Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN ANALISIS EPIDEMIOLOGI

“Analisis Epidemiologi TB-HIV di Balai Kesehatan Masyarakat Wilayah Semarang”

Dosen Pengampu : Yuliaji Siswanto SKM.,M.Kes(epid)

oleh :

Nama Kelompok :
1. Widya Kosala Dewi (020115A011)
2. Bilqis Fikrotul Uliya (020116A007)
3. Salma Maulida (020116A024)
4. Muh Turmuzi Marta C (020116A006)
5. Nandito Mapian Magai (020116A020)

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS NGUDI WALUYO
2018
KATA PENGANTAR

Puji dan rasa syukur kelompok panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat limpahan
rahmat-Nya maka Laporan Kegiatan Praktikum di Balai Kesehatan Masyarakat dan Analisis
Epidemiologi dapat selesai. Salam dan salawat semoga selalu tercurah pada baginda
Rasulullah Muhammad SAW.
Kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas semua bantuan yang telah
diberikan, baik secara langsung maupun tidak langsung selama penyusunan Laporan
Kegiatan ini hingga selesai. Secara khusus rasa terimakasih tersebut kami sampaikan kepada:

1. Ibu Yuliaji Siswanto S.KM, M.Kes (Epid) selaku Ketua Program Studi Kesehatan
Masyarakat dan Dosen Mata Kuliah Hiegine Lingkungan Kerja
2. Serta rekan-rekan di Jurusan Kesehatan Masyarakat, Universitas Ngudi Waluyo yang
juga telah banyak membantu dan memotivasi dalam menyelesaikan Laporan ini.

Penulis menyadari bahwa Laporan ini masih jauh dari sempurna, baik dari segi materi
meupun penyajiannya.Untuk itu saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan dalam
penyempurnaan Laporan kami.

Harapannya, semoga Laporan ini dapat memberikan hal yang bermanfaat dan
menambah wawasan bagi pembaca dan khususnya bagi Kelompok.

Ungaran, 27 Desember 2018

Penyusun
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Peningkatan pelayanan kesehatan di Indonesia terus diupayakan, upaya


peningkatan derajat kesehatan ditekankan dalam upaya promotif dan promotif dalam
hal ini peran serta masyarakat harus ditingkatkan. Karena pada dasarnya setiap orang
mempunyai hak yang sama untuk memperoleh derajat kesehatan yang optimal (UU
Nomor 23 tahun 1992), Untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan masyarakat
yang ditandai dengan tingginya angka prevalensi dan angka insiden penyakit, atau
angka prevalensi rendah tapi mempunyai dampak kesakitan dan kematian tinggi,
dibutuhkan sarana pelayanan kesehatan masyarakat strata kedua yang mempunyai
wilayah kerja. Sarana pelayanan kesehatan masyarakat strata kedua ini disebut Balai
Kesehatan Masyarakat (Balkesmas).Dan Balkesmas Provinsi Jawa Tengah bertempat
di Kota Semarang yang merupakan jenis pelayanan kesehatan strata kedua dilingkup
wilayah kerjanya.
Dalam pelayanan kesehatan di Balai kesehatan Masyarakat Provinsi Jawa
Tengah memiliki pelayanan kesehatan secara UKM (Upaya Kesehatan Masyarakat )
dan UKP (Upaya Kesehatan Perseorangan) , untuk pelayanan UKM dan UKP
memiliki beberapa jenis pelayana yang diberikan kepada masyarakat dalam beberapa
poli atau kegiatan luar gedung, seperti Poli Umum, Poli Gizi, Poli TBC, Poli HIV,
Poli KBM(Klinik Berhenti Merokok), Klinik VCT, Klinik Sanitasi. Beberapa klinik
tidak melakukan kegiatan luar gedung karena lingkup wilayah yang luas namun untuk
beberapa kasus urgensi akan tetap dilakukan.Upaya Kesehatan Masyarakat berupa
kegiatan luar gedung dilakukan dengan bekerjasama dengan unit pelaksana teknis
Puskesmas pada daearah di wilayah kerja Balkesmas Provinsi Jawa Tengah.
Dengan beberapa jenis pelayanan tersebut didapatkan beberapa data yang
dapat dioleh dan dianalsis yang bertujuan untuk kegiatan evaluasi dan pembuatan
kebijakan atau program dalam penanganan penyakit yang terkait. Data dari beberapa
poli yang ada salah satunya yaitu penyakit TBC (Tuberculosis), terjadi kenaikan
angka penyakit menular (Riskesdas 2018) dan Indonesia merupakan negara dengan
jumlah kasus baru terbanyak kedua setelah India sebesar (60%) (Profil Kesehatan
Jawa Tengah, 2017). Dan data yang didapatkan dari Balkesmas Jawa Tengah terjadi
angka kesembuhan dari tahun 2014-2017 yaitu mencapi 86,71%. Berdasarkan data
tersebut diketahui juga bahwa terjadi penurunan pengobatan secara lengkap dari
penderita TBC yaitu 48,35% dalam periode 2014-2017 dengan total kasus positif HIV
1128 pada tahun 2017 (data Balkesmas Jawa Tengah).Dengan adanya program
PITC(Provider Initiating Testing and Conceling) yaitu inisiasi petugas kesehatan utuk
menemukan kasus HIV yang masih termasuk Ice Break fenomena sehingga banyak
ditemukan kasus TB posotif dengan HIV,Kita tahu bahwa kedua penyakit ini
merupakan penyakit menular dan memiliki Case Fatality yang tinggi sehingga perlu
dilakukan analisis secara menyeluruh tentang penemuan kasus TB positif dengan HIV
dan dapat dilakukan penentuan program dan kebijakan yang tepat terhadap masalah
tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan rumusan masalah yang
berkaitan yaitu “Bagaiamana gambaran jumlah penderita TBC di Balkesmas (Balai
Kesehatan Masyarakat) Jawa Tengah , dan Alternatif Penyelesaiannya”?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari laporan analisis epidemiologi sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui gambaran Jumlah Penderita TBC di Balkesmas Semarang.
2. Untuk mengetahui prioritas masalah yang ditemukan.
3. Untuk menentukan alternatif penyelesaian dari Prioritas Masalah yang
ditemukan.
1.4 Manfaat
1. Mengetahui gambaran Jumlah Penderita TBC di Balkesmas Semarang.
2. mengetahui prioritas masalah yang ditemukan.
3. menentukan alternatif penyelesaian dari Prioritas Masalah yang ditemukan.
BAB 2
LANDASAN TEORI

2.1 KONSEP DASAR BALAI KESEHATAN MASYARAKAT

A. Pengertian
Balai Kesehatan Masyarakat (Balkesmas) adalah Unit Pelaksana Teknis yang
menyelenggarakan upaya kesehatan strata kedua, untuk mengatasi masalah kesehatan
masyarakat tertentu secara terintegrasi dan menyeluruh di suatu wilayah kerja.
1. Unit Pelaksana Teknis
Unit Pelaksana Teknis (UPT) adalah satuan organisasi yang bersifat mandiri, yang
melaksanakan tugas teknis operasional dan atau tugas teknis penunjang dari
organisasi induknya.

2. Upaya Kesehatan Strata Kedua


Upaya kesehatan strata kedua adalah upaya kesehatan tingkat lanjutan yang
mendayagunakan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan spesialistik.
3. Masalah kesehatan masyarakat tertentu
Masalah kesehatan masyarakat tertentu adalah masalah kesehatan yang ditandai
dengan insiden dan prevalensi yang tinggi, atau prevalensi rendah tapi
mempunyai dampak kesakitan dan kematian tinggi. Tertentu artinya satu jenis
masalah kesehatan masyarakat.
4. Wilayah kerja
Wilayah kerja Balai Kesehatan Masyarakat dapat meliputi satu wilayah
Kabupaten/Kota, Provinsi atau sesuai dengan kewenangan yang ditetapkan oleh
organisasi induknya.

B. Visi
Terwujudnya masyarakat sehat dalam mendukung tercapainya Indonesia Sehat.
Setiap Balai Kesehatan Masyarakat dapat menetapkan visi masing-masing sesuai
dengan kondisi dan kebutuhan serta visi organisasi induknya.
C. Misi
Untuk mencapai visi tersebut Balai Kesehatan Masyarakat mempunyai misi sebagai
berikut :
1. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan di wilayah kerjanya
Balai Kesehatan Masyarakat menggerakkan pembangunan yang dilakukan oleh
sektor lain di wilayah kerjanya, agar pembangunan tersebut tidak menimbulkan
dampak negatif terhadap masalah kesehatan masyarakat tertentu.
2. Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat di wilayah
kerjanya
Balai Kesehatan Masyarakat selalu berupaya agar setiap keluarga dan masyarakat
di wilayah kerjanya, secara mandiri mampu mencegah dan mengatasi masalah
kesehatan tertentu di masyarakat sesuai kemampuannya.
3. Meningkatkan mutu, pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan
masyarakat
Balai Kesehatan Masyarakat dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan strata
kedua sesuai bidangnya, selalu berupaya memenuhi standar, memuaskan
masyarakat serta mengupayakan pemerataan dan keterjangkauan pelayanan
dengan menerapkan teknologi tepat guna.
4. Mengembangkan jejaring kemitraan dan koordinasi dengan institusi terkait .
Balai Kesehatan Masyarakat selalu berupaya mengembangkan jejaring kemitraan
dan koordinasi dengan institusi terkait dalam mengatasi masalah kesehatan di
masyarakat.

D. Tujuan :
Tujuan Balai Kesehatan Masyarakat adalah meningkatkan status kesehatan
masyarakat melalui penyelenggaraan upaya kesehatan masyarakat strata kedua
sesuai bidangnya kepada masyarakat di wilayah kerjanya.
E. Tugas Pokok dan Fungsi
1. Tugas Pokok
Balai Kesehatan Masyarakat mempunyai tugas melaksanakan sebagian fungsi dari
organisasi induknya, melalui penyelenggaraan upaya kesehatan strata kedua
untuk mengatasi masalah kesehatan masyarakat tertentu di wilayah kerjanya.
2. Fungsi
Balai Kesehatan Masyarakat mempunyai fungsi:
a. Memberdayakan masyarakat untuk mampu mencegah dan mengatasi masalah
kesehatan masyarakat tertentu.
b. Membantu organisasi induknya memberikan bimbingan teknis kepada sarana
pelayanan kesehatan secara berjenjang sesuai bidangnya.
c. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan strata kedua sesuai bidangnya.
d. Mengembangkan jejaring kemitraan dan koordinasi dengan institusi terkait
dalam mengatasi masalah kesehatan masyarakat tertentu.
e. Menyelenggarakan penelitian dan pelatihan teknis masalah kese-hatan sesuai
bidangnya.
2.2 Tuberculosis
a. Pengertian
Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh
kuman TB (Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru
tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya.
b. . Epidemiologi TB
Pada tahun 1990-an, situasi TB di dunia semakin memburuk, jumlah
kasus TB meningkat dan banyak yang tidak berhasil disembuhkan terutama pada
negara yang dikelompokkan dalam 22 negara dengan masalah TB besar (high
burden countries). Menyikapi hal tersebut, pada tahun 1993, WHO
mencanangkan TB sebagai kedaruratan dunia (global emergency). Penyebab utama
meningkatnya beban masalah TB antara lain adalah:
1) Kemiskinan pada berbagai kelompok masyarakat seperti pada negara-negara yang
sedang berkembang.
2) Kegagalan program TB selama ini.
Hal ini diakibatkan oleh:
1) Tidak memadainya komitmen politik dan pendanaan.
2) Tidak memadainya organisasi pelayanan TB (kurang terakses oleh masyarakat,
penemuan kasus /diagnosis yang tidak standar, obat tidak terjamin
penyediaannya, tidak dilakukan pemantauan, pencatatan dan pelaporan yang
standar dan sebagainya).
3) Tidak memadainya tatalaksana kasus (diagnosis dan paduan obat yang tidak standar,
gagal menyembuhkan kasus yang telah didiagnosis).
4) Salah persepsi terhadap manfaat dan efektifitas Bacillus Calmettee Guerin (BCG) .
5) Infrastruktur kesehatan yang buruk pada negara-negara yang mengalami krisis
ekonomi atau pergolakan masyarakat.
6) atau pergolakan masyarakat.
7) Perubahan demografik karena meningkatnya penduduk dunia dan perubahan
struktur umur kependudukan.
8) Dampak pandemi HIV.
c. Riwayat Alamiah TB
Pasien TB dapat mengeluarkan kuman TB dalam bentuk droplet yang infeksius ke
udara pada waktu pasien TB tersebut batuk (sekitar 3.000 droplet) dan bersin (sekitar
1 juta droplet). Droplet tersebut dengan cepat menjadi kering dan menjadi partikel
yang sangat halus di udara. Ukuran diameter droplet yang infeksius tersebut hanya
sekitar 1 – 5 mikron. Pada umumnya droplet yang infeksius ini dapat bertahan dalam
beberapa jam sampai beberapa hari. Pada keadaan gelap dan lembab kuman TB dalam
droplet tersebut dapat hidup lebih lama sedangkan jika kena sinar matahari langsung
(sinar ultra-violet) maka kuman TB tersebut akan cepat mati. Pasien TB yang tidak
diobati maka setelah 5 tahun akan:
1. 50% meninggal.
2. 30% akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh yang tinggi.
3. 20% menjadi kasus kronik yang tetap menular.
(Tuberculosis, A Manual for medical students by Nadia ait-Khaled and Donaldo.
Enarson, WHO, 2003).
d. Patogenesis TB
Seseorang akan terinfeksi kuman TB kalau dia menghirup droplet yang mengandung
kuman TB yang masih hidup dan kuman tersebut mencapai alveoli paru (catatan:
Seseorang yang terinfeksi biasanya asymptomatic/tanpa gejala). Sekali kuman
tersebut mencapai paru maka kuman ini akan ditangkap oleh makrofag dan
selanjutnya dapat tersebar ke seluruh tubuh.Orang yang terinfeksi kuman TB dapat
menjadi sakit TB bila kondisi daya tahan tubuhnya menurun. Sebagian dari kuman
TB akan tetap tinggal dormantdan tetap hidup sampai bertahun-tahun dalam
tubuh manusia. Hal ini dikenal sebagai infeksi TB laten. Seseorang dengan
infeksi TB laten tidak mempunyai gejala TB aktif dan tidak menular.
e. Faktor Yang Mempengaruhi Risiko Penularan TB
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemungkinan seorang yang terpajan dengan
kuman TB menjadi terinfeksi, yaitu:
1. Konsentrasi droplet-infeksius di udara. Ini dipengaruhi oleh jumlah
droplet-infeksius yang dikeluarkan oleh pasien TB maupun keadaan ventilasi
di area pajanan .
2. Lamanya pajanan tersebut terjadi.
Jika seorang hidup atau tidur sekamar dengan pasien TB maka mereka mempunyai
risiko besar untuk menghirup droplet yang infeksius. Hanya droplet halus yang dapat
mencapai alveoli paru. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sehubungan
dengan meningkatnya risiko penularan pasien TB:
1. Lokasi penyakitnya (di paru, saluran napas atau laring).
2. Terdapatnya batuk atau tenaga yang mendorong kuman tersebut keluar.
3. Dahak BTA positif.
4. Terdapatnya kavitas paru.
5. Pasien tidak menutup mulut dan hidung pada waktu batuk atau bersin.
Biasanya setelah pengobatan TB dimulai maka dalam waktu singkat pasien TB
menjadi tidak menular (sekitar 2 minggu). Jadi, seorang petugas kesehatan dapat
dikatakan turut berkontribusi pada penularan TB, bila:
1. Terlambat memulai pengobatan pada pasien TB.
2. Tidak memberi pengobatan TB dengan paduan obat yang memadai.
3. Melakukan prosedur yang dapat merangsang batuk (misalnya bronkoskopi
atau induksi sputum) tanpa memperhatikan pengamanan perorangan.
Faktor-faktor lingkungan yang dapat meningkatkan penularan, adalah:
1. Pajanan terjadi di ruangan yang relatif kecil dan tertutup.
2. Kurangnya ventilasi untuk mengalirkan udara sehingga terjadi pengenceran
dan pembuangan droplet infeksius.
Jadi, makin dekat dan makin lama seorang kontak dengan pasien TB yang menular
(Pasien TB paru BTA positif yang belum diobati) maka makin besar risiko yang
bersangkutan terinfeksi TB.
f. Risiko Berkembangnya Penyakit Setelah Infeksi
Tidak semua orang yang terinfeksi Mycobacterium tuberculosisakan jadi sakit
TB. Hanya sekitar 10% saja yang akan berkembang menjadi sakit TB aktif. Biasanya
risiko menjadi sakit TB ini terjadi sebelum 1 tahun setelah terjadinya infeksi. Ada
beberapa faktor yang dapat menurunkan daya tahan tubuh sehingga yang
bersangkutan mudah berkembang menjadi sakit TB aktif, misalnya: malnutrisi,
kondisi yang menurunkan sistem imunitas (infeksi HIV, diabetes, penggunaan
kortikosteroid atau obat-obat imunosupresif lain dalam jangkapanjang). Sekitar 60%
ODHA yang terinfeksi dengan kuman TB akan menjadi sakit TB selama hidupnya.
Seperti telah dijelaskan di atas maka pada orang dengan HIV negatif, risiko ini jauh
lebih rendah yaitu hanya sekitar 10%. Faktor risiko kejadian TB secara ringkas
digambarkan pada gambar berikut ini

g. Beberapa istilah dalam definisi kasus:


1. Kasus TB : Pasien TB yang telah dibuktikan secara mikroskopis atau didiagnosis oleh
dokter.
2. Kasus TB pasti (definitif) : pasien dengan biakan positif untuk Mycobacterium
tuberculosis atau tidak ada fasilitas biakan, sekurang-kurangnya 2 dari 3
spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif.
Kesesuaian paduan dan dosis pengobatan dengan kategori diagnostik sangat diperlukan
untuk:
1. Menghindari terapi yang tidak adekuat (undertreatment) sehingga mencegah
timbulnya resistensi
2. Menghindari pengobatan yang tidak perlu (overtreatment) sehingga meningkatkan
pemakaian sumber-daya lebih biaya efektif (cost-effective)
h. Klasifikasi Berdasarkan Hasil Pemeriksaan Dahak Mikroskopis, Yaitu Pada Tb Paru:
1. Tuberkulosis paru BTA positif
a) Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif.
b) 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada
menunjukkan gambaran tuberkulosis.
c) 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman TB positif.
d) 1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen dahak SPS pada
pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan
setelah pemberian antibiotika non OAT.
2. Tuberkulosis paru BTA negatifKasus yang tidak memenuhi definisi pada TB paru
BTA positif. Kriteria diagnostik TB paru BTA negatif harus meliputi:
a) Minimal3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif
b)Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran tuberkulosis
c) Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.
d) Ditentukan (dipertimbangkan) olehdokter untuk diberi pengobatan
i. Klasifikasi berdasarkan RIWAYAT pengobatan
Klasifikasi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya dibagi menjadi
beberapa tipe pasien, yaitu:
1) Kasus Baru, Adalah pasien yang BELUMPERNAHdiobati dengan OAT atau
sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu).
2) Kasus Kambuh (Relaps), Adalah pasien TB yang sebelumnya pernah
mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau
pengobatan lengkap, didiagnosis kembali dengan BTA positif (apusan atau
kultur).
3) Kasus Putus Berobat (Default/Drop Out/DO), Adalah pasien TB yang telah
berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih dengan BTA positif.
4) Kasus Gagal (Failure), Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap
positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama
pengobatan.
5) Kasus Pindahan (Transfer In), Adalah pasien yang dipindahkan dari UPK yang
memiliki register TB lain untuk melanjutkan pengobatannya.
6) Kasus lain, Adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas. Dalam
kelompok ini termasuk Kasus Kronik, yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan
masih BTA positif setelah selesai pengobatan ulangan.
2.3 KO-INFEKSI TB-HIV
a. Pengertian
Pandemi HIV/AIDS di dunia menambah permasalahan TB. Ko-infeksi dengan
HIV akan meningkatkan risiko kejadian TB secara signifikan. Di samping itu TB
merupakan penyebab utama kematian pada ODHA (sekitar 40-50%). Kematian yang
tinggi ini terutama pada TB paru BTA negatif dan TB ekstra paru yang kemungkinan
besar disebabkan keterlambatan diagnosis dan terapi TB. Sebagian besar orang yang
terinfeksi kuman TB (Mycobacterium tuberculosis) tidak menjadi sakit TB karena
mereka mempunyai sistem imunitas yang baik. Infeksi tanpa jadi sakit tersebut dikenal
sebagai infeksi TB laten. Namun, pada orang-orang yang sistem imunitasnya menurun
misalnya ODHA maka infeksi TB laten tersebut dengan mudah berkembang menjadi
sakit TB aktif. Hanya sekitar 10% orang yang tidak terinfeksi HIV bila terinfeksi kuman
TB maka akan menjadi sakit TB sepanjang hidupnya;sedangkan pada ODHA, sekitar
60% ODHA yang terinfeksi kuman TB akan menjadi sakit TB aktif. Dengan
demikian, mudah dimengerti bahwa epidemi HIV tentunya akan menyulut
peningkatan jumlah kasus TB dalam masyarakat.
Pasien TB dengan HIV positif dan ODHA dengan TB disebut sebagai
pasien ko-infeksi TB-HIV. Berdasarkan perkiraan WHO, jumlah pasien ko-infeksi
TB-HIV di dunia diperkirakan ada sebanyak 14 juta orang. Sekitar 80% pasien ko-
infeksi TB-HIV tersebut dijumpai di Sub-Sahara Afrika, namun ada sekitar 3 juta pasien
ko-infeksi TB-HIV tersebut terdapat di Asia Tenggara. Dari uraian tersebut di atas, jelas
bahwa epidemi HIV sangatlah berpengaruh pada meningkatnya kasus TB; sebagai
contoh, beberapa bagian dari Sub Sahara Afrika telah memperlihatkan 3-5 kali
lipat angka perkembangan kasus notifikasi TB pada dekade terakhir. Jadi, pengendalian
TB tidak akan berhasil dengan baik tanpa keberhasilan pengendalian HIV. Hal ini berarti
bahwa upaya-upaya pencegahan HIV dan perawatan.HIV haruslah juga merupakan
kegiatan prioritas bagi pengelola program TB.
a. Tuberkulosis pada perjalanan infeksi HIV
Tuberkulosis dapat terjadi kapanpun saat perjalanan infeksi HIV. Risiko
berkembangnya TB meningkat secara tajam seiring dengan semakin memburuknya
sistem kekebalan tubuh.
b. Konsekuensi ko-infeksi HIV dan M.tuberculosis
Dibandingkan dengan orang yang tidak terinfeksi HIV maka orang yang terinfeksi
HIV berisiko 10 kali lebih besar untuk mendapatkan TB. Notifikasi TB telah
meningkat pada populasi di mana infeksi HIV dan M.tuberculosismerupakan hal
yang biasa. Seroprevalensi HIV pada TB pasien ini di atas 70%.
c. Dampak pada pengendalian TB
Prinsip pengendalian TB tetap sama meskipun terdapat banyak pasien ko-infeksi
TB-HIV. Meskipun demikian, di populasi yang banyak terdapat pasien ko-
infeksi TB-HIV maka layanan kesehatan berjuang untuk menanggulangi
meluasnya dan meningkatnya jumlah pasien TB. Konsekuensinya sebagai
berikut:
1. Overdiagnosis TB paru BTA negatif (karena kesulitan dalam diagnosis).
2. Underdiagnosis TB paru BTA positif (karena beban kerja petugas
laboratorium).
3. Pengawasan terhadap OAT tidak adekuat.
4. Angka kesembuhan yang rendah.
5. Angka kesakitan tinggi selama perawatan.
6. Angka kematian tinggi selama perawatan.
7. Angka kegagalan tinggi karena efek samping.
8. Tingginya angka pasien TB yang kambuh.
9. Meningkatnya penularan strain M.tb yang resisten obat pada pasien yang
terinfeksi HIV pada
10. lingkungan yang padat seperti lapas/rutan.
b. Pola ko-infeksi TB-HIV
Ketika infeksi HIV berkembang maka jumlah dan fungsi limfosit-T CD4+
menurun. Sel-sel ini mempunyai peran yang penting untuk melawan kuman TB. Dengan
demikian, sistem kekebalan tubuh menjadi kurang mampu untuk mencegah
perkembangan dan penyebaran lokal kuman ini. Tuberkulosis ekstraparu dan
diseminata (meluas) menjadi lebih lazim ditemukan.
1. Tuberkulosis Paru
Tuberkulosis paru masih merupakan penyakit yang paling sering ditemukan pada
orang yang terinfeksi HIV. Gambaran klinisnya tergantung tingkat kekebalan
tubuh. Tabel di bawah ini menunjukkan bagaimana gambaran klinis, hasil
mikroskopis TB dan gambaran foto toraks seringkali berbeda antara stadium awal dan
lanjutan infeksi HIV.

2. Tuberkulosis ekstraparu
Bentuk yang paling sering ditemukan pada TB ekstraparu adalah efusi pleura,
limpadenopati, penyakit perikardium, milier, meningitis, TB diseminata/meluas
(dengan mikobakteriemia).
c. TB-HIV pada anak
Seperti pada orang dewasa, riwayat alamiah TB pada anak yang terinfeksi HIV
tergantung pada stadium infeksi HIV. Pada awal infeksi HIV, ketika sistem kekebalan
masih bagus maka gejala TB mirip dengan anak-anak yang tidak terinfeksi HIV.
Ketika infeksi HIV berkembang dan kekebalan menurun maka penyebaran TB
menjadi hal yang biasa terjadi. Dapat terjadi meningitis TB, TB milier dan limfadenopati
TB yang meluas.
d. Dampak TB pada HIV
Pada individu yang terinfeksi HIV, terdapatnya infeksi lain termasuk TB dapat
membuat virus HIV berkembang biak dengan lebih cepat sehingga progresivitas penyakit
menjadi lebih cepat.
e. Strategi Pelaksanaan Kegiatan Kolaborasi TB-HIV di Indonesia
Indonesia berada pada tingkat epidemi HIV terkonsentrasi (concentrated
epidemic) kecuali Tanah Papua yang termasuk epidemi HIV yang meluas. Strategi
pelaksanaan Kolaborasi TB-HIV di Indonesia, meliputi kegiatan sebagai berikut:
1. Membentuk mekanisme kolaborasi
a) Membentuk kelompok kerja.
b) Melaksanakan surveilans HIV pada pasien TB.
c) Melaksanakan perencanaan bersama TB-HIV.
d) Melaksanakan monitoring dan evaluasi.
2.Menurunkan beban TB pada ODHA
a) Mengintensifkan penemuan kasus TB dan pengobatannya.
b) Menjamin pengendalian infeksi TB pada layanan kesehatan dan tempat orang
terkumpul
c) (rutan/lapas, panti rehabilitasi napza).
3. Menurunkan beban HIV pada pasien TB
a) Menyediakan konseling dan tes HIV.
b) Pencegahan HIV dan IMS.
c) Pengobatan preventif dengan kotrimoksasol (PPK) dan IO lainnya.
d) Perawatan, dukungan dan pengobatan (PDP) ARV untuk HIV/AIDS.
BAB III
IDENTIFIKASI DAN PRIORITAS MASALAH

3.1 Analisis Data


Tabel 3.1 Penemuan Pasien Tuberkulosis Menurut Wilayah
Tahun
Wilayah
2015 % 2016 % 2017 %
Semarang 1.203 82 1.035 80 877 78
Demak 145 10 134 10 133 12
Kendal 65 4 46 4 45 4
Grobogan 27 2 32 2 23 2
Lainnya 28 2 54 4 50 4
Jumlah 1.468 100 1.301 100 1.128 100

Hasil pemeriksaan BTA (+), BTA (-) RO (+), anak, ekstra paru, dan
kambuh berdasarkan data BALKESMAS penemuan pasien tuberkulosis
menurut wilayah Semarang, Demak, Kendal, Grobogan, dan lainnya 3 tahun
terkahir. Pada tahun 2015 penemuan pasien tuberkulosis tertinggi di wilayah
Semrang sebanyak 1.203 (82 %) orang dan terendah di wilayah Grobogan 27 (2
%) orang. Tahun 2016 tertingga berada di wilayah Semarang yaitu 1.035 (80 %)
orang dan terendah di wilayah Grobogan 32 (2 %) orang. Pada tahun 2017
tertinggi di wilayah Semarang sebanyak 877 (78 %) orang dan terendah berada
di wilayah Grobogan sebanyak 23 (2 %) orang. Dari penemuan pasien
tuberkulosis 3 tahun terakhir pada tahun 2015, 2016, dan 2017 tertinggi berada
di wilayah Semarang, sedangkan wilayah Grobogan termasuk penemuan pasien
tuberkulosis terendah.
Tabel 3.2 Hasil Pengobatan Pasien Tuberkulosis Balkesmas Wilayah
Semarang
Hasil Tahun
No Pengobatan 2014 % 2015 % 2016 % 2017 % Jumlah %
Pasien
1. Sembuh 143 33 62 23 69 21 19 14 293 25
2. Pengobatan 182 41 138 52 192 59 94 70 606 52
lengkap
3. Default/DO 92 21 36 14 13 4 4 3 145 12
4. Gagal 1 0 3 1 1 0 0 0 5 1
5. Pindah 10 2 21 8 37 11 15 11 83 7
6. Meninggal 11 3 5 2 14 5 3 2 33 3
Jumlah 439 100 265 100 326 100 135 100 1.165 100

Data hasil pengobatan pasien tuberkulosis BALKESMAS wilayah Semarang


pada tahun 2014, 2015, 2016, dan 2017 tertinggi dengan hasil pengobatan lengkap
sebanyak 606 orang (52 %) dari 559 orang pasien yang melakukan hasil pengobatan
sembuh, deflout/DO, pengobatan gagal, pengobatan pindah, dan meninggal serta
hanya 5 (2 %) orang pasien yang mengalami pengobatan gagal.
Tabel 3.4 Data Pasien Tuberkulosis – HIV Berdasarkan Jenis Kelamin BKPM
Semarang
Jenis Tahun
Jumlah %
Kelamin 2015 % 2016 %
Perempuan 17 44 5 17 22 32
Laki – Laki 22 56 24 83 46 68
Jumlah 39 100 29 100 68 100

Data pasien TB – HIV berdasarkan jenis kelamin BKPM Semarang tertinggi


pada tahun 2015 sebanyak 39 (100 %) orang dengan lebih banyak laki – laki 22 (56
%) orang. Pada tahun 2015 dan 2016 pasien TB – HIV tertinggi dengan jenis kelamin
laki – laki sebanyak 46 orang dari 68 orang pasien TB – HIV.
Tabel 3.5 Data Pasien Tuberkulosis – HIV Berdasarkan Hasil Pengobatan
BKPM Semarang
Hasil Tahun
No Jumlah %
Pengobatan 2015 % 2016 %
1. Sembuh 3 8 0 0 3 4
2. Pengobatan 16 42 14 47 30 44
lengkap
3. Default / DO 4 11 8 26 12 18
4. Pindah 7 18 6 20 13 19
5. Meninggal 8 21 2 7 10 15
Jumlah 38 100 30 100 68 100

Data pasien TB – HIV berdasarkan hasil pengobatan BKPM Semarang tertiggi


pada tahun 2015 sebanyak 38 (100 %) orang. Tahun 2015 dan 2016 hasil
pengobatan pasien TB – HIV tertinggi dengan hasil pengobatan lengkap
sebanyak 30 (44 %) orang dan terendah pada pasien sembuh 3 (4 %) orang dari
68 orang pasien TB – HIV Tahun 2015 dan 2016.

3.2 Identifikasi masalah penyakit

Identifikasi masalah merupakan langkah awal yang penting dalam proses


penelitian. Ketika peneliti menangkap fenomena yang berpotensi untuk diteliti,
langkah selanjutnya yang mendesak adalah mengidentifikasi masalah dari fenomena
yang diamati tersebut. Identikfikasi masalah sebagai bagian dari proses penelitian
dapat dipahami sebagai upaya mendefinisikan problem dan membuat defiisi tersebut
dapat diukur (measurable) sebagai langkah awal penelitian. Dari data evaluasi
pengobatan pasien TB Dewasa BALKESMAS WILAYAH SEMARANG mulai dari
tahun 2015 di identifikasi bahwa terdapat 11 kriteria yaitu angka keberhasilan
pengobatan sebanyak 72%, angka kesembuhan sebanyak 62,2%, proporsi pasien TB
Paru BTA (+) diantara suspek sebanyak 23,18%, Proporsi Pasien TB Paru BTA (+)
diantara Ps TB sebanyak 49,7%, Proporsi pasien TB Anak diantara Pasien TB
sebanyak 19,7%, Proporsi Pasien TB yang dites HIV (dewasa + anak) diobati
sebanyak 66,8%, angka konversi sebanyak 64,6%, angka keberhasilan pengobatan TB
Anak sebanyak 0, angka sukses rujukan sebanyak 18,30%, angka putus berobat
sebanyak 13,9%, dan suspek sebanyak 0. Dari data evaluasi pengobatan pasien TB
dewasa BKPM WILAYAH SEMARANG pada tahun 2018 pada triwulan I, II, III
yaitu angka keberhasilan pengobatan sebanyak 80,5%, proporsi pasien TB paru BTA
(+) diantara suspek sebanyak 16,7%, proporsi pasien TB paru BTA (+) diantara Ps TB
sebanyak 52,5%, proporsi pasien TB anak sebanyak 9,8%, proporsi pasien TB yang di
tes HIV (dewasa+anak) diobati sebanyak 69,50%, angka konversi sebanyak 65,4%,
angka keberhasilan pengobatan TB anak dan angka sukses rujukan belum diketahui,
angka putus berobat sebanyak 1,2%, dan suspek sebanyak 1620.

3.3 Prioritas masalah penyakit


Prioritas masalah adalah penentuan prioritas masalah untuk mengetahui sejauh
mana masalah itu penting dan apakah masalah tersebut dapat teratasi. Dari sebelas
kriteria yang ditemukan dari data evaluasi pengobatan pasien TB dewasa
BALKESMAS WILAYAH SEMARANG prioritas masalahnya adalah Proporsi
Pasien TB yang dites HIV (dewasa + anak) diobati yang ditemukan pada tahun 2015
sebanyak 66,8% dan pada tahun 2018 Proporsi Pasien TB yang di tes HIV
(dewasa+anak) diobati sebanyak 69,50% dari kedua temuan tersebut dari jumlah total
persen menempati posisi kedua setelah angka keberhasilan pengobatan dan
merupakan penyakit yang paling urgent yang harus segera tertangani oleh tenaga
medis, sehingga yang diprioritaskan pada kunjungan di BALKESMAS WILAYAH
SEMARANG adalah Proporsi Pasien TB yang di tes HIV (dewasa+anak) diobati.
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Penyelesaian masalah


Dari kunjungan BALKESMAS di WILAYAH SEMARANG tersebut dapat
diambil suatu pembelajaran bagi peserta Praktik Belajar Lapangan sebagai bekal
ilmunya serta sebagai dasar pembuatan laporan Praktik Belajar Lapangan.
Pelaksanaan kunjungan di BALKESMAS WILAYAH SEMARANG difokuskan
untuk mengangkat suatu masalah kesehatan menegenai penyakit Tuberkulosis
dengan strategi DOTS. Tuberkulosis adalah penyakit yang dapat disebabkan
Mycobacterium Tuberkulosa yang dapat menular melalui udara atau percikan
droplet pasien. Penerapan di BALKESMAS WILAYAH SEMARANG telah
melaksanakan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short Course)
dengan optimal.
Pada saat ini strategi yang lebih baik di BALKESMAS WILAYAH
SEMARANG adalah strategi DOTS. Strategi mempunyai tujuan utama yaitu
dengan mempunyai angka kesembuhan sebanyak 85% dan dapat mendeteksi
secara optimal bagi orang-orang atau pasien yang terinfeksi Tuberkulosisi.
Strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short Course) terbukti efektif
sebagai strategi penanggulangan TB di BALKESMAS WILAYAH SEMARANG.
Selain penerapan strategi DOTS di BALKESMAS WILAYAH SEMARANG
Strategi DOTS dan dimanfaatkan oleh banyak wilayah lain dengan hasil yang
bagus, termasuk di seluruh wilayah Balkesmas yang ada di Jawa Tengah.

4.2 Strategi Pelaksanaan Kegiatan Kolaborasi TB-HIV di Indonesia


Indonesia berada pada tingkat epidemi HIV terkonsentrasi (concentrated
epidemic) kecuali Tanah Papua yang termasuk epidemi HIV yang meluas. Strategi
pelaksanaan Kolaborasi TB-HIV di Indonesia, meliputi kegiatan sebagai berikut:
1. Membentuk mekanisme kolaborasi
e) Membentuk kelompok kerja.
f) Melaksanakan surveilans HIV pada pasien TB.
g) Melaksanakan perencanaan bersama TB-HIV.
h) Melaksanakan monitoring dan evaluasi.
2.Menurunkan beban TB pada ODHA
d) Mengintensifkan penemuan kasus TB dan pengobatannya.
e) Menjamin pengendalian infeksi TB pada layanan kesehatan dan tempat orang
terkumpul
f) (rutan/lapas, panti rehabilitasi napza).
4. Menurunkan beban HIV pada pasien TB
e) Menyediakan konseling dan tes HIV.
f) Pencegahan HIV dan IMS.
g) Pengobatan preventif dengan kotrimoksasol (PPK) dan IO lainnya.
h) Perawatan, dukungan dan pengobatan (PDP) ARV untuk HIV/AIDS.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2007.”Pedoman Nasional Penanggulangan


Tuberkulosis”. Edisi 2,cetakan pertama.
DEPKES.2008.”Diagnosis dan Tatalaksana Tuberkulosis pada Anak. Kelompok Kerja TB
Anak”. IDAI
KEMENKES. 2018.Riset Kesehatan Dasar
KEMENKES.2016.”Profil Kesehatan Jawa Tengah 2017”.Keputusan Menteri Kesehatan
Nomor : 425/MENKES/SK/VI/2016
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.2012.”Petunjuk Teknis Tata Laksana Klinis Ko-
Infeksi TB-HIV”. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Dan Penyehatan
Lingkungan
Undang-Undang Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan
LAMPIRAN FOTO KEGIATAN