Anda di halaman 1dari 13

ISSUE SURVEILANS DI NEGARA BERKEMBANG: SISTEM

SURVEILANS DIARE DI PUSKESMAS TAMBAKREJO KOTA


SURABAYA
(Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Surveilans Kesehatan Masyarakat
Kelas D)

Dosen Pengampu :
Arina Mufida Ersanti, S.KM., M.Epid

Oleh Kelompok 6:

1. Rita Tri Wahyuni (172110101028)


2. Nabila Handayani W. (172110101030)
3. Deva Elma Fridatama (172110101039)
4. Adinda Cindy Nursavira (172110101040)
5. Inneke Rahayu Sulistiawati (172110101074)
6. Sekar Maharani (172110101084)

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS JEMBER
2019
PENDAHULUAN

Sampai tahun 2019 permasalahan akan penyakit diare di negara berkembang


seperti hal nya di Indonesia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, karena
morbiditas dan mortalitasnya yang masih tinggi dari masing-masing provinsi di
Indonesia, sehingga hal tersebut muncul sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) yang
terus meningkat setiap tahunnya. Disamping hal itu, menurut hasil Riskesdas
tahun 2018 terkait prevalensi diare berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan
(nakes) menurut provinsi mengalami kenaikan sebesar 2,3% dari 4,5% - 6,8%.
Hal tersebut juga terjadi pada balita dengan persentase kenaikan sebesar 8,6% dari
2,4% - 11%. Dengan demikian, hingga sampai saat ini diare masih menjadi suatu
penyakit yang sangat serius (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2018).

Jika dilihat dari tahun-tahun sebelumnya kejadian diare memiliki trend yang
semakin naik pada periode tahun 1996-2006. Sedangkan dari tahun 2006 sampai
tahun 2010 terjadi sedikit penurunan angka kesakitan, yaitu dari 423 menjadi 411
per 1000 penduduk. Hasil Survei Morbiditas Diare dari tahun 2000 s.d 2010 yaitu
pada tahun 2000 angka kesakitan balita 1.278 per 1000 turun menjadi 1.100 per
1000 pada tahun 2003 dan naik lagi pada tahun 2006 kemudian turun menjadi 411
per 1.000 penduduk pada tahun 2010 (Kementrian Kesehatan RI, 2011).

Berdasarkan pada profil kesehatan tahun 2008 di Jawa Timur terdapat 13


kabupaten/kota yang melaporkan kasus KLB diare dengan jumlah penderita 699
orang dan kematian 14 orang yang terjadi di 28 kecamatan dan 35 desa (Profil
Jawa Timur, 2008). Kota Surabaya merupakan kota dengan kasus diare peringkat
nomor tiga di Jawa Timur yaitu sebesar 66.841 kasus, setelah Kabupaten
Mojokerto (70.195) dan Kota Jember (72.390) (Profil Jawa Timur, 2008). Di
wilayah Kota Surabaya terdapat suatu puskesmas dimana kasus diare pada balita
yang ditemukan cukup tinggi yaitu di puskesmas Tambakrejo (Syahrul, 2011).

Oleh karena itu, dilakukannya suatu pengendalian program diare dengan


strategi survailans epidemiologi diare dengan tujuan untuk menjamin bahwa
pentingnya memonitoring masalah kesehatan masyarakat dan dilakukannya suatu
pantauan agar dapat berjalan efektif dan efisien (Syahrul, 2011).

Issue surveilans yang ada di berbagai negara berkembang tentunya sangat


banyak dan bermacam-macam, salah satunya di Indonesia dimana setiap provinsi
maupun daerah kabupaten/kota memiliki suatu permasalahan. Contohnya seperti
issue diare yang di Puskesmas Tambakrejo Kota Surabaya, dimana kasus diare
pada balita yang ditemukan cukup tinggi. Sehingga dilakukan penelitian untuk
mengevaluasi sistem surveilans diare di Puskesmas Tambakrejo Kota Surabaya,
dengan tujuan khusus memperoleh gambaran mengenai sistem surveilans diare
yang ada di instansi setempat (pendekatan sistem: input, proses, dan output),
mempelajari masalah sistem surveilans diare, menentukan prioritas masalah
sistem surveilans diare dan merencanakan pemecahan masalah sistem surveilans
diare (Syahrul, 2011).
PEMBAHASAN

A. Gambaran Pelaksanaan

Pelaksanaan kegiatan surveilans diare yang dilakukan di Puskesmas


Tambakrejo Kota Surabaya yang dilakukan pada bulan Agustus hingga
September 2010. Adapun data surveilans yang diperoleh didapatkan
berdasarkan hasil wawancara dengan petugas surveilans diare dan kepala
Puskesmas Tambakrejo. Tujuan pelaksanaan kegiatan surveilans diare di
Puskesmas Tambakrejo yakni menurunkan angka kesakitan akibat diare.
Pelaksanaan sistem surveilans diare menjadi tanggung jawab bagian
Pencegahan Penyakit dan Surveilans, program Pemberantasan Penyakit
Menular (P2M) Puskesmas Tambakrejo. Menurut (Depkes RI, 2009) dalam
(Rukmini & Fariani, 2011), tujuan pelaksanaan sistem surveilans diare yang
dilakukan di Puskesmas Tambakrejo dianggap belum sesuai dengan tujuan
sistem surveilans diare yang ditetapkan oleh Depkes RI dalam buku pedoman
pengendalian diare tahun 2009, yakni diketahuinya situasi epidemiologi dan
besarnya masalah penyakit diare di masyarakat sehingga dapat dibuat
perencanaan dalam pencegahan, penanggulangan, dan pengendalian penyakit
tersebut. Pelaksanaan sistem surveilans diare di Puskesmas Tambakrejo
dimulai dari proses pengumpulan data, kompilasi data, analisis data,
interpretasi data, pelaporan data, hingga proses output yang dihasilkan
(Rukmini & Fariani, 2011).

B. Input
a. Sumber daya manusia
Kegiatan surveilans di Puskesmas Tambakrejo, Kota Surabaya
dilakukan oleh seorang petugas surveilans diare dengan latar belakang
pendidikan terakhir D3 keperawatan yang juga menjalankan tugas rangkap
selain sebagai petugas surveilans diare juga menjadi perawat di puskesmas
dan pustu. Salah satu kendala yang dihadapi oleh petugas surveilans yang
berada di Puskesmas Tambakrejo, Kota Surabaya adalah terbatasnya
kemampuan untuk mengolah data dengan menggunakan komputer
(Rukmini & Fariani, 2011).
Terbatasnya kemampuan untuk melakukan analisis data surveilans
yang dilakukan oleh petugas surveilans menjadi salah satu permasalahan
yang umum terjadi dalam pelaksanaan surveilans di negara berkembang
seperti Indonesia. Kemampuan untuk mengolah data serta analisis data
dengan komputer diperlukan bagi kegiatan surveilans karena dari hasil
proses analisis data tersebut akan dihasilkan sebuah informasi yang
menjadi dasar dalam pengambilan keputusan kegiatan surveilans yang
dilaksanakan (Sri Rejeki Sarwani, Kuswanto, & Nurlaela, 2014). Selain
itu, pemanfaatan data hasil analisis dibutuhkan untuk menyusun
perencanaan dan evaluasi terhadap hasil akhir kegiatan intervensi penyakit
yang dilakukan (Amiruddin, 2017).
b. Dana/Money
Sumber dana yang digunakan untuk kegiatan surveilans pada
Puskemas Tambakrejo, Kota Surabaya berasal dari dana APBD dan
APBN. Kedua sumber dana tersebut dimanfaatkan terutama untuk
program diare, misalnya penyuluhan, kunjungan rumah dan pelatihan
kader serta lebih dimanfaatkan untuk pembelian obat-obatan. Sementara
itu, dana untuk kegiatan yang secara spesifik mengacu pada kegiatan
surveilans yakni pengumpulan data, pengolahan data, analisis data dan
diseminasi data belum tersedia (Rukmini & Fariani, 2011).
Tidak adanya dukungan dari segi pembiayaan terhadap program
kegiatan surveilans di puskesmas menghambat proses kegiatan surveilans
tersebut. Menurut ( Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat, 2006)
dalam (Rialdi & Sunarto, 2013), dari penelitian yang dilakukan oleh
Direktorat Kesehatan dan Gizi Mayarakat pada tahun 2006 di 6 propinsi
terpilih di Indonesia didapatkan hasil bahwa puskesmas tidak memiliki
dana alokasi khusus untuk pelaksanaan kegiatan surveilans, melainkan
selama ini sumber pendanaan kegiatan operasional surveilans berasal dari
Biaya Operasional Kesehatan (BOK) dan JPK-MM. Menurut ( Direktorat
Kesehatan dan Gizi Masyarakat, 2006) dalam (Rialdi & Sunarto, 2013),
Pemerintah pusat lebih menekankan kegiatan surveilans pada pencegahan
tersier daripada pencegahan yang lebih dini.
c. Sarana dan Bahan

Bahan yang digunakan dalam surveilans diare di Puskesmas


Tambakrejo, Kota Surabaya terdiri dari beberapa dokumen pelaporan yang
beberapa diantaranya tersedia maupun yang tidak tersedia. Beberapa
contoh dokumen pelaporan yang tersedia antara lain: data rekapitulasi
laporan diare, formulir laporan mingguan penyakit, formulir laporan
terpadu puskesmas, dan lain-lain. Sementara itu, beberapa contoh
dokumen pelaporan yang tidak tersedia antara lain: formulir Laporan
kejadian luar biasa/wabah (W1), formulir investigasi penderita
diare/kolera, formulir pemeriksaan spesimen, dan data kesehatan
lingkungan (Rukmini & Fariani, 2011).

Sarana yang digunakan dalam kegiatan surveilans diare berupa satu


set komputer yang dipergunakan sebagai sistem informasi puskesmas, satu
jaringan internet akan tetapi belum dimanfaatkan untuk kegiatan
surveilans diare, daftar nama dan nomor telepon petugas surveilans Dinas
Kesehatan Kota Surabaya, serta alat transportasi berupa mobil Pusling
(Rukmini & Fariani, 2011).
d. Metode

Metode surveilans diare yang dilakukan oleh Puskesmas


Tambakrejo berdasar pada buku pedoman Standar Pelayanan Kesehatan
Bidang Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan
pada Kejadian Bencana dan Pengungsian yang diterbitkan oleh Depkes RI
pada tahun 2001 dan buku Pedoman Penyusunan Rencana Kontijensi
Sektor Kesehatan yang juga diterbitkan oleh Depkes RI pada tahun 2001
(Rukmini & Fariani, 2011).
Metode surveilans diare yang digunakan oleh Puskesmas
Tambakrejo lebih baik berdasarkan pada buku Pedoman Pengendalian
Penyakit Diare yang diterbitkan oleh Depkes RI Dirjen PP dan PL pada
tahun 2009. Menurut (Depkes Ri, 2009) dalam (Rukmini & Fariani, 2011),
Hal tersebut dimaksudkan agar pelaksanaan kegiatan surveilans diare yang
dilakukan dapat berjalan secara efektif dan efisien dan sejalan dengan
program terbaru yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan (Depkes).
e. Data
Data yang digunakan dalam proses kegiatan surveilans diare di
Puskesmas Tambakrejo dikumpulkan dengan sistem pencatatan dan
pelaporan rutin dari staff puskesmas berupa indikator dan target yang
digunakan dalam sistem surveilans yang diantaranya antara lain :

Menurut (Amiruddin, 2017), data yang dilaporkan dalam sistem


pelaporan rutin dikumpulkan sebagai bagian dari pelaksanaan proses
skrining dan diagnosis pada saat pasien mengunjungi fasilitas-fasilitas
pelayanan kesehatan, misalnya puskesmas. Salah satu keuntungan dari
sistem pencatatan dan pelaporan rutin adalah sistem pengambilan data
yang berkelanjutan (Amiruddin, 2017). Selain kelebihan, kekurangan dari
sistem pencatatan dan pelaporan rutin antara lain tidak lengkapnya
gambaran mengenai jumlah keseluruhan kasus yang terjadi dalam
masyarakat (Amiruddin, 2017).
C. Proses

Data yang telah ada dikumpulkan dan direkap di buku register diare
oleh petugas diare yang berasal dari poliklinik umum dan MTBS di
Puskesmas dan Pustu, data tersebut hanya berisi variabel nomor register,
nama, umur dan alamat dari pasien sehingga hanya dapat digunakan untuk
laporan mingguan. Sedangkan kebutuhan data untuk mengisi laporan dalam
waktu bulanan P2M diare (LB3), butuh data yang lebih banyak, yakni data
jenis kelamin, penggunaan oralit/RL/antibiotik, jenis dehidrasi, pemeriksaan
laboratorium, dan lain-lain. Sehingga menyebabakan petugas diare
melakukan rekap lagi dengan cara mengambil data langsung diregister
pengobatan di Puskesmas dan Pustu, namun hasilnya tidak ditulis dibuku
register diare. Data yang sudah terkumpul dilakukan pengelompokkan oleh
petugas dengan manual untuk direkap dalam laporan mingguan dan bulanan.
Sedangkan untuk rekapan data laporan bulanan dalam setahun belum
dilakukan. Sehingga belum bisa mencapai tujuan surveilans yang telah
ditetapkan (Rukmini & Fariani, 2011).

Data diare belum seluruhnya diolah dan dianalisis untuk menghasilkan


suatu informasi. Dalam melakukan analisis dan interpretasi data sangat
terbatas, padahal variabel data yang tersedia cukup banyak. Analisis tersebut
belum dilakukan berdasarkan variabel orang (kelompok umur dan jenis
kelamin), kualitas pelayanan (angka penggunaan oralit, RL, zinck dan
antibiotik), cakupan pelayanan oleh sarana dan kader dan derajat dehidrasi,
dan lain-lain. Petugas diare tersebut akhirnya dibantu oleh satu orang petugas
bagian informasi dan teknologi (IT) untuk melakukan analisis data tersebut
dikomputer. Data tersebut hanya dianalisis dengan membuat grafik jumlah
penderita diare menurut kelurahan (tempat), menurut waktu dan menurut
umur dan jenis kelamin (Rukmini & Fariani, 2011).

Sedangkan untuk interpretasi data hasil analisisnya dilakukan dengan


cara melihat kecenderungan atau trend penemuan kasus diare berdasarkan
waktu (jumlah kasus setiap bulan) dan tempat (jumlah kasus menurut
kelurahan). Analisis data di Puskesmas tersebut juga hanya dilakukan untuk
memenuhi kebutuhan laporan dan pelaksanaan penanggulangan, belum
dilakukan untuk sistem kewaspadaan dini diare. Selain itu pengolahan grafik
mingguan kasus diare juga belum rutin dilakukan (Rukmini & Fariani, 2011).

D. Output

Informasi yang dihasilkan sangat terbatas hanya informasi distribusi


kasus diare menurut kelurahan dan kasus diare setiap bulan dibandingkan
dengan ketersediaan data di puskesmas. Penyebabnya data tersebut belum
diolah dan dianalisis sehingga informasi yang dihasilkan sangat terbatas
menurut buku pengendalian diare (Depkes RI, 2009 dalam Rukmini &
Fariani, 2011).Sehingga mengakibatkan indikator yang digunakan juga sangat
terbatas hanya cakupan penderita diare yang ditangani, cakupan kepatuhan
provider dan kelengkapan sarana, belum dihasilkan indikator cakupan
pelayanan penderita dan kualitas pelayanan diare (Rukmini & Fariani, 2011).

E. Prioritas Masalah
Penentuan prioritas masalah sistem surveilans diare menggunakan
metode Multiple Criteria Utility Assesment (MCUA). Pengisian matriks
masalah dan kriteria masalah sistem surveilans diare diberikan kepada
petugas surveilans puskesmas (3 orang) dan petugas ISO (2 orang).

Berikut adalah hasil prioritas masalah sistem surveilans diare:

1. Analisis data belum dilakukan untuk kewaspadaan dini diare.


2. Tidak adanya laporan cakupan kesehatan lingkungan sebagai bahan
analisis.
3. Informasi yang dihasilkan sangat terbatas pada distibusi kasus
menurut tempat dan waktu.
4. Tidak adanya dokumen laporan wabah, formulir investigasi penderita
diare/kolera dan formulir permintaan pemeriksaan spesimen.
5. Analisis belum dilakukan berdasarkan variable orang, kualitas
pelayanan, cakupan pelayanan oleh sarana dan kader dan derajat
dehidrasi.
6. Belum dihasilkan Indikator cakupan pelayananpenderita dan kualitas
pelayanan diare.
7. Metode yang digunakan dalam surveilans diarebelum berdasarkan
buku Pedoman Pengendalian Penyakit Diare yang dikeluarkan oleh
Depkes RI Dirjen PP & PL 2009.
8. Keterbatasan pengetahuan petugas tentang surveilans diare.
9. Keterbatasan variabel data yang direkap di buku register diare
dibandingkan kebutuhan data untuk pelaporan rutin.
F. Rencana Pemecahan Masalah
Untuk melakukan upaya pemberantasan penyakit menular,
penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit dan keracunan, serta
penanggulangan penyakit tidak menular diperlukan suatu sistem surveilans
penyakit yang mampu memberikan dukungan upaya program dalam daerah
kerja Kabupaten/Kota, Provinsi dan Nasional, dukungan kerjasama antar
program dan sektor serta kerjasama antara Kabupaten/Kota, Provinsi,
Nasional dan Internasional.
Prioritas surveilans penyakit yang perlu dikembangkan adalah salah
satunya penyakit yang potensial menimbulkan wabah atau kejadian luar
biasa, seperti diare.

Berdasarkan masalah di atas, maka rencana pemecahan masalah


sistem surveilans diare adalah:
1. Membuat buku register diare penderita dengan jenis data yang lengkap
sesuai kebutuhan pelaporan.

2. Membuat grafik jumlah penderita diare secara rutin berdasarkan waktu


(minggu), tempat (kelurahan) dan orang (umur dan jenis kelamin).

3. Koordinasi dengan petugas kesehatan lingkungan dengan melakukan


pengamatan terhadap data kesehatan lingkungan

4. Koordinasi dengan petugas promosi kesehatan dengan melakukan


pengamatan perilaku masyarakat

5. Melakukan pengamatan KLB diare sebelumnya, yaitu frekuensi KLB


berdasarkan wilayah, waktu (bulan) terjadinya KLB, lama KLB
berlangsung, kelompok umur dan pekerjaan penderita diare, tindakan
penanggulangan KLB dan faktor risiko (sumber dan cara penularan).

6. Melakukan pengamatan terhadap jumlah penderita diare dengan


adanya kondisi perubahan iklim

7. Meningkatkan koordinasi dengan lintas sektor (kecamatan dan


kelurahan), kader Posyandu dan masyarakat dalam melaporkan kasus
diare yang terjadi di wilayahnya.
PENUTUP

A. Kesimpulan

Hingga saat ini penyakit diare masih menjadi masalah kesehatan yang
sering dijumpai di masyarakat di negara berkembang, seperti Indonesia. Oleh
karena itu dilakukan penelitian untuk mengevaluasi sistem surveilans diare,
salah satunya di Puskesmas Tambakrejo Kota Surabaya. Dalam kegiatan ini
dilakukan dengan pendekatan sistem yang meliputi input, proses, output.
Terdapat permasalahan yang ditemukan dalam pelaksanaan surveilans di
Puskesmas Tambakrejo Kota Surabaya, seperti terbatasnya kemampuan
petugas untuk mengolah data dengan menggunakan komputer, terbatasnya
kemampuan untuk melakukan analisis data oleh petugas, tidak adanya
dukungan dana terhadap program kegiatan surveilans di puskesmas,serta
dokumen pelaporan yang tidak lengkap. Untuk itu maka perlu dilakukan
suatu sistem surveilans yang mampu memberikan dukungan upaya program
dalam meningkatkan kualitas surveilans tersebut yaitu dengan melakukan
kerjasama antar program dan sektor serta kerjasama antara Kabupaten/Kota,
Provinsi, Nasional dan Internasional.

B. Saran

Puskesmas Tambakrejo perlu meningkatkan kemampuan petugas


untuk mengolah dan menganalisis data dengan komputer agar tidak terjadi
keterbatasan informasi mengenai diare. Hal ini dimaksudkan agar lebih
tanggap terhadap perubahan dalam masyarakat sehingga mampu melakukan
upaya penanggulangan secara tepat dan cepat untuk mengurangi atau
mencegah kesakitan dan kematian akibat diare. Melakukan kerjasama antar
program dan sektor dalam rangka untuk mengendalikan penyakit diare.
DAFTAR PUSTAKA

Amiruddin, R. (2017). Surveilans Kesehatan Masyarakat. Jakarta: CV. Trans Info


Media.

Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. (2008). Profil Kesehatan Jawa Timur.

kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). HASIL UTAMA RISKESDAS


2018. Jakarta: Balitbangkes.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2011). Situasi DIARE di Indonesia.


Jakarta: Bakti Husada.

Rialdi, R., & Sunarto. (2013). Pelaksanaan Surveilans Kesehatan dan


Kesiapsiagaan Masyarakat Pasca Erupsi Merapi 2010 Pada Pelaksanaan
Desa Siaga di Desa Talun Klaten. Jurnal Kesehatan 6(1) , 38-57.

Rukmini, & Fariani, S. (2011). Analisis Sitem Surveilans Diare Puskesmas


Tambakrejo Kota Surabaya. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan 14(2) ,
136-145.

Sri Rejeki Sarwani, D., Kuswanto, & Nurlaela, S. (2014). Pelatihan Pengolahan
Data Epidemiologi bagi Petugas Surveilans Penyakit Menular di Kabupaten
Banyumas. Jurnal Kesmasindo 6(3) , 223-231.