Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

“TYPHOID FEVER”

Disusun Oleh:
ERISKA PRATIWI
20118012

Rawat Inap B
RS WAVA HUSADA
KEPANJEN
MALANG
2019
A. PENGERTIAN
Demam Thypoid atau thypoid fever ialah suatu sindrom sistemik yang
terutama disebabkan oleh salmonella typhi. Demam tifoid merupakan jenis terbanyak
dari salmonelosis. Jenis lain dari demam enterik adalah demam paratifoid yang
disebabkan oleh S. Paratyphi A, S. Schottmuelleri (semula S. Paratyphi B), dan S.
Hirschfeldii (semula S. Paratyphi C). Demam tifoid memperlihatkan gejala lebih berat
dibandingkan demam enterik yang lain (Widagdo, 2011, hal: 197).
Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran
cerna, dengan gejala demam lebih dari 1 minggu, gangguan pada pencernaan,
gangguan kesadaran (Sodikin, 2011).
Demam thypoid dan demam para thypoid adalah penyakit infeksi akut usus
halus yang disebabkan kuman Salmonella typhi dengan gejala demam lebih dari
satu minggu, gangguan pada saluran pencernaan dan gangguan kesadaran.
Penyakit ini termasuk penyakit menular endemik yang dapat menyerang banyak
orang dan masih merupakan masalah kesehatan di daerah tropis terutama di
negara-negara sedang berkembang (Maharani, 2012).

B. KLASIFIKASI
Menurut KEMENKES RI (2006) klasifikasi tifoid dibagi menjadi 2, yaitu:
1. Suspek demam tifoid (Suspect Case)
Anamnesis, pemeriksaan fisik didapakan gejala demam, gangguan saluran
cerna, dan petanda gangguan kesadaran. Jadi sindrom tifoid didapatkan beum
lengkap. Diagnosa suspek tifoid hanya dibuat pada pelayanan kesehatan dasar.

2. Demam tifoid klinis (Probable Case)


Telah didapatkan gejala klinis yang lengkap atau hampir lengkap, serta
didukung oleh gambaran laboratorium yang menunjukkan tifoid.

C. EPIDEMIOLOGI
World Health Organization (WHO) tahun (2009), memperkirakan terdapat
sekitar 17 juta kasus demam thypoid di seluruh dunia dengan insidensi 600.000
kasus kematian tiap tahun. Setiap tahunnya, 7 juta kasus terjadi di Asia Tenggara,
dengan angka kematian 600.000 orang. Hingga saat ini penyakit demam tifoid masih
merupakan masalah kesehatan di negara-negara tropis termasuk Indonesia dengan
angka kejadian sekitar 760 sampai 810 kasus pertahun, dan angka kematian 3,1
sampai 10,4%.
Indonesia merupakan negara endemik demam tifoid. Diperkirakan terdapat
800 penderita per 100.000 penduduk setiap tahun yang ditemukan sepanjang tahun.
Penyakit ini tersebar di seluruh wilayah dengan insiden yang tidak berbeda jauh
antar daerah. Serangan penyakit lebih bersifat sporadis dan bukan epidemik. Dalam
suatu daerah terjadi kasus yang berpencar-pencar dan tidak mengelompok. Sangat
jarang ditemukan beberapa kasus pada satu keluarga pada saat yang bersamaan
(Widoyono,2011, hal: 144).

D. ETIOLOGI
Penyebab terjadinya demam tifoid adalah bakteri Salmonella Typhi, kuman
salmonella typhi berbentuk batang, gram negative, tidak berspora, berkapsul tumbuh
baik di suhu 37oC. Manusia merupakan satu satunya natural reservoir. Kontak
langsung atau tidak langsung dengan individu yang terinfeksi merupakan hal penting
terjadinya infeksi (Ardyansyah, 2012).
Menurut Widagdo (2011, hal: 197) Etiologi dari demam Thypoid adalah
Salmonella typhi, termasuk genus Salmonella yang tergolong dalam famili
Enterobacteriaceae. Salmonella bersifat bergerak, berbentuk spora, tidak berkapsul,
gram (-). Tahan terhadap berbagai bahan kimia, tahan beberapa hari / minggu pada
suhu kamar, bahan limbah, bahan makanan kering, bahan farmasi, dan tinja.
Salmonella mati pada suhu 54,4º C dalam 1 jam atau 60º C dalam 15 menit.
Salmonella mempunyai antigen O (somatik) adalah komponen dinding sel dari
lipopolisakarida yang stabil pada panas dan antigen H (flagelum) adalah protein yang
labil terhadap panas. Pada S. typhi, juga pada S. Dublin dan S. hirschfeldii terdapat
antigen Vi yaitu polisakarida kapsul.

E. FAKTOR RESIKO
Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian demam tifoid antara lain :
a. usia,
Prevalensi demam tifoid paling tinggi pada usia 3-19 tahun karena pada usia
tersebut orang-orang cenderung memiliki aktivitas fisik yang banyak, dan kurang
memperhatikan pola makannya, akibatnya mereka cenderung lebih memilih makan
di luar rumah, atau jajan di sembarang tempat yang kurang memperhatikan
higienitas. Bakteri Salmonella thypi banyak berkembang biak khususnya dalam
makanan yang kurang terjaga higienitasnya (Ramaningrum,2017).

b. status gizi,
Status gizi yang kurang dapat menurunkan daya tahan tubuh anak, sehingga anak
mudah terserang penyakit, bahkan status gizi buruk dapat menyebabkan angka
mortilitas demam tifoid semakin tinggi. Penurunan status gizi pada penderita demam
tifoid akibat kurangnya nafsu makan (anoreksia), menurunnya absorbsi zat-zat gizi
karena terjadi luka pada saluran pencernaan dan kebiasaan penderita mengurangi
makan pada saat sakit. Peningkatan kekurangan cairan atau zat gizi pada penderita
demam tifoid akibat adanya diare, mual atau muntah dan perdarahan terus menerus
yang diakibatkan kurangnya trombosit dalam darah sehingga pembekuan luka
menjadi menurun (Ramaningrum,2017).

c. kebiasaan cuci tangan,


Kebiasaan tidak mencuci tangan pakai sabun sebelum makan, risiko terkena demam
tifoid meningkat 2 kali lebih besar dibandingkan dengan yang mempunyai kebiasaan
mencuci tangan pakai sabun (Rakhman, 2009).

d. Riwayat tifoid dalam keluarga


Orang yang dalam keluarganya belakangan pernah ada yang menderita demam
tifoid memiliki peluang untuk terkena demam tifoid 2 kali lebih besar dibanding orang
yang dalam keluarganya dalam tiga bulan terakhir tidak ada yang menderita demam
tifoid (Rakhman, 2009).

e. Sumber air
Kuman S. typhi sering ditemukan di sumur-sumur penduduk yang telah
terkontaminasi oleh feses manusia yang terinfeksi oleh kuman tifoid. Tinja manusia
yang terinfeksi dan dibuang secara tidak layak tanpa memenuhi persyaratan sanitasi
dapat menyebabkan terjadinya pencemaran tanah dan sumber-sumber air.
Selanjutnya air juga bisa berpeluang untuk menginfeksi manusia jika
menggunakannya secara langsung, baik untuk minum maupun untuk keperluan cuci
peralatan dapur, dan sebagainya(Rakhman, 2009).

F. PATOFISIOLOGI
(Terlampir)

G. MANIFESTASI KLINIS
Beberapa gejala klinis menurut KEMENKES RI (2006) yang sering pada tifoid
diantaranya yaitu:
a. Demam
Demam atau panas adalah gejala utama tifoid. Pada awal sakit, demamnya
kebanyakan samar-samar saja, selanjutnya suhu tubuh sering naik turun. Pagi lebih
rendah dan malam lebih tinggi (demam internitten). Dari hari kehari intensitas
demam semakin tinggi disertai pusing diarea frontal, nyeri otot, pegal-pegal,
insomnia, anoreksia, mual dan muntah. Minggu ke 2 demam semakin tinggi, kadang
terus menerus (demam kontinyu). Bila pasien membaik minggu ke 3 suhu badan
berangsur turun dan dapat normal kembali. Pada anak balita demam tinggi dapat
menimbulkan kejang.

b. Gangguan saluran pencernaan


Sering ditemukan bau mulut karena demam yang lama, bibir kering dan kadang
pecah-pecah, lidah kelihatan kotor dan ditutupi selaput putih, ujung dan tepi lidah
kemerahan dan tremor. Pada umumnya penderita sering mengeluh nyeri perut
terutama di regio epigastrik disertai nausea, mual muntah. Pada awal sakit sering
meteorismus dan konstipasi. Pada minggu selanjutnya kadang diare.

c. Gangguan kesadaran
Sering didapatkan kesadaaran apatis. bila memberat tak jarang penderita
sampaisomnolen dan koma atau dengan gejala-gejala psychosis (Organic Brain
Syndrome). Pada penderita toksik, gejala delirium lebih menonjol.

d. Hepatosplenomegali
Hati dan atau limpa, ditemukan sering membesar. Hati terasa kenyal dan nyeri tekan.

e. Bradikardia relatif dan gejala lain


bradikardia relatif adalah peningkatan suhu tubuh yang tidak diikuti peningkatan
frekuensi nadi. Pada anak sering ditemui epitaksis.

H. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Pemeriksaan Laboratorium meliputi pemeriksaan hematologi, urinalis, kimia
klinik,imunoreologi,mikrobiologi, dan biologi molekular. Pemeriksaan ini ditujukan
untuk membantu menegakkandiagnosis (adakalanya bahkan menjadi penentu
diagnosis), menetapkan prognosis, memantau perjalanan penyakit dan hasil
pengobatan serta timbulnya penyulit.
Hematologi
Kadar hemoglobin dapat normal atau menurun bila terjadi penyulit perdarahan usus
atau perforasi. Pemeriksaan darah dilakukan pada biakan kuman (paling tinggi pada
minggu I sakit),diagnosis pasti Demam Tifoid. (Minggu I : 80-90%, minggu II : 20-
25%, minggu III : 10-15%)Hitung leukosit sering rendah (leukopenia), tetapi dapat
pula normal atau tinggi. Hitung jenisleukosit: sering neutropenia dengan limfositosis
relatif. LED meningkat (Sumarmo et al, 2010)

Urinalis
Tes Diazo Positif : Urine + Reagens Diazo + beberapa tetes ammonia 30% (dalam
tabung reaksi)→dikocok→buih berwarna merah atau merah muda (Djoko, 2009).
Protein: bervariasi dari negatif sampai positif (akibat demam). Leukosit dan eritrosit
normal; bila meningkat kemungkinan terjadi penyulit. Biakan kuman (paling tinggi
pada minggu II/IIIdiagnosis pasti atau sakit “carrier” ( Sumarmo et al, 2010)

Tinja (feses)
Ditemukian banyak eritrosit dalam tinja (Pra-Soup Stool), kadang-kadang darah
(bloody stool).Biakan kuman (diagnosis pasti atau carrier posttyphi) pada minggu II
atau III sakit. (Sumarmo etal, 2010)

Kimia Klinik
Enzim hati (SGOT, SGPT) sering meningkat dengan gambaran peradangan sampai
hepatitis akut.

Imunologi
Pemeriksaan Wida lUji widal dilakukan untuk deteksi antibodi terhadap kuman
S.thypi. Pada uji widal terjadi suatureaksi aglutinasi antara kuman S.thypi dengan
antibodi yang disebut aglutinin . Antigen yang digunakan pada uji widal adalah
suspensi Salmonella yang sudah dimatikan dan diolah dilaboratorium. Maksud uji
Widal adalah untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum penderita tersangka
demam tifoid yaitu :a.Aglutinin O (dari tubuh kuman), b. Aglutinin H (flagela kuman),
dan c.Aglutinin Vi (simpaikuman)Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan
H yang digunakan untuk diagnosis demamtifoid. Semakin tinggi titernya semakin
besar kemungkinan terinfeksi kuman ini. Widal dinyatakan positif bila :

- Titer O Widal I 1/320 atau


- Titer O Widal II naik 4 kali lipat atau lebih dibanding titer O Widal I atau Titer O
Widal I (-) tetapi titer O II (+) berapapun angkanya.Diagnosis Demam Tifoid /
Paratifoid dinyatakan bila a/titer O = 1/160 , bahkan mungkin sekalinilai batas
tersebut harus lebih tinggi mengingat penyakit demam tifoid ini endemis di
Indonesia.Titer O meningkat setelah akhir minggu. Melihat hal-hal di atas maka
permintaan tes widal ini pada penderita yang baru menderita demam beberapa hari
kurang tepat. Bila hasil reaktif (positif) maka kemungkinan besar bukan disebabkan
oleh penyakit saat itu tetapi dari kontak sebelumnya.Pemeriksaan Elisa Salmonella
typhi/ paratyphi lgG dan lgM merupakan uji imunologik yang lebih baru, yang
dianggap lebih sensitif dan spesifik dibandingkan uji Widal untuk mendeteksi Demam
Tifoid/ Paratifoid. Sebagai tes cepat (RapidTest) hasilnya juga dapat segera di
ketahui. Diagnosis Demam Tifoid/ Paratyphoid dinyatakan 1/ bila lgM positif
menandakan infeksi akut; 2/jika lgG positif menandakan pernah kontak/
pernahterinfeksi/ reinfeksi/ daerah endemik. (Sumarmo et al, 2010)

Mikrobiologi
Uji kultur merupakan baku emas (gold standard) untuk pemeriksaan demam
tiroid/paratifoid.Interpretasi hasil : jika hasil positif maka diagnosis pasti untuk demam
tifoid/ paratifoid. Sebalikanya jika hasil negatif, belum tentu bukan demam tifoid/
paratifoid, karena hasil biakan negatif palsu dapatdisebabkan oleh beberapa faktor,
yaitu antara lain jumlah darah terlalu sedikit kurang dari 2 mL),darah tidak segera
dimasukan ke dalam medial Gall (darah dibiarkan membeku dalam spuit sehingga
kuman terperangkap di dalam bekuan), saat pengambilan darah masih dalam
minggu- 1 sakit, sudah mendapatkan terapi antibiotika, dan sudah mendapat
vaksinasi. Kekurangan uji ini adalah hasilnya tidak dapat segera diketahui karena
perlu waktu untuk pertumbuhan kuman (biasanya positif antara2-7 hari, bila belum
ada pertumbuhan koloni ditunggu sampai 7 hari). Pilihan bahan spesimen yang
digunakan pada awal sakit adalah darah, kemudian untuk stadium lanjut/carrier
digunakan urin dantinja. (Sumarmo et al, 2010)

Biologi molekular
.PCR ( Polymerase Chain Reaction) Metode ini mulai banyak dipergunakan. Pada
cara ini di lakukan perbanyakan DNA kuman yang kemudian diidentifikasi dengan
DNA probe yang spesifik. Kelebihan uji ini dapat mendeteksi kuman yang terdapat
dalam jumlah sedikit (sensitifitas tinggi) sertakekhasan (spesifitas) yang tinggi pula.
Spesimen yang digunakan dapat berupa darah, urin, cairantubuh lainnya serta
jaringan biopsi.

Kriteria diagnosis yang biasa digunakan adalah :

1. Biakan darah positif memastikan demam tifoid, tetapi biakan darah negative tidak
menyingkirkan demam tifoid.
2. Biakan tinja positif menyokong diagnosis klinis demam tifoid.
3. Peningkatan titer uji widal 4 kali lipat selama 2 – 3 minggu memastikan diagnosis
demam tifoid.
4. Reaksi widal tunggal dengan titer antibodi Antigen O 1: 320 atau titer antigen H 1:
640 menyokong diagnosis demam tifoid pada pasien dengan gambaran klinis yang
khas .
5. Pada beberapa pasien, uji widal tetap negatif pada pemeriksaan ulang walaupun
biakan darah positif. (Sumarmo, 2010)

I. PENATALAKSANAAN
Prinsip penatalaksanaan demam tifoid masih menganut trilogi
penatalaksanaan yang meliputi : istirahat dan perawatan, diet dan terapi
penunjang (baik simptomatik maupun suportif), serta pemberian
antimikroba. Selain itu diperlukan pula tatalaksana komplikasi demam tifoid yang
meliputi komplikasi intestinal maupun ekstraintestinal
(Kemenkes,2006).
1. Istirahat dan Perawatan
Bertujuan untuk mencegah komplikasi dan mempercepat penyembuhan.
Tirah baring dengan perawatan dilakukan sepenuhnya di tempat seperti makan,
minum, mandi, dan BAB/BAK. Posisi pasien diawasi untuk mencegah dukubitus dan
pnemonia orthostatik serta higiene perorangan tetap perlu diperhatikan dan dijaga.

2. Diet dan Terapi Penunjang


Mempertahankan asupan kalori dan cairan yang adekuat, yaitu berupa:
a. Memberikan diet bebas yang rendah serat pada penderita tanpa gejala
meteorismus, dan diet bubur saring pada penderita dengan meteorismus. Hal
ini dilakukan untuk menghindari komplikasi perdarahan saluran cerna dan
perforasi usus. Gizi penderita juga diperhatikan agar meningkatkan keadaan
umum dan mempercepat proses penyembuhan.

b. Cairan yang adekuat untuk mencegah dehidrasi akibat muntah dan diare.

c. Primperan (metoclopramide) diberikan untuk mengurangi gejala mual muntah


dengan dosis 3 x 5 ml setiap sebelum makan dan dapat dihentikan kapan saja
penderita sudah tidak mengalami mual lagi.

3. Pemberian Antimikroba
Pada demam tifoid, obat pilihan yang digunakan dibagi menjadi lini pertama
dan lini kedua. Kloramfenikol, kotrimosazol, dan amoksisilin/ampisilin adalah obat
demam tifoid lini pertama. Lini kedua adalah kuinolon (tidak dianjurkan untuk anak
dibawah 18 tahun), sefiksim, dan seftriakson

.
J. KOMPLIKASI
Menurut Widagdo (2011, hal: 220-221) Komplikasi dari demam tifoid dapat
digolongkan dalam intra dan ekstra intestinal.
1. Komplikasi intestinal diantaranya ialah :
a. Perdarahan
Dapat terjadi pada 1-10 % kasus, terjadi setelah minggu pertama dengan
ditandai antara lain oleh suhu yang turun disertai dengan peningkatan denyut
nadi.

b. Perforasi usus
Terjadi pada 0,5-3 % kasus, setelah minggu pertama didahului oleh
perdarahan berukuran sampai beberapa cm di bagian distal ileum ditandai
dengan nyeri abdomen yang kuat, muntah, dan gejala peritonitis.

2. Komplikasi ekstraintestinal diantaranya ialah :

a. Sepsis

Ditemukan adanya kuman usus yang bersifat aerobik


b. Hepatitis dan kholesistitis

Ditandai dengan gangguan uji fungsi hati, pada pemeriksaan amilase serum
menunjukkan peningkatan sebagai petunjuk adanya komplikasi pankreatitis

c. Pneumonia atau bronkhitis

Sering ditemukan yaitu kira-kira sebanyak 10 %, umumnya disebabkan


karena adanya superinfeksi selain oleh salmonella

d. Miokarditis toksik

Ditandai oleh adanya aritmia, blok sinoatrial, dan perubahan segmen ST dan
gelombang T, pada miokard dijumpai infiltrasi lemak dan nekrosis

e. Trombosis dan flebitis

Jarang terjadi, komplikasi neurologis jarang menimbulkan gejala residual


yaitu termasuk tekanan intrakranial meningkat, trombosis serebrum, ataksia
serebelum akut, tuna wicara, tuna rungu, mielitis tranversal, dan psikosis

f. Komplikasi lain

Pernah dilaporkan ialah nekrosis sumsum tulang, nefritis, sindrom nefrotik,


meningitis, parotitis, orkitis, limfadenitis, osteomilitis, dan artritis.

K. PENCEGAHAN
Pencegahan dibagi menjadi beberapa tingkatan sesuai dengan
perjalanan penyakit, yaitu :
 Pencegahan Primer
Pencegahan primer merupakan upaya untuk mempertahankan orang yang
sehat agar tetap sehat atau mencegah orang yang sehat menjadi sakit. Pencegahan
primer dapat dilakukan dengan cara imunisasi dengan vaksin yang dibuat dari strain
Salmonella typhi yang dilemahkan. Mengkonsumsi makanan sehat agar
meningkatkan daya tahan tubuh, memberikan pendidikan kesehatan untuk
menerapkan prilaku hidup bersih dan sehat dengan cara budaya cuci tangan yang
benar dengan memakai sabun, peningkatan higiene makanan dan minuman berupa
menggunakan cara-cara yang cermat dan bersih dalam pengolahan dan penyajian
makanan, sejak awal pengolahan, pendinginan sampai penyajian untuk dimakan,
dan perbaikan sanitasi lingkungan.

 Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder dapat dilakukan dengan cara mendiagnosa penyakit
secara dini dan mengadakan pengobatan yang cepat dan tepat. Pencegahan
sekunder dapat berupa : Penemuan penderita maupun carrier secara dini melalui
penigkatan usaha surveilans demam tifoid, perawatan umum dan nutrisi, Pemberian
anti mikroba (antibiotik).

 Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier adalah upaya yang dilakukan untuk mengurangi keparahan
akibat komplikasi. Apabila telah dinyatakan sembuh dari penyakit demam tifoid
sebaiknya tetap menerapkan pola hidup sehat, sehingga imunitas tubuh tetap terjaga
dan dapat terhindar dari infeksi ulang demam tifoid. Pada penderita demam tifoid
yang carier perlu dilakukan pemerikasaan laboratorium pasca penyembuhan untuk
mengetahui kuman masih ada atau tidak.
(Maharani, 2012)
L. ASUHAN KEPERAWATAN

PENGKAJIAN

Data dasar pengkajian pasien dengan Typhoid yaitu :

1. Identitas Klien, meliputi:

a. Umur ; penderita yang terkena Typhoid rata-rata antara usia 3-19 tahun, karena
terkait dengan pola dan jenis makanan yang dikonsumsi yang lebih variatif dan
beresiko menjadi faktor pencetus masukanya kuman Salmonella Typhi.

b. Lingkungan; kebersihan lingkungan yang buruk merupakan sumber dari penyakit


Typhoid, seperti membuang sampah sembarangan.

c. Pekerjaan; kebanyakan penderita penyakit Typhoid bekerja ditempat yang kumuh,


atau bekerja yang menguras tenaga.

d. Jenis Kelamin; kebanyakan penderita yang terkena penyakit typhoid laki-laki lebih
banyak dari perempuan dengan perbandingan 2-3:1

2. Riwayat kesehatan, meliputi:

a. Keluhan utama; pada pasien Typhoid biasanya mengeluh perut merasa mual dan
kembung, nafsu makan menurun, panas dan demam.

b. Riwayat penyakit dahulu; apakah sebelumnya pasien pernah mengalami sakit


Typhoid, apakah tidak pernah, apakah menderita penyakit lainnya.

c. Riwayat penyakit sekarang; pada umumnya penyakit pada pasien Typhoid adalah
demam, anoreksia, mual, muntah, diare, perasaan tidak enak diperut, pucat
(anemi), nyeri otot, lidah typhoid (kotor), gangguan kesadaran berupa sommolen
sampai koma.

d. Riwayat kesehatan keluarga; apakah dalam kesehatan keluarga ada yang pernah
menderita Typhoid atau sakit lainnya.

3. Pola fungsi kesehatan

a. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan; adanya pola hidup dan kebiasaan
yang tidak sehat, dan tidak mengetahui pemeliharaan dan penanganan
kesehatan, kebiasaan jajan di tempat terbuka, kebiasaan tidak mencuci tangan
sebelum makan.

b. Pola nutrisi dan metabolisme; adanya mual dan muntah, penurunan nafsu makan
selama sakit, lidah kotor, dan rasa pahit waktu makan sehingga dapat
mempengaruhi status nutrisi tubuh. Pasien juga akan dijumpai adanya demam
dan keluhan badannya panas.

c. Pola aktifitas dan latihan; pasien akan terganggu aktifitasnya akibat adanya
kelemahan fisik serta pasien akan mengalami keterbatasan gerak akibat
penyakitnya.

d. Pola istirahat dan tidur; kebiasaan tidur pasien akan terganggu karena suhu badan
yang meningkat, sehingga pasien merasa gelisah pada saat tidur.

e. Pola persepsi sensori kognitif; adanya nyeri pada ulu hati, nyeri pada kuadran
kanan atas dan menurunya tingkat kesadaran.

f. Pola hubungan dengan orang lain; adanya kondisi kesehatan mempengaruhi


terhadap hubungan interpersonal dan peran serta mengalami tambahan dalam
menjalankan peranya selama sakit.

g. Persepsi diri dan konsep diri; adanya kecemasan, ketakutan atau penilaian
terhadap diri, tampak sakit terhadap diri, kontak mata, asertif atau pasif, isyarat
non verbal, ekspresi wajah, merasa tidak berdaya, gugup atau rileks.

h. Pola mekanisme koping; stres timbul apabila seorang pasien tidak efektif dalam
mengatasi masalah penyakitnya.

i. Pola nilai kepercayaan atau keyakinan; timbulnya distres dalam spritual pada
pasien, maka pasien akan menjadi cemas dan takut akan kematian, serta
kebiasaan ibadahnya akan terganggu.

4. Pemeriksaaan fisik

a. Keadaan Umum dan Tanda-tanda Vital; biasanya pada klien typhoid mengalami
penurunan kesadaran, badan lemah, suhu meningkat antara 37,5-38oC, tekanan
darah mengalami penurunan, dan penurunan frekuensi nadi.

b. Kepala dan leher; biasanya pada pasien Typhus Abdominalis yang ditemukan
adanya kongjungtiva anemia, mukosa pucat, bibir kering, lidah kotor ditepi dan
ditengah merah.

c. Abdomen; biasanya terdapat nyeri tekan pada bagian ulu hati dan kuadran kanan
atas.

d. Sistem integument; turgor kulit menurun, pucat, berkeringat banyak.

5. Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan penunjang pada klien dengan typhoid menurut Widodo (2006) adalah
pemeriksaan laboratorium , yang terdiri dari :

a. Pemeriksaan leukosit

Biasanya pada klien dengan demam typhoid terdapat leukopenia dan limposistosis,
tetapi kenyataannya leukopenia jarang dijumpai. Pada kebanyakan kasus Typhus
Abdominalis, jumlah leukosit pada sediaan darah tepi berada pada batas-batas normal
bahkan kadang-kadang terdapat leukosit walaupun tidak ada komplikasi atau infeksi
sekunder. Oleh karena pemeriksaan jumlah leukosit tidak berguna untuk diagnosa
Typhus Abdominalis.

b. Pemeriksaan SGOT dan SGPT

SGOT dan SGPT pada demam typhoid seringkali meningkat tetapi dapat kembali normal
setelah sembuhnya Typhus Abdominalis.

c. Biakan darah

Bila biakan darah positif hal itu menandakan Typhus Abdominalis, tetapi bila biakan
darah negatif tidak menutup kemungkinan akan terjadi demam.

d. UjiWidal

Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (aglutinin). Aglutinin
yang spesifik terhadap salmonella thypi terdapat dalam serum klien dengan typhoid juga
terdapat pada orang yang pernah di vaksinasikan. Antigen yang digunakan pada uji
widal adalah suspensi salmonella yang sudah dimatikan dan diolah di laboratorium.
Tujuan dari uji widal ini adalah untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum klien
yang disangka menderita typhoid. Akibat infeksi oleh salmonella thypi klien membuat
antibodi atau aglutinin yaitu :

1) Aglutinin O, yang dibuat karena rangsangan antigen O (berasal dari tubuh kuman).
Makin tinggi titter O makin besar jumlah kuman Salmonella Typhi di dalam tubuh.

2) Aglutinin H, yang dibuat karena rangsangan antigen H (berasal dari flagel kuman).
Makin tinggi titter H makin besar jumlah kuman Salmonella Typhi di dalam tubuh.

3) Aglutinin Vi, yang dibuat karena rangsangan antigen Vi (berasal dari sampai kuman)

DIAGNOSA KEPERAWATAN

Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul, antara lain:

1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual, muntah, nafsu
makan menurun.

2. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan output yang berlebihan sekunder
terhadap diare, demam, dan muntah.

3. Gangguan rasa nyaman: nyeri berhubungan dengan efek peradangan pada usus.

4. Gangguan eliminasi BAB : konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltik usus.

5. Gangguan eliminasi BAB : diare berhubungan dengan absorbs dinding usus sekunder,
infeksi Salmonella typhi.

6. Peningkatan suhu tubuh / hipertermi berhubungan dengan proses peradangan pada usus
halus.
7. Cemas berhubungan dengan krisis situasi akibat proses penyakit dan hospitalisasi.

INTERVENSI DAN RASIONAL

1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual, muntah, nafsu
makan menurun.

a. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan 3x24 jam pemenuhan kebutuhan nutrisi pasien
terpenuhi.

b. Kriteria hasil : BB stabil atau peningkatan BB, tidak ada malnutrisi, nafsu makan
meningkat, pasien mengmhabiskan porsi makan yang sudah disediakan rumah sakit.

c. Intervensi :

1) Dorong tirah baring atau pembatasan aktifitas selama fase sakit akut. Rasional:
Menurunkan kebutuhan metabolik untuk mencegah penurunan kalori dan simpanan
energi.

2) Anjurkan klien istirahat sebelum makan. Rasional: Menenangkan peristaltik dan


meningkatkan energi untuk makan

3) Sediakan makanan dalam keadaan hangat, lingkungan menyenangkan, dan kondisi


tidak terburu-buru. Rasional: Lingkungan yang menyenangkan dapat menurunkan
stress dan lebih kondusif untuk makan.

4) Catat masukan makanannya. Rasional: Memberikan rasa kontrol pada klien dan
memberikan kesempatan untuk memilih makanan yang diinginkan, dinikmati, dapat
meningkatkan masukan.

5) Berikan nutrisi parental total, terapi Intra Vena sesuai indikasi. Rasional: Dapat
mengistirahatkan saluran sementara memberikan nutrisi penting.

6) Timbang berat badan setiap hari. Rasional: memberikan informasi tentang kebutuhan
diet atau keefektifan terapi.

2. Resiko Defisit volume cairan berhubungan dengan output yang berlebihan sekunder
terhadap diare, demam, dan muntah.

a. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2x24 jam kebutuhan cairan terpenuhi.

b. Kriteria hasil: Suhu 36-37oC, turgor baik, kulit lembab, TD 120/80 mmHg, nadi 80x/menit,
nadi perifer teraba, mempertahankan volume cairan.

c. Intervensi :

1) Kaji tanda-tanda vital. Rasional: Hipotensi, Takardi, demam, dapat menunjukan respon
pada efek kehilangan cairan.

2) Observasi kulit kering berlebihan dan membrane mukosa, penurunan turgor kulit.
Rasional: Dapat mengetahui kehilangan cairan berlebihan dan dehidrasi.
3) Pertahankan pembatasan per oral, tirah baring, hindari kerja atau batasi aktifitas.
Rasional: Kolon diistirahatkan untuk peyembuhan dan untuk menurunkan cairan usus

4) Observasi perdarahan dan tes feses tiap hari untuk adanya darah samar. Rasional:
Diet tak adekuat dan penurunan absorbsi dapat memasukan defisiensi Vitamin K dan
merusak koagulasi, potensial resiko pendarahan.

5) Kolaborasi pemberian cairan parenteral sesuai indikasi. Rasional: Mempertahankan


istirahat usus akan memerlukan penggantian cairan untuk memperbaiki kehilangan
atau anemia.

3. Gangguan rasa nyaman, nyeri berhubungan dengan efek peradangan pada usus.

a. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan nyeri hilang atau bekurang.

b. Kriteria hasil : Nyeri klien dapat hilang atau berkurang, klien tampak rileks, klien tampak
tenang, ekspresi wajah tidak cemas, suhu 36-37oC, TD 120/80 mmHg, nadi 80x/menit, RR
20x/menit.

c. Intervensi :

1) Kaji laporan kram abdomen atau nyeri, catat lokasi, lamanya intensitas (skala 0-10).
Selidiki dan laporkan perubahan karateristik nyeri. Rasional: Nyeri selama defekasi
seiring terjadi pada klien dengan tiba-tiba dimana dapat berat dan tidak dimana
dapat berat dan terus menerus. Perubahan pada karateristik nyeri dapat
menunjukan penyebaran penyakit atau terjadi komplikasi.

2) Dorong klien untuk menghilangkan rasa nyeri. Rasional: Untuk dapat mentoleransi
nyeri.

3) Tentukan stress luar, misal keluarga, teman, lingkungan kerja atau sosial. Rasional:
Stress dapat mengganggu respon saraf otonomik dan mendukung eksaserasi
penyakit. Meskipun tujuan kemandirianlah pada klien menjadi penambah stessor.

4) Anjurkan klien istirahat atau tidur yang cukup. Rasional: Kelelahan karena penyakit
cenderung menjadi masalah berarti, mempengaruhi kemampuan mengatasinya.

5) Dorong penggunaan ketrampilan menangani stress misal tekhnik relaksasi, latihan


nafas dalam. Rasional: Memberatkan kembali perhatian, meningkatkan relaksasi
dan meningkatkan kemampuan koping.

6) Berikan obat analgetik sesuai indikasi. Rasional: bantuan dalam istirahat psikologi
atau fisik, menghemat energi, dan dapat menguatkan kemampuan koping.

4. Gangguan eliminasi BAB : konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltik usus.

a. Tujuan : Selama dalam perawatan kebutuhan eliminasi terpenuhi.

b. Kriteria hasil : Tidak terjadi gangguan pada eliminasi BAB kembali normal, konsistensi
lunak, tidak cair, pasien tidak kembung.

c. Intervensi :
1) Kaji pola BAB pasien. Rasional: Untuk mengetahui pola BAB pasien.

2) Pantau dan catat BAB setiap hari. Rasional: Mengetahui konsistensi pada feses dan
perkembangan pola BAB pasien.

3) Pertahankan intake cairan 2-3 liter /hari. Raional: Memenuhi kebutuhan cairan dan
membantu memperbaiki konsistensi feses.

4) Kolaborasi dengan ahli gizi pemberian diet tinggi serat tapi rendah lemak. Rasional:
Serat menahan enzim pencernaan dan mengabsorbsi air dalam aliranya sepanjang
traktus intestinal.

5) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat pencahar. Rasional: Obat itu untuk
melunakan feses yang keras sehingga pasien dapat defekasi dengan mudah.

5. Gangguan eliminasi BAB : diare berhubungan dengan absorbs dinding usus sekunder,
infeksi salmonella typhi.

a. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam klien tidak mengalami
diare, BAB normal.

b. Kriteria hasil: BAB normal 1-2x/ hari, Konsistensi berbentuk, perut tidak mulas, peristaltik
normal.

c. Intervensi :

1) Kaji frekuensi, bau, warna feses. Rasional: Untuk mengetahui adakah pendarahan.

2) Observasi tanda dehidrasi. Rasional: Untuk mengetahui tanda dehidrasi.

3) Observasi Peristaltik usus. Rasional: Untuk mengetahui perubahan peristaltik usus.

4) Observasi atau monitor intake output cairan. Rasional: Untuk mengetahui balance
cairan.

5) Anjurkan klien untuk banyak minum. Rasional: Untuk menggantikan cairan tubuh yang
hilang melalui diare.

6) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat anti diare dan anti mikroba. Rasional:
untuk mengurangi reaksi peradangan pada usus halus dan menurunkan peristaltik.

6. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses peradangan pada usus halus.

a. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan suhu tubuh normal.

b. Kriteria hasil : Suhu tubuh normal 36-37oC, TD 120/80 mmHg, bibir tidak kering, pasien
tampak rileks, turgor kulit baik, tidak terjadi resiko kekurangan volume cairan.

c. Intervensi :

1) Kaji peningkatan suhu. Rasional: Suhu 38,9oC menentukan proses penyakit infeksi
akut.
2) Pantau suhu lingkungan, batasi atau tambah linen tempat tidur sesuai indikasi.
Rasional: Suhu lingkungan atau jumlah slimut harus dibatasi untuk mempertahankan
suhu mendekati normal.

3) Berikan kompres air hangat, hindari penggunaan air es. Rasional: Membantu
mengurangi demam (penggunaan air es menyebabkan peningkatan suhu secara
aktual).

4) Kolaborasi pemberian Antipiretik. Rasional: Digunakan untuk mengurangi demam.

5) Kolaborasi pemberian Antibiotik dan Antimikroba. Rasional: untuk mengatasi


peradangan yang terjadi dalam tubuh.

7. Cemas berhubungan dengan krisis situasi akibat proses penyakit dan hospitalisasi.

a. Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan kecemasan berkurang.

b. Kriteria Hasil : klien menunjukkan penurunan ketegangan, mampu mengontrol


kecemasan, menunjukkan kemampuan interaksi sosial yang baik dengan lingkungan.

c. Intervensi :

1) Kaji dan dokumentasikan tingkat kecemasan klien.

2) Berikan informasi tentang masalah kesehatan dan penyakit yang dialaminya. Rasional:
membantu mengurangi ketegangan klien yang tidak beralasan.

3) Bantu pasien memfokuskan pada situasi saat ini Rasional: sebagai alat bantu untuk
mengidentifikasi mekanisme koping yang dibutuhkan untuk mengurangi ansietas.

4) Sediakan pengalihan melalui alat bantu seperti televise, radio, permainan, serta terapi
okupasi. Rasional: membantu mengalihkan perhatian klien dan mengurangi
kecemasan

5) Kurangi rangsangan yang berlebihan dan sediakan lingkungan yang tenang. Rasional:
mengurangi faktor yang dapat mebuat klien cemas.

6) Kolaborasi dengan psikiater bila diperlukan. Rasional : membantu klien lebih tenang
dalam mengatasi kecemasan yang berlebihan.
DAFTAR PUSTAKA

Sumarmo, Soedarmo.2010. Bab Demam Typoid dalam Buku Ajar Infeksi dan Pediatri
Tropis edisi 2. Jakarta : Penerbit IDAI.

Anda mungkin juga menyukai