Anda di halaman 1dari 18

GOOD CORPORATE GOVERNANCE

“Perlindungan Hak Stakeholders, Karyawan , Pelanggan ,


Pemegang Saham dan Kreditur ”

Oleh Kelompok 11 :

I Putu Widhyadnyana Putra (116210458)

Ni Ketut Adhi Darma Wahyuni (116210422)

Kadek Putri Ari Lestari (116210420)

Ni Komang Tiyas Kris Epriyani (116210481)

Angel Ernamaria Luhukay (116210484)

UNIVERSITAS PENDIDIKAN NASIONAL

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

JURUSAN AKUNTANSI

2019
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN............................................................................................4

1.1 Latar Belakang.....................................................................................................4

1.2 Rumusan Masalah................................................................................................5

1.3 Tujuan .................................................................................................................5

BAB II PEMBAHASAN.............................................................................................6

2.1 Perlindungan Terhadap Hak Stakeholder............................................................6

2.2 Perlindungan Terhadap Hak Karyawan...............................................................9

2.3 Perlindungan Terhadap Hak Pelanggan.............................................................12

2.4 Perlindungan Terhadap Hak Pemegang Saham.................................................13

2.5 Perlindungan Terhadap Hak Kreditur.............................................................................15

BAB III PENUTUP...................................................................................................17

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................18
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa sehingga kami dapat menyelesaikan
penyusunan makalah dengan judul “Perlindungan Hak Stakeholders, Karyawan , Pelanggan ,
Pemegang Saham dan Kreditur ” menurut kami dibuat dalam bentuk maupun isinya yang sangat
sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun
pedoman bagi pembaca.

Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman
bagi para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga
kedepannya dapat lebih baik.
Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang kami miliki
sangat kurang. Oleh kerena itu kami harapkan kepada para pembaca untuk memberikan
masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

Denpasar, 14 Maret 2019

Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Pada umumnya Stakeholder pada perusahaan merupakan pihak yang dapat


mempengaruhi ataupun dipengaruhi oleh suatu tindakan atau perilaku dari bisnis secara
keseluruhan. Ketika stakeholder telah diteridentifikasi, perusahaan telah memiliki keuntungan
dasar di dlam kompetisi dan dapat meningkatkan pasar dan hasil yang diinginkan, tiap karyawan
memerlukan pengetahuan terhadap berbagai macam stakeholder, baik langsung maupun
tidak.Konsep stakeholder pertama kali digunakan dalam sebuah Memorandum Iinternal pada
tahun 1963 di Stanford Research Lembaga.
Corporate governanace merupakan salah satu elemen kunci dalam meningkatkan
efesiensi ekonomis, yang meliputi serangkaian hubungan antara manajemen perusahaan, dewan
komisaris, para pemegang saham dan stakeholders lainnya. Corporate governance juga
memberikan suatu struktur yang memfasilitasi penentuan sasaran-sasaran dari suatu perusahaan,
dan sebagai sarana untuk menentukan teknik monitoring kinerja (Ujiyanto, 2007). Perilaku
manipulasi oleh manajer yang berawal dari konflik kepentingan tersebut dapat diminimumkan
melalui suatu mekanisme monitoring yang bertujuan untuk menyelaraskan (alignment) berbagai
kepentingan tersebut.
Salah satu tujuan penting pendirian suatu perusahaan adalah untuk meningkatkan
kesejahteraan pemiliknya atau pemegang saham, atau memaksimalkan kekayaan pemegang
saham melalui peningkatkan nilai perusahaan. Peningkatan nilai perusahaan tersebut dapat
dicapai jika perusahaan mampu beroperasi dengan mencapai laba yang ditargetkan. Melalui laba
yang diperoleh tersebut perusahaan akan mampu memberikan dividen kepada pemegang saham,
meningkatkan pertumbuhan perusahaan dan mempertahankan kelangsungan hidupnya. Informasi
laba sebagai bagian dari laporan keuangan, sering menjadi target rekayasa melalui tindakan
oportunis manajemen untuk memaksimumkan kepuasannya, tetapi dapat merugikan pemegang
saham atau investor karena informasi laba yang disajikan dapat menyebabkan bias sehingga
menyebabkan keputusan investasi yang salah. Tindakan oportunis tersebut dilakukan dengan
cara memilih kebijakan akuntansi tertentu, sehingga laba perusahaan dapat diatur, dinaikkan atau
diturunkan sesuai dengan keinginannya. Perilaku manajemen untuk mengatur laba sesuai dengan
keinginannya dikenal dengan istilah manajemen laba (earnings management ).
Sistem corporate governance memberikan perlindungan efektif bagi pemegang saham
dan kreditor sehingga mereka yakin akan memperoleh return atas investasinya dengan benar.
Corporate governance juga membantu menciptakan lingkungan kondusif demi terciptanya
pertumbuhan yang efisien dan sustainable di sektor korporat. Corporate governance dapat
didefinisikan sebagai susunan aturan yang menentukan hubungan antara pemegang saham,
manajer, kreditor, pemerintah, karyawan, dan stakeholder internal dan eksternal yang lain sesuai
dengan hak dan tanggung jawabnya (FCGI, 2003).

1.2 RUMUSAN MASALAH

1.2.1 Bagaimana perlindungan Terhadap Hak Stakeholders?

1.2.2 Bagaimana perlindungan Terhadap Hak Karyawan?

1.2.3 Bagaimana perlindungan Terhadap Hak pelanggan?


1.2.4 Bagaimana perlindungan Terhadap Hak Pemegang Saham?

1.2.5 Bagaimana perlindungan Terhadap Hak Kreditur?

1.3 TUJUAN
1.3.1 Untuk Mengetahui Hak Perlindungan Terhadap Stakeholders , Karyawan , Pelanggan ,
Pemegang Saham dan Kreditur.

BAB II

PEMBAHASAN
2.1 PERLINDUNGAN HAK STAKEHOLDER

Shareholders dan Stakeholder merupakan dua kata bahasa inggris yang kelihatannya
sama, namun pengertiannya berbedashareholders merupakan para pemegang saham
sedangkan stakeholders adalah para pemangku kepentingan. Freeman (1984)
mendefinisikan stakeholder sebagai kelompok atau individu yang dapat mempengaruhi dan atau
dipengaruhi oleh suatu pencapaian tujuan tertentu. Biset (1998) juga mendefinisikan
bahwa stakeholder merupakan orang dengan suatu kepentingan atau perhatian pada suatu
permasalahan.

Jika dilakukan pemetaan, stakeholders dalam entitas perusahaan terbagi ke dalam 7


(tujuh) jenis, diantaranya: pelanggan, masyarakat, karyawan, pemegang saham, lingkungan,
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan pemerintah. Setiap stakeholders memiliki hasrat dan
kebutuhan masing-masing. Di antara hasrat stakeholders adalah sebagai berikut:

a. Pelanggan

 Berhak atas produk berkualitas

 Berhak mendapatkan harga yang layak

b. Masyarakat

 Berhak mendapatkan perlindungan dari kejahatan bisnis

 Mendapatkan dampak hubungan yang baik dari keberadaan perusahaan

c. Pekerja

 Mendapatkan jasminan keamanan dalam bekerja

 Mendapatkan jaminan kesalamatan

 Mendapatkan perlakuan yang adil dan tidak ada dikriminasi

d. Pemegang Saham

 Berhak mendapatkan harga saham yang layak dan keuntungan saham


e. Lingkungan

 Mendapat jaminan terhadap perlindungan alam

 Mendapatkan hak rehalibitasi

f. Pemerintah

 Mendapatkan laporan atas pemenuhan persyaratan hukum

g. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)

 Menjalankan fungsi control baik terhadap regulasi maupun komitmen perusahaan

Berdasarkan kekuatan, posisi penting, dan pengaruh stakeholder terhadap suatu


issu stakeholder dapat dikategorikan kedalam beberapa kelompok ODA (1995)
mengelompokkan stakeholder kedalam stakeholder primer, stakeholder sekunder,
dan stakeholder kunci. Adapun hak-hak stakeholder yaitu, Pemegang saham, Pelanggan dan
konsumen, Pesaing, Kreditur, Karyawan, Masyarakat dan Lingkungan, dan Pengembangan
Masyarakat.

Keanekaragaman tenaga kerja merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan


perbedaan tenaga kerja secara demografis taerutama yang berkaitan dengan umur, jenis kelamin,
ras, Negara, dan karakteristik fisik. Kondisi tenaga kerja yang beraneka ragam juga sering kali
memunculkan prasangka secara budaya dalam bentuk prejudice dan discrimination. Tantangan
utama pengelolaan tenaga kerja yang beraneka raga mini adalah bagaimana mencapai tujuan
organisasi dengan menciptakan kinerja yang tinggi dari semua karyawan melalui pemanfaatan
keterampilan dengan talenta karyawan yang beraneka ragam tersebut.

Beberapa program strategic yang dapat dilakukan organisasi bisnis untuk menghadapi
semakin meningkatnya keaneka ragaman tenaga kerja adalah mengembangkan budaya kinerja
dengan memperhatikan kondisi keaneka ragaman, mendukung implementasi program seperti
worklife balance dan komunikasi lintas budaya, dan merekrut tenaga kerja dengan
memperhatikan nilai keaneka ragaman untuk menarik dan mempertahankan tenaga kerja.

Peran pemerintah sebagai stakeholder dalam pengelolaan keaneka ragaman tenaga kerja
dalam organisasi bisnis adalah peran pemerintah dalam mengamankan kesempatan kerja sama
dimana pemerintah menghilangkan atau mengurangi diskriminasi di tempat kerja dan menjamin
kesempatan kerja, peran pemerintah dalam permasalahan tenaga kerja telah disebutkan
bahwasannya kebijakan pokok pemerintah di bidang ketenaga kerjaan yang utama adalah
perluasan dan pemerataan kesempatan kerja serta meningkatkan mutu dan perlindungan tenaga
kerja, equal employment opportunity maksudnya pemerintah eksekutif mempromosikan
perlakuan yang sama dari karyawan yaitu kesempatan kerja yang sama. Aturan aturan
pemerintah berlaku untuk kebanyakan bisnis dengan cara :

1. Diskriminasi berdasarkan ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, asal Negara, cacat fisik
atau mental, atau usia dilarang dalam semua kegiatan.

2. Kantor pemerintah harus membuat rencana aksiafirmatif, merinci bagaimana mereka


bekerja secara positif untuk mengatasi efek diskriminasi dalam tenaga kerja mereka.
Namun rencana dan tindakan alfirmatif hanya bersifat sementara dan fleksible yang
dirancang untuk memperbaiki diskriminasi masa lalu, dan tidak dapat mengakibatkan
diskriminasi terbalik terhadap kulit putih atau laki laki.

3. Wanita dan pria harus menerima upah yang sama untuk melakukan pekerjaan yang sama,
dan pengusaha tidak boleh melakukan diskriminasi atas dasar kehamilan.

Aksiafirmatif merupakan salah satu cara untuk mempromosikan kesempatan yang sama
dan menghilangkan diskriminasi dimasa lal. Sejak tahun 1960 kontraktor pemerintah dituntut
oleh pemerintah eksekutif presiden untuk mengadopsi tindakan afirmatif melalui penetapan
tujuan, tindakan, dan jadwal untuk mempromosikan lebih besar di tempat kerja. Tujuannya
adalah untuk mengurangi diskriminasi pekerjaan dengan mendorong perusahaan untuk berfikir
positif.

Peraturan pemerintah melarang pelecehan seksual dan rasial . dari dua jenis, kasus
pelecehan seksual lebih banyak terjadi, dan peraturan hukum untuk pelecehan itu telah dibuat.
Namun kasus pelecehan ras telah berkembang sehingga menimbulkan kekhawatiran bagi
majikan. Pelecehan seksual di tempat kerja terjadi ketika setiap karyawan wanita ataupun pria
mengalami perhatian seksual yang tidak diinginkan atau ketika ditempat kerjaan dan kondisi
bermusuhan atau mengancam dengan cara seksual.

2.2 PERLINDUNGAN HAK KARYAWAN


Setiap pekerja berhak mendapatkan perlindungan seutuhnya dalam menunaikan tugas.
Pengusaha wajib menyediakan fasilitas berkait pelaksanaan prinsip keselamatan dan kesehatan
kerja (K3) di tempat kerja. Menakertrans mengatakan, pelaksanaan K3 merupakan salah satu
aspek perlindungan tenaga kerja yang sangat penting karena akan memengaruhi ketenangan
bekerja, keselamatan, kesehatan, produktivitas, dan kesejahteraan tenaga kerja. "Semua pihak
harus menyadari bahwa penerapan K3 merupakan hak dasar perlindungan bagi tenaga kerja.
Setiap pekerja wajib mendapat perlindungan dari risiko kecelakaan kerja yang dapat terjadi,"
kata Muhaimin.

"Tujuan dasar dari penerapan K3 adalah mencegah atau mengurangi kecelakaan kerja,
penyakit akibat kerja, dan terjadinya kejadian berbahaya lain. Dikatakan Muhaimin, saat ini
dibutuhkannya upaya sosialiasi penerapan K3 harus melibatkan pekerja dan masyarakat umum
secara langsung. Hal itu bertujuan agar pekerja dan masyarakat umum sadar mengenai
pentingnya mengenakan peralatan pelindung diri, seperti helm, sepatu, kaus tangan, dan lain-
lain. "Oleh karena itu, saya mengajak pimpinan pemerintah daerah, para pengusaha, pekerja, dan
masyarakat melakukan upaya konkret pelaksanaan K3, serta meningkatkan kesadaran,
partisipasi, dan tanggung jawab menciptakan perilaku K3 sehingga K3 benar-benar menjadi
budaya bangsa Indonesia,” kata Muhaimin. Saat ini, pemerintah tengah melakukan revitalisasi
pengawasan ketenagakerjaan.

Upaya-upaya yang sedang dilakukan antara lain menitikberatkan pada peningkatan


kualitas dan kuantitas pengawas, penegakan hukum di bidang ketenagakerjaan, serta
merumuskan dan melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang pembinaan
pengawasan ketenagakerjaan "Revitalisasi meliputi penurunan angka kecelakaan kerja dan
penyakit akibat kerja, menurunkan pelanggaran norma ketenagakerjaan, mengurangi pekerja
anak, peningkatan efektivitas pelaksanaan pengawasan ketenagakerjaan, peningkatan
kepesertaan dan kualitas jaminan sosial tenaga kerja, serta peningkatan kualitas kondisi
lingkungan kerja,” kata Muhaimin.

Secara teoritis dikenal ada tiga jenis perlindungan kerja yaitu sebagai berikut : Zaeni
Asyhadie, Hukum Kerja (Hukum Ketenagakerjaan Bidang Hubungan Kerja), Jakarta, Raja
Grafindo Persada, 2007, hal 78. Ketiga jenis perlindungan di atas akan di uraikan sebagai berikut

1. Perlindungan Sosial atau Kesehatan Kerja


Kesehatan kerja sebagaimana telah dikemukakan di atas termasuk jenis perlindungan
sosial karena ketentuan-ketentuan mengenai kesehatan kerja ini berkaitan dengan sosial
kemasyarakatan, yaitu aturan-aturan yang bermaksud mengadakan pembatasan-pembatasan
terhadap kekuasaan pengusaha untuk memperlakukan pekerja/buruh ”semaunya” tanpa
memperhatikan norma-norma yang berlaku, dengan tidak memandang pekerja/buruh sebagai
mahluk Tuhan yang mempunyai hak asasi.

Karena sifatnya yang hendak mengadakan ”pembatasan” ketentuan-ketentuan


perlindungan sosial dalam UU No. 13 Tahun 2003, Bab X Pasal 68 dan seterusnya bersifat
”memaksa”, bukan mengatur. Akibat adanya sifat memaksa dalam ketentuan perlindungan sosial
UU No. 13 Tahun 2003 ini, pembentuk undang-undang memandang perlu untuk menjelaskan
bahwa ketentuan yang berkaitan dengan perlindungan sosial ini merupakan ”hukum umum”
(Publiek-rechtelijk) dengan sanksi pidana.

2. Perlindungan Teknis Atau Keselamatan Kerja

Keselamatan kerja termasuk dalam apa yang disebut perlindungan teknis, yaitu
perlindungan terhadap pekerja/buruh agar selamat dari bahaya yang dapat ditimbulkan oleh alat
kerja atau bahan yang dikerjakan.

Dasar pembicaraan masalah keselamatan kerja ini sampai sekarang adalah UU No 1


Tahun 1970 tentang keselamatan kerja. Namun, sebagian besar peraturan pelaksanaan undang-
undang ini belum ada sehingga beberapa peraturan warisan Hindia Belanda masih dijadikan
pedoman dalam pelaksanaan keselamatan kerja di perusahaan.

3. Perlindungan ekonomis atau Jaminan Sosial

Penyelenggara program jaminan sosial merupakan salah satu tangung jawab dan
kewajiban Negara untuk memberikan perlindungan sosial ekonomi kepada masyarakat. Sesuai
dengan kondisi kemampuan keuangan Negara, Indonesia seperti halnya berbagai Negara
berkembang lainnya, mengembangkan program jaminan sosial berdasarkan funded social
security, yaitu jaminan sosial yang didanai oleh peserta dan masih terbatas pada masyarakat
pekerja di sektor formal.
Jaminan sosial tenaga kerja yang diatur dalam Undang – Undang Nomor. 3 Tahun
1992 adalah : Lalu Husni, Pengantar hukum ketenaga kerjaan indonesia, ( Jakarta : PR Raja
Grafindo Persada, 2003 ), hal 122

Jenis – Jenis Jaminan Sosial tenaga kerja

1. Jaminan Kecelakaan Kerja

Kecelakaan Kerja maupun penyakit akibat kerja maerupakan resiko yang dihadapi oleh
tenaga kerja yang melakukan pekerjaan. Untuk menanggulangi hilangnya sebagian atau seluruh
penghasilannya yang diakibatkan oleh kematian atau cacat karena kecelakaan kerja baik fisik
maupun mental, maka perlu adanya jaminan kecelakaan kerja.

2. Jaminan Kematian

Tenaga kerja yang meninggal dunia bukan akibat kecelakaan kerja akan mengakibatkan
terputusnya penghasilan, dan sangat berpengaruh pada kehidupan sosial ekonomi bagi keluarga
yang ditinggalkan. Oleh karena itu, diperlukan jaminan kematian dalam upaya meringankan
beban keluarga baik dalam bentuk biaya pemakaman maupun santunan berupa uang.

3. Jaminan hari Tua

Hari tua dapat mengkibatkan terputusnya upah karena tidak lagi mapu bekerja. Akibat
terputusnya upah tersebut dapat menimbulkan kerisauan bagi tenaga kerja dan mempengaruhi
ketenaga kerjaan sewaktu masih bekerja, teruma bagi mereka yang penghasilannya rendah.
Jaminan hari tua memberikan kepastian penerimaan yang dibayarkan sekaligus dan atau berkala
pada saat tenaga kerja mencapai usia 55 ( lima puluh lima ) tahun atau memnuhi persyaratan
tersebut.

4. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan


Pemeliharaan kesehatan dimaksudkan unutk meningkatkan produktivitas tenaga kerja
sehingga dapat melaksankan rugas sebaik-baiknya dan merupakan upaya kesehatan dibidang
penyembuhan ( kuratif ).

2.3 PERLINDUNGAN TERHADAP PELANGGAN

Perlindungan pelanggan adalah perangkat hukum yang diciptakan untuk melindungi


dan terpenuhinya hak konsumen. Sebagai contoh, para penjual diwajibkan menunjukkan tanda
harga sebagai tanda pemberitahuan kepada konsumen.UU Perlindungan Konsumen Nomor 8
Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen Republik Indonesia menjelaskan bahwa hak
konsumen diantaranya adalah hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam
mengonsumsi barang dan atau jasa; hak untuk memilih barang dan atau jasa serta mendapatkan
barang dan atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan;
hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif; hak untuk
mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan atau penggantian, apabila barang dan atau jasa yang
diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya; dan sebagainya.

Di Indonesia, dasar hukum yang menjadikan seorang konsumen dapat mengajukan


perlindungan adalah:

 Undang Undang Dasar 1945 Pasal 5 ayat (1), Pasal 21 ayat (1), Pasal 27 , dan Pasal 33.

 Undang Undang No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen (Lembaran Negara
Republik Indonesia tahun 1999 No. 42 Tambahan lembaran Negara Republik Indonesia
No. 3821

 Undang Undang No. 5 tahun 1999 Tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan
Usaha Usaha Tidak Sehat.

 Undang Undang No. 30 Tahun 1999 Tentang Arbritase dan Alternatif Penyelesian
Sengketa

 Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2001 tentang Pembinaan Pengawasan dan


Penyelenggaraan Perlindungan Konsumen
 Surat Edaran Dirjen Perdagangan Dalam Negeri No. 235/DJPDN/VII/2001 Tentang
Penangan pengaduan konsumen yang ditujukan kepada Seluruh dinas Indag
Prop/Kab/Kota

 Surat Edaran Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri No. 795 /DJPDN/SE/12/2005
tentang Pedoman Pelayanan Pengaduan Konsumen

2.4 PERLINDUNGAN TERHADAP HAK PEMEGANG SAHAM

1. Perlindungan dari Peundang-Undangan


Secara mendasar bahwa sejak awal perusahaan akan melakukan aktivitas di pasar modal,
sudah disiapkan seperangkat peraturan yang maksudnya sebagai rangkaian tindakan preventif,
agar emiten adalah benar-benar emiten yang dapat dipertanggung jawabkan dengan itikad baik
akan membagi power dan intensisnya kepada masyarakat. Peraturan yang mengatur tentang
syarat materil maupun formal, prosedur dan pelaksanaan emisi saham tersebut merupakan upaya
awal kepada pemegang saham publik, perlindungan tahap berikutnya ada dan antisipasi oleh
peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh bappepam sebagai institusi yang berwenang untuk
mengawasi pasar modal di Indonesia. Bapepam adalah otoritas dari pasar modal yang berwenang
untuk mengawasi jalannya aktivitas di pasar modal.Karena seperti dijelaskan diatas bahwa
kepentingan pemegang saham harus dilindungi untuk menciptakan citra pasar modal yang baik
agar dapat lebih menarik investor untuk menanamkan modalnya di pasar modal. Dengan kata
lain bahwa sebagian dari sistem perlindungan hukum bagi pemegang saham publik berada di
tangan Bapepam.Perlindungan terhadap pemegang saham dimuat dalam ketentuan perundang-
undangan dalam pasar modal, seperti UU pasar modal dan pperlindungan terhadap pemegang
saham yang dilakukan Bapepam dapat dilihat dari UU pasar modal pasal 82 ayat (2) peraturan no
IX.E.1

2. Perlindungan dari Penerapan Good Corporate Governance


Penerapan GCG dalam pengelolaan perusahaan dapat memberikan perlindungan terhadap
pemegang saham karena dalam GCG terdapat prinsip-prinsip yang dapat melindungi
kepentingan perusahaan, pemegang saham, manajemen, dan investor sertapihak-pihak yang
terkait dengan perusahaan.Ide dasar dari GCG adalah memisahkan fungsi dan
kepentingan diantara para pihak dalam suatu perusahaan, seperti perusahaan yang menyediakan
modal atau pemegang saham, pengawas dan pelaksana sehari-hari usaha perusahaan dan
masyarakat luas. Dan GCG juga dijadikan sebagai suatu aturan atau standar yang mengatur
perilaku pemilik perusahaan,Direksi, Manajer, dengan merinci tugas dan wewenang serta bentuk
pertanggung jawaban kepada pemegang saham.
Melindungi kepentingan pemegang saham minoritas yang beresiko dirugikan oleh
kekuasaan pemegang saham mayoritas. Ini beberapa pasal yang dapat berusaha mengatur
kepentingan pemegang saham baik mayoritas dan minoritas:

A. Tindakan Derivatif
Ketentuan ini mengatur bahwa Pemegang saham dapat mengambil alih untuk mewakili
urusan perseroan demi kepentingan perseroan, karena ia menganggap Direksi dan atau Komisaris
telah lalai dalam kewajibannya terhadap perseroan.
1. Pemegang saham dapat melakukan tindakan-tindakan atau bertindak selaku wakil
perseoran dalam memperjuangkan kepentingan perseroan terhadap tindakan perseroan
yang merugikan, sebagai akibat kesalahan atau kelalaian yang dilakukan oleh anggota
Direksi dan atau pun oleh komisaris (lihat ps.85 (3) jo. ps.98 (2) UUPT).
2. Melalui ijin dari Ketua Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya meliputi kedudukan
perseroan, pemegang saham dapat melakukan sendiri pemanggilan RUPS (baik RUPS
tahunan maupun RUPS lainnya) apabila direksi ataupun komisaris tidak
menyelenggarakan RUPS atau tidak melakukan pemanggilan RUPS (lihat ps.67
UUPT).

B. Hak Pemegang Saham Minoritas


Pada dasarnya ketentuan-ketentuan di bawah ini terutama ditujukan untuk melindungi
kepentingan pemegang saham minoritas dari kekuasaan pemegang saham mayoritas.
1. Hak Menggugat
Setiap pemegang saham berhak mengajukan gugatan terhadap perseroan melalui
Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya meliputi kedudukan perseroan, bila tindakan
perseroan merugikan kepentingannya (ps. 54 UUPT)
2. Hak Atas Akses Informasi Perusahaan
Pemegang saham dapat melakukan pemeriksaan terhadap perseroan, permintaan data atau
keterangan dilakukan apabila ada dugaan bahwa perseroan dan atau anggota direksi atau
komisaris melakukan perbuatan melawan hukum yang merugikan pemegang saham atau pihak
ketiga (lihat ps.110 UUPT).
3. Hak Atas Jalannya Perseroan
Pemegang saham dapat mengajukan permohonan kepada Pengadilan Negeri untuk
membubarkan perseroan (lihat ps.117 UUPT).
4. Hak Perlakuan Wajar
Pemegang saham berhak meminta kepada perseroan agar sahamnya dibeli dengan harga
yang wajar apabila yang bersangkutan tidak menyetujui tindakan perseroan yang merugikan
pemegang saham atau perseroan, berupa:
1. perubahan anggaran dasar perseroan;
2. penjualan, penjaminan, pertukaran sebagian besar atau seluruh kekayaan perseroan; atau
3. penggabungan, peleburan atau pengambilalihan perseroan.
2.5 PERLINDUNGAN HAK KREDITUR

Perlindungan hak-hak Kreditur antara lain :

a. Hak untuk mendapatkan pembayaran pokok utang dan bunga secara tepat jumlah dan
tepat waktu.

b. Hak untuk mendapatkan pernyataan atau informasi berupa laporan keuangan (neraca dan
laporan rugi laba) tahun buku terakhir, maupun laporan keuangan interim untuk tahun
buku yang sedang berjalan, yang diserahkan kepada Kreditur dalam bentuk yang lengkap
dan telah dibuat berdasarkan prinsip dan praktek akuntansi secara umum diterima di
Indonesia.

c. Hak untuk memperoleh status kolektabilitas pinjaman Perusahaan pada kreditur lain
(apabila ada) menurut pemeriksaan Bank Indonesia (BI Checking).

d. Hak untuk memperoleh pemberitahuan (sepanjang terdapat suatu utang atas Perusahaan
terhadap kreditur) sehubungan dengan adanya perubahan atau informasi sehubungan
dengan adanya cidera janji, perubahan atas persetujuan dan atau izin dari debitur,
tindakan kepatuhan dan atau perubahan yang menimbulkan dampak yang merugikan
secara material.

e. Hak untuk mendapatkan jaminan dan pembebasan Kreditur serta afiliasinya dari segala
tindakan hukum, akibat tindakan hukum, tuntutan, kerugian, dan biaya yang timbul
sehubungan dengan hal tersebut, sehubungan dengan: i. ketidakakuratan pernyataan dan
jaminan debitur yang dinyatakan dalam Perjanjian Kredit. ii. pelanggaran janji atau
kewajiban apapun dari Perusahaan yang tertuang dalam Perjanjian Kredit atau dokumen
lain yang berkaitan dengannya.

f. Hak untuk melakukan pembukuan bukti atas sejumlah utang kepada Perusahaan,
berdasarkan Perjanjian Kredit yang bersifat final dan mengikat.

g. Hak untuk menolak terlebih dahulu, yaitu hak Kreditur untuk Menolak Terlebih Dahulu
(first right of refusal) yang berkaitan dengan tindakan sebagai berikut : i. setiap rencana
di masa yang akan dating dari debitur untuk mengadakan transaksi lindung nilai apapun
sehubungan dengan fasilitas dalam perjanjian ii. setiap rencana di masa yang akan datang
dari debitur untuk melakukan pembiayaan kembali (refinance) atas fasilitas yang sedang
berjalan sebelum tanggal jatuh tempo.

h. Hak untuk meyamakan, yaitu hak Kreditur untuk mengajukan penawaran dengan jumlah
dana atau biaya dan syarat yang sama dengan Kreditur Lain (pihak ketiga).

i. Hak pengalihan atas klaim asuransi, yaitu Perusahaan dapat mengalihkan seluruh hak,
kepemilikan, dan kepentingan yang timbul dari atau sehubungan dengan Klaim Asuransi
kepada Kreditur sebagai jaminan atas pembayaran dan penyelesaian kewajiban
Perusahaan.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Shareholders dan Stakeholder merupakan dua kata bahasa inggris yang kelihatannya
sama, namun pengertiannya berbedashareholders merupakan para pemegang saham
sedangkan stakeholders adalah para pemangku kepentingan. Freeman (1984)
mendefinisikan stakeholder sebagai kelompok atau individu yang dapat mempengaruhi dan atau
dipengaruhi oleh suatu pencapaian tujuan tertentu. Biset (1998) juga mendefinisikan
bahwa stakeholder merupakan orang dengan suatu kepentingan atau perhatian pada suatu
permasalahan.
DAFTAR PUSTAKA

http://eprints.ums.ac.id/18221/2/03._BAB_I.pdf

https://www.facebook.com/notes/universitas-borobudur-jakarta/undang-undang-jaminan-
dan-jenis-perlindungan-tenaga-kerja/546860785327961/

https://dontrasmianto.wordpress.com/2010/04/01/perlindungan-hukum-bagi-karyawan/

https://id.wikipedia.org/wiki/Perlindungan_konsumen

http://yuliansahri.blogspot.com/2017/02/hak-para-stakeholder-dan-mengelola.html

http://fekool.blogspot.com/2016/05/corporate-governance-perlindungan.html

http://www.elnusa.co.id/idn/wp-content/uploads/2018/02/Perlindungan-Hak-Kreditur.pdf