Anda di halaman 1dari 8

Nama : Fitria Khairunnisa

NIM : P07220418017

LAPORAN PENDAHULUAN STSG

A. Definisi
Skin graft adalah penempatan lapisan kulit yang baru yang sehat pada
daerah luka (Blancard, 2006 ) . Kulit merupakan organ yang penting bagi
manusia karena memiliki fungsi antara lain sebagai pelindung terhadap
lingkungan disekitarnya dan mempertahankan suhu tubuh. Komplikasi
yang diakibatkan oleh kerusakan dan kehilangan jaringan kulit dapat
menimbulkan infeksi bakteri, kehilangan cairan tubuh, protein, energi,
serta kerusakan jaringan dibawahnya.

Dalam menangani suatu luka akibat trauma atau dapat penyakit, hasil yang
diharapkan adalah dapat mengembalikan integritas anatomi maupun
fungsinya. Pada kenyataannya tidak semua luka menutup secara primer,
karena kehilangan kulitnya terlalu luas membutuhkan jaringan penutup
untuk mengatasinya. Salah satu pilihan untuk menutup luka tersebut
adalah dengan melakukan tindakan skin graft.

Skin graft adalah tindakan memindahkan sebagian atau seluruh tebalnya


kulit dari satu tempat ke tempat lain supaya hidup ditempat yang baru
tersebut dan dibutuhkan suplai darah baru (revaskularisasi) untuk
menjamin kelangsungan hidup kulit yang dipindahkan tersebut. Skin graft
adalah tindakan memindahkan sebagian atau seluruh tebalnya kulit dari
satu tempat ke tempat lain supaya hidup ditempat yang baru tersebut dan
dibutuhkann suplai darah baru (revaskularisasi) untuk menjamin
kelangsungan hidup kulit yang dipindahkan tersebut. (budiman 2008)

B. Indikasi
Skin graft dilakukan pada pasien yang mengalami kerusakan kulit yang
sehingga terjadi gangguan pada fungsi kulit itu sendiri, misalnya pada luka
bakar yang hebat, ulserasi, biopsi, luka karena trauma atau area yang
terinfeksi dengan kehilangan kulit yang luas. Penempatan graft pada luka
bertujuan untuk mencegah infeksi, melindungi jaringan yang ada di
bawahnya serta mempercepat proses penyembuhan.

Dokter akan mempertimbangkana pelaksanaan prosedur skin graft


berdasarkan pada beberapa faktor yaitu : ukuran luka, tempat luka dan
kemampuan kulit sehat yang ada pada tubuh. Daerah resipien diantaranya
adalah luka-luka bekas operasi yang luas sehingga tidak dapat ditutup
secara langsung dengan kulit yang ada disekitarnya dan memerlukan
tambahan kulit agar daerah bekas operasi dapat tertutup sehingga proses
penyembuhan dapat berlangsung secara optimal.
- Menutup defek kulit yang luas
- Dapat digunakan untuk penutupan sementara dari efek

C. Kontra indikasi
Kontra indikaasi dari STSG meliputi daerah yang memerlukan penampilan
kosmetik yang baik dan ketahanan yang cukup atau daerah-daerah yang
dengan adanya kontraksi luka yang cukup signifikan akan menurun
fungsinya.
STSG dikontraindikasikan bila derrah resipen graft memiliki vaskularisasi
yang kurang baik sehinggah graft tidak dapat bertahan
- Ukuran luka kecil yang dapat diperbaiki dengan melakukan Full
Thinckness skin graft.

D. Penatalaksanaan / Tindakan.
a. Split tickness skin graft
Donor dapat diambil dari daerah mana saja ditubuh seperti perut,
dada, pungung, bokong, ekstrimitas umumnya yang sering dilakukan
diambil dari paha. Untuk mengambil splitickness skin graft yang
dilakukan dengan menggunakan.:
1. Pisau/ blade
Yang bisa dipakai mata pisau no 22 yang mempunyai keuntungan
yaitu tajam,tipis dan rata.
2. Pisau khusus
Ketebalan graft dapat diatur dan merata.
3. Dermatome
Mempunyai kemampuan mempertahankan jarak antara mata
pisau dengan tebal kulit yang disayat. Dermatome tangan (drum
dermaatoma) dermatome listrik dan tekanan udara.

b. Full Thickness skin graft


Efek yang dibuat patron dari kasa atau karet sarung tangan bedah,
kemudian dibuat desain pada daerah donor sesuai dengan patron.
Donor dapat diambil dari retro aurikuler, supra klavikula, kelopak
mata, perut,lipat paha/inguinal, lipat siku, lipat pergelangan volar.
Dilakukan penyuntikan NaCl 0,9% atau lidokain dicampur adrenalin.
- Meratakan permukaan kulit pada daerah donor yang tidak rata
- Membantu pemisahan lapisan dermis dengan jaringan lemak
dibawahnya
- Lapangan operasi relatif lebih bersih dari perdarahan, membuat
batas dermis dan subkutis lebih jelas sehingga mempermudah
pengambilan graft.
Dilakukan insisi sesuai desain sampai sedalam dermis dengan
menggunakan pisau n0 15 atau no10 . dilakukan pemisahan
dermis dengan subkutis dimana keadaan kulit dalam keadaan
tegang dengan bantuan countertraction dari asisten. Setelah kulit
didapat, selanjutnya dilakukan pembuangan jaringan lemak yang
ikut terangkat saat pengambilan graft.

E. Penempelan Skin Graft


Teknik dasar penempelan split thinckness skin graft dan full thickness skin
graft adalah sama. Sebelum penempelan graft, daerah resipien harus
dilakukan hemostasis dengan baik sehingga permukaan resipien lebih
bersih tidak ada perdarahan atau bekuan darah.

Dilakukan penjahitan interruted di sekililing graft dengan benang non


absorbilk. 4-0 atau 5-0 yang biasanya menggunakan silk. Jahitan dimulai
dari graft ke tepi luka resipien, dari suatu yang lebih mobil ke tempat yang
lebih fixed Diatas kulit ditutup tule yang dilapisi kasa lembab NaCl 0,9%
dan selanjutnya dilapisi dengan kasa steril kering.
Dibuat beberapa lubang kecil di atas skin graft untuk jalan keluar yang ada
kemudian dilakukan irigasi untuk membuang sisa bekuan darah di bawah
graft dengan spuit berisi NaCl 0,9 %. Untuk membantu keberhasilan
tindakan, dilakukan balut tekan menggunakan verban , elastis sedangkan
pada daerah yang tidak memungkinkan untuk dipasan verban elastis
seperti pada muka, leher maka untuk menjamin fiksasi dilakukan tie over.
Tie over adalah cara yang terbaik untuk fiksasi skin gfraft, bila akan
melakukan tie over saat menjahit tepi graft beberapa sisa simpul dibiarkan
panjang untuk fiksasai. Defek daerah donor split thicness skingraft akan
sembuh sendiri di mana terjadi proses epiteliasasi ini dimungkinkan oleh
karena masih ada unsur-unsur epitel didalam dermis seperti folikel rambut,
kelenjar keringan, kelenjar minyak sebasea. Luka donor pada split
thicnkness skin graft di tutup tulee dan kasa streril kemudian di balut
dengan verban elastis.
F. WOC

Split tiknes skin grab

Intra op Post OP
Pre Op

Adanya tranplantasi
Khawatir, banyak Gelisah dan Pembiusan Regional Pembedahan
kulit
bertanya khwatir

Efek Obat Insisi


Kurang Informasi Koping individu Terputusnya
tidak efektif jaringan kulit
Hipotermi
Kurang
Pengetahuan
Nyeri
Terputusnya kontiunitas jaringan
pembuluh darah
Ansietas

Resiko perdarahan

Perdarah tak
terkontrol

Syok hipovelemik

Penurunan HB

Penurunan suplai O2

Gangguang perpusi
G. Diagnosa Keperawatan Intervensi, Rasional, ( Pre, Intra, Post)
a. Pre OP
1. Ansietas b.d Kurang Informasi dan Kurang Pengetahuan
Intervensi Rasional.
a. Berikan infromasi a. Dapat mengurangi kecemasan
akurat dan konsisten dan ketidakmampuan klien
mengenai prognosis. untuk membuat keputusan.
b. Berikan lingkungan yg b. Membantu pasien untuk
terbuka. merasa diterima pada kondisi
c. Berikan informasi yg sekarang.
dapat dipercaya dan c. Menciptakan interaksi
konsisten. interpersonal yang lebih baik
dan menurunkan ansietas dan
rasa takut.

b. Intra Op
1. Resiko Perdarahan b.d Terputusnya kontuinitas jaringan pembuluh
darah
Intervensi Rasional
a. Awasi frekuensi pernafasan. a. Untuk memgetahui
b. Auskultasi bunyi nafas apakah nafas normal
perhatikan terjadinya ketidak atau tidak
samaan bunyi, juga adanya
gemeiric roncnhi, mengi dan b. Untukmengawasi
ispeksi menorok / sesak nafas perubahan bunyi nafas
c. Infeksi kulit petiki di atas garis
puting pada aksila meluas ke c. Untuk mengetahu
kasi heparin abdomen / tubuh. apakah ada alergi atau
mukosa mulut kantong ada emboli
konjugtiva dan retina.
d. Berikan tambahan oksigen bila d. Meningkatkan
diindikasikan. tambahan oksigen
e. Berikan obat sesuai indikasi
heparin dosis rendah.
c. Post Op
1. Nyeri b.d Terputusnya jaringan kulit dan adanya luka pada kulit
Intervensi Rasional
a. Kaji kulit untuk luka, benda a. Berikan informasi
asing, kemerahan, tentang sirkulasi kulit
perdarahan, perubahan dan masalah yang
warna. mungkin disebabkan
b. Ubah posisi dengan sering, oleh alat dan atau
dorong penggunaan trapeze pemasangan gips.
bila mungkin. b. Untuk mengurangi
c. Tinggikan area grab bila tekanan pada area yang
mungkin/tepat pertahankan sama dan meminimalkan
posisi yang diinginkan. resiko kerusakan kulit.
d. Letakan bantalan pelindung c. Membatasi risiko
dibawah kaki dan diatas pemisahan graf.
tonjolan tulang d. Menminimalkan tekanan
pada area ini.

DAFTAR PUSTAKA

Chandra, Budiman. 2008. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: EGC.


Diakses pada tanggal 8 N0vember 2017

Eliastham, Michael. 2008. Buku Saku Penuntun Kedaruratan Medis.


Jakarta: EGC diakses pd tgl 8 November 2017

Juniartha. 2007. Angka Kejadian Fraktur. http://okezone.com diakses pada


tanggal 8 November 2017
TATALASANA

Pre operasi : K U penderita, sistemik dan lokal

Durante Operasi : teknik pengambilan dan penempelan, fiksasi dan pembalutan


(dressing)

Post operasi : posisi, evaluasi dan rehabilitasi

PROSEDUR FTG

1. Buat patron (cetakan dari daerah resipien)

2. Eksisi donor sesuai patron tepat di subdermal junction

3. Pembuangan jaringan kulit lemak

4. Penempelan pada resipien

5. Penjahitan dari graft ke resipien

6. Penutupan dengan tulle, kapas kering

7. Fiksasi dengan tie over dan dressing bandage

PROSEDUR STG

1. Persiapan : tentukan daerah donor yang akan diambil, olesi dengan parafin
steril

2. Pengambilan : dapat dengan pisau no.22, pisau Humby atau dengan dermatome

3. Tentukan ketebalan yang akan diambil

4. Penempelan dengan penjahitan

5. Ditutup dengan tulle, kasa lembab, kapas kering

6. Fiksasi dengan menggunakan Tie over, dressing bandage

7. Evaluasi dilakukan pada hari ke-5

8. Dilakukan pencabutan benang dan perawatan luka