Anda di halaman 1dari 6

JST Kesehatan, Januari 2017, Vol. 7 No.

1 : 85 – 90 ISSN 2252-541

HUBUNGAN INTERPROFESIONAL KOLABORASI DENGAN PELAKSANAAN CATATAN


PERKEMBANGAN PASIEN TERINTEGRASI DI RSUD. PROF. DR. H.M. ANWAR
MAKKATUTU KABUPATEN BANTAENG

The Relationship between Interprofesional Collaboration and the Integrated Record of Patient Progress at
Prof. dr. H.M. Anwar Makkatutu Local Public Hospital in Bantaeng

Yani Lestari1, Ariyanti Saleh2, Syahrir A. Pasinringi3


1
RSUD. Prof. Dr. H.M. AnwarMakkatutu Kabupaten Bantaeng (Email: yanilestari2000@gmail.com)
2
Dosen Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Hasanuddin, Makassar (Email: yanti_nersuh@yahoo.com)
3
Dosen Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Hasanuddin, Makassar (Email: syahrir65@yahoo.com)

ABSTRAK

Model rekam medik terintegrasi merupakan standar penilaian mutu rumah sakit, sehingga setiap rumah sakit diharapkan
dapat mengembangkan model ini demi terpenuhinya standar mutu pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan
menganalisis Hubungan Interprofesional Koloborasi terhadap pelaksanaan catatan perkembangan pasien terintegrasi di
Ruang Rawat inap RSUD. Prof. Dr. H.M. Anwar Makkatutu Kabupaten Bantaeng. Penelitian ini menggunakan metode
kuantitatif dengan pendekatan cross sectional study. Jumlah sampel sebanyak 81 orang dengan berbagai profesi di
ruang perawatan bedah, anak, interna, neuro dan obgin RSUD. Prof. Dr. H.M. Anwar Makkatutu Kabupaten Bantaeng.
Pengumpulan data dilakukan melalui pengisian kusioner dan observasi untuk memperoleh data sosial demografi dan
penilaian pelaksanaan IPC serta catatan perkembangan pasien terintegrasi. Hasil penelitian dengan analisis uji chi-Square
dan uji spearman correlation yang menunjukkan pelaksanaan kolaborasi interprofesional berjalan baik dalam pengisian
catatan perkembangan pasien terintegrasi dengan kekuatan korelasi kuat dan arah kekuatan positif dilihat dari aspek
kerjasama yaitu 98,6% (p=0,000) dengan nilai korelasi r=0,635,aspek kemitraan 97,2% (p=0,000) nilai korelasi
r=0,590, aspek koordinasi 98,6% (p=0,000) nilai korelasi r=0,686 dan aspek pengambilan keputusan bersama 95,9%
(p=0,001) dengan nilai r=0,531.

Kata kunci: IPC, Interprofessional Collaboration, Catatan perkembambangan pasien terintegrasi

ABSTRACT

A model of integrated medical record is a standard hospital quality ratings, so that every hospital is expected to develop
this model by fulfillment of quality standards of health care.This study aims to analyze the relationship between
Interprofesional collaboration and the integrated record of patient progress in the patient rooms of Prof. Dr. H.M.
Anwar Makkatutu Local Public Hospital in Bantaeng. The Research used the quantitative method with the cross
sectional study approach. It involved 81 sample of 81 from various professions in the surgical treatment, pediatric,
internal medicine, neurologi and Obstetrics and gynocology rooms of Prof. Dr. H.M. Anwar Makkatutu Local Public
Hospital in Bantaeng.The data about social demography conditions were collected with questionnaires and
observations. There was also and assessment of IPC and the integrated record of patient progress. The results of chi-
square analysis and Spearman correlation test showed that the Interprofesional Collaboration has been well
Implemented in the integrated record of patient progress, with a strong correlation and positive strength direction, in
terms of collaboration aspect (98.6%, p = 0.000, r=0,635), partnership aspect (97.2%, p= 0.000, r=0,590), coordination
aspect (98.6%, p = 0.000, r=0.686), and shared decision-making aspect (95.9%, p = 0.001, r=0.531).

Keywords: IPC, interprofessional Collaboration, integrated record of patient improvement

85
Yani Lestari ISSN 2252-541

PENDAHULUAN Praktek residensi di RSUD Prof. Dr. H.M.


Rumah sakit merupakan sarana Anwar Makkatutu Kabupaten Bantaeng 2015
penyelenggaraan pembangunan kesehatan. diperoleh bahwa salah satu penyebab tidak
Pelayanan kesehatan yang bermutu merupakan optimalnya pelaksanaan MPKP adalah belum
tanggung jawab pemberi pelayanan kesehatan terlaksananya sistem pencatatan perkembangan
secara komperhensif, baik itu dari dokter, perawat, pasien secara terintegrasi yang merupakan bentuk
nutrisionist, terapi, dan profesi kesehatan lainnya dari pelaksanaan praktek koloborasi
(Pohan, 2015). Perkembangan ilmu pengetahuan interprofesional yang merupakan salah satu bagian
dan teknologi, serta perkembangan masyarakat penilaian akreditasi. Berdasarkan data awal yang
yang semakin kritis, menyebabkan rumah sakit diperoleh dari Kabid Keperawatan
harus melakukan berbagai inovasi dalam rangka mengemukakan bahwa pelaksanaan
menghasilkan pelayanan bermutu bagi pasien. interprofesional kolaborasi dan implementasi
Salah satu indikator penilaian akreditasi yang catatan perkembangan pasien terintegrasi
mencerminkan mutu pelayanan kesehatan adalah dilaksanakan mulai bulan maret 2016 sejalan
rekam medik (KARS, 2012). dengan penggunaan status pasien terintegrasi.
Pomey (2010), menemukan fakta bahwa Berdasarkan uraian diatas peniliti
akreditasi bermanfaat dalam memulai peningkatan tertarik untuk melakukan penelitian tentang
mutu berkelanjutan, kepemimpinan dalam “Hubungan Interprofesional Kolaborasi Dengan
peningkatan mutu, dan memberi kesempatan Pelaksanaan Catatan Perkembangan Pasien
kepada staf untuk mengembangkan berbagai Terintegrasi Di RSUD. Prof. Dr. H.M. Anwar
peluang yang dapat menunjang terlaksananya Makkatutu Bantaeng”.
beberapa program yang menjadi kreteria penilaian
standar akreditasi rumah sakit seperti halnya BAHAN DAN METODE
dengan penggunaan rekam medik secara Lokasi dan Desain Penelitian
terintegrasi. Sesuai dengan penelitian yang Penelitian ini dilaksanakan di RSUD.
dilakukan oleh Mishra (2015), yang Prof. Dr. H.M. Anwar Makkatutu Bantaeng.
menyimpulkan bahwa sistem pencatatan rekam Penelitian ini menggunakan jenis penelitian non
medis yang tidak terintegrasi dapat menyebabkan eksperimental, dengan pendekatan kuantitatif,
antara unit satu dengan lainnya tidak efisien dalam deskriptif korelasi dan desain cross sectional.
pengerjaanya karena data yang diinput dibuat Populasi dan Sampel
berulang mulai dari admission, poliklinik dan Populasi dalam penelitian ini adalah
pelaporan di rekam medis. Sedangkan sistem semua pemberi pelayanan kesehatan yang
rekam medis secara terintegrasi dapat memberikan memberikan pelayanan kesehatan pada pasien di
kesempatan bagi tenaga profesional guna ruang perawatan RSUD Prof. Dr. H.M. Anwar
membuat keputusan korektif dan keputusan klinis Makkatutu Bantaeng. Sampel adalah Petugas
dalam rangka menganalisis dan mempertahankan kesehatan yaitu profesi dokter, perawat/bidan,
kondisi pasien. nutrisionis, dan fisioterafi di ruang perawatan
Melihat berbagai kenyataan yang ada interna, perawatan bedah, saraf, anak dan obgin
perlu dilakukan inovasi dalam pencatatan rekam yang terdiri 81 orang. Pengambilan sampel
medik, sehingga bisa berdampak pada mutu menggunakan pendekatan proportionate stratified
pelayanan kesehatan. Berdasarkan Komite random sampling.
Akreditasi Rumah Sakit di Indonesia yang Teknik Pengumpulan Data
mengacu kepada standar JCI, model rekam medik Data primer diperoleh dengan cara
terintegrasi merupakan standar penilaian mutu pengisian kuesioner dan observasi. Data sekunder
rumah sakit, sehingga setiap rumah sakit diperoleh dari instansi terkait yaitu RSUD Prof.
diharapkan dapat mengembangkan model ini demi Dr. H.M. Anwar Makkatutu Bantaeng
terpenuhinya standar mutu pelayanan kesehatan. Analisis dan Penyajian data
Salah satu bagian dari status pasien terintegrasi Analisa data dilakukan dengan program
adalah pelaksanaan catatan perkembangan pasien SPSS 21 for Windows dan uji statistik dengan
secara terintegrasi. menggunakan uji univariat dengan frekuensi, uji
bivariat chi-square, dan uji spearmen correlation.

86
IPC, Interprofessional Collaboration, Catatan perkembambangan pasien terintegrasi ISSN 2252-541

sebanyak 73 orang (90,1%) dan 8 orang dengan


HASIL kerjasama kurang (9,9%). Sebanyak 72 (88,9%)
Analisa Univariat responden memiliki kemitraan yang baik, dan
Tabel 1 menunjukkan bahwa sebagian kurang 9 orang (11,1%). Responden dengan
besar responden terdiri dari dewasa awal 56 orang koordinasi baik sebanyak 71 orang (87,7%)
(69,1%), mayoritas perempuan yaitu 62 orang selebihnya kurang (12,3%) atau 10 responden.
(76,5%). Berdasarkan lama kerja responden Dalam pengambilan keputusan bersama rata-rata
sebagian besar responden >3 tahun yaitu 60 orang responden memiliki data yang baik yaitu 91,4%
(74,1%). Responden berdasarkan pendidikan atau 74 orang, sedangkan yang kurang sebesar
terbanyak adalah D3 yaitu sebanyak 43 orang 8,6% atau sebanyak 7 orang dan pelaksanaan
(43,1%), berdasarkan profesi responden perawat catatan perkembangan pasien terintegrasi yang
50 orang (61,7%), bidan 13 orang (13,0%), dokter lengkap sebesar 91,4% atau 74 responden.
7 orang (8,6%), Fisioterapist 5 orang (6,2%),
nutrisionist 6 orang (7,4%). Pada masing-masing Tabel 2. Distribusi Responden Berdasarkan
variabel memperlihatkan hasil bahwa mayoritas Variabel Kolaborasi Interprofesional meliputi
responden dengan kerjasama yang baik yaitu Kerjasama, Kemitraan, Koordinasi, Pengambilan
sebanyak 73 orang (90,1%), kemitraan 72 Keputusan Bersama di RSUD Prof. Dr. H.M.
responden (88,9%) responden yang memiliki Anwar Makkatutu Bantaeng
koordinasi baik sebanyak 71 orang (87,7%),
dalam pengambilan keputusan bersama rata-rata Variabel Penelitian
Jumlah
n = 81 %
responden memiliki data yang baik yaitu 91,4% Kerjasama
atau 74 orang, dan pelaksanaan catatan Baik 73 90,1
perkembangan pasien terintegrasi sebesar 91,4% Kurang 8 9,9
Kemitraan
atau sebesar 74 responden. Baik 72 88,9
Kurang 9 1,1
Koordinasi
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Baik 71 87,7
Responden Tenaga Kesehatan Berdasarkan Umur, Kurang 10 12,3
Pengambilan Keputusan
Jenis Kelamin, Pendidikan, Lama Kerja, Dan Bersama
Jenis Profesi Di RSUD. Prof. Dr. H.M. Anwar Baik 74 91,4
Kurang 7 8,6
Makkatutu Kabupaten Bantaeng (N=81) Catatan perkembangan
Terintegrasi
Lengkap 74 91,4
Jumlah
Karakteristik
Tidak Lengkap 7 8,6
n % Sumber : Data Primer 2016

Umur Remaja akhir (17-25 thn) 10 12,3


Dewasa awal (26-35) 56 69,1 Analisa Bivariat
Dewasa akhir (36-45 thn) Lansia 12 14,8
awal (46-55 thn) 3 3,7 Tabel 3 menunjukkan nilai p=0,000,
Jenis Kelamin Laki-laki 19 23,5 (p<0,05) yang berarti ada hubungan antara
Perempuan 62 76,5 kerjasama dengan pelaksanaan catatan
Pendidikan D3 43 43,1 perkembangan pasien terintegrasi. Nilai korelasi
S1 12 14,8
S2 1 1,2 r=0,635 menunjukkan kekuatan korelasi kuat
Ners 18 22,2
Spesialis 7 8,6 dengan arah korelasi yang positif yang berarti
Lama kerja < 3 thn 21 25,9
semakin baik kerjasama dalam kolaborasi
> 3 thn
60 74,1 interprofesional maka semakin baik pula
pelaksanaan catatan perkembangan pasien
Profesi tenaga Dokter 7 8,6
Kesehatan 50 61,7 terintegrasi.
Perawat 13 16,0
6 7,4
Bidan
Nutrisionist
5 6,2 Tabel 3. Hubungan Kolaborasi Interprofesional
Fisioterafist Aspek Kerjasama, Kemitraan, Koordinasi,
Sumber : Data primer 2016
Pengambilan keputusan bersama Dengan
Pelaksanaan Catatan Perkembangan Pasien
Tabel 2 memperlihatkan bahwa mayoritas
Terintegrasi
responden dengan kerjasama yang baik yaitu

87
Yani Lestari ISSN 2252-541

Catatan Perkembangan Pasien


Terintegrasi
bersama dalam kolaborasi interprofesional maka
Jumlah Koefisien
Variabel Lengkap Tidak Lengkap korelasi
P semakin baik pula pelaksanaan catatan
n % n % n %
(r) perkembangan pasien terintegrasi.
Kerjasama

Baik 71 98,6 2 1,4 73 100,0


0,635 *0,000
PEMBAHASAN
Kurang 3 37,5 5 62,5 8 100,0 Penelitian ini menunjukkan ada hubungan
Total 74 96,3 7 3,7 81 100,0 antara kerjasama dalam tim kolaborasi
Kemitraan
interprofesional dengan pelaksanaan catatan
Baik 70 97,2 2 2,8 72 100,0
0,590 *0,000 perkembangan pasien terintegrasi. Meskipun hasil
Kurang 4 44,4 5 55,6 9 100,0
penelitian ini menunjukkan hubungan yang
Total 74 91,4 7 8,6 81 100,0
positif, namun secara klinis masih ada kerjasama
Koordinasi
Baik 70 98,6 1 1,4 71 100,0
yang baik yang melakukan catatan perkembangan
Kurang 4 40,0 6 60,0 10 100,0
pasien terintegrasi masih tidak lengkap yaitu 2
0,686 *0,000
Total 74 91,4 7 8,6 81 100,0
responden (1,4%) serta hasil observasi diperoleh
Pengambilan data yang sama. Sesuai dengan hasil penelitian
Keputusan Bersama
bahwa hal ini dipengaruhi oleh faktor kemampuan
Baik 71 95,9 3 4,1 74 100,0
yang dimiliki masing-masing profesi. Weaver
Kurang 3 42,9 4 57,1 7 100,0 0,531 *0,001
Total 74 91,4 7 8,6 81 100,0
(2008), mengungkapkan bahwa faktor utama dari
kerjasama tim untuk hasil yang efektif sangat
Sumber : Data Primer 2016
dipengaruhi oleh faktor anteseden, proses dan
hasil. Faktor-faktor tersebut merupakan sesuatu
Pada Interprofesional kolaborasi aspek
yang dapat meningkatkan maupun menghambat
kemitraan dengan uji Chi-Square menunjukkan
proses kerjasama dalam tim. Selain itu,
nilai p=0,000 (p<0,05) yang berarti bahwa ada
kolaborasi yang efektif akan tercapai apabila
hubungan antara kolaborasi interprofesional aspek
masing-masing anggota tim kesehatan merupakan
kemitraan dengan catatan perkembangan pasien
seorang pakar dalam profesinya masing-masing.
terintegrasi. Nilai korelasi r=0,590 menunjukkan
Kvarnstrom (2008), dalam penelitiaannya juga
kekuatan korelasi sedang dengan arah korelasi
menunjukkan bahwa konsekuensi yang dirasakan
yang positif yang berarti semakin baik kemitraan
pelaksanaan kerjasama dalam kolaborasi
dalam kolaborasi interprofesional maka semakin
interprofesional adalah pertama, pembatasan
baik pula pelaksanaan catatan perkembangan
penggunaan sumber daya kolaboratif untuk
pasien terintegrasi.
sampai pada pandangan holistik masalah pasien,
Hasil uji Chi-Square nilai p=0,000
kedua, ketidakmampuan untuk memberikan
(p<0,05) yang menunjukkan bahwa secara
perawatan pada pasien. Penelitian Zwarenstein et
statistik ada hubungan antara kolaborasi
al (2009), menunjukkan beberapa bukti berbasis
interprofesional aspek koordinasi dengan catatan
intervensi bahwa kolaborasi antar profesional
perkembangan pasien terintegrasi. Nilai korelasi
dapat meningkatkan hasil proses kesehatan pada
r=0,686 menunjukkan kekuatan korelasi kuat
pasien.
dengan arah korelasi yang positif yang berarti
Ada hubungan antara kolaborasi
semakin baik koordinasi dalam kolaborasi
profesional aspek kemitraan dengan pelaksanaan
interprofesional maka semakin baik pelaksanaan
catatan perkembangan pasien terintegrasi. Petugas
catatan perkembangan pasien terintegrasi.
kesehatan yang bermitra dalam satu tim kolaboasi
Interprofesinal Kolaborasi aspek
dapat meningkatkan pandangan pasien terhadap
pengambilan keputusan bersama deperoleh hasil
pelayanan yang diberikan dari komunikasi yang
uji statistik Chi-Square menunjukkan nilai
efektif termasuk didengarkan dan didorong,
p=0,001, (p<0,05) maka dapat disimpulkan ada
perasaan memahami dan memahami mengapa
hubungan antara Kolaborasi Interprofesional
mereka memiliki rasa sakit (May, 2008).
aspek pengambilan keputusan bersama dengan
Profesional kesehatan yang lebih peduli dengan
catatan perkembangan pasien terintegrasi dengan
apakah tujuan bersama bisa dicapai dengan
nilai korelasi r=0,531 memperlihatkan kekuatan
membangun saling pengertian dalam perawatan
korelasi sedang dengan arah korelasi yang positif
dan pengobatan pasien yang dilakukan secara
yang berarti semakin baik pengambilan keputusan

88
IPC, Interprofessional Collaboration, Catatan perkembambangan pasien terintegrasi ISSN 2252-541

bersama-sama (Jeffrey & Foster, 2012). Dalam berarti semakin baik pengambilan keputusan
penelitiannya Merrigan et al (2016), di rumah bersama dalam kolaborasi interprofesional maka
sakit anak Philadelphia menunjukkan bahwa semakin baik pelaksanaan catatan perkembangan
kemitraan dalam kolaborasi antar profesi untuk pasien terintegrasi. Pengambilan keputusan dalam
membantu rancangan, menilai, dan memajukan hal pengisian lembar catatan perkembangan
perawatan dalam pelayanan kepada pasien dan pasien terintegrasi menunjukkan paling banyak
keluarga. Penelitian Igumbor et al (2014), pada kategori baik (95,9%). Penelitian
menunjukkan kemampuan bermitra dokter dan Wahyuningsih (2013), menunjukkan bahwa
petugas kesehatan lainnya untuk secara efektif pengambilan keputusan memiliki pengaruh positif
mempertahankan hasil pengobatan dan perawatan terhadap kinerja para petugas kesehatan. Hal ini
pasien dan berpotensi memberikan kontribusi dapat dilihat pula pada hasil lembar observasi
untuk pengobatan pasien HIV dengan mekanisme bahwa lebih dari separuh petugas kesehatan dalam
dukungan yang relevan. Demikian pula penelitian pengisian lembar terintegrasi berada dalam
Bond et al (2012), menyimpulkan bahwa kategori lengkap. Penelitian Dominick et al
kemitraan dalam kolaborasi memiliki potensi (2012), menyimpulkan bahwa pengambilan
untuk meningkatkan akses, kualitas, dan efisiensi keputusan bersama dalam kolaborasi
dalam perawatan kesehatan. Kemitraan lebih interprofesional dalam hal perawatan pasien yang
tersebut harus dikembangkan dan dievaluasi tertuang dalam dokumentasi terintegrasi
secara mendalam, dan pelajaran yang dapat secara memerlukan waktu agak lama, kurangnya
luas dibagi untuk memandu para pembuat informasi berpusat pada pasien yang menjadi
kebijakan. tantangan struktural penting untuk pengambilan
Secara statistik diketahui ada hubungan keputusan bersama. Menurut penelitian
antara kolaborasi interprofesional aspek Moisoglou et al (2014), bahwa perawat dan
koordinasi dengan pelaksanaan catatan dokter tidak memiliki pandangan yang sama
perkembangan pasien terintegrasi. Kebutuhan mengenai efektivitas komunikasi dan peran dalam
mengkoordinasikan berasal dari berbagai proses pengambilan keputusan dari pasien perawat
spesialisasi. Aspek spesialisasi pengetahuan yang perawatan.
berbeda ini, membutuhkan penggabungan, berupa
transfer informasi secara medis dan sosial KESIMPULAN DAN SARAN
sehingga pelayanan yang diberikan kepada pasien Penelitian ini menyimpulkan secara
lebih komprehensif (Morris & Boussebbaas, statistik maupun secara klinik terdapat hubungan
2010). Sesuai dengan penelitian Perry & Robben interprofesional kolaborasi baik dari aspek
(2012), menyatakan bahwa dari hasil wawancara kerjasama, kemitraan, koordinasi maupun
banyak peserta wawancara yang mengungkapkan pengambilan keputusan bersama dengan
bahwa terjadi peningkatan kolaborasi antara para pelaksanaan catatan perkembangan pasien secara
profesional dengan disiplin lain. Hu (2014), dalam terintegrasi. Perlu pengembangan model
penelitiannya yang menggunakan pendekatan interprofesional kolaborasi yang baku di RSUD
multi metode untuk menganalisis dampak dari Prof. Dr. H.M. Anwar Makkatutu Kabupaten
pelayanan pasien secara terintegrasi dilayanan Bantaeng dan adanya kebijakan-kebijakan rumah
sosial dengan melibatkan berbagai profesi, sakit yang mendukung pelaksanaan IPC yang
diperoleh hasil bahwa koordinasi dengan berbagai dapat meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan
tim kesehatan lain dalam hal pelayanan terhadap dalam hal skill dan sikap yang mampu
pasien dapat meningkatkan perbaikan dalam berkolaborasi sehingga pelaksanaan IPC dapat
fungsi fisik dan meningkatkan kepuasan pasien lebih baik.Menyajikan efektifitas sistem teknologi
dari 82% menjadi 85%. informasi dalam melakukan pencatatan serta
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendokumentasian perkembangan pasien
secara statistik ada hubungan antara pengambilan terintegrasi menggunakan sistem komputerisasi
keputusan bersama dengan pelaksanaan catatan sebagai sarana komunikasi antar tim kesehatan
perkembangan pasien terintegrasi (p=0,001). Nilai khususnya keperawatan dalam pemberian asuhan
korelasi r=0,531 menunjukkan kekuatan korelasi keperawatan secara komprehensif dan profesional.
sedang dengan arah korelasi yang positif yang Dibuatkan sistem pengembangan Sumber Daya

89
Yani Lestari ISSN 2252-541

Manusia (SDM) dengan melakukan berbagai Explorative, Qualitative Stud Into Patients’
program pelatihan berkesinambungan dan Satisfaction With Physiotherapy.
pendidikan terkait IPC dan pelaksanaan catatan Physiotherapy 87,10–20.
perkembangan pasien terintegrasi kepada seluruh Moisoglou I., Gikopolou D., Lazakidou A., &
tenaga kesehatan yang terlibat. Meningkatkan Prezerakos P. (2014). The Assessment Of
kerjasama perawat, dokter maupun tenaga Nurses’ Work Environment: The Case of a
kesehatan lainnya dalam kegiatan formal dan Greek General Hospital. Hemodialysis Unit,
informal untuk menjalin keakraban dan General Hospital of Lamia: Greece.
komunikasi yang efektif.Penelitian terkait Merrigan K., Elizabeth A., & Steinmiller. (2016).
interprofesional kolaborasi dan pelaksanaan Kids Care: A Behavioral Model To
catatan perkembangan terintegrasi masih jarang Strengthen Patient And Familypartnerships:
dilakukan, diharapkan ke depan penelitian dengan Family Matters.
topik ini akan lebih banyak. Mishra D. (2015). Understanding Security
Failures of Two Autenthication and Key
DAFTAR PUSTAKA Agreement Schemes for Telecare Medicine
Bond C., Alison B., & David K. (2012). Information System. Springer Science
Prescribing And Partnership With Patients: Business Media: New York.
British Journal Of Clinical Pharmacology. Morris F. & Boussebbaas. (2010). Coordination
DOI:10.1111/j.1365-2125.2012.04330.x Of Physicians' Operational Activities: A
Dominick L., Suepattra G., May R., Caroline T., Contingency Perspective.
& Glyn E. (2012) Authoritarian Physicians doi.10.1108/01443571111111919.
AndPatients’ Fear Of Being Pohan I. (2015). Jaminan mutu Layanan
Labeled‘Difficult’ Among Key ObstaclesTo Kesehatan : Dasar-dasar Pengertian dan
Shared Decision Making: Health Affairs DOI Penerapan. EGC: Jakarta.
10.1377.2011.0576. Pomey. (2010). Does Accreditation Stimulate
Hu X. (2014). The Effect of Breast Cancer Health Change? A Study of Impact of the
Education on Knowledge, Attitudes, and Accreditation Process on Canadian Health
Practice: Community Health Center. Journal Care Organizations. Licensee BioMed
Cancer Education. 29:375-381 DOI Central Ltd.
10.1007/s13187-014-0622-1. Perry & Robben. (2012). Impact Of
Igumbor J., Pascoe S., Rajap S., Townsend W., & Interprofessional Education On
Sargent J. (2014). A South African Public- Collaboration Attitudes, Skills, And Behavior
Private Partnership HIV Treatment Model: Among Primary Care Professionals. Issue
Viability and SuccessFactors Journal Of Continuing Education In The
Jeffrey J. & Foster N. (2012). A Qualitative Health Professions 32 (3) 196–204.
Investigationof Physical Therapists’ Wahyuningsih. (2013). Kepercayaan Dan
Experiences And Feelings Of Pengambilan Keputusan Terhadap Kinerja
Managingpatients With Nonspecific Low Perawat. 2nd International Seminar on
Back Pain. Physical Therapy Quality and Affordable Education (ISQAE
Kvarnstrom S. (2008). Difficulties In 2013).
Collaboration: A Critical Incident Study Of Weaver T. (2008). Enhancing Multiple
Interprofessional Healthcare Teamwork: Disciplinary Teamwork. Nursing Outlook,
Journal Of Interprofessional Care. 22(2): 56(3), pp.108-114.e2.
191 – 203. Zwarenstein M., Goldman J., & Reeves S. (2009).
Komisi Akreditasi Rumah Sakit. (2012). Panduan Interprofessional collaboration:effects of
Penyusunan Dokumen Akreditasi. 2012 practice-based interventions on professional
May S. (2008). Patient Satisfaction With practice and healt care outcomes.
Management Ofback Pain Main. Part 2: An doi:10.1002/14651858.CD000072.

90