Anda di halaman 1dari 7

NEGARA HARUS SIAP BONUS DEMOGRAFI

Hasil kajian demografi dan perhitungan proyeksi penduduk memperkirakan bahwa


Indonesia akan mengalami bonus demografi yang diperkirakan akan terjadi pada
tahun 2020-2030 mendatang. Bonus demografi ditandai dengan meningkatkan
proporsi penduduk usia kerja.
Hal ini tentunya menguntungkan negara secara ekonomi apabila dikelola dengan baik.
Berdasarkan estimasi para ahli, porsi penduduk usia produktif atau usia kerja antara
15-64 tahun pada tahun 2020-2030 mencapai sekitar 70% dari total populasi.
Sehingga beban tanggungan penduduk berusia produktif menurun atau menjadi
rendah, yakni antara 0,4-0,5.
Artinya, setiap 100 penduduk usia produktif hanya menanggung 40-50 penduduk non
produktif. Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)
Surya Chandra Surapaty mengungkapkan, dalam menghadapi bonus demografi
tersebut terdapat beberapa hal yang perlu menjadi fokus utama.
"Melalui program KKBPK, perlu difokuskan pada kualitas dan kuantitas penduduk
yang harus dikendalikan serta mobilitas penduduk yang harus diarahkan," ungkapnya
dalam seminar nasional Investasi Pada Remaja Perempuan Pendewasaan Usia
Perkawinan Pendidikan Seksual dan Kesehatan Reproduksi Remaja, Jakarta, Senin
(22/8).
Ada pun Kependudukan Keluarga Berencana Pembangunan Keluarga (KKBPK)
dalam pengendalian kuantitas ialah melalui penundaan kelahiran dan pernikahan dini.
Sementara pengendalian kualitas dilakukan dengan memperhatikan jarak kelahiran
dari anak ke anak kedua. Ia mengungkapkan bahwa jarak kelahiran anak secara ideal
ialah minimal 3-5 tahun.
Namun menurutnya, yang tidak kalah penting guna meningkatkan kualitas bangsa
adalah melalui karakter yang mengutamakan integritas, etos kerja, dan gotong royong
serta kompetensi masyarakat.
"Nusantara jaya ketika bonus demografi dapat dibangun karakternya," imbuhnya.
Pada kesempatan yang sama Deputi Kementerian PPN Bappenas Bidang
Pembangunan Manusia, Masyarakat dan Kebudayaan Subandi Sardjoko
memaparkan bahwa laju penduduk diproyeksikan terus menurun, akan tetap jumlah
penduduk Indonesia diperkirakan terus meningkat.
Angka tersebut diperkirakan mencapai hingga 305 juta penduduk, dengan jumlah
remaja usia 10-19 tahun sebanyak 44-45 juta terhadap total penduduk.
"Tahun 2026 mencapai 50 juta, jika dibagi dengan 305 juta jadi satu per enamnya
adalah bonus demografi," paparnya.
Sementara di tahun 2030, diperkirakan jumlah usia produktif antara 15-59 tahun
meningkat dari tahun sebelumnya. Menurutnya hal ini dapat menjadikan Indonesia
lebih makmur apabila sumber daya manusia (sdm) baik dari sisi kesehatan maupun
kompetitif dipersiapkan guna mendapatkan peluang bonus demografi di Indonesia.
Pasalnya, apabila tidak mampu menghadapi kehadiran bonus demografi maka yang
terjadi ialah ledakan pengangguran usia produktif yang akan memicu pada berbagai
persoalan seperti meningkatnya kriminalitas, meningkatnya beban pemerintah dalam
hal kesejahteraan dan sosial, terjadi disparitas pendapatan yang cukup tajam antara
yang terampil dan tidak terampil serta meningkatkan persaingan dalam penguasaan
sumber daya alam baik rakyat dengan pemerintah, pemerintah pusat dengan
pemerintah daerah dan sebagainya.
Karena itu penyiapan SDM yang mampu bersaing secara global atau mampu
menciptakan lapangan pekerjaan dinilai sebagai persyaratan utama. Maka,
dibutuhkan peningkatan mutu modal dengan mempertahankan struktur umur
penduduk, peningkatan kesehatan, pendidikan dan IPTEK, pendidikan berkualitas
dan setara untuk perempuan.
"Secara tidak langsung penundaan perkawinan itu semakin lama kalau perempuan
stay lama di sekolah. Lama mengenyam pendidikan sama dengan meningkatkan
sdm," ujarnya.
Pasalnya, Pusat Studi Gender Universitas Indonesia Ida Ruwaida Noor menerangkan
bahwa fenomea putus sekolah pada anak, khususnya perempuan, masih banyak
terjadi. Hal itu diantaranya disebabkan oleh pengaruh lingkungan dan hamil diluar
nikah. Menurutnya, nilai-nilai pada remaja dapat ditanamkan melalui pendidikan.
"Sdm dan kompetensi dalam menghadapi bonus demografi. Kalau tidak dipikirkan
secara komprehensif akan mengkhawatirkan. Negara harus berbuat banyak,"
tandasnya. (X-11)

BONUS DEMOGRAFI, MENINGKATKAN


KUALITAS PENDUDUK MELALUI KELUARGA

Ende - Indonesia akan memasuki fenomena bonus demografi. Yakni Indonesia


mengalami peningkatan jumlah penduduk usia produktif secara signifikan. Hal ini
terjadi karena keberhasilan program Keluarga Berencana (KB). Melalui keberhasilan
program Keluarga Berencana merubah struktur umur penduduk yang ditandai dengan
menurunnya rasio ketergantungan (dependency ratio) penduduk non-usia kerja (0-14
tahun dan diatas 65 tahun) terhadap penduduk usia kerja (15-64 tahun).

Bonus demografi merupakan kondisi di mana populasi usia produktif lebih banyak dari
usia nonproduktif. Indonesia sendiri diprediksi akan mengalami puncak bonus
demografi pada 2030 mendatang.
Kepala BKKBN Surya Chandra Surapaty menjelaskan, "Menghadapi Bonus
Demografi, BKKBN mengambil peran meningkatkan kualitas penduduk melalui
pembangunan keluarga. Mendorong agar setiap anak yang dilahirkan berkualitas,
dengan memperhatikan perkembangan dan pertumbuhan anak di 1000 hari pertama
kehidupan, dengan memberikan air susu ibu (ASI) eksklusif, diharapkan orangtua
cerdas dalam mengurus buah hati mulai dari kebutuhan gizi hingga stimulus
perkembangannya." jelas Surya. Hal ini disampaikan pada kuliah umum tentang
Revolusi mental melalui program Generasi Berencana (GenRe) oleh Kepala BKKBN
di Universitas Flores Kota Ende, Nusa Tenggara Timur (03/10/2017).

BKKBN mengajak membangun keluarga yang berkualitas dengan keluarga


berketahanan disamping itu melalui program Keluarga Berencana (KB), setiap
keluarga Indonesia diharapkan memiliki rata-rata 2 orang anak demi mewujudkan
Penduduk Tumbuh Seimbang (PTS) pada tahun 2025, yang ditandai dengan Angka
Fertilitas Total (TFR) sebesar 2,1. Dengan memiliki 2 anak dan jarak antar kelahiran
minimal 3-5 tahun atau tidak ada dua balita dalam satu keluarga, maka orangtua
memiliki kesempatan untuk memberikan asah, asih dan asuh secara penuh kepada
anak.

Menghadapi Bonus Demografi kepada generasi muda kota Ende, Kepala BKKBN
berpesan, "Katakan tidak pada seks pranikah, katakan tidak pada pernikahan usia
anak, katakan tidak pada narkoba. Generasi muda harus menjadi Generasi
Berencana (GenRe) merencanakan masa depanmu, merencanakan kapan selesai
kuliah, kapan bekerja, merencanakan kapan menikah. Menikahlah pada usia minimal
21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki " tegas Surya.

Saat ini program Keluarga Berencana sejak reformasi redup sebagai upaya
merevitalisasi, BKKBN mengembangkan dan intensifkan program kampung KB.
Kampung KB harus sinergis dengan program lain sehingga diharapkan dapat
mewujudkan keluarga berkualitas dan tentu terus berupaya meningkatkan jumlah dan
kualitas pelayanan KB dan kesehatan reproduksi, dan tentunya juga untuk
meningkatkan kesertaan ber-KB bagi penduduk miskin dan daerah terpencil,
perbatasan, dan kepulauan dan meningkatkan ketahanan keluarga. (HUMAS)
KKBPK MODAL AWAL SUKSESKAN BONUS
DEMOGRAFI
Indonesia saat ini telah memasuki fenomena kependudukan yang disebut bonus
demografi. Tidak dipungkiri, bonus demografi ialah hasil dari upaya menurunkan
angka TFR melalui program keluarga berencana (KB). Jika dimanfaatkan dengan
optimal, bonus demografi dapat memacu pertumbuhan ekonomi, yang dapat
meningkatkan kesejahteraan bangsa. Namun, jika kita tidak mampu
memanfaatkannya dengan meningkatkan kualitas masyarakat Indonesia, bonus
demografi bisa menjadi bencana kependudukan.

Belum meratanya aksesibilitas dan kualitas pelayanan informasi dan pelayanan


keluarga berencana (KB) di seluruh wilayah Nusantara, mengakibatkan pencapaian
bonus demografi sangat bervariasi antardaerah. Sebagian sudah menikmati bonus
demografi bahkan sejak 2012, tetapi ada pula wilayah-wilayah yang diperkirakan
hingga 2050 tidak akan menikmati bonus demografi.

Upaya pemerataan program KB dan penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM)
menjadi tugas berat pemerintah untuk dapat mencegah bencana kependudukan.
Pengelolaan kependudukan agar terjadi keseimbangan persebaran penduduk dan
pemerataan pembangunan, termasuk pembangunan SDM, melalui menjadi hal yang
tidak dapat ditawar.

"Upaya itu telah dan terus kita lakukan. Salah satunya melalui Program
Kependudukan. Keluarga Berencana, dan Pembangunan Keluarga (KKBPK)," ujar Pit
Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional ( bkkbn ). Sigit
Priohutomo.

Program tesebut dianggap sebagai jawaban atas tantangan bonus demografi. KKBPK
mengamanatkan implementasi pembangunan yang berbasis keluarga dan
menjadikan keluarga sebagai sasaran utama upaya penyejahteraan masyarakat.

Salah satu yang menjadi fokus dalam KKBPK ialah pemerataan program KB. Program
KB menjadi sangat penting dikuatkan karena bukan hanya digunakan untuk
mengendalikan pertumbuhan penduduk, melainkan juga dapat menyelamatkan
nyawa para ibu.

Dewasa ini, KB merupakan salah satu kebutuhan dari masyarakat yang ingin
menunda atau mengatur kelahiran anak sehingga akses terhadap program KB ialah
hak asasi manusia.

"Sering kali kita mendengar bahwa program kependudukan dan KB tidak menjadi
prioritas daerah, terutama daerah dengan jumlah penduduk masih jarang, atau yang
PAD nya rendah. Atau sebaliknya, ada sebagian kalangan yang merasa sudah cukup
mampu secara finansial dapat membiayai anaknya, beranggapan boleh memiliki anak
banyak. Padahal, perlu diingat, bahwa membesarkan anak bukan hanya tanggung
jawab individu orang tuanya semata. Namun, juga terkait dengan tanggung jawab
kolektif pada level masyarakat dan negara." ujar Sigit.

Akselerasi

Meskipun angka kelahiran kasar (TFR) sudah menurun dari 2,6 menjadi 2,4 pada
2017 setelah stagnan selama 10 tahun, tapi tantangan Program KKBPK saat ini masih
tinggi. Di antaranya, capaian pemakaian kontrasepsi modern yang baru 57,2% per
2017.

Berbagai kajian dan usaha persuasif dilakukan hingga menyentuh para pemangku
kepentingan demi mewujudkan pembangunan yang berwawasan kependudukan.
Dengan begitu, diharapkan upaya semua pihak, baik pemerintah daerah, pihak
swasta, maupun masyarakat, dapat lebih besar dan serius dalam menyukseskan
program KB dan penguatan keluarga.

Kekhawatiran tersebut dirasa penting ditindaklanjuti karena Hasil Sensus Penduduk


2010 dan Survei Penduduk Antarsensus (Supas) 2015 menunjukkan, pertambahan
dan pertumbuhan penduduk di Indonesia meningkat. Isu pertambahan jumlah
penduduk ini menjadi ancaman terhadap daya dukung dan daya tampung bumi. Hal
itu bahkan menjadi pemikiran dunia karena populasi dunia juga tumbuh dengan
cepat.

Menurut data lembaga kependudukan PBB, yaitu UNFPA. populasi dunia saat ini
mencapai hampir 7,6 miliar. Jumlahnya akan meningkat menjadi 8,6 miliar pada 2030,
kemudian 9,8 miliar pada 2050, dan 11,2 miliar pada 2100.

Untuk Indonesia, jumlah penduduk Indonesia saat ini hampir mencapai 262 juta, dan
rata-rata laju pertumbuhan 1,43%. Populasi penduduk Indonesia bisa menembus 321
juta jiwa di 2040. Penduduk Indonesia akan semakin terkonsentrasi di perkotaan
dengan angka 63,1% dari jumlah populasi.

Guna mengantisipasi terjadinya lonjakan jumlah penduduk hingga berimbas pada


masalah kependudukan, bkkbntelah menargetkan pembangunan kampung KB
sebanyak 21 ribu hingga akhir tahun. Sampai 2016, tercatat sudah ada 14 ribu
kampung KB dengan target 1.000 desa di 100 kabupaten/kotapada 2018 dan 600
desa di 60 kabupaten/kota pada 2019.

Untuk diketahui, kampung KB ialah unit terkecil dari desa yang berisi kegiatan untuk
pembangunan kependudukan. Program Kampung KB menjadi ikon kependudukan,
KB,dan pembangunan keluarga (KKBPK), yang bertujuan meningkatkan kualitas
hidup masyarakat di tingkai kampung.

Sebagai unit terkecil di desa, kampung KB melibatkan seluruh lintas


sektoral. bkkbn sebagai leading sector telah menyiapkan program Kampung KB untuk
perempuan sehingga kampung KB bisa menjadi tempat bagi perempuan dan anak-
anak untuk dapat lebih meningkatkan kualitas hidup menjadi lebih sejahtera.