Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM VII

GERAK PADA TUMBUHAN

Disusun Oleh
Robiatun
14222155

Dosen Pembimbing :
Dini Afriansyah, M.Pd

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN FATAH
PALEMBANG
2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Gerak merupakan salah satu ciri makhluk hidup yang bertujuan untuk melaksanakan
aktivitas hidupnya. Gerak yang terjadi pada tumbuhan berbeda dengan gerak yang dilakukan
hewan dan manusia. Gerak pada tumbuhan bersifat pasif. Selain itu gerak pada tumbuhan
merupakan respon terhadap rangsangan dari lingkungan dan akibat adanya
pertumbuhan(Kadaryanto, 2000).
Gerak pada tumbuhan biasanya sangat lambat sehingga tidak terlihat oleh mata. Gerak pada
tumbuhan tidak seperti pada hewan. Hewan dapat berpindah tempat dari suatu tempat ke tempat
lainnya. Sedangkan tumbuhan tetap berada ditempat tumbuhan. Meskipun tidak memiliki system
saraf seperti hewan, tumbuhan memiliki kemampuan menjawab atau menanggapi rangsangan
walaupun lambat. Kemampuan menanggapi rangsangan atau memberi reaksi terhadap
rangsangan disebut iritabilitas. Jadi, gerak pada tumbuhan biasanya terjadi karena rangsangan
dari luar. Proses tumbuh dari tumbuhan juga merupakan gerak pada tumbuhan (Ferdinand,
2006).
Arah gerak pada tumbuhan ada yang ditentukan oleh rangsangan (menuju atau menjauhi
sumber rangsang) dan ada yang tidak ditentukan oleh rangsangan. Umumnya gerak pada
tumbuhan berdasarkan penyebabnyadapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu higroskopik
dipengaruhi oleh kadar air, gerak elsionom dipengaruhi oleh rangsangan luar sedangkan gerak
endonom/otonom disebabkan oleh rangsangan yang diduga berasal dari dalam tumbuhan itu
sendiri (Ferdinand, 2003).
Pergerakan Tanaman terjadi karena adanya proses pertumbuhan dan adanya kepekaan
terhadap rangsang atau iritabilitas yang dimiliki oleh tumbuhan baik itu mendekati atau menjauhi
arah rangsangan. Pergerakan dipengaruhi oleh faktor rangsangan luar seperti cahaya, sentuhan
dan gravitasi bumi serta dalam bagian tumbuhan sendiri seperti pergerakan sitoplasma sel.
Pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh panjang gelombang, durasi, intensitas, dan arah
datangnya sinar cahaya. Secara fisiologis, cahaya mempengaruhi baik langsung maupun tidak
langsung bagi tubuh tanaman. Pengaruhnya pada metabolisme secara langsung melalui
fotosintesis, sedangkan pengaruh tidak langsungnya melalui pertumbuhan dan perkembangan
tanaman yang merupakan respon metabolik dan lebih kompleks (Uya, 2010).

B. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum Fisiologi Tumbuhan yaitu untuk mengetahui arah tumbuh
tanaman yang dipengaruhi oleh cahaya matahari, untuk mengetahui arah tumbuh tanaman yang
dipengaruhi oleh gravitasi (daya tarik bumi), untuk mengetahui arah tumbuh tanaman yang
dipengaruhi oleh air.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Gerak Pada Tumbuhan


Berdasarkan sumber rangsangan gerak, gerak pada tumbuhan dibedakan atas tiga macam,
yaitu gerak endonom, gerak higroskopik, dan gerak esinom. Gerak endonom merupakan gerak
spontan dari tumbuhan yang tidak disebabkan adanya rangsangan dari luar, misalnya gerak aliran
sitoplasma pada tanaman air (hydrilla verticillata). Gerak higroskopik merupakan gerak pada
tumbuhan yang terjadi akibat adanya perubahan kadar air pada tumbuhan, misalnya gerak
pecahnya kulit buah polong-polongan hingga bijinya terlempar keluar. Gerak esinom merupakan
gerak pada tumbuhan yang disebabkan karena adanya rangsangan dari luar (Furqonita, 2006).
Gerak pada tumbuhan terjadi karena proses tumbuh atau karena rangsangan dari luar.
Walaupun tidak memiliki alat indra, tumbuhan peka terhadap lingkungan sekitarnya. Tumbuhan
memberi tanggapan terhadap rangsangan yang berasal dari cahaya, gaya tarik bumi, dan air. Ada
pula tumbuhan yang peka terhadap sentuhan dan zat kimia. Tanggapan tumbuhan terhadap
rangsangan-rangsangan tersebut di atas disebut daya iritabilitas atau daya peka terhadap
rangsangan. Ada tiga macam gerak pada tumbuhan, yaitu gerak tropisme, gerak nasti, dan gerak
taksis (Uya, 2010).
Gerak merupakan salah satu ciri yang dimiliki oleh makhluk hidup. Gerak dapat berupa
perpindahan tempat atau perubahan bentuk tubuh. Walaupun tumbuhan tidak memiliki sistem
syaraf, namun mempunyai bentuk tubuh yang tersususn atas sel-sel yang saling berdekatan dan
berhubungan. Dinding sel tumbuhan umumnya mengalami penebalan, tetapi ada bagian tertentu
dari sel itu tidak menebal, sehingga seolah-olah ada celah yang disebut noktah. Melalui celah
inilah plasma sel yang satu dengan sel tetangganya yang dihubungkan oleh benang-benang
plasma disebut plasmodesmata (Kimball, 1992).
Tumbuhan merupakan salah satu makhluk hidup yang mempunyai ciri yaitu pertumbuhan
dan bergerak. Banyak spesies yang telah dapat diketahui bahwa tanaman dapat mengatur
pemunculan daunnya secara aktif menuju arah datangnya cahaya. Fenomena inilah yang disebut
dengan fototropisme (Kimball, 1992).
Gerak merupakan salah satu ciri yang dimiliki makhluk hidup .Gerak dapat berupa
perpindahan tempat atau perubahan bentuk tubuh. Gerak pada tumbuhan disebabkan karena
rangsangan yang diterima oleh plasmodemata(Kurnadi, 1988). Gerak pada tumbuhan dibedakan
menjadi 2 yaitu :
1. Gerak Endonom
Gerak Endonom merupakan gerak yang tidak dipengaruhi oleh faktor luar. Contoh:
a. Gerakan protoplasma pada sel daun hidrilla.
b. Gerak kromosom saat membelah.
c. Gerak merekahnya kulit polong polongan yang kering.
d. Gerak membukanya gigi peristom.
2. Gerak Etionom
Gerak ini terjadi karena adanya rangsangan dari luar seperti suhu, cahaya, gravitasi, sentuhan
maupun tiupan angin. Gerak Etionom dibagi menjadi 3 yaitu:
a. Gerak Tropisme
Tropisme merupakan gerak tumbuhan yang berupa pelengkungan organ tumbuhan menjauhi atau
mendekati rangsangan. Gerak ini dibagi menjadi 3 yaitu, Fototropisme (rangsangan cahaya)
contoh: membengkoknya tumbuhan ke arah sinar matahari. Geotropisme (rangsangan gravitasi
bumi) contoh: Gerak akar tumbuhan. Tigmotropisme (rangsangan sentuhan) contoh: gerak
membelit ujung batang.
b. Gerak Nasti
Merupakan gerak yang dipengaruhi rangsangan dari luar tetapi arah gerak tidak dipengaruhi oleh
arah rangsangan. Gerak ini dibagi menjadi 4 yaitu:
1) Tigmonasti (rangsangan sentuhan) contoh: gerak daun putri malu.
2) Niktinasti (gerak tidur tumbuhan) contoh: merunduknya daun famili Leguminosae.
3) Fotonasti (rangsangan cahaya) contoh: mekarnya bunga pukul empat.
4) Nasti kompleks (rangsang cahaya dan unsur kimia) contoh: membuka menutupnya stomata.
c. Gerak Taksis
1) Gerak yang terjadi karena rangsangan dari luar dan arah gerak ditentukan oleh arah rangsangan.
Gerak ini dibedakan menjadi 2 yaitu: Kemotaksis (rangsanga zat kimia) contoh: gerak lumut saat
terjadi fertilisasi.
2) Fototaksis (rangsangan cahaya) contoh: euglena bergerak menuju cahaya.
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat Praktikum


Adapun Pelaksanaan Praktikum Fisiologi Tumbuhan tentang Gerak Pada Tumbuhan ini
dilakukan pada hari Selasa, tanggal 06 juni 2017, pukul 13.20-15.00 WIB. Bertempat di
Laboratorium Fisika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Raden
Fatah Palembang.

B. Alat dan Bahan


1. Alat Praktikum
Adapun alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah polibag, dan media tanah.
2. Bahan Praktikum
Adapun bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah biji Vigna radiata.
C. Cara kerja
Adapun cara kerja yang di lakukan pada praktikum kali ini adalah sebagai berikut:
1. Fototropisme
a. Sediakan aqua cup pertama, lubangi bagian bawah aqua cup (sebanyak 5 lubang dengan ukuran
0,5 mm), label dengan nama
b. Isi aqua cup sebanyak 4/5 bagian dengan media tanah yang sudah bersih.
c. Rendam benih selama 15 menit sebelum penanaman kemudian tanamlah dua benih kacang hijau
pada lubang tanam yang sama ditengah-tengah pot dengan kedalaman 2 cm. Siramlah sampai
jenuh.
d. Lubangi kotak karton sebesar uang logam pada satu sisinya.
e. Simpan aqua cup (yang telah ditanami) kedalam kotak karton berlubang. Kemudian letakkan
pada posisi yang diatur oleh Co-Ass.
f. Amati pertumbuhan kacang hijau setiap hari sampai satu minggu (7hari), catat dan jelaskan
perilaku tanaman tersebut.
g. Gambarkan keaadaan pertumbuhan setiap harinya.
2. Geotropisme (rangsangan gaya tarik bumi)
a. Sediakan aqua cup pertama, lubangi bagian bawah aqua cup (sebanyak 5 lubang dengan ukuran
0,5 mm), label dengan nama.
b. Isi aqua cup sebanyak 4/5 bagian dengan media tanah yang sudah bersih.
c. Rendam benih selama 15 menit sebelum penanaman kemudian tanamlah dua benih kacang hijau
pada lubang tanam yang sama ditengah-tengah pot dengan kedalaman 2 cm. Siramlah sampai
jenuh.
d. Biarkan tumbuh 2 hari. Pada hari ketiga balikkan aqua cup dan letakkan dengan alas plastic
untuk melihat pengaruh gravitasi bumi terhadap akar.
e. Amati apa yang terjadi hingga hari ketujuh.
f. Gambarkan keadaan pertumbuhan yang diamati
3. Hydrotropisme
a. Sediakan aqua cup pertama, lubangi bagian bawah aqua cup (sebanyak 5 lubang dengan ukuran
0,5 mm), label dengan nama.
b. Isi aqua cup sebanyak 4/5 bagian dengan media tanah yang sudah bersih.
c. Rendam benih selama 15 menit sebelum penanaman kemudian tanamlah dua benih kacang hijau
pada lubang tanam yang sama ditengah-tengah pot dengan kedalaman 2 cm. Usahakan
menanamnya pada pinggir.
d. Siramlah pot pada sisi yang bersebelahan pada benih. Penyiraman sedikit demi sedikit sehingga
hanya setengah media tanam yang basah dengan air.
e. Penyiraman dengan metode yang sama dilakukan setiap hari.
f. Amati apa yang terjadi hingga hari ketujuh
g. Gambarkan keadaan pertumbuhan yang diamati.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
Adapun hasil dari praktikum kali ini yaitu
Tabel 1. Gerak Tumbuhan Pada Sampel Kontrol “A”
No Hari ke Sampel Jenis Arah Panjang Warna Jumlah
gerak gerak tumbuhan daun daun
1 1 A Tropisme Menuju - - -
2 3 (kontrol) cahaya 4 cm Hijau 7
matahari muda
3 5 10 cm Hijau 13
tua
4 7 13 cm Mati Mati

Tabel 2. Gerak Tumbuhan Pada Sampel B


No Hari Sampel Jenis gerak Arah Panjang Warna Jumlah
ke gerak tumbuhan daun daun
1 1 B (tertutup Geotropisme Menuju - - -
2 3 semua gaya 4 cm Hijau -
dengan gravitasi muda
alumunium bumi
3 5 15 cm Hijau 2
foil)
kekuningan

4 7 18 cm Kuning Mati
pucat /
(mati)

Tabel 3. Gerak tumbuhan pada sampel C


No Hari Sampel Jenis gerak Arah Panjang Warna Jumlah
ke gerak tumbuhan daun daun

1 1 C (Lubang Hdyrotropisme Menuju - - -

2 3 di sisi rangsangan 6 cm Hijau -


botol air muda
3 5 dengan 12 cm Hijau 6
alumunium kekuningan
foil)
4 7 15 cm Kuning Mati
pucat /
(mati)

Tabel 4. Gerak Tumbuhan Pada Sampel D


No Hari Sampel Jenis gerak Arah Panjang Warna Jumlah
ke gerak tumbuhan daun daun

1 1 D (lubang Fototropisme Menuju - - -

2 3 pada cahaya 7 cm Hijau 2


pinggiran matahari muda
atas botol
3 5 17 cm Hijau 6
dengan
kekuningan
alumunium
4 7 foil) 20 cm Kuning Mati
pucat /
(mati)

Keterangan :
Hasil pengamatan sampel pada hari ke-2, ke-4 dan ke-6 sama pada sampel dihari sebelumnya
yaitu hari ke-1, ke-3 dan ke-7.
A. Pembahasan
Gerak merupakan salah satu ciri yang dimiliki oleh makhluk hidup. Gerak dapat berupa
perpindahan tempat atau perubahan bentuk tubuh. Walaupun tumbuhan tidak memiliki sistem
syaraf, namun mempunyai bentuk tubuh yang tersususn atas sel-sel yang saling berdekatan dan
berhubungan. Dinding sel tumbuhan umumnya mengalami penebalan, tetapi ada bagian tertentu
dari sel itu tidak menebal, sehingga seolah-olah ada celah yang disebut noktah. Melalui celah
inilah plasma sel yang satu dengan sel tetangganya yang dihubungkan oleh benang-benang
plasma disebut plasmodesmata (Kimball, 1992).
Pada praktikum kali ini akan membuktikan adanya gerak yang dilakukan tumbuhan yang
dapat dipengaruhi oleh cahaya, gravitasi dan air. Bahan yang digunakan berupa biji kacang hijau
(Vigna radiata) yang telah direndam selama 24 jam. Pengamatan terhadap gerak tumbuhan
dilakukan selama 7 hari. Perlakuan yang diberikan adalah dengan menutup semua botol dengan
alumunium foil tanpa lubang, lalu lubang pada sisi botol dan lubang pada pinggiran atas botol
dengan cara merobek sedikit alumunium foil. Untuk dapat melihat perbandingannya maka
diperlukan suatu sampel kontrol.
Sampel kontrol (A) adalah sampel yang digunakan sebagai pembanding. Sampel ini tidak
diberi perlakuan apapun. Pada sampel kontrol hari ke-1 dan ke-2 belum terlihat adanya daun atau
bisa dikatakan bahwa biji kacang hijau (Vigna radiata) tersebut belum berkecambah. Lalu pada
hari ke-3 dan ke-4 sudah mulai berkecambah dengan panjang 4 cm, warna daun hijau muda dan
daun yang berjumlah 7 helai. Pada hari ke-5 dan ke-6 panjang kecambah bertambah menjadi 10
cm, daun berwarna hijau muda dan berjumlah 13 helai. Pada hari ke-7 panjang tumbuhan
mencapai 13 cm namun tumbuhan tersebut mati. Jenis gerakan yang dilakukan pada sampel
kontrol yaitu tropisme positif karena arahnya menuju ke sumber rangsangan atau stimulus yaitu
berupa cahaya matahari dan air sehingga batang akan tumbuh ke arah atas menuji cahaya
matahari dan akar menuju ke arah air
Sampel B adalah sampel kedua yang diterapkan perlakuan pertama yaitu dengan menutup
semua botol perlakuan menggunakan alumunium foil tanpa adanya celah atau lubang yang
memungkinkan cahaya masuk. Setiap harinya akan dibuka selama beberapa saat untuk disiram
dengan air. Pada hari ke-1 dan ke-2 biji kacang hijau (Vigna radiata) belum berkecambah atau
belum tumbuh. Pada hari ke-3 dan ke-4 mulai berkecambah dengan panjang 4 cm, daun
berwarna hijau muda dengan jumlah satu helai. Lalu pada hari ke-5 dan ke-6 panjangnya
mencapai 15 cm, daun berubah warna menjadi hijau kekuningan dan jumlah daun sebanyak 2
helai. Pada hari ke-7 panjangnya mencapai 18 cm. Daun terlihat berwarna kekuningan sehingga
terlihat seperti tumbuhan yang akan mati. Jenis gerakan yang dilakukan tumbuhan ini adalah
geotropisme positif karena akarnya tumbuh ke arah bawah atau tanah sehingga dapat dikatakan
bahwa arah tumbuh akar menuju gaya gravitasi bumi.
Menurut Santosa (1990), geotropisme adalah gerak bagian tumbuhan karena pengaruh
gravitasi bumi. Jika arah geraknya menuju rangsang disebut geotropisme positif, misalnya
gerakan akar menuju tanah. Akar selalu tumbuh ke arah bawah akibat rangsangan gaya tarik
bumi (gaya gravitasi).
Sampe ketiga yaitu sampel C, botol perlakuan pada sampel ini akan ditutup dengan
menggunakan alumunium foil seperti sampel B. Namun disisi samping botol atau pada dinding
botol tersebut diberi lubang dengan cara sedikit merobek alumunium foil. Sampel ini pun akan
disiram setiap harinya. Pada hari ke-1 dan ke-2 biji kacang hijau (Vigna radiata) belum
berkecambah atau belum tumbuh. Pada hari ke-3 dan ke-4 mulai berkecambah dengan panjang 6
cm, daun berwarna hijau muda dengan jumlah tiga helai. Lalu pada hari ke-5 dan ke-6
panjangnya mencapai 12 cm, daun berubah warna menjadi hijau kekuningan dan jumlah daun
sebanyak 6 helai. Pada hari ke-7 panjangnya mencapai 15 cm dan daun berwarna kuning pucat
yang akhirnya mengalami kematian. Jenis gerakan yang dilakukan oleh tumbuhan pada sampel C
adalah hydrotropisme positif karena akarnya menuju ke arah air.
Hal ini senada dengan Dwijoseputro (1988), hidrotropisme adalah gerak bagian tumbuhan
karena rangsangan air. Jika gerakan itu mendekati air maka disebut hidrotropisme positif.
Misalnya, akar tanaman tumbuh bergerak menuju tempat yang banyak airnya di tanah. Jika
tanaman tumbuh menjauhi air disebut hidrotropisme negatif. Misalnya gerak pucuk batang
tumbuhan yang tumbuh ke atas air. Respon tumbuhan tanaman ditentukan oleh stimulus
gradient atau konsentrasi air (kelembaban). Kelembaban menyebabkan membeloknya akar ke
daerah yang mengandung air dengan konsentrasi yang lebih besar.
Dan sampel terakhir yaitu sampel D dengan lubang pada pinggiran atas botol perlakuan.
Pada hari ke-1 dan ke-2 biji kacang hijau (Vigna radiata) belum berkecambah atau belum
tumbuh. Pada hari ke-3 dan ke-4 mulai berkecambah dengan panjang 7 cm, daun berwarna hijau
muda berjumlah dua helai. Lalu pada hari ke-5 dan ke-6 panjangnya mencapai 17 cm, daun
berubah warna menjadi hijau kekuningan dan jumlah daun sebanyak 6 helai. Pada hari ke-7
panjangnya mencapai 20 cm, daun berubah warna menjadi kuning pucat dan akhirnya mati. Jenis
gerakan tumbuhan pada sampel ini adalah fototropisme positif karena arah batang menuju atau
mendekati stimulus berupa cahaya.
Fototropisme (rangsangan cahaya) sebagai contoh membengkoknya tumbuhan ke arah
sinar matahari gerak bagian tumbuhan karena rangsangan cahaya. Pemahaman fototropisme saat
ini menunjukkan bahwa respons dimediasi oleh rangkaian kejadian seperti cahaya biru masuk
yang dianggap oleh fotoreseptor yang terkait dengan membran (fototropin), persepsi cahaya
memicu rantai transduksi sinyal yang mengarahkan unutk pembentukan gradien auksin lateral,
auksin dirasakan, dan memicu jaringan pensinyalan yang mengendalikan pemanjangan sel
asimetris dan pertumbuhan sel, yang pada akhirnya menyebabkan pembengkokan hipokotil ke
sumber cahaya (Hohm dkk, 2013).
Gerak bagian tumbuhan yang menuju ke arah cahaya disebut fototropisme positif. Cahaya
yang paling efektif dalam merangsang fototropisme adalah cahaya gelombang pendek,
sedangkan cahaya merah tidak efektif. Hal ini diduga respon fototropis ada kaitannya dengan
karoten dan riboflavin, karena kombinasi penyerapan spektrum oleh karoten dan riboflavin mirip
dengan pola kerja spektrum terhadap fototropisme (Santosa, 1990).

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa tanaman yang
arah tumbuhnya dipengaruhi cahaya matahari (fototropisme) diperlihatkan oleh batang yang
tumbuh ke arah atas atau mendekati cahaya matahari tersebut. Tanaman yang arah tumbuhnya
dipengaruhi oleh gravitasi (geotropisme) diperlihatkan oleh akar yang arah tumbuhnya
mendekati tanah (arah tumbuh ke bawah) dan batang yang menjauhi tanah (arah tumbuh ke atas).
Tanaman yang arah tumbuhnya dipengaruhi oleh air (hydrotropisme) diperlihatkan oleh akar
yang tumbuhnya mendekati air (arah tumbuh ke bawah) dan batang yang menjauhi air (arah
tumbuh ke atas).
DAFTAR PUSTAKA

Dwijoseputro, D. 1988. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta : Gramedia.

Ferdinand, Fiktor. 2003. Praktis Belajar Biologi. Yogyakarta : Grafindo.

Furqonita, D. 2006. Seri Ipa Biologi Smp Kelas VII. Jakarta : Yudhistira Ghalia Indonesia.

Hohm, Tim., Preuten, Tobias., Fankhauser, Christian. 2013. Phototropism: Translating Light Into
Directional Growth.American Journal of Botany 100(1): 47–59. 2013.

Kadaryanto. 2000. Mengungkap Rahasia Alam Kehidupan. Jakarta : Yudhistira Ghalia


Indonesia.

Kimball, J. W. 1992. Biologi, edisi ke-5, jilid 2. Erlangga : Jakarta.

Santosa. 1990. Fisiologi Tumbuhan. Yogyakarta. : UGM Press.

Uya. 2010. Gerak Pada Tumbuhan. Gramedia, Jakarta.