Anda di halaman 1dari 14

TUGAS

KONVERSI DAN PEMANFAATAN BATUBARA


“TEKNOLOGI PEMBAKARAN BATUBARA”

Disusun Oleh:

Sandy Widodo

(03021381621095)

Kelas: A

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN

FAKUKTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SRIWJAYA

2019
Teknologi Pembakaran Batubara
Batubara memiliki berbagai penggunaan yang penting di seluruh dunia.
Penggunan yang paling penting adalah untuk membangkitkan tenaga listrik,
produksi baja, pembuatan semen dan proses industri lainnya serta sebagai bahan
bakar cair. Pada masa sekarang ini telah banyak terdapat industri penambangan
batubara dan industri pemanfaatan batubara, seperti yang telah dijelaskan diatas
bahwa salah satu pemanfaatan batubara adalah untuk membangkit tenaga listrik.
Pembangkit ini dilakukan dengan cara pembakaran batubara dengan berbagai
teknologi pembakaran batubara.
Proses pembakaran batubara akan berlangsung dengan baik jika tersedia
udara dalam jumlah yang cukup. Proses pembakaran dimulai dari terjadinya
oksidasi pada fase uap dan penyalaan volatile matter (zat terbang) yang terlepas
dari batubara yang selanjutnya menyebabkan menyalanya residu bahan padat
(residual char). Tahap penyalaan volatile matter menyebabkan kestabilan flame
(nyala) dan temperatur sehingga residu padat bisa menyala, sementara pada
penyalaan residu padat terjadi mekanisme reaksi-reaksi yang kompleks yang
selanjutnya menghasilkan panas pembakaran. Pembakaran batubara dapat
dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:

1. Pembakaran Tungku Tetap (Fix Bed Combustion)


Metode lapisan tetap menggunakan stoker boiler untuk proses
pembakarannya. Sebagai bahan bakarnya adalah batubara dengan kadar abu yang
tidak terlalu rendah dan berukuran maksimum sekitar 30 mm. Selain itu, karena
adanya pembatasan sebaran ukuran butiran batubara yang digunakan, maka perlu
dilakukan pengurangan jumlah fine coal yang ikut tercampur ke dalam batubara
tersebut. Alasan tidak digunakannya batubara dengan kadar abu yang terlalu
rendah adalah karena pada metode pembakaran ini, batubara dibakar di atas
lapisan abu tebal yang terbentuk di atas kisi api (traveling fire grate) pada stoker
boiler. Bila kadar abunya sangat sedikit, lapisan abu tidak akan terbentuk di atas
kisi tersebut sehingga pembakaran akan langsung terjadi pada kisi, yang dapat
menyebabkan kerusakan yang parah pada bagian tersebut. Oleh karena itu, kadar
abu batubara yang disukai untuk tipe boiler ini adalah sekitar 10 – 15%. Adapun
tebal minimum lapisan abu yang diperlukan untuk pembakaran adalah 5cm.
Pada pembakaran dengan stoker ini, abu hasil pembakaran berupa fly ash
jumlahnya sedikit, hanya sekitar 30% dari keseluruhan. Kemudian dengan upaya
seperti pembakaran NOx dua tingkat, kadar NOx dapat diturunkan hingga sekitar
250 – 300 ppm. Sedangkan untuk menurunkan SOx, masih diperlukan tambahan
fasilitas berupa alat desulfurisasi gas.

Gambar Stoker Boiler


(Sumber: Idemitsu Kosan Co., Ltd)

Ada tiga pola dasar pengumpanan batubara dan udara yang telah dikembangkan:
a. Overfeed
Pada pola pengumpanan overfeed, aliran batubara dan udara saling
berlawanan (countercurrent). Bahan bakar diumpankan dari atas unggun (bed)
dan mengalir ke bawah sambil dikonsumsi, sementara udara mengalir dari atas
melewati lapisan abu, kokas dan batubara baru. Batubara baru yang telah
diumpankan dipanaskan lewat kontak dengan batubara yang sudah terbakar yang
ada dibawahnya dan juga oleh gas-gas pembakaran yang mengalir berlawanan
arah. Produk-produk sisa pembakaran yang dihasilkan selanjutnya turun ke bawah
sampai berbatasan dengan grate dan secara periodik produk sisa pembakaran ini
dikeluarkan dengan cara dumping, shaking dan vibrating dari grate atau pada
beberapa stoker dengan cara grate berjalan secara kontinyu
b. Underfeed
Pada pola pengumpanan underfeed, aliran batubara dan udara terjadi secara
paralel dan biasanya mengalir ke atas. Volatille matter, air, dan udara
pembakaran mengalir melalui lapisan bahan bakar yang terbakar. Tipe ini
menghasilkan lebih sedikit asap selama pengumpanan dan pengoperasian beban
yang rendah.

c. Crossfeed
Pola pengumpanan crossfeed merupakan pola pengumpanan udara dan
bahan bakar yang banyak diterapkan. Dalam hal ini batubara sebagai bahan
bakar bergerak secara horizontal, sementara udara bergerak dari bawah ke atas
dengan sudut yang tepat. Pola pembakaran ini terdiri dari stoker uang dilengkapi
dengan hopper untuk tempat pengumpanan, chain grate, travelling grate dan
vibrating, reciprocating atau oscilating grate.

2. Pembakaran Batubara Serbuk (Pulverized Coal Combustion/PCC)


Saat ini, kebanyakan PLTU terutama yang berkapasitas besar masih
menggunakan metode PCC pada pembakaran bahan bakarnya. Hal ini karena
sistem PCC merupakan teknologi yang sudah terbukti dan memiliki tingkat
kehandalan yang tinggi. Upaya perbaikan kinerja PLTU ini terutama dilakukan
dengan meningkatkan suhu dan tekanan dari uap yang dihasilkan selama proses
pembakaran. Perkembangannya dimulai dari sub critical steam, kemudian super
critical steam, serta ultra super critical steam (USC). Sebagai contoh PLTU yang
menggunakan teknologi USC adalah pembangkit no. 1 dan 2 milik J-Power di
teluk Tachibana, Jepang, yang boilernya masing – masing berkapasitas 1050 MW
buatan Babcock Hitachi. Tekanan uap yang dihasilkan adalah sebesar 25 MPa
(254.93 kgf/cm2) dan suhunya mencapai 600℃/610℃ (1 stage reheat cycle).
Perkembangan kondisi uap dan grafik peningkatan efisiensi pembangkitan pada
PCC ditunjukkan pada gambar 4 di di bawah ini.
Gambar Perkembangan kondisi uap PLTU
(Sumber: Clean Coal Technologies in Japan, 2005)

Pada PCC, batubara diremuk dulu dengan menggunakan coal pulverizer


(coal mill) sampai berukuran 200 mesh (diameter 74μm), kemudian bersama –
sama dengan udara pembakaran disemprotkan ke boiler untuk dibakar.
Pembakaran metode ini sensitif terhadap kualitas batubara yang digunakan,
terutama sifat ketergerusan (grindability), sifat slagging, sifat fauling, dan kadar
air (moisture content). Batubara yang disukai untuk boiler PCC adalah yang
memiliki sifat ketergerusan dengan HGI (Hardgrove Grindability Index) di atas 40
dan kadar air kurang dari 30%, serta rasio bahan bakar (fuel ratio) kurang dari 2.
Pembakaran dengan metode PCC ini akan menghasilkan abu yang terdiri diri dari
clinker ash sebanyak 15% dan sisanya berupa fly ash.

Gambar PCC Boiler


(Sumber: Idemitsu Kosan Co., Ltd)
Ketika dilakukan pembakaran, senyawa Nitrogen yang ada di dalam
batubara akan beroksidasi membentuk NOx yang disebut dengan fuel NOx,
sedangkan Nitrogen pada udara pembakaran akan mengalami oksidasi suhu tinggi
membentuk NOx pula yang disebut dengan thermal NOx. Pada total emisi NOx
dalam gas buang, kandungan fuel NOx mencapai 80 – 90%. Untuk mengatasi
NOx ini, dilakukan tindakan denitrasi (de-NOx) di boiler saat proses pembakaran
berlangsung, dengan memanfaatkan sifat reduksi NOx dalam batubara.

Gambar Proses denitrasi pada boiler PCC


(Sumber: Coal Science Handbook, 2005)

Pada proses pembakaran tersebut, kecepatan injeksi campuran batubara


serbuk dan udara ke dalam boiler dikurangi sehingga pengapian bahan bakar dan
pembakaran juga melambat. Hal ini dapat menurunkan suhu pembakaran, yang
berakibat pada menurunnya kadar thermal NOx. Selain itu, sebagaimana terlihat
pada gambar di atas, bahan bakar tidak semuanya dimasukkan ke zona
pembakaran utama, tapi sebagian dimasukkan ke bagian di sebelah atas burner
utama. NOx yang dihasilkan dari pembakara utama selanjutnya dibakar melalui 2
tingkat. Di zona reduksi yang merupakan pembakaran tingkat pertama atau
disebut pula pembakaran reduksi (reducing combustion), kandungan Nitrogen
dalam bahan bakar akan diubah menjadi N2. Selanjutnya, dilakukan pembakaran
tingkat kedua atau pembakaran oksidasi (oxidizing combustion), berupa
pembakaran sempurna di zona pembakaran sempurna. Dengan tindakan ini, NOx
dalam gas buang dapat ditekan hingga mencapai 150 – 200 ppm. Sedangkan
untuk desulfurisasi masih memerlukan peralatan tambahan yaitu alat desulfurisasi
gas buang. Metode pembakaran pulverized coal hampir tidak tergantung pada
karakteristik batubara. Secara umum hampir semua batubara dapat digunakan
dengan sistem ini dengan sistem yang tepat.
 Dry Bottom Firing Operasi unit abu kering lebih sederhana dan lebih
fleksibel terhadap perubahan jumlah dan sifat-sifat batubara dibandingkan
dengan unit wet bottom firing. Kerugian utama unit dry bottom firing ini
adalah karena ukuranya lebih besar (sehingga lebih mahal) dan sekitar 80-
90% abu.
a. Vertikel firing
b. Tangential firing
c. Opposed inclined firing
d. Horizontal firing Harus dikeluarkan dari boiler dan presipitaor hopper yang
halus.
 Wet Bottom Firing Unit wet bottom firing ini dikembangkan untuk mengatasi
masalah penanganan debu dengan cara membuat abu lebih berat, berbentuk
granular dan tinggal dalam tanur lebih banyak dibandingkan dalam unit abu
kering. Dalam unit web bottom ini aliran leburan abu yang mengalir dari
tanur disemprot dengan air pendingin sehingga terbentuk produk dengan
ukuran yang diinginkan. Sekitar 80% abu bisa tinggal dalam tanur untuk
beberapa unit desain tertentu. Dibandingkan dengan dry bottom firing, unit
wet bottom firing mempunyai kerugian-kerugian seperti kurang fleksibel
terhadap pemilihan batubara, lebih banyak terjadi fouling dan korosi
eksternal, pembentukan NOx yang lebih tinggi dan uap yang diperoleh lebih
sedikit.
 Slurry Firing Pembakaran dalam bentuk slurry bertujuan agar bahan bakar
lebih mudah ditransportasikan, disimpan dan digunakan dibandingkan dalam
bentuk padat. Bahan bakar dalam bentuk slurry ini diantaranya coal-water
mixtures(CWM) dan coal-oil Mixtures (COM).
a. Coal- Water Mixture(CWM) CWM merupakan campuran antara batubara
berukuran halus dan air dengan perbandingan tertentu serta dengan
penambahan aditif tertentu untuk menjaga kestabilan fluida agar batubara
tidak dapat mengendap. Tujuan utama CWM adalah agar dapat
ditransportasikan dengan pipa-pipa sehingga lebih murah biaya
transportasinya dibandingkan biaya transportasi batubara dalam keadaan
padat. Yang perlu diperhatikan dalam CWM ini adalah dalam masalah
penyimpanan yang membutuhkan tempat khusus, kestabilan fluida dalam
waktu tertentu, masalah dewatering baik secara termal maupun mekanik,
dan masalah keberhasilan dalam pembakaran.
b. Coal-Oil Mixtures(COM) COM merupakan campuranantara batubarahalus
dan minyak dengan perbandingan tertentu. COM tidak terlalu
menimbulkan masalah menyangkut keberhasilan dalam pembakaran,
dibandingkan CWM. -

 Tanur Cyclone Pengembangan metoda pembakaran pulverized coal


diantaranya adalah dengan menginjeksikan udara dan batubara secara
tangensial dan dengan kecepatan tinggi kedalam tanur cyclone horizontal
silindris, kemudian membakar batubara tersebut bergerak mengikuti bentuk
spiral. Dibawah kondisi aerodinamis yang tepat, tanur ini bisa menghasilkan
panas mencapai 500.000 Btu/jam ft ruang pembakaran (bandingkan dengan
sistem dry bottom yang hanya menghasilkan panas paling tinggi 150.000 dan
sistem slag-tap yang menghasilkan panas 400.000 Btu). Karena temperatur
nyala api yang tinggi (3000 F) maka dihasilkan sekitar 90% abu sebagai abu
lebur (molten slag) yang cenderung menempel pada dinding tanur dengan
lengket sehingga masih menyisahkan partikel-partikel batubara yang terbakar.

3. Pembakaran Lapisan Mengambang (Fluidized Bed Combustion/FBC)


Pada pembakaran dengan metode FBC, batubara diremuk terlebih dulu
dengan menggunakan crusher sampai berukuran maksimum 25mm. Tidak seperti
pembakaran menggunakan stoker yang menempatkan batubara di atas kisi api
selama pembakaran atau metode PCC yang menyemprotkan campuran batubara
dan udara pada saat pembakaran, butiran batubara dijaga agar dalam posisi
mengambang, dengan cara melewatkan angin berkecepatan tertentu dari bagian
bawah boiler. Keseimbangan antara gaya dorong ke atas dari angin dan gaya
gravitasi akan menjaga butiran batubara tetap dalam posisi mengambang sehingga
membentuk lapisan seperti fluida yang selalu bergerak. Kondisi ini akan
menyebabkan pembakaran bahan bakar yang lebih sempurna karena posisi
batubara selalu berubah sehingga sirkulasi udara dapat berjalan dengan baik dan
mencukupi untuk proses pembakaran.
Karena sifat pembakaran yang demikian, maka persyaratan spesifikasi
bahan bakar yang akan digunakan untuk FBC tidaklah seketat pada metode
pembakaran yang lain. Secara umum, tidak ada pembatasan yang khusus untuk
kadar zat terbang (volatile matter), rasio bahan bakar (fuel ratio) dan kadar abu.
Bahkan semua jenis batubara termasuk peringkat rendah sekalipun dapat dibakar
dengan baik menggunakan metode FBC ini. Hanya saja ketika batubara akan
dimasukkan ke boiler, kadar air yang menempel di permukaannya (free moisture)
diharapkan tidak lebih dari 4%. Selain kelebihan di atas, nilai tambah dari metode
FBC adalah alat peremuk batubara yang dipakai tidak terlalu rumit, serta ukuran
boiler dapat diperkecil dan dibuat kompak.Bila suhu pembakaran pada PCC
adalah sekitar 1400 – 1500℃, maka pada FBC, suhu pembakaran berkisar antara
850 – 900℃ saja sehingga kadar thermal NOx yang timbul dapat ditekan.
Kemudian, bila alat desulfurisasi masih diperlukan untuk penanganan SOx
pada metode pembakaran tetap dan PCC, maka pada FBC, desulfurisasi dapat
terjadi bersamaan dengan proses pembakaran di boiler. Hal ini dilakukan dengan
cara mencampur batu kapur (lime stone, CaCO3) dan batubara kemudian secara
bersamaan dimasukkan ke boiler. SOx yang dihasilkan selama proses
pembakaran, akan bereaksi dengan kapur membentuk gipsum (kalsium sulfat).

Gambar Tipikal boiler FBC


(Sumber: Coal Science Handbook, 2005)
Berdasarkan mekanisme kerja pembakaran, metode FBC terbagi 2 yaitu
Bubbling FBC dan Circulating FBC (CFBC), seperti ditampilkan pada gambar 7
di atas. Dapat dikatakan bahwa Bubbling FBC merupakan prinsip dasar FBC,
sedangkan CFBC merupakan pengembangannya. Pada CFBC, terdapat alat lain
yang terpasang pada boiler yaitu cyclone suhu tinggi. Partikel media fluidized bed
yang belum bereaksi dan batubara yang belum terbakar yang ikut terbang bersama
aliran gas buang akan dipisahkan di cyclone ini untuk kemudian dialirkan kembali
ke boiler. Melalui proses sirkulasi ini, ketinggian fluidized bed dapat terjaga,
proses denitrasi dapat berlangsung lebih optimal, dan efisiensi pembakaran yang
lebih tinggi dapat tercapai. Oleh karena itu, selain batubara berkualitas rendah,
material seperti biomasa, sludge, plastik bekas, dan ban bekas dapat pula
digunakan sebagai bahan bakar pada CFBC. Adapun abu sisa pembakaran hampir
semuanya berupa fly ash yang mengalir bersama gas buang, dan akan ditangkap
lebih dulu dengan menggunakan Electric Precipitator sebelum gas buang keluar
ke cerobong asap (stack).

Gambar CFBC Boiler


(Sumber: Idemitsu Kosan Co., Ltd)

Pada FBC, bila tekanan di dalam boiler sama dengan tekanan udara luar,
disebut dengan Atmospheric FBC (AFBC), sedangkan bila tekanannya lebih
tinggi dari pada tekanan udara luar, sekitar 1 MPa, disebut dengan Pressurized
FBC (PFBC). Faktor tekanan udara pembakaran memberikan pengaruh terhadap
perkembangan teknologi FBC ini. Untuk Bubbling FBC berkembang dari PFBC
menjadi Advanced PFBC (A-PFBC), sedangkan untuk CFBC selanjutnya
berkembang menjadi Internal CFBC (ICFBC) dan kemudian Pressurized ICFBC
(PICFBC).

PFBC
Pada PFBC, selain dihasilkan panas yang digunakan untuk memanaskan air
menjadi uap untuk memutar turbin uap, dihasilkan pula gas hasil pembakaran
yang memiliki tekanan tinggi yang dapat memutar turbin gas, sehingga PLTU
yang menggunakan PFBC memiliki efisiensi pembangkitan yang lebih baik
dibandingkan dengan AFBC karena mekanisme kombinasi (combined cycle) ini.
Nilai efisiensi bruto pembangkitan (gross efficiency) dapat mencapai 43%. Sesuai
dengan prinsip pembakaran pada FBC, SOx yang dihasilkan pada PFBC dapat
ditekan dengan mekanisme desulfurisasi bersamaan dengan pembakaran di dalam
boiler, sedangkan NOx dapat ditekan dengan pembakaran pada suhu relatif rendah
(sekitar 860℃) dan pembakaran 2 tingkat. Karena gas hasil pembakaran masih
dimanfaatkan lagi dengan mengalirkannya ke turbin gas, maka abu pembakaran
yang ikut mengalir keluar bersama dengan gas tersebut perlu dihilangkan lebih
dulu. Pemakaian CTF (Ceramic Tube Filter) dapat menangkap abu ini secara
efektif. Kondisi bertekanan yang menghasilkan pembakaran yang lebih baik ini
secara otomatis akan menurunkan kadar emisi CO2 sehingga dapat mengurangi
beban lingkungan.
Gambar Prinsip kerja PFBC
(Sumber: Coal Note, 2001)

Untuk lebih meningkatkan efisiensi panas, unit gasifikasi sebagian (partial


gasifier) yang menggunakan teknologi gasifikasi lapisan mengambang (fluidized
bed gasification) kemudian ditambahkan pada unit PFBC. Dengan kombinasi
teknologi gasifikasi ini maka upaya peningkatan suhu gas pada pintu masuk
(inlet) turbin gas memungkinkan untuk dilakukan.Pada proses gasifikasi di partial
gasifier tersebut, konversi karbon yang dicapai adalah sekitar 85%. Nilai ini dapat
ditingkatkan menjadi 100% melalui kombinasi dengan pengoksidasi (oxidizer).
Pengembangan lebih lanjut dari PFBC ini dinamakan dengan Advanced PFBC (A-
PFBC), yang prinsip kerjanya ditampilkan pada gambar 10 di bawah ini. Efisiensi
netto pembangkitan (net efficiency) yang dihasilkan pada A-PFBC ini sangat
tinggi, dapat mencapai 46%.

Gambar Prinsip kerja A-PFBC


(Sumber: Coal Science Handbook, 2005)

ICFBC
Penampang boiler ICFBC ditampilkan pada gambar 11 di bawah ini.
Gambar Penampang boiler ICFBC
(Sumber: Coal Note, 2001)

Seperti terlihat pada gambar, ruang pembakaran utama (primary


combustion chamber) dan ruang pengambilan panas (heat recovery chamber)
dipisahkan oleh dinding penghalang yang terpasang miring. Kemudian, karena
pipa pemanas (heat exchange tube) tidak terpasang langsung pada ruang
pembakaran utama, maka tidak ada kekhawatiran terhadap keausan pipa sehingga
pasir silika digunakan sebagai pengganti batu kapur untuk media FBC. Batu kapur
masih tetap digunakan sebagai bahan pereduksi SOx, hanya jumlahnya ditekan
sesuai dengan keperluan saja.

Di bagian bawah ruang pembakaran utama terpasang windbox untuk


mengalirkan angin ke boiler, dimana angin bervolume kecil dialirkan melalui
bagian tengah untuk menciptakan lapisan bergerak (moving bed) yang lemah, dan
angin bervolume besar dialirkan melewati kedua sisi windbox tersebut untuk
menimbulkan lapisan bergerak yang kuat. Dengan demikian maka pada bagian
tengah ruang pembakaran utama akan terbentuk lapisan bergerak yang turun
secara perlahan, sedangkan pada kedua sisi ruang tersebut, media FBC akan
terangkat kuat ke atas menuju ke bagian tengah ruang pembakaran utama dan
kemudian turun perlahan – lahan, dan kemudian terangkat lagi oleh angin
bervolume besar dari windbox. Proses ini akan menciptakan aliran berbentuk
spiral (spiral flow) yang terjadi secara kontinyu pada ruang pembakaran utama.
Mekanisme aliran spiral dari media FBC ini dapat menjaga suhu lapisan
mengambang supaya seragam. Selain itu, karena aliran tersebut bergerak dengan
sangat dinamis, maka pembuangan material yang tidak terbakar juga lebih mudah.

Kemudian, ketika media FBC yang terangkat kuat tersebut sampai di


bagian atas dinding penghalang, sebagian akan berbalik menuju ke ruang
pengambilan panas. Karena pada ruang pengambilan panas tersebut juga dialirkan
angin dari bagian bawah, maka pada ruang tersebut akan terbentuk lapisan
bergerak yang turun perlahan juga. Akibatnya, media FBC akan mengalir dari
ruang pembakaran utama menuju ke ruang pengambilan panas kemudian kembali
lagi ke ruang pembakaran utama, membentuk aliran sirkulasi (circulating flow) di
antara kedua ruang tersebut. Menggunakan pipa pemanas yang terpasang pada
ruang pengambilan panas, panas dari ruang pembakaran utama diambil melalui
mekanisme aliran sirkulasi tadi.

Untuk lebih meningkatkan kinerja pembangkitan, proses pada ICFBC


kemudian diberi tekanan dengan cara memasukkan unit ICFBC ke dalam wadah
bertekanan (pressurized vessel), yang selanjutnya disebut dengan Pressurized
ICFBC (PICFBC). Dengan mekanisme ini maka selain uap air, akan dihasilkan
pula gas hasil pembakaran bertekanan tinggi yang dapat digunakan untuk
memutar turbin gas sehingga pembangkitan secara kombinasi (combined cycle)
dapat diwujudkan.