Anda di halaman 1dari 10

PERANAN PEMERINTAH DAERAH

DALAM PENGENTASAN KEMISKINAN


Posted by aliwear ⋅ 14 Mei 2012

Kemiskinan adalah masalah yang harus diatasi setiap daerah. Kemiskinan merupakan
masalah multi-dimensi, jadi bukan semata mata masalah ekonomi atau masalah
pengembangan sumberdaya manusia yang selama ini dipahami. Kemiskinan
menyangkut pula hak untuk bersuara, hak untuk memperjuangkan nasib mereka. Jika
hak ini tidak ada maka orang miskin sangat rentan terhadap kesewenangan dan
korupsi. Ini menyangkut pula kurangnya kebebasan bertindak, kebebasan memilih dan
kesempatan (Pegg 2003).

Masalah kemiskinan ini bukan saja menjadi masalah masing masing wilayah tapi
sudah menjadi komitmen bersama secara global untuk menghapusnya. Oleh karena itu
upaya penghapusan kemiskinan selalu melibatkan lembaga donor internasional.
Dalam upaya tersebut Bank Dunia dan lembaga internasional lain
mencanagkanMillenium Developmen Goals (MDGs) (Sachs 2005). Ini adalah
komitmen politik yang harus tercapai dalam rangka perdamaian global. Ada beberapa
tujuan yang ingin dicapai melalui program MDGs ini seperti:

1. Menghapus kemiskinan ekstrim atau kronis


2. Memberikan pendidikan dasar bagi semua anak
3. Menjamin hak dan kesempatan yang sama bagi perempuan
4. Mengurangi tingkat kematian bayi
5. Mengurangi tingkat kematian ibu melahirkan
6. Menghambat penyebaran penyakit menular hiv/aids
7. Menjamin pelestarian lingkungan
8. Membangun kerjasama pembangunan secara global

Lembaga internasional sudah mempunyai komitmen agar program MDGs ini sudah
terlihat hasilnya pada tahun 2015. Masalah kemiskinan ekstrim sudah harus berakhir
pada tahun 2025. Hal ini berarti sebelum 2025 banyak negara sudah keluar dari
jebakan kemiskinan. Dalam rangka keberhasilan program ini perlu ada komitmen
keuangan dari negara maju membantu lembaga lembaga donor internasional (Sachs
2005).

Dari uraian di atas pemerintah daerah dapat menggalang kerjasama dengan lembaga
internasional dalam mengentaskan kemiskinan di wilayahnya. Untuk itu dibutuhkan
pejabat pemerintah yang visioner, yang mempunyai komitmen yang tinggi terhadap
penghapusan kemiskinan dan bukan pejabat tipe administrator. Sebenanrya dalam era
otonomi seperti sekarang pejabat yang visioner yang lebih dibutuhkan daripada
pejabat administrator. Pejabat administrator cenderung pasif dan menunggu instruksi
dari pejabat di atasnya.

A. Desentralisasi dan Pengentasan Kemiskinan

Pada masa orde baru semua keputusan dipusatkan di Jakarta sehingga tidak memberi
ruang bagi aspirasi dari bawah. Dalam upaya penghapusan kemiskinan konsentrasi
pengambilan keputusan di Pusat tidak membawa hasil yang maksimal.Ada penduduk
yang tidak terlayani dengan baik sehingga tujuan kesejahteraan kepada seluruh
masyarakat tidak tercapai. Pemerintah menyadari pelayanan kepada masyarakat akan
sangat efektif jika kewenangan pengambilan keputusan diberikan ke daerah. Oleh
karena itu sejak tumbangnya orde baru desentralisasi diberlakukan secara penuh di
Indonesia.

Desentralisasi masih merupakan konsep yang belum jelas. Konsep ini terus
mengalami perubahan makna dari waktu ke waktu. Konsep densentralisasi awal
diperkenalkan pada 1950 ketika pemerintah Kolonial (baca Inggris) mulai
mempersiapkan kemerdekaan negara jajahan mereka (Osmani 2005). Ada 5 prinsip
yang perlu diperhatikan dalam proses desentralisasi.

1. Pemerintahan Lokal secara kelembagaan harus dipisahkan dari pemerintahan


Pusat ;
2. Pemerintahan Lokal harus mempunyai angaran belanja sendiri. Pendapatan
pemerintahan Lokal dapat diperoleh dari pajak langsung;
3. Pemerintah Lokal juga berhak mengangkat pegawai sendiri. Mungkin mulai
dengan tenaga honorer;
4. Pemerintahan Lokal perlu dikontrol oleh parlemen lokal yang dipilih secara
demokratis;
5. Administrasi Pusat, dalam hubungan dengan pemerintah Lokal, harus manarik
diri dari urusan eksekutif lokal dan hanya bertindak sebagai penasehat atau
pengawas.

Namun dalam kenyataan ke lima prinsip desentralisasi klasik yang dimaksud hampir
tidak pernah berjalan di negara berkembang. Kemudian diperkenalkan klasifikasi lain
yang membedakan desentralisasi menjadi 4 bentuk didasarkan pada proses
pengambilan keputusan:

1. Dekonsentrasi. Dekonsentrasi merupakan perubahan kelembagaan dimana


kewenangan pengambilan keputusan oleh aparat pemerintah pusat digeser ke
aparat pemerintah yang berada di daerah. Dalam sistem ini sumber sumber dari
pusat ditransfer ke daerah dan wewenang keputusan penggunaan dana
diberikan kepada aparat daerah tanpa harus konsultasi kepada
pemerintah pusat.
2. Devolusi. Devolusi yang dimaksud adalah upaya reorganisasi dimana
daerah diberi kebebasan kewenangan membuat aturan dan kewenangan fiskal.
Pemerintah daerah mempunyai otonomi dan diberi tanggung jawab membuat
keputusan penggunaan dana tersebut.
3. Delegasi. Delegasi adalah transfer kewenangan kepada Badan usaha milik
negara atau petugas khusus ditunjuk negara yang berada di luar struktur
birokrasi pemerintah. Delegasi wewenang dari pemerintah pusat kepada Badan
atau petugas hanya dilakukan untuk tugas atau pekerjaan tertentu saja.
Pemerintah pusat yang menetapkan tujuan proyek dan mentransfer sumber
keuangan yang tersedia sesuai kesepakatan yang telah dibuat bersama. Pihak
yang menerima wewenang bertindak sebagai agen yang memiliki otonomi yang
cukup dalam melaksanakan tugasnya.
4. Privatisasi dan partnership. Privatisasi dan partnership yang dimaksud adalah
transfer tanggung jawab publik kepada organisasi volunter atau perusahan
swasta. Tujuan privatisasi adalah memobilisir kapasitas dan inisiatif organisasi
masyarakat sipil yang bekerja bagi perkembangan sosial dan pembangunan
ekonomi. Sumber keuangan ditransfer kepada organisasi atau perusahan
berdasarkan program kerja yang telah ditetapkan. Pemerintah biasanya tidak
campur tangan dalam perencanaan dan anggaran, namun meminta
pertanggungan jawaban penggunaan dana setelah program selesai
(expostcontrol).

Dari keempat bentuk desentralisasi di atas, dekonsentrasi kurang memberi ruang bagi
transfer kekuasaan kepada masyarakat lokal. Sama halnya dengan delegasi juga
kurang memberi peluang bagi transfer kekuasaan, walaupun lembaga yang mendapat
delegasi melibatkan masyarakat lokal dalam pembuatan keputusan. Devolusi dan
privatisasi atau partnership yang paling memberi kesempatan bagi kepemerintahan
lokal berdasarkan partisipasi masyarakat luas. Keterlibatan masyarakat dalam proses
pengambilan keputusan merupakan prakondisi penting bagi keberhasilan penghapusan
kemiskinan dari sisi efisiensi dan kesetaraan. Salah satu alasan adalah pelayanan
terhadap masyarakat lokal dapat disesuaikan dengan keinginan masyarakat setempat.

B. Pengentasan Kemiskinan

Di negara mana pun upaya menghapus kemiskinan tidak mungkin dilepaskan pada
sektor swasta tapi merupakan tugas utama pemerintah. Namun pemerintah perlu
menyadari bahwa pembangunan ekonomi regional merupakan suatu proses jangka
panjang dan bukan unutk jangka pendek (The NGO Committe for Social
Development 2003). Oleh karena itu ketika pemerintah daerah membuat rencana
pembangunan regional yang perlu diperhatikan adalah dimensi keberlangsungan.
Untuk itu pemerintah perlu menyadari beberapa hal berikut:

1. Perlu pemahaman pemerintah bahwa projek pembangunan selalu untuk jangka


panjang;
2. Konsekuensinya perlu ada tanggung jawab jangka panjang untuk manajemen
dan pengawasan;
3. Pemerintah harus menyediakan infrastruktur dan teknologi dasar;
4. Menjamin stabilitas sosial dengan menciptakan satbilitas politik sehingga tidak
terjadi perang dan konflik sosial. Pengentasan kemiskinan tidak mungkin
terjadi di daerah yang tidak aman dan penuh konflik;
5. Mengntegrasi pelayanan sosial dengan struktur ekonomi;
6. Menghapus korupsi; dan
7. Melakukan streamline struktur birokrasi.

Tentu 7 poin di atas merupakan syarat penting yang perlu diperhatikan pemerintah
daerah dalam menghapus kemiskinan. Salah satu poin penting adalah kestabilan sosial
dan politik. Program pengentasan kemiskinan tidak mungkin berjalan di wilayah
konflik. Poin ke 6 sangat krusial untuk seluruh negara berkembang.

Korupsi di daerah akan menghambat proses pengentasan kemiskinan. Dalam kasus


tertentu penguasa sendiri dapat menjadi penyebab kemiskinan. Penguasa lokal sering
mengeksploitir masyarakatnya dalam bentuk korupsi kecil-kecilan. Kaum penguasa
daerah seolah olah merasa mempunyai keistimewaan menerima upeti dari masyarkat.
Masyarakat sering di minta uang untuk pelayanan yang seharusnya mereka terima
secara cuma-cuma. Bagi kelompok masyarakat kaya membayar pungutan liar
mungkin tidak terlalu memberatkan namun tidak demikian untuk masyarakat miskin.
Pengeluaran untuk pungli terlalu memberatkan bagi ekonomi rumah tangga
(Bhagwandin 1993).

Selain itu ada faktor lain yang tidak kalah pentingnya dalam seperti, pelibatan
masyarakat lokal dan pemberdayaan perempuan. Pelibatan masyarakat lokal bisa
dilakukan dalam hal rancangan strategi pengentasan kemiskinan di wilayah
bersangkutan. Hal ini bisa dilakukan dengan metode Delphi. Khusus tentang
pemberdayaan perempuan tidak dapat diragukan lagi. Perempuan yang paling banyak
bersentuhan dengan kesejahteraan rumah tangga.

Dalam upaya menghapus kemiskinan ada beberapa masalah yang sering dihadapi
pemerintah di negara berkembang yaitu, konsep, konten, koordinasi, korupsi, dan
kontinuitas (Garuba nd). Masing masing akan dibahas lebih rinci. Walaupun yang
diungkapkan ini masalah yang banyak dialami di negara berkembang di asia Selatan
dan Afrika, namun tidak berarti tidak terjadi di Indonesia.
1. Masalah konsep. Pemahaman konsep kemiskinan oleh pemerintah daerah
turut pula berpengaruh pada strategi pengentasan kemiskinan. Sering
pemerintah tidak bersungguh sungguh ingin menghapus kemiskinan tapi
dipakai sebagai komoditas politik untuk mendapatkan legitimasi dari
masyarakat. Misalnya, dalam hal kelangkaan pupuk misalnya, pemerintah
membuat kebijakan pengadaan pupuk agar partai yang berkuasa semakin
populer dan mendapat suara banyak dalam pemilu.
2. Masalah konten. Kelemahan pengentasan kemiskinan bisa disebabkan oleh
konten yang kurang. Misalnya, pengentasan kemiskinan sering bersifat
topdown dan kurang melibatkan aspirasi masyarakat bawah. Pemerintah daerah
tidak mempunyai pengetahuan tentang kondisi lokal sehingga upaya
pengentasan kemiskinan lebih banyak mengandalkan buku buku teks umum
yang tidak bersentuhan dengan realita kemiskinan masyarakat setempat.
3. Masalah koordinasi. Masalah yang sering muncul di lapangan adalah terlalu
banyak lembaga yang terlibat dalam pengentasan kemiskinan. Sering program
kerja satu lembaga tumpang tindih dengan lembaga lain atau malah
bertentangan. Hal semacam ini terjadi karena koordinasi antar lembaga sangat
lemah.
4. Masalah korupsi. Banyak pengalaman menunjukkan program pengentasan
kemiskinan tidak berjalan dengan baik karena ada bagian dana yang hilang.
Korupsi menyebabkan pemberdayaan masyarakat miskin tidak mencapai
tingkat kualitas seperti yang diharapkan. Korupsi tidak selamanya tidak dalam
bentuk uang. Bisa terjadi bahwa sasaran pemberdayaan yang seharusnya untuk
orang miskin ternyata dinikmati orang kaya di suatu wilayah karena kelompok
ini mempunyai pengaruh politik yang lebih kuat. Kita sering mendengar
pemberian dana yang seharusnya untuk masyarakat miskin diterima mereka
yang mampu. Akibatnya masyrakat miskin tetap bergelut dalam kemiskinan.
5. Masalah kontinuitas. Dalam hal pengentasan kemiskinan sering terjadi
pergantian rezim tidak mendukung kebijakan sebelumnya. Hal ini terjadi
karena ada kesombongan kekuasaan seorang kepala daerah tidak ingin hidup
dalam bayangan kepala daerah sebelumnya. Dalam kaitan dengan pengentasan
kemiskinan setiap program hanya bertahan terbatas pada masa kekuasaan
seorang kepala daerah. Kondisi seperti ini tidak menguntungkan masyarakat
miskin karena program pemberdayaan bisa berhenti setelah masa kekuasaan
seorang pejabat berakhir.

C. Pembangunan Pedesaan dan Pengentasan Kemiskinan

Sebagian besar masyarakat miskin tinggal di daerah pedesaan. Jangan heran berbagai
program dilakukan di daerah pedesaan untuk memperbaiki kondisi sosial ekonomi
masyarakat desa. Untuk itu peranan pemerintah sebagai motor pembangunan semakin
penting. Hal ini karena swasta hampir tidak tertarik melakukan investasi di desa.Oleh
karena itu investasi pemerintah di daerah pedesaan sangat perlu (The NGO Committe
for Social Development 2003). Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pemerintah
daerah ketika mau melakukan investasi di desa.

1. Fokus pada pembangunan pedesaan yang terintegrasi dengan baik seperti,


infrastruktur fisik, pendidikan, kesehatan, penciptaan lapangan kerja, akses
pasar, dan irigasi;
2. Penataan kembali kepemilikan tanah jika memang dibutuhkan, terutama untuk
tanah tanah yang belum memiliki hak milik;
3. Pengembangan lapangan kerja di pedesaan agar tidak terjadi perpindahan orang
ke kota;
4. Menyiapkan ahli dan teknisi di sektor pertanian untuk menolong penduduk
desa;
5. Membantu mengembangkan sistem pemasaran untuk usaha kecil pedesaan;
6. Mengembangkan teknologi tepat guna yang sederhana ;
7. Membiayai proyek penelitian tentang teknik pertanian dan penelitian air.

Beberapa aktivitas yang menyangkut masyarakat pedesaan dapat pula dibiarkan pada
pasar. Namun perlu diakui ada kegagalan pasar yang berakibat buruk pada masyarakat
pedesaan sendiri. Oleh karena itu dibutuhkan aturan atau tindakan pemerintah
sehingga potensi konflik dapat dihindari. Misalnya, masalah pemilikan bersama dapat
mencuat menjadi konflik jika ada kelompok dalam masyarakat merasa dirugikan.
Tentu pemerintah perlu memperhatikan pula pelayanan publik dan pelayanan sosial
dan pengadaan infrastruktur fisik lain. Kualitas pelayanan pemerintah di daerah
pedesaan sering kurang memadai karena pemerintah lebih sering memberi perhatian
pada masalah di Pusat atau di Kabupaten, biasanya di daerah perkotaan.

Di daerah pedesaan pendidikan rata-rata penduduk cukup rendah. Banyak anak yang
putus sekolah dan menjadi petani atau menjadi pengangguran di desa. Untuk itu
pemerintah perlu memperhatikan pendidikan orang dewasa sebagai alternatif
pendidikan resmi. Pendidikan orang dewasa berperan dalam pengentasan kemiskinan.
Sebagai agen perubahan pendidikan memainkan peranan terjadinya

transformasi berpikir dan pemberdayaan terhadap individu dan masyarakat.


Pendidikan merupakan syarat mutlak pembangunan. Pendidikan orang dewasa
memberi pengalaman belajar kepada orang dewasa di luar sistem sekolah resmi.
Pendidikan semacam ini mempersiapkan orang dengan ketrampilan yang dibutuhkan
untuk bertahan hidup. Pendidikan orang dewasa tidak hanya terbatas pada upaya
memdapatkan skill baru tapi meliputi juga upgrading dan perbaikan kerampilan
(Garuba nd). Pemerintah daerah perlu memperhatikan pendidikan orang dewasa yaitu
dengan:
1. Memberi perhatian khusus bagi pendidikan di daerah;
2. Menyediakan anggaran subsidi pendidikan;
3. Memberi perhatian yang khusus pada tingkat melek huruf orang dewasa;
4. Memberi pelatihan tentang hak sipil dan politik bagi masyaakat desa;
5. Memberi informasi yang memadai kepada masyarakat luas; misalnya, tentang
jenis bibit baru.

Dalam upaya pengentasan kemiskinan di daerah pedesaan pemerintah daerah perlu


memperhatikan sektor ekonomi andalan. Investasi di beberapa sektor ekonomi secara
otomatis akan menciptakan lapangan kerja. Jika semakin banyak orang yang terserap
ke dalam pasar tenaga kerja maka sudah pasti kemiskinan semakin berkurang. Oleh
karena itu pemerintah daerah harus membuat kebijakan yang tepat untuk mendorong
pemilik modal melakukan investasi.

Pemerintah daerah sebagai pembuat Undang-undang dan peraturan mampu


mendorong iklim investasi di daerah. Para investor selalu menginginkan kepastian
hukum. Salah satu kelemahan pemerintah daerah adalah pembuatan peraturan daerah
yang mendorong investasi. Kapasitas di daerah sangat rendah untuk itu. Oleh karena
itu pemerintah perlu kerjasama dengan pihak lain untuk peningkatan kapasitas aparat
pemerintah dan penataan kembali organisasi pemerintahan. Biasanya ada lembaga
donor yang mau memberikan bantuan keuangan dalam rangka meningkatkan
kapasitas lokal (Pegg 2003).

Salah satu sektor andalan yang membantu penghapusan kemiskinan adalah usaha
kecil menengah (UKM). Sektor ini sudah mendapat pengakuan dalam krisis ekonomi
yang lalu. Suatu masalah yang sering muncul dengan UKM adalah marketing produk
mereka. Pemerintah perlu membangun kerja sama dengan lembaga lain baik dalam
negeri maupun luar negeri dalam rangka mempromosikan produk industri kecil
menengah. Pengembangan industri kecil menengah akan turut mendukung
pembangunan ekonomi pada masa yang akan datang.

Pemerintah bisa juga bisa bekerja sama dengan organisasi sukarela nonpemerintah
untuk mengatasi masalah kemiskinan di pedesaan. Dalam beberapa hal organisasi
sukarela dan organisasi kemasyarakatan dapat mengatasi masalah yang muncul dalam
masyarakat namun masih ada batas bagi organisasi semacam ini bisa bekerja efektif.
Masalah yang dihadapi adalah tidaknya aturan legal yang mengikat dan mempunyai
kekuatan memaksa. Keputusan yang dibuat bisa saja dilanggar tanpa sanksi hukum
yang jelas. Tentu kondisi ini menyebabkan sulit dibuat suatu keputusan yang rasional
yang dapat mengikat setiap anggota masyarakat pedesaan.

Daerah yang jauh dari pusat kekuasaan sering tidak mendapat perhatian yang serius
atau pelayanan yang baik dari pemerintah daerah. Wilayah ini biasanya terisolasi
sebagai akibat dari belum memadainya infrastruktur transportasi. Dalam situasi seperti
ini muncul tokoh lokal yang berada di luar struktur pemerintah mengambil inisiatif
menggerakkan pembangunan di wilayah tersebut. Biasanya pemerintah berlapang
dada menerima inisiatif lokal namun ada juga yang mempersoalkan legalitas kegiatan
mereka. Hal ini bisa terjadi jika birokrasi lokal merasa tersaingi oleh kegiatan
tersebut. Jika hal ini terjadi tokoh lokal dalam posisi yang lebih lemah sehingga
kegiatan mereka dihentikan karena dianggap mereka menjalankan pemerintahan lokal
bayangan. Tentu ini akan mematikan inisiatif lokal dan akibatnya menimbulkan
ketergantungan yang tinggi terhadap pemerintah.

Dalam kasus tertentu pemerintah daerah perlu memberi ruang bagi partisipasi
masyarakat desa dalam pengentasan kemiskinan. Ada beberapa cara dimana
partisipasi dapat memperbaiki efisiensi dan kesetaraan penggunaan sumber sumber
yang ada. Masyarakat lokal dapat memperbaiki irigasi secara efisien memanfaatkan
pengetahuan lokal tentang kondisi tanah, aliran air, dan pembagian air. Pengetahuan
lokal sangat bermanfaat dalam mengatasi vandalisme, dan keselamatan kerja.

Kegagalan pembangunan di daerah pedesaan secara otomatis menaikkan tingkat


kemiskinan. Biasanya penduduk tidak akan tinggal diam, mereka akan mencari jalan
keluar dengan migrasi ke wilayah lain yang lebih makmur. Biasanya penduduk desa
akan datang ke kota yang terdekat mencari pekerjaan di sektor informal. Hal ini
karena rata rata tingkat pendidikan mereka rendah sehingga tidak mungkin ikut
berkompetisi di sektor yang memberikan upah yang tinggi. Perpindahan dari desa ke
kota bisa juga terjadi sebagai akibat konsentrasi kepemilikan tanah hanya di segelintir
orang.

Memang ada juga yang pindah ke kota karena daya tarik gemerlapnya kota, namun
jumlah mereka tidak terlalu banyak. Daya dorong dari pedesaan yang paling banyak
berperan dalam perpindahan penduduk dari desa ke kota. Pada umumnya tingkat
pengangguran di desa cukup tinggi. Jika mereka mendapat pekerjaan di desa tingkat
upah sangat rendah. Selain itu untuk berkembang di desa kesempatan tersebut sangat
terbatas. Banyak penduduk desa yang terpaksa meninggalkan daerah asal hanya untuk
bekerja di daerah perkotaan dengan harapan memperoleh upah yang lebih tinggi.
Namun dalam kenyataan kebanyakan dari mereka masuk ke sektor pekerjaan kasar
dengan upah rendah. Akhirnya mereka tinggal berdesak desak di wilayah kumuh. Ini
yang kemudian menciptakan daerah kumuh di daerah perkotaan.

D. Modal Sosial Dan Pengentasan Kemiskinan

Akhir akhir ini mulai dibahas tentang peran modal sosial dalam pengentasan
kemiskinan. Modal sosial dapat dipahami sebagai kepercayaan, norma, dan jaringan
yang memungkinkan anggota komunitas bertindak kolektif. Definisi modal sosial
kelihatan sederhana tapi perlu kritis melihatnya. Perlu diingat bahwa tidak semua
orang dalam sebuah komunitas mempunyai akses yang sama terhadap modal sosial
(Portes 1998). Ada orang yang pandai memanfaatkan modal sosial sehingga dapat
mendorong peningkatan kesejahteraan mereka. Namun ada juga yang tidak melihat
peluang dengan modal sosial sehingga mereka tidak bisa memanfaatkan bagi
kesejahteraan keluarga mereka.

Kita telah memahami bahwa modal sosial mempunyai hubungan positif dengan
kesejahteraan komunitas. Para ahli juga mendapati bahwa modal sosial memainkan
peran besar dalam menjelaskan perilaku individu pada aras mikro ekonomi. Namun
perlu diingat ada asumsi bahwa modal sosial dalam lingkungan yang sehat cenderung
menelorkan hasil yang positif bagi individu yang terlibat, namun sebaliknya modal
sosial rendah karena lingkungan yang kurang sehat akan menghasilkan individu yang
kurang berhasil. Hal ini dipakai untuk menjelaskan tentang jebakan kemiskinan yang
melilit anggota suatu keluarga secara turun temurun. Kemiskinan yang dialami
orangtua dapat menurun kepada generasi berikut karena mereka sudah terbiasa hidup
dalam lingkungan dengan modal sosial rendah. Memang pada mikro modal sosial
selalu dikaitkan dengan kesejahteraan individu (Iyer 2005).

Modal sosial sebagai suatu sistem jaringan antar individu jika dikoordinasi dengan
baik dapat mempercepat tumbuhnya lembaga lembaga kemasyarakatan dan
terbentuknya pasar. Hal ini menunjukan bahwa manajemen dan pemanfaatan jaringan
sangat penting dalam pembagian sumber yang tersedia. Jaringan dapat dimaknai
sebagai kepercayaan dan kelembagaan yang ada dalam masyarakat. Jaringan ini bisa
positif jika didasarkan pada keyakinan bersama namun bisa negatif misalnya dalam
hal kegiatan rent-seeking ekonomi yang sering dipraktekan oleh organisasi kriminal.
Jika hasil yang ingin dicapai jaringan tidak sesuai dengan tujuan masyarakat maka
pemerintah perlu campur tangan memperkuat kembali modal sosial. Misalnya,
pembentukan rukun warga (RW) atau rukun tangga (RT) seharusnya bisa merupakan
salah satu upaya mempercepat modal sosial di kalangan masyarakat.

Dalam masyarakat apa pun biasanya muncul banyak asosiasi atau perserikatan baik
atas dasar profesi maupun ikatan primordial yang lain. Kehadiran asosiasi ini selalu
mempunyai tujuan dan misi masing masing. Modal sosial biasanya diukur dari
keberadaan dan keterlibatan seseorang dalam asosiasi tertentu. Penelitian Putnam
menunjukan bahwa wilayah utara Itali lebih maju dari wilayah selatan karena lebih
banyak orang di utara terlibat dalam berbagai asosiasi daripada di selatan Itali. Hal ini
kemudian menyebabkan pertumbuhan ekonomi di wilayah utara lebih tinggi daripada
di selatan. Asosiasi sukarela di wilayah utara menjalin hubungan kerjasama yang
intens dengan pemerintah daerah setempat (Putnam 2000).
Modal sosial juga berperan besar dalam pembangunan wilayah beberapa negara
berkembang. Pengalaman Tanzania dan India menunjukan modal sosial di daerah
pedesaan berperan meningkatkan kesejahteraan rumah tangga. Relasi dalam rumah
tangga tidak terlalu berpengaruh tapi relasi, kepercayaan dan jaringan di aras desa
lebih berperan dalam peningkatan ekonomi rumah tangga. Kejatuhan pemerintahan di
Somalia menyebabkan hancurnya ekonomi rumah tangga. Contoh lain Boosaaso,
sebuah kota kecil di Afrika dapat keluar dari kesulitan ekonomi karena peran kepala
suku, dibantu masyarakat setempat bersama sama memperbaiki jaringan perdagangan
dan melakukan berbagai upaya meningkatkan pendapatan (Narayan 2000).

Contoh yang lain yaitu skema kredit kelompok yang diperkenalkan Muhamad Yunus,
penerima hadiah Nobel perdamaian 2006, melalui Grameen Bank di Bangladesh.
Program ini telah berhasil mengangkat ekonomi rumah tangga masyarakat miskin. Di
Gujarat India terjadi konflik antara masyarakat dengan aparat pemerintah soal hutan
yang bermasalah sehingga perekonomian lokal mengalami stagnasi. Pemerintah
mengatasi hal ini dengan memobilisasi komunitas lokal dengan melibatkan mereka
dalam manajemen hutan di sekitar tempat tinggal mereka. Hasilnya adalah konflik
mereda, produktivitas pertanian meningkat dan pendapatan rumah tangga juga ikut
meningkat. (p.1020)

Secara umum modal sosial yang paling berperan di negara berkembang adalah
kepercayaan (trust). Tentu ini bertolak belakang dengan pengalaman negara maju
yang lebih menekankan pada lembaga formal seperti hak intelektual (property
rights) dan kontrak. Memang pengalaman beberapa negara maju menunjukan
hubungan negatif antara tingkat kepercayaan dan keanggotaan kelompok terhadap
pertumbuhan sebagian besar negara Eropa (Knack 1999).