Anda di halaman 1dari 10

BIOGRAFI SINGKAT SULTAN HASANUDDIN

Sultan Hasannudin merupakan anak kedua dari pasangan Sultan Malikussaid yang merupakan raja Gowa ke-15 dan juga
I Sabbe To’mo Lakuntu yang merupakan putri bangsawan Laikang. Sultan Hasanudin lahir di Makassar, Sulawesi Selatan
pada tanggal 12 januari 1631 dan wafat pada 12 Juni 1670 di Makassar, Sulawesi Selatan. Nama lahir Sultan
Hasanuddin adalah I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe. Sultan Hasanuddin
memiliki saudara perempuan bernama I Patimang Daeng Nisaking Karaeng Bonto Je’ne.
Sejak kecil Sultan Hasanuddin telah memperlihatkan jiwa kepemimpinan, selain itu Ia juga memiliki kecerdasan dan
kerajinan dalam belajar yang sangat menonjol dibanding dengan saudaranya yang lain, serta pandai bergaul dengan
banyak orang tidak hanya di lingkungan istana tetapi juga dengan orang asing yang mendatangi Makassar untuk
berdagang.
Pendidikan yang dijalaninya di Pusat Pendidikan dan Pengajaran Islam di Masjid Bontoala membuatnya menjadi pemuda
yang beragama, memiliki semangat juang, jujur, dan rendah hati.
Wafatnya Sultan Alauddin (Kakek Sultan Hasanuddin) Dan Pengangkatan Ayahnya Sebagai Raja
Gowa
Saat Hasanuddin berumur 8 tahun, sang kakek yaitu Sultan Alauddin yang merupakan raja Gowa ke-14 wafat setelah
memerintah kerajaan Gowa selama 46 tahun. Setelah kakeknya meninggal sang ayah Sultan Malikussaid menggantikan
sebagai raja yang dilantik pada 15 Juni 1639.
Selama kepemimpinan ayahnya, Sultan Hasanuddin yang masih remaja sering diajak untuk menghadiri perundingan
penting. Hal ini dilakukan sang ayah agar Hassanudin belajar tentang ilmu pemerintahan, diplomasi dan juga strategi
perang.
Setelah pandai pada bidang tersebut, Hasanuddin pernah beberapa kali diutus untuk mewakili sang ayah mengunjungi
kerajaan nusantara terutama daerah dalam gabungan pengawalan kerajaan Gowa.
Saat hendak memasuki usia 21 tahun, Hassanudin dipercaya untuk menjabat urusan pertahanan Gowa dan membantu
ayahnya mengatur pertahanan untuk melawan Belanda.
Diangkat sebagai Raja Gowa-16
November 1653, pada usia 22 tahun, I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe
diangkat menjadi Raja Gowa dengan gelar Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana. Pengangkatan tersebut
merupakan pesan dari sang ayah sebelum wafat dan karena sifat yang tegas, berani serta memiliki kemampuan dan
pengetahuan yang luas pesan tersebut disetujui mangkubumi kerajaan yaitu Karaeng Pattingaloang.
Melawan VOC
Sultan Hasanuddin memerintah kerajaan saat Belanda hendak menguasai rempah-rempah dan memonopoli hasil
perdagangan wilayah timur Indonesia, Belanda melarang orang Makassar berdagang dengan musuh belanda seperti
Portugis atau yang lainnya. Keinginan Belanda yang ingin melakukan monopoli perdagangan melalui VOC ditolak keras
oleh Raja Gowa yaitu Sultan Hasanuddin. Sultan Hasanuddin masih berpendirian sama seperti kakek dan ayahnya
bahwa tuhan menciptakan bumi dan lautan untuk dimiliki dan dipakai bersama-sama.
Karena menentang usaha monopoli yang hendak dilakukan VOC dan juga Kerajaan Gowa merupakan kerajaan terbesar
yang menguasai jalur perdagangan, VOC berusaha mengahncurkan Kerajaan Gowa.
Perang Melawan Belanda Dan Sultan Hasanuddin Turun Tahta
Pada tahun 1666, Belanda dibawah kepemimpinan Laksamana Cornelis Speelman berusaha menguasai kerajaan-
kerajaan kecil yang ada di bagian timur Indonesia. Namun usaha mereka untuk menguasai kerajaan Gowa belum berhasi
karena Raja Gowa yaitu Sultan Hasanuddin berusaha menggabungkan kekuatan kerajaan kecil di bagian timur Indonesia
untuk melawan Belanda.
Peperangan yang terjadi antara kedua belah pihak selalu diakhiri dengan perjanjian perdamaian dan gencatan senjata
namun VOC selalu melanggar dan hal tersebut merugikan Kerajaan Gowa.
Belanda terus menambah pasukan selama peperangan sehingga Kerajaan Gowa semakin lemah dan terdesak, lalu
dengan pertimbangan pada 18 November 1667 Sultan Hasanuddin bersedia menandatangani Perjanjian Bungaya.
Rakyat dan Kerajaan Gowa yang merasa sangat dirugikan dengan adanya perjanjian tersebut, pada 12 April1668
akhirnya perang kembali pecah.
Sultan Hasanuddin memberi perlawanan sengit. Namun karena pasukan Belanda yang dibantu dengan tentara luar, pada
24 Juni 1969 mereka berhasil menerobos Benteng Sombaopu yang merupakan benteng terkuat kerajaan Gowa.
Belanda terus melancarkan usahanya memecah belah Kerajaan Gowa, usaha yang dilakukan oleh mereka berhasil
dengan beberapa pembesar kerajaan yang menyerah seperti Karaeng Tallo dan Karaeng Lengkese. Namun tidak
dengan Sultan Hasanuddin yang telah bersumpah tidak akan pernah sudi bekerja sama dengan Belanda.
Pada 29 Juni 1969, Sultan Hasanuddin turun tahta dan kemudian digantikan oleh putranya yang bernama I Mappasomba
Daeng Nguraga yang bergelar Sultan Amir Hamzah.
Sultan Hasanuddin Wafat
Pada 12 Juni 1670, pada usia 39 tahun Sultan Hasanuddin wafat. Kemudian beliau dimakamkan di suatu bukit di
pemakaman Raja-raja Gowa di dalam benteng Kale Gowa di Kampung Tamalate.
Penghargaan Sultan Hassanudin
Berdasarkan Surat Keputusan Presiden No. 087/TK/1973, pada 6 November 1973 atas jasa-jasanya, Sultan Hasanuddin
diberi gelar sebagai pahlawan nasional.
BIOGRAFI IR SOEKARNO
Ir Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia yang akrab dipanggil Bung Karno
lahir pada 6 Juni 1901 di Surabaya, Jawa Timur.
Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya Ida Ayu Nyoman Rai.
Semasa hidupnya, ia memiliki sembilan istri dan dikaruniai sebelas anak.
Ketika dilahirkan, Ir Soekarno diberi nama Kusno Sosrodihardjo oleh orangtuanya.
Tetapi sebab ia sering sakit maka saat berumur lima tahun namanya diubah menjadi
Soekarno oleh ayahnya.
Nama tersebut diambil dari seorang panglima perang dalam kisah Bharatayudha yakni
Karna. Nama “Karna” sendiri berubah menjadi “Karno” karena dalam bahasa Jawa
pengucapan huruf “a” adalah “o” sedangkan awalan “su” mempunyaii arti “baik”.
Suatu saat hari ketika menjadi Presiden Republik Indonesia, ejaan nama Soekarno
diganti oleh dirinya sendiri menjadi Sukarno, sebab menurut founding fathers bangsa
ini nama Soekarno memakai ejaan Belanda.
Namun, ia tetap menggunakan nama Soekarno dalam tanda tangannya karena tanda
tangan tersebut ialah tanda tangan yang tercantum dalam Teks Proklamasi
Kemerdekaan Indonesia yang tidak boleh diubah.
Masa Kecil dan Pendidikan Ir Soekarno
Masa kecil Soekarno hanya beberapa tahun hidup bersama orangtuanya di Blitar. Ia juga sempat tinggal beberapa saat
dengan kakeknya, Raden hardjokromo di Tulungagung sebelum pindah bersama orangtunya lagi di Mojokerto.
Di Mojokerto, ayahnya menyekolahkan Soekarno kecil di Eerste Inlande School. Namun, pada tahun 1911 Soekarno
dipindahkan ke Europeeshe Lagere School (ELS) untuk mempermudah ia diterima di Hoogere Burger School (HBS),
Surabaya.
Setelah lulus dari ELS pada tahun 1915, Soekarno muda melanjutkan pendidikannya di HBS, Surabaya. Disinilah ia mulai
berinteraksi dengan Haji Oemar Said Tjokroaminoto, politisi kawakan pendiri Syarikat Islam.
Ketika belajar di HBS, Ir Soekarno menggembleng jiwa nasionalismenya. Ia aktif di organisasi pemuda tri Koro Darmo
yang merupakan bentukan daripada organisasi Budi Utomo yang fenomenal. Dan seiring berjalannya waktu Ir Soekarno
mengubah nama organisasi ini menjadi Jong Java (Pemuda Jawa) pada tahun 1918.
Setelah lulus dari HBS tahun 1920, ia pindah ke Bandung untuk melanjutkan belajarnya di Technische Hoogeschool atau
THS (yang sekarang menjadi ITB). Soekarno berhasil meraih gelar “Ir” pada 25 Mei 1926.
Kemudian, ia mulai merumuskan ajaran Marhaenisme dan mendirikan PNI (Partai Nasional lndonesia) pada 4 Juli 1927,
dengan tujuan Indonesia Merdeka. Akibat dari pendirian itu, Belanda memasukkannya ke penjara Sukamiskin, Bandung
pada 29 Desember 1929. Dari dalam penjara inilah, Ir Soekarno membuat pledoi yang tersohor, Indonesia Menggugat.
Ia memaparkan kebejatan Belanda, bangsa yang mengaku lebih maju itu.
Pembelaannya itu membuat Belanda semakin marah. Sehingga pada bulan Juli 1930, PNI pun dibubarkan. Setelah bebas
pada tahun 1931, Soekarno bergabung dengan Partindo (Partai Indonesia) dan sekaligus menjadi pemimpinnya.
Akibatnya, ia kembali ditangkap oleh Belanda dan dibuang ke Ende, Flores pada tahun 1933. Empat tahun kemudian
diasingkn ke Bengkulu. Ir Soekarno baru benar-benar bebas setelah masa kependudukan Jepang pada tahun 1942.
Di awal kependudukannya, Jepang tidak terlalu memberi perhatian pada tokoh-tokoh pergerakan Indonesia. Sampai
akhirnya sekitar tahun 1943 Jepang baru menyadari betapa pentingnya para tokoh ini. Jepang mulai memanfaatkannya
dan salah satu tokoh yang bisa menarik perhatian penduduk Indonesia terhadap propaganda Jepang ialah Ir Soekarno.
Akhirnya tokoh-tokoh nasional ini mulai bekerjasama dengan pemerintah Jepang untuk dapat mencapai kemerdekaan
Indonesia, walapun adapula yang tetap melakukan gerakan perlawanan seperti Sutan Sjahrir dan Amir Sjarifuddin karena
menganggap Jepang merupakan fasis yang berbahaya.
Ir Soekarno sendiri mulai aktif mempersiapkan kemerdekaan Indonesia, diantaranya adalah merumuskan Pancasila,
UUD 1945 dan dasar-dasar pemerintahan Indonesia termasuk merumuskan naskah proklamasi Kemerdekaan.
Setelah melewati perjuangan yang cukup panjang pada tanggal 17 Agustus 1945, Ir Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta
memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Dalam sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945, Ir Soekarno dipilih secara aklamasi sebagai Presiden Republik Indonesia
yang pertama.
Kemerdekaan yang telah dicapai ini tidak langsung bisa dinikmati, sebab di tahun-tahun berikutnya masih ada tindakan
sekutu yang secara terang-terangan tidak mengakui kemerdekaan Indonesia dan bahkan berusaha untuk kembali
merebut kekuasaan di Indonesia.
Ir Soekarno ialah sosok pemimpin yang fenomenal, ia bisa menghimpun bangsa-bangsa di Asia, Afrika, dan Amerika
Latin dengan Konferensi Asia Afrika di Bandung pada tahun 1955 yang kemudian berkembang menjadi Gerakan Non
Blok.
Pemberontakan G-30-S/PKI pada tahun 1965 melahirkan krisis politik hebat yang menyebabkan penolakan MPR atas
pertanggungjawabannya. Sebaliknya MPR mengangkat Soeharto sebagai Presiden.
Akhir Hayat Ir Soekarno
Pada hari Minggu, 21 Juni 1970 Ir Soekarno meninggal dunia di RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) Gatot
Subroto, Jakarta. Ia di semayamkan di Wisma Yaso, Jakarta dan kemudian dikebumikan di Blitar, Jawa Timur di dekat
makam ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai.
Ir Soekarno ialah sosok pahlawan yang sejati. Ia tidak hanya diakui berjasa bagi bangsanya sendiri, namun juga
memberikan pengabdiannya untuk kedamaian di dunia.
Semua sepakat bahwa Ir Soekarno merupakan seorang “manusia tidak biasa” yang belum tentu dilahirkan kembali dalam
kurun waktu satu abad. Ir Soekarno adalah bapak bangsa yang tidak akan dilupakan jasanya dan pemerintah memberi
anugerah kepadanya sebagai “Pahlawan Proklamasi”.
BIOGRAFI JENDRAL SUDIRMAN

Jendral Sudirman lahir dari keluarga biasa di kota Purbalingga. Ia lahir pada tanggal 24 Januari 1916. Ayahnya bernama
Karsid Kartawiraji dan ibunya bernama Siyem. Ia kemudian diadopsi oleh pamannya bernama Raden Cokrosunaryo
yang seorang priyayi.

Keluarganya kemudian pindah ke Cilacap dan Soedirman tumbuh menjadi anak yang rajin serta aktif dalam kegiatan di
luar sekolah. Kemampuan pemimpinnya terlihat di organisasi yang ia ikuti. Ia juga dikenal sebagai sosok religius
dengan agama Islam dan sering mengikuti kegiatan ormas Muhammadiyah.

Soedirman kemudian aktif mengajar sebagai guru. Di tahun 1944, ia bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air
(PETA) dan menjabat sebagai komandan batalion di Banyumas. Ia dan rekannya sempat melakukan pemberontakan
hingga ia diasingkan ke Bogor.

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Soedirman melarikan diri dari pusat penahanan. Ia menemui Soekarno
dan diberi tugas mengawasi proses penyerahan diri tentara Jepang di Banyumas. Sebelumnya juga telah didirikan
Badan Keamanan Rakyat.

Soedirman bertanggungjawab pada pasukan di divisi V. Pada tanggal 12 November 1945, Soedirman terpilih sebagai
panglima besar untuk menentukan panglima besar TKR di Yogyakarta. Soedirman kemudian memerintahkan serangan
terhadap pasukan Inggris dan Belanda di Ambarawa.

Soedirman pun menjadi panglima besar dan turut berperan dalam negoisasi dan perjanjian dengan pihak Belanda
pasca kemerdekaan. Ada juga menghadapi banyak upaya pemberontakan dan percobaan kudeta pada tahun 1948.

Soedirman juga turut berjuang saat Belanda melancarkan Agresi Militer II untuk menduduki Yogyakarta. Ia melakukan
perlawanan gerilya bersama pasukan kecilnya. Soedirman mengkomandoi kegiatan militer di Jawa termasuk Serangan
Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta.

Setelahnya, penyakit TBC yang diderita oleh Jenderal Soedirman sebelumnya menjadi kambuh lagi. Meski masih ingin
berjuang, Soedirman pun terpaksa harus pensiun dan pindah ke Magelang sebelum akhirnya wafat kurang lebih satu
bulan setelah Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia.

Ia meninggal pada tanggal 29 Januari 1950 saat usianya masih 34 tahun. Penyebabnya adalah penyakit tuberklosis
(TBC). Soedirman kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Ia pun dianugerahi
penghargaan pahlawan nasional Indonesia
Keluarga Jendral Sudirman
Ayah : Karsid Kartawiraji
Ibu : Siyem
Paman : Raden Cokrosunaryo
Saudara : Muhammad Samingan
Istri : Alfiah
Anak : Didi Sutjiati, Didi Pudjiati, Taufik Effendi, Titi Wahjuti Satyaningrum, Didi Praptiastuti, Muhammad Teguh
Bambang Tjahjadi, Ahmad Tidarwono

Jabatan Militer Jendral Sudirman

 Panglima Besar TKR/TNI, dengan pangkat Jenderal Besar Bintang Lima


 Panglima Divisi V/Banyumas, dengan pangkat Kolonel
 Komandan Batalyon di Kroya
BIOGRAFI CUT NYAK DIEN

Cut Nyak Dhien adalah seorang wanita Pahlawan Nasional Indonesia


dari Aceh yang berjuang melawan penjajahan Belanda pada masa
Perang Aceh.

Kehidupan

Cut Nyak Dhien lahir pada tahun 1848 di Aceh Besar di wilayah VI
Mukimm, ia terlahir dari kalangan keluarga bangsawan. Ayahnya
bernama Teuku Nanta Seutia, seorang uleebalang, yang juga
mempunyai keturunan dari Datuk Makhudum Sati.

Datuk Makhudum Sati datang ke Aceh pada abad ke 18 ketika


kesultanan Aceh diperintah oleh Sultan Jamalul Badrul Munir. Oleh
sebab itu, Ayah dari Cut Nyak Dhien merupakan keturunan
Minangkabau. Ibu Cut Nyak Dhien adalah putri uleebalang Lampagar.

Pada masa kecil Cut Nyak Dhien, Ia memperoleh pendidikan agama


(yang dididik oleh orang tua ataupun guru agama) dan rumah tangga
(memasak, melayani suami, dan yang menyangkut kehidupan sehari-hari yang dididik baik oleh orang
tuanya). Banyak laki-laki yang suka pada Cut Nyak Dhien dan berusaha melamarnya. Pada usia 12 tahun, ia
sudah dinikahkan oleh orang tuanya pada tahun 1862 dengan Teuku Ibrahim Lamnga, putra dari uleebalang
Lamnga XIII. Namun pada tahun 1878 Teuku Ibrahim Lamnga suami dari Cut Nyak Dhien tewas karena
telah gugur dalam perang melawan Belanda di Gle Tarum pada tanggal 29 Juni 1878.

Meninggalnya Ibrahim Lamnga membuat duka yang mendalam bagi Cut Nyak Dhien. Tidak lama setelah
kematian Ibrahim Lamnga, Cut Nyak Dhien dipersunting oleh Teuku Umar pada tahun 1880.

Teuku Umar adalah salah satu tokoh yang melawan Belanda. Pada awalnya Cut Nyak Dhien menolak, tetapi
karena Teuku Umar memperbolehkannya ikut serta dalam medan perang, Cut Nyak Dhien setuju untuk
menikah dengannya pada tahun 1880. Mereka dikaruniai anak laki-laki yang diberi nama Cut Gambang.
Setelah pernikahannya dengan Teuku Umar, ia bersama Teuku Umar bertempur bersama melawan
Belanda.

Perang Aceh
Perang dilanjutkan secara gerilya dan dikobarkan perang fi'sabilillah. Sekitar tahun 1875, Teuku Umar
melakukan gerakan dengan mendekati Belanda dan hubungannya dengan orang Belanda semakin kuat.
Pada tanggal 30 September 1893, Teuku Umar dan pasukannya yang berjumlah 250 orang pergi ke
Kutaraja dan "menyerahkan diri" kepada Belanda. Belanda sangat senang karena musuh yang berbahaya
mau membantu mereka, sehingga mereka memberikan Teuku Umar gelar Teuku Umar Johan Pahlawan dan
menjadikannya komandan unit pasukan Belanda dengan kekuasaan penuh. Teuku Umar merahasiakan
rencana untuk menipu Belanda, meskipun ia dituduh sebagai penghianat oleh orang Aceh. Bahkan, Cut
Nyak Meutia datang menemui Cut Nyak Dhien dan memakinya.

Cut Nyak Dien berusaha menasehatinya untuk kembali melawan Belanda. Namun, Teuku Umar masih terus
berhubungan dengan Belanda. Umar lalu mencoba untuk mempelajari taktik Belanda, sementara pelan-
pelan mengganti sebanyak mungkin orang Belanda di unit yang ia kuasai. Ketika jumlah orang Aceh pada
pasukan tersebut cukup, Teuku Umar melakukan rencana palsu pada orang Belanda dan mengklaim bahwa
ia ingin menyerang basis Aceh.

Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien pergi dengan semua pasukan dan perlengkapan berat, senjata, dan
amunisi Belanda, lalu tidak pernah kembali. Penghianatan ini disebut Het verraad van Teukoe Oemar
(pengkhianatan Teuku Umar).

Teuku Umar yang mengkhianati Belanda menyebabkan Belanda marah dan melancarkan operasi besar-
besaran untuk menangkap Teuku Umar dan Chut Nyak Dhien. Namun, gerilyawan kini dilengkapi
perlengkapan dari Belanda. Mereka mulai menyerang Belanda dan pasukan musuh berada pada kekacauan
sementara Jend. Van Swieten diganti. Penggantinya, Jend. Jakobus Ludovicius Hubertus Pel, dengan cepat
terbunuh dan pasukan Belanda berada pada kekacauan. Belanda lalu mencabut gelar Teuku Umar dan
membakar rumahnya, dan juga mengejar keberadaannya.

Teuku umar dan Chut Nyak Dhien terus menekan Belanda, lalu menyerang Banda Aceh (Kutaraja) dan
Meulaboh (bekas basis Teuku Umar), sehingga Belanda terus-terusan mengganti jendral yang bertugas. Unit
"Maréchaussée" lalu dikirim ke Aceh. Mereka dianggap biadab dan sangat sulit ditaklukan oleh orang Aceh.
Selain itu, kebanyakan pasukan "De Marsose" merupakan orang Tionghoa-Ambon yang menghancurkan
semua yang ada di jalannya. Akibat dari hal ini, pasukan Belanda merasa simpati kepada orang Aceh dan
Van der Heyden membubarkan unit "De Marsose". Peristiwa ini juga menyebabkan kesuksesan jendral
selanjutnya karena banyak orang yang tidak ikut melakukan jihad kehilangan nyawa mereka, dan ketakutan
masih tetap ada pada penduduk Aceh.

Jendral Joannes Benedictus van Heutsz memanfaatkan ketakutan ini dan mulai menyewa orang Aceh untuk
memata-matai pasukan pemberontak Teuku Umar sebagai informan sehingga Belanda menemukan rencana
Teuku Umar untuk menyerang Meulaboh pada tanggal 11 Februari 1899. Akhirnya, Teuku Umar gugur
tertembak peluru.

Setelah kematian Teuku Umar, Cut Nyak Dien memimpin pasukan perlawanan melawan Belanda di daerah
pedalaman Meulaboh bersama pasukan kecilnya dan mencoba melupakan suaminya. Pasukan ini terus
bertempur sampai kehancurannya pada tahun 1901 karena tentara Belanda sudah terbiasa berperang di
medan daerah Aceh. Selain itu, Cut Nyak Dien sudah semakin tua.

Masa Tua dan Kematian


Cut Nyak Dhien ditangkap dan dibawa ke Banda Aceh dan dirawat di rumah sakit disana, sementara itu Cut
Gambang berhasil melarikan diri ke hutan dan meneruskan perlawanan yang sudah dilakukan oleh ayah dan
ibunya.

Penyakitnya seperti rabun dan encok berangsur-angsur sembuh. Namun, Cut Nyak Dien akhirnya dibuang
ke Sumedang, Jawa Barat, karena ketakutan Belanda bahwa kehadirannya akan menciptakan semangat
perlawanan dan juga karena ia terus berhubungan dengan pejuang yang belum tunduk.

Pada tanggal 6 November 1908, Cut Nyak Dhien meninggal karena usianya yang sudah tua. Makam "Ibu
Perbu" baru ditemukan pada tahun 1959 berdasarkan permintaan Gubernur Aceh saat itu, Ali Hasan. "Ibu
Perbu" diakui oleh Presiden Soekarno sebagai Pahlawan Nasional Indonesia melalui SK Presiden RI No.106
Tahun 1964 pada tanggal 2 Mei 1964.

Makam Cut Nyak Dhien pertama kali dipugar pada 1987 dan dapat terlihat melalui monumen peringatan di
dekat pintu masuk yang tertulis tentang peresmian makam yang ditandatangani oleh Gubernur Aceh Ibrahim
Hasan pada tanggal 7 Desember 1987. Makam Cut Nyak Dhien dikelilingi pagar besi yang ditanam bersama
beton dengan luas 1.500 m2. Di belakang makam terdapat musholla dan di sebelah kiri makam terdapat
banyak batu nissan yang dikatakan sebagai makam keluarga ulama H. Sanusi.

Pada batu nissan Cut Nyak Dhien, tertulis riwayat hidupnya, tulisan bahasa Arab, Surah At-Taubah dan Al-
Fajr, serta hikayat cerita Aceh.

Biografi KH Idham Khalid, Politisi Handal NU

KH. Idham Khalid tak hanya terkenal sebagai ulama tapi ia juga
dikenal sebagai seorang politisi yang handal. Hal ini dibuktikan
dengan kemampuannya dalam menguasai beberapa bahasa asing
seperti bahasa Arab, Inggris, Jerman, Prancis, dan Belanda. Karena pengabdiannya yang tinggi kepada negara, ia
memperoleh gelar doktor honoris causa dari Universitas Al-Azhar Kairo Mesir.

Beliau dilahirkan di Setui, Kalimantan Selatan, pada tanggal 5 Januari 1921. Polotisi Nahdlatul Ulama (NU) ini pernah
menjabat beberapa jabatan penting di pemerintahan. Idham Khalid adalah alumnus Pondok Modern Gontor pada tahun
1942. Setelah lulus dari Gontor, ia mengabdikan dirinya sebagai guru di almamaternya sejak 1943-1944. Selain itu, di
Gontor Idham Khalid menjadi ketua umum Badan Wakaf Pondok Modern Gontor.

Sepulangnya dari sana, beliau dipercaya sebagai guru besar agama di SMA dan pernah menjadi direktur Sekolah Guru
Agama di Amuntai, Kalimantan Selatan. Kiprahnya dalam politik semula berawal dari keterlibatannya dalam partai
Masyumi, yang menempatkan dirinya sebagai ketua umum Masyumi cabang Amuntai sejak tahun 1944-1945.
Keterlibatannya dalam politik karena semata-mata ia ingin menyumbangkan dan mendedikasikan dirinya di medan
politik sebagai perjuangannya.

Selain aktif dalam partai Islam ini, pada kemerdekaan RI, Idham Khalid aktif di badan keamanan rakyat (BKR). Pada
akhir bulan Desember 1947, beliau menjadi anggota Serikat Kerakyatan Indonesia (SKI) yang dipimpin oleh Gusti
Anwar.

Pada masa Republik Indonesia Serikat (RIS), tepatnya dari tahun 1949-1950, Idham Khalid menjadi anggota DPR.
Kedekatannya dengan NU bermula saat dirinya dipercaya oleh KH. Wahid Hasyim sebagai sekretaris pribadinya, yang
saat itu sebagai menteri agama dalam kabinet Hatta.

Hubungannya dengan KH. Wahid Hasyim pun mendatangkan rasa simpati yang tinggi dari kalangan NU. Akhirnya,
Idham Khalid pun dipercaya sebagai ketua Ma’arif, sebagai badan pendidikan NU yang diemban oleh KH. Wahid
Hasyim. Ia juga dipercaya sebagai pemimpin gerakan Ansor.

Setelah itu, Idham Khalid dipercaya lagi mengemban amanah sebagai sekretaris UMUM PBNU tahun 1952-1956.
Ketika Muktamar NU ke-21 pada tahun 1956 di Medan, Idham Khalid terpilih sebagai ketua umum PBNU. Idham
Khalid mengemban amanah sebagai ketua umum PBNU sampai tahun 1979. Ia mengemban amanah itu sangat lama.
Selama menjabat sebagai ketua umum PBNU ia menerapkan langkahnya pada tiga tujuan:

1). Mengambil simpati generasi ulama-ulama pendiri atau yang memperoleh sosialisasi langsung dari generasi pendidri.
2). Memperluas dan mengembangkan cabang-cabang NU ke berbagai daerah, antara lain Jawa Barat, Jawa Tengah dan
Luar Jawa.
3). Meningkatkan hubungan pendekatan dengan para ulama, khususnya di Jawa Timur.

Idham Khalid pernah menjabat sebagai wakil perdana menteri (Waperdam II)dalam kabinet Ali Sastroamidjojo II pada
tahun 1956-1957. Kabinet itu dikenal dengan sebutan Kabinet Ali Roem Idham. Kemudian pada tahun 1957-1959,
Idham Khalid menjadi Wperdam II dalam Kbinet Juanda.

Idham Khalid juga pernah terlibat dalam penyusunan parlemen pada angkatan tahun 1960. Setelah kabinet presidentil,
yang dikenal juga dengan kabinet Soekarno pada tahun 1959-1965, ia masuk dalam kabines sebagai wakil ketua II
MPRS pada tahun 1962. Kemudian pada tahun 1963, ia menjabat sebagai menteri ex-officio.

Pada tahun 1966, saat orde lama jatuh, ia tetap bertahan dan masih dipercaya sebagai menteri kesejahteraan rakyat pada
tahun 1967-1970. Kemudian pada tahun 1970-1971 ia menjabat sebagai menteri sosial. Karier politik tokoh NU ini tidak
sampai disitu, pada tahun 1971-1977 ia menjabat sebagai ketua DPR/MPR. Pada tahun 1977-1983, Idham Khalid
menjabat ketua sebagai ketua dewan pertimbangan agung (DPA).

Saat partai-partai Islam difungsikan menjadi satu partai, yaitu Partai Persatuan Pembangunan, Idham Khalid bersama
HMS Mintaredja menyusun komposisi ke pengurusan PPP untuk pertama kalinya pada tahun 1973. Hasilnya, ia menjadi
ketua partai dan HMS Mintaredja menjadi wakilnya. Dua tahun kemudian, tepatnya tahun 1975, PPP menyelenggarakan
Musyawarah Nasional (Munas) I yang hasilnya, bahwa presiden partai memegang peranan keputusan sendiri dalam
darurat.

Pada tahun 1982, kondisi fisik Idham Khalid sering sakit-sakitan. Sejak masa kampanye 1982, ia berobat keluar negeri,
akan tetapi hingga kepulangannya ke tanah air pun belum juga sembuh. Sehingga ia tidak mampu untuk mengemban
amanat muktamar yan dikhawatirkan akan merugikan NU. Atas dasar alasan itulah para sesepuh NU memutuskan untuk
mengirim utusan kepada Idham Khalid, yang terdiri dari KH. Ali Maksum, KH. Makhrus Ali, KH. Mujib Ridwan, KH.
As’ad Syamsul Arifin, dan KH. Masykur untuk memintanya mengundurkan diri, serta menyerahkan jabatannya kepada
Rais Am KH. Ali Maksum. Idham Khalid setuju dengan hal itu dengan kalimat”Atas nasihat dari para alim ulama
sesepuh NU”.

Idham Khalid sangat menginginkan pengunduran dirinya pada tanggal 6 mei 1982, sehingga tidak mengganggu situasi
akhir pemilu. Usul Idham Khalid pun diterima oleh para utusan.

Tapi Idham Khalid didesak oleh para pendukungnya, yang berada di 17 wilayah untuk mencabut pengunduran dirinya.
Dari kejadian ini, timbul kelompok Cipete sebagai kubu pendukungnya dan kelompok Situbondo sebagai kelompok
lain.

Konflik itu pun akhirnya selesai saat diadakan tahlilan memperingati meninggalnya KH. Wahid Hasyim, KH. Abdul
Wahab Hasbullah, dan KH. Bisri Syamsuri pada bulan September 1984.

Sejak tidak aktif dalam kegiatan politik, ia mendedikasikan perjuangannya dalam perkembangan keagamaan, dengan
cara memberi ceramah di pelbagai tempat. Hingga akhirnya, ia mendirikan salah satu lembaga pendidikan Maarif di
Cipete. Perguruan Maarif Cipete itulah salah satu lembaga pendidikan yang didirikan dan yang menjadi pusat
perhatiannya setelah tidak terjun dalam kancah politik.
Teuku H. Muhammad Hasan

Teuku Muhammad Hasan adalah Gubernur Wilayah Sumatera pertama setelah Indonesia merdeka. Teuku
Muhammad Hasan juga pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pada tahun
1948 hingga tahun 1949 dalam Kabinet Darurat. Selain itu dia dikenal sebagai seorang pejuang kemerdekaan
dan pahlawan nasional Indonesia. Teuku Muhammad Hasan dilahirkan dengan nama Teuku Sarong pada
tanggal 4 April 1906 di Sigli, Aceh. Dia adalah putra Teuku Bintara Peneung Ibrahim dengan Tjut Manyak.
Ayahnya, Teuku Bintara Pineung Ibrahim adalah Ulèë Balang di Pidie (Ulèë Balang adalah bangsawan yang
memimpin suatu daerah di Aceh).

Setelah berumur delapan tahun, Teuku Muhammad Hasan mulai memasuki pendidikan formal, yakni Sekolah
Rakyat (Volksschool) di Lampoih Saka pada tahun 1914. Pendidikan dasarnya ini ditempuh selama dua tahun.
Pada tahun 1917, T.M.Hasan diterima di sekolah milik Belanda Europeesche Lagere School (ELS) dan
diselesaikannya pada tahun 1924.

Selepas menyelesaikan studinya di ELS, Hasan melanjutkan sekolah menengah di Koningen Wilhelmina
School (KWS) di Batavia yang kemudian dilanjutkan dengan pendidikan di Rechtschoogeschool (Sekolah
Tinggi Hukum) Batavia. Pada usia 25 tahun, T.M. Hasan memutuskan untuk bersekolah di Leiden University,
Belanda. Selama di Belanda, dia bergabung dengan Perhimpunan Indonesia yang dipelopori oleh Muhammad
Hatta, Ali Sastroamidjojo, Abdul Madjid Djojodiningrat dan Nasir Datuk Pamuntjak.

Selain kesibukannya sebagai mahasiswa, Hasan juga menjadi aktivis yang mengadakan kegiatan-kegiatan
organisasi baik di dalam kota maupun di kota-kota lain di Belanda. T.M. Hasan berhasil menyelesaikan
studinya di Leiden University dan mendapatkan gelar Meester in de Rechten (Master of Laws) pada tahun
1933.

Pada tahun 1933, T.M Hasan kembali ke Indonesia. Dia kemudian memilih untuk tinggal di Kutaraja dan
menjadi pegiat di bidang agama dan pendidikan. Di bidang agama, T.M Hasan bergabung dengan organisasi
Islam Muhammadiyah sebagai konsul di bawah pimpinan R.O. Armadinata. Pada era ini, Muhammadiyah
berhasil mendirikan perkumpulan perempuan yakni Aisyiyah, Hizbul Wathan, dan sebuah lembaga
pendidikan setimgkat Hollandsch-Inlandsche School atau HIS. Selain aktif di Muhammadiyah, T.M Hasan
juga aktif dalam dunia pendidikan. T.M Hasan merupakan salah satu tokoh pelopor berdirinya organisasi
Atjehsche Studiefonds (Dana Pelajar Aceh) yang bertujuan untuk membantu anak-anak Aceh yang cerdas
tetapi tidak mampu untuk sekolah.

T.M Hasan juga pernah dipercaya untuk menjadi komisaris organisasi pendidikan yang bernama Perkumpulan
Usaha Sama Akan Kemajuan Anak (PUSAKA) dimana organisasi ini bertujuan untuk mendirikan sebuah
sekolah rendah berbahasa Belanda seperti Hollandsch-Inlandsche School. Dalam dunia kependidikan, T.M
Hasan mendirikan Perguruan Taman Siswa di Kutaraja pada tanggal 11 Juli 1937. Dalam kepengurusan
lembaga yang diprakarsai oleh Ki Hajar Dewantara ini, T.M Hasan menjadi ketua dengan sekretaris Teuku
Nyak Arief.

Beberapa tahun kemudian, T.M Hasan meninggalkan Kutaraja karena menerima tawaran bekerja di Batavia
sebagai pengawai di Afdeling B, Departemen Van Van Onderwijsen Eiredeienst (Departemen Pendidikan).
Pada tahun 1938, T.M Hasan kembali lagi ke Medan untuk bekerja pada kantor Gubernur Sumatera sampai
tahun 1942. Selama era penjajahan Jepang ini, yakni antara tahun 1942 sampai 1945, T.M Hasan tetap berada
di Medan dan bekerja sebagai Ketua Koperasi Ladang Pegawai Negeri di Medan, kemudian menjadi
Penasehat dan Pengawas Koperasi Pegawai Negeri di Medan dan Pemimpin Kantor Tinzukyoku (Kantor
permohonan kepada Gunsaibu) di Medan.

Pada tanggal 7 Agustus 1945 Mr. Teuku Muhammad Hasan dipilih menjadi anggota Panitia Persiapan
Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang diketuai oleh Ir. Soekarno. Setelah kemerdekaan berhasil dipertahankan,
pada tanggal 22 Agustus 1945, Teuku Muhammad Hasan diangkat menjadi Gubernur Sumatera I dengan
ibukota provinsi di Medan. Teuku Muhammad Hasan juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Pemerintah
Darurat Republik Indonesia (PDRI)/Menteri Dalam Negeri/Menteri PPK/Menteri Agama saat terjadi Agresi
Militer Belanda II yang menyebabkan penangkapan para pemimpin, seperti Soekarno, Hatta dan Syahrir.
BIOGRAFI ZAINAL ARIFIN

Zainul Arifin lahir 2 September 1909 di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.
Dalam usia balita ia pindah ke Kerinci, Jambi dan menyelesaikan sekolah dasar
berbahasa Belanda HIS serta sekolah pendidikan guru Normaalschool di sana. Dalam
usia 17 tahun ia sudah merantau ke Batavia (Jakarta). Di Batavia, Zainul sempat
menjadi pegawai pemerintah kotapraja (gemeente) sebelum kemudian menjadi guru
sekolah dan pengacara bumiputra "pokrol bambu". Ia juga memasuki Gerakan Pemuda
(GP) Anshor, organisasi kepemudaan di bawah Nahdlatul Ulama (NU). Kemahiran Arifin
dalam berpidato, berdebat, dan berdakwah menjadikannya tokoh politik NU terkemuka
dalam waktu singkat.

Zaman pendudukan Jepang, Zainul Arifin mewakili NU dalam organisasi islami Masyumi
untuk selanjutnya, setelah menjalani pelatihan semi militer, dipercaya sebagai
panglima pasukan Hizbullah (Tentara Allah). Hingga menjelang penyerahan kedaulatan
pada 1949 Zainul memimpin pasukan tempur golongan Islam tersebut bergerilya di
pelosok-pelosok Jawa Timur dan Jawa Tengah. Ketika Tentara Nasional Indonesia (TNI)
akhirnya menyatukan seluruh kekuatan militer Indonesia ia sempat diangkat sebagai
sekertaris pucuk pimpinan TNI sebelum akhirnya mengundurkan diri dari dinas
ketentaraaan untuk berkonsentrasi di jalur politik sipil.

Sejak proklamasi kemerdekaan Zainul Arifin langsung duduk dalam Badan Pekerja
Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP), cikal bakal lembaga legislatif MPR/DPR.
Hingga akhir hayatnya Arifin aktif di parlemen mewakili partai Masyumi dan kemudian
partai NU setelah NU keluar dari Masyumi pada 1952. Hanya selama 1953-1955 ketika
menjabat sebagai wakil perdana menteri dalam kabinet Ali-Arifin (Kabinet Ali
Sastroamijoyo I) Zainul terlibat dalam badan eksekutif. Kabinet di era Demokrasi
Parlementer ini sukses menyelenggarakan Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada
1955.

Pemilu pertama 1955 mengantar Zainul Arifin sebagai anggota Majelis Konstituante sekaligus
wakil ketua DPR sampai kedua lembaga legislatif tersebut dibubarkan Sukarno melalui Dekrit
Presiden 5 Juli 1959. Memasuki era Demokrasi Terpimpin itu, Arifin bersedia mengetuai DPR
Gotong Royong (DPRGR) sebagai upaya partai NU membendung kekuatan Partai Komunis
Indonesia (PKI) di parlemen. Ditengah meningkatnya suhu politik di dalam negeri, pada 14 Mei
1962, ketika sedang salat Idul Adha pada barisan terdepan disebelah Sukarno, Zainul
tertembak peluru yang diarahkan seorang pemberontak dalam percobaannya membunuh
presiden. Zainul Arifin akhirnya wafat 2 Maret 1963 setelah menderita luka bekas tembakan
dibahunya selama sepuluh bulan.
Biografi Tokoh Sejarah Indonesia Abdul Muis

Di lahirkan di sungai puar, Sumatra Barat, pada tanggal 3 Juli 1883, ia di kenal sebagai sastrawan juga pejuang
indonesia. Salah satu buah karya besar beliau yang terkenal adalah SALAH ASUHAN dan SURAPATI, Semasa
kanak-kanaknya beliau menghabiskan waktunya untuk menuntut ilmu. Beliau pernah mengenyam pendidikan di
sekolah kedokteran BUMIPUTERA (STOVIA) Namun beliau tidak menyelesaikannya karena ia lebih menyukai
bidang jurnalistik.

Karena cinta kepada Bangsa Indonesia beliau rela menjadi pegawai negeri, namun profesinya sebagai wartawan
tetap ia jalankan. Beliau aktif menulis di harian DE EXPRESS, surat kabar PREANGER BODE BANDUNG, harian
KAOEM MOEDA dan juga NERACA.

Hatinya berontak ketika ia melihat penderitaan bangsanya akibat penjajahan Belanda, Sebagai nasionalis sejati
Abdul Muis muda tak rela melihat penindasan yang terjadi di negerinya sendiri. Ia Mencari cara terbaik untuk
melawan penjajah, Abdul Muis Segera bergabung dengan organisasi Sarekat Islam yang di kenal sebagai ANTI
KOLONIAL. Karena reputasinya yang sangat baik beliau di angkat menjadi pengurus besar organisasi tersebut.
Suatu ketika beliau mengajak dan memboikot perayaan seratus tahun terbebasnya Belanda dari penjajahan
Prancis. Akibatnya, Beliau harus berhadapan dengan mahkamah pengadilan.

Seorang Nasionalis muda yang cinta akan tanah airnya Abdul Muis selalu mempentingakan negerinya, Beliau
Pernah di kirim ke negeri Belanda pada tahun 1917 atas nama KOMITE KETAHANAN HINDIA BELANDA (Indie
Weerbaar) pada tahun 1917, Kesempatan itu pula di manfaatkan untuk mempengaruhi tokoh-tokoh politik
Belanda guna untuk mendirikan Sekolah Teknologi Tinggi di Indonesia. Berkat kegigihan beliau dan kawan-
kawannya, mereka berhasil Mendirikan sekolah yang di harapkannya, dan sampai sekarangpun sekolah itu
masih berdiri di Indonesia, Yang sekarang lebih di kenal dengan nama INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG ( I T B ).
Dalam Lembaga Volkstraad ( Dewan Rakyat ) Bersama H. UMAR SAID COKROAMINOTO pada tanggal 25
November 1918 ia pernah mengajukan MOSI terhadap pemerintahan kolonial Belanda. Mereka menuntut agar
pemerintah Belanda membentuk parlemen yang anggotanya di pilih sendiri oleh rakyat Indonesia.

Pada Tahun 1922 ia pernah juga memimpin demo mogok masal para buruh Yogyakarta. Hal tersebut membuat
pemerintah kolonial Belanda sangat marah, ia di tangkap dan di asingkan di GARUT Jawa Barat. Di tempat
pengasingan Beliau terus bersemangat Membela TANAH AIR tercinta, Di Garut sendiri beliau juga mendirikan
Persatuan Perjuangan PRIANGAN.

ABDUL MUIS yang di kenal sebagai sastrawan dan pejuang Tanah Air ini sempat menikmati zaman kemerdekaan,
Beliau Wafat dan di makamkan di BANDUNG pada tanggal 17 Juni 1959. Pada tahun itu pula Pemerintah
INDONESIA mengangkatnya Sebagai Pahlawan Pergerakan NASIONAL.