Anda di halaman 1dari 6

Patofisiologi dan asuhan keperawatan anak dan dampaknya terhadap pemenuhan

kebutuhan

dasar manusia dalam konteks keluarga meliputi kasus ISPA

Seseorang yang terkena ISPA maka fungsi pernapasan menjadi terganggu. Jika tidak
segera ditangani, ISPA dapat menyebar ke seluruh sistem pernapasan tubuh. Tubuh tidak bisa
mendapatkan cukup oksigen karena infeksi yang terjadi dan kondisi ini bisa berakibat fatal,
bahkan mungkin bisa berujung pada kematian.

ISPA harus dianggap sebagai kondisi darurat, jika mencurigai terjadinya serangan
ISPA, segera cari bantuan medis. Terlebih lagi pada anak-anak, di mana sistem kekebalan
tubuh mereka belum terbentuk sepenuhnya.

Seseorang bisa tertular infeksi saluran pernapasan akut ketika orang tersebut
menghirup udara yang mengandung virus atau bakteri. Virus atau bakteri ini dikeluarkan oleh
penderita infeksi saluran pernapasan melalui bersin atau ketika batuk. Selain itu, cairan
mengandung virus atau bakteri yang menempel pada permukaan benda bisa menular ke orang
lain saat mereka menyentuhnya. Ini disebut sebagai penularan secara tidak langsung. Untuk
menghindari penyebaran virus maupun bakteri, sebaiknya mencuci tangan secara teratur
terutama setelah melakukan aktivitas di tempat umum.

A. Pengertian ISPA
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan infeksi pada saluran pernapasan
baik saluran pernapasan atas atau bawah, dan dapat menyebabkan berbagai spektrum
penyakit dari infeksi ringan sampai penyakit yang parah dan mematikan.(Lebuan & Agus
Somia, 2017)
ISPA didefinisikan sebagai penyakit saluran pernapasan akut yang disebabkan oleh
agen infeksius yang ditularkan dari manusia ke manusia. (WHO, 2007)
B. Patofisiologi ISPA
Perjalanan klinis penyakit ISPA dimulai dengan berinteraksinya virus dengan tubuh.
Masuknya virus sebagai antigen ke saluran pernafasan menyebabkan silia yang terdapat
pada permukaan saluran nafas bergerak ke atas mendorong virus ke arah faring atau
dengan suatu tangkapan refleks spasmus oleh laring. Jika refleks tersebut gagal maka
virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa saluran pernafasan (Kending dan
Chernick, 1983). Iritasi virus pada kedua lapisan tersebut menyebabkan timbulnya batuk
kering (Jeliffe, 1974). Kerusakan stuktur lapisan dinding saluran pernafasan
menyebabkan kenaikan aktifitas kelenjar mukus yang banyak terdapat pada dinding
saluran nafas, sehingga terjadi pengeluaran cairan mukosa yang melebihi normal.
Rangsangan cairan yang berlebihan tersebut menimbulkan gejala batuk (Kending and
Chernick, 1983).
Sehingga pada tahap awal gejala ISPA yang paling menonjol adalah batuk. Adanya
infeksi virus merupakan predisposisi terjadinya infeksi sekunder bakteri. Akibat infeksi
virus tersebut terjadi kerusakan mekanisme mukosiliaris yang merupakan
mekanisme perlindungan pada saluran pernafasan terhadap infeksi bakteri sehingga
memudahkan bakteri- bakteri patogen yang terdapat pada saluran pernafasan atas seperti
streptococcus pneumonia, haemophylus influenza dan staphylococcus menyerang
mukosa yang rusak tersebut (Kending dan Chernick, 1983). Infeksi sekunder bakteri ini
menyebabkan sekresi mukus bertambah banyak dan dapat menyumbat saluran nafas
sehingga timbul sesak nafas dan juga menyebabkan batuk yang produktif. Invasi bakteri
ini dipermudah dengan adanya fakor-faktor seperti kedinginan dan malnutrisi. Suatu
laporan penelitian menyebutkan bahwa dengan adanya suatu serangan infeksi virus pada
saluran nafas dapat menimbulkan gangguan gizi akut pada bayi dan anak (Tyrell, 1980).
Penanganan penyakit saluran pernafasan pada anak harus diperhatikan aspek imunologis
saluran nafas terutama dalam hal bahwa sistem imun di saluran nafas yang sebagian
besar terdiri dari mukosa, tidak sama dengan sistem imun sistemik pada umumnya.
Sistem imun saluran nafas yang terdiri dari folikel dan jaringan limfoid yang tersebar,
merupakan ciri khas system imun mukosa. Ciri khas berikutnya adalah bahwa IgA
memegang peranan pada saluran nafas atas sedangkan IgG pada saluran nafas bawah.
Diketahui pula bahwa sekretori IgA (sIgA) sangat berperan dalam mempertahankan
integritas mukosa saluran nafas (Siregar, 1994).
Proses terjadinya ISPA diawali dengan masuknya beberapa bakteri dari genus
streptokokus, stafilokokus, pneumokokus, hemofillus, bordetella dan korinebakterium
dan virus dari golongan mikrovirus (termasuk didalamnya virus para influenza dan virus
campak), adenoveirus, koronavirus, pikornavirus, herpesvirus kedalam tubuh manusia
melalui partikel udara (droplet infection). Kuman ini akan melekat pada sel epitel hidung
dengan mengikuti proses pernapasan maka kuman tersebut bisa masuk ke bronkus dan
masuk ke saluran pernapasan, yang mengakibatkan demam, batuk, pilek, sakit kepala
dan sebagainya (Marni, 2014).
Saluran pernafasan dari hidung sampai bronkhus dilapisi oleh membran mukosa
bersilia, udara yang masuk melalui rongga hidung disaring, dihangatkan dan
dilembutkan. Partikel debu yang kasar dapat disaring oleh rambut yang terdapat dalam
hidung, sedangkan partikel debu yang halus akan terjerat dalam membran mukosa.
Gerakan silia mendorong membran mukosa ke posterior ke rongga hidung dan ke arah
superior menuju faring. Secara umum efek pencemaran udara terhadap pernafasan dapat
menyebabkan pergerakan silia hidung menjadi lambat dan kaku bahkan dapat berhenti
sehingga tidak dapat membersihkan saluran pernafasan akibat iritasi oleh bahan
pencemar. Produksi lendir akan meningkat sehingga menyebabkan penyempitan saluran
pernafasan dan makrofage di saluran pernafasan. Akibat dari dua hal tersebut akan
menyebabkan kesulitan bernafas sehingga benda asing tertarik dan bakteri tidak dapat
dikeluarkan dari saluran pernafasan, hal ini akan memudahkan terjadinya infeksi saluran
pernafasan (Mukono, 2008: 17).

C. Etiologi ISPA
ISPA terdiri dari lebih dari 300 jenis bakteri, Virus dan riketsia Bakteri penyebab
ISPA antara lain genus Streptococcus, Staphylococcus, Pneumococcus, Hemofilus,
Bordetella, dan Corynebacterium. Virus penyebabnya antara lain golongan Mexovinus,
Adenovirus, Coronavirus, Pikornavirus, Mikoplasma, Herpesvirus, dan lain- lain
(Dinkes, 2007).
ISPA dapat disebabkan oleh polusi, antara lain disebabkan oleh asap rokok,asap
pembakaran di rumah tangga,asap kendaraan bermotor,buangan industri,kebakaran
hutan,dll. (WHO,2007)
D. Insiden ISPA
1. ISPA merupakan masalah kesehatan yang menyebabkan kematian bayi dan balita
yang cukup tinggi.
2. Setiap anak diperkirakan mengalami 3-6 episode ISPA setiap tahunnya.
3. Berdasarkan catatan rekam medis dalam satu tahun anak-anak yang menderita ISPA
pada tahun 2016 mencapai angka 900 orang.
4. ISPA adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas penyakit menular di dunia.
5. Hampir empat juta orang meninggal akibat ISPA setiap tahun, 98%-nya disebabkan
oleh infeksi saluran pernapasan bawah.
E. Gejala ISPA
Gejala ISPA biasanya berlangsung antara satu hingga dua minggu, di mana hampir
sebagian besar penderita akan mengalami perbaikan gejala setelah minggu pertama. Pada
anak, biasanya gejala awal yang terjadi tidak berbeda dengan penyakit yang biasa di
alami. Gejala awal penyakit ISPA pada anak yang terlihat, seperti:
1. Pilek
2. Batuk kering
3. Demam
4. Sakit tenggorokan
5. Berkurangnya nafsu makan
Dari gejala di atas, Anda bisa memberikan penanganan pertama yang biasa dilakukan
seperti mengompres, memberikan paracetamol, dan memberikan konsumsi air yang
cukup pada anak. Namun, jika daya tahan tubuh anak dalam keadaan baik, gejala awal
tersebut bisa sembuh dengan sendirinya tanpa diberikan pengobatan tertentu. Namun,
apabila dibiarkan dan tidak kunjung sembuh maka biasanya selang 2 sampai 3 hari
kemudian, gejala tersebut akan memburuk yang ditandai dengan:
1. Batuk yang dialami akan semakin parah dan intensitasnya meningkat, terlebih di
malam hari
2. Napas menjadi semakin berat dan cepat
3. Detak jantung juga menjadi lebih cepat dari biasanya
4. Tidak hanya berkurang nafsu makan, anak bahkan akan menolak makanan yang
diberikan.
F. Uji Diagnostik
1. Tes darah, untuk memeriksa jumlah sel putih atau untuk mencari keberadaan virus,
bakteri atau organisme lain
2. Sinar-X dada, untuk memeriksa pneumonia
3. Tes laboratorium sekresi pernapasan dari hidung,untuk memeriksa virus

G. Pertolongan Pertama Pada Penderita ISPA


Menurut Direktorat jendral P2M & PL (2010), Untuk perawatan ISPA di rumah ada
beberapa hal menderita ISPA yaitu:
1. Mengatasi panas (demam)
Untuk anak usia dua bulan hingga lima tahun, demam dapat diatasi dengan
memberikan parasetamol atau dengan kompres, bayi di bawah dua bulan dengan
demam harus segera dirujuk. Parasetamol diberikan setiap hari empat kali setiap
enam jam untuk waktu dua hari. Cara diberikannya, tablet dibagi sesuai dengan
dosisnya, kemudian digerus dan diminumkan. Berikan kompres, dengan
menggunakan kain bersih dengan cafa kain dicelupkan pada air (tidak perlu ditambah
air es).
2. Mengatasi batuk
Dianjurkan untuk menyediakan obat batuk yang aman misalnya ramuan tradisional
yaitu jeruk nipis setengah sendok teh dicampur dengan kecap atau madu setengah
sendok teh dan diberikan tiga kali sehari.
3. Pemberian makanan
Dianjurkan memberikan makanan yang cukup bergizi, sedikit-sedikit namun
berulang-ulang lebih sering daripada biasanya, lebih-lebih sering terjadi muntah.
Pemberian ASI pada bayi yang menyusu tetap diteruskan
4. Pemberian minuman
Diusahakan memberikan cairan (air putih, air buah dan sebagainya) lebih banyak dari
biasanya. Hal ini akan membantu mengencerkan dahak, selain itu kekurangan cairan
akan menambah parah yang diderita.
5. Lain-lain
Diusahakan lingkungan tempat tinggal yang sehat yaitu,berventilasi cukup dan tidak
dekat dengan asap.

H. Pencegahan ISPA
Menurut Depkes RI 2009 ada beberapa ying dapat mencegah terjadinya ISPA
diantaranya:
1. Pelaksanaan PHBS yang meliputi cuci tangan sampai bersih dengan sabun.
2. Meningkatkan daya tahan tubuh.
3. Menjaga kondisi udara dalam rumah tetap sehat melalui tidak merokok dalam
rumah.
4. Menjaga kebersihan lingkungan.
5. Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA.
I. Klasifikasi
Pada umumnya ISPA dibagi menjadi dua bagian yaitu ISPA bagian atas dan ISPA
bagian bawah. Klasifikasi ISPA dapat diklasifikasikan menjadi:
1. Bukan pneumonia yang mencakup kelompok penderita balita dengan gejala batuk
pilek (common cold) yang tidak diikuti oleh gejala peningkatan frekuensi napas dan
tidak menunjukkan adanya tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam.
2. Pneumonia berat dengan gejala batuk pilek pada balita disertai oleh peningkatan
nafas cepat atau kesukaran bernafas (Depkes RI, 2012).
DAFTAR PUSTAKA
(WHO, 2007)Lebuan, A. W., & Agus Somia. (2017). FAKTOR YANG BERHUBUNGAN
DENGAN INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT PADA SISWA TAMAN
KANAK-KANAK DI KELURAHAN DANGIN PURI KECAMATAN DENPASAR
TIMUR TAHUN 2014. E-JURNAL MEDIKA, VOL. 6 NO.6, JUNI, 2017, 6(6), 1–8.
Rasmilah. (2008). Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) Dan Penanggulangannya.
Digitized by USU Digital Library, (6), 1–9. https://doi.org/10.1007/978-1-4614-7007-
6_7
WHO. (2007). Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Saluran Pernapasan Akut ( ISPA ) yang
Cenderung Menjadi Epidemi dan Pandemi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) Yang
Cenderung Menjadi Epidemi Dan Pandemi Di Fasilitas Pelayanan Kesehatan, 12.
https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004
Candra,Risky S. 2018. Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA). Diakses pada tanggal 14
February 2019. https://hellosehat.com/penyakit/infeksi-saluran-pernapasan-atas-ispa/
Unknown. 2017. Ketahui Tanda dan Gejala Penyakit ISPA pada Anak Berikut Ini!. Diakses
pada tanggal 14 February 2019. ttps://www.guesehat.com/ketahui-tanda-dan-gejala-
penyakit-ispa-pada-anak-berikut-ini
PPNI, T. P. S. D. (2016). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator
Diagnostik (1st ed.). Jakarta: DPP PPNI.
PPNI, T. P. S. D. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan
Keperawatan (2nd ed.). Jakarta: DPP PPNI.