Anda di halaman 1dari 113

LAPORAN PENDAHULUAN

KEPERAWATAN JIWA

Disusun Oleh:

Jani Muntaroh (1201026)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes) AISYAH
PRINGSEWU LAMPUNG
TAHUN 2016
DEFISIT PERAWATAN DIRI

A. PENGERTIAN
a. Perawatan diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalam memenuhi
kebutuhannya guna mempertahankan kehidupannya, kesehatan dan kesejahteraan
sesuai dengan kondisi kesehatannya, klien dinyatakan terganggu keperawatan
dirinya jika tidak dapat melakukan perawatan diri (Depkes 2000).
b. Defisit perawatn diri adalah gangguan kemampuan untuk melakukan aktifitas
perawatan diri (mandi, berhias, makan, toileting) (Nurjanah, 2004).
c. Defisit perawatan diri adalah gangguan kemampuan untuk melakukan atau
menyelesaikan aktifitas perawatan diri untuk diri sendiri : mandi, berpakaian dan
berhias untuk diri sendiri, aktifitas makan sendiri dan aktifitas eliminasi sendiri
(Herdman, 2012).
d. Personal Hygiene adala suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan
kesehatan seseorang
e. Deficit perawatan diri menggambarkan suatu keadaan seseorang yang mengalami
gangguan kemampuan untuk melakukan akrifitas perawatan diri, seperti manid,
berganti pakaian, makan dan toileting (Wilkson,2007).
f. Menuru Hedrman (2012) deficit perawatan diri atas 4 kegiatan yaitu: mandi/
hygine, berpakaian/ berhias, makan, dan toileting.

B. KOMPONEN PERAWATAN DIRI


Pada konsep manajemen keperawatan pasien yan dirawat inap akan dikategorikan
berdasarkan tingkat ketergantungan yang dialaminya. Swansburg (1999)
mengelompokkan ketergantungan pasien menjadi 5 kategori, yaitu :
(1) Kategori 1 : Perawatan Mandiri , yaitu meliputi : 1) aktivitas sehari-hari, pada
kategori ini seperti makan dan minum dapat dilakukansecara sendiri atau dengan
sedikit bantuan. Merapikan diri, kebutuhan eliminasi dan kenyamanan posisi
tubuh dapat dilakukan secara mandiri ; 2) keadaan umum ; baik seperti klien yang
masuk rumah sakit untuk keperluan pemeriksaan/ check up atau bedah minor ; 3)
kebutuhan pendidikan kesehatan dan dukungan emosi, membutuhkan penjelasan
untuk tiap prosedur tindakan, membutuhkan penjelasan untuk persiapan pulang
dan emosi stabil ; 4) pengobatan dan tindakan; tidak ada atau hanya pengobatan
dan tindakan sederhana.
(2) Kategori II : Perawatan Minimal, yang meliputi; 1) aktivias sehari-hari, pada
kategori ini seperti makan dan minum perlu bantuan dalam persiapannya dan
masih dapat makan sendiri. Merapihkan diri; perlu sedikit bantuan. Kebutuhan
elminasi perlu dibantu ke kamar mandi atau menggunakan urinal. Kenyamanan
posisi tubuh; dapat melakukan sendiri dengan sedikit bantuan; 2)keadaan umum;
tampak sakit ringn perlu pemantauan tanda vital; 3) kebutuhan pendidikan
kesehatan dan dukungan emosi; membutuhkan waktu 10-15 menit per shift,
sedikit bingung atau agitasi tapi terkendali dengan obat; 4) pengobatan dan
tindakan; membutuhkan waktu 20-30 menit per shif, perlu sering dievaluasi
keefektifan pengobatan dan tindakan, perlu observasi status mental setiap 2 jam.
(3) Kategori III: Perawatan Moderat, meliputi ; 1) aktivitas sehari-hari, pada kategori
ini seperti makan dan minum harus disuapi masih dapat mengunyah dan menelan;
merapikan diri; tidak dapat melakukan sendiri. Kebutuhan eliminasi;disediakan
pispot/urinal, sering ngompol. Kenyamanan posisi tubuh; bergantung pada
bantuan perawat; 2) keadaan umum;gejala akut, bisa hilang timbul, perlu
pemantaun fisik dan emosi tiap 2-4 jam. Klien dengan infus, perlu dipantau setiap
1 jam; 3) kebutuhan pendidikankesehatan dan dukungan emosi; membutuhkan
waktu 10-30 menit per shift, gelisah, menolak bantuan, cukup dikendalikan
dengan obat; 4) pengobatan dan tindakan; membutuhkan waktu 30-60 menit per
shift, perlu sering diawasi terhadap efek samping pengobatan dan tindakan, perlu
observasi status mental setiap 1 jam.
(4) Kategori IV : Perawatan Ekstensif (semi total), meliputi; 1) aktivitas sehari-hari
pada kategori ini seperti makan dan minum tidak bisa menguyah dan menelan,
perlu makan lewat sonde. Merapikan diri: perlu diurus semua, dimandikan,
penataan rambut dan kebersihan mulut. Kebutuhan eliminasi; sering ngompol
lebih dari 2 kali per shift. Kenyamanan posisi tubuh; perlu dibantu oleh 2 orang;
2) keadaan umum; tampak sakit berat, dapat kehilangan cairan atau darah,
gangguan sistem pernafasan akut dan perlu saling dipantau; 3) kebutuhan
pendidikan kesehatan dan dukungan emosi; membutuhkan waktu lebih dari 30
menit per shift, gelisah, agitasi dan tidak dapat dikendalikan dengan obat; 4)
pengobatan dan tindakan; membutuhkan wktu lebih dari 60 menit per shift,
perluobservasi status mental setiap kurang dari 1 jam.
(5) Kategori V : Perawatan Intensif (Total); pada kategori ini, pemenuhan kebutuhan
dasar seluruhnya bergantung pada perawat. Keadaan umum; harus diobservasi
secara terus menerus. Perlu frekuensi pengobatan dan tindakan yang lebih sering
maka klien harus dirawat oleh seorang perawat per shift.
RENTANG RESPON PERAWATAN DIRI

ADAFTIF
MALADAFTIF

POLA PERAWATAN KADANG PERAWATAN TIDAK MELAKUKAN


DIRISEIMBANG DIRI KADANG TIDAK PERAWATAN DIRI

 Pola perawatan diri seimbang, saat klien mendapat kan stressor dan
mampu untuk berprilaku adaftif, maka pola perawatan yang dilakukan
klien seimbang, kliem masih melakukan perawatan diri.
 Kadang perawatan diri kadang tidak saat klien mendapatkan stressor
kadang – kadang klien tidak memperhatikan perawatan dirinya,
 Tidak melakukan perawatan diri, klien mengatakan dia tidak peduli dan
tidak bias melakukan perawat saat stressor.

C. PROSES TERJADINYA DEFISIT PERAWATAN DIRI


Stuart (2009) mendefinisikan stressor predisposisi sebagai faktor resiko yangmenjadi
sumber terjadinya stres yang mempengaruhi tipe dan sumber dari individu untuk
menghadapi stres baik yang biologis, psikologis dan sosial kultural. Stuart (2009)
membedakan stressor predisposisi menjadi tiga, meliputi biologis, psikologis dan
sosial budaya, stressor predisposisi ini kejadiannya telah berlalu. Penjelasan secara
rinci tentang ketiga stressor predisposisi tersebut sebagai berikut :
1. Faktor predisposisi
a. Biologis, terkait dengan adanya neuropatologi dan ketidakseimbangan dari
neurotransmiternya. Dampak yang dapat dinilaisebagai manifestasi adanya
gangguan adalah pada perilaku maladaptif klien (Townsend, 2005). Secara
biologis riset neurobiologikal memfokuskan pada tiga area otak yang
dipercaya dapat melibatkan defisit perawatan diri yaitu sistem limbik, lobus
frontalis dan hypothalamus.

Sistem limbik merupakan cicin kortek yang berlokasi dipermukaan medial


masing-masing hemisfer dan mengelilingi pusat serebrum. Fungsinya adalah
mengatur persyarafan otonom dan emosi (Suliswati, et al, 2005 ; Stuart, 2009.
Fungsi sistem limbik berikuttnya adalah menyimpan dan menyatukan
informasi berhubungan dengan emosi, tempat penyimpanan memori dan
pengolahan informas. Disfungsi ada sistem limbik mengadirkan beberapa
gejala klnik seperti hambatan emosi dan perubahan kepribadian, isyarat antara
rangsangan dan pengalaman masa lalu, emosi, perilaku saling mempengaruhi,
adanya periode peristiwa ketakutan, amukan. Kemarahan dan ketegangan (
Kaplan, Saddock & Grebb, 1997). Berdasarkan penjelasan tersebut dapat
disimpulkan bahwa klien dengan defisit perawatan diri mengalami gangguan
pda sistem limbik sehingga tidak bisa mengontrolperilaku untuk dapat
merawat diri.

Lobus frontal berperan penting menjadi media yang sangat berarti dalam
perilaku berfikir rasional, yang saling berhubungan dengan sistem limbik
(Suliswati, et al, 2005 : Stuart, 2009). Menurut Townsend (2005) lobus frontal
terlibat dalam dua fungsi serebral utama yaitu kontrol motorikgerakan voluntir
termasuk fungsi bicara, fungsi fikir dan kontrol berbagai ekspresi emosi.
Kerusakan pada daerah lobus frontal dapat menyebabkan gangguan berfikir,
dan gangguan dalam bicara/disorganisasi pembicaraan serta tidak mampu
mengontrol emosi sehingga berperilaku maladaptif. Klien defisit perawatan
diri yang megalami kerusakan pada lobus frontal mengakibatkan timbulnya
perilaku maladaptif yaitu tidak mau berperilaku untuk memenuhi kebutuhan
perawatan dir.

Hypotalamus adalah bagian dari disensefalon yaitu bagian dalam dari


serebrum yang menghubungkan otak tengah dengan hemisfer serebrum.
Fungsi utamanya aalah sebagai repon tingkah laku trhadap emosi dan juga
mengatur mood dan motivasi (Suliswati, et al, 2005 ; Stuart, 2009). Kerusakan
hypotalamus membuat seseorang kehilangan mood dan motivasi sehingga
kurang aktivitas dan malas melakukan sesuatu. Apabila kerusakan
hypotalamus terjadi pada klien defisit perawatan diri, maka akan terjadi
gangguan mood dan penurunan motivasi sehingga mengakibatkan klien tidak
dapat melakukan aktifitas perawatan diri.

Selain gangguan pada struktur otk, proses terjadinya gangguan defisit


perawatan diriberdasarkan faktor biologis disebabkan juga oleh adanya
kondisi patologis dan ketidakseimbangan daribeberapa neurotransmitter.
Neurotransmitter tersebuta adalah dopamin, serotonin,norepineprin dan
asetikolin.
Dopamin fungsinya mencakup regulasi gerak dan koordinasi, emosi,
kemampuan pemecahan masalah secara volunter ( Boyd & Nihart, 1998 ;
Suliswati, et al, 2005). Tranmisi dopamin berimplikasi pada penyebab
gangguan emosi tertentu. Menurut Hawari (2001)) fungsi kogniitif (alam
fikir), afektif (alamperasaan) dan psikomotor (perilaku) pada klien skizofrenia
dipengaruhi oleh dopamin. Gangguan pada fungsi dopamin akan
menyebabkan terjadinya gangguan fungsi regulasi gerak dan koordinasi,
emosi serta kemampua pemecahan masalah. Apabila gangguan fungsi
dopamin ini terjadi pada klien skizofrenia, akan menyebabkan klien
mengalami gangguan dala regulasi gerak dan koordinasi, emosi serta
kemampuan pemecahan masalah sehingga klien tidak dapat memenuhi
kebutuhan perawatan diri.
Seroonin berperan sebagai pengontol nafsu makan, tidur, alam perasaan,
halusinasi, persepsi nyeri, muntah. Serotonin dapat emempengaruhi fungsi
kognitif yaitu alam fikir, afektif yaitu alam perasaan dan psikomotor yaitu
perilaku (Hawari, 2001). Menurut Wilkinson (2007) jika serotonin mrngalami
penurunan akan mengakbatkan kecenderunga perilaku yang cenderung
menunjukkan perilaku maladaptif. Perilaku maladaptif yang dapat dilihat yaitu
tidakadanya aktivitas dalam melakukan aktifitas perawatan diri seperti :
mandi, berganti pakalian, makan, dan toileting.

Norepineprin (Boyd & Nihart, 1998 ; Suliswati, et al, 2005) berfungsi untuk
kesiagaan, pusat perhatian dan orientasi; proses pembelajaran dan memori.
Jika terjadi penurunan kadar norepinephrine akan mengakibatkan kelemahan
yang menunjukkan kecenderungn klien menampilkan perilaku negatif.
Kelemahan yang terjadi mengakibatkan klien defisit perawatan diri
berperilaku negatif seperti tidak melkukan aktifitas mandi, tidak berhias, tidak
memperhatikan makan dan minum serta tidak melakukan aktifitas toileting
dengan benar.

Acetylcholine (Ach) (Boyd & Nihart, 1998) berperan penting untuk belajar
dan memori. Jika terjadi peningkatan kadar acetycholine akan dapat
menurunkan ‘atensi dan mood’. Penurunan atensi dan mood menyebabkan
terjadinya perubahan fungsi otak sebagai pusat pengatur perilaku manusia.
Salah satu dampak perilaku dari penurunan atensi dan mood ini adalah defisit
perawatan diri. Pada klien defisit perawatan diri terjadi penurunan atensi dan
mood yang dapat dilihat dengan adanya gejla kurang perhatian untuk diriya
dan malas untuk beraktifitas. Defisit perawatan diri tidak dapat dikendalikan
hanya dengan psikofarmaka saja tetapi melalui pendekatan psikoterapi yang
mengubah perilaku maladaptif menjadi perilaku adaptif salah satunya dengan
menggunakan terapi perilaku : token ekonomi
Pada klien dengan defisit perawatan diri diperkirakan mengalami kerusakan
pada sistem limbik dan lobus frontal yang berperan dalam pengendalian dan
pengonrolan perilaku, kerusakan pada hipotalamus yang berperan dalam
pengaturan mood dan motivasi untuk berperilaku secara adaptif melakukan
aktifitas perawatan diri : mandi, berhias, makan, minum dan tioleting. Klien
defisit perawatan diri juga diperkirakan mengalami perubahan pada fungsi
neurotransmitter. Perubahan dopamin, serotonin, norepineprin dan asetikolin
menyebabkan adanya perubahn reglasi gerak dankoordinasi, emosi,
kemampun mmecahkan masalah; perialku cenderung negtif atau berperilku
maladaptif; terjadi kelemaha serta penurunan atensi dan mood.

b. Psikologis, meliputi konsep diri, intelektual, kepribadian, morlitas,


pengalaman masa lalu, koping dan keterampilan komunikasi secara verbal
(Stuart, 2009). Beberapa aspek tersebut diperkirakan ikut berperan menjadi
penyebab secara psikologis terjadinya defisit perawatan diri.

Konsep diri dimulai dari gambaran diri secara keseluruhan yang diterima
secara positif atau negatif oleh seseorang. Penerimaan gambaran diri yang
negatif menyebabkan perubahan persepsi seseorang dalam memandang aspek
positif lain yang dimiliki. Peran merupakan bagian terpenting dari hadirnya
konsep diri secara utuh. Peran yang terlalu banyak dapat menjadi beban bagi
kehidupan seeorang, hal ini akan berpengaruh terhadap kerancuan dari peran
dirinya ini dapat menimbulkan depresi yang berat. Ideal diri adalah harapan,
cita-cita serta tujuan yang ingin diwujudkan atau dicapai dalam hidup secara
realistis.

Identitas diri terkait dengan kemampuan seseorang dalam mengenal siapa


dirinya, dengan segala keunikannya. Harga diri merupakan kemampuan
seseorang untuk menghargai diri sendiri serta memberi penghargaan terhadap
kemampuan orang lain. Seseorang yang memandang dirinya secara negatif
sering mengabaikan gambaran dirinya, tidak memperhatikan kebutuhannya
denan baik, sehingga berakibat pula pada tidak terpenuhinya kebutuhan
perawatan diri.

Intelektualitas ditentukan oleh tingkat pendidikan seseorang, pengalaman dan


interaksi dengan lingkungan. Menurut Petter & Perry (2005) klien defisit
perawatan diri cenderung memiliki tingkat pengetahuan dan pendidikan yang
rendah, sehingga tidak mampu memutuskan untuk melakukan aktifitas
perawatan diri meliputi mandi, berhias, makan, minum dan toileting.

Kepribadian, pada klien defisit perawatan diri biasanya ditemukan klien


memiliki kepribadian yang tertutup. Klien tidak mudah menerima masukan
dan informasi yang berkaitan dengan kebersihan diri. Klien juga jarang
bergaul dan cenderung menutup diri. Klien memiliki ketidakmampuan untuk
mengevaluasi atau menilai keadaan dirinya dan tidak mampu memutuskan
melakukan peningkatan keadaan mejadi lebih baik.

Moralitas, klien defisit perawatan diri menganggap dirinya tidak berguna,


negatif terhadap diri sendiri ini menyebabkan klien mengalami penurunan
motivasi untuk melakukan aktifitas perawatan diri. Kesimpulannnya, adanya
penilaian diri yang negatif menyebabkan tidak ada tanggung jawab secara
moral pada klien untuk melakukan aktifitas perawatan diri.

Menurut beberapa penjelasan diatas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa


konsep diri negatif, intelektualitas yang rendah, kepribadian dan moralitas
yang tidak adekuat merupakan penyebab secara psikologis untuk terjadinya
defisit perawatan diri. Klien defisit perwatan diri memerlukan perhatian yang
cukup bear untuk dapat mengembalikan konsep diri yang seutuhnya.

c. Sosial budaya, meliputi sosial, umur,pendidikan, agama dan kondisi politik.


Menurut Townsend (2005) ada beberapa hal yang dikaitkan dengan masalah
gangguan jiwa, salah satunya adalah dengan masalah status sosial. Masyarakat
dengan status sosial ekonomi yang rendah dibandingkan dengan masyarakat
yang memiliki status sosisl ekonomi tinggi. Faktor sosial ekonomi tersebut
meliputi kemiskinan, tidak memadainya sarana prasarana, tidak adekuatnya
pemenuhan nutrisi, rendahnya pemenuhan kebutuhan perawatan untuk
anggota keluarga, dan perasaan tidak berdaya. Termasuk dalam faktor sosial
ekonomi adalahkemampuan untuk menyediakan peralatan dan perlengkapan
mandi : sabun, pasta gigi, shampo, handuk dll.

Potter & Perry (2005), mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi


praktik hygiene seseorang adalah citra tubuh, praktek sosial, status sosial
ekonomi, pendidikan yang rendah, pengetahuan, kultur budaya, motivasi
kurang dan kondisi fisik yang lemah.

Citra tubuh, merupakan konsep subyektif seseorang tenang penampilan


fisiknya. Citra tubuh mempengaruhi cara mempertahankan perawatan diri.
Menurut Stuart (2009) citra tubuh adalah kumpulan sikap individu yang
disadari dan tidak disadari terhadap tubuhnya, termasuk persepsi serta
perasaan masa lalu dan sekarang tentang ukuran, fungsi, penampilan dan
potensi. Dapat disimpulkan bahwa citra tubuh sangat berpengaruh bagi
seseorang terutama dalam hal penampilan fisiknya, seeorang memiliki
keyakinan terhadap ukuran, struktur, fungsi dan penampilan diri untuk
melakukan perawatan diri. Citra tubuh yang negatif menyebabkan penurunn
motivasi melakukan aktifitas perawatan diri.

Tahap perkembangan, pelajaran kebersihan diri dari orang tua yang meliputi
kebiasaan keluarg, jumblah orang dirumah, dan ketersediaan peralatan
kebersihan diri merupakan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi
perawatan kebersihan diri. Remaja dapat menjadi lebih perhatian pada
kebersiahan diri. Karena ada ketertariakanpada teman. Dapat disimpulkan
bahwa perkembangan sangat berpengaruh terhadap seseorang untuk
melakukan perawatan diri sesuai dengan usia dan kelompok kerja.
Pengetahuan, pengetahuan tentang pentingnya kebersiahan diri
danimplikasinya bagi kesehatan mempengaruhi praktik kebersihan diri.
Pembelajaran yang diharapkan dapat menguntungkan dalam mengurangi
resiko kesehatan dan motivasi seseorang untuk memenuhi perwatan diri yang
diperlukan. Semakn rendah tingkat pengetahuan seseorang menyebabkan
ketidakmampuan dalam memenuhi kebutuhan perawatan diri.
Kultur atau budaya, kepercayaan kebudayaan klien dan nilai pribadi
mempengaruhi pewatan diri. Kebudayaan diasia kebersihan dipandang penting
bagi kesehatan. Beberaopa negara di Eropa, mandi biasa dilakukan hanya
sekali dalam seminggu. Penjelasan datas menunjukan bahwa kebiasaan yang
dimiliki tiap daerah ataupun bangsa dalam hal perawatan diri berbeda beda,
disesuaikan dengan letak geografis dan kebiasaan setempat.

Motivasi, setiap orangmemiklikikeinginan dan pilihan tentang waktu untuk


mandi, bercukur, dan melakuakan perawatan rambut sesuai dengan kebutuhan.
Seseorang juga memiliki pilihan mengenai bagaimana melakukan perawatan
diri. Jika orang tersebut tidak memiliki motivasi, maka dia tidak mampu
menentukan pilihan, hal ini akan mempengaruhi terpenuhinya perawatan diri.

Kondisi fisik, oran yang mengalami atau menderita penyakit tertentu atau
yang menjalani operasisering kali kekkurangan energi fisik atau ketangkasan
untuk melakukan perawatan kebersihan diri. Menurut Wilkinson (2007) defisit
perawatan diri seringkali disebabkan oleh intoleransi aktifitas, hambatan
mobilitas, nyeri, ansietas, gangguan kognitif atau persepsi.

Berdasarkan dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa setatus sosial


ekonomi, pendidikan yang rendah, kurangnya pengeetahuan, motivasi yang
kurang dan kondisi fisik yang lemah dapat mempengaruhi klien dalam
melakukan aktifitas penemu perawatan diri, sehinggra mengakibatkan klie
mengalami defisit peraatan diri.

2. Faktor presifikasi
Stuart (2009) mendifinisikan stressor prepitasi sebagai dan status stimulus
yang di persepsikan oleh individu apakah dipersepsikan sebagai suatu kesempatan
, tantangan ancaman/ tuntutan. Stressor presipitasi bisa berupa stimulus internal
maupun eksternal yang mengancam individu. Komponen stressor presipiasi terdiri
atas sifat asal, waktu dan jumblah stressor.
Sifat stressor, terjadiny defisit perawatan diri berdasarkan sifat terdiri dari
biologis, psikologis, dan sosial budaya. Sifat stressor yang tergolong komponen
biologis, misalnya penykit infeksi, penyakit kronis atau keainan struktur otak.
Komponen psikologis, misalnya : intelegensi, keterampilan verbal, moral,
kepribadian dan kontrol diri, pengalaman yang tidak menyeagkakan, kurangnya
motivasi. Slanjutnya komponen sosial budaya, misalnya : adanya aturan yang
sering bertentangan antara individu dan kelompok masyarakat, tuntutan
mastyarakat yang tiak sesuai dengan kemampuan seseorang, ataupun adanya
stigma dari masyarakat terhadap seseorang yang mengalami gangguan jiwa
sehingga klien melakukan prilaku yang terkadang menentang hal tersebut yang
menurut masyarakat tidak sesuai dengan kebiasaan lingkungan setempat
Asal tressor terdir dari internal dan eksternal. Stressor internal atau yang
bberasal dari diri sendiri seperti persepsi individu yang tidak baik tentang dirinya,
orang lain dan lingkungannya, merasa tidak mampu, ketidakberdayaan . stressor
eksternal atau berasal dari luar diri seperti kurangnya dukungan keluarga,
dukungan masyarakat, dukungan kelompok atau teman sebaya dll

Stuart (2009) menjelaskan bahwa waktu dilihat sebagai dimensi kapan stressor
mulai terjadi dan berapa lama terpapar stessor sehingga menyebabkan munculnya
gejala. Lama dan jumlah stresssor yaitu terkait dengan sejak kapan, sudah berapa
lama, berapa kalikejadiannya atau frekuensi serta jumlah stressor. Bila baru
pertama kali terkena masalah, maka penanganannya juga memerlukan suatu upaya
yang lebih intensif dengan tujuan untuk pencegahan primer. Frekuensi dan jumlah
stressor juga mempengaruhi individu, bila frekuensi dan jumlah stressor lebih
sedikit juga akan memerlukan penanganan yang berbeda dibandingkan dengan
yang mempunyai frekuensi dan jumlah stressor lebih banyak dengan kata lain
seorang perawat harus memahami kondisi stressor yang dialami oleh seorang
individu sehingga penanganannya juga akan lebih baik.

Berbagai penyebab/stressor diatas yang meiputi stresssor predisposisi dan stressor


presipitasi yang dialami oleh klien defisit perawatan diri akan memunculkan
beberapa respon . respon-respon tersebut merupakan pikira, sikap,
tanggapan,perasaan, dan perilaku yang ditunjukkan klien terhadap kejadian yang
dialami.

3. Penilaian terhadap stres


Pada mulanya klien merasa dirinya tidak berharga lagi sehingga merasa tidak
aman dalam berhubungan dengan orang lain. Biasanya klien berasal dari
lingkungan yang penuh permasalahan, ketegangan, kecemasan, dimana tidak
mungkin mengembangkan kehangatan emosional dalam hubungan yang positif
dengan orang lain yang menimbulkan rasa aman. Klien semakin tidak dapat
melibatkan diri dalam situasi yang baru ia berusaha mendapatkan rasa aman tetapi
hidup itu sendiri begitu menyakitkan dan menyulitkan sehingga rasa aman itu
tidak tercapai. Hal ini menyebabkan ia mengembangkan rasionalisasi dan
mengaburkan realitas daripada mencari penyebab kesulitan serta menyesuaikan
diri dengan kenyataan. Keadaan dimana seorang individu mengalami atau
beresiko mengalami suatu ketidakmampuan dalam menangani stressor internal
atau lingkungan dengan adekuatkarena ketidakadekuatan sumber-sumber (isi,
psikologis, perilaku atau kognitif ).

4. Sumber Koping
Menurut Herdmen (2012), kemampuan individu yang harus dimiliki oleh klien
defisit perawatan diri adalah kemampuan untuk melakukan aktifitas perawatan
diri dalam hal pemenuhan kebutuhan mandi, berhias, makan dan minum serta
toileting. Sedangkan pada klien defisit perawatan diri biasanya didapatkan data
rendahnya motivasi klien dalam merawat diri keterbatasan intelektual klien yang
sangat mempengaruhi dalam kemampuan perawatan diri dan keterbatasan fisik
serta ketidakmampuan memanfaatkan dukungan sosial.

5. Menanisme Koping
Mekanisme koping berdasarkan penggolongan nya dibagi menjadi 2 (Stuart, GW,
2007) yaitu :
1. Mekanisme koping adaptif
Mekanisme koping yang mendukung fungsi intergrasi, pertumbuhan, belajar
dan mencapai tujuan. Kategorinya adalah klien bisa memenuhi kebutuhan
perawatan diri secara mandiri.
2. Mekanisme koping maladaptif
Mekanisme koping yang menghambat fungsi integrasi , memecah
pertumbuhan, menurunkan otonomi dan cendeung menguasai lingkungan.
Kategorinya adalah tidak mau merawat diri.

D. Masalah Keperawatan Yang Sering Muncul


a. Defisit perawatan diri
b. Harga diri rendah
c. Isolasi sosial

Data Yang Perlu Dikaji

Masalah keperawatan Data yang perlu dikaji


Defisit perawatan diri Subjektif :
Pasien mengatakan tentang:
1. Malas mandi
2. Tidak mau menyisir rambut
3. Tidak mau menggosok gigi
4. Tidak mau motong kuku
5. Tidak mau berhias/berdandan
6. Tidak bisa/tidak mau menggunakan alat
mandi/kebersihan diri
7. Tidak menggunakan alat makan dan minum
saat makan dan minum
8. BAB dan BAK sembarangan
9. Tidak membersihkan diri dan tempat BAB dan
BAK setelah BAB dan BAK
10. Tidak mengetahui cara perawatan diri yang
benar
Objektif:
1. Badan bau, kotor, brdaki, rambut kotor, gigi
kotor, kuku panjang tidak menggunakan alat-
alat mandi dengan benar
2. Rambut kusut, berantakan, kumis dan jenggot
idak rapih,pakaian tidak rapih, tidak mampu
berdandan, memilih, mengambil dan memakai
pakaian, memakai sandal, sepatu, memakai
resleting, memakai barang-barang yang perlu
dalam berpakaian, melepas barang-barang
yang perlu dalam berpakaian.
3. Makan dan minum sembarangan, berceceran,
tidak menggunakan alat makan, tidak mampu
(menyiapkan makanan, memindahkan
makanan ke alat makanan, memegang alat
makan, membawa makanan dari piring ke
mulut, mengunyah, menelan makanan secara
aman, menyelesaikan makanan ).
4. BAB dan BAK tidak pada tempatnya, tidak
memberishkan diri setelah BAB dn BAK,
tidak mampu (menjaga kebersihan toileting,
menyiram toilet) (Kemenkes, 2012)

D. POHON MASALAH

Kerusakan Integritas Kulit

Defisit Perawatan Diri

Intoleransi Aktivitas

E. DIAGNOSA KEPERAWATAN : Defisit Perawatan Diri


Diagnosa Medis : Skizofrenia, Depresi

RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN


Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi
Pasien mampu : Setelah 3x pertemuan, Sp 1
-Melakukan kebersihan pasien dapat menjelaskan -Identifikasi kebersihan
diri sendiri secara pentingnya : diri, berdandan, makan
mandiri - Kebersihan diri dan BAB atau BAK
-Melakukan berhias atau - Berdandan atau -Jelaskan pentingnya
berdandan secara baik berhias kebersihan diri
-Melakukan makan - Makan -Jelaskan alat dan
dengan baik - BAB atau BAK kebersihan diri
-Melakukan BAB atau - Dan mampu -Masukkan dalam jadwal
BAK secara mandiri melakukan car kegiatan pasien
merawat diri
Sp 2
-Evaluasi kegiatan yang
lalu (Sp 1)
-Latih cara berdandan
untuk pasien laki-laki
meliputi :
- cara berpakaian
- menyisir rambut
- bercukur

Untuk pasien perempuan


- berpakaian
- menyisir rambut
- berhias
-masukkan jadwal
kegiatan pasien
Sp 3
-Evaluasi kegiatan yang
lalu (Sp1 dan Sp2)
-Jelaskan cara dan alat
makan yang benar
-Jelaskan cara
menyipkan makanan
-Jelaskan cara merapikan
peralatan makan setelah
makan
-Praktek makan sesuai
dengan tahapan makan
yang benar
-Latih kegiatan makan
-Masukkan dalam jadwal
kegiatan pasien
Sp 4
-Evaluasi kemampuan
pasien yang lalu (Sp1,
Sp2 dan Sp3)
-Latih cara BAB dan
BAK yang sesuai
-Menjelaskan cara
membersihkan berdiri
setelah BAB dan BAK
Sp1
-Identifikasi masalah
keluarga dalam merawat
pasien dengan masalah
kebersihan diri,
berdandan, makan, BAB
atau BAK
-Jelaskan defisit
perawatan diri
-Jelaskan cara merawat
kebersihan diri,
berdandan, makan, BAB
atau BAK
-Bermain peran cara
merawat
-Rencana tindak lanjut
keluarga atu jadwal
keluarga untuk merawat
pasien
Sp2
-Evaluasi Sp 1
-Latih keluarga merawat
langsung ke pasien,
kebersihan diri dan
berdandan
-RTL keluarga atau
jadwal keluarga untuk
merawat pasien
Sp4
-Evaluasi kemampuan
keluarga
-Rencana tindak lanjut
keluarga
-Follow UP
-Rujukan

F. Intervensi Spesialis
a. Terapi Individu : Terapi Perilaku : Token Ekonomi
b. Terapi Kelompok : Supportif Group Therapy
c. Terapi Keluarga : Terapi Triangle
d. Terapi Komunitas : ACT (SAK FIK-UI, 2014)
BAHAN BACAAN

Depkes. (2000). Standar pedoman perawatan jiwa.

Hawari, D. (2001). Pendekatan holistik pada gangguan jiwa skizoprenia, Jakarta : FKUI

Nurjana, intansari.2001. pedoman penaganan pada gangguan jiwa. Yogyakarta : momedia

Herdman, T. (2012). Nursing diagnosis : definition & classification 2012-2014. Indianapolis:


Willey – Balkkwell.

FIK-UI, (2014). Standar Asuhan Keperawatan: spesialis keperawatan jiwa, workshops ke-7,
Fakultas Ilmu keperawatan, Universitas Indonesia Jakarta

Kemenkes RI, (2012) Modul: Pelatihan keperawatan jiwa masyarakat, pusat pendidikan
tenaga kesehatan, kementrian kesehatan republic Indonesia, Jakarta

Perry, potter. 2005 . buku ajar pundamental keperawatan Jakarta :EGC

Stuart, G.W and laraia (2005), principles and practice of psychiatric nursing. (7th ed.). St.
Louis : Mosby year book.

Stuart, G.W (2009) principles and practice of Psychiatric Nursing. (9th edition). St Louis
:Mosby

Suliswati, dkk (2005). Konsep dasar keperawatan kesehatan jiwa, Jakarta : EGC

Wilkinson, (2007), diagnosa keperawatan, Jakarta, EGC


LAPORAN PENDAHULUAN

HALUSINASI

A. MASALAH UTAMA : GANGGUAN SENSORI PERSEPSI HALUSINASI


1. Pengertian Halusinasi
a. Menurut Fontaine, ( 2009 ) halusinasi adalah terjadinya penglihatan, suara,
sentuhan , bau maupun rasa tanpa situmulus ekternal terhadap organ-organ indra.
b. Sedangkan menurut Townsend ( 2009 ), halusinasi merupakan suatu bentuk
persepsi atau pengalaman indra dimana tidak terdapat sitimulasi terhadap
reseptor-reseptornya, halusinasi merupakan persepsi sensori yang salah yang
mungkin meliputi salah satu dari menunjukan bahwa halusinasi dapat bermacam-
macam yang meliputi halusinasi pendengaran, penglihatan, penciuman, perabaan
dan pengecapan.
c. Menurut Stuart (2009), halusinasi adalah distorsi persepsi palsu yang terjadi pada
respon neorobiologis yang maladaktif, klien mengalami distorsi sensori yang
nyata dan merespon nya, namun dalam halusinasi situmulus internal dan ekternal
tidak dapat di identifikasi.
d. Sedangkan NANDA-I (2009-211), juga mengatakan bahwa halusinasi merupakan
perubahan dalam jumlah dan pola situmulus yang diterima sertai penurunan
berlebih atau distori atau kerusakan respon beberapa situmulus.
e. Videbeck (2009) juga menyebutkan bahwa halusinasi bahwa persepsi sensori
yang salah satu pengalaman persepsi yang tidak trjadi dalam realitas, halusinasi
dapat melibatkan panca indra dan sensasi tubuh.
f. Halusinasi yang paling sering tejadi adlah halusinasi dengar ( Videbeck 2008).
g. Stuart (2009) juga menyatakan bahwa halusinasi dengar merupakan masalah
utama yang paling sering dijumpai.
h. Fontaine (2009) juga menyatakan bahwa halusinasu dengar merupakan gejala
skizofrenia yang sering di jumpai, mencakup 70% dari keseluruhan halusinasi.
i. Sedangkan Stuart dan laraia (2005; Stuart, 2009) juga mejelaskan bahwa 70%
klien skizofernia mengalami halusinasi dengar. Persentase diatas menunjukan
bahwa halusinasi dengar merupakan halusinasi yang mayoritas di jumpai pada
klien skizoferenia.
2. Jenis Halusinasi
a. Halusinasi Pendengaran
Halusinasi dengar merupakan gejala mayoritas yang sering dijumpai pada klien
skizoferinia. Papolos dan Papolos (2002, dalam Fontaine, 2009) menyatkan
halusinasi delusi mencapai 90% merupakan masalah utama yang paling sering di
jumpai 70%. Diperkuat oleh Stuart dan Laraia (2005) yang menyatakan bahwa
klien skizoferinia 70% mengalami halusinasi dengar. Senada dengan pertanyaan
diatas (2009) yang juga menyatakan bahwa halusinasi yang paling sering
dikaitkan dengan skizoferenia, skitar 70% klien skizofrenia mengalami halusinasi
dengar.
Pertanyaan diatas menunjukan bahwa perentase halusinasi dengar merupakan
perentase terbesar yang di temukan pada Copel ( 2007), halusinasi pendengaran
paling sering terjadi pada skizofrenia, ketika klen mendengar suara-suara,suara
tersebut terpisah dari pikiran klien sendri. Isi suara-suara tersebut mengancam
dan menghina, sering sekali suara tersebut memerintah klien untuk melakukan
tindakan yang akan melukai klien dan orang lain.
Menurut Stuart (2009), pada klien halusinasi dengar tanda dan gejala dapat
dikateristik dengar bunyi atau suara, paling sering dalam bentuk suara, rentang
dari suara sederhana atau suara yang jelas, suara tersebut membicarakan tentang
pasien,sampai percakapan yang komplet antara dua orang atau lebih seperti orang
yang berhalusinasi.

b. Halusinasi Penciuman
Pada halusinasi penciuman isi halusinasi dapat berupa mencium aroma atau bau
tertentu sperti urine atau feces atau bau yang bersifat lebih umum atau bau busuk
atau bau yang tidak sedap ( Cancro dan Lehman, 2000 dalam Videbeck, 2008 ).
Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Struat (2009) pada halusinasi
penciuman, klien dapat mencium busuk,jorok,dan bau tengik seperti darah,urin,
atau tinja, kadang-kadang bau bias menyenangkan, halusinasi penciuman biasanya
berhubungan dengan stroke,kejang, dan demens.

c. Halusinasi Penglihatan
Sedang pada halusinasi penglihatan, isi halusinasi berupa melihat bayangan yang
sebenarnaya tidak ada sama sekali, misalnya cahaya atau orang yang telah
meninggal atau mungkin sesuatu yang bentuknya menakutkan ( Cancro &
Lehman, 2000 dalam Videbeck, 2008 ). Isi halusinasi penglihatan klien adlah
klien melihat cahay, bentuk geometris, kartun atau campuran antara gambaran
bayangan yang komplek, dan bayangan tersebut dapat menyenangkan klien atau
juga sebalik nya mengerikan ( Struat & Laraia, 2005; Struat, 2009).

d. Halusinasi Pengecapan
Sementara itu pada halusnasi pengecapan, isi berupa klien mengecap rasa yang
tetap ada dalam mulut, atau perasaan bahwa makanan terasa seperti sesuatu yang
lain. Rasa tersebut dapat berupa rasa logam atau pahit atau mungkin seperti rasa
tertentu. Atau berupa rasa busuk, tak sedap dan anyir seperti darah, urine atau
feces (Struat & Laraia., 2005; Stuart, 2009).

e. Halusinasi Perabaan
Isi halusinasi perabaan adalah klien merasakan sensasi seperti aliran listrik yang
menjalar keseluruh tubuh aatu binatang kecil yang merayap di kulit (Cancro &
Lehman, 2000 dalam Videbeck, 2008). Klien juga dapat mengalami nyeri atau
tidak nyaman tanpa adanya situmulus yang nyata, seperti sensasi listrik dan bumi,
benda mati ataupun dan orang lain (Stuart & Laraia, 2005; Struat, 2009).

f. Halusinasi Chenesthetik
Halusinasi chenesthetik klien akan merasa pungsi tubuh seperti darah berdenyut
melalui vena dan arteri, mencerna makanan, atau bentuk urin (Videbeck, 2008;
Stuart, 2009).

g. Halusinasi Kinestetik
Terjadi ketika klien tidak bergerak tetapi melaporkan sensai tubuh, gerakan tubuh
yang tidak lazim seperti melayang di atas tanah. Sensasi gerakan sambil berdiri
tak bergeraak (Videbeck, 2008; Struat, 2009).
3. Fase Halusinasi
a. Comporting (halusinasi menyenangkan,cemas ringan)
Klien yang berhalusinasi mengalami emosi yang itense seperti cemas, kesepian,
merasa bersalah, dan takut dan mencoba untuk berfokus pada pikiran yang
menyenang kan untuk menghilangkan kecemasan.seseorang mengenal bahwa
pikiran pengalaman sensori berada dalam kesadaran control jiika kecemasan
tersebut
Bias dikelola.
Perilaku yang dapat diobservasi:
1. Tersenyum lebar, menyeringai tetapi tanpak tidak tepat
2. Menggerakan bibir tanpa membuat suara
3. Pergerkan mata yang tepat
4. Respon verbal yang lambat seperti asyik
5. Diam dan tanpak asik

b. Comdeming (halusinasi menjijikan, cemas sedang)


Pengalaman sensori menjijikan dan menakutkan. Klien yang berhalusinasi yang
mulai merasa kehilangan control dan mungkin berusaha menjauh diri, sertra
merasa malu karna adanya pengalaman sensori tersebut dan menarik dari diri
orang lain.
Perilaku yang dapat diobservasi:
1. Ditandai dengan peningkatan kerja syisem syraf autonomic yang menunjukan
kecemasan missal nya terdapat peningkatan nadi, pernafasan dan tekanan
darah.
2. Rentangperhatian menjadi sempit
3. Asyik dengan pengalaman sensori dan mungkin kehilangan kemampuan untuk
membedakan halusinasi dengan realias

c. Controlling (pengalaman sensori berkuasa, cemas berat)


Klien yang berhalusinasi menyerah untuk mencoba melawan pengalaman
halusinasinya. Isi halusinasi bisa menjadi menarik/ memikat. Seseorang mungkin
mengalami kesepian jika pengalaman sensori berakhir:
1. Arahan yang disertai halusinasi tidak hanya dijadikan obyek saja oleh klien
tetapi mun gkin diikuti/dituruti
2. Klien mengalami kesulitan berhubungan dengan orang lain
3. Rentang perhatian hanya dalam beberapa detik atau menit
4. Tanpak tanda kecemasan berat seperti berkeringtat,teremor, tidak mampu
mengikuti perintah.

d. Conquering (melebur dalam pengaruh halusinasi, panic)


Pengalaman sensori bisa mengancam jika klien tidak mengikuti perintah dari
halusinasi.halusinasi mungkin berakhir dalam waktu empat jam atau sehari bila
tidak ada itrvensi traupetik.
Perilaku yang dapat di observasi:
1. Perilaku klien tanpak seperti dihantui tremor dan panic
2. Potensi kuat untuk bunuh diri dan membunuh orang lain
3. Aktifitas fisik yang menggambarkan klien menunjukan isi dari halusinasi
misalnya kelien melakukan kekerasan, igatasi, menariik diri atau katatonia.
4. Klien tidak dapat berespon pada arah kompleks
5. Klien tidak dapat berespon pada lebih dari satu orang

4. Rentang Respon Neorobiologis

Rentang Respon Neorobiologis

RESPON ADAFTIFRESPON MALADAFTIF

1.Pikirn 1.kadang 1.gangguan


logis proses fikir proses fikir
2.persepsi terganggu (waham)
akurat 2.ilusi 2.halusinas
B. PROSES TERJADINYA MASALAH
Halusinasi sering secara umum diemukan pada klien skizoferinia. Proses terjadinya
halusinasi pada klien skizofrenia dapa dijelakan berdasarkan model adaptasi Stuart
dan Laraia (2005; Struart, 2009) yaitu faktor predisposisi, faktor pridoposisi, penilaian
stressor, sumber koping dan juga mekanisme koping.
1. Faktor Predisposisi
Menurut Stuart dan Laraia (2005; Stuart, 2009), faktor presdisposisi yang dapat
mengakibatkan terjadinya halusinasi pada klien skizofrenia meliputi faktor
biologi,psikologi dan juga sosialkultural.
a. Faktor Biologi
Menurut Videback (2008), faktor biologi yang dapat menyebabkan terjadinya
skizofrenia adalah faktor genetic,neurotomi,neurokimia serta imunovirologi.

1) Genetik
Secara genetic ditemukan perubahan pada kromosom 5 dan 6 yang
mempredisposisikan individu mengalami skizofrenia (Copel, 2007). Sedangkan
Buchanan dan Carpeter (2000, dalam dalam Stuart dan Laraia,2005; Stuart, 2009)
menyebutkan bahwa kromosom yang berperan dalam menurunkan skizofrenia adalah
kromosom6. Sedangkan kromosom lain yang juga berperan adalah kromosoni 4, 8,
15, dan 22, Cracdock et al (2006 dalam Stuart, 2009). Penelitian lain juga menemukan
gen GAD 1 yang tanggung jawab memproduksi GABA, dimana pada klien
skizofrenia tidak dapat meningkat secara normal sesuai perkembangan pada daerah
frontal,dimana bagian ini berfungsi dalam proses berfikir dan pengambilan keputusan
Hung et al, (2007 dalam Stuart, 2009).
Penelitian yang paling penting memusatkan pada penelitian anak kembar yang
menujukan anak kembar identik beresiko mengalami skizofrenia sebesar 50%
sedangkan pada kembar non identik/fraternal beresiko 15% mengalami skizofrenia,
angka ini meningkat sampai 35% jika kedua orang tua biologis menderita skizofrenia
(Cancro & Lehman, 2000; Videback, 2008; Stuart, 2009) semua penelitian ini
menunjukan bahwa faktor genetic hanya sebagian kecil penyebab terjadinya
skizofrenia dan ternyata masih ada faktor lain yang juga berperan sebagai faktor
penyebab terjadinya skixofrenia.

2) Neuroanatomi
Penelitian menunjukan kelainan anatomi,fungsional dan neurokimia di otak klien
skizofrenia hidup dan postmortem,penelitian menunjukan bahwa kortek prefrontal
dan system limbic tidak sepenuhnya berkembang di otak klien dengan skizofrenia.
Penurunan volume otak mencerminkan penurunan baik materi putih dan materi abu-
abu pada neuron akson (Kuroki et al,2006; Hegigins, 2007 dalam Stuart, 2009). Hasil
pemekrisaan computed tomography (CT) dan magnetic resonance imaging (MRI),
memperlihatkan penurunan volume otak pada individu perkembangan skizofrenia,
temuan ini memperlihatkan adanya keterlambatan perkembangan jaringan otak dan
atropi. Pemeriksaan posistron Emission Termografi (PET) menunjukan.penurunan
aliran darah ke otak pada lobus frontal selama tugas perkembangan kongnitif pada
individu dengan skizofrenia.penelitian lain juga menunjukan terjadinya penurunan
volume otak dan fungsi otak yang abnormal pada area temporalis dan frontal
(Videback,2008) perubahan pada kedua lobus positif skizofrenia tersebut belum di
ketahui secara pasti penyebabnya.
Keadaan patologis yang terjuadi pada lobus temporalis dan frontalis berkorelasi
dengan terjadinya tanda-tanda positif negative dan skizofrenia . Copel (2007)
menyebutkan bahwa tanda-tanda positif skizofrenia.seperti psikosis disebabkan
karena fungsi otak yang abnormal pada lobus temporalis .sedangkankan tanda-tanda
negatif seperti tidak ada kemauan atau motivasi dan anhedonia disebabkan oleh
fungsi otak yang abnormal pada lobus frontalis.
Hal ini sesuai Sadock dan Sadock (2007 dalam Townsend, 2009) yang menyatakan
bahwa fungsi utama lobus frontalis adalah aktivasi motorik,intelektual,perencanaan
konseptual, aspek kepribadian,aspek produksi bahasa . sehingga apabila terjadinya
gangguan pada lobus frontalis, maka akan terjadi perubahan pada aktivitas motorik,
gangguan intelektual, perubahan kepribadian dan juga emosi yang tidak stabil.
Sedangkan fungsi utama dan lobus temporalis adalah pengaturan bahasa,ingatan dan
juga emosi. Sehingga gangguan yang terjadi pada kortek temporalis dan nucleus-
nukleus limbic yang berhubungan pada lobus temporalis akan menyebabkan
timbulnya gejala halusinasi.

3) Neurokimia
Penelitian di bidang neurotransmisi telah memperjelas hipotesis disregulasi pada
skizorfenia,gangguan terus menerus dalam satu atau lebih neurotrasmiter dan
neuromodulator mekanisme pengaturan homeostatic menyebabkan neurotransmisi
tidak stabil atau tidak menentu.teori ini menyatakan bahwa area mesolimbik overaktif
terhadap dopamine,sedangkan apa area prefrontal mengalami hipoaktif sehingga
terjadio keseimbangan antara system neurotransmitter dopamine dan serotonin serta
yang lain (Stuart, 2009) pernyataan memberi arti bahwa neurotransmitter mempunyai
peranan yang penting menyebabkan terjadinya skizofrenia.
Beberapa refrensi menunjukan bahwa neurutransmiter yang berperan menyebabkan
skizofrenia adalah dopamine dan serotonin.satu teori yang terkenal yang
memperlihatkan dopamine sebagai penyebab,ini di buktikan dengan obat-obatan yang
menyekat reseptor dopamine pascasinaptik mengurangi gejala psikotik dan pada
kenyataan semakin efektif obat tersebut dalam dalam mengurangi gejala skizofrenia.
Sedangkan serotonin berperan sebagai modulasi dopamine,yang membantu
mengontrol kelebihan dopamine,beberapa peneliti yakin bahwa kelebihan serotonin
itu sendiri berperan dalam perkembangan skizofrenia,ini di buktikan dengan
penggunaan obat antipsikotik antipikal seperti klozapin (clozaril) yang merupakan
antagonis dopamine dan serotonin.penelitian menunjukan bahwa klozapin dapat
menghasilkan penurunan gejalapsikotik secara dramatis dan mengurangi tanda-tanda
negative skizofrenia (O’connor,1998; Marder, 2000 dalam Videback, 2008).
Adanya overload reuptake neuro transmitter dopamine dan serotonin menyebabkan
kerusakan komunikasi antar sel otak, sehingga jalur penerima dan pengirim informasi
terganggu. Keeadaan inilah yang mengakibatkan informasi tidak dapat
diprosessehingga terjadi kerusakan dalam persepsi yang berkembang menjai
halusinasi dan kesalahan dalam membuat kesimpulan yang berkembang menjadi
delusi.

4) Imunovirologi
Sebuah penelitian untuk menerntukan “Virus Skizofrenia” telah berlangsung
(Torrey et al, 2007; Dalman et al, 2008). Bukti campuran menunjukkan bahwa
paparan prenatal terhadap virus influenza terutama selama trimester pertama,
mungkinn menjadi salah satu faktor penyebab skizofren pada beberapa orang tetapi
tidak pada orang lain ( Brown et al, 2004). Infeksi virus lebih sering terjadi pada
tempat-tempat keramaian dan musim dingin dan awal musim semi dan dapat terjadi
inutero atau pada anak usia dini pada beberapa orang yang rentan (Gallagher et al,
2007; Veling et al , 2008 dalam Stuart 2009).

b. Faktor Psikologis

Selain faktor biologis diatas, faktor psilkologis juga ikut berperan mengakibatkan
terjadinya skizofren. Awal terjadinya skizofren difokuskan pada hubungan dalam keluarga
yang mempengaruhi perkembangan ganggian ini, teori awal menunjukkan kurangnya
hubungan antara orang tua dan anak, serta disfungsi system keluarga sebagai penyebab
skizofren (Townsend, 2009). Penerlitian lain menyebutkan beberapa dengan skizofren
menunjukkan selain kelainan halus yang meliputi perhatian, koordinasi, kemampuan social,
fungsin neuromotor dan respon emosional jauh sebelum mereka menunjukkan gejala yang
jelas dari skizofren (Schiffman et al, 2004 dalam Stuart, 2009). Sinaga (2007) menyebutkan
bahwa lingkungan emosional yang tidak stabil mempunyai resiko yang besar pada
perkembangan skizofren, pada masa kanak disfungsi situasi social seperti trauma masa kecil,
kekerasan, hostilitas dan hubungan interpersonal yang kurang hangat diterima oleh anak
sangat mempengaruhi perkembangan neurogikal anak sehingga lebih rentan mengalami
skizofrenia di kemudian hari.

c. Faktor sosial Budaya

Adanya double bind dalam keluarga dan konflik dalam keluarga Torrey ( 1995, dalam
Videback, 2008). Juga menyebutkan bahwa salah satu faktor social yang dapat menyebabkan
terjadinya skizofren adalah adanya disfungsi dalam pengasuhan anak maupun dinamika
keluarga. Konflik tersebut apabila tidak diatasi dengan baik maka akan menyebabkan resiko
terjadinya skizofren.
Berdasarkan Townsend (2005), faktor social cultural meliputi disungsi dalam
keluarga, konflik keluarga. Komunikasi double bind serta ketidak mampuan seorang untuk
memenuhi tugas perkembangan. Hal ini didukung oleh Seaward (1997, dalam Videback,
2008) menyebutkan bahwa skizofrenia disebabkan oleh faktor interpersonal yang meliputi
komunikasi yang tidak efektif, ketergantungan yang berlebihan atua menarik diri dalam
hubungan, dan kehilangan control emosional. Pernyataan ini menunjukkan bahwa faktor
sosial budaya seperti pengalaman sosial dapat menjadi faktor penyebab terjadinya
skizofrenia.

Pernyataan diatas didukung oleh penelitian Tamer dkk (2002) yang menunjukan
bahwa karakteristik responden skizofrenia yang mengalami halusinai adalah 216 orang
berjenis kelamin laki-laki (70%) dan berusia rata-rata 27 tahun. Hal berbeda dinyatakan oleh
Sinaga (2007) yang menyatakan bahwa prevalensi skizofrenia sama antara laki-laki dan
perempuan, tetapi berbeda dalam onset dan perjalanan penyakit. Laki-laki mempunyai onset
skizofrenia lebbih awal dibandingkan pada wanita.

Penelitian Tamer dkk (1998) juga menunjukan bahwa 76 responden skizofrenia tidak
mempunyai pekerjaan (90%). Pekerjaan sangat erat kaitanya dengan penghasilan dan ststus
ekonomi individu.hal ini di dukung oleh Sinaga (2007) yang menyatakan bahwa stress yang
di alami oleh anggota kelompok kelompok sosial ekonomi rendah berperan dalam
perkembangan skizofrenia.

Masalah keluarga dan pendidikan dapat menjadi pencetus terjadinya skizofrenia hal
ini ditunjukan oleh penelitian Tarrier dkk (1998) yang menemukan bahwa skizofrenia
ditemukan pada 24 responden (33.33%) yang hidup sendiri dan 78 responden tidak
mempunyai pendidikan ataupun keahlian (91%). Hal ini menunjukan bahwa memang
kehidudan perkawinan dapat menjadi pencetus terjadinya skizofrenia jika terjadi akumulasi
masalah yang tidak dapat diselesaikan (Hawari,2001 dalam Corolina, 2008). Begiu juga
pendidikan, pendidikan dapat menjadi sumber koping individu yang dapat membantu
individu dalam mengatasi stress (Stuart & Laraia,2005).

2. Faktor Presipitasi

Kondisi normal, otak mempunyai peranan penting dalam meregulasi sejumlah informasi.
Informasi normal diproses melalui aktifitas neoron. Situmulus visual dan audiotory dideteksi
dan di saring oleh kan pada kelien skizoferinia terjadi mekanisme yang abnormal dalam
memperoses informasi adalah faktor kesehehatan, lingkungan, sikap dan perilaku individu
(Stuart & Laraia, 2005; Stuart, 2009).

Faktor pencetus halusinasi diakibatkan gangguan umpan balik diotak yang mengatur jumlah
dan waktu dalam peroses informasi. Stimuli penglihatan dan pendengaran pada awal nya
disaring oleh hipoyalamus dan dikirim untuk diperoses oleh lobus frontal dan bila informasi
yang disampaikan terlalu banyak pada suatu waktu atau jika informasi tersebut salah, lobus
frontal mengirimkan pesan operload ke ganglia basal dan diingatkan lagi hipotalamus untuk
memperlambat tranmisi kelobus frontal. Penurunan fungsi lobus frontal menyebabkan
ganguan pada peroses umpan balik dalam penyampaian informasi yang menghasilkan peroses
informasi overload ( Stuart & Laraia, 2005; Stuart, 2009). Setersor persipitasi yang lain
adanya abnormal pada pintu mekanisme pada klien skizofrenia, pintu mekanisme adalah
peroses elektrik yang melibatkan elektolit, hal ini memicu penghambatan saraf dan rangsang
aksi dan umpan balik yang terjadi pada sistem saraf. Penurunanj pintu mekanisme/gating
proses ini ditujukan dengan ketidakmampuan individu dalam memilih sitimuli secara selektif
( Hong et al., 2007 dalam Suart, 2009).

3. Penilaian Terhadap Stressor

Penilaiian terhadap stressor merupakan penilaiian individu ketika menghadapi stressor yang
datang. Menurut Sinaga (2007), faktor biologis,psikososial dan lingkungan saling
menentegrasi atau sama lain saat individu mengalami setres sedangkan individu sendiri
memiliki kerentanan ( diatesis ), yang jika diaktifkan oleh pengaruh stress maka akan
menimbilkan gejala skizofrenia. Model diatesis setres diatas sama seperti model adaptasi
Stuart dan Laraia (2005). Penilaian seseorang terhadap seteresor terdiri dari dan respon
kognitif, afektif, fisiologis, perilaku dan sosial. Hal ini memberikan arti bahwa apabila
individu mengalami suatu stressor maka ia akan merupakan stressor maka ia akan merespon
stressor tersebut dan akan tanpak melalui tanda dan gejala yang muncul.

4. Sumber Koping

Berdasarkan Stuart dan Laraia (2005), sumber koping merupakan hal yang penting dalam
membantu klien dalam mengatasi stressor yang di hadapinya. Sumber koping tersebut
meliputi aset ekonomi, sosial support, nilai kemmpuan individu mengatasi masalah. Apabila
individu mempunyai sumber koping yang adekuat maka ia akan mampu beradaptasi dan
mengatasi stressor yang ada.

Keluarga merupakan salah satu sumber koping yang ditunjukan individu ketuka mengalami
streres. Hal tersebut sesuai dengan Videbeck ( 2008 ) yang menyatakan bahwa keluarga
merupakan salah satu sumber pendukung yang utama dalam penyembuhan klien skizofrenia.
Psikosis atau skizofrenia adalah penyakit menakutkan dan sangat menjengkelkan yang
memerlukan penyesuaian yang baik bagi klien dan keluarga. Proses penyesuaian pasca
psikotik terdiri dari empat fase: (1) disonansi kognitif (psikosis aktif),(2) pencapaian
wawasan ,(3) stabilitas dalam semua aspek kehidupan(ketetapan kognitif), dan (4) bergerak
terhadap prestasi kerja atau tujuan pendidikan (ordinariness). Proses multifase penyesuaian
dapat berlangsung 3 sampai 6 tahun ( Moller,2006, dalam Stuart, 2009):

a. Efikasi / kemanjuran pengobatan untuk secara konsisten mengurangi gejala dan


menstabilkan disonansi kognitif setelah episode pertama memakan waktu 6 sampai 12
bulan.
b. Awal pengenalan diri / insight sebagaio proses mandiri melakukan pemeriksaan
realitas yang dapat diandalkan.pencapaian keterampilan ini memakan waktu 6 sampai
18 bulan bulan dan tergantung pada keberhasilan pengobatan dan dukungan yang
berkelanjutan.
c. Setelah mencapai pengenalan diri/ insight, proses pencapaian kognitif meliputi
keteguhan melanjutkan hubungan interpersonal normal dan reengaging dalam
kegiatan yang sesuai dengan usia yang berkaitan dengan sekolah dan bekerja. Fase ini
berlangsung 1 sampai 3 tahun.
d. Ordinariness / kesiapan kembali seperti sebelum sakit ditandai dengan kemampuan
untuk secara konsisten dan dapat diandalkan dan terlibat dalam kegiatan yang sesuai
dengan usia lengkap dari kehidupan sehari-hari mencerminkan tujuan prepsychosis
fase ini berlangsung selam 2 tahun. Sumber daya keluarga, seperti pemahaman orang
tua terhadap penyakit , keuangan dan keetersediaan energi , dan kemampuan untuk
menyediakan dukungan yang berkelanjutan mempengaruhi jalanya penyesuaian
postpsychotic.

5. Mekanisme Koping
Pada klien skizofrenia , klien berusaha untuk melindungi dirinya dalam pengalaman
yang disebabkan oleh penyakitnya . klien akan melakukan regresi untuk mengatasi
kecemasan yang dialaminya , melakukan proyeksi sebagai usaha untuk menjelaskan
persepsinya dan menarik diri yhang berhubungan dengan masalah membangun
kepercayaan dan keasyikan terhadap pengalaman internal ( Stuart & Laraia, 2005;
Stuart, 2009).

C. DAFTAR MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA YANG PERLU DIKAJI


1. Masalah keperawatan : Diagnosis Keperawatan NANDA-1 rentang respon
neurobiologis, skizofrenia dan gangguan psikotik (Stuart, 2009):
 Anxiety
 Impaired Verbal Communication*
 Confusion, Acute
 Compromised family coping
 Ineffective coping
 Decisional conflict
 Hopelessness
 Impaired memory
 Noncompliance
 Disturbed personal identity
 Ineffective role performance
 Self care deficit (bathing/hygiene, dressing/grooming)
 Disturbed sensory perception*
 Impaired social interaction*
 Social Interaction
 Risk of suicide
 Ineffective therapeutic regiment management
 Disturbed thought processes*

(*Diagnosis keperawatan primer rentang respon neurobiologis , skizofrenia


dan gangguan psikotik)

2. Halusinasi
a. Pendengaran
 Melirik mata ke kanan / ke kiri untuk mencari sumber suara
 Mendengarkan dengan penuh perhatian pada orang sedang
berbicara/benda mati di dekatnya
 Terlibat pembicaraan dengan benda mati atau orang yang tidak
nampak
 Menggerakan mulut seperti mengomel
b. Penglihatan
 Tiba-tiba tampak tergagap, ketakutan karena orang lain, benda mati
atau stimulus yang tak terlihat
 Tiba lari ke ruangan lain
c. Pengecapan
 Meludahkan makanan atau minuman
 Menolak makanan atau minum obat
 Tiba-tiba meninggalkan meja makan
d. Penghirup
 Mengkerutkan hidung seperti menghirup udara yang tak enak
 Menghirup bau tubuh
 Menghirup bau udara ketika berjalan kearah orang lain
 Berespon terhadap bau dengan panic
e. Peraba
 Menampar diri sendiri seakan akan memadamkan api
 Melompat lompat di lantai seperti menghinidari sesuaatu yang
menyakitkan
f. Sintetik
 Mengverbalisasi terhadap proses tubuh
 Menolak menyelesaikan tugas yang mengguanakan bagian tubuh
yang diyakini tidak berfungsi

3. Tanda dan Gejala Secara umum

a) Data subjektif :
Pasien Mengatakan :
a) Mendengar suara-suara atau kegaduhan
b) Mendengar suara yang mengajak bercakap-cakap
c) Mendengar suara yang menyuruh melakukan sesuatu yang berbahaya
d) Melihat bayangan,sinar,bentuk geometris,bentuk kartun, melihat bantu
atau monster
e) Mencium bau-bauan seperti bau darah,urin atau feses.
f) Merasa takut atau senang dengan halusinasinya
b) Data objektif
1. Bicara atau tertawa sendiri
2. Marah-marah tanpa sebab
3. Mengarahkan telinga kearah tertentu
4. Menutup telinga
5. Menunjuk-nunjuk kearah tertentu
6. Ketakuatan pada sesuatu yang tidak jelas
7. Mencium sesuatu seperti membaui bau-bauan tertentu
8. Menutup hidung
9. Sering meludah
10. Muntah
11. Menggaruk-garuk permukaan kulit (Kemenkes, 2012)

D. POHON MASALAH

Resiko Perilaku Kekerasan

Gangguan Sensori Persepsi:Halusinasi

Isolasi Sosial

Harga Diri Rendah


Pohon masalah gangguan persepsi sensori : Halusinasi ( Keliat, 2010)

E. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Gangguan sensori persepsi : Halusinasi


2. Diagnosis medis : Skizofrenie

F. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

Diagnosa keperawatan SP Klien SP Keluarga


Gangguan persepsi sensori SP 1: SP 1:
Halusinasi:  Membantu pasien  Diskusikan masalah
mengenal yang dirasakan dalam
halusinasi(isi, merawat klien
frekuensi, waktu  Jelaskan pengertian,
terjadinya, situasi tanda gejala dan
pencetus, perasaan proses terjadinya
saat terjadi halusinasi.
halusinasi)  Jelaskan cara merawat
 Menjelaskan cara halusinasi: hardik
mengontrol  Anjurkan membantu
halusinasi: hardik, klien sesuai jadwal
obat, becakap-cakap, dan memberi pujian.
melaukan kegiatan
harian.
 Menganjurkan pasien
mengontrol halusinasi
dengan cara
menghardik
halusinasi
 Melakukan pada
jadwal kegiatan untuk
latihan menghardik.

SP 2: SP 2:
 Evaluasi kegiatan  Evaluasi kegiatan
menghardik beri keluarga dalam
pujian merawat/ melatih
 Latihan cara klien menghardik beri
mengontrol halusinasi pujian
 Latih cara mengontrol  Jelaskan 6 benar cara
halusinasi dengan memberikan obat
obat(jelaskan 5 benar:  Latih cara
jenis, guna, dosisi, memberikan/membim
frekuensi, cara, bing minum obat
kontinuitas minum  Anjurkan membantu
obat) klien sesuai jadwal
 Masukan pda jadwal dan memberi pujian.
kegiatan untuk latihan
menghardik dan
minum obat

SP 3: SP 3:
 Evaluasi kegiatan  Evaluasi kegiatan
harian menghardik & keluarga dalam
obat ,. Beri pujian. merawat/melatih
 Latih cara mengontrol klien, menghardik dan
halusinasi dengan memberikan obat, beri
bercakap-cakap saat pujian.
terjadi halusinasi  Jelaskan cara
 Masukan pada jadwal bercakap-cakap dan
kegiatan untukl melakukan kegiatan
latihan menghardik, untuk mengontrol
minum obat dan halusinasi
bercakap-cakap  Latih dan sediaan
waktu bercakap-cakap
dengan klien terutama
pada saat halusinasi
 Anjurkan membantu
klien sesuai jadwal
dan memberikan
pujian
SP 4:
 Evaluasi kegiatan
harian menghardik , SP 4:
minum obat &  Evaluasi kegiatan
becakap-cakap , beri keluarga dalam
pujian merawat /melatih
 Latih cara mengontrol klien menghardik,
halusinasi dengan pemberian obat, dan
melakukan kegiatan bercakap-cakap, beri
harian (mulai 2 pujian
kegiatan)  Jelaskan follow up
 Masukan pada jadwal RSJ/PKM , tanda
kegiatan untuk latihan kambuh rujukan
menghardik , minum  Anjurkan membantu
obaat , bercakap- klien sesuai jadwal
cakap dan kegiatan dan memberikan
harian pujian

G. Rencana tindakan keperaawatan spesialis:

a. Terapi Individu : terapi perilaku

b. Terapi Kelompok : psikoedukasi kelompok

c. Terapi Keluarga : triagle terapi

d. Terapi Komunitas :assertive comunity therapy (SAK, FIK-UI, 2014)

H. Rencana tindakan medis/psikofarmaka:

a. anti psikotik

1. Chlorpromazine(promactile, largactile)

2. Haloperidol( haldol,serenace, lodomer)a

3. Stelazine

4.clozapipne(clozaril)
5. Risperidone( risperdal)

b. antiparkinsonn

1. trihexyphendilie

2. Arthan
BAHAN BACAAN

NANDA. (2009). Nursing Diagnoses : Definitions & Classification 2009-2011.


Philadelphia: NANDA International

Townsend, M.C (2009). Psychiatrich mental health nursing. Concepts of care in evidence-
based practice. Ed. Philadelphia: F.A. Davis Company

Keliat, B.A., (2011) Model praktik keperawatan professional. Jakarta: EGC

Lelono, S.K. (2011). Efectivitas cognitive behaviour therapy (cbt) dan rational emotive
behaviour therapy (rebt) pada perilaku kekerasan, halusinasi dan harga diri rendah di
rumah sakit marzoeki mahdi bogor. Tesis FIK-UI. Tidak dipublikasikan.

Stuart, G.W. & Laraia, M.T. (2005) Principles and practice of pshyciatrich nursing, 8 ed.
Missouri: Mosby, Inc
LAPORAN PENDAHULUAN

A. MASALAH UTAMA : HARGA DIRI RENDAH


1. Pengertian
a. Harga diri (self esteem) merupakan salah satu kFomponen dari konsep diri. Harga
diri merupakan penilaian pribadi berdasarkan seberapa baik perilaku sesuai dengan
ideal diri (Stuart, 2009). Penentuan harga diri seseorang diperoleh dari diri sendiri
dan orang lain (dicintai, dihormati, dan dihargai) yang timbul sejak kecil dan
berkembang sesuai dengan meningkatnya usia. Harga diri yang tinggi adalah
perasaan yang berakar dalam penerimaan diri sendiri tanpa syarat, walaupun
melakukan kesalahan, kekalahan dan kegagalan, tetap merasa sebagai seorang yang
penting dan berharga. Seseorang yang sering mengalami keberhasilan akan dapat
meningkatkan harga dirinya, disamping itu seseorang akan menurun harga dirinya
apabila orang tersebut sering mengalami kegagalan, tidak dicintai dan tidak diterima
dilingkunganya. Harga diri rendah terkait dengan hubungan interpersonal yang
buruk yang beresiko mengalami depresi dan skizofrenia. Harga diri rendah dapat
digambarkan sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri termasuk hilangnya
percaya diri dan harga diri. Harga diri rendah dapat terjadi secara situasional atau
kronis.
b. Harga diri rendah kronis adalah evaluasi diri/perasaan tentang diri atau kemampuan
diri yang negatif dan dipertahankan dalam waktu yang lama (NANDA, 2011).
c. Menurut Depkes RI, (2000), individu cenderung menilai dirinya negatif dan merasa
lebih rendah dari orang lain. Penilaian negatif dan perasaan rendah diri ini dapat
mempengaruhi semua aspek dari hidup kita, yaitu dapat menambah rasa takut (yang
menyebabkan kita harus menghindari), membuat kita berespon terhadap seseorang
yang dicintai dengan rasa marah dan depensif, menerima diisolasi, tidak sanggup
mendapat kritikan/serangan dan dapat juga mempengaruhi kesehatan fisik yang
dapat menyebabkan gangguan pencernaan atau peningkatan tekanan darah.
d. Harga diri rendah merupakan komponen episode depresi mayor, dimana aktivitas
merupakan bentuk hukuman atau punhisment (Stuart dan Laraia, 2005;Stuart, 2009).
e. Harga diri rendah adalah perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilangnya percaya
diri dan harga diri, merasa gagal mencapai keinginan (Keliat, 2010).

2. Kompoen Konsep Diri


Konsep diri didefinisikan sebagai semua pikiran, keyakinan dan kepercayaan yang
merupakan pengetahuan individu tentang dirinya dan memengaruhi hubungan dengan
orang lain. Konsep diri tidak terbentuk waktu lahir, tetapi dipelajari sebagai hasil
pengalaman unik seseorang dalam dirinya sendiri, dengan orang terdekat, dan dengan
realitas dunia. Menurut Stuart (2009) konsep diri terdiri atas komponen-komponen berikut
ini.
a. Citra tubuh
Kumpulan sikap individu yang disadari dan tidak disadari terhadap tubuhnya.
Termasuk persepsi serta perasaan masa lalu dan sekarang tentang ukuran, fungsi,
penampilan, dan potensi. Citra tubuh dimodifikasi secara berkesinambungan dengan
persepsi dan pengalaman baru.
b. Ideal diri
Persepsi individu tentang bagaimana dia seharusnya berperilaku terhadap standar,
aspirasi, tujuan atau nilai personal tertentu.
c. Harga diri
Penilain individu tentang nilai personal yang diperoleh dengan menganalisis
seberapa sesuai perilaku dirinya dengan ideal diri. Harga diri yang tinggi adalah
perasaan yang berasal dari penerimaan diri sendiri tanpa syarat, walaupun melakuka
kesalahan, kekalahan dan kegagalan, tetap merasa sebagai seorang yang penting dan
berharga.
d. Performa peran
Serangkaian pola perilaku yang diharapkan oleh lingkungan sosial berhubungan
dengan fungsi individu diberbagai kelompok sosial. Peran yang ditetapkan adalah
peran yang dijalani dan seseorang tidak mempunyai pilihan. Peran yang diambil
adalah [eran yang terpilih atau dipilih oleh individu.
e. Identitas pribadi
Prinsip pengorganisasian kepribadian yang bertanggung jawab terhadap kesatuan,
kesinambungan, konsistensi, dann keunikkan individu. Prinsip tersebut sama artinya
dengan otonomi dan mencakup persepsi seksualitas seseorang. Pembentukkan
identitas dimulai pada masa bayi dan terus berlanjut sepanjang kehidupan, tetapi
merupakan tugas utama pada masa remaja.

3. Rentang Respon
a. Aktualisasi diri
Pernyataan tentang konsep diri dengan yang positif dengan latar belakang
pengalaman sukses.
b. Konsep diri positif
Pasien mempunyai pengalaman yang positif dalam perwujudan dirinya, dapat
mengidentifikasi kemampuan dan kelemahan secara jujur dalam menilai suatu
masalah sesuai dengan norma-norma sosial dan kebudayaan suatu tempat jika
menyimpang ini merupakan respon adaptif.
c. Harga diri rendah
Transisi antara adaptif dan mal adaptif, sehingga individu cenderung berfikir kearah
negatif.
d. Keracunan identitas
Kegagalan individu mengintegrasikan aspek-aspek masa kanak-kanak kedalam
kematangan aspek psikologis, kepribadian pada masa dewasa secara harmonis.
e. Depersionalisasi
Perasaan yang tidak realistis dan asing terhadap diri sendiri yang berhubungan
dengan kecemasan, kepanikkan dan tidak dapat membedakan dirinya dari orang lain
sehingga mereka tidak dapat mengenal dirinya.
B. PROSES TERJADINYA MASALAH
Seseorang yang sering mencapai tujuan secara langsung mempengaruhi perasaan untuk
kemampuan (harga diri tinggi) atau ketidakmampuan (harga diri rendah). Harga diri tinggi
merupakan dasar mutlak terhadap penerimaan diri, meskipun melakukan kesalahan,
kekalahan dan kegagalan, tetap merasa sebagai seseorang yang penting dan berharga. Hal ini
meliputi penerimaan secara komplek terhadap hidup seseorang.
Harga diri (Stuart & Laraia, 2005; Stuart, 2009) berasal dari dua sumber utam yaitu diri
sendiri dan orang lain. Faktor yang mempengaruhi harga diri yang berasal dari diri sendiri
seperti kegagalan berulang kali, kurang mempunyai tanggung jawab personal, ketegantungan
pada orang lain, dan ideal diri yang tidak realistis. Sedangkan yang berasal dari orang lain
adalah penolakkan orang tua, harapan orang tua yang tidak realistik. Harga diri ini didapat
ketika seseorang merasa dicintai, dihormati dan ketika seseorang dihargai dan dipuji.
Suliswati (2002) mengatakan bahwa individu akan merasa harga dirinya tinggi bila sering
mengalami keberhasilan, disamping itu harga diri yang tinggi merupakan hasil dari peran
yang memenuhi kebutuhan dan cocok dengan ideal diri.
Sebaliknya individu akan merasa harga dirinya rendah bila sering mengalami kegagalan,
tidak dicintai dan tidak diterima lingkungan. Perkembangan harga diri seseorang sejalan
dengan perkembangan konsep diri, dimana konsep diri seseorang menurut Stuart, (2009)
tidak terbentuk waktu lahir tetapi dipelajari sebagai hasil dari pengalaman unik seseorang
dalam dirinya sendiri, dengan orang terdekat, dan dengan realitas dunia. Hal ini berarti harga
diri akan meningkat sesuai meningkatnya usia. Untuk meningkatkan harga diri seseorang,
maka mulai dari masa kanak-kanak anak diberi kesempatan untuk sukses; menanamkan cita-
cita; mendorong aspirasi; dan membantu untuk membentuk pertahanan diri terhadap persepsi
diri (Coopersmith, 1967; Mruk, 1999 dalam Stuart, 2009).
Harga diri sangat mengancam pada masa adolescencel remaja, ketika konsep diri sedang
diubah dan banyak keputusan sendiri dibuat. Sedangkan pada usia dewasa harga diri menjadi
stabil memberikan gambaran yang jelas tentang dirinya dan cenderung lebih mampu
menerima keberadaan dirinya dan kurang idealis dari remaja (Stuart, 2009). Hal ini dapat
dikaitkan dengan kematuran seseorang, dimana semakin dewasa seseorang maka semakin
lebih baik cara berfikirnya. Dengan banyaknya perubahan yang terjadi baik fisik maupun
psikososial serta banyak keputusan yang harus dibuat menyangkut dirinya sehingga remaja
harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut. Kondisi lain yang dapat
mengancam harga diri remaja adalah tuntutan yang harus dipilihnya, posisi peran,
kemampuan meraih sukses serta kemampuan berpartisipasi atau penerimaan dilingkungan
masyarakat. Apabila remaja tidak dapat melakukan penyesuaian kondisi tersebut, maka akan
menyebabkan herga diri rendah (Hawari, 2001). Harga diri rendah dapat terjadi secara
situasional (trauma) atau kronis (penilaian yang negatif terhadap diri yang telah berlangsung
lama).
Model stress Adaptasi Stuart dari keperawtan jiwa memandang prilaku manusia dalam
perspektif yang holistik terdiri atas biologis.psikologi dan sosiokultural dan aspek-aspek
tersebut saling berintergrasi dalam perawatan. Komponen biopsikososial dari model tersebut
termasuk dalam factor predisposisi, prepitasi, penilaian terhadap stressor, sumber koping dan
mekanisme koping (Stuart & laraia,2005; Stuart, 2009 ) menurut Stuart (2009), masalah
harga diri rendah dapat dijelaskan dengan menggunakan psikodinamika masalah keperawatan
jiwa seperti skema di bawah ini.

Faktor predisposisi
Biolog Psikologis Sosial kultural

Stressor prespitasi

Natural Origini Timming Number

Penilaian terhadap stressor

Kognitif Afektif Fisiologis Prilaku sosial

Sumber koping

Kemampuan personal Dukungan social Aset material keyakinan positif

Mekanisme koping

Konstruktif Destruktif
Rentang Respon Koping

Respon Adaptif Respon Maladaptif

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Skema psikodinamika Masalah Keperawatan JIwa
(Stuart,2009)

1. Faktor Predisposisi
Proses terjadinya harga diri rendah kronis juga dipengaruhi beberapa faktor predisposisi
seperti faktor biologis, psikologis, sosial dan kultura.
a. Faktor Biologis
Faktor predisposisi yang berasal dari biologis dapat dilihat sebagai suatu keadaan atau
faktor resiko yang dapat mempengaruhi peran manusia dalam menghadapi stressor.
Adapun yang termasuk dalam faktor biologis ini adalah:
1) Neuroanatomi
Struktur otak yang mungkin mengalami gangguan pada pasien depresi dan skizifrenia
sehingga pasien mengalami masalah harga diri rendah kronis adalah:
a) Lobus frontal terlibat dalam dua fungsi serebral utama yaitu kontrol motorik gerakan
voluntir termasuk fungsi bicara, fungsi pikir dan konrol berbagai ekspresi emosi
(Townsend, 2009). Biasanya keruskan pada lobus frontal ini dapat menyebabkan
gangguan berfikir dan gangguan dalam berbicara serta tidak mampu mengontrol
emosi sehingga kognitif pasien negatif tentang diri, orang lain dan lingkungan serta
berperilaku yang maladaptif sebagai akibat kognitif negatif. Kondisi seperti ini
menunjukkan gejala harga diri rendah pada pasien.
b) Lobus temporalis merupakan lobus yang letaknya paling dekat dengan telinga dan
mempunyai peran fungsional yang berkaitan dengan pendengaran, keseimbangan
dan juga sebagian dari emosi dan memori (Boyd & Nihart, 1998; Townsend, 2009).
Fungsi utam lobus temporalis adalah bahasa, ingatan dan emosi (Kaplan, et al,
1996). Lobus temporal anterior mempunyai hubungan dengan sistem limbik dalam
peranannya pada proses emosi. Gangguan dalam menerima dan menyampaikan
informasi secara verbal yang juga dipengaruhi oleh daya ingat pasien akan
mempengaruhi emosi pasien yang akan menimbulkan harga diri rendah.
c) System Limbic merupakan cincin kortek yang berlokasi dipermukaan medial masing-
masing hemisfer dan mengelilingi pusat kutup serebrum. Fungsinya adalah mengatur
persyarafan otonom dan emosi (Suliswati, 2002 : Stuart & Laraia, 2005). Kerusakan
sistem limbik menimbulkan beberapa gejala klinik seperti hambatan emosi,
perubahan kepribadian (Kaplan, et al, 1996). Menurut Boyd dan Nihart, (1998)
perubahan hipotesa dalam sistem limbik menunjukkan perubahan yang signifikan
pada kelainan mental, skizoprenia, depresi dan kecemasan. Hambatan emosi yang
kadang berubah seperti sedih, dan terus merasa tidak berguna atau gagal terus
menerus akan membuat pasien mengalami harga diri rendah.
d) Hipothalamus adalah bagian dari diensefalon yaitu bagian dalam dari sebrum yang
menghubungkan otak tengah dengan hemisfer serebrum. Fungsi utamanya adalah
sebagai respon tingkah laku terhadap emosi dan juga mengatur mood dan motivasi
(Suliswati, 2002; Stuart & Laraia, 2005). Kerusakan hipothalamus membuat
seseorang kehilangan mood dan motivasi sehingga kurang aktivitas dan malas
melakukan sesuatu. Kondisi seperti ini sering kita temui pada pasien dengan harga
diri rendah, dimana pasien butuh lebih banyak motivasi dan dukungan tertutama dari
keluarga dan juga oleh perawat dalam melaksanakan tindakan yang sudah
dijadwalkan bersama-sama.

2) Neurotransmiter
Selain gangguan padsa struktur otak, apabila dilakukan pemeriksaan lebih lanjut
dengan alat-alat tertentu kemungkinan akan ditemukan ketidakseimbangan
neurotransmiter diotak. Neurotransmiter adalah kimiawi otak yang ditransmisikan oleh
satu neuron ke neuron lain (Stuart & Laraia, 2005). Neurotransmiter yang sangat
berhubungan dengan depresi adalah norepinefrin, dopamin, serotonin, acetilkolin
seperti:
a) Norepinephrine (Boyd & Nihart, 1998; Suliswati, 2002) berfungsi untuk kesiagaan,
pusat perhatian dan orientasi; proses pembelajaran dan memori. Jika terjadi
penurunan kadar norepinephrine akan dapat mengakibatkan kelemahan dan
peningkatan harga diri rendah sehingga perilaku yang ditampilkan pasien cenderung
negatif.
b) Serotonin (Boyd & Nihart, 1998) berperan sebagai pengontrol nafsu makan, tidur,
alam perasaan, halusinasi, persepsi nyeri, muntah. Serotonin dapat dapat
mempengaruhi fungsi kognitif (alam pikir), afektif (alam perasaan) dan psikomotor
(perilaku) (Hawari, 2001). Jika mengalami penurunan akan mengakibatkan
kecenderungan harga diri rendah kronis semakin besar karena pasien lebih dikuasai
oleh kognitif-kognitif negatif dan rasa tidak berdaya.
c) Acetylcholine (Ach) (Boyd & Nihart; 1998) berperan penting untuk belajar dan
memori. Jika terjadi peningkatan kadar acetylcholine akan dapat menurunkan ‘atensi
dan mood’, sehingga pada pasien dengan harga diri rendah dapat kita lihat adanya
gejala kurangnya perhatian dan malas dalam beraktivitas.
d) Dopamine, fungsinya mencakup regulasi gerak dan koordinasi, emosi, kemampuan
pemecahan masalah secara volunter (Boyd & Nihart, 1998; Suliswati, 2002).
Transmisi dopamin berimplikasi pada penyebab gangguan emosi tertentu.
Disamping itu pada pasien skizofrenia menurut Hewari (2001) dopamin dapat
mempengaruhi fungsi kognitif (alam pikir), afektif (alam perasaan), dan psikomotor
(perilaku). Kondisi ini pada pasien harga diri rendah memperloihatkan adanya
kgnitif-kognitif negatif, pasien selalu dalam keadaan sedih berkepanjangan serta
menujukkan perilaku yang menyimpag seperti menarik diri dan berkemingkinan
untuk melakukan bunuh diri.

b. Faktor Psikologis
Harga diri rendah sangat berhubungan dengan pola asuh dan kemampuan individu
menjalankan peran dan fungsi. Penilaian individu terhadap diri sendiri karena kegagalan
menjalankan fungsi dan peran, termasuk dalam harga diri rendah situasional. Harga diri
rendah situasional merupakan pengembangan persepsi negatif tentang dirinya sendiri pada
suatu kejadian (NANDA, 2011). Jika lingkungan tidak memberi dukungan positif atau
justru menyalahkan individu dan terjadi secara terus menerus akan mengakibatkan
individu mengalami harga diri rendah kronis.
Harga diri rendah kronis terjadi diawali dari individu berada pada suatu situasi yang
penuh dengan stressor (krisis), individu berusaha menyelesaikan krisis tetapi tidak tuntas
sehingga timbul fungsi dan peran. Harga diri rendah juga merupakan komponen Episode
Depresi Mayor, dimana aktivitas merupakan bentuk hukuman atau punishment (Stuart &
Laraia, 2005). Harga diri rendah merupakan suatu kesedihan atau perasaan duka
berkepanjangan (Stuart & Sundeen, 2009).
Harga diri rendah adalah emosi normal manusia, tetapi secara klinis dapat bermakna
patologik apabila mengganggu perilaku sehari-hari, menjadi pervasif dan muncul bersama
penyakit lain. Hal-hal yang dapat mengakibatkan individu mengalami harga diri rendah
kronis (Struart & Sundeen, 2009) meliputi penolakkan orang tua, harapan orang tua yang
tidak realistis, orang tua yang tidak percaya pada anak, tekanan teman sebaya, kurang
mempunyai tanggung jawab personal, ketergantungan pada orang lain dan ideal diri yang
tidak realistik.
c. Faktor Sosial dan Kultural
Secara sosial status ekonomi sagat mempengaruhi proses terjadinya harga diri rendah.
Dimana dalam kehidupan sehari-hari anak tumbuh kembang ditiga tempat, yaitu dirumah
(keluarga), disekolah (lembaga pendidikan) dan dilingkungan masyarakat sosialnya
(Hawari, 2001). Kondisi sosial dimasing-masing tempat tersebut akan berinteraksi satu
dengan yang lainnya dan mempengaruhi tumbuh kembang anak.
Lingkungan keluarga, sekolah ataupun pergaulan sosialnya kondusif (membuat
pengaruh yang baik) maka perkembangan jiwa/kepribadian anak akan kearah yang baik
dan sehat akan semakin besar. Sebaliknya bila lingkungan tersebut tidak kondusif maka
akan beresiko terganggunya perkembangan jiwa/kepribadian anak. Contoh masalah sosial
yang dapat menimbulkan harga diri rendah, antara lain kemiskinan, tempat tinggal
didaerah kumuh dan rawan kriminalitas. Dimana menurut Hawari (2001) rasa tidak aman
dan tidak terlindung membuat jiwa seseorang tercekam sehingga mengganggu ketenangan
dan ketentraman hidup yang lama kelamaan daya tahan seseorang menurun hingga
mengalami gangguan. Tuntutan peran sesuai kebudayaan juga sering meningkatkan
kejadian harga diri rendah kronis antara lain : wanita sudah harus menika jika umur
mencapai duapuluhan, perubahan kultur kearah gaya hidup individualisme.
2. Faktor Presipitasi
Seluruh faktor predisposisi yang dialami pasien akan menimbulkan harga diri rendah
setelah adanya faktor presipitasi yang berasal dari dalam diri sendiri ataupun dari luar, antara
lain ketegangan peran, konflik peran, peran yang tidak jelas, peran berlebihan, perkembangan
transisi, situasi transisi peran dan transisi peran sehat-sakit (Stuart & Laraia, 2005).
Faktor presipitasi merupakan stimulus yang dapat berupa perubahan, ancaman dan
kebutuhan individu, memerlukan energi yang berlebihan dan mengeluarkan suatu bentuk
ketegangan dan stress (Cohen, 2000 dalam Stuart & Laraia, 2005).
Faktor pencetus ini telah dialami dalam waktu yang lama oleh pasien. Lama kelamaan
pasien kehilangan kemampuan untuk mengatasi faktor pencetus tersebut.
a. Trauma: penganiayaan seksual da psikologis atau menyaksikan peristiwa yang
mengancam kehidupan.
b. Ketegangan peran: berhubungan dengan peran atau posisi yang diharapkan dan individu
mengalaminya sebagai frustasi.
1) Transisi peran perkembangan: perubahan normatif yang berkaitan dengan
pertumbuhan.
2) Transisi peran situasi: terjadi dengan bertambah atau berkurangnya anggota keluarga
melalui kelahiran atau kematian.
3) Transisi peran sehat-sakit: sebagai akibat pergeseran dari keadaan sehat dan keadaan
sakit. Transisi ii dapat dicetuskan oleh kehilangan bagian tubuh; perubahan ukuran,
bentuk, penampilan atau fungsi tubuh; perubahan fisik yang berhubungan dengan
tumbuh kembang normal;prosedur medis dan keperawatan.

Kemampuan dan strategi dalam menghadapi perubahan yang dialami sebelum terjadi
harga diri rendah disebut mekanisme koping. Mekanisme koping jangka pendek yang biasa
dilakukan pasien harga diri rendah adalah kegiatan yang dilakukan untuk lari sementara dari
krisis, misalnya pemakaian obat-obatan, kerja keras, nonton tv terus menerus. Hal ini
digunakan untuk mencegah kecemasan dan ketidaktentuan dari kebingungan identitas (Stuart
& Laraia, 2005). Kegiatan mengganti identitas sementara, misalnya ikut kelompok sosial,
keagamaan dan politik. Kegiatan yang memberikan dukungan sementara, seperti mengikuti
suatu kompetisi atau kontes popularitas. Kegiatan mencoba menghilangkan anti identitas
sementara, seperti penyalahgunaan obat-obatan. Jika mekanisme koping jangka panjang,
antara lain adalah menutup identitas, dimana pasien terlalu cepat mengadopsi identitas yang
disenangi dari orang-orang yang berarti tanpa mengindahkan hasrat, aspirasi atau potensi diri
sendiri. Identitas negatif, dimana asumsi yang bertentangan denngan nilai dan harapan
masyarakat, sedangkan mekanisme pertahanan ego yang sering digunakan adalah fantasi,
regrasi, disasosiasi, isolasi, proyeksi, mengalihkan marah berbalik pada diri sendiri dan orang
lain.

3. Tanda dan Gejala


Tanda dan gejala harga diri rendah (NANDA, 2009; Stuart & Sundeen, 2009) merupakan
perilaku yang telah dipertahankan dalam waktu yang lama atau kronik yang meliputi
ungkapan negatif tentang diri sendiri dalam waktu lam dan terus menerus. Perilaku yang
ditampilkan berupa sikap malu/minder/rasa bersalah, kontak mata kurang/tidak ada, selalu
mengatakan ketidakmampuan/ kesulitan untuk mencoba sesuatu, bergantung pada orang lain,
tidak asertif, pasif dan hipoaktif. Perilaku lain yang juga sering muncul seperti: mengkritik
diri sendiri dan atau orang lain, gangguan dalam berhubungan, rasa diri penting berlebihan,
mudah tersingggung atau marah yang berlebihan, ketegangan peran yang dirasakan,
pandangan hidup yang pesimis, khawatir, bimbang dan ragu-ragu, menolak umpan balik
positif dan membesarkan umpan balik negatif mengenai dirinya serta ada juga yang
menyalahgunakan zat.
Menurut Westermeyer (2006), 4 area gejala umum yang menunjukkan masalah harga diri
rendah adalah:
a. Fisik
Respon fisiologis tersebut merupakan tanggapan dari fisik seseorang yang dirasakan dan
mempengaruhi fungsi tubuh. Tanda dan gejala dari respon fisiologi terhadap penurunan
harga diri antara lain penurunan energi, lemah, agitasi, penurunan libido,
insomnia/hipersomnia, penurunan/peningkatan nafsu makan, anoreksia, sakit kepala
(Westermeyer, 2006; Stuart & Sundeen, 2005). Kondisi ini akan menunjukkan perilaku
yang maladaptif pada pasien dimana pasien akan malas beraktivitas, lebih banyak tidur
sehingga kurang berinteraksi dengan orang lain.
b. Kognitif
Menurut Suart & Laraia (2005) kognitif adalah tindakan atau proses dari pengetahuan.
Proses ini diperlukan dan memungkinkan mengetahui kondisi otak untuk proses informasi
dalam hal ketelitian, penyimpanan dan keterangan. Seseorang dengan skizoprenia sering
kali tidak sanggup untuk menghasilkan logika berfikir yang kompleks dan
mengungkapkan kalimat yang yang berhubungan karena neurotransmitter dalam
memproses sistem informasi otak mengalami kelainan fungsi. Proses informasi
memerlukan pengorganisasian dari input sensori dari kedua perasaan internal dan ekternal
menyaring kesesuaian untuk perhatian seseorang, kemampuan untuk mengingat, belajar,
deskriminasi, menafsirkan dan pengorganisasian informasi. Terjadinya penurunan
kemampuan kognitif menurut Laeckenote (1996) adalah karena faktor neuroanatomic,
psikologis, lingkungan dan faktor lain kejadian.
Kognitif yang sering muncul pada pasien dengan masalah harga diri rendah (Stuart &
Laraia, 2005 ; Boyd & Nihart, 1998) adalah:
1) Bingung
Kebingungan adalah kumpulan perilaku termasuk tidak adanya perhatian dan pelupa,
perubahan perilaku seperti agresigf, bimbang, delusi (efek dari perilaku) dan
ketidakmampuan atau kegagalan dalam kegiatan sehari-hari (defisit perilaku) (Mehta,
Yaffe, and Covinsky, 2002 dala Stuart & Laraia, 2005). Biasanya kebingungan tidak
spesifik digunakan untuk istilah apatis (tidak menghiraukan), menarik diri ata pasien
tidak kooperatif.
Beberapa kategori pasien menyatakan kebingungan mmerupakan masalah pasien,
seperti pasien dengan masalah komunikasi (menelan pembicaraan, ketidakmampuan
mengekspresikan pembicaraan), pasien yang menolak nilai personal orang lain, pasien
yang sedih, pasien yang tidak sehat. Kondisi ini penting untuk perawat secara spesifik
ketika berhubungan dengan pasien yang mengalami kebingungan.
2) Kurang memori dalam jangka waktu panjang/pendek
Memori meliputi kemampuan untuk mengingat atau meniru terhadap pelajaran atau
pengalaman. Kerusakan memori merupakan ciri-ciri dari beberapa kekacauan kognitif
dan demensia khusus (Boyd & Nihart, 1998). Kerusakan memori menurut Mohr, 2006
adalah ketidakmampuan mempelajari informasi baru (memori jangka pendek) dan
ketidakmampuan mengingat informasi yang sudah lama (memori jangka panjang).
Gangguan memori berhubungan dengan kerusakan sosial atau fungsi pekerjaan, dan
kemunduran dari fungsi sebelumnya.
Kerusakan dari orientasi, memori dan berfikir secara abstrak serta orientasi dapat
diobservasi. Orientasi waktu, tempat dan orang merupakan gejala sisa yang relatif
lengkap kecuali kalau pasien memenuhinya secara khusus. Semua aspek memori
berpengaruh dalam skizoprenia atau untuk mengingat kembali informasi baru yang
dipelajari.
3) Kurangnya perhatian
Perhatian merupakan proses mental yang komplek yang meliputi kosentrasi seseorang
terhadap aktivitas yang dilakukan (Boyd & Nihart, 1998). Menurut Stuart dan Laraia,
2005 perhatian adalah kemampuan untuk memfokuskan kegiatan pada satu aktivitas
dan sikap kosentrasi secara terus menerus.
Kekacauan perhatiah menurut Stuart dan Laraia, 2005 adalah kerusakan dalam
kemampuan untuk menunjukkan perhatian, mengamati, memfokuskan dan kosentrasi
terhadap realita eksternal. Gangguan perhaatian merupakan keadaan yang biasa
ditemukan pada kasus skizoprenia dan terdapat kesukaran dalam menghadapi tugas
yang komplek, kesulitan kosentrasi pada pekerjaan dan mudah beralih
perhatian/kekacauan kognitif. Kekacauan kognitif berhubungan dengan mudahnya
menarik perhatian pasien dari stimulus eksternal yang tidak relevan seperti kegaduhan,
mengeluarkan buku dari rak buku dan orang yang lewat. Kondisi lainnya, pasien
memiliki pengalaman halusinasi pendengaran yang sering mengalihkan perhatian
mereka hingga menimbulkan masalah dengan perhatian.
Kerusakan perhatian tersebut tidak konstan dan berfluktasi (naik turun) tergantung pada
kehendak aktivitas otak. Kondisi ini banyak menyebabkan pasien merasa frustasi, dan
mereka sering komplain tentang ketidakmampuan untuk melaksanakan tugas yang
komplek karena mereka merasa ‘kognitif saya menyimpang’. Perawat akan siap untuk
mengambil alih tugas mereka dan perawat juga membutuhkan pengulangan yang sering
dalam waktu yang pendek untuk melatih pasien melaksanakan tugas mereka secara
bertahap.
4) Merasa putus asa
Keputusasaan merupakan kondisi subjektif dimana individu melihat tidak adanya atau
terbatasnya alternatif pribadi yang tersedia dan ketidakmampuan untuk memobilisasi
energi untuk kepentingan sendiri. Seseorang yang mengalami keputusasaan dapat
disebabkan karena tertinggal dari orang lain, stress berkepanjangan, kegagalan dan
pembatasan aktivitas. Karakteristerik yang terlihat pada pasien dengan putus asa adalah
: miskin bicara, suka mengeluh, kontak mata buruk, nafsu makan menurun, respon
menurun, aktivitas tidur berkurang atau meningkat, tidak ada inisiatif dan menolak
pembicaraan.
5) Merasa tidak berdaya
Ketidakberdayaan merupakan persepsi tingkah laku seseorang, tidak akan
mempengaruhi hasil, atau kurangnya kontrol selama situasi tetap atau kejadian yang
mendadak. Ketidakberdayaan seseorang dapat terlihat dari gejala : ekspresi tidak
menentu dan ragu-ragu, pasif, tidak ada berpartisipasi, ketergantungan pada orang lain,
tidak mampu mengekspresikan perasaan yang benar dan tidak mampu mencari
informasi selama perawatan.
6) Merasa tidak berharga/berguna
Keyakinan seseorang terhadap kasih sayang, kemampuan, perasaan diterima, dan
perasaan diperlukan bagi orang lain dan merasa berguna dari perhatian dan respon yang
ditunjukkan orang lain (Boyd & Nihart, 1998).

Theory of reasoned yang dikemukakan oleh Ajzen dan Fishbein (1980) yang menekankan
bahwa proses kognitif sebagai dasar bagi manusia untuk memutuskan perilaku apa yang akan
diambilnya, yang secara sistematis memanfaatkan informasi yang tersedia disekitarnya
(Wismanto, http://www.unica.ac.id fakultas/psikologi/artikel/bm-1, diperoleh tanggal 22 Mei
2006). Hal ini berarti bahwa kognitif seseorang akan menentukan perilaku orang tersebut.

c. Perilaku
Perilaku adalah respon invidu terhadap stimulus baik yang berasal dari luar maupun dari
dalam dirinya (Matra, 1997). Menurut Notoadmojo, (2010) perilaku adalah suatu kegiatan
atau aktivitas manusia, baik yang dapat diamati langsung, maupun yang tidak dapat
diamati oleh pihak luar. Perilaku atau aktivitas individu tidak muncul dengan dengan
sendirinya, tetapi sebagai akibat dari stimulus yang diterima oleh individu yang
bersangkutan baik dari stimulus eksternal maupun internal. Skiner, (1938 dalam
Notoadmodjo, 2010) mengemukakan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi
seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Sunaryo (2004) bahwa perilaku adalah
aktivitas yang timbul dari stimulus dan respon serta dapat diamati secara langsung maupun
tidak langsung. Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap
organisme, dan kemudian organisme tersebut merespon.
Pada pasien dengan masalah harga diri rendah perilaku yang yang ditampilkan maladaptif
seperti:
1) Kurang aktivitas dan menurunnya aktivitas yang menyenangkan
Aktivitas sehari-hari adalah keterampilan yang penting untuk kehidupan sendiri, seperti
pekerjaan rumah tangga, belanja, menyiapkan makanan, mengelola uang dan
kebersihan diri. Tujuan utama dari rehabilitas psikososial adalah untuk membantu
individu untuk mengembangkan kemandirian keterampilan hidup (Stuart & Laraia,
2005).
2) Menarik diri
Menurut Keliat dkk, (2010) menarik diri merupakan suatu keadaan dimana seorang
individu mengalami penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi
dengan orang lain disekitarnya. Pasien mungkin merasa ditolak, tidak diterima,
kesepian, dan tidak mampu membina hubungan yang berarti dengan orang lain.
Karakteristerik seseorang yang menarik diri adalah perasaan kesepian atau ditolak oleh
orang lain, merasa tidak aman berada dengan orang lain, merasa hubungan yang tidak
berarti dengan orang lain, merasa bosan dan lambat menghabiskan waktu, tidak mampu
berkosentrasi dan membuat keputusan, merasa tidak berguna dan tidak yakin dapat
melangsungkan hidup.
3) Kurang sosialisasi/kurang keterampilan bersosialisasi
Stuart dan Laraia (2005) menjelaskan bahwa sosialisasi adalah kemampuan seseorang
untuk lebih kooperatif dan saling ketergantungan dengan orang lain. Kondisi ini
dipengaruhi oleh fungsi otak karena masalah dengan orang lain kita harus memahami
konsekwensi hubungan dari respon neurobiologik yang maladaptif. Masalah sosial
sering menjadi sumber utama perhatian dari keluarga dan pemberi pelayanan kesehatan
karena efek nyata dari penyakit yang sering menonjol dari gejala yang berhubungan
dengan kognitif dan persepsi.
Masalah sosial dihasilkan secara langsung atau tidak langsung dari penyakit. Efek
langsung terjadi ketika seseorang melakukan pencegah dari masalah sosialisasi dengan
menerima norma sosialkultural atau ketika motivasi memburuk yang merupakan hasil
dari menarik diri dari lingkungan sosial dan isolasi dari aktivitas kehidupan. Perilaku
langsung disebabkan karena masalah ketidakmampuan komunikasi dengan baik,
kehilangan gerak dan minat, keterampilan sosial memburuk, kebersihan diri yang jelek
dan paranoid.
Efek tidak langsung dari sosialisasi adalah konsekwensi kedua dari penyakit. Sebagai
contoh adalah menurunnya harga diri yang berhubungan dengan kurang baiknya
prestasi akademik dan sosial. Ketidaknyamanan sosial dan hasil isolasi sosial lebih
kanjut menunjukkanhubungan yang signifikan. Masalah spesifik dalam pengembangan
hubungan termasuk hubungan sosial yang tidak pantas, tidak memihak dalam aktivitas
rekreasi, perilaku sesksual yang tidak pantas, stigma yang berhubungan dengan
menarik diri dari teman, keluarga dan kelompok.
4) Merusak diri (menciderai diri)/risiko bunuh diri
Menciderai diri yaitu aniaya diri, agresif yang diarahkan pada diri sendiri, cedera yang
membebani diri dan mutilasi diri. Bentuk umum perilaku menciderai diri yaitu melukai
dan membakar kulit, membenturkan kepala atau anggota tubuh, melukai tubuhnya
sedikit demi sedikit dan atau menggigit jarinya.
Risiko bunuh diri merupakan keadaan dimana individu mengalami risiko untuk
menyakiti diri sendiri/melakukan tindakan yang dapat mengancam kehidupan. Perilaku
destruktif diri langsung mencakup setiap bentuk aktivitas bunuh diri, niatnya adalah
kematian dan individu menyadari hal ini sebagai hasil yang dinginkan (Stuart & Laraia,
2005).

d. Afek
Afek merupakan sifat emosional yang nyata (Stuart & Laraia, 2005) gambaran emosi yang
sering kita temui pada pasien harga diri rendah (Stuart & Laraia, 2005; Wetermeyer, 2006)
adalah kemarahan, kecemasan, rasa kesal, murung, ketidakberdayaan, kesepian dan
kesedihan, merasa berdosa, dan kurang motivasi.

4. Penilaian Sterssor
Apapun masalah dalam konsep diri dicetuskan oleh stressor psikologis, sosiologis, atau
fisiologis. Elemen yang penting adalah persepsei pasien tentang ancaman.

5. Sumber Koping
Semua orang, tanpa memperhatikan gangguan perilakunya mempunyai beberapa bidang
kelebihan persolan yang meliputi:
a. Aktivitas olahraga dan aktivitas diluar rumah
b. Hobi dan kerajinan tangan
c. Seni yang ekspresif
d. Kesehatan dan perawatan diri
e. Pendidikan atau pelatihan
f. Pekerjaan, vokasi atau posisi
g. Bakat tertentu
h. Kecerdasan
i. Imajinasi dan kreativitas
j. Hubungan interpersonal

6. Mekanisme Koping
Mekanisme koping termasuk pertahanan koping jangka pendek atau jangka panjang serta
penggunaan mekanisme pertahanan ego untuk melindungi diri sendiri dalam menghadapi
persepsi diri yang menyakitkan. Pertahanan jangka pendek mancakup:
a. Aktivitas yang memberikan pelarian sementara dari krisis identitas diri (misal: konser
musik, bekerja keras, menonton tv secara obsesif).
b. Aktivitas yang memberikan identitas pengganti sementara (misal: ikut serta dalam klub
sosial, agama, politik, kelompok atau gerakan).
c. Aktivitas sementara yang menguatkan atau meningkatkan perasaan diri yang tidak
menentu (misal: olahraga kompetitif, prestasi akademik, kontes untuk mendapatkan
popularitas).

Pertahanan jangka panjang mencakup:

a. Penutupan identitas
Adopsi identitas prematur yang diinginkan oleh orang terdekat tanpa memperhatikan
keinginan, aspirasi atau potensi diri individu.
b. Identitas negatif
Asumsi identitas yang tidak sesuai dengan nilai dan harapan yangg diterima
masyarakat.

Mekanisme pertahanan ego termasuk penggunaan fantasi, disosiasi, isolasi, proyeksi,


pengalihan (displacement), splitting, berbalik marah terhadap diri sendiri dan amuk.

C. MASALAH KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL


Diagnosis keperawatan NANDA (dalam Stuart, 2009) yang berhubungan dengan respon
konsep diri maladaptif
1. Gangguan penyesuaian
2. Ansietas
3. Gangguan citra tubuh
4. Hambatan komunikasi verbal
5. Ketidakefektifan koping
6. Keputusasaan
7. Gangguan identitas
8. Resiko kesepian
9. Ketidakberdayaan
10. Resiko ketidakberdayaan
11. Ketidakefektifan performa peran
12. Defisit peratan diri
13. Resiko harga diri rendah situasional
14. Harga diri rendah situasional
15. Gangguan persepsi sensori
16. Ketidakefektifan pola seksualitas
17. Hambatan interaksi sosial
18. Isolasi sosial
19. Distress spiritual
20. Gangguan proses pikir
21. Resiko perilaku kekerasan terhadap diri sendiri
D. DATA YANG PERLU DIKAJI
MASALAH KEPERAWATAN DATA YANG PERLU DIKAJI
Harga diri rendah Subjektif:
Pasien mengungkapkan tentang:
1) Hal negatif diri sendiri atau orang
lain
2) Perasaan tidak mampu
3) Pandangan hidup yang pesimis
4) Penolakan terhadap kemampuan
diri

Objektif
1) Penurunan produktivitas
2) Tidak berani menatap lawan bicara
3) Lebih banyak menundukkan
kepala saat berinteraksi
4) Bicara lambat dengan nada suara
lemah

E. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosis keperawatan: Hrga diri rendah
Diagnosis medis: Depresi

F. POHON MASALAH
EFFECT ISOLASI SOSIAL

CORE PROBLEM ISOLASI SOSIAL

CAUSE ISOLASI SOSIAL

Direja, 2011.

G. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN


PERTEMUAN PASIEN KELUARGA
1  Identifikasi  Diskusikan masalah
kemampuan yang dirasakan dalam
melakukan kegiatan merawat pasien
dan bantu aspek-  Jelaskan pengertian,
aspek positif pasien tanda gejala, proses
(buat daftar kegiatan) terjadinya harga diri
 Bantu pasien menilai rendah (gunakan
kegiatan yang dapat booklet)
dilakukan saat ini  Jelaskan cara merawat
(pilih dari daftar harga diri rendah
kegiatan): buat daftar terutama memberikan
kegiatan dapat pujian semua hal
dilakukan saat ini positif pada pasien
 Bantu pasien memilih  Latih keluarga
salah satu kegiatan memberi tangggung
yang dapat dilatih saat jawab kegiatan
ini pertama yang dipilih
 Latih kegiatan yang pasien: bimbing dan
dipilih (alat dan cara beri pujian
melakukannya)  Anjurkan membantu
 Masukkan pada pasien sesuai jadwal
jadwal kegiatan untuk dan memberi pujian
latihan dua kali
perhari

 Evaluasi kegiatan
2  Evaluasi kegiatan keluarga dalam
pertama yang telah membimbing pasien
dilatih dan berikan melaksanakan
pujian kegiatan pertamayang
dipilih dan dilatih
 Bantu pasien memilih pasien. Beri pujian
kegiatan kedua yang  Bersama keluarga
akan dilatih melatih pasien dalam
 Latih kegiatan kedua melakukan kegiatan
(cara dan alat) kedua yang dipilih
 Masukkan pada pasien
jadwal kegiatan untuk  Anjurkan membantu
latihan 2 kegiatan pasien sesuai jadwal
masing-masing dan memberi pujian
2x/hari

 Evaluasi kegiatan  Evaluasi kegiatan


3 keluarga dalam
pertama dan kedua
yang telah dilatih dan membimbing pasien
berikan pujian melaksanakan
 Bantu pasien memilih kegiatan pertama dan
kegiatan ketiga yang kedua yang dipilih dan
akan dilatih dilatih pasien. Beri
 Latih kegiatan ketiga pujian
(cara dan alat)  Bersama keluarga
 Masukkan pada melatih pasien dalam
jadwal kegiatan untuk melakukan kegiatan
latihan 3 kegiatan ketiga yang dipilih
masing-masing pasien
2x/hari  Anjurkan membantu
pasien sesuai jadwal
dan memberi pujian
 Evaluasi kegiatan  Evaluasi kegiatan
pertama, kedua dan keluarga dalam
4 ketiga yang telah membimbing pasien
dilatih dan berikan melaksanakan
pujian kegiatan kedua dan
 Bantu pasien memilih ketiga yang dipilih dan
kegiatan keempat dilatih pasien. Beri
yang akan dilatih pujian
 Latih kegiatan  Bersama keluarga
keempat (cara dan melatih pasien dalam
alat) melakukan kegiatan
 Masukkan pada keempat yang dipilih
jadwal kegiatan pasien
harian 4 kegiatan  Jelaskan follow up ke
masing-masing RSJ/PKM, tanda
2x/hari kambuh, rujukan
 Evaluasi kegiatan  Anjurkan membantu
latihan dan berikan pasien sesuai jadwal
pujian dan memberi pujian
 Latih kegiatan
dilanjutkan sampai  Evaluasi kegiatan
tak terhingga keluarga dalam
 Nilai kemampuan membimbing pasien
yang telah mandiri melaksanakan
 Nilai apakah harga kegiatan yang dipilih
diri pasien meningkat dan dilatih pasien. Beri
pujian
 Nilai kemampuan
keluarga membimbing
pasien
 Nilai kemampuan
keluarga melakukan
kontrol ke RSJ/PKM

H. INTERVENSI SPESIALIS
1. Terapi individu: terapi kognitif, CBT, gestalt, penghentian pikiran
2. Terapi kelompok: logoterapi terapi supportif
3. Terapi keluarga: terapi sistim keluarga, psikoedukasi
4. Terapi komunitas: assertive community therapy (SAK FIK-UI, 2014)
BAHAN BACAAN

Balitbang Depkes,(2008), kebijakan dan strategi pembangunan kesehatan jiwa,


Departemen Kesehatan RI ,Jakarta.

Hawari,D, 2007, Standar Aauhan Keperawatan : Spesialis Keperawatan Jiwa , Workshops


ke-7, Fakultas Ilmu Keperawatan , Universitas Indonesia ,Jakarta

Keliat, B.A., & Akemat.(2010). Model Praktek Keperawatan Profesional. Jakarta. EGC

Nanda,(2011). Nursing Diagnoses: Definition & Classification 2009-2011. Philadelphia:


NANDA Internasional

Notoatmodjo ,s. (2010) Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku :Jakarta
Rineka Cipta

Stuart,G.W. & Laraia ,M.T. (2005) Principles an Practice of Psichiatric Nursing , 8th ed:
Misouri: Mosby,Inc

Stuart,G.W. (2009) Principles an Practice of Psichiatric Nursing , 9th ed: Misouri:


Mosby,Inc

Townsend ,M.C.(2009). Psychiatric Mental Health Nursing Concept Of Care in


Evidence-Based Practice. 6th ed. Philadelphia:F.A. Davis Company
LAPORAN PENDAHULUAN

ISOLASI SOSIAL

A. Kasus/Masalah Utama : Isolasi Sosial


1. Pengertian
a) Isolasi sosial merupakan keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang
karena orang lain dianggap menilai, menyatakan, serta memperlihatkan sikap
negatif dan mengancam bagi dirinya (Townsend, 2009).
b) Isolasi sosial adalah keadaan ketika seorang klien mengalami penuruanan
bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain disekitarnya
(Keliat, 2010)
c) Isolasi sosial sebagai suatu pengalaman mnyendiri dari seseorang dan
perasaan segan terhadap orang lain sebagai sesuatu yang negative atau
keadaan yang mengancam (Herdman, 2012). Dengan kata lain kita dapat
katakana bahwa isolasi sosial adalah kegagalan individu dalam melakukan
interaksi dengan orang lain yang disebabkan oleh pikiran negatif atau
mengancam.

2. Rentang Respon Sosial dan Gangguan Kepribadian

Respon adaptif Respon mal adaptif

 Pikiran logis  Pikiran kadang  Gangguanpikiran


 Persepsi akurat menyimpang waham
 Emosi konsisten  Ilusi  Halusinasi
dengan  Emosi berlebihan  Kesulitan untuk
pengalaman memproses emosi
atau kurang
 Prilaku sesuai
 Prilaku ganjil atau  Ketidakteraturan
 hubungan sosial
tak lazim prilaku
 Menarik diri  Isolasi sosial

Gambar Rentang Respon Neurobiology Menurut Stuart GW, 2006


B. Proses Terjadinya Masalah
Proses terjadinya isolasi sosia dapat dijelaskan dengan menggunakan pendekatan
psikodinamika model Stuart (2009) dimana pada mode ini masalah keperawatan
dimulai dengan menganalisa faktor predisposisi, presipitasi, penilaian terhadap
stressor, sumber kopingdan mekanisme kong yang digunakan oleh seorang klien
sehingga menghasilkan respon baik yang bersifat konstruktif maupun destruktif dalam
rentang adaptif samapi maladaptif. Menurut Stuart (2009), masalah isolasi sosial
dapat dijelaskan dengan menggunakan psikodinamika masalah keperawatan jiwa
seperti skema di bawah ini:
1. Faktor Predisposisi
Stuart (2009), mengatakan faktor predisposisi adalah factor resiko timbulnya stress
yang akan mempengaruhi tipe dan sumber-sumber yang dimiliki klien untuk
menghadapi stress. Stuart( 2009) membagi factor predisposisi dalam tiga dominan
yaitu biologis, psikososial dan sosio kultural
a. Biologis
Faktor biologis berhubungan dengan kondisi fisiologis yang mempengaruhi
timbulnya gangguan jiwa. Isolasi sosial merupakan gejala negatif dari skizofrenia
menurut berbagai penelitian kejadian skizofrenia disebabkan beberapa factor
seperti kerusakan pada area otak, peningkatan aktivitas neurotransmitter, serta
factor genetka.
1. Kerusakan pada area otak
Kejadian skizofrenia sering dihubungkan dengan adanya kerusakan pada
bagian otak tertentu, namun hingga kini belum dapat diketahui dengan pasti
area yang dapat mengakibatkan skizofrenia. Menurut penelitian beberapa area
dalam otak yang berperan dalam timbulnya kejadian skizofrenia antara ain
sisitem limbic, korteks frontal, cerebellum dan ganglia basalis. Keempat area
tersebut saling berhubungan, sehingga disfungsi pada satu area akan
mengakibatkan gangguan pada area yang lain (Arief, 2006).
2. Peningkatan aktivitas neurotransmitter
Selain kerusakan anatomis pada area di otak, skizofrenia juga disebabkan
karena peningkatan aktivitas neurotransmitter dopaminergik. Videback (2006)
mengatakan bahwa ada keterkaitan anatara neoanatomi dengan neurokimia
otak, pada klien skizofreniaditemukan adanya struktur abnormal pada otak
seperti atropi otak, perubahan ukuran serta bentuk sel pada system limbic dan
daerah frontal selain itu adanya factor imunovirologi dan respon tubuh
terhadap paparan virus.
3. Faktor genetika
Penelitian tentang fakor genetic telah membuktikan bahwa skizofrenia
diturunkan secara gentika. Menurut Saddock (2003) Prevalensi seseorang
menderita skizofrenia bila salah satu saudara kandung menderita skizofrenia
sebesar 8%, sedangkan bila salah satu orang tua menderita skizofrenia sebesar
12% dan bila kedua orang tua menderita skizorenia sebesar 47%.

b. Psikologis
Teori Psikoanalitik, perilaku dan interpersonal menjadi dasar pola pikir
predisposisi psikologis.
1. Teori psikoanalitik
Sigmund Freud melalui teori psiko analisa menjelaskan bahwa skizofrenia
merupakan hasil dari ketidakmampuan menyelesaikan masalah dan konflik
yang tidak disadari antara impuls agresif aau kepuasan libido serta pengakuan
terhadap ego. Sebagai contoh konflik yang tidak disadari pada saat masa
kanak-kanak, seperti kehlangan cinta atau perhatian orang tua, menimbulkan
perasaan tidak nyaman pada masa kanak-kanak, remaja dan dewasa awal
(Reorig, 1999).
2. Teori Perilaku
Selain teori psikoanalisa, teori prilaku juga mendasari factor predisposisi
psikologis. Teor perlikaku berasumsi bahwa perilaku merupakan hasil
pengalaman yang dipelajari oleh klien sepanjang daur kehidupanya, dimana
setiap pengalaman yang dialami akan mempengaruhi prilaku klien baik yang
bersifat adaptif maupun maladaptif.
3. Teori interpersonal
Teori interpersonal berasumsi bahwa skizofrenia terjadi karena klien
mengalami ketakutan akan peolakan interpersonal atau trauma dan kegagalan
perkembangan yang dialami pada masa pertumbuhan seperti kehilangan,
perpisahan yang mengakibatkan seseorang menjadi tidak beraya, tidak percaya
diri, tidak mampu membina hubungan saling percaya pada orang lain,
timbulnya sikap ragu-ragu dan takut salah. Selain itu klien akan menampilkan
perilaku muah putus asa terhadap hubungan dengan orang lain serta
menghindar dari orang lain. Selain itu sistem keluarga yang kurang harmonis
seperti adanya penolakan orang tua, harapan orang tua yang tidak realistis,
kurang mempunyai tanggung jawab personal juga menjadi actor pencetus
timbulnya gangguan dalam hubungan interpersonal.

c. Sosial budaya
Faktor sosial budaya meyakini bahwa penyebab skizofrenia adalah pengalaman
seseorang yang mengalami kesulitan beradaptasi terhadap tuntutan sosial budaya
karena klien memiliki harga diri rendah dan mekanisme koping maladaptive.
Stressor ini merupakan salah satu ancaman yang dapat mempengaruhi
berkembangnya gangguan dalam interaksi sosial terutama dalam menjalin
hubungan interpersonal.
Gangguan dalam membina hubungan interpersonal biasanya mudah dikenali pada
saat masa remaja atau pada masa yang lebih awal dan berlanjut sepanjang tahap
perkembangan masa dewasa yang ditandai dengan adanya respon maladaptive
yaitu ketidakmampuan klien untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar serta
ketidakmampuan membina hubungan interpersonal atau penyimpangan perilaku
lain. Penelitian yang dilakukan di amerika menyimpulkan sekitar 10% sampai
18% penduduknya mengalami gangguan kepribadian (Stuart, 2009).
Townsend, M.C (2009) mengatakan pada umumnya isolasi sosial disebabkan
karena kurangnya rasa percaya diri, perasaan panik, adanya gangguan dalam
proses pikir, sukar berinteraksi dimasa lampau, perkembangan ego yang lemah
serta represi dari rasa takut. Sedangkan menurut Stuart (2009) Isolasi sosial
disebabkan oleh harga diri rendah bila tidak segera ditangani perilaku isolasi
sosial dapat beresiko terjadinya halusinasi.
2. Faktor Presipitasi
Faktor Presipitasi adalah stimulus internal atau eksternal yang mengancam klien
antara lain dikarenakan adanya ketegangan peran, konflik peran, peran yang tidak
jelas, peran berlebihan, perkembangan transisi, situasi transisi peran dan transisi peran
sehat-sakit (Stuart, 2009). Stuart (2009) membagi factor presipitasi dalam psikososial.
a. Psikologis
Faktor presipitasi psikologis klien isolasi berasal dari internal dan eksternal. Stuart
& Laria (2005) yang menyatakan bahwa isolasi sosial disebabkan karena adanya
factor presipitasi yang berasal dari dalam diri sendiri ataupun dari luar.
1.) Internal
Stressor internal terdiri dari pengalaman yang tidak menyenangkan,
perasaan ditolak dan kehilangan orang yang berarti. Penelitian yang
dilakukan oleh Canadian Assosiation Psychiatric (2004), menunjukan
bahwa prevalensi ketakutan berhubungan sosial pada klien yang memiliki
harga diri rendah 14.9% lebih tinggi dibandingkan dengan klien yang
memiliki harga diri tinggi sebesar 6.6%
2.) Eksternal
Stressor eksternal adalah kurangnya dukungan dari lingkungan serta
penolakan dari lingkungan atau keluarga. Stressor dari luar klien tersebut
dapat berupa ketegangan peran, konflik peran, peran yang tidak jelas,
peran berlebihan, perkembangan transisi, situasi transisi peran dan peran
sehat-sakit. Stuart (2000) yang menyatakan bahwa seseorang dengan tipe
keperibadian introvert,menutup diri dari orang yang berarti dalam hidup
nya.
b. Sosial budaya
Sosial budaya merupakan ancaman terhadap system diri .ancaman terhadap
system dari merupakan ancaman terhadap identitas diri,harga diri,dan fungsi
integeritas .ancaman terhadap system diri berasal dari dua sumber yaitu ekternal
dan internal. Sumber ekternal dapat di sebabkan karena kehilanga orang yang
sangat di cintai karena kematian,perceraian,perubahan,setatus pekerjaan,dilemma
etik,ataupun tekanan sosialdan budaya.sedangkan sumber internaldi sebabkan
karena kesulitan membangun hubungan interpersonal di linkungan sekiar seperti
di lingkungan rumah atau di tempat krjadan ketidak mampuan menjalan kan peran
baru sebagai orang tua,pelajar atau pekerja.penelitian tentang faktor lingkungan
sebagai salah satu penyebab isolasi sosial menyimpulkan bahwa lingkungan
memiliki adil yang cukup besar terhadap timbul nya harga diri rendah pada klien
seperti lingkungan yang tidak kondusif dan selalu memojokan klien dan pada
akhir nya akan mempengaruhi aktifitas kelien termasuk hubungan dengan orang
lain.

3. Penilain Stressor
Model stress Adaptasi Stuart (2009) mengidentrigasikan data dari konsep
psikonalsis,interpersonal,prilaku,genetik dan biologis.berbagai konsep tersebut
akan menjelaskan tentang penilaian steresor terhadap seseorang terhadap respon
yang akan di timbulkan akibat mengalami harga diri rendah salah satu nya adalah
isolisasi sosial. Penilain terhadap stressor yang dialami klien dengan isolasi sosial
meliputi kognitif, afektif, fisiologis, perilaku dan sosial.
a. Kognitif
Stuart (2009) yang menyatakan bahwa faktor kognitif bertugas mencatat
kejadian stress full dan reaksi di timbulkan secara emosional,fisiologis,serta
perilaku dan reaksi sosial seseorang yang di tampilkan akibat kejadian stress full
dalam kehidupan selain memilih pola koping yang di gunakan.berdasarkan
penilaian tersebut klien dapat menilai ada nya sesuatu masalah sebagai ancaman
atau potensi. Kemampuan klien melakukan penilaian kognitif ini dipengaruhi oleh
persepsi klien, sikap terbuka individu terhadap adanya perubahan, dan
kemampuan untuk melakukan kontrol diri terhadap pengaruh lingkungan, serta
kemampuan menilai suatu masalah. Pada klien dengan isolasi soasial kemampuan
kognitif klien sangat terbatas klien lebih berfokus pada masalah bukan bagaimana
mencari alternatif pemecahan masalah yang dihadapi.

b. Afektif
Afektif Menurut stuart (2009) respon afektif terkait dengan ekspresi
emosi,mut.dan sikap. Respon afektif yang di tampilkan di pengaruhi
ketidakmampuan jangan panjang terhadap situasi yang membahayakan sehingga
mempengaruhi kecendrungan respon terhadap ancaman terhadap harga diri
klien.respon afektif pada klien isolasi sosial adalah perasaan putus
asa,sedih,kecewa,merasa tidak bahagi dan merasa tidak di perhatikan menurut
stuart dan laria (2005) perasaan yang di rasakan klien tersebut dapat
mengakibatkan menarik diri dari lingkungan sekitar.

c. Fisilogis
Menurut stuart (2009) respon fisiologis terkait dengan bagamana system
fisilogis tubuh berespon terhadap stressor,yang mengakibatkan perubahan
terhadap sisten neuroendokrin,dan hormonal.
Respon fisiologis merupakan respon neurobiologis yang bertujuan untuk
menyikapkan klien dalam mengatasi bahaya.perubahan yang di alami oleh klien
akan mempengaruhi neurobiologist untuk mencegah stimulus yang mengancam.
Setiap klien yang di lahirkan memiliki system saraf pusat yang sensitif terhadap
stimulus yang membahayakan.respon perilaku dan sosial yang di tampilkan klien
merupakan hasil belajar dari pengalaman sosial dan masa kanak kanak dan
dewasa khusus nya dalam mengahadapi berbagai stressor yang mengancam harga
diri klien

d. Perilaku
Adalah hasil dari respon emosional dan fisioligis respon perilaku isolasi sosial
teridentifikasi 3 perilaku yang maladiktif yang itu sering melamun,tidak mau
bergaul dengan klien lain tidak mau mengemukakan pendapat,mudah menyerah
dan ragu ragu dalam mengambil keputusan atau dalam melakukan tindakan

e. Sosial
Merupakan hasil perpaduan dari respon kognitif, afektif, fisiologis dan
perilaku yang akan mempengaruhi hubungan, atau interaksi dengan orang lain
respon perilaku dan sosial memperlihatkan bahwa klien dengan isolasi sosial lebih
banyak memberikan respon menghindar terhadap stressor yang di dalam
nya.respon negative yang di tampilkan merupakan akibat keterbatasan
kemampuan klien dalam melesaikan masalah dan keterbatasan klien dalam
melakukan penilaian terhadap stressor,sehingga klien memilih stressor bukan
sesuatu yang harus di hadapi atau di selesaikan.

4. Mekanisme Koping
Mekanisme koping yang bisa di gunakan adalah pertahanan koping dalam
jangka panjang serta penggunaan mekanisme pertahanan ego,Stuart (2009)
mengatakan pertahanan jangka pendek yang bisa di lakukan klien isolasi sosial
adalah lari sementara dari krisis,missal nya dengan bekerja keras,nonton televisi
secara terus menerus,melakukan kegiatan untuk mengganti identitas
sementara,missal nya ikut kelompok sosisal,keagamaan dan politik,kegiatan yang
member dukungan sementara,seperti mengikuti sesuatu kompetensi atau kontes
popularitas, kegiatan mencoba menghilangkan anti identitas sementara, seperti
penyalagunakan obat obatan. Jika mekanisme koping jangka pendek tidak
memberikan hasil yang diharapkan, individu akan mengembangkan mekanisme
jangka panjang antara lain menutup identitas, dimana klien terlalu cepat
mengadopsi identitas yang disenangi dari orang-orang yang berarti tanpa
mengindahkan hasrat, aspirasi atau potensi diri sendiri. Mekanisme pertahanan
ego yang sering digunakan adalah proyeksi, merendahkan orang lain, menghindari
dari interaksi sosial dan reaksi formasi (Stuart, 2009).

5. Sumber koping
Menurut Stuart (2009), sumber koping merupakan pilihan atau strategi
bantuan untuk memutuskan mengenai dapan apa yang di lakukan dalam
menghadapi suatu masalah.dalam menggapai stressor klien dapat menggunakan
berbagai sumber koping yang di milikinya baik internal atau eksterna
a. Kemampuan personal
Pada klien isolasi sosial kemampuan personal yang harus di miliki meliputi
kemampuan secara fisik dak mental kemampuan secara fisik teridentifikasi dari
kondisi fisik yang sehat kemampuan mental meliputi kemampuan
kognitif,afektif,perilaku dan sosial.kemampuan kognitif meliputi kemampuan
yang sudah ataupun yang belum di miliki klien didalam mengidentifikasi
masalah,menilai dan melesaikan masalah,sedangkan kemampuan afektif meliputi
kemampuan untuk meningkatkan konsep diri klien dan kemampuan perilaku
terkait dengan kemampuan melakukan tindakan yang adek kuat dalam
melesaikan stressor yang di alami.kurang nya dukungan,penghargaan dan
kesempatan untuk melatih kemampuan yang di miliki klien dari lingkungan
sekitar klien akan mengakibatkan rendah nya motivasi klien untuk melesaikan
masalah yang di hadapi, timbul nya rasa rendah diri yang pada akhir nya akan
mengakibatkan gangguan dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar.temuan
ini sesuai dengan pendapat yang di kemukakan oleh muslim (2001) bahwa gejala
negatif pada klien gangguan jiwa kronik adalah kurang tidak ada nya motivasi.

b. Dukungan social
Taylor dkk (2003) menyatakan bahwa dukungan sosial akan membantu klien
untuk meningkatkan pemahaman terhadap stressor dalam mencapai ketrampilan
yang efektif pendapat lain yang mendukung pernyataan di atas mengenai penting
nya dukungan sosial proses penyembuhan klien adalah pernyataan yang di
ungkapkan oleh Sarafino (2002), yang menyatakan bahwa dukungan sosial
merupakan perasaan caring penghargaan yang akan membantu klien untuk
mendapat menerima orang lain yang berasal dari keyakinan yang
berbeda.pendapat senada di uraikan oleh Tomaras,et.al.,(2001 dalam Keliat,
2003) yang menyatakan bahwa dukungan anggota keluarga di dalam membantu
merawat klien dengan skizofrenia akan mengurangi frekuensi kekambuhan klien
berdasarkan uraian di atas dapat di simpulkan bahwa dengan dukungan sosial
seseorang klien merasakan adanya cinta,penghargaan,membantu mencapai
keterampilan sosial dan koping yang adaktif serta yang terpenting adalah
membantu proses penyembuhan.
Sumber dukungan sosial pada klien isolasi sosial meliputi dukungan yang di
miliki klien baik yang di dapatkan dari keluarga,perawat maupun dari lingkungan
sekitar klien.dukungan yang di berikan dapat berupa dukungan fisik dan
psikologis. Dukungan fisik yang di pengaruhi di peroleh melalui dukungan
keterlibatkan aktif dari keluarga,perawat,dokter serta tenaga kesehatan lain nya
yang dapat membantu klien mengatasi masalah.menurut Stuart (2009) untuk
mampu memberikan dukungan sosial kepada klien dengan isolasi sosial keluarga
harus memiliki kemampuan seperti kemampuan mengenal masalah,menentukan
masalah dan melesaikan masalah kemampuan mengenal masalah tampak
pengetahuan keluarga tentang kondisi klien dan potensi yang di miliki keluarga
kemampuan menentukan masalah teridentifikasi dari kemampuan untuk
menentukan prioritas masalah sedangkan kemampuan melesaikan masalah
teridentifikasi kemampuan untuk menentukan prioritas masalah sedangkan
kemampuan melesaikan masalah teridentifikasi dari kemampuan melakukan
perawat baik terhadapa klien maupun anggota keluarga lain nya.dukungan dapat
di lakukan keluarga meliputi pencegahan tersier yaitu membantu memberikan
perawatan di rumah sesuai dengan konsep teori yang ada .

c. Aset material
Aset material yang dapat diperoleh meliputi dukungan financial, system
pembiayaan layanan kesehatan seperti asuransi keshtan ataupun program layanan
kesehtan bagi masyarakat miskin, kemudahan mendapatkan fasilitas dan layanan
kesehatan serta kerterjangkauan pembiayaan pelayanan kesehatan dan
ketersediaan sarana tranportasi untuk mencapai layanan kesehatan selama
dirumah sakit maupun setelah pulang. Material asset meliputi ketersediaan dana
ketidak mampuan klien dalam memenuhi asset material akan berpotensi
menimbulkan maslah akibat tidak optimal nya sumber koping yang di miliki.

d. Keyakinan positif
Keyakinan positip adalah keyakinan diri yang menimbulkan motipasi dalam
menyelesaikan sgala stressor yang dihadapi. Keyakinan positip diperoleh dari
keyakinan terhadap kemampuan diri dalam mengatasi ketidak mampuan klien
dalam berinteraksi dengan lingkungan skitar. Adanya kemampuan positif yang di
miliki klien akan memotifasi dan membantu klien untuk menggunakan kekanisme
koping yang adaktif, kegiatan spiritual seperti berdoa, mengikuti kegiatan
keagamaan yang ada merupakan salah satu mekanisme koping adaftip yang
dilakukan yang di lakukan oleh klien dalam menilai steresor yang dialami.
Kegiatan pemilihan spiritual dalam rangka menurunkan berbagai steresor tersebut
senada dengan penelitian yang dilakukan oleh Baldacchino (2001), yang
menyebutkan bahwa koping spiritual yang merupakan upaya yang menyelesaikan
masalah antara situmulus stress dan hasil negative yang dapat menyebabkan
timbul nya stress. Sebaliknya keyakinan negative semakin menimbulkan perilaku
maladiftif pada klien.

C. Daftar Masalah Keperwatan dan Data Yang perlu Di Kaji


1. Masalah keperawatan:
Dignosa keperawatan primer untuk respon sosial maladiftif ( NANDA),Stuar,
(2009)
a. Coping defensifve
b. Self-Eateem,chrome low
c. Self –Mutilation,risk for
d. Social intraction, impiaried
e. Violancie risk for self – directed or other-directed
f. Anxiety
g. Family processes, interrupted
h. Role performance,ineffecitive
i. Social isolation
2. Data yang perlu dikaji pada masalah keperawatan isolisasi sosial
Tanda dan gejala isolasi sosial dapat dinilai dari ungkapan pasien dan dukung
dengan hasil observasi.
a. Data subyektif , pasien mengungkapkan tentang
 Perasaan sepi
 Perasaan tidak aman
 Perasaan bosan dan waktu terasa lambat
 Ketidakmampuan berkonsenterasi
 Perasaan ditolak
b. Data obyektif
 Banyak diam
 Tidak mau bicara
 Menyendiri
 Tidak mau berinteraksi
 Tanpak sedih
 Ekpersi datar dan dangkal
 Kontak mata kurang

D. Pohon Masalah
Menurut Keliat dkk (2001) pohon masalah isolisasi sosial adalah sebagai berikut :

Resiko gangguan sensori persepsi: halusinasi

Isolasi sosial

Harga diri rendah

Tidak efektifnya koping individu, koping defensive

E. Diagnosis
1. Diagnosis keperawatan : isolasi sosial
2. Diagnosis medis : skizofrenia

F. Rencana Tindakan Keperawatan


No Diagnose Tujuan Intervensi
keperawaan
Isolasi sosial 1. Membina Pertemuan 1
hubungan saling 1. Identifikasi penyebab
percaya isolasi sosial : siapa
2. Dapat yang serumah, siapa
mengidentifikasi yang dekat, dan apa
isolasi sosial sebabnya
:siapa yang 2. Jelaskan kuntungan
serumah, siapa punya teman dan
yang dekat, dan bercakap- cakap
apa sebabnya 3. Jelaskan kerugian tidak
3. Dapat punya teman dan tidak
memberitahukan bercakap-cakap
kepada klien 4. Latih cara berkenalan
keuntungan dengan pasien, perawat,
punya teman dan tamu
dan bercakap- 5. Masukan pada jadual
cakap kegiatan untuk latihan
4. Dapat berkenalan
Memberitahuka
n kepada klien
kerugian tidak
punya temn dan
tidak bercakap-
cakap

5. Klien dapat
berkenalan
degan pesien,
perwat, dan
tamu
1. Klien dapat Pertemuan ke 2
berbicara saat
melakikan 1. Evaluasi kegiatan
kegiatan harian berkenalan dengan
2. Klien dapat beberapa orang.beri
berkrnalan pujian
dengan 2-3 2. Lati cara berbicara saat
orang pasien, melakukan kegiatan
perawat dan harian ( latih 2
tamu kegiatan )
3. Masukan pada jadwal
kegiatan untuk latihan
berkenalan dengan 2-3
orang pasien, perawat
dan tamu , berbicara
saat melakukan
kegiatan harian

1. Klien dapat Pertemuan ke 3


berbicara saat
melakuakan 1. Evaluasi kegiatan,
kegiatan harian latihan berkenalan
2. Klien dapat (beberapa orang ) dan
berkenalan dengan bicara saat melakukan
4-5 duaan kegiatan
orang,berbicara harian.berikan pujian
saat melakuakan 2 2. Lati cara berbicara saat
kegiatan harian melakukan kegiatan
harian ( 2 kegiatn baru)
3. Masukan dalam jadwal
kegiatan harian untuk
latihan berkenalan 4-5
orang,berbicara saat
melakukan 4 kegiatan
latihan

1. klien dapat Pertemuan ke 4


berbicra sosial :
meminta 1. evaluasi kegitan latihan
sesuatu,menjaw berkenalan, bicara saat
ap pertanyaan melakukan empat
2. klien dapat kegiatan harian.
berkenalan Berikan pujian
dengan >5 2. latihan bicara sosial:
orang, orang meminta
baru, berbicara sesuatu,menjawab
saat melakukan pertanyaaan
kegiatan harian 3. masukan pada jadwal
sosialisasi kegiatan untuk latihan
berkenalan >5orang,
orang baru berbicara
saat melakukan
kegiatan harian dan
sosialisai

1. klien dapat Pertemuan ke 5-12


mandiri dalam
berkenalan, 1. evaluasi kegiatan
berbicara saat latihan berkenalan,
melakukan berbicara saat
kegiatan harian melakukan kegiatan
dan sosialisai harian dan sosialisai
beri pujian
2. latihan kegiatan latihan
3. Nilai kemampuan yang
telah mandiri
4. Nilai apakah isolisasi
sosial teratasi
BAHAN BACAAN

Amir, N. (2005). Depresi : Aspek Neurobiologi Diagnosis dan Tatalaksana. Jakarta : Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.

Emery, R.E., & Oltmanns, T.F. (2000). Essentials of Abnormal Psychology. New Jersey :
Prentice-Hall, Inc.

FIK-UI, (2014). Standar Asuhan Keperawatan: Spesialis Keperawatan Jiwa, Workshop Ke-7,
Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia, Jakarta.

Keliat, B,A, dkk. (2005). Modul Basic Course Community Mental Health Nursing.
Kerjasama FIK UI dan WHO.

Stuart, G.W>& Laraia, M.T. (2005). Principles and Practice of Psychiatrich Nursing, 8 ed.
Missouri: Mosby, Inc.

Townsend, M.C (2009). Psychiatrich Mental Health Nursing Concepts Of Care in Evidence-
Based Practice. 6 ed. Philadelphia: F.A Davis Company.

Videbeck, S.L. (2008). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC.

Wardani, Keliat, dan Mustikasari. (2003). Karakteristerik Klien yang Dirawat di Ruang
Model Praktik Keperawatan Profesional Rumah Sakit Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor.
Makara, Kesehatan, 7 (1).
LAPORAN PENDAHULUAN

A . Masalah utama : Resiko Bunuh diri

1. Pengertian bunuh diri


a. Bunuh diri di definisikan oleh Herdman (2015) sebagai tin dakan yang
secara adar dilakukan oleh klien untuk mengakhiri kehidupannya .
b. Bunuh diri merupakan suatu sindrome yang merupakan manifestasi dari
trauma psikologis yang sangat dalam , tidak mempunyai harapan , dan
harapan yang rendah untuk mendapatkan pertolongan terhadappenderitaan
yang di alami (Brendel et al dalam Varcolish & Heatler , 2008) .
c. Bunuh diri adalah tindakan sengaja membunuh diri sendiri . Menyakiti diri
adalah istilah lebih luas mengacu pada disengaja keracunan diri sendiri
secara sengaja atau cidera , yang mungkin tidak memiliki niat fatal atau
hasil (WHO, 2014) .
d. Bunuh diri adalah penyebab ke empat kematian untuk usia 25 -24 , dan
penyebab utama kematian bagi individu usia 45-46 (Townsend, 2004) .
e. Bunuh diri adalah penyebeb ke 10 kematian , jumlah lebih banya dari
pembunuh , yang merupakan 15 penyebab utama kematian di America
serikat (American Asociation of psikologi) (dalam Stuart, 2013).

2. Kategori bunuh diri , ( Stuart ,2007 )


a. Bunuh diri langsung
b. Adalah tindakan yg di sadari dn di sengaja untk mengakhiri hidup seperti
pengorbanan diri membakar diri , menggantung diri , melompat dari
ketinggian . dll
c. Bunuh diri tidak langsung
d. Adalah keinginan tersediri yang tersembunyi yang tidak di sadari untuk
mati , yang di tandai dengan prilaku kronis beresiko seperti penyalah
gunaan zat , makannan berlebihan , aktivitas sex bebas , ketidak patuhan
terhadap program medis , atau olah raga dan pekerjaan yang
membahayakan .
3. Prilaku resiko bunuh diri
Menurut (Stuart, 2013) prilaku bunuh diri di bagi kedalam ide bunuh diri ,
ancaman bunuh diri , percobaan bunuh diri , dan bunuh diri .
a. Ide bunuh diri
Adalah pemikiran untuk melakukan bunuh diri .
b. Ancaman bunuh diri
Adalah peringatan langsung atau tidak langsung verbal ataw nn verbal
bahwa seseorang berencana mengakhiri hidupnya .
c. Percobaan bunuh diri
Semua tindakan terhadap diri sendiri yang dapat menyebabkan
kematian , jika tidak di cegah .
d. Bunuh diri
Upaya tindakan bunuh diri yang akan menyebabkan kematian jika
tidak di temukan tepat waktunya .

4. Jenis bunuh diri


a. Bunuh diri egoisti adalah karna kekecewaan terhadap masyarakat ,
maka ia meninggalkan masyarakat itu .
b. Bunuh diri altruistik adalah bunuh diri demi orang lain ataw
membersihkan kesalahannya .
c. Bunuh diri anomik adalah bunuh diri dalam keadaaan masyarakat yng
kacau ( tidak ada hukuman , pegangan agama menurun , dukungan
sosial tidak ada ).

5. Skala
a. SKALA INTENSITAS BUNUH DIRI ( S I R S )
1. Skore 0 .
Tidak ada ide bunuh diri yang lalu dn sekarang .
2. Skor 1 :
Adaide bunuh diri , tidak ada percobaan bunuh diri , tidak mengancam
bnuh diri
3. Skor 2 :
Memikirkan bunuh diri dengan aktiv , tidak ada percobaan bunh diri .
4. Skor 3
Misal tinggalkan saya ataw saya bunuh diri .
5. Skor 4
Aktiv mencoba bunuh diri .

b. SAD PERSONES SCALE


a. Sex ( laki –laki )
b. Usia lebih muda dari 19 atu usi lebih tua dari 45 tahun .
c. Depresi ( cukup parah untuk di anggap sifnifikan secara klinis
d. Mencoba bunuh diri sebelumnya ataw menerima layanan kesehatan .
e. Alkohol Berlebihan atau penggunaan narkoba .
f. Berpikir rasional hilng terpisah , bercerai ataw janda ( atau orang lain
akhir dari hubungan yang signifikan .
g. Renncana bunuh diri terorganisir atau ATTEMP SERIUS tidak ada atau
sedikit dukungan sosial penyakit kronis ataw penyakit medis .

6. Rentang Respon
CONTINEW OF SELF-PROTECTIVE RESPONSEN

Adaptif responses Maladaptif responses

Self enchancemen growth promoting indirect self


self-injuri suicide

1. Peningkatan diri
Seorang dapat meningkatkan proteksi ataw pertahanan diri secara
wajar terhadap situasional yng membutuhkan pertahanan diri . ex ;
seorang mempertahankan diri dari pendapatannya yang berbeda
mengenai loyalitas terhadap pimpinan di tempat kerjanya.
2. Pengambilan resiko yang meningkatkan pertumbuhan
Seorang memiliki kecenderungan ataw beresiko mengalami prilaku
destruktif atau menyalahkan diri sendiri terhadap situasi yang
seharusnya dapt mempertahankan diri , seperti seseorang patah
sengangat bekerja ketika dirinya di anggap didak loysl teradap
pimpinan padahal ia sudah melakukan pekerjaan secara optimal .
3. Destruktif diri secara tidak langsung .
Seseorang telah mengambil sikap yang tidak tepat (maladaptif)
terhadap situasi yang membutuhkan dirinya untuk mempertahankan
diri . misal karna pandangan pimpinan terhadap dirinya yang tidak
loyal , maka seorang karyawan menjadi tiak masuk kantor ataw
bekerja senaknya dan tidk optimal .
4. Pencederaan diri
Seorang melakukan penederaan diri atw percobaan bunuh diri
akibatnya hilangnya harapan terhadap situasi yang ada .
5. Bunuh diri
Seorang telah melakukan kegiatan bunuh diri sampai dengan
nyawanya hilang .

7. MITOS dan FAKTA Resiko bunuh diri


MITOS
a. Orang orang yang bicara bunuh diri mereka tidak bunuh diri , bunuh
diri terjadi tanpa peringatan .
b. Bunuh diri tidak dapan ti hentikan dia sepenuhnya berniat berniat mati
.
c. Semua orang bunuh diri adalah gangguan jiwa , dan bunuh diri adalh
tindakan orang psikotik .
d. Ancaman bunuh diri merupakan upaya untuk mengambil perhatian dan
tidak perlu di ambil serius .
e. Orang 2 biasanya melakukan bunuh diri dengan overdosis obat .
f. Jika orang telah melakukan percobaan bunuhdiri dia tidak akan
melakukannya lagi

FAKTA

a. Delapan dari sepuluh orang yang bunuh diri mereka telah


memberikan petunjuk yang pasti dari peringatan tentang niat buruk
mereka .
b. Orsng ysng ingin bunuh diri hanya ingin bunuh diri dalam waktu yang
terbatas .
c. Bunuh diri tidak di wariskan .
d. Orang ynag ingin bunuh diri mereka tidak selal psikotik , mereka
hanya tidak Mendapatkan solusi dari masalahnya .
e. Luka tembak adalah penyebab utama dari kematian korban bunuh diri
.
f. Antara 50 dan 80 dari semua orang yang bunuh diri memiliki sejarah
sebelumnya .

Fakta menurut WHO, 2014


a. Lebih dari 800.000 meninggal akibat bunuh diri setiap tahun .
b. Bunuh diri adalah penyebab utama dari kematian ke 2 di antarar usia 15-29
tahun .
c. Untuk setiap bunuh diri adda lebih banyak mencoba bunuh diri setiap tahun
.
d. Minuman pesstisida menggantung dan senjata api metode yg paling umum
dari bunuh diri secara global .

B . Proses Terjadinya Masalah


1. Faktor predisposisi
a. Teori genetik dan biologis
1 . Genetik
Prilaku bunuhdiri menurut Shadock dan Shadock (2011) serta Varcarolis dan
Hitler ( 2010 ) merupakan sesuatu yang di turunkan dalam keluarga kembar
monozigot memiliki reriko dalam melakukan bunuh diri Stuart (2011) :
Videback, 2011.
2 . Hubungan neurokimia
Nourotransmiter adalah zat kimia dalam otak dari sel ke saraf , peningkatan
dan penurunan neuro transmiter mengakibatkan perubahan pada prilaku .
Neurotrasmiter yg yang di kaitkan dengan prilaku bunuh diri adalah dopamine
, neuroepineprin , asetil koln dan asam amino, dan gaba Stuart 2011,
Videback, 2011 .
3 . Diagnosis psikiatri
Lebih dari 90 % orang dewasa yg mengahiri hidupnya dengan bunuh diri
mengalami gangguan jiwa . 4 gangguan jiwa yang beriko menimbulkan
individu untuk bunuh diri adalah gangguan modd , penyalah gunaan zat ,
skizofrenia , dan gangguan kecemasan (Stuart, 2013) .

b . Faktor psikologi
1) Kebencian terhadap diri sendiri
Bunuh diri merupakan hasil dari bentuk penyerangan ataw kemarahan
terhaapp orang lain yang tidsk di trima dan di mannifestasikan atau di
tunjuksn pada diri sendiri (Stuart, 2011 dan Videbeck, 2011 &
Varcholis & Hitler, 2010).
2) Ciri kepribadian
Keempat aspek kepribadian yg terkait dengan peningkatan resiko
bunuh diri adalah permusuhan , impulsif depresi dn putus asa (Stuart,
2013) .

3) Teori psikodinamika
Menyatakan bahwa depresi kaarna kehilangan suatu yang di cintai ,
raka keputus asaan , kesepian , dan kehilangan harga diri (Shadock,
2011). Bunuh diri merupakan suatu cara mengakhiri satu rasa sakit
ynag di rasakan (Fortinash & Worret, 2004).

c. Faktor Soaial Budaya


1) Beberapa faktor yang mengarah kepada bunuh diri adalah kemisknan dan
ketikmampuan memenuhi kebutuhan ,dasar , pernikahan yang hancur ,
keluarga dengan orang tua tunggal (Towsend, 2009) .
2) Faktor budaya yang di dalmanya adalh faktor spiritual , nilai yang di anut
olehkeluarga , pandangsn teerhadap prilaku yang menyebabkan kematian
, berdampak pada angka jejadian bunuh diri (Karch et al, 2008 dalam
Varcorolish & Hitler, 2010).
3) Kehilangan , kurangnya dukungan sosIal dan peristiwa kehidupan yang
negativ , dan penyakit fisik kronish . Baru baru ini perpisahan perceraian
dan penurunan dukungan sosial merupakan faktor penting dengan
berhubungan dengan resiko bunuh diri (Stuart, 2013).

2. Faktor prepitasi ( Stuart, 2009)


a) Akibat stres berlebihan yang di alami individu
b) Masalah interpresonal
c) Kehilangan pekerjaan
d) Ancaman pengurungan
e) Dipermalukan di depan umum

3. Penilaian stresor
Upaya bunuh diritidak mungkin di prediksi di setiap tingkat yang bermakna .
oleh krna itu perawat harus mengkaji faktor resiko bunuh diri yanng di ketahui
pada setiap indifidu dan menen tukan makana setiap elemen ini terhadap
potensi bunuh diri (Stuart, 2006) .
4. Mekanism koping
Seorang pasien dapat mengunakan berbagai mekanisme kopi yang untung
mengatasi prilaku yang merusak diri sendiri . ermasuk penyangkalan ,
rasionalisasi , regresi dan pemikiran magis (Stuart, 2013).

5. Sumber koping
a) seorang dapat mengatasi resiko bunuh diri dengan menggunakan
sumber koping nternal dan external yang tersedia (Stuart, 2011) .
sumberkoping terdiri dari kemempun personal dan dukungan sosial,
aset mtrial dan keyakinan (Stuart, 2011, Videbeck, 2011) .

b) Kemampuan scara fisik teridentifikasi dari kondisi fisik yang sehat .


meliputi kemampuan kognitif afektif dan , perilaku sosisal . seluruh
emampuan ini di gunakan dalam rangka mengontrol kondisi resiko
bunuh diri yang di rasakan oleh klien (Stuart, 2011).
Sumber dukungan sosial pada klien dengan resiko bunuh diri meliputi
dukungan dlam membantu klien mengontrol perasaan sedih yang
berkepanjangan . Dukungan yang di berikan dapat berupa dukungan
fisik dan psikologis . dukungan fisik diporoleh dari keterlibatan aktiv
keluarga , dalam mengontrol perasaan klien .

c) Aset material yang dapat diperleh kien dengan resiko bunuh diri
meliputi dukungan finansial yang membantu perawatan klien di rumah
sakit . tidk terpenuhi aset matrial seperti penghsilan kurang sulit
memperoleh layanan kesehatan , tidak memiliki pekerjaan akan
berpoensi menimbulkan resiko bunuh diri , akibat tidak optimalnay
sumberkoping yang di miliki oleh klien .

d) Keyakinan positif pada klien dengan resiko bunuh diri diperoleh dari
keyakinan klien terhadap kondisi kesehatan dan kemempuan diri dalam
mengontrol perasan sedih berkepanjangan yang di rasakan . Adanya
keyakinan yangg positif akan berpotensi meningkatkan motivasi klien
untuk menggunakan mekanisme koping yang adaptif . Sebaliknya
keyakinan yang negatif akan meningkatkan resiko bunuh diri yang di
alami oleh klien dan jelas akan menimbulkan prilaku maladaptifpada
klien . pada klien dengan resiko bunuhn diri umumnya tidak memiliki
kemampuan untuk membuat keputusan secara rsional . orang dengan
resiko bunuh diri cenderung menghindar (Stuart, 2011, Videbeck,
2011, Sadoc & Sadock, 2010).

C. Daftar Masalah dan Data yang Perlu dikaji

Daftar Masalah, Stuart, ( 2009 )

a) Resiko prilaku kekerasan terhadap diri


b) Resiko bunuh diri
c) Ketidak patuhan
d) Mutilasi diri
e) Ketidak berdayaan
f) Keputusasaan
g) Kecemasan
h) Koping individu in efektik
i) Haarga diri kronik

3. Data yang perlu dikaji


Tanda dan gejala resiko bunuh diri dapa di nilai dari ungkapan pasien yang
menunjukan keinginan atw ppikiran untuk mengakhiri hidup dan didukung
dengan data hasil wawancara dan observasi .
a. Data subjektif
Pasien mengungkapkan tantangan :
1) Merassa hidup tak berguna lagi
2) Ingin mati
3) Pernah mencoba bunuh diri
4) Mengancam bunuh diri
5) Merasa bersalah / sedih , marah , putus asa , tidak berdaya .
b. Data objectiv
1) Expresi murung
2) Tak bergairah banyak diam
3) Ada bekas percobaan bunuh diri (Kemenkes, 2012) .

D. Pohon Masalah

RESIKO BUNUH DIRI

KETIDAK BERDAYAAN

KEPUTUS ASAAN

HARGADIRI RENDAH KRONIS


E. Diagnosa Keperawatan : Resiko Bunuh Diri

Diagnosis Medis : Depresi

F. Rencana Tindakan Keperawatan

Diagnosa Keperawatan SP/ kemempuan klien SP / KELUARGA

Resiko bunuh diri SP 1 : SP 1 :


1. Idententifikasi beratnya 1. Diskusikan masalah
masalah resiko bunuh diri , yang di rasakan dalam
isyarat , ancaman , merawat pasien .
percobaan ( jika percobaan 2. Jelaskan pengertian ,
segera di rujuk ) tanda dan gejala proses
2. Identifikasi benda benda terjadinya bunuh diri
berbhay dan 3. Jelaskan cara merawt
mengamankannya ( resiko bunuh diri .
lingkungan aman untuk 4. Latih cara
pasien ) . memberikan hal positif
3. Latih cara mengendalikan pasien , memberi
diri dari dorongan bunuh diri dukungan pencapaian
: buat daftar aspek positif dukungan di massa
diri sendiri , latian afirmasi / depan .
berfikir positif yang demiliki SP 2 :
4. Masukan pada jadwal positif 1. Evaluasi kegiatan
5 kali /perhari . keluarga dalam
5. SP 2 : memberikan pjian dan
6. Evaluasi kegiatan berfikir penghargaan atas
positif tentang diri sendiri , keberhasilan dan aspek
beri pujian kaji ulang resiko positif pasien . keluarga
bunuh diri . . beri pijian
7. Latih cara mengendalikan 2. Latih cara
diri dari dorongan bunuh diri memberikan
: buat aspek daftar keluarga penghargaan pada
dan ling kungan , latih pasien dan menciptakan
afirmasi positif kelurga dan suasana positf dan
lingkungan . keluarga tidak
8. Masukan jadwal berfikir membicarakan anggota
positif tentang diri , keluarga .
keluaarga dan lngkungan . 3. Anjurkan membantu
SP 3 : pasien sesui jadwal dan
1. Evaluasi kegiatan berfkir memberi pujian .
positif tentang , keluarga dan
lingkngan . beri pujian dan kaji SP 3 :
resiko bunuh diri . 1. Evaluasi kegiatan
2. Diskusikan harapan dan keluarga dalam
masa depan . memberikan pujian dan
3. Diskisikan caara mencapai penghargaaan pada
harapan dan masadepan pasien serta
4. Latih cara mencapai menciptakan suasana
haarapan dan masa depan secara positif dalam keluarga .
bertahap . beri pujian .
5. Masukan pada jadwal latihan 2. Bersama keluarga
berfikir positif , tentang diri , pasien mendiskusikan
keluarga dan lingkungan tentang harapan
kegiatan yang di pilih . masadepan sera langkah
SP 4 : langkah mencapainya .
1. Evaluasi kegiatan berfikir 3. Anjurkan untuk
positif tentang diri , keluarga membantu pasien sesuai
dan lingkungan serta kegiatan jadual dan berikan
yang di pilih beri pujian . pujian .
2. Latih tahap kedua kegiatan
mencapai masa depan .
3. Masukan jadwal pada latihn
berfikir positif , pada diri
keluarga serta kegiatan yang di
pilih untuk persiapan masadepan
.
SP 5 s.d 12 :
1. Evaluasi kegiatan latihan
peningkatan positif diri keluarga
dan lingkungan beri pujiana .
2. Evaluasi tahap kegiatan
dalam mencapai massadepan
3. Latihan kegiatan harian
4. Nilai kemampuan yang telah
mandiri .
5. Nilai apakah resiko bnuh diri
teratasi .

G . Intervensi Spesialis

a. Terapi individu terapi CBT


b. Terapikelompok : logoterapi terapi suportif
c. Terapi keluarga : Terapi komunikasi
d. Terapi komunitas : Asertive comunitive therapy (SAK FIK-UI, 2014 ) .
BAHAN BACAAN

American Phicitry Acociation (2012). Definition of a Mental Disoder. www


diakses tanggal 24 mei 2012
Depkes (2011). Program Kesehatan Jiwa. www. Depkes go.id akses pada
tanggal 23 mei 2013 .
Fortaine , Kl ( 2009 ) . Mental Health Nursing. (6th ed.). New Jersey : person
Education, Inc .
Frisch, N.C & Frinsch, L.E (2006). Psychiatric Mental Healt Nursing. (3rd ed
). Canada : Thomson .
NANDA International ( 2012 ) DIAGNOSA Keperawatan definisi dan
klasifikasi 2012-2014, jakarta : egc .
Sadock, B.J & Sadock V.A 2010 Kaplan & Sadock : Buku Ajar Psikiatri
Klinis (edisi 2). Jakarta: EGC
Shives R.L (2005). Basic Concepts of Psychiatric-Mental Health Nursing. (6th
ed.). Philadelphia. Lippinocott Williams dan Wilkins.
Stuart, G.W. Princles and Practice of Psychiatric Nursing, 10th edition,
Elsevier Mosby, St. Louis
Townsend C.M. (2009). Psychiatric Mental Health Nursing. (6th ed).
Philadelphia; F.A. Davis Company
Towsend, M.C. (2014). Psychiatric Mental Nursing Concepts of Care in
Evidence-based Practice, 6th ed. Philadelphia; F.A. Davis Company.
Varcarolis, E.M. dan halter, M.J (2010). Foundation of Psychiatric Mental
Health Nursing : A Clinical Approach. St. Louis : Saunders Elsevier.
Varcarolis, E.M. et al. (2006). Foundation of Psychiatric Mental Health
Nursing. 4th ed St Louis. Elseiver inc.
Videbeck, S.L..(2011). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. (Renata Komalasari,
dkk, penerjemah). Jakarta :EGC.
WHO. (2014). Fact Sheet Suicide. diakses pada September 2014.
LAPORAN PENDAHULUAN

A. Masalah Utama: Resiko Perilaku Kekerasan


1. Pengertian Perilaku Kekerasan
a. Resiko perilaku kekerasan adalah suatu bentuk prilaku maupun bertujuan melukai
seseorang, baik secara fisik maupun psikologis (Keliat, 2010).
b. American Psychological Association (2006 dalam Townsend, 2009) mengemukakan
bahwa kekerasan/kemarahan adalah keadaan emosional yang bervariasi dalam
intensitas ringan hingga kemarahan yang intens (berat), hal ini disertai dengan
perubahan fisiologis dan biologis, seperti peningkatan denyut jantung, tekanan darah
dan kadar hormone epinerphrine dan norepinerphine.
c. Stuart, (2009) mengemukakan perilaku agresif adalah suatu kondisi dimana seseorang
mengabaikan hak orang lain, dia menganggap bahwa harus berjuang untuk
kepentingannya dan mengharapkan perilaku yang sama dari orang lain, bagi dia hidup
adalah pertempuran yang dapat mengakibatkan kekerasan fisik atau verbal, perilaku
agresif sering terjadi akibat kurang kepercayaan diri.
d. Perilaku agresif adalah suatu fenomena komplek yang dapat terjadi pada klien dengan
skizoprenia, gangguan mood, gangguan kepribadian borderline, gangguan perilaku
dan ketergantungan obat (Fontaine, 2009).
e. Perilaku kekerasan didefinisikan sebagai tindakan kekuatan fisik dimaksudkan untuk
menyebabkan kerugian bagi seseorang atau obyek, agresif dan perilaku kekerasan
merupakan sebuah rentang kontinum dari perilaku yang mencurigakan kepada
tindakan ekstrim yang mengancam keselamatan orang lain atau mengakibatkan
cidera atau kematian (Herper & Reimer, 1992 dalam Videback, 2008).
f. Resiko perilaku kekerasan merupakan perilaku yang memperlihatkan individu
tersebut dapat mengancam secara fisik, emosional dan atau seksual kepada orang lain
(NANDA-I, 20012-2014, Herdman, 2012)
Dari semua pertanyaan diatas maka perilaku kekerasan atau agresif dapat
didefisinikan sebagai perilaku mencederai orang lain, diri sendiri dan lingkungan
yang bervariasi dari intensitas ringan sampai berat/ intens, dilakukan baik secara
verbal, fisik, dan emosional yang akan mengakibatkan perusakan harta benda,
perampasan hak, kerugian dan bahkan kematian.

2. Tahapan Resiko Perilaku Kekerasan


Tahapan perilaku agresif atau resiko perilaku kekerasan: (Fontaine, 2009)
a. Tahap 1: Tahap memicu
Perasaan : Kecemasan
Perilaku : Agitasi, mondar-mandir, menghindari kontak
Tindakan perawat: Mengidentifikasi factor pemicu, mengurangi kecemasan,
memecahkan masalah bila memungkinkan.

b. Tahap 2: Tahap Transisi


Perasaan : Marah
Perilaku : Agitasi meningkat
Tindakan perawat : Jangan tangani marah dengan amarah, menjaga pembicaraan,
menetapkan batas dan memberikan pengarahan, mengajak kompromi, mencari
dampak agitasi; meminta bantuan.

c. Tahap 3: Krisis
Perasaan : Peningkatan kemarahan dan agresi
Perilaku : Agitasi, gerakan mengancam, menyerang orang disekitar,
berkata kotor; berteriak
Tindakan perawat : Lanjutkan intervensi tahap 2, dalam menjaga jarak pribadi,
hangat (tidak mengancam) konsekuensi, cobalah untuk menjaga komunikasi

d. Tahap 4: Perilaku merusak


Perasaan : Marah
Perilaku : Menyerang; merusak
Tindakan perawat : Lindungi klien lain, menghindar, melakukan pengekangan
fisik

e. Tahap 5: Tahap lanjut


Perasaan : Agresi
Perilaku : Menghentikan perilaku terang-terangan destruktif,
pengurangan tingkat gairah
Tindakan perawat : Tetap waspada karena perilaku kekerasan baru masih
memungkinkan, hindari pembalasan atau balas dendam

f. Tahap 6: Tahap peralihan


Perasaan : Marah
Perilaku : Agitasi, mondar-mandir
Tindakan perawat : Lanjutkan fokus mengatasi masalah utama

3. Rentang Respon Resiko Perilaku Kekerasaan


Perilaku kekerasaan merupakan respon kemarahan. Respon kemarahan dapat
berfluktrusi dalam rentan adaptif sampai maladaptif (Keliat & Siaga, 1991). Rntan
respon marah menurut Stuart dan Sundeen (1995) dijelaskan dalam skema 2.2 dimana
agresif dan amuk (perilaku kekerasan) berada pada rentan respon yang maladaptif.

Skema 2.2 rentang respon marah menurut Stuart dan Sudden (1995)

Respon adaptif Respon


maladaptif

asertif
pasif frustasi agresif amuk

a. Asertif
Prilaku asertif adalah menyampaikan suatu persaan diri dengan paasti dan merupakan
komunikasi untuk menghormati orang lain . individu yang asertif berbicara dengan
jujur dan jelas. Mereka dapat melihat normal dari individu lainnya dengantepat sesuai
dengan setuasi pada saat berbicara kontak mata langsung tapi tidak
mengganggu,intonasi sura dalam berbicara tidak mengancam ,postur tegak dan santai,
kesan keseluruhan adalah bahwa individu tersebut kuat tapi tidak mengancam.
Permintaan masukan yang positif juga termasuk perilaku asertif ( Stuart & Laraia,
2005; Stuart, 2009).
b. Pasif
Individu yang sering pasif sering menyampaikan haknya dari persepsinya terhadap
hak orang lain. Ketika seseorang yang pasif marah makan dia akan berusaha menutupi
kemarahannya sehingga meningkatkan tekanan pada dirinya (Stuart & Laraia, 2005;
Stuart, 2009). Perilaku pasif dapat diekspresikan secara nonverbal, seseorang yang
pasif biasanya bicara pelan, sering dengan cara kekanak-kanakan dan kontak mata
yang sedikit. Individu tersebut mungkin dalam posisi membungkuk, tangan
memegang tubuh dengan dekat (Stuart, 2009).
c. Frustasi
Frustasi adalah respon yang terjadi akibat gagal mencapai tujuan yang kurang realistis
atau hambatan dalam mencapai tujuan (Stuart & Laraia, 2005). Frustasi adalah
kegagalan individu dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Frustasi akan bertambah
berat jika keinginan yang tidak tercapai memiliki nilai yang tinggi dalam kehidupan
(Keliat & Sinaga, 1991).
d. Agresif
Individu yang agresif tidak menghargai hak orang lain. Individu harus merasa
bersaing untuk mendapatkan apa yang diinginkanya seorang yang agresif didalam
hidupnya selalu mengarah pada kekerasan fisik dan perbal .berlaku agresif pada
dasarnya disebabkan karena menutupi kurangnya rasa percaya diri (Bushman &
Baumeister, 1998 dalam Stuart & Laraia, 2005; Stuart, 2009) prilaku agresif juga
ditunjukkan secara non perbal,seseorang yangagresif melanggar batas orang lain
,bicaranya keras dan lantang,biasanya kontak mata yang berlebihan dan mengganggu,
postur kaku dan tanpak mengancam (Stuart, 2009).
e. Amuk
Amuk atau prilaku kekerasan adalah perasaan marah dan permusuhan yang kuat dan
disertai kehilangan control diri sehingga individu dapat merusak diri,orang lain dan
lingkungan (melihat Keliat & Sinaga, 1991). Menurut Stuart dan Laraia (2009)
prilaku kekerasan berplukstuasi dari tingkat rendah sampai tinggi yaiyu yang disebut
dengan hirarki prilaku agresi dan kekerasan (gambar 2.1 )
Gambar 2.1 hirarki prilaku pada klien dengan prilaku kekerasan

Tinggi Melukai dalam tingkat serius dan berbahaya

Melukai dalam tingkat tidak berbahaya

mengucapkan kata kata ancaman dengan rencana melukai

Menyentuh orang laindengan cara menakutkan

Mengucapkan kata kata ancaman tanpa melukai

Mendekati orang lain dengan ancaman

Bicara keras dan menuntut

Rendah Memperlihatkan permusuhan pada tingkat rendah

Berdasarkan gambar diatas dapat diketahui bahwa prilaku kekerasan mempunyai


tingkatberdasarkan perilakunya mulai dari yangterendah yaitu memperlihatkan
permusuhan pada tingkat rendah sampai pada tingkatan yang tertiggi yaitu melukai
dalam tingkat serius dan membahayakan.

B. Proses Terjadinya Masalah


Prilaku kekerasan merupakan salah satu respon mal akdatif dari marah .
Marah adalah emosi yang kuat;ketika di tolak atau dipendam dapat memicu masalah
fisik seperti sakit kepala migren ,ulcer,radang usus bahkan penyakit jantung koroner.
Marah dapat merubah menjadi kebencian yang sering dimanifestasikan dengan
prilaku diri yangnegatif dari pasif sampai agresif (Townsend, 2009).

Kemarahan terjadi ketika individu mengalami prustasi,terluka atau takut (Videback,


2008). Kesulitan dalam jiwa (Kohkim & Park, 2002 dalam Videback, 2008). Perilaku
kekerasan adalah akibat dari kemarahan yang ekstrim atau ketakutan (panic) alas an
khusus dari prilaku agresif berfariasi dari setiap orang (Stuart & Laraia, 2005; Stuart,
2009).

Penyebab kemarahan atau resiko prilaku kekerasan secara umum adalah : kebutuhan
yang tidak menyinggung harga diri dan harapan tidak sesuai dengan kenyataan .model
stress adaftasi stuart dari keperawatan jiwa memandang prilaku manusia dalam
perspektif yang holistic terdiri atas biologis,psikologis dan sosio cultural dan aspek
aspek tersebut saling berintegrasi dalam keperawatan komponen biopsikososial dari
model tersebut termasuk dalam factor predisposisi,presipitasi,penilaian terhadap
stressor,sumber koping dan mekanisme koping (Stuart & Laraia, 2005; Stuart, 2009).
Menurut Stuart (2009), masalah prilaku kekerasan dapat dijelaskan dengan
menggunakan psikodinamika masalah keperawatan jiwa seperti sekema 2.1 dibawah
ini.

……...........……… Faktor presdiposisi ……………….…

Biologis psikososial sosialkultural

Stressor presipitasi

Nature origin Timing Number

Penilaian terhadap stressor

Kognitif afektif fisiologis prilaku social

Sumber koping

Kemampuan person dukungan social asset material keyakinan


positif

Mekanisme koping

Konstruktif destruktif

Rentang respon koping

……………………………………………………..
...........…………………

Respon adaptif Respon maladatif


1. Faktor Predisposisi
a. Faktor Biologi
Faktor biologi secara alami dapat menjadi salah satu faktor penyebab (predisposisi) atau
menjadi faktor pencetus (presipitasi) terjadinya perilaku kekerasan pada individu. Fraktor
predisposisi yang berasal dari biologis dapat dilihat sebagai suatu keadaanatau faktor
risiko yang dapat mempengaruhi peran dalam menghadapi stressor adapun yang termasuk
dalam faktor biologis ini adalah :

1). Struktur otak (neuroanatomi)

Penelitian telah di fokuskan pada tiga area otak yang diyakini terlibat dengan perilaku
agresif adalah sistem limbik ,lobus frontal,dan hiphotalamus.Neurotransmiter juga di
usulkan memiliki peran dalam munculnya prilaku kekerasan atau penekanan prilaku
kekerasan (Niehoff, 2002; Hoptman, 2003 Stuart & Laraia, 2005; Stuart & Laraia, 2005;
Stuart, 2009).

Kerusakan struktur pada limbik dan lobus frontal serta lobus temporal otak dapat
mengubah kemampuan individu untuk memodulasiagresif sehingga menyebabkan
perilaku agresif sehingga menyebabkan perilaku agresif/kekerasan (Videback, 2008).
Penelitian telah menemukan bahwa pada epilepsi pada daerah lobus temporal dan frontal
ada pada klien episodik agresif dan perilaku kekerasan (Townsend, 2009; Fontaine;
2009).

Sistem limbik di kaitkan dengan mediasi dorongan dasar dan ekspresi emosi serta
tingkah laku manusia seperti :makan ,agresi,dan respon sexual,termasuk proses
pengolahan informasi dan memori. Sintesis informasi ke dan dari area lain otak
mempunyai pengaruh pada emosional dan perilaku .perubahan dalam sistem limbik dapat
menyebabkan peningkatan atau penurunan perilaku agresif .Secara khusus amigdala
bagian dari sistem limbik menjadi mediasi ekpresi kemarahan dan ketakutan (Stuart,
2009).

Lobus Frontal berperan penting dalam mediasi tingkah laku yang berarti dan berfikir
rasional. Lobus ini merupakan bagian dari otak dimana pikiran dan emosi beriinteraksi.
Kerusakan pada lobus frontal dapat mengakibatkan gangguan penilaian,perubahan
kepribadian ,masalah pengambilan keputusan,ketidaksesuaian dalam berhubungan dan
ledakan agresif.Hipotalamus di dasar otak berfungsi sebagai sistem alarm/peringatan
otak. Kondisi stress menaikan jumlah steroid,hormon yang di keluarkan oleh kelenjar
adrenal,saraf reseptor untuk hormon ini menjadi kurang sensitif dalam upaya
mengkompensasi peningkatan steroid dan hipotalamus merangsang kelenjar pituitari
untuk menghasilkan lebih banyak steroid. Setelah stimulasi berulang sistem berespon
lebih kuat terhadap provokasi. Ini menjadi salah satu alasan mengapa stress traumatik
pada anak secara permanen dapat meningkatkan potensi seseorang untuk melakukan
kekerasan (Stuart, 2009).
2) Genetik

Secara genetik ditemukan perubahan pada kromosom 5 dan 6 yang


mempredisposisikan individu mengalami skizofrenia (Copel, 2007). Sedangkan Buchana
dan Carpenter (2000, dalam Stuart & Laraia, 2005; Stuart, 2009) menyebutkan bahwa
kromosom yang berperan dalam menurunkan skizofrenia adalah kromosom 6. Sedangkan
kromosom lain yang juga berperan adalah kromosom 4,8,15 dan 22, Craddok et al (2006
dalam Stuart, 2009).

Penelitian lain juga menemukan gen GAD 1 yang bertanggung jawab memproduksi
GABA ,dimana pada klien skizofrenia tidak dapat meningkat secara normal sesuai
perkembangan pada daerah frontal,dimana bagian ini berfungsi dalam proses berfikir dan
pengambilan keputusan Hung et al, (2007 dalam Stuart, 2009).

Penelitian yang paling penting memusatkan pada penelitian anak kembar yang
menunjukan anak kembar identik beresiko mengalami skizofrenia sebesar, sedangkan
pada kembar nonidentik/fraternal beresiko 15% mengalami skizofrenia. Risiko 15% jika
salah satu orang tua menderita skizofrenia. Angka ini meningkat 40% - 50% jika kedua
orangtua biologis menderita skizofrenia (Cancro & Lehman, 2000; Videback, 2008;
Stuart, 2009; Townsend, 2009; Fontaine, 2009).

Semua penelitian ini menunjukan bahwa faktor genetik dapat menjadi penyebab
terjadinya skizofrenia dan perlu menjadi perhatian untuk mengetahui risiko seseorang
mengalami skizofrenia dilihat dari faktor keturunan.

3) Neurotransmiter

Neurotransmiter adalah zat kimia otak yang di transmisikan dari dan ke seluruh
neuron sinapsis,sehingga menghasilkan komunikasi antara otak dan struktur otak lain.
Peningkatan atau penurunan zat ini dapat mempengaruhi prilaku ,perubahan
keseimbanagn zat ini dapat memburuk atau menghambat prilaku agresif . Beberapa
penelitian menunjukan bahwa berbagai neurotransmiter
(epineprin,norepineprin,dopamine,acetylcolin dan serotinin) berperan dalam fasilitasi dan
inhibisi rangsangan agresif (Sadock & Sadock, 2007 dalam Townsend, 2009). Rendahnya
neurotransmiter serotonin di kaitkan dengan prilaku iritabilitas,Hipersensitifitas terhadap
provokasi,dan prilaku amuk. Individu dengan prilaku inpulsif, bunuh diri, dan melakukan
pembunuhan,mempunyai serotononin dengan jumlah rendah daripada rata-rata jumlah
asam 5-hidroxynoleacetik (5-HIAA)/produk serotonin (Stuart, 2009).

Penelitian ini telah menunjukan adanya hubungan antara agresif inpulsif dengan
rendahnya level neurotransmiter serotonin Hasil temuan menyatakan bahwa serotonin
berperan sebagai inhibitor utama prilaku agresif,dengan demikian kadar serotonin yang
rendah dapat menyebabkan peningkatan prilaku agresif, selain itu peningkatan aktiitas
dopamine dan norepineprin di otak di kaitkan dengan prilaku kekerasan yang inpulsif
(Kavousi et al.1997 dalam Videback, 2008; Frandle et al, 2005; Perusse & Gendreu,
2005; Pihl & Benkelfat ,2005 dalam Fontaine, 2009).
Neurotransmiter lain yang berkaitan dengan prilaku agresif adalah
dopamine,norepineprin, dan acetylcolin serta asam amino Gamma-aminobutyric acid
(GABA). Korteks prefrontal juga berperan penting dalam menghambat prilaku
agresif.Area spesifik pada korteks prefrontal adalah Region obitofrontal. Stimulasi pada
area ini mencegah marah dan agresif. Lesi pada area ini menyebabkan prilaku infilsiuf
(stuart & laraia, 20005. Stuart 2009).

4) Imunovirologi

Karakteristik biologis lain yang berhubungan dengan prilaku kekerasan adalah riayat
penggunaan obat NAPZA dan frekuensi dirawat. Penggunaan napza akan mempengaruhi
fungsi otak, mempengaruhi terapi dan perawatan yang diberikan (Dyha, 2009). Frekuensi
dirawat menunjukan seberapa sering individu dengan prilaku kekerasan mengalami
kekambuhan. Prilaku kekerasan pada skezoprenia sering terjadi karena penyakit yang
tidak terkontrol, putus obat, kecemasan karena kegagalan dalam mengerjakan sesuatu
atau situasi yang menciptakan prilaku kekerasan (Stuart & Laraia, 2005; Stuart, 2009).
Secara umum dua populasi klien akan meningkatkan resiko kekerasan yaitu klien dengan
gejala psikotik aktif dan penyalah gunaan zat (Nolan et al. 2003 dalam Stuart, 2009).
Prilaku kekerasan juga meningkat pada klien penyalah gunaan zat, skizoprenia dan tidak
mengambil obat yang diresepkan, hidup bersama dalam orang yang mengalami gangguan
jiwa (Citrome dan Volavka, 1999 dalam Videback, 2008).

b. Faktor Psikologis

Faktor psikologis merupakan salah satu predisposisi atau presipitasi dalam proses
terjadinya perilaku agresif/ kekerasan. Menurut Stuart dan Laraia (2005) yang termasuk
dalam faktor psikologis diantaranya kepribadian, pengalaman masa lalu, konsep diri, dan
pertahanan psikologi diantaranya kepribadian, pengalaman masa lalu, konsep diri, dan
pertahanan psikologi.

1) Teori psikoanalitik
Suatu pandangan psikologi tentang perilaku agresif menyatakan bahwa pentingnya
mengetahui predisposisi faktor perkembangan atau pengalaman hidup yang
membatasi kemampuan individu untuk memilih mekanisme yang bukan perilaku
kekerasan. Faktor perkembangana atau pengalaman hidup yang membatasi
mekanisme koping nonviolence menurut Stuart dan Laraia (2009) sebagai berikut:
gangguan otak organik, mental reterdasi, ketidakmampuan belajar karena kerusakan
kapasitas bertindak secara efektif terhadap anak, orang tua yang terlalu penyayang dan
berkontribusi pada kurang rasa percaya dan harga rendah diri; mengalami kekerasan
bertahun-tahun, korban child abuse atau sering melihat kekerasan dalam keluarga
dapat menanamkan pola oenggunaan kekerasan sebagai cara menyelesaikan masalah.

2) Teori pembelajaran
Teori pembelajaran sosial mengemukakan bahwa perilaku agresif dipelajari melalui
proses sosialisasi sebagai hasil dari pembelajaran internal dan eksternal. Pembelajaran
internal terjadi selama individu mendapat penguatan pribadi ketika melakukan
perilaku agresif kemungkinan sebagai kepuasan dalam mencapai tujuan atau
pengalaman merasa penting, mempunyai kekuatan dan control terhadap orang lain.
Pembelajaran eksternal terjadi selama observasi medel peran seperti peran sebagai
orang tua, teman sebaya, saudara, oleh raga dan tokoh hiburan (Stuart & Laraia, 2005;
Stuart, 2009).
Menurut teori pembelajaran sosial, perilaku imitasi/meniru perilaku agresif sebagai
perilaku yang dapat diterima untuk memecahkan masalah dan sesuai status sosial.
Peran pemodelan merupakan salah satu bentuk pembelajaran terkuat, model perilaku
anak-anak pada fase awal adalah orang tua, bagaimana orang tua atau orang terdekat
mengekspresikan marah menjadi contoh anak dalam ekspresi marahnya (Townsend,
2009).
Role model/contoh tidak selalu dirumah, penelitian membuktikan bahwa acara
kekersan ditelevisi sebagai faktor predisposisi perilaku agresif (American
Psychological Assocation, 2006, dalam Townsend, 2009). Menurut American
Psychological Assocation (2006, dalam Townsend, 2009) menyarankan pentingnya
pengawasan terhadap apa yang anak lihat dan peraturan tentang acara kekerasan
dimedia untuk mencegah pemodelan kekerasan. Faktor psikologis lain dapat berupa
kegagalan, kegagaglan dapat berakibat frustasi (Stuart & Laraia, 2005).
Kegagalan sering diartikan oleh individu oleh ketidakmampuan, respon yang mucul
pada saat individu mengalam kegagalan dapat berupa penyalahan terhadap diri
sendiri, atau orang lain yang ditunjukan dengan perilaku kekerasan (Dyah, 2009).

c. Faktor Sosial Budaya


Faktor sosial, budaya juga merupakan faktor predisposisi terjadi perilaku kekerasan
pada individu. Karakteristik yang termasuk pada sosial budaya seperti: usia, jenis
kelamin, ras, status perkawinan, pendidikilaku dan tingkat sosial ekonomi (Stuart &
Laraia, 2005; Stuart, 2009), riwayat perilaku kekerasan di masa lalu (Stuart, 2009).
Faktor lingkungan dan situasi perawatan bias sebagai memicu perilaku kekerasan klien,
faktor ini meliputi fasilitas fisik, keberadaan petugas dank lien lain. Beberapa penelitian
telah menemukan bahwa jumlah inseden kekerasan lebih besar terjadi ketika klien
dipindahkan dalam kelompok yang besar, penuh sesak, kurang privasi atau tidak bebas.
1) Jenis kelamin
Berdasarkan pendapat diatas disampaikan bahwa jenis kelaim merupakan salah satu
karakteristik sosial budaya. Jenis kelamin adalah ciri fisik, karakter dan sifat yang
berbeda. Laki-laki lebih sering melakukan perilaku agresif (Stuart & Laraia, 2005).
Berdasarkan hasil penelitian dinyatakan bahwa karakteristik jenis kelamin
berhubungan dengan kejadian perilaku kekerasan verbal (p value 0,001) dank lien
laki-laki dua kali lipat lebih banyak dari klien perempuan, serta usia yang paling
banyak 30 tahun kebawah (Keliat, 2003).
Namun berdasarkan penelitian Keliat dkk, (2008) pada penelitian karakteristik klien
yang dirawat dibangsal MPKP menyebutkan ada 63,9% berjenis kelamin laki-laki,
82,5% terdapat pada golongan umur dewasa yaitu umum33 tahun sampai 55 tahun.

2) Tingkat sosial ekonomi


Kondisi sosial lain yang dapat menimbulkan perilaku kekerasan seperti : kemiskinan
dan ketidakmampuan memenuhi kebutruuhan hidup, masalah perkawinan, keluarga
single parent, pengangguran, kesulitan mempertahankan hubungan interpersonal
dalam keluarga, struktur keluarga, dan control sosial (Stuart & Laraia, 2005; Stuart,
2009; Tardiff, 2003 dalam Townsend, 2009).
Kepercayaan (spiritual), nilai dan moral mempengaruhi ungkapan marah individu
(Keliat & Sinaga, 1991). Aspek spiritual adalah komponen kehidupan individu yang
terkait dengan falsafah hidup, nilai, keyakinan dan religi ( Rawlins, et. al, 1993 dalam
Keliat, 2003).
Faktor lain yang berhubungan dengan kekerasan secara sosial termasuk kurangnya
dukungan sosial, kesulitan pekerjaan, atau masalah keuangan, akses yang mudah ke
senjata dan kecenderungan budaya Amerika Serikat untuk memanfaatkan perilaku
kekerasan sebagai solusi untuk pemecahan masalah (Woodside & Mc Clum, 2006
dalam Fontaine, 2009).
3) Ras/ Suku
Faktor sosiokultural lainnya adalah norma budaya yang dapat membantu mengartikan
makna ekspresi marah dan dapat mendorong untuk mengekspresikan marah secara
asertif sehingga membantu menjaga kesehatan diri. Norma yang mereinforcement
perilaku kekerasan akan berakibat ekspresi marah dan cara destruktif. Sindroma
ikatan dua budaya mencangkup perilaku agresif, Bouffee delirante suatu kondisi yang
terlihat pada masyarakat Afrika Barat dan Haiti, ditandai dengan ledakan perilaku
agresif dan agitasi secara tiba-tiba, kebingungan yang nyata dan psychomotor
excitement, episode ini dapat mencakup halusinasi pendengaran dan penglihatan serta
pikiran panaoid yang menyerupai episode psikotik singkat (Mezzich et al., 2000
dalam Videbeck, 2008).

2. Faktor Presipitasi

a. Faktor Biologi

Stressor presipitasi adalah stimuli yang di terima individu sebagai tantangan,ancaman


atau tuntutan. Stressor presipitasi prilaku kekerasan dari faktor biologi dapat di sebabkan oleh
gangguan umpan balik di otak yang mengatur jumlah dan waktu dalam proses
informasi.Stimuli penglihatan dan pendengaran pada awalnya di saring oleh hipotalamus dan
di kirim untuk di proses oleh lobus frontal dan bila informasi yang di sampaikan terlalu
banyak pada suatu atau jika informasi tersebut salah,lobus frontal akan mengirimkan pesan
overload ke ganglia basal dan di ingatkan lagi hipotalamus untuk memperlambat transmisi ke
lobus frontal menyebabkan gangguan pada proses umpan balik dalam penyampaian informasi
yang menghasilkan proses informasi overload (Stuard & Laraia, 2005; Stuart, 2009).
Stressor presipitasi yang lain adanya abnormal pada pintu mekanisme adalah proses
elektrik yang melibatkan elektrolit,hal ini memicu penghambatan saraf dan rangsang aksi dan
umpan balik yang terjadi pada sistem syaraf.penurunan pintu mekanisme /gating proses ini di
tunjukan dengan ketidakmampuan individu dalam memilih stimuli secara selektif (Hong et
al; 2007 dalam Stuart, 2009). Menjadi faktor biologi lainyayang merupakan predisposisi
dapat menjadi presipitasi dengan memperhatikan asal stressor,baik internal lingkungan
eksternal individu.waktu dan frekuensi terjadinya stressor prilaku untuk di kaji (Stuart &
Laraia, 2005).

b. Faktor Psikologis

Pemicu prilaku kekerasan dapat di akibatkan oleh toleransi terhadap frustasi yang rendah
,koping individu yang tidak efektif,impulsive dan membayangkan atau secara nyata adanya
ancaman terhadap keberadaan dirinya ,tubuh atau kehidupan .dalam ruang perawatan .prilaku
kekerasan dapat terjadi karena provokasi petugas, prilaku kekerasan terjadi pada setting ini
dimana petugas merasa memiliki sikap otoriter dan cenderung mengatur apa yang dapat dan
tidak dapat dilakukan oleh klien ,menahan klien bertentangan dengan keinginan klien dan
memaksa untuk minum obat ,semua itu prilaku agresif /kekerasan dapat terjadi karena
beberapa perasaan seperti marah ,ansietas rasa bersalah ,frustasi atau kcurigaan
(Townsend,2009).

c. Faktor Sosial Budaya

Beberapa penelitian telah menemukan bahwa jumlah insiden kekerasan lebih besar terjadi
ketika klien di pindahkan dalam kelompok besar terjadi ketika klien di pindahkan dalam
kelompok yang besar ,penuh sesak ,kurang privasi atau tidak bebas .Menurut Fagan-Pyor et
al .(2003 dalam Stuart, 2009) petugas mungkin secara sengaja atau tidak sengaja memicu
prilaku klien untuk melakukan kekerasan ,ketidak pengalaman petugas,provokasi petugas
,menejemen lingkungan yang buruk ,ketidak pahaman petugas ,pertemuan fisik yang terlalu
dekat ,penetapan batasan yag tidak konsisten dan budaya kekerasan mempengarungi prilaku
kekerasan klien .akhirnya pemahaman terhadap situasi dan penerimaan lingkungan ,kognitif
dan stess komunikasi serta respon afektif klien perlu di identifikasi oleh petugas.selanjutnya
perlu di kaji asal stressor sosiokultural ,waktu terjadinya stressor dan jumlah stressor
psikologis yang terjadi dalam suatu waktu (Stuart & Laraia, 2005) Dengan demikian banyak
sekali stressor sosiokultural yang dapat mempengaruhi dan menjadi penyebab ataupun
pencetus prilaku kekerasan.

3. Penilaian Stressor

Model stress Diatesis dalam sebuah karya klasik oleh Liberman dan rekan (1994)
menjelaskan bahwa gejala sskizofrenia berkembang berdasarkan pada hubungan antara
jumlah stress dalam pengalaman seseorang dan toleransi internal terhadap ambang stress. Ini
adalah model penting karena mengintegrasikan faktor budaya biologis ,psikologis,dan social
,cara ini mirip dengan stress adaptasi model stuart yang di guinakan sebagai kerangka kerja
konseptual (Stuart, 2009). Menurut Wuerker (2000) model adaptasi ini membantu
menjelaskan hubungan stress dengan skizofrenia ,meskipun tidak ada penelitian ilmiah telah
menunjukan bahwa stress menyebabkan skizofrenia ,namun semakin jelas bahwa skizofrenia
adalah gangguan yang tidak hanya menyebabkan stress ,tetapi juga di perparah oleh stress
(Jones dan Fernyhougi ,2007 dalam Stuart, 2009). Penilaian seseorang tentang stressor ,dan
masalah yang terkait dengan koping untuk mengatasi stress dapat memprediksi timbulnya
gejala.

4. Sumber Koping

Psikosis atau skizofrenia adalah penyakit menakutkan dan sangat menjengkelkan yang
memerlukan penyesuaian baik bagi klien dan keluarga .Proses penyesuaian paska psikotik
terdiri dari empat fase : (1). Disonansi kognitif (psikosis aktif) ,(2) pencapaian wawasan, (3)
stabilitas dalam semua aspek kehidupan (ketetapan kognitif) dan (4) bergerak terhadap
prestasi kerja atau tujuan pendidikan (ordinariness). Proses multifase penyesuaian dapat
berlangsung 3 samapi 6 tahun (Moller 2006, dalam Stuart, 2009) :

a. Efikasi /kemanjuran pengobatan untuk secara konsisten mengurangi gejala dan


menstabilkan disonasi kognitif setelah episode pertama memakan waktu 6 sampai 12
bulan.
b. Awal pengenalan diri/insight sebagai proses mandiri melakukan pemerikasaan realitas
yang dapat diandalkan .pencapaian keterampilan ini memakan waktu 6 sampai 18
bulan tergantung pada keberhasilan pengobatan dan dukungan yang berkelanjutan .
c. Setelah mencapai pengenalan diri/insight ,proses pencapaian kognitif meliputi
keteguhan melanjutkan hubungan interpersonal normal dan reengaging dalam
kegiatan yang sesuai dengan usia yang berkaitan dengan sekolah dan bekerja .fase ini
berlangsung 1 sampai 3 tahun.
d. Ordinariness/kesiapan kembali seperti sebelum sakit ditandai dengan kemampuan
untuk secara konsisten dan dapat diandalkan dan terlibat dalam kegiatan yang sesuai
dengan usia lengkap dari kehidupan sehari – hari mencerminkan tujuan prepsychosis.
Fase ini berlangsung minimal 2 tahun.sumber daya keluarga,seperti pemahaman
orang tua terhadap penyakit , keuangan ,ketersediaan waktu dan energi,dan
kemampuan untuk menyediakan dukungan yang berkelanjutan mempengaruhi jalanya
penyeseuaian postpsychotic.

5. Mekasnisme koping
Pada fase aktif psikosis klien menggunakan beberapa mekanisme pertahanan diri
dalam upaya untuk melindungi diri dari pengalaman menakutkan yang di sebabkan
oleh penyakit mereka. Regresi adalah berkaitan dengan masalah informasi pengolahan
dan pengeluaran sejumlah besar energi dalam upaya untuk mengelola kegelisahan
,menyisakan sedikit untuk aktivitas hidup sehari- hari. Proyeksi adalah upaya untuk
menjelaskan persepsi membingungkan dengan menetapkan reponsibility kepada
seseorang atau sesuatu .Penarikan diri ini berkaitan dengan masalah membangun
kepercayaan dan keasyikan dengan pengalaman internal.

Keluarga sering mengekspresikan penolakan ketika mereka mempelajari pertama kali


diagnosis relatif mereka. Ini sama dengan penolakan yang terjadi ketika seseorang
menerima informasi yang menyebabkan rasa takut dan kecemasan .hal ini
memungkinkan waktu seseorang untuk mengumpulkan sumber daya internal dan
eksternal dan kemudian beradaptasi dengan stressor secara bertahap. Pada klien
penyesuaian postpsychikotik proses aktif menggunakan mekanisme koping adaptif
juga. Ini termasuk kognitif, emosi,interpersonal,fisiologis,dan spiritual strategi
penanggulangan yang dapat berfungsi sebagai dasar untuk penyusunan intervensi
keperawatan (Stuart, 2009).

C. Daftar Masalah Keperawatan dan Data Yang Perlu Dikaji


1. Masalah keperawatan: Diagnosis Keperawatan NANDA-I rentang respon
neurobilogis, skizofrenia dan gangguan psikotik (Stuart, 2009):
 Anxiety
 Imperaide Verbal Communication *
 Confusion,Acute
 Compromised family coping
 Ineffective coping
 Decisional
 Hopelessness
 Impaired memory
 Noncompliance
 Disturbed personal identity
 Ineffective role performance
 Self care deficit (bathing/ hygiene, dressing/ grooming)
 Disturbed sensory perception*
 Impaired social interaction*
 Social isolation
 Risk for suicide
 Ineffective therapeutic regiment management
 Disturbed thought processes*
 (*Diagnosis keperawatan primer rentang respon neurobiologis, skizofrenia dan
gangguan psikotik)
2. Data yang perlu dikaji pada masalah keperawatab perilaku kekerasan
Tanda dan gejala resiko perilaku kekerasan dapat dinilai dari ungkapan pasien dan
dukungan hasil observasi
a. Data Subjektif:
a. Ungkapan berupa ancaman
b. Ungkapan kata-kata kasar
c. Ungkapan ingin memukul/ melukai

b. Data objektif:
1) Wajah memerah dan tegang
2) Pandangan tajam
3) Mengatupkan rahang dengan kuat
4) Mengepalkan tangan
5) Bicara kasar
6) Suara tinggi, menjerit atau berteriak (Kemenkes RI, 2012)

D. Pohon Masalah
Menurut Keliat dkk (2005) pohon masalah perilaku kekerasan adalah sebagai berikut :

Resiko menciderai diri sendiri resiko mencederai orang lain dan


lingk

Resiko prilaku kekerasan

Harga diri rendah

Pohon Masalah Pada Masalah Perilaku Kekerasan (Keliat, 2005)

E. Diagnosis
1.diagnosis keperawatan : risiko prilaku kekerasan
2. diagnosa medis : skizoprenia

F. Rencana tindakan

1. Rencana Tindakan Keperawatan Generalis:

Diagnosa Sp/kemampuan klien Sp/kemampuan keluarga


keperawatan
Resiko prilaku Sp 1. Sp.1
kekerasan  Identifikasi penyebab tanda  Diskusikan masalah yang
dan gejala ,pk yang di dirasakan dalam merawat
lakukan ,akibat pk klien
 Jelaskan cara mengontrol pk  Jelaskan pengertian ,tanda
: fisik,obat,verbal,spiritual dan gejala dan proses
 Latihan cara mengontrol pk terjadinya pk (gunakan
secara fisik : tarik napas booklet)
dalam dan pukulkasur dan  Jelaskan cara merawat pk
bantal.  Latih satu cara merawat pk
 Masukan pada jadwal dengan melakukan kegiatan
kegiatan untuk latihan fisik. Fisik :tarik nafas dalam dan
pukul bantal
 Anjurkan membantu pasien
sesuai jadwal dan memberi
pujian
Sp.2 Sp.2
 Evaluasi kegiatan latihan  Evaluasi kegiatan keluarga
fisikn,beri pujian dalam merawat / melatih
 Latih cara mengontrol pk  Jelaskan 6 benar member
dengan obat jelaskan 6 benar obat
obat : jenis,guna  Latih cara memberikan
dosis,frekuensi /membimbing minum obat
,cara,kointuinitas minum  Anjurkan membantu pasien
obat sesuai jadwal dan beri pujian
 Masukan pada jadwal
kegiatan untuk latihan fisik
dan minum obat.
Sp.3 Sp.3
 Evaluasi kegiatan latihan  Evaluasi kegiatan keluarga
fisik & obat,beri pujian dalam merawat/melatih
 Latih cara mengontrol pk pasien fisik dan memberikan
secara verbal ( 3 cara yaitu obat,beeri pujian
mengungkapkan  Latih cara membimbing
,meminta,menolak dengan ,cara bicara yang baik.
benar)  Latih cara membimbing
 Memasukkan pada jadwal kegiatan spiritual
kegiatan untuk latihan fisik  Anjurkan membantu pasien
,minum obat dan verbal sesuai jadwal dan member
pujian

Sp.4 Sp.4
 Evaluasi kegiatan latihan  Evaluasi kegiatan keluarha
fisik dan obat,verbal,beri dalam merawat
pujian /melatihpaisen
 Latihan cara mengontrol ,fisik,memberikan
spiritual ( 2 kegiatan ) obat,latihan bicara yang baik
 Masukkan pada jadwal dan kegiatan spiritual , beri
kegiatan pujian
untuk latihan fisik minum  Jelaskan follow up ke RSJ
,obat,verbal dan spiritual /pkm ,tanda kambuh
,rujukan
 Anjurkan membanntu pasien
sesuai jadwal dan
memberikan pujian

2. Rencana Tindakan Keperawatan Spesialis :

 Therapy individu : terapi prilaku ,CBT,REBT,RECBT,ACT.


 Therapy kelompok : psikoedukasi kelompok ,terapi suportif ,SHG
 Therapy keluarga : Triangle terapi,psikoedukasi keluarga
 Therapy komunitas : assertive community therapy

G. Rencana Tindakan Medis/Psikofarmaka :


a. Anti spikotik
 Chlorpromazine (promactile,largactile )
 Haloperidol (Haldol,serenace,lodomer)
 Stelazine
 Clozapine (clozaril )
 Risperidon (risperdal )

b. Anti parkingson

 Trihexyphenidile
 Arthan

Prinsip Titrasi/Model Pengobatan Psikofarmaka: (Maslim, R, 2007)

 Respon terhadap obat bersifat individual dan perlu pengaturan secara


empiric (theraupetic trail)
 Pengaturan dosis biasanya dimulai dengan dosis awal (dosis anjuran),
dinaikkan secara cepat sampai mencapai dosis efektif (dosis mulai berefek
supresi gejala sasaran), dinaikan secara gradual sampai mencapai dosis
optimal (dosis mampu mengendalikan gejala sasaran) dan dipertahankan
untuk jangka waktu tertentu sampai disertai terapi lain (non
medikamentosa)< kemudian diturunkan secara gradual sampai mencapai
dosis peralihan (maintenance dose) yaitu dosis terkecil yang masih
mampu mencegah kambuhnya gejala.
 Bila sampai jangka waktu tertentu dinilai sudah cukup mantap hasil
terapinya, dosis dapat diturunkan secara gradual sampai berhenti
pemberian obat (tapering off)

Prinsip Pemilihan Antipsikotik: (Maslim, R, 2007)


 Anti spikotik APG 1 (CPZ ,Trifluoperazine,Heloperidol) memblokade
dopamine pada reseptor pasca sinaps neuron di otak khususnya disistem
limbik dan system ekstrapimidal ( dopamine D2 receptors antagonis)
sehingga efektif untuk gejala positif
 Antipsikotik APG II (clozapine,resperidon,olazapine,qutiapine,zotepine,ari
parizole ziprasidone-( di Indonesia belum ada ) memblokade dopamine
D2 reseptor terhadap serotonin 5 HT reseptors sehingga efektif untuk
gejala positif dan negative.
BAHAN BACAAN

Dyah W (2009). Pengaruh Assertive Training erhadap perilaku Kekerasan pada klien
skizoprenia, Tesis. Jakarta. FIK UI.tidak dipublikasikan

Keliat, B.A, (2005). Modul Basic Course Community Mental Health Nursing. Kerjasama FIK
UI dan WHO.

Keliat, B.A, & Akemat. (2005). Keperawatan Jiwa Terapi Aktivitas Kelompok. Jakarta: EGC.

Lelono, S.K. (2011). Efektivitas Cognitive Behaviour Therapy (CBT) dan Rational Emotive
Behaviour Therapy (REBT) Pada Perilaku Kekerasan, Halusinasi dan Harga Diri Rendah di
Rumah Sakit Marzoeki Mahdi Bogor. Tesis FIK-UI. Tidak dipublikasikan.

Townsend, M.C. (2009). Psychiatric Mental Health Nursing Concept of Care in Evidence-
Based Pratice. 6 th ed. Philadelphia: F.A Davis Company.

Videback, S.L. (2008). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC


LAPORAN PENDAHAULUAN

GANGGUAN PROSES PIKIR WAHAM ATAU DELUSI

A. Defenisis WAHAM

1. Waham adalah keyakinan pribadi palsu yang tidak sesuai dengan kecerdasan
seseorang atau latar belakakng budaya. Individu terus untuk memiliki keyakinan
meskipun bukti jelas bahwa itu adalah palsu atau tudak rasional (Townsend, 2014)

2. Waham adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan keyakinan palsu


didasarkan pada kesimpulan yang salah tentang realitas eksternal yang jelas (shives,
2012)

3. Waham adalah keyakinan seseorang yang berdasarkan penialian realitas yang salah,
keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat intelektual dan latar belakang budaya
klien. (kliat, 2011)

4. Waham/ Gangguan proses pikit adalah Disrupsi/ kekacauan dari proses kognitif
(Nanda I 2011)

5. Waham adalah dengan psikotik dan fase penyakit skizhofrenia biasanya mengalami (
keyakinan palsu menetap tanpa dasar dalam realitas. Karakteristik penderita
skizhophrenia adalah waham langsung dan klien memegang keyakinan ini, keyakinan
yang tidak sesuai (Videbeck, 2011)

B. Klasifikasi Waham

Menururt Shives 2012 , waham dibagi menjadi :

1. Waham Persecutory/ kejar : Waham ini percaya bahwa ada yang bersekongkol
melawan, memata-matai, meracuni atau dibius, ditipu,
dan fitnah jahat.

2. Waham Cemburu : Seseorang meyakini bahwa orang yang dicintai atau


orang yang disayangi atau orang penting lainnya adalah
setia. Waham ini terjasi biasanya pada seorang yang
dengan penyakit psikiatri sebelumnya.

3. Waham Erotonamic : Keyakinan bahwa seseorang yang berstatus sosial tinggi


atau seorang public Figure mencintainya, keyakinan ini
biasnya terjadi pada wanita.

4. Waham Kebesran : Seorang meyakini bahwa dirinya memiliki kedudukan


penting atau sebagai seorang yang penting. ( Misalnya :
seorang meyakini bahwa dirinya adalah seorang yang
membuat penemuan penting)
5. Waham Somatik : Keyakinan bahwa dirinya mengalami kecacatan akan
tetapi dalam pemeriksaan medis tidak terjadi gangguan.

Menurut Townsend (2014 ) waham dibagi menjadi :

1. Tipe Erotomanic : Individu percaya bahwa seseorang, biasnya dari status


yang lebih tinggi , jatuh cinta dengan dia. Orang terkenal
sering subyek waham erotmanic, kadang-kadang waham
dirahasiakan, tetapi beberapa orang mungkin mengikuti,
menghubungi, atau jika tidak mencoba untuk mengejar
obyek khayalan mereka.

2. Tipe Kebesaran : Individu dengan waham megah memilki irasional ide-ide


tentang nilai mereka sendiri, bakat, pengetahuan, atau
kekuasaan. Mereka mungkin percaya bahwa mereka
memilki hubungan khusu dengan orang terkenal atau
bahkan menganggap identitas orang terkenal ( percaya
bahwa orang yang sebenarnya adalah seorang penipu).

3. Tipe cemburu : Isi waham cemburu berpusat pada gagasan bahwa


pasangan seksual seseorang tidak setia. Idenya adalah
tidak rasional dan tanpa sebab, tetapi individu dengan
pencarian khayalan bukti untuk membenarkan
keyakinan. Pasangan seksual dihadapkan (dan kadang-
kadang diserang secara fisik) mengenai oerselingkuhan
dibayangkan.

4. Tipe persecutory : dalam waham persutory, yang paling umum jenis,


individu percaya bahwa mereka sedang dianiaya atau
dengki diperlakukan dalam beberapa cara. Sering tema
termasuk yang diplotkan terhadap, ditipu, diikuti dan
dimata-matai, keracunan, atau dibius. Individu mungkin
terobsesi dan membesar-besarkan sebuah penolakan
sedikit (baik banyak membayangkan) sampai fokus dari
sistem warna.

5. Tipe somatik : Individu dengan tipe waham somatik percaya mereka


memilki beberapa jenis kondisi medis umum

6. Tipe Campuran : Ketika gangguan dicampur, waham yang menonjol,


tetapi ada satu tema yang menonjol.

Rentang respon Neuro bilogi waham


Pikiran logis Proses pikir Gangguan proses piki : waham
Persepsi akurat Kadang ilusi PSP : halusinasi
Emosional konsisten Emosi + / - Kerusakn emosi
Perilaku sesuai Prilaku tidak sesuai \prilaku tidak sesuai
Hubungan sosial Menarik diri Isolasi sosial terorganisir

C. Proses terjadinya Waham

Penyebab skizofrenia masih belum pasti. Paling kemungkinan ada faktor tunggal dapat
terlibat dalam etiologi, bukan penyakit, ini mungkin hasil dari kombinasi pengaruh termasuk
biologi, psikologi dan faktor lingkungan. Faktor predisposisi menurut (Townsend, 2014)

1. Pengaruh biologis

Genetika bukti kerentanan genetik skizofrenia berkembang. Studi menunjukkan bahwa


individu dengan skizofrenia memiliki banyak probabailitas lebih tinggi terkena penyakit dari
populasi umu. Bagaimanapun skizofrenia diwariskan tidak pasti. Penanda biologis belum
diketemukan.

2. Studi Twin

Tingkat Skizofrenia antar monozigot (identik) kembar empat kali lipat dari dizigot
(Fraternal) kembar dengan sekita 50 kali dari populsasi umu (saddock & saddock 2010).
Kembar identik dipelihara terpisah memiliki sama laju perkembangan penyakit seperti halnya
mereka dipelihara bersama-sama. Karena sekitar setengaha kasus hanya satu dari sepasang
kembar monozigot berkembang skizofrenia, berbagai bukti percaya lingkungan faktor
berinteraksi dengan orang-orang genetik.

3. Studi Adopsi

Dalam stusi yang dilakukan si Amerika dan Denmark, anak angkat lahir dari skizofrenia
ibu dibanding dengan mengadopsi anak-anak yang ibunya tidak memiliki gangguan
kejiwaan. Anak-anak yang diadopsi dari ibu dengan skizofrenia lebih mungkin untuk
berkembang menjadi skizofrenia dibandingkan klompok kontrol pembanding (Minzenberg et
al 2008 dalam Stuart 2013)

Studi juga menunjukkan bahwa anak-anak lahir dari orangtua nonschizoprenik , tetapi
dipelihara oleh orang tua yang menderita penyakit, tidak kelihatan menderita lebih sering di
skizhoprenia. Temuan ini memeberikan tambahan bukti untuk dasar genetik skizhofrenia.
Pengaruh biokimia tertua dan paling benar-benar dieksplorasi biologis dalam
penjelasanskizoprenia peran patogenik ke otak yang abnormal biokimia. Pengertian dari
“gangguan biokimia” sebagai penjelasan untuk kegilaan yang disarankan oleh beberapa
teoritis sejak pertengahan abad ke-19

4. Dopamin Hipotesis.

Teori ini menunjukkan bahwa skizofrenia ( atau seoerti gejala skizofrenia) dapat
disebabkan oleh kelebihan dari aktivitas neuron tergantung dopamin diotak (Townsend,
2014)

Dukungan farmakologis unutuk hipotesis ini ada. Amfetamin, yang meningkatkan kadar
dopamin, menginduksi gejala psikotomimetik. Para anti psikotik ( misalnya, klorfromazin
atau haloperidol) tingkat otak yang lebih rendah dopamin oleh memblokir reseptor dopamin,
sehingga mengurangi gejala skizhoprenia, termasuk yang diinduksi ampetamin.

Studi postmoertem otak individu yang telah skizhofrenia melaporkan signifikan


peningkatan rata-rata jumlah dopamin reseptor disekitar dua pertiga dari otak dipelajari. Hal
ini menunjukkan bahwa dopamin meningkat tanggapan mungkin tidak penting dalam
penderita skizofrenia. Kjlien dengan manifestasi akut ( misalnya, waham dan halusinasi)
merespon lebih besar khasiat obat antipsikotik dibandingkan dengan manifestasi kronis
(misalnya apatis, kekurangan ide , dan hilangnya dororngan)

5 Hipotesis Biokimia

Berbagai zat biokimia lain telah terlibat dalam kecendrungan skizofrenia. Kelainan
dalam neurotransmitter norefineprin, serotonin, asetilkolin, GABA dan neuro regulator
seperti prostaglandin dan endorfin, telah diusulkan.

Penelitian terbaru telah terlibat neurotransmitter glutamat dalam etiologi skizofrenia.


Reseptor N-methyl-D-aspartat (NDMA) yang diaktifkan oleh neurotransmitter glutamat dan
glisin. Penelitian Psikomarmakologikal telah menunjukkan kleas obat antagonis glutamat
(misalnya Phencyclidine (PCP); ketamin) dapat menghasilkan gejala skizofrenia seperti
individu tanpa gangguan (Hasimotto, 2006; sthal, 2008 dalam stuart 2008).

6. Pengaruh Fisiologis

Sejumlah faktor fisik mungkin menjadi etiologi yang signifikan dan telah diidentifikasi
dalam literatur medis. Namun mekanisme khusu dalam implikasui skiofrenia tidak jelas.

7. Inveksi Virus.

Shaddoxk & Shaddock (2010) melaporkan bahwa epidemiologi data menunjukkan


tingkat insiden skizofrenia setelah paparan pralahir untuk influenza. Mereka menyatakan,
data lain yang mendukung hipotesis virus yang meningkatkan jumlah anomali fisik di
neurotransmitter. Sejumlah neurotransmitter telah terlibat dalam etiologi skizofrenia. Ini
termasuk dopamin, norepinefrin, serotonin, glutamat, dan GABA. Sistem dopaminergik telah
dipelajari paling banyak dan erat kaitannya dengan gejala yang berhubungan denga penyakit.

Ada 4 area otak yang dapat mengalami gangguan dalam Stuart (2013):

a) Jalur Mesolimbic : berasal dari daerah tegemetrum ventral dan proyek-proyek untuk
daerah sistem limbik, termasuk nucleus accumens, amigdala, dan hipocampus. Jalur
mesolimbic berhubungan dengan fungsi memori, emosi, gairah, dan kesengangan.
Kegiatan kelebihan dalam saluran mesolimbic telah terlibat dalam gejala positif
skizofrenia (misalnya, halusinasi, waham)

b) Jalur Mesocortikal : berasal dari daerah tegmentrum ventral dan memiliki proyeksi ke
korteks. Jalur mesocortikal prihatin dengan kognisi, prilaku sosial , perencanaan,
pemecahan masalah, motivasi dan penguatan belajar. Gejala negatif skizopernia (
misalnya datar mempengaruhi, apatis, kurangnya motivasi dan anhedonia) telah
dikaitkan dengan aktivitas berkurang pada saluran mesocortikal.

c) Jalur nigrostrital. Berasal dari subtansi nigra dan berahir di stratum ganglia basalis.
Jalur ini diakaitkan dengan fungsi kontrol motor. Degenerasi di jalaur ini dikaitkan
dengan penyakit parkinson dan psikomotorik tidak disengaja gejal skizofrenia.

d) Jalur Tuberoinfudibular berasal dari hipotalamus dan proyek kelenjar pituitari. Hal ini
terkait dengan fungsi endokrin, pencernaan, metabolisme, lapar, haus kontrol suhu
dan gangguan seksual. Terlibat dalam kelainan endokrin tertentu yang berkaitan
dengan skizofrenia.

D. Faktor Presipitasi Waham

Ini termasuk faktor resiko menurut Shives (2012) sebagai berikut :

1) Relokasi karena imigrasi atau emigrasi

2) Isolasi sosial

3) Gangguan sensorik seperti ketulian dan kebutaan

4) Stress berat

5) Status sosial ekonomi yang rendah dimana seorang mungkin mengalami perasaan
diskriminasi atau ketidakberdayaan.

6) Keperibadian fitur seperti rendsah diri dan sensitivitas interpersonal yang tidak biasa

7) Konflik percaya takut

Penelitian ini menunjukkan bahwa waham bisa juga terjadi akibat penyakit neurologis
yang diidentifikasi, terutama penyakit-penyakit yang mempengaruhi sistem limbik dan
ganglia basal. Juga terkain dengan lesi lokal pada fokal pad alobus prontal atau belahan
kanan otak. (Clevelend Clinik, 2009, Shaddock & shaddock, 2010). Beberapa penelitian
menemukan bahwa waham lebih umum dikeluarga adalah skizhofrenia.(APA, 2000)

Faktor Presispitasi menurut Townsend

1) Perubahan Histopatologis

Hipotesis bahwa perubahan ini dalam hipocampus sel terjadi selama trimester kedua
kehamilan dan mungkin kuat terkait dengan ifluenza virus dihadapi oleh ibu sleama
priode ini.

2) Kondosi fisik

Beberapa penelitian telah melaporkan hubungan antara skizofrenia dan epilepsi


(terutama lobus frontal), huntington penyakit, trauma kelahiran, cidera kepala dewasa,
penyalahgunaan alkohol, tumor otak (terutama dalam sistem limbik) kecelakaan
serebrovasculer, SLE, mixedema.,parkinsonnisme, penyakit wilson.

3) Pengaruh psikologis.

Dalam gangguan skizofrenia memepertimbangkan baik psikososial dan faktor


biologis yang memepengaurhi skizofrenia. Kelainan ini mempengaruhi pasien dan
individu , mnasing-masing diantarnya memiliki keunikan fsikologis.

4) Pengaruh lingkungan

Faktor sosial budaya banyak penelitian telah dilakukan yang memilki berusaha unutk
menghubungkan skizofrenia kelas sosial. Memeang statistik epidimeolifi telah
menunjukkan jumlah yang lebih besar dai individu dari kelas bawah kelas sosial
ekonomi mengalami gejala terkait dengan skizofrenia daripada orang-orang dari
klompok sosial eokonomi yang lebih tinggi.

E. Faktor pencetus

a) Biologi

Stress biologi berhubungan langsung dengan respon neurologis maladaptif termasuk

1. Gangguan dalam putaran umpan balik yang mengatur proses informasi

2. abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak yang mengakibatkan


ketidamampuan untuk secar selektif menanggapi rangsangan.

b) Stres lingkungan

Secara bilogis menetapkan ambang toleransi terhadap sterss yang beirnteraksi dengan
stresor lingkungan untuk menentukan tejadinya gangguan prilaku
c) Pemicu Gejala

Prekusor stimuli yang serign menimbiulakan episode baru satu penyakit . pemicu
yang biasanya terdapat pada respon neurobiologis yang maladaptif berhubungan
dengan kesehatan lingkungan, sikap dan prilaku individu ( Stuart & Laraia, 2015)

F. Mekanisme Koping

a) Regresi

Menghindari stress, kecemasan, dan menampilkan prilaku kembali seperti pada


perkembangan anak.

b) Proyeksi

Keinginan yang tidak dapat ditoleransi, mencurahkan emosi kepada orang lain karena
kesalahan yang diakui sendiri.

c) Menarik diri

Reaksi yang ditampilkan dapat berupa reaksi fisik maupun psikologi. Reaksi fisik
yaitu individu pergi atau lari menghindar dari sumber stressor. Sedangkan reaksi
psikologi individu menunjukkan prilaku apatis, mengisolasi diri tidak berminat, sering
disertai rasa takut dan bermusuhan ( Stuart dan Laraia, 2005)

Kategori Waham

Sumber koping individu harus dikaji dengan pemahaman terhadap prilaku, kekuatan
dapaat meliputi seperti model intelegensia atau kreativitas yang tinggi.

Orangtua harus secara aktif mendididk anak-anak dan dewasa meda tentang
keterampilan koping karena mereka biasanya tidak belajar dari pengamatan.sumber keluarga
dapat berupa pengetahuan tetntang penyakit, financial yang cukup, ketersediaan waktu,
tenaga, dan kemampuanuntuk memberikan dukungan secara berkesinambungan (Struat
2010).

Kondisi keluarga yang perlu dikaji adalah komunikasi dalam keluarga baik waktu
maupun kualitasnya, kemungkinan kegiatan sehari-hari yang dapat klien lakukan baik
perawatan diri maupun kegiatan seharian (Kliat, 2010)

Kategori Waham (Kliat , 2010)

1) Waham Sistematis : Konsisten berdasarkan pemikiran mungkin terjadi walau hanya


secara teoritis

2) Waham nonsistematis : tidak konsisten, yang secar logis dan teorirtis tidak mungkin.
H. Manifestasi klinis Waham

Waham mungkin aneh arau non aneh. Individu yang domain ( kasus primer atau
inducer) biasnya memilki gangguan psikotok kronis dengan menonjol, bahwa individu
tunduk (kasus skunder) mulai percaya, individu yang tunduk biasanya sehat, tetapi sering
kurang cerdas, mudah tertipu, lebih fasif, atau lebih kurang harga diri dari pada individu yang
domain (Saddok & saddok, 2010)

Waham umum ditandai dengan kecurigaan ekstrim, kecemburuanm dan


ketidakpercayaan, dalam pegaturan klinis psikiatri. Gejala klinis lain termasuk isolasi sosila,
prilaku eksentrik, kecemasan, depresi, klien mengatasinya dengan prilaku waham, (Shives ,
2012)

I. Daftar Maslah Keperawatan dan data yang perlu dikaji

1. Masalah Keperawatan : diagnosis keperawatan NANDA-I rentang respon


neurolobilogis, skizofrenia dan gangguan psikotik (Stuart, 2009) :

 Ansietas

 Gangguan Komunikasi verbal

 Kebingungan Aakut

 Kompromi koping keluarga

 Koping tidak efektif

 Decisional conflict

 Hopelessness

 Inpaired memory

 Noncomplience

 Disturb Personal identity

 Inefective role perfomence

 Self care deficit (bathing, hygine, dressing, grooming)

 Disturbed sensory perception

 Impaired social interaction

 Sosial isolation

 Risk for suicide


 Inefektif therapeutic regiment mangement

 Disturbed thouhgt Processes

2. Data yang perlu dikaji pada masahkeperawatan waham:

a) Meyakini memiliki kebesaran atau kekuasaan khusus, diucapkan berulang kali


tetapi tidak sesuai dengan kenyataan

b) Meyakini ada seseorang atau kelompok yang berusaha merugikan atau


mencederai dirinya, diucapkan berulangkali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan

c) Memilki keyakinan terhadap suatu agama scara berlebihan, diucapkan


berulangkali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.

d) Meyakini bahwa dirinya sudah tidak ada id dunia atau meninggal, diucapkan
berulangkali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.

J. Pohon Masalah

Resiko Prilaku Kekerasan

Gangguan Proses pikir atau


GPP : WAHAM

Gangguan Konsep diri : Harga diri Rendah

K. Diagnosis

1 Diagnosis Keperawatan : Gangguan proses pikir : Waham

2 Diagnosis Medis : Skizofrenia


Rencana Tindakan

1 Rencana tindakan keperawatan

Pertemuan ke.. I II III IV VI s.d XII


Paien 1 Identifikasi 1 Evaluasi 1 Evaluasi 1 Evaluasi 1 Evaluasi
tanda dan kegiatan kegiatan kegiatan kegiatan
gejala waham pemenuhan pemenuhan pemenuhan pemenuhan
2 Bantu 2 Diskusikan pasien, kegiatan pasien, kebutuhan,
orientasi pemenuhan yang dilakukan kegiatan yang kegiatan yang
realitas : yang dimilki pasien, dan dilatih dan dilatih dan
panggil nama , 3 Latih berikan pujian minum obat minum obat.
orientasi kemampuan 2 Jelaskan berikan pujian Beri pujian
waktu, yang dipilih, tentang obat 2 Diskusikan 2 Nilai
orientasi berikan yang diminum kebutuhan lain kemampuan
tempat dan pujian 6 benar, jenis, dan cara yang telah
lingkungan 4 Masukkan guna, dosis, memnuhinya mandiri
3 Bantupasien pada jadwal frekuensi, cara, 3 Diskusikan 3 Nilai apakah
memenuhi pemenuhan kontuinitas, kemampuan frekuensi
kebutuhan kebutuhan minum obat) yang dimilki munculnya
yang realistis yang telah dan tanyakan dan memilih waham
4 Masukkan dilatih manfaat yang yang akan berkurang,
pada jadwal dirasakan dilatih, apakah waham
pemenuhan 3 Masukkan pada kemudian latih terkontrol
kebutuhan jadwal 4 Masukkan
pemenuhan jadwal pada
kebutuhan, pemenuhan
Waha
kegiatan yang kebutuhan ,
m
telah dilatih dan kegiatan yang
obat dilatih dan
minum obat
Kelua 1 Diskusikan 1 Evaluasi 1 Evaluasi 1 Evaluasi 1 Evaluasi
rga masalah yang kegiatan kegiatan kegiatan kegiatan
dirasakn keluarga keluarga dalam keluarga dalam keluarga dalam
dalam dalam bimbingan bimbingan bimbingan
merawat bimbingan pasien memenuhi pasien pasien
pasien pasien kebutuhan pasien memenuhi memenuhi
2 Jelaskan memenuhi dan kebutuhan kebutuhan
pengertian kebutuhan. memebimbing pasien, pasien,
tanda dan Berikan pasien dalam membimbing memebimbing
gejala dan pujian memlaksanakan pasien pasien
proses 2 Latih cara kegiatan yang melaksanakan melakukan
terjadinya memenuhi dilatih dan beri kegiatan yang kegiatan yang
waham kebutuhan pujian telah dilatih telah dilatih,
3 Jelaskan cara pasien 2 Jelaskan obat dan minum minum obat.
merawat, tidak 3 Latih cara yang diminum obat. Berikan Berikan pujian
disangkal, melatih oleh pasien dan pujian 2 Nilai
tidak diikuti kemampuan cara 2 Jel;askkan kemampuan
diterima yang dimilki memmbimbingn follow up ke keluarga
(netral) pasien ya RSJ/ merawat pasien
4 Latih cara 4 Anjurkan 3 Anjurkan PKmtanda 3 Nilai
memenuhi membantu membantu pasien kambuh,, kemampuan
kebutuhan pasien sesuai jadwal rujukan keluarga
pasien dan sesuai dan berikan 3 Anjurkan melakukan
mengetahui jadwal dan pujian membantu kontrol kerumah
kemampuan beri pujian pasien sesuai sakit jiwa/ PKM
pasien jadual dan
5 Anjurkan berikan pujian
membantu
pasien sesuai
jadwal dan
berikan pujian

Sesuai buku Pak LELENO

tambahan

Rencana Keperawatan WAHAM


Diagnosa Keperawatan 1: kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan waham
1. Tujuan umum :
Klien tidak terjadi kerusakan komunikasi verbal
2. Tujuan khusus :
a) Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat
Tindakan :
· Bina hubungan. saling percaya: salam terapeutik, perkenalkan diri, jelaskan tujuan interaksi,
ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas topik, waktu, tempat).
· Jangan membantah dan mendukung waham klien: katakan perawat menerima keyakinan
klien “saya menerima keyakinan anda” disertai ekspresi menerima, katakan perawat tidak
mendukung disertai ekspresi ragu dan empati, tidak membicarakan isi waham klien.
· Yakinkan klien berada dalam keadaan aman dan terlindungi: katakan perawat akan
menemani klien dan klien berada di tempat yang aman, gunakan keterbukaan dan kejujuran
jangan tinggalkan klien sendirian.
· Observasi apakah wahamnya mengganggu aktivitas harian dan perawatan diri.
b) Klien dapat mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki
Tindakan :
· Beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien yang realistis.
· Diskusikan bersama klien kemampuan yang dimiliki pada waktu lalu dan saat ini yang
realistis.
· Tanyakan apa yang biasa dilakukan kemudian anjurkan untuk melakukannya saat ini
(kaitkan dengan aktivitas sehari hari dan perawatan diri).
· Jika klien selalu bicara tentang wahamnya, dengarkan sampai kebutuhan waham tidak ada.
Perlihatkan kepada klien bahwa klien sangat penting.
c) Klien dapat mengidentifikasikan kebutuhan yang tidak terpenuhi
Tindakan :
· Observasi kebutuhan klien sehari-hari.
· Diskusikan kebutuhan klien yang tidak terpenuhi baik selama di rumah maupun di rumah
sakit (rasa sakit, cemas, marah)
· Hubungkan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan timbulnya waham.
· Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan klien dan memerlukan waktu dan
tenaga (buat jadwal jika mungkin).
· Atur situasi agar klien tidak mempunyai waktu untuk menggunakan wahamnya.
d) Klien dapat berhubungan dengan realitas
Tindakan :
· Berbicara dengan klien dalam konteks realitas (diri, orang lain, tempat dan waktu).
· Sertakan klien dalam terapi aktivitas kelompok : orientasi realitas.
· Berikan pujian pada tiap kegiatan positif yang dilakukan klien
e) Klien dapat menggunakan obat dengan benar
Tindakan :
· Diskusikan dengan kiten tentang nama obat, dosis, frekuensi, efek dan efek samping
minum obat
· Bantu klien menggunakan obat dengan priinsip 5 benar (nama pasien, obat, dosis, cara dan
waktu).
· Anjurkan klien membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan
· Beri reinforcement bila klien minum obat yang benar.
f) Klien dapat dukungan dari keluarga
Tindakan :
· Diskusikan dengan keluarga melalui pertemuan keluarga tentang: gejala waham, cara
merawat klien, lingkungan keluarga dan follow up obat.
· Beri reinforcement atas keterlibatan keluarga.

Diagnosa Keperawatan 2: Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berhubungan
dengan waham
1. Tujuan Umum:
Klien terhindar dari mencederai diri, orang lain dan lingkungan.
2. Tujuan Khusus:
a) Klien dapat membina hubungan saling percaya.
Tindakan:
· Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, empati, sebut nama perawat dan jelaskan
tujuan interaksi.
· Panggil klien dengan nama panggilan yang disukai.
· Bicara dengan sikap tenang, rileks dan tidak menantang.
· Beri perhatian dan penghargaan : teman klien walau tidak menjawab.
b) Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan.
Tindakan:
· Beri kesempatan mengungkapkan perasaan.
· Bantu klien mengungkapkan perasaan jengkel / kesal.
· Dengarkan ungkapan rasa marah dan perasaan bermusuhan klien dengan sikap tenang.
c) Klien dapat mengidentifikasi tanda tanda perilaku kekerasan.
Tindakan :
· Anjurkan klien mengungkapkan yang dialami dan dirasakan saat jengkel/kesal.
· Observasi tanda perilaku kekerasan.
· Simpulkan bersama klien tanda tanda jengkel / kesal yang dialami klien.
d) Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
Tindakan:
· Anjurkan mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
· Bantu bermain peran sesuai dengan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
· Tanyakan “apakah dengan cara yang dilakukan masalahnya selesai?”
e) Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan.
Tindakan:
· Bicarakan akibat/kerugian dari cara yang dilakukan.
· Bersama klien menyimpulkan akibat dari cara yang digunakan.
· Tanyakan apakah ingin mempelajari cara baru yang sehat.
f) Klien dapat mengidentifikasi cara konstruktif dalam berespon terhadap kemarahan.
Tindakan :
· Beri pujian jika mengetahui cara lain yang sehat.
· Diskusikan cara lain yang sehat.Secara fisik : tarik nafas dalam jika sedang kesal, berolah
raga, memukul bantal / kasur.
· Secara verbal : katakan bahwa anda sedang marah atau kesal / tersinggung
· Secara spiritual : berdo’a, sembahyang, memohon kepada Tuhan untuk diberi kesabaran.
g) Klien dapat mengidentifikasi cara mengontrol perilaku kekerasan.
Tindakan:
· Bantu memilih cara yang paling tepat.
· Bantu mengidentifikasi manfaat cara yang telah dipilih.
· Bantu mensimulasikan cara yang telah dipilih.
· Beri reinforcement positif atas keberhasilan yang dicapai dalam simulasi.
· Anjurkan menggunakan cara yang telah dipilih saat jengkel / marah.
h) Klien mendapat dukungan dari keluarga.
Tindakan :
· Beri pendidikan kesehatan tentang cara merawat klien melalui pertemuan keluarga.
· Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga.
i) Klien dapat menggunakan obat dengan benar (sesuai program).
Tindakan:
· Diskusikan dengan klien tentang obat (nama, dosis, frekuensi, efek dan efek samping)
· Bantu klien mengunakan obat dengan prinsip 5 benar (nama klien, obat, dosis, cara dan
waktu).
· Anjurkan untuk membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan.

Diagnosa Keperawatan 3: Perubahan isi pikir : waham ( …….. ) berhubungan dengan harga
diri rendah
1. Tujuan umum :
Klien tidak terjadi gangguan konsep diri : harga diri rendah/klien akan meningkat harga
dirinya.
2. Tujuan khusus :
a) Klien dapat membina hubungan saling percaya
Tindakan :
· Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, perkenalan diri, jelaskan tujuan interaksi,
ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas (waktu, tempat dan topik
pembicaraan)
· Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya
· Sediakan waktu untuk mendengarkan klien
· Katakan kepada klien bahwa dirinya adalah seseorang yang berharga dan bertanggung
jawab serta mampu menolong dirinya sendiri
b) Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
Tindakan :
· Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
· Hindarkan memberi penilaian negatif setiap bertemu klien, utamakan memberi pujian yang
realistis
· Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
c) Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan
Tindakan :
· Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
· Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah pulang ke rumah
d) Klien dapat menetapkan / merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki
Tindakan :
· Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan
· Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien
· Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan

e) Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemampuan


Tindakan :
· Beri kesempatan mencoba kegiatan yang telah direncanakan
· Beri pujian atas keberhasilan klien
· Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah
f) Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang adA
Tindakan :
· Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien
· Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat
· Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah
· Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga
BAHAN BACAAN

FIK-UI, (2014). Standar Asuhan Keperawatan: Spesialis Keperawatan Jiwa, Workshop Ke-7
Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia, Jakarta.
Kaplan, H.I. ; Saddock, B.J. & Grebb,J.A. (2007). Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Perilaku
Psikiatri Klinis. Jilid I. (7th ed.). Jakarta : Bina Rupa Aksara. Jakarta.
Keliat, B.A., & Tim (2011). Manajemen Kasus Gangguan Jiwa. Jakarta :EGC.
Stuart, G.W. & Laraia, M.T. (2005). Principles and Pratice of Psychiatric Nursing, 8th ed.
Missouri : Mosby, Inc.
Shives, L.R (2012). Basic Concept of Psichiatric Mental Health Nursing. 9th ed. Philadelphia :
Lippincott Williams & Wilkins.
Videback, Sheila L. (2011). Psichiatric-mental Health Nursing/ Sheila L. Videback;
[illustrations by Cathy J. Miller].- 5th ed. Philadelphia : Lippincott Williams & Wilkins.
Townsend, (2014). Essentials of Psiciatric Mental Health Nursing : Concept of Care in
Evidence-Based Pratice/Mary C. Townsend.- 6th ed.