai, diri tersebut
mampu memanipulasi simbol dan bahasa kemudian menggunakan keahlian
mereka untuk memainkan peran dengan sengaja, menghibur, dan meyakinkan
dalam dunia yang penuh drama. False self menjadi sublimasi dari true self,
dibandingkan menjadi defender atau pelindung. Bagaimanapun, saat terjadi
perpecahan besar antara true self dan false self, orang tersebut menjadi kurang
dalam penggunaan simbol-simbol, bahasa, dan keterampilan budaya.
Bahaya terbesar dari false self yang sukses adalah bahwa hal itu akan menjadi
terlau sukses. Dengan menyembunyikan true self, false self bisa mengubur
potensi begitu dalam, sehingga mereka tidak lagi dapat diakses, dan tidak lagi
merupakan inti dari orang tersebut. False self yang terlalu sukses ironisnya dapat
mengakibatkan terjadinya penghapusan true self yang pada awalnya diciptakan
untuk menjaga.

4. Transitional Objects
Objek transisional, menurut Winnicott adalah segala sesuatu yang anak anak
dapat hubungkan dengan diri mereka. Pada mulanya bayi yang memasukkan
tangannya ke dalam mulut kemudian mengekspolrasinya menggunakan lidah dan
bibir, mirip dengan payudara dan botol. Kemudian berkembang menjadi objek
eksternal seperti mainan atau boneka yang menjadi objek transisional yang
memiliki hubungan dengan dirinya.
Pada awalnya, ketika kebutuhan bayi muncul, ia menyediakan objek dari
dirinya sendiri (tangan atau ibu jari yang masuk ke dalam mulut). Kadang-kadang
bayi tersebut menangis dan tanda-tanda lain yang mengisyaratkan distress akan
muncul. Dari sudut pandang anak, terdapat keinginan untuk memiliki sesuatu
yang menghasilkan kepuasan. Dalam beberapa kasus, ibu yang sensitif dan peka
akan membaca tanda-tanda dari anak terhadap rasa penasaran ataupun distress,
kemudian memberikan objek yang benar-benar diinginkan oleh anaknya,
misalnya seperti teddy bear atau selimut kesukaanya. Winnicott menyebut hal ini
sebagai “ moment of illusion”.
Selain payudara, objek lainnya yang berupa seperti teddy bear atau selimut
kesukaannya, dikenali oleh bayi sebagai objek yang tidak terdapat dalam tubuh
mereka. Apa yang terpenting bagi Winnicott adalah bukan hanya objek itu sendiri
melainkan proses transisi antara halusinasi yang subjektif dan pengujian realitas
objektif. Objek objek tersebut tidak sepenuhnya magical dan tidak juga
sepenuhnya asli. Mereka adalah objek yang transisional.
Bayi kemudian dapat membedakan antara “aku” dan “bukan-aku”, antara
“inner” dan “outer” dan antara ilusi dan realitas. Dan ibunya sendiri adalah objek
yang asli dan memiliki hubungan yang timbal balik. Di luar dari hubungan ini
akan datangnya pemahaman psikologis yang penting mengenai kepercayaan di
dalam diri, kepercayaan terhadap orang lain, bagaimana cara memahami dan
berhubungan dengan orang lain.

E. Perkembangan Kepribadian menurut Donald Woods Winnicott


1. Primitive Personality Development

Pengamatan Winnicott terhadap bayi dengan menggunakan spatula telah


membuktikan bahwa bayi berusia lima bulan mengerti bahwa objek yang mereka
capai berada di luar dan terpisah dari diri mereka sendiri. Selanjutnya, bayi yang
memasukkan spatula ke mulutnya harus sadar bahwa benda tersebut ada "di
dalam tubuhku". Sengaja menjatuhkan spatula menunjukkan bahwa "dia tahu dia
bisa menyingkirkan sesuatu ketika dia mendapatkan apa yang diinginkan dari
benda tersebut".
Winnicott menyimpulkan bahwa posisi depresi Klein melibatkan
perkembangan kognitif dan emosional yang tidak ada hubungannya dengan
manuver defensif terhadap depresi. Winnicott akhirnya menentukan bahwa anak
berusia lima atau enam bulan telah berkembang di tiga bidang: integrasi
kepribadian, personalisasi, dan realisasi.

2. Personality: From Muddled to Cuddled


Winnicott menghipotesiskan bahwa pada awal kehidupan, kepribadian berada
dalam keadaan primitif "unintegration". Winnicott mengatakan bahwa pada hari-
hari awal kehidupan tidak ada orang yang mewujudkan kepribadian yang
terintegrasi. Hanya ada kebutuhan dan potensi biologis. Bayi yang tidak
berintegrasi tidak memahami diri mereka sendiri atau orang lain sebagai
seseorang utuh.
Integrasi kepribadian dimulai dengan cepat dan spontan setelah dilahirkan,
dan membutuhkan dua rangkaian pengalaman untuk maju dengan lancar. Yang
pertama adalah dunia internal dari kebutuhan dan dorongan internal bayi, yang
pengulangannya tak terbatas menjadi rutinitas kehidupan yang stabil yang dapat
membentuk kepribadian. Kebutuhan dan dorongan memberikan pengalaman
meyakinkan yang menandakan seseorang hidup. Selama ibu dan pengasuh
lainnya memenuhi kebutuhan bayi, kelangsungan hidup tidak terancam, dan
proses integrasi alami berlangsung tanpa hambatan.
Yang kedua adalah perawatan yang diterima bayi. Bayi itu ditangani,
dimandikan, diberi makan, diberi nama, dipanggil dengan nama, dan dipeluk.
Masing-masing peristiwa berulang ini membantu membawa internal confusion.
Dari bagian kebutuhan yang terpencar ini, respons ibu, dipeluk, dan perawatan
yang dapat diprediksi, sintesis identitas secara bertahap muncul. "Saya" dan
"bukan saya" mulai memiliki arti untuk bayi. Ibu bisa memberi fisik dan semacam
emosional cuddling, atau apa yang disebut Winnicott sebagai holding. Melakukan
holding pada bayi dengan aman baik dalam pengertian fisik maupun psikologis
memungkinkan bayi untuk mengatur desakan, keinginan, dan ketakutannya ke
dalam pengalaman yang dapat diprediksi.

3. Personalization: From Cleaning to Weaning


Personalisasi yang memuaskan menyebabkan perasaan bahwa bayi berada
dalam tubuhnya sendiri. Personalisasi adalah pencapaian kepribadian yang
menyelesaikan proses integrasi dengan mengambil alih tubuhnya dan merasakan
dirinya serta menjadi semakin nyaman dengan kepemilikan terhadap dirinya.
Seperti halnya integrasi, kebutuhan biologis dan perawatan ibu menunjukkan
proses personalisasi sehingga kepribadian yang berkembang memiliki "tempat"
untuk tinggal. Perhatian ibu terhadap perawatan fisik dan kebersihan secara diam-
diam membantu bayi mencapai pemahaman bahwa dia memiliki tubuh, berada di
dalamnya, dan kadang-kadang mengendalikannya. Singkatnya, bayi mencapai
personalisasi. Dengan kata lain, bayi mengelompokkan bagianbagian fisiknya
yang dapat dikenali dengan mempersonalisasi setiap komponen.
Orang skizofrenia dan penderita psikotik, yang mungkin tiba-tiba merasa
tidak nyaman dengan tubuh mereka sendiri atau mengembangkan khayalan bahwa
mereka tidak berada dalam tubuh mereka, terkadang mengalami personalisasi.
Kekurangan variasi patologis dari depersonalisasi adalah keyakinan bahwa ada
sesuatu yang sangat mengkhawatirkan dan tiba-tiba berbeda, "tidak benar", atau
"tidak nyata" tentang tubuh saya. Variasi depersonalisasi yang bahkan kurang
serius, sebenarnya adalah kejadian masa kanak-kanak yang umum, adalah
penciptaan sesuatu yang imajiner. Beberapa anak bahkan menggunakan
pendamping imajiner sebagai pertahanan magis untuk mengatasi kecemasan masa
kanak-kanak yang terkait dengan makan, pencernaan, retensi, dan porosip.
4. Realization: from Dreaming to Scheming
Perkembangan kepribadian awal yang ketiga adalah belajar memperhitungkan
realitas eksternal. Winnicott menjelaskan bagaimana realisasi tersebut dapat
dicapai dalam situasi perawatan. Ibu dan bayi masing-masing membawa ke situasi
perawatan kemampuan dan kebutuhan mereka sendiri. Sang ibu membawa
pengetahuan, toleransi, dan penilaian orang dewasa. Bayi itu membawa
ketergantungan mutlak, kebutuhan, dan keterbukaan untuk kepuasan yan
halusinasi. Pemandangan, suara, aroma, dan sentuhan yang dialami dengan setiap
makanan nyata mengajarkan bayi apa yang bisa dan tidak bisa dibayangkan saat
benda sebenarnya tidak ada tapi kebutuhan sebenarnya adalah mengerahkan
dirinya sendiri. Akhirnya, selama periode waktu yang substansial, ibu membantu
bayinya menerima dan mentolerir keterbatasan realitas, dan untuk menikmati
kepuasan nyata.
Pada fase awal kehidupan, objek ada saat diinginkan, mendekati saat
mendekati, dan lenyap saat tidak diinginkan. Kehilangan adalah pengalaman yang
mengerikan bagi bayi karena hal itu merupakan pemusnahan. Dari dunia awal
mereka, bayi berkembang ke dunia nyata dengan tindakan yang direncanakan.
Perubahan dari dreaming ke scheming sejajar dengan sifat perubahan dalam
hubungan bayi terhadap objek. Awalnya, setelah Klein, Winnicott mengajukan
sebuah tahap "ruthless" sebelum tahap perhatian di mana bayi mengharapkan ibu
untuk mentoleransi agresivitasnya dalam bermain. Tanpa pengalaman perawat
yang toleran ini, bayi dapat menunjukkan kekejamannya secara terpisah-pisah. Di
kemudian hari, kekejaman hanya bisa ditunjukkan pada disintegrasi yang ditandai
dengan regresi yang tiba-tiba ke dunia primitif dan magis. Singkatnya, hubungan
tanpa kekejaman dengan objek dapat muncul kembali dalam psikopatologi tingkat
psikotik.
DAFTAR PUSTAKA

Monte, C. F., & Sollod R.N.2003. Beneath the Mask: An Introduction to Theories of
Personality. USA: John Wiley & Sons, Inc.

Anda mungkin juga menyukai