Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN PRAKTIKUM

LABORATORIUM INSTRUKSIONAL TEKNIK KIMIA II

Kelompok I
Afri Riandra (1607112214)
Angela Marici Lisda E.S. (1607112061)
Revika Wulandari (1607112215)
Selsa Idillah (1607112040)

Percobaan III :
Pengeringan

Asisten Praktikum :
Vandhe Melsa

Dosen Pengampu :
Panca Setia Utama ST., MT.

PROGRAM STUDI SARJANA TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2019
Lembar Pengesahan Laporan Praktikum Laboratorium Instruksional
Teknik Kimia II

Pengeringan

Dosen pengampu praktikum Laboratorium Instruksional Teknik Kimia 1 dengan


ini menyatakan bahwa:

Kelompok I:

Afri Riandra (1607112214)


Angela Marici Lisda E.S. (1607112061)
Revika Wulandari (1607112215)
Selsa Idillah (1607112040)

1. Telah melakukan perbaikan-perbaikan yang disarankan oleh dosen


pengampu / asisten praktikum.
2. Telah menyelesaikan laporan lengkap praktikum Pengeringan dari
praktikum Laboratorium Instruksional Teknik Kimia 2 yang disetujui oleh
dosen pengampu / asisten praktikum.

CatatanTambahan:

Dosen Pengampu
Pekanbaru, 2019

Panca Setia Utama ST., MT.

ii
ABSTRAK
Pengeringan zat padat berarti pemisahan sejumlah kecil air atau zat cair
lain dari bahan padat, sehingga mengurangi kandungan sisa zat cair di dalam zat
padat itu sampai suatu nilai terendah yang dapat diterima. Tujuan dari praktikum
ini adalah untuk menentukan kadar air, mengukur laju alir udara, mengukur dry
bulb dan wet bulb temperature, menentukan kelembaban udara, mempelajari
mekanisme pengeringan pada kondisi operasi pengeringan tertentu, menentukan
pengaruh variabel pengeringan terhadap laju pengeringan, membandingkan laju
pengeringan hasil percobaaan dan teoritis. Pada percobaan ini dilakukan variasi
laju alir udara yaitu skala 4 dan 5 dengan skala temperatur yang tetap yaitu skala
7. Pengujian persen berat air di pasir mula-mula dilakukan dengan mengoven
pasir basah sampai beratnya konstan sedangkan proses pengeringan untuk
mengurangi kadar air di dalam pasir basah dilakukan dengan memasukkan pasir
basah ke dalam tray dryer. Setiap 10 menit pasir basah dikeluarkan dari tray dryer
kemudian ditimbang beratnya, setelah ditimbang pasir dimasukkan kembali ke
dalam tray dryer dan diukur suhu bola basah udara pengering, suhu udara
pengering, dan laju udara pengering, begitu seterusnya. Laju pengeringan terbesar
adalah pada laju alir udara skala 5 pada tray dryer dengan suhu pengeringan
sebesar 38°C

Kata kunci : dry bulb, wet bulb, tray dryer

iii
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................ ii
ABSTRAK ....................................................................................................... iii
DAFTAR ISI .................................................................................................... iv
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................v
DAFTAR TABEL ........................................................................................... vi
BAB 1 PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
1.1 Pernyataan Masalah .....................................................................................1
1.2 Tujuan Percobaan .........................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUASTAKA ....................................................................... 3
2.1 Pengeringan ..................................................................................................3
2.2 Klasifikasi Pengering ...................................................................................3
2.3 Prinsip-prinsip Pengeringan .........................................................................4
2.4 Mekanisme Pengeringan ..............................................................................4
2.5 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengeringan ........................................5
2.6 Kadar Air Kesetimbangan ............................................................................7
2.7 Tray Dryer ....................................................................................................8
2.8 Laju Pengeringan .........................................................................................9
BAB III METODOLOGI PERCOBAAN ........................................................ 13
3.1 Alat dan bahan.............................................................................................13
3.1.1 Alat ....................................................................................................13
3.1.2 Bahan ................................................................................................13
3.2 Prosedur Percobaan .....................................................................................13
3.2.1 Percobaan 1 .......................................................................................13
3.2.2. Percobaan 2 .......................................................................................13
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................ 15
4.1 Hasil ............................................................................................................15
4.2 Pembahasan .................................................................................................15
4.2.1 Kurva Karakteristik ...........................................................................15
4.2.2 Pengaruh Laju Alir Udara Terhadap Laju Pengeringan....................16
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ...............................................................18
5.1 Kesimpulan .................................................................................................18
5.2 Saran ............................................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................19
LAMPIRAN

iv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kurva kesetimbangan moisture pada suhu 25oC .............................8


Gambar 2.2 Skema Tray Dryer ............................................................................9
Gambar 2.3 Kurva hubungan moisture content suatu bahan dan drying rate
terhadap waktu ...............................................................................11
Gambar 2.4 Kurva hubungan laju pengeringan terhadap moisture content suatu
bahan ..............................................................................................12
Gambar 4.1 Kurva karakteristik Laju Pengeringan VS Kadar Air Pada Laju
Udara pada Skala 4 dan Suhu pada Skala 7 ...................................16
Gambar 4.2 Perbandingan laju pengeringan pada skala laju alir udara 4
dan 5 ...............................................................................................17

v
DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Pengamatan pada Laju Alir Udara Pengering Skala 4 (Percobaan 1) ...15
Tabel 4.2 Pengamatan pada Laju Alir Udara Pengering Skala 5 (Percobaan 2) ...15

vi
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Pernyataan Masalah


Pengeringan (drying) zat padat berarti pemisahan sejumlah kecil air atau
zat cair lain dari bahan padat, sehingga mengurangi kandungan sisa zat cair di
dalam zat padat itu sampai suatu nilai terendah yang dapat diterima. Pengeringan
biasanya merupakan alat terakhir dari sederetan operasi, dan hasil pengeringan
biasanya siap untuk dikemas (McCabe, 2002)
Proses pengeringan merupakan proses perpindahan panas dari sebuah
permukaan benda sehingga kandungan air pada permukaan benda berkurang.
Perpindahan panas dapat terjadi karena adanya perbedaan temperatur yang
signifikan antara dua permukaan. Perbedaan temperatur ini ditimbulkan oleh
adanya aliran udara panas diatas permukaan benda yang akan dikeringkan yang
mempunyai temperatur lebih dingin.
Laju pengeringan sangat bergantung pada perbedaan antara kadar air bahan
dengan kadar air keseimbangan. Semakin besar perbedaan suhu antara medium
pemanas dengan bahan pangan semakin cepat pindah panas ke bahan pangan dan
semakin cepat pula penguapan air dari bahan pangan. Pada proses pengeringan,
air dikeluarkan dari bahan pangan dapat berupa uap air. Uap air tersebut harus
segera dikeluarkan dari atmosfer di sekitar bahan pangan yang dikeringkan. Jika
tidak segera keluar, udara di sekitar bahan pangan akan menjadi jenuh oleh uap air
sehingga memperlambat penguapan air dari bahan pangan yang memperlambat
proses pengeringan.
Pengeringan berbagai bahan umpan diperlukan berdasarkan salah satu atau
beberapa alasan berikut : kebutuhan untuk mempermudah panganan padat yang
dapat mengalir bebas, pengawetan dan penyimpanan, pengurangan biaya
transportasi, untuk mendapatkan mutu hasil yang diinginkan. Dalam beberapa
proses, pengeringan yang tidak tepat dapat mengakibatkan kerusakan mutu hasil
yang tidak mungkin diperbaiki sehingga tidak dapat dijual.

1
2

1.2 Tujuan Percobaan


1. Menentukan kadar air suatu bahan baik dalam bentuk % massa maupun
rasio massa.
2. Mengukur laju alir sautu arus udara dan menerapkan hukum kontinuitas.
3. Mengukur temperatur dry bulb dan wet bulb.
4. Menentukan kelembaban udara didasarkan pada dry bulb dan wet bulb
dengan menggunakan phychrometer chart.
5. Membuat kurva karakteristik pengeringan.
6. Menjelaskan perbedaan mekanisme pengeringan disetiap periode
pengeringan pada kurva karakteristik.
7. Menjelaskan pengaruh variabel pengeringan terhadap laju pengeringan
pada periode pengeringan konstan.
8. Membandingkan laju pengeringan hasil percobaan pada periode laju
pengeringan konstan dengan laju pengeringan teoritis yang didasarkan
pada persamaan empiris perpindahan panas.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengeringan
Pengeringan zat padat berarti pemisahan sejumlah kecil air atau zat cair
lain dari bahan padat , sehingga mengurangi kandungan sisa zat cair di dalam zat
padat itu sampai suati nilai rendah yang dapat diterima. Pengeringan biasanya
merupakan alat terkahir dari sederetan operasi, dan hasil pengeringan biasanya
siap untuk dikemas. Pengaturan suhu dan lamanya waktu pengeringan dilakukan
dengan memperhatikan kontak antara alat pengering dengan alat pemanas baik itu
berupa udara panas yang dialirkan maupun alat pemanas lainnya. Tujuan
pengeringan antara lain (Mc. Cabe, 2002) :
a. Agar produk dapat disimpan lebih lama
b. Mempertahankan daya fisiologik bahan
c. Mendapatkan kualitas yang lebih baik,
d. Menghemat biaya pengangkutan.
Pengeringan mempunyai pengertian yaitu aplikasi pemanasan melalui
kondisi yang teratur, sehingga dapat menghilangkan sebagian besar air dalam
suatu bahan dengan cara diuapkan. Penghilangan air dalam suatu bahan dengan
cara pengeringan mempunyai satuan operasi yang berbeda dengan dehidrasi.
Dehidrasi akan menurunkan aktivitas air yang terkandung dalam bahan dengan
cara mengeluarkan atau menghilangkan air dalam jumlah lebih banyak, sehingga
umur simpan bahan pangan menjadi lebih panjang atau lebih lama (Muarif, 2013).
Proses pengeringan merupakan proses perpindahan panas dari sebuah
permukaan benda sehingga kandungan air pada permukaan benda berkurang.
Perpindahan panas dapat terjadi karena adanya perbedaan temperatur yang
signifikan antara dua permukaan. Perbedaan temperatur ini ditimbulkan oleh
adanya aliran udara panas diatas permukaan benda yang akan dikeringkan yang
mempunyai temperatur lebih dingin.

2.2 Klasifikasi Pengering


Ada pengering yang beroperasi secara kontinyu (sinambung) dan batch.
Untuk mengurangi suhu pengeringan, beberapa pengering beroperasi dalam

3
4

vakum. Beberapa pengering dapat menangani segala jenis bahan, tetapi ada pula
yang sangat terbatas dalam hal umpan yang ditanganinya. Pembagian pokok
pengering (dryer) :
a. Pengering (dryer) dimana zat yang dikeringkan bersentuhan langsung
dengan gas panas (biasanya udara) disebut pengering adiabatik (adiabatic
dryer) atau pengering langsung (direct dryer).
b. Pengering (dryer) dimana kalor berpindah dari zat ke medium luar,
misalnya uap yang terkondensasi, biasanya melalui permukaan logam
yang bersentuhan disebut pengering non adiabatik (non adiabatic dryer)
atau pengering tak langsung (indirect dryer) (Mc. Cabe, 2002).

2.3 Prinsip-prinsip Pengeringan


Banyaknya ragam bahan yang dikeringkan di dalam peralatan komersial
dan banyaknya macam peralatan yang digunakan orang, maka tidak ada satu teori
pun mengenai pengeringan yang dapat meliputi semua jenis bahan dan peralatan
yang ada. Variasi bentuk dan ukuran bahan, keseimbangan kebasahannya
(moisture) mekanisme aliran bahan pembasah itu, serta metode pemberian kalor
yang diperlukan untuk penguapan. Prinsip – prinsip yang perlu diperhatikan
dalam pembuatan alat pengering antara lain (Mc. Cabe, 2002) :
a. Pola suhu di dalam pengering
b. Perpindahan kalor di dalam pengering
c. Perhitungan beban kalor
d. Satuan perpindahan kalor
e. Perpindahan massa di dalam pengering

2.4 Mekanisme Pengeringan


Udara yang terdapat dalam proses pengeringan mempunyai fungsi sebagai
pemberi panas pada bahan, sehingga menyebabkan terjadinya penguapan air.
Fungsi lain dari udara adalah untuk mengangkut uap air yang dikeluarkan oleh
bahan yang dikeringkan. Kecepatan pengeringan akan naik apabila kecepatan
udara ditingkatkan. Kadar air akhir apabila mulai mencapai kesetimbangannya,
maka akan membuat waktu pengeringan juga ikut naik atau dengan kata lain lebih
cepat (Muarif, 2013).
5

Menurut Rohman (2008), Ketika benda basah dikeringkan secara termal,


ada dua proses yang berlangsung secara simultan, yaitu:
1. Perpindahan energi dari lingkungan untuk menguapkan air yang terdapat
di permukaan benda padat. Perpindahan energi dari lingkungan ini dapat
berlangsung secara konduksi, konveksi, radiasi, atau kombinasi dari ketiganya.
Proses ini dipengaruhi oleh temperatur, kelembapan, laju dan arah aliran udara,
bentuk fisik padatan, luas permukaan kontak dengan udara dan tekanan. Proses ini
merupakan proses penting selama tahap awal pengeringan ketika air tidak terikat
dihilangkan. Penguapan yang terjadi pada permukaan padatan dikendalikan oleh
peristiwa difusi uap dari permukaan padatan ke lingkungan melalui lapisan film
tipis udara.
2. Perpindahan massa air yang terdapat di dalam benda ke permukaan.
Ketika terjadi penguapan pada permukaan padatan, terjadi perbedaan temperatur
sehingga air mengalir dari bagian dalam benda padat menuju ke permukaan benda
padat. Struktur benda padat tersebut akan menentukan mekanisme aliran internal
air. Beberapa mekanisme aliran internal air yang dapat berlangsung diantaranya
adalah: (a) Difusi, pergerakan ini terjadi bila kandungan air pada padatan berada
di bawah titik jenuh atmosferik dan padatan dengan cairan di dalam sistem
bersifat mutually soluble. Contoh: pengeringan tepung, kertas, kayu, tekstil dan
sebagainya. (b) Capillary flow, cairan bergerak mengikuti gaya gravitasi dan
kapilaritas. Pergerakan ini terjadi bila equilibrium moisture content berada di atas
titik jenuh atmosferik. Contoh pada pengeringan tanah dan pasir.

2.5 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengeringan


1. Luas Permukaan
Menurut King (1971), makin luas permukaan bahan makin cepat bahan
menjadi kering. Air menguap melalui permukaan bahan, sedangkan air yang ada
di bagian tengah akan merembes ke bagian permukaan dan kemudian menguap.
Untuk mempercepat pengeringan umumnya bahan pangan yang akan dikeringkan
dipotong-potong atau di iris-iris terlebih dulu. Hal ini terjadi karena:
a. Pemotongan atau pengirisan tersebut akan memperluas permukaan bahan
dan permukaan yang luas dapat berhubungan dengan medium pemanasan
sehingga air mudah keluar.
6

b. Potongan-potongan kecil atau lapisan yang tipis mengurangi jarak dimana


panas harus bergerak sampai ke pusat bahan pangan. Potongan kecil juga
akan mengurangi jarak melalui massa air dari pusat bahan yang harus
keluar ke permukaan bahan dan kemudian keluar dari bahan tersebut.
2. Perbedaan Suhu dan Udara Sekitarnya
Semakin besar perbedaan suhu antara medium pemanas dengan bahan
pangan makin cepat pemindahan panas ke dalam bahan dan makin cepat pula
penghilangan air dari bahan. Air yang keluar dari bahan yang dikeringkan akan
menjenuhkan udara sehingga kemampuannya untuk menyingkirkan air berkurang.
Jadi dengan semakin tinggi suhu pengeringan maka proses pengeringan akan
semakin cepat. Akan tetapi bila tidak sesuai dengan bahan yang dikeringkan,
akibatnya akan terjadi suatu peristiwa yang disebut "Case Hardening", yaitu suatu
keadaan dimana bagian luar bahan sudah kering sedangkan bagian dalamnya
masih basah (Perry dan Green, 1984).
3. Kecepatan Aliran Udara
Makin tinggi kecepatan udara, makin banyak penghilangan uap air dari
permukaan bahan sehinngga dapat mencegah terjadinya udara jenuh di permukaan
bahan. Udara yang bergerak dan mempunyai gerakan yang tinggi selain dapat
mengambil uap air juga akan menghilangkan uap air tersebut dari permukaan
bahan pangan, sehingga akan mencegah terjadinya atmosfer jenuh yang akan
memperlambat penghilangan air. Apabila aliran udara disekitar tempat
pengeringan berjalan dengan baik, proses pengeringan akan semakin cepat, yaitu
semakin mudah dan semakin cepat uap air terbawa dan teruapkan (Fadilah, 2010).
4. Tekanan Udara
Semakin kecil tekanan udara akan semakin besar kemampuan udara untuk
mengangkut air selama pengeringan, karena dengan semakin kecilnya tekanan
berarti kerapatan udara makin berkurang sehingga uap air dapat lebih banyak
tertampung dan disingkirkan dari bahan pangan. Sebaliknya jika tekanan udara
semakin besar maka udara disekitar pengeringan akan lembab, sehingga
kemampuan menampung uap air terbatas dan menghambat proses atau laju
pengeringan (King, 1971).
7

5. Kelembapan Udara
Semakin lembab udara maka semakin lama pengeeringan sedangkan
semakin kering udara maka makin cepat pengeringan. Karena udara kering dapat
mengabsorbsi dan menahan uap air. Setiap bahan mempunyai keseimbangan
kelembaban dengan nisbi masing-masing. Kelembaban pada suhu tertentu dimana
bahan tidak akan kehilangan air (pindah) ke atmosfer atau tidak akan mengambil
uap air dari atmosfer. Menurut Treybal (1981), mekanisme keluarnya air dari
dalam bahan selama pengeringan adalah sebagai berikut:
a. Air bergerak melalui tekanan kapiler.
b. Penarikan air disebabkan oleh perbedaan konsentrasi larutan disetiap
bagian bahan.
c. Penarikan air ke permukaan bahan disebabkan oleh absorpsi dari lapisan-
lapisan permukaan komponen padatan dari bahan.
d. Perpindahan air dari bahan ke udara disebabkan oleh perbedaan tekanan
uap.

2.6 Kadar Air Kesetimbangan


Zat padat basah jika dikontakkan dengan udara yang mempunyai
kelembaban dan suhu tertentu dengan dalam waktu cukup lama, maka akan
dicapai keadaan kesetimbangan dimana kandungan air pada zat padat tidak
berubah. Kandungan air pada kondisi ini disebut kadar air kesetimbangan.
Pada prinsipnya, air dalam bahan padat berada dalam dua keadaan.
Sejumlah air berada dalam pori-pori padatan karena adanya tegangan permukaan
dan disebut unbounded water atau air bebas. Air ini mempunyei tekanan uap dan
panas laten penguapan sama dengan air murni. Sedang air yang berada dalam
bahan padat dan mempunyai interaksi dengan bahan padat misalnya, air kristal
atau air yang ada pada permukaan zat padat misalnya air teradsorpsi disebut air
terikat atau bounded water. Air terikat ini akan mempunyai tekanan uap yang
lebih kecil dari air murni.
Data kesetimbangan fasa untuk zat padat lembab umumnya diberikan
sebagai hubungan antara kelembaban relatif gas dan kandungan zat cair di dalam
zat padat, dalam massa zat cair per satuan massa zat padat bone dry. Contoh
hubungan kesetimbangan tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.2. Hubungan
8

kesetimbangan ini tidak bergantung pada temperatur. Absis kurva tersebut dapat
dengan mudah dikonversikan menjadi kelembaban absolut dalam massa uap per
satuan massa gas kering (Kirk dan Othmer, 1982).

Gambar 2.1 Kurva kesetimbangan moisture pada suhu 25oC (Kirk dan Othmer,
1982)

2.7 Tray Dryer


Tray dryer atau alat pengering tipe rak, mempunyai bentuk persegi dan
didalamnya berisi rak-rak, yang digunakan sebagai tempat bahan yang akan
dikeringkan. Pada umumnya rak tidak dapat dikeluarkan. Beberapa alat pengering
jenis ini rak-raknya mempunyai roda sehingga dapat dikeluarkan dari alat
pengeringnya. Bahan diletakan di atas rak (tray) yang terbuat dari logam yang
berlubang. Kegunaan lubang-lubang tersebut untuk mengalirkan udara panas.
Ukuran yang digunakan bermacam-macam, ada yang luasnya 200 cm2 dan
ada juga yang 400 cm2. Luas rak dan besar lubang-lubang rak tergantung pada
bahan yang dikeringkan. Apabila bahan yang akan dikeringkan berupa butiran
halus, maka lubangnya berukuran kecil. Pada alat pengering ini bahan selain
ditempatkan langsung pada rak-rak dapat juga ditebarkan pada wadah lainnya
misalnya pada baki dan nampan. Kemudian pada baki dan nampan ini disusun
diatas rak yang ada di dalam pengering. Selain alat pemanas udara, biasanya juga
digunakan juga kipas (fan) untuk mengatur sirkulasi udara dalam alat pengering.
Udara yang telah melewati kipas masuk ke dalam alat pemanas, pada alat ini
9

udara dipanaskan lebih dulu kemudian dialurkan diantara rak-rak yang sudah
berisi bahan. Arah aliran udara panas didalam alat pengering bisa dari atas ke
bawah dan bisa juga dari bawah ke atas, sesuai dengan dengan ukuran bahan yang
dikeringkan. Untuk menentukan arah aliran udara panas ini maka letak kipas juga
harus disesuaikan (Unari Taib, dkk, 2008).
Menurut Hardjono (1989), Tray dryer memiliki kelebihan dan kekurangan
sebagai berikut:
Kelebihan:
1. Cocok untuk segala jenis bahan.
2. Moisture content akhir lebih rendah.
3. Cocok untuk penelitian skala laboratorium.
Kekurangan:
1. Konsumsi energi lebih tinggi.
2. Loading dan off loading dikerjakan secara manual.

Gambar 2.2 Skema Tray Dryer

2.8 Laju Pengeringan


Setiap material yang akan dikeringkan memiliki karakteristik kinetika
pengeringan yang berbeda-beda bergantung terhadap struktur internal dari
material yang akan dikeringkan. Kinetika pengeringan memperlihatkan perubahan
kandungan air yang terdapat dalam material untuk setiap waktu saat dilakukan
proses pengeringan. Dari kinetika pengeringan dapat diketahui jumlah air dari
10

material yang telah diuapkan, waktu pengeringan, konsumsi energi. Menurut Mc.
Cabe (2000), parameter-parameter dalam proses pengeringan untuk mendapatkan
data kinetika pengeringan adalah:
1. Moisture Content (X)
Moisture Content (X) menunjukkan kandungan air yang terdapat dalam
material untuk tiap satuan massa padatan. Moisture content (X) dibagi dalam 2
macam yaitu basis kering (X) dan basis basah (X’). Moisture content basis kering
(X) menunjukkan rasio antara kandungan air (kg) dalam material terhadap berat
material kering (kg). Sedangkan moisture content basis basah (X’) menunjukkan
rasio antara kandungan air (kg) dalam material terhadap berat material basah (kg).
Persamaan untuk menghitung moisture content basis kering adalah:
𝑊−𝑊𝑠
𝑋t = …………………………..(2.1)
𝑊𝑠

Dimana,
Xt = moisture content basis kering
W = berat bahan basah (kg)
Ws = berat bahan kering (kg)
2. Drying Rate (N, kg/m2s )
Drying rate (N, kg/m2s ) menunjukkan laju penguapan air untuk tiap
satuan luas dari permukaan yang kontak antara material dengan fluida panas.
Persamaan yang digunakan untuk menghitung laju pengeringan menurut Treybal
(1981) adalah:
𝑊𝑠 𝑑𝑋t
R=- ..……………………………...…. (2.2)
𝐴 𝑑𝑡

Dimana,
R = laju pengeringan (kg H2O yang diuapkan/jam.m2)
Ws = berat bahan kering (kg)
A = luas permukaan bahan (m2)
Xt = moisture content basis kering (kg H2O/kg bahan kering)
T = waktu (jam)
11

Menurut Taib (1988), untuk mengetahui laju pengeringan perlu


mengetahui waktu yang dibutuhkan untuk mengeringkan suatu bahan dari kadar
air tertentu sampai kadar air yang diinginkan pada kondisi tertentu, maka bisa
dilakukan dengan cara:
1. Drying Test
Drying test yaitu hubungan antara moisture content suatu bahan vs waktu
pengering pada temperatur, humidity, dan kecepatan pengering tetap. Kandungan
air dari suatu bahan akan menurun karena adanya pengeringan, sedangkan
kandungan air yang hilang akan semakin meningkat seiring dengan penambahan
waktu hingga pada waktu (t) tertentu padatan mencapai keseimbangan kadar air
dan proses pengeringanpun berhenti. Untuk hubungan antara laju pengeringan
(drying rate) terhadap waktu adalah pada tahap awal, laju pengeringan akan
berjalan meningkat untuk selanjutnya menuju pada skala konstan dan menurun
bahkan berhenti dikarenakan padatan telah mencapai keseimbangan dengan air .

Gambar 2.3 Kurva hubungan moisture content suatu bahan dan drying rate
terhadap waktu (Perry dan Green, 1984)

2. Menggunakan Kurva Laju Pengeringan


Kurva laju pengeringan menunjukkan hubungan antara laju pengeringan vs
kandungan air, kurva ini terdiri dari 2 bagian yaitu periode kecepatan tetap dan
pada kecepatan menurun.
12

Gambar 2.4 Kurva hubungan laju pengeringan terhadap moisture content


suatu bahan (Treybal, 1981)

Dalam penelitian tentang pengeringan bunga rosella oleh Yuariski dan


Suherman (2012), laju pengeringan konstan (constant drying rate) tidak
diperoleh. Yang diperoleh hanyalah falling rate (hubungan antara X (moisture
content) vs dx/dt (laju pengeringan pada berbagai suhu). Hal ini terjadi karena
kelopak bunga rosella yang dikeringkan termasuk jenis tanaman agrikultur.
Dimana pada umumnya pengeringan tanaman agrikultur tidak diperoleh laju
pengeringan konstan. Periode falling rate banyak ditemukan pada pengeringan
produk biologikal. Laju pengeringan selama periode falling rate disebabkan
karena gradien konsentrasi dari kandungan air di dalam matriks buah. Pergerakan
kandungan air internal ini sebagai hasil dari beberapa mekanisme yaitu difusi
cairan, aliran kapiler, aliran yang disebabkan shrinkage, dan gradien tekanan.
13

BAB III
METODE PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
1. Tray Dryer
2. Oven
3. Tray
4. Neraca Digital
5. Anemometer
6. Penggaris
7. Psychrometer
8. Stopwatch
9. Cawan pengering
10. Pipet Tetes
11. Gelas Ukur
12. Baskom Plastik

3.1.2 Bahan
1. Pasir
2. Air

3.2 Prosedur Percobaan


3.2.1 Percobaan 1
1. Disiapkan pasir kurang lebih 1.5 kg dan diberikan air sekitar 600 ml
dicampur sampai rata dalam baskom plastik dan ditutup rapat dengan
plastik.
2. Sampel diambil kurang lebih 50 gram kemudian ditimbang dan dicatat
sebagai berat sampel basah (Wb) lalu dioven pada suhu 110 oC sampai
didapatkan berat konstan (Wc).
3. Disiapkan tray dryer, dan dihidupkan MCB nya. Lalu dinyalakan pengatur
laju alir udara selanjutnya dinyalakan pengatur suhu udara pengering.

13
14

4. Diukur luas penampang dryer di ujung (A1) m2 dan di bagian tengah (A2)
m2 .
5. Kemudian dibasahi kain di psychrometer dengan menggunakan pipet
tetes, dilakukan disetiap kali mengukur kelembaban udara.
6. Diatur laju alir udara dan suhu pengering sesuai dengan lembar
penugasan yang diberikan, ditunggu sampai keadaan steady tercapai.
Lalu diukur laju, suhu dan suhu bola basah udara pengering, dipastikan
sesuai dengan yang ditugaskan.
7. Tray disiapkan, dibersihkan dan dikeringkan. Diukur panjang dan
lebarnya, dicatat luas tray (A) m2 lalu ditimbang dan dicatat massanya
(WT) kg.
8. Kemudian dimasukkan pasir basah kurang lebih 600 gram (W m) dan
diratakan di tray, diusahakan ketebalan pasir di tray seragam. Lalu
diukur ketebalan pasir catat (Δx).
9. Sesaat sebelum masuk ke dalam tray ditimbang pasir basah + tray
dicatat massanya sebagai W0, dimasukkan ke dalam tray. Pada setiap 10
menit dikeluarkan tray dari pengering, ditimbang dan dicatat massanya.
Diusahakan tray berisi pasir berada di luar sesingkat mungkin.
10. Dilakukan pengecekan setiap saat laju dan suhu udara pengering, jika ada
perubahan diatur pengatur suhu dan laju udara.
11. Percobaan dihentikan jika selisih penimbangan setiap ΔӨ = 0,1 gram

3.2.2 Percobaan 2
1. Mempelajari pengaruh laju udara pengering terhadap laju pengeringan
pada periode pengeringan konstan
2. Sama dengan percobaan 1, hanya laju udara pengering diubah sesuai
dengan penugasan. Percobaan dihentikan setelah 60 menit.
3. Kemudian tentukan NC hasil percobaan, dan dibandingkan dengan NC
teoritis.
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Adapun hasil pengamatan pada praktikum ini adalah sebagai berikut,

Tabel 4.1 Pengamatan pada Laju Alir Udara Pengering Skala 4 (Percobaan 1)
Waktu Berat Pasir Rata-
Kadar Air Laju Pengeringan
No. (menit) Rata (kg)
1 0 0,6 0,013025 0
2 10 0,592185 0,013197 0,151025036
3 20 0,58578 0,010934 0,154691218
4 30 0,58075 0,008661 0,155386807
5 40 0,577815 0,005079 0,244862499
6 50 0,57624 0,002733 0,160399216
7 60 0,57511 0,001965 0,052530718

Tabel 4.2 Pengamatan pada Laju Alir Udara Pengering Skala 5 (Percobaan 2)
Waktu Berat Pasir Rata-
Kadar Air Laju Pengeringan
No. (menit) Rata (kg)
1 0 0,6 0,01345 0
2 10 0,59193 0,013633 0,223096269
3 20 0,58589 0,010309 0,2284691
4 30 0,58059 0,009129 0,081130091
5 40 0,57771 0,004985 0,284769326
6 50 0,57511 0,004521 0,031912041
7 60 0,57485 0,000452 0,279624204

4.2 Pembahasan
4.2.1 Kurva Karakteristik
Pada praktikum ini, dilakukan percobaan dengan variabel laju alir yang
berubah dengan suhu tetap. Pengeringan dilakukan dengan menggunakan tray
drier dilakukan selama 60 menit dengan interval waktu pengukuran laju
pengeringan setiap 10 menit. Percobaan diawali dengan mengukur kadar air mula-
mula, pengukuran dilakukan dengan menggunakan oven pada suhu 1100C hingga
berat pasir konstan.

15
16

Pengukuran laju alir udara dilakukan dengan anemometer, pengukuran laju


udara dilakukan secara triplo. Pengukuran temperatur dry bulb dan wet bulb
digunakan psycometer, pengukuran temperatur ini dilakukan untuk mengetahui
suhu pada saat pengeringan berlangsung. Adapun kurva karakteristik adalah
sebagai berikut,

0.3
Laju Pengeringan

0.25
0.2
0.15
0.1
0.05
0
0 0.005 0.01 0.015
Kadar Air

Gambar 4.1 Kurva karakteristik Laju Pengeringan VS Kadar Air Pada Laju
Udara pada Skala 4 dan Suhu pada Skala 7
Dari gambar 4.1 dapat dilihat bahwa laju pengeringan sesuai dengan kurva
karakteristik teoritis dimana adanya fase awal pengeringan, fase laju pengeringan
konstan serta fase laju penurunan. Pada awal pengeringan, tampak grafik naik, hal
ini disebabkan pada awal pengeringan kadar air yang terdapat didalam sampel
cukup banyak sehingga massa air mudah teruapkan. Selanjutnya tampak laju
pengeringan konstan dimana pada kondisi ini penguapan air yang merata hingga
mendekati menit akhir terjadi penurunan laju pengeringan yang disebabkan oleh
berkurangnya kadar air didalam bahan yang mampu teruapkan. Hal ini
menyebabkan terjadinya penurunan kecepatan pengeringan pada sampel.

4.2.1 Pengaruh Laju Alir Udara Terhadap Laju Pengeringan


Pada percobaan ini dilakukan pengaliran udara pada sampel pasir halus
dengan laju alir udara yang berbeda serta suhu pada skala 7. Pengeringan
dilakukan selama 60 menit dengan interval waktu pengukuran laju pengeringan
setiap 10 menit . Udara yang dialirkan tersebut bertujan untuk mengurangi kadar
air di dalam sampel.
17

Berdasarkan tabel 4.1 dan tabel 4.2 dapat diketahui bahwa laju alir udara
mempengaruhi laju pengeringan, semakin tinggi laju alir udara maka laju
pengeringan akan semakin cepat. Hal ini sesuai berdasarkan gambar 4.2,

0.3
0.25
Laju Pengeringan

0.2
0.15 laju alir udara pada
skala 4
0.1
Laju alir pada skala 5
0.05
0
0 20 40 60 80
Kadar Air

Gambar 4.2 Perbandingan laju pengeringan pada skala laju alir udara 4 dan 5
Pada gambar 4.2 dapat dilihat bahwa laju pengeringan pada laju alir udara
dengan skala 5 lebih cepat daripada laju alir udara dengan skala 4. Hal ini
disebabkan semakin tinggi laju alir udara maka semakin besar volume udara yang
mengalir yang menyebabkan semakin besar kemampuan udara tersebut dalam
membawa dan menampung air pada sampel, sehingga proses pengeringan
menjadi lebih cepat (Syahrul dkk., 2016)
BAB V
KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan
Dari hasil percobaandapat disimpulkan bahwa,
1. Laju pengeringan pada proses pengeringan dipengaruhi oleh laju alir udara
dan temperatur
2. Pada percobaan ini laju pengeringan terbesar adalah pada laju alir udara
dengan skala 5 pada tray drier dengan suhu pengeringan sebesar 38oC

5.2 Saran
Pada percobaan ini suhu operasi yang digunakan pada proses pengeringan
harus tinggi agar waktu yang dibutuhkan agar sampel menjadi kering tidak
membutuhkan waktu yang lama.

18
DAFTAR PUSTAKA

Hardjono. 1989. Operasi Teknik Kimia II, edisi pertama. Jurusan Teknik Kimia,
Fakultas Teknik, Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.
King, C. J. 1971. Freeze Drying of Foods. Chemical Rubber Co., Inc. Boca Raton,
Fla.
Kirk, R. E., and Othmer, D. F. 1982. Encyclopedia of Chemical Technology, 4th
ed., vol 8. John Willey and Sons. Toronto.
Mc. Cabe, Warren.L. 2002. Unit Operation of Chemical Engineering, 4rd ed.
McGraw-Hill International Book Co. Singapore
Muarif. 2013. Rancang Bangun Alat Pengering. Politeknik Negeri Sriwijaya
Palembang : Palembang
Perry, R. H., and Green, D. (1984). Perry’s Chemical Engineer’s Handbook, 6th
ed. McGraw-Hill Book Company. New York.
Taib, Gunarif. 1988. Operasi Pengeringan Pada Pengolahan Hasil Pertanian.
PT. Mediyatama Sarana Perkasa. Jakarta.
Treybal, R.E. 1981. Mass Transfer Operations, Chapter: Humidification and
Drying. McGraw-Hill.

19
20
LAMPIRAN A
PERHITUNGAN

1. Perhitungan Persen (%) Berat Air di Pasir Awal.


Wb = 15,6 gr = 0.0156 gram
Wc = 14,9 gr = 0.0149 gram
Wb − Wc
% Berat Air di Pasir Awal = x 100%
Wb
0.0156 kg − 0,0149 kg
% Berat Air di Pasir Awal = x 100%
0.0156 kg
% Berat Air di Pasir Awal = 0,0391026

2. Penentuan Kecepatan Pengeringan Berdasarkan Data Percobaan.


% Berat Air Di Pasir Mula-Mula : 3.91026%
Pasir Basah Tray 1 (Wm) : 0.6 kg
Pasir Basah Tray 2 (Wm) : 0.6 kg
Luas Tray (A) : 0.0506 m2
Waktu, Δθ : 0.16667 Jam
Berat Tray, Wt 1 : 0.34963 kg
Berat Tray, Wt 2 : 0.3414 kg
ΔX : 0.01 cm
Δt : 10 menit = 0.16666667 Jam

A. LS = (100% - % berat air mula-mula) x Wm


= (100% - 3.91026%) x 0.6 kg

= 0.5765385 kg padatan

B. Kadar air:
massa pasir basah − massa pasir kering
x =
massa pasir basah
0.6 − 0592185 (kg air)
x1 =
0.6 (kg padatan)
x1 = 0.013025 kg air / kg padatan
0.592185 − 0,58578(kg air)
x2 =
0.592185 (kg padatan)
x2 = 0,0108158 kg air / kg padatan
Maka :
Δx = 0.0108158 kg air/kg padatan - 0.013025 kg air/kg padatan
= -0.002209 kg air/kg padatan

C. Laju Pengeringan (N):


−Ls Δx
N=
A Δθ

−(0.0,5765385 kg padatan)×(− 0.002209 kg air/kg padatan)


N=
(0.0506 m2 × 0,16667 jam)

N = 0,151025 kg air /m2·jam

(Cara perhitungan sama untuk data selanjutnya)

3. Perhitungan Laju Pengeringan pada Periode Laju Pengeringan Konstan


(N) teoritis.
Run 1 Tray 1 pada laju aliran udara 1,156 m/s

Diketahui:
Tg = 38°C
Tw = 30°C
Tg+Tw 38+30
Tf = = = 34°C
2 2

ρg = 1.13294 kg/m3 (Appendix A.3-3 Geankoplis)


λw = 2575.109 x 103 J/kg (Appendix A.2-9 Geankoplis)
v = 1,156 m/s

Pr = 0.70487 (Appendix A.3-3 Geankoplis)


k = 0.0271 W/m·K (Appendix A.3-3 Geankoplis)
A = 0.0506 m2
A1 = 0.0484 m2 ( luas tray drier di ujung)
A2 = 0.0742m2 ( luas tray drier di tengah)
µ = 1,9009353 x 10-5 kg/m·s (Appendix A.3-3 Geankoplis)
ρf = 1,1518993 kg/m3 (Appendix A.3-3 Geankoplis)
L = 27,5 cm = 0,275 m
µf = 1,88359 10-5 kg/m·s (Appendix A.3-3 Geankoplis)
N percobaan = 0,151025 kg air/m2·jam
ρ.V.L 1,1518993 x 1.15 x 0.275
A. NRe= = = 19441,003
µ 1,88359 x 10−5

(Nre < 300.000)  aliran laminar

Karena aliran laminar, maka persamaan yang digunakan yaitu :

B. Nu = 0.664 Re1/2 Pr1/3

C. Nu = 0.664 (19441,003)0.5(0.7049784)1/3 = 79,925939


𝑁𝑢 × 𝑘 (79,925939)(0.0270162
D. ℎ = = = 7,8519789 W/m·K
𝐿 (0.275)

E. q1 = h. A. ∆T
= (7,8519789 W/m·K (0.0506) m2 (311K – 303K)

= 3,1784809 W
1 1
F. U = 1 ∆x = 1 0.01 = 2,010030 W/m·K
+ +
h k 87,8519789 0.0270162

G. q2 = U. A. ∆T
= (2,010030) (0.0506) (311K – 303K)

= 0,81366 W

H. q total = q1+q2 = 3,1784809 + 0,81366 = 3,99214 J/s


𝑞 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 13,99214
I. m = = = 1,56169 x 10-6 kg/s
λw 2556,3 X 103

𝑚 1,56169 × 10−6
J . N= 3600 = 3600 = 0.111108 kg air/m2·jam
A 0.0506

4. Perbandingan Laju Pengeringan pada Periode Laju Pengeringan


Konstan (NC) Teoritis dan Laju Pengeringan pada Periode Laju
Pengeringan Konstan (NC) Percobaan
Percobaan 1 dengan laju aliran udara 1,15 m/s
Nc Teoritis−Nc Perocbaan
% Error = x 100%
Nc Teoritis
0,111108188 − 0,151025
= x100 % = 35 %
0.111108188
LAMPIRAN B
DOKUMENTASI

Gambar B.1 Pasir yang telah Gambar B.2 Proses pengeringan


dicampur dengan menggunakan alat
air tray drier

Gambar B.3 Proses pengukuran Gambar B.4 Proses pengukuran


suhu udara laju alir udara
menggunakan menggunakan
psychometer anemometer