Anda di halaman 1dari 31

ii

DAFTAR ISI

Halaman Judul i
Daftar Isi ii
PENDAHULUAN 1
PETUNJUK BELAJAR 1
CAPAIAN PEMBELAJARAN 1
SUB CAPAIAN PEMBELAJARAN 2
URAIAN MATERI
1. Pengertian Interaksi 2
2. Faktor yang Mempengaruhi Interaksi 2
3. Pengaruh Interaksi 6
4. Zona Interaksi Desa dan Kota 8
5. Interaksi Kaitannya dengan Ekonomi, Sosiologi, Sosial dan Budaya 9
6. Urbanisasi 12
7. Pemanfaatan Lahan Permukiman Suatu Wilayah 24
8. Model Pusat Pertumbuhan 25
RANGKUMAN 27
DAFTAR PUSTAKA 29

ii
BIDANG KAJIAN :
WILAYAH DAN PERWILAYAH

MODUL 7 : INTERAKSI DESA KOTA

PENDAHULUAN
Kota dan desa akan selalu berkaitan antara satu dengan yang lainnya yang
membentuk pola hubungan interaksi antar wilayah. Hubungan timbal balik antar dua
wilayah atau lebih, misalnya antara kota dan desa, antara kota dan kota, antara
daerah industri dan daerah pemasaran, antara daerah yang padat penduduknya dan
daerah yang jarang penduduknya, serta antara suatu negara dan negara lainnya.
Bentuk interaksi antar wilayah dibedakan menjadi regional complementary,
intervening opportunity, spatial transfer ability.Wujud interakasi antar wilayah yang
nampak terjadi adalah urbanisasi.Intensitas interaksi antar wilayah dapat diukur
berdasarkan teori gravitasi, titik henti dan indeks konektivitas.Dalam modul 3 juga
terdapat tugas yang harus dikerjakan secara individu.Pada bagian akhir modul 3
terdapat latihan formatif untuk mengetahui daya serap belajar peserta.

PETUNJUK BELAJAR
1. Bacalah modul ini sebaik-baiknya dengan cermat
2. Jika diperlukan saudara boleh mencari informasi tambahan sesuai dengan materi
dalam modul ini
3. Setelah membaca kerjakan latihan soal pada bagian akhir modul ini. Saudara
harus mendapatkan skor minimal 70. (minimal 7 soal harus dijawab dengan
benar)
4. Jika Saudara mendapatkan skor kurang dari 70 maka saudara dinyatakan belum
tuntas.
5. Jika belum tuntas dalam belajar modul ini, jangan beralih ke modul berikutnya

CAPAIAN PEMBELAJARAN
Dalam substansi keilmuan, setiap guru Geografi wajib menguasai pengetahuan
Geografi yang setara dengan pengetahuan Geografi yang dikuasai oleh Sarjana
Geografi.

1
SUB CAPAIAN PEMBELAJARAN
Peserta mempunyai pengetahuan dan mampu menganalisis tentang interaksi desa
kota, faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi antara wilayah, bentuk-bentuk
interaksi antar wilayah, dan urbanisasi.

URAIAN MATERI
Hubungan Keruangan (Interaksi) Desa dan Kota
Kota dan desa akan selalu berkaitan antara satu dengan yang lainnya yang
membentuk pola hubungan interaksi antar wilayah.
1. Pengertian Interaksi
Interaksi dapat diartikan sebagai suatu hubungan timbal balik yang saling
berpengaruh antardua wilayah atau lebih yangdapat menimbulkan gejala,
kenampakan ataupun permasalahan baru.Interaksi keruangan meliputi hal-hal
berikut ini.
a. Hubungan timbal balik antar dua wilayah atau lebih, misalnya antara
kota dan desa, antara kota dan kota, antara daerah industri dan daerah
pemasaran, antara daerah yang padat penduduknya dan daerah yang
jarang penduduknya, serta antara suatu negara dan negara lainnya.
b. Dalam hubungan timbal balik wilayah ini terdapat proses pergerakan,
yaitu
1) Pergerakan manusia atau mobilitas,
2) Pergerakan atau perpindahan gagasan dan informasikomunikasi,
seperti informasi tentang teknologi, keindahan suatu wilayah, dan
bencana alam, serta
3) Pergerakan materi atau benda yang dinamakan transportasi, seperti
perpindahan hasil pertanian, produksi industri, dan barang tambang.
c. Akibat hubungan antardua wilayah tersebut maka timbul gejala,
kenampakan atau permasalahan baru. Gejala-gejala tersebut sifatnya
dapat menguntungkan (positif) ataupun merugikan (negatif).
2. Faktor-faktor yang memengaruhi interaksi
Pola dan kekuatan interaksi antardua wilayah atau lebih sangat
dipengaruhi oleh keadaan alam dan sosial daerah tersebut, serta kemudahan-
kemudahan yang dapat mempercepat proses hubungan kedua wilayah

2
itu.Menurut Edward Ullman ada tiga faktor utama yang mendasari atau
mempengaruhi timbulnya interaksi antarwilayah, yaitu
a. Adanya wilayah-wilayah yang saling melengkapi (regional
complementarity);
b. Adanya kesempatan untuk berinteraksi (intervening opportunity);
c. Adanya kemudahan transfer atau pemindahan dalam ruang (spatial
transfer ability)

Gambar 1. Alur Pokok Interaksi Keruangan

Regional Complementary
Adanya wilayah yang berbeda dalam ketersediaan atau kemampuan
sumberdaya menimbulkan komplementaritas regional. Di satu pihak ada
wilayah yang kelebihan atau surplus sumberdaya, misalnya sumberdaya
barang tambang, hasil hutan, sumber daya pertanian dan barang
industri.Dilain pihak ada daerah yang kekurangan atau minus bahkan tidak
memiliki sumber daya tersebut, padahal daerah tersebut sangat
membutuhkannya. Keadaan ini akan mendorong terjadinya interaksi antara
kedua wilayah tersebut, karena keduanya saling membutuhkan, yaitu sebagai
produsen dan konsumen. Perhatikan Gambar 2 skema komplementaris
regional.

Gambar 2.Regional Complementary

3
Intervening Opportunity
Kesempatan berinteraksi (intervening oppotunity) dpat diartikan
sebagai suatu kemungkinan peratntara yang dapat menghambat timbulnya
interaksi antarwilayah.Untuk lebih jelasnya, perhatikan Gambar 3.15 skema
melemahnya interaksi akibat intervening oppotunity.
Berdasarkan Gambar 3 sebenarnya secara potensial antara wilayah A
dan B sangat mungkin terjalin hubungan timbal balik, sebab wilayah A
kelebihan sumber daya X dan kekurangan sumber daya Y, sedangkan
keadaan di wilayah B sebaliknya. Namun, karena kebutuhan masing-masing
wilayah itu secara langsung telah dipenuhi oleh daerah Cmaka interaksi
antara wilayah A dan B jadi melemah.
Intervening oppotunity dapat pula diartikan sebagai suatu hal atau
keadaan yang dapat melemahkan pola interaksi antar wilayah, sebagai akibat
adanya alternatif pengganti suatu sumber daya yang dibutuhkan oleh suatu
daerah. Perhatikan Gambar 3 melemahnya interaksi keruangan akibat
adanya sumber daya alternatif.

WILAYAH A WILAYAH B

Surplus Sumber Daya X Surplus Sumber Daya Y


Minus Sumber Daya Y Minus Sumber Daya X

WILAYAH C

Kebutuhan Kebutuhan
A disuplai B disuplai
oleh C Surplus Sumber Daya X oleh C
Surplus Sumber Daya Y

Gambar 3.Intervening Opportunity

Spatial Transfer Ability

Faktor terakhir yang mempengaruhi pola interaksi antarwilayah adalah


kemudahan pemindahan dalam ruang (spatial transfer ability), baik proses
pemindahan manusia, gagasan dan informasi atau pun prosespemindahan
barang .faktor ini sangat berhubungan dengan bentuk interaksi ini antara lain:

4
a. Jarak mutlak dan relatif antara satu wilayah dan wilayah lainnya;
b. Biaya angkutan atau biaya transportasi yang memindahkan manusia,
barang, gagasan dan informasi dari suatu tempat ke tempat lainnya;
c. Kemudahan dan kelancaran prasarana transportasi antarwilayah,
seperti kondisi jalan, relief wilayah yang dilewati, dan jumlah
kendaraan sebagai sarana transportasi.

WILAYAH B

WILAYAH A

Minus Sumber Daya X tetapi memiliki


Surplus Sumber Daya X sumber daya Z sebagai pengganti
kebutuhan sumber daya X

Gambar 4.Spatial Transfer Ability

Jarak mutlak adalah jarak sebenarnya dari dua tempat atau lebih yang
ingin kita ketahui kekuatan interaksinya. Misalnya, jarak Bandung-Jakarta
adalah 180 km. Jarak relatif lebih ditekankan pada waktu yang dibutuhkan
untuk mengadakan perpindahan manusia, barang dan jasa, serta gagasan da
informasi dari suatu tempat ke tempat lainnya. Oleh karena itu, jarak relatif
dapat diperpendek melalui kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi , serta
kemudahan dan kelancaran prasarana dan sarana transportasi. Contohnya,
apabila kita pergi ke Bandung ke Jakarta yang jaraknya 180 km dengan
berjalan kaki maka akan memakan waktu sampai berhari-hari. Waktu
tersebut dapat diperpendek menjadi sekitar 4,5 jam saja seandainya kita
menggunakan kendaraan. Jarak relatif kadangkala disebut juga jarak
menyenangkan .
Selain jarak absolut dan relatif, dalam geografi dikenal pula lokasi
absolut dan lokasi relatif.Lokasi absolut berkenan dengan posisi suatu
wilayahberdasarkan koordinat garis lintang dan garis bujur. Misalnya
wilayah Republik Indonesia terletak pada 6o lu – 11o LS dan 95o BT – 141o
BT. Lokasi relatif adalah posisi suatu wilayah terdapat kondisi wilayah yang
ada disekitarnya. Misalnya wilayah Republik Indonesia terletak di antara
rangkaian Pegunungan Mediterania dan Pegunungan Sirkum Pasifik.Lokais

5
relatif juga dapat didasarkan atas kondisi-kondisi nonfisik. Lokais relatif
suatu tempat akan memberikan gambaran mengenai keterbelakangan
perkembangan atau kemajuan wilayah dibandingkan dengan wilayah-
wilayah lain di sekitarnya. Posisi relatif ini sering pula dinamakan situation.
Berdasarkan jenisnya, interaksi keruangan dapat dibedakan menjadi
empat macam, yaitu
 keruangan ekonomi,
 keruangan politik,
 keruangan sosial,
 keruangan manusia dan lingkungan.

3. Pengaruh Interaksi
a. Wujud interaksi kota dan desa yang sering terjadi.
1) Pergerakan barang dari desa ke kota atau sebaliknya
2) Pergerakan gagasan dan informasi, terutama dari kota ke desa.
3) Pergerakan manusia dalam bentuk rekreasi, urbanisasi, ruralisasi, atau
mobilitas penduduk, baik yang sifatnya sirkulasi maupun komutasi.
Proses interaksi antarwilayahyang berlangsung secara terus-menerus
dapat menimbulkan pengaruh bagi kedua wilayah, baik bersifat positif
maupun negatif terhadap aspek-aspek ekonomi, sosial, dan budaya
masyarakat.

b. Pengaruh positif
1) Tingkat pengetahuan penduduk meningkat. Pengetahuan didapat dengan
masuknya SD dan SMP ke wilayah pedesaan. penduduk desa juga dapat
melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi di kota. interaksi desa
dan kota juga mempermudah informasi yang diterima penduduk desa,
terutama melalui media massa.
2) Adanya lembaga pendidikan di pedesaan dapat memberikan sumbangan
yang berarti dalam meningkatkan peran serta penduduk dalam proses
pembangunan.
3) Melalui pengembangan sarana dan prasarana transportasi yang
menghubungkan kota dan desa, wilayah pedesaan akan semakin terbuka

6
dengan tetap selektif di dalam menerima pola hidup kota. Terbukanya
hubungan kota dan desa diharapkan dapat meningkatkan perekonomian
penduduk.
4) Melalui penggunaan teknologi tepat guna ke wilayah pedesaan
diharapkan dapat meningkatkan aneka produksi dan pendapatan
masyarakat.
5) Masuknya para ahli ke daerah pedesaan akan bermanfaat bagi penduduk
pedesaan , terutama dalam menciptaka berbagai peluang yang beorientasi
ekonomi,=.
6) adanya hubungan yang lancar antarkota dan desa, manfaatnya tidak saja
dirasakan oleh penduduk desa, tetapi juga oleh penduduk kota.Misalnya,
aneka produksi pertanian dapat dipasok untuk memenuhi konsumsi
wilayah kota.

c. Dampak negatif interaksi desa dan kota


1) lancarnya hubungan kota dan desa dapat menyebabkan timbulnya
dorongan bagi penduduk desa berusia muda untuk bekerja dikota. Bila
kenyataan ini dibiarkan maka pada suatu waktu wilayah desa akan
kehilangan tenaga kerja berusia produktif.
2) Wilayah pedesaan akan menjadi lahan yang menarik bagi orang kota
sehingga tidaksedikit orang-orang membelinya untuk berbagai
keperluan, misalnya untuk tempat peristirahaatan, tempat rekreasi dan
lokasi industri. Bila tanpa pengaturan yang jelas dan tegas tentang
peruntukan lahan pedesaan, suatu saat tidak tertutup kemungkinan akan
muncul berbagai masalah sosial, seperti hilangnya kawasan hijau,
menyempitnya kepemilikan lahan pertanian, serta menurunnya
kemampuan lahan sebagai daerah tangkapan hujan (catchment area) dan
peresapan air (recharge area).
3) Adanya penetrasi budaya kota yang kurang sesuai dengan tradisi
pedesaan, baik secara kontak langsung maupun melalui perantara media.
hal itu dapat menimbulkan “gangguan” bagi stabilitas budaya pedesaan.
4) munculnya daerah-daerah kumuh (slum area) di wilayah perkotaan yang
biasanya dihuni oleh penduduk desa yang gagal bersaing dalam kerasnya
kehidupan kita.
7
4. Zona Interaksi Desa dan Kota
Suatu wilayah kota yang berinteraksi dengan wilayah pedesaan, kekuatan
hubungannya sesuai dengan jarak ke pusat kota dan membentuk wilayah
tertentu. Semakin jauh letak suatu daerah dari pusat kota maka semakin lemah
interaksinya dengan pusat kota tersebut. Wilayah-wilayah interaksi tersebut
membentuk lingkaran-lingkaran yang dimulai di pusat kota sampai ke wilayah
pedesaan. Menurut Bintarto (1983), wilayah-wilayah atau zona interaksi adalah
sebagai berikut.
a. City diartikan sebagai pusat kota
b. Suburban (subdaerah perkotaan), yaitu suatu wilayah yang lokasinya
berdekatan dengan pusat kota. Wilayah ini merupakan tempat tinggal
para penglaju. Penglaju adalah penduduk yang melakukan mobilitas
harian (tanpa menginap ke kota)
c. Suburban fringe (jalur tepi subdaerah perkotaan) yaitu suatu wilayah
yang dilingkari subdaerah perkotaan. Wilayah ini merupakan peralihan
kota dan desa
d. Urban fringe (jalur tepi daerah perkotaan paling luat), yaitu semua batas
wilayah terluar suatu kota. Wilayah ini ditandai dengan sifat-siratnya
yang mirip dengan wilayah kota, kecuali wilayah pusat kota.
e. Rural urban fringe (jalur batas desa dan kota), yaitu suatu wilayah yang
terletak antara kota dan desa yang ditandai dengan pola penggunaan
lahan campuran antara sektor pertanian dan nonpertanian.
f. Rural merupakan daerah pedesaan.

Gambar 5. Skema Zona Interaksi desa dan kota

8
5. Interaksi Kaitannya dengan Segi Ekonomi, Sosial dan Budaya
Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, penduduk di suatu harus
berhubungan dengan penduduk di tempat lain. Aktivitas perekonomian penduduk
menyebabkan terjadinya perdagangan (hubungan dagang), jual beli barang dan jasa.
Dalam segala aspek seperti sosial, ekonomi, politik, budaya, pertahanan dan
keamanan, mental, spiritual selalu ada hubungan antara penduduk dari satu tempat
ke tempat yang lain.
Terdapat berbagai konsep dalam rangka analisa keruangan untuk
mengungkapkan aspek interaksi antara dua wilayah atau lebih, diantaranya adalah
dengan menggunakan model Gravitasi. Sir Issac Newton telah menyumbangkan
hukum fisika yang berharga berupa Hukum Gaya Tarik (Hukum Gravitasi) pada
tahun1687. Dia mengemukakan bahwa tiap massa akan memiliki gaya tarik terhadap
tiap titik di sekitarnya. Karena itu, bila ada dua massa yang berhadapan satu sama
lain, maka kedua massa itu akan saling menarik. Gaya tarik menarik itu berbanding
lurus dengan massa-massanya dan berbanding terbalik dengan kuadrat jaraknya.
Secara matematis gaya gravitasi dinyatakan dengan rumus:

Model tersebut kemudian diterapkan dalam bidang geografi untuk mengukur


kekuatan interaksi keruangan antara dua wilayah atau lebih oleh W.J. Reilly (1929).
Berdasarkan teorinya dikemukakan bahwa kekuatan interaksi antara dua wilayah
atau lebih dapat diukur dengan memperhatikan jumlah penduduk masing-masing
wilayah dan jarak mutlak antara wilayah-wilayah tersebut, yang dinyatakan dengan
rumus:

9
Penguatan Karakter: Contoh

Peserta tekun dan teliti Diketahui : 3 buah kota. Jumlah penduduk kota
mengaplikasi rumus untuk A adalah 1000 orang, kota B 2000 orang dan
menentukan besarnya interaksi
kota C adalah 3000 orang. Jarak kota A ke B
antar wilayah.
adalah 25 km, sedangkan dari kota B ke C
adalah 100 km.

Ditanyakan : manakah dari ketiga kota tersebut


yang lebih besar kekuatan interaksinya, apakah
antara kota A dan B atau kota B dan C?

Perbandingan kekuatan interaksi keruangan beberapa wilayah denganmenggunakan


rumus Reilley dapat diterapkan apabila:
a. kondisi penduduk meliputi tingkat sosial ekonomi, tingkat pendidikan,
matapencaharian, mobilitas, keadaan budaya dan laian-lain dari tiap-tiap wilayah
yangsedang dibandingkan relatif sama.
b. kondisi alam terutama bentuk wilayah atau reliefnya sama.
c. keadaan prasarana dan sarana transportasi yang menghubungkan wilayah-wilayah
yang sedang dibandingkan interaksinya relatif sama.

Di dalam kenyataannya bisa saja interaksi antara kota B dan C lebih


kuatdibandingkan dengan kota A dan B, karena kondisi wilayah yag
menghubungkan B danC merupakan daerah pedataran dan didukung prasarana jalan
yang baik. Sedangkan diwilayah A dan B merupakan jalur perbukitan dengan
prasarana jalan yang kurang baik.Oleh sebab itu ketiga hal di atas perlu
dipertimbangkan dalam menghitung besarnyagravitasi menurut Reilly.

Selain Teori Gravitasi juga terdapat Teori Titik Henti (the breaking point theory)
sebagai modifikasi dari Teori Gravitasi Reilley. Teori iniberusaha memberikan suatu
cara dalam memperkirakan lokasi garis batas yang memisahkan wilayah-wilayah
perdagangan dari dua buah kota yang berbeda ukurannya. Selain itu, juga dapat
digunakan untuk memperkirakan penempatan lokasi industri atau pelayanan-pelayan
sosial antara dua wilayah, sehingga mudah dijangkau oleh penduduk. Inti dari teori
ini adalah, bahwa jarak titik henti atau titik pisah dari pusat perdagangan yang lebih
kecil ukurannya adalah berbanding lurus dengan jarak antara kedua pusat
10
pedagangan tersebut, dan berbanding terbalik dengan satu ditambah akar kuadrat
jumlah penduduk dari wilayah yang penduduknya lebih besar dibagi dengan jumlah
penduduk pada wilayah yang lebih sedikit penduduknya. Secara matematis dapat
dinyatakan dengan rumus:

Salah satu faktor yang sangat menentukan untuk terjadinya interaksi antar wilayah
adalah sarana dan prasarana transportasi.Kualitasnya sangat berpengaruh terhadap
kelancaran mobilitas (pergerakan) barang dan jasa dari satu tempat ke tempat
lainnya. Suatu wilayah dengan wilayah lain biasanya dihubungkan oleh jalur-jalur
transportasi, baik jalur transportasi darat, laut maupun udara, sehingga membentuk
pola-pola jaringan tertentu di dalam ruang muka bumi (spatial network systems).
Kompleksitas jaringan tersebut sebagai salah satu tanda kekuatan interaksi antar
wilayah. Suatu kawasan yang dihubungkan oleh jaringan jalan yang kompleks tentu
memiliki pola interaksi keruangan lebih tinggi dibandingkan dengan daerah lain
yang hanya dihubungkan oleh satu jalur transportasi. Untuk lebih jelasnya
perhatikan gambar berikut:

B D

Gambar 6a. Wilayah dengan konektivitas tinggi

11
A

D
B

Gambar 6b. Wilayah dengan konektivitas rendah

Untuk mengetahui kekuatan interaksi antar kota dalam suatu wilayah dilihat dari
jaringan jalan digunakan rumus indeks konektivitas dikemukakan oleh K.J Kansky,
sebagai berikut.

6. Urbanisasi
Tingkat pertambahan penduduk di daerah perkotaan sebagian besar
terjadi karenapengaruh urbanisasi yang terus meningkat.Hal ini dapat dimengerti
mengingat kota-kota besar di Indonesia pada umumnya menjadi lokasi
pengembangan sektor-sektorindustri. Misalnya di Jakarta tingkat pertambahan
penduduknya mencapai 3.9% pertahun, di Surabaya mencapai 2,9% per tahun, di
Medan sebesar 3,5% per tahun, dan diSemarang mencapai 5,2% pertahun.

Sebab-Sebab Urbanisasi
Urbanisasi dapat dikatakan sebagai awal proses terjadinya masyarakat perkotaan.
Proses urbanisasi boleh dikatakan terjadi di seluruh dunia, baik di negarayang
sudah maju maupun yang belum memiliki industri. Cepat atau lambatnya proses
urbanisasi tergantunp pada keadaan masyarakat yang bersangkutan. Proses tersebut
dapat menyangkut dua aspek, yaitu:
a)berubahnya masyarkat desa menjadi masyarakai kota
b)bertambahnya penduduk kota yang disebabkan oleh mengalirnya penduduk
desa yang tertarik pada keadaan kota.

Urbanisasi adalah proses pengkotaan, dalam arti tumbuh dan berkembangnya


sifat-sifat kekotaan pada suatu wilayah (dan penduduknya). Proses pengkotaan ini

12
berdimensi jamak dan sangat kompleks. Urbanisasi tidak semata bersangkutan
dengan pergerakan penduduk dari daerah perdesaan ke perkotaan atau dari kota
yang satu ke kota yang lain, namun juga berkaitan dengan perkembangan ekonomi
perkotaan, perubahan sistem sosial dan politik, serta perubahan struktur bentang-
lahannya (Bintarto, 1983,UN-HABITAT, 2002).

Aktivitas Literasi
Amati diagram
perkembangan
perkembangan penduduk di
Indonesia

Critical
Thinking/Comunication

Analisis perkembangan
wilayah urban di Indonesia
tahun 1960-2030!

Kasus: Urbanisasi di India

Aktivitas Literasi

Amati peta dan data perkembangan


penduduk kota di India dengan
seksama.

Penguatan Karakter

Peserta dengan jujur, bertanggung


jawab, dan cinta tanah air dengan
membandingkan kondisi Indonesia
dan India.

13
Urbanisasi di India tumbuh lebih cepat dibanding
Critical Thinking tempat lain. Pada tahun 2030, 41% penduduk
Lakukan analisis : Bagaimanakah
India tinggal di perkotaan. Meningkat tajam jika
kondisi perkembangan kota di dibandingkan tahun 2010 yang hanya 28%.
Indonesia dan India. Pertumbuhan kota di India, sebagian besar karena
adanya perpindahan penduduk dari desa-kota.
Tingginya perpindahan penduduk karena
pembangunan infrastruktur jalan, jaringan
transportasi, meningkatkan pendidikan dan
kesehatan penduduk. Kesenjangan antara
penduduk kaya dan miskin yang kontras membuat
perpindahan penduduk ke kota-kota meningkat
tajam.

Sumber: Cambers, 2010

Selain sifat berdimensi jamak, munculnya aneka interpretasi urbanisasi lebih


banyak disebabkan oleh ketidak-sempurnaan pemahaman tentang urban (perkotaan)
itu sendiri. Perbedaan-perbedaan yang muncul secara umum berkisar pada tiga hal
pokok, yakni: (1). bagaimana konsep perkotaan baik secara fisik, sosial, maupun
fungsional itu dibatasi; (2). bagaimana caranya membedakan daerah perkotaan dan
daerah perdesaan; dan, (3). bagaimana interpretasi tentang perbedaan kota dan desa,
yaitu sebagai fenomena yang terpisah (discrete) atau suatu fenomena yang
bersinambung (continuum)
Walaupun interpretasi urbanisasi beraneka dan keseragaman batasan yang
jelas dan dapat merangkum segala persoalan urbanisasi tidak ditemui, namun
fenomena urbanisasi dapat dikenali paling tidak melalui dua ciri yang selalu
melekat. Pertama, urbanisasi dipandang sebagai suatu proses perubahan struktural.
Proses pengkotaan ini dianggap sebagai suatu proses “of removing the rural
character of a district (place) or a population (people)” atau lebih tegas lagi
dikatakan sebagai proses “of ceasing to be rural”. Hal kedua yang menjadi ciri studi
urbanisasi adalah perhatiannya terhadap hubungan dua arah antara dua jenis wilayah
geografis yang berbeda, yakni wilayah perkotaan dan wilayah perdesaan.Oleh
karena itu, proses perubahan yang terjadi (baik di perkotaan maupun perdesaan)
dalam studi urbanisasi dipandang sebagai hasil dari hubungan dua arah
tersebut.Kedua hal tersebut di atas menjadikan studi urbanisasi ‘berbeda’ dari studi-
studi yang ‘murni’ perkotaan maupun perdesaan. Studi urbanisasi seolah-olah
berada di tengah, mencakup sebagian studi perkotaan dan sebagian lagi studi

14
perdesaan dengan perhatian yang dipusatkan pada proses “reallocations of people
(and land) as between rural-agricultural and urban-non-agricultural modes of life”
Seperti telah disebutkan di atas, bahwa proses perubahan yang terkandung dalam
urbanisasi sangat kompleks baik ditinjau dari faktor-faktor penyebab maupun
akibat-akibat yang ditimbulkan. Urbanisasi digerakkan oleh sejumlah proses
perubahan yang saling mempengaruhi baik perubahan ekonomi, demografi, politik,
sosial, maupun perubahan teknologi. Proses-proses perubahan tersebut dimodifikasi
oleh faktor-faktor setempat, seperti misalnya faktor-faktor sumberdaya, lingkungan,
dan historis, sehingga tidak selalu mempunyai pengaruh yang sama dan seragam di
semua tempat atau masyarakat. Akibat dari pengaruh proses-proses tersebut,
urbanisasi juga menghasilkan perubahan-perubahan penting terhadap karakter dan
dinamika sistem perkotaan; sedangkan pengaruhnya di dalam daerah perkotaan,
urbanisasi menyebabkan perubahan-perubahan pola penggunaan lahan, ekologi
sosial, lingkungan binaan, dan perubahan urbanisme. Beberapa atau sebagian dari
hasil proses urbanisasi mungkin dipandang sebagai ‘masalah yang harus
diselesaikan’ oleh sebagian (besar) kelompok masyarakat. Hasil penyelesaian
masalah (baik yang diharapkan maupun tidak) melalui mekanisme kebijakan-
kebijakan dan perencanaan baik oleh pemerintah, swasta, maupun perorangan pada
akhirnya akan mempengaruhi dinamika proses perubahan yang kemudian
menggerakkan kembali keseluruhan proses urbanisasi (Knox, 1994).
Dengan memperhatikan cakupan studi urbanisasi seperti tersebut di atas, maka studi
urbanisasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah studi yang menitik-beratkan
perhatiannya terhadap proses-proses perubahan (ekonomi, demografi, politik, sosial,
teknologi, dan fisik-keruangan) yang mengarah pada pembentukan ciri-ciri
struktural kekotaan baik di daerah perkotaan maupun daerah perdesaan.Proses-
proses perubahan ini dipandang sebagai akibat atau hasil dari hubungan dua arah
antara daerah perkotaan dan perdesaan. Dengan demikian, sifat dinamis dari sistem
perkotaan (susunan lengkap saling-ketergantungan kota-kota di suatu wilayah atau
negara), bentuk perkotaan (struktur fisik dan organisasi permukiman perkotaan),
ekologi perkotaan (komposisi sosial, ekonomi, demografi, dan permukiman
perkotaan), dan urbanisme (gaya hidup, nilai-nilai, pola perilaku yang tercipta dalam
lingkungan perkotaan) juga dihasilkan dari hubungan dua arah tersebut. Di samping
itu, studi urbanisasi juga memperhatikan pengaruh faktor-faktor setempat di dalam
memodifikasi proses-proses perubahan yang bersifat umum, serta memperhatikan
15
pengaruh balik pengambilan keputusan (tercermin dalam kebijakan dan
perencanaan) terhadap proses urbanisasi. Lingkup studi urbanisasi tersebut di atas
secara skematis dapat dilihat dalam Gambar 1.

Respon
Agen perubahan
Kebijakan/perencanaan Persoalan
Demografi
Masyarakat
SISTEM PERKOTAAN
Politik
URBANISASI
BENTUK PERKOTAAN
Budaya
EKOLOGI PERKOTAAN
EKONOMI
Faktor lokal
Historis

Gambar 1.
Urbanisasi sebagai Sebuah Proses (modifikasi Knox, 1994)

Oleh karena proses-proses perubahan yang berkaitan dengan fenomena


urbanisasi dapat terjadi di daerah perkotaan dan perdesaan, maka hal terpenting
dalam studi urbanisasi adalah menentukan jenis permukiman penduduk yang mana
yang dapat dikategorikan sebagai daerah perkotaan. Seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya, bahwa urbanisasi dapat dipahami sebagai proses “of ceasing to be
rural”, maka daerah perkotaan dalam perspektif ini dapat diinterpretasikan ganda,
yaitu daerah perkotaan yang secara difinitif ditetapkan sebagai kota (baik secara
administratif maupun aspek-aspek legal lainnya) dan daerah perkotaan yang
sebelumnya merupakan daerah perdesaan.
Dimasukkannya daerah yang sebelumnya merupakan daerah perdesaan ke
dalam studi urbanisasi mempunyai arti yang sangat penting, oleh karena ia
mencerminkan sifat dinamis dari proses urbanisasi itu sendiri. Proses-proses
perubahan (terutama yang disebabkan oleh pemusatan penduduk, pemusatan
kegiatan-kegiatan dan fungsi-fungsi ekonomi, serta pemusatan kegiatan-kegiatan
pembangunan lainnya) yang terjadi di daerah perkotaan akan mendorong lebih
banyak penduduk dari daerah belakangnya (hinterlands) untuk turut berperan serta
dalam kegiatan-kegiatan kekotaan. Keikut-sertaan mereka dalam proses ini, seperti
migrasi dari desa ke kota , atau bentuk-bentuk interaksi desa-kota lainnya, seperti
kegiatan-kegiatan pemasaran, distribusi, pendidikan, dan sebagainya, akan

16
mempengaruhi daerah perdesaan yang pada akhirnya, lambat atau cepat, daerah
belakang ini akan terkotakan. Dengan landasan pemikiran ini maka studi urbanisasi
dapat dipecah menjadi dua bagian utama berdasarkan orientasi geografis kajiannya,
yaitu studi urbanisasi yang lebih mengkonsentrasikan kajiannya terhadap proses-
proses perubahan yang terjadi di dalam kota dan studi urbanisasi yang mengkaji
proses-proses perubahan yang terjadi di luar kota. Penelitian ini cenderung
memposisikan diri pada bagian yang kedua oleh karena studi urbanisasi perdesaan
lebih banyak membahas hal-hal yang berkaitan dengan perubahan-perubahan di
daerah perdesaan akibat proses urbanisasi.
Oleh beberapa pakar urbanisasi negara sedang berkembang, proses urbanisasi di
wilayah ini diyakini menghasilkan ‘cetakan-ruang’ yang berbeda bila dibandingkan
dengan pengalaman-pengalaman yang terjadi di negara maju, khususnya untuk
wilayah-wilayah padat penduduk di Asia, seperti Cina, India, Indonesia, Taiwan,
Thailand. Pola urbanisasi demikian ini menimbulkan apa yang dikenal dengan “sisi
lain” dari urbanisasi, yaitu urbanisasi yang dicirikan dengan pertumbuhan wilayah
pinggiran kota (peri-urban); pertumbuhan koridor yang menghubungkan dua kota
besar yang sangat cepat; hubungan dan keterkaitan antara perdesaan dan perkotaan
yang sangat kuat; dan peleburan kegiatan perdesaan dan perkotaan.
Hasil dari ‘sisi lain’ proses urbanisasi di wilayah Asia padat penduduk (terutama
di negara-negara yang pertumbuhan ekonominya cukup tinggi) adalah batas antara
perdesaan dan perkotaan, baik dalam perspektif fisik-keruangan maupun sosial-
budaya dan ekonomi yang semakin kabur. Proses ini paling tidak mempunyai dua
dampak, yaitu reorientasi atau modifikasi teori-teori terdahulu tentang “a sustained
rural-urban transformation” dan diragukannya efektivitas kebijakan-kebijakan
pembangunan yang didasarkan pada dikotomi perdesaan-perkotaan. Untuk
menjembatani hal-hal tersebut di atas, maka dalam penelitian ini, proses-proses
perubahan yang terjadi di luar ‘batas’ kota (dalam arti secara definitif, legal
administratif) yang mengarah pada pembentukan nilai-nilai kekotaan disebut
urbanisasi perdesaan. Urbanisasi perdesaan mempunyai paling tidak tiga arti, yaitu:
1. urbanisasi in situ suatu daerah (atau masyarakat) perdesaan;
2. perubahan struktur ekonomi, sosial, demografi, dan fisik-keruangan di daerah
perdesaan dari yang bersifat kedesaan menuju kekotaan; dan

17
3. tumbuh dan berkembangnya kegiatan-kegiatan, fasilitas-fasilitas, dan
penduduk atau masyarakat yang berbasis perkotaan di daerah (sebelumnya)
perdesaan.

Dalam kerangka pengertian tersebut, maka konsep urbanisasi perdesaan


mencakup proses-proses perubahan yang disebabkan oleh kekuatan-kekuatan baik
internal maupun eksternal; proses urbanisasi ‘in situ’ dan proses sub-urbanisasi;
serta proses urbanisasi yang berkembang pada suatu daerah yang menghubungkan
permukiman perdesaan dengan sistem perkotaan wilayah, yaitu daerah perdesaan
yang berada di koridor antara dua kota besar atau lebih dan pusat pelayanan daerah
perdesaan di batas bawah suatu hirarki perkotaan

GEO INFO:
(Hasil Penelitian:M.R. Djarot Sadharto Widyatmoko UGM)

Meningkatnya jumlah penduduk perkotaan yang tinggi (terutama kota-kota besar di


Pulau Jawa) terutama disebabkan oleh perpindahan penduduk perdesaan yang dipicu
oleh kondisi yang tidak kondusif akibat gejolak politik yang tidak menentu (push-
factors of urbanization). Proses urbanisasi pada masa Orde Baru hingga sekarang dapat
dibagi menjadi dua masa, yaitu masa pertama adalah masa hingga pertengahan
dasawarsa 1980an yang ditandai dengan berkembangnya ibukota Jakarta menjadi kota
raksasa (mega urban). Terbentuknya kota raksasa ini terkait dengan konsentrasi
kekuatan ekonomi dan politik nasional yang berlebihan pada masa itu. Masa kedua
adalah masa setelah pertengahan dasawarsa 1980an, dimana ada dua proses urbanisasi
yang berkembang secara bersamaan akibat dari desentralisasi dan dekonsentrasi
kekuatan-kekuatan ekonomi dan politik dari pemerintah pusat (pull-factors of
urbanization), yaitu: pertama, urbanisasi raksasa (mega urbanization) yang berkaitan
dengan pembentukan wilayah-wilayah perkotaan yang sangat besar seperti
JABODETABEK (Jakarta dan kota-kota di sekitarnya), GERBANG-KERTOSUSILA
(Surabaya dan kota-kota di sekitarnya) yang merupakan pusat-pusat kekuatan ekonomi
nasional; dan kedua adalah berkembangnya proses urbanisasi perdesaan pada wilayah
koridor-koridor utama di Pulau Jawa yang padat penduduk akibat semakin baiknya
sarana transportasi dan komunikasi. Koridor-tersebut adalah koridor Jakarta-Cilegon,
Jakarta-Cirebon, Jakarta-Bandung, Surabaya-Malang, dan segitiga JOGLO-SEMAR
(yogyakarta-Solo-Semarang).

Proses urbanisasi yang dominan terjadi di wilayah Propinsi DIY selama kurun waktu
1980-2000 adalah proses urbanisasi perdesaan. Proses ini ditandai dengan penurunan
jumlah penduduk Kota Yogyakarta baik secara relatif maupun absolut, adanya
reklasifikasi status permukiman di satuan-satuan permukiman sekitar Kota Yogyakarta
dari desa rural menjadi desa urban, dan berubahnya satuan-satuan permukiman yang
bersifat kedesaan menjadi permukiman bersifat kekotaan sebagai akibat dari
berkembangnya aspek-aspek perkotaan di permukiman yang bersangkutan. Distribusi
penduduk perkotaan Propinsi DIY tidak merata dan cenderung mengelompok pada
wilayah dengan ketinggian 0 hingga 300 meter dpal. Wilayah ini sebagian besar adalah
wilayah fisiografi Lerengkaki Gunungapi Merapi dan Dataran Aluvial. Selama periode
1980-2000, telah terjadi pemusatan penduduk di dua wilayah kabupaten, yaitu
Kabupaten Bantul dan Kabupaten Sleman dan ‘locus’ konsentrasi tidak berlangsung di

18
wilayah perkotaan (administratif, legal). Hal ini ditunjukkan dengan ‘share’ negatif
jumlah penduduk Kota Yogyakarta dan penurunan proporsi penduduk perdesaan di dua
kabupaten tersebut yang cukup signifikan.

Pola distribusi keruangan permukiman secara umum bersifat konsentris, yaitu dengan
bentuk permukiman perkotaan dikelilingi oleh permukiman perdesaan di sekitarnya.
Terbentuknya pola konsentris ini lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi geografis
wilayah Propinsi DIY. Sesuai dengan kondisi fisiografi wilayah, distribusi pola
konsentris ini dapat dijumpai di tiga bagian wilayah, yaitu wilayah barat, tengah, dan
wilayah timur. Wilayah barat dengan pusatnya adalah kota Wates, wilayah tengah
berpusat di Kota Yogyakarta, dan wilayah timur berpusat di kota Wonosari. Kota Wates
dan Kota Yogyakarta berada di Dataran Aluvial yang subur, sedang kota Wonosari
berada di Ledok Wonosari yang dikelilingi oleh Pegunungan Baturagung dan
Pegunungan Seribu yang bertopografi kasar dan relatif tandus.

Proses urbanisasi perdesaan ini bersifat konsentratif dan difusif. Konsentratif dalam
arti perkembangan wilayah tengah jauh lebih tinggi daripada wilayah barat dan wilayah
timur. Difusif dalam arti derajat kekotaan suatu permukiman semakin rendah dengan
semakin jauhnya lokasi permukiman yang bersangkutan dengan pusat kota. Secara
umum proses urbanisasi perdesaan di wilayah Propinsi DIY dipengaruhi oleh empat
faktor utama, yaitu faktor tingkat kemakmuran wilayah, tingkat kemakmuran penduduk,
geografis, dan faktor sarana komunikasi dan informasi. Kuatnya pengaruh dari dua
faktor tersebut pertama menunjukkan bahwa pengaruh yang sangat kuat dari dinamika
perekonomian wilayah terhadap proses urbanisasi perdesaan. Sektor ekonomi yang
sangat berpengaruh tersebut adalah usaha kecil dan menengah dan informal (terutama
dari sektor jasa).

Permukiman di wilayah Propinsi DIY dapat dikelompokkan ke dalam tiga jenis


permukiman, yaitu permukiman perkotaan (A), permukiman desa-kota (B), dan
permukiman perdesaan (C). Permukiman perkotaan terbagi ke dalam lima jenis
permukiman yang dapat disebut sebagai kota, yaitu kota inti (A1), kota satelit(A2), kota
kabupaten (A3), kota kecamatan (A4), dan pusat perdesaan (A5); untuk permukiman
desa-kota dapat dibedakan ke dalam tiga kelompok permukiman, yaitu desa-kota
pinggiran (B1), desa-kota pedalaman (B2), dan desa-kota koridor (B3). Dan terakhir
adalah permukiman perdesaan, dimana permukiman ini dapat kelom-pokkan menjadi
menjadi dua, yaitu: desa padat penduduk (C1)dan desa jarang penduduk (C2).

19
Kasus Urbanisasi di Kairo

20
Pembangunan Perkotaan-Perdesaan

21
Indeks Kota Berkelanjutan

22
23
Strategi Pengembangan Smart City

Smart Economy Pengembangan perekonomian kota yang cerdasdan


berdaya saing, dengan mengintegrasikan kegiatan
perekonomian yang produktif, kreatif dan inovatif,
berbasis teknologi dan IT.
Strategi:
1.Mengembangkan pencitraan kota (city branding)

Smart Governance Pengembangan tata kelola pemerintahan yang cerdas


dan kompetitif,inovatif, efisien, dan berbasisIT.
Strategi:
1.Membangun jaringan komunikasi pemerintah dan
swasta
Smart Infrastructure Pengembangan infrastruktur dalam upaya peningkatan
efisiensi dan daya saing kota melalui pelayanan yang
cepat dan tepat.
Strategi:
1.Mengembangkan akses dan jaringan informasi
berbasis teknologi secara luas.
2. Mengembangkan sarana dan prasarana system
pengelolaan transportasi berbasis ICT secara cepat

Smart Environment Pengembangan lingkungan kota yang cerdasdan


berdaya saing melalui pengelolaan sumberdaya
lingkungan kota berbasis teknologi.
Strategi:
1. Mengembangkan networking informasi
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup
berkelanjutan

Smart People Pengembangan masyarakat kota yang pintar dan


inovatif, kreatif, produktif, serta mampu
memanfaatkan potensi keragaman sosial-budaya untuk
membangun daya saing kota.
Strategi:
1.Mengembangkan pendidikan dan pengembangan
sumber daya

Smart Living Pengembangan hunian cerdas dalam upaya


peningkatan kualitas hidup masyarakat kota berbasis
informasi dan teknologi.
Strategi:
1.Meningkatkan kemudahan akses terhadap pelayanan
pendidikan, informasi, dan pengetahuan

7. Pemanfaatan Lahan Permukiman Suatu Wilayah


Wilayah muka bumi yang terhampar luas berupa daratan dinamakan
lahan.dalam bahasa inggris, lahan disebut land. Secara harfiah arti dari permukiman

24
adalah tempat tinggal manusia.Dengan demikian, lahan permukiman merupakan
tempat penduduk berkumpul dan hidup bersama dengan memanfaatkan lingkungan.
1. Faktor-faktor yang memengaruhi penentuan penggunaan lahan
Penentuan penggunaan lahan pada suatu wilayah dipengaruhi beberapa
faktor, antara lain.
a. Perilaku masyarakat (social behaviour)
Nilai-nilai sosial mempengaruhi penentuan penggunaan lahan, seperti
kebiasaan, sikap moral, pantangan, peraturan pemerintah, peninggalan
kebudayaan dan pola tradisional
b. Faktor ekonomi
Faktor ekonomi sangat penting dalam penentuan penggunaan lahan, terutama
daerah perkotaan.Misalnya, suatu lahan dinilai lebih menguntungkan secara
ekonomi bila dibangun pusat perbelanjaan dibandingkan permukiman.untuk
itu, biasanya akan ditentukan bahwa di lahan tersebut akan didirikan pusat
perbelanjaan.
c. Kepentingan umum
Kepentingan umum yang menjadi penentu dalam penggunaan lahan meliputi
kesehatan, keamanan, moral, dan kesejahteraan umum (termasuk kemudahan
dan keindahan)

8. Model Pusat Pertumbuhan (Growth Center)


Growth Poles atau kutub pertumbuhan pertama kali dipergunakan oleh
Francois Perroux (1950). Dengan tesisnya bahwa “... Pertumbuhan tidak terjadi
disembarang tempat dan juga tidak terjadi secara serentak, tetapi pertumbuhan
terjadi pada titik-titik atau kutub-kutub pertumbuhan dengan intensitas yang
berubah-ubah, lalu pertumbuhan itu menyebar sepanjang saluran yang beraneka
ragam dan dengan pengaruh yang dinamis terhadap perekonomian wilayah”
Di dalam pusat pertumbuhan terkumpul (konsentrasi) aktivitas ekonomi
terutama industri yang memiliki daya tarik dan akan memacu (menarik dan
mendorong) perkembangan ekonomi di wilayah pengaruhnya. Untuk mencapai
pertumbuhan yang mantap dan berimbang diperlukan konsentrasi investasi pada
sektor-sektor tertentu yang unggul(leading sectors). Industri-industri dan kegiatan-
kegiatan yang akan berkembang dan membentuk kutub pertumbuhan tersebut
memiliki beberapa ciri sebagai leading industries dan propulsive industries. Selain

25
itu prinsip konsentrasi dan aglomerasi akan menimbulkan efek efisiensi lokasi
berupa skala ekonomi (scale economies), localization economies dan urbanization
economies.
Pusat pertumbuhan juga melahirkan konsep Center-Periphery (Pusat-
Pinggiran) sebagaimana dikemukakan Friedmann, yaitu adanya kota utama dan
wilayah sekitarnya yang menjadi inti (core) dan pinggiran (periphery) yang berada
diluar serta bergantung pada inti. Perkembangan disebarkan dari inti ke pinggiran
melalui melalui pertukaran penduduk, barang dan jasa.Kota sebagai inti berpengaruh
atas wilayah pinggirannya. Hubungan antara core dengan pepiphery dilukiskan
dengan dua efek, yaitu efek sebar ‘spread effect’ dari pusat ke pinggiran dan kedua
efek serap balik ‘backwash effect’ dari pinggiran ke pusat (Myrdall, 1957)
Pusat pertumbuhan akan berpengaruh pada daerah belakangnya melalui efek
polarisasi atau ’polarization effect’ (dari pinggiran ke pusat) dan efek penetasan ke
bawah dari pusat ke pinggiran (trickling down effect). Polarization effect tersebut
diperkuat dengan adanya investasi pada pusat pertumbuhan, sedangkan trickling
down effect dapat tumbuh dengan cara meningkatkan daya tarik wilayah sekitarnya.
Berdasarkan pengertian di atas, kunci kutub pertumbuhan adalah adanya konsentrasi
investasi, industri, dan pembangunan di satu tempat yang memiliki kelengkapan
sarana dan prasarana sehingga menciptakan efisiensi ekonomi. Dalam konteks
pembangunan perdesaan, desa-desa pada tipologi desa di perkotaan (kelurahan) dan
desa yang memiliki basis industri memiliki peluang dalam penerapan model kutub
pertumbuhan. Konsep pusat dapat dianalogikan dengan perkotaan (desa
diperkotaan) dan pinggiran sama dengan desa-desadi luar perkotaan. Selain itu
prinsip kutub pertumbuhan dapat pula diterapkan di desa yang jauh dari pusat
dengan kriteria konsentrasi investasi, beberapa desa yang berbasis ekonomi
pariwisata atau pertambangan dapat menjadi pusat pertumbuhan di daerah
perdesaan.
a. Desa Pusat Pertumbuhan
Dengan mengadopsi prinsip-prinsip strategi pusat pertumbuhan yang
diterapkan dalam pembangunan perdesaan, Kementerian pekerjaan umum, sejak
tahun 1990-an mengembangkan konsep atau strategi desa pusat pertumbuhan.
Desa Pusat Pertumbuhan (DPP), yaitu suatu wilayah yang ditempati oleh
sejumlah penduduk sebagai satu kesatuan masyarakat serta merupakan simpul
jasa dan distribusi dari wilayah disekitarnya. DPP terdiri dari desa pusat dan
26
desa-desa lain sebagai pendukungnya, yang memiliki keunggulan strategis
berupa :
1) Peran kawasan ini bagiapertumbuhan dan pengembangan potensi
kawasan perdesaan lain di sekitarnya.
2) Keuntungan ekonomis (economic scale) guna mengembangkan
potensi andalannya,
3) Memiliki fasilitas pelayanan sosial ekonomi serta tingkat aksesibilitas
yang relatif lebih baik dibandingkan dengan kawasan perdesaan di
sekitarnya.
b. Kawasan Terpilih Pusat Pengembangan Desa (KTP2D)
Dalam perkembangannya, terutama terkait definisi tentang kawasan
perdesaan dalam UU Penataan Ruang, yaitu studi desa pusat pertumbuhan
diperluas lagi menjadi Kawasan Terpilih Pusat Pengembangan Desa (KTP2D),
yaitu satu satuan kawasan perdesaan yang terdiri dari desa pusat dan desa-desa
lain sebagai desa pendukungnya, yang memiliki keunggulan strategis berupa :
1) Peran kawasan ini bagi pertumbuhan dan pengembangan potensi
kawasan perdesaan lain di sekitarnya,
2) Keuntungan ekonomis (economic scale) guna mengembangkan
potensi andalannya,
3) Memiliki fasilitas pelayanan sosial ekonomi serta tingkat aksesibilitas
yang relatif lebih baik dibandingkan dengan kawasan perdesaan di
sekitarnya.

RANGKUMAN
Interaksi dapat diartikan sebagai suatu hubungan timbal balik yang saling
berpengaruh antardua wilayah atau lebih yangdapat menimbulkan gejala,
kenampakan ataupun permasalahan baru.Bentuk interaksi antar wilayah dibedakan
menjadi regional complementary, intervening opportunity, spatial transfer
ability.Berdasarkan jenisnya, interaksi keruangan dapat dibedakan menjadi empat
macam, yaitu keruangan ekonomi, keruangan politik, keruangan sosial, keruangan
manusia dan lingkungan.

Wujud interaksi kota dan desa yang sering terjadi antara lain pergerakan barang dari
desa ke kota atau sebaliknya, pergerakan gagasan dan informasi, terutama dari kota
27
ke desa, pergerakan manusia dalam bentuk rekreasi, urbanisasi, ruralisasi, atau
mobilitas penduduk, baik yang sifatnya sirkulasi maupun komutasi.Proses interaksi
antarwilayahyang berlangsung secara terus-menerus dapat menimbulkan pengaruh
bagi kedua wilayah, baik bersifat positif maupun negatif terhadap aspek-aspek
ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat.
Pengaruh positif dari adanya interaksi antar wilayah antara lain tingkat
pengetahuan penduduk meningkat, adanya lembaga pendidikan di pedesaan dapat
memberikan sumbangan yang berarti dalam meningkatkan peran serta penduduk
dalam proses pembangunan, melalui pengembangan sarana dan prasarana
transportasi yang menghubungkan kota dan desa, wilayah pedesaan akan semakin
terbuka dengan tetap selektif di dalam menerima pola hidup kota. Terbukanya
hubungan kota dan desa diharapkan dapat meningkatkan perekonomian penduduk,
melalui penggunaan teknologi tepat guna ke wilayah pedesaan diharapkan dapat
meningkatkan aneka produksi dan pendapatan masyarakat, masuknya para ahli ke
daerah pedesaan akan bermanfaat bagi penduduk pedesaan , terutama dalam
menciptaka berbagai peluang yang beorientasi ekonomi, adanya hubungan yang
lancar antarkota dan desa, manfaatnya tidak saja dirasakan oleh penduduk desa,
tetapi juga oleh penduduk kota.Misalnya, aneka produksi pertanian dapat dipasok
untuk memenuhi konsumsi wilayah kota.
Dampak negatif interaksi desa dan kota antara lainlancarnya hubungan kota
dan desa dapat menyebabkan timbulnya dorongan bagi penduduk desa berusia muda
untuk bekerja dikota. Bila kenyataan ini dibiarkan maka pada suatu waktu wilayah
desa akan kehilangan tenaga kerja berusia produktif, wilayah pedesaan akan menjadi
lahan yang menarik bagi orang kota sehingga tidaksedikit orang-orang membelinya
untuk berbagai keperluan, adanya penetrasi budaya kota yang kurang sesuai dengan
tradisi pedesaan, baik secara kontak langsung maupun melalui perantara media. hal
itu dapat menimbulkan “gangguan” bagi stabilitas budaya pedesaan, munculnya
daerah-daerah kumuh (slum area) di wilayah perkotaan yang biasanya dihuni oleh
penduduk desa yang gagal bersaing dalam kerasnya kehidupan kita.
Suatu wilayah kota yang berinteraksi dengan wilayah pedesaan, kekuatan
hubungannya sesuai dengan jarak ke pusat kota dan membentuk wilayah tertentu.
Semakin jauh letak suatu daerah dari pusat kota maka semakin lemah interaksinya
dengan pusat kota tersebut. Wilayah-wilayah interaksi tersebut membentuk
lingkaran-lingkaran yang dimulai di pusat kota sampai ke wilayah pedesaan.
28
DAFTAR PUSTAKA
1. Bintarto, 1977, Pengantar Geografi Kota, Yogyakarta, UP Spring.

2. Cambers, Gary and Steve Sibley, 2012, Geography, University Cambridge


Press.

3. Daryanto, Arief, 2003, Disparitas Pembangunan Perkotaan-Perdesaan di


Indonesia, Agrimedia, Volume 8 No. 2 Tahun 2003.

4. Djarot Sudharto Widyatmoko, 2016, Proses Urbanisasi Perdesaan di Daerah


Istimewa Yogyakarta, diakses desember 2017 di web
www.tulisanilmiah.cpm

5. Endra Saleh Atmawidjaja, 2012, Pengenalan Kota dan Perkotaan, makalah,


”Pelatihan Kader Pelopor Penataan Ruang”, Jakarta 18 Juli 2012.

6. Muta’ali Lutfi, 2011, Kapita Selekta Pembangunan Wilayah, Badan Penerbit


Fakultas Geografi (BPFG) Universitas Gajah Mada, Yogjakarta.

7. Muta’ali Lutfi, 2013,Pengembangan Wilayah Perdesaan (Prespektif


Keruangan), Badan Penerbit Fakultas Geografi (BPFG) Universitas
Gajah Mada, Yogjakarta.

8. ______________, 2012, Daya Dukung Lingkungan untuk Perencanaan


Pembangunan Wilayah, Badan Penerbit Fakultas Geografi (BPFG)
Universitas Gajah Mada, Yogjakarta

9. Vandana Vasudevan, 2013, Urban Villager, SAGE Publications Ltd

10. Waugh, David, 2012, Geography An Integrated Approach, Third Edition,


Nelson Thormes, a Wolter Kluwer Busines;

11. Yunus, Hadi Sabari, 2009, Klasifikasi Kota, Pustaka Pelajar, Yogjakarta

29