Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
“MASYARAKAT MADANI”

DISUSUN
O
L
E
H

MONIKA RESTI INKA


17101157510158
DOSEN : VIVI PUSPITA SARI, S.Ip, M.Pd
PSIKOLOGI D

FAKULTAS PSIKOLOGI
UPI “YPTK” PADANG
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya haturkan kehadirat Allah SWT. yang maha kuasa serta
shalawat dan salam yang tidak lupa saya ucapkan kepada Nabi besar yaitu Nabi
Muhammad SAW. saya bersyukur karena berkat-Nya lah saya mendapatkan
hidayah dan taufik-Nya kepada saya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah
ini, yang mana tugas makalah pendidikan kewarganegaraan ini saya susun untuk
tugas nilai ujian akhir semester saya pada semester ini.
Makalah ini berisikan tentang masyarakat madani dan didalamnya terdapat
beberapa tokoh yang berperan penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan,
baik dari dunia barat maupun dari bangsa islam, serta sejarah dan pengertian
masyarakat madani untuk menambah pengetahuan mengingat tidak semua
masyarakat mengetahui apa itu masyarakat madani. Saya menyadari makalah
yang saya buat ini tidaklah sempurna bahkan jauh dari kata sempurna. Oleh
karena itu apabila ada kritik dan saran yang membangun terhadap makalah ini,
saya akan menerima dengan lapang dada dan tidak lupa untuk mengucapkan
terima kasih.
Demikian makalah ini saya susun, semoga dapat berguna bagi kita semua,Amin.

Padang, 02 Desember 2017

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Fokus Pembahasan
1.4 Tujuan
1.5 Manfaat Penulisan
BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 Sejarah pemikiran masyarakat madani
2.2 Landasan Teori
2.3 Karakteristik Masyarakat Madani
2.4 Pilar Penegak Masyarakat Madani
2.5 Masyarakat Madani di Indonesia
2.6 Studi kasus tentang masyarakat madani
2.7 Faktor-faktor yang mempengaruhi masyarakat madani dan solusi dalam
mengatasi masalah masyarakat madani
BAB 3 SIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Berbagai upaya perlu dilakukan dalam mewujudkan masyarakat madani yaitu
masyarakat yang beradab, baik yang berupa jangka pendek maupun yang berupa jangka
panjang. Untuk yang berupa jangka pendek dilaksanakan dengan memilih dan menempatkan
pemimpin-pemimpin yang dapat dipercaya,diterima dan dapat memimpin denagn baik.
Sedangkan yang berupa jangka panjang yaitu dengan menyiapkan sumber daya manusia yang
berwawasan dan berperilaku madani melalui perspektif pendidikan. Perspektif pendidikan
perlu dikaji mengingat konsep masyarakat madani sebenarnya merupakan bagian dari tujuan
pendidikan nasional.
Kecenderungan ketidak puasan berpotensi untuk menambah tingkat kefrustasian yang
lebih mendalam pada masyarakat bila terjadi kesenjangan antara kenyataan yang ada dan
harapan. Padahal kemungkinan untuk itu sangat terbuka dan bisa menjadi nyata, antara lain
kesalahan dalam mengkonsepsi dan juga pada saat menarik ukuran-ukuran ketercapaian. Pada
saat ini gejala itu sudah ada, sehingga kebutuhan membuat wacana atau materi ini lebih terbuka
menjadi sangat penting dalam kerangka pendidikan politik bagi masyarakat luas.
Makalah ini mencoba untuk mengungkapkan sejarah, karakteristik, pilar penegak, studi
kasus serta masyarakat madani di Indonesia yang mungkin dapat menjadi masukan dalam
mewujudkan masyarakat madani melalui sudut pandang pendidikan.
Tentu saja pemikiran yang konseptual ini akan dapat diterapkan di lapangan secara
kontekstual setelah melalui pengujian yang profesional. Melihat kenyataan tadi maka saya
beriinisiatif untuk mengambil judul “Masyarakat madani” untuk dijadikan bahan atau materi
makalah saya dan oleh karena itu saya tertarik untuk membahas dan mengkaji perkembangan
masyarakat madani di Indonesia.

1.2 Rumusan Masalah


Masalah yang akan saya bahas dalam makalah ini antara lain :
1.Bagaiman sejarah pemikiran masyarakat madani?
2.Bagaimana karakteristik Masyarakat madani?
3.Bagaimana pilar penegak masyarakat madani?
4.Bagaimana masyarakat madani di Indonesia?
5.Studi kasus masyarakat madani.
1.3 Fokus Pembahasan
Pada makalah ini saya membatasi pembahasan atau masalah yang saya bahas yakni
hanya meliputi sejarah, karakteristik, pilar penegak, studi kasus serta masyarakat madani dan
demokratis. Selain itu ada beberapa faktor pendorong dan faktor penghambat yang
mempengaruhi masyarakat madani. Batasan masalah ini bertujuan untuk memberikan ruang
lingkup agar masalah tifak terlalu luas, sehingga pembahasan terfokus atau terarah pada
karakteristik dan perwujudan masyarakat madani.

1.4 Tujuan Makalah


Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan yang ingin dicapai dari makalah ini
adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui sejarah pemikiran masyarakat madani.
2. Mengetahui karakteristik masyarakat madani.
3. Mengetahui pilar penegak masyarakat madani.
4. Mengetahui masyarakat madani di Indonesia.
5. Mengetahui studi kasus masyarakat madani.
Pengertian masyarakat madani juga perlu dibahas dalam makalah ini karena tidak semua
mahasiswa mengerti atau mengetahui dengan jelas apa itu masyarakat madani. Kita juga perlu
mengetahui perkembangan masyarakat madani di Indonesia dan solusi atau cara yang
digunakan untuk mewujudkan masyarakat madani sehingga perlu dibahas dalam makalah ini.

1.5 Manfaat Penulisan


Makalah ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi pihak yang membutuhkan, antara lain
sebagai berikut :
a. Menambah wawasan baru dan lebih memperdalam pengetahuan mengenai masyarakat
madani
b. Mempelajari karakteristik masyarakat madani agar dapat diterpkan dalam keidupan
sehari-hari
c. Sebagai media untuk mengungkapkan inspirasi untuk mengungkapkan sejauh mana
sejarah masyarakat madani.
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Pemikiran Masyarakat Madani
Istilah masyarakat madani dalam bahasa inggris dikenal sebagai civil society yang
pertama kali dikemukakan oleh Cicero dalam filsafat politiknya yang identik dengan negara.
Rahardjo (1997) menyatakan bahwa istilah civil society sudah ada sejak zaman sebelum
masehi. Menurut Cicero civil society ialah suatu komunitas politik yang beradab seperti yang
dicontohkan oleh masyarakat kota yang memiliki hukum sendiri.
Filsuf yunani Aristoteles (384-322 SM) yang memandang masyarakat sipil sebagai
suatu sistem kenegaraan atau identik dengan negara itu sendiri, pandangan ini merupakan fase
pertama sejarah wacana civil society yang berkembang saat ini yakni masyarakat sivil diluar
dan penyeimbangan lembaga negara yang dipahami sebagai sistem kenegaraan dengan
mengguanakn istilah koinonia politeki yaitu sebuah komunitas politik tempat warga dapat
terlibat langsung dalam berbagai hubungan ekonomi-politik dan pengambilan keputusan. Fase
kedua ( 1767), Adam Ferguson mengembangkan wacana civil society, dengan konteks sosial
dan politik di Skotlandia. Fase ketiga (1792), Thomas Paine memaknai civil society sebagai
suatu yang berlawanan dengan lembaga negara, menurut pemikiran ini perwujudan dari
delegasi kekuasaan yang diberikan oleh masyarakat demi terciptanya kesejahteraan bersama.
Fase keempat, dikembangkan oleh G.W.F Hegel (1770-1831 M), Karl Max (1818-1883 M),
Antonio Gramsci (1891-1837 M) menurut ketiganya civil society merupakan elemen ideologis
kelas dominan, pemahaman ini adalah reaksi pine, hegel memandang civil society sebagai
kelompok subordinatif terhadap negara, pandangan ini menurut pakar politik Indonesia Ryass
Rasyid, erat kaitannya denagn perkembangan sosial masyarakat borjuasi Eropa yang
pertumbuhannya ditandai oleh pejuang melepaskan diri dari cengkraman dominasi negara.
Fase kelima wacana civil society sebagai reaksi terhadap mazhab hegelian yang dikembangkan
oleh Alexis dan Tocqueville (1805-1859), memandang sebagai kelompok penyeimbang
negara.
Di Indonesia, pengertian masyarakat madani pertama kali dikenalkan oleh Anwar
Ibrahim. Ia menyatakan bahwa masyarakat madani adalah sistem sosial yang subur yang
diasaskan kepada prinsip moral yang menjamin keseimbangan antara kebebasan perorang dan
kestabilan masyarakat.
Perjuangan masyarakat madani di Indonesia pada awal pergerakan kebangsaan pertama
kali dipelopori oleh Syarikat Islam (1912) dilanjutkan oleh Soeltan Syahrir pada awal
kemerdekaan (1999).
2.2 Landasan Teori
1.Pengertian Masyarakat Madani
Masyarakat madani (civil society) diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia berarti
masyarakat sipil atau masyarakat yang beradab. Kata Madani berasal dari kata “Madinah” yaitu
sebuah kota tempat Nabi Muhammad SAW berhijrah, arti kata madinah (Madaniyah) yaitu
yang berarti peradaban, pemaknaan civil society sebagai masyarakat madani merujuk pada
konsep dan bentuk masyarakat madinah yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW. Oleh
karena itu masyarakat Madani dikatakan sebagai masyarakat yang beradab.
Masyarakat madani adalah sebuah tatanan masyarakat sipil yang demokratis, yang mandiri.
Adapun beberapa pendapat para ahli tentang masyarakat madani :
a) Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, masyarakat madani adalah masyarakat yang
menjunjung norma, nilai-nilai dan hukum yang ditopang oleh penguasaan teknologi
yang beradab, iman dan ilmu.
b) Hall (1998) mengemukakan bahwa masyarakat madani identik dengan civil society
yang artinya suatau ide, angan-angan, bayangan, cita-cita suatu komunitas yang dapat
terjewantahkan (terwujudkan) dalam kehidupan sosial. Pada masyaraakt madani pelaku
sosial akan berpegang teguh pada peradaban dan kemanusiaan.
c) Mun’im (1994) mendefinisikan istilah civil society sebagai seperangkat gagasan etis
yang mengejawantahan (mewujudkan) dalam berbagai tatanan sosial, dan yang paling
penting dari gagasan ini adalah usahanya untuk menyelaraskan berbagai konflik
kepentingan antarindividu, masyarakat, dan negara.
d) Menurut Munir (1997) sebenarnya berasal dari bahasa arab, madaniy. Kata madaniy
berakar dari kata kerja madana yang berarti mendiami, tinggal atau membangun.
Kemudian berubah istilah menjadi madani yang artinya beradab, orang kota, orang sipil
dan yang bersifat sipil atau perdata.
Dari beberapa pendapat diatas juga dapat disimpulkan bahwa masyarakat madani
adalah masyarakat yang memiliki prinsip multimakna atau bermakna ganda yakni :
demokratis, menjunjung tinggi etika dan moral, transparansi, toleransi, berpotensi,
mengakui emansipasi hak azasi manusia.
2.Manfaat Masyarakat Madani
Adapun manfaat yang diperoleh dari terwujudnya masyarakat madani yakni sebagai berikut :
 terciptanya masyarakat Indonesia yang demokratis sebagai tuntutan reformasi didalam
negeri dan tekanan-tekanan politik dan ekonomi dari luar negeri.
 Akan mendorong munculnya inovasi-inovasi baru dibidang pendidikan
 Persoalan-persoalan besar bangsa Indonesia seperti konflik suku, agama, ras, golongan,
dll dapat dikondisikan untuk mewujudkan kesejahteraan bersama
2.3 Karakteristik Masyarakat Madani
1. Free public sphere (ruang publik yang bebas), yaitu masyarakat memiliki akses penuh
terhadap setiap kegiatan publik ,mereka berhak melakukan kegiatan secara merdeka
dalam menyampikan pendapat, berserikat, berkumpul, serta mempublikasikan dan
menginformasikan kepada publik.
2. Demokratisasi, yaitu proses untuk menerapkan prinsip –prinsip demokrasi sehingga
mewujudkan masyarakat yang demokratis. Untuk menumbuhkan demokratisasi
dibutuhkan kesiapan anggota masyarakat berupa kesadaran pribadi, kesetaraan, dan
menerima perlakuan demokratis orang lain.
3. Toleransi, yaitu kesediaan individu untuk menerima pandangan-pandangan politik dan
sikap sosial yang berbeda dalam masyarakat, sikap saling menghargai dan
menghormati pendapat serta aktivitas yang dilakukan oleh orang atau kelompok lain.
4. Pluralisme, yaitu sikap mengakui dan menerima kenyataan masyarakat yang majemuk
disertai dengan sikap tulus, bahwa kemajemukan sebagai nilai positif dan merupakan
rahmat Tuhan maha kuasa.
5. Keadilan sosial, yaitu keseimbangan dan pembagian yang proporsional antara hak dan
kewajiban, serta tanggung jawab individu terhadap lingkungannya.
6. Partispasi sosial, yaitu partisipasi masyarakat yang benar-benar bersih dari rekayasa,
intimidasi, ataupun intervensi penguasa atau pihak lain, sehingga masyarakat memiliki
kedewasaan dan kemandirian berpolitik yang bertanggung jawab.
7. Supremasi hukum, yaitu upaya untuk memberikan jaminan terciptanay keadilan.
Keadilan harus diposisiskan secara netral, artinya setiap orang memiliki kedudukan dan
perlakuan hukum yang sama tanpa kecuali.
2.4 Pilar penegak masyarakat madani
Pilar penegak masyarakat madani adalah institusi-institusi yang menjadi bagian dari
sosial kontrol yang berfungsi mengkritisi kebijakan-kebijakan penguasa yang diskriminatif
serta mampu memperjuangkan aspirasi masyarakat yang tertindas. Pilar-pilar tersebut antara
lain :
 Lembaga Swadaya Masyarakat
Lembaga swadaya masyarakat adalah institusi sosial yang dibentuk oleh swadaya masyarakat
yang tugas utamanya adalah membantu dan memperjuangkan aspirasi dan kepentingan
masyarakat yang tertindas. LSM dalam konteks bertugas mengadakan pemberdayaan kepada
masyarakat mengenai hal-hal yang signifikan dalam kehidupan sehari-hari misalnya
mengadakan penelitian dan sosialisasi program-program pembangunan masyarakat.
 Pers
Pers adalah instititut yang berfungsi untuk mengkritisi dan menjadi bagian dari sosial kontrol
yang dapat menganalisa serta mempublikasikan berbagai kebijakan pemerintah yang
berhubungan dengan warga negaranya.
 Supremasi Hukum
Supremasi hukum menberikan jaminan dan perlindungan terhadap segala bentuk penindasan
individu dan kelompok yang melanggar norma-norma hukum dan segala bentuk penindasan
Hak Asasi Manusia.
 Perguruan Tinggi
Perguruan tinggi merupakan tempat para aktivis kampus (dosen dam mahasiswa) yang menjadi
bagian kekuatan sosial dan masyarakat madani yang bergerak melalui jalur moral porce untuk
menyalurkan aspirasi masyarakat dan mengkritisi berbagai kebijakan-kebijakan pemerintah.
Sebagai bagian dari pilar masyarakat madani, maka perguruan tinggi memiliki tugas utama
mencari dan menciptakan ide-ide alternatif dan konstruktif untuk dapat menjawab
problematika yang dihadapai masyarakat.
 Partai Politik
Partai politik merupakan wahana bagi warga negara untuk dapat menyalurkan aspirasi
politiknya. Partai politik menjadi sebuah tempat ekspresi politik warga negara sehingga partai
politik menjadi prasyarat bagi tegaknya masyarakat madani.
2.5 Masyarakat Madani di Indonesia
Indonesia memiliki tradisi yang kuat (civil society) bahkan jauh sebelum negara bangsa
berdiri, masyarakat sipil telah berkembang pesat yang diwakili oleh kiprah beragam organisasi
sosial keagamaan dan pergerakan nasional dalam perjuangan merebut kemerdekaan, selain
berperan sebagai organisasi perjuangan penegakan HAM dan perlawanan terhadap kekuasaan
kolonial, organisasi berbasis islam, telah menjadi sejarah penting dalam perkembangan civil
society di Indonesia.
Beberapa strategi untuk mewujudkan masyarakat madanidi Indonesia :
1) 1.Pandangan integrasi nasional dan politik
demokrasi tidak mungkin berlangsung apabila masyarakat belum memiliki kesadaran
berbangsa dan bernegara
2) Pandangan reformasi sistem politik demokrasi
Demokrasi tidak usah terlalu bergantung pada pembangunan ekonomi,dalm tataran ini
pembangunan institusi politik yang demokratis lebih diutamakan dibanding
pembangunan ekonomi oleh negara
3) Paradigma membangun masyarakat madani sebagai basis utama pembangunan
demokrasi, pandangan ini lebih menekankan proses pendidikan dan penyadaran politik
warga negara, khususnya kalangan menengah.
Setidaknya tiga paradigma ini dapat dijadikan acuan dalam pengembangan demokrasi dimasa
sekarang ini melalui cara :
a. Memperluas golongan menengah dengan memberikan kesempatan kelas menengah
untuk menjadi kelompok yang berkembang menjadi kelompok masyarakat madani
yang mandiri secara politik dan ekonomi.
b. Mereformasi sistem politik demokratis melalui pemberdayaan lemabaga-lembaga
demokrasi yang ada dan berjalan sesuai prinsip-prinsip demokrasi.
c. Penyelenggaraan pendidikan politik (pendidiakn demokrasi) bagi warga negara secara
keseluruhan.
Pengembangan masyarakat madani di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari pengalaman
bangsa Indonesia itu sendiri. Untuk membangun masyarakat madani di Indonesia,ada enam
faktor yang harus diperhatikan, yakni :
1) Adanya perbaikan di sektor ekonomi dalam rangka peningkatan pendapatan
masyarakat.
2) Tumbuhnya intelektualitas dalam rangka membangun manusia yang memiliki
komitmen untuk independen.
3) Terjadinya pergeseran budaya, dari yang bersifat paternalistik menjdi modern.
4) Berkembangnya pluralisme dalam kehidupan yang beragam.
5) Adanya partisipasi yang bersifat aktif
6) Adanya keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan yang maha Esa.

2.6 Studi Kasus yang Terjadi Pada Masyarakat Madani


Reformasi
Pemilihan umum yang berlangsung pada tanggal 7 Juni 1999 adalah tonggak penting
dalam menumbuhkan masyarakat madani yang demokratis. Pemilihan umum merupakan
perwujudan dari semangat reformasi yang dipelopori oleh mahasiswa Indonesia di awal dan
pertengahan tahun1998.
Kata reformasi menjadi kata kunci terhadap proses perubahan yang terjadi pada sebuah
kondisi yang menetap (stagnan) yang cenderung negatif dan memiliki pola yang menunjukkan
gabungan antar keinginan dan kondisi yang dialami. Reformasi akan menjadi sebuah alternatif
yang sangat penting terhadap proses perbaikan melalui sebuah perubahan yang terjadi secara
perlahan-lahan atau secara cepat dan tidak dapat terbendung, secar evolusi maupun revolusi,
namun reformasi cenderung identik dengan perubahan yang cepat namun tepat dan terukur.
Untuk menentukan sebuah tujuan reformasi tentunya akan membuat langkah-langkah
yang strategis dan memiliki dampak terhadap perubahan yang diharapkan, jika reformasi
dilakukan pada tataran sosial tentunya dampak sosial juga diharapkan akan terjadidan
berkesinambungan dengan dampak terhadap kondisi politik, budaya dan ekonomi secara
umum. Reformasi bukan merupakan gerakan yang liar dan tak terkendali dan tanpa rencana
serta tidak memberikan dampak positif terhadap kondisi sekarang, justru sebaliknya reformasi
merupakan sebuah gerakan yang terarah, terencana, sistematis dan memiliki ukuran yang jelas
terhadap perubahan yang akan dilakukan dan terhadap dampak yang ditimbulkannya.

2.7 Faktor-faktor yang mempengaruhi masyarakat madani dan solusi dalam mengatasi
masalah masyarakat madani.
 Terdapat dua faktor yang mempengaruhi masyarakat madani,yaitu fktor pendorong dan
faktor peghambat.
1.faktor pendorong timbulnya masyarakat madani :
a. Adanya penguasa politik yang cenderung menguasai masyarakat agar patuh dan taat
pada pemerintah
b. Masyarakat diasumsikan sebagai orang yang tidak memiliki kemampuan yang baik
dibanding pemerintah
c. Adanya usaha untuk membatasi ruang gerak dari masyarakat dalam kehidupan
berpolitik
2. Faktor penghambat masyarakat madani di Indonesia :
a. Kualitas sumberdaya manusia yang tidak memadai karena pendidikan yang belum
merata.
b. Masih rendahnya pendidikan politik masyarakat.
c. Kondisi ekonomi nasional yang belum stabil.
d. Pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak dalam jumlah yang besar.
e. Kondisi sosial politik yang belum pulih pasca reformasi.

 Solusi dalam mengatasi masalah masyarakat madani


Salah satu cara yang digunakan untuk mewujudkan masyarakat madani yaitu dengan
melakukan demokratisasi pendidikan agar dapat bebas dari berbagai tuntutan reformasi dari
dalam negeri maupun tekanan-tekanan politik ekonomi dari luar negeri. Selain itu melalui
masyarakat madani akan muncul inovasi-inovasi pendidikan dan menghindari terjadinya
disintegrasi bangsa.
Demoktratisasi pendidikan merupakan pendidikan hati nurani yang lebih humanistis
dan beradab sesuai dengan cita-cita masyarakat madani, melalui cara ini akan terjadi proses
kesetaraan antar pendidik dan peserta didik di dalam proses belajar mengajar. Generasi penerus
sebagai anggota masyarakat harus benar-benar disiapkan untuk membangun masyarakat
madani yang dicita-citakan. Demokratisasi pendidikan ini juga berguna agar terbiasa berbicara
dalam mengeluarkan pendapat secara bertanggung jawab, terbiasa mendengar dengan baik dan
menghargai pendapat orang lain, menumbuhkan keberanian moral yang tinggi, terbiasa bergaul
dengan rakyat, ikut merasa memiliki, sama-sama merasakan suka dan duka dengan
masyarakatnya, dan mempelajari kehidupan masyarakat.
Bab 3
Simpulan dan saran
3.1 Kesimpulan
1. Masyarakat madani bermakna ganda yaitu suatu tatanan masyarakat yang menekankan
pada nilai-nilai demokrasi, transparansi, partisipasi, konsistensi, motivasi, emansipasi
dan hak asasi. Masyarakat madani merupakan sistem sosial yang berdasarkan pada
prinsip-prinsip moral yang menjamin keseimbangan antara kebebasan individu dengan
kestabilan masyarakat
2. Masyarakat madani memiliki karakteristik free public sphere (ruang publik yang
bebas), demokratisasi, toleransi, pluralisme, keadilan sosial, partisipasi sosial,
supremasi hukum.
3. Beberapa pilar penegak masyarakat madani yang berfungsi mengkritisi kebijakan-
kebijakan penguasa serta mampu memperjuangkan aspirasi masyarakat diantara nya
lembaga swadaya masyarakat (LSM), pers, perguruan tinggi, partai politik, dan
supremasi hukum
4. Strategi dalam membangun masyarakat madani di Indonesia dapat dilakukan dengan
integrasi nasional dan politik, reformasi sistem politik demokrasi, pendidikan
demokratisasi dan penyadaran politk.

3.2 Saran
Sebaiknya penerapan masyarakat madani di Indonesia dapat lebih dikembangkan
dalam aspek pendidikan, politik, sosial, dan budaya dan masyarakat madani perlu untuk segera
diwujudkan karena bermanfaat bagi majunya bangsa indonesia dan juga untuk meredam
berbagai tuntutan dari dalam negeri maupun tekanan-tekanan politik dari luar negeri sehingga
dapat tercapainya cita-cita yang sesuai dengan masyarakat madani yang diharapkan.
Masyarakat madani yang diinginkan bukan hanya untuk komunitas (organisasi)
tertentu, tetapi juga bagi seluruh golongan masyarakat. Dengan demikian diharapkan di
Indonesia dapat menegakkan hukum yang sehat sesuai dengan kaidah-kaidah yag berlaku.
Masyarakat juga tidak hanya tinggal diam terhadap apa yang dilakukan pemerintah terhadap
negara, tetapi masyarakat madani juga turut ikut mengontrol kerja pemerintah dan walinya agar
tidak bertentangan dengan kehendak masyarakat madani, itu lah sebabnya perlunya pendidikan
demokratisasi dalam kehidupan masyarakat agar masyarakat madani mengetahui kehidupan
berpolitik secara merata, baik sebagai anggota masyarakat madani maupun perangkat negara
hendaknaya dapat mewujudkan negara yang demokrasi.
Daftar pustaka

Suharto, Edi. 2002. Masyarakat Madani : Aktualisasi profesionalisme community workers


dalam Mewujudkan Masyarakat yang Berkeadilan. STKS Bandung: Bandung.
Time Icce UIN Jakarta. 2000. Demokrasi, Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani.
Prenada Media : Jakarta.
Sosrosoediro, Endang Rudiatin. 2007. Dari Civil Society ke Civil Religion. MUI: Jakarta.
Azizi, A Qodri Abdillah. 2000. Masyarakat madani antara cita dan fakta: Kajian historis
normatif.
Sutianto , Anen. 2004. Reaktualisasi Masyarakat madani dalam kehidupan. Pikiran rakyat:
Bandung
Suito, Deny. 2006. Membangun masyarakat madani. Centre for moderate muslim Indonesia:
Jakarta.