Anda di halaman 1dari 2

Berdasarkan data dari Depertemen Kesehatan RI tahun 2007 didapatkan sekitar 8 juta orang

mengalami kejadian fraktur dengan jenis fraktur yang berbeda. Dari hasil survey tim Depertemen

Kesehatan RI didapatkan 25% penderita fraktur mengalami kematian, 45% mengalami cacat fisik,

15% mengalami stress psikologi karena cemas dan bahkan depresi, dan 10% mengalami

kesembuhan dengan baik.

Berdasarkan data yang diperoleh di RSUD Labuang Baji Makassar bahwa penderita

Fraktur pada bulan Januari – Juni tahun 2012 sebanyak 45 orang.

Kebutuhan rasa nyaman adalah suatu keadaan yang membuat seseorang merasa

nyaman, terlindung dari ancaman psikologis, bebas dari rasa sakit terutama nyeri. Perubahan rasa

nyaman akan menimbulkan perasaan yang tidak enak atau tidak nyaman dalam berespon terhadap

stimulus yang berbahaya (Carpenito, 1998 ).

Proses dalam memenuhi kebutuhan rasa nyaman, terutama akibat nyeri merupakan hal

yang harus diatasi secepatnya karena dapat menimbulkan respon sakit berupa perubahan fisik dan

psikis seseorang (Kozier, 1998).

Rasa nyeri merupakan stressor yang dapat menimbulkan stress dan ketegangan

dimana individu dapat berespon secara biologis dan perilaku yang menimbulkan respon fisik dan

psikis. Respon fisik meliputi perubahan keadaan umum, wajah, denyut nadi, pernafasan, suhu

badan, sikap badan, dan apabila nafas makin berat dapat menyebabkan kolaps kardiovaskuler dan

syok, sedangkan respon psikis akibat nyeri dapat merangsang respon stress yang dapat mengurangi

sistem imun dalam peradangan, serta menghambat penyembuhan respon yang lebih parah akan

mengarah pada ancaman merusak diri sendiri (Corwin, 1998).

Pasien yang dibawa ke Rumah Sakit dengan keluhan utama nyeri akan menjalani

observasi dan bedrest serta prosedur–prosedur diagnostik yang diperlukan dalam upaya
menentukan terapi dan tindakan selanjutnya. Selama masa menunggu keluhan nyeri harus

diminimalkan sekecil mungkin.

Pemberian analgesik dan pemberian narkotik untuk menghilangkan

nyeri tidak terlalu dianjurkan karena dapat mengaburkan diagnose (Sjamsuhidajat, 1998).

Perawat berperan dalam mengidentifikasikan kebutuhan – kebutuhan pasien dan

membantu serta menolong pasien dalam memenuhi kebutuhan tersebut termasuk dalam

managemen nyeri.

Secara garis besar ada dua managemen untuk mengatasi nyeri yaitu managemen

farmakologi dan managemen non farmakologi. Managemen nyeri dengan melakukan Tehnik

relaksasi merupakan tindakan external yang mempengaruhi respon internal individu terhadap

nyeri. Managemen nyeri dengan tindakan relaksasi mencakup latihan pernafasan diafragma, tehnik

relaksasi progresif, guided imagery, terapi musik dan meditasi.