Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH STUDI KASUS

PRAKTEK COMPOUNDING DISPENDING


SWAMEDIKASI (KETOMBE)

Disusun oleh :
Desi Ratna Permatasari (1820364006)

FAKULTAS FARMASI
PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER
UNIVERSITAS SETIA BUDI SURAKARTA
2018
BAB I
PENDAHULUAN
Ketombe disebut juga Pityriasis sika atau dandruff merupakan suatu keadaan anomali
pada kulit kepala dengan terjadinya pengelupasan sel stratum korneum atau lapisan tanduk
secara berlebihan dari kulit kepala yang lebih cepat dari biasanya, membentuk sisik tipis
berukuran 2−3 milimeter, berwarna keputih putihan dan disertai rasa gatal. Berbagai kondisi
memudahkan seseorang berketombe yaitu hiperproliferasi epidermis, keaktifan kelenjar
sebasea, faktor genetik dan stress (Degree, 1989).
Pityrosporum ovale adalah spesies jamur yang diduga berperan sebagai agen
penyebab terjadinya ketombe. Pityrosporum ovale adalah yeast lipofilik yang merupakan
flora normal pada kulit dan pada kulit kepala manusia. Pada penderita ketombe, antibodi
Pityrosprum ovale dan jumlah Pityrosporum ovale pada kulit kepala meningkat
Pityrosporum ovale adalah ragi lipofilik yang merupakan flora normal kulit manusia pada
orang dewasa (Cafarchia et al, 2011).
Pityrosporum ovale merupakan anggota dari genus Malassezia sp. dan termasuk
familia Cryptococcaceae (Brooks et al, 2007). Pada kondisi normal, kecepatan pertumbuhan
jamur Pityrosporum ovale kurang dari 47 %. Jika ada faktor pemicu yang dapat mengganggu
kesetimbangan flora normal pada kulit kepala, maka akan terjadi peningkatan kecepatan
pertumbuhan jamur Pityrosporum ovale yang dapat mencapai 74 %. Banyaknya populasi
Pityrosporum ovale inilah yang memicu terjadinya ketombe (Burns et al, 2010). Faktor
predisposisi lainnya seperti suhu tinggi, kelembaban tinggi atau faktor endogen seperti kulit
berminyak, keringat yang berlebihan, hiperproloferasi epidermis, keturunan, stres,
pengobatan imunosupresif, dan penyakit sistemik (Cafarchia et al, 2011).
Ketombe banyak diderita penduduk di daerah beriklim tropis, temperatur tinggi dan
udara yang lembab. Prevalensi dermatitis seboroik diperkirakan 3-5%. Jika ketombe yang
merupakan dermatitis seboroik ringan ditambahkan, angka kejadian mencapai 15-20 %
(Indranarum, 2001). Pada Ras Kaukasia terdapat sekitar 50% yang menderita ketombe dari
kedua jenis kelamin, sedangkan pada ras lain angka insidensinya belum diketahui. Pada
masa anak-anak, ketombe relatif jarang dan ringan. Kelainan ini biasanya mulai timbul pada
masa pubertas, mencapai insiden tertinggi usia sekitar 20 tahun kemudian berkurang
frekuensinya setelah usia 50 tahun (Burns et al, 2010).
Semenjak Pityrosporum ovale dianggap penyebab terpenting dalam kejadian
ketombe, pemberian sampo yang mengandung agen antimikroba dan agen keratinolitik
menjadi yang paling pokok digunakan untuk mengatasi ketombe seperti ketokonazol, sulfur,
asam salisilat, selenium sulfide, pirokton olamine dan zinc pyrithione. Tujuan pengobatan
topikal adalah untuk mengurangi rasa gatal, mengurangi jumlah mikroorganisme,
membersihkan rambut kepala dari sisik-sisik, dan sisa-sisa sebum yang merupakan
manifestasi klinis dari ketombe (Indranarum, 2001).
Upaya lain yang dapat dilakukan seseorang untuk menyembuhkan penyakit atau
gangguan kesehatan adalah dengan cara swamedikasi atau dengan cara pengobatan sendiri
yang merupakan suatau upaya yang dipilih untuk memperbaiki kondisi kesehatannya.
Swamedikasi bisa dilakukan dengan terapi menggunakan obat atau terapi non obat.
Penggunaan obat dalam pengobatan sendiri oleh masyarakat dilakukan tanpa ada rujukan
dari petugas kesehatan,sehingga pasien harus mendiagnosis sendiri penyakitnya,kemudian
memilih obat yang cocok dengan penyakit yang diderita,sehingga pengobatan sendiri
diperlukan pengetahuan yang benar tentang obat yang digunakan. Kerasionalan dalam
memilih dan menggunakan obat sangat dibutuhkan mengingat obat akan bersifat racun jika
penggunaanya tidak tepat. Dalam hal ini kesadaran masyarakat untuk memplajari
penggunaan obat yang tepat sagat dibutuhkan untuk mencapai pengobatan yang rasional.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi
Ketombe adalah serpihan kulit kepala (mati) yang terkelupas. Epitel yang menyusun
kulit kepala merupakan epitel skuamus berlapis yang secara terus menerus tumbuh, sehingga
mendorong epitel lama diatasnya ke permukaan yang kemudian akan mati dan akhirnya
terkelupas (korneosit). Setiap orang diperkirakan menghasilkan sekitar 4 kg skuama
korneosit per tahun, namun tidak terdeteksi hingga serpihan tersebut berukuran lebih besar
dan terlihat bergerombol di kulit kepala, menempel di rambut, serta tampak pada pakaian.
Kelainan kulit kepala ini merupakan penyatuan korneosit yang tidak sesuai, yang
menyatu secara luas antara satu dan yang lain serta menempel pada permukaan stratum
korneum. Sel parakeratotik merupakan salah satu sel penyusun ketombe. Jumlah sel tersebut
tergantung dari keparahan manifestasi klinis nya, dan mungkin juga dipengaruhi oleh
dermatitis seboroik. Karakteristik dari ketombe tersebut merupakan serpihan yang
menempel secara bebas, berwarna putih atau keabuan, terjadi baik secara difus atau hanya
disatu bagian rambut pada kulit kepala. Sekitar 49% pasien berketombe mengalami
gejala tersebut. Pasien tersebut juga mengalami gejala yang lain yaitu pruritus (66%),
iritasi (25%), dan rasa kering pada kulit kepala sekitar 59%.

B. Etiologi
Etiologi dari dermatitis seboroik kulit kepala atau ketombe ini belum diketahui secara
pasti, sekalipun diperlihatkan adanya jamur lipofilik ( misalnya, Malassezia furfur) pada
preparat anti fungal. Tumpukan parakeratosis yang bercampur dengan sel-sel radang akut
berkumpul di sekitar folikel rambut dengan infiltrat sel-sel neutrofil dan limfosit di seluruh
daerah perivaskular superfisial. (Malassezia sp. merupakan flora normal kulit dan berjumlah
46% dari populasi, sedangkan pada penderita ketombe jumlah tersebut meningkat menjadi
74%. Pityrosporum ovale, termasuk golongan jamur, sebenarnya adalah flora normal di
rambut. Akan tetapi berbagai keadaan seperti suhu, kelembaban, kadar minyak yang tinggi,
dan penurunan imunitas (daya tahan) tubuh dapat memicu pertumbuhan berlebihan dari
jamur ini.
C. Patofisiologi
Terdapat beberapa urutan patofisiologi terjadinya ketombe :
1. Ekosistem Malassezia dan interaksi Malassezia pada epidermis
2. Inisiasi dan perkembangan dari proses infamasi
3. Proses kerusakan, proliferasi, dan diferensiasi pada epidermis
4. Kerusakan barrier secara fungsional maupun struktural

D. Faktor resiko
1. Usia
Umumnya ketombe mudah terjadi pada siapa saja, namun biasanya ketombe muncul
ketika seseorang berusia muda, namun tak berarti juga mereka yang sudah berusia
lanjut tidak memiliki ketombe.
2. Kulit kepala dan rambut berminyak. Kelenjar minyak juga diproduksi di kulit kepala.
Jamur Pitysporum Ovale memakan minyak pada kulit kepala, sehingga minyak pada
kulit kepala dan rambut secara berlebihan yang dapat memunculkan ketombe lebih
cepat.
3. Karena diet yang salah. Diet bukanlah mengurangi asupan makanan dan nilai nutrisi
dan gizi yang penting bagi tubuh. Jika tubuh kekurangan sumber nutrisi dan gizi
penting, tentunya akan memudahkan kulit kepala mengalami pengelupasan sel-sel
kulit lebih cepat dari biasanya. Hal ini dikarenakan oleh kulit kepala dan rambut
membutuhkan nutrisi dan gizi yang sama sepertihalnya tubuh.

E. Manifestasi Klinis
Pada penderita dengan ketombe ringan, akan tampak serpihan kecil di orificium
dari folikel rambut. Sedangkan pada ketombe yang lebih parah, serpihan tersebut tampak di
area yang lebih luas dari kepala, dan ukurannya lebih besar, serta saling menyatu. Jika
ketombe tersebut menjadi sangat parah, maka serpihan ketombe tersebut dapat membentuk
lembaran yang menutupi hampir seluruh bagian kulit kepala.
Gejala ketombe yang sering timbul adalah :
1. Rasa gatal di kulit kepala pada siang hari, terutama bila panas dan berkeringat.
2. Terjadi pelepasan lapisan keratin epidermal pada saat digaruk yang kemudian
menempel di batang rambut atau jatuh ke baju.
3. Timbul perlukaan pada kulit yang menyebabkan timbulnya infeksi sekunder oleh
mikroba lain.
4. Garukan karena rasa gatal juga dapat menyebabkan rontoknya rambut terutama di
daerah verteks (puncak kepala).

(kulit kepala normal) (kulit kepala ber-ketombe)

F. Tatalaksana terapi
Sediaan anti ketombe dalam kosmetik biasanya disajikan dalam bentuk sediaan:
shampo, hair cream bath atau dapat juga dalam bentuk tonik. Zat yang umum digunakan
dalam kosmetik antiketombe adalah:
1. Ketoconazole
Ketokonazol merupakan anti jamur golongan imidazol mempunyai spektrum yang
luas, bersifat fungistatik, dan bekerja dengan cara menghambat sintesis ergosterol yaitu
komponen yang penting untuk integritas membran sel jamur. Ketoconazole krim dan scalp
solution masuk dalam daftar OWA. Sediaan ketoconazole yang cocok digunakan untuk
ketombe adalah scalp solution dimana pengaplikasiannya sama seperti sampo.
2. Sulfur
Sulfur memiliki sejarah panjang pada pengobatan kulit seperti untuk acne ointment,
sampo anti ketombe dan antidote karena terpapar material radioaktif secara akut. Efek anti
ketombe karena kemampuannya sebagai keratolitik. Sulfur dapat digunakan sebagai anti
ketombe sampai dengan kadar 10% dan dapat dikombinasi dengan asam salisilat untuk
meningkatkan efek anti ketombenya.
3. Asam salisilat
Asam salisilat merupakan zat yang sering ditambahkan pada produk perawatan kulit
untuk perawatan jerawat dan psoriasis. Efek pada kulit sebagai keratolitik, dijadikan dasar
penambahan asam salisilat pada produk sampo perawatan ketombe. Pada kulit dapat
mempercepat regenerasi sel.
4. Selenium sulfida
Selenium sulfida dengan kadar 1% dan 2,5% digunakan pada kulit kepala untuk
mengontrol gejala ketombe dan seborrheic dermatitis. Mekanisme kerjanya sebagai anti
ketombe dengan menghambat pertumbuhan sel baik yang hiperproliferatif atau normal.
Selenium sulfida 1% digunakan sebagai anti ketombe sedang selenium sulfida mikronisasi
0,6%. Efek samping dari penggunaan selenium sulfida adalah iritasi kulit, rambut kering atau
berminyak, rambut rontok.
5. Seng pirition
Bekerja sebagai anti mitosis, bakteriostatik dan fungistatik (drugs). Seng pirition
merupakan anti ketombe yang efektif dan bersifat anti fungi. Efek anti ketombe berdasarkan
kemampuan molekul pirition yang tak terionisasi untuk mengganggu transpor membran
dengan menghambat mekanisme energi pompa proton sehingga dapat menghambat
pertumbuhan jamur.
6. Pirokton olamine
Pirokton olamin atau Octopirox adalah suatu senyawa digunakan sebagai terapi
infeksi jamur. Seringkali digunakan sebagai salah satu komponen sampo anti ketombe
sebagai pengganti seng pirition.
BAB III
STUDI KASUS

Kasus 3
Rinda 8 tahun mengalami gatal dikepala dan terdapat pengelupasan lapisan kulit, kulit kepala
terasa kering. Adanya pengelupasan lapisan kulit menyebabkan ada kotoran putih di kepala
dan kotoran itu sering jatuh di bahu, rasa gatal itu sering sekali muncul. Sebelumnya belum
mengalami penyakit ini, tidak memiliki penyakit lain, tidak memiliki alergi.

DOKUMENTASI SWAMEDIKASI
Nama Pasien Rinda
Jenis Kelamin Perempuan
Usia 8 tahun
Alamat Jln. Gus Dur no. 45 Surakarta
Tanggal pasien
06 September 2018
datang
Penyakit/diagnosa Ketombe
gatal dikepala dan terdapat pengelupasan lapisan kulit, kulit kepala
Keluhan pasien
terasa kering, terdapat kotoran putih yang sering jatuh di bahu
Riwayat alergi -
Pasen pernah datang
Ya/tidak*) *coret salah satu
sebelumnya :
Obat yang diberikan :
Nama Obat Dosis Cara pemakaian No Batch Tanggal ED
Rambut dibasahi
dengan air lalu
2x usapkan pada rambut
Ketomed seminggu hingga merata
diamkan selama 3 KT5219 31-08-2021
(ketoconazole 2%) selama 2-4 sampai 5 menit
minggu sebelum rambut
dibilas.
BAB IV
DIALOG

A : Apoteker
P : Pasien

A : Selamat siang mbak, Sebelumnya perkenalkan saya Desi apoteker di apotek Sidowaras.
Apa ada yang bisa saya bantu?
P : iya siang mbak, ini mbak adik saya ketombean sudah ganti-ganti shampo tapi gak ilang-
ilang, kira-kira ada tidak mbak obat yang bisa buat menghilangkan ketombe?
A : Ada kok mbak, sebelumnya boleh saya tau identitas adik mbak?
P : Boleh mbak, nama adik saya Rinda umur 8 thn alamatnya Jln. Gus Dur no. 45 Surakarta
A : baik mbak, kalau boleh tau sudah pakai shampo apa saja ya mbak?
P : pakai head & shouders, clear, dan zink mbak
A : apa adik mba pernah mewarnai rambut atau smooting gitu tidak mbak?
P : tidak mba, adik saya baru masih kecil jadi belum pernah coba-coba yang kayak gitu,
tapi dia kesehariannya pakai jilbab terus mbak
A : oo begitu, ketombe nya ini sudah berapa lama ya mbak?
P : sudah 1 bulanan mbak, sudah pakai sampo antiketombe yang dijual di supermarket-
supermarket tapi belum sembuh-sembuh juga.
A : Kalau boleh tau ketombenya disertai gatal atau tidak ya mbak?
P : Disertai gatal mbak, sampai digaruk-garuk terus
A : Ada lukanya atau tidak ya mbak?
P : kalau luka sih kayaknya gak mbak, tapi ketombenya itu sudah parah banget mbak,
sampai kadang jatuh-jatuh sendiri
A : Ooo begitu ya mbak. Ketombe sendiri ini bisa disebabkan oleh faktor seperti jamur,
kulit rambut yang berminyak, keringat yang berlebihan, gonta-ganti sampo, sampai stres
mbak.
P : oo begitu ya mbak
A : iya mbak, kalau begitu saya pilihkan obatnya dahulu ya mbak. (apoteker mengambilkan
obat) Mbak ini obat anti ketombenya ini ada ketomed scalp solution, Selsun blue sama Mylea
hair tonic
P : bagus yg mana ya mbk kira-kira?
A : tergantung keparahan dari ketombe nya mbak, kalau ketomed scalp solution ini paling
baik dalam menghilangkan ketombe mbak mulai dari yg parah sekalipun dan ketomed ini
juga bisa mengurangi gatal-gatal karena ketombe dan juga mencegah rambut rontok, kalau
sensun blue ini digunakan untuk menghilangkan ketombe sekaligus mencegah rambut rontok
mbak, kalau yg mylea hair tonic ini terbuat dari bahan alami mbak dan gunanya untuk
mengatasi ketombe dan membuat rambut agar terlihat sehat tidak kusam.
P : untuk harganya berapa ya mbk?
A : untuk yang ketomed scalp solution 60ml harganya 45.000 mbak, kalau yang sensun blue
50 ml harganya 25.000, tapi kalau yang mylea hair tonic harganya 28.500. mbaknya mau
yang mana?
P : saya mau yang ketomed aja mbk, bagus tidak ya mbak?
A : bagus kok mbak, saya merekomendasikan ini karena selain untuk mengatassi ketombe
ketomed scalp solution ini juga bisa mengurangi gatal-gatal, serta mencegah rambut rontok
dan banyak juga yang cocok dengan sampo ini mbak.
P : penggunaannya setiap hari atau gimana mbak?
A : shampo ini digunakan hanya 2x dalam seminggu mbak, cara penggunaanya seperti
pemakaian shampo biasanya dengan dikeramaskan pada rambut secara merata sambil dipijat-
pijat lalu didiamkan 3-5 menit kemudian baru dibilas, kalau bisa hindari kontak dengan mata
ya mbak.
P : ooo begitu ya mbak
A : iya mbak, tapi selain itu juga harus disertai dengan menjaga kebersihan rambut mbak
seperti keramas paling tidak 2 hari sekali, lalu setelah keramas disarankan tidak dikuncir /
mengenakan jilbab terlebih dahulu sampai rambutnya kering. Karena kalau kita dalam posisi
rambut basah dan langsung menggunakan jilbab akan memperparah ketombenya.
P : oh begitu ya mbak
A : iya mbak, apa mbak sudah paham dengan yang saya jelaskan tadi?
P : Sudah kok mbak
A : Bisa minta tong diulangi mbak yang saya informasikan tadi?
P : Bisa mbak, tadi obatnya ketomed scalp solution cara pemakaiannya sama seperti pakai
shampo tapi sebelum dibilas ditunggu dahulu 3-5 menit, pengunaannya 2x seminggu
A : Iya ibu benar sekali, ini untuk ketomed scalp solution harganya 45.000 ribu ya mbak
P : ini uangnya mbak
A : oh iya mbak, untuk penyimpanan obatnya disimpannya di temperatur ruangan ya mbak,
jauh dari panas dan cahaya langsung
P : Baik mbak, terimakasih atas informasinya
A : terimakasih mbak, semoga adiknya lekas sembuh
P : sama sama mbak, mari ...

Ketomed Scalp Solution


Harga
Rp 45.000
Komposisi
Ketoconazole 2%
Indikasi
Terapi & profilaksis pitiriasis versikolor,
dermatitis seboroik, ketombe
Dosis
Untuk mencuci rambut 2x seminggu, biarkan 3-
5 menit lalu dibilas, penggunaan selama 2-4
minggu
Efek samping
Iritasi, gatal, rasa terbakar
Selsun blue
Harga
Rp 25.000
Komposisi
Selenium Sulfide
Indikasi
Shampoo mengatasi ketombe, mengobati dermatitis seboroik,
panu, dan infeksi jamur pada kulit kepala.
Dosis
Untuk mengobati ketombe paling sedikit 2 kali dalam seminggu
selama 2 minggu berturut.
Efek samping
gatal dan kemerahan pada kulit kepala, kekeringan kulit kepala
dan rambut, peningkatan rambut rontok, perubahan warna
rambut, sensitisasi atau reaksi alergi

Mylea Hair tonic


Harga
Rp 28.500
Komposisi
Zat aktif ekstrak bunga Arnika dan Piroctone olamine
Indikasi
mengurangi ketombe dan gatal karena ketombe
Dosis/cara penggunaan
Digunakan setelah keramas dalam keadaan setengah
kering, di pakai dua kali sehari, setiap pagi dan
sebelum tidur
Daftar Pustaka
1. Brooks, G. F., Butel, J. S., Morse, S. A. 2007. Mik robio logi kedokteran. Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
2. Burns, T., Breathnach, S., Cox, N., Griffiths, C. 2010. Rook ’s Textbook of
Dematology. Oxford : Blackwell Scientific publications.
3. Cafarchia, C., Gasser, R. B., Figueredo, L. A., Latrofa, M. S ., Otranto, D. 2011.
Advances in the identification of Malassezia. Mol Cell Probes. 2011 Feb;25(1):1-7.
Epub 2010 Dec 28. Dipartimento di Sanità Pubblicae Zootecnia, Facoltà di
Medicina Veterinaria, Università di Bari, Str. prov. leper Casamassima Km 3, 70010
Valenzano, Bari, Italy.
4. Depkes RI. (2007). Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Bebas Terbatas. Jakarta:
Departemen Kesehatan RI. Hal. 32-35, 73.
5. Kania, N. (2007). Penatalaksanaan Demam Pada Anak.
http://mefiadoc.com/penatalaksanaan-demam-pada-anak-oleh-dokter-niakania. Diakses
pada tanggal 8 februari.
6. Indranarum, T., Suyoso, S. 2001. Penatalaksanaan Tinea Kapitis. Berkala Ilmu
penyakit Kulit dan Kelamin vol.13 No. 1 April 2001. Hal 30-35.