Anda di halaman 1dari 8

Nama : Fitria Khairunnisa

NIM : P07220418017

LAPORAN PENDAHULUAN
ORIF (Open Reduksi Internal Fiksasi)

A. Pengertian
ORIF (Open Reduksi Internal Fiksasi),open reduksi merupakan suatu
tindakan pembedahan untuk memanipulasi fragmen-fragmen tulang yang patah /
fraktur sedapat mungkin kembali seperti letak asalnya.Internal fiksasi biasanya
melibatkan penggunaan plat, sekrup, paku maupun suatu intramedulary (IM)
untuk mempertahankan fragmen tulang dalam posisinya sampai penyembuhan
tulang yang solid terjadi.
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang yang ditandai oleh rasa nyeri,
pembengkakan, deformitas, gangguan fungsi, pemendekan, dan krepitasi. Fraktur
adalah teputusnya jaringan tulang-tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh
ruda paksa.
Open Reduction Interna Fixation (ORIF) adalah fiksasi interna dengan
pembedahan terbuka untuk mengistirahatkan fraktur dengan melakukan
pembedahan untuk memasukkan paku,screw dan pen kedalam tempat fraktur
untuk menguatkan/mengikat bagian-bagian tulang yang fraktur secara bersamaan
(Reeves, 2011).

B. Etiologi
Menurut Oswari E (1993)

a. Kekerasan langsung
Terkena pada bagian langsung trauma
a. Kekerasan tidak langsung
Terkena bukan pada bagian yang terkena trauma
b. Kekerasan akibat tarikan otot

C. Patofisiologi
Setelah fraktur dapat terjadi kerusakan pada sumsum tulang, endosteum dan
jaringan otot. Pada fraktur cruris dan femur dextra upaya penanganan dilakukan
tindakan operasi dengan menggunakan internal fiksasi. Pada kasus ini, hal
pertama yang dapat dilakukan adalah dengan incisi. Dengan incisi maka akan
terjadi kerusakan pada jaringan lunak dan saraf sensoris. Apabila pembuluh darah
terpotong dan rusak maka cairan dalam sel akan menuju jaringan dan
menyebabkan oedema.
Oedema ini akan menekan saraf sensoris sehingga akan menimbulkan nyeri
pada sekitar luka incisi. Bila terasa nyeri biasanya pasien cenderung untuk malas
bergerak. Hal ini akan menimbulkan perlengketan jaringan otot sehingga terjadi
fibrotik dan menyebabkan penurunan lingkup gerak sendi (LGS) yang dekat
dengan perpatahan dan potensial terjadi penurunan nilai kekuatan otot.
Waktu penyembuhan pada fraktur sangat bervariasi antara individu satu
dengan individu lainnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan fraktur
antara lain : usia pasien, jenis fraktur, banyaknya displacement, lokasi fraktur,
pasokan darah pada fraktur dan kondisi medis yang menyertai (Garrison, 1996).
Dan yang paling penting adalah stabilitas fragmen pada tulang yang mengalami
perpatahan. Apabila stabilitas antar fragmen baik maka penyembuhan akan sesuai
dengan target waktu yang dibutuhkan atau diperlukan.
Secara fisiologis, tulang mempunyai kemampuan untuk menyambung kembali
setelah terjadi perpatahan pada tulang. Pada fraktur, proses penyambungan tulang
dibagi dalam 5 tahap yaitu

1. Hematoma
Pembuluh darah robek dan terbentuk hematoma di sekitar dan di dalam
fraktur (Apley, 1995). Hal ini mengakibatkan gangguan aliran darah pada
tulang yang berdekatan dengan fraktur dan mematikannya (Maurice King,
2001).
2. Proliferasi
Dalam 8 jam setelah fraktur terdapat reaksi radang akut disertai proliferasi
sel di bawah periosteum dan di dalam saluran medulla yang tertembus.
Hematoma yang membeku perlahan-lahan diabsorbsi dan kapiler baru
yang halus berkembang ke dalam daerah itu (Apley, 1995).
3. Pembentukan callus
Selama beberapa minggu berikutnya, periosteum dan endosteum
menghasilkan callus yang penuh dengan sel kumparan yang aktif. Dengan
pergerakan yang lembut dapat merangsang pembentukan callus pada
fraktur tersebut (Maurice King, 2001).
4. Konsolidasi
Selama stadium ini tulang mengalami penyembuhan terus-menerus.
Fragmen yang patah tetap dipertahankan oleh callus sedangkan tulang mati
pada ujung dari masing-masing fragmen dihilangkan secara perlahan, dan
ujungnya mendapat lebih banyak callus yang akhirnya menjadi tulang
padat (Maurice King, 2001). Ini adalah proses yang lambat dan mungkin
perlu beberapa bulan sebelum tulang cukup kuat untuk membawa beban
yang normal (Apley, 1995).
5. Remodelling
Tulang yang baru terbentuk, dibentuk kembali sehingga mirip dengan
struktur normal (Appley, 1995). Semakin sering pasien menggunakan
anggota geraknya, semakin kuat tulang baru tersebut (Maurice King,
2001).
Perubahan patologi setelah dilakukan operasi adalah :
a. Oedema
Oedema dapat terjadi karena adanya kerusakan pada pembuluh darah
akibat dari incisi, sehingga cairan yang melewati membran tidak lancar
dan tidak dapat tersaring lalu terjadi akumulasi cairan sehingga timbul
bengkak.
b. Nyeri
Nyeri dapat terjadi karena adanya rangsangan nociceptor akibat incisi
dan adanya oedema pada sekitar fraktur.
c. Keterbatasan LGS
Permasalahan ini timbul karena adanya rasa nyeri, oedema, kelemahan
pada otot sehingga pasien tidak ingin bergerak dan beraktivitas.
Keadaan ini dapat menyebabkan perlengketan jaringan dan
keterbatasan lingkup gerak sendi (Apley, 1995).
d. Potensial terjadi penurunan kekuatan otot
Pada kasus ini potensial terjadi penurunan kekuatan otot karena adanya
nyeri dan oedema sehingga pasien enggak menggerakkan dengan kuat.
Tetapi jika dibiarkan terlalu lama maka penurunan kekuatan otot ini
akan benar-benar terjadi.

D. Tanda dan Gejala

1. Nyeri terus-menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang


diimobilisasi, hematoma, dan edema.
2. Deformitas karena adanya pergeseran fragmen tulang yang patah.
3. Terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi ototang
melekat di atas dan di bawah tempat fraktur.
4. Krepitasi akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya.
5. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit.

E. Pemeriksaan Penunjang

1. Pemeriksaan foto radiologi dari fraktur : menentukan lokasi, luasnya


2. Pemeriksaan jumlah darah lengkap
3. Arteriografi : dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai
4. Kreatinin : trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens ginjal

F. Komplikasi
Pada kasus ini jarang sekali terjadi komplikasi karena incisi relatif kecil dan
fiksasi cenderung aman. Komplikasi akan terjadi bila ada penyakit penyerta dan
gangguan pada proses penyambungan tulang.

G. Penatalaksanaan
Prinsip dari penanganan adalah :
1. Mobilisasi berupa latihan-latihan seluruh sistem gerak untuk
mengembalikan fungsi anggota badan seperti sebelum patah.
a. Static contraction
Static contraction merupakan kontraksi otot secara isometrik untuk
mempertahankan kestabilan tanpa disertai gerakan (Priatna, 1985).
Dengan gerakan ini maka akan merangsang otot-otot untuk
melakukan pumping action sehingga aliran darah balik vena akan
lebih cepat. Apabila sistem peredaran darah baik maka oedema dan
nyeri dapat berkurang.
b. Latihan pasif
Merupakan gerakan yang ditimbulkan oleh adanya kekuatan dari luar
sedangkan otot penderita rileks (Priatna, 1985). Disini gerakan pasif
dilakukan dengan bantuan terapis.
c. Latihan aktif
Latihan aktif merupakan gerakan murni yang dilakukan oleh otot-otot
anggota tubuh pasien itu sendiri. Tujuan latihan aktifmeningkatkan
kekuatan otot (Kisner, 1996). Gerak aktif tersebut akan meningkatkan
tonus otot sehingga pengiriman oksigen dan nutrisi makanan akan
diedarkan oleh darah. Dengan adanya oksigen dan nutrisi dalam
darah, maka kebutuhan regenerasi pada tempat yang mengalami
perpatahan akan terpenuhi dengan baik dan dapat mencegah adanya
fibrotik.
d. Latihan jalan
Salah satu kemampuan fungsional yang sangat penting adalah
berjalan. Latihan jalan dilakukan apabila pasien telah mampu untuk
berdiri dan keseimbangan sudah baik. Latihan ini dilakukan secara
bertahap dan bila perlu dapat menggunakan walker. Selain itu dapat
menggunakan kruk tergantung dari kemampuan pasien. Pada waktu
pertama kali latihan biasanya menggunakan teknik non weight
bearing ( NWB ) atau tanpa menumpu berat badan. Bila
keseimbangan sudah bagus dapat ditingkatkan secara bertahap
menggunakan partial weight bearing ( PWB ) dan full weight bearing
( FWB ). Tujuan latihan ini agar pasien dapat melakukan ambulasi
secara mandiri walaupun masih dengan alat bantu.
2. Mencegah infeksi pada daerah luka jahitan.
PROSEDUR ORIF

Persiapan Alat :

Instrumen Instrumen Tambahan

Basic set : Slang suction

Bengkok 1 Benang cide 2/0, cromik 0, dexon(surgicryl)

Nailpuder 2 Jarum tapper dan silinder

Klem arteri bengkok Bisturi 22


10

Kom 2 Duk sedang 2

Skapel 2 Duk lobang 1

Kooker 6 Duk kaki 1

Gunting jaringan 2 Bor

Gunting benang 2 Mata bor

Pinset anatomis 2 Respatrium

Pinset srirugis 2 Nagle tang

Klem arteri lurus 10 Cobra

Pinset srilugis manis 1 Kuret

Wound hakgigi 2 Reduction

Elize 2 Drifer

Ohak 2 Bone klem

Duk klem 5 Hak besar

Langen hak 2 Tang

Kanul section 1 Pengukur

Plat Baut
Pelaksanaan atau tindakan

No. Tindakan
1 Memposisikan pasien supinasi dan mengfiksasi
2 Melepas bidai dengan gunting
3 Memasang perlak dibawah area operasi
4 Mencuci tangan steril dengan handiscrab dan air mengalir
5 Memakai jas operasi
6 Memakai handscone steril
7 Disinfeksi daerah operasi mulai dengan handiscrub kemudian
dikeringkan memakai kasa, diteruskan dengan alkohol kemuadian
dikeringkan memakai kasa dan yang terakhir adalah dengan batadine.
8 Penutupan area operasi (draping) dengan duk besar lobang 1, duk
tanggung rapat 2 dan duk kaki 1, kemudian dirapihkan dan difiksasi
mengunakan duk klem.
9 Insisi lokasi operasi femur 1/3 proksimal mulai dari kulit-subcutis
menggunakan bisturi No.22.
10 Menghentikan perdarahan dengan menggunakan cutter.
11 Menggunting facia dengan gunting jaringan.
12 Memperjelas area pandang operasi dengan menyedot perdarahan
menggunakan suction
13 Mengedep perdarahan dengan kasa kering
14 Memasang hak besar
15 Memisahkan /diseksi otot dengan tulang dengan menggunakan
respatrium
16 Mengambil jaringan tulang yang tak berfungsi dengan nagle tang
17 Mencari ujung kedua tulang yang patah
18 Memasang cobra
19 Menyatukan ke-2 ujung tulang yang patah dengan bon klem
21 Kuretase tulang dengan kuret
22 Memasang reduction ditengah-tengah ujung tulang yang patah
23 Memasang plat tulang
24 Mengebor tulang sesuai jumlah lubang pada plat dan mengukur
kedalaman lubang.
25 Membuat lubang untuk masuk baut
25 Memasang baut sejumlah lubang yang ada dengan menggunakan scrub
driver
26 Setelah baut terpasang semua bersihkan area opersi dengan NACL
27 Disinfeksi luka operasi dengan betadine
28 Memasang drain dengan NGT No.18
29 Menjahit facia jarum dalam dan benang dexon
30 Menjahit sub cutis dengan benang cromik no.0
31 Menjahit kulit dengan jarum luar dan benang cide N0.2/0
32 Membersihkan luka operasi dengan NACL
33 Disinfeksi luka operasi dengan betadine dan kasa steril
34 Menutup luka dengan kasa steril rangkap 2
35 Memasang sofban
36 Mengitung instrument bekas operasi
37 Menghitung kasa bekas operasi
38 Membersihkan dan merapihkan alat
39 Memindahkan pasien ke Bed
40 Mendokumentasikan di status pasien

DAFTAR PUSTAKA

Potter, Patricia A and Perry,Anne Griffin.(2005).Buku Ajar Fundamental


Keperawatan (edisi ke4).Jakarta : EGC

Ranirahayu. 2015. Tindakan Pemasangan Orif. Diakses Pada Tanggal 15 Oktober


2016. Dari : http://documents.tips/download/link/tindakan-pemasangan-orif

Ms Priyanti. 2007. Konsep Dasar Fraktur. Diakses pada tanggal 15 Oktober 2016