Anda di halaman 1dari 4

 Topikal aplikasi fluor adalah pengolesan langsung fluor pada enamel.

Setelah gigi dioleskan fluor lalu


dibiarkan kering selama 5 menit, dan selama 1 jam tidak boleh makan, minum atau berkumur.
 Tujuan penggunaan fluor adalah untuk melindungi gigi dari karies, fluor bekerja dengan cara
menghambat metabolisme bakteri plak yang dapat memfermentasi karbohidrat melalui perubahan
hidroksil apatit pada enamel menjadi fluor apatit yang lebih stabil dan lebih tahan terhadap pelarutan
asam.
Manfaat Fluor terhadap gigi
a. Pra Erupsi
1. Selama pembentukan gigi, fluorida melindungi enamel dari pengurangan sejumlah matriks yang
dibentuk.
2. Pembentukan enamel yang lebih baik dengan kristal yang lebih resisten terhadap asam.
3. Pemberian yang optimal, kristal lebih besar, kandunga karbonat lebih rendah kelarutan terhadap
asam berkurang.
4. Pengurangan jumlah & ukuran daerah yang menyebabkan akumulasi makanan dan plak.
b. Pasca Erupsi
1. Fluoroapatit Menurunkan Kelarutan Enamel Dalam Asam
2. Fluoroapatit lebih padat & membtk kristal sedangdaerah permukaan yg bereaksi dengan asam lebih
sedikit.
3. Pembentukan kalsium fluorida pada permukaan kristal (lapisan pelindung karena sedikit larut dalam
asam.
4. Fluoride menggantikan ion karbonat dalam struktur apatit. Kristal apatit dg karbonat rendah lebih
stabil & kurang larut dibanding karbonat tinggi
5. Adanya fluoride dlm saliva meningkatkan remineralisasi, shg merangsang perbaikan / penghentian
lesi karies awal
6. Fluoride menghambat banyak sistem enzim. Hambatan thd enzim yg terlibat dlm pembentukan asam
serta pengangkutan & penyimpanan glukosa dlm streptokokus oral dan juga membatasi penyediaan
bahan cadangan utk pembuatan asam dlm sintesa polisakarida
Fungsi Flour terhadap Gigi
Fluor bekerja mengkontrol karies gigi pada tahap awal dengan pelbagai cara. Fluor
berkonsentrasi di plak dan saliva menghambat demineralisasi enamel dan meningkatkan remineralisasi
enamel yang telah mengalami demineralisasi. Apabila asam yang diproduksi oleh bakteri kariogenik
menyebabkan penurunan pH pada permukaan gigi-plak,fluor akan dilepaskan dari plak. Fluor yang
dilepaskan ini dan fluor yang berada didalam saliva bersama-sama kalsium dan fosfat akan diambil oleh
gigi yang mengalami demineralisasi untuk memperkuat struktur kristal enamel. Struktur ini lebih
resisten terhadap asam dan mengandung lebih banyak fluor dan kurang karbonat. Fluor lebih mudah
diambil oleh enamel demineralisasi berbanding sound enamel. Siklus demineralisasi dan remineralisasi
berlanjut sepanjang hayat gigi tersebut.
Fluor turut menghambat karies gigi dengan mengganggu aktivitas bakteri kariogenik. Semasa
fluor berkonsentrasi di plak gigi,ia menghambat proses metabolisme karbohidrat oleh bakteria dan
mengganggu produksi polisakarida oleh bakteri.
Fluor mempunyai tiga mekanisme aksi dasar, yaitu:
1. Menghambat metabolisme bakteri
Fluor yang terionisasi (F-) tidak dapat menembus dinding dan membran bakteri , tetapi dapat
masuk ke sel bakteri kariogenik dalam bentuk HF. Ketika pH plak turun akibat bakteri yang
menghasilkan asam, ion hydrogen akan berikatan dengan fluor dalam plak membentuk HF yang
dapat berdifusi secara cepat ke dalam sel bakteri. Di dalam sel bakteri, HF akan terurai menjadi H+
dan F-. H+ akan membuat sel menjadi asam dan F- akan mengganggu aktivitas enzim bakteri.
Contohnya fluor menghambat enolase (enzim yang dibutuhkan bakteri untuk metabolisme
karbohidrat). Terperangkapnya fluor di dalam sel merupakan proses yang kumulatif.
2. Menghambat demineralisasi
Mineral di dalam gigi (email, sementum, dentin) dan tulang adalah karbonat hidroksiapatit,
dengan formula Ca10-x(Na)x(PO4)6-y(CO3)z(OH)2-u(F)u. Pada saat perkembangan gigi, mineral
pertama yang hilang adalah karbonat (CO3) yang menyebabkan terbentuknya ruangan di dalam
kristal. Saat demineralisasi, mineral yang hilang adalah karbonat, tetapi selama remineralisasi
karbonat tidak akan terbentuk kembali melainkan digantikan oleh mineral yang baru. Pada kristal
yang mengalami defisiensi kalsium tetapi kaya karbonat, akan lebih rentan terhadap asam selama
demineralisasi. Karbonat hidroksiapatit (CAP) lebih larut dalam asam daripada hidroksiapatit (HAP=
Ca10(PO4)6(OH)2) dan fluorapatit (FAP= Ca10(PO4)6F2) dimana ion OH- pada hidroksiapatit
digantikan oleh F- menghasilkan FAP yang sangat resisten terhadap disolusi asam.
3. Meningkatkan remineralisasi
Ketika saliva mengenai plak dan komponen-komponennya, saliva dapat menetralisasi asam
sehingga menaikkan pH yang akan menghentikan demineralisasi. Saliva bersama kalsium dan fosfat
akan menarik komponen yang hilang ketika demineralisasi kembali menyusun gigi. Permukaan
kristal yang terdemineralisasi yang terletak antara lesi akan bertindak sebagai ‘nukleator’dan
permukaan baru akan terbentuk. Proses tersebut disebut remineralisasi, yaitu penggantian mineral
pada daerah-daerah yang terdemineralisasi sebagian akibat lesi karies pada email atau dentin
(termasuk bagian akar). Fluor akan meningkatkan remineralisasi dengan mengadsorpsi pada
permukaan kristal menarik ion kalsium diikuti dengan ion fosfat untuk pembentukan mineral baru.
Mineral yang baru terbentuk disebut veneer yang tidak mengandung karbonat dan komposisinya
memiliki kemiripan antara HAP dan FAP. FAP mengandung sekitar 30.000 ppm fluor dan memiliki
kelarutan terhadap asam yang rendah. Mineral yang baru terbentuk memiliki sifat seperti FAP yang
kelarutan dalam asam lebih rendah daripada CAP.
Indikasi dan Kontraindikasi Penggunaan Fluor
A. Indikasi
1. pasien anak di bawah 5 tahun yang memiliki resiko karies sedang sampai tinggi.
2. gigi dengan permukaan akar yang terbuka.
3. gigi yang sensitive.
4. anak-anak dengan kelainan motorik, sehingga sulit untuk membersihkan gigi (contoh:Down
syndrome).
5. pasien yang sedang dalam perawatan orthodontic
B. Kontraindikasi
1. pasien anak dengan resiko karies rendah.
2. pasien yang tinggal di kawasan dengan air minum berfluor.
3. terdapat ada kavitas besar yang terbuka.
Efek terhadap Gigi dan Tulang
Efek fluor yang berlebihan pada gigi dipanggil fluorosis gigi. Fluorosis gigi merujuk kepada
perubahan tampilan enamel gigi yang disebabkan oleh pengambilan fluor dalam jangka masa panjang ketika
gigi sedang berkembang. Perubahan tampilan enamel gigi adalah warna gigi menjadi tidak putih,pucat dan
buram. Ini bisa berupa tompokan putih yaitu masih pada tahap ringan sehingga kepada tompokan gelap atau
hitam. Warna gigi yang gelap atau hitam ini terlihat pada fluorosis yang lebih berat dan enamelnya juga
menjadi lunak dan rapuh. Tanda pertamanya berupa erupsi gigi dengan enamel yang berbintik-bintik
(mottled enamel). Fluorosis gigi disebabkan konsumsi fluor yang terlalu banyak dalam jangka masa panjang
ketika gigi masih berkembang didalam gusi. Jadi hanya anak-anak berumur 8 tahun dan ke bawah yang
beresiko karena ketika usia ini gigi yang permanen sedang berkembang didalam gusi. Oleh sebab
itu,fluorosis gigi hanya berlaku pada anak-anak,tidak berlaku pada dewasa. Keparahan kondisi ini
tergantung kepada dosis,durasi dan masa pengambilan fluor.
Berlaku peningkatan fluorosis gigi terutamanya yang tahap ringan disebabkan banyak sumber fluor
tersedia yang pada mulanya digunakan untuk menghalang dari berlakunya karies gigi. Sumber-sumber ini
termasuklah air minum yang difluoridasi dan pasta gigi berfluorida, terutamanya jika pasta gigi ini tertelan
oleh anak-anak ketika menyikat gigi.
Dampak Kelebihan dan Kekurangan Fluor
a. Dampak Kekurangan Fluor
1. Kerusakan gigi yang berlebihan.
2. Kekurangan fluor ini akan mengakibatkan gigi menjadi rapuh.
3. Selain gigi menjadi rapuh, bila kekurangan flour ini dapat menyebabkan gigi mudah terserang karies
atau gigi gigis (caries dentis).
4. Terjadi perubahan warna pada gigi anak.
5. Dapat terjadi penipisan tulang.
b. Dampak Kelebihan Flour
2 ppm Mottled enamel
5 ppm Osteosklerosis
50 ppm Kelainan kelenjar thyroid
120 ppm Retardasi pertumbuhan
125 ppm Ginjal
2,5 gram – 5 gram Dosis akut dan kematian
Kelebihan flour dapat mengakibatkan kelainan tulang dan gigi. Flour dalam tubuh separuhnya akan
disimpan dalam tulang dan terus bertambah sesuai umur, akibatnya tulang menjadi mudah patah karena
terjadi flourosis pada tulang. Berikut merupakan dampak fluor :
1. Fluorosis sendiri adalah perubahan yang tampak pada gigi akibat konsumsi fluor yang berlebihan pada
awal masa anak-anak ketika giginya sedang tumbuh. Dampak fluorosis ini bisa ringan dan bisa pula
fatal, flourosis gigi ditandai dengan :
 Noda coklat atau bintik-bintik kuning yang menyebar di permukaan gigi akibat pembentukan
email gigi yang tidak sempurna.
 Email gigi yang tidak sempurna menyebabkan gigi menjadi mudah berlubang.
 Timbul bercak putih dan cokelat di gigi. Kasus ini banyak ditemukan di Indonesia. Walau
berdampak ringan dan tidak menimbulkan rasa nyeri pada gigi, namun bisa mengurangi
penampilan akibat gigi yang tidak sedap dipandang mata.
2. Gigi bisa berlubang yang akhirnya hancur atau tanggal.
3. Kerapuhan tulang (osteoporosis). Tidak hanya gigi yang dibuat rapuh/rusak, tapi juga seluruh tulang
akan terancam rapuh. Akibat lebih lanjut, tumbuh-kembang si kecil jadi terhambat sementara
pengobatannya pun amat sulit.
4. Kerusakan pada gigi berupa perubahan warna gigi menjadi tidak putih lagi seperti gigi yang sehat
tetapi menjadi pucat dan buram dan yang paling parah adalah warna gigi menjadi gelap dan gigi
menjadi rapuh. Proses tersebut disebut fluorosis. Fluorosis tidak dapat diobati, tetapi kalau tanda
tersebut diketahui lebih awal dapat dicegah agar tidak lebih berlanjut.
5. Kelebihan fluor tersebut juga akan merusak tulang, mengakibatkan rasa sakit yang hebat pada tulang
dan akibat yang paling fatal dapat mengakibatkan kelumpuhan. Hal ini juga dapat menyebabkan
anemia, email gigi kita terlihat ada bercak-bercak putih yang dinamakan mottled enamel. Mottled
enamel (spot putih) akibat kelebihan flour karena pengaruh air minumnya. Terkadang dapat
menimbulkan noda yang berwarna coklat sampai hitam. kerusakan gigi yang pada stadium lanjut gigi
menjadi bergaris-garis gelap dan terlihat seperti lubang dan gigi yang tanggal.
6. Kepadatan gigi meningkat, mengganggu impuls syaraf serta pertumbuhan tulang diluar tulang
belakang.
7. Kelebihan fluor juga dapat menimbulkan gangguan kelenjar thyroid