Anda di halaman 1dari 9

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Menjaga kesehatan sangat penting dilakukan agar terhindar dari

berbagai macam penyakit. Pembalut merupakan kebutuhan pokok bagi kaum

wanita, untuk itu kaum wanita harus teliti dan cermat dalam memilih pembalut

yang sehat dan aman. Bagi pelaku bisnis khususnya perusahaan yang bergerak

di bidang pembalut wanita, isu hadirnya bahan berbahaya dalam kandungan

produknya dapat mengancam produk yang dimilikinya, untuk itu perusahaan

kini berlomba-lomba memproduksi pembalut wanita yang aman bagi

kesehatan wanita.1

Perilaku buruk dalam hygiene saat menstruasi salah satunya malas

mengganti pembalut yang dapat menyebabkan infeksi jamur dan bakteri ini

terjadi saat menstruasi karena bakteri yang berkembang pada pembalut.2 Salah

satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan menerapkan menstrual hygiene.

Menstrual hygiene ini merupakan hal penting dalam kesehatan organ

reproduksi, dengan perilaku hygiene yang baik, seorang remaja puteri

akan terhindar dari mikroorganisme seperti bakteri, jamur dan virus yang

dapat mengganggu fungsi organ reproduksi. Ketika remaja menerapakn

menstrual hygiene yang buruk dapat berdampak buruk terhadap kesehatan

seperti kemandulan.3
Keputihan merupakan keluhan yang sering menyerang wanita dan

tidak mengenal usia yang penyebabnya adalah pemakaian pembalut yang

kurang baik untuk kesehatan reproduksi. Keputihan juga dapat menimbulkan

rasa tidak nyaman yang dapat mempengaruhi kepercayaan diri seorang wanita

terutama bagi remaja. Seringkali wanita merasa mampu mengenali sendiri

bahwa dirinya sedang menderita keputihan. Wanita yang menderita keputihan

biasanya mengobati sendiri dengan memakai pembersih vagina yang dijual

bebas di pasar dan toko tanpa merasa perlu memeriksakan diri ke dokter untuk

memperoleh pemeriksaan secara lebih detail.4 Banyak wanita mengeluhkan

keputihan sangat tidak nyaman, gatal, berbau, bahkan terkadang perih dan

ternyata itu berkaitan dengan kebiasaan sehari-hari.5

Untuk menjaga kebersihan dan kesehatan selama menstruasi,

idealnya penggunaan pembalut selama menstruasi harus diganti secara teratur

4 sampai 5 kali sehari atau setiap 6 jam sekali, apalagi jika sedang banyak-

banyaknya. Beberapa penelitian terkait perilaku menstrual hygiene yang

salah seperti penelitian Khan (2012) di India menunjukkan bahwa 72,05%

remaja puteri memakai potongan-potongan kain yang dijadikan sebagai

pembalut. Tindakan tersebut dihindari karena ketika perawatan pada pembalut

kain yang kurang baik, seperti mengeringkannya di tempat tersembunyi dan

tidak terkena sinar matahari yang beresiko tumbuhnya mikroba yang

menyebabkan vagina berbau tidak sedap.6

World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa 5% remaja di

dunia terjangkit Penyakit Menular Seksual (PMS) dengan gejala keputihan


setiap tahunnya, bahkan kejadian ini terjadi pada 1 dari 8 remaja di

Amerika Serikat. Disebagian negara berkembang kerentanan wanita terhadap

infeksi berupa keputihan diberatkan oleh rendahnya status sosial wanita dan

sangat terbatasnya cara pencegahan terhadap infeksi.7 Sekitar 75% wanita di

dunia pernah mengalami keputihan paling tidak sekali seumur hidup. Jumlah

wanita didunia pada tahun 2013 sebanyak 6,7milyar jiwa dan yang pernah

mengalami keputihan sekitar 75%, sedangkan wanita Eropa pada tahun

2015 sebanyak 739.004.470 jiwa dan yang mengalami keputihan sebesar

25%.8

Dari data yang di dapat dari BKKBN 2016, di Indonesia sebanyak

75% wanita pernah mengalami keputihan minimal satu kali dalam hidupnya

dan 45% diantaranya mengalami keputihan sebanyak dua kali atau lebih.8

Data menurut Zubier dalam penelitiannya Permatasari jumlah wanita di dunia

yang mengalami keputihan yaitu 75% minimal satu kali dalam hidupnya.

Penelitian yang dilakukan oleh Ayuningtias pada tahun 2011, pada

wanita kejadian keputihan sangat tinggi mencapai 96 % responden mengalami

keputihan.9

Berdasarkan data statistik tahun 2016 jumlah wanita di Jawa Tengah

yaitu 3,2 juta jiwa berusia 25 - 40 tahun 50% pernah mengalami keputihan.10

Angka ini berbeda tajam dengan Eropa yang hanya 25 % saja dikarenakan

cuaca di Eropa tidak lembap sehingga tidak mudah terinfeksi jamur.

Sedangkan kondisi cuaca Indonesia yang lembap menjadi salah satu penyebab

banyaknya wanita Indonesia yang mengalami keputihan, selain itu keputihan


juga dapat disebabkan karena penggunaan jenis pembalut yang tidak tepat

saat menstruasi.11

Jamur dan bakteri banyak tumbuh dalam kondisi tidak bersih dan

lembab. Organ reproduksi merupakan daerah tertutup dan berlipat, sehingga

lebih mudah untuk berkeringat, lembab dan kotor. Lima perilaku buruk dalam

menjaga kebersihan genitalia, seperti mencucinya dengan air kotor,

memakai pembilas secara berlebihan, menggunakan celana yang tidak

menyerap keringat, jarang mengganti celana dalam, tidak sering mengganti

pembalut ketika menstruasi dapat menjadi pencetus timbulnya infeksi yang

menyebabkan keputihan tersebut.12

Perilaku saat menstruasi tergantung pada kesadaran dan pengetahuan

tentang menstrual hygiene. Hal ini merupakan aspek penting dari pendidikan

kesehatan untuk remaja karena pengetahuan awal mengenai kebersihan

menstruasi merupakan penentuan kesehatan remaja ketika dewasa.13

Pengetahuan pemeliharaan kesehatan reproduksi pada remaja harus mulai

diperhatikan sejak menarche yang merupakan awal dari proses reproduksi.14

Akan tetapi, kesehatan reproduksi masih tabu dibicarakan oleh remaja.

Akibatnya, remaja kurang mengerti, kurang memahami dan kadang-kadang

mengambil keputusan yang salah mengenai kesehatan reproduksi.15

Berdasarkan data awal yang diambil di Kampung Batik Semarang pada

10 remaja putri yang dilaksanakan bulan Mei 2018 tentang kebersihan organ

genetalia didapatkan sebagian besar remaja putri memiliki perilaku menjaga

kebersihan organ genitalia yang kurang baik dan tidak bisa menjaga
kebersihan organ genetalianya. Dari 10 remaja putri pada studi pendahuluan

ada 6 orang yang mengalami keputihan yang abnormal, mereka

mengeluhkan ada rasa gatal disekitar vagina, berbau, keluar secara terus

menerus dan terkadang jumlah cairan yang keluar tersebut berjumlah

banyak. Mereka seringkali mengeluhkan keluarnya cairan keputihan yang

membuat mereka merasa tidak nyaman dan sering lembab pada daerah

organ genetalianya. Ketika ditanyakan tentang pemakaian pembalut, 7 (70%)

dari 10 wanita di Kampung Batik Semarang menggunakan pembalut yang

murah dan dapat bertahan lama, sehingga tidak sering ganti – ganti pembalut

selama haid. Sebanyak 3 wanita (30%) memilih pembalut sesuai kebutuhan

walaupun harganya mahal, dengan alasan kenyamanan dan kesehatan.

Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka penulis tertarik ingin

mengetahui adakah Hubungan perilaku tentang hygiene personal saat

menstruasi dengan kejadian keputihan di kawasan Agro Wisata Jolong Pati.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, maka rumusan masalah

dalam penelitian ini adalah “Apakah Hubungan perilaku tentang hygiene

personal saat menstruasi dengan kejadian keputihan di kawasan Agro Wisata

Jolong Pati
C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Mengetahui hubungan perilaku tentang hygiene personal saat menstruasi

dengan kejadian keputihan di kawasan Agro Wisata Jolong Pati.

2. Tujuan Khusus

a. Menggambarkan perilaku tentang hygiene personal saat menstruasi di

kawasan Agro Wisata Jolong Pati.

b. Menggambarkan kejadian keputihan di kawasan Agro Wisata Jolong

Pati.

c. Menganalisis hubungan perilaku tentang hygiene personal saat

menstruasi dengan kejadian keputihan di kawasan Agro Wisata Jolong

Pati.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Institusi Pendidikan

Hasil penelitian ini dapat menjadi tambahan sumber kepustakaan di bidang

kesehatan wanita atau kesehatan reproduksi di perpustakan khususnya

tentang perilaku tentang hygiene personal saat menstruasi terhadap

kejadian keputihan dengan baik dan benar.

2. Bagi Peneliti

Penelitian ini sebagai bahan belajar dalam menerapkan ilmu dan teori yang

di dapatkan selama perkuliahan kedalam praktek di lingkungan

masyarakat, peningkatan daya fikir dan mengamati suatu permasalahan

sehingga dapat memberi pengalaman yang nyata bagi peneliti dalam


proses penelitian tentang perilaku tentang hygiene personal saat

menstruasi.

3. Bagi Tempat Penelitian

Sebagai masukan yang dapat digunakan untuk penambahan ilmu

pengetahuan dan informasi tentang jenis perilaku tentang hygiene personal

saat menstruasi terhadap kejadian keputihan dengan baik dan benar agar

dapat mengurangi angka kejadian keputihan di kawasan Agro Wisata

Jolong Pati.
E. Keaslian penelitian

Tabel 1.1 Originalitas Penelitian


Nama Judul Metode Hasil penelitian Perbedaan
peneliti penelitian penelitian
/tahun
Tiaradevi Hubungan Penelitian ini Data dianalisis Perbedaan pada
MP, 2017 pengetahuan, merupakan menggunakan uji Chi- variabel
stres, penelitian Square pada tingkat independen ini
penggunaan survei analitik kepercayaan 95% adalah
antiseptik, dan dengan (a=0,05) menunjukkan pengetahuan, stres,
penggunaan rancangan bahwa ada hubungan penggunaan
pembalut penelitian yang signifikan antara antiseptik, dan
dengan cross pengetahuan dengan penggunaan
kejadian fluor sectional kejadian Fluor albus (p pembalut dan
albus pada study. = 0,015) dan tidak ada variable dependent
remaja di hubungan antara stres ini adalah kejadian
SMA N 8 dengan kejadian Fluor fluor albus pada
Kendari. albus (p=0,643)serta remaja sedangkan
tidak ada hubungan penelitian yang
antara penggunaan akan di teliti
antiseptik dengan variabel
kejadian Fluor albus independennya
(p=1,000) dan ada adalah penggunaan
hubungan yang pembalut , variabel
signifikan antara dependentnya
penggunaan pembalut kejadian keputihan
dengan kejadian Fluor
albus (p = 0,049).

Astuti, Hubungan Penelitian ini Berdasarkan hasil Perbedaan pada


DW 2016 penggunaan menggunakan penelitian dan variabel
panty liner penelitian pembahasan dapat independen ini
Dengan observasional diambil kesimpulan adalah pantiliner
kejadian analitik bahwa penggunaan dan variable
keputihan di dengan panty liner oleh siswi dependent ini
SMA pendekatan SMA Muhammadiyah adalah keputihan
Muhammadiy cross 3 Yogyakarta sebagian sedangkan
ah 3 sectional. besar termasukdalam penelitian yang
Yogyakarta kategori baik yaitu 53 akan di teliti
orang(63,1%)dan variabel
sebagian besar siswi independennya
SMA Muhammadiyah adalah penggunaan
3 Yogyakarta pembalut variabel
mengalami keputihan dependentnya
yaitu 47 orang adalah keputihan
(56%). Berdasarkan
hasil analisis dan
pembahasan, maka
dapat
ditarikkesimpulan
bahwa Ada hubungan
penggunaan panty liner
dengan kejadian
keputihan di SMA
Muhammadiyah 3
Yogyakarta (nilai p
0,002)
Uswatun, Hubungan Rancangan Hasil uji statistik Perbedaan pada
A 2016 penggunaan penelitian ini dengan uji chi-square tempat penelitian,
pembalut menggunakan didapatkan hasil Nilai waktu penelitian
dengan desain pvalue= 0,00 (p<0,05).
kejadian penelitian Ada hubungan
Keputihan survey penggunaan pembalut
pada remaja analitik, dengan kejadian
putri Di Sma pendekatan keputihan pada remaja
Negeri 1 waktu yang putri di SMA Negeri 1
Jatinom digunakan Jatinom Klaten.
untuk rencana
penelitian ini
adalah Cross
sectional.