Anda di halaman 1dari 25

GAMBARAN UMUM WILAYAH

KABUPATEN PANDEGLANG

1. Kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Pandeglang


1.1 Tujuan Penataan Ruang
Tujuan penataan ruang Kabupaten Pandeglang adalah :

“Mewujudkan ruang wilayah kabupaten sebagai pusat agroindustri dan pariwisata di Provinsi Banten
yang religious, berkelanjutan serta berwawasan lingkungan”

1.2 Kebijakan Penataan Ruang


Untuk mewujudkan tujuan penataan ruang wilayah sebagaimana dimaksud disusun kebijakan penataan
ruang wilayah kabupaten.

Kebijakan penataan ruang wilayah kabupaten sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi :
a. peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan sarana dan prasarana transportasi, energi,
telekomunikasi, sumber daya air di seluruh wilayah kabupaten;
b. pengembangan pusat-pusat pelayanan secara berhirarki;
c. pemeliharaan dan perwujudan kelestarian lingkungan hidup;
d. pengendalian secara ketat terhadap kawasan lindung;
e. perwujudan keterpaduan antar kegiatan budi daya;
f. pengembangan kawasan budidaya untuk mendukung pemantapan sistem agropolitan, minapolitan serta
industri berbasis pertanian dan ekowisata; dan
g. peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan negara negara.

1.3 Strategi Penataan Ruang


Untuk mewujudkan kebijakan penataan ruang wilayah Kabupaten sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3
disusun strategi penataan ruang wilayah Kabupaten.
 Peningkatan kualitas pelayanan dan jangkauan pelayanan jaringan sarana dan prasarana transportasi,
energi, telekomunikasi, sumber daya air di seluruh wilayah Kabupaten, sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 3 ayat (2) huruf a dengan strategi meliputi:
a. meningkatkan jaringan prasarana transportasi dan keterpaduan pelayanan transportasi darat, laut,
dan udara;
b. meningkatkan jaringan energi listrik dengan pengembangan pembangkit tenaga listrik melalui
pemanfaatan sumber energi terbarukan dan tidak terbarukan secara optimal;
c. mewujudkan keterpaduan sistem penyediaan jaringan energi/kelistrikan termasuk jaringan pipa
dan kabel dasar laut;
d. mengembangkan prasarana telekomunikasi yang dapat menjangkau seluruh wilayah Kabupaten;
e. meningkatkan kuantitas dan kualitas jaringan prasarana serta mewujudkan keterpaduan sistem
jaringan sumber daya air;
f. mewujudkan sistem jaringan transportasi yang aman melalui perbaikan dan peningkatan
infrastruktur;
g. meningkatkan penanganan kawasan banjir di permukiman wilayah Kabupaten;
h. mewujudkan keterpaduan sistem jaringan energi; dan
i. mewujudkan interaksi infrastruktur jaringan transportasi (jalan dan kereta api) di Kabupaten yang
nyaman sesuai ketentuan teknis.
 Pengembangan pusat-pusat pelayanan secara berhirarki sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2)
huruf b dengan strategi meliputi:
a. menetapkan hirarki pelayanan kota sesuai peran dan fungsi;

b. memantapkan pusat pelayanan lingkungan; dan

c. memacu pertumbuhan permukiman baru di sekitar PPK.


 Pemeliharaan dan perwujudan kelestarian lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3
ayat (2) huruf c dengan strategi meliputi:
a. menetapkan kawasan lindung dan/atau fungsi perlindungan di ruang darat, ruang laut, ruang
udara, termasuk ruang di dalam bumi;

b. menetapkan proporsi luas kawasan berfungsi lindung dalam wilayah Kabupaten paling sedikit 30
% (tiga puluh persen) dari luas wilayah;

c. mencegah dampak negatif kegiatan manusia yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan
hidup; dan

d. memelihara dan mewujudkan kelestarian lingkungan hidup.


 Pengendalian secara ketat terhadap kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2)
huruf d dengan strategi meliputi:
a. mempertahankan dan memulihkan fungsi hutan lindung;
b. memulihkan kawasan lindung resapan air;
c. meningkatkan memulihkan kawasan lindung setempat;
d. meningkatkan nilai ekonomi kawasan lindung cagar budaya dan cagar alam;
e. mempertahankan luasan kawasan lindung;
f. mengembangkan program pengelolaan hutan bersama masyarakat;
g. meningkatkan kerjasama antar wilayah dalam pengelolaan kawasan hutan lindung; dan
h. meningkatkan kawasan ruang terbuka hijau perkotaan.
 Perwujudan keterpaduan antar kegiatan budi daya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2)
huruf e dengan strategi meliputi:
a. mengembangkan kegiatan budidaya unggulan di dalam kawasan budidaya beserta prasarana
pendukungnya secara sinergis dan berkelanjutan untuk mendorong pengembangan perekonomian
kawasan dan wilayah sekitarnya dengan mengalokasikan ruang dan akses masyarakat;

b. mengembangkan kegiatan budidaya untuk menunjang aspek politik, pertahanan dan keamanan
negara, sosial budaya, serta ilmu pengetahuan dan teknologi;

c. mengembangkan dan melestarikan kawasan budidaya pertanian pangan untuk mendukung


perwujudan ketahanan pangan;

d. mengembangkan pulau-pulau kecil dengan pendekatan gugus pulau untuk meningkatkan daya
saing dan mewujudkan skala ekonomi;

e. mengembangkan kegiatan pengelolaan sumber daya kelautan yang bernilai ekonomi tinggi di
wilayah laut;
f. mewujudkan kawasan budidaya melalui pengembangan hutan produksi, pertanian, perkebunan,
perikanan, pertambangan, industri, pariwisata, permukiman, dan kawasan peruntukan lainnya
secara produktif melalui pemberdayaan masyarakat di perkotaan dan perdesaan; dan
g. memanfaatkan sumber daya minyak dan gas alam, panas bumi, dan sumber daya mineral dan
batuan lainya dengan tepat guna.
 Pengembangan kawasan budidaya untuk mendukung pemantapan sistem agropolitan, minapolitan
serta industri berbasis pertanian dan ekowisata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf f
dengan strategi meliputi:
a. mengembangkan kawasan sesuai potensinya yang dihubungkan dengan pusat kegiatan untuk
mendukung agropolitan dan minapolitan;

b. menetapkan dan mengembangkan kawasan hutan rakyat dalam mendukung penyediaan hutan
oleh rakyat;

c. mengamankan lahan pertanian berkelanjutan dan menjaga suplai pangan nasional;

d. mengembangkan komoditas-komoditas unggul perkebunan di setiap wilayah;


e. meningkatkan produk dan nilai tambah pertanian dan perikanan melalui sentra usaha
pengolahannya;

f. menyediakan dan mengembangkan kawasan agroindustri;

g. mengembangkan kawasan pariwisata berbasis ekowisata dengan tetap memperhatikan kelestarian


lingkungan, pelestarian budaya leluhur dan melibatkan peran serta masyarakat;

h. mengembangkan kawasan permukiman perkotaan secara sinergis dengan permukiman perdesaan;

i. mengembangkan zona kawasan pesisir dan laut yang potensial di kabupaten; dan

j. mengembangkan wilayah pesisir kabupaten sesuai dengan potensinya yang berkelanjutan.


 Peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan negara sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 3 ayat (2) huruf g dengan strategi meliputi:
a. mendukung penetapan kawasan strategis nasional dengan fungsi khusus pertahanan dan
keamanan negara;
b. mengembangkan kawasan lindung dan/atau kawasan budidaya tidak terbangun di sekitar kawasan
dengan fungsi khusus pertahanan dan keamanan negara;
c. mengembangkan kegiatan budidaya secara selektif di dalam dan di sekitar kawasan pertahanan
dan keamanan negara untuk menjaga fungsi pertahanan dan keamanan negara; dan
d. turut serta menjaga dan memelihara aset-aset pertahanan dan keamanan negara.

1.4 Rencana Pola Ruang


Rencana pola ruang wilayah Kabupaten terdiri atas:
a. kawasan lindung; dan
b. kawasan budi daya.
2 Karakteristik Fisik Dasar
2.1 Batas Administrasi
Kabupaten Pandeglang merupakan kabupaten di Propinsi Banten dengan luas 274,69 km2. Posisi
Kabupaten Pandeglang di bagian barat daya Propinsi Banten. Pandeglang terletak pada 6o 21’ – 7o 10’ LS
dan 104o 8’ – 106o 11’ BT. Batas-batas administrasi Kabupaten Pandeglang adalah sebagai berikut:
 Sebelah Utara : Kabupaten Serang
 Sebelah Timur : Kabupaten Pandeglang
 Sebelah Selatan : Samudera Indonesia
 Sebelah Barat : Selat Sunda

Kabupaten Pandeglang terbagi menjadi 35 kecamatan dengan 13 kelurahan dan 326 desa. Kecamatan
Cikeusik merupakan kecamatan terluas di Kabupaten Pandeglang (322,76 km2), sedangkan Labuan
merupakan kecamatan terkecil (15,66 km2).

Peta Batas Administrasi Kabupaten Pandeglang

BATAS ADMINISTRASI KABUPATEN PANDEGLANG


2.2 Iklim
Curah hujan rata-rata di Kabupaten Pandeglang adalah 2711,21 mm/tahun. Hari hujan terbesar
tercatat di stasiun penakar hujan Pandeglang, yaitu 160 dan curah hujan terendah tercatat di stasiun
Labuan dengan hari hujan 112. Kondisi curah herujan Kabupaten Pandeglang dapat dilihat berikut ini:

Tabel II. 1 Kondisi Curah Hujan Kabupaten Pandeglang

Curah Hujan
No Tempat Stasiun Penakar Hujan Hari Hujan
(mm/tahun)
1 Pandeglang 2774 160
2 Cimanuk 2758 146
3 Menes 3033 149
4 Labuan 3039 112
5 Munjul 2669 159
6 Cikeusik 2749 134
7 Cimanggu 1751 133
8 Cibaliung 3705 132
9 Mandalawangi 3315 174
10 Jiput 3496 146
11 Bojong 2260 144
12 Pagelaran 2217 146
13 Ciliman 1379 136
14 Cilemer 2812 137
Rata-rata 2711,21 143
Sumber: RTRW Kabupaten Pandeglang, 2011-2031

Suhu udara di Kabupaten Pandeglang berkisar antara 22,50-27,90C. Pada daerah pantai, suhu udara bisa
mencapai 220C – 320C, sedangkan di daerah pegunungan dengan ketinggian 400 – 1.350 m suhu dapat
mencapai hingga 180C – 29 0C.
Peta Curah Hujan Kabupaten Pandeglang

CURAH HUJAN DI KABUPATEN PANDEGLANG

2.3 Ketinggian dan Kelerangan


Ketinggian Kabupaten Pandeglang bervariasi, mulai dari ketinggian 0 meter di atas permukaan laut
hingga 1.778 meter di atas permukaan laut. Titik tertinggi berada di Puncak Gunung Karang, yang
terletak di sebelah utara kabupaten ini. Pada umumnya, daerah pegunungan mempunyai ketinggian ± 400
m dpl dan daerah dataran rendah pantai mempunyai ketinggian rata-rata 3 m dpl. Wilayah di Kabupaten
Pandeglang sebagian besar berada pada ketinggian 0-175 m dpl, yaitu seluas 91.620,27 ha atau 33,35%
dari wilayah Pandeglang.
Sama halnya dengan ketinggian yang bervariasi, kelerengan di kabupaten ini juga bervariasi pula,
mulai dari 0% hingga lebih dari 25%. Kelerengan 0-2% berada di bagian pantai selatan dan pantai Selat
Sunda dengan luas 139.945, 15 ha , kemudian kelerengan 2-8% terletak di daerah berbukit dengan luas
57.200,30 ha, 8-15% dengan luas 15.001,90 ha, 15-25% dengan luas 5.490,39 ha, serta >25% dengan luas
51,06 ha. Secara lebih lengkap, kelerengan Kabupaten Pandeglang adalah sebagai berikut:
Tabel II. 2 Kelerengan Kabupaten Pandeglang

Luas Persentase
No Kelerengan (%) Deskripsi
(ha) (%)
1 0-2 Datar 139.945,15 64,30
2 2-8 Dataran rendah 57.200,30 26,28
3 8-15 Dataran sedang 15.001,90 6,87
4 15-25 Dataran Tinggi 5.490,39 2,52
5 >25 Terjal 51,06 0,02
JUMLAH 217.689,00 100
Sumber : BPS Kab Pandeglang dan Data Pokok Kab Pandeglang tahun 2010

Kabupaten Pandeglang mempunyai 6 buah gunung, yaitu Gunung Karang, Gunung Pulosari, Gunung
Aseupan, Gunung Payung, Gunung Honje, dan Gunung Tilu. Gunung-gunung ini merupakan gunung
yang sudah tidak aktif lagi.

Peta Ketinggian Kabupaten Pandeglang

PETA KETINGGIAN DI KABUPATEN PANDEGLANG


2.4 Morfologi
Wilayah Kabupaten Pandeglang berdasarkan morfologinya dapat dibedakan dalam 3 satuan, yaitu satuan
morfologi pegunungan, perbukitan, dan dataran rendah.
1). Satuan Morfologi Pegunungan
Satuan ini menempati wilayah bagian barat, membentang dari arah selatan sampai ke Utara dan
mengikuti garis pantai Selat Sunda. Morpologi pegunungan di wilayah ini berketinggian antara 250-
1778 m di atas permukaan laut dengan beberapa puncaknya adalah Gunung Karang, Gunung Honje,
Gunung Tilu, Gunung Lung, Gunung Walang, dan Gunung Batu Hideung. Satuan morfologi
pegunungan ini tersusun oleh batuan gunung api, batuan sedimen, dan batuan terobosan pada
formasi Honje dan formasi Cimapag.
2). Satuan Morfologi Perbukitan
Satuan ini menempati sebagian wilayah Pandeglang, terutama yang teletak di bagian tengah dan
timur dengan bentuk wilayah bergelombang, berketinggian antara 25 m sampai 250 m di atas
permukaan laut.
3). Satuan Morfologi Dataran Rendah
Satuan ini terdapat di bagian utara kawasan Teluk Lada dan bagian hilir aliran Sungai Ciliman. Di
bagian selatan terdapat di sepanjang pantai selat Sunda, Samudera Hindia, dan bagian hulu aliran
Sungai Cibaliung. Daerah dataran ini pada umumnya merupakan daerah datar dan beberapa tempat
berawa. Dalam satuan morfologi dataran rendah ini ditempati oleh sejenis batuan endapan undak,
batuan sedimen, batu gamping koral, dan alluvium. Daerah ini sebagian telah dijadikan lahan
pertanian dan pemukiman.

2.5 Geologi dan Tanah


Kabupaten Pandeglang ditinjau dari segi geologi memiliki beberapa jenis batuan yang meliputi :
a) Alluvium terdapat di daerah gunung dan pinggiran pantai;
b) Undiefierentiated (bahan erupsi gunung berapi), terdapat di daerah bagian utara tepatnya di daerah
Kecamatan Labuan, Jiput, Cikedal, Cisata, Saketi, Mandalawangi, Cimanuk, Cipeucang, Menes,
Banjar , Kaduhejo, Pandeglang, Karang Tanjung dan Cadasari;
c) Diocena, terdapat didaerah bagian barat, tepatnya di Kecamatan Cimanggu dan Cigeulis;
d) Piocena sedimen, di bagian selatan di daerah Kecamatan Bojong, Munjul, Cikeusik, Cigeulis,
Cibaliung, dan Cimanggu;
e) Miocene Lemistone, disekitar Kecamatan Cimanggu bagian utara;
f) Mineral deposit, yang terbagi atas beberapa mineral, yakni :
 Belerang dan sumber air panas di Kecamatan Banjar;
 Kapur/karang darat dan laut di Kecamatan Labuan, Cigeulis, Cimanggu, Cibaliung, Cikeusik, dan
Cadasari;
 Serat batu gift, terdapat di Kecamatan Cigeulis.

Jenis tanah di Kabupaten Pandeglang dipengaruhi oleh lima faktor pembentuk tanah, yaitu batuan induk,
topografi, umur tanah, iklim, vegetasi/ biologis serta pengaruh faktor lainnya, maka tanah akan
mengalami proses lebih lanjut sehingga terbentuk jenis-jenis tanah. Dengan adanya pembentukan faktor-
faktor tersebut di atas, maka akan terjadi beberapa jenis tanah yang terdiri dari :

1) Aluvial
Aluvial ini berwarna kelabu, coklat agak kehitaman, terbentuk dari hasil luapan dan berada bentuk
wilayah datar. Jenis tanah ini mempunyai bahan induk dari bahan Aluvial dan koluvial yang asalnya
beraneka macam. Tanah ini banyak dijumpai di daerah dataran hingga sedikit bergelombang, daerah
cekungan dan daerah aliran sungai. Corak tanah aluvial bertekstur liat mengandung 50 % pasir
dengan struktur pejal. Sifat kepekaan terhadap erosi besar tetapi pada umumnya tanah ini berada pada
daerah datar maka tidak sampai pada erosi yang lebih lanjut. Tanah ini merupakan tanah yang belum
berkembang dengan potensi kesuburan relatif baik, jenis tanah ini berada di daerah aliran sungai dan
digunakan penduduk untuk pemukiman, pertanian tanaman pangan dan sawah.
2) Grumosol
Grumosol ini berwarna coklat kehitaman , terbentuk pada daerah perlembahan dan hasil endapan
kapur yang bercampuran dengan endapan hasil erupsi gunung api. Tanah ini memiliki sifat vertik,
tekstur halus, dan potensi kesuburannya tinggi. Pada jenis tanah ini penduduk mempergunakan untuk
sawah.
3) Mediteran
Mediteran ini berwarna coklat kekuningan bertekstur halus sampai sedang dan terbentuk pada daerah
berombak sampai bergelombang. Jenis tanah ini dapt digunakan untuk lahan pertanian lahan kering.
4) Latosol
Latosol bercirikan oleh solum yang dalam, warna tanah coklat kemerahan serta holigonisasinya bau,
jenis tanah latosol yang terbentuk di Wilayah Pandeglang berasal dari batuan induk tufa gunung api.
Tanah latosol yang terbentuk termasuk dalam ordo urtisol yang berarti tanah yang sudah cukup
banyak berkembang. Jenis tanah ini mempunyai tingkat kesuburan rendah dan dapat digunakan
terutama untuk usaha tani tanaman perkebunan.
Berdasarkan sifat dan cirinya, kemiringan, dan lingkungan pembentukannya terutama untuk kegiatan
pertanian lahan di Wilayah Kabupaten Pandeglang. Dari kelima kelompok jenis tanah (termasuk
asosiasinya) dapat dikelompokkan kedalam 13 kelompok satuan peta. Pengelompokkan satuan peta
tersebut didasarkan pada jenis tanah, tekstur, kedalaman solum dan lereng.

Tabel II. 3 Pembagian Jenis Tanah Kabupaten Pandeglang

Sumber: RTRW Kabupaten Pandeglang, 2011-2031

Analisa jenis tanah dari peta rupa bumi tahun 1999 memperlihatkan bahwa jenis tanah latosol merupakan
jenis tanah yang dominan (36,39%) di Kabupaten Pandeglang. Tanah podsolik paling dominan berada di
Kecamatan Cigeulis. Jenis tanah latosol terluas berada di Kecamatan Mandalawangi (10.315,95 ha). Jenis
tanah podsolik menjadi jenis tanah dominan kedua setelah latosol. Tanah andosol merupakan jenis tanah
yang paling sedikit (0,48%) dan hanya berada di Kecamatan Mandalawangi, Kaduhejo dan Majasari.
Selain podsolik, latosol dan andosol, jenis tanah yang ada di Kabupaten Pandeglang adalah alluvial dan
regosol.

Keadaan geologi Kabupaten Pandeglang didominasi oleh batu gamping terumbu (Ql), yaitu sebesar
24,51% yang tersebar di Kecamatan Sumur, Cibaliung, Cibitung, Cikeusik, Cikgeulis, Panimbang,
Sobang, Munjul, dan Kecamatan Angsana. Gambar 4.7. memperlihatkan keadaan geologi di Kabupaten
Pandeglang.
Peta Geologi Kabupaten Pandeglang

PETA GEOLOGI DI KABUPATEN PANDEGLANG


2.6 Kondisi Hidrologi dan Hidrogeologi
Wilayah Kabupaten Pandeglang dialiri oleh 65 sungai yang berukuran kecil sampai besar. Sungai-
sungai tersebut dikelompokkan dalam 6 satuan DAS (Daerah Aliran Sungai), yaitu DAS Ciujung, DAS
Cidanau, DAS Ciliman, DAS Cibaliung, DAS Cikeruh, dan DAS Ciseukuet. Sungai-sungai tersebut ada
yang bermuara ke Selat Sunda, Laut Jawa, dan ada pula yang bermuara ke Samudra Indonesia.

Keadaan geomorfologi, topografi dan bentuk wilayah secara bersama-sama akan membentuk pola-pola
aliran sungi yang ada. Pola aliran sungai di Wilayah Kabupaten Pandeglang pada umumnya berbentuk
dendritik. Arah aliran sungai-sungai di Wilayah ini dibedakan menjadi dua, sehingga membentuk dua
daerah aliran sungai yaitu daerah aliran dari arah Timur yang bermuara di Selat Sunda dan daerah aliran
dari arah Utara yang bermuara di Samudera Indonesia.

Daerah Aliran Sungai dan Danau


Wilayah Kabupaten Pandeglang mengalir 14 sungai yang berukuran sedang sampai besar. Sungai –
sungai tersebut adalah Sungai Cidano, Sungai Cibungur, Sungai Cisanggona, Sungai Ciliman, Sungai
Cihonje, Sungai Cipunagara, Sungi Cisumur, Sungai Ciseureuhan, Sungai Cijaralang, Sungai
Cikadongdong, Sungai Ciseukeut, Sungai Cimara, Sungai Cibaliung, dan Sungai Cicanta. Dari ke-14
sungai tersebut terbagi dalam 6 (enam) Daerah Aliran Sungai (DAS) antara lain :
1) Daerah Aliran sungai Ciujung
2) Daerah Aliran Sungai Cidano
3) Daerah Aliran Sungai Cibungur
4) Daerah Aliran Sungai Ciliman
5) Daerah Aliran Sungai Cimandiri
6) Daerah Aliran Sungai Cikeuruh

Tabel II. 4 Daerah Aliran Sungai (DAS) di Kabupaten Pandeglang

Luas
No Nama DAS Lokasi (Kecamatan) Keterangan
(ha)
Cadasari, Pandeglang, Cimanuk, Kaduhejo,
1 Ciujung 12.400 Bermuara ke Selat Sunda
Karang tanjung, dan Banjar
2 Cidanau Mandalawangi 1.996 Bermuara ke Laut Jawa
3 Ciliman Munjul, Pagelaran, Cigeulis, dan Panimbang 131.200 Bermuara ke Samudra Indonesia
4 Cibaliung Cibaliung, Cikeusik, Cigeulis, dan Cimanggu 129.093 Bermuara ke Samudra Indonesia
5 Cikeruh Cigeulis, Cimanggu, Cibaliung, dan Sumur 26.764 Bermuara ke Samudra Indonesia
Luas
No Nama DAS Lokasi (Kecamatan) Keterangan
(ha)
6 Ciseukuet Angsana, Cibaliung, Cigeulis, dan Cikeusik 35.930 Bermuara ke Samudra Indonesia
Sumber: RTRW Kabupaten Pandeglang, 2011-2031

Kabupaten Pandeglang juga mempunyai 25 buah danau. Danau yang paling luas adalah Danau
Cikoncang di Kecamatan Cikeusik, yang mempunyai luas hampir 20 ha. Sumber air tanah Kabupaten
Pandeglang terletak pada Cekungan Air Tanah (CAT) Labuan di Kecamatan Labuan. Mata air ini tersebar
terutama pada ketinggian 200-400 m dpl. Sumber mata air yang memiliki debit >100lt/dt ada 2 (dua),
yaitu MA. Cikoromoy dan MA.Citaman tetapi masih belum dimanfatkan sistem distribusi gravitasinya.

Peta Hidrologi Kabupaten Pandeglang

PETA HIDROLOGI DI KABUPATEN PANDEGLANG


Prioritas
Prioritas 1 : Wilayah DAS yang berdasarkan lahan, hidrologi, sosial ekonomi, investasi dan kebijakan
pembangunan wilayah tersebut mempunyai prioritas tertinggi untuk di Rehabilitasi;

Prioritas 2 : Wilayah DAS yang berdasarkan lahan, hidrologi, sosial ekonomi, investasi dan kebijakan
pembangunan wilayah tersebut mempunyai prioritas kedua untuk di Rehabilitasi;

Prioritas 3 : Wilayah DAS yang berdasarkan lahan, hidrologi, sosial ekonomi, investasi dan kebijakan
pembangunan wilayah tersebut mempunyai prioritas ketiga untuk di Rehabilitasi;

Prioritas 0 : Wilayah DAS yang berdasarkan lahan, hidrologi, sosial ekonomi, investasi dan kebijakan
pembangunan wilayah tersebut tidak perlu diberikan prioritas dalam penanganannya.

Selain sungai-sungai yang diklasifikasikan dalam sungai sedang dan besar, Kabupaten Pandeglang juga
memiliki sungai sungai kecil. Seluruh sungai yang dimiliki Kabupaten Pandeglang berjumlah 65 buah
sungai yang mengulai di seluruh bagian wilayah Pandeglang. Sungai yang terpanjang adalah Sungai
Ciliman (25 km) dan yang terpendek adalah Sungai Cibeureum (2 km).

Danau dan embung menjadi tambahan mozaik yang memperindah Kabupaten Pandeglang. Sebanyak 25
buah danau besar dan kecil. Danau Cikoncang yang berada di Kecamatan Cikeusik adalah danau terluas
(20 ha) di bumi Pandeglang.

Kecamatan yang memiliki danau terbanyak adalah Kecamatan Menes, yaitu sebanyak 7 buah rawa dan
danau dengan luas total 18,5 ha.
Cekungan Air Tanah. Keputusan Menteri ESDM Nomor: 716.K/40/MEM/2003 Tentang Batas
Horisontal Cekungan Air Tanah Pulau Jawa dan Madura menyebutkan bahwa di Wilayah Kabupaten
Pandeglang teridentifikasi berada pada 4 satuan Cekungan Air Bawah Tanah (CABT) yang bersifat lintas
kabupaten, yaitu CABT Labuan, CABT Rawadano dan CABT Malingping dan lintas propinsi, meliputi
CABT Serang – Tangerang.

Cekungan Air Bawah Tanah (CABT) Labuan. CABT Labuan ini mencakup wilayah Kabupaten
Pandeglang (± 93 %) dan Kabupaten Lebak (± 7 %) dengan luas lebih kurang 797 km2. Batas cekungan
air bawah tanah di bagian barat adalah selat Sunda, bagian utara dan timur adalah batas pemisah air tanah
dan di bagian selatan adalah batas tanpa aliran karena perbedaan sifat fisik batuan. Jumlah imbuhan air
bawah tanah bebas (air bawah tanah pada lapisan akuifer tak tertekan/akuifer dangkal) yang berasal dari
air hujan terhitung sekitar 515 juta m3/tahun. Sedang pada tipe air bawah tanah pada akuifer
tertekan/akuifer dalam, terbentuk di daerah imbuhannya yang terletak mulai elevasi di atas 75 m dpl
sampai daerah puncak Gunung Condong, Gunung Pulosari dan Gunung Karang.

Cekungan Air Bawah Tanah (CABT) Rawadano. CABT Rawadano mencakup wilayah Kabupaten
Serang dan Kabupaten Pandeglang, dengan total luas cekungan lebih kurang 375 km2. Batas satuan
cekungan satuan air bawah tanah ini di bagian utara, timur dan selatan berupa batas pemisah air bawah
tanah yang berimpit dengan batas air permukaan yang melewati Gunung Pasir Pematang Cibatu (420 m),
Gunung Ipis (550 m), Gunung Serengean (700 m), Gunung Pule (259 m), Gunung Kupak (350 m),
Gunung Karang (1.778 m), Gunung Aseupan (1.174 m) dan Gunung Malang (605 m). Sedang batas di
bagian barat adalah Selat Sunda.

Berdasarkan perhitungan imbuhan air bawah tanah, menunjukkan intensitas air hujan yang turun dan
membentuk air bawah tanah di wilayah satuan cekungan ini sejumlah 180 juta m3/tahun, sebagian
diantaranya mengalir dari lereng Gunung Karang menuju Cagar Alam Rawadano sekitar 79 m3/tahun.
Sedang air bawah tanah yang berupa mata air pada unit akuifer volkanik purna Danau yang dijumpai di
sejumlah 115 lokasi menunjukkan total debit mencapai 2.185 m3/tahun. Sementara itu pada unit akuifer
volkanik Danau pada 89 lokasi, mencapai debit 367 m3/tahun. Total debit dari mata air keseluruhan
sebesar 2.552 m3/tahun;

Sub Cekungan Air Bawah Tanah (CABT) Serang–Cilegon. Satuan sub cekungan ini merupakan
bagian dari CABT Serang – Tangerang, yang secara administratif termasuk dalam wilayah Kota Serang,
Kabupaten Serang, Kabupaten Lebak, dan Kabupaten Pandeglang, dengan luas wilayah sekitar 1.200
km2. Batas satuan cekungan ini di bagian utara adalah laut Jawa, bagian timur adalah K.Ciujung, bagian
selatan merupakan batas tanpa aliran dan bagian barat adalah Selat Sunda.

Dari hasil perhitungan neraca air menunjukkan jumlah imbuhan air bawah tanah di wilayah satuan
cekungan ini sebesar 518 juta m3/tahun, sedang jumlah aliran air bawah tanah pada tipe lapisan akuifer
tertekan sekitar 13 m3/ tahun, berasal dari daerah imbuhan yang terletak di sebelah utara dan barat daya
yang mempunyai elevasi mulai sekitar 50 m dpl.

Cekungan Air Tanah (CABT) Malingping. Cadangan Air Tanah Malingping termasuk dalam kategori
CAT lintas kabupaten yang mencakup Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak dengan luas 707
km2. Neraca air menunjukkan jumlah imbuhan air bawah tanah di wilayah satuan cekungan ini sebesar
384 juta m3/tahun, sedang jumlah aliran air bawah tanah pada tipe lapisan akuifer tertekan sekitar 2 m3/
tahun
3 Potensi Geopark di Provinsi Banten
Hingga saat ini Indonesia telah memiliki 4 lokasi Geopark Global yang ditetapkan oleh Unesco.
Keempatnya adalah Geopark Gunung Batur di Provinsi Bali (ditetapkan September, 2012), Geopark
Gunung Sewu di perbatasan antara DIY, Jawa Tengah dan Jawa Timur (ditetapkan September, 2015),
Geopark Ciletuh Jawa Barat dan Geopark Rinjani di Nusa Tenggara Barat yang telah ditetapkan belum
lama ini (2018), sementara yang lainnya masih dalam persiapan oleh sebuah tim nasional pengembangan
geopark meskipun telah masuk dalam jaringan Geopark Nasional, seperti ;, Geopark Merangin (Jambi),
Geopark Raja Ampat (Papua Barat), Geopark Danau Toba (Sumatera Utara), Geopark Minangkabau
(Sumatera Barat) dll. Kemudian apakah di Provinsi Banten ada lokasi-lokasi yang bisa ditetapkan sebagai
Geopark?

Geopark atau taman bumi merupakan konsep manajemen pengembangan kawasan secara berkelanjutan
yang memadu-serasikan tiga keragaman alam yaitu keanekaragaman geologi (geodiversity),
keanekaragaman hayati (biodiversity), dan keanekaragaman budaya (cultural diversity) yang berpilar
pada aspek konservasi, edukasi, dan pertumbuhan ekonomi lokal (Ibrahim Komoo)

Menurut konsep ini dalam suatu Kawasan Geopark terdapat :

1. Kawasan pembangunan berkelanjutan dalam hal ini adalah; sebuah kawasan yang telah
ditetapkan dengan Rencana Tata Ruang, baik Kabupaten/Kota, Provinsi maupun Nasional yang
meliputi semua aspek pembangunan, termasuk diantaranya adalah kegiatan ekonomi dengan
konsep pembangunan berkelanjutan, termasuk diantaranya perindustrian berbasis pemanfaatan
sumber daya alam berkelanjutan dan berwawasan lingkungan
2. Perkampungan, Desa,kota Kecamatan, Kota/Kota Kabupaten berikut infrastruktur yang cukup
memadai serta kebudayaan masyarakat yang khas di derah tersebut
3. Situs geologi; yaitu lokasi-lokasi obyek geologi menarik yang memiliki kekhasan tertentu, lokasi
yang menampilkan rekam jejak proses geologi, berupa singkapan batuan, tebing, ngarai, air
terjun, bentang alam karst ataupun jejak kehidupan masa lampau yang khas (fosil tumbuhan
maupun hewan). Lokasi ini tidak hanya mempunyai fungsi edukasi geologi, tapi juga mempunyai
fungsi di sector pariwisata;
4. Kawasan lindung, seperti hutan yang dilestarikan, seperti Taman Hutan Rakyat (Tahura), Wana
Wisata dll.;
5. Kawasan konservasi seperti kawasan hutan yang dilindungi berikut ekosistem didalamnya,
contoh Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, Taman Nasional Ujung Kulon, Kawasan Cagar
Alam Rawa Dano dll.;
6. Warisan Dunia, seperti kawasan lindung yang ditetapkan untuk melindungi kelestarian aneka
jenis flora dan fauna yang hanya terdapat di daerah tersebut, guna melindungi dari kepunahan
seperti Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) karena terdapatnya badak bercula satu
yang tidak dijumpai di tempat lain di dunia.

Potensi Pengembangan Geopark di Banten

Seperti disebutkan sebelumnya bahwa geopark ditunjang oleh tiga aspek utama, yaitu keragaman geologi,
keragman hayati dan keragaman budaya. Dari aspek keragaman hayati, tidak perlu disangsikan bahwa
Banten memiliki dua taman nasional yang luas; Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) yang ada di
sebelah barat daya, Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS) di sebelah timur dan Kawasan
Hutan Konservasi Rawa Dano dan Tukung Gede berikut Kawasan Lindung Akarsari di sebelah barat-
barat laut.

Sementara dari aspek keragaman budaya seakan tak ada satu sudutpun di wilayah provinsi ini yang tidak
memiliki keragaman budaya mulai dari kemasyhuran peradaban dan kebudayaan di Kesultanan Banten
Lama di Utara hingga kearifan lokal yang menjadi legenda di selatan seperti Masyarakat Baduy serta
beberapa Kasepuhan Banten Kidul di kecamatan Cibeber dan Bayah, kabupaten Lebak di Banten Selatan.
Bahkan dilengkapi pula dengan situs-situs purbakala yang berasal dari abad pertama Masehi seperti Situs
Cihunjuran di kaki Gunung Pulosari, Kabupaten Pandeglang, juga situs-situs purbakala lainnya seperti
situs Lebak Cibedug di Citorek, Cibeber, Lebak hingga yang berasal dari awal abad pertengahan di
Kasultanan Banten.

Lalu apa yang ada di Banten dalam hal keragaman geologi atau “geodiversity” ?. Untuk lebih
informatifnya, maka perlu dikenalkan dulu apa itu geodiversity. Geodiversity secara sederhana dapat
didefinisikan sebagai keanekaragaman geologi (batuan, mineral, fosil), geomorfologi (bentang alam,
proses pembentukan) dan lapisan tanah. Hal ini meliputi kelompok, interpretasi, dan sistemnya (Gray,
2004). Aspek keanekaragaman geologi ini merupakan bagian utama atau kunci dari suatu geopark. Sebab
yang tampil dari aspek ini biasanya adalah lansekap-lansekap yang sangat indah, mulai dari tepi pantai
hingga puncak gunung atau lansekap mikro seperti jejak-jejak proses pembentukan suatu batuan hingga
jejak-jejak kehidupan yang terperangkap didalamnya atau fosil. Geodiversity tidak hanya hanya terdiri
atas fenomena geologi yang terwujud, akan tetapi juga bisa berupa kenangan peristiwa yang pernah
terjadi yang terkait dengan proses geologi serta dampaknya terhadap manusia seperti contohnya peristiwa
letusan gunung api. Bisa juga aktifitas manusia yang terkait dengan pemanfaatan sumber daya geologi
yang sedang berlangsung maupun sudah lalu seperti halnya daerah bekas tambang.

Daratan Banten yang ada kini, dibangun melalui proses geologi yang berlangsung sejak sekitar 50 juta
tahun yang lalu. Batuan tertuanya saat ini tersingkap di beberapa lokasi di Kecamatan Bayah dan
Kecamatan Cihara, Kabupaten Lebak dikenal dinamai secara geologi sebagai Formasi Bayah. Menurut
hasil penelitian, kelompok batuan yang termasuk batuan sedimen ini diendapkan di lingkungan laut
dangkal hingga darat, dan diantaranya adalah rawa yang ditumbuhi oleh hutan lebat. Sebagai bukti jejak
hutan lebat ini adalah adanya lapisan batubara yang terhampar mulai dari kecamatan Cilograng, Bayah,
Panggarangan hingga Cihara, Kabupaten Lebak bagian selatan. Kemudian di pantai Cihara dan pantai
Karangtaraje Bayah terhampar jenis batuan yang diendapkan di lingkungan pasang surut yaitu batupasir
berikut pola struktur sedimen yang khas. Perlapisan pasir yang sudah membatu di daerah ini terhampar
luas, menciptakan sebuah lansekap yang indah, dan akan sangat bermakna serta memiliki nilai edukasi
bila dilengkapi dengan papan informasi geologi yang bisa mudah difahami oleh siapa saja yang
mengunjungi pantai tersebut. Keistimewaan wilayah Banten dibandingkan dengan wilayah lainnya di
pulau Jawa menurut geologi adalah keterdapatan daratan sejak lebih dari 20 juta tahun yang lalu,
manakala wilayah lainnya masih terbenam dalam lautan terbukti dengan keterdapatan lapisan batubara
pada batuan-batuan berumur awal zaman Tersier (Eosen-Oligosen) atau dalam kisaran waktu antara 50 –
26 juta tahun yang lalu.
Geodiversity lainnya yang sangat menarik adalah di daerah Cikotok dengan tersebarnya kelompok batuan
Formasi Cikotok yang sangat luas. Kelompok batuan ini menggambarkan terjadinya aktifitas gunung api
purba dengan periode yang sangat panjang yang diperkirakan berlangsung pada 40 jutaan tahun yang lalu.
Hasilnya adalah terendapkannya batuan gunung api yang luas dan sangat tebal, terdiri atas breksi gunung
api, tuf, lava, batuan terubah dan urat-urat kuarsa. Adanya batuan terubah dan urat-urat kuarsa pada
Formasi Cikotok ini mengungkap mineralisasi logam mulia emas dan perak sehingga daerah ini menjadi
wilayah pertambangan emas tertua di Indonesia. Jadi di wilayah Cikotok dan sekitarnya terdapat beberapa
geodiversity berupa batuannya itu sendiri dan lokasi bekas pertambangan yang sekarang sudah ditutup.

Kembali ke pesisir selatan, selain terdapatnya batuan tertua, juga memiliki geodiversity lain. Salah
satunya adalah yang menjadi ikon wisata Sawarna, yaitu pantai Ciantir dengan Tanjunglayarnya. Ini
adalah salah satu model endapan yang terjadi dikemiringan dasar laut (endapan turbidit) berumur sekitar
25 juta tahun yl. Kelompok batuannya dinamai Formasi Cimapag yang terdiri atas berbagai macam
batuan dari sedimen klastika, piroklastika hingga batuan gunung api. Sementara di bagian lain dari
wilayah ini, berapa geodiversity unik juga hadir berupa karst yang memiliki banyak goa dengan interior
alami cantiknya berupa relief relief dinding goa serta stalaktit dan stalagmit yang dibentuk dalam waktu
jutaan tahun.

Dengan berjalan di bagian selatan kabupaten Lebak saja, sudah dapat disaksikan puluhan geodiversity,
padahal di bagian utara juga menyimpan keragaman geologi lainnya, sebagaimana yang dapat ditemukan
di Kecamatan Sajra, Cimarga, Maja dan Curugbitung berupa fosil kayu terkersikkan dan batu permata
kalimaya. Kemudian menuju kearah ujung barat dari Banten, yaitu di Ujungkulon dimana terdapat
geodiversity peninggalan dari gunung api purba yang terhampar di sekitar pesisir. Sementara di bagian
barat laut di daerah pegunungan hingga pesisir banyak geodiversity yang dapat disaksikan, mulai dari
gunung api purba sekitar Rawa Dano hingga pesisir Carita hingga Anyer yang menyimpan jejak dan
cerita tentang letusan gunung api terhebat yang disaksikan manusia modern, yaitu peristiwa Letusan
Krakatau yang disusul bencana tsunami yang menelan korban jiwa lebih dari 36.000 jiwa pada 26 dan 27
Agustus 1883.
Tabel Daftar Geodiversity utama di Provinsi Banten

No Lokasi Jenis Gedodiversity Keterangan


1 Anyer, Kab. Serang Bekas menara Anyer lama, Peristiwa letusan G.Krakatau
bongkah batu karang 1883 dan tsunami
2 Rawa Dano Morfologi Rawa Dano dan
Jejak Gunung api purba yang
sekitarnya
aktif sekitar 1 juta tahun yl
3 Endapan hasil gunung api purba
Pantai Karang Bolong Batuan gunung api

4 Curug Kendang, Cari-ta, Batuan gunung api


Batuan gunung api lava yang
Kab. Pandeglang
terpatahkan.
5 Curug Putri, Carita, Kab. Batuan gunung api Batuan gunung api lava dan
Pandeglang aliran piroklastik tuf.
6 Pegunungan Akarsari Morfologi pegunungan Gunung api aktif tipe B (G.
Karang dan G.Pulosari), tipe-C
(G. Aseupan)
7 Tj Layar dan sekitar- Batuan gunung api lava Gunung api purba berumur
nya, Ujungkulon Pliosen (sekitar 5 jt thn yl)
8 Sukahujan, Maling-ping, Batuan gunung api breksi Panorama pantai beralaskan
kab. Lebak volkanik endapan gunung api breksi dan
tuf berbatuapung
9 Pantai Cihara, kec. Batuan tertua di daratan Batupasir dari kelompok batuan
Cihara, Kab. Lebak Provinsi Banten Formasi Bayah
10 Ciparahu, kec. Cihara Batuan Granodiorit Cihara Jenis batuan terobosan yang
sangat berpengaruh terhadap
keadaan geologi daerah Bayah
dan sekitarnya
11 Karang Taraje, kec. Batuan tertua di daratan Lansekap hamparan batupasir
Bayah Provinsi Banten berlapis dengan struktur sedimen
yang khas. Ditetapkan sebagai
Situs Geologi
12 Pulo Manuk, Kecama- Bukit batupasir dari kelompok Lansekap pulau dan pantai serta
tan Bayah batuan Formasi Bayah kawasan lindung wana wisata
No Lokasi Jenis Gedodiversity Keterangan
13 Karang Bokor, Sawarna Morfologi batugamping Lansekap tebing batugamping
berbentuk bokor
14 Taman Goa Langir, kec. Morfologi batugamping dengan Lansekap tebing dan goa karst di
Sawarna goa brestalaktit, stalagmit tepi pantai
15 Tanjunglayar, Sawarna Batuan sedimen klastika dan Lansekap bukit berbentuk layar
piroklastika tipe endapan di pantai Ciantir
turbidit
16 Goa Lalay Batugamping karst dengan goa Goa batugamping dengan relief-
berstalaktit dan stalagmit relief menarik didalamnya, dgn
kedalaman goa lebih dari 500 mt
17 Goa Lauk, kec. Batugamping karst dengan goa Goa batugamping dengan relief-
Cilograng berstalaktit dan stalagmit relief menarik didalamnya,
dengan kedalaman goa lebih dari
500 meter
18 Goa Wayang, kec. Batugamping karst dengan goa Goa batugamping dengan relief-
Cilograng berstalaktit dan stalagmit relief menarik didalamnya,
dengan kedalaman goa lebih dari
500 meter
19 Cikotok, kec. Cibeber Tambang emas tua Peninggalan tambang emas tua
dan sekitarnya yang beroperasi sejak masa
pemerintahan Belanda
20 Citorek, kec,Cibeber Lansekap kalsera gunung api
purba
Morfologi dataran volkanik
21 Aliran Sungai Ciberang, Morfologi lembah sungai dan Lembah pada aliran sungai
kec Lebakgedong dan keterdapatan fosil kayu Ciberang dengan lansekap yang
Sajra terkersikkan berukuran besar menarik, serta aktifitas arung
jeram. Berikut keterdapatan fosil
kayu berukuran besar yang
seringkali dijumpai