Anda di halaman 1dari 33

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNya sehingga saya dapat

menyelasaikan tugas Critical Book Review ini dengan baik untuk memenuhi tugas dari mata

kuliah Teori Perilaku dan Organisasi. Tidak lupa saya juga mengucapkan banyak terima kasih

atas bantuan dari pihak yang telah membantu saya menyelesaikan tulisan ini, terutama kepada

Dosen Ibu Hilma Harmen.

Tulisan ini berisi ulasan-ulasan dari buku yang berjudul “Teori Perilaku dan Organisasi”

mulai dari identitas buku, keunggulan dan kelemahan, serta kesimpulan dan saran dari buku

tersebut. Harapan saya semoga Critical Book Review ini dapat menambah pengetahuan dan

pengalaman bagi para pembaca.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman saya, saya yakin mungkin masih

banyak kekurangan dan kesalahan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh

karena itu saya sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun agar dapat didiskusikan

dan dipelajari demi kemajuan wawasan dan ilmu pengetahuan.

Medan, Oktober 2018

Penyusun,

Fitri Evelina Napitupulu

Nim: 7171210009

1
DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ............................................................................... .. i

DAFTAR ISI ............................................................................................... ii

BAB I. PENDAHULUAN.................................. ................................. 1

I.1 Rasionalisasi pentingnya CBR.................................. ................ 1

I.2 Tujuan... .................................................................................... 1

I.3 Manfaat... .................................................................................. 1

I.4 Identitas Buku ........................................................................... 1

BAB II. PEMBAHASAN.................................. .................................... 2

II.1 Ringkasan Isi buku .................................................................... 2

II.2 Kelemahan dan Kelebihan buku Utama ................................... 38

II.3 Kelemahan dan Kelebihan buku Pendamping .......................... 38

BAB III. PENUTUP.................................. .............................................. 40

III.1 Kesimpulan ............................................................................... 40

III.2 Saran ......................................................................................... 40

DAFTAR PUSTAKA .................................. ................................................

2
BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Rasionalisasi Pentingnya CBR

Sering kali kita kebingungan memilih buku referensi untuk kita baca dan

pahami.Terkadang kita memilih satu buku,namun kurang memuaskan hati kita.Misalnya dari

segi analisis bahasa,pembahasan tentang Teori Perilaku dan Organisasi. Oleh karena itu, penulis

membuat Critical Book Report ini untuk mempermudah pembaca dalam memilih buku referensi,

terkhusus pada pokok bahasa tentang Teori Perilaku dan Organisasi.

I.2 Tujuan Penulisan CBR

Tujuan CBR ini dibuat adalah untuk menyelesaikan salah satu tugas mata kuliah Teori

Perilaku dan Organisasi, menambah pengetahuan tentang Teori Perilaku dan Organisasi,

meningkatkan kemampuan berpikir kritis.

I.3 Manfaat CBR

1. Untuk menambah wawasan tentang teori perilaku dan organisasi

2. Untuk mengetahui perbandingan antara buku teori perilaku dan organisasi tulisan Fauziah

Agustin,SE.MBA, Hilma Harmen,S dan Aprinawati,SE,MM dengan buku teori perilaku dan

organisasi tulisan Miftah Thoha.

3. Untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan buku teori perilaku dan organisasi tulisan

Fauziah Agustin,SE.MBA, Hilma Harmen,S dan Aprinawati,SE,MM dengan buku teori

perilaku dan organisasi tulisan Miftah Thoha

3
I.4 Identitas Buku yang Direview

Buku Utama

Judul Buku : Teori Perilaku dan organisasi

Pengarang : Fauziah Agustin,SE.MBA, Hilma Harmen,S. dan Aprinawati,SE,MM

Penerbit : Universitas Negeri Medan

Tebal Buku : 176 Halaman

Buku Pembanding

Judul : Perilaku Organisasi Konsep Dasar dan Aplikasinya

Pengarang : Miftah Thoha

Penerbit : PT Raja Grafindo Persada

4
BAB II

PEMBAHASAN

II.1 Ringkasan Isi buku

A. Buku Utama ( buku Fauziah Agustin, Hilma Harmen dan Aprinawati)

BAB I

KONSEP DASAR PERILAKU ORGANISASI

Perilaku keorganisasian adalah suatu studi tentang apa yang dikerjakan oleh orang-orang dalam

organisasi dan bagaimana perilaku orang-orang tersebut dapat mempengaruhi kinerja organisasi

dengan bahan kajiannya adalah sikap manusia terhadap pekerjaan, terhadap rekan kerja imbalan,

kerjasama dan yang lainnya. Mengetahui dan memahami perilaku didalam organisasi sangat

penting karena individu didalam organisasi merupakan motor penggerak utama keberlangsungan

organisasi, manajemen juga dapat melakukan dan menerapkan tindakanserta kebijakan yang

paling baik guna mencapai tujuan organisasi.

BAB II

KEPRIBADIAN DAN MOTIVASI

Kepribadian adalah keseluruhan total cara individu bereaksi dan berinteraksi dengan yang lain.

Banyak faktor yang menentukan kepribadian individu diantaranya adalah keturunan, lingkungan

dan ditambah berbagai faktor situasional. Adapun karakteristik kepribadian yang populer

diantaranya adalah agresif, malu, pasrah, malas, ambisius, setia, jujur. Semakin konsisten

karakteristik tersebut muncul di saat merespons lingkungan, hal ini menunjukkan faktor

keturunan atau pembawaan merupakan faktor yang penting dalam membentuk kepribadian

seseorang.

5
Seseorang yang mempunyai motivasi berarti ia telah mempunyai kekuatan untuk memperoleh

kesuksesan dalam kehidupan.Motivasi dapat berupa motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi

yang bersifat intinsik adalah manakala sifat pekerjaan itu sendiri yang membuat seorang

termotivasi, orang tersebut mendapat kepuasan dengan melakukan pekerjaan tersebut bukan

karena rangsangan lain seperti status ataupun uang atau bisa juga dikatakan seorang melakukan

hobbynya. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah manakala elemen elemen diluar pekerjaan yang

melekat di pekerjaan tersebut menjadi factor utama yang membuat seseorang termotivasi seperti

status ataupun konpensasi.

BAB III

STRES KERJA, BELAJAR, PERSEPSI

Stres sebagai suatu tanggapan dalam menyesuaikan diri yang dipengaruhi oleh perbedaan

individu dan proses psikologis, sebagai konsekuensi dari tindakan lingkungan, situasi atau

peristiwa yang terlalu banyak mengadakan tuntutan psikologis dan fisik seseorang. Bahwa

terjadinya stres kerja adalah dikarenakan adanya ketidakseimbangan antara karakteristik

kepribadian karyawan dengan karakteristik aspek-aspek pekerjaannya dan dapat terjadi pada

semua kondisi pekerjaan. Adanya beberapa atribut tertentu dapat mempengaruhi daya tahan stres

seorang karyawan.

Organisasi belajar adalah organisasi di mana orang-orangnya secara terus-menerus

mengembangkan kapasitasnya guna menciptakan hasil yang benar-benar mereka inginkan, di

mana pola-pola berpikir baru dan berkembang dipupuk, di mana aspirasi kelompok diberi

kebebasan, dan di mana orang-orang secara terus-menerus belajar mempelajari ( learning to

learn ) sesuatu secara bersama.

6
Persepsi sebagai suatu proses yang ditempuh individu-individu untuk mengorganisasikan dan

menafsirkan kesan indera mereka agar memberi makna pada lingkungan. Namun apa yang

merupakan persepsi seseorang dapat berbeda dari kenyataan yang objektif. Karena perilaku

orang didasarkan pada persepsi mereka akan realitas, dan bukan pada realitas itu sendiri.

BAB IV

PERILAKU KELOMPOK DALAM ORGANISASI

Kelompok didefinisikan sebagai kumpulan dua orang atau lebih yang berinteraksi satu sama lain

sedemikian rupa sehingga perilaku atau kinerja seseorang dipengaruhi oleh kinerja atau perilaku

anggota yang lain.Pembentukan kelompok pada dasarnya merupakan suatu rangkaian proses

dinamis yang terdiri dari beberapa fase.Karena kelompok terdiri dari sejumlah orang dan

biasanya dengan latar belakang yang berbeda-beda, maka sangat mungkin bahwa dalam

kelompok itu ditemukan banyak masalah. Disini peranan pimpinan menjadi penting dalam

menyelesaikan konflik yang terjadi. Tim membutuhkan kepemimpinan dan struktur untuk

memberikan fokus dan arah. Mendefinisikan dan menyepakati pendekatan umum, misalnya,

memastikan bahwa tim ini bersatu pada sarana untuk mencapai tujuannya. Anggota tim harus

setuju pada tugas yang dilakukan seseorang dan memastikan bahwa semua anggota berdistribusi

sama dalam berbagi beban kerja. Sehingga selain mengevaluasi dan memberikan

penghargaakepada karyawan atas kontribusi masing-masing, manajemen harus

mempertimbangkan penilaian berbasis kelompok, pembagian keuntungan, insentif kelompok

kecil, dan modifikasi sistem lainnya yang akan memperkuat upaya tim dan komitmen. Selain itu

perusahaan harus mampu mengembangkan rasa saling percaya yang tinggi, anggota percaya

pada integritas, karakter dan kemampuan satu sama lain, tetapi ketika hubungan pribadi,

kepercayaan rapuh, dibutuhkan sewaktu yang lama untuk membangun dapat dengan mudah

7
hancur, dan sulit untuk kembali. Kepercayaan melahirkan kepercayaan dan ketidakpercayaan

melahirkan ketidakpercayaan, menjaga kepercayaan membutuhkan perhatian yang cermat oleh

manajemen.

BAB V

KEKUASAAN DALAM KELOMPOK

Konsep kekuasaan adalah salah satu konsep yang berguna untuk dipahami dengan tujuan untuk

mengetahui bagaimana seseorang mampu untuk mempengaruhi orang lain didalam suatu

organisasi. Kekuasaan menyertakan kemampuan seorang pihak (agen) untuk mempengaruhi

pihak lain (target). Terminologi ini merujuk pada agen yang bisa mempengaruihi target orang

perorang maupun target secara kolektif. Kadang terminologi kekuasaan ini juga menyangkut

kepada pengaruh yang secara potensial dimiliki oleh agen yang tidak hanya bisa mempengaruhi

perilaku dan sikap dari target tapi juga kemampuan untuk mempengaruhi situasi atau keadaaan.

Apakah yang menyebabkan seseorang memiliki kekuasaan? Jawabannya adalah karena adanya

gantung . Orang yang memiliki kekuasaan dianggap memiliki sumber daya yang diinginkan oleh

orang lain, sehingga orang-orang menjadi tergantung karena kepemilikan sumber daya tersebut.

BAB VI

KONFLIK DALAM ORGANISASI

Konflik merupakan suatu proses yang dimulai bila satu pihak merasakan bahwa pihak lain telah

mempengaruhi secara negatif atau akan segera mempengaruhi secara negatif pihak lain.

Keberadaan konflik lebih banyak menyangkut persepsi dari orang atau pihak yang mengalami

dan merasakannya. Jika suatu keadaan tidak dirasakan sebagai konflik maka pada dasarnya

konflik itu tidak ada. Begitu juga sebaliknya

8
BAB VII

KEPEMIMPINAN DALAM ORGANISASI

Kepemimpinan merupakan sikap yang dimiliki oleh seorang pemimpin yang digunakan untuk

mempengaruhi orang lain dalam kelompok untuk menggapai tujuan yang disepakati bersama.

Ada tiga teori yang menjelaskan mengenai latar belakang adanya pemimpin dalam organisasi.

Teori tersebut ialah sebagai berikut :

a. Teori Genetik

b. Teori Sosial

c. Teori Ekologis.

Sifat-sifat kepemimpinan dalam organisasi yang penting untuk dimiliki oleh setiap pemimpin

antara lain :

a. Sebagai Motivator

b. Menjalin Komunikasi yang baik dengan bawahan

c. Memberikan kepercayaan kepada bawahan

d. Bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpin.

Keahlian seorang pemimpin sangat menentukan keberhasilan dalam pencapaian tujuan

organisasi. Terdapat setidaknya empat keahlian yang harus dikuasai oleh pemimpin sebuah

organisasi. Keempat ketrampilan tersebut diantaranya :

a. Ketrampilan Konseptual

b. Ketrampilan Komunikasi

c. Ketrampilan Administratif

d. Ketrampilan Teknis.

Tugas Kepemimpinan (Leader Function), meliputi dua bidang utama, yaitu :

9
a. Pekerjaan yang harus diselesaikan, yaitu Tugas yang berhubungan dengan pekerjaan

disebut Task Function. Tugas yang berhubungan dengan pekerjaan perlu dilaksanakan

agar pekerjaan kelompok dapat diselesaikan dan kelompok mencapai tujuannya.

b. Kekompakan kelompok yang yang dipimpinannya, yaitu Tugas yang berhubungan

dengan kekompakan kelompok dibutuhkan agar hubungan antar orang yang bekerjasama

menyelesaikan kerja itu lancar dan enak jalannya.

Ada beberapa gaya kepemimpinan yang dapat ditemukan di berbagai organisasi :

a. Kepemimpinan Birokrasi

b. Kepemimpinan Transaksional

c. Kepemimpinan Otokratis

d. Kepemimpinan Karismatik

e. Kepemimpinan Melayani

f. Kepemimpinan Partisipatif

g. Kepemimpinan Situasional

h. Kepemimpinan Laissez-Faire

i. Kepemimpinan Tenang

j. Kepemimpinan Transformasional.

10
BAB VIII

STRUKTUR ORGANISASI DAN DESAIN PEKERJAAN

Struktur Organisasi adalah susunan dan hubungan-hubungan antar komponen bagian-bagian dan

posisi-posisi dalam suatu perusahaan. Dan Desain Organisasi adalah Proses untuk menciptakan

struktur organisasi dan pengambilan keputusan tentang alternatif struktur tersebut.

Ada Lima keputusan desain diperlukan untuk menciptakan struktur organisasi, yaitu :

a. Pembagian pekerjaan (division of labor)

Adalah sejauh mana tugas-tugas dalam organisasi dibagi-bagi ke dalam beberapa

pekerjaan tersendiri

b. Departementalisasi

Dasar yang dipakai untuk pengelompokkan pekerjaan. Dapat dibagi berdasarkan :

Fungsional, Produk, Pelanggan, Geografis dan Matriks.

c. Rentang Kendali (Span of Control)

Adalah Jumlah bawahan yang dapat diatur manajer secara efektif dan efisien.

d. Delegasi Kewenangan (delegation of authority)

Tingkat dimana pengambilan keputusan diputuskan pada titik tunggal dalam organisasi

(process of distributing authority downward in anorganization). Alasan desentralisasi

organisasi : melatih manajer untukmengambil keputusan, memunculkan iklim kompetisi

antannanajer, kepuasan kerja dari manajer. Alasan sentralisasi organisasi : mengurangi

biaya pelatihan, mengurangi biaya duplikasi, mengurangi biaya administrasi, manajer

saat ini lebih suka sentralisasi.

e. Rantai komando

11
Garis wewenang yang tidak putus-putus yangterentang dari puncak organisasi ke eselon

terbawah yg memperjelas siapa melapor kesiapa.

Faktor penyebab perbedaan struktur organisasi adalah : Strategi Organisasi, Ukuran organisasi,

Teknologi yang digunakan organisasi dan Lingkungan Organisasi.

Ada 3 (tiga) desain Organisasi yang umum yaitu Struktur organisasi sederhana, Struktur

Birokrasi dan Struktur Matrik.

BAB IX

PERUBAHAN DAN PENGEMBANGAN ORGANISASI

Pengembangan organisasi adalah upaya pimpinan yang terencana dalam meningkatkan

efektivitas organisasi, dengan menggunakan cara intervensi (oleh pihak ketiga) yang didasarkan

pada pendekatan perilau manusia.

Ada beberapa pendekatan dalam melakukan perubahan:

 Pendekatan kekuasaan sepihak.

 Pendekatan bersama (share).

 Pendekatan delegasi.

Ada berbagai faktor-faktor desakan untuk melakukan perubahan, yang dapat diklasifikasikan

sebagai faktor internal organisasi dan faktor eksternal yaitu faktor lingkungan.

Beberapa desakan dari dalam organisasi mendorong organisasi melakukan perubahan, antara lain

: Perubahan nilai kerja, Produk using, dan Masalah proses organisasi.

Dan Desakan faktor eksternal untuk melakukan perubahan adalah diluar kendali dari manajer,

namun manajer yang cerdik selalu mengidentifikasi faktor eksternal yang mendesak adanya

12
perubahan dan memberikan respon yang tepat terhadap desakan tersebut. Faktor-faktor tersebut

adalah Persaingan, Perubahan permintaan konsumen, Ketersediaan sumber-sumber, Teknologi

dan Sosial politik.

Penolakan terhadap perubahan dapat dibedakan atas dua yaitu penolakan perubahan dari individu

dan penolakan perubahan dari organisasi. Penolakan bersifat individual terhadap perubahan

karena berbagai alasan, antara lain : Takut karena tidak mengetahui, Belajar tugas yang baru,

Merusak kesetabilan interaksi, Ketidakpercayaan pada manajemen,

Penolakan organisasi terhadap perubahan, di karenakan alasan antara lain :Ancaman terhadap

struktur kekuasaan, System hubungan, Biaya perubahan dan kepentingan pribadi.

Ada beberapa Metode Untuk Mengatasi Penolakan Terhadap Perubahan, antara lain :

Pendidikan dan komunikasi, ketertiban dan partisipasi, dukungan, insentif dan negoisasi,

manipulasi pemilihan, paksaan.

Merancang pengembangan organisasi, bisa dengan beberapa hal antara lain : Pengembangan

organisasi melalui hubungan antarpribadi, Bimbingan dan konseling, Pelatihan kepekaan,

Pengembangan organisasi melalui proses kelompok, Pengembangan organisasi secara

keseluruhan, dan Survai umpan-balik.

13
BAB X

BUDAYA ORGANISASI

Budaya Organisasi merupakan penerapan nilai-nilai dalam suatu masyara yang terkait, bekerja di

bawah naungan suatu organisasi.

Elemen budaya secara garis besar dibedakan menjadi 2 : Shared meaning dan Shared symbol

Menciptakan Budaya Organisasi. Seluruh anggota organisasi seharusnya mengetahui dan

memahami mengenai terbentuknya budaya organisasi, pentingnya bagi kemajuan organisasi,

termasuk bagi pengembangan dirinya.

Ciri-ciri Budaya Organisasi yang Kuat

a) Anggota-anggota organisasi loyal kepada organisasi.

b) Pedoman bertingkah laku bagi orang-orang di dalam perusahaan digariskan dengan jelas,

dimengerti, dipatuhi dan dilaksanakan oleh orang-orang di dalam perusahaan sehingga

orang-orang yang bekerja menjadi sangat kohesif.

c) Nilai-nilai yang dianut organisasi tidak hanya berhenti pada slogan, tetapi dihayati dan

dinyatakan dalam tingkah laku sehari-hari secara konsisten oleh orang-orang yang

bekerja dalam perusahaan.

d) Organisasi memberikan tempat khusus kepada pahlawan-pahlawan organisasi dan secara

sistematis menciptakan bermacam-macam tingkat pahlawan.

e) Dijumpai banyak ritual, mulai dari ritual sederhana hingga yang mewah

f) Memlhkl jaringan kulturan yang menampung cerita-cerita kehebatan para pahlawannya.

Ciri-ciri Budaya Organisasi yang Telah Mengakar menurut Schein (1991)

a) It must be common:

b) It must be habitual:

14
c) It is spontaneous:

d) It is a deeply-held conviction;

e) It is visible.

Langkah Kegiatan untuk Memperkuat Budaya Organisasi :

a) Memantapkan nilai-nilai dasar budaya organisasi

b) Melakukan pembinaan terhadap anggota organisasi

c) Memberikan contoh atau teladan.

d) Membuat acara-acara rutinitas

e) Memberikan penilaian dan penghargaan

f) Tanggap terhadap masalah eksternal dan internal.

g) Koordinasi dan kontrol.

BAB XI

KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI

Komunikasi adalah sebuah tindakan untuk berbagi informasi, gagasan atau pun pendapat dari

setiap partisipan komunikasi yang terlibat didalamnya guna mencapai kesamaan makna.

Ada tiga model dalam komunikasi Steward L.Tubbs dan Sylvia Moss dalam Human

Communication :

a) Model Komunikasi Linier (one-way communication),

b) Model Komunikasi Interaksional.

c) Model Komunikasi Transaksional.

Pengertian Komunikasi organisasi secara sederhana, yaitu komunikasi antarmanusia (human

communication) yang terjadi dalam konteks organisasi. Atau dengan meminjam definisi dari

Goldhaber, komunikasi organisasi diberi batasan sebagai arus pesan dalam suatujaringan yang

15
sifat hubungannya saling bergabung satu sama lain (the flow of messages within a network of

interdependent relationships).

Fungsi komunikasi dalam organisasi :

a) Fungsi Informatif

Orang-orang dalam tataran manajemen membutuhkan informasi untuk membuat suatu

kebijakan organisasi ataupun guna mengatasi konflik yang terjadi di dalam organisasi.

Sedangkan karyawan (bawahan) membutuhkan informasi tentang jaminan

keamanan,jaminan sosial dan kesehatan, izin cuti dan sebagainya.

b) Fungsi Regulatif

Fungsi regulatif ini berkaitan dengan peraturan-peraturan yang berlaku dalam suatu

organisasi.

c) Fungsi Persuasif

Pimpinan banyak yang lebih suka untuk melakukan mempersuasi kepada bawahannya

daripada memberi perintah. Sebab pekerjaan yang dilakukan secara sukarela oleh

karyawan akan menghasilkan kepedulian yang lebih besar dibanding kalau pimpinan

sering memperlihatkan kekuasaan dan kewenangannya.

d) Fungsi Integratif

Pelaksanaan berbagai aktivitas akan menumbuhkan keinginan untuk berpartisipasi yang

lebih besar dalam diri karyawan terhadap organisasi.

Ada 6 (enam) gaya komunikasi yaitu :

1. The controlling style

16
Gaya komunikasi yang bersifat mengendalikan ini, ditandai dengan adanya satu

kehendak atau maksud untuk membatasi, memaksa dan mengatur perilaku, pikiran dan

tanggapan orang lain.

2. The aqua/harian style

Aspek penting gaya komunikasi ini ialah adanya landasan kesamaan. The equalitarian

style of communication ini ditandai dengan berlakunya arus penyebaran pesan-pesan

verbal secara lisan maupun tertulis yang bersifat dua arah (two way trafic of

communication). Dalam gaya komunikasi ini, tindak komunikasi dilakukan secara

terbuka. Artinya, setiap anggota organisasi dapat mengungkapkan gagasan ataupun

pendapat dalam suasana yang rileks, santai dan informal.

3. The structuring style

Gaya komunikasi yang berstruktur ini, memanfaatkan pesan-pesan verbal secara tertulis

maupun lisan guna memantapkan perintah yang harus dilaksanakan, penjadwalan tugas

dan pekerjaan serta struktur organisasi.

4. The dynamic style

Gaya komunikasi yang dinamis ini memiliki kecenderungan agresif, karena pengiriman

pesan atau sender memahami bahwa lingkungan pekerjaannya berorientasi pada tindakan

(acuan oriented).

5. The relinguishing style

Gaya komunikasi ini lebih mencerminkan kesediaan untuk menerima saran, pendapat

ataupun gagasan orang lain, daripada keinginan untuk memberi perintah, mesklpun

Pengirim pesan (sender) mempunyai hak untuk memberi perintah dan mengontrol orang

lain.

17
6. The Withdrawal style

Akibat yang muncul jika gaya ini digunakan adalah melemahnya tindak komunikasi,

artinya tidak ada keinginan dari orang-orang yang memakai gaya ini untuk

berkomunikasi dengan orang lain, karena ada beberapa persoalan ataupun kesulitan

antarpribadi yang dihadapi oleh orang-orang tersebut.

Ada beberapa Hambatan Komunikasi antara lain :

1) Hambatan Teknis

2) Hambatan Semantik

3) Hambatan Manusiawi

BAB XII

KOMITMEN DAN DAMPAKNYA TERHADAP ORGANISASI

Dalam komitmen organisasi perusahaan menetapkan pengharapan-pengharapan mengenai

pekerjaan yang harus dilakukan karyawan, hasil yang harus dicapai dan kompetensi yang harus

dimiliki untuk mencapai hasil tersebut. Komitmen organisasi dapat dianggap sebagai sebuah pola

pikir dari karyawan dimana selain mereka memikirkan nilai dan tujuan organisasi, karyawan

juga mempertimbangkan nilai dan tujuan pribadinya di dalam organisasi tempat ia bekerja.

Keselarasan yang ada dalam organisasi dan kepercayaan terhadap organisasi akan menimbulkan

sikap menyepakati dan menerima segala aturan dalam organisasi oleh karyawan. Hal ini dapat

terlihat dari sikap kerja dan cara karyawan melakukan kegiatan di dalam organisasi. Hal yang

terpenting dalam membangun komitmen adalah kepercayaan dari semua pelaku organisasi.

Untuk membangun kepercayaan karyawan terhadap perusahaan maka perusahaan haruslah

memperhatikan hal-hal yang dapat mempengaruhi komitmen organisasi tersebut

18
B. Buku Pembanding(buku Miftah Thoha )

BAB I

PERILAKU INDIVIDU DALAM ORGANISASI

Telah dijelaskan di bab ini mengapa manusia sangat berbeda perilakunya dengan

yanglain. Perilaku ini sendiri hakitkatnya adalah suatu fungsi dari interaksi antara seseorang

individu dengan lingkungannya. Ditilik dari sifatnya, perbedaan perilaku manusia itu disebabkan

karena kemampuan, kebutuhan, cara berpikir untuk menentukan pilihan perilaku, pengalaman,

dan reaksi efektifnya berbeda satu sama lain.

Adapun hampiran atau pendekatan yang seringkali dipergunakan untuk memahami

perilaku manusia itu, adalah hampiran kognitif, reinforcement, dan psikoanalitis. Berikut

ringkasan dari ketiga hampiran tersebut, yang masing-masing dilihat dari 6 hal, seperti misalnya:

penekanannya, penyebab timbulnya perilaku, prosesnya, kepentingan masa lalu didalam

menentukan perilaku, tingkat dari kesadaran, dan data yang dipergunakan.

1) Penekanan

Hampiran kognitif menekankan mental internal seperti misalnya berpikir dan menimbang.

Penafsiran atau persepsi individu tentang lingkungan dipertimbangkan lebih penting darifpada

lingkungan itu sendiri.

Hampiran penguatan (reinforcement) menekankan pada peranan lingkungan dalam perilaku

manusia. Lingkungan dipandang sebagai suatu sumber stimuli yang dapat menghasilkan dan

memperkuat respon-respon perilaku.

19
Hampiran Psikoanalitis menekankan peranan sistem personalitas didalam menentukan sesuatu

perilaku. Lingkungan dipertimbangkan sepanjang hanya sebagai Ego yang berinteraksi

dengannya untuk memuaskan keinginan-keinginan Id.

2) Penyebab Timbulnya Perilaku

Di dalam hampiran kognitif, perilaku dapat dikatakan timbul dari ketidakseimbangan atau

ketidaksesuaian pada struktur kognitif, yang dapat dihasilkan dari persepsi-persepsi tentang

lingkungan.

Hampiran reinforcement menyatakan bahwa perilaku itu ditentukan oleh stimuli lingkungan

baik sebelum terjadinya perilaku maupun sebagai hasil dari perilaku.

Adapun menurut hampiran Psikoanalitis, perilaku itu ditimv bulkan oleh tegangan»tegangan

(tensions) yang dihasilkan oleh tidak tercapainya keinginanvkeinginan yang berasal dari ld.

3) Proses

Hampiran kognitif menyatakan bahwa kognisi (pengetahuan dan pengalaman) adalah proses

mental, yang menyempurnakan dan disempurnakan oleh struktur kognitif yang ada. Akibat

adanya ketidakseimbangan atau ketidaksesuaian (inconsistency) di dalam struktur, menghasilkan

perilaku yang dapat mengurangi ketidaksesuaian tersebut.

4) Kepentingangan Masa Lalu dalam Menentukan Perilaku

Menurut hampiran psikoanalitis, masa lalu seseorang dapat menjadikan suatu penentu yang

relatif penting bagi perilakunya Sifat Id dan Superego adalah keduanya diturunkan, dan

kekuatan, kekuatan yang relatif dari Id, Ego, dan Superego adalah ditentukan oleh interaksi-

interaksi dan pengembangannya di masa lalu.

20
5) Tingkat dari Kesadaran

Dalam teori reinforcement tidak ada perbedaan antara sadar dan tidak sadar. Dalam

kenyataannya, biasanya aktivitas mental dipertimbangkan menjadi bentuk lain dari perilaku dan

tidak dihubungkan dengan kasus kekuasaan apa pun. Aktivitas mental seperti berpikir dan

berperasaan dapat saja diikuti dengan perilaku yang terbuka. Tetapi hal ltersebut bukan berarti

bahwa berpikir dan berperasaan dapat menyebabkan terjadinya perilaku terbuka .

6) Data

Didalam hampiran kognitif, data atas sikap-sikap, nilai-nilai, pengertian, dan pengharapan

pada dasarnya dikumpulkan lewat survei dan kuesioner.

21
BAB II

PERILAKU KELOMPOK DALAM ORGANISASI

Manusia sebagai makhluk sosial senantiasa ada kecenderungan untuk berinteraksi dengan

sesamanya. Kelompok merupakan perwujudan dari kebutuhan manusia untuk berinteraksi

tersebut.

Dalam bab ini diuraikan perilaku kelompok dalam organisasi, termasuk uraian mengenai

teori organisasi klasik atau tradisional maupun modern.

Banyak teori yang mengembangkan suatu anggapan mengenai awal mula terbentuknya

kelompok. Mulai dari anggapan adanya kedekatan ruang kerja maupun daerah tempat tinggal

mereka, sampai kepada alas an-alasan praktis seperti ekonomi, keamanan, dan alasan-alasan

sosial lainnya. Sejumlah pegawai yang ruang kerjanya berdekatan satu sama lain akan ada

kemungkinan bagi mereka untuk berkelompok. Demikian pula beberapa ibu-ibu yang tempat

tinggalnya berdekatan, cepat atau lambat mereka akan terhimpun dalam kelompok arisan.

Kelompok dapat pula ditimbulkan karena adanya aktivitas-aktivitas, interaksi.interaksi, dan

sentimen-sentimen, di antara beberapa orang. Se, makin banyak aktivitas-aktivitas seseorang

dilakukan dengan orang lain, semakin. beraneka interaksi-interaksi, dan semakin kuat

tumbuhnya sentimen-sentimen di antara mereka. Semakin banyak interaksi-interaksi di antara

orang-orang, maka semakin banyak kemungkinan aktivitas-aktivitas dan sentimen yang dituf

larkan pada orang lain. Demikian pula semakin banyak aktivitas dan sentimen yang ditularkan

pada orang lain, dan semakin bal nyak sentimen seseorang dipahami oleh orang lain, maka

semakin banyak kemungkinan ditularkan aktivitas dan interaksifinteraksif Dalil semacam itu

dikemukakan oleh George C. Homans dalam bukunya The Human Group.

22
Adapun bentuk-bentuk kelompok itu dapat berupa kelompok primer yang lebih bersifat

terjalinnya keakraban, hubungan tatap muka dengan tidak melalui perantara. Bentuk-bentuk lain

misalnya bentuk formal dan informal, kelompok terbuka dan tertutup, dan bentuk kelompok

referensi yang dipergunakan sebagai ukuran untuk menilai dirinya.

Bentuk kelompok dalam organisasi yang seringkali dibicarakan dalam perilaku organisasi

adalah panitia. Ada segi positif dan negatif dari panitia ini. Segi positif panitia antara lain pera

timbangan-pertimbangan yang diambil bisa lebih luas dan mef nyatu karena banyak orang yang

terlibat. Dua kepala lebih baik daripada satu kepala. Karena dari dua kepala akan keluar banyak

pendapat, sedangkan satu kepala lebih sedikit dibandingkan dengan dua kepala tersebut. Panitia

dapat dipergunakan sebagai sae ran untuk mengurangi konflik, dan meningkatkan koordinasi.

Demikian pula panitia dapat dipergunakan sebagai sarana untuk meningkatkan motivasi anggota-

anggota kelompok di dalam ikut berpartisipasi memikirkan persoalan-persoalan kelompok.

Adapun segi negatif dari panitia antara lain, menghamburkan waktu, biaya, dan seringkali

sebagai alat berlindung dari pertangf gun. awaban perorangan.

23
BAB III

PERSEPSI DAN KOMUNIKASI

Dua istilah persepsi dan komunikasi ini amat erat dan penting sekali diketahui guna

memahami ilmu perilaku ini. Komunikasi terjadi jika seseorang ingin menyampaikan informasi

kepada orang lain. Dan komunikasi tersebut dapat berjalan baik dan tepat jika penyampai

informasi tadi menyampaikannya dengan patut, dan penerima informasi menerimanya tidak

dalam bentuk distorsir.

Persepsi pada hakikatnya adalah proses kognitif yang dialami oleh setiap orang di dalam

memahami informasi tentang lingkungannya, lewat penglihatan, pendengaran, penghayatan,

perasaan, dan penciuman. Persepsi adalah suatu proses kognitif yang kompleks dan yang

menghasilkan suatu gambar unik tentang kenyataan yang barangkali sangat berbeda dari

kenyataannya.

Persepsi dapat diorganisir dalam diri seseorang berdasarkan hal-hal seperti adanya

kesamaan dan ketidaksamaan obyek, adanya kedekatan dalam ruang, dan adanya kedekatan

dalam waktu. Selain itu jika seseorang melakukan persepsi terhadap orang lain, akibat karena:

adanya hubungan dan interaksi secara langsung, maka orang tersebut melakukan persepsi sosial.

Dalam persepsi seperti ini karakteristik masing-masing yang berhubungan amat menentukan.

Selain itu beberapa hal yang ikut menentukan prasarana persepsi sosial antara lain karena adanya

proses atribusi, stereotype, dan halo effect.

Adapun komunikasi organisasi adalah suatu komunikasi yang terjadi dalam suatu

organisasi tertentu. Ciri dari komunikasi organisasi ini ialah berstruktur atau berhierarki.

Komunikasi ini mempunyai struktur yang vertikal dan horizontal, dan sebagai akibatnya

24
dapat'pula berstruktur keluar organisasi. Struktur yang terakhir ini jika organisasi tersebut

melakukan interaksi dengan lingkungannya.

Kalau dalam organisasi dikenal adanya struktur formal dari informal maka dalam

komunikasinya pun dikenal adanya komunikasi formal dan informal. Komunikasiformal

miengikuti jalur hubungan formal yang tergambar dalam susunan atau struktur organisasi.

Adapun komunikasi informal arus informasinya sesuai dengan kepentingan dan kehendak

masing-masing pribadi yang ada dalam organisasi tersebut. Proses hubungan komunikasi

nformasi tidak mengikuti jalur struktural, sehingga bisa saja terjadi seseorang yang mempunyai

struktur formal berada di bawah, berkomunikasi dengan seseorang yang berada di tingkat

pimpinan.

25
BAB IV

MOTIVASI DALAM ORGANISASI

Perilaku seseorang itu hakikatnya ditentukan oleh keinginannya untuk mencapai

beberapa tujuan. Keinginan itu istilah lainnya ialah motivasi. Dengan demikian motivasi

merupakan pendorong agar seseorang itu melakukan suatu kegiatan untuk mencapai tujuannya.

Teori-teori motivasi yang terkenal, diuraikan dalam bab ini mulai dari hierarki

kebutuhannya Maslow, motivasi dari Henberg, motivasi Alderfer, McClelland, teori X dan teori

Y dari McGregor, dan teori dewasa dan tidak dewasa dari Chris Argyris.

Hierarki kebutuhan dari Maslow pada mulanya tidak dimaksudkan secara langsung untuk

diterapkan pada motivasi kerja dalam suatu organisasi tertentu. Hanya saja oleh usaha McGregor

usaha besar Maslow tersebut dicoba dikembangkan pada aktivitas organisasi 20 tahun setelah

Maslow sendiri menyampaikan gagasan tersebut. Dengan demikian hierarki kebutuhan Maslow

dapat diubah ke dalam tatanan model motivasi kerja dengan perincian kebutuhan sebagai berikut:

Kebutuhan tertinggi adalah aktualisasi diri, kebutuhan di bawahnya kebutuhan akan penghargaan

seperti misalnya mendapatkan status, titel, symbol-simbol, promosi, dan lain sebagainya. Tingkat

di bawah lagi ialah kebutuhan sosial, misalnya kebutuhan akan kelompok formal atau informal,

menjadi ketua organisasi sosial, dan lain sebagainya. Kebutuhan lainnya ialah kebutuhan

keamanan, misalnya mendapat jaminan masa pensiun, jaminan kecelakaan dan sakit, jaminan

asuransi kesehatan, dan lain sebagainya. Adapun kebutuhan yang paling dasar ialah kebutuhan

fisiologis misalnya gaji, upah; tunjangan, honorarium, uang tranSport, perumahan, dan lain

sebagainya.

26
Tokoh motivasi lainnya ialah David C. McClelland yang menyatakan bahwa manusia itu

pada hakikatnya mempunyai kemampuan untuk berprestasi di atas kemampuan orang lain.

Kebutuhan untuk berprestasi ini menurut McClelland adalah suatu motif yang berbeda dan dapat

dibedakan dari kebutuhan-kebutuhan lainnya. Seseorang dianggap mempunyai motivasi untuk

berprestasi jika ia mempunyai keinginan untuk melakukan Suatu karya yang berprestasi lebih

baik dari prestasi karya orang lain. Ada tiga kebutuhan manusia ini menurut McClelland, yakni:

kebutuhan untuk berprestasi, kebutuhan untuk berafiliasi, dan kebutuhan untuk kekuasaan.

Terakhir dibahas dalam bab ini ialah teori Chris Argyris tentang kedewasaan seseorang. Argyris

menyatakan ada tujuh perubahan yang terjadi di dalam kepribadian orang yang tidak dewasa

menjadi orang yang matang. Ketujuh perubahan itu antaranya: pasif menjadi aktif, tergantung

menjadi tidak tergantung. bertindak yang sedikit menjadi banyak variasinya, minat yang tidak

menentu dan dangkal, menjadi lebih dalam dan kuat, perspektif waktu jarak dekat, menjadi jarak

jauh, posisi yang berada di bawah, menjadi posisi setingkat atau bahkan di atasnya, kekutangan

kesadaran atas dirinya, menjadi tahu mengendalikan diri.

27
BAB V

KEPEMIMPINAN DAN KEKUASAAN

Kepemimpinan adalah suatu aktifitas untuk mempengaruhi perilaku orang lain agar mereka mau

diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Disini dapat ditangkap suatu pengertian bahwa jika

seseorang telah mulai berkeinginan untuk mempengaruhi perilaku orang lain, maka di sini

kegiatan kepemimpinan itu telah dimulai. Pengaruh dan kekuasaan dari seseorang pemimpin

mulai nampak relevansinya.

Usaha untuk meneliti kepemimpinan sudah dimulai sejak lama. Terutama di Amerika Serikat

usaha tersebut mulai dilakukan oleh studi-studi dari Universitas Iowa disekitar tahun 1930, di

Universitas Ohio tahun 1945, dan di Universitas Michigan tahun 1947. Mulai saat itu usaha

untuk mengembangkan teori kepemimpinan melaju dengan pesatnya.

Banyak teori-teori yang dikembangkan dari hasil penelitian itu, diantaranya teori sifat, teori

kelompok atau teori pertukaran, teori situasional dan model kontijensi, teori path/goal, dan

pendekatan social learning. Dan dari teori-teori itu banyak dikenalkan beberapa model dan gaya

kepemimpinan.

Gaya kepemimpinan adalah suatu cara yang dipergunakan oleh seorang pemimpin dalam

mempengaruhi perilaku orang lain. Dari gaya ini dapat diambil manfaatnya untuk dipergunakan

sebagai pedoman bagi pemimpin dalam memimpin bawahan atau para pengikutnya. Gaya'gaya

kepemimpinan yang banyak dikenalkan oleh para ahliteori kepemimpinan antara lain:

 gaya kepemimpinan kontinum (otokratis 'dan demokratis).

 gayakepemimpinan managerial grid

28
 gaya tiga dimensi dari Reddin

 gaya empat sistem dari Likert.

 dan gaya yang nampaknya paling akhir dalam perkembangan teori kepemimpinan di

Amerika serikat, yakni gaya kepemimpinan situasional dari Hersey dan Blanchard.

Kepemimpinan situasional ini dihubungkan dengan perilaku pemimpindengan bawahan atau

pengikutnya. Adapun para pengikut ini dilihat sampai di mana tingkat kematangannya, dalam hal

mau dan mampu melakukan tugas-tugasnya.

Demikianlah inti pokok pembicaraan kepemimpinan dalam hubungannya dengan kekuasaan.

Kedua istilah ini pemimpin atau kepemimpinan dengan kekuasaan mempunyai relevansi yang

cukup tinggi. Kepemimpinan adalah suatu proses untuk mempeangaruhi perilaku orang lain.

Untuk mempengaruhi, membutuhkan kekuasaan. Sedangkan kekuasaan itu sendiri

merupakan potensi pengaruh dari seorang pemimpin. Ini berarti bahwa kekuasaan adalah

merupakan suatu sumber yang memungkinkan seorang pemimpin mendapatkan hak untuk

mengajak, meyakinkan, dan mempengaruhi orang lain.

29
II.2 Kelebihan dan Kelemahan buku Utama

II.2.1 Kelebihan

1. Sampul/cover buku cukup menarik

2. Dalam buku ini terdapat soal-soal yang dapat menguji para pembacanya sejauh mana mereka

mengetahui tentang manajemen sumber daya manusia.

3. Setiap bab penulis membuat kesimpulan yang dapat dimengerti

4. Buku ini memliki beberapa pembahahasan tentang Teori Perilaku dan Organisasi yang buku

lain tidak miliki misalnya buku pembanding tulisan Miftah Thoha.

II.2.2 Kelemahan

1. Sola latihan yang diberikan pada setiap bab terkadang tidak ada jawabannya dari penjelasan

materi yang terdapat dalam buku ini.

2. Tampilan isi buku kurang menarik,karena hanya sangat sedikit penjelasan berupa gambar ,dan

warna yang digunakan juga hanya hitam putih.

II.3 Kelebihan dan Kelemahan buku Pendamping

II.3.1 Kelebihan

1. Menggunakan kata-kata yang sederhana untuk dimengerti dikalangan mahasiswa.

2. Cover buku ini juga cukup menarik karena dipadukan dengan warna yang dapat

meningkatkan minat bagi para pembaca untuk membaca buku ini.

3. Dalam setiap akhir bab penulis juga membuat kesimpulan sehingga memudahkan pembacanya

untuk memahami isi buku ini.

II.3.2 Kelemahan

1. Terkadang ada kata-kata yang masih salah penulisan

30
2. Tampilan isi buku kurang menarik,karena hanya sangat sedikit penjelasan berupa gambar ,dan

warna yang digunakan juga hanya hitam putih.

3. Ukuran buku ini terlalu tebal sehingga mungkin akan mengurangi minat membaca bagi para

pembacanya terutama bagi pembaca yang kurang menyukai ukuran buku yang terlalu tebal.

31
BAB III
PENUTUP
III.1 Kesimpulan
Perilaku Organisasi adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang perilaku tingkat
individu dan tingkat kelompok dalam suatuorganisasi serta dampaknya terhadap kinerja (baik
kinerja individual, kelompok,Kinerja merupakan penampilan hasil kerja pegawai baik secara
kuantitas maupun kualitas. Setiap pekerjaan memerlukan suatu keterampilan tertentu sesuai
dengan bidang nya masing-masing. Sukar tidaknya suatu pekerjaan serta perasaan seseorang
bahwa keahliannya dibutuhkan dalam melakukan pekerjaan tersebut, akan meningkatkan atau
mengurangi kepuasan kerja.
III.2 Saran
Mungkin akan jauh lebih baik apabila penulis menggunakan kata-kata yang sederhana
sehingga lebih mudah dipahami oleh pembaca.

32
DAFTAR PUSTAKA

Fauziah Agustin,SE,MBA dkk. Teori Perilaku dan Organisasi : Universitas Negeri Medan

Miftah Thoha.2012. Perilaku Organisasi Konsep Dasar dan Aplikasinya : PT Raja Grafindo

Persada

33