Anda di halaman 1dari 2

Ringkasan Program UKGS Inovatif Donute Irene

Program Interaktif Simulator Risiko Karies “Irene’s Donut” dibuat berdasarkan


disertasi Dr. drg. Irene Adyatmaka yang melibatkan 2.887 murid TK dan ibunya. Program
ini tersedia dalam bentuk aplikasi komputer dan manual yang berisi 20 pertanyaan yang
ditujukan kepada orang tua murid atau wali tentang kebiasaan anak yang mempengaruhi
kesehatan gigi dan mulut, kondisi anak, serta pengetahuan, sikap dan praktik orang tua atau
wali terhadap anak. Irene’s Donut merupakan suatu program interaktif berbentuk program
komputer atau versi manualnya. Cara yang dilakukan adalah mengisi faktor- faktor risiko
terkait perilaku anak, kondisi kesehatan gigi anak, kondisi/lingkungan ibu dan anak,
pengetahuan, sikap dan perilaku ibu (orang tua anak). Pada akhir simulasi program akan
menampilkan gambaran besar risiko anak terhadap kemungkinan karies gigi

Tujuan simulator risiko karies Irene’s Donut adalah: memberikan pemahaman tentang
faktor-faktor risiko karies sejak dini, memberikan pemahaman tentang cara mencegah karies
gigi, memberikan gambaran visual besar risiko karies yang dihadapi dan kemungkinan
perbaikannya serta memberdayakan orang tua anak (masyarakat sekolah) untuk pemeliharaan
kesehatan gigi anak.

Indikasi Program Interaktif Simulator Risiko Karies “Irene’s Donut” adalah untuk
dipreentasikan kepada orang tua murid TK/SD kelas 1 pada awal pelajaran baru sebagai
pengenalan program UKGS inovatif dan juga unutk menggerakkan peran serta orang tua
murid secara individual pada anak dengan kondisi karies parah.

Instrumen simulator risiko karies:

1) Flipchart Simulator Risiko Karies “Donut Irene” versi manual / versi Komputer 2)
Formulir / status pemeriksaan kesehatan gigi anak
2) Lembar kerja / rapor gigi
3) Set pemeriksaan pH biofilm
4) Kaca mulut

Mengapa program UKGS belum berhasilmenurnkan prevalensi karies pada anak sekolah
tingkat dasar?
Program-program yang direncanakan oleh Puskesmas Pangolombian melalui kegiatan UKGS
yaitu penyuluhan, sikat gigi masal, pencabutan gigi susu yang persistwnsi, topikal aplikasi
fluor, pit dan fissure sealent. Sedangkan program yang sudah dilaksanakan oleh pihak
puskesmas hanya terbatas pada kegiatan penyuluhan dan sikat gigi masal sedangkan kegiatan
pengolesan dan kumur-kumur dengan fluor pada gigi dan kegiatan pit dan fissure sealent
tidak bisa dilakukan dengan alasan keterbatasan biaya. Pencegahan karies gigi juga di
Puskessmas Pangolombian tidak bisa dilakukan dengan baik karena keterbatasan tenaga yaitu
tidak adanya dokter gigi sebagai penanggung jawab dalam kegiatan UKGS sehingga program
yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan gigi tidak terorganisasi dengan baik. Hal ini juga
yang menyebabkan kejadian karies gigi di sekolah wilayah kerja

Puskesmas masih cukup tinggi. Selain dari masalah tenaga kesehatan, program kegiatan
UKGS hanya menyesuaikan dengan program dari Puskesmas sehingga kegiatan sikat gigi
masal dan penyuluhan hanya dilakuakan oleh tenaga kesehatn gigi Puskesmas Pangolombian
berikut kutipannya Ada, program yang ada di laksnakan puskesmas yaitu kunjungan di
sekolah hamper setiap bulan, kegiatan yang dilaksanakan, sikat gigi, penyuluhan, imunisasi,
kesehatan gigi, pemeriksaan telinga ini berarti bahwa guru UKS sebagai penanggung jawab
dalam kegiatan UKGS di sekolah tidak mempunyai inisiatif sendiri untuk menjalankan
program UKGS dimana hanya menunggu petugas dari Puskesmas baru program dijalankan.
UKGS yang dilaksanakan di sekolah wilayah kerja Puskesmas pangolombian juga hanya
melaksanakan kegiatan sikat gigi masal, penyuluhan dan penjaringan oleh tenaga kesehatan
puskemas. Kegiatan kumur-kumur dengan fluor, pengolean fluor/topical aplikasi fluor dan
fissure sealent tidak dilaksanakan. Pemeberian tablet fluor, topical aplikasi fluor bila
penggunaan pasta gigi mengandung fluor tidak cukup untuk mencegah dan menghambat
perkembangan karies gigi.