Anda di halaman 1dari 73

KEMENTERIAN AGRARIA DAN TATA RUANG/ BPN

DITJEN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG DAN PENGUASAAN TANAH


DIREKTORAT PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG
Ringkasan Eksekutif

PENYUSUNAN INSTRUMEN LENGKAP


P E N G E N D AL I A N P E M A N FA ATAN R U A N G
KAWASAN PERBATASAN SKOUW

KEMENTERIAN AGRARIA DAN TATA RUANG/ BPN


DITJEN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG DAN PENGUASAAN TANAH
DIREKTORAT PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG
Prakata
Laporan Ringkasan Eksekutif ini merupakan salah satu
produk akhir dari Kegiatan Penyusunan Instrumen Lengkap
Pengendalian Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan
Skouw Distrik Muara Tami, Kota Jayapura. Laporan
Ringkasan Eksekutif ini berisi tentang pendahuluan, dasar
perumusan Insdal, peraturan zonasi, instrumen lengkap
pengendalian, serta visualisasi insdal kawasan Skouw.

Pengendalian Pemanfaatan Ruang merupakan upaya untuk


mewujudkan tertib tata ruang melalui pelaksanaan
pemanfaatan ruang yang sesuai dengan Rencana Tata
Ruang. Pengendalian pemanfaatan ruang tersebut
dilakukan melalui empat instrumen, yaitu pengaturan
zonasi, pemberian izin pemanfaatan ruang, pemberian
insentif dan disinsentif, serta pengenaan sanksi (UU No.26
Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, pasal 35).
Berdasarkan Perpres No. 32 Tahun 2015 tentang RTR
Kawasan Perbatasan di Papua, ditetapkan pusat pelayanan
pintu gerbang di Skouw (Kp Mosso) dengan fungsi sebagai
berikut: pusat pelayanan CIQS, pusat kegiatan hankam,
pusat pelayanan pendidikan dan kesehatan, pusat
perdagangan jasa lintas negara dan simpul transportasi
tersier.

Semoga laporan ringkasan eksekutif ini dapat bermanfaat


bagi pihak yang berkepentingan. Kepada semua pihak yang
telah turut membantu. selama proses penyusunan Laporan
ini, kami ucapkan terima kasih.
Penyusun
Diterbitkan oleh :
Kementerian Agraria Dan Tata Ruang/ Bpn
Ditjen Pengendalian Pemanfaatan Ruang Dan Penguasaan Tanah
Direktorat Pengendalian Pemanfaatan Ruang

Pelindung :
DR. Ir. Budi Situmorang, MURP

Penasehat :
Ir. Haris Simanjuntak, M.Dev. Plg

Tim Supervisi :
Ludfie Hamdri, ST., MT.
Audrie Winni, ST,, MT.
Budhi Sudarma, ST.
Arief Wahyudi, ST., MM.
Muhammad Sukron A., ST.

Tim Penyusun:
Elvira Naim, ST., MPP.
Riana Viciani G., ST., MRK.
Raditya Pamungkas, ST., MAP.
Reza Sahrizal, ST.
Muhammad Faris Gymnastiar, ST.
Konten

01 09 19

37 57
01
PENDAHULUAN
01
Latar Belakang
Maksud, Tujuan, dan Sasaran
Lingkup Wilayah
Istilah dan Definisi
Kedudukan Insdal Dalam Penataan Ruang
LATAR BELAKANG
Pengendalian pemanfaatan ruang merupakan upaya untuk
mewujudkan tertib tata ruang melalui pelaksanaan pemanfaatan
ruang yang sesuai dengan Rencana Tata Ruang. Berdasarkan
Pasal 35 UU No.26/ 2007 tentang Penataan Ruang (UUPR),
pengendalian pemanfaatan ruang tersebut dilakukan melalui empat
instrumen, yaitu pengaturan zonasi, pemberian izin pemanfaatan
ruang, pemberian insentif dan disinsentif, serta pengenaan sanksi.
Salah satu kawasan strategis nasional yang memiliki tingkat urgensi
yang tinggi untuk dikawal pengendalian pemanfaatan ruangnya
adalah Kawasan Perbatasan Negara.
Pengendalian Pemanfaatan Ruang juga dijelaskan dalam Permen
PU No. 20/ 2011, tentang pedoman penyusunan RDTR dan
Peraturan Zonasi, dimana salah satu instrument dalam
pengendalian pemanfaatan ruang adalah peraturan zonasi.
Instrumen ini berfungsi untuk membatasi pembangunan kawasan,
serta berisi ketentuan-ketentuan teknis dan administratif
pemanfaatan ruang dan pengembangan tapak. Pengendalian
pemanfaatan ruang yang disusun berada pada kawasan perbatasan
KSN dari sudut kepentingan pertahanan dan kemanan yang
mencangkup wilayah kedaulatan negara termasuk pulau-pulau kecil
terluar yang berbatasan langsung dengan negara tetangga dan/atau
laut lepas. Kawasan perbatasan negara merupakan salah satu
kawasan strategis nasional yang wilayah penataan ruangnya
diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting secara
nasional dalam hal kedaulatan negara serta pertahanan dan
keamanan negara.

Ringkasan Eksekutif 3
LATAR BELAKANG
Dalam PP No. 13/ 2017 tentang RTRWN telah ditetapkan kawasan
– kawasan perkotaan dikawasan perbatasan yang berfungsi untuk
mendorong pengembangan kawasan perbatasan negara.
Berdasarkan Perpres RTR Kawasan Perbatasan ditetapkan
beberapa kawasan perbatasan yaitu Kawasan Perbatasan Aceh,
Kawasan Perbatasan Provinsi Riau, Kawasan Perbatasan
Kalimanatan, Kawasan Perbatasan Sulawesi Utara, Provinsi NTT,
Provinsi Maluku Utara, Maluku dan Papua. Kawasan Perbatasan
Skouw di Provinsi Papua merupakan salah satu kawasan
perbatasan yang telah ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah
tersebut.
Kawasan Perbatasan Negara, di Skouw kurang lebih 57 km di
sebelah timur Kota Jayapura. Berdasarkan Perpres No. 32/ 2015
tentang RTR Kawasan Perbatasan di Papua, ditetapkan pusat
pelayanan pintu gerbang di Skouw (Kp Mosso) dengan fungsi
sebagai berikut: pusat pelayanan CIQS, pusat kegiatan hankam,
pusat pelayanan pendidikan dan kesehatan, pusat perdagangan
jasa lintas negara dan simpul transportasi tersier. Sedangkan pusat
pelayanan penyangga di Skouw Mabo ditetapkan fungsi sebagai
berikut: pusat kegiatan hankam, pusat pemerintahan, pusat
pengembangan agropolitan, pusat perdagangan dan jasa skala
regional, pusat pelayanan pendidikan dan kesehatan serta simpul
transportasi sekunder.

4 Ringkasan Eksekutif
Maksud Sasaran
Maksud kegiatan ini adalah untuk 1. Tersusunnya Peraturan Zonasi yaitu Zoning Map yang
menjamin tertib tata ruang dan dilengkapi Zoning Text yang berisi materi wajib dan materi
mengamankan fungsi Kawasan pilihan dalam penyusunan Peraturan Zonasi
Perbatasan Skouw sebagai bagian
dari sistem nasional. 2. Tersusunnya bentuk, kriteria, dan tata cara dalam
pemberian izin pemanfaatan ruang, pemberian insentif dan
disinsentif dalam perwujudan rencana tata ruang serta
pengenaan sanksi terhadap pelanggaran pemanfaatan
Tujuan ruang Kawasan Perbatasan Negara Skouw berdasarkan
peraturan zonasi.
Tujuan dari kegiatan ini adalah 3. Tersusunnya rancangan perundang-undangan tentang
menyusun Instrumen Pengendalian instrumen pengendalian pemanfaatan ruang kawasan
Pemanfaatan Ruang di Kawasan perbatasan Skouw dalam rangka perlindungan dan
Perbatasan Skouw. optimalisasi kawasan perbatasan

Maksud,Tujuan
& Sasaran Ringkasan Eksekutif 5
P
A
P
U
A

N
U
G
I
N
I

Lokasi pintu perbatasan Skouw : 56 Km dari


arah Timur Pusat Kota Jayapura (± 1,5 jam)
dengan kendaraan darat

Perpres No 32 Tahun 2015


 Pusat Pelayanan Pintu Gerbang
di Skouw (Kp Mosso)
 Pusat Pelayanan Penyangga di 3
Kampung Skouw
P
A
P
U
A

N
U
Pelabuhan Jayapura G
I
SAMUDRA PASIFIK
Pasar N
Jembatan Hamadi - Perbatasan I
Pantai Skouw
Bandara Sentani Holtekamp
Skouw Mabo
Skouw Yambe
Skouw Sae
Moso (PLBN)

± 56 km Kws Transmigrasi & Agropolitan Koya ± 57 km

6 Ringkasan Eksekutif
Distrik Muara Tami
(62.670 Ha)
Vanimo
(PNG)
1. RENCANA adalah proses penataan, pemanfaatan dan
pengendalian, pemanfaatan dalam hal ini ruang.
2. RUANG adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut,
dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu
ISTILAH DAN DEFINISI
kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lain hidup, 13. KAWASAN PERBATASAN adalah bagian dari wilayah negara
melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya. yang terletak pada sisi dalam sepanjang batas wilayah
3. TATA RUANG adalah wujud struktur ruang dan pola ruang. Indonesia dengan negara lain, dalam hal batas wilayah negara
4. PENATAAN RUANG adalah suatu sistem proses perencanaan di darat, kawasan perbatasan berada di kecamatan.
tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian 14. BLOK adalah sebidang lahan yang dibatasi sekurang-
pemanfaatan ruang. kurangnya oleh batasan fisik yang nyata seperti jaringan jalan,
5. PELAKSANAAN PENATAAN RUANG adalah upaya sungai, selokan, saluran irigasi, saluran udara tegangan ekstra
tinggi, dan pantai.
pencapaian tujuan penataan ruang melalui pelaksanaan
15. ZONA adalah kawasan atau area yang memiliki fungsi dan
perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan karakteristik spesifik.
pengendalian pemanfaatan ruang. 16. SUBZONA adalah suatu bagian dari zona yang memiliki fungsi
6. PENGAWASAN PENATAAN RUANG adalah upaya agar dan karakteristik tertentu yang merupakan pendetailan dari
penyelenggaraan penataan ruang dapat diwujudkan sesuai fungsi dan karakteristik pada zona yang bersangkutan.
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 17. INTENSITAS RUANG adalah besaran ruang untuk fungsi
7. PERENCANAAN TATA RUANG adalah suatu proses untuk tertentu yang ditentukan berdasarkanpengaturan Koefisien
menentukan struktur ruang dan pola ruang yang meliputi Lantai Bangunan, Koefisien Dasar Bangunan dan Ketinggian
penyusunan dan penetapan rencana tata ruang. Bangunan tiapkawasan bagian wilayah kabupaten sesuai
8. PEMANFAATAN RUANG adalah upaya untuk mewujudkan dengan kedudukan dan fungsinya dalarn pembangunankota;
struktur ruang dan pola ruang sesuai dengan rencana tata 18. TATA MASSA BANGUNAN adalah bentuk, besaran,
ruang melalui penyusunan dan pelaksanaan program beserta peletakan, dan tampilan bangunan pada suatu persil/tapak
pembiayaannya. yang dikuasai
9. IZIN PEMANFAATAN RUANG adalah izin yang dipersyaratkan 19. KOEFISIEN DASAR BANGUNAN (KDB) adalah angka
dalam kegiatan pemanfaatan ruang sesuai dengan ketentuan perbandingan jumlah luas lantai dasar terhadap luastanah
perpetakan yang sesuai dengan rencana daerah;
peraturan perundang-undangan.
20. KOEFISIEN LANTAI BANGUNAN (KLB) adalah angka
10. PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG adalah upaya perbandingan jumlah luas seluruh lantai terhadapluas tanah
untuk mewujudkan tertib tata ruang. perpetakan yang sesuai dengan rencana daerah;
11. PERATURAN ZONASI adalah ketentuan yang mengatur 21. GARIS SEMPADAN BANGUNAN yang selanjutnya disingkat
tentang persyaratan pemanfaatan ruang dan ketentuan GSB adalah sempadan yang membatasi jarak terdekat
pengendaliannya dan disusun untuk setiap blok/zona bangunan terhadap tepi jalan; dihitung dari batas terluar
peruntukan yang penetapan zonanya dalam rencana rinci tata saluran air kotor (riol) sampai batas terluar muka bangunan,
ruang. berfungsi sebagai pembatas ruang, atau jarak bebas minimum
12. KAWASAN STRATEGIS NASIONAL adalah wilayah yang dari bidang terluar suatu massa bangunan terhadap lahan
penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh yang dikuasai, batas tepi sungai atau pantai, antara massa
sangat penting secara nasional terhadap kedaulatan negara, bangunan yang lain atau rencana saluran, jaringan tegangan
pertahanan dan keamanan negara, ekonomi, sosial, budaya, tinggi listrik, jaringan pipa gas, dsb (building line).
dan/atau lingkungan, termasuk wilayah yang telah ditetapkan 22. TEKNIK PENGATURAN ZONASI adalah fleksibelitas dalam
sebagai warisan dunia. pengaturan zonasi..

Ringkasan Eksekutif 7
8 Ringkasan Eksekutif
02
DASAR
PERUMUSAN
INSDAL
02
Perumusan Insdal Skouw
Arahan Tujuan Kebijakan terhadap Insdal Skouw
Tujuan Penataan Ruang Kawasan Skouw
Prinsip Pengendalian Pemanfaatan Ruang Skouw
PERUMUSAN INSDAL KAWASAN SKOUW
ISU PERMASALAHAN DAMPAK ARAHAN TATA RUANG TUJUAN INSDAL KONSEP INSDAL

HANKAM : Ppres No 32/2015 STRATEGI Pengamanan


IDENTIFIKASI ISU Masuknya Perdagangan Narkoba mudah diperoleh  Mengembangkan pos PENINGKATAN kawasan pesisir
PERMASALAHAN Narkoba via laut (drug dan diigunakan oleh keamanan dengan jarak 20 km PERTAHANAN DAN dengan penyediaan
pada Kawasan trafficking) masyarakat setempat  Pengembangan pos keamanan KEMANAN PADA dermaga TNI AL pada
yang memiliki potensi KAWASAN Skouw Sae
kerawanan pada pesisir PERBATASAN
EKONOMI : Ppres No 32/2015 PENINGKATAN Peningkatan fungsi
 Usaha perkebunan Hasil perekebunan hanya  Mengembangkan kawasan KEGIATAN EKSPOR perekebunan dengan
TUJUAN : dilakukan secara dimanfaatkan oleh peruntukan pertanian tanaman IMPOR PADA KAWASAN kegiatan agroindustry
 Optimalisasi tradisional masyarakat lokal pangan untuk menunjang DENGAN pada 3 kampung
ketersediaan pangan lokal MENGUTAMAKAN skouw
pengendalian  Minimnya usaha hilirisasi Rendahnya nilai jual hasil
 Mengembangkan kawasan HASIL PERKEBUNAN
kawasan pertanian pada kawasan pertanian, karena hasil Memberikan TPZ
peruntukan perkebunan dan
pertanian yang dijual tidak Pengendalian
 Minimalisir diolah
horikultura secara MENJADIKAN
Pertumbuhan
berkelanjutan MASYARAKAT ASLI
dampak pada
 Pelaku usaha dipasar Masyarakat lokal SEBAGAI PELAKU Menerapkan aturan
kawasan perbatasan dikuasi oleh sebagaian besar sebagai UTAMA 60 : 40 yaitu ( 60
 Mendorong masyarakat pendatang konsum dan tidak memiliki PEREKONOMIAN DI pedagangan lokal dan
perkembanga peluang untuk usaha SKOUW 40 pedagangan non
lokal)
n kawasan
perbatasan SOSIAL BUDAYA : Ppres No 57/2014 PENINGKATAN Pengaturan pada TPZ
Belum jelasnya karakter Kawasan tidak memiliki Mengembangan kawasan KAWASAN PARIWISATA Cagar Budaya dan
kawasan sebagai cagar identitas sebagai kawasan sebagai pusat cagar budaya. Ilmu BUDAYA DENGAN memberikan insentif
budaya budaya dan nilai adat pengetahuan dan ekowisata MEMPERHATIKAN NILAI bagi yang
istiadat semakin terkikis berbasis kearifan lokal ARITEKTUR LOKAL membangun sesuai
karakter lokal
ARAHAN LINGKUNGAN : Ppres No 32/2015 STRATEGI Pengaturan jarak
Mewujudkan  Abrasi pada 3 Pantai  Berukuranya luas Rehabilitasi dan pelestarian PENGAMANAN sempadan pantai 100
Kawasan skouw daratan skouw akibat sempadan pantai di Wilayah KAWASAN LINDUNG m dan masing-masing
Perbatasan  Kenaikan air pasar abrasi Pesisir dan PPKT kawasan memiliki
 Rawan gempa  Kenaikan air buffer area yang
Negara Yang  Pemanfaatan sempadan menyebabkan banjir berfungsi sebagai
Berdaya Saing pantai u permukiman pada kawasan RTH
Tinggi  Imbasan tsunami 2011
TRANSPORTASI : Masyarakat menggunakan Ppres No 32/2015 PENGEMBANGAN Pengembangan
Belum memiliki kendaraan pribadi Pengmbagan Simpul Trasportasi TRASPORTASI Terminal dan Jalan
transporasti umum regional REGIONAL Strtageis Nasional

Ringkasan Eksekutif 11
SINKRONISASI ARAHAN TUJUAN KEBIJAKAN TERHADAP INSDAL SKOUW
RTRW Kota Perwujudan/ Sinkronisasi
Perpres 32/2015 (RTR RDTR Distrik Muara Tami RDTR Kawasan Perbatasan Arahan pada INSDAL Skouw
Jayapura Rancangan RDTR Skouw
Kaw.Prbtasan di Papua (draft Raperda, 2016) Negara di Skouw (2017) Tahun 2018
(Perda No. 1/2014) Tahun 2017
Pusat Pelayanan SUB PUSAT Pusat Pelayanan di Pusat PINTU GERBANG di 1.Pusat pemerintahan Arahan Pengendalian Kawasan
PINTU GERBANG di PELAYANAN Skouw Mabo, fungsi PLBN Skouw (Kp.Mosso): dan perkantoran  peyangga (Skouw Mabo,
Skouw (Kp Mosso), KOTA di Skouw utama: 1.Pusat pelayanan CIQS Skouw Mabo Yambe dan Sae)
fungsi: Mabo, fungsi: 1.Pusat pemerintahan (PLBN Terpadu) 2.Pusat perdagangan 1.Pengendalian pertumbuhan
1.Pusat pelayanan 1.Perdagangan skala lingkungan & 2.Pusat kegiatan Hankam dan jasa skala kota kawasan pusat pemerintahan
CIQS. dan jasa kota (Pos PAMTAS, Asrama, dan regional  dengan memberikan teknik
2.Pusat kegiatan 2.Perkantoran 2.Pertahanan & Helipad, dll) direncanakan di Jalan pengaturan zonasi atau TPZ
hankam 3.Pariwisata keamanan 3.pusat pelayanan Skouw Mabo dan 2.Perumahan diarahakan
3.Pusat pelayanan 3.Pusat wisata pendidikan &kesehatan: Koya Barat – Koya dengan memiliki nilia
pendidikan & budaya 4.Pendidikan : TK,SD Timur aristektur lokal, baik dari
kesehatan 4.Perumahan 5.Kesehatan : Puskesmas 3.Perumahan  di ornemen bangunan maupun
4.Pusat 5.Unit Lingkungan: 6.pusat perdagangan jasa pusat – pusat warna bangunan
perdagangan jasa Kp.Skouw Yambe: lintas batas (Pasar PLBN) lingkungan 3.Pusat pendidikan berada
lintas Negara 1.Wisata Budaya & 7.simpul transportasi tersier 4.Pusat pendidikan dan pada kawasan skouw mabo,
5.Simpul transportasi Alam (Terminal Barang) kesehatan, namun masing-masing desa
tersier 2.Konservasi eksisting: terdapat memiliki kawasan pendidikan
Pusat Pelayanan 3.Zona pertanian Pusat PENYANGGA pendidikan dari TK 4.Pengembangan pariwisata
PENYANGGA di pendukung (S. Mabo): hingga SMA/SMK dan budaya dengan
Skouw Mabo, fungsi: keg.agropolitan 1.Pusat Keg Hankam kesehatan berupa mengendalikan pertumbuhan
1.Pusat kegiatan 4.Perumahan (Koramil, POS AL) puskesmas.  usulan bangunan sekitar sempadan
hankam Kp.Skouw Sae: 2.Pusat pemerintahan (& pengembangan pantai dengan memberikan
2.Pusat 1.Wisata Budaya & perkantoran) sekolah tinggi TPZ pengendalian
pemerintahan Alam 3.Pusat perdagangan-jasa kejuruan pertumbuhan.
3.Pusat Pengemb. 2.Pertahanan & skala regional (Pasar Pertanian/Agroindustri 5.Pengendalian peralihan
Agropolitan keamanan Grosir,Tradisional,toko) dan peningk. fungsi perkebunan
4.Pusat 3.Zona pertanian 4.Perumahan kepadatan puskesmas rawat inap masayarakt menjadi
perdagangan & pendukung kegiatan sedang & rendah di Skouw Mabo kepemilikan swasta
jasa skala regional agropolitan 5.Pusat pendidikan dan 5.Pusat wisata budaya 6.Pengendalian perubahan
5.Pusat pelayanan 4.Perumahan kesehatan (Sekolah Tinggi (3 kp di pesisir Skouw) status tanah ulayat menajdi
pendidikan dan Kp. Mosso: Pertanian)  belum didukung tanah pribadi dengan sistem
kesehatan 1.Pertahanan & 6.Simpul Transp Sekunder sarana dan prasarana sewa
6.Simpul transportasi keamanan (Terminal penumpang) yang baik.
sekunder 2.Konservasi 7.Pariwisata budaya & alam 6.Pengembangan Kawasan Inti PLBN Kampung
3.Zona pertanian 8.AGROINDUSTRI kegiatan perkebunan Mosso :
pendukung kegiatan pendukung Agropolitan kelapa di Skouw Post Litas Batas Negara
agropolitan (padi, ubi, kelapa,ternak) Sae belum optimal. sebagai pintu gerbang
internasional
12 Ringkasan Eksekutif
TUJUAN PENATAAN RUANG KAWASAN SKOUW
Perda Kota
Perda Provinsi
Peraturan Presiden RTR Kawasan Jayapura Draft RDTR
Papua No.23/ 2013 INSDAL Kawasan
No 57/ 2014 Tentang Perbatasan Negara No. 1/ 2014 Kawasan
tentang RTRW Perbatasan Skouw
Rencana Tata Ruang di Papua Perpres tentang RTRW Perbatasan Skow
Provinsi Papua Tahun 2018
Pulau Papua 32/2015 Kota Jayapura Tahun 2018-2038
Tahun 2013 – 2033
Tahun 2013 – 2033

• Pusat pengembangan • Kawasan fungsi Mewujudkan tata Mewujudkan Kota Mewujudkan Terwujudnya
wilayah berbasis pertahanan dan ruang lestari, aman, Jayapura sebagai Kawasan Perbatasan Pengendalian
Kampung Masyarakat keamanan negara nyaman, dan pusat pelayanan Negara sebagai Pemanfaatan Ruang
Adat dengan didukung untuk menjamin produktif untuk regional beranda depan Kawasan Perbatasan
prasarana dan sarana keutuhan, menjamin kualitas pendidikan, Negara dengan basis Negara dengan
yang handal; kedaulatan, dan hidup masyarakat perdagangan dan pertahanan dan memperhatikan nilai-
• Kawasan berfungsi ketertiban wilayah dengan jasa, pariwisata, keamanan yang kuat nilai dan aturan
lindung paling 70% negara yang memperhatikan serta beranda dan pusat pelayanan dalam mewujudkan
(tujuh puluh persen) berbatasan dengan kearifan lokal dan depan negara yang perdagangan-jasa tata ruang kawasan
dari luas Pulau Papua negara Palau, karakteristik aman, lintas Negara sebagai beranda
dan kelestarian Papua Nugini, dan ekosistem papua nyaman, produktif, didukung oleh depan negara
• Keanekaragaman Australia; berkelanjutan, serta pengembangan dengan basis
hayati kelautan dunia • Kawasan berfungsi menjaga pariwisata dan pertahanan dan
sebagai bagian dari lindung di Kawasan kelestarian alam agroindustri pertanian keamanan yang kuat
Segitiga Terumbu Perbatasan Negara dan kearifan yang berkelanjutan dan pusat pelayanan
Karang (Coral yang lestari; lokal.” dengan perdagangan-jasa
Triangle); • Kawasan Budi Daya memperhatikan lintas Negara yang
• Pusat pertumbuhan perbatasan yang kearifan lokal. didukung oleh
ekonomi berbasis mandiri dan pengembangan
pertanian, perikanan, berdaya saing. pariwisata dan
pariwisata, serta agroindustri pertanian
pertambangan yang yang berkelanjutan
berdayasaing dengan dengan
prinsip berkelanjutan; memperhatikan
dan kearifan lokal
• Kawasan Perbatasan
sebagai beranda
depan dan pintu
gerbang internasional
yang berbatasan
dengan Negara Papua
Nugini, Negara Palau
dan Negara Australia.
Ringkasan Eksekutif 13
PRINSIP PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG KAWASAN SKOUW
Sasaran Pengendalian Komponen Pengendalian Prinsip Pengendalian
A. Mengidentifikasi pelanggaran- 1. Jenis – jenis dan bentuk pelanggaran tata ruang Jenis penganngaran baik fisik maupun non fisik pada
pelanggaran pemanfaatan kawasan
ruang kawasan perbatasan 2. Propersi pelanggaran terhadap tata ruang Jumlah dan proprsi pelanggaran pada zona / sub zona /
negara blok / sub blok
3. Faktor penyebab pelanggaran tata ruang Faktor internal dan eksternal penyebab pelanggaran
pada kawasan
B. Mengidentifikasi dampak 1. Dampak positif pembangunan terhadap kawasan Dampak positif yang menjadi kawasan lebih maju
pembangunan pada kawasan perbatasan dengan adanya pembangunan
perbatasan negara 2. Dampak negative pembangunan terhadap Dampak negative yang menimbulkan masalah baik
kawasan perbatasan negara sosial, ekonomi maupun pertahanan yang muncul akibat
pembangunan
C. Merumuskan peraturan 1. Kegiatan dan penggunaan lahan pada kawasan Kriteria Kegiatan yang diizinankan (I), kegauatan yang
zonasi pada kawasan terbatas (T), Kegiatan yang bersayarat (B) dan
perbatasan negara kegaiatan yang tidak boleh (X) pada kawasan
perencanaan
2. Intensitas Pemanfaatan Ruang KDB, TB, dan KLB pada kawasan
3. Tata Masa Bangunan GSB, GSJ dan KDH pada kawasan
4. Sarana dan Prasarana minimal Sapras minimal seperti transportasi, jalan dll
5. Ketentuan Khusus Kentuan khusus terkait kawasan Pertahanan dan
kemanan
6. Ketentuan Umum Ketentuan umum yang melingkupi kawasan perencaan
D. Merumuskan teknik 1. Dasar Perumusan Teknik Pengaturan Zonasi Dasar penetapan TPZ pada kawasan berdasarkan
pengaturan zonasi untuk kebutuhan ruang
fungsi hankam, 2. Lokasi dan Luasan Teknik Pengaturan Zonasi Luas dan blok penetapan lokasi (Ha) yang juga diplot
perekonomian, pariwisata dan pada peta TPZ
permukiman 3. Arahan Pengarturan TPZ Ketentuan dalam penetapan TPZ pada kawasan
E. Menetapkan kawasan yang 1. Kawasan yang didorong perkembangannya Kawasan – kawasan yang didorong karena memiliki
akan didorong dan potensi perkembangan yang tinggi dan dapat menajdi
dikendalikan komiditas unggulan pada kawasan
perkembangannya. 2. Kawasan yang dikendalikan perkembangannya Kawasan yang dikendalikan karena dapat menimbulkan
dampak negative dan merusak fungsi ruang
F. Merumuskan mekanisme, 1. Mekanisme, bentuk dan tata cara perizinan Mekanisme, tahapan perizinan, dan kewenangan
bentuk dan tata cara perizinan
perizinan, insentif dan 2. Mekanisme, bentuk dan tata cara Insentif dan Mekanisme, tahapan indis, dan kewenangan indis
diinsentif serta sanksi pada Disiinsentif
kawasan 3. Mekansime, bentuk dan tata cara sanksi Mekanisme, tahapan indis, dan kewenangan sanksi

14 Ringkasan Eksekutif
Rencana Pusat Pertumbuhan
Pusat pengembangan Pusat Pengembangan Pusat Pengembangan Pusat Pengembangan
perdagangan dan jasa Pariwisata  Skouw Agro industri Peternakan Agro industri kelapa 
regional  Skouw Mabo Mabo  Skouw Yambe Skouw Sae

Pusat HANKAM dan


Perdagangan
Internasional  PLBN

TUJUAN INSDAL SKOUW :


, Terwujudnya Pengendalian Pemanfaatan Ruang Kawasan Perbatasan Negara
dengan memperhatikan nilai-nilai dan aturan dalam mewujudkan tata ruang

,,
kawasan sebagai beranda depan negara dengan basis pertahanan dan
keamanan yang kuat dan pusat pelayanan perdagangan-jasa lintas Negara
yang didukung oleh pengembangan pariwisata dan agroindustri pertanian
yang berkelanjutan dengan memperhatikan kearifan lokal

Ringkasan Eksekutif 15
PLBN SKOUW (Kp Mosso), fungsi
utama:
• Pusat Kegiatan HANKAM
• Pelayanan CIQS Terpadu SBWP A
• Pusat Kegiatan Perdagangan & Jasa (kaw. Pintu
Lintas Batas Gerbang)
SBWP B • Perumahan Perbatasan
(Kws Penyangga) • Pelayanan Umum (Lokal)
• Simpul Transportasi (Terminal
Barang)

SKOUW MABO, fungsi utama:


• Pusat Keg. Pemerintahan Distrik
• Pusat Permukiman Perkotaan (Kepadatan sedang & rendah)
• Pusat Kegiatan Perdagangan dan Jasa Regional
• Pusat Pengembangan Agropolitan  Pengemb. AGROINDUSTRI
• Pusat Kegiatan Pelayanan Pendidikan & Kesehatan (Regional &
Lokal)
• Simpul Transportasi (terminal penumpang)

16 Ringkasan Eksekutif
KONSEP PENGEMBANGAN PERBATASAN NEGARA
RENCANA PUSAT SKOUW
PERTUMBUHAN

KONSEP PENGEMBANGAN KAWASAN PERDAGANGAN DAN JASA UNGGULAN Keunggulan Komparatif


(comparative advantage)
Keunggulan yang dimiliki suatu daerah
karena memiliki sumberdaya produksi
yang lebih banyak dibandingkan dengan
yang dimiliki wilayah lain

KOMERSIL
PETERNAKAN
KELAPA
PINANG

Aturan pedagangan dan jasa pada kawasan skouw :


a. Bangunan harus mengikuti arsitektur lokal

ATURAN
b. Bangunan harus menyediakan parkir pada persil PERDAGANGA
c. Bangunan menggunakan sistem sewa tanah
d. Industri pengolahan wajib memiliki AMDAL
N DAN JASA
Ringkasan Eksekutif 17
Usulan Loaksi
PLTU pada Skouw
Mabo
20 Ha

Penambahan
kegiatan
suaka
margasatwa
Usulan Zona
Rawan Bencana
dan Bangunan
Usulan PSU evakuasi bencana
Pemadan
Kebakaran

18 Ringkasan Eksekutif
03
PERATURAN
ZONASI
03
Peraturan Zonasi Kawasan Skouw
Teknik Pengaturan Zonasi Kawasan Skouw
ZONA KLASIFIKIASI SUB ZONA KODE
Hutan Lindung Hutan Lindung HL
Pertlindungan Sempadan Pantai SP
ZONA LINDUNG
Setempat
Sempadan Sungai SS 4 ZONA
Ruang Taman Kota RTH-2 10 SUB ZONA HL
Terbuka Hijau
Taman Kecamatan RTH-3
KAWASAN
LINDUNG Taman Kelurahan RTH-4
Taman RW RTH-5
SP
Taman RT RTH-6
Pemakaman RTH-7
Rawan Rawan Bencana RB
Bencana
Perumahan Rumah Kepadatan Sedang R-3
Rumah Kepadatan Rendah R-4
ZONA BUDIDAYA
Perdagangan Skala Kota K-1 7 ZONA
dan Jasa
Skala BWP K-2 19 SUB ZONA
Skala Sub BWP K-3
Perkantoran Perkantoran KT
Pelayanan
Umum
Skala Kota SPU-1 KT
Skala Kecamatan SPU-2
Skala Kelurahan SPU-3
KAWASAN Skala RW SPU-4
BUDIDAYA
Industri Sentra Industri Kecil Menengah SIKM
Peruntukan Pertanian PL-1
Lainnya
Pertahanan dan Kemanan PL-7
Pembangkit Listrik PL-11
Pariwisata PL-13 R-4
Penyedia Air Minum Pl-14
Campuran Perumahan & Perdagangan jasa C-1
Perumahan & Perkantoran
Perkantoran & Perdagangan Jasa
C-2
C-3 Ringkasan Eksekutif 21
ZONA KLASIFIKIASI SUB ZONA KODE TUJUAN PENGENDALIAN KRITERIA PENGENDALIAN
Hutan Lindung HL 1. Menjaga keberlangsungan 1. Mempertahankan kawasan resapan
air
Hutan Lindung hutan lindung 2. Mempertahan kawasan hutan
2. Menjaga area resapan dan produksi
Sempadan Pantai SP
menjadi sumber air bagi Mengendalikan pengembangunan
kawasan kawasan pada sempatan pantai (radius
Pertlindungan 3. Menjaga kelestarian 100 m dari titi pasang tertinggi)
Setempat Sempadan Sungai SS lingkungan vegetasi dan Mengendalikan pembangunan pada
KAWASAN ekosistem Sempadan sungai (50-100 m untuk
LINDUNG sungai pada kawasan perkotaan )
4. Pemenuhan 30 % RTH
Taman Kota RTH-2 Kawasan 1. Kawasan mampu mewujudkan RTH
sebanyak 30 % dengan 10 RTH pada
Taman Kecamatan RTH-3 5. Menciptakan ruang publik private dan 20 % RTH Publik
Taman Kelurahan RTH-4 yang indah dan asri 2. RTH menggunakan tanaman lokal
Ruang Terbuka Hijau 6. Menciptakan taman kota seperti anggrek hitam, furing dll
Taman RW RTH-5
3. RTH pada kawasan mampu
Taman RT RTH-6
yang memiliki fungsi merepresentasikan nilai keratifan
aktivitas dan ekologi lokal pada kawasan
Pemakaman RTH-7

Bangunan berada
setelah
Sempadan (100 m)
R

100 m dari titik pasang RTH / Promenade


Pantai tertinggi

22 Ringkasan Eksekutif SP RTH


INSDAL TERINTERGRASI
Mewujudkan Kawasan Lindung
Tujuan
Zonasi TPZ Ketentuan Teknis Insentif Disinsentif Sanksi Target Capaian
Pengendalian

Terwujudnya HL  Pemberian Kewajiban Bangunan Kawasan HL


pemanfaatan kompensasi bagi membayar yang yang lestari
ruang pada PS-1 Tanpa TPZ Khusus bagi bangunan yg sdh ada di rumah yang kompensasi dibangun
zona lindung Sempadan diatur dlm zona sempadan pantai sebelum bersedia pindah bagi pada zona Terlindunginya
yang tertata pantai 100 m dalam peraturan pengendalian berlaku: dari zona masyarakat/ ini akan sempadan
dan terkendali dr titik pasang Peraturan  Bangunan tidak membuat pagar sempadan badan hukum dibongkar pantai dari
sesuai daya tertinggi Zonasi yang membatasi masyarakat pantai/sungai; yang melakukan dan bangunan
dukung (Perpres 51 untuk melalui kawasan pantai kegiatan yg dikenakan
lingkungannya 2016)  Bangunan memiliki sistem berdampak denda max Terlindunginya
pembuangan limbah yang kerusakan pd 500 juta sempadan
PS-2 Tanpa TPZ menjamin limbah yang dihasilkan  Pemberian zona lindung pantai dari
Sempadan diatur tidak dibuang ke pantai. kompensasi bagi potensi abrasi
sungai 50- dalam  Pada zona sempadan pantai kegiatan Bagi
100m (UU 38 Peraturan dilakukan penanaman vegetasi pelestarian pd zona pembangunan Terlestarikannya
2011) Zonasi untuk penahan abrasi HL dan bagi baru tidak ekosistem penyu
 Pada zona sempadan pantai kegiatan diterbitkan IMB di sepanjang
dilakukan pemasangan konstruksi penanaman pantai Skouw
pemecah ombak yang ramah vegetasi penahan
lingkungan sehingga tidak abrasi pada zona
menghambat ekosistem penyu sempadan pantai.
bertelur di pesisir Skouw
Terwujudnya Zona Rawan Tidak ada  Tidak diizinkan membangun pada Subsidi Silang yang Pembatasan Bangunan Terlindunginya
pemanfaatan Bencana/ TPZ kawasan rawan becana kecuali diberikan dalam bentuk penyediaan yang kawasan rawan
ruang pada Subzona ruang terbuka hijau dukungan program prasarana dan dibangun bencana dari
zona lindung Tsunami/  Bangunan yang diperbolehkan pembangunan sarana pada zona pembangunan
yang tertata Gelombang hanya bangunan untuk evakuasi bangunan evakuasi infrastruktur ini akan
dan terkendali Pasang (RB-1) bencana tsunami. dibongkar
sesuai daya dan
dukung Subzona dikenakan
lingkungannya Gempa (RB-2) denda max
500 juta

Ringkasan Eksekutif 23
PERATURAN ZONASI
Kegiatan jalur hijau, taman rekreasi, ruang terbuka dan yang
I Pemanfaatan yang
I diperbolehkan/ diizinkan memiliki fungsi ekologi serta perlindungan terhadap kawasan

T Pemanfaatan Ruang
yang ”Terbatas”
Kegiatan pendirian bangunan yang dibatasi jumlahnya, lokasi dan
luas lantai

Pemanfaatan Ruang Kegiatan pendirian bangunan yang memiliki syarat atau


B yang ”Bersyarat” ketentuan-ketentuan khusus yang harus dipenuhi

Kegiatan yang mengubah bentang alam, mengganggu kelesatarian


X Pemanfaatan Ruang
yang ”tidak diperbolehkan” kawasan dan menimbulkan kerusakan bagi kawasan

24 Ringkasan Eksekutif
KAWASAN LINDUNG

Ringkasan Eksekutif 25
ZONA KLASIFIKIASI SUB ZONA KODE TUJUAN PENGENDALIAN KRITERIA PENGENDALIAN
Rumah Kepadatan Sedang R-3 1. Mengendalian KDB 60 %, KLB 0.6, Tinggi Bangunan 1 lt
Perumahan
Rumah Kepadatan Rendah R-4 perkembangan KDB 50 %, KLB 0.5, Tinggi Bangunan 1 lt
Skala Kota K-1 permukiman kumuh KDB 75 %, KLB 1.2, Tinggi Bangunan 1-2
Perdagangan
Skala BWP K-2 pada kawasan lantai
dan Jasa 2. Mengendalikan KDB,
Skala Sub BWP K-3
KLB dan KDH pada
Perkantoran Perkantoran KT masing-masing KDB 60 %, KLB 2.4, Tinggi Bangunan 3-4
lantai
Skala Kota SPU-1 bangunan
3. Mengendalikan KDB 60 %, KLB 1.2, Tinggi Bangunan 1-2
lantai
Pelayanan Skala Kecamatan SPU-2 aktivitas yang
Umum terbentuk pada
Skala Kelurahan SPU-3 KDB 40 %, KLB 1.2, Tinggi Bangunan 1-2
kawasan lantai
Skala RW SPU-4 4. Mengendalikan
KAWASAN
BUDIDAYA Sentra Industri Kecil SIKM pelanggaran
Industri
Menengah pembangunan
Pertanian PL-1 terutama pada KDB 0 %, KLB 0 %,
Pertahanan dan Kemanan PL-7 kawasan yang tidak KDB 50 %, KLB 1, Tinggi Bangunan 1 lantai
Peruntukan diperuntukan sebagai
Pembangkit Listrik PL-11 KDB 50 % KLB 1 Tinggi Bangunan 1 lantai
Lainnya
Pariwisata PL-13 kawasan budidaya KDB 20 % KLB 1, Tinggi Bangunan 1 lantai
5. Mengendalikan
Penyedia Air Minum Pl-14 KDB 50 % KLB 1, Tinggi Bangunan 1 lantai
perkembangan
Perumahan & Perdagangan C-1 kawasan budidaya KDB 60 %, KLB 2.4, Tinggi Bangunan 3-4
jasa lantai
sesuai dengan
Campuran Perumahan & Perkantoran C-2 peruntukan dan KDB 60 %, KLB 2.4, Tinggi Bangunan 3-4
lantai
peratuaran zonasi
Perkantoran & C-3 KDB 60 %, KLB 2.4, Tinggi Bangunan 3-4
Perdagangan Jasa lantai

26 Ringkasan Eksekutif
Perdagangan Campuran Perdagangan dan Perkantoran Permukiman Perkantoran
dan Jasa Jasa KDB 60 %, KLB 0.6,
KDB 75 %, KLB 1.2, Tinggi KDB 60 %, KLB 2.4, Tinggi Tinggi Bangunan 1 lt
KDB 75 %, KLB KDB 60 %, KLB 2.4,
Bangunan 1-2 lantai Bangunan 3-4 lantai
1.2, Tinggi Tinggi Bangunan 3-
Bangunan 1-2 4 lantai
lantai

ILUSTRASI PENGENDALIAN
JALAN ARTERI SKOUW

Ringkasan Eksekutif 27
Mewujudkan Kawasan Budidaya

TUJUAN KETENTUAN TARGET


ZONASI TPZ INSENTIF DISINSENTIF SANKSI
PENGENDALIAN TEKNIS CAPAIAN

Terwujudnya Subzona Cagar Historic Bentuk bangunan Kemudahan Kewajiban Sanksi Terlestarikan
pemanfaatan Budaya Preservati mengikuti perizinan bagi membayar administrative nya arsitektur
ruang pada on arsitektur lokal masyarakat yang kompensasi bagi bila tdk lokal di zona
zona budidaya Subzona (rumah panggung) membangun yang merusak atau mengikuti cagar budaya
yang tertata Pariwisata menggunakan menghilangkan ketentuan
dan terkendali GSB: 1.5 arsitektur lokal di benda cagar teknis;
sesuai daya Sub Blok B-1A GSJ: 12 zona cagar budaya budaya di zona
dukung Sub Blok B-1B KLB: 0.5 (rumah panggung) cagar budaya. Sanksi pidana
lingkungannya Sub Blok B-2A Juml lantai: 1 lt bila tidak sesuai
Sub Blok B-2B KDB: 50 % Kemudahan dengan rencana
KDH: 30 % perizinan usaha pemanfaatan
untuk masyarakat ruang.
yang melakukan
usaha homestay
dan toko
cenderamata
Sub Zona Tidak ada GSB: 2.4 Kemudahan - Sanksi Terciptanya
Permukiman TPZ GSJ: 12 m perizinan bagi administrative lingkungan
Kepadatan KLB: 1.8 masyarakat yang bila tdk permukiman
Sedang Juml lantai: 3-4 lt membangun mengikuti yang tertata
Sub Blok B1A- KDB: 60 % menggunakan ketentuan
Sub Blok B-1B KDH: 25 % arsitektur lokal teknis;
Sub Blok B-2B (rumah panggung)
(yg Sanksi pidana
bersebelahan bila tidak sesuai
dg subzona dengan rencana
cagarbudaya/ pemanfaatan
pariwisata ruang.

28 Ringkasan Eksekutif
Mewujudkan Kawasan Budidaya

TUJUAN KETENTUAN TARGET


ZONASI TPZ INSENTIF DISINSENTIF SANKSI
PENGENDALIAN TEKNIS CAPAIAN

Terwujudnya Zona Tidak ada Bangunan Kemudahan Kewajiban Bagi yang tidak Terciptanya
pemanfaatan Perkantoran TPZ memiliki ciri khas Perizinan : membayar menaati tata lingkungan
ruang pada Sub Blok B-1B berupa ukiran  Percepatan kompensasi bagi ruang yang telah perkantoran
zona budidaya Sub Blok B-2D skouw jangka waktu yang merusak ditetapkan yang tertib
yang tertata penyelesaian bangunan dikenakan sanksi dan tertata
dan terkendali KDB 60 %, izin perkatoran penjara max 3 dengan baik
sesuai daya KLB 2.4, pemanfaatan thn dan denda
dukung Tinggi Bangunan ruang max 500 juta
lingkungannya 3-4 lantai  Pengurangan
KDH 10 % retribusi
Zona Tidak ada KDB 60 %, Kemudahan - Bagi yang tidak Terciptanya
Pelayanan TPZ KLB 1.2, Perizinan : menaati tata kegiatan
Umum Tinggi Bangunan  Percepatan ruang yang telah pelayanan
Sub blok B-1C 1-2 lantai jangka waktu ditetapkan umum yang
Sub blok B-3A penyelesaian dikenakan sanksi melingkupi
izin penjara max 3 pelayanan
pemanfaatan thn dan denda regional
ruang max 500 juta
Zona Industri Tidak ada KDB 40 %, Bentuk insentif - Bagi yang tidak Terciptakan
Sub Blok B-1A TZ KLB 1.2, subsidi silang menaati tata kawasan
Sub Blok B-2B Tinggi Bangunan berupa: ruang yang telah sebagai
Sub Blok B-3A 1-2 lantai  bantuan ditetapkan sentra
Sub Blok B-2C KDH 15 % pengembangan dikenakan sanksi agroidustri
tempat usaha penjara max 3 pengolahan
produksi dan thn dan denda perkebunan,
alat-alat max 500 juta dan
produksi; peternakan
 bantuan
pelatihan
keterampilan

Ringkasan Eksekutif 29
Mewujudkan Kawasan Budidaya

TUJUAN KETENTUAN TARGET


ZONASI TPZ INSENTIF DISINSENTIF SANKSI
PENGENDALIAN TEKNIS CAPAIAN

Terwujudnya Zona Tidak ada KDB 50 %  Penyediaan Tidak memberikan Sanksi Terciptanya
pemanfaatan Peruntukan TPZ KLB 1 infrastruktur izin bagi kegiatan administrative kawasan
ruang pada Lainnya Tinggi Bangunan 1 pendukung yang meanggar bila tdk HANKAM,
zona budidaya lantai kegiatan ketentuan mengikuti Pariwisata dan
yang tertata KDH 20 % pariwisata intensitas ketentuan pertanian yang
dan terkendali Sub Blok A-1B  Memberikan bangunan teknis; memperhatikan
sesuai daya Sub Blok A-2 penghargaan daya dukung
dukung Sub Blok B-2B bagi Sanksi pidana lingkungan dan
lingkungannya Sub Blok B-1B masyarakat bila tidak berkelanjutan
lokal yang sesuai dengan
menggerakan rencana
kegiatan pemanfaatan
pariwisata ruang.
Zona Tidak ada Bangunan  Kemudahan Tidak memberikan Sanksi Tercapainya
Campuran TPZ memiliki bentuk perizinan IMB izin bagi kegiatan administrative pembangunan
atap, ukiran dan  Menyediakan yang meanggar bila tdk kawasan yang
Sub Blok B-1B aristektur lokal infrastruktur ketentuan mengikuti mixeduse dan
Sub Blok B-2A skouw pendukung intensitas ketentuan berkesinambun
Sub Blok B-2B KDB 60 %, kegiatan pada bangunan teknis; gan dengan
KLB 2.4, zona campuran pembangunan
Tinggi Bangunan Sanksi pidana sekitarnya
3-4 lantai bila tidak
KDH 10 % sesuai dengan
rencana
pemanfaatan
ruang.

30 Ringkasan Eksekutif
KAWASAN BUDIDAYA

Ringkasan Eksekutif 31
TEKNIK PENGATURAN ZONASI

GROWTH CONTROL
Pengendalian ini dilakukan melalui
faktor faktor pertumbuhan seperti
pembangunan sarana dan prasarana
melalui penyediaan infrastruktur yang
diperlukan, mengelola faktor ekonomi
dan sosial hingga politik.

Permukiman
Kepadatan
Sedang pada
Koridor jalan
arteri

32 Ringkasan Eksekutif
TPZ – 1 GROWTH CONTROL

NO JENIS TPZ DASAR PERTIMBANGAN TPZ LOKASI TPZ LUAS ATURAN TPZ
A. TPZ PENGENDALIAN PERTUMBUHAN (GROWTH CONTROL)
1 Kawasan 1) Mengantisipasi dan Koridor jalan arteri 2.57 Ha 1) Kegiatan pemanfaatan ruang untuk fungsi perdagangan (komersil)
pembangunan di mengendalikan pada lapis 1 dengan dibatasi KDB Maksimal 75%, GSB 2.4 dan Tinggi bangunan Maksimal
sepanjang koridor pertumbuhan kegiatan pada SUB BWP B, 4 Lantai;
jalan arteri primer komersial di sepanjang 1) Blok B-2, 2) Kegiatan zona campuran perumahan dan perdagangan dibatasi KDB
sub BWP B koridor utama Sub BWP B Sub Blok B- maksimal 60% dengan KLB 1.8 dan tinggi bangunan 3-4 lantai
dengan kode b Kawasan Perbatasan Skouw 2C & B-2D 3) GSJ (garis sempadan jalan) 12 m;
pada zona Perumahan R-3. 4) Garis sempadan bangunan (GSB) 1.5 m;
2) Mengantisipiasi 5) Pembangunan harus sesuai dengan karakter lingkungan (bentuk
perkembangan kawasan arsitektur bangunan), berupa ornamen lokal (ukiran Skouw);
yang tidak sesuai dengan 6) Tidak menyediakan pagar pada bangunan;
perutukan tata ruang 2). Blok B-3, Sub 85 Ha 7) Menyediakan jalur pejalan kaki menerus serta street furniture
terutama dalam ketentuan Blok B-3B dengan lebar minimal 2.5 m;
intensitas. 8) Menyediakan prasarana parkir dalam persil ;
3) Perubahan kawasan 9) Menyerahkan lahan yang terkena rencana jalan dan saluran kepada
mempertimbangkan potensi pemerintah daerah;
kawasan sebagain lintasan 10) Melakukan analisis AMDAL terutama untuk kegiatan
utama menuju PLBN. penginapan/hotel;
11) Menyediakan ruang terbuka hijau pada kawasan;
12) Untuk pengembangan kawasan rest area harus menyediakan sarana
minimal pendukung kegiatan;
13) Status lahan adalah sewa pakai atau kerjasama.
TEKNIK PENGATURAN ZONASI
Kawasan
wisata 3
kampung
Skouw

HISTORIC PRESERVATION
Ketentuan-ketentuan pemanfaatan ruang dan
elemen lainnya (keindahan, tata informasi, dll)
untuk memelihara visual dan karakter budaya,
bangunan dan kawasan masyarakat setempat
yang ditetapkan dalam peraturan-
perundangan pelestarian.

Rumah Adat
Skouw

34 Ringkasan Eksekutif
TPZ – 2 HISTORIC PRESERVATION

NO JENIS TPZ DASAR PERTIMBANGAN TPZ LOKASI TPZ LUAS ATURAN TPZ

B. TPZ CAGAR BUDAYA (HISTORIC PRESERVATION)


1 Bangunan 1) Memberikan Bangunan cagar budaya (SC-3), 1) Pembangunan harus sesuai dengan zonasi cagar budaya
Cagar Budaya perlindungan 1) Skouw Yambe ; Sub yaitu zona inti, penyangga dan pengembangan.
bangunan cagar BWP B, 257.35 m2 2) Tidak diperkenankan membangun pada zona inti kawasan
budaya yaitu rumah Blok B1, cagar budaya.
adat Sub Blok B-1A 3) Radius pembangunan pada kawasan minimal 20 meter
2) Meningkatkan kegiatan 1) Skouw mabo ; 385.07 m2 dari bangunan cagar budaya.
pada kawasan dengan Sub BWP B, 4) Fasilitas yang diperbolehkan dibangun pada kawasan
pendekatan budaya Blok B1, adalah fasilitas yang mendukung kawasan cagar budaya
3) Mendorong aktivitas Sub blok B-1B 525.24 m2 seperti RTH, landmark, sign, patung, museum,
budaya yang ada pada 1) Skouw Sae; amphitheater, dan wisata budaya lainnya.
kawasan. Sub BWP B, 5) Izin tidak dikeluarkan bagi aktivitas yang tidak
Blok B2, mencerminkan nilai kearifan lokal.
Sub blok B-2B 6) Pemberian insentif dari Pemda berupa imbalan bagi
masyarakat yang membangun rumahnya dg arsitektur
lokal;
7) Subsidi silang dari Pemda bagi masyarakat yang
membangun rumah-nya dg arsitektur lokal.
TPZ – 2 HISTORIC PRESERVATION

DASAR PERTIMBANGAN
NO JENIS TPZ LOKASI TPZ LUAS ATURAN TPZ
TPZ
B. TPZ CAGAR BUDAYA (HISTORIC PRESERVATION)
2 Kawasan Wisata 1) Mendorong 3 Kampung Skouw 112.117 Ha 1) Tidak diperkenankan membangun kecuali mendorong kegiatan
Budaya 3 pengembangan zona budaya dan wisata pantai seperti sarana dan prasarana
Kampung Skouw kawasan sebagai Blok B-1 dan pendukung kegiatan budaya dan wisata pantai.
kawasan wisata Blok B-2 2) Pembangunan gedung yang memiliki ciri arsitektur lokal akan
budaya dan alam diberikan kemudahan dalam perizinan IMB.
2) Menghidupkan 3) Tipologi bangunan adalah rumah panggung, semi permanen,
kemabli nilai da dengan ketinggian bangunan minimal 5 m dari tanah.
kearifan lokal pada 4) Ketentuan struktur, warna, dan bentuk bangunan harus
kawasab mempertimbangkan arsitektur lokal dan memiliki simbol lokal
berupa ukiran.
5) Pengembangan kawasan dengan tujuan pariwisata yang
mendorong kegiatan budaya akan diberikan kemudahan dalam
perizinan dan juga penghargaan.
6) Kegiatan pengembangan seperti home stay, perdagangan dan jasa
diperbolehkan dengan KDB maksimal 60%, KLB 0.6 dan tinggi
bangunan 1 lantai.
04
INSTRUMEN
LENGKAP
PENGENDALIAN
04
Bentuk, Kriteria Dan Tata Cara Perizinan
Bentuk, Kriteria Dan Tata Cara Insentif & Disinsentif
Bentuk, Kriteria Dan Tata Cara Sanksi
WEWENANG
LANDASAN HUKUM- DEFINISI JENIS-JENIS PERIZINAN KETENTUAN PEMBERIAN IZIN
PEMERINTAH

PP No 15 Tahun 2010 IZIN PRINSIP


PP No 13 Tahun 2017 Surat izin yang diberikan oleh
RAPERMEN PEDOMAN PERIZINAN Izin prisinip diberikan di pada
pemerintah / pemerintah daerah
saat akan memulai kegiatan
untuk menyatakan suatu kegiatan
pemanfaatan ruang pertama kali
secara prinsip diperkenankan untuk
diselenggarakan atau beroperasi.

PERIZINAN PEMANFAATAN RUANG


: Izin lokasi diperlukan untuk
Suatu bentuk pelepasan atau IZIN LOKASI pemanfaatan ruang lebih dari 1
pembebasan dan pemberian Izin yang diberikan kepada pemohon (satu) Hektar untuk kegiatan
legalitas terhadap kegiatan untuk memperoleh ruang yang bukan pertanian dan lebih dari 25
diperlukan dalam rangka melakukan (dua puluh lima) Hektar untuk Pemerintah
pemanfaatan ruang kepada
aktivitasnya kegiatan pertanian. Pusat
seseorang, atau badan yang
diberikan oleh pemerintah
berdasarkan aturan perundang- Pemerintah
Provinsi
undangan melalui surat keputusan
 Izin penggunaan pemanfaatan
atau ketetapan. tanah merupakan dasar untuk Pemerintah
permohonan mendirikan
IPPT Kab / Kota
bangunan.
Kewenangan pemanfaatan ruang  kesesuaian kegiatan, lokasi,
yang sesuai dengan ketersediaan dan ketersediaan penggunaan
penggunaan tanah untuk kegiatan tanah yang dimohonkan
dan lokasi yang dimohonkan. dengan peraturan zonasi
Dinas
Penanaman
Modal Dan
Pelayanan
 IMB diberikan setelah Terpadu Satu
memperoleh Izin Penggunaan Pintu
IMB Pemanfaatan Tanah
Kewenangan untuk mendirikan  IMB diberikan berdasarkan
bangunan yang telah sesuai kesesuaian kegiatan, lokasi
peruntukan, lokasi, dan ketersediaan pendirian bangunan, dan
penggunaan pemanfaatan tanah. ketersediaan penggunaan
tanah

Ringkasan Eksekutif 39
WEWENANG IPPR BENTUK IPPR KRITERIA IPPR

DASAR HUKUM
1. Kegiatan yang menyebabkan • Pembangunan pangkalan
PP No 15/ 2010 perubahan bentang alam;  Izin prinsip sesuai
Tentara Nasional Indonesia dengan; KUPZ
PP No 13/ 2017 IPPR diberikan oleh 2. Kegiatan yang berdampak besar Angkatan Laut.
RAPERMEN Pemerintah Pusat terhadap lingkungan di tingkat RTRWN
• Pembangunan pelabuhan  Izin Prinsip telah
PEDOMAN nasional; utama atau pelabuhan
PERIZINAN 3. Luas wilayah penyebaran sesuai dengan ;
Berdasarkan RTRWN pengumpul
dampak akibat kegiatan; IAPZ Provinsi
• Pembangunan dan  Izin Prinsip telah
4. Kegiatan yang sesuai dengan pengoperasian bandar
peraturan perundang - undangan sesuai dengan ; Kab/
antariksa. Kota
menjadi kewenangan Pemerintah • Industri propelan dll
Pusat.

Izin prinsip diberikan


pada saat akan
memulai kegiatan
1. Kegiatan yang berdampak besar pemanfaatan ruang
terhadap lingkungan ditingkat
provinsi; • Usaha Pemanfaatan Hasil
IPPR diberikan oleh Hutan
Pemerintah Daerah 2. Kegiatan yang wajib izin lokasi
IZIN PRINSIP
yang dikeluarkan oleh • Pembangunan pelabuhan
Provinsi pengumpan regional
pemerintah provinsi; dan
3. Kegiatan yang sesuai dengan • Industri petrokimia hulu.
Berdasarkan RTRW Prov peraturan perundang-undangan • Mineral dan Batubara
menjadi kewenangan pemerintah • Pemanfaatan limbah bahan Izin prinsip Pemanfaatan
provinsi berbahaya dan beracun dll Ruang diberikan dalam
jangka 5 tahun

IPPR diberikan oleh 1. Kegiatan yang berdampak besar Jika pelaku IPPR telah
Pemerintah Daerah terhadap lingkungan ditingkat • Pembangunan
Pelabuhan Pengumpan memiliki izin lokasi
Provinsi kabupaten/kota; maka masa berlaku
2. Kegiatan yang wajib izin lokasi Lokal
• Industri semen yaitu IPPR berakhir
Berdasarkan RTRW kab/ yang dikeluarkan oleh
pemerintah kabupaten/kota; dan yang dibuat melalui
Kota produksi klinker.
3. Kegiatan yang sesuai dengan
peraturan perundang-undangan • Mineral dan batubara
menjadi kewenangan pemerintah yaitu eksploitasi (Operasi
Produksi) Mineral Logam
40 Ringkasan Eksekutif
kabupaten/kota.
dan Batubara dll
1 Surat Permohonan 2 Surat pernyataan Identitas Pemohon ; Pemohon IPPR Badan Usaha
3 4
IPPR kepada kepala kebenaran dan WNI  KTP, &
Dinas DMPTSP keabsahan dokumen NPWP  Akte pendirian dan perubahan
(materai 6000) WNA  KITAS ,  SK pengesahan Pendirian dan
VISA perubahan
Zona K – Perdagangan dan Jasa Campuran C-1 ; blok B-2A dan B-  NPWP Badan Hukum
Blok B -1 dan Blok B-2, Sub blok B- 2D  Akta perjanjian kerjasama jika > 1
3A & Sub Blok B-2C Campuran C-2 ; Blok B-3A
Zona I – Aneka Industri
Sub blok B-2B, Sub Blok B-1A ,
Sub Blok B-3B

Keterangan yang 6 Surat bukti PBB 5 Surat pernyataan 4 Pemohon IPPR BUMN /
7 tahun terakhir untuk Instansi Pemerintah Pusat / Daerah
menyatakan bahwa
IPPR sesuai dengan Pemerintah jika
lahan miliki  Surat keputusan SK badan
RTRWN / RTRW Prov usahan dari instansi pemerintah
/ RTRW Kab- Kota pemerintah
 Surat keputusan SK Pemberian
hak guna atas tanah oleh
pejabat berwenang dari instansi
pemerintah yang menguasaia
tanah

8 Akta pernyataan 9 Proposal Rancang


kesanggupan
9 Izin Lokasi 10 Rekomendast Dinas Teknik /
Bangun ;
memenuhi ketentuan Terkait
Siteplan, foto lokasi,
dalam butir-butir IPPR (Kanwil – Kantah)
denah, gambar
design, & alur flowchat
kegiatan usaha
Tidak Ya

14 hari Kerja

MELENGKAPAI BERKAS PEREBITAN SURAT IPPR


PERIZINAN WAKTU 7 HARI BERLAKU 5 TAHUN
Jika > 7 hari

Ringkasan Eksekutif 41
WEWENANG IZIN LOKASI BENTUK IZIN LOKASI KRITERIA IZIN LOKASI

DASAR HUKUM 1. Pemegang Izin Lokasi hanya dapat


memperoleh tanah sesuai dengan peta Izin
PP No 15 Tahun 2010 Lokasi
PP No 13 Tahun 2017 2. Izin lokasi diperlukan untuk pemanfaatan ruang
RAPERMEN PEDOMAN lebih dari 1 (satu) Hektar untuk kegiatan bukan
PERIZINAN pertanian dan lebih dari 25 (dua puluh lima) Izin lokasi dikeluarkan
PERMEN ATR NO 5 Hektar untuk kegiatan pertanian. oleh DMPTSP
TAHUN 2015 TENTANG 3. Izin lokasi dapat diberikan pada perusahaan
IZIN LOKASI yang mendapat persetujuan dari DMPTSP
berupa ;
• Kawasan Perumahan;
1 Prov : 400 Ha
Seluruh Indonesai : 4000 Ha
• Kawasan Resort / Hotel Permohonan izin
1 Prov : 200 Ha lokasi dilarang
Seluruh Indonesai : 4000 Ha melakukan kegiatan
• Untuk Usaha Industri perolehan tanah
1 Prov : 400 Ha sebelum izin lokasi
Seluruh Indonesai : 4000 Ha ditetepkan.
• Perkebunan (tebu)
1 Prov : 60.000 Ha
Izin Lokasi yang Seluruh Indonesai : 150.000 Ha
diberikan oleh • Kondisitas Pangan
IZIN LOKASI pemerintah daerah 1 Prov : 20.000 Ha
Kabupaten/Kota Seluruh Indonesai : 100.000 Ha
• Usaha Tambak Jangka waktu izin
Diluar pulau jawa lokasi 3 tahun
Berdasarkan RTRW 1 Prov : 200 Ha
Prov, kab/ Kota Seluruh Indonesai : 2.000 Ha
4. Khusus untuk Provinsi papua maksimum luas
penguasaan tanah adalah 2 kali maksimum
luas penguasaan tanah satu provinsi
5. Kegiatan lainnya yang menimbulkan dampak Tanah yang sudah
lingkungan dan lalu lintas diperoleh wajib
6. Ketentuan tidak berlakun untuk BUMN, didaftarkkan pada
BUMD dan badan usaha yang sebagian kantor pertanahan
besar dimilki oleh negara. setempat
7. Ketentuan luasan untuk kegiatan industri
yang melebihi luasan pada point 3 maka
Kanwil BPN harus mendapat persetujuan dari

42
ATR - BPN
Ringkasan Eksekutif
RTH -1 Sub Blok B-3A

Zona K – Perdagangan dan Jasa PL – 1C Perkebunan


Blok B -1 dan Blok B-2, Sub blok B- Sub blok B-1A, B-1B, Blok B-2A, B-
3A & Sub Blok B-2C 2C dan B-2B

Zona I – Aneka Industri


Sub blok B-2B, Sub Blok B-1A ,
Sub Blok B-3B

Campuran C-1 ; blok B-2A dan B-


2D
Campuran C-2 ; Blok B-3A

1 Syarat Pemohon Hak Tanah 4 Pemohon Izin Prinsip Badan Usaha 3 Surat pernyataan kebenaran dan
Diberikan berdasarkan keabsahan dokumen (materai 6000)
pertimbangan teknis  Akte pendirian dan perubahan
pertanahan yang memuat  SK pengesahan Pendirian dan
aspek penguasaan tanah dan perubahan
penataagunaan tanah (Kanwil  NPWP Badan Hukum
/ Kantah)  Akta perjanjian kerjasama jika > 1

4 Identitas Pemohon ;
WNI  KTP, & NPWP
WNA  KITAS , VISA

2 Pernyataan Kesesuaian
4 Pemohon Izin unuk Bazar
antara RTRW Kab / Prov dan
ditunjukan dengan peta lokasi Perlombaan & event nasional
 Random acara
 Waktu pelaksanaan acara Ya
 Profil badan/ peroranga / lembaga
yang menjadi penanggung jawab
acara 1-10 hari Kerja
Tergantung jenis
2 Surat Penyatan dari dinas / Tidak perizinan
instansi terkait

MELENGKAPAI BERKAS PEREBITAN SURAT IZIN


PERIZINAN WAKTU 7 HARI LOKASI BERLAKU 3 TAHUN /
SESUAI LAMANYA EVENT

Ringkasan Eksekutif 43
WEWENANG IPPT BENTUK IPPT KRITERIA IPPT

DASAR HUKUM
PP No 15 Tahun 2010
PP No 13 Tahun 2017
RAPERMEN
PEDOMAN
PERIZINAN

1. Dalam hal pemilik Izin


Penggunaan Pemanfaatan Izin penggunaan
Tanah telah memperoleh Izin pemanfaatan tanah
Mendirikan Bangunan, masa dikelurakan oleh
berlaku Izin Penggunaan Kepala badan pelayanan
kesesuaian kegiatan, lokasi, terpadu satu pintu dan
IZIN Pemanfaatan Tanah berakhir.
dan ketersediaan penggunaan penanaman modal
PENGGUNAAN 2. Apabila setelah perpanjangan
tanah yang dimohonkan kabupaten/kota
PEMANFAATAN pemohon belum mendapatkan
dengan peraturan zonasi pada
TANAH izin mendirikan bangunan maka
masing-masing komponen
pemohon mengajukan
ruang dalam RTRW
permohonan izin penggunaan
kabupaten/kota
pemanfaatan tanah baru;
3. Izin ini berlaku selama 1 (satu) IPPT dikeluarkan dalam
tahun dan dapat diperpanjang 1 dalam jangka waktu 1
(satu) kali untuk jangka waktu 1 ahun dan jika tidak
(satu) tahun diperpanjang maka
harus membuat IPPT
kembali

44 Ringkasan Eksekutif
Seluruh Blok pada zona
lindung dan budidaya

1-10 hari Kerja


Tergantung jenis
Ya perizinan
6 Peta / denah atau lokasi
1 Pernyataan Kesesuaian pemanfaatan tanah dan
antara RTRW Kab / Prov luasan
dan Peta zona –zona
pemanfaatan ruang
PEREBITAN
SURAT IZIN
7 Jenis kegiatan pemanfaatan Tidak LOKASI BERLAKU
tanah yang akan dilakukan
2 Surat yang menyatakan pada zona 1 TAHUN
telah memiliki Izin Prinsip
/ Lokasi

8 Lampiran matrik ITB dan


3 Surat Penyatan dari dinas Peraturan PZ yang MELENGKAPAI
/ instansi terkait menyatakan tentang Izin, BERKAS
Bersyarat / Terbatas terkait PERIZINAN
pemanfaatan Tanah WAKTU 7
HARI

4 Surat pernyataan
kebenaran dan keabsahan 9 Surat Penryataan bersedia
dokumen (materai 6000) menerima ketentuan –
ketentuan terakit
pemanfaatan tanah pada
kawasan

5 Identitas Pemohon ;
WNI  KTP, & NPWP
WNA  KITAS , VISA

Ringkasan Eksekutif 45
Luas tanah < 500 m2 perizinan dapat diurus
di KANTOR DISTRIK
PP No 15 Tahun 2010
Luas tanah 500-5000 m2 di PTSP Kota
PP No 13 Tahun 2017 USULAN
Jayapura
UU no. 28 tahun 2002 PENGURUSAN IMB
Luas tanah > 5000 m2 izin di PTSP Provinsi
tentang Bangunan Gedung
Perda no 17 Tahun 2011
BG DINAS PEKERJAAN UMUM PENATAAN RUANG
Perda No 19 Tahun 2002 PERUMAHAN DAN KAWASAN PERMUKIMAN
tentang IMB LANGKAH 2
A. BERKAS LENGKAP
1. Pengecekan Lapangan (suvey lokasi)
2. Rapat Samsat dokemen diterima / ditolak
3. Pembuatan Advice Planning
4. Pemeriksaan berkas oleh bidang ciptakarya meliputi ;
Gambar, Perhitungan konstruksi dan perhitungan
sondir borring.

B. BERKAS LENGKAP MELIPUTI :


1. Gambar rencana bangunan baik secara arsitektural
LANGKAH 1 maupun struktural, Persyaratan Gambar Minimal ;
BERKAS LANGKAH 3
- Peta lokasi
PERMOHONAN IMB
PEMERIKSAAN - Site Plan
DARI DPM &PTSP BERKAS PERMOHONAN IMB
BERKAS OLEH - Denah, tampak, potongan, rencana utilitas, sanitasi & ADVICE PLANNING DIBAWA
PETUGAS DPUPR & dll
PEMOHON KE DPM & PTSP
PKP 2. Fotocoppy sertifikat tanah
3. Bukti Pembayaran PBB tahun terakhir
4. Fotocoppy KTP
5. Formulir IMB (bermaterai 6000)
Catatan : 6. Surat Pernyataan batas bangunan yang disetujui oleh
Langak 1 = 1 Hari Kerja BERKAS TIDAK LENGKAP
tentangga (bermaterai 6000)
7. Surat permohonan advice planning
AKAN DIKEMBALIKAN PADA
8. Surat Pernayataan tidak dalam keadaan sengketa PEMOHON
(materai 6000)
9. Surat keterangan keadaan lokasi dari lurah dan distrik
10. Surat perhitungan konstruksi untuk bangunan
bertingkat
11. Perhitungan Sonding borring untuk bangunan > 2
lantai atau bangunan diatas tanah labil DPM & PTSP

IMB
Catatan :
Langak 2 = 5 Hari Kerja

46 Ringkasan Eksekutif
IZIN
KODE IZIN PENGGUNAAN IZIN IZIN
ZONA SUB ZONA IMB OSS KEWENANGAN
ZONA PRINSIP PEMANFAATAN LOKASI LAINNYA
TANAH
Hutan Lindung Hutan Lindung HL X X X X X X Pemerintah Pusat
Perlindungan Sempadan Pantai PS-1 X X X X X X
Setempat Sempadan Sungai PS-2 X X X X X X
Suka Alam dan Cagar
Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan SC-2 √ √ √ √ √ √
Budaya Pemerintah Provinsi,
Taman RTH-1 √ √ √ √ √ √ Kab / Kota,
Ruang Terbuka Hijau Jalur Hijau Jalan RTH-2 √ √ √ √ √ √ Dinas (K/L), SATKER
Pemakaman RTH-5 √ √ √ √ √ √
Tsunami/Gelombang Pasang RB-1 √ √ √ √ √ √
Rawan Bencana
Gempa RB-2 √ √ √ √ √ √
Perumahan Kepadatan Sedang R-3 √ √ √ √ √ √
Perumahan
Perumahan Kepadatan Rendah R-4 √ √ √ √ √ √
Pemerintah Kab / Kota,
Perdagangan dan Jasa Perdagangan dan Jasa K √ √ √ √ √ √ Dinas (K/L)
Perkantoran Pemerintah KT-1 √ √ √ √ √ √
Perkantoran
Perkantoran Swasta KT-2 √ √ √ √ √ √
Industri Aneka Industri I-4 √ √ √ √ √ √ Pemerintah Provinsi,
Pelayanan Umum Pendidikan SPU-1 √ √ √ √ √ √ Kab / Kota, Dinas (K/L)
Pelayanan Umum Transportasi SPU-2 √ √ √ √ √ √ Pemerintah Pusat
Sarana Pelayanan Pelayanan Umum Kesehatan SPU-3 √ √ √ √ √ √
Umum Pelayanan Umum Olah Raga SPU-4 √ √ √ √ √ √ Pemerintah Provinsi,
Pelayanan Umum Sosial Budaya SPU-5 √ √ √ √ √ √ Kab / Kota, Dinas (K/L)
Pelayanan Umum Peribadatan SPU-6 √ √ √ √ √ √
Pertanian Lahan Kering PL-1B √ √ √ √ √ √
Perkebunan PL-1C √ √ √ √ √ √ Pemerintah Provinsi,
Peruntukan Lainnya
Perternakan PL-1D √ √ √ √ √ √ Kab / Kota, Dinas (K/L)
Pariwisata PL-3 √ √ √ √ √ √
Pertahanan dan Keamanan KH-1 √ √ √ √ √ √ Pemerintah Pusat
Peruntukan Khusus PLBN KH-4 √ √ √ √ √ √ Pemerintah Pusat
Instalasi lainnya (Gardu Induk, IPAL) KH-5 √ √ √ √ √ √
Perumahan dan Perdagangan/Jasa C-1 √ √ √ √ √ √ Pemerintah Provinsi,
Campuran Perumahan dan Perkantoran C-2 √ √ √ √ √ √ Kab / Kota, Dinas (K/L)
Perdagangan/Jasa dan Perkantoran C-3 √ √ √ √ √ √

Ringkasan Eksekutif 47
KAWASAN LINDUNG KAWASAN BUDIDAYA

ZONA
ZONA ZONA
ZONA PERLINDUNGAN SUAKA ALAM ZONA RAWAN ZONA
HUTAN ZONA RUANG TERBUKA HIJAU ZONA PERUMAHAN ZONA PERKANTORAN
SETEMPAT DAN CAGAR BENCANA INDUSTRI
LINDUNG ZONA
NO BUDAYA
PERDAGA
NGAN
Cagar Perkantor
Jalur Tsunami/ Perumahan Perumahan DAN JASA
Sempadan Sempadan Budaya dan Pemakam an Perkantor Aneka
SUB ZONA Taman Hijau Gelomban Gempa Kepadatan Kepadatan
Pantai Sungai Ilmu an Pemerinta an Swasta Industri
Jalan g Pasang Sedang Rendah
Pengetahuan h

KEGIATAN HL PS-1 PS-2 SC-2 RTH-1 RTH-2 RTH-5 RB-1 RB-2 R-3 R-4 K KT-1 KT-2 I-4
A Perumahan
1 Rumah Tunggal X X X X X X X X I1,I2,I3,I4 I1,I2,I3,I4 I1,I2,I3,I4 X X X X
2 Rumah Kopel X X X X X X X X I1,I2,I3,I4 I1,I2,I3,I4 I1,I2,I3,I4 X X X X
3 Rumah Deret X X X X X X X X I1,I2,I3,I4 I1,I2,I3,I4 I1,I2,I3,I4 X X X X
4 Town House X X X X X X X X I1,I2,I3,I4 I1,I2,I3,I4 I1,I2,I3,I4 X X X X
5 Rusun Rendah X X X X X X X X I1,I2,I3,I4 I1,I2,I3,I4 I1,I2,I3,I4 X X X X
6 Rusun Sedang X X X X X X X X I1,I2,I3,I4 I1,I2,I3,I4 I1,I2,I3,I4 X X X X
7 Rusun Tinggi X X X X X X X X I1,I2,I3,I4 I1,I2,I3,I4 I1,I2,I3,I4 X X X X
8 Asrama X X X X X X X X I1,I2,I3,I4 I1,I2,I3,I4 I1,I2,I3,I4 X X X X
9 Rumah Kost X X X X X X X X I1,I2,I3,I4 I1,I2,I3,I4 I1,I2,I3,I4 I1,I2,I3,I4 X X X
10 Panti Jompo X X X X X X X X I1,I2,I3,I4 I1,I2,I3,I4 I1,I2,I3,I4 I1,I2,I3,I4 X X X
11 Panti Asuhan X X X X X X X X I1,I2,I3,I4 I1,I2,I3,I4 I1,I2,I3,I4 I1,I2,I3,I4 X X X
12 Guest House X X X X X X X X I1,I2,I3,I4 I1,I2,I3,I4 I1,I2,I3,I4 I1,I2,I3,I4 X X X
13 Paviliun / wisma X X X X X X X X I1,I2,I3,I4 I1,I2,I3,I4 I1,I2,I3,I4 I1,I2,I3,I4 X X X
14 Rumah Dinas X X X X X X X X I1,I2,I3,I4 I1,I2,I3,I4 I1,I2,I3,I4 X I1,I2,I3,I4 I1,I2,I3,I4 X
15 Rumah Sederhana X X X X X X X X I1,I2,I3,I4 I1,I2,I3,I4 I1,I2,I3,I4 X X X X
16 Rumah Menengah X X X X X X X X I1,I2,I3,I4 I1,I2,I3,I4 I1,I2,I3,I4 X X X X
17 Rumah Mewah X X X X X X X X I1,I2,I3,I4 I1,I2,I3,I4 I1,I2,I3,I4 X X X X
18 Rumah Adat X X X X X X X X I1,I2,I3,I4 I1,I2,I3,I4 I1,I2,I3,I4 I1,I2,I3,I4 X X X

IZIN PRINSIP I1 IZIN PENGGUNAAN PEMANFAATAN TANAH I2 IZIN LOKASI I3 IMB I4

48 Ringkasan Eksekutif
PEMBERIAN INSENTIF DAN DISINSENTIF

PP 15/2010:
PERATURAN ZONASI KAWASAN SKOUW Pasal 38 Ayat (1)

PEMBERIAN INSENTIF ; PEMERIAN DISINSENTIF :


Zona / Sub Zona yang yang didorong pengembangannya Zona / Sub Zona yang kawasan yang dibatasi
pengembangannya
Jenis Insentif Pasal 38 Ayat
1) Kemudahan izin; (2) Jenis Disinsentif Pasal 38 Ayat
2) Pengahargaan 1) Perpanjang prosedur; (3)
3) Keringanan pajak; 2) Perketat/tambah syarat;
4) Kompensasi; 3) Pajak tinggi;
5) Imbalan 4) Retribusi tinggi;
6) Subsidi prasarana; 5) Denda/charge;
6) Pembatasan prasarana;

Pasal 38 Ayat
diberikan oleh : (5) Kepada :

Pemerintah Pemerintah Daerah


(mendapat manfaat dari penyelenggaraan penataan ruang) (dirugikan akibat penyelenggaraan penataan ruang)
Subsidi

Pemerintah Daerah 2 Pemerintah Daerah 2


(mendapat manfaat dari penyelenggaraan penataan ruang) (mendapatkan manfaatn dari penyelengaraan penataan
Kompensasi ruang)

Pemerintah dan Pemerintah Daerah Swasta / masyarakat

Dispensasi
Ringkasan Eksekutif 49
KAWASAN LINDUNG KAWASAN BUDIDAYA

ZONA
ZONA SUAKA
ZONA HUTAN ZONA PERLINDUNGAN ZONA ZONA
ALAM DAN ZONA RUANG TERBUKA HIJAU ZONA RAWAN BENCANA ZONA PERUMAHAN
LINDUNG SETEMPAT PERKANTORAN INDUSTRI
CAGAR ZONA
NO BUDAYA PERDAGA
Cagar NGAN
Perkanto
Budaya Jalur Tsunami/Gelo Perumahan Perumahan DAN JASA
Sempadan Sempadan Pemakam ran Perkantor Aneka
SUB ZONA dan Ilmu Taman Hijau mbang Gempa Kepadatan Kepadatan
Pantai Sungai an Pemerint an Swasta Industri
Pengetahu Jalan Pasang Sedang Rendah
ah
an
KEGIATAN HL PS-1 PS-2 SC-2 RTH-1 RTH-2 RTH-5 RB-1 RB-2 R-3 R-4 K KT-1 KT-2 I-4
A Perumahan
1 Rumah Tunggal X X X X X X X X D1,D2 I2,13,D1 I2,13,D1 X X X X
2 Rumah Kopel X X X X X X X X D1,D2 I2,13,D2 I2,13,D1 X X X X
3 Rumah Deret X X X X X X X X D1,D2 I2,13,D3 I2,13,D1 X X X X
4 Town House X X X X X X X X D1,D2 I1, I3, I4, D1 I1, I3, I4, D1 X X X X
5 Rusun Rendah X X X X X X X X D1,D2 I2, I3. I5, D2, I6 X X X X
6 Rusun Sedang X X X X X X X X D1,D2 I6, I7 D2, I6 X X X X
7 Rusun Tinggi X X X X X X X X D1,D2 I2, I3. I5, I6, I7 D2, I6 X X X X
8 Asrama X X X X X X X X D1,D2 I2, I3. I5, I6, I7 I2,13,D1 X X X X
9 Rumah Kost X X X X X X X X D1, D2,D3 I2, I3. I5, I6, I7 I2,13,D1 D2, I6 X X X
10 Panti Jompo X X X X X X X X D1, D2,D3 I2, I3. I5, I6, I7 I2,13,D1 D2, I6 X X X
11 Panti Asuhan X X X X X X X X D1, D2,D3 I2, I3. I5, I6, I7 I2,13,D1 D2, I6 X X X
12 Guest House X X X X X X X X D1, D2,D3 I2, I3. I5, I6, I7 I2,13,D1 I2,13,D1 X X X
13 Paviliun / wisma X X X X X X X X D1, D2,D3 I2, I3. I5, I6, I7 I2,13,D1 D1,D2 X X X
14 Rumah Dinas X X X X X X X X D1, D2,D3 I2, I3. I5, I6, I7 I2,13,D1 X I3, I7 I3, I7 X
15 Rumah Sederhana X X X X X X X X D1, D2,D3 I2, I3. I5, I6, I7 I2,13,D1 X X X X
16 Rumah Menengah X X X X X X X X D1, D2,D3 I2, I3. I5, I6, I7 I2,13,D1 X X X X
17 Rumah Mewah X X X X X X X X D1, D2,D3 I2, I3. I5, I6, I7 I2,13,D1 X X X X
18 Rumah Adat X X X X X X X X D1, D2,D3 I2, I3. I5, I6, I7 I2,13,D1 I2,13,D1 X X X

Diperbolehkan (I) INSENTIF : I6 (Insentif Urun Saham) DISINSENTIF :


Terbatas (T) I1 (Insentif Kompensasi) I7 (Insentif Penyediaan Sarana & D1 (Disinsentif Kewajiban membayan kompensasi /
Bersyarat (B) I2 (Insentif Subsidi Silang) Parasaran imbalan)
Tidak diperbolehkan I3 (Insentif Kemudahan Peizinan) I8 (Insentif Pemberian D2 (Disinsentif Persyaratan Khusus dalam Perizinan)
I4 (Insentif Imbalan) Penghargaan D3 (Disinsentif Pembatasan Prasarana dan Sarana)

50 I5 (Insentif Sewa Ruang) I9 (Insentif Publiksi dan Promosi) D4 (Disinsentif Pemberian Status Tertentu)

ARAHAN PEMANFAATAN RUANG

MENGUSULKAN PADA GURBENUR ISU STRATEGIS


PERENCANAAN
PROVINSI

GURBENUR MENYAMPAIKAN PADA BKPRD PROVINSI

RAPAT PLENO BKPRD PROVINSI & PEMKAB

SINERGITAS ANTARA PRODUK PERENCANAAN RUANG


PENGUSULAN TINGKAT PROVINSI DENGAN TINGKAT KABUPATEN

ISU STRATEGIS SINERGITAS ANTARA PRODUK PERENCANAAN RUANG PRODUK RTR


PROVINSI TINGKAT PROVINSI DENGAN TINGKAT KABUPATEN SEKITAR PROVINSI &
SEKITARNYA
TIM PELAKSANAAN PEMERINTAH DAERAH

KRITERIA PEMBERIAN INSENTIF MELAKUKAN PENILAIAN BERDASARKAN KRITERIA INSENTIF


DAN DISINSENTIF RTR DAN DISINSENTIF

RAPAT PLENO ANGGOTA TIM PELAKSANA ANTAR FASILITASI OEH BKPRD


PEMERINTAH PROVINSI
PENGAJUAN REKOMENDASI PENERIMAAN INSENTIF DAN PENAMBAHAN USULAN
DISINSENTIF KEPADA GURBENUR PENERIMAAN INDIS
PENETAPAN

HASIL KESEPAKATAN KERJASAMA DALAM PEMBERIAN


INSENTIF DAN DISINSENTIF

PELAKSANAAN PEMBERIAN INSENTIF DAN DISINSENTIF OLEH


TIM PELAKSANAA ATAU POKJA TERKAIT Ringkasan Eksekutif 51

ARAHAN PEMANFAATAN RUANG

MENGUSULKAN PADA GURBENUR ISU STRATEGIS


PERENCANAAN
PROVINSI

GURBENUR MENYAMPAIKAN PADA BKPRD PROVINSI

RAPAT PLENO BKPRD PROVINSI & PEMKAB

SINERGITAS ANTARA PRODUK PERENCANAAN RUANG


PENGUSULAN TINGKAT PROVINSI DENGAN TINGKAT KABUPATEN

KEGIATAN ISU SINERGITAS ANTARA PRODUK PERENCANAAN RUANG PRODUK RTR


MASYARAKA STRATEGIS TINGKAT PROVINSI DENGAN TINGKAT KABUPATEN SEKITAR PROVINSI &
T PROVINSI SEKITARNYA
TIM PELAKSANAAN PEMERINTAH DAERAH

KRITERIA PEMBERIAN INSENTIF MELAKUKAN PENILAIAN BERDASARKAN KRITERIA INSENTIF


DAN DISINSENTIF RTR DAN DISINSENTIF

RAPAT PLENO ANGGOTA TIM PELAKSANA ANTAR FASILITASI OEH BKPRD


PEMERINTAH PROVINSI
PENGAJUAN REKOMENDASI PENERIMAAN INSENTIF DAN PENAMBAHAN USULAN
DISINSENTIF KEPADA GURBENUR PENERIMAAN INDIS
PENETAPAN

HASIL KESEPAKATAN KERJASAMA DALAM PEMBERIAN


INSENTIF DAN DISINSENTIF

52 Ringkasan Eksekutif
PELAKSANAAN PEMBERIAN INSENTIF DAN DISINSENTIF OLEH
TIM PELAKSANAA ATAU POKJA TERKAIT
Pelanggaran Pemanfaatan Ruang
Pelanggaran pemanfaatan ruang terjadi apabila seseorang tidak :
a. menaati rencana tata ruang yang telah ditetapkan;
b. memanfaatkan ruang sesuai dengan izin pemanfaatan ruang dari pejabat yang
berwenang;
c. mematuhi ketentuan yang ditetapkan dalam persyaratan izin pemanfaatan ruang; dan
d. memberikan akses terhadap kawasan yang oleh ketentuan peraturan perundang-
undangan dinyatakan sebagai milik umum.
Dasar Hukum : UU 26 th 2007 Pasal 61 dan PP No. 15 Th 2010 Psl 132 ayat (2).

No UU No. 26 tahun 2007 PP No 15 Tahun 2010


1 peringatan tertulis; peringatan tertulis;
2 penghentian sementara kegiatan; penghentian sementara kegiatan;
3 penghentian sementara pelayanan umum; penghentian sementara pelayanan umum;
4 penutupan lokasi; penutupan lokasi;
5 pencabutan izin; pencabutan izin;
6 pembatalan izin; pembatalan izin;
7 pembongkaran bangunan; pembongkaran bangunan;
8 pemulihan fungsi ruang; dan/atau
9 denda administratif.

Ringkasan Eksekutif 53
Apabila dalam verifikasi lapangan ada indikasi pidana
maka itu menjadi kewenangan dari Penyidik Pegawai
Negeri Sipil (PPNS)
a. melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau
keterangan yang berkenaan dengan tindak pidana
dalam bidang penataan ruang;
b. melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga
melakukan tindak pidana dalam bidang penataan
ruang;
c. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang
sehubungan dengan peristiwa tindak pidana dalam
bidang penataan ruang;
d. melakukan pemeriksaan atas dokumen-dokumen
yang berkenaan dengan tindak pidana dalam bidang
penataan ruang;
e. melakukan pemeriksaan di tempat tertentu yang
diduga terdapat bahan bukti dan dokumen lain serta
melakukan penyitaan dan penyegelan terhadap bahan
dan barang hasil pelanggaran yang dapat dijadikan
bukti dalam perkara tindak pidana dalam bidang
penataan ruang; dan
f. meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka
pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana dalam
bidang penataan ruang.

Pasal 68 ayat (2) UU 26/2007 dan Pasal 3 Permen PU No.


13/2009 tentang PPNS

54 Ringkasan Eksekutif
Kriteria Pelanggaran, Rincian Pelanggaran Aturan tentang
Jika tidak : Sanksi
menaati rencana tata ruang yang Pasal 183 PP No 15 Pasal 69 UU No
telah ditetapkan; Tahun 2010 26/ 2007
memanfaatkan ruang sesuai Pasal 184 PP No 15 Pasal 70 UU No
dengan izin pemanfaatan ruang Tahun 2010 26/ 2007
dari pejabat yang berwenang;
mematuhi ketentuan yang Pasal 185 PP No 15 Pasal 71 UU No
ditetapkan dalam persyaratan izin Tahun 2010 26/ 2007
pemanfaatan ruang; dan
memberikan akses terhadap Pasal 186 PP No 15 Pasal 72 UU No
kawasan yang oleh ketentuan Tahun 2010 26/ 2007
peraturan perundang-undangan
dinyatakan sebagai milik umum.

Kriteria Pelanggaran Bentuk Sanksi


Tidak menaati rencana tata ruang - Mengakibatkan perubahan fungsi ruang > penjara max 3 tahun dan denda max 500 juta
yang telah ditetapkan; - Merugikan thd harta benda atau kerusakan barang penjara max 8 th dan denda 1.5 Milyar
- Kematian orang > penjara max 15 th dan denda 5 M
Tidak memanfaatkan ruang sesuai - Tidak sesuai izin > penjara max 3 th dan denda 500 jt.
dengan izin pemanfaatan ruang - Berakibat pd perubahan fungsi ruang > penjara max 5 th dan denda 1 M
dari pejabat yang berwenang; - Merugikan thd harta benda atau kerusakan barang, > penjara max 5 th dan denda 1.5 M
- Berakibat kematian orang > penjara max 15 th dan denda 5 M
Tidak mematuhi ketentuan yang - Tdk mematuhi izin penjara max 3 th dan denda 500 jt
ditetapkan dalam persyaratan izin
pemanfaatan ruang; dan
Tidak memberikan akses terhadap tidak memberikan akses terhadap kawasan yang oleh peraturan perundang-undangan
kawasan yang oleh ketentuan dinyatakan sebagai milik umum > penjara max 1 tahun dan denda 100 juta
peraturan perundang-undangan
dinyatakan sebagai milik umum. 55
• Adanya laporan masyarakat
• Adanya pemberitaan di media • Penyidik pegawai negeri sipil memberitahukan
cetak dan atau elektronik dimulainya penyidikan kepada pejabat penyidik
• Temuan petugas dilapangan kepolisian negara Republik Indonesia.
• Apabila pelaksanaan kewenangan tersebut
memerlukan tindakan penangkapan dan
penahanan, penyidik pegawai negeri sipil
Verifikasi oleh Dinas Tata Ruang melakukan koordinasi dengan pejabat penyidik
(Petugas yg Berwenang) ke lapangan
kepolisian negara Republik Indonesia sesuai
terhadap semua pelanggaran yang
dilaporkan
dengan ketentuan peraturan
perundangundangan.
• Penyidik pegawai negeri sipil menyampaikan hasil
penyidikan kepada penuntut umum melalui
Terbukti.. ? pejabat penyidik kepolisian negara Republik
Indonesia.
Pasal 68 ayat (3,4,5) UU 26/2007
Sanksi Kewenangan Penyidikan oleh Polisi harus sesuai KUHP.

56 Ringkasan Eksekutif
05
VISUALISASI
INSDAL
KAWASAN
05
Pusat Distrik Skouw
Koridor Arteri Perdagangan & Jasa
Kawasan Pariwisata Skouw Mabo
KDB KLB KDB KLB
KDB KLB
60 % 2.4 60 % 2.4
60 % 2.4

Pusat Distrik Skouw Mabo


TB KDH TB KDH TB KDH
4 Lt 10 % 4 Lt 30 % 4 Lt 25 %

INDAL KETERANGAN
Perkantoran, pendidikan &
Zona
5 Perdagangan dan jasa
Perkantoran, pendidikan &
1. Galeri Papua 6 4 8 Eksisting Perdagangan dan jasa
2. Pertokoan KDB 80 %, KLB 0.5, Tinggi
7 Bangunan 1 Lt
3. Landmark
4. Kantor PLBN 1 Ketentuan
3 Izin
5. Kantor distrik Kegiatan
6. Sekolah TPZ Pengendalian Pertumbuhan
7. Alun-alun 2 Izin Prinsip, IPPT, Izin Lokasi
Perizinan dan IMB
8. Rest area dan
Insentif Kemudahan Perizinan
terminal
Sewa Ruang
Subsidi Silang
Disinsentif Pembatasan Prasarana dan
Sarana
Sanksi • peringatan tertulis,
• penghentian sementara
kegiatan,
• penghentian sementara
pelayanan umum,
• penutupan lokasi,
• pencabutan izin,
• pembatalan izin,
• pembongkaran
bangunan,
• pemulihan fungsi ruang
denda
administratif
Pusat Distrik Skouw Mabo

Pusat Distrik Skouw Mabo

Sumber : DED Pusat Distrik Skouw, Tahun 2017

Alun-alun Kantor Distrik

Kawasan Olahraga Monumen Pancasila

60 Ringkasan Eksekutif
Koridor Arteri
Perdagangan
& Jasa
INSDAL KETERANGAN
Zona Perkantoran, Perdagangan dan jasa
Eksisting Perkantoran, & Perdagangan dan jasa
KDB 80 %, KLB 0.5, Tinggi Bangunan 1
KDB KLB Lt
75 % 2.4
Ketentuan Terbatas, Besyarat
TB KDH Kegiatan
4 Lt 10 %
TPZ Pengendalian Pertumbuhan

Perizinan Izin Prinsip, IPPT, Izin Lokasi dan IMB


Insentif Kemudahan Perizinan
Sewa Ruang
Subsidi Silang
Disinsentif Pembatasan Prasarana dan Sarana
Pemberian status tertentu
Sanksi

• peringatan tertulis,
• penghentian sementara kegiatan,
• penghentian sementara pelayanan
umum,
• penutupan lokasi,
• pencabutan izin,
• pembatalan izin,
• pembongkaran bangunan,
• pemulihan fungsi ruang denda
administratif
Bangunan Perdagangan dan Jasa

Area Parkir Perdagangan dan Jasa


Perdagangan dan Jasa Tampak Samping

Koridor Arteri
Perdagangan & Jasa

62 Ringkasan Eksekutif Perdagangan dan Jasa Tampak Depan


Pariwisata Budaya
1 Ruang Terbuka 2 Amphi Theater 3
Bangunan Cagar
Budaya
Skouw Mabo
INSDAL KETERANGAN
Permukiman Kepadatan
3 Zona rendah, cagar budaya dan
2
pariwisata, sempadan pantai
Permukiman, Bangunan
cagar budaya & sempadan
Eksisting pantai
1
KDB 60 %, KLB 0.5 – 1.00,
Tinggi Bangunan 1 - 2 Lt
4 Promenade Ketentuan
Terbatas dan Bersyarat
Kegiatan
TPZ TPZ Cagar Budaya
Izin Prinsip, IPPT, Izin Lokasi
Perizinan dan IMB
Insentif Kemudahan Perizinan
Sewa Ruang
KDB KLB Subsidi Silang
50 % 0.5 Disinsentif Pembatasan Prasarana dan
TB KDH Sarana, persyaratan khusus
1 Lt 25 % perizinan,
Sanksi • peringatan tertulis,
• penghentian
sementara kegiatan,
• penutupan lokasi,
• pencabutan izin,
• pembatalan izin,
• pembongkaran
bangunan,
• pemulihan fungsi ruang
• denda
VISUALISASI KAWASAN PERMUKIMAN SKOUW

Pariwisata Budaya Skouw Mabo

VISUALISASI PEMECAH GELOMBANG


Gerbang Skuw Ruang Terbuka Skouw Pedestrian Skouw Mabo
Mabo Mabo

Area Parkir pada Skouw Mabo

Pariwisata Budaya
Skouw Mabo
Gallery pada Skouw Mabo

Ringkasan Eksekutif 65