Anda di halaman 1dari 21

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bandar Udara adalah kawasan di daratan dan/atau perairan dengan batas-batas
tertentu yang digunakan sebagai tempat pesawat udara mendarat dan lepas landas, naik
turun penumpang, bongkar muat barang, dan tempat perpindahan intra dan antarmoda
transportasi, yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan dan keamanan penerbangan,
serta fasilitas pokok dan fasilitas penunjang lainnya. Sedangkan Bandar Udara
Internasional adalah bandar udara yang ditetapkan sebagai bandar udara yang melayani
nute penerbangan dalan negeri dan rute pencerbangan dari dan ke luar negeri (UU NO.1
TH. 2009).

Bandara udara X memiliki fasilitas pokok yang meliputi fasilitas keselamatan dan
keamanan, antara lain Pertolongan Kecelakaan Penerbangan Pemadam Kebakaran
(PKPPK), salvage, alat bantu pendaratan visual (Airfield Lighting System) sistem catu
daya kelistrikan, dan pagar. Fasilitas sisi udara (airsidefacility), antara lain landas pacu
(runway), runway strip, Runway end safety Area (RESA), stopway, clearway, landas
hubung (taxiway), landas parkir (apron), marka dan rambu,dan taman meteo (fasilitas
dan peralatan pengamatan cuaca).

Apron merupakan sarana parkir atau tempat untuk menyimpan pesawat yang
posisinya terletak diantara bangunan terminal dan taxi way yang dimaksudkan untuk
menempatkan pesawat terbang agar dapatdengan cepat memuat dan menurunkan
penumpang, angkutan surat barang atau pun kargo dan lain lain. Taxi way merupakan
jalur penghubung antara runway dan apron dengan fungsi utama yaitu sebagai jalan
keluar masuk pesawat dari runway kebangunan terminal dan sebaliknya atau dari
runway ke hangar pemeliharaan. Runway merupakan area yang digunakanuntuk take
off dan landing pesawat terbang yang sedang beroprasi.

Sehingga pada pada penelitian ini membahas studi kasus tentang kecelakaan
pesawat X pada Bandar udara X, kejadian kecelakaan dari pesawat X yang terjadi

1
sebuah kecelakaan yang melibatkan pesawat X tersebut mengalami kecelakaan dengan
kategori serious incident. Karena pada badan pesawat bagian bawah robek yang diduga
akibat pecahan aspal runway saat melakukan pendaratan. Serta kecelakaan tersebut
merupakan salah satu kecelakaan dengan kerusakan yang mengakibatkan kerugian
materil yang besar karena terdapat kerusakan pada body pesawat.

Dalam proses analisis kecelakaan pesawat X tersebut digunakan metode MORT (


Management Oversight and Risk Tree) metode analisis ini adalah metode analisis
kecelakaan yang menyediakan sebuah perangkat sistemati suntuk membantu dalam
perencanaan, pengorganisasian, dan pelaksanaannya secara mendalam, investigasi
kecelakaan menyeluruh untuk mengidentifikasi secara spesifik suatu kejadian
kecelakaan dan dapat digunakan untuk proses pemeriksaan serta untuk mencegah
kecelakaan yang sama terulang lagi, selain itu dapat juga digunakan untuk inspeksi,
audit, atau tujuan-tujuan penilaian.

1.1 Rumusan Masalah


1. Bagaimana cara menganalisis menggunakan Metode MORT?
2. Bagaimana rekomendasi yang dpat diberikan agar dapat mencegah
terjadinya kecelakaan

1.2 Tujuan
1. Dapat mengetahui bagaiamana cara menganalisis dengan Metode MORT
2. Bagaimana rekomendasi yang dpat diberikan agar dapat mencegah
terjadinya kecelakaan

2
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Mini Mort (Management Oversight Risk Tree)

MORT dikembangkan oleh Bill Johnson pada tahun 1970-an untuk


DOE. Diagram MORT terdiri setidaknya 1500 item yang disusun ke dalam pohon
kegagalan yang kompleks. Fungsi utama dari MORT ialah digunakan untuk
investigasi kecelakaan. MORT memberikan alat yang sistematis untuk membantu
merencanakan, mengatur, dan meneliti lebih dalam, investigasi kecelakaan yang
komprehensif untuk mengidentifikasi hal-hal spesifik yang tidak sesuai (Less Than
Adequate) dan dibutuhkan untuk mengoreksi dan mencegah kecelakaan terulang
lagi. Dapat digunakan juga untuk inspeksi, audit dan tujuan tertentu (Setiawan,
2011).
MORT (Management Oversight Risk Tree) adalah metode yang
digunakan sebagai alat investigasi yang fokus pada banyak faktor yang
berkontribusi terhadap kejadian atau kecelakaan. Kelebihan metode ini adalah
mengetahui faktor-faktor manajemen yang menjadi penyebab atau yang
berkonstribusi dalam kecelakaan tersebut (Syaifurrrohmah, Farida. dkk. 2016).

Tujuan dari MORT adalah untuk merumuskan sistem manajemen


keselamatan yang ideal berdasarkan sintesis terbaik elemen program keselamatan
sehingga tersedia Teknik manajemen keselamatan. MORT digunakan sebagai alat
praktis dalam penyelidikan kecelakaan dan evaluasi program keselamatan yang
ada (Ericson, dalam Geni. 2015). Pertanyaan pertanyaan di MORT memiliki
urutan tertentu, yang dirancang untuk membantu mengklarifikasi fakta-fakta
seputar insiden.
Struktur MORT menyerupai sebuah pohon dan berasal dari fault tree
(pohon kegagalan). Dilihat dari struktur pohon MORT, kerugian akibat kecelakaan
dan insiden timbul dari dua sumber yang berbeda. Sumber pertama berasal dari
risiko yang sudah diidentifikasi lalu risiko tersebut diterima dengan pengelolaan
yang benar (assumed risk) dan sumber kedua berasal dari risiko yang belum

3
dikelola dengan benar. Sumber kedua ini dimasukkan sebagai kelalaian (oversight
and omission).
Bagan MORT berperan sebagai daftar yang memungkinkan untuk
berkonsentrasi pada isu-isu terungkap melalui proses. Bagan MORT dasar dapat
digunakan untuk memfasilitasi dan memeriksa proses identifikasi bahaya secara
keseluruhan (International Crisis Management Association, 2014). Bagan MORT
memiliki dua kegunaan langsung yaitu untuk menganalisis manajemen dan faktor
organisasi relatif terhadap kecelakaan yang telah terjadi dan untuk mengevaluasi
atau mengaudit program keselamatan dalam kaitannya dengan kecelakaan yang
signifikan yang memiliki potensi untuk terjadi (ILO, dalam Geni 2015). Diagram
MORT digunakan sebagai alat kerja untuk membantu mengumpulkan dan
menyimpan informasi. Kotak paling atas pada diagram MORT mengarah pada
permulaan investigasi. Investigasi dimulai dari Spesific Control Factors dan
Management Control Factors. Pada specific control factors membahas apakah
yang terjadi serta mengarahkan pada dokumentasi kecelakaan. Pada management
control factors dibahas mengenai kebijakan yang gagal atau policy LTA (Less
Than Adequate), implementasi dari kebijakan yang gagal atau implementation
LTA, dan system penilaian risiko atau Risk assessment system and control LTA
(Setiawan, 2011).

2.2 Input, Output, Logic Gates


Fault Tree terdiri dari Input yang berhubungan dengan output dan
melalui logic gates. Output dan input ini secara umum disebut kejadian. Sebagai
contoh Gambar 1, outputnya berupa “kebakaran / api” yang berhubungan
dengan 3 input, “kehadiran bahan bakar’, “sumber percikan api’, dan
‘kehadiran oksigen’.

4
Gambar 2.1 Contoh Hierarki Logic
(sumber : NRI MORT User’s Manual, 2002)
Berikut arti simbol-simbol dalam MORT (Noordwijk Risk Initiative, 2009):
Tabel 2. 2 Arti Simbol dalam MORT

Symbol Arti
Simbol ini digunakan untuk
menyatakan suatu kegagalan atau
kelalaian.
Simbol ini mendeskripsikan
komponen dasar dari sebuah
cabang.
Simbol ini menyatakan akhir dari
sebuah rangkaian tanpa informasi
dan solusi yang cukup. Cabang ini
baru dapat dianalisis pada cabang
Assumed Risk.
Gerbang DAN.

Gerbang ATAU.

Simbol yang digunakan untuk


perpindahan ke lokasi lain.

5
Untuk meninjau proses lebih mudah menggunakan kode warna bagan
(Noordwijk Risk Initiative, 2009):
Tabel 2. 3 Kode Warna Pohon MORT

2.3 Rangkaian Pertukaran Energi


Gate yang kedua dalam MORT tree dating dari Model kecelakaan
melalui Pertukaran Energi oleh Haddon (NRI MORT User’s Manual,2009).

Gambar 2.2 Elemen Penyebab Kecelakaan

AND gate digunakan sebagai titik dimana kecelakaan hanya dapat


terjadi dengan kehadiran elemen tersebut dan kecelakaan tidak akan terjadi
jika salah satu elemen tersebut tidak ada. Konsep Haddon “Pertukaran
Energi” ditunjukkan pada : • Aliran energi yang ada berpotensi
membahayakan • Orang atau benda yang mudah terkena pajanan •
Penghalang dan pengendalian yang tidak cukup memadai memberikan
perlindungan. Pertukaran energi, menurut Haddon terjadi dalam rangkaian.

6
Syarat ini termasuk dalam empat input kejadian dan aliran energi pada
accident/insiden.

2.3 Struktur MORT

Stuktur bagan MORT diturunkan dari sebuah fault tree analisis dari
kejadian ‘kerugian’. Dengan catatan kerugiannya secara umum dan dapat
diterapkan pada berbagai nilai dan tipe risiko. Tingkat pertama dari pertanyaan
umum, “ apa tipe risiko yang dapat menimbulkan kerugian”? ada dua
kemungkinan yaitu risiko tidak memadai dikelola (kelalaian dan kekeliruan)
atau risiko sudah telah memadai dikelola. Karena struktur pohon menggali dari
atas sampai bawah, dari kiri ke kanan dan pertanyaan selanjutnya adalah “apa
yang menyebabkan kelalaian dan kekeliruan”? jawaban akan didapat pada
rangkaian kedua dari pohon : kekeliruan dan kelalaian timbul dari pengendalian
aktivitas (specific control factor) dan bagaimana risiko dari aktivitas dikelola
secara umum (management system factor) (NRI MORT User’s Manual, 2009).

7
Gambar 2.3 Bagian Mini MORT

8
Gambar 2.4 Cabang Utama Dari Bagan MORT

9
2.4 Prosedur Analisis MORT
Ada beberapa syarat dalam melakukan analisis kecelakaan menggunakan
metode MORT (NRI MORT User’s Manual, 2009) yaitu :
 Idealnya 2 orang
 Secara teknik mengerti sistem dari insiden yang terjadi
 Deskrispsi mencukupi dari rangkaian kejadian untuk memulai analisis
 Bagan MORT dan pena berwarna – merah, biru, hijau
 Catatan ‘biru’ untuk penyelidikan lebih lanjut, ‘merah’ dan ‘hijau’ untuk
pembenaran.
 Tujuan dari prosedur ini adalah agar dapat diketahui bagaimana spesifik target
dapat terpajan bahaya, rusak atau perubahan yang tidak diinginkan dan
menjelaskan hubungannya pada risk management.

Gambar 2.5 Rangkaian Kerja bagan MORT

10
Koding warna merah :

 Semua faktor atau kejadian yang ditemukan berupa LTA ditandai


dengan warna merah pada bagan.
 Harus dilampirkan pada laporan kecelakaan dengan rekomendasi
yang tepat untuk memperbaiki kekurangan.
 Harus didukung dengan fakta
Koding warna hijau :

 Semua faktor atau kejadian yang ditemukan berupa adequate


ditandai dengan warna hijau pada bagan.
 Penilaian harus dilakukan dengan tepat dan sesuai dengan fakta
Koding warna biru :

 Mengindikasikan blok sudah dilakukan pengujian, tetapi data atau


informasi yang diperoleh tidak cukup. Disarankan mengumpulkan
data yang lebih banyak.
 Data dengan tanda berwarna biru menandakan harus melengkapi
investigasi agar dapat merubah warna sesuai dengan kelengkapan
data di peroleh.

11
BAB 3

BAGAN ALIR
BAGAN ALIR

Mulai

Mengumpulkan data primer dan data sekunder

Data primer Data sekunder

wawancara dan kuesioner, expert Data kecelakaan di perusahaan, job


judgement dan observasi safety analysis loading dan data
langsung
manjemen yang bersangkutan.

Analisa data menggunakan metode MORT

Memberikan Rekomendasi

Selesai

12
BAB 4

ANALISA KECELAKAAN

4.1 Studi Kasus

Kronologi kecelakaan pesawat X dengan nomor penerbangan Z123


tahun 2016 berdasarkan bukti dari form wawancara yaitu sebagai berikut, pada
tahun 2016 terjadi sebuah kecelakaan yang melibatkan pesawat X dengan nomor
penerbangan Z123 pesawat tersebut bertipe B123. Pesawat X dengan tipe B123
tersebut mengalami kecelakaan dengan kategori serious indent. Karena pada
badan pesawat bagian bawah robek yang diduga akibat pecahan aspal runway
saat melakukan pendaratan. Serta kecelakaan tersebut merupakan salah satu
kecelakaan dengan kerusakan yang mengakibatkan kerugian materil yang besar
karena terdapat kerusakan pada body pesawat. Kronologi kejadiannya sebagai
berikut. Pesawat X yang mengalami insiden bertipe B123. Dengan nomor
penerbangan Z123 dan rute penerbangan pesawat tersebut ialah bandara udara Z
menuju ke Bandara Udara Y, dan dipiloti oleh Bpk AZ. Pesawat tersebut
berangkat dari Bandara Udara Z pukul 09.55 dan pesawat melakukan pendaratan
di bandara udara Y pukul 10.13 WIB. Pada saat setelah melakukan pendaratan
atau landing pesawat terlihat oleng, yang terdapat beberapa penyebab
diantarannya peswat mengalami kesalahan saat pendaratan yag disenbabkan oleh
system pengereman pada bagianpesawat tidak berfungsi secara optimal serta
selain itu juga terdapat rubber deposite pada daerah runway yang menyebabkan
kekesatan pada runway berkutrang dan juga kondisi runaway bandar udara Y
yang selesai dilakukan proses overlay runaway. Sehingga dari factor tersebut
yang menyebabkan terjadinya kecelaakaan pada pesawat X tipe B123 yang
menyebabkan sobek pada bagian body pesawat dengan dimensi goresan sekitar
35 x 60 cm yang tertancap pada body pesawat.

4.2 Analisis MORT

13
Analisis MORT (management Oversight Risk Tree Analysis) pada
kecelakaan pesawat X dengan nomor penerbangan Z123 yaitu digunakan untuk
mengidentifikasi semua factor penyebab yang menyebabkan kecelakaan atau
kejadian yang tidak diinginkan dari sisi management. Pada analisis kecelakaan
dengan menggunakan metode MORT ini menggunakan bukti-bukti yang berkaitan
dengan kecelakaan. Pada metode MORT top evet dari diagram MORT yaitu
kecelakaan pesawat X dengan nomor penerbangan Z123, sehingga dari top event
kecelakaan tersebut dapat diketahui factor-faktor yang menyebabkan kecelakaan
dari suatu kesalahan atau kegagalan dari sisi management

4.3 Proses Analisis Dengan Metode MORT (Management Oversight Risk Tree
Analysis)

Menurut Ericson A. Clifton (2005) proses dan tahap dari analisis


menggunakan metode MORT untuk prosedur investigasi kecelakaan pada pesawat
X dengan konsep sebagai berikut :

1. Langkah pertama yaitu menentukan system yang diminati atau dilakukan


analisis. Pada langkah pertama ini pengamatan atau investigasi dilakukan pada
proses terjadinya kecelakaan pada pesawat X pada bandar Y
2. Langkah kedua yaitu menentukan dari mishap undesired event dari suatu
kecelakaan ini yaitu kecelakaan pada pesawat X pada bandar udara Y
3. Menentukan komponen dalam oversight and omission dalam MORT diagram
4. Langkah selanjutnya yaitu menyusun blok dari MORT dimulai dari mishap
undesired event hingga basic event dari kecelakaan pesawat X. Sserta
menerapkan kode warna pada diagram MORT, dan melakukan analisis dengan
data pendukung
5. Langkah selanjutnya yaitu menentukan gerbang logika dan penyusunan blok
dari mulai mishap undesired event sehingga basic event pada kecelakaan
pesawat X dengan menggunakan bukti-bukti yang terkait dengan kecelakaan
6. Langkah selanjutnya yaitu merekomendasikan tindakan korektif.

14
4.4 Bukti Yang Berkaitan Dengan Kecelakaan

Bukti yang telah dikumpulkan yang dapat digunakan untuk proses penyusunan
dan analisis dengan menggunakan metode MORT serta yang berkaitan dengan
kecelakaan pesawat X dengan nomor penerbangan Z123 pada tahun 2016 antara lain
yaitu :

1. Bukti form wawancara saksi tentang kronologi kejadian yang berkaitan dengan
kecelakaan pesawat X dengan nomer penerbangan Z123 pada tahun 2016 dalam
bentuk B1 menunjukan bahwa pengelola bandar udara hanya memiliki RKS
(rencana kerja satuan) atau kontrak kerja untuk kontraktor
2. Hasil laporan kejadian hasil investigasi yang dilakukan oleh tim K yang berkaitan
dengan kecelakaan pesawat X dengan nomor penerbangan Z123 pada tahun
2016dalam bukti B2 tersebut menujukkan bahwa terdapat kesalahan pada proses
tapering paved shoulder runaway yang terkelupas
3. Laporan inspeksi dan kajian resiko keselamatan dan kesehatan kerja landside dan
airside terminal 2. Dalam bukti B3 tersebut menunujukan bahwa tidak terdapatnya
checklist inspeksi airside secara keseluruhan dan inspeksi tidak dilakukan secara
rutin
4. Nota dinas (nota dinas) perihal tindak lanjut rekomendasi keselamatan bagi
rekanan yang bekerja di wilayah sisi udara. Dalam bukti B4 tersebut menunjukan
bahwa terdapat ketidaksesuaian dalam pembersihan rubber deposite
5. Daftar induk dokumen internal perusahaan pengelola Bandar Udara Y. Dalam
bukti B5 menunjukan bahwa tidak terdapat instruksi kerja pada pekerjaan proses
tapering pada paved shoulder runaway karena pekerjaan tersebut dilakukan oleh
kontraktor dan pengelola bandar udara hanya memiliki RKS (Rencana Kerja
Sattuan) atau kontrak kerja untuk kontraktor

15
4.5 Diagram dan Analisis MORT

Diagram dan analisis MORT investigasi kecelakaan pada pesawat X disusun


menggunakan pedoman pada buku Ericson A. Clifton (2005), sehingga dari diagram
didapatkan basic event agar kecelakaan yang serupa tidak terulang kembali. Diagram
MORT tersebut dapat dilihat pada gambar berikut ini.

16
Kecelakaan Pesawat X
Tergelincir pada bandar
udara Y

Overnight and omission

Spesifik Control Manaement Sistem Faktor


LTA

Mishap ( understand Event ) kecelakaan


Ameloration LTA aspal pd pafel shoulder runaway
Pesawat X
mengelupas & mengenal body pesawat
Goal LTA Proses Pembersihan rubber Amelioration LTA
deposite tidak sesuai Kesalahan Proses tuppering pada poved
shoulder mengelupas
Barier & control LTA Kesalahan pd proses tuppering pd pufed
shoulder run away yang mengelupas

Control LTA
Tidak terdapat waktu
pembersihan rubber
deposite dalam
Instruksi Kerja yang
sesuai dengan KP-94
Aspal pd pafet Aspal pd pafet tahun 2015
shoulder tdk shoulder
terikat dengan kurang padat Tidak terdapatnya Pengelola
benar prosedur dan bandara
instruksi kerja pada hanya
pekerjaan yang
memiliki RKS
dilakukan oleh
Maintenance LTA proses pembersihan Inspeksi LTA pd air side atau kontrak
kontraktor
rubber deposite tdk sesuai Tdk sesuai
kerja untuk
kontraktor

Pembersihan rubber Waktu Pembersihan Inspeksi airside Tdk terdapat Inspeksi airside tdk
deposite tdk rubber deposite tdk dilakukan pada checklist inspeksi dilakukan secara
menggunakan sesuai ketentuan apron, tempat parkir airside scr rutin
peralatan yang sesuai berdasarkan jumlah GSE, Servis road, keseseluruhan saat
pergerakan pesawat Parking stand & fix inspeksi airside
bridge

Gambar 4.1 Diagram MORT 17


4.6 Analisis Diagram MORT (Management Oversight Risk Tree Analysis)
Dari hasil analisis dan penyusunan dari diagram MORT pada gambar…
didapatkan bahwa pada kecelakaan pesawat X pada Bandar Udara Y memiliki dua
pembahasan yaitu soecific control LTA dan management factor system LTA. Pada
specific control LTA terdapat dua factor yang dihubungkan dengan OR gate yaitu
amelioration LTA dan mishap (undesired event). Amelioration LTA yang berkaitan
dengan kecelakaan pesawat X pada Bandar Udara Y yaitu aspal pada paved shoulder
runaway yang mengelupas dan mengenai body pesawat, serta penyebab dari aspal pada
paved shoulder runaway yang mengelupas dan mengenai body pesawat tersebut yaitu
kesalahan proses tapering pada paved shoulder runaway yang mengelupas sehingga
basic pevent pada amelioration LTA yaitu aspal pada pbed shoulder runaway kurang
padat. Sedangkan pada mishap (undesired event) terdapat barrier and control LTA yang
didalamnya terdapat control LTA yang didalamnya terdapat maintenance LTA atau
inspecition LTA, pada maintenance LTA yaitu berkaitan dengan proses pembersihan
rubber deposite tidak sesuai sehingga basic event dari maintenance TA yaitu
pembersihan rubber deposite tidak menggunakan peralatan yang sesuai dengan
ketentuan berdasarkan jumlah pergerakan pesawat. Sedangkan pada inspection LTA
yaitu berkaitan dengan inspeksi pada airside kurang sesuai sehingga basic event dari
inspection LTA yaitu airside dilakukan pada apron, tempat parkir GSE, service road
parking stand dan fix bridge atau tidak terdapat checklist inspeksi airside secara
keseluruhan saat melakukan inspeksi airside atau inspeksi airside tidak dilakukan
secara rutin.
Pada management factor system LTA terdapat goal LTA atau amelioration LTA.
Pada goal LTA yang berkaitan dengan kecelakaan pesawat X pada bandar udaya Y
yaitu tidak terdapat waktu pembersihan rubber deposite dalam instruksi kerja yang
sesuai dengan KP 94 tahun 2015. Sedangkan amelioration LTA pada management
factor system LTA yang berkaitan dengan kecelakaan pesawat X pada Bandar Udara
Y yaitu kesalahan proses tapering pada paved shoulder runaway yang mengelupas
sehingga basic event dari amelioration LTA yaitu tidak terdapatnya prosedur dan

18
instruksi kerja pada pekerjaan yang dilakukan oleh kontraktor dan pengelola bandara
hanya memiliki RKS (Rencana Kerja Satuan) atau kontrak kerja untuk kontraktor.

19
BAB 5

KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan

1. Dari analisis kecelakaan yang sudah dilakukan, diperoleh penyebab


kecelakaan secara garis besar, antara lain Technical information system LTA,
Operational readiness LTA, Inspection LTA, Manintenance LTA, Supervision
and staff performance LTA, Support supervision LTA, RM Policy LTA.
2. Pada proses analisis dengan menggunakan metode MORT didapatkan bahwa
terdapat beberapa basic event yang menyebabkan terjadinya kecelakaan dari
management system factor LTA adalah tidak terdapat waktu pembersihan
rubber deposite. Tidak terdapat prosedur dan instruksi pada pekerjaan yang
dilakukan oleh kontraktor dan pengelola bandar udara hanya memiliki RKS
(Rencana Kerja Satuan)
3. Rekomendasi dari hasil analisis dengan menggunakan metode MORT tersebut
didapatkan rekomendasi yang dapat disarankan dan diterapkan oleh pengelola
bandar udara Y agar kecelakaan pesawat serupa tidak terjadi kembali salah
satu dari rekomendasi tersebut yaitu membuat checklist inspeksi airside dan
melakukan inspeksi airside sesuai dengan ketentuan Peraturan Dirjen
Perhubungan Udara KP 94 tahun 2015.

20
DAFTAR PUSTAKA

Geni, Ridanti Lenggo. 2015 . Analisis Pelaksanaan Risk Assessment pada Proyek
Cibis Tower 9 Jakarta Selatan PT. Waskita Karya tahun 2015. Jakarta .
Fakultas Kedokteran Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

International Crisis Management Association. 2014 . The Management Oversight


and Risk Tree (MORT).

Noordwijk Risk Innovative. 2009. NRI MORT User Manual . Netherlands . The
Noordwijk Risk Innovative Foundation.

NRI MORT User’s Manual For use with the Management Oversight & Risk Tree
analytical logic diagram. 2002. Netherlands : The Noordwijk Risk Initiative
Foundation.

NRI MORT User’s Manual For use with the Management Oversight & Risk Tree
analytical logic diagram. 2009. Netherlands : The Noordwijk Risk Initiative
Foundation.

Syaifurrohmah, Farida. 2016. Analisis Kecelakaan pada Pekerjaan Loading


Unloading Overhead Crane Menggunakan Metode MORT dan CREAM.
Surabaya : Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya.

Setyawan, Angga. 2011. Investigasi Dan Pencegahan Kecelakaan Mort Analysis.


Jakarta : Universitas Indonesia

Wiranomo, Febriarno (2017) ANALISIS KECELAKAAN PADA PESAWAT X


DENGAN MENGGUNAKAN KOMBINASI METODE STEP, FTA, DAN
MORT DI BANDAR UDARA Y. Surabaya : Politeknik Perkapalan Negeri
Surabaya.

21