Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tumbuhan merupakan makhluk hidup, karena tumbuhan dapat tumbuh dan


berkembang. Seperti halnya makhluk hidup lain, tumbuhan juga memiliki
bagian-bagian yang penting. Bagian-bagian tersebut memiliki fungsi masing-
masing dalam proses kehidupannya. Bagian-bagian tersebut salah satu
diantaranya adalah bunga.

Bunga merupakan bagian yang penting bagi pembuahan. Sebenarnya bunga


merupakan pucuk yang mengalami perkembangan. Bunga sangat penting untuk
perkembangbiakan tumbuhan karena pada bunga terdapat alat-alat reproduksi,
yaitu putik dan benangsari. Sehingga bunga merupakan bagian tumbuhan yang
berfungsi sebagai alat perkembangbiakan. Bunga memiliki warna yang beraneka
ragam. Bunga juga ada yang berbau dan tidak berbau. Bunga yang lengkap
terdiri dari beberapa bagian yaitu tangkai bunga, kelopak bunga, mahkota bunga,
benang sari, dan putik.

Tumbuhan berbunga adalah jenis tumbuhan vaskular yang menghasilkan


bunga untuk mereproduksi. Tumbuhan berbunga menghasilkan biji dalam buah.
Nama ilmiah untuk tumbuhan berbunga adalah angiospermae.

Tumbuhan berbunga mengikuti siklus hidup tertentu, diantaranya :

1. Benih – Mereka memulai hidup mereka sebagai bibit. Benih seperti bayi
tumbuhan. Mereka memiliki cangkang luar yang keras yang melindungi
embrio benih dibagian dalam.

1 | Reproduksi dan Struktur Bunga


2. Perkecambahan – Benih berakhir di tanah. Perlu udara, air, dan tanah untuk
tumbuh. Ketika benih mulai tumbuh, ini disebut perkecambahan.
Pertumbuhan pertama biasanya akan ada beberapa akar kecil. Kemudian
batang akan tumbuh.
3. Tunas atau bibit – Ketika tanda pertama kehidupan muncul di atas tanah, ini
disebut tunas atau bibit.
4. Tumbuhan dewasa – bibit akan terus tumbuh menjadi tumbuhan dewasa
penuh dengan daun, akar, dan batang.
5. Berbunga – Tumbuhan dewasa akan tumbuh bunga. Melalui penyerbukan,
bunga akan menghasilkan biji. Ketika benih jatuh pada tanah, siklus akan
mulai lagi.

1.2 Rumusan Masalah

1. Sebutkan Pengertian Bunga?

2. Jelaskan mengenai Reproduksi Bunga?

3. Jelaskan Struktur Bunga Lengkap dan Fungsi Bunga?

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian Bunga

2. Untuk mengetahui apa itu Reproduksi Bunga

3. Untuk mengidentifikasi struktur dan fungsi bunga

2 | Reproduksi dan Struktur Bunga


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Bunga
Bunga merupakan alat perkembangbiakan secara kawin pada tumbuhan.
Bagian-bagian bunga meliputi tangkai, mahkota, kelopak, benang sari dan putik.
Benang sari berfungsi sebagai alat kelamin jantan dan putik berfungsi sebagai alat
kelamin betina.

2.2 Reproduksi Bunga


Pada awalnya, nama Angiospermae dimaksudkan oleh Paul Hermann (1690)
bagi seluruh tumbuhan berbunga dengan biji yang terbungkus dalam kapsula, dan
dipertentangkan dengan Gymnospermae sebagai tumbuhan berbunga dengan
buah achene atau berkarpela terbelah. Dalam pengertiannya, keseluruhan buah
atau bagiannya dianggap sebagai biji dan "terbuka". Kedua istilah ini dipakai
oleh Carolus Linnaeus dengan pengertian yang sama tetapi digunakan sebagai
nama-nama dari kelas Didynamia.
Ketika Robert Brown pada tahun 1827 menemukan bakal biji yang benar-
benar terbuka (tak terlindung) pada sikas dan tumbuhan runjung, ia memberikan
nama Gymnospermae bagi kedua kelompok tumbuhan ini. Tahun 1851 Wilhelm
Hofmeister menemukan perubahan-perubahan yang terjadi pada kantung embrio
dari tumbuhan berbunga (penyerbukan berganda). Hasil penemuan ini
menjadikan Gymnospermae sebagai kelas yang benar-benar berbeda dari dikotil,
dan istilah Angiospermae mulai diterapkan untuk semua tumbuhan berbiji yang
bukan kedua kelompok yang disebutkan Robert Brown. Pengertian terakhir
inilah yang masih bertahan hingga sekarang.
Dalam sistem taksonomi modern, kelompok tumbuhan berbunga ditempatkan
pada berbagai takson. Selain Angiospermae, kelompok ini disebut juga dengan

3 | Reproduksi dan Struktur Bunga


Anthophyta ("tumbuhan bunga"). Sistem Wettstein dan Sistem Engler
menempatkan Angiospermae pada tingkat subdivisio. Sistem Reveal
memasukkan semua tumbuhan berbunga dalam subdivisio Magnoliophytina,
namun pada edisi lanjut memisahkannya menjadi Magnoliopsida, Liliopsida, dan
Rosopsida. Sistem Takhtajan dan sistem Cronquist memasukkan kelompok ini ke
dalam tingkat divisio dengan nama Magnoliophyta. Sistem Dahlgren dan sistem
Thorne (1992) menggunakan nama Magnoliopsida dan meletakkannya pada
tingkat kelas. Saat ini, sistem klasifikasi yang paling akhir, seperti sistem APG
(1998) dan sistem APG II (2003), tidak lagi menjadikannya sebagai satu
kelompok takson tersendiri melainkan sebagai suatu klade tanpa nama botani
resmi dengan nama angiosperms (sistem ini menggunakan nama-nama bahasa
Inggris atau diinggriskan untuk nama-nama tidak resmi).
a. Proses Reproduksi Bunga
Bunga adalah bagian tumbuhan yang mengandung organ reproduksi,
yaitu putik, benangsari, kelopak bunga, dan mahkota bunga. Sama seperti
halnya mahluk hidup lain, tumbuhan juga bereproduksi untuk
mempertahankan kelangsungan spesiesnya. Tumbuhan berbunga
melakukan reproduksi dengan cara membentuk biji. Biji terbentuk dengan
jalan reproduksi seksual yaitu bergabungnya sel kelamin jantan dari serbuk
sari dengan sel kelamin betina dari bakal buah.
Serbuk sari harus masuk ke bagian dalam bunga betina (putik) agar
terjadi pembuahan. Ada bunga yang melakukan penyerbukan sendiri, yaitu
benang sari berasal dari bunga yang sama. Ada penyerbukan dari bunga
lain yang sejenis. Ada berbagai cara agar serbuk sari masuk ke dalam
kepala putik. Pada gambar di atas serbuk sari menempel di seluruh bulu
lebah dan kakinya, ketika hinggap di bunga lain serbuk sari akan jatuh ke
dalam kepala putik dan membuahinya.
Bunga memiliki bagian jantan dan bagian betina. Bagian jantan adalah
benang sari yang terdiri atas:

4 | Reproduksi dan Struktur Bunga


 tangkai sari
 kepala sari
 serbuk sari
Bagian betina adalah putik yang terdiri atas:
 bakal buah ( di dalam bakal bijinya terdapat sel kelamin betina)
 tangkai putik
 kepala putik
 Kepala putik berujung lengket untuk menangkap butir-butir sel-sel
jantan.
Bagian jantan dan betina pada bunga tumbuhan. Benang sari atau
bagian jantan terdiri dari kepala sari dan tangkai sari. Putik atau bagian
betina meliputi kepala putik, tangkai putik, dan bakal buah. Baik
benangsari maupun putik dilindungi oleh kelopak bunga dan daun
mahkota. Keduanya membentuk mahkota bunga. Polinasi atau
penyerbukan terjadi ketika butir sel jantan dari benangsari masuk ke kepala
putik bunga lalu turun ke tangkai putik untuk bergabung dengan bakal biji.
Ada juga tumbuhan yang bisa dikembangkan tanpa pembuahan
(aseksual) yaitu dengan:
 Mencangkok
 Stek
 Okulasi

1. Perkembangan gametofit betina (Megagametogenesis)


Gametofit betina (kantong embrio) yang dewasa terdiri atas 7 sel,
yaitu sel sentral yang besar dengan 2 inti kutub, di bagian mikrofil 2 sel
sinergid dan 1 sel telur serta di bagian khalaza 3 sel antipoda.
Perkembangan kantong embrio dimulai dengan
memanjangnya inti megaspora yang berfungsi.

5 | Reproduksi dan Struktur Bunga


Tergantung jumlah inti megaspora yang berperan dalam
pembentukannya, gametofit betina (kantong embrio) mungkin
bertipe monosporik, bisporik atau tetrasponik. Masing-masing
kelompok tersebut mempunyai lebih dari satu tipe. (Lihat
diagram).
Tipe tersebut adalah sebagai berikut:

a. Monospori

Pada tipe ini inti megaspora yang berperan selama


perkembangan gametofit jumlahnya satu. Tipe ini merupakan tipe
normal (tipe Polygonium) Tipe kedua yaitu Oenothera*, pada tipe
ini hanya terjadi 2 kali pembelahan inti megaspora, sehingga
hanya ada 4 inti di bagian mikrofil

Gambar 8.17. Megasporogenesis dan perkembangan kandung


lembaga (megagametofit) tipe Normal (polygonum) pada
Angiosperm.

6 | Reproduksi dan Struktur Bunga


b. Bisporik

Inti megaspora yang berfungsi pada perkembangan


gametofit betina ada 2. Setelah meiosis pertama pada proses
megasporogeilesis terbentuk 2 set, dan 2 sel tersebut hariya
satu, sel yang melanjutkan meiosis II, sedang yang lain
mengalami degenerasi. Pada pembelahan meiosis II tidak
terjadi pembentukan dinding sekat, dan kedua inti megaspora
berperan dalam pembentukan kandung lembaga. Dua inti ini
kemudian membelah mitosis 3 kali, menghasilkan 8 inti.
Akhirnya orgamsasi kandung lembaga seperti pada tipe
normal (Polygonum). Tipe bisporik dibedakan menjadi 2
yaitu:
1. Tipe Allium
2. Pada tipe ini megaspora yang berfungsi adalah yang berada di
bagian khalaza, sedang yang ada di bagian mikrofil mengalami
degenerasi setelah meiosis 1.
3. Tipe Endyinion
4. Megaspora yang berfungsi pada tipe ini adalah yang ada di bagian
mikrofil. Inti megaspora yang ada di bagian khalaza mengalami
degenerasi.
c. Tetrasporik

Pada tipe ini pembelahan meiosis dari sel induk


megaspora selama megasporogenesis tidak diikuti oleh
pembentukan dinding sekat, sehingga pada akhir meiosis 4
inti haploid tetap di dalam sitoplasma sel yang sama (terjadi
pembelahan inti bebas).
Pola organisasi kandung lembaga tetrasponik ini
sangat bervariasi. Susunan kandung lembaga sebelum

7 | Reproduksi dan Struktur Bunga


mengalami mitosis adalah sebagai berikut:
1. Terdiri 4 inti yang tersusun 1+1+1+1, masing-masing ada
di bagian mikrofil, khalaza dan di bagian lateral kandung
lembaga. Misalnya pada tipe Peperoinia, Penae dan
Plumbago.
2. Terdini dari 4 inti tersusun 1+3. Satu ini bagian mikrofil
3 di bagian khalaza. Pada tipe ini 3 inti di khalaza ada
yang mengadakan fusi seperti tipe Fritillaria dan
Plumbagela, sedang pada tipe Drusa tidak tenjadi fusi.
3. Terdiri dari 4 inti dengan susunan 2+2, dua inti di bagian
mikrofil, dua inti di bagian khalaza. Inisainya tipe Adoxa.

Gambar 8.19 Diagram berbagai tipe perkembangan

kandung lembaga pada Angiospermae.

8 | Reproduksi dan Struktur Bunga


2. Perkembangan gametofit jantan (Mikrosporogenesis)

Setiap jaringan sporogen kadang-kadang langsung berfungsi


sebagai sel induk mikrospora, atau mungkin mengalami beberapa
kali pembelahan mitosis, sehingga jumlah selnya bertambah
banyak sebelum menga!aini meiosis. Se! induk mikrospora
(disebut pula sporosit) mengalami pembelahan meiosis,
menghasilkan mikrospora yang bersifat haploid.
a. Sitokinesis

Pembentukan dinding setelah pembelahan meiosis sel induk


mikrospora dapat terjadi secara susesifatau secara simultan.
b. Secara susesif

Setelah pembelahan meiosis, terbentuk dinding yang


memisahkan dua inti, sehingga stadium 2 sel (diad). Pembentukan
dinding secara sentrifugal (dari bagian

tengah ke tepi). Pada stadium meiosis II, dinding pemisah dibentuk


dengan cara yang sama, sehingga terbentuk serbuk sari tetrad yang
bertipe isobilateral. Misalnya pada Zea mays.
c. Secara simultan

Pada pembelahan meiosis I tidak diikuti pembentukan


dinding, sehingga terdapat stadium 2 inti (binuldeat). Jadi disini
tidak terdapat stadium 2 sel. Selanjutnya 2 inti tersebut
mengadakan pembelahan, terbentuk serbuk sari tetrad yang
bertipe tetrahidris.Contoh: Dryinis winteri

9 | Reproduksi dan Struktur Bunga


Gambar 8.6 Pembentukan dinding pollen secara susesif
menghasilkan tipe tetrad isobilateral.
A. sel induk mikrospora

B. pembelahan meiosis I

C. awal pembelahan meiosis II

D. fase anafase pembelahan meiosis II

E. akhir pembelahan meiosis II, dthasilkan 4 sel (tetraci) mikrospora.

Gambar 8.7 pembentukan dinding pollen setelah pembelahan sel


induk mikrospora tipe simultan

A - D. pembelahan meiosis I tanpa dinding sekat.

E - I. Pembelahan meiosis II. E, F:diantara inti terdapat


vakuola kecil, terjadi ikatan longgar (lihat daerah yang

10 | Reproduksi dan Struktur Bunga


berwarna putth), G-I. Mulai terbentuk dinding pemisah dari
bagian tepi ke tengah.

d. Tetrad Mikrospora

Pada umumnya susunan mukrospora pada tetrad adalah tetrahidris


atau isobilateral. Tetapi pada jenis yang lain susunan tetrad mikrospora
adalah: dekusata, linier, bentuk huruf T.

Gambar 8.8. Tipe tetrad mikrospora pada Angioispermae

1. tetrahedral; 2. isobilateral; 3. dekusata; 4. bentuk T ; 5. linier.

Mikrospora merupakan awal dari generasi gametofit


jantan. Mikrospora dewasa yang telah lepas dari tetrad,
dikenal sebagai butir pollen (serbuk sari).
Serbuk sari I pollen pada uintimnya mempunyai 2
lapisan dinding yaitu eksin merupakan lapisan terluar dari inti
lapisan dalam. Eksin tersusun dari sporopolenrn, sedang inti
tersusun dan polisakarida. Serbuk sari yang baru terbentuk
mempunyai sitoplasma yang padat, dengan inti di bagian
tengahnya. Setelah antera masak pollen keluar melalui lubang
yang disebut stomium. Epidermis yang letaknya berdekatan
dengan stomium dinding mengalami penebalan membentuk
struktur yang khusus.

11 | Reproduksi dan Struktur Bunga


2.3 Stuktur Bunga
Bunga merupakan kumpulan dari bagian fertil dan steril yang
tersusun dalam susunan yang sangat rapat dan memiliki nodus yang
sangat pendek. Bagian steril dari bunga adalah sepal dan petal. Sepal
dan petal menyusun periantium atau perhiasan bunga. Apabila sepal
dan petal memiliki kemiripan dalam ukuran dan bentuknya maka
dinamakan tepal, dan secara kolektif dinamakan perigonium. Bagian

reproduksi

(fertil) terdiri dari stamen, secara kolektif dinamakan andresium


dan pistilum, yang secara kolektif dinamakan ginesium. Bunga tumbuh
pada bagian dasar bunga yang dinamakan reseptakel, di ujung batang
atau cabang yang berfungsi sebagai pemegang, dinamakan pedunkulus
(bunga tunggal) atau pedicelus (perbungaan) (Gambar 1.5).
Gambar 1.5.Penampang Memanjang Bunga

a. Bagian Steril
Bagian steril bunga terdiri dari sepal, secara kolektif dinamakan kaliks,
danpetal, secara kolektif dinamakan korola. Sepal atau kelopak bunga
merupakan lingkaran terluar atau terdalam dari struktur bunga. Pada umumnya,

12 | Reproduksi dan Struktur Bunga


sepal berwarna hijau dan memiliki penampilan seperti daun meski ukurannya
lebih kecil dibanding daun. Seluruh sepal pada bunga menyusun kaliks dan
memiliki fungsi utama untuk melindungi tunas bunga yang sedang berkembang.
Pada saat bunga mekar, kaliks kerap melipat ke arah luar.
Petal merupakan bagian bunga yang umumnya berwarna mencolok, dapat
menarik perhatian serangga dan hewan-hewan lainnya seperti tikus, burung, dan
kelelawar, yang merupakan vektor dalam proses penyerbukan (polinasi). Petal
biasanya berwarna terang. Seluruh tumbuhan berbunga memiliki bunga, tetapi
tidak semua bunga berwarna terang. Petal pada bunga-bunga tertentu tereduksi
(tidak tumbuh sempurna) atau tidak ada sehingga tumbuhan sangat tergantung
pada angin atau air untuk membantu polinasinya.
Petal terdapat di bagian dalam atau atas dari sepal dan menyusun lingkaran
kedua dari bunga. Biasanya petal berukuran lebih besar dibanding sepal dan
berwarna cerah. Kumpulan petal akan menyusun korola. Petal berfungsi
memberikan perlindungan tambahan di samping untuk menarik hewan
penyerbuk melalui sinyal penglihatan seperti warna, pola, dan bentuk bunga.
Baik kaliks maupun korola keduanya tidak terlibat langsung dalam
menghasilkan gamet, tetapi mereka berperan sangat penting agar proses
reproduksi tumbuhan dapat berlangsung dengan sukses.
Struktur dalam sepal dan petal memiliki kemiripan dengan daun, terdiri dari
jaringan parenkim dasar, jaringan pembuluh dan epidermis (Gambar 1.6). Dapat
pula dijumpai sel-sel mengandung kristal, latisifer, sel-sel tanin, dan sel idioblas
lain. Pati dapat ditemukan pada petal muda. Sepal yang berwarna hijau
mengandung kloroplas seperti daun, tetapi jarang memperlihatkan diferensiasi
parenkima menjadi palisade dan spons. Pada beberapa tumbuhan, dinding
antiklinal epidermis petal bergelombang atau beralur. Dinding terluar mungkin
convex atau berpapila terutama pada sisi atas. Epidermis sepal dan petal dapat
mengandung stomata dan trikom. Stomata pada petal memiliki struktur seperti

13 | Reproduksi dan Struktur Bunga


pada daun atau dapat juga tidak terdiferensiasi secara sempurna.

Gambar 1.6.

Penampang Melintang Petal.

Warna petal berperan penting agar bunga tampak menarik bagi agen
polinator. Warna petal disebabkan oleh pigmen-pigmen dalam kromoplas, yaitu
karotenoid dan dalam cairan sel, yaitu flavonoid terutama antosianin, atau
dapat juga disebabkan oleh berbagai perubahan kondisi seperti keasaman cairan
sel.
Studi mengenai pigmen flavonoid pada bunga anting-anting (impatiens
balsamina) memperlihatkan adanya pigmentasi yang berbeda antara petal, sepal,
dan bagian-bagian vegetatif tumbuhan. Perbedaan ini sesuai dengan fungsi petal
dalam menarik serangga penyerbuk , diartikan sebagai seleksi yang terjadi
selama proses evolusi berlangsung, dan akhirnya menghasilkan pigmentasi yang
terspesialisasi. Pada Rudbeckia hirta, dasar petal mengandung glukosida
flavonol yang menyerap sinar ultra violet (uv) dan membuat dasar petal mudah
dikenali sebagai penunjuk adanya nektar untuk mendatangkan serangga
penyerbuk. Pada kubis-kubisan (Brassicaceae), yang juga dipolinasi oleh
serangga, bunga memperlihatkan pola refleksi uv yang bervariasi. Pola ini
berhubungan sangat erat dengan taksa dan mungkin dapat dijadikan sebagai
petunjuk taksonomi. Sel-sel epidermis petal kerap mengandung minyak volatil
yang menunjukkan sifat fragrans dari bunga.

14 | Reproduksi dan Struktur Bunga


b. Bagian Fertil
Bagian reproduktif atau fertil bunga terdiri dari struktur reproduksi jantan atau
stamen (mikrosporofil) dan struktur reproduksi betina atau karpel
(megasporofil). Stamen menyusun andresium sedang karpel atau pistil
menyusun ginesium.
1. Stamen
Struktur reproduksi jantan atau stamen terdiri dari antera yang
menghasilkan polen dan filamen yang mendukung antera. Polen yang
dihasilkan antera kemudian akan dibawa serangga atau hewan polinator lain
ke bunga yang lain untuk membuahi sel telur.
Stamen atau alat perkembangbiakan jantan, menyusun lingkaran ketiga
dari bunga, yaitu di bagian dalam atau atas korola. Kumpulan dari stamen
menyusun androecium. Pada umumnya, stamen terdiri dari filamen yang
berbentuk seperti tangkai dengan antera di ujungnya. Antera adalah tempat di
mana butir polen dibentuk, terdiri dari kantung polen atau mikrosporangia.
Setiap kantung polen disusun oleh lapisan dinding dan lokulus tempat
pembentukan mikrospora. Kebanyakan angiospermae memiliki antera yang
tetrasporangiate (empat sporangium) dengan dua lokulus pada setiap
lobusnya yang juga berjumlah dua. Beberapa angiospermae memiliki antera
yang bisporangiate dengan satu lokulus pada setiap setengah anteranya
(Gambar 1.7B). Pada saat dewasa, sebelum antera pecah, dinding pemisah
pada lokulus rusak sehingga antera yang tetrasporangiate tampak seperti
bilokulus dan antera yang bisporangiate tampak seperti unilokular.
Filamen umumnya memiliki struktur yang relatif sederhana dengan
parenkima mengelilingi jaringan pembuluh yang amfikibral. Epidermis yang
berkutin dapat memiliki trikom, sedang pada antera dan filamen dapat pula
dijumpai stomata. Jaringan pembuluh yang terdapat di sepanjang filamen

15 | Reproduksi dan Struktur Bunga


dapat berakhir pada dasar antera atau pada konektivum yang berada di antara
dua belahan antera (Gambar 1.7A).
Antera pada umumnya membuka secara memecah atau membuka
secara spontan. Pecahnya antera didahului dengan rusaknya dinding pemisah
di antara dua lokulus pada lobus yang sama. Kemudian jaringan terluar dari
antera, yaitu epidermis bersel tunggal juga rusak sehingga polen dilepaskan
melalui celah panjang atau stomium (Gambar 1.7E). Dinding sub epidermis
antera, yaitu endotesium, yang memiliki penebalan sekunder berupa ‘strips
thickening’ (Gambar 1.7F), tampaknya yang menginduksi rusaknya stomium
karena adanya perbedaan derajat pengerutan saat antera mengalami
kekeringan (Gambar 1.7). Pada beberapa spesies, stomium merupakan pori
yang dibentuk di tepi atau pada apeks lobus antera.

Gambar 1.7.

Struktur Anatomi Stamen pada Tumbuhan Angiospermae

c. Pistilum
Pistilum atau alat perkembangbiakan betina, dapat terdiri dari satu atau
lebih daun buah (karpel), berada di bagian tengah bunga. Kumpulan dari
karpel disebut sebagai ginoecium. Bunga dapat memiliki satu atau lebih
karpel. Jika bunga memiliki 2 atau lebih karpel, karpel-karpel tersebut dapat

16 | Reproduksi dan Struktur Bunga


bebas satu dari yang lain (ginesium apokarp) atau bersatu (ginesium
sinkarp). Ginesium dengan satu karpel diklasifikasikan sebagai apokarp.
Pistilum terdiri dari 3 bagian yaitu:
 Stigma yang merupakan bagian teratas dari pistil, biasanya lengket dan
merupakan tempat melekatnya polen;
 Stilus merupakan tabung panjang yang melekatkan stigma ke ovarium
(bakal buah).
 Ovarium (bakal buah), merupakan bagian basal dari pistil
berupa suatu ruangan dengan satu atau lebih bakal biji
(ovulum) di dalamnya

Sperma dari polen akan bergerak turun melalui tabung tersebut menuju ke
ovulum (bakal biji). Selanjutnya, ovulum dan sel telur akan tersimpan dalam
ovarium sampai terjadinya fertilisasi (pembuahan). Fertilisasi hanya dapat
terjadi pada tumbuhan dari spesies yang sama. Senyawa-senyawa kimia
tertentu dari telur akan mencegah pembuahan oleh sperma yang berasal dari
bunga spesies yang berbeda.
Stilus merupakan pemanjangan ke arah atas dari karpel. Pada
ginesium sinkarp dengan satu stilus, stilus berasal dari semua karpel yang
menyusun ginesium (Gambar 1.8). Karpel mungkin saja tidak bersatu
secara sempurna sehingga stilus menyatu di bagian dasar tetapi terpisah di
bagian atas; atau ada banyak unit stilus (stilus bercabang atau ’stylodes’)
sejumlah karpel pada ovarium yang sinkarp. Stilus dan ’stylodes’
mungkin memiliki struktur yang padat atau dengan saluran di tengahnya.
Pada kebanyakan angiospermae, stilus adalah padat. Stigma dewasa
memberikan lingkungan yang sesuai untuk perkecambahan butir polen
dan saat matang disebut sebagai reseptif. Stigma yang reseptif dapat
ditutupi senyawa-senyawa yang disekresikan (stigma basah) atau tidak
ditutupi senyawa-senyawa yang disekresikan (stigma kering). Stigma basah

17 | Reproduksi dan Struktur Bunga


sebenarnya merupakan suatu kelenjar. Sel epidermis stigma umumnya
memanjang membentuk papila dengan rambut pendek atau panjang
bercabang, seperti pada bunga rumput-rumputan (Gambar 1.9). Jaringan
stigma dihubungkan dengan ovulum di ruang ovarium oleh ’pollen
transmitting tissue’ yang berfungsi sebagai jalan dan sumber makanan
untuk tabung polen yang sedang berkembang. Pada stilus yang memiliki
saluran maka ’pollen transmitting tissue’ tadi akan menjadi batas terluar
saluran. Pada stilus padat, ’pollen transmitting tissue’ membentuk satu
atau lebih ’benang’ yang tertanam dalam jaringan pengisi atau berasosiasi
dengan ikatan pembuluh.
Stigma yang berkelenjar memiliki struktur dan fungsi yang mirip
nektar. Lapisan epidermis dan sub epidermis menghasilkan sekret (hasil
sekresi) yang akan melapisi dinding epidermis. Dari sejumlah tumbuhan
yang telah dianalisis ternyata sekret ini mengandung sedikit gula atau tidak
mengandung gula, tetapi terutama senyawa lipid dan fenolat seperti
antosianin, flavonoid, asam sinamat. Lipid kemungkinan berhubungan
dengan komponen lilin pada dinding epidermis yang berfungsi untuk
mencegah hilangnya air. Fenol yang ada dalam bentuk glikosida dan ester
serta hasil hidrolisanya dapat menyuplai gula yang diperlukan untuk
perkecambahan polen. Senyawa fenol juga memiliki fungsi yang lain yaitu
sebagai pelindung dari serangga, infeksi penyakit, dan stimulasi atau
inhibisi perkecambahan polen, mungkin dalam kaitannya dengan fenomena
polinasi yang kompatibel atau inkompatibel.

18 | Reproduksi dan Struktur Bunga


Gambar 1.8.

Ginesium yang Tersusun dari Beberapa Karpel (Sinkarp).

Gambar 1.9.

A. StigmaEpidermis Stigma Berpapila.


B. Stigma Bercabang pada Tumbuhan Poaceae.

Karpel dari ginesium apokarp maupun seluruh ginesium sinkarp umumnya


berdiferensiasi menjadi bagian bawah yang fertil (ovarium) dan bagian
atas yang steril (stilus) yang merupakan hasil pemanjangan dinding
ovarium. Bagian paling atas dari stilus biasanya berdiferensiasi menjadi
stigma. Bila stilus tidak berkembang, stigma tampak melekat pada

19 | Reproduksi dan Struktur Bunga


ovarium. Stilus memiliki struktur sempit, berukuran pendek atau panjang,
merupakan jaringan tempat tabung polen tumbuh dalam perjalanannya
menuju ovulum, dan stigma yang berada di ujung stilus dengan ukuran dan
bentuk yang bervariasi.
Karpel yang terletak pada posisi lebih tinggi dibanding reseptakel
maka ovarium disebut sebagai superior dan bunga hipogin. Pada
tumbuhan tertentu periantium dan stamen terletak pada tepi tengah
reseptakel, bunga seperti itu disebut sebagai perigin dan ovariumnya
intermediate atau pseudo inferior. Bila ovarium berada di bawah organ
bunga yang lain, ovarium disebut inferior dan bunga epigin.
Di dalam struktur ovarium terdapat dinding ovarium, ruangan ovarium
(lokul/lokulus), dan pada ovarium yang memiliki banyak ruang, terdapat
dinding pemisah/sekat. Ovulum berada pada tempat tertentu di dinding
ovarium paling dalam. Tempat perlekatan ovulum di dinding ovarium
disebut sebagai plasenta (Gambar 1.10). Pada setiap karpel, plasenta dapat
berada dekat tepi karpel atau agak jauh dari tepi karpel sehingga dikenal
plasenta marginal dan laminar. Plasenta kadang dapat tumbuh secara
nyata dan menutupi lumen dari ruang ovarium.

Gambar 1.10.

Penampang Melintang Ovarium.

20 | Reproduksi dan Struktur Bunga


d. Daun mahkota dan daun kelopak

Secara anatomi daun mahkota dan daun kelopak mempunyai


struktur yang sama, terdiri atas sel-sel parenkimatis. Parenkim dasar
terletak di antara epidermis atas dan epidermis bawah. Jaringan ini
juga disebut mesofil. Sistem pembuluh terdapat pada jaringan dasar.
Pada jaringan dasar mungkin terdapat sel-sel yang mengandung
kristal, idioblas atau saluran getah/ sel getah. Sel-sel tersebut
berhubungan dengan unsur pembuluh. Daun kelopak suku
Geraniacea mempunyai hipoderinis yang berdinding tebal, masing-
masmg dengan kristal drusen. Daun kelopak sel-selnya mengandung
kloroplas. Epidermis daun kelopak dilapisi kutin pada bagian
luarnya, terdapat stomata dan trikomata, seperti pada daun. Struktur
sistem pembuluh seperti pada daun hanya kurang jelas strukturnya.
Daun mahkota mempunyai satu atau banyak pembuluh yang
kecil-kecil. Epidermis bentuknya khusus, merupakan tonjolan yang
disebut papila, dilapisi oleh kutikula. Adanya warna yang
bermacam-macam pada daun mahkota disebabkan oleh adanya
kromoplas atau pigmen tambahan yang terdapat pada cairan sel. Zat
tepung sering dibentuk pada daun mahkota yang masih muda.
Minyak volatil yang karakteristik pada bunga umumnya terdapat
pada sel-sel epidermis.

Gambar 8.1. Diagram struktur anatomi petala beberapa jenis tumbuhan

21 | Reproduksi dan Struktur Bunga


A. Amelanchia laevis; B. Lysimachia nummularia; C.
Pinguicula vulgaris
t. trikoma kele jar; u. ruang sekretoris
(dikutip dari Eames & McDaniels, 1953)

e. Benang Sari

Benang sari terdiri atas kepala sari dan tangkai sari. Tangkai
sari tersusun oleh jaringan dasar, yaitu sel-sel parenkimatis yang
mempunyai vakuola, tanpa ruang antar sel. Sel-sel ini sering
mengandung pigmen. Epidermis dengan kutikula, trikoma atau
mungkin stomata. Kepala sa i mempunyai struktur yang sangat
kompleks, terdiri atasdinding yang berlapis-lapis, dan di bagian
terdalam terdapat loculus/ruang sari(mikrosporangium) yang
berisi butir-butir serbuk sari. Jumlah lapisan dinding kepala sari
untuk setiap jems tumbuhan bervariasi.

 Struktur kepala sari (antera)

Pada umumnya suatu antera terdiri atas 4 mikrosporangia (4


lokuli). Pada waktu masak 2 sporangia dan masing-masing sisi akan
menyatukan diri menjadi teka, sehingga ada 2 teka. Suatu keadaan
yang berbeda, bahwa pada antera terdapat jaringan steril yang
disebut septa, memisahkan deretan lobus, misalnya pada beberapa
anggota suku Inimosacea. Jems lam seperti Viscum, masing-masing
polen dikelilingi oleh jaringan pelin ung, dan letaknya berderet-
deret, secara horisontal dan vertikal sehingga masing-masing antera
mempunyai 50 lokuli.

22 | Reproduksi dan Struktur Bunga


Gambar 8.2. Struktur kepala sari pada bunga Lilium sp.

 Penampang lintang kepala sari muda


Kepala sari terdiri atas 4 lobi (lokuli), tapetum menyelubungi jaringan
sporogen.
 Penampang lintang kepala sari dewasa (masak)
Antera masak dengan serbuk sari yang banyak. Kedua lobi pada
masing- masing sisi men gadakan persatuan, disebut teka.
Lamina fibrosa (endotesium) tampak lebih tebal, epidermis
menipis. en. Endotesium; ep. Epidermis; js. Jaringan sporogen (sel
induk mikrospora); k. konektivum; 1. lapisan tengah; ss. Serbuk
sari (pollen); st. stoinium; ts. Sisa tapetum; t. tapetum. (dikutip dan
Foster & Gifford, 1974; Maheswari, 1950)

 Perkembangan kepala sari antera)

Suatu antera yang muda terdiri atas suatu masa sel yang
homogen yang dikelilingi oleh lapisan epidermis. Selama
perkembangan antera menghasilkan 4 lobi dan setiap lobus
beberapa sel hipodermal menjadi lebih menarik perhatian
disbanding yang lain karena ukurannya ang besar, bentuk
selnya memanjang ke arah radial dan intinya jelas. Sel-sel

23 | Reproduksi dan Struktur Bunga


ini adalah sel arkesponum. Sel-sel arkesporium

membelah dengan dinding perikimal (sejajar permukaan)


menghasilkan sel-sel parietal primer di sebelah luar dan
sel-sel sp rogen primer di sebelah dalam. Sel-sel parietal
primer membelah lagi secara periklinal menghasilkan lapisan
parietal sekunder. Lapisan parietal sekunder inilah yang
nantinya akan menghasilkan dinding antera. Sel sporogen
primer membelah-belah lagi secara mitosis, dan sel-sel hasil
pembelahan mitosis menjadi sel induk mikrospora. Sel
sporogen primer dapat langsung berfungsi sebagai sel induk
mikrospora tanpa mitosis. Setelah itu sel induk mikrospora
membelah secara meiosis menghasilkan tetrad mikrospora.
Selanjutnya sel-sel dalam tetrad memisahkan diri menjadi sel
mikrospora yang soliter. (Skema perkembangan antera lihat
gambar!)

Gambar 8.3. Skema perke bangan kepala sari. Lapisan dinding kepala sari
dan mikrospora berasal dari jaringan arkesporium.

24 | Reproduksi dan Struktur Bunga


Gambar 8.4. Struktur dan perkembangan kepala sari pada tumbuhan
Angiospermae A1, B1 : Jaringan meristematis dikelilingi epidermis Sel-selnya
mempunyai intl yang jelas. C1 Sel-sel hipodermal terdiferensiasi menjadi sel-sel
arkesporium. D1 Lapisan parietal primer dan sel spongen primer telah terbentuk.
E1 : Lapisan parietal primer mulal membelah. E: epidermis, m:lapisan tengah, sp:
sel sporogen primer, t:sel induk Tapetum

Gambar 8.5. Struktur


antera pada beberapa
anggota Mimosacea
A.pada Parkia ada 2
deret pollinia. B dan
C. pollinia (kumpulan
tetrad mikrospora) D.
penampang bujur
antera Pichrostachys
menunjukkan
kumpulan pollinia
yang berderet deret.
gl:glandula (disadur

25 | Reproduksi dan Struktur Bunga


dan Maheswari.
1950’)
Menurut Bhojwani dan Bhatnagar (1978, 1999) kepala sari
mempunyai lapisan dinding sebagai berikut :
a. Epidermis (eksotesium)

Merupakan lapisan terluar, terdiri dari satu lapis sel.


Epidermis menjadi memipih dan membentuk tonjolan (papila)
pada kepala sari yang masak, dan berftingsi sebagai pelindung
epidermis. Disebut eksotesium apabila sel-selnya mengalami
penebalan berserabut.

b. Endotesium

Endotesium merupakan lapisan yang terletak di sebelah


dalam epidermis. Pada kepala sari yang masak endotesium
mengadakan penebalan ke arah radial, tangensial sebelah dalam
atau antiklinal. Penebalan sel tersebut tidak teratur dan
menunjukkan struktur berserabut. Adanya struktur berserabut
menyebabkan endotesium mempunyai fungsi untuk membantu
membukanya antera. Dengan adanya struktur yang berserabut
pada dindingnya maka endotesium sering disebut lamina fibrosa.
Endotesium biasanya hanya satu lapis sel, tetapi beberapa
kepustakaan menyebutkan ada yang terdiri atas beberapa lapis
sel. Pada tumbuhan air biasanya tidak dijumpai adanya
penebalan berserabut pada endotesium. Pada tumbuhan
kleistogam (bunga tidak pemah membuka) serta beberapa jenis
termasuk Hydrochanitaceae, endotesium gagal mengadakan
perkembangan, sehingga mikrospora (butir serbuk sari) keluar
melalui lubang di bagian apikal kepala sari.

26 | Reproduksi dan Struktur Bunga


c. Lapisan tengah

Lapisan tengah merupakan lapisan yang terletak disebelah


dalam endotesium, terdiri dan 2-3 lapis sel atau lebth,
tergantung jenis tumbuhannya. Dengan berkembangnya antera
sel-selnya menjadi tertekan dan memipih, karena terdesak oleh
endotesium, sehingga sering pula disebut lapisan tertekan.
Keadaan ini terjadi pada waktu sel induk spora (sporosit)
mengalami pembelahan meiosis. Pada tumbuhan tertentu tidak
dijumpai adanya lapisan tertekan.

d. Tapetum

Tapetum merupakan dinding terdalam dari antera dan


berkembang mencapai maksimum pada saat terbentuknya
serbuk sari tetrad. Lapisan tapetum berfungsi memberikan
seluruh isi selnya selama perkembangan mikrospora. Tapetum
umumnya merupakan derivat lapisan parietal primer. Namun
pada suatu spesies, misalnya pada Alectra thomsoni sel-sel
tapetum mempunyai 2 tipe berdasarkan atas sel penyusunnya,
yaitu:
1. Sel tapetum berukuran besar, merupakan derivat dan sel-sel
konektivum;

2. Sel tapetum !ebih kecil dibanding tipe pertama, merupakan


derivat dan lapisan parietal primer.
Menurut Maheswari Devi (1963) tapetum pada Calotropis
gigantea terdiri dari beberapa lapis sel. Menurut Bhojwarn
dan Bhatnagar (1999) ada 2 tipe tapetum, yaitu:
a. Tapetum ameboid (plasmodial)

27 | Reproduksi dan Struktur Bunga


Pada tipe ini tapetum mengeluarkan seluruh masa
protoplasnya ke dalam lokulus (ruang sari) dan dinding selnya
mengalami lisis. Kemudian protoplas tapetum ini
menggabungkan diri dengan protoplas yang ada di da!am
lokulus, se!anjutnya protoplas tersebut bergerak
menyelubungi sel induk spora. Tapetum tipe ini biasanya
dijumpai pada tumbuhan Monocotyledoneae dan
Dycotyledoneae tingkat rendah.
b. Tapetum sekresi (glandular)

Tapetum menge!uarkan isi selnya secara berkala, sedikit demi


sedikit. Dinding selnya tidak mengalami lisis, dan sisa selnya
masih dapat dilihat selama perkembangan mikrospora. Tipe
ini dijumpai pada tumbuhan Angiospermae yang telah maju
tingkatannya.

Gambar 8.8. Tipe tetrad mikrospora pada Angioispermae

1. tetrahedral; 2. isobilateral; 3. dekusata; 4. bentuk T ; 5. linier.

Perkembangan Gametofit jantan

Mikrospora merupakan awal dari generasi gametofit jantan.


Mikrospora dewasa yang telah lepas dari tetrad, dikenal sebagai butir
pollen (serbuk sari).
Serbuk sari I pollen pada uintimnya mempunyai 2 lapisan dinding

28 | Reproduksi dan Struktur Bunga


yaitu eksin merupakan lapisan terluar dari inti lapisan dalam. Eksin
tersusun dari sporopolenrn, sedang inti tersusun dan polisakarida.
Serbuk sari yang baru terbentuk mempunyai sitoplasma yang padat,
dengan inti di bagian tengahnya. Setelah antera masak pollen keluar
melalui lubang yang disebut stomium. Epidermis yang letaknya
berdekatan dengan stomium dinding mengalami penebalan
membentuk struktur yang khusus.

29 | Reproduksi dan Struktur Bunga


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Bunga dapat dikelompokkan berdasarkan jenisnya yaitu bunga bunga


lengkap dan bunga tidak lengkap. Apabila bunga memiliki kelopak bunga,
mahkota bunga, putik, benang sari dan tangkai bunga maka disebut bunga lengkap.
Sebaliknya, jika bunga tidak memiliki salah satu bagian kelopak bunga, mahkota
bunga, putik, benang sari atau tangkai bunga maka merupakan bunga yang tidak
lengkap.

Berdasarkan benang sari dan putik. bunga dikelompokkan menjadi dua, yaitu
bunga sempurna dan tidak sempurna. Bunga sempurna merupakan bunga yang
memiliki benang sari dan putik. Apabila hanya memiliki salah satu di antaranya
yaitu hanya memiliki putik atau benang sari saja, maka termasuk bunga tidak
sempurna.

Jadi fungsi utama bunga adalah untuk membentuk biji agar tanaman dapat ditanam
kembali sehingga keturunannya jadi bertambah banyak. Dengan kata lain, pada
tumbuhan bunga berperan sebagai tempat berlangsungnya perkembangbiakan.
Peristiwa penyerbukan, yaitu jatuhnya serbuk sari ke atas kepala putik merupakan
awal terjadinya perkembangbiakan pada tumbuhan.

3.2 Saran

Penulis harapkan setelah membaca makalah atau mendengarkan


presentasi mengenai ‘Bunga’ ini kita dapat bersama-sama mengkaji lebih dalam
lagi mengenai materi tentang bunga, agar apabila ada informasi mengenai putik
yang belum ada pada makalah dapat kami ketahui pula sebagai tambahan ilmu
mengenai bunga.

30 | Reproduksi dan Struktur Bunga


DAFTAR PUSTAKA

Ashari, S. 2002. Pengantar Biologi Reproduksi Tanaman. Jakarta : PT RINEKA


CIPTA

Ashari, S. 2004. Biologi Reproduksi Tanaman Buah-buahan Komersial. Malang :


Bayumedia publishing

Hidayat, Estiti.1995.Anatomi Tumbuhan Berbiji.Bandung : ITB

Karmana, Oman. 2007. Cerdas Belajar Biologi untuk Kelas X. Bandung :


GRAFINDO Media Pratama

Mulyani, Sri.2006.Anatomi Tumbuhan.Yogyakarta : Kanisius

Setjo, susetyoadi, dkk.2004.Anatomi Tumbuhan.Malang : JICA.

31 | Reproduksi dan Struktur Bunga