Anda di halaman 1dari 9

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Analisa Univariat

a. Lama penggunaan kontrasepsi suntik

Tabel 4.1. Distriibusi frekuensi lama penggunaan kontrasepsi suntik di


Puskesmas Balapulang Kabupaten Tegal
Persentase
Lama penggunaan Frekuensi
(%)
≥ 1 tahun 83 61.9
< 1 tahun 51 38.1
Total 134 100.0

Berdasarkan tabel 4.1. di atas maka dapat diketahui bahwa

akseptor KB di Puskesmas Balapulang Kabupaten Tegal sebagian

besar mempunyai lama penggunaan kontrasepsi suntik ≥ 1 tahun

sebanyak 83 responden (61,9%) dan sebagian kecil mempunyai lama

penggunaan kontrasepsi suntik tidak < 1 tahun sebanyak 51 responden

(38,1%).

b. Efek samping yang muncul

Tabel 4.2. Distriibusi frekuensi efrek samping kontrasepsi suntik di


Puskesmas Balapulang Kabupaten Tegal
Persentase
Efek samping Frekuensi
(%)
Amenorhea 55 41.0
Spooting 20 14.9
kenaikan berat badan 45 33.6
tidak muncul efek samping 14 10.4
Total 134 100.0
Berdasarkan tabel 4.2. di atas maka dapat diketahui bahwa

akseptor KB di Puskesmas Balapulang Kabupaten Tegal sebagian

besar mempunyai efek samping amenorhea sebanyak 55 responden

(41,0%) dan sebagian kecil tidak mempunyai efek samping sebanyak

14 responden (104%).

2. Analisa Bivariat

Tabel 4.3. Tabel silang antara Lama Penggunaan Kontrasepsi Suntik


Dengan Efek Samping yang muncul di Puskesmas Balapulang
Tegal
Efek samping yang muncul
Lama tidak
kenaikan
penggunaan muncul Jumlah P
Amenorea Spooting berat
kontrasepsi efek value
badan
suntik samping
F % F % F % F % F %
≥ 1 tahun 51 38,1 10 7,5 20 14,9 2 1,5 83 61,9 0,000
< 1 tahun 4 3,0 10 7,5 25 18,7 12 9,0 51 38,1
Jumlah 55 41,0 20 14,9 45 33,6 14 10,4 134 100

Berdasarkan tabel silang di atas maka dapat diketahui bahwa

akseptor KB di Puskesmas Balapulang Kabupaten Tegal yang mempunyai

lama pemakaian kontrasepsi suntik ≥ 1 tahun sebagian besar mempunyai

efek samping amenorhea sebanyak 51 responden (38,1%) dan yang

mempunyai < 1 tahun sebagian besar mempunyai efek samping kenaikan

berat badan sebanyak 25 responden (18,7%).

Dari hasil olah data dengan chi square, maka didapatkan hasil

terdapat 0 sel (0%) yang mempunyai nilai harapan kurang dari 5

didapatkan nilai p-value 0,000 < 0,05 maka dapat disimpulkan ada

hubungan antara Lama Penggunaan Kontrasepsi Suntik Dengan Efek

Samping yang muncul di Puskesmas Balapulang Tegal


B. Pembahasan

1. Analisa Univariat

a. Lama penggunaan kontrasepsi suntik

Berdasarkan hasil penelitian maka dapat diketahui bahwa

akseptor KB di Puskesmas Balapulang Kabupaten Tegal sebagian

besar mempunyai lama penggunaan kontrasepsi suntik ≥ 1 tahun

sebanyak 83 responden (61,9%) dan sebagian kecil mempunyai lama

penggunaan kontrasepsi suntik tidak lama sebanyak 51 responden

(38,1%). Hal tersebut menunjukkan bahwa kontrasepsi suntik telah

lama diminati oleh masyarakat khususnya akseptor KB di Puskesmas

Balapulang. Akseptor merasa telah cocok dengan kontrasepsi suntik

karena efektif untuk menunda, menjarangkan, atau pun menghentikan

kehamilan. Selain itu, akseptor yang berkunjung di di Puskesmas

Balapulang umumnya telah menggunakan kontrasepsi suntik sehingga

mempengaruhi calon akseptor yang lain untuk menggunakan

kontrasepsi suntik, karena orang lain atau lingkungan merupakan

salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku penggunaan kontrasepsi

suntik.

Kontrasepsi suntik bagi akseptor di Puskesmas Balapulang

merupakan kontrasepsi yang mudah digunakan dan mudah diperoleh.

Jangka waktu untuk melakukan suntik ulang pun cukup panjang

dengan harga yang relatif murah, tetapi mampu mencegah terjadinya


kehamilan secara efektif. Keuntungan-keuntungan kontrasepsi suntik

yang demikian menjadikan banyaknya masyarakat banyak

menggunakan kontrasepsi suntik, meskipun tidak jarang akseptor

mengeluhkan adanya perubahan berat badan.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Dian Erawati

2015 tentang hubungan lama pemakaian kontrasepsi suntik dengan

peningkatan berat badan pada akseptor suntik depo medroksi

progesteron asetat di bidan praktik mandiri (bpm) sugiyati kajoran

magelang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar

responden telah lama memakai kontrasepsi suntik (>1 tahun) yaitu

211 orang (91,7%).

b. Efek samping yang muncul

Berdasarkan hasil penelitian maka dapat diketahui bahwa

akseptor KB di Puskesmas Balapulang Kabupaten Tegal sebagian

besar mempunyai efek samping amenorhea sebanyak 55 responden

(41,0%) dan sebagian kecil tidak mempunyai efek samping sebanyak

14 responden (104%). Keluhan terbanyak para akseptor KB suntik

DMPA adalah gangguan perdarahan, baik berupa perdarahan bercak,

amenorrhea dan haid tidak teratur. Pada penggunaan > 1 tahun 50%

akseptor mengalami amenorhea setelah menggunakan KB suntik

DMPA.(19,20)

Amenorhea adalah keadaan tidak adanya haid untuk sedikitnya

2 bulan berturu-turut. Terdapat dua tipe amenorhea yaitu amenorhea


primer adalah apabila seorang wanita haid berumur 18 tahun ke atas

tidak pernah haid, sedangkan amenorhea sekunder penderita pernah

mendapat haid, tetapi kemudian tidak dapat lagi.5 Kontraindikasi

menggunakan suntik diantara lain yaitu wanita hamil, wanita dengan

kanker payudara, wanita yang tidak dapat menerima terjadinya

gangguan haid terutama amenorhea, perdarahan abnormal uterus, dan

pada wanita yang diabetes atau mempunyai riwayat diabetes.(6,7)

Kontrasepsi merupakan suatu cara atau metode yang

bertujuan untuk mencegah pembuahan sehingga tidak terjadi

kehamilan. Negara berkembang seperti Indonesia yang memiliki

jumlah penduduk besar mendukung program kontraspesi untuk

mengendalikan pertumbuhan jumlah penduduk dan untuk

meningkatkan kesejahteraaan keluarga (Ridwanaz, 2013). Kontrasepsi

hormonal adalah kontrasepsi yang mengatur masa subur perempuan

melalui sistem hormonal. Kontrasepsi hormonal mengandung hormon

esterogen, progesterone atau campuran keduanya (Mujoko, 2013).

Sedangkan kontrasepsi suntikan mengandung hormon sintetik

(Miskuri, 2013), yang mempunyai efek samping peningkatan berat

badan, aminore, mual dan pusing flek-flek (spotting) (Sulistyawati,

2011).

2. Analisa Bivariat

Berdasarkan tabel silang di atas maka dapat diketahui bahwa

akseptor KB di Puskesmas Balapulang Kabupaten Tegal yang mempunyai


lama pemakaian kontrasepsi suntik ≥ 1 tahun sebagian besar mempunyai

efek samping amenorhea sebanyak 51 responden (38,1%) dan yang

mempunyai < 1 tahun sebagian besar mempunyai efek samping kenaikan

berat badan sebanyak 25 responden (18,7%). Dari hasil olah data

didapatkan nilai p-value 0,000 < 0,05 maka dapat disimpulkan ada

hubungan antara Lama Penggunaan Kontrasepsi Suntik Dengan Efek

Samping yang muncul di Puskesmas Balapulang Tegal

Penggunaan kontrasepsi suntik dengan lama penggunaan ≥ 1tahun

pada pemakaian DMPA dapat mengakibatkan gangguan menstruasi seperti

sakit kepala, nyeri payudara, amenorhea, spotting, pengeroposan tulang,

dan meningkatnya barat badan. Hal ini disebabkan karena adanya

ketidakseimbangan hormon sehingga endometrium mengalami perubahan,

keadaan amenorhea disebabkan atrofi endometrium.(18,20)

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian dania 2014 tentang

Hubungan Antara Penggunaan Kontrasepsi Hormonal Suntik DMPA

dengan Peningkatan Berat Badan di Puskesmas Lapai Kota Padang.

Hasil penelitian menunjukkan 23 akseptor (57.50%) mengalami

peningkatan berat badan. Sebagian besar rata-rata peningkatan berat badan

dalam satu tahun adalah >0 – 1 kg (47.8% akseptor). Rata- rata berat

badan sebelum dan setelah penggunaan kontrasepsi DMPA adalah

54.4 kg dan 58.1 kg. Terdapat hubungan yang bermakna antara

penggunaan kontrasepsi hormonal suntik DMPA dengan peningkatan

berat badan (p=0.000 < 0.05).


Sedangkan penelitian Dian Erawati 2015 tentang hubungan lama

pemakaian kontrasepsi suntik dengan peningkatan berat badan pada

akseptor suntik depo medroksi progesteron asetat di bidan praktik

mandiri (BPM) sugiyati kajoran magelang. Hasil penelitian menunjukkan

Pengguna kontrasepsi suntik di BPM Sugiyati tahun 2014 lebih 1

tahun sebesar 91,7% dan 60% akseptor suntik mengalami peningkatan

berat badan. Hasil uji chi square diketahui 2-hitung 4,628 dengan p-

value 0,099. Tidak ada hubungan antara lamanya pemakaian alat

kontrasepsi suntik dengan perubahan berat badan pada akseptor KB suntik.


BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Akseptor KB di Puskesmas Balapulang Kabupaten Tegal sebagian besar

mempunyai lama penggunaan kontrasepsi suntik ≥ 1 tahun sebanyak 83

responden (61,9%) dan sebagian kecil mempunyai lama penggunaan

kontrasepsi suntik < 1 tahun sebanyak 51 responden (38,1%).

2. Akseptor KB di Puskesmas Balapulang Kabupaten Tegal sebagian besar

mempunyai efek samping amenorhea sebanyak 55 responden (41,0%) dan

sebagian kecil tidak mempunyai efek samping sebanyak 14 responden

(104%).

3. Ada hubungan antara Lama Penggunaan Kontrasepsi Suntik Dengan Efek

Samping yang muncul di Puskesmas Balapulang Tegal p-value 0,000 <

0,05

B. Saran

1. Akseptor KB

Masyarakat terutama bagi akseptor suntik hendaknya tetap melestarikan

penggunaan kontrasepsi suntik sebagai metode untuk menunda,

menjarangkan, dan menghentikan kehamilan meskipun terdapat efek

samping berupa terjadinya peningkatan berat badan, tetapi efek


samping tersebut dicegah diantaranya dengan melakukan aktivitas fisik

misalnya olah raga atau dengan pengaturan waktu pemakaian.

2. Puskesmas Balapulang

Bagi Puskesmas Balapulang Disarankan untuk tetap selalu memberikan

Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) secara lengkap kepada calon

akseptor khususnya calon akseptor suntik agar akseptor suntik dapat

melakukan upaya pencegahan terhadap peningkatan berat badan yang

merupakan salah satu efek samping penggunaan kontrasepsi suntik.

3. Stike Karya Husada Semarang

Bagi Stike Karya Husada Semarang disarankan untuk melakukan kerja

sama dengan sektor kesehatan dalam megupayakan pemberian

Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) tentang metode kontrasepsi

kepada calon akseptor sebagai salah satu bentuk penerapan pengetahuan

di lapangan.

4. Peneliti

Bagi Peneliti selanjutnya sebagai lanjutan melibatkan variabel lain yang

saat ini belum diteliti oleh penulis tentang perubahan pola makan yang

dapat meningkatkan berat badan.