Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN

KONSEP MENUA

KEPERAWATAN GERONTIK

Disusun oleh :

Dianita Puteri

Nim : 201620461011081

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

2017
1. Konsep Lansia
a. Definisi

Lanjut usia adalah suatu proses yang alami dari tumbuh kembang. Semua orang

akan mengalami proses menjadi tua dan masa tua merupakan masa hidup manusia

yang terakhir (Sunkudon, et al. 2015). Jumlah orang dengan usia 60 tahun atau lebih

akan meningkat dari 900 juta jiwa menjadi 2 miliar jiwa pada tahun 2015 sampai

dengan tahun 2050 (bergerak dari 12% menjadi 22% dari total populasi diseluruh

dunia) (WHO, 2015). Prevalensi usia lanjut lebih dari 60 tahun meningkat lebih cepat

dibandingkan populasi kelompok umur lainnya karena peningkatan angka harapan

hidup dan penurunan angka kelahiran. Jumlah penduduk usia lanjut di Indonesia

mencapai peringkat lima besar terbanyak di dunia, yakni 18,1 juta pada tahun 2010

dan akan meningkat dua kali lipat menjadi 36 juta pada tahun 2025 (Setiati, 2013).

Aging merupakan proses alamiah yang terjadi terus menerus dan dimulai sejak

manusia dilahirkan. proses menua terjadi akibat akumulasi radikal bebas yang

merusak DNA, protein, lipid, glikasi non-enzimatik, dan turn over protein. Kerusakan

di tingkat selular akhirnya menurunkan fungsi jaringan dan organ. Masalah umum

pada proses menua adalah penurunan fungsi fisiologis dan kognitif yang bersifat

progresif serta peningkatan kerentanan usia lanjut pada kondisi sakit. Laju dan

dampak proses menua berbeda pada setiap individu karena dipengaruhi faktor

genetik serta lingkungan (Maryam, et al. 2008).

Sesorang dikatakan usia lanjut (lansia) jika berusia lebih dari 65 tahun. Lansia

bukan suatu penyakit, namun merupakan tahap lanjut dari suatu proses kehidupan

yang ditandai dengan penurunan kemampuan tubuh untuk beradaptasi dengan stres

lingkungan, kegagalan dalam mempertahankan keseimbangan terhadap kondisi stres


psikologis. Kegagalan ini berkaitan dengan penurunan daya kemampuan untuk hidup

serta peningkatan kepekaan secara individual (Muhit dan Siyoto, 2016).

b. Siklus Hidup Manusia

Siklus hidup manusia merupakan proses perjalanan manusia sejak lahir sampai

manusia tersebut meninggal dunia. Siklus hidup lansia dapat dibedakan menjadi :

1) Usia pertengahan (Middle age) ialah kelompok usia 45 sampai dengan 59

tahun

2) Lanjut usia (elderly) yaitu kelompok usia 60 sampai dengan 74 tahun

3) Lanjut usia tua (old) yaitu kelompok usia 75 tahun sampai 90 tahun

4) Usia sangat tua (very old) yaitu kelompok usia diatas 90 tahun

c. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Proses Menua

Penuaan dapat terjadi secara fisiologis dan patologis. Faktor-faktor yang dapat

mempengaruhi proses menua adalah sebagai berikut :

1) Hereditas atau Genetik

Kematian sel merupakan seluruh program kehidupan yang dikaitkan

dengan peran DNA yang penting dengan mekanisme pengadilan fungsi sel.

Secara genetik, perempuan ditentukan oleh sepasang kromosom X

sedangkan laki-laki hanya oleh satu kromosom X. Kromosom X ini

ternyata membawa unsur kehidupan sehingga perempuan berumur lebih

panjang dari laki-laki.

2) Nutrisi

Nutrisi yang berlebihan atau kekurangan akan mengganggu keseimbangan

reaksi kekebalan.
3) Status kesehatan

Penyakit yang selama ini dikaitkan dengan proses penuaan sebenarnya

bukan disebabkan oleh proses menuanya sendiri, tetapi lenih disebabkan

oleh faktor luar yang merugikan yang berlangsung tetap dan

berkepanjangan.

4) Paparan langsung sinar matahari secara terus menerus

Kulit yang tak terlindungi dari paparan sinar matahari langsung akan

mudah terkena flek,kerutan dan muda menjadi kusam.

5) Kurang olahraga

Olahraga membantu pembentukan otot dan membantu memperlancar

peredaran darah keseluruh tubuh.

6) Mengkonsumsi alkohol

7) Lingkungan

8) Stres

Tekanan kehidupan sehari-hari yang tercermin dalam gaya hidup akan

mempengaruhi proses menua.

d. Karakteristik Pasien Geriatri

Pasien geriatri adalah pasien usia lanjut yang memiliki karakteristik khusus yang

membedakannya dari pasien usia lanjut pada umumnya. Adapun karakteristik pasien

geriatri adalah sebagai berikut :

1) Multipatologi, yaitu adanya lebih dari satu penyakit kronis degeneratif.

2) Daya cadangan faali menurun karena menurunnya fungsi organ akibat

proses menua.
3) Gejala dan tanda penyakit yang tidak khas. Tampilan gejala yang tidak khas

seringkali mengaburkan penyakit yang diderita pasien.

4) Penurunan status fungsional yang merupakan kemampuan seseorang untuk

melakukan aktivitas sehari-hari. Penurunan status fungsional menyebabkan

pasien geriatri berada pada kondisi imobilisasi yang berakibat

ketergantungan pada orang lain.

5) Malnutrisi, merupakan sindrom geriatri terbanyak pada pasien usia lanjut.

e. Sindrom Geriatri

Masalah umum pada proses menua adalah penurunan fungsi fisiologis dan

kognitif yang bersifat progresif serta peningkatan kerentanan usia lanjut pada kondisi

sakit. Laju dan dampak proses menua berbeda pada setiap individu karena

dipengaruhi faktor genetik serta lingkungan.

Proses menua mengakibatkan penurunan fungsi sistem organ seperti sistem

sensorik, saraf pusat, pencernaan, kardiovaskular, dan sistem respirasi. Selain itu

terjadi pula perubahan komposisi tubuh, yaitu penurunan massa otot, peningkatan

massa dan sentralisasi lemak, serta peningkatan lemak intramuskular. Perlu diingat

bahwa perubahan fisik yang berhubungan dengan proses menua normal bukanlah

penyakit. Individu yang menunjukkan karakteristik menua dikatakan mengalami usual

aging, sedangkan individu yang tidak atau memiliki sedikit karakteristik menua

disebut successful aging.

Masalah yang sering dijumpai pada pasien geriatri adalah sebagai berikut :

1) Imobilisasi adalah keadaan tidak bergerak/ tirah baring selama 3 hari atau

lebih, diiringi gerak anatomis tubuh yang menghilang akibat perubahan fungsi
fisiologis. Imobilisasi menyebabkan komplikasi lain yang lebih besar pada

pasien usia lanjut bila tidak ditangani dengan baik. Gangguan keseimbangan

(instabilitas) akan memudahkan pasien geriatri terjatuh dan dapat mengalami

patah tulang.

2) Inkontinensia urin didefinisikan sebagai keluarnya urin yang tidak terkendali

pada waktu yang tidak dikehendaki tanpa memperhatikan frekuensi dan

jumlahnya, sehingga mengakibatkan masalah sosial dan higienis.

Inkontinensia urin seringkali tidak dilaporkan oleh pasien atau keluarganya

karena malu atau tabu untuk diceritakan, ketidaktahuan dan menganggapnya

sebagai sesuatu yang wajar pada orang usia lanjut serta tidak perlu diobati.

3) Insomnia merupakan gangguan tidur yang sering dijumpai pada pasien

geriatri. Umumnya mereka mengeluh bahwa tidurnya tidak memuaskan dan

sulit memertahankan kondisi tidur. Sekitar 57% orang usia lanjut di

komunitas mengalami insomnia kronis, 30% pasien usia lanjut mengeluh

tetap terjaga sepanjang malam, 19% mengeluh bangun terlalu pagi, dan 19%

mengalami kesulitan untuk tertidur.

4) Gangguan depresi pada usia lanjut kurang dipahami sehingga banyak kasus

tidak dikenali. Gejala depresi pada usia lanjut seringkali dianggap sebagai

bagian dari proses menua. Prevalensi depresi pada pasien geriatri yang dirawat

mencapai 17,5%. Deteksi dini depresi dan penanganan segera sangat penting

untuk mencegah disabilitas yang dapat menyebabkan komplikasi lain yang

lebih berat.

5) Infeksi sangat erat kaitannya dengan penurunan fungsi sistem imun pada usia

lanjut. Infeksi yang sering dijumpai adalah infeksi saluran kemih, pneumonia,
sepsis, dan meningitis. Kondisi lain seperti kurang gizi, multipatologi, dan

faktor lingkungan memudahkan usia lanjut terkena infeksi.

6) Gangguan penglihatan dan pendengaran juga sering dianggap sebagai hal

yang biasa akibat proses menua. Prevalensi gangguan penglihatan pada pasien

geriatri yang dirawat di Indonesia mencapai 24,8%. Gangguan penglihatan

berhubungan dengan penurunan kegiatan waktu senggang, status fungsional,

fungsi sosial, dan mobilitas. Gangguan penglihatan dan pendengaran

berhubungan dengan kualitas hidup, meningkatkan disabilitas fisik,

ketidakseimbangan, jatuh, fraktur panggul, dan mortalitas.

7) Penyakit kronis degeneratif. Masalah yang muncul sering tumpang tindih

dengan gejala yang sudah lama diderita sehingga tampilan gejala menjadi tidak

jelas. Penyakit degeneratif yang banyak dijumpai pada pasien geriatri adalah

hipertensi, diabetes melitus, dislipidemia, osteoartritis, dan penyakit

kardiovaskular.

f. Upaya Mempertahankan Kualitas Hidup Usia Lanjut dan Geriatri

Pencegahan dan tatalaksana yang tepat terhadap sarkopenia dan frailty

merupakan salah satu upaya untuk memertahankan dan memerbaiki kualitas hidup

usia lanjut. Mekanisme sarkopenia yang multifaktorial menyebabkan tatalaksana

sarkopenia juga harus dilakukan secara holistik. Upaya pencegahan yang dapat

dilakukan adalah asupan diet protein, vitamin & mineral yang cukup, serta olah raga

teratur. Perlu pemantauan rutin kemampuan dasar seperti berjalan, keseimbangan,

fungsi kognitif, pencegahan infeksi dengan vaksin, serta antisipasi kejadian yang dapat

menimbulkan stres misalnya pembedahan elektif dan reconditioning cepat setelah

mengalami stres dengan renutrisi dan fisioterapi individual.


Nutrisi yang berperan pada sarkopenia adalah protein, vitamin D, antioksidan,

selenium, vitamin E, dan C. Protein merupakan nutrisi utama yang berperan pada

sarkopenia. Asupan protein yang dianjurkan untuk orang dewasa adalah 0,8 g/kg

berat badan/hari. Orang usia lanjut umumnya mengonsumsi protein kurang dari

angka kecukupan gizi (AKG). Proporsi protein yang adekuat merupakan faktor

penting; bukan dalam jumlah besar pada sekali makan. Hal penting lainnya adalah

kualitas protein yang baik, yaitu protein sebaiknya mengandung asam amino esensial.

Leusin adalah asam amino esensial dengan kemampuan anabolisme protein tertinggi

sehingga dapat mencegah sarkopenia. Leusin dikonversi menjadi hydroxy-methyl-

butyrate (HMB). Suplementasi HMB meningkatkan sintesis protein dan mencegah

proteolisis.

Nutrisi kedua yang berperan penting pada sarkopenia dan kekuatan massa otot

adalah vitamin D. Orang usia lanjut berisiko mengalami defisiensi vitamin D.

Rendahnya kadar vitamin D memiliki risiko 4 kali lipat untuk menjadi frailty.

Suplementasi vitamin D pada usia lanjut dengan defisiensi vitamin D bermanfaat

untuk mencegah sarkopenia, penurunan status fungsional, dan risiko jatuh. Sumber

vitamin D banyak didapatkan pada ikan salmon, tuna, dan makarel. Pajanan sinar

matahari juga merupakan salah satu sumber vitamin D, namun letak geografis, waktu

berjemur, kandungan melanin dalam kulit, dan penggunaan tabir surya dapat

memengaruhi kandungan vitamin D. Salah satu bentuk vitamin D adalah alfacalcidol

yang merupakan analog vitamin D non-endogen. Alfacalcidol bermanfaat untuk

mencegah jatuh, meningkatkan keseimbangan, fungsi dan kekuatan otot.

Faktor lain yang berperan penting pada sarkopenia adalah aktivitas fisik.

Aktivitas fisik dapat menghambat penurunan massa dan fungsi otot dengan memicu
peningkatan massa dan kapasitas metabolik otot sehingga memengaruhi energy

expenditure, metabolise glukosa, dan cadangan protein tubuh. Resistance training

merupakan bentuk latihan yang paling efektif untuk mencegah sarkopenia dan dapat

ditoleransi dengan baik pada orang tua. Program resistance training dilakukan selama 30

menit setiap sesi, 2 kali seminggu.29 Untuk mencegah sarkopenia juga diperlukan

asupan protein yang adekuat. Kedua intervensi tersebut harus berjalan beriringan,

karena pemberian nutrisi tanpa aktivitas fisik dapat menyebabkan overfeeding, yang

akan dikonversi menjadi lemak, sehingga justru membahayakan.

Aktivitas fisik tanpa asupan nutrisi yang adekuat menyebabkan keseimbangan

protein negatif dan menyebabkan degradasi otot. Kombinasi resistance training dengan

intervensi nutrisi berupa asupan protein yang cukup dengan kandungan leusin,

khususnya HMB yang adekuat, merupakan intervensi terbaik untuk memelihara

kesehatan otot orang usia lanjut. Hal terpenting yang perlu digarisbawahi adalah

sarkopenia merupakan faktor kunci dalam patogenesis frailty pada usia lanjut serta

merupakan kondisi yang dapat dimodifikasi. Oleh karena itu peran nutrisi dan

aktivitas fisik menjadi modalitas utama dalam pencegahan serta tatalaksana

sarkopenia dan frailty.


2. Konsep Hipertensi

a. Definisi Hipertensi

Tekanan darah merupakan tekanan yang dihasilkan oleh darah yang dipompa

oleh jantung terhadap pembuluh darah arteri. Tekanan darah pada saat ventrikel kiri

jantung berkontraksi sehingga pembuluh darah arteri teregang maksimal disebut

tekanan sistolik. Sedangkan tekanan diastolik adalah tekanan darah yang terjadi pada

saat jantung berelaksasi sehingga tidak ada darah mengalir dari jantung ke pembuluh

darah (Ronny, Setiawan, & Fatimah, 2008).

Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah dimana tekanan sistolik lebih

besar dari 140 mmHg dan tekanan diastolik lebih besar dari 90 mmHg, didasarkan

pada dua atau lebih pengukuran dalam kunjungan dua sampai tiga minggu. Hipertensi

menyebabkan jantung bekerja lebih keras dari biasanya, sehingga kondisi jantung dan

pembuluh darah berada di bawah tekanan Terdapat dua tipe dari hipertensi, yaitu

hipertensi esensial (primer) dan hipertensi sekunder (Smeltzer, et al, 2010; Kowalski,

2010; Kowalak, Welsh, & Mayer, 2012).

b. Etiologi Hipertensi

Penyebab hipertensi sampai saat ini masih belum dapat diketahui dengan jelas.

Namun, faktor resiko dan faktor predisposisi terjadinya hipertensi dapat

teridentifikasi, antara lain :

a. Usia

Tekanan darah meningkat secara progresif dengan seiring bertambahnya

usia karena pembuluh darah sudah mengalami penurunan elastisitas

(Dalimartha, et al, 2008). Beberapa orang dalam rentan usia diatas 25 tahun

menderita hipertensi karena proses degenerasi (Campbell, et al, 2014).

b. Jenis Kelamin
Hipertensi pada umumnya diderita oleh laki - laki pada usia dewasa muda

dan usia pertengahan awal. Sedangkan setelah usia 45 tahun, hipertensi lebih

umum pada wanita setelah masa menopouse (Dalimartha, et al, 2008).

c. Aktivitas

Aktivitas fisik yang berkurang merupakan faktor terjadinya hipertensi.

Menurut World Health Organization (WHO, 2010), gaya hidup duduk

dalam jangka waktu yang sangat lama merupakan penyebab pertama dari 10

kematian dan kecacatan didunia, dan lebih dari 2 juta kematian setiap tahun

disebabkan oleh kurangnya bergerak atau aktivitas fisik. Jika aktivitas ini

dilakukan secara terus - menerus dapat menyebabkan peningkatan tekanan

darah dan risiko kardiovaskular.

d. Merokok

Merokok sangat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular Kandungan

nikotin dalam rokok dapat menyebabkan peningkatan kadar karbondioksida

(CO2) sehingga dinding pembuluh darah akan mengalami penebalan.

Penebalan dinding pada pembuluh darah akan memicu terjadinya

vasokontriksi. (Dalimartha, et al, 2008; Wiryowidagdo & Sitanggang, 2008).

e. Stress

Stress merangsang sistem saraf simpatik sehingga dapat mempengaruhi

kondisi seseorang. Stress dapat memicu kecepatan denyut jantung dan

meningkatkan kebutuhan suplai darah sehingga dapat meningkatkan

tekanan darah, jika suplai darah tidak mampu memasok kebutuhan akan

menyebabkan serangan jantung dan stroke (Dalimartha, et al, 2008;

Kowalski, 2010).
f. Obesitas

Obesitas merupakan faktor yang sangat mempengaruhi. Jika seseorang

mengalami obesitas akan menyebabkan massa otot membutuhkan banyak

suplai oksigen dan nutrisi sehingga sistem resistensi perifer mengalami

peningkatan dan dapat meningkatkan tekanan pembuluh darah

(Dalimartha, et al, 2008; Kowalski, 2010).

c. Klasifikasi Hipertensi

Klasifikasi tekanan darah tinggi pada orang dewasa usia 18 tahun ke atas dilihat

berdasarkan tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik dalam satuan mmHg

dibagi menjadi beberapa stadium.

Tabel Klasifikasi Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi

Kategori Sistolik (mmHg) Diastolik (mmHg)

Optimal Kurang dari 115 Kurang dari 75

Normal Kurang dari 120 Kurang dari 80

Prehipertensi 120 - 139 80 – 89

Hipertensi stadium 1
140 - 159 90 – 99
Hipertensi stadium 2
160 – 179 100 – 109
Hipertensi stadium 3
180 – 209 110 – 119

(Kowalski, 2010).

d. Manifestasi Klinis Hipertensi

World Health Organization (WHO, 2013) menyatakan, bahwa hipertensi tidak

mempunyai gejala sama sekali (asimtomatik). Pada kasus hipertensi berat, gejala yang

sering muncul antara lain pusing, mudah lelah, sesak napas, pandangan kabur,
kekakuan pada leher bagian belakang, nyeri dada, palpitasi jantung, epistaksis, kram

otot, keringat yang berlebihan dan kesulitan tidur pada malam hari.

e. Patofisiologi Hipertensi

Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak

dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras

saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna

medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat

vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system

saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan

asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah,

dimana dengan dilepaskannya noreepineprin mengakibatkan konstriksi pembuluh

darah. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon

pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriksi. Individu dengan hipertensi sangat

sensitiv terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal

tersebut bisa terjadi.

Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah

sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan

tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi epinefrin, yang

menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid

lainnya, yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh darah.

Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal, menyebabkan

pelepasan rennin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian

diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya

merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan


retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intra

vaskuler. Semua faktor ini cenderung mencetuskan keadaan hipertensi.

Sebagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi perubahan structural dan

fungsional pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan tekanan

darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis,

hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh

darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang

pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya

dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup)

mengakibatkan penurunan curang jantung dan peningkatan tahanan perifer

(Smeltzer, 2001).

Pada usia lanjut perlu diperhatikan kemungkinan adanya “hipertensi palsu”

disebabkan kekakuan arteri brachialis sehingga tidak dikompresi oleh cuff

sphygmomanometer (Darmojo, 1999). Menurunnya tonus vaskuler merangsang saraf

simpatis yang diteruskan ke sel jugularis. Dari sel jugularis ini bisa meningkatkan

tekanan darah. Dan apabila diteruskan pada ginjal, maka akan mempengaruhi eksresi

pada rennin yang berkaitan dengan Angiotensinogen. Dengan adanya perubahan

pada angiotensinogen II berakibat pada terjadinya vasokontriksi pada pembuluh

darah, sehingga terjadi kenaikan tekanan darah.Selain itu juga dapat meningkatkan

hormone aldosteron yang menyebabkan retensi natrium. Hal tersebut akan berakibat

pada peningkatan tekanan darah. Dengan peningkatan tekanan darah maka akan

menimbulkan kerusakan pada organ-organ seperti jantung. ( Suyono, Slamet. 1996 )

f. Komplikasi Hipertensi

Hipertensi merupakan penyakit serius karena dampak yang ditimbulkan sangat

luas, bahkan dapat berakhir pada kematian. Kematian dapat terjadi akibat dampak
dari hipertensi atau penyakit lain yang diawali oleh hipertensi. Penyakit yang

dimaksud sebagai berikut (Lingga, 2012)

a. Kerusakan Ginjal

Tekanan darah dipengaruhi oleh angiotensin, saat tekanan darah tidak

terkendali, produksi angiotensin melonjak tinggi sehingga ginjal kelelahan

dan mengalami kerusakan. Jika hipertensi tidak tertangani dengan baik akan

menyebabkan gagal ginjal.

b. Serangan Jantung

Jantung berdenyut cepat agar dapat mempompa darah lebih banyak.

Namun, arteri kehilangan elastisitas yang menyebabkan darah yang kaya

oksigen tidak dapat menyuplai ke jantung sehingga memicu peningkatan

tekanan darah.

c. Stroke

Otak yang tidak tersuplai oleh darah yang kaya oksigen dapat menyebabkan

peningkatan tekanan darah, sehingga memicu terjadinya stroke, baik disertai

atau tidak perdarahan otak.

d. Glaukoma

Beberapa komplikasi dari hipertensi adalah gangguan retinopati (glaukoma).

Glaukoma terjadi karena tekanan darah yang tinggi dan berlangsung dalam

jangka waktu yang lama, sehingga menyebabkan tekanan pada intraokular

mata, arteriol yang menyuplai darah menuju mata menyempit.

e. Disfungsi Ereksi

Pada penderita hipertensi, khususnya berjenis kelamin pria sering

mengeluhkan disfungsi ereksi yang dialami. Hipertensi menyebabkan

penurunan fungsi ereksi karena terjadi penurunan produksi nitrit oksida


yang berfungsi sebagai vasodilator (Lingga, 2012; Ronny, Setiawan, &

Fatimah, 2008).

f. Demensia dan Alzaimer

Hipertensi dapat memicu penyakit neurologis, hipertensi yang berlangsung

lama tanpa dikendalikan menurunkan fungsi otak, terutama yang berkaitan

dengan memori. Tekanan yang tinggi pada reseptor otak akan melemahkan

sistem saraf dan sejumlah neurotransmiter yang bertugas untuk menyimpan

dan mengatur memori.

g. Pengobatan Hipertensi

Penatalaksanaan farmakologi merupakan penatalaksanaan hipertensi dengan

menggunakan obat – obatan kimiawi. Beberapa macam jenis obat hipertensi, antara

lain (Muttaqin, 2009). :

a) Diuretik

Hidroklorotiazid adalah diuretik yang sering diresepkan untuk mengobati

hipertensi ringan. Beberapa obat antihipertensi dapat dapat menyebabkan

retensi cairan, oleh karena itu sering kali diuretik diberikan bersamaan

dengan antihipertensi

b) Simpatolitik

Penghambat (adrenergik berkerja di sentral simpatolitik). Penghambat

adrenergik alfa dan penghambat neuron adrenergik diklasifikasikan sebagai

penekan simpatetik atau simpatolitik.

c) Penghambat Adrenergik Alfa

Golongan obat ini berfungsi untuk memblok reseptor adrenergik alfa 1,

menyebabkan vasodilatasi dan menurunkan tekanan darah.


d) Penghambat Neuron Adrenergik

Obat antihipertensi yang kuat dan menghambat norepinefrin dari ujung

saraf simpatis, sehingga pelepasan norepinefrin menjadi berkurang dan

penurunan curah jantung.

e) Vasodilator Arteriol yang Berkerja Langsung

Vasodilator yang berkerja langsung adalah obat tahap III yang

merelaksasikan otot – otot polos pembuluh darah arteri sehingga

menyebabkan vasodilatasi. Dengan terjadinya vasodilatasi, tekanan darah

akan turun dan natrium serta air tertahan, sehingga terjadi edema perifer.

Diuretik diberikan bersamaan dengan vasodilator yang dapat mengurangi

edema.

f) Antagonis Angiotensin (ACE Inhibitor)

Obat golongan ini menghambat enzim pengubah angiotensin (ACE) yang

menghambat pembentukan angiotensin II (vasokonstriktor) dan

menghambat pelepasan adosteron. Aldosteron meningkatkan retensi

natrium dan ekskresi kalium. Jika aldosteron dihambat, natrium

diekskresikan bersama air .

Pada saat menggunakan terapi farmakologi, terapi non farmakologi dapat

digunakan sebagai pelengkap untuk mendapatkan efek pengobatan yang lebih baik.

Termasuk mengubah gaya hidup yang tidak sehat. Menurut Palmer (2007), lima

langkah dalam merubah gaya hidup yang sehat bagi penderita hipertensi yaitu : 1)

mengontrol pola makan, mengurangi konsumsi sodium dan meningkatkan konsumsi

potasium, membatasi alkohol yang berlebihan, 2) mengurangi kelebihan berat badan,

3) mengontrol stress, 4) berhenti merokok, 5) melakukan aktivitas fisik.


DAFTAR PUSTAKA

Maryam, R.S., Ekasari, M.F., Rosiwati., Jubaedi, A., dan Batubara, I. (2008).

Mengenal usia lanjut dan perawatannya. Jakarta : Penerbit salemba medika.

Muhit, A., dan Siyoto, S. (2016). Pendidikan keperawatan gerontik. Edisi 1. Jogjakarta

: Andi.

Setiati, S. (2015). Geriatric Medicine, Sarkopenia, Frailty dan Kualitas Hidup Pasien

Usia Lanjut: Tantangan Masa Depan Pendidikan, Penelitian dan Pelayanan

Kedokteran di Indonesia. Vol.1, No.3.

Sunkudon, M.C., Palandeng, H., dan Kallo, V. (2015). Pengaruh senam lansia

terhadap stabilitas tekanan darah pada kelompok lansia GMIM Anugrah di

desa Tumaratas 2, Kec. Langowan barat Kabupaten Minahasa. Ejaournal

keperawatan. Volume.3, No.1.

WHO. (2012). 10 Facts on ageing and the life course.

http://www.who.int/features/factfiles/ageing/ageing_facts/en/. Diakses

pada tanggal 17 september 2017.