Anda di halaman 1dari 70

DAFTAR ISI

Pengantar

Sambutan Dirjen Penataan Ruang

Sambutan Direktur Pembinaan Penataan Ruang Daerah Wilayah


II

Bagian I : Pendekatan Peran Masyarakat Dalam Penataan Ruang

Bagian II : Peran Masyarakat Dayak Katingan/Ngaju –


Kalimantan Tengah

Bagian III : Peran Masyarakat Sawai – Halmahera Tengah

Bagian III : Peran Masyarakat Bali Aga – Bangli

Bagian IV : Kompilasi Peran Serta Masyarakat di 17 Provinsi

Bagian V: Kompilasi Tulisan Ilmiah Peran Serta Masyarakat


Dalam Penataan Ruang

Bagian VI: Rumusan &Pengembangan Peran Masyarakat Dalam


Penataan Ruang

Daftar Kontributor/Penulis

Referensi

1
Bagian I
Pendekatan Peran Masyarakat Dalam Penataan Ruang

A. Peran Serta Masyarakat menurut PP 68 Tahun 2010


Definisi Peran masyarakat dalam penataan ruang dapat dipandang
dari sudut pemerintah maupun dari sudut pandang anggota
masyarakat itu sendiri.

 Dari sudut pandang pemerintah dimaknai sebagai proses


pelibatan atau dorongan untuk melakukan intervensi oleh
masyarakat dalam proses penyelenggaraan penataan ruang.
Munculnya istilah pelibatan dikarenakan peran satu pihak
(pemerintah) lebih dominan dibandingkan dengan pihak kedua (
masyarakat).Pada realiasinya proses pelibatan ini memberikan
konsekuensi kepada pemerintah untuk melakukan
pemberdayaan kepada masyarakat agar mereka dapat
berperanserta secara baik dan benar.
 Dari sudut pandang anggota masyarakat dimaknai sebagai
proses peranserta yakni berupa rincian hak dan kewajiban dari
masyarakat serta bagaimana cara masyarakat berperanserta
dalam proses penyelenggaraan penataan ruang.

Dalam konteks penataan ruang, maka peran serta masyarakat dapat


didefinisikan sebagai proses keterlibatan masyarakat yang
memungkinkan mereka dapat mempengaruhi proses pengambilan
keputusan penataan ruang yang meliputi keseluruhan proses
sebagaimana disebutkan dalam UU Nomor 26 Tahun 2007 pasal 1
yaitu : pengaturan penataan ruang (ayat 9), pembinaan penataan
ruang (ayat 10), pelaksanaan penataan ruang (ayat 11), dan
pengawasan penataan ruang (12).

Bila pengertian peran serta masyarakat lebih pada proses


mempengaruhi pengambilan keputusan dalam keseluruhan proses
penataan ruang, maka tujuan utama peran serta masyarakat
mencakup dua hal pokok yaitu :

 Melahirkan output rencana yang lebih baik daripada


dilakukan hanya melalui proses teknokratis

2
 Mendorong proses capacity building antara masyarakat dan
pemerintah
Output rencana tata ruang yang dihasilkan melalui proses partisipasi
diharapkan dapat memperkecil derajat konflik antar berbagai
stakeholders terutama pada tahap pemanfaatan dan pengendalian
pemanfaatan ruang. Disamping itu, peran serta masyarakat dapat
memberikan kontribusi agar menghasilkan rencana tata ruang yang
lebih sensitif dan lebih mampu mengartikulasikan kebutuhan
berbagai kelompok masyarakat yang beragam dengan tidak
mengesampingkan kearifan lokal.

Disamping memperbaiki kualitas rencana tata ruang, peran serta


masyarakat dimaksudkan sebagai proses pembelajaran masyarakat
dan pemerintah yang secara langsung dapat memperbaiki kapasitas
mereka dalam mencapai kesepakatan. Tidak dipungkiri bahwa
rencana taat ruang pada dasarnya merupakan kesepakatan berbagai
stakeholders yang dilahirkan dari serangkaian dialog yang konstruktif
dan berkelanjutan. Melalui proses dialog yang terus menerus
sepanjang keseluruhan proses penatan ruang, maka akan terjadi
proses pembelajaran bersama dan pemahaman bersama (mutual
understanding) dari berbagai pihak tentang penataan ruang.
Sehingga proses ini secara langsung akan berkontribusi terhadap
proses pembinaan penataan ruang.

Saat ini permasalahan penataan ruang yang sering terjadi adalah


berupa ketidakpedulian masyarakat (publik) dalam penyelenggaraan
penataan ruang dan adanya sikap acuh dan kurang memahami
esensi penataan ruang itu sendiri. Hal ini disebabkan kurangnya
pelibatan masyarakat dalam penyelenggaraan penataan ruang.
Masyarakat adalah subyek dari proses pembangunan sedangkan
pemerintah adalah pemberi arah dan fasilitator. Jika subyek tidak
berperan secara baik maka proses pembangunan tidak akan
berhasil. Ketaatan masyarakat pada rencana tata ruang sangat
diperlukan demi suksesnya tujuan penataan ruang. Dan ketaatan
membutuhkan prasyarat harus memahami apa dan bagaimana
rencana tata ruang wilayah di mana masyarakat tersebut tinggal. Di
sisi lain, pemerintah juga perlu didorong untuk menyelenggarakan
pemerintahaan secara baik ( good governance). Pelibatan
masyarakat bisa dipandang sebagai kontrol sosial yang akan
mendorong pemerintah untuk konsisten melaksanakan rencana tata
ruang yang aspiratif.

3
Issue pelibatan masyarakat dalam penataan ruang telah muncul
sejak dikeluarkannya Pasal 12 UU No.24/1992. Dalam UU Penataan
Ruang no 27 tahun 2007 hal tersebut ditegaskan lagi pada beberapa
pasal. Jadi secara hitam diatas putih masyarakat sudah diperankan
sebagai mitra dalam penyelenggaraan penataan ruang, tetapi dalam
operasionalisasinya sampai saati ini masih belum sukses
dilaksanakan. Karenanya issu pelibatan masyarakat ini terus
menerus di didengungkan karena merupakan critical succes factor
dalam pencapaian tujuan penataan ruang.

Untuk kesuksesan program pelibatan masyarakat tersebut diperlukan


perubahan paradigma dalam penyelenggaraan penataan ruang.
Konsep stakeholder dan social transformation adalah
pendekatan baru yang harus diterapkan sebagai pengganti
pendekatan lama yang memandang masyarakat sebagai obyek
peraturan dan homogen. Social transformation memandang
masyarakat sebagai subyek peraturan dan keanekaragaman
perilaku. Masyarakat didorong untuk menentukan nasibnya sendiri
(bottom up planning). Pendekatan ini akan menuntut peranan
Pemerintah bersama dengan masyarakat, untuk mengembangkan
visi bersama dalam merumuskan wajah ruang masa depan, standar
kualitas ruang, aktivitas yang diperbolehkan dan dilarang pada suatu
kawasan, distribusi dan alokasi fasilitas publik, dan development
control system. Ilustrasi keterkaitan antara peranserta masyarakat
dengan terwujudnya tujuan dari penataan ruang dapat disimak dari
gambar dibawah ini.

4
Ilustrasi keterkaitan antara peranserta masyarakat dengan
terwujudnya tujuan dari penataan ruang

Dasar yang melatarbelakangi pentingnya peran masyarakat dalam


proses penataan ruang :

a. Pada tahapan perencanaan, masyarakat sebenarnya yang


paling mengetahui tentang apa yang mereka butuhkan,
sehingga mengarahkan pada produk rencana yang optimal
proporsional untuk berbagai kegiatan agar terhindar dari
spekulasi dan distribusi alokasi ruang untuk kegiatan tertentu
saja
b. Pada tahap pemanfaatan, masyarakat akan menjaga
pendayaagunaan ruang yang sesuai dengan peruntukan dan
alokasi serta waktu yang direncanakan, sehingga terhindar
dari konflik pemanfaatan ruang
c. Pada tahap pengendalian, masyarakat akan merasa memiliki
dan bertanggung jawab dalam menjaga kualitas ruang yang
nyaman dan serasi serta berguna untuk kelanjutan
pembangunan

Tujuan dari Peran Masyarakat dalam Penataan Ruang dapat


dirumuskan sebagai berikut :

a. Menumbuhkembangkan semangat akuntabilitas atau


kesadaran atas hak dan kewajiban masyarakat dan
stakeholder lainnya dalam memanfaatkan ruang sesuai
dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan.
b. Meningkatkan kesadaran kepada pelaku pembangunan bahwa
masyarakat bukanlah obyek pemanfaatan ruang, tetapi justru
merekalah pelaku dan pemanfaat utama yang seharusnya
terlibat dari proses awal sampai akhir dalam memanfaatkan
dan mengendalikan ruang.
c. Mendorong masyarakat dan civil society organization atau
lembaga swadaya masyarakat untuk lebih berperan dan
terlibat dalam memanfaatkan dan mengendalikan ruang.
d. Memperkuat posisi Penataan ruang sebagai alat keterpaduan
pembangunan lintas sektor dan wilayah sehingga diharapkan

5
pengembangan wilayah dapat direkayasa sesuai dengan
tujuan yang ingin dicapai.

B. Hak dan Kewajiban Masyarakat


Di dalam Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan
Ruang, penyelenggaraan penataan ruang dilakukan oleh pemerintah
dengan melibatkan berbagai unsur seperti masyarakat, pihak
swasta, dunia usaha, kelompok profesi, LSM yang selanjutnya
disebut dengan peranserta masyarakat. Peranserta masyarakat
merupakan hal yang sangat penting dalam penataan ruang, karena
pada akhirnya hasil dari penataan ruang adalah untuk kepentingan
seluruh lapisan masyarakat serta untuk tercapainya tujuan penataan
ruang, yaitu terselenggarakannya pemanfaatan ruang berwawasan
lingkungan, terselenggaranya pengaturan pemanfaatan ruang
kawasan lindung dan budidaya, serta tercapainya pemanfaatan
ruang yang berkualitas.

Peran serta masyarakat dalam penataan ruang sebagaimana


tersebut di atas, dituangkan dalam Peraturan Pemerintah (PP)
Nomor 69 Tahun 1996 tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban
Serta Bentuk dan Tata Cara Peranserta Masyarakat Dalam Penataan
Ruang, dimana didalamnya diatur mengenai :

 Pelaksanaan hak dan kewajiban masyarakat dalam proses


penataan ruang ;
 Bentuk peranserta masyarakat dalam proses penataan ruang ;
 Tata cara peranserta masyarakat dalam proses penataan ruang,
dan
 Pembinaan peranserta masyarakat dalam proses penataan
ruang.

Penataan ruang adalah proses perencanaan tata ruang,


pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang.
Sedangkan pemberdayaan masyarakat dalam penataan ruang adalah
keterlibatan dan mengambil peran secara aktif dalam proses
perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian
pemanfaatan ruang. Kegiatan sebagaimana tersebut di atas
diperjelas lagi dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun
1998.

6
Sejalan dengan sifat peran serta masyarakat di atas, pada intinya
terdapat 6 (enam) manfaat lain terhadap adanya peran serta
masyarakat tersebut, antara lain adalah :

a. Sebagai proses pembuatan suatu kebijakan, karena masyarakat


sebagai kelompok yang berpotensi menanggung konsekuensi
dari suatu kebijakan memiliki hak untuk konsultasi (rights to
consult).
b. Sebagai suatu strategi, dimana melalui peran serta masyarakat
suatu kebijakan pemerintah akan mendapatkan dukungan dari
masyarakat sehingga keputusan tersebut memili ki kredi bi litas
(credible).
c. Peran serta masyarakat juga ditujukan sebagai alat komunikasi
bagi pemerintah yang dirancang untuk melayani masyarakat
untuk mendapatkan masukan dan informasi dalam pengambilan
keputusan, sehingga melahirkan keputusan yang responsif.
d. Peran serta masyarakat dalam penyelesaian sengketa atau
konflik, dimana perlu didayagunakan sebagai suatu cara untuk
mengurangi atau meredakan konflik melalui usaha pencapaian
konsensus dari pendapat-pendapat yang ada. Asumsi yang
melandasi persepsi tersebut adalah dengan bertukar pikiran
maupun pandangan dapat meningkatkan pengertian dan
toleransi serta mengurangi rasa ketidakpercayaan (mistrust) dan
kerancuan.
e. Pengidentifikasi berbagai potensi dan masalah pembangunan
termasuk bantuan untuk memperjelas hak atas ruang di wilayah
dan termasukpula pelaksanaan tata ruang kawasan.
f. Pemberi informasi, saran, pertimbangan, atau pendapat dalam
menyusun strategi dan struktur pemanfaatan ruang wilayah.

Dari uraian mengenai bentuk dan sifat peran serta masyarakat di


atas, akan memberikan gambaran lebih jelas bagaimana kebijakan
peran serta masyarakat di dalam penataan ruang, pemanfaatan
ruang, peninjauan kembali rencana tata ruang dan pengendalian
pemanfaatan ruang.

7
C. Ketentuan H a k d a n K e w a j i b a n M a s y a r a k a t D a l a m
P r o s e s P e n a t a a n Ruang
Hak dan kewajiban masyarakat dalam penataan ruang
mencakup hak dan kewajiban dalam proses perencanaan
penataan ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian
pemanfaatan ruang. Dalam proses perencanaan tata ruang, hak
dan kewajiban masyarakat adalah :

1. Memperoleh informasi secara mudah


2. Memberikan bantuan pemikiran dan pertimbangan dalam
perencanaan tata ruang
3. Memberikan bantuan teknik dalam perencanaan tata ruang

Dalam proses pemanfaatan ruang, hak dan kewajiban masyarakat


dapat dilakukan melalui pelaksanaan program dan kegiatan
pemanfaatan ruang yang sesuai dengan RTRW meliputi :

1. Pemanfaatan ruang daratan dan ruang udara berdasarkan


RTRW yang telah ditetapkan
2. Bantuan pemikiran dan pertimbangan berkenaan
dengan pelaksanaan pemanfaatan ruang
3. Bantuan teknik dan pengelolaan dalam pemanfaatan ruang
4. Penyelenggaraan kegiatan pembangunan berdasrkan RTRW
5. Konsolidasi pemanfaatan lahan, air dan sumberdaya alam
lainnya untuk tercapainya pemanfaatan ruang yang
berkualitas
6. Perubahan dan pelestarian pemanfaatan ruang sesuai dengan
RTRW
7. Pemberian masukan untuk penetapan lokasi pemanfaatan
ruang dan kegiatan menjaga, memelihara, dan meningkatkan
kelestarian fungsi lingkungan hidup.

Hak dan kewajiban masyarakat dalam proses pengendalian


pemanfaatan ruang dapat dilakukan melalui :

1. Pengawasan dalam bentuk pemanfaatan ruang dan pemberian


informasi atau laporan pelaksanaan pemanfatan ruang
2. Bantuan pemikiran atau pertimbangan berkenaan
dengan penertiban pemanfaatan ruang.

8
D. Konsep Peran serta Masyarakat
Tangga partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan penataan
ruang dapat dilihat pada gambar berikut :

Kondisi ideal partisipasi masyarakat adalah berbentuk peranserta


masyarakat yaitu berupa aktivitas pendelegasian kekuasaan dan
berjalannya kontrol masyarakat terhadap proses penyelenggaraan
penataan ruang Sehingga pemerintah di tingkatan manapun perlu
menyadari bahwa aktivitas memberikan informasi dan melayani
konsultasi belumlah cukup dalam menjalankan amanah UU no 26
tahun 2007. Satu hal lagi yang perlu diingat adalah bahwa pelibatan
masyarakat ini hanyalah sebagai alat untuk mencapai tujuan dari
penyelenggaraan penataan ruang itu sendiri.

Prinsip pelibatan masyarakat dalam penataan ruang adalah sebagai


berikut :

1. Menempatkan masyarakat sebagai pelaku (ujung tombak)


dalam upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi (termasuk
dalam penataan ruang)
2. Memfasilitasi masyarakat agar menjadi pelaku dalam proses
taru (Pemerintah sebagai fasilitator, dan menghormati hak

9
masyarakat,serta menghargai kearifan lokal/keberagaman
budayanya)
3. Mendorong agar stakeholder mampu bertindak secara
transparans, akuntabel dan profesional dalam proses
penataan ruang(terutama dalam perencanaan tata ruang)
4. Mendorong perkuatan kelembagaan yang mewadahi berbagai
aspirasi dari berbagai stakeholder.
Stakeholder dalam penataan ruang adalah sebagai berikut :

1) Stakeholder yang berwenang mengambil/ membuat kebijakan


:
a. Eksekutif,seperti Bappenas, Depkimpraswil,
b. Legislatif, seperti DPR, DPRD I, DPRD II,
c. Yudikatif
2) Stakeholder yang terkena dampak dari kebijakan :
a. Orang per orang
b. Kelompok warga Warga sesuai dengan kelompok
kegiatannya
3) Stakeholder yang mengawasi kebijakan :
a. DPR, DPRD I dan DPRD
b. LSM, Pers/Media massa, Forum Warga,
c. Partai Politik, Asosiasi Profesi, Perguruan Tinggi.
4) Stakeholder kelompok Interest dan Presure Group yang terkait
kebijakan :
a. Partai Politik,
b. LSM, pengusaha, Forum Warga,
c. Asosiasi Profesi, Perguruan Tinggi, Kelompok Mediasi.
5) Stakeholder yang mempunyai kepentingan agar kegiatan atau
kebijakannya berjalan
a. Presure Group,
b. Kelompok Pendukung

10
Bagian II
Peran Masyarakat Dayak Katingan
Kalimantan Tengah

A. Peran Masyarakat Dalam Penyusunan Rencana Tata


Ruang
Perencanaan ruang formil di level Pemerintah Kabupaten Katingan
adalah Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan
Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Status RTRW Kabupaten Katingan
masih dalam proses penyusunan Rancangan Peraturan Daerah
(Raperda). Walaupun demikian, beberapa RDTR sebagai turunan dari
RTRW telah disusun di beberapa kecamatan. RDTR yang sedang
disusun pada tahun anggaran 2013 ini yaitu :
1. RDTR Kecamatan Tumba Samba sebagai pusat dari SWP Hulu
2. RDTR Kecamatan Kasongan sebagai pusat dari SWP Tengah
3. RDTR Kecamatan Bakatang sebagai pusat dari SWP Hilir.

Pelibatan masyarakat dalam penyusunan RTRW Kabupaten Katingan


melalui kegiatan konsultasi publik. Peserta konsultasi adalah
pemerintah level kecamatan dan tokoh masyarakat yang diwakili
oleh damang yang dianggap dapat mewakili suara masyarakat.
Damang adalah pemimpin dewan adat di level kecamatan. Sejauh ini,
tingkat antusiame masyarakat cukup tinggi, walaupun sebenarnya
pemahaman masyarakat terhadap substansi dan istilah-istilah seperti
HP, HPL, HT , KSA dan lain sebagainya masih abu-abu. Tidak semua
perwakilan kecamatan yang diundang dalam konsultasi publik tersebut
hadir. Permasalahan aksesibilitas, biaya transportasi yang cukup
mahal, keterbatasan sarana komunikasi serta masih ada beberapa
wilayah yang terisolir menjadi kendala dalam kegiatan konsultasi
publik

RTRW Kabupaten Katingan telah disusun sejak tahun 2010, dalam


kegiatan konsultasi publik pada masa-masa awal proses penyusunan,
tingkat antusiame masyarakat masih tinggi. Tetapi, setelah
diterbitkannya SK Menteri Kehutanan No 529 Tahun 2012 tentang
Perubahan Atas Keputusan Menteri Pertanian No
757/KPTS/UM/10/1982 Tentang Penunjukan Areal Hutan di Wilayah
Provinsi Kalimantan Tengah seluas ±15.300.000 Ha (lima belas juta
11
tiga ratus ribu hektar) Sebagai Kawasan Hutan, yang kemudian
menuntut untuk merevisi materi dari RTRW yang telah disusun.
Karena proses panjang yang belum selesai ini, tingkat partisipasi
masyarakat dalan kegiatan konsultasi publik menjadi menurun.

Seperti halnya dalam proses penyusunan RTRW, pelibatan masyarakat


dalam penyusunan RDTR dilakukan melalui konsultasi publik yang
dilaksanakan di ibukota kabupaten. Khusus untuk Kecamatan
Bakatang, selain dilakukan di ibukota Kabupaten (Kota Kasongan),
konsultasi publik juga dilakukan di lokasi wilayah perencanaan, yaitu
di Aula Kecamatan Bakatang. Peserta yang diundang adalah para
kepala desa, damang dan mantir (pemimpin dewan adat level desa)
serta BPD (Badan Perwakilan Desa). Jaring aspirasi dilakukan dalam
identifikasi kebutuhan Prasarana Sarana Utilitas Umum (PSU) yang
kemudian diplotting dalam peta rencana.

Model konsultasi publik seperti yang telah dilaksanakan di Kecamatan


Bakatang, akan diduplikasi dalam kegiatan konsultasi publik
penyusunan RDTR. Konsultasi publik akan dilaksanalan sebanyak 3
kali. Dua kali kegiatan akan dilaksanakan di Kantor Dinas PU
Kabupaten dan satu kali kegiatan akan dilaksanakan di lokasi wilayah
perencanaan. Kegiatan konsultasi publik yang akan dilaksanakan di
tengah masyarakat adalah untuk identifikasi potensi dan
permasalahan ruang serta jaring aspirasi untuk konsep perencanaan.

Kegiatan Konsultasi Publik Penyusunan RDTR


12
Kegiatan perencanaan pembangunan yang langsung melibatkan
masyarakat tercermin dari kegiatan-kegiatan pembangunan
infrastruktur permukiman melalui program PNPM Mandiri, PPIP dari
Dirjen Cipta Karya Kementerian PU serta program dari NGO seperti
Community Water Service Management (CWCM). Tingkat partisipasi
masyarakat dapat dilihat pada kegiatan musyawarah desa, baik itu
dalam kegiatan musyawarah desa untuk merumuskan program dan
kegiatan –kegiatan PNPM maupun Musrenbang.

Khusus untuk kegiatan PNPM, pada awal kegiatan ini hadir, tingkat
antusiame masyarakat tinggi yang tercermin dari tingginya tingkat
kehadiran dan keterwakilan perempuan dalam kegiatan-kegiatan
rembug desa. Tetapi seiring dengan alokasi anggaran program ini
menurun, tingkat kehadiran masyarakat dalam rembug semakin
menurun.

Dokumentasi Kegiatan Musyawarah dan Identifikasi


Permasalahan Desa dalam Kegiatan PNPM

B. Peran Masyarakat Dalam Pemanfaatan Ruang


Masyarakat Kabupaten Katingan sebagian besar menggantungkan hidupnya
pada kondisi alam. Hutan adalah sumber penghidupan bagi masyarakat, selain
danau dan sungai sebagai tempat mencari ikan dan jalur transportasi. Sejak
adanya larangan dari pemerintah mengambil hasil-hasil hutan yang lebih
disebabkan oleh illegal logging, pola hidup masyarakat menjadi terganggu.
Tetapi sejauh ini masyarakat mematuhi larangan pemerintah tersebut. Apabila
terdapat konflik lahan dalam pemanfaatan ruang, lembaga adat yang akan
berperan dalam penyelesaian sengketa.

13
Pada program pembangunan infrastruktur perdesaan yang digagas
dalam program PNPM, PPIP dan CWCM, masyarakat terlibat langsung
dalam kegiatan, salah satunya swadaya dalam pembersihan lahan.

Sungai dan Danau sebagai Sumber Penghidupan Masyarakat

Kegiatan Pembangunan Infrastruktur yang Melibatkan


Masyarakat

14
Beberapa kecamatan di Kabupaten Katingan termasuk dalam
Kawasan Strategis Nasional (KSN) Heart of Borneo. Sebuah lembaga
internasional WWF telah menggagas untuk pemanfaatan alam yang
lestari melalui beberapa kegiatan, salah satunya adalah
pengembangan kegiatan ekowisata yang berbasis masyarakat di Desa
Baun Bango, Jahanjang dan Keriung Kecamatan Kamipang. Di ketiga
desa tersebut terdapat beberapa buah danau yang selain
dimanfaatkan masyarakat untuk mencari ikan, juga mempunyai
potensi wisata.

Beberapa danau sebagai ekowisata berbasis


pemberdayaan masyarakat

C. Peran Masyarakat Dalam Pengendalian Pemanfaatan Ruang


Pengendalian pemanfaataan sumber daya hutan, hutan bakau, danau dan
sungai seringkali dibungkus oleh mitos. Sebagai contoh ada perkampungan
yang kosong namun dipercaya oleh penduduk sebagai perkampungan dari
makhluk gaib sehingga tidak diperkenankan untuk ditebang. Menurut ada juga
dipercaya jika berburu dilakukan pada hari senin dan kamis. Selain itu, adat
juga melarang untuk menangkap ikan dengan menggunakan bahan peledak

15
D. Hutan, Sungai, dan Danau; Kearifan Lokal Khas Masyarakat
Baun Bango

“Kami memang berbeda-beda agama sekarang; Islam, Kristen, dan


Kaharingan. Tapi kami berasal dari nenek moyang yang sama… leluhur yang
sama, dan tradisi yang turun temurun untuk hidup bersama dengan alam.
Mewarisi tinggalan leluhur kami untuk hidup dengan hutan, sungai, dan
danau”
Suwardjono Asnan, Damang Kamipang, 37
tahun

Pernyatan Damang Kamipang di awal tulisan ini memperlihatkan


bahwa alam; hutan, sungai, dan danau bukan saja merupakan ruang hidup
bagi masyarakat Dayak Katingan tetap juga bagian dari keberlangsungan
eksistensi budaya masyarakat Dayak Katingan khususnya di Baun Bango.
Begitu lekatnya hubungan manusia Dayak dengan alamnya, sehingga alam
juga dipandang layaknya seorang ibu yang harus dihormati, dimuliakan, dan
dirawat dengan penuh kasih.
Menurut Schärer (1963), masyarakat Dayak mengenal adanya dualitas
kekuasaan (bukan dualisme) yang dimanifestasikan ke dalam tiga ‘wilayah’
kekuasaan: Pantai Danum Sangiang (Dunia Atas) yang dikuasai oleh Allah
Tertinggi (Ranying Mahatala Langit), Pantai Danum Kalunen (Dunia Manusia)
dan Pantai Danum Basuhun Bulau Saramai Rabia (Dunia Bawah) yang dikuasai
oleh Jatha Balawang Bulau. Dunia Atas dan Dunia Bawah merupakan dualitas
yang menyatu, yakni dua aspek: maskulin dan feminin.
Sebagai manusia yang menjalani dan menaati “ hadat”, masyarakat
Dayak sangat menjaga harmonisasi hubungan ketiga dunia tersebut. Apabila
terjadi pelanggaran terhadap hadat yang mengatur hubungan triarkis antara
manusia dengan Tuhan dan alam, maka kewajiban manusia adalah melakukan
restorasi dari sistem kosmis yang dirusak dan melakukan pemulihan
(recovery) sehingga keseimbangan kosmis dapat terpelihara dan memberikan
kesejahteraan bagi umat manusia di muka bumi.
Masyarakat Dayak percaya bahwa bumi yang ditempati sebagai
“pinjaman” atau “dunia yang ditopang oleh kekuasaan dualitas Dunia Bawah
(Jatha Balawang Bulau)” bersama-sama dan satu dengan Dunia Atas ( Ranying
Mahatala Langit). Oleh karenanya, masyarakat Dayak diwajibkan menjaga
keselarasan hubungan antarsesama manusia, alam dan hubungan dengan
Tuhan.
Dengan demikian, mereka dapat memperoleh kemaslahatan dari apa
yang diperlakukannya kepada sesama dan alam dalam rangka menuju
keselarasan hubungan dengan Tuhan. Di dalam mencapai misi menuju
16
kematian sempurna setelah dilakukan upacara tiwah ( good dead, Scharer
1963), mereka terlebih dulu menaati “hadat” melalui perbuatan baik (kepada
sesama manusia, Tuhan, dan alam).
Perspektif masyarakat Dayak dalam memperlakukan alam sungguh
sangat kontrastif dengan perspektif ekonomis. Masyarakat Dayak
berpandangan bahwa alam beserta isinya bukanlah sebuah benda mati
semata. Di dalam perspektif etnoreligi Kaharingan, semua benda alam
memiliki semacam roh, yang disebut ‘gana’. ‘Gana’ ini tidak terbatas pada
sesuatu yang bergerak atau bernapas.
Semua yang diciptakan oleh Tuhan, baik berupa benda hidup maupun
maupun benda mati, menjadi keharusan untuk diperlakukan secara baik.
Flora dan fauna yang ada di alam dianggap memiliki hak yang sama untuk
memperoleh perlakuan yang baik. Seluruh flora dan fauna yang memberikan
kemaslahatan (beneficiary) bagi masyarakat Dayak mendapatkan perlakuan
yang baik.
Pohon kayu, sebagai contoh, ketika menimpa salah seorang warga
kampung yang mengakibatkan meninggal dunia, akan dilakukan ritual yang
disebut “mangayau kayu”. Ritual ini bertujuan untuk menyelaraskan kembali
hubungan yang tercederai antara manusia dengan ciptaan Tuhan lainnya.
Ritual ini diakhiri dengan memotong kayu yang menimpa warga tersebut. Dan
digambarkan bahwa kayu akan mengeluarkan darah. Artinya, bagi masyarakat
setempat kayu tersebut memiliki roh.
Alam merupakan “titipan atau pinjaman”dari Tuhan ( Lewu Injam
Tingang) yang hanya bersifat sementara. Oleh karenanya, manusia hanya
mengusai alam dengan arif dan bijaksana. Mereka tidak memiliki kekuasaan
terhadap alam, sebab alam telah diciptakan dan diatur tatanannya oleh Tuhan
(Ranying Mahatala Langit).
Karena alam berupa “titipan atau pinjaman”, maka manusia hanya
memanfaatkan alam seperlunya saja untuk kepentingan mempertahankan
hidup. Hal ini tercermin dalam perilaku masyarakat Dayak di dalam menjaga
agar komponen di dalam alam dapat dimanfaatkan secara berkesinambungan.
Hutan, misalnya, merupakan komponen penting bagi kelangsungan hidup
mereka. Di dalam memanfaatkannya tidak dilakukan dengan sembarangan
dan membabi buta.
Jauh sebelum adanya pemikiran tentang konservasi dan hutan
lindung, masyarakat Dayak sudah mencadangkan kawasan hutan. Mereka
memiliki hutan cadangan yang disebut pukung pahewan (hutan adat; hutan
cadangan). Hal ini dimaksudkan sebagai penyangga keanekaragaman hayati
dan cadangan bagi generasi mendatang.
Kayu dianggap secara filosofis memiliki 'roh', karena daripadanya
masyarakat Dayak memperoleh manfaat bagi kehidupan. Penyucian hubungan
tersebut dimaknai sebagai bagian dari upaya menjaga harmonisasi hubungan
17
manusia dengan alam yang berimplikasi kepada keseimbangan kosmis secara
menyeluruh.
Sumber-sumber yang dianggap relevan untuk memahami religi
masyarakat Dayak terhadap keseimbangan kosmis adalah melalui mite-mite
Termasuk di dalamnya mitos-mitos tentang hutan adat dan satwa tertentu.
Perlakuan masyarakat Dayak terhadap aneka satwa, misalnya menyiratkan
kearifan mereka di dalam pemenuhan kebutuhan hidup ( need for life
fulfillment).
Mereka percaya bahwa tidak semua satwa dapat dibunuh dan
dijadikan makanan. Ada beberapa jenis satwa yang dilindungi, di antaranya
burung tingang atau enggang dan elang, misalnya. Burung enggang
merupakan simbol penguasa Alam Atas, sedangkan burung elang dianggap
sebagai burung “pemberi tanda” atau “petunjuk” (dahiang) (bdk.Riwut, 2003).
Harmonisasi hubungan manusia dengan alam merupakan manifestasi
dari bakti manusia Dayak kepada Tuhan melalui benda-benda ciptaan-Nya.
Masyarakat Dayak percaya bahwa “apa yang ditabur, itulah yang dituai”. Oleh
karenanya, mereka menganggap pelestarian alam adalah tanggung jawab
yang harus diemban manusia.
Perlakuan terhadap alam seperti halnya perlakuan kepada sesama
manusia. Apa yang diberikan oleh alam merupakan karunia Tuhan yang harus
dijaga keberlangsungannya. Oleh karena itu, perlakuan yang baik dalam
mengusahakan alam bagi kepentingan hidup manusia akan memberikan
dampak yang baik bagi kehidupan manusia.
Pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup dapat berjalan
seiring dengan kemajuan pembangunan dengan berbasis pengetahuan lokal
tentang pertanian, peternakan, dan perkebunan, serta pengelolaan hutan
konservasi. Penggalakan usaha mikro, seperti pemeliharaan ikan dalam kolam
yang disebut beje, pengelolaan danau adat bagi nelayan tradisional, dan lain-
lain, merupakan kearifan dan pengetahuan lokal yang akan terus
dikembangkan.
Budidaya padi dan palawija serta sayur-mayur hutan, buah-buahan
hutan, dan lain-lain, termasuk tanaman hutan bagi pengobatan dan
kesehatan. Pada bidang perikanan, misalnya terdapat berbagai teknologi lokal
yang ramah lingkungan, seperti alat tangkapan ikan tradisional, kegiatan
manuwe (menuba) ikan dari getah pohon alami dan tidak berbahaya bagi
kesehatan.
Beberapa alat tangkapan tradisional lainnya, seperti jerat, dondang
(sejenis tombak pelontar), rangkep (perangkap), dan lain-lain, tidak bertujuan
untuk mengakibatkan terjadinya kepunahan. Semua aktivitas pengusahaan
alam dan hutan didasarkan pada pemahaman pemikiran yang telah dibuktikan
berabad lamanya demi kepentingan generasi setelahnya.

18
Pola Rumah dan Pemukiman
Letak kawasan permukiman di kawasan perdesaan maupun di
perkotaan Pulau Kalimantan pada umumnya berada di sepanjang aliran
sungai. Sungai merupakan urat nadi kehidupan masyarakat di Kalimantan,
karena kegiatan perekonomian dan transportasi masih mengandalkan sungai.
Desa Baun Bango terletak di pinggiran Sungai Katingan. Sungai Katingan
adalah sungai terpanjang kedua di Kalimantan Tengah yang memilki panjang
±650 Km, lebar ±300 Meter dan kedalaman terendah ± 6 M.
Tipologi permukiman di Desa Baun Bango adalah linier mengikuti pola
aliran sungai. Walaupun demikian, masyarakat masih menjadikan sungai
sebagai ‘halaman belakang’. Sungai dimanfaatkan sebagai ‘kamar mandi
terapung ’ dimana tempat mandi, cuci dan kakus berlangsung. Halaman
depan hampir seluruhnya menghadap ke jalan desa. Di seberang jalan desa
apabila mengambil orientasi sungai, terdapat satu lapis permukiman yang
menghadap ke jalan. Walaupun halaman belakang permukiman lapis kedua
adalah kebun, tetapi untuk aktifitas mandi cuci kakus, masyarakat masih tetap
melakukannya di sungai.
Desa Baun Bango adalah Ibukota Kecamatan Kamipang. Kantor
pemerintahan seperti Kantor Kecamatan, Kantor Koramil dan Kantor Polisi
berada di desa ini. Saat ini, letak kantor-kantor tersebut berada di lapisan
kedua permukiman, menyatu dengan perumahan warga masyarakat. Kantor
pemerintahan tersebut akan direlokasi ke suatu lokasi khusus, sedikit jauh dari
pusat permukiman, di wilayah pintu masuk menuju Desa Baun Bango dari
arah Karang Pange.
Fasilitas pelayanan masyarakat yang terdapat di Desa Bango adalah
Puskesmas, pasar dan sekolah sampai dengan level SLTP. Sama halnya
dengan letak fasilitas pemerintahan, letak fasilitas pelayanan tersebut berada
di lapis kedua permukiman. Fasilitas perekonomian yang ada adalah pasar
desa yang beroperasi hanya pada hari sabtu sore sampai tengah malam. Pasar
ini berada di lapis kedua permukiman. Fasilitas perekonomian lainnya adalah
toko dan warung milik pribadi masyarakat yang tersebar di tengah-tengah
permukiman.
Sesuai dengan agama yang dianut oleh masyarakat Desa Baun Bango
yaitu Islam, Kristen dan Hindu Kaharingan, fasilitas untuk beribadah masing-
masing agama tersebut berada di tengah-tengah permukiman. Konstruksi
rumah dan fasilitas pelayanan masyarakat tersebut pada umumnya adalah
temporer, dengan pola rumah panggung, sehingga kayu merupakan material
yang utama dalam pembangunan rumah. Tinggi rumah bervariasi dari dari 0,5
Meter – 1 meter. Dinding rumah berupa papan kayu dan atap rumah pada
umumnya terbuat dari seng. Walaupun masih berupa rumah panggung, tetapi
desain rumah sudah mengikuti gaya modern.

19
Hanya terdapat satu rumah yang bercirikan rumah Betang (rumah
khas masyarakat Dayak), yaitu rumah Bapak Jojon seorang tokoh Hindu
Kaharingan. Sesuai dengan namanya, Rumah Betang yang berarti rumah
tinggi, rumah milik Pak Jojon tingginya adalah ± 1, 5 Meter. Material dinding
rumah berasal dari kayu ulin, walaupun atapnya sudah menggunakan seng.
Tata letak ruangan dibagi atas 3 bagian utama. Pertama adalah ruang depan
yang sangat luas, yang berfungsi sebagai tempat berkumpulnya keluarga
sekaligus berfungsi sebagai ruang tamu. Ruang depan rumah adat Betang
memang selalu luas yang bermakna keterbukaann dan kebersamaan yang
merupakan karakter dari masyarakat Dayak. Kemudian yang kedua adalah
ruangan tengah, dimana letak kamar tidur berada, yang dipisahkan oleh
sekat-sekat. Terakhir adalah ruangan belakang berupa dapur.
Selain Rumah Betang, rumah tradisional yang ditemukan di Desa Baun Bango
adalah Rumah Apung, yang berada di atas Danau Jalapangen. Rumah Apung
ini berfungsi sebagai rumah singgah ketika masyarakat mencari ikan di danau
tersebut. Material rumah apung ini seluruhnya adalah kayu dan d
Rumah adalah salah satu hal penting jika ingin melihat bagaimana
masyarakat adat menata ruangnya. Rumah masyarakt adat Katingan pada
hakekatnya di desain untuk menghadap ke arah sungai yaitu arah timur,
menghadap ke matahari terbit.
Rumah yang terbuat dari kayu dan tanpa sekat pagar antar rumah
ingin menunjukan bahwa antar tetangga merupakan satu-satuan keluarga
yang berasal dari leluhur yang sama. Sekat pagar dianggap menunjukan
kesombongan. Batas antar pemilik tanah biasanya hanya berupa tanda-tanda
alam. Walaupun ada kecenderungan sekarang beberapa anggota masyarakat
membuat patok-patok untuk batas wilayahnya,

Merancang Ruang di Baun Bango


Secara umum, masyarakat Dayak Katingan mengenal beberapa
peruntukan kawasan yang diatur secara adat turun temurun seperti; Pukung
Pahewan yaitu kawasan tanah adat dayak Katingan yang dikelola secara turun
temurun serta diwariskan kepada anak cucu sehingga kawasan tersebut
dikembangkan atau dilestarikan menjadi hutan lindung yang dianggap tempat
leluhur serta dikeramatkan sebagai tempat orang halus ( nyaring dan jin),
siapapun tidak boleh menjamah tempat ini, tanpa permisi dan seijin dengan
penghuni kawasan hutan tersebut. Kawasan hutan adat dayak Katingan ini
juga dijadikan sebagai tempat ritual adat secara khusus. Pukung Pahewan
memang tidak terdapat di Baun Bango, akan tetapi jika dalam satu wilayah
adat tingkat Kadamangan Pukung Pahewan.
Kemudian dikenal juga istilah sahepan, yakni merupakan kawasan
tanah adat dayak Katingan dikelola dan dikembangkan menjadi hutan
produksi tempat masyarakat setempat berburu. Di dalam kawasan hutan
20
tersebut banyak binatang buruan yang boleh diburu ataupun dimanfaatkan
dan sumber daya alam dari kawasan tersebut seperti kayu, gemor, getah
pantung, rotan, obat-obatan tradisional dan lain-lain.
Kaleka adalah kawasan tanah adat yang bersejarah yang juga pernah
dikelola secara kearifan lokal oleh nenek moyang pada jaman dulu dan
dijadikan tempat mendokoh (tempat pemukiman kecil), tempat berladang, dan
juga ada peninggalan berupa kuburan, sanding dan tanaman keras, karena
terlalu lama ditinggal sehingga syarakat setempat berburdan sewaktu-waktu
kaleka dapat kembali dijadikan sebagai tempat berladang.
Tajahan merupakan kawasan tanah adat mencakup beberapa nama
yang jauh dari das (sungai) besar. Akan tetapi dibagian ujung anak sungai
kecil wilayah tersebut banyak beje (sejenis kolam), baruh/loto (kolam alami)
dan sekelilingnya ditumbuhi kayu yang besar dan tempat ikan berkembang
biak. Masyarakat setempat dapat memanfaatkan kawasan tersebut pada
musim kemarau dengan menggunakan alat tradisional berupa tangguk,
siap(penjaring) dan lain-lain untuk menangkap ikan. Anak-anak sungai di Desa
Baun Bango secara turun temurun sebenarnya sudah diberi nama sesuai
dengan pemilik anak sungai tersebut. Sebagai contoh Damang Suwardjono
memiliki anak sungai yang berasal dari warisan keluarga. Akan tetapi, tidak
ada larangan jika ada yang akan mencari ikan di anak sungai yang dimiliki
oleh Damang Suwardjono tersebut.
Selanjutnya juga dikenal, bahu yakni kawasan tanah adat Dayak
Katingan yang setiap tahunnya dikelola atau digarap serta digunakan
masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup sebagai sandang pangan.Sifat
kawasan tersbut lebih ke kawasan perluasan lahan pertanian padi gunung,
sayur mayur dan palawija.
Jika melihat bagaimana masyarakat Dayak Katingan di Baun Bango
merancang dan merencanakan ruang salah satu hal yang cukup menarik
adalah bahwa masyarakat Dayak di Baun Bango sudah memiliki sebuah
rencana yang disebut zona tradisional indikatif Desa Baun Bango. Keinginan
dari masyarakat Baun Bango bahwa dari tepi sungai Katingan sampai 10 km
masuk ke hutan adalah tanah yang bisa diolah oleh masyarakat karena
mereka merasa bahwa tanah tersebut sudah diturunkan secara turun temurun
dari leluhur mereka. Jarak 10 km itu juga diambil berdasarkan kemampuan
maksimal jarak tempuh dari warga untuk masuk dan mengolah hutan. Zona
tradisional indikatif Desa ini merupakan rancangan yang disusun dengan
melibatkan masyarakat pendukung adat di Baun Bango.
Karakter masyarakat Dayak yang sangat menghargai leluhur serta
pengaruh Animisme/Dinamisme yang pernah ada di masyarakat, dapat terlihat
dalam bagaimana Dayak Katingan Hilir memberi nama untuk desa tempat
mereka tinggal. Nama-nama leluhur yang dipercaya masyarakat pertama kali
membuka daerah pemukiman selalu diberi untuk nama desa/wilayah yang
21
dibuka tersebut. Selain itu nama-nama pohon besar yang pernah ada di
daerah tersebut juga sering dijadikan nama wilayah.
Untuk toponimi Baun Bango, ada cerita yang melegenda di
masyarakat. Diceritakan seorang pria bernama Bango, dari desa Hulu Tewang
Sanggalan Garing, berwisata sepanjang Katingan dalam mencari tempat yang
baik untuk hidup dan ketika ia melihat tempat yang sesuai kebutuhan, ia
membabat dan membakar hutan, dan cenderung menjadi ladang tersebut ada
. Setelah beberapa tahun tinggal sini ia pergi ke tempat lain dan tidak pernah
kembali. Dengan kepergiannya, tempat dikenal sebagai bahun, atau ladang
tersebut yang tersisa untuk kembali ke hutan. Sejak itu wilayah ini selalu
disebut bahun Bango. Artinya, mantan ladang tersebut dari Bango, yang
merupakan manusia pertama untuk menambah hidup di tempat tersebut. Hari
ini tidak ada di desa tahu di mana Bango pergi, atau bahkan di mana ia
dimakamkan. Tempat tetap tanpa pendudukan manusia selama bertahun-
tahun. Seiring waktu, banyak pemukiman baru bermunculan di sepanjang
Sungai Katingan.

Memanfaatkan Hasil Alam di Baun Bango


Masyarakat Dayak Katingan di Baun Bango juga mengenal beragam
pengaturan peruntunkan tanah. Seperti Petak Katam adalah tanah adat dayak
Katingan berwarna kuning muda yang berada dipinggir sungai, kemungkinan
bisa dibangun untuk permukiman masyarakat atau bisa juga dijadikan sebagai
perkebunan karet, cempedak, durian, ramunia dan lain-lain.
Kemudian Petak Pamatang adalah tanah adat dayak ngaju sejenis
tanah mineral (padat) yang bisa digunakan untuk perladangan, tanaman
rotan, karet, buah-buahan dan lain-lain.
Selanjutnya, Tanah Sahep adalah tempat masyarakat adat dayak
ngaju berusaha mencari napkah sehari-hari untuk keebutuhan rumah tangga.
Tanah Sahep ini terdiri dari dua jenis, yang pertama adalah tanah gambut tipis
antara 50 cm – 1,5 cm, tanah ini masih bisa dijadikan tempat pertanian padi
gunung, sayur mayur, palawija dan juga bisa dijadikan tempat perkebunan
karet, rotan dan lain-lain dan tanah sahep yang kedua adalah tanah gambut
dalam di atas dari 2 meter -16 meter, tanah gambut dalam ini tidak bisa
dimanfaatkan sebagai tempat perkebunan karet atau pertanian, kawasan ini
hanya bisa dikembangkan tanaman hutan untuk industri, jelutung, rotan,
gemur dan jenis-jenis kayu yamg cocok hidup dan yang dianggap bermanfaat
untuk kehidupan masyarakat adat dayak ngaju. Di daerah gambut dalam ini
juga sering terendam air akan tetapi rendamannya tidak terlalu lama.
Tanah Luwau adalah sejenis tanah yang bergambut dalam sering
terendam lama oleh air dan bisa mencapai setengah tahun terkecuali baru
terlihat tanahnya apa bila musim kemarau panjang yang mencapai 3 bulan-4
bulan lamanya. Di tanah luwau ini banyak danau-danau besar atau pun kecil
22
dengan kedalaman 10 meter-20 meter di sinilah temat ikan-ikan besar
berkembang biak dan selain itu banyak juga buaya, ular bermacam-macam
jenis, kura-kura, biyuku ,bidawang, kodok besar dan lain. Tanah luwau ini
juga ditumbuhi kayu yang besar dan bagian bawah ditumbuhi rerumputan
atau akar-akaran juga sering terdapat pohon gemur. Wilayah tanah luwau ini
tidak bisa dijadikan tempat berkebun dan berladang, hanya yang bisa untuk
dijaga serta di lestarikan dan kawasan ini sebagai tempat masyarakat adat
dayak ngaju berusaha mancari ikan, mencari gemur, kayu untuk bahan
bangunan rumah serta obat-obatan tradisional dan sebagainya nya. Tanah
luwau sangat berguna sekali karena bisa digunakan sebagai pupuk organik.
Konsep tata kelola tersebut telah dijalankan selama bertahun-tahun
oleh Masyarakat Adat Dayak Katingan, hal itu telah berhasil menjaga
kelestarian gambut sekaligus telah menyumbangkan perekonomian bagi
warga setempat dan daerah.
Selama musim kemarau, masyarakat bisa menutupi kebutuhan hidup
dari hasil penjualan getah karet dan mencari ikan di sungai dengan tinggal di
Pondok yang didirikan di anak-anak Sungai. Namun ketika musim hujan tiba,
getah karet mereka tidak bisa disadap. Kalaupun dipaksa, hasilnya tidak
maksimal bahkan batang karet terancam mati. Untuk memenuhi kebutuhan
hidup dimusim hujan, sebagian menanam padi ladang gunung jenis geragai,
sambil menunggu padi dipanen, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,
masyarakat mencari rotan di hutan, mencari kulit gemur, serta menangkap
ikan di sungai /besar, danau, baruh/loto (kolam Alami) dan beje.

Salah seorang sesepuh desa menuturkan:


"Nenek moyang kami merasa di rumah ketika mereka pertama kali datang ke
sini. Ada banyak pekerjaan yang bisa mereka lakukan di sini. Meskipun
mereka tidak bisa membaca atau menulis seperti yang kita lakukan, mereka
bijaksana memilih tempat yang dapat mendukung seluruh desa. Ada sungai
dan danau untuk menyediakan kehidupan rakyat. Jadi bahkan jika orang bisa
mengatakan bahwa nenek moyang kita yang bodoh karena mereka tidak bisa
membaca atau menulis saya merasa bahwa sampai sekarang banyak dari kita
masih mendapatkan keuntungan dari hasil pemikiran mereka dan tenaga kerja
mereka. Pekerjaanan kita lakukan hari ini masih meniru mereka. "
Seiring waktu, sumber daya yang sama akan mendukung rakyat Baun
Bango dalam mendapatkan akses ke pasar yang lebih luas dan kemampuan
untuk menjadi pedagang, serta akses terhadap pendidikan dan kesempatan
kerja yang lebih baik bagi anak-anak mereka.
Orang Dayak Katingan dapat melakukan berbagai jenis pekerjaan
dalam sehari. Kadang-kadang tampak bahwa orang-orang peduli tentang
pekerjaan lebih dari bahkan tidak peduli berapa hasil yang diperoleh.
Meskipun sejumlah keluarga di Baun Bango terlibat dalam perdagangan kecil
23
dan beberapa individu pekerja negeri sipil, pembahasan di sini berfokus pada
tugas atau pekerjaan yang bergantung pada sumber daya alam dan terlibat
dalam oleh mayoritas rumah tangga desa. Pekerjaan ini memerlukan keahlian
dan ketarmpilan untuk mengolah sumber daya yang tersedia secara lokal,
untuk keperluan sehari-hari maupun dan pendapatan individu dan rumah
tangga. Kategori ini termasuk bentuk-bentuk pekerjaan yang rakyat Baun
Bango mengatakan mereka warisi dari nenek moyang mereka, seperti
perladangan berpindah, berburu, memancing, dan mengumpulkan hasil hutan
non-kayu. Kategori ini juga mencakup sumber penghasilan yang relatif "baru",
seperti penebangan, dan sumber-sumber mata pencaharian penduduk
setempat sebut sebagai "eksperimental", seperti penanaman varietas unggul
padi di rawa.
Sebagai orang yang dijadikan narasumber mengatakan, Dayak
Katingan diri Baun Bango dapat membagi waktu antara beberapa tugas,
masing-masing yang diarahkan memanfaatkan keadaan yang berbeda dan
bentuk mata pencaharian. Sebagian besar pilihan mata pencaharian dapat
dilakukan sepanjang tahun, tetapi masing-masing memiliki musim puncaknya.
Mata pencaharian Dayak Katingan dari Baun Bango adalah tak terpisahkan
dari lingkungan, seperti ritme kehidupan sehari-hari yang terkait dengan irama
musim alami.
Dalam kenangan sesepuh di Baun Bango sejarah Baun Bango, yang
hidup dan berkehidupan dari ladang merupakan sumber utama makanan bagi
leluhur mereka. Masyarakt Dayak di Baun Bango hari ini harus mampu
mengantisipasi kedatangan bulan kering dan musim hujan untuk keberhasilan
dan efisiensi kehidupan mereka. Hal ini terjadi jika cuaca dan musim sesuai
dengan perkiraan waktu.
Dalam bulan Juli dan Agustus, hujan mulai berkurang dan tingkat air
Sungai Katingan perlahan merayap lebih rendah. Ini adalah ketika orang
memutuskan apakah mereka akan mempertahankan ladang untuk tahun ini
atau tidak. Hal ini tergantung pada ketersediaan tenaga kerja dalam rumah
tangga, atau apakah anggota rumah tangga akan tersedia untuk memantau
ladang selama enam bulan. Anggota rumah tangga juga mempertimbangkan
apakah sumber mata pencaharian lain yang diantisipasi akan lebih
menguntungkan dan / atau produktif bagi tahun. Rumah tangga yang lebih
memilih untuk menginvestasikan waktu dan tenaga mereka dalam perikanan,
pembalakan, atau bentuk-bentuk kehidupan dapat keluar dari perladangan
berpindah. Umumnya petani Dayak mengatakan bahwa ladang yang dibuka
di hasil hutan primer lebih dari bahun Meskipun tidak ada informan yang
disebutkan ini, menarik untuk dicatat bahwa untuk beberapa Dayak waktu
untuk memulai pembakaran itu ditandai dengan arah di mana angin bertiup
(Knapen 2001: 191).

24
Singkong merupakan tanaman yang dominan di Baun Bango. Kadang-
kadang mereka akan menanam sepetak sayuran di salah satu sudut ladang,
dan deretan jagung dan kacang di antara singkong. Selain itu Dayak Katingan
di Baun Bango juga mencari ikan di danaau dan anak-anak sungao. untuk
membeli makanan dan kebutuhan lainnya. Menangkap ikan sumber sekunder
penghidupan Hal ini disebabkan oleh peningkatan frekuensi banjir yang
menghancurkan tanaman. Musim untuk untuk menangkap ikan memerlukan
lebih banyak waktu dihabiskan di pondok yang tersedia di anak-anak sungao
daripada di tempat tinggal permanen di desa.
Rotan dipanen di sekitar Baun Bango berasal dari hutan tanaan
rakyat, atau kebon rotan. Setiap penduduk yang tinggal di sepanjang sungai
tertentu tradisional memiliki hak untuk mengumpulkan rotan dalam wilayah
sungai. Izin harus dicari pertama dari kepala desa di daerah tertentu, hanya
untuk mencegah dua orang atau lebih dari bersaing atas rotan berdiri sama.
Dalam menanggapi ancaman terhadap hak ulayat mereka atas tanah, Dayak
mengambil budidaya rotan. Ketika harga naik, kebun bisa dipanen, ketika
harga rendah, kebun dibiarkan saja seperti mereka. Perkebunan rotan di Baun
Bango berasal setidaknya empat cara yang berbeda pada saat penelitian
lapangan: 1) perkebunan yang diwarisi dari generasi sebelumnya, 2) dalam
beberapa kasus informan ditanam rotan tanah warisan dari orang tua mereka,
3) perkebunan juga bisa dibeli dari penduduk desa lainnya (keputusan untuk
menjual perkebunan rotan biasanya berasal dari kebutuhan uang tunai
langsung), dan 4) Setelah itu, informan di Baun Bango mengatakan bahwa
mereka bisa memanen rotan dari hutan tanaman mereka setiap tiga sampai
lima tahun. Lebih dari ini akan membunuh tanaman. Menurut mereka bahwa
perkebunan rotan dimiliki, ketika mereka telah mencapai tahap ini tidak perlu
untuk melakukan banyak pekerjaan pemeliharaan, kecuali untuk memastikan
bahwa pohon-pohon dan semak-semak di perkebunan tidak tumbuh terlalu
tinggi dan bersaing dengan rotan untuk cahaya. Ada dua jenis komersial rotan
tumbuh di taman-taman Baun Bango. Ini adalah rotan irit (Calamus
trachycoleus) dan rotan sigi (Calamus caesius).
Baik pria maupun wanita bisa melakukan pekerjaan panen rotan.
Biasanya, rumah tangga kaya yang memiliki tiga atau lebih kebun
mengundang tetangga dan teman-teman mereka untuk membantu panen.
Rumah tangga miskin yang memiliki perkebunan rotan akan bergantung
hanya pada anggota rumah tangga untuk mendapatkan pekerjaan yang
dilakukan. Tergantung pada ukuran perkebunan, mereka mungkin bekerja
beberapa hari dari pagi hingga sore hari. Waktu panen dapat berlangsung
hingga satu bulan untuk beberapa pemilik perkebunan. Tanaman merambat
rotan berduri ditarik ke bawah dan dilucuti. Tanaman merambat dilucuti
diukur, dipotong, dan diikat bersama-sama dalam bundel dari 100 buah
masing-masing. Kemudian laki-laki membuat beberapa perjalanan membawa
25
berkas ke sungai di mana rotan yang terikat dalam air untuk merendam.
Basah, rotan mentah dijual dalam satuan 100 kilogram, atau pikul. Sebuah
perkebunan rotan padat dibudidayakan seluas dua hektar dilaporkan
menghasilkan hingga enam ton rotan dalam satu panen. Pendapatan dari
panen dibagi secara merata antara masing-masing pemanen dan pemilik
perkebunan - Satu banding Satu, seperti yang mereka katakan.
Di Baun Bango, ada sekitar sebelas teknik memancing yang berbeda.
Kegiatan menangkap ikan di Baun Bango dapat dikelompokkan menurut
tujuan: memancing rezeki rumah tangga, dan memancing untuk tujuan
komersial.
Teknik-teknik sederhana untuk memancing rezeki adalah memancing dan
penggunaan jaring kecil Kadang-kadang jaring membentang di daerah banjir
atau sebagian dari rawa-rawa untuk satu hari. Di tanah tergenang di sekitar
desa-desa orang ditetapkan kait dan umpan melekat pada tongkat yang
berfungsi sebagai pelampung. Orang juga mengatur jaring kecil dekat dengan
sungai-bawah sepanjang anak sungai dan sungai. Metode ini biasanya
didirikan di pagi hari dan ketika pemilik kembali di sore mereka mengambil
apa pun ikan telah tertangkap. Kesederhanaan kegiatan ini dan jaminan
bahwa selalu ada menangkap, tidak peduli seberapa kecil, memberikan kesan
berlimpah ikan di sekitar Baun Bango.
Penduduk desa yang memiliki dalam ces untuk sungai utama, atau membuat
jalan mereka ke dalam labirin sungai, kanal, dan danau yang mengelilingi
Baun Bango. Anggota rumah tangga bekerja sama saat memancing. Rumah
tangga yang terlibat dalam penangkapan ikan untuk tujuan komersial
membangun pondok, atau rumah sementara, di lokasi pemancingan yang jauh
dari desa, biasanya di mulut sungai dan kanal memancing, atau di tepi anak
sungai yang mengarah ke danau. Kadang-kadang dua keluarga inti yang
terkait satu sama lain tetapi milik rumah tangga yang terpisah dapat
bergabung bersama dalam memancing dan berbagi satu pondok, atau
penampungan sementara. Anggota rumah tangga dapat menghabiskan waktu
hingga dua bulan di pondok ini, hanya akan kembali ke desa untuk mengisi
persediaan dasar seperti gula, kopi, beras, dan bahan bakar.
Puncak kegiatan penangkapan ikan selama musim panas yang panjang, ketika
air surut secara drastic..Masyarakat di Baun Bango biasanya mulai kegiatan
penangkapan ikan pada bulan Juni atau Juli.
Berburu menjadi bagian penting dari kehidupan banyak kelompok
Dayak. Namun di Baun Bango berburu merupakan kegiatanyang sudah jarang
dilakukan Menurut informan rusa pernah berlimpah di hutan sekitarnya Baun
Bango. Dilihat dari set setidaknya satu set tanduk rusa menghiasi dinding
hampir setiap rumah di Baun BangoAda sangat sedikit pemburu tersisa di
Kamipang seperti kebanyakan orang telah masuk Islam dan mungkin tidak
menyentuh atau makan daging babi hutan , yang merupakan permainan yang
26
umum ke daerah. Para pemburu dari Baun Bango adalah Protestan dan / atau
penganut Hindu Kaharingan. Pemburu melaporkan bahwa tidak ada
kekurangan babi hutan, karena mereka berkembang biak dengan cepat.
Anggota laki-laki Kristen dan Hindu Kaharingan sesekali akan berburu. Mereka
akan berburu sendirian, atau berpasangan, disertai dengan hingga empat
anjing yang mengejar babi ke sungai di mana pemburu menunggu di perahu
dengan tombak itu.
Ketika para pemburu berangkat perangkap, mereka harus memberikan
persembahan telur dan rokok kepada roh-roh wali di hutan. Ritual ini disebut
ngariaw. Menurut pemburu persembahan berfungsi baik untuk meminta izin
dari roh wali, serta untuk memanggil babi liar untuk perangkap. Para pemburu
biasanya membatasi diri pada satu babi seminggu. Kelebihan daging asin dan
udara kering atau diasapi. Daging kering diambil hulu ke Petak Bahandang,
atau Kasongan di mana terdapat diduga banyak orang Kristen dan Hindu
Kaharingan yang membeli daging dari mereka. Kadang-kadang pemburu akan
mengambil sebanyak satu pikul (100 kilogram) hulu dan membuangnya di
Kasongan. Meskipun orang-orang Baun Bango dapat memilih untuk terlibat
dalam perburuan sepanjang tahun, babi hutan yang paling berlimpah ketika
pohon seperti durian berbuah di hutan dan sekitar desa-desa, di bulan
November dan Desember.
Para pemburu dari Baun Bango sering dipanggil melalui radio amatir untuk
memburu babi hutan yang telah merampok ladang di desa-desa lainnya. Jadi
tidak ada wilayah tertentu atau batas-batas untuk berburu. Untuk berburu
saat ini di desa tersebut hanya ada 1 orang penduduk yang dikenal masih
sering berburu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Terlepas
yang bersangkutan tidak menganggap itu merupakan pekerjaan utamanya.

Selaras Hidup dengan Alam ?


Schiller (1997:8) yang menuliskan tentang kehidupan agama di
Kalimantan Tengah menunjukkan kecenderungan kalangan elit Dayak
Katingan untuk merealisasikan tradisi sebagai budaya. Objektifikasi ini
mensyaratkan "melihat budaya sebagai sesuatu yang: (a benda alam) terdiri
dari objek dan entitas (" sifat "). Hal ini jelas tidak hanya untuk para pemimpin
agama juga dalam kegiatan dan strategi yang digunakan oleh kalangan elit
Dayak Katingan dalam kaitannya dengan pelestarian lingkungan.
Hal ini sekaligus sebagai upata untuk menunjukan citra orang Dayak
Katingan yang hidup selaras dengan alam. Selain itu, para pengikut
Kaharingan percaya bahwa segala sesuatu di bumi memiliki roh atau jiwa:
"pohon, pisang, ikan, emas, berlian, rumput, tanah, air,". Dalam kehidupan
sehari-hari, hal-hal sederhana ditunjukan untuk memperlihatkan bahwa ada
27
roh-roh yang hidup di lingkungan. Ketika memasuki mulut sungai untuk
pertama kalinya atau setelah absen panjang, orang Dayak akan air mengambil
air di satu tangan dan bilas wajah mereka sebagai cara menyapa roh dan
menangkal bahaya penyakit. Pada beberapa kesempatan dan di sungai di
mana roh-roh yang diyakini sangat kuat, orang Dayak akan turun
mempersembahkan telur di mulut sungai dan bilas wajah mereka. Sepanjang
pinggir sungai di Kalimantan Tengah itu adalah umum untuk melihat bendera
putih atau kuning melambaikan angin, kadang-kadang dekat desa, muara
sungai, atau kadang-kadang di tempat yang tampaknya terisolasi. Bendera ini
adalah bentuk syukur, didirikan oleh dayak Katingan yang menuai manfaat
yang baik dari pekerjaan yang dilakukan di daerah, atau dalam jaringan anak
sungai sungai.
Ruang yang sama di mana orang bekerja dan bergerak ditempati oleh
roh juga dapat terlihat dalam berladang. Sebelum memulai ladang tersebut
baru atau mengumpulkan hasil hutan, Dayak Katingan biasanya akan meminta
izin dari roh-roh sebelum mereka mulai bekerja.
Dalam kepercayaan yang berkembang di masyarakat Dayak di Baun
Bango , ada hal-hal yang sifatnya mitologi, akan tetapi jika ditelisik lebih lanjut
sebenarnya bagian dari masyarakat adat untuk mengendalikan keselarasan
alam sekaligus mempertahankan eksistensi budayanya. Sebagai contoh,
bahwa jika mandi di sungai harus menghadap dari hulu ke hilir, jika tidak
makan akan terkena penyakit yang susah disembuhkan. Ada perkampungan
yang terlihat seperti hutan yang kosong namun sebenarnya merupakan
wilayah perkampungan dari makhluk gaib sehingga tidak diperkenankan untuk
ditebang. Berburu menurut adat akan lebih baik pada hari-hari senin dan
kamis, dan jika mengikuti adat harus ada yang dipersiapkan sebelum berburu
seperti rokok, telur, dan kunyit. Adat melarang untuk menangkap ikan dengan
menggunakan bahan peledak.
Scharer (1963) dan Schiller (1997a) membahas Hindu Kaharingan dan
menunjukan adanya ketertiban dan harmoni dalam kosmos, dalam konteks
ritual. Schefold (2002) menunjukkan bagaimana hubungan antara rakyat dan
berbagai lingkungan mereka dari kemitraan untuk penundukan alam untuk
pemukim imigran, seperti yang terlihat dalam kehidupan sehari-hari serta
interaksi dengan dan persepsi dari dunia lain di lingkungan. Namun, praktek
kontemporer tradisi Dayak Katingan dalam konteks penghidupan memberikan
baik cetak biru untuk konservasi ekologi, atau tabu eksplisit pada kerusakan
ekologi. Sebaliknya, mereka menyediakan sarana melalui mana penggunaan
ruang dan tindakan dalam lingkungan dapat dinegosiasikan dengan berpotensi
jahat spirits. ua.
Dalam ritual manyanggar, yang merupakan ritual Kaharingan izin diminta dari
roh-roh untuk ekstraksi skala besar. Dukun menyebutkan kepada roh-roh jenis
pohon yang akan ditebang, pohon-pohon yang akan dibiarkan berdiri, dan
28
ukuran daerah yang akan terkena dampak. Roh-roh diminta untuk "silahkan
bergerak sedikit, kita perlu menggunakan tempat ini, jadi silahkan pindah dan
tidak mengganggu kita, kita" kembali hanya melakukan tugas kami. "Hewan-
hewan yang ditawarkan dimaksudkan sebagai makanan untuk roh-roh . Pisur
mengatakan perbatasan taman nasional harus dikomunikasikan kepada roh-
roh sehingga mereka dapat memutuskan apakah mereka ingin pindah atau
tinggal tanpa mengganggu kegiatan di taman. Dia melanjutkan dengan
mengatakan, "Kami percaya bahwa hutan ada untuk kebaikan umat manusia.
Manusia tidak bisa hidup tanpa hutan ... Taman nasional bisa menjadi
kawasan lindung skala besar, dan budaya Kaharingan bisa melindungi area
yang lebih kecil dalam lingkup taman. "
Untuk Dayak Katingan dari Baun Bango lingkungan adalah domain
konstan kegitan mereka. Mereka bergantung pada lingkungan untuk sumber
daya yang memungkinkan mereka untuk bertahan hidup dan mendapatkan
penghasilan, dan mereka bergerak melalui sungai dan hutan secara teratur.
Pada gilirannya, pekerjaan mereka atau repertoar mata pencaharian mereka
dianggap oleh mereka untuk menjadi bagian dari identitas mereka. Bentuk
mereka saat ini pemanfaatan sumber daya alam dan interaksi mereka dengan
lingkungan - meskipun beberapa aspek repertoar kehidupan mereka relatif
baru - adalah bagian dari sebuah warisan tradisional mereka dan sejarah
melalui sekarang dan ke masa depan. Perasaan keterhubungan dengan alam
tidak datang dari berdiri di luar alam dan melihat itu sebagai ruang yang
terbatas. Hubungan mereka dengan lingkungan yang tidak sepenuhnya
tertutup oleh kerangka peraturan pemerintah dan pertanyaan legalitas /
ilegalitas.
Untuk Dayak Katingan dari Baun Bango, lingkungan dijiwai dengan
makna lokal dan merupakan bagian tak terpisahkan dari berbagai kegiatan
mereka sehari-hari, mulai dari mandi di tepi sungai untuk penebangan di
hutan.
Masing-masing aktor di Baun Bango akan memandang lingkungannya
secara berbeda, sesuai dengan cara mereka. Karena pelaku memiliki
pengalaman yang berbeda dalam lingkungan, sehingga untuk masing-masing
memiliki gambaran sendiri dari masa depan lingkungan.
Terlepas dari peran penting mereka dalam hidrologi Kalimantan
Tengah, rawa-rawa dan terutama sungai merupakan bagian tak terpisahkan
dari kegiatan ekonomi dan / atau mata pencaharian dan kehidupan sehari-hari
masyarakat. Duduk di tepi sebuah desa di sepanjang sungai utama seperti
Katingan pada hari tertentu, seseorang dapat mengamati keluarga mandi di
sungai, perempuan mencuci pakaian mereka, laki-laki membersihkan kapal
dan memperbaiki jaring mereka, serta rakit panjang beberapa ratus batang
pohon, hilir dipandu oleh perahu-perahu kecil.

29
Perubahan-perubahan dalam struktur geo-politik juga telah membawa
perubahan untuk kapan, di mana, bagaimana dan oleh siapa keputusan dibuat
berkenaan dengan pengelolaan hutan (lihat Casson 2001:10-17). Pada saat itu
adalah mungkin bagi pejabat pemerintah di tingkat desa untuk membuat
keputusan mengenai ekstraksi sumber daya di daerah mereka. Ketika
diwawancarai tentang persetujuan mereka untuk apa yang mereka sebut
"masyarakat logging", pemimpin pemerintahan di tingkat desa berbicara
tentang keuntungan langsung dari penebangan, yang diuntungkan
masyarakat desa.
Ketika penulis mencoba menggali pemahaman masyarakat tentang
sungai, danau, dan hutan ada kekhawatiran bahwa kekayaan alam dan
eksistensi budaya yang ada di dalamnya tidak akan bertahan lama, akan
tergerus oleh zaman. Hal ini juga dapat dibandingkan dengan apa yang LSM
dan pemerhati lingkungan lainnya lihat: bahwa penggerusan ini benar-benar
akan terjadi lebih cepat tanpa tindakan pencegahan kebakaran yang efektif
dan ketat pihak kepolisian dari pembalakan liar.
Dengan metode yang berbeda, orang-orang lokal yang kami
wawancarai mencoba mendeskripsikan tentang masa depan hutan dari
pengalaman mereka bekerja di sana setiap hari selama jangka waktu yang
panjang, dan lintas generasi.
Respon lokal pada masa depan hutan ada yang merrasa masih memiliki
harapan namun ada juga yang pesimis. Hutan yang baik akan tetap ada, atau
akan benar-benar hilang. Apa yang sangat mencolok adalah cara di mana
orang dirumuskan jawaban mereka untuk pertanyaan, Kita sering mendengar
pernyataan seperti, "Jika orang terus menebang pohon, maka hutan pasti
akan hilang". Bahkan orang-orang yang mereka terlibat dalam pembalakan liar
mengungkapkan sudut pandang ini. Kemungkinan hilangnya hutan berulang
kali dibingkai dalam hal hutan yang "terjual habis". Tanggapan ini juga
diartikulasikan oleh masyarakat setempat berkaitan dengan pasar
internasional kayu: "Jika orang-orang masih membeli kayu, hutan akan
hancur". Dapat dibayangkan kehancuran total atau hilangnya hutan juga
digambarkan sebagai masa depan di mana orang akan tidak lagi mampu
bekerja di hutan.

Beberapa responden menyatakan bahwa mudah-mudahan pohon kecil hari ini


akan menjadi pohon besar dalam sepuluh tahun "waktu. Dan jika mereka
tidak? Lalu selalu ada kemungkinan untuk menemukan pekerjaan lain.
Beberapa orang membayangkan bahwa perkebunan rotan mungkin
mengambil tempat dari hutan, dan lain-lain, tidak realistis, berharap untuk
beralih ke pertanian sebagai sumber utama mata pencaharian.
Mengingat keterkaitan ekologis hutan, rawa, dan sungai, dan interaksi
sehari-hari penduduk setempat dengan lingkungan, kami juga mencoba untuk
30
menghubungkan masa depan membayangkan hutan dengan masa depan
membayangkan sungai. Orang-orang menunjukkan lebih banyak kepastian
ketika berbicara tentang masa depan sungai. Banyak yang yakin bahwa sungai
akan terus menjadi berguna untuk transportasi, dan akan terus mendukung
mata pencaharian mereka melalui memancing. Ada juga yang menyatakan
khawatir sedikit tentang menipis ikan, ditandai penurunan tangkapan mereka
dari beberapa spesies.
Seorang informan mencatat bahwa sungai perlahan-lahan surut dan
takut bahwa pada akhirnya rumah di bantaran sungai akan harus pindah
kembali. Pendangkalan juga disebutkan sebagai ancaman terhadap kehidupan
dan memancing sebagai orang-orang lokal tahu itu. Kanal-kanal ilegal logging
dibangun untuk dipersalahkan karena pendangkalan ini. Terlepas dari
hubungan yang diamati antara penebangan, kanal, dan sungai, beberapa
orang tampaknya menyadari bahwa karena drainase dan kebakaran gambut,
tanah terdiri dari tanah gambut akan terus menyusut secara substansial dan
mengakibatkan resiko yang lebih besar dari banjir yang luas dan penurunan
panen ikan. Orang juga menunjukkan bahwa jika praktik penangkapan ikan
ilegal saat menggunakan dinamo atau setrum itu terus berlanjut, maka hasil
tangkapan mereka akan terus menurun dan masa depan akan suram. Namun,
responden yakin bahwa bahkan jika hutan akan benar-benar hancur, sungai
akan tetap seperti itu, dan masih akan menjadi bagian dari kehidupan sehari-
hari mereka.

31
Bagian III
Peran Masyarakat Sawai – Halmahera Tengah

A. Peran Masyarakat Dalam Perencanaan Ruang


Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Halmahera Tengah
telah ditetapkan melalui Peraturan Daerah No 1 Tahun 2012. Peran
serta masyarakat dalam penataan ruang dibahas secara khusus dalam
materi teknis RTRW yaitu dalam Bab 9 dan dalam pasal 55-61 Perda
No 1 Tahun 2012. Pembahasan peran serta masyarakat yaitu tentang
bentuk dan tata cara peran serta masyarakat dalam perencanaan,
pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang. Selain itu
dibahas pula tentang prosedur peran serta masyarakat dan
kelembagaan dalam penataan ruang.

Kegiatan konsultasi publik dalam proses penyusunan RTRW


dilaksanakan sebanyak 2 (dua) kali. Konsultasi publik ini dilaksanakan
di level kabupaten dengan mengundang aparat kecamatan dan tokoh
masyarakat.Kegiatan konsultasi publik ini, lebih pada pemaparan hasil
rencana dan pemberian informasi kepada masyarakat tentang adanya
suatu Rencana Tata Ruang.

Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) yang masih dalam tahap


penyusunan adalah RDTR Kecamatan Patani dan RDTR Kecamatan
Weda Selatan. Kedua kecamatan tersebut telah ditetapkan sebagai
Kawasan Strategis Kabupaten dipandang dari sudut sosial budaya.
Kegiatan konsultasi publik baru dilaksanakan satu kali dengan
mengundang unsur pemerintah kecamatan dan desa, serta unsur
masyarakat. Sama halnya dengan kegiatan konsultasi publik dalam
penyusunan RTRW Kabupaten, kegiatan ini lebih pada pemaparan
hasil rencana dan pemberian informasi kepada masyarakat tentang
adanya Rencana Detail Tata Ruang di Kecamatan Patani dan Weda
Selatan.

B. Peran Masyarakat Dalam Pemanfaatan Ruang


Peran serta masyarakat dalam pemanfaatan ruang salah satunya
tercermin dalam kegiatan pembangunan infrastruktur. Program
32
pembangunan infrastruktur yang ada di Kabupaten Halmahera
Tengah adalah PNPM Mandiri dan Program Pembangunan
Infrastruktur Permukiman (PPIP) dari PU Cipta Karya.

Bentuk dan peran serta masyarakat dalam kegiatan ini adalah


menyumbangkan dalam bentuk pikiran akan ide dan gagasan dalam
peningkatan kualitas lingkungan hidup, menyumbangkan dalam
bentuk tenaga, maupun sumbangan materi yang sebagian besar
berupa sumbangan lahan.

Partisipasi Masyarakat Dalam Pembangunan Infrastruktur

Partisipasi masyarakat dalam hal ini pihak swasta, tercermin dari


program pengembangan masyarakat dari PT Weda Bay Nikel. Lokasi
pertambangan PT Weda Bay Nikel berada di wilayah administrasi
Kabupaten Halmahera Tengah. PT Weda Bay Nikel membentuk
Yayasan Saloi sebagai wadah dalam program pengembangan
masyarakat di 22 desa yang berada di sekitar pertambangan.
Pembangunan infrastruktur yang telah dilaksanakan oleh PT Weda
Bay Nikel, antara lain :
 Instalasi listrik
 Pengolahan air bersih
 Peningkatan jalan dan drainase
33
 Pembangunan dermaga
 Perbaikan sarana ibadah
 Pembangunan sanitasi masyarakat

Pembangunan Infrastruktur Program Pengembangan


Masyarakat PT Weda Bay Nikel

C. Baku Sayang Dari Tanah Sawai

Sekilas Halmahera Tengah


Kabupaten Halmahera Tengah adalah salah satu kabupaten di provinsi Maluku
Utara, Indonesia. Ibukota kabupaten ini terletak di Weda. Kabupaten ini
memiliki luas wilayah 19.971 km2 dan berpenduduk sebanyak 145.234 jiwa
(2000). Luas wilayah Kabupaten Halmahera Tengah tercatat 8.381,48 km²
(daratan 2.276,83 km², lautan 6.104,65 km²). Sekitar 73% wilayah
Halmahera Tengah merupakan lautan, 27 % lainnya merupakan daratan.
Kabupaten Halmahera Tengah terletak di Pulau Halmahera yang merupakan
pulau terbesar di Maluku Utara dengan beberapa pulau/kepulauan di samping
Halmahera sebagai induknya. Kabupaten Halmahera Tengah juga memiliki 37
pulau kecil dimana hanya ada dua pulau yang memiliki penduduk yaitu Pulau
Gebe dan Pulau Yoi. Secara administratif, kabupaten ini terbagi menjadi 8
Kecamatan. Kecamatan-kecamatan tersebut terdiri dari 56 desa/kelurahan.
PDRB Kabupaten Halmahera Tengah, peningkatan ekonomi Halmahera
Tengah tahun 2009-2010 adalah 6,9%, meningkat 1,4% dari tahun 2008-
2009. Tiga sektor pembentuk perekonomian Kabupaten Halmahera Tengah
adalah Sektor Pertanian (43,9%), Pertambangan dan penggalian (18,5%),
Perdagangan, hotel, dan restoran (17,29%).
34
Jumlah penduduk tahun 2010 adalah 42.742 jiwa. Pertumbuhan penduduk
tahun 2000-2010 mencapai 3,01%. Ditinjau dari aspek pendidikan
masyarakat, sebagian besar penduduk berpendidikan SD ke bawah (50,7%).
Suku bangsa yang ada Weda; Suku Sawai, Togutil, dan Suku Tidore.
Sebagian besar penduduk beragama Islam (81,6%), sebagian lagi Protestan
(18,4%) (BPS Halteng, 2011). Secara umum, data wilayah Halmahera Tengah
ditunjukkan pada tabel berikut.
No. Kecamatan Ibukota Luas Jumlah
Wilayah Pulau
1. Weda Weda 182,53 24
2. Weda Selatan Wairoro 817,56 1
3. Weda Tengah Lelilef 351,34 -
4. Weda Utara Sagea 348,25 2
5. Patani Kepai 59,25 3
6. Patani Barat Banemo 64,05 -
7. Patani Utara Tepeleo 53,15 4
8. Pulau Gebe Kapleo 73,56 9
Jumlah 1949,68 43

Pada saat pelaksanaan Sensus Penduduk 2010, jumlah desa di Halmahera


Tengah tercatat sebanyak 48. Setelah Sensus Penduduk 2010, terjadi
pemekaran desa sebanyak 8. Sehingga Jumlah desa di Halmahera Tengah
saat ini berjumlah 56 desa termasuk UPT Waleh (Halteng dalam Angka, BPS,
2011). Pada tanggal 15 Januari 2013 adalah empat tahun perpindahan pusat
pemerintahan Kabupaten Halteng dari Soa Sio Tikep, ke Weda. Sementara 31
Oktober merupakan hari lahirnya pemerintahan Kabupaten Halteng. Sebutan
lain untuk kawasan Halteng adalah Fogogoru yakni mencakup Weda, Patani,
Maba. Tiga Daerah ini merupakan daerah yang mempunyai peran penting
dalam upaya pemerintah Indonesia untuk Pembebasan Irian Barat dari tangan
sekutu. Fagogoru, adalah sebutan bagi tiga daerah tersebut. Dalam satu kisah
yang lain, Fagogoru merupakan anjing depan Kesultanan Tidore untuk
melawan para penjajah dari berbagai sekutu (Albaar, 2008: blogspot).
Sejarah pembentukan Kabupaten Halteng tidak terlepas dari masa Kesultanan
Tidore. Sesuai catatan sejarah, bahwa di kawasan Moloku Kie Raha datang
silih berganti Bangsa Spanyol, Portugis dan Belanda dengan tujuan utamanya
adalah ingin menduduki dan menguasai kawasan Moluku Kie Raha termasuk
wilayah Kesultanan Tidore kala itu.
Pada saat itulah muncul pahlawan Muhammad Amirudin (Sultan Nuku) dengan
Gelar Jou Barakati di Tidore dan Sultan Khairun di Ternate yang bangkit dan
berontak bersama rakyatnya karena tidak rela dijajah.Kesultanan Tidore pada
saat itupun hidup berdampingan secara damai dengan seluruh Kesultanan di
35
Kawasan Maloku Kie Raha karena serumpun dalam adat istiadat dan
kebudayaan. Bahkan konon dalam ikatan keturunan se-ayah dan se-ibu.
Namun demikian masing-masing kesultanan memiliki kekuasaan tersendiri.
Demikian pula dengan kerajaan Tidore mempunyai wilayah kekuasaan. Selain
wilayah Halteng sekarang ini, juga termasuk daerah Kolano Fat, Gugusan
Kepulauan Raja Ampat, yakni Pantai Barat dan Utara Irian, Seram Timur
dengan Pulau-pulau Seram Laut, Gorong, Watu Bela, Kei dan Aru termasuk
Pantai Selatan Irian (Liputan Indonesia, Jumat, 19 April 2013). Sebelumnya,
sejarah kawasan mengikuti kese momole (kerajaaan-kerajaan versi lokal) yang
ceritanya diturunkan secara bertutur dan tidak berupa tulisan.
Bahasa yang digunakan di Weda terdiri dari Bahasa Sawai yang dipergunakan
kurang lebij 12.000 penduduk yang tinggal di Kabupaten Halmahera Tengah.
Desa-desa yang menggunakan Bahasa Sawai terletak di sepanjang pantai
selatan Pulau Halmahera, yaitu Desa Mafa, Foya, Weda, Sidanga, Kobe
Gunung, Kobe Peplis, Lelilef Woebulan, Lelilef Sawai, Gemaf, Sepo, Sagea,
Wale, Messa, dan Dote. Terdapat sedikit perbedaaan dialek di antara desa-
desa tersebut. Ada juga orang Sawai yang tinggal di Kecamatan Ternate,
Tidore, Tobelo dan desa-desa lain yang masih mempergunakan Bahasa Sawai.
Asal muasal Suku Sawai dikisahkan dari seseorang bernama “Cekel” yang
memiliki tubuh besar dan saat ini dipercaya makamnya ada di sekitar Sawai.
Kebesaran Cekel dalam mitologi Sawai dideskripsikan sebagai seseorang
dengan kaki yang jangkauannya mencapai Halmahera Timur. Cekel dianggap
cikal bakal peradaban Sawai. Ada cerita lain yang mendeskripsikan Cekel
ketika masa Sultan Tidore lewat dan melihat Cekel sedang menggoyang-
goyangkan kakinya (disebut dengan bahasa lokal dengan wai-wai =
menggoyang-goyangkan kaki) sehingga dinamakan Sultan dengan nama Suku
Sawai. Mitos tersebut kembali dituturkan oleh Haji Din, seorang sesepuh
Sawai yang tinggal di Weda;
“Cerita Rakyat menuturkan bahwa konon kabarnya pernah diadakan rapat
besar di Kesultanan Tidore masa itu. Semua elemen adat (para pembesar)
yang ada dalam wilayah Kesultanan Tidore diundang untuk menghadiri rapat
dimaksud. Semua pemuka Adat dan Bobato kesultanan telah hadir. Tapi
ternyata rapat belum dapat dilaksanakan karena utusan dari satu suku belum
hadir. Konon untuk dapat menghadiri Rapat di kesultanan Tidore ini, Legae
Cekel dengan kebesaran ilmunya, menyeberangi laut tanpa perahu/sampan.
Dia menggunakan galah untuk melompat dari Desa Akelamo ke atas atol
(depan Kel. Tongowai) yang sengaja dia munculkan sebagai tumpuan kedua
sebelum mencapai Pulau Tidore.
Ketika sampai di depan pendopo kesultanan Tidore dan disambut oleh kerabat
Istana yang lain, beliau tidak langsung masuk namun duduk di teras beranda
sambil menggoyang-goyang kaki dan bertanya “dimana sultan?? Kemudian
Sultan pun keluar untuk menemuinya. Namun alangkah herannya dia karena
36
Sultan ternyata bertubuh kecil jika dibandingkan dengan dia. Menurut
pendapatnya, seorang seorang sultan adalah orang yang bertubuh besar,
kekar dan garang, sambil terus menggoyang-goyangkan kakinya dia berkata
“Sultan kong pe kacil begitu..? karena sudah paham karakter Suku ini, Sultan
pun berucap Sawai wai-wai dan kemudian dikenal Suku ini sebagai Suku
Sawai”.
Terlepas dari pro kontra terhadap legenda tersebut, jejak Cekel sebagai tetua
Suku Sawai masih menjadi hal yang dianggap keramat di Perkampungan
Sawai. Jejak Kapita Cekel yang masih dikunjungi warga adalah telapak kaki
raksasa nya di dibeberapa daerah, misalnya di pertengahan hutan dari Kobe
Kulo Kec. Weda Tengah Kab. Halteng dan Desa Ekor Kec. Wasile Kab. Haltim.
Tapak kaki ini terdapat pula di salah satu desa di sekitar Desa Saketa Kec.
Gane Barat Kab. Halmahera Selatan. Masyarakat Sawai, mempercayai lokasi
makam Cekel terletak + 3 km di belakang SP III Transmigrasi Kobe Kulo,
Weda Tengah.

Suku Sawai Jantung Peradaban di Weda


Perjalanan dari Ibu Kota Kabupaten Weda menuju pusat perkampungan Suku
Sawai ditempuh dalam waktu 1,5 jam dengan perjalanan darat. Kondisi jalan
dalam proses perbaikan dan pengembangan sehingga sebagian jalan
ditempuh dengan mulus sementara sebagian perjalanan ditempuh dengan
melalui jalan berbatu. Satu posisi jalan yang relatif sulit disebut oleh penduduk
lokal dengan “bukit melarat” dengan tingkat kecuraman (elevasi) relatif tinggi.
Memasuki perkampungan suku sawai di Desa Kobe, suasana desa cenderung
sama dengan karakteristik desa-desa yang ada di Pulau Jawa, dengan rumah
kombinasi rumah permanen dan rumah yang terbuat dari papan (kayu)
beratap seng dan cenderung berbentuk kotak.
Perkampungan Suku Sawai asli terdiri dari dua desa yakni Sawai Lelilef
(Lelilep) dan Sawai Woe Bulan. Pembagian ini sudah terjadi relatif lama, sejak
zaman kolonialisme. Perkembangan kerajaan Tidore yang berbasis pada
kerajaan Islam menyebarkan kekuasaan dan agama sekaligus. Dari
perbincangan yang dilakukan di Weda terungkap bahwa pengaruh kesultanan
Tidore terlebih dulu masuk ke Suku Sawai. Penduduk Sawai yang beragama
Islam tinggal di Desa Wei Bulan, sementara yang beragaman Nasrani tinggal
di desa Lelilef Sawai. Kedua desa ini memilki nilai persaudaraan yang kuat
disebut dengan “sekandung” atau sedarah. Kedua desa hanya dipisahkan
oleh jalan setapak kecil.
Menariknya, kedua penduduk desa ini hidup harmonis, saling mengunjungi
ketika ada periode-periode susah dan senang di kedua desa. Ketika terjadi
demostrasi sara beberapa waktu yang lalu di Halmahera, kedua desa ini tetap
hidup aman karena bagi mereka persaudaraan mereka sebagai saudara
sedarah itu lebih penting dari permasalahan perbedaan keyakinan.
37
Tradisi yang hadir di Woebulan sangat dipengaruhi oleh Kesultanan Tidore
yang berbasis Agama Islam. Tradisi-tradisi yang muncul seperti maulid nabi,
perayaan ketika menyambut datangnya malam lailatul qadr. Peperangan
melawan hawa nafsu (sesuatu yang buruk) dan setan digambarkan dalam
tradisi Cokoiba dimana ruh jahat dihadapi dengan dipukul. Wujud roh jahat
tersebut dihadirkan satu tahun sekali dan menjadi perlambang terhadap hal-
hal buruk yang seharusnya dapat dimusnahkan.
“Coko Iba” berasal dari bahasa Weda yang terdiri dari dua suku kata yakni
Coko dan iba. Coko atau cogo artinya Bukan sedangkan iba atau ipa artinya
dia yang jika diartikan secara harafiah maka Bukan Dia lalu dalam bahasa
sangsekerta”Coba terka siapa dia”. Padamulanya Coko Iba adalah kebiasaan
masyarakat Sawai – Pnu Pitel yang dimainkan pada momen tertentu lalu
kemudian menjelang perang antara kesultanan Tidore dan Kerajaan Solo,
maka ide atau gagasan dari panglima – panglima perang masarakat Sawai –
Pnu’ Pitel - Fagogoruagar menggunakan media Coko Iba, selain sebagai
alasan bahwa menggunakan media yang namanya Coko Iba guna menakut –
nakuti musuh juga sebagai alasan pembeda dengan pasukan lain.
Dan setelah kembali dari peperangan itu, maka untuk memberikan
penghargaan pada panglima – panglima perang dari Sawai, Sultan Tidore Amir
Bin Fadli diabad ke XIV mengakui dan mengesahkan Coko Iba sebagai
kebudayaan sah milikmasyarakat Pnu Pitel atau Tiga Negeri dan diperkenalkan
kembali ketika menyambut bulan Maulid Nabi.

Filosofi Rumah bagi Masyarakat Sawai


Rumah bukan hanya sekedar tempat tinggal bagi masyarakat Sawai zaman
dahulu. Tingginya bangunan merupakan cerminan keluarga yang menempati
yang diukur dari berapa hasta tinggi suami dan isteri. Proses menjaga harmoni
dengan alam merupakan bagian tidak terpisahkan. Pemilihan kayu (damar)
didahului dengan upacara tertentu dengan memanjatkan doa. Doa yang
dipanjatkan diharapkan akan memberi berkah bagi penghuni rumah tidak
hanya untuk masa sekarang namun untuk keturunan di masa yang akan
datang. Upacara memotong kayu juga tidak dapat dilakukan secara
sembarangan tetapi memperhatikan posisi kayu dan dipotong dari belakang.
Pemberlakukan adab yang baik terhadap tumbuh-tumbuhan mencerminkan
bahwa proses harmoni terhadap lingkungan sekitar harus selalu diperhatikan.
Alam pengetahuan mereka (local knowledge) tentang bagaimana
memperlakukan rumah, tanah, alam/hutan merupakan jaminan bagi
ketahanan pangan mereka. Tanah/hutan tidak hanya merupakan sumberdaya
ekonomi, tetapi telah menjadi suatu kosmos di mana aspek-aspek religi,
sistem pertanian dan perburuan, serta aspek kebudayaan yang lain
berinteraksi membangun suatu kehidupan yang utuh.

38
Ketika negara memberi peluang pada suatu kelompok kepentingan untuk
mengelola alam/hutan sebagai sumber komoditas, akibatnya, muncul
kelompok-kelompok yang menguasai hutan dan berimbas pada kehidupan
masyarakat setempat yang tinggal dalam hutan dan sekitarnya menghadapi
berbagai masalah dalam usaha mengembangkan kehidupan sosial ekonomi
mereka.
Ketika ada campur tangan masuk di kawasan hutan, kehidupan masyarakat,
ekologi fisik dan sosial akan terganggu, sebab ruang gerak mereka dibatasi
yang berakibat pada siklus dinamika mereka menjadi pendek.
Bagi masyarakat Sawai, rumah, tanah, alam/hutan merupakan sumberdaya
yang menjadi penopang kehidupan mereka. Di tanah, alam/hutan terdapat
berbagai macam makanan, hewan, tumbuhan yang menjadi sumber makanan
mereka. Tanah, hutan/alam menjadi semacam food security bagi masyarakat
desa hutan. Setiap upaya untuk memisahkan mereka dari lingkungan hidup
mereka akan membawa dampak penurunan kesejahteraan mereka yang dapat
mendorong munculnya keresahan sosial. (Heru Nugroho, 2001 : 236-237).
Makna mitos (nilai) dalam pengetahuan lokal komunitas tersebut lebih
merupakan sesuatu yang menyatu di dalam simbol-simbol di tingkat
masyarakat, yaitu suatu simbol-simbol yang digunakan oleh masyarakatnya
untuk mengkomunikasikan pandangan, orientasi, nilai, etos, dan berbagai hal
yang terjadi diantara mereka. Alam pengetahuan masyarakat Sawai
senantiasa selalu mengaitkan konsep hidup dengan nilai-nilai yang diyakini
sebagai pegangan (tradisi) untuk memenuhi kebutuhannya dengan
bergandeng pada kekuatan alam.

Makna Pagar
Pagar secara umum diartikan sebagai bentuk melindungi. Penduduk asli Sawai
menggunakan bahan baku kayu yang dipotong kecil-kecil tegak. Fungsi pagar
secara umum hadir sebagaimana rumah pada umumnya yakni melindungi
rumah dari ganguan-gangguan terutama dahulu adalah gangguan binatang.
Meskipun demikian, hingga saat ini ternak seperti kambing dan sapi tetap
dibiarkan bebas.

39
Pagar Rumah yang Terbuat dari Bahan Dinding Rumah dari
Kayu Pelepah Sagu

Fogoguru : Melahirkan Kembali Sebuah Peradaban


Jika catatan sejarah kebudayaan Sawai seperti terputus pada periode
Kesultanan Tidore yang memberi banyak warna Islam Persia pada wajah
sebagian Suku Sawai. Maka periode modern abad 20 wajah kebudayaan Sawai
tidak terlepas dari pengaruh ekonomi global. Kapitalisasi sumber daya alam
(Nikel) memberi pengaruh besar terhadap struktur ekonomi masyarakat. Jika
dahulu masyarakat di perkampungan Sawai hidup sebagai petani dan nelayan
sekaligus karena memiliki sumber daya gunung dan laut sekaligus, maka saat
ini justru memilih bekerja di Pertambangan Nikel. Terdapat dua perusahaan
nikel yang ada di sekitar Perkampungan Sawai yakni Weda Bay dan Trakindo.
Pertambangan Nikel di Lelilef tercatat seluas 76.829,6 Ha (BPS Halteng, 2012)
dan merupakan tambang Nikel terluas di Halmahera Tengah.

40
Secara ekonomi, Bay Nikel memberi kesan baru pada perbaikan ekonomi lokal.
Sejumlah fasilitas bagi masyarakat disediakan cuma-cuma dalam balutan
Community Development. Bentuk-bentuknya antara lain; penyediaan instalasi
air minum, listrik masuk desa, penyediaan SMK Tambang, dan sejumlah
fasilitas yang menurut masyarakat meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Daya tarik Bay Nikel tidak hanya berhenti disitu, juga pada kemampuan
menyerap tenaga kerja lokal. Negatifnya, kemilau nikel tampaknya
menyurutkan minat generasi muda mendalami profesi nenek moyang yakni
nelayan dan petani. Bisa dibayangkan, beberapa puluh tahun ke depan, desa
pesisir yang dikelilingi oleh laut ini akan kehilangan identitasnya sebagai
perkampungan di pesisir pantai. Pengaruh yang dapat dicermati adalah, sulit
menemukan ikan diperdagangkan di kawasan ini.
Bay Nikel menginisiasi lahirnya yayasan sosial bernama Saloi yang membantu
meningkatkan kapasitas lokal sebagai kompensasi kegiatan tambang.
Mengangkat kembali nilai-nilai lokal dikembangkan di yayasan ini. Asal muasal
penamaan Saloi juga diambil dari Bahasa Lokal yang berarti suatu jenis
keranjang yang banyak digunakan oleh Masyarakat Sawai. Salah satu yang
paling berkesan bagi masyarakat lokal adalah dengan diterbitkannya buku
dongeng khas Sawai yang belum pernah dilakukan sebelumnya dan juga
melakukan proses-proses pelestarian Bahasa Sawai yang hampir punah.
Harmonisasi hubungan masyarakat dan investor ditujukan untuk mencapai
manfaat sosial yang tinggi bagi kedua pihak.

41
Gambar Profil Yayasan Saloi
Kesan negatif justru ditumpahkan masyarakat atas kehadirian perusahaan
Nikel lainnya yakni Trekindo. Perusahaan ini tak henti-hentinya mendapat
cemohan dari masyarakat. Sejak perusahaan ini ada, banyak kawasan
penangkapan ikan penduduk tercemar sebagai dampak sistem pembuangan
limbah yang tidak rapi. Perusahaan ini juga dianggap mengabaikan hak-hak
penduduk lokal yang merupakan pemilik tanah dan bumi dengan segala
sumber daya alam yang ada di dalamnya. Bagi masyarakat lokal, menganggu
kepentingan alam tidak hanya sekedar mengusik kehidupan mereka saat ini,
tetapi mengusik nilai-nilai yang diwariskan nenek moyang mereka yakni
harmonisasi hidup manusia dengan alamnya.
Harmonisasi dekat dengan nilai-nilai lokal Fogoguru yang diartikan sebagai
rasa saling sayang di antara warga. Istilah ini diharapkan menjadi perekat
kembali kehidupan masyarakat Halmahera Tengah untuk menghadapi
persoalan-persoalan kontemporer. Nilai-nilai ini dapat diartikan sebagai
kesempatan hadirnya modal sosial yang akan berkontribusi positif bagi
pembangunan. Prinsip ini dapat dihadirkan pada relasi sosial di tingkat
masyarakat, pemerintahan, dan investor sehingga prinsip-prinsip
keseimbangan masih dapat diterapkan.

Hutan: Persimpangan antara Adat dan Ekonomi


Bagi masyarakat Sawai Hutan tidak sekedar memperhijau kawasan juga
tempat menghasilkan makanan. Karena di hutan pula ditanam pohon sagu,
kelapa, damar, dan pinang yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat.
Beberapa bukit diakui sebagai hutan adat dengan penamaan lokal. Budaya
tulis yang minim membuat pengakuan terhadap hutan-hutan adat tersebut
tidak dilakukan secara formil.
Dahulu, pengalihan hutan menjadi kebun terkait dengan kepemilikan
individual ditandai dengan pemberian “saffa” (tanda) dengan memberi tanda
pada pohon yang disertai dengan arah penunjuk batas, sehingga seorang
penduduk tidak akan berkebun di tempat tersebut melainkan akan memilih
lokasi lain yang belum dijamah orang lain. Begitu seterusnya hingga saat ini
dikenal sejumlah kepemilikan pribadi terhadap lahan.
Meskipun demikian, pemuka-pemuka adat di zaman dahulu (kepala kampung)
memiliki kebijakan bahwa terdapat kawasan yang merupakan milik bersama
(desa) yakni hutan-hutan produksi yang ditanami kebutuhan pokok. Dua desa
komunitas Sawai secara sepakat menentukan kawasan-kawasan yang
merupakan bagian kedua desa. Tanaman-tanaman produksi yang dihasilkan
adalah sagu, pinang, kelapa dan damar.
Berdasarkan cerita antar generasi permukiman kawasan Sawai merupakan
pusat logistik sagu pada periode Kesultanan Tidore dan disebut sebagai dapur
42
sultan. Hutan produksi yang menjadi milik desa ini merupakan aset desa yang
dipergunakan sebagai kas desa. Pengelolaannya dilakukan dengan cara
bergotong royong. Sebagian besar posisi hutan relatif jauh dari permukiman
penduduk. Dasar penentuan lokasi adalah kesuburan lahan karena tanah di
sekitar permukiman relatif tidak subur karena merupakan tanah
pertambangan (seperti tanah liat). Pemilihan lahan telah dilakukan sejak
periode nenek moyang Suku Sawai.
Hutan dan kayu merupakan representasi kehidupan bagi Suku Sawai. Maka,
orang-orang tua zaman dahulu dikenal sangat berhati-hati menggunakan
sumber daya alam yang ada. Ada mitos bahwa hutan-hutan warisan nenek
moyang ini memiliki ikatan dengan masyarakat Sawai. Jika ditebang oleh
penduduk asli biasanya tidak memberi pengaruh jelek namun jika digunakan
semena-mena oleh bukan penduduk Sawai biasanya akan diikuti dengan
munculnya sejumlah dampak seperti adanya kutukan. Wujudnya beraneka
jenis seperti penyakit, atau meninggal mendadak. Kepercayaan ini diceritakan
secara turun temurun.
Wilayah yang dikelilingi hutan dan laut disadari betul oleh nenek moyang Suku
Sawai sebagai anugrah yang harus dikelola dengan baik. Adanya hutan
kolektif yang sekaligus merupakan aset desa dibagi secara merata antara
kedua desa suku sawai. Pertalian darah antara kedua suku membuat nilai-nilai
ini terus dijaga. Kesepakatan norma yang telah terjalin lama antara
masyarakat membuat pelanggaran terhadap aturan adat jarang ditemui.
Setiap pelanggaran berupa pengrusakan hutan-hutan adat diidentikkan
dengan akan munculnya bala yang tidak diinginkan. Representasi agama
terhadap pengelolaan sumber daya ini dihadirkan dalam bentuk doa-doa yang
ditujukan pada hadirnya keberkahan dari para leluhur.
Di sisi yang lain, mekanisme insentif dan disinsentif yang diyakini hadir
ditengah komunitas dihadirkan dalam bentuk cerita akan mencegah kerusakan
sumber daya alam. Yang dituakan dalam adat biasanya akan melakukan suatu
acara tertentu terkait dengan pembukaan lahan di hutan yang diistilahkan
sebagai “potong tali” dengan melakukan ritual doa. Hingga saat ini tetap
dilakukan melibatkan pemangku adat Sawai Woe Bulan (Islam) dan Sawai
Lelilep (Kristen).
Hutan-hutan adat ini mulai mengalami perubahan pasca masuknya
pertambangan nikel. Pada beberapa periode yang lalu, penamaan satu bukit
(hutan) di kawasan Suku Sawai dinamai dengan nama asing yakni hutan
Santa Monica. Pemangku adat kemudian meminta nama tersebut diubah
menjadi nama asli lokal.
Eksplorasi pertambangan (Nikel) memberi potensi berubahnya pola tatanan
kehidupan di perkampungan Sawai. Jika dahulu masyarakat hidup damai
sebagai nelayan dan petani maka saat ini pemuda-pemuda banyak yang
bekerja di pertambangan. Tidak mengherankan, ikan semakin sulit ditemukan.
43
Penduduk sudah tidak sempat melaut atau memancing karena harus bekerja
seharian di pertambangan yang menjanjikan pendapatan yang lebih besar.
Beberapa puluh tahun ke depan, akan sulit menemukan ciri desa pesisir di
tempat ini. Ikan dan laut semakin menjauh dari daratan, sementara kehidupan
modern menuntut hadirnya nilai tukar dalam waktu cepat.

Pohon Sagu sebagai Lambang Kehidupan

Jika dalam sejarah, Weda dikenal sebagai dapur Sultan Tidore karena
merupakan sentra Sagu maka saat ini Hutan Sagu relatif lebih tidak terurus
karena ada pergeseran makanan pokok masyarakat. Kaum muda sudah
mengenal nasi sebagai makanan pokok dan dihasilkan di daerah sekitar
kawasan transmigrasi. Pohon sagu secara mendasar menjadi pohon kehidupan
bagi masyarakat Weda karena tidak hanya melambangkan kebesaran “peran”
pada periode Kerajaan Tidore juga melambangkan sistem kehidupan yang
berlangsung.
Rumah lama permukimam Sawai dibuat dari Pohon Sagu. Tidak hanya atap,
juga menjadi bahan dinding. Rumah tersebut dikenal dengan kesejukannya
karena terbuat dari bahan-bahan alami. Sementara rumah modern
permukimam Suku Sawai sudah tidak sedikit sekali berbahan dari Pohon Sagu.
Pada umumnya, rumah modern dipresentasikan dengan penggunaan bahan
baku semen dan atap seng. Rumah baru tersebut bagi sebagian besar
masyarakat perlambang kehidupan yang lebih baik meskipun mereka
mengorbankan kesejukan permukimam khas pesisir.

44
Pengelolaan Sumber Daya Laut
Filosofi “Myo Pacicile” (ambil sedikit saja) berlaku sebagai filosofi pengelolaan
sumber daya alam termasuk daya laut. Hadirnya hak individu pada
pengelolaan laut yang begitu luas menarik untuk dikaji lebih lanjut. Peran
kesadaran individu untuk saling menghargai “hak guna individual” berperan
penting. Batas eksplorasi individual dinyatakan dengan tanda yang disebut
dengan bole yakni pancang kayu yang titegakkan di laut. Bole kemudian
menjadi batas eksplorasi seorang nelayan dan tidak boleh diganggu oleh
nelayan lainnya. Bole juga menandakan bahwa kawasan tersebut sudah
menjadi hak eksplorasi nelayan tersebut, sehingga nelayan lain akan memilih
kawasan eksplorasi yang belum disentuh oleh nelayan lain.
Sepanjang perairan di Weda, penangkapan ikan dilakukan secara tradisional
dengan perahu-perahu berukuran kecil. Prinsip hidup “ambil sedikit saja” dari
alam merupakan representasi pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan.
Mengambil seperlunya dalam hal ini adalah untuk kepentingan kemaslahatan
hidup penduduk lokal.
Penerapaan prinsip Myo Pacicile hingga saat ini masih berlaku. Nelayan-
nelayan lokal biasanya melaut menggunakan kapal kecil dan tidak
diperkenankan untuk mengksplorasi secara berlebihan. Adanya konsensus
sumber daya laut yang merupakan collective good menjadi pengendali
terhadap munculnya upaya-upaya merusak laut.
Jika nilai-nilai yang hadir pada masyarakat lokal memiliki konsekuensi
pengendalian terhadap pengrusakan sumber daya laut, berbeda dengan pihak
eksternal yang justru melihat sumber daya merupakan sumber keuntungan
material. Dari penuturan salah satu tokoh di perkampungan Sawai Lelilef
Bapak Julius Purnama;
“Dulu mudah cari ikan di sepanjang Lelilef, orang pancing langsung dapat
ikan. Coba dilihat di sungai sebelum masuk kampung Lelilef, air sudah warna
cokelat. Itu perusahaan tambang Nikel buat kotor. Ikan tidak bisa hidup lagi di
situ”
Ketika nilai tidak dimakanai sama oleh para investor dan penduduk lokal,
hasilnya adalah distorsi. Benturan anta nilai dapat terjadi. Pengaruh
pendatang atau investor dengan nilai materialistis yang kuat di satu sisi
membantu meningkatkan pendapatan masyarakat, namun secara berlahan
memberi cara pandang baru yang berbeda terhadap pengelolaan sumber daya
alam. Ketidakpedulian dapat menjadi produk yang diwariskan lintas generasi.
Padahal, secara nyata masyarakat harus selalu bersinergi dengan alam seperti
yang selalu diajarkan oleh nenek moyang mereka.
Pengembangan teknologi yang aman bagi keselarasan alam tampaknya belum
difikirkan secara luas sehingga produksi perikanan yang terdata masih relatif
kecil dan cenderung dipasarkan secara lokal saja padahal secara karakter alam
yang dikelilingi lautan merupakan faktor endowment yang luar biasa. Secara
45
statistik, perkembangan produksi perikanan di Halmahera Tengah ditunjukkan
oleh tabel berikut.
Tabel 1 Produksi Perikanan dan Pemasaran Lokal serta
Konsumsi Per Kapita di Halmahera Tengah, 2011
Kecamatan Produksi (Ton) Pemasaran Konsumsi
Lokal (Ton) Perkapita (kg)
Weda 4.200 3.426 774
Weda Selatan 3.027 2.554 473
Weda Tengah - - -
Weda Utara 1.240 1.014 226
Patani 4.102 3.052 1.050
Patani Barat - - -
Patani Utara 1.785 1.393 392
Pulau Gebe 1.405 1.204 201
Sumber: Dinas Perikanan dan Kelautan, Kabupaten Halteng, 2012
Kondisi data di atas mengindikasikan bahwa kehidupan nelayan secara ciri
khas masyarakat Halmahera masih menjadikan kapasitas hidup mereka
sebagai nelayan subsisten (yang hanya dilakukan sebagai pemenuhan
kebutuhan individual saja), belum menjangkau kebutuhan kesejahteraan
komunal. Kondisi pemanfaatan alam yang tidak selaras dengan alam dan
perkembangan kebutuhan manusia cenderung akan mengantarkan komunitas
untuk beralih mengeksplorasi sumber daya lain, sementara skill alamiahnya
ada di pengelolaan sumber daya laut. Pada jangka panjang, keadaan ini tidak
hanya menentang potensi kapasitas individual wilayah juga dapat diartikan
pada munculnya kesempatan untuk menghilangkan suatu kebudayaan dan
peradaban.

Mesjid Sebagai Sentral Permukiman


Melekatnya nilai-nilai keIslaman pada penduduk Weda dapat dilihat dari peran
mesjid sebagai sentral permukimam. Mesjid dan Imamnya merupakan simbol
dari kebesaran kerajaan Tidore pada awalnya. Mesjid tidak sekedar tempat
untuk melakukan ibadah juga merupakan bagian dari menhadirkan ruang
dialog di tengah komunitas. Mesjid pada umumnya memiliki pelataran, dan
memiliki gong untuk memanggil masyarakat berkumpul. Pembicaraan tidak
sekedar terkait dengan ibadah harian juga terkait dengan kepentingan publik
seperti pengelolaan sumber daya kolektif seperti hutan damar, pinang, sagu,
dan kepentingan sosial lainnya.
Dengan peran sentral mesjid seperti itu, imam mesjid juga memiliki peran
sentral. Imam mesjid dipilih secara hati-hati. Jika dahulu imam-imam
dihadirkan dari wilayah Pattani maka sekarang lebih bersifat objektif
berdasarkan kemampuan ilmu agama yang diperoleh dari madrasah-madrasah
46
formal. Pemilihan imam tetap didasarkan prinsip-prinsip kehati-hatian. Ada
upacara-upacara khusus yang harus diikuti oleh calon Imam Mesjid. Seperti
adanya ijazah dari Tuan Guru sehingga ada munculnya “tanda-tanda” khusus
yang menyatakan yang bersangkutan diterima sebagai Imam. Pengetahuan-
pengetahuan tersebut bersifat intangible dan hanya dapat dimaknai sebagai
bagian pengetahuan lokal.

Mesjid sebagai Pusat di Permukimam Filosofi Ka’bah dengan 4


di Desa Lelilef Tiang Penyangga di Mesjid

47
Adaptasi Ka’bah pada Mesjid Weda, Halteng

Bagi masyarakat Weda, keberadaaan Imam juga menghadirkan ruang spiritual


tersendiri. Adanya kharisma para pemuka agama (Imam) tidak hanya
dihadirkan pada mistisme juga dihadirkan secara ruang fisik. Kota memiliki
ciri khusus dimana makam-makam Imam pembawa Islam relatif
dikeramatkan. Penduduk Kota sebagian besar bahwa kekuatan Imam hingga
hari ini memberi pengaruh terhadap aktivitas masyarakat. Hal ini ditunjukkan
bahwa ada “ruang dialog” antara kota dengan Pulau Imam. Weda secara tidak
langsung terhubung dengan Pulau Imam yang merupakan lokasi spritual bagi
penduduk kota. Kegiatan-kegiatan masyarakat baik sosial dan politik pada
umumnya didahului dengan meminta restu dari Imam yang dimakamkan di
Pulau Imam. Bahkan dalam hal kecil, seperti keputusan merantau ke luar
daerah didahului dengan memanjatkan doa di Pulau Imam. Karena hal
tersebut pula, Pulau Imam ditetapkan sebagai Cagar Budaya bagi Masyarakat
Weda.

48
Pulau Imam

Pulau Imam dan Fungsi Ruang Pulau Imam menjadi Cagar


Spritual bagi Masyarakat Weda Budaya di Weda

Ruang spritual tidak hanya menjadi penanda secara fisik. Kebesaran para
pemimpin adat juga dilambangkan dengan hal tersebut. Pemerintahan dengan
sistem desa saat ini mengenyampingkan peran-peran pengetua adat meskipun
secara informal keberadaaannya tetap dijunjung tinggi masyarakat. Pemimpin
spritual atau adat dahulu di kenal sebagai “legae” yang dihasilkan dari trah
dan derajat kesolehan tersendiri. Keberadaaan Legae tidak hanya mengontrol
ruang secara fisik juga ruang peran masyarakat karena pada mereka lah
standar nilai baik dan benar diletakkan. Tidak sembarang orang dapat
memperoleh julukan “Legae” melainkan melalui suatu mekanisme
kepercayaan yang dihadirkan pada sosok tersebut karena bersifat mengayomi
dan menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada di masyarakat termasuk
pengelolaan ruang publik yang paling krusial yakni hutan kolektif.
Petinggi adat atau yang dituakan yang pada era pasca kesultanan disebut
dengan Kepala Kampung memiliki peran strategis mengatur alokasi sumber
daya secara bergantian. Ada mekanisme yang tidak tertulis, bahwa
pengusahaan tanah ulayat (hutan kolektif) memiliki standar pengelolaan
sendiri dengan mekanisme bagi hasil. Pengusahaan dapat dilakukan secara
49
individual namum memberi konsekuensi bagi hasil bagi desa yang dilindungi
oleh Kepala Kampung. Kepercayaan turun temurun pada kepala kampung
membuat suatu jabatan publik biasanya berumur panjang (Kepala kampung di
Desa Sawai dulunya memerintah sampai 30 tahun) tanpa intervensi
mekanisme pemerintah.

Kota Tua (Kota Lo)


Peradaban Weda tidak dapat dipisahkan dari peradaban pesisir. Wilayah yang
dikelilingi lautan dan gunung memberi daya tari tersendiri. Pertanyaan
mendasar yang sering dipertanyakan dimana pemukimam awal berada?
Apakah di atas bukit atau ada dipinggir pantai. Meskipun belum dilakukan
penelitian yang mendalam, dari cerita ke cerita yang turun temurun coba
ditelusuri bagaimana struktur ruang yang ada di Kota Weda. Sejumlah situs
berupa “bentukan” benteng atau lokasi berasal dari karang laut ditemukan di
kawasan perbukitan Weda. Butuh waktu sekitar 20 menit melakukan
perjalanan menyusuri sungai ke tempat tersebut.
Ciri kota tua tersebut berada di atas bukit dan terdiri dari struktur bangunan
karang. Bukti-bukti adanya peradaban masa lampau dapat dilihat dari adanya
barang pecah belah yang secara mudah ditemukan ketika menyusuri bukit.
Temuan di Kota Tua tersebut mengindikasikan bahwa sejarah peradaban
Sawai sebelum masa Kesultanan Tidore sudah relatif mampan tapi tanpa ada
cerita yang menjelaskannya.
Proses akulturasi kebudayaan dengan Islam tampak sangat dominan sehingga
kebesaran cerita budaya Sawai sebelum masuknya Islam hampir tidak dapat
ditelusuri selain dari adanya indikasi pola ruang yang sudah hadir di Kota Tua
Sawai.

50
Bentukan Benteng atau Struktur Temuan Barang Pecah Belah di
Bangunan dari Karang Laut di Kota Lo
Kota Lo

Ada indikasi bahwa peradaban Sawai sudah berlangsung sebelum masa


kekuasaan Kesultanan Tidore. Dalam catatan Yudi Firmansyah yang
merupakan Ketua Dewan Adat di Weda, nilai-nilai luhur Budaya Sawai sudah
hadir sejak lama.
“.......Bangsa Sawai dapat dikategorikan sudah beradab, tidak seperti yang
diberitakan selama ini. Bayangkan betapa sakitnya nenek moyang kita dijuluki
sebagai bangsa liar. Di beberapa diskusi tentang Budaya Sawai misalnya
ditemukan bahwa pada zaman sebelum Kesultanan Tidore, bangsa Sawai
sudah mengenakan bahan untuk menutup aurat mereka. Mereka sudah
memiliki nilai-nilai untuk menjaga hutan dan menjaga alam sekitarnya. Bagi
saya, banyak hal tentang Bangsa Sawai yang perlu diluruskan, sehingga
generasi mendatang mengenal keluhuran nilai-nilai yang diwariskan nenek
moyangnya.........”

51
Bagian III
Peran Masyarakat Bali Aga – Bangli

A. Peran Masyarakat Dalam Perencanaan Ruang


 Penyusunan RTRW Kabupaten Bangli dan RDTR
Kecamatan Bangli
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bangli dan RDTR
Kecamatan Bangli sebagai produk turunan RTRW, saat ini statusnya
masih dalam tahap penyusunan Raperda. Substansi dari Raperda
RTRW Bangli dan RDTR Bangli telah mengadopsi istilah lokal yang
sesuai dengan konteks ruang. Masyarakat Bali adalah masyarakat
yang memiliki peradaban tinggi, yang tercermin dari aturan tata letak
ruang warisan leluhur yang memiliki makna dan nilai tinggi. Aturan
tata letak tersebut bersifat holistik, yang mengatur dari mulai aturan
tata letak rumah, pekarangan, ruang terbuka, pusat kota sampai
kepada aturan kawasan lindung. Aturan tata letak baik baik dalam
skala mikro dan makro tersebut berorientasi kepada unsur
keharmonisan alam yang memandang bahwa manusia dan alam yang
merupakan kesatuan yang memiliki unsur-unsur yang sama. Dalam
konteks modernisasi, nilai-nilai tersebut tetap berusaha untuk
dipertahankan sebagai acuan dalam tata ruang.

Tri Hita Karana sebagai falsafah hidup masyarakat Bali menjadi salah
satu asas dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bangli.
Rencana ruang Kabupaten Bangli memuat tiga unsur yang
membangun keseimbangan dan keharmonisan hubungan antara
manusia dengan Tuhan, manusia manusia dengan manusia, dan
manusia dengan lingkungannya yang menjadi sumber kesejahteraan,
kedamaian, dan kebahagiaan bagi kehidupan manusia. Falsafah ini
52
merupakan kunci dalam terwujudnya tata ruang yang harmonis serta
berkelanjutan, selain juga berasakan pada Sad Kertih yaitu enam
sumber kesejahteraan yang harus dilestarikan untuk mencapai
kebahagiaan lahir dan batin yang terdiri dari atma kertih, wana kertih,
danu kertih, segara kertih, jana kertih dan jagat kertih.

Sejalan dengan falsafah Tri Hita Karana, konsep penataan ruang


Bangli berpedoman pada Tri Mandala yang membagi
wilayah/kawasan/pekarangan menjadi tiga tingkatan yaitu utama
mandala, madya mandala dan nista mandala. Penempatan ruang
dalam tiga tingkatan tersebut bermakna tingkat kesucian. Aktifitas
ruang yang bersifat sakral ditempatkan di tempat paling tertinggi dan
harus dijaga kesuciannya. Dalam konteks kekinian tiga tingkatan
ruang tersebut dapat diartikan pembagian ruang kawasan budidaya
yang terdiri atas ruang peribadatan, permukiman dan kegiatan sosial
ekonomi.

Penetapan suatu pusat kota atau landmark kota berpedoman pada


konsep cathus patha yaitu simpang empat sakral yang ruas-ruasnya
mengarah ke empat penjuru mata angin (utara, timur, selatan dan
barat) dan diperankan sebagai pusat (puser) wilayah, kawasan
dan/atau desa.
Konsep tri mandala dan cathus patha kemudian menjadi acuan dalam
penetapan peraturan zonasi.

Pola ruang kawasan lindung yang berciri khas Bali adalah adanya
aturan perlindungan yang tidak hanya berpedoman pada aturan
formal tentang penetapan suatu kawasan lindung, juga berorentasi
pada nilai kesakralan kawasan tersebut. Kawasan lindung yang
dimaksud adalah kawasan perlindungan setempat yang dikategorikan
sebagai kawasan suci dan tempat suci. Kawasan suci adalah kawasan
yang disucikan oleh umat Hindu seperti kawasan gunung, perbukitan,
danau, mata air, campuhan, laut, dan pantai. Gunung bagi masyarakat
Bali merupakan simbol yang disakralkan dan menjadi orientasi dalam
kegiatan beribadah maupun aktifitas sehari-hari. Salah satu bentuk
dari men-sakral-kan gunung yaitu dengan menempatkan pura di
sekitar gunung. Pura sebagai tempat sakral juga merupakan kawasan
yang dilindungi dan dikategorikan sebagai Kawasan Tempat Suci.
Kawasan suci gunung yang terdapat di Kabupaten Bangli adalah
Gunung Batur, Puncak Gunung Penulisan, dan lereng Gunung Abang.
Selain gunung, penetapan kawasan perlindungan yang bernuansakan
Bali adalah kawasan perlindungan setempat mata air yang telah
53
ditetapkan sebagai tempat upacara keagamaan. Selain itu, kawasan
suci cathus patha dikategorikan sebagai kawasan perlindungan
setempat yang mencakup persimpangan-persimpangan utama
wilayah atau desa adat dan pelaksanaan upacara adat.

Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan Bangli, kemudian mengatur


lebih teknis terhadap kawasan yang dikategorikan sebagai kawasan
lindung dan kawasan budidaya. Salah satu contohnya adalah radius
perlindungan kesucian untuk kawasan di sekitar Pura Dang Kahyangan
dan Kahyangan Jagat yaitu 2.000 meter dari sisi luar tembok penyeker
pura.

Perlindungan untuk kawasan suci dan kawasan tempat suci


dituangkan dalam peraturan zonasi. Bentuk perlindungan berupa
larangan untuk tidak melaksanakan pembangunan fisik atau aktifitas
lainnya yang tidak mendukung fungsi kawasan suci. Radius tempat
kawasan suci untuk kawasan suci campuhan ditetapkan sekurang-
kurangnya 50 M dari tepi campuhan. Sedangkan radius kawasan
tempat suci Pura Kahyangan adalah sekurang-kurangnya 25 Meter
untuk pura diluar permukiman dan 5 meter untuk pura di dalam
permukiman.

 Proses Konsultasi Publik


Pelaksanaan konsultasi publik penyusunan RTRW Kab Bangli dan RDTR
Kecamatan Bangli telah dilaksanakan sebanyak dua kali dengan
menghadirkan pemerintah mulai dari level kecamatan, tokoh adat dan
kalangan akademisi.

 Konsep Tata Ruang Bernuansa Lokal


Masyarakat Bali adalah masyarakat yang memiliki nilai budaya sangat
tinggi dan menjaga keeksistensiannya. Terdapat konsep dalam
penataan lingkungan permukiman, yang akan diuraikan sebagai berikut
:
1. Konsep Tata Ruang Tri Mandala
a. Utama mandala : tempat yang paling disucikan, terletak
pada bagian tinggi (utara). Terletak Pura Penataran/Desa,
Pura Puseh dan pura lainnya di sekitar hutan kayu.
b. Madia Mandala : permukiman penduduk dan beberapa
tempat suci milik Desa Adat dan Dadya (Kleen).
c. Nista Mandala : terletak paling bawah (selatan) sebagai
simbol ruang paling tidak suci. Terdapat kuburan, ladang
54
dan pura dalem.

Konsep Tata Ruang Tri Mandala

2. Konsep Tata Ruang Desa Adat Penglipuran


Desa Penglipuran adalah salah satu desa di Pulau Bali yang
menerapkan konsep Tri Mandala dalam penataan ruang desa.
Perencanaan ruang desa dibuat pada tahun 1990 yang difasilitasi
oleh Universitas Gajah Mada dan Universitas Udaya. Berikut
konsep tata ruang di Desa Adat Penglipuran.
a. Pada tata ruang pola mikro, rumah-rumah terletak pada
pekarangan dengan as kaja-kelod, yaitu pada jejer barat dan
jejer timur
55
b. Pada setiap pekarangan, terdapat lebih dari satu KK yang
masih dalam hubungan saudara.
c. Saudara yang tertua berada pada tempat terdepan dekat
dengan sanggah
Tata Ruang Pekarangan :
• UTAMA MANDALA : bagian paling suci, terletak di arah timur
laut. Terletak Sanggah (Pura Keluarga).
• MADIA MANDALA : tempat kegiatan dan aktifitas keluarga
sehari-hari. Bangunan yang ada :
 Dapur tradisional (sebelah utara) , sekaligus tempat tidur bagi
orang yang tertua di pekarangan tersebut
 Balai Saka 6 (sebelah selatan) sebagai tempat upacara
yadnya.
 Bangunan sebelah barat sebagai tempat tidur, menerima
tamu dan bermain anak-anak.
• NISTA MANDALA : bagian belakang , merupakan bagian yang
paling tidak suci. Terdapat WC, kandang, dll.

56
Tata Ruang Desa Penglipuran

B. Peran Masyarakat Dalam Pemanfaatan Ruang


Masyarakat memegang peranan penting dalam kegiatan pemanfaatan
ruang. Pelibatan masyarakat dalam pemanfaatan ruang, antara lain :
 Pengembangan desa wisata ( tahun 2012)
 Transfer fiskal 100 juta : pembagian (pembagian 40 : 50)
 Sosial – Budaya Adat (ekonomi masyarakat)
 Pengelolaan bersama Kelurahan
 Komunikasi/ Konsensur dalam pengambilan keputusan

Keterlibatan langsung masyarakat dalam kegiatan pembangunan yang


merupakan salah satu bagian dari pemanfaatan ruang adalah dalam
program-program pembangunan infrastruktur dari pemerintah.
Program-program tersebut antara lain PNPM Mandiri dan Program
Peningkatan Infrastruktur Permukiman (PPIP) dari Dirjen Cipta Karya.
PPIP yang sedang berjalan berada di 3 Kecamatan yang meliputi
beberapa desa, yaitu :
1. Kecamatan Kintamani
a. Desa Batur Selatan
b. Desa Songan A
c. Desa Songan B
2. Kecamatan Susut
a. Desa Afuan
b. Desa Pengiapan
c. Desa Sulahan
3. Kecamatan Tembuku
Beberapa dokumentasi dari kegiatan PPIP di desa-desa tersebut
disajikan pada foto-foto berikut :

57
Proses Musyarawarah Dalam Kegiatan PPIP

Gotong Royong dalam Kegiatan Pembangunan Infrastuktur

C. Peran Masyarakat Dalam Pengendalian Pemanfaatan Ruang


Sebagaimana telah diuraikan pada rancangan peraturan daerah
tentang RTRW Kabupaten Bangli dan RDTR Kecamatan Bangli, bahwa
kearifan lokal telah di internalisasi oleh Pemerintah Kabupaten Bangli.
Kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang diatur dalam peraturan
zonasi yang berbasis adat.
Dalam lingkup Desa Penglipuran sebagai desa adat, keberadaan hutan
bambu seluas 45 Ha yang “menyangga” permukiman merupakan
bagian dari kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang.

D. Persepsi Ruang Masyarakat Adat Desa Penglipuran


 Sekilas Mengenai Tata Ruang Desa Adat Penglipuran
Tidak semua masyarakat desa di Bali merupakan “desa adat”. Hal itu
mengingat sebagai suatu desa adat dalam budaya adat masyarakat Bali,
biasanya harus memenuhi persyaratan pokok atau utama selain adanya
tradisi dan aturan adat lokal yaitu harus adanya Pura Tri Kayangan atau
Pura Kayangan Tiga yaitu ; (1) Pura representasi penghormatan pada
Brahmana yang disebut Pura Desa, (2) Pura representasi penghormatan
pada Wisnu yang disebut dengan Pura Puseh, (3) Pura representasi
penghormatan pada Siwa yang disebut Pura Dalem. Pura Desa dan Pura
58
Puseh berada pada wilayah lokasi ruang yang sama yang disebut sebagai
Pura Penataran.
Berikut gambar Pura Tri Kayangan tersebut di atas ;

1. Pura Penataran

2. Pura Puseh

59
3. Pura Dalem

Dalam pola tata ruang Desa Adat Penglipuran, ketiga pura Tri Pura Kayangan
di atas berada pada tata letak tertentu menurut kosmologi adat setempat. Tri
Pura Kayangan itu mengapit atau terletak diantara lokasi pemukiman adat.
Tata ruang Kosmologi wilayah Desa Adat (Pakraman) Penglipuran dibagi
dalam tiga ruang yaitu :
1. Utama ; ruang wilayah Pura Penataran dan Puseh
2. Madya ; ruang wilayah pemukiman penduduk adat
3. Nista ; ruang wilayah Pura Dalem

Pada masing-masing ruang kosmologi di atas, terdapat masing-masing


pembagian sub ruang lagi meliputi :

1. Ruang Kosmis Utama terbagi menjadi ;


a. Utamaning Utama : ruang wilayah tempat sanggah-sanggah atau
padmasana atau sanggaran atau setana dari representasi Hyang Widi
60
Wasa, Batar Surya (Batara Guru) atau Acin Tya, Brahmana, Batara
Kentel Bumi, Permaisuri / Caktinya Wisnu yaitu Saraswati atau (Batara
sakti ratu Sakti Madwe Karang), Ratu Sakti Gaeng, Ratu Sakti
Penyarikan, padmasana untuk Upacara Galungan, Kuningan dan Buda
Kliwon, Ratu Sakti Alas SangkaraAngker, Ratu Sakti Mutaran, Ratu
Sakti Gede Ngelurah, balai kelik (balai tempat istirahat dan berhias),
Ratu Sakti Gede Jaksa, Mpu Haji atau Dang Guru untuk Pendidikan,
Lebuh Segara dan Ratu Sakti Sedahan Penglurah.
b. Utamaning Madya : ruang wilayah tempat upacara-upacara
keagamaan & tari-tarian, serta tempat menyimpan “Goong” atau
gamelan bali untuk upacara.
c. Utamaning Nista : ruang wilayah bawah Pura Desa, biasanya tempat
awal masuk Pura Penataran, tempat disimpan “kulkul atau kentongan”
untuk pengumuman adat.
2. Ruang Kosmis Madya :
Pada wilayah tempat tinggal penduduk (ruang madya), setiap komunitas
penduduk terbagi dalam masing-masing-masing angkul-angkul. Tiap
angku-angkul terbagi dalam tiga ruang lagi meliputi :
a. Madyaning Utama : ruang wilayah suci Sanggah atau pura keluarga
yang terdiri dari sanggah atau padmasana representasi dari Kayangan
Tiga (Barhma, Wisnu, Siwa), dan sanggah leluhur keluarga, bali-balai
(tempat berlangsungnya upacar pernikahan dan ngaben ) dan pawon
(tempat memasak dan bertapa/meditasi)
b. Madyaning Madya : ruang wilayah tempat tinggal (rumah penduduk),
biasanya terdiri dari beberapa rumah yang masih merupakan bagian
dari keluarga inti.
c. Madyaning Nista : ruang wilayah tempat mandi atau WC, gudang dan
kandang (meski tidak semua keluarga memiliki ternak/kandang)
3. Ruang Kosmis Nista :
a. Nistaning Utama ; ruang wilayah Pura Dalem (Pura penghormatan
representasi Dewa Siwa).
b. Nistaning Madya ; ruang wilayah pertanian dan kandang ternak babi
atau sapi.
c. Nistaning Nista : ruang wilayah “setra” atau kuburan.

Masyarakat Penglipuran mempercayai nilai-nilai Sifat-sifat nilai kosmis sebagai


percikan dari Sang maha Pencipta dalam diri manusia yang diyakini dalam
adat Penglipuran, yaitu : Butaya, Manusaya dan Dewaya. Konsep ini
berangkat dari kepercayaan akan sedulur empat atau saudara empat (air,
tanah, angin, api ). Pola pemukiman masyarakat Adat Penglipuran memiliki
konsep kepercayaan menghadap timur dan Utara lebih baik daripada
menghadap ke barat atau selatan. Namun sesungguhnya masyarakat Adat
61
Penglipuran dalam penataan ruang di pemukiman mereka tidak sepenuhnya
menerapkan Ilmu Asta kosala-kosali sebagaimana aturan ajaran Hindu yang
umum dianut oleh Masyarakat Bali. Mereka menerapkan ilmu Asat kosala-
kosali dengan tetap menyesuaikan dengan situasi dan kondisi di lingkungan
mereka, ini sesuai dengan prinsip kehidupan masyarakat Bali yang selalu
memegang prinsip “ Desa Kala Patra” atau menyesuaikan dengan ruang dan
kondisi dimana berada.

 Partisipasi Masyarakat dalam pemanfaatan Ruang


1. Kebersihan Lingkungan
- Masyarakat Penglipuran memliki budaya atau kebiasaan
membersihkan rumah, dan keberadaan tempat-tempat di
wilayah anggkul-angkulnya masing-masing. Pola sikap ini
merupakan peruwujdan nilai tanggung jawab dan menjaga
kebersihan lingkungan adat. Biasanya mereka melakukan
kegiatan bersih-bersih di setiap angkul-angkul mereka pada
pagi hari sekitar pukul 5 sampai 7 pagi. Kegiatan bersih-
bersih tiang angkul-angkul ini tidak perlu ada komando atau
perintah dari ‘Kelian Adat” atau ketua adat Penglipuran.
- Lain halnya dengan kegiatan bersih-bersih lingkungan adat
secara khusus pada wilayah sarana umum seperti balai adat,
balai dinas serta jalan umum adat, biasanya mereka
mendapatkan pemberitahuan sehari sebelumnya melalui
“juru ngarah” yaitu petugas adat khusus yang berkeliling
desa adat memberitahukan warga dengan suara keras
berteriak keliling desa untuk melaksanakan kegiatan bersih-
bersih pada beberapa lokasi yang sudah ditentukan pada
esok harinya.
Berikut foto kegiatan bersih-bersih tiap keluarga :

62
2. Membangun dan merenovasi Pura Kayangan Tiga dan Pura-Pura
umum Adat
- Partisipasi masyarakat dalam kegiatan membangun dan
merenovasi pura-pura desa adat dilakukan dengan cara
bergotong royong. Meskipun pada perkembangan sekarang
kegiatan itu sudah mulai dikombinasikan dengan adanya
buruh-buruh bangunan dari desa lain atau kadang orang
Jawa. Untuk kegiatan inipun sebelumnya biasanya “juru
ngarah” mengumumkan dengan cara berteriak sambil keliling
desa adat sehari sebelumnya. Beberapa hari sebelumnya
biasanya diadakan rapat-rapat yang dilakukan oleh kelian

adat dan “desa pangarep” atau perwakilan tiang keluarga


yang telah ditentukan secara bergilir oleh aturan adat.
- Partisipasi masyarakat untuk kegiatan ini juga dibuktikan
dengan adanya iuran tiap keluarga. Hanya pada
perkembangan terakhir setelah Penglipuran menjadi “Desa
Wisata”, maka iuran warga sering terbantu oleh adanya
bantuan dana pemerintah pusat kepada tiap-tiap masyarakat
adat di Bali dan dari pendapatan para wisatawan yang
dikelola oleh “pengelola wisata adat Penglipuran”.
Berikut contoh kegiatan partisipasi membangun sarana
Ibadah (Pura) :

63
3. Membangun Sarana dan Prasarana umum non Tempat Ibadah
- Partisipasi dalam kegiatan ini dilakukan dengan cara
bergotong royong, seperti membangun jalan utama desa
yang menghubungkan antara wilayah Utama (Pura
Penataran), wilayah Madya (tempat tinggal penduduk adat)
dan wilayah Pura Dalem. Terkait kegiatan ini, ketika ada dana
bantuan PNPM untuk pembangunan jalan utama desa adat,
masyarakat Penglipuran merancang pola dan struktur jalan
utama sesuai “pengetahuan lokal” mereka. Dalam
pelaksanaannya, masyarakat desa Penglipuran secara bergilir
berpartisipasi menbangun jalan tersebut dengan sukarela,
meskipun ada buruh khusus yang mengerjakannya. Dalam
pengontrolan pelaksanaan kegiatan itu mereka selalu
bekerjasama dan membuat laporan secara ransparan.
- Terkait pengelolaan wisata, masyarakat membentuk
organisasi pengelolaan secara khusus dan selalu
memberitahukan laporan-laporan secara rinci dan trasnparan
mengenai jumlah tamu (wisatawan baik domestic maupun
manca Negara) serta laporan keuangan kepada masyarakat
adat memalui rapat adat bersama “Kelian Adat” (ketua adat)
dan ketua Lingkungan.
Berikut foto sarana umum kegiatan terkait hal diatas :

64
 Pedoman Sosial Adat kehidupan Masyarakat Adat Penglipuran
Awig-awig sebagai Pedoman klian adat (ketua adat) dan masyarakat adat
dalam berperilaku. Hal-hal yang tidak atau belum termasuk dalam awig-
awig, sementara kondisi atau keadaan sosial di masyarakat membutuhkan
ketentuan atau kejelasan dalam pengaturannya, maka dibuatlah
kesepakatan di luar “awig-awig” yang dikenal dengan isitilah “pararem” (
aturan yang ditentukan berdasarkan musayawarah adat dan bersifat tidak
tertulis dan sementara). Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh salah
seorang tokoh adat Kelurahan Kubu (ketua pelaksana PNPM di Penglipuran,
Nyoman Ardi ,60th) :
“..Pararem atau penjelasannya..contoh ada orang
mati, masarakat hrs ikut membantu dari awal sampai
akhir..(kan itu batangnya)..turunnanya atau
pararemnya itu ; harus memberikan patus
(sumbangan). Jadi tiap pasal dalam awig-awig
biasanya memerlukan penjelasan atau “pararemnya”
yang tidak tertulis. Contoh jual beli tanah ke luar
orang adat, itu tidak diatur dalam awig-awig, maka
pararem lah yang mengatur atau menjelaskan,
dengan tetap mengacu pada awig-awig itu..Dalam
lima tahun sekali memang suka ada koreksi dari awig-
awig tapi tidak untuk diubah awig-awig itu, hanya
saja dikembangkan dalam kesepekatan pada
“pararem”nya itu. Kesepakatan itu tidak tertulis hanya
tang bersifat ‘krusial saja. Yang tidak tertulis itu
berlaku sesaat atau sementara atau situasional.Kalau
awig-awig bersifat tertulis bersiat selamanya. Setiap
desa adat dan banjar adat (belum nyungsung
kayangan tiga) di Bali punya awig-awig. Klian adat
(ketua adat itu melaksanakan tugas dan fungsinya
sesuai atau berdasarkan awig-awig, jadi awig-awig itu
dianggap sebagai undang-undang atau pedoman,
seperti untuk memberi sangsi kepada
orang,melaksanakan upacara kematian dsb …”

Terkait hal-hal kegiatan kepariwisataan di Pengliuran ini, maka


meskioun tidak ada secara tertulis dalam awig-awig, tetapi
disepakati oleh masyarakat dalam hala-hal kebijakan musywarah
adat berupa kesepakatan-kesepakatan anatara warga adat, klian
adat, desa pengarep (dewan adat), dan ketua lingkungan.Pada
uraian di bawah dijelaskan bagaimana gambaran kegiatan

65
masyarakat Penglipuran dalam penataan dan pengelolaan aspek
kepariwisataan termasuk peran serta masyarakat adat didalmnya.

 Peran serta masyarakat dalam pengelolaan Wisata


Diresmikannya Desa Penglipuran sebagai desa Wisata berbasis
Masyarakat adalah sekitar tahun 2012 yang lalu.Berdirinya struktur
pengurus Pengelola Pariwisata itu per 1 Mei 2012.Tetapi sebenarnya
aspek kepariwisataan di Pakraman Penglipuran ini sudah berjalan dari
sekitar tahun 1993.Jadi wisatawan sudah lama berkunjung sejak tahun
itu.Awalnya Penglipuran ini dibuat sebagai konsep desa
Konservasi.Dimana masyarakat itu mengkonservasi kawasan baik dari
segi fisik dan non fisiknya.Setelah dikonservasi, maka ada ketertarikan
tamu (wisatawan) untuk datang ke desa adat Penglipuran ini. Lama
kelamaan berkembang bahkan dari pihak pemda pun menilai bahwa desa
ini pantas untuk dikunjungi para wisatawan dan berkeinginan untuk
mempromosikan Desa Penglipuran ini sebagai salah satu tujuan wisata di
Bali.

Inisiati adanya pembentukan Pengelola Kepariwsataan tingkat Desa Adat


adalah dari warga dari desa adat. Karena ini berjalan sudah dari tahun
1993 (kepariwisataan di Penglipuran ini), tetapi berjalan begitu saja,
tamu datang, bayar tiket dan seterusnya. Lalu muncul keinginan
masyarakat untuk mengelola kepariwisataan ini sebagai aset masyarakat,
yang disusulkan oleh “desa pengarep yang jumlahnya 76 (tujuh puluh
enam)” itu yang memegang peranan. Di Desa Pakraman ini, ke tujuh
puluh enam “desa pengarep” it memegang peranan sebagai atau
semacam “dewan legislatif”nya, sehingga segala keuputan itu kalau
mereka bilang “OK” maka “jalan” artinya usulan itu dilaksanakan setelah
mendapat persetujuan dari hasil musyawarah “para desa pengarep”. Dari
sana muncul aspirasi dari masyarakat agar adanya pengelolaan
pariwisata menuju kepada arah yang professional. Sebelumnya tidak
terbentuk karena tidak ada masyarakat yang berani mengelola aspek
kepariwisataan ini. Kemudian ada tawaran dari BHA (Bali Hote Asosiasi),
akan membantu pengembangan wisata Desa Berbasis Masyarakat.

Awalnya pengelolaan kepariwisataan di Penglipuran ini hanya terkait


bidang akomodasi, restoran dan aktivitas.Hanya beberapa orang saja dari
warga adat yang terkait kegiatan ini. Sementara itu dulu tamu setelah
bayar tiket hanya masuk dan tidak ada kegiatan apa-apa oleh penduduk
itu. Tamu bebas melihat-lihat atau melancong masuk rumah melihat
66
arsitektur Bali dan sebagainya.Kemudian dari BHA itu mengusulkan
membangun sarana akomodasi agar tamu lebih kerasan tinggal di
Penglipuran ini.Kalau tamu tinggal lama maka haus ada restoran atau
sarana tempat makan, seterusnya kalau tinggal alam juga harus ada
kegiatan atau aktivitasnya.Kemudian beberapa pengelola awal
kepariwisataan itu mendiskusikan bagaimana pengelolaan selanjutnya
tetapi dari desa adat mengharapkan tidak hanya mengelola ini saja (tiga
hal tersebut diatas; akomodasi, restoran/ masalah pengelolaan makan
dan aktivitas).Tetapi desa adat menharapkan bahwa pengelolaan
kepariwisataan di Penglipuran harus dilakukan/ dikelola secara
komprehensi dengan hanya “satu pintu” artinya dikelola secara proesional
dengan satu pintu.Dimana semua kegiatan kepariwisataan itu dikelola
oleh pengelola khusus yang berkaitan dengan kepariwisataan ini. Jadi
semua tamu atau wisatawan itu harus melalui Pengelola Pariwisata Adat
Penglipuran, masuk dan daftar dari sana nanti kemudian diatur
penempatan menginap ddan sebagainya oleh pengelola wisata ini.

Selanjutnya dibentulah susunan struktur pengelola wisata di Desa Adat


Penglipuran ini kepada ketua adat dan disetujui (ditetapkan pada tanggal
1 Mei 2012). Pengurus Pengelola wisata ini memiliki Pembina yaitu
“prejuru adat” dan “Klian Lingkungan”. Semua kegiatan yang dilakukan
oleh pengelola wisata ini dilaporkan kepada adat.Pengelola wisata ini
hanya bersifat mengelola saja.Kalau ada keputusan-keputusan yang
bersifat krusial maka pengelola wisata ini melapor kepada “klian adat”
atau ketua adat.Setiap bulan adanya pelaporan masalah keuangan dari
hasil kegiatan pengelolaan kepariwisataan ini kepada desa adat melalui
ketua adat. Selanjutnya desa adat, dalam hal ini ketua adat, akan
mensosialisakan atau memberitahukan laporan tersebut kepada
masyarakat dalam orum musyawarah adat. Jadi intinya semua egiatan
pengelola wisata bertanggungjawab kepada desa adat karena semua
yang dikeloal ini merupakan “aset desa adat”.

Sementara pendapatan pariwisata di Penglipuran ini secara individu


memang tidak merata mendapatkan “upah” yang sama atau merata.
Artinya bahwa masyarakat penglipuran sementara tidak bisa menikmati
hasil dari pengelolaan kepariwisataan ini secara individu secara langsung
secara merata.Kondisi ini juga karena memang kenyataanya tidak semua
masyarakat adat terlibat dalam konteks “wira usaha” dalam
kepariwisataan, seperti berjualan dan sebagainya.Tetapi secara
kolektivitas masyarakat desa Penglipuran ini sudah merasakan dampak
keuntungan dari adanya pengelolaan kepariwisataan ini, karena
pemasukan terbesar dari pengeolaan wisata ini masuk ke kas desa
67
adat.Hal ini menjadikan masyarakat adat diringankan dalm hal-hal terkait
iuran adat karena adanya bantuan dari pendapatan kegiatan pariwisata
yang dikelaola oleh pengelola wisata adat ini.Seperti iuran membangun
pura dan sarana adat lainnya telah dibantu dari hasil pengelolaan wisata
ini.Masyarakat secara individu menyadari bahwa meskipun secara pribadi
mereka tidak menerima tetapi secara kolektivitas mereka telah
mendapatkan bantuan atau dibantu.Masyarakat tidak merasa mengeluh
bilamana ada permintaan secara gotong royong untuk kegiatan-kegiatan
yang bersifat memperbaiki atau membangun sarana-saran yang
mendukung kegiatan kepariwisataan.Bahkan masyarakat scara sukarela
melaksanakan perminataan desa adat dalam mendukung wisata di
Penglipuran ini terkait masalah keamanan, kenyamanan dan kebersihan
lingkungan.

Adapun salah satu recana kegiatan pengelolaan kepariwisataan di


Penglipuran untuk masa datang diantaranya adalah adanya atau
dibentuknya pusat-pusat jajanan untuk wisatawan berbelanja bilaman
sedang berkunjung ke Penglipuran. Pihak desa diharapkan akan
meikirkan lokasi dan kios-kos yang bagus untuk penduduk penglipuran
yang akan berdagang. Rencana ini direncakan secara bertahap agar tidak
adanya penduduk yang berjualan di rumah-rumah sendiri sehingga
kebebasan pengunjung untuk menginap di rumah-rumah itu
tenang.Rencana ini juga terkait dengan pemikiran agar kondisi ruang di
sekitar rumah penduduk tidak rusak atau terganggu oleh aktivitas
penduduk yang sementara ini berjualan di rumah-rumah. Rencana ini
sudah disusun semacam model pasar tradisional dan sudah diajukan
kepada pengurus ‘desa adat”. Pemikiran yang melatar belakangi dari
rencana ini juga sehubungan dengan pernah adanya kegaitan masyarakat
sekitar dan masyarakat luar desa adat penglipuran yang berjualan sampai
memasang ter[al di tempat parkiran dan hal itu dianggap mengganggu
kepentingan umum dan tata ruang wisata yang diharapkan warga adat.
Selama ini kegiatan berjualan warga adat selain yang dilakukan di rumah-
rumah mereka masing-masing juga dilakukan di Balai Desa yang
sekarang sedang diperbaiki.

Aturan-aturan terkait kepariwisataan.Adanya iuran 10% dari kentungan


dagang warga untk dikelola kembali oleh pengelola wisata menyangkut
pengembangan kegiatan ekonomi warga selanjutnya.Aturan itu dihasilkan
beraarkan rapat desa adat dengan para pedagang.Fasilitas yang
disediakan oleh pengelola adalah dengan menyediakn tempat berjualan
pada hari-hari besar.Biasanya warga menaikan harga dagangan sebesar
sepuluh persen atau lebih dari harga biasa, hal itu terkait dengan adanya
68
iuran tadi, dan hal ini dirasakan warga (yang berdagang) tidak merugikan
mereka karena dagangan mereka tetap laris.Pengaturan ini juga agar
terjadi suasan ekonomi masyarakat yang tertib dan rapih.
Kepengurusan pengelola wisata ini dilakukan rencannya selama lima
tahun sekali. Para pengurus akan selalu dilakukan oleh warga penduduk.
Meskipun dari pihak BHA pernah menawarkan adanya pengelolaan
kepariwisataan Penglipuran dari professional luar, tap masyarakat addat
tidak menerima, karena terkait rencana pengelolaan wisata yang berbasis
masyarakat.

Pembagian peran warga dalam partisipasi kepariwisataan ;


1. Anak-anak dalam kegiatan sanggar seni yang biasa latihan setiap rabu
dan jumat secara rutin yang dipersiapkan utnuk melenagkapi kegiatan
wisata terkait dengan adanya paket wisata. Baik untuk tarian
penyambutan atau permintaan pertunjukan khusus dari wisatawan.
Pernaha adanya kegiatan pertunjkan regular tarian tapi belum dikelola
secara khusus karena waktu itu wisatawan belum datang secara rutin.
2. Anak-anak muda- remaja dan dewasa (diatas SMA) adalah pelatihan
“guide local”. Hal ini terkait pentingnya orang lokal dalam menjelaskan
budaya dan hal-gal yang ada di Penglipuran kepada para wisatawan.
Hal ini karena belum tentu guide lain mengerti. Adanya rencana darik
piha stasiun televis swasta (SCTSV) untuk membantu pelatihan ini.
3. Ibu-ibu atau bapak-bapak sejauh ini umumnya masih ada pada
aktivitas masing-masing. Artinya untuk kalangan orang tua
dipersilahkan untuk tetap beraktivitas dengan kegiatan keseharian,
tidak diarahkan untuk kepariwisataan. Hal ini mengingat justru
dengan kegiata keseharian ini pulalah akan menjadi daya tarik para
wisatawan yang berkunjung untuk melihat budaya keseharian warga
masyarakat Penglipuran. Misalnya yang bertani tetap bertani, yang
menganyam atau melakukan kerajina menganyam tetap menganyam
dan sebagainya. Sebagai contoh pernah dilakukan paket wisata
“cooking class” dimana wisatawan disertakan dalam pembuatan kueh
klepon´bersama warga yang memang terbiasa membuat kueh
tersebut dan hal itu dianggap wisatawan menarik.

Intinya bahwa dalam kegiatan pariwisata di penglipuran yang sudah dan


sedang berjalan adlah selain terkait aspek penataan fisik bangunan dan
sebagainya, juga melibatkan partisipasi warga adat dalam pengembangan
kegiatan sehari-harinya yang mendukung nuansa kepariwisataan.
Kendala sosial terkait kegiatan kepariwisataan.Generasi muda masih
dianggap belum begitu perhatian dan mendukung terhadap kegiatan
kepariwisataan.Mereka, kalangan muda masih beranggapan bahwa kegiatan
69
wisata ini belum bisa mencukupi kebutuhan ekonomi mereka. Generasi muda
cenderung mencari penghasilan dengan cara bekerja keluar desa. Rata-rata
generasi muda Pengipuran bekerja di luar di sector kapal pesiar dan
perhotelan.Terbukti banyaknya tamatan diploma perhotelan. Hal ini
diasumsikan karena mereka belum melihat aspek wisata ini bisa menjamin
masa depan kehidupan mereka. Oleh karena itu pihak pengelola wisata selalu
berusaha memikirkan bagaimana caranya agar aktivtas pengelolaan wisata ini
bisa memancing minat generasi muda untuk terlibat dengan cara mengemas
ide-ide paket wisata yang dianggap menguntungkan secara finansial bagi
kalangan generasi muda tersebut.
Keuntungan dari kegiatan wisata di Penglipuran. Keuntungan dari
pengelolaan wisata sebesar 60% diberikan kepada pemda, 20% diserahkan
kepada desa adat, 20% persen untuk kegiatan pengelola. Keuntungan 20%
untuk pengelola itu dengan ketentuan :
- Honor penjaga tiket dua orang per hari Rp 40.000,- per orang
- Honor tukan sapu dua orang per hari Rp 40.000,- per orang
- Honor front office satu orang per hari Rp 40.000,- per orang
- Honor pecalang satu orang per hari Rp 40.000,- per orang
Pengelola sendiri (pengurus wisata) sendiri malah tidak digaji karena
sifatnya “mengayah” atau mengabdi dengan tujuan mengantarkan kegiatan
wisata ini berjalan lancar untuk masa datang. Pengelola baru mendapatkan
honor ketika kerja dalam acara-acara tertentu dalam meldyani tamu dan
sebagainya. Intinya lebih mementingakan pendapatan wisata itu untuk para
pekerja tadi dan untuk kebutuhan desa adat.Pengelola sifatnya hanya
mengelola dan mengantarkan hal-hal pengembangan wisata desa adat.

Dana kegiatan pengelolaan wisata selain dari hasil pengelolaan juga meminta
berdasarkan pengajuan kepada desa adat.Para pengelola tidak pernah
meminta untuk digaji atas kegiatannya sebagai pengurus pengelola wisata.
Berdasarkan pengamatan bahwa kepariwisataan di Penglipuran itu belum
dipahami secara menyeluruh oleh warga adat. Kadang masyarakat lebih
mementingak kepentingan sendiri terkait maslaah jualan di rumah-rumah
pribadi.Namun ha ini belum bisa diatasi secara komprehensif. Hal ini menjadi
salah satu pemikiran yang oleh pengelola ke depan menjadi “pekerjaan
rumah” dalam pengelolaan wisata ini. Pengelola belum bsa menyikai hal-hal
yang kurang mendukung kepariwisataan karena hal-hal yang terkait
pngendalian sosial itu terkait dengan kebijakan-kebijakan yang ada pada
“desa adat”. Artinya pengurus pengelola wisata tidak bsia secara tegas untuk
mengatur ketidaknyaman atau hal-hal yang dianggap mengganggu aspek
kepariwisataan tanpa melalui pembicaraan dan ditentukan dalam musyawarah
adat dan adanya dibuat kebijakan adat.

70