Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Merokok merupakan suatu masalah di lingkungan masyarakat yang dapat

menimbulkan banyak kerugian baik dari segi sosial ekonomi maupun kesehatan

bahkan menyebabkan kematian. Perilaku merokok merugikan kesehatan baik

perokok aktif maupun perokok pasif karena dapat menyebabkan banyak penyakit,

seperti penyakit pada gigi dan mulut, sistem kardiovaskuler, sistem respirasi, kanker

serta masalah kesehatan lainnya seperti impotensi, gangguan kehamilan dan bayi lahir

premature (Kemenkes RI, 2011).

Secara nasional, rata-rata jumlah batang rokok yang di hisap setiap hari adalah

1-10 batang (52,3%), sekitar dua dari lima perokok saat ini rata-rata menghisap

sebanyak 11-20 batang perhari. Sedangkan prevalensi yang menghisap 21-30 batang

perhari atau lebih dari 30 batang perhari masing-masing sebanyak 4,7% dan 2,1%.

Provinsi dengan rata-rata penduduk yang merokok 1-10 batang perhari paling tinggi

di Maluku 69,8%, kemudian disusul oleh Nusa Tenggara Timur 68,7%, Bali 67,8%

(Riskesdas, 2010).

Menurut data WHO 2009 Jumlah perokok di dunia pada tahun 2009

mencapai 1,3 milyar orang. Indonesia menduduki posisi ke 3 dengan jumlah perokok

terbesar di dunia setelah China dan India, Indonesia tetap menduduki posisi ke 5

konsumen rokok terbesar setelah China, Amerika Serikat, Rusia dan Jepang. Terdapat

lebih dari 50 juta orang di Indonesia yang membelanjakan uangnya secara rutin hanya

untuk membeli rokok.

1
2

Menurut Pakaya (2013), perilaku merokok merupakan perilaku yang

berbahaya bagi kesehatan, tetapi masih banyak orang yang melakukannya, bahkan

orang mulai merokok ketika mereka masih remaja. Sejumlah studi menegaskan

bahwa kebanyakan perokok mulai merokok antara umur 11 dan 13 tahun dan 85%

sampai 95% sebelum umur 18 tahun. Hal lain yang mendukung bahwa remaja

dengan tingkat pendidikan sekolah menengah sangat rentan terhadap rokok, karena

pada saat ini masih dalam tahap perkembangan mental atau pencarian jati diri dimana

salah satunya ialah pengaruh teman sebaya. Akibat dari merokok tersebut dapat

mempengaruhi perilaku siswa di sekolah baik secara langsung seperti malas belajar

dan tidak langsung seperti prestasi menurun dan jarang masuk sekolah (bolos).

Tentunya hal ini sangat disayangkan jika terjadi pada generasi muda saat ini

khususnya siswa. Perilaku merokok yang terjadi pada seseorang dapat dibedakan

menjadi perokok ringan, perokok sedang, perokok berat. Adapun faktor-faktor yang

mempengaruhi perilaku merokok seseorang yaitu pengetahuannya. Pengetahuan

tentang bahaya merokok merupakan sejauh mana seseorang mampu mengetahui dan

memahami tentang bahaya yang dapat diakibatkan dari merokok. Pengetahuan dan

sikap yang baik tentang bahaya merokok terhadap kesehatan akan berbeda perilaku

merokoknya dibandingkan mereka yang berpengetahuan kurang.

Pendidikan kesehatan adalah suatu penerapan konsep pendidikan dalam

bidang kesehatan. Pendidikan kesehatan merupakan suatu proses belajar. Proses

belajar yang dimaksud bahwa dalam pendidikan kesehatan terjadi proses

pertumbuhan dan perkembangan pada diri individu, kelompok, dan masyarakat.

Pendidikan kesehatan diberikan tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan

pengetahuan masyarakat dalam bidang kesehatan tetapi juga membantu merubah

perilaku masyarakat ke arah yang lebih baik. Pendidikan kesehatan telah menjadi
3

salah satu peran yang sangat penting bagi perawat di semua lahan asuhan

keperawatan baik di klinik maupun di komunitas. Peran perawat komunitas

mempunyai peranan penting dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada anak-

anak dan remaja baik di masyarakat maupun di sekolah (Negara, 2013).

Remaja adalah masa transisi antara masa anak dan dewasa. Perkembangan

kepribadian pada masa ini tidak dipengaruhi oleh orang tua dan lingkungan keluarga

saja, tetapi juga lingkungan sekolah dan teman-teman pergaulan di luar sekolah. Usia

sekolah merupakan masa dimana anak belajar. Dalam psikologi perkembangan

pubertas (10-14 tahun), usia tersebut termasuk dalam masa remaja awal yaitu antara

12-15 tahunn (Desmita, 2014). Masa remaja (Adolescence) merupakan masa di mana

terjadi transisi masa kanak-kanak menuju dewasa. Masa remaja awal ini akan

mengalami kemajuan proses berpikir yang sebelumnya masih bersifat fisik atau

konkret menjadi bersifat abstrak (Potter & Perry, 2009). Tugas anak usia sekolah

adalah belajar, dengan belajar anak dapat memahami hal baru.

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan peneliti di SMP Nurul Jadid

Paiton pada maret 2016 didapatkan bahwa jumlah siswa laki-laki kelas VII sebanyak

115 siswa, saat dilakukan wawancara didapatkan 32 siswa pernah merokok,

diantaranya 21 siswa perokok berat, 9 siswa perokok ringan, 2 siswa pernah

mencoba merokok. Menurut keterangan dari guru BK (bimbingan konseling) siswa

sering merokok di kamar mandi dan di belakang kelas saat jam istirahat sekolah.

Pengetahuan para siswa tentang bahaya rokok masih minim, karena mereka tidak

terpapar dengan sumber informasi dan belum mendapat informasi yang jelas tentang

bahaya merokok.

Belajar akif merupakan salah satu model pembelajaran yang menggunakn

prinsip konstruktivisme. Beberapa model pembelajaran yang didasarkan pada


4

konstruktivisme adalah cooperative learning (Baharudin, 2010). Cooperative Learning

merupakan metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan pengetahuan siswa

karena cooperative learning mengajarkan sesuatu secara bersama-sama, yaitu dengan

saling membantu antara satu sama lain sebagai sebuah tim. Jadi, pembelajaran

cooperative learning dapat diartikan sebagai belajar bersama-sama, saling membantu

antara satu dengan yang lain, dan memastikan bahwa setiap orang dalam kelompok

mampu mencapai tujuan atau menyelesaikan tugas yang telah ditentukan. Cooperative

learning, siswa dilatih untuk bekerja sama dengan temanya secara sinergis, integral, dan

kombinatif. Sealain itu, para siswa juga diajak menghindari sifat egois, individualis,

serta kompetisi tidak sehat sedini mungkin agar masing-masing tidak mementingkan

kepentingan pribadi dan kelompoknya (Asmani, 2016).

Model pembelajaran talking stick merupakan satu dari sekian banyak satu

model pembelajaran cooperative learning. Model pembelajaran ini dilakukan dengan

bentuk tongkat. Togkat dijadikan sebagai jatah atau giliran untuk berpendapat atau

menjawab pertanyaan dari fasilitator setelah siswa mempelajari materi pembelajaran.

Model ini sangat sederhana dan cukup mudah untuk dipraktekkan, khususnya pada

siswa SD, SMP, dan SMA/SMK, selain sebagai metode agar siswa mau berpendapat,

tapi juga untuk melatih siswa berani berbicara, dengan model pembelajaran ini

suasana kelas bisa terlihat lebih hidup dan tidak monoton (Kurniasih & Sani, 2015).

Pembelajaran cooperative learning tipe talking stick adalah tipe yang cukup

menyenangkan yang digunakan untuk mengulang materi yang telah di sampaikan

maupun materi baru yang akan diajarkan pun dapat menggunakan model ini, dengan

catatan bahwa sebelum materi diajarkan guru harus memberi tahu siswa agar belajar

supaya ketika penerapan model ini mereka mempunyai bekal pengetahuan. Alasan
5

lain dipilihnya pembelajaran cooperative learning tipe talking stick adalah dapat

memudahkan siswa memahami materi yang sulit dengan waktu yang relatif singkat.

Berdasarkan hasil pemaparan di atas, maka penelitian dalam skripsi

memberikan solusi yang dikembangkan dalam judul “Pengaruh Pembelajaraan

Cooperative Learning Tipe Talking Stick Terhadap Peningkatan Pengetahuan dan Sikap

Etis Bahaya Merokok Pada Siswa SMP Nurul Jadid Paiton”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti merumuskan masalah sebagai

berikut:

1. Bagaimana pengaruh pembelajaran cooperative learning tipe talking stick terhadap

peningkatan pegetahuan bahaya merokok pada siswa SMP Nurul Jaidid Paiton

Probolinggo.

2. Bagaimana pengaruh pembelajaran cooperative learning tipe talking stick terhadap

sikap etis bahaya merokok pada siswa SMP Nurul Jaidid Paiton Probolinggo.

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui “Pengaruh

pembelajaran cooperative learning tipe talking stick terhadap peningkatan pengetahuan

dan sikap etis bahaya merokok pada siswa SMP Nurul Jaidid Paiton Probolinggo”.
6

1.3.2 Tujuan Khusus

a. Mengidentifikasi peningkatan pengetahuan bahaya merokok sebelum di berikan

pembelajaran cooperative learning tipe talking stick.

b. Mengidentifikasi sikap etis bahaya merokok sebelum di berikan pembelajaran

cooperative learning tipe talking stick.

c. Mengidentifikasi peningkatan pengetahuan bahaya merokok sesudah di berikan

pembelajaran cooperative learning tipe talking stick.

d. Mengidentifikasi sikap etis bahaya merokok sesudah di berikan pembelajaran

cooperative learning tipe talking stick

e. Menganalisis pengaruh pembelajaran cooperative learning tipe talking stick terhadap

peningkatan pengetahuan dan sikap etis bahaya rokok pada siswa SMP Nurul

Jadid Paiton Probolinggo.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi Peneliti

Sebagai pengalaman dalam proses belajar dalam melakukan penelitian, serta

untuk mengaplikasikan ilmu keperawatan dalam bidang keperawatan komunitas.

Penelitian ini sangat berguna dalam penyusunan tugas akhir dan menambah

pengetahuan tentang pengaruh pembelajaran cooperative learning tipe talking stick

terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap etis bahaya merokok.

1.4.2 Bagi Institusi Pendidikan Kesehatan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah literatur Program Studi Ilmu

Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang sehingga dapat digunakan untuk

penelitian selanjutnya dan untuk menambah pengetahuan mahasiswa tentang metode

cooperative learning tipe talking stick yang dapat digunakan sebagai upaya pendidikan
7

kesehatan dalam membentuk peningkatan pengetahuan dan sikap etis mengenai

bahaya merokok.

1.4.3 Bagi Guru dan Siswa

Hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan guru dan siswa tentang

pengaruh pembelajaran cooperative learning tipe talking stick terhadap peningkatan

pengetahuan dan sikap etis bahaya merokok pada siswa.

1.4.4 Bagi Profesi Keperawatan

Hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan masukan dalam kegiatan

keperawatan komunitas khususnya peningkatan pengetahuan dan sikap etis bahaya

merokok melalui pembelajaran cooperative learing tipe talking stick, serta dapat

digunakan sebagai dasar atau bahan untuk penelitian keperawatan komunitas lebih

lanjut pada siswa.

1.5 Keaslian Penelitian

1. Menurut penelitian yang dilakukan Kharis, Luqman (2014), yang berjudul

Pengaruh model pembelajaran cooperative learning tipe talking stick untuk

meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran teknik elektronika di

SMK Negri 7 Surabaya. Dalam penelitian ini menggunakan one group pretest-

postest design dimana akan diberikan tes awal sebelum diberikan treatment dan

akan diberikan tes akhir setelah diberikan treatment. Berdasarkan perhitungan

menggunakan SPSS analisis uji-t dengan taraf signifikasi α=0,05 diperoleh

nilai t hitung sebesar 19,569 sedangkan nilai t tabel sebesar 1,70 dan dilihat dari

nilai pretest diperoleh rata-rata sebesar 51,33 dan nilai posttest diperoleh rata-

rata sebesar 78,01, sehingga hasil belajar siswa menunjukkan hasil

peningkatan. Dan dapat ditarik kesimpulan karena t hitung > t tabel maka
8

hipotesis H0 ditolak dan H1 diterima yang artinya hasil belajar siswa setelah

menggunakan model cooperative learning tipe talking stick lebih baik dari hasil

belajar siswa sebelum diberi model cooperative learning tipe talking stick pada

mata pelajaran teknik elektronika di SMK Negeri 7 Surabaya. Perbedaan

penelitian yang dilakukan oleh Kharis,Luqman (2014), dengan peneliti adalah

variabel dependen peneliti adalah pengetahuan dan sikap etis bahaya merokok

pada siswa SMP dimana penelitian ini menggunakan Uji Wilcoxon. Responden

peneliti sebanyak 32 responden dengan menggunakan purposive sampling.

2. Menurut penelitian yang dilakukan Susilawati, (2015), yang berjudul Pengaruh

model pembelajaran cooperative learning tipe talking stick terhadap hasil belajar

siswa dengan bantuan flip chart pada materi system ekskreasi manusia. Metode

penelitian yang digunakan adalah metode true experimental design, populasi

dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negri 3 Surakarta

Kabupaten Tasikmalaya sebanyak 6 kelas dengan jumlah siswa 186 orang dan

teknik pengambilan cluser random sampling. Berdasarkan hasil pengujian

hipotesis dengan menggunakan uji t diperoleh harga t hitung = 12,5 sedangkan

harga t tabel = -2,00 atau 2,00. Karena harga t hitung berada di daerah penolakan

H0 maka kesimpulan analisis dari penelitian ini adalah tolah H0 artinya ada

pengaruh model pembelajaran cooperative learning tipe talking stick terhadap hasil

belajar siswa dengan bantuan media flip chart pada materi Sistem Ekskresi

Manusia di kelas VIII IPA SMP Negeri 3 Sukaraja Kabupaten Tasikmalaya.

Perbedaan penelitian yang dilakukan oleh Susilawati (2014), dengan peneliti

adalah variabel dependen peneliti adalah pengetahuan dan sikap etis bahaya

merokok pada siswa SMP dimana penelitian ini menggunakan Uji Wilcoxon.

Responden peneliti sebanyak 32 responden dengan menggunakan purposive


9

sampling, penelitian ini menggunakan metode pra-experimental dengan one group

pre-test dan post-test design.

3. Menurut penelitian yang dilakukan Haji, Wirahana (2013), yang berjudul

Peningkatan aktivitas dan hasil belajar melalui model cooperative learning tipe

talking stick pada pembelajaran PKn. Penelitian ini menggunakan metode

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang difokuskan pada situasi kelas, atau

dikenal dengan classroom action research. Secara garis besar penelitian tindakan

kelas diawali dengan perencanaan (planning), pelaksanaan (action), observasi

(observation) dan melakukan refleksi (reflection) dan seterusnya sampai perbaikan

atau peningkatan yang diharapkan tercapai. Pembelajaran dengan menerapkan

model cooperative learning tipe talking stick pada pembelajaran PKn dapat

meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini sesuai dengan nilai hasil yang telah

diperoleh siswa, mulai dari siklus I hingga mencapai indikator keberhasilan

pada siklus II. Terbukti dengan adanya peningkatan pada siklus I nilai rata-

rata ketuntasan belajar siswa mencapai 53,06, kemudian pada siklus II

meningkat menjadi 85,28 dengan peningkatan sebesar 55,55. Perbedaan

penelitian yang dilakukan oleh Haji Wiranha (2013), dengan peneliti adalah

variabel dependen peneliti adalah pengetahuan dan sikap etis bahaya merokok

pada siswa SMP dimana penelitian ini menggunakan Uji Wilcoxon. Responden

peneliti sebanyak 32 responden dengan menggunakan purposive sampling,

penelitian ini menggunakan metode pra-experimental dengan one group pre-test

dan post-test design.