Anda di halaman 1dari 15

Gaya Kognitif

Gaya Kognitif

Setiap individu mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Oleh karena itu, cara
seseorang dalam bertingkah laku, menilai, dan berpikir akan berbeda pula. Labunan (2004)
menyatakan: setiap individu memiliki cara-cara tersendiri yang dilakukan dalam menyusun
dalam pikirannya, apa yang dilakukan, dilihat, diingat dan apa yang dipikirkan. Individu akan
memiliki cara-cara yang berbeda atas pendekatan yang dilakukannya terhadap situasi belajar,
dalam cara mereka menerima, mengorganisasikan, serta menghubungkan pengalaman-
pengalamam mereka dalam cara mereka merespon terhadap metode pengajaran tertentu.
Perbedaan ini bukanlah merupakan suatu tingkat kemampuan seseorang namun merupakan
suatu bentuk kemampuan individu dalam memproses dan menyusun informasi serta cara
individu untuk tanggap terhadap stimulus yang ada di lingkungannya. Perbedaan-perbedaan
yang menetap pada setiap individu dalam cara mengolah informasi dan menyususnya dari
pengalaman-pengalamannya lebih dikenal dengan gaya kognitif.

Jadi dapat dikatakan gaya kognitif adalah cara setiap individu dalam menerima,
mengoraganisasikan, merespon, mengolah informasi dan menyusunnya berdasarkan
pengalaman-pengalaman yang dialaminya berdasarkan kajian psikologis menurut Nurdin
(2005), ada perbedaan cara orang memproses dan mengorganisasikan kegiatannya, dengan
demikian perbedaan tersebut akan mempengaruhi kuantitas serta kualitas dari kegiatan yang
dilakukan, termasuk kegiatan yang dilakukan siswa di sekolah perbedaan inilah yang disebut
dengan gaya kognitif (cognitif style).

Lebih lanjut Nurdin (2005) menyatakan bahwa gaya kognitif mengacu pada cara orang
memperoleh informasi dan memakai strategi untuk merespon suatu stimulus dari luar. Disebut
sebagai gaya kognitif dan tidak sebagai kemampuan karena merujuk pada bagaimana
sesorang memperoleh informasi serta memecahkan masalah. Dan bukannya mengacu pada
bagaimana seseorang untuk memperoleh cara yang terbaik dalam memproses informasi dan
memecahkan masalah.
Gaya kognitif merujuk pada cara seseorang memproses, menyimpan, maupun
menggunakan informasi untuk menanggapi suatu tugas atau menanggapi berbagai jenis
situasi lingkungannya. Ada beberapa pengertian tentang cognitive styles/gaya kognitif yang
dikemukakan oleh beberapa ahli, namun pada prinsipnya pengertian tersebut relatif sama.
Coop (dalan Nurdin, 2005) mengemukakan bahwa istilah gaya kognitif mengacu pada
kekonsistenan pemolaan (patterning) yang ditampilkan seseorang dalam menanggapi
berbagai jenis situasi. Juga mengacu pada pendekatan intelektual dan atau strategi dalam
menyelesaikan masalah. Thomas (1990) mengemukakan bahwa cognitive styles merujuk
pada cara seseorang memproses informasi dan menggunakan strategi untuk menanggapi
suatu tugas. Woolfolk (1993) mengemukakan bahwa cognitive styles adalah bagaimana
seseorang menerima dan mengorganisasikan informasi dari dunia sekitarnya.

Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat dikatakan bahwa yang dimaksud dengan
cognitive styles adalah cara seseorang dalam memproses, menyimpan, maupun
menggunakan informasi untuk menanggapi suatu tugas atau menanggapi berbagai jenis
situasi lingkungannya. Salah satu dimensi gaya kognitif yang secara khusus perlu
dipertimbangkan dalam pendidikan, adalah gaya kognitif yang dibedakan berdasarkan
perbedaan psikologis yakni: gaya kognitif field-independent dan field-dependent. Gaya
kognitif field-dependent dan field independent perlu dipertimbangkan dalam pembelajaran
mengingat adanya kesesuaian antara kedua gaya kognitif field-independent dan field-
dependent.

Kesesuaian yang dimaksud yaitu hubungan antara gaya kognitif field-dependent dan
orientasi sesama atau menonjolnya solidaritas (rasa kebersamaan, kooperatif). Kesesuaian
gaya kognitif field-independent dalam hakikat hubungan antara manusia dan manusia, yaitu
orientasi individual yang muncul secara dominan yakni orientasi yang pada dasarnya
menghargai kemampuan individual dalam meraih prestasi.

Tiap orang akan memiliki gaya kognitif yang berbeda-beda dalam memecahkan
masalah. Berbagai gaya kognitif tersebut merupakan suatu sifat kepribadian yang relatif
menetap sehingga dapat dipakai untuk menjelaskan prilaku seseorang dalam menghadapi
berbagai situasi. Menurut Abdurrahman (1999) menyatakan ada dua dimensi yang mendapat
perhatian besar dalam pengkajian anak dalam berkesulitan belajar yaitu dimensi gaya kognitif
keterikatan dan ketidakterikatan pada lingkungan (field dependent dan field independent).
Cakan (2006) mengemukakan, gaya kognitif (cognitive style), memiliki arti yang berbeda
dengan gaya belajar (learning style). Gaya belajar merupakan cara orang untuk memperoleh
informasi, sedangkan gaya kognitif memiliki arti yang lebih luas yaitu mengacu pada cara
orang memperoleh informasi dan memandang lingkungan sekitarnya sebagai stimulus dan
berinteraksi didalamnnya.

Gaya kognitif yang dimaksud dalam penelitian ini adalah gaya kognitif field
independent dan gaya kognitif field dependent. Gaya kognitif field dependent didefinisikan
sebagai persepsi siswa untuk memperoleh informasi yang dipengaruhi oleh lingkungan
sekitarnya, sedangkan karakteristik siswa yang tidak terpengaruh lingkungan dinamakan gaya
kognitif field independent.

1) Gaya kognitif Field-independent

Salah satu gaya kognitif yang mempengaruhi karakteristik individu adalah gaya
kognitif field independent. Witkin, dkk (dalam Candiasa, 2002) mengklarifikasikan beberapa
karakteristik individu yang memiliki gaya kognitif field-independent, antara lain: (1) memiliki
kemampuan menganalisis untuk memisahkan objek dari lingkungan sekitar, sehingga
persepsinya tidak terpengaruh bila lingkungan mengalami perubahan; (2) mempunyai
kemampuan mengorganisasikan objek-objek yang belum terorganisir dan mereorganisir
objek-objek yang sudah terorganisir; (3) cenderung kurang sensitif, dingin, menjaga jarak
dengan orang lain, dan individualistis; (4) memilih profesi yang bisa dilakukan secara individu
dengan materi yang lebih abstrak atau memerlukan teori dan analisis; (5) cenderung
mendefinisikan tujuan sendiri, dan (6) cenderung bekerja dengan mementingkan motivasi
intrinsik dan lebih dipengaruhi oleh penguatan instrinsik.

Dari karakteristik tersebut dapat diketahui bahwa individu yang memiliki gaya kognitif
field independent mempunyai kecenderungan dalam respon stimulus menggunakan persepsi
yang dimilikinya sendiri dan lebih analitis.
Lebih lanjut Musser (dalam Sugiarthawan, 2007): menjelaskan kondisi pembelajaran
yang memungkinkan siswa yang memiliki gaya kognitif field independent belajar secara
maksimal antara lain: (1) pembelajaran yang menyediakan lingkungan belajar secara
individual; (2) disediakan lebih bayak kesempatan untuk belajar dan menemukan sendiri suatu
konsep atau prinsip; (3) disediakan lebih banyak sumber dan materi belaja; (4) pembelajaran
yang hanya sedikit memberikan petunjuk dan tujuan; (5) mengutamakan instruksi dan tujuan
secara individual; (6) disediakan kesempatan untuk membuat ringkasan, pola, atau peta
konsep berdasarkan pemikirannya.

Slameto (2003) mengatakan bahwa seseorang dengan gaya kognitif field independent
cenderung menyatakan suatu gambaran lepas dari latar belakang gambaran tersebut, serta
mampu membedakan obyek-obyek dari konteks sekitarnya lebih mudah.

2) Gaya kognitif Field-dependent

Selain gaya kognitif field independent, gaya kognitif yang dapat mempengaruhi
individu adalag gaya kognitif field dependent. Witkin, dkk (dalam Candiasa, 2002):
mengklarifikasikan beberapa karakteristik individu yang memiliki gaya kognitif field-dependent,
antara lain: (1) cenderung berpikir global, mamandang objek sebagai satu kesatuan dengan
lingkungannya, sehingga persepsinya mudah terpengaruh oleh perubahan lingkungan; (2)
cenderung menerima struktur yang sudah ada karena kurang memiliki kemampuan
merestrukturisasi; (3) memiliki orientasi sosial, sehingga tampak baik hati, ramah, bijaksana,
baik budi dan penuh kasih sayang terhadap individu lain; (4) cenderung memilih profesi yang
menekankan pada keterampilan sosial; (5) cenderung mengikuti tujuan yang sudah ada; dan
(6) cenderung bekerja dengan mengutamakan motivasi eksternal dan lebih tertarik pada
penguatan eksternal, berupa hadiah, pujian atau dorongan dari orang lain.

Dari karakteristik tersebut tampak bahwa individu field dependent mempunyai


kecenderungan dalam merespon suatu stimulus menggunakan syarat lingkungan sebagai
dasar persepsinya, dan cenderung memandang suatu pola sebagai suatu keseluruhan serta
tidak memisahkan bagian-bagiannya. Slameto (2003) mengatakan bahwa seseorang yang
memiliki gaya kognitif field dependent menerima sesuatu secara global dan mengalami
kesulitan dalam memisahkan diri dari keadaan sekitarnya. Candiasa (2002) menyatakan:
gaya kognitif bersifat bipolar yaitu memiliki dua kutub, namun tidak menunjukkan adanya
keunggulan salah satu kutub terhadap kutub yang lainnya. Masing-masing kutub cenderung
memiliki nilai positif pada situasi tertentu, atau sebaliknya cenderung memiliki nilai negatif
pada situasi yang lain.Sehingga dalam beberapa model-model pembelajaran terdapat
keunggulan-keunggulan yang dimilki siswa selama proses belajar atas perbedaan
karakteristik yang mereka miliki.

Model-model Yang Berkaitan Dengan Gaya Pembelajaran

1. Model Gaya Pembelajaran Honey & Mumford

Menurut Honey dan Mumford (1992), pembelajaran telah berlaku apabila manusia
boleh mempamerkan sesuatu yang baru, sama ada dalam bentuk pemahaman, kesedaran,
kemahiran. Kecenderungan ini termasuklah kecenderungan untuk memiliki pengalaman
semasa mempelajari sesuatu, kecenderungan untuk mengimbas kembali, kecenderungan
untuk membuat kesimpulan dan kecenderungan memastikan implementasi.

Selain itu, Honey & Mumford menekankan gaya pembelajaran didefinisikan sebagai
penerangan ke atas sikap dan individu yang mengamalkannya. Oleh itu, sikap dan tingkah
laku akan menentukan jenis gaya pembelajaran seseorang murid.

Honey dan Mumford (1983) membahagikan sikap dan tingkah laku kepada 4
kumpulan iaitu:

1. Aktivis 3. Teoris

2. Reflektif 4. pragmatis

Murid yang mempunyai gaya pembelajaran aktivis merupakan murid yang


mempunyai sikap ingin mencuba sesuatu yang baru dan kehidupan mereka adalah penuh
dengan aktiviti yang mencabar supaya dapat memberi pengalaman yang baru kepada
mereka. Selain itu, jenis murid ini mudah membuat sesuatu tanpa memikir panjang kerana
mereka tidak akan mengambil kira kesan pada sesuatu perkara. Murid jenis ini dapat bekerja
dengan berdikari kerana mereka tidak perlu dorongan daripada orang lain. Pada
keseluruhannya, murid jenis ini merupakan seorang yang peramah dan suka bersosial tetapi
aktiviti yang dilakukan sering tertumpu pada persekitaran diri sendiri.

Di samping itu, murid yang mempunyai gaya pembelajaran reflektif berminat dalam
mengulas pengalaman dan suka membuat pemerhatian, memikir dan membuat refleksi
kendiri terhadap apa yang ada di persekitaran. Murid yang reflektif akan sentiasa mengimbas
kembali terhadap keputusan yang belum diambil ataupun telah diambil. Sikap mereka tidak
terburu-buru untuk membuat keputusan dan mereka suka mencari hakikat yang sebenar.
Selain itu, mereka akan mengumpulkan maklumat yang banyak berkaitan dengan
pembelajaran dan membuat analisis pengalaman tersebut. Biasanya, mereka akan kerja
dengan sistematik iaitu langkah demi langkah supaya mengelakkan membuat kesilapan.
Persepsi dan pengamatan mereka agak tajam dan sensitif. Dengan itu, mereka sering
melibatkan diri dalam mata pelajaran Sains yang membuat kesimpulan berdasarkan
pemerhatian sendiri dan pemerhatian orang lain.

Murid yang mempunyai gaya pembelajaran teoris sentiasa memiliki fikiran yang
rasional dan logikal. Mereka mudah terangsang dengan teori dan model dan sistem pemikiran
yang praktikal atau menerima unsur logik. Selain itu, mereka merupakan golongan yang
kurang kreatif dan suka membentuk hipotesis daan mengkaji fenomena yang berlaku di
persekitaran mereka. Pada keseluruhannya, mereka akan sentiasa menggunakan teori untuk
membuat kesimpulan serta lebih mementingkan rumusan yang berdasarkan bukti, analisis ,
kenyataan atau idea yang wujud.

Murid yang mengamalkan gaya pembelajaran pragmatis memiliki fikiran yang


rasional dan logikal terhadap pembelajaran mereka. Mereka hanya pentingkan bukti dan
hakikat yang dapat dilihat oleh mereka sendiri. Perbandingan dengan perkara lain juga sering
dibuat supaya mereka dapat mencari jawapan yang paling tepat. Selain itu, mereka gemar
mencuba idea , teori dan teknik untuk menguji sama ada ia berguna atau tidak dalam situasi
yang sebenar. Kebanyakan golongan ini terdiri daripada lelaki yang banyak menggunakan
otak kanak yang mementingkan logikal.

2. Model Gaya Pembelajaran Dunn & Dunn

Mengikut Dunn & Dunn (1981), gaya pembelajaran merujuk kepada keadaan di
mana murid-murid belajar dengan cara yang paling optima. Mengikut Dunn (2000), ramai
orang mempunyai kaedah unik untuk mempelajari sesuatu. Menurut D, suhu dan reka bentuk
semasa pembelajaran amat mempengaruhi pembelajaran seseorang murid. Ada sesetengah
murid lebih suka belajar di tempat yang sunyi dan tiada bunyi bising, tetapi ada murid yang
suka memasang radio sementara mereka membaca buku. Contoh yang lain seperti, ada
murid yang suka tempat yang cerah dan suhu yang tinggi untuk pembelajaran yang berkesan
pada mereka, namun ada murid yang tidak suka tempat cerah, tetapi mereka inginkan tempat
yang gelap dan sejuk untuk mencapai objektif pembelajaran mereka. Reka bentuk seseorang
individu juga amat berpengaruh gaya pembelajaran individu itu sendiri. Sebagai contohnya,
murid yang mempunyai personaliti introvert adalah berbeza dengan murid yang extrovert.
Murid yang mempunyai cirri introvert lebih suka pada gaya pembelajaran yang lebih formal
dan memerlukan satu tempat khas yang ada meja dan kerusi untuk mereka. Manakala murid
yang extrovert lebih suka belajar di tempat yang lebih tidak formal seperti di atas lantai, di
taman bunga dan sebagainya.

Dengan ini, suasana persekitaran yang berbeza akan melahirkan gaya pembelajaran
yang berbeza. Oleh itu, setiap individu mempunyai rutin pembelajaran yang berbeza. Sebagai
seorang pendidik, tidak boleh memaksa murid-murid menerima cara pembelajaran yang
tertentu sahaja.

Faktor yang kedua adalah emosi sendiri murid tersebut. Sebagai contohnya,motivasi,
usaha, tanggungjawab dan keperluan untuk struktur dan fleksibiliti. Motivasi seseorang yang
merupakan daya penggerak utama yang menjamin kejayaan seseorang. Motivasi dapat
dibahagikan kepada dua jenis iaitu motivasi ekstrinsik dan motivasi instrinsik. Motivasi
ekstrinsik adalah motivasi yang dipaksa atau didesak untuk mendapatkan ganjaran atau
markah yang tinggi manakala motivasi instinsik adalah motivasi yang lebih kepada dorongan
dalaman seperti keperluan, sikap dan emosi yang semula jadi yang menyebabkan mereka
turut serta dalam proses pembelajaran. Di samping itu, struktur adalah suatu peraturan yang
spesifik yang digunakan untuk melaksanakan tugasan atau kerja. Arahan guru yang jelas dan
berstruktur amat penting kepada pelajar dalam proses pembelajaran tetapi ada murid yang
suka gaya pembelajaran yang bebas. Oleh itu, sebagai seorang guru harus memberi
perhatian kepada murid yang mempunyai pelbagai jenis struktur pembelajaran. Sementara
itu, ada murid yang berasa dirinya mempunyai tanggungjawab yang besar dalam
pembelajaran maka murid tersebut akan berusaha dan sentiasa melaksanakan tugas dengan
baik. Tetapi ada sesetengah murid yang berasa tanggungjawab mereka bukan di
pembelajaran, maka mereka akan mengabaikan pembelajaran mereka begitu sahaja.

Faktor sosiologi dipengaruhi oleh diri sendiri,pasangan, rakan sebaya, pasukan dan
lain-lain. Terdapat murid yang suka bersendirian dan belajar dengan sendiri tanpa bergaul
dengan orang lain. Mereka percaya bahawa lebih mampu belajar tanpa gangguan orang lain.
Selain itu, ada juga murid yang suka belajar dengan berpasangan. Hal ini kerana mereka
rasa lebih suka belajar dengan kehadiran kawan baiknya yang dapar berinteraksi dua hala.
Sementara itu, belajar dalam kumpulan juga merupakan gaya pembelajaran yang amat
popular dan digalakkan kerana murid-murid akan lebih bermanfaat dalam memberi idea. Bagi
faktor orang dewasa pula, banyak dipraktik di sekolah atau di rumah. Murid-murid lebih
cenderung menanya soalan yang mereka tidak faham kepada orang dewasa. Oleh itu, gaya
pembelajaran ini juga amat berkesan bagi murid-murid dalam proses pembelajaran.

Faktor fizikal seperti persepsi pancaindera, makanan dan minuman,waktu atau


tempoh belajar dan pergerakan. Seseorang itu akan menggunakan kesemua pancaindera
dalam proses mengingati maklumat. Sebagai contohnya, melalui auditif, dapat membantu
murid mengeluarkan bunyi untuk mendengar dan mengingati semasa proses pembelajaran.
Visual pula membolehkan murid belajar melalui pengamatan kepada asosiasi visual yang kuat
dan cenderung untuk melihat gambar yang menarik. Taktual adalah melalui sentuhan semasa
pembelajaran, dengan menggunakan cara ini murid akan mudah mengingati apa yang
dibelajari. Seterusnya adalah kinestetik yang belajar melalui hasil kerja dan pengerakan.
Selain itu, terdapat murid yang makan dan minum sementara mereka belajar atau membuat
kerja. Ini dapar mengurangkan tekanan mereka dalam proses pengajaran dan pembelajaran.
Faktor yang seterusnya adalah tempoh belajar seseorang murid. Terdapat murid yang hanya
dapat belajar dan memberi fokus pada waktu pagi sahaja dan ada yang dapat memberi
perhatian pada waktu perdananya sendiri. Oleh itu, waktu pembelajaran yang agak berbeza
bagi setiap murid. Ada murid yang gemar melakukan pergerakan setelah seketika untuk
belajar. Oleh itu, waktu rehat menjadi keperluan kepada murid-murid untuk merehat dan
melakukan pergerakan supaya fokus dapat diberi kepada pembelajaran yang seterusnya.

Faktor yang terakhir adalah faktor psikologi yang menekankan reflektif dan impulsif ,
global dan analitikal. Murid yang mengamalkan gaya pembelajaran impulsif suka belajar
dengan cepar dan tidak suka membuat sebarangan persediaan awal manakala murid yang
bersifat reflektif adalah lebih berhati-hati semasa membuat sesuatu dan akan memikir dengan
lebih mendalam sebelum melibatkan diri dalam proses pembelajaran. Di samping itu, murid
jenis analitikal suka belajar dalam persekitaran yang cerah dan lebih formal manakala murid
jenis global lebih suka belajar dalam persekitaran yang suram dan duduk secara tidak formal
seperti di atas sofa dan lantai.

Implikasi Gaya Pembelajaran terhadap Pengajaran & Pembelajaran


Pengetahuan terhadap gaya pembelajaran amatlah penting dan guru
hendaklah memahami gaya pembelajaran setiap murid dalam kelas. Hal ini kerana,dapat
membantu guru memahami perkembangan dan penguasaan murid-murid terhadap
pengajaran dan pembelajaran yang di sampaikan. Selain itu, juga dapat membantu guru
menjadi lebih sensitive terhadap perbezaan setiap murid di sekolah.

Selain itu, gaya pembelajaran penting dalam proses pengajaran dan


pembelajaran kerana dapat membantu guru mencipta pengalaman dan menjadi satu panduan
untuk mencipta pengajaran yang sesuai bagi murid-murid. Selepas guru memahami gaya
pembelajaran murid dalam kelas, aktiviti yang dirancang juga sepadan dengan gaya
pembelajaran murid. Dengan ini juga dapat meningkatkan keberkesanan pengajaran dan
pembelajaran.

Setiap murid mempunyai gaya pembelajaran yang tersendiri atau seseorang


murid mungkin mempunyai lebih daripada satu gaya pembelajaran. Oleh itu, selepas
mengenal pasti gaya pembelajaran masing-masing, guru perlulah membahagikan murid-
murid dalam kumpulan yang homogen bagi membolehkan pengajaran dan pembelajaran
berfungsi secara efektif.

Selain itu, murid yang mempunyai gaya pembelajaran yang berlainan akan
mendapat pencapaian akademik yang lebih tinggi jika berbanding dengan murid yang hanya
mempunyai satu atau dua gaya pembelajaran. Hal ini kerana, murid yang lebih gaya
pembelajaran lebih fleksibel serta boleh ubah dan tidak terikat dengan gaya pembelajaran
yang tertentu sahaja.

Gaya pembelajaran lelaki dan perempuan adalah tidak sama atau berbeza,
kerana murid lelaki lebih suka pada gaya pembelajaran yang lebih mencabar seperti gaya
pembelajaran gaya global yang sukakan tempat yang suram dan kedudukan yang tidak formal
manakala murid perempuan sukakan pembelajaran gaya analitikal yang sukakan persekitaran
yang terang dan kedudukan yang formal. Jadi, guru hendaklah mengambil berat terhadap
keperluan-keperluan setiap murid dalam kelas.

I. Pengertian Teori Kecerdasan Emosi Menurut Daniel Goleman

Beberapa tokoh mengemukakan tentang teori kecerdasan emosional antara lain,


Mayer & Salovey dan Daniel Goleman. Salovey dan Mayer mendefinisikan kecerdasan
emosional atau yang sering disebut EQ sebagai, “himpunan bagian dari kecerdasan sosial
yang melibatkan kemampuan memantau perasaan sosial yang melibatkan kemampuan pada
orang lain, memilah-milah semuanya dan menggunakan informasi ini untuk membimbing
pikiran dan tindakan.”. Menurut Goleman, kecerdasan emosional adalah kemampuan
seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi (to manage our emotional life
with intelligence); menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya (the appropriateness of
emotion and its expression) melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi
diri, empati dan keterampilan sosial.

Daniel Goleman mengatakan bahwa koordinasi suasana hati adalah inti dari
hubungan sosial yang baik. Apabila seseorang pandai menyesuaikan diri dengan suasana
hati individu yang lain atau dapat berempati, orang tersebut akan memiliki tingkat
emosionalitas yang baik dan akan lebih mudah menyesuaikan diri dalam pergaulan sosial
serta lingkungannya. Lebih lanjut Goleman mengemukakan bahwa kecerdasan emosional
adalah kemampuan lebih yang dimiliki seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan dalam
menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasan, serta mengatur
keadaan jiwa. Dengan kecerdasan emosional tersebut seseorang dapat menempatkan
emosinya pada porsi yang tepat, memilah kepuasan dan mengatur suasana hati. Daniel
Goleman (Emotional Intelligence) menyebutkan bahwa kecerdasan emosi jauh lebih berperan
ketimbang IQ atau keahlian dalam menentukan siapa yang akan jadi bintang dalam suatu
pekerjaan.

II. Lima Dasar Kemampuan dalam Teori Kecerdasan Emosi Menurut Daniel Goleman

a. Mengenali Emosi Diri

Mengenali emosi diri sendiri merupakan suatu kemampuan untuk mengenali perasaan
sewaktu perasaan itu terjadi. Kemampuan ini merupakan dasar dari kecerdasan emosional,
yakni kesadaran seseorang akan emosinya sendiri. Kesadaran diri membuat kita lebih
waspada terhadap suasana hati maupun pikiran tentang suasana hati, bila kurang waspada
maka individu menjadi mudah larut dalam aliran emosi dan dikuasai oleh emosi. Kesadaran
diri memang belum menjamin penguasaan emosi, namun merupakan salah satu prasyarat
penting untuk mengendalikan emosi sehingga individu mudah menguasai emosi.

b. Mengelola Emosi

Mengelola emosi merupakan kemampuan individu dalam menangani perasaan agar


dapat terungkap dengan tepat, sehingga tercapai keseimbangan dalam diri individu. Menjaga
agar emosi yang merisaukan tetap terkendali merupakan kunci menuju kesejahteraan emosi.
Emosi berlebihan, yang meningkat dengan intensitas terlampau lama akan mengoyak
kestabilan kita . Kemampuan ini mencakup kemampuan untuk menghibur diri sendiri,
melepaskan kecemasan, kemurungan atau ketersinggungan dan akibat-akibat yang
ditimbulkannya serta kemampuan untuk bangkit dari perasaan-perasaan yang menekan.

c. Memotivasi Diri Sendiri

meraih Prestasi harus dilalui dengan dimilikinya motivasi dalam diri individu, yang
berarti memiliki ketekunan untuk menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan
dorongan hati, serta mempunyai perasaan motivasi yang positif, yaitu antusianisme, gairah,
optimis dan keyakinan diri.

d. Mengenali Emosi Orang Lain

Kemampuan untuk mengenali emosi orang lain disebut juga empati. Menurut Goleman
kemampuan seseorang untuk mengenali orang lain atau peduli, menunjukkan kemampuan
empati seseorang. Individu yang memiliki kemampuan empati lebih mampu menangkap
sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan orang
lain sehingga ia lebih mampu menerima sudut pandang orang lain, peka terhadap perasaan
orang lain dan lebih mampu untuk mendengarkan orang lain.

e. Membina Hubungan

Kemampuan dalam membina hubungan merupakan suatu keterampilan yang


menunjang popularitas, kepemimpinan dan keberhasilan antar sesama. Keterampilan dalam
berkomunikasi merupakan kemampuan dasar dalam keberhasilan membina hubungan.
Terkadang manusia sulit untuk mendapatkan apa yang diinginkannya dan sulit juga
memahami keinginan serta kemauan orang lain.

III. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kecerdasan Emosi

a. Faktor Internal.

Faktor internal adalah apa yang ada dalam diri individu yang mempengaruhi
kecerdasan emosinya. Faktor internal ini memiliki dua sumber yaitu segi jasmani dan segi
psikologis. Segi jasmani adalah faktor fisik dan kesehatan individu, apabila fisik dan kesehatan
seseorang dapat terganggu dapat dimungkinkan mempengaruhi proses kecerdasan
emosinya. Segi psikologis mencakup didalamnya pengalaman, perasaan, kemampuan
berfikir dan motivasi.

b. Faktor Eksternal.

Faktor ekstemal adalah stimulus dan lingkungan dimana kecerdasan emosi


berlangsung. Faktor ekstemal meliputi: 1) Stimulus itu sendiri, kejenuhan stimulus merupakan
salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam memperlakukan
kecerdasan emosi tanpa distorsi dan 2) Lingkungan atau situasi khususnya yang
melatarbelakangi proses kecerdasan emosi. Objek lingkungan yang melatarbelakangi
merupakan kebulatan yang sangat sulit dipisahkan.

IV. Cara Meningkatkan Kecerdasan Emosional

1. Membaca situasi

Dengan memperhatikan situasi sekitar, kita akan mengetahui apa yang harus
dilakukan.

2. Mendengarkan dan menyimak lawan bicara

Dengarkan dan simak pembicaraan dan maksud dari lawan bicara, agar tidak terjadi
salah paham serta dapat menjaga hubungan baik.

3. Siap berkomunikasi

Jika terjadi suatu masalah, bicarakanlah agar tidak terjadi salah paham.

4 . Tak usah takut ditolak

Setiap usaha terdapat dua kemungkinan, diterima atau ditolak, jadi siapkan diri dan
jangan takut ditolak.

5. Mencoba berempati

EQ tinggi biasanya didapati pada orang-orang yang mampu berempati atau bisa
mengerti

situasi yang dihadapi orang lain.


6. Pandai memilih prioritas

Ini perlu agar bisa memilih pekerjaan apa yang mendesak, dan apa yang bisa

ditunda.

7. Siap mental

Situasi apa pun yang akan dihadapi, kita harus menyiapkan mental sebelumnya.

8. Ungkapkan lewat kata-kata

Katakan maksud dan keinginan dengan jelas dan baik, agar dapat salaing mengerti.

9. Bersikap rasional

Kecerdasan emosi berhubungan dengan perasaan, namun tetap berpikir rasional.

10. Fokus

Konsentrasikan diri pada suatu masalah yang perlu mendapat perhatian. Jangan

memaksa diri melakukannya dalam 4-5 masalah secara bersamaan.

Teori Triarchic Sternberg

Disediakan oleh : Ismail Al-Bahanj

Ahli psikologi dari Universiti Yale, Robert Sternberg, menganggap kecerdasan adalah
sesuatu yang bersangkut paut dengan pemprosesan informasi. Dia menkaji bagaimana
informasi 'mengalir' ke dalam diri kita justeru bagaimana informasi ini berubah mengikut
keperluan lingkungan kita. Analisis yang dilakukannya akhirnya muncul sebagai model
kecerdasan bercabang tiga (atau triarchic). Cabang-cabang yang dinyatakannya adalah
komponen (componential), pengalaman (experiential) dan konteks (contextual).
Sternberg mengakui bahawa seseorang individu tidak semestinya mempunyai satu
sahaja kecerdasan yang disebutkannya. Ada individu yang mempunyai integrasi ketiga-tiga
cabang kecerdasan ini dengan menunjukkan tahap kecerdasan yang tinggi.

Kecerdasan Komponen (Componential Intelligence)

Kecerdasan seseorang individu seperti aku dalam bidang akademik bolehlah dipanggil
sebagai kecerdasan komponen. Kecerdasan menganalisis merupakan ciri utama kecerdasan
ini. Aku dikatakan mempunyai kecerdasan luar biasa sehinggakan aku dinaikkan beberapa
gred. Dalam usia 11 tahun, aku dimasukkan ke dalam kelas senior di sekolah tinggi Henry
McCoy.

Kecerdasan Pengalaman (Experiential Intelligence)

Kecerdasan ini bolehlah dijelaskan ertinya dengan kreativiti. Kecerdasan ini bolehnya
dilihat sebagai kebolehan untuk mengatasi situasi baru lantas mempelajari dari situasi
tersebut. Amy Kamen, pelukis Sikapitan sebagai contoh dengan pantas dapat menyesuaikan
kes-kes pembunuhan ke atas beberapa pegawai tertinggi Halcyon Corp. kepada
penceritaannya di dalam siri komik Sikapitan yang terbaru.

Di dalam ceritanya ini dia memperkenalkan watak jahat bernama Muqarribun, seorang
ahli sihir yang menjadi musuh baru kepada Sikapitan!

Kecerdasan Konteks (Contextual Intelligence)

Ada sesetengah orang yang mampu mengadaptasi diri mereka di dalam apa sahaja
situasi yang di tuntut di dalam lingkungan mereka. Mereka yang mempunyai kecerdasan ini
pandai mengorak langkah untuk berjaya di dalam hidup. Abang sebagai contoh bukanlah
seorang yang cemerlang dalam bidang akademik, tetapi dia sering mendapat markah yang
agak baik untuk subjek yang diambilnya di universiti.. Dia boleh membuatkan kawan-kawan
sekuliahnya untuk meminjamkan nota kepadanya kerana dia selalu tertidur di dalam kuliah.
Abang pandai mengambil hati pensyarah-pensyarahnya, terutamanya pensyarah wanita.
Bukan itu sahaja, abang juga mempunyai hubungan yang rapat dengan Puan Lydia walaupun
kita semua tahu dia jarang dapat didekati oleh sembarangan orang - lebih-lebih lagi sejak
suaminya meninggal dunia di dalam peristiwa 6/6. Mungkin ada sesuatu yang ada di dalam
diri abang yang mampu membuatkan Puan Lydia senang berada di sampingnya...

Selain dari Teori Triarchic ini, Sternberg ada membentangkan ideanya tentang
kendalian minda sebagai satu komponen bersiri. Komponen-komponennya adalah seperti
berikut:

- Metakomponen

- Komponen pelaksanaan

- Komponen perolehan pengetahuan

Di sini aku hanya mahu memperkatakan tentang metakomponen. Metakomponen


merupakan proses khas di dalam minda kita yang di digunakan di dalam penyelesaian
masalah dan proses membuat keputusan yang melibatkan sebahagian besar dari pengurusan
minda kita. Ia akan memberitahu kita bagaimana untuk bertindak. Metakomponen ini juga
dikenali dengan nama homunculus.

Homunculus di dalam bahasa Latin membawa maksud 'lelaki kecil'. Homunculus ini
dianggap sebagai satu idea bahawa terdapatnya satu makhluk di dalam kepala kita yang
mengawal setiap gerak-geri kita. Cuba bayangkan kewujudan satu makhluk yang mengawal
diri kita tanpa kita sedari