Anda di halaman 1dari 13

FAKTOR PEMBENTUK LANSKAP, UNSUR DAN INTERAKSINYA

LANSKAP BATUAN

Kelompok 3
Bayu Firdaus 20170210068
Faisal Hanantia 20170210088
Aulia Rahmah 20170210093
Khoiriyyatul Mar’ah 20170210094
Novan Agung Handoko 20170210102

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2019
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Lanskap sejarah menurut Nurisjah dan Paramukanto (2001) adalah bagian


dari suatu lanskap budaya yang memiliki dimensi waktu di dalamnya.
Lanskap sejarah ini dapat mempunyai bukti fisik dari keberadaan manusia di
atas bumi ini. Waktu yang tertera dalam suatu lanskap sejarah yang
membedakan dengan desain lanskap lainnya, adalah keterkaitan pembentukan
essential character dari lanskap ini dari waktu/periode yang lalu yang
didasarkan pada sistem periodikal yang khusus (seperti sistem politik,
ekonomi dan sosial). Lanskap sejarah memainkan peranan penting dalam
mendasari dan membentuk berbagai tradisi budaya, ideologikal dan etnikal
satu kelompok masarakat.

Lingkungan alam terdiri dari komponen biotik dan abiotik. Komponen


sumber daya lingkungan alam ini tidak dapat terpisahkan karena saling terkait
satu sama lain. Seiring dengan berjalannya waktu, kini alam mulai mengalami
perubahan. Perubahan alam atau lanskap merupakan fenomena yang tak
terelakkan, baik disebabkan oleh faktor alam maupun campur tangan manusia.
Menurut Nasution (2003). Perubahan infrastruktur lanskap yang disebabkan
oleh manusia umumnya dipengaruhi oleh kekuatan politik, ekonomi, sosial,
serta teknologi. Menurut Antrop (2005). Perubahan infrastruktur lanskap yang
disebabkan oleh alam tidak lain dipengaruhi oleh karakteristik dari alam itu
sendiri, di mana alam itu selalu berubah.

Batuan merupakan salah satu komponen yang berada di alam raya ini.
Batuan adalah salah satu komponen abiotik yang berada di tengah- tengah
ekosistem alam ini. Batuan, seperti yang kita ketahui bersama merupakan
salah satu komponen yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Batuan
dibutuhkan oleh manusia untuk berbagai macam hal, seperti membangun
rumah atau gedung, mebuat bendungan, membuat sarana dan pra sarana
umum, hingga menghias atau mempercantik bangunan. Batu- batuan yang
jenisnya ada banyak ini mempunyai segudang manfaatnya masing- masing.

Di bumi ini terdapat banyak sekali kandungan sumber daya alamnya


diantaranya yaitu batuan dan bahan tambang. Batuan dan bahan tambang
mempunyai manfaat yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Batuan
merupakan kumpulan dari satu atau lebih mineral batuan penyusun kerak
bumi berdasarkan kejadiannya (genesis) tekstur-tekstur dan komposisi
mineralnya dapat dibagi menjadi 3 yaitu : Batuan beku, Batuan sedimen,
Batuan metamorf.
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Lanskap

Menurut Simonds (1983), lanskap adalah suatu bentang alam dengan


karakteristik tertentu, yang dapat dinikmati oleh seluruh indera manusia.
Lanskap terdiri dari lanskap alami dan lanskap buatan. Lanskap alami sangat
rumit sehingga sangat penting bagi perancang untuk memahami lebih dalam
untuk menjaga elemen yang tidak boleh diganggu dan yang tetap di
pertahankan pada lanskap. Lanskap alami terdiri dari bukit pasir, padang
rumput, gunung, danau, laut, bukit, jurang, hutan, sungai, kolam, rawa,
lembah dan padang pasir. Lanskap buatan merupakan lanskap alami yang
mengalami modifikasi yang dilakukan oleh manusia.

Lanskap sejarah memiliki karakter yang terdiri atas atau yang dapat
diamati dari karakter utama kawasan, situs atau tapak tersebut dan
hubunganhubungannya dengan tapak. Dua faktor pembentuk tersebut adalah :

1. Historic/prehistoric feature, yaitu feature yang terletak di atas atau di


bawah permukaan tanah (seperti lanskap).
2. Informasi-informasi sejarah yang berhubungan dengan tapak tersebut
(seperti cerita rakyat, legenda, atau catatan sejarah proses terjadinya
suatu tapak).

Goodchild (1990) mengemukakan bahwa suatu lanskap dikatakan


memiliki nilai historis apabila di dalamnya memuat satu atau beberapa kondisi
lanskap berikut ini :

1. Merupakan contoh yang menarik dari sebuah tipe lanskap sejarah,


2. Memuat bukti yang menarik untuk dipelajari terkait dengan sejarah
tata guna,
3. Lahan, lanskap, taman, atau sikap budaya terhadap lanskap dan taman,
4. Memiliki keterkaitan dengan seseorang, masyarakat atau peristiwa atau
peristiwa yang penting dalam sejarah,
5. memiliki nilai-nilai sejarah dengan bangunan atau monumen
bersejarah.

B. Unsur-Unsur Lanskap

Dalam menata suatu lansekap perlu diperhatikan unsur-unsur


perancangan lansekap. Unsur perancangan yang perlu diperhatikan antara lain
adalah: titik, garis, bentuk, bidang ruang, warna, tekstur dan cahaya.

1. Titik
Unsur titik dalam suatu rancangan lansekap dapat diartikan secara
visual ataupun secara imajinatif/simbolik. Terdapatnya unsur titik yang berdiri
sendiri di dalam suatu lansekap akan menarik perhatian. Titik seperti ini dapat
diwujudkan dalam bentuk penempatan titik lampu taman yang berdiri di
tengah hamparan rerumputan. Penempatan unsur titik dalam lansekap dapat
juga dengan menanam vegetasi yang menjulang tinggi diantara vegetasi yang
rendah misalnya rumpun palem merah yang menjulang diantara tanaman
ground cover. Unsur titik dalam lansekap dapat juga disimbolkan melalui
pertemuan antara beberapa jalur jalan setapak. Akan lebih menonjol jika pada
titik pertemuan ini diletakkan vegetasi yang vertical.
2. Garis
Kumpulan titik yang memanjang akan merupakan sebuah garis. Di
dalam rancangan lansekap, elemen-elemen pendukungnya akan tampil dalam
bentuk garis-garis yang secara menyeluruh merupakan kesatuan yang akan
menunjukkan citra dan kesan sebuah lansekap.
Sifat pergerakan yang ditampilankan dapat berupa: menghaluskan
(soothing), mencengangkan (startling), mengagetkan (shocking), mematahkan
(baffling), logis (logical), bertahap (sequential), bersifat maju (progressive),
bertingkat (hierartic), lurus (liniear), bergelombang (wavelike), mengalir
(flowing), bercabang (branching), menyebar (diverging), mengumpul
(converging), ragu-ragu (timorous), kuat (forceful), meluas (expanding),
berkerut (contracting).
3. Bentuk
Bentuk adalah rangkaian dari titik dan garis. Bentuk dapat berupa
bentuk dua dimensi atau bentuk tiga dimensi. Bentuk dua dimensi dibuat
dalam bidang datar dengan batas garis. Sedangkan bentuk tiga dimensi
dibatasi oleh ruang yang mengelilinginya.
4. Ruang
Yoshinobu Ashihara dalam buku Exterior Design in Architecture
(1986) berpendapat bahwa: “Ruang pada dasarnya terbentuk oleh hubungan
antara suatu benda (obyek) dengan seorang manusia yang merasakan benda
tersebut. Hubungan ini terutama ditentukan oleh penglihatan, meski dapat
juga dipengaruhi oleh pendengaran dan perabaan”.
Ruang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan
manusia, baik secara psikologi emosional maupun secara dimensional. Pada
dasarnya ruang terbagi menjadi ruang dalam dan ruang luar. Ruang dalam
adalah suatu tempat yang dibatasi oleh tiba buah bidang yaitu bidang lantai
(the base plane), dinding (the vertical space divider) dan atap (the overhead
plane). Sedangkan ruang luar dapat dikatakan sebagai ruang tanpa atap. Lantai
ruang luar dapat terdiri dari hamparan tanah, rumput, bebatuan, aspal dan lain
sebagainya. Bidang dinding dapat berupa deretan pepohonan, tebing-tebing
tinggi, dinding bangunan di sekitarnya, pagar kawat berduri, tembok, bambu
dan sebagainya.
5. Warna
Warna adalah getaran elektormagnetis. Warna dapat ditangkap oleh
mata manusia dalam kekuakan cahaya antara 3900 – 8100 angstrom. Dapat
tidaknya mata manusia menangkap cahaya secara utuh sangat tergantung pada
beberapa hal, yaitu: (a) sumber cahaya atau sinar, (b) pigmen pemantul
cahaya, (c) sensasi manusianya.
C. Batuan

Batu merupakan suatu zat yang padat, keras, dan tahan lama. Karakteristik dari
beberapa jenis batu bervariasi bergantung kepada kondisi dan cara pembentukannya.
Kadang-kadang , kondisi geologi seperti menciptakan suatu batu bermassa besar dari
mineral yang tunggal. Lebih sering beberapa mineral terkristalisasi serempak dan
berbagai proporsi.

Batuan terdiri dari tiga jenis menurut cara pembentukannya, yaitu: batuan beku,
batuan sedimen, dan malihan. Kebanyakan dari batuan beku diproses melalui
pendinginan selama awal kehidupan bumi, massa mineral yang mencair disebut magma
yang pada dasarnya merupakan larutan dari mineral-mineral lain dalam silika yang
mencair. Terakhir kalinya batuan beku dibentuk melalui pendinginan melalui aliran lahar
gunung api yang aktif.

Batuan sedimen mempunyai asal yang sangat berbeda. Misalnya batu pasir terbentuk
ketika pasir halus bersama dengan penyemenan zat-zat seperti liat dan batu kapur terlarut,
didepositkan oleh air. Dibawah tekanan lapisan pasir tersemen dan membentuk batuan
yang sangat keras. Batuan malihan diproses melalui penerapan pemanasan, tekanan
ekstrim, atau keduanya batuan beku dan batuan sedimen. Jika merupakan suatu batuan
sedimen seperti batu kapur, harus mengalami kontak dengan massa batuan beku panas
yang besar dibawah tekanan yang cukup untuk mencegah dekomposisi dari kalsium
karbonat, akan terekristalisasi, mendapatkan struktur yang baru dan umumnya memiliki
sifat fisika yang berbeda. Suatu batu bahkan ketika tidak dipanaskan secara instens dapat
mengalami perubahan bentuk dibawah tekanan yang cukup (Markham E, 1955).
III. PEMBAHASAN

Menurut Zonneveld (1979) lansekap adalah ruang yang terdapat di permukaan


bumi yang terdiri dari sistem yang kompleks, terbentuk dari aktifitas batuan, air,
udara, tumbuhan, hewan, dan manusia serta melalui fisiognominya membentuk suatu
kesatuan yang dapat dikenali (diidentifikasi). Sedangkan Menurut Forman & Godron
lansekap adalah suatu lahan heterogen dengan luasan tertentu yang terdiri dari
sekelompok/kumpulan (cluster) ekosistem yang saling berinteraksi; kumpulan
tersebut dapat ditemukan secara berulang dalam suatu wilayah dengan bentuk yang
sama Didalam bahasa inggris tua dan ke-sinoniman batasan kata “landscape”
mempunyai arti Wilayah/Region. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa
lansekap adalah kesatuan wilayah di permukaan bumi yang terdiri dari kesatuan
ekosistem yang saling berinteraksi (batuan, air, udara, tumbuhan, hewan, dan
manusia).

Dalam Burton, 1995, secara geografik terdapat tida unsure pembentuk lanskap atau
bentang alam yaitu:

1. Bentuk permukaan bumi

Dalam pariwisata unsure ini menentukan ada tidaknya kenampakan alam


yang dapat dijadikan sumber atraksi. Misalnya goa, tanah yang terjal untuk
terbang layang, puncak bukit untuk pendakian, dan lain-lain. Hal penting
lainnya adalah air seperti sungai, danau dan laut lingkungan dalam yang dapat
membentuk dan mempertajam landform.

2. Vegetasi alami dan binatang-binatang yang menempatinya

Vegetasi merupakan material lanskap yang hidup dan terus berkembang.


Pertumbuhan tanaman akan mempengaruhi ukuran besar tanaman, bentuk
tanaman, tekstur,dan warna selama masa pertumbuhannya. Dengan demikian,
kualitas dan kuantitas ruang terbuka akan terus berkembang dan berubah
sesuai dengan pertumbuhan tanaman jadi dalam perancangan lansekap,
tanaman sangat erat hubungannya dengan waktu dan perubahan karakteristik
tanaman.

Tanaman mempunyai peran untuk menghilangkan ketegangan-


ketegangan mental (stress) yang banyak diderita oleh penduduk kota.
Tanaman dapat menciptakan lingkungan yang nyaman, segar harum,
menyenangkan, dan sebagainya. Penggolongan tanaman yang ditanam dalam
penghijauan di dalam kota dapat dikelompokkan berdasarkan sifat hidupnya
yaitu, pohon, perdu, semak dan penutup tanah (rerumputan). Selain itu, dapat
juga digolongkan berdasarkan habitatnya atau umumnya ditanam, sebagai
tanaman pelindung jalan, tanaman dibantaran kali, tanaman penutup tanah,
dan sebagainya.

3. Penggunaan tanah

Unsur ketiga ini adalah hasil kreatifitas manusia dalam merubah atau
memodifikasi natural vegetation, menjadi tanah pertanian, usaha kehutanan,
bangunan-bangunan, jalan, dan lain sebagainya. Interaksi manusia dengan
berbagai bentuk alam menciftakan bentang budaya (cultural lanskap)

Ketiga elemen tersebut diatas tidak selalu ada di suatu tempat, bisa jadi
salah satu elemen mendominasi, misalnya pada gurun yang kering unsure
landform sangat dominan, sedangkan pada wilayah perkotaan unsure
penggunaan tanah lebih dominan, dan pada hutan hujan tropis unsure vegetasi
yang dominan menjadi pembentuk wilayah tersebut.

Siklus batuan menggambarkan seluruh proses yang dengannya batuan


dibentuk, dimodifikasi, ditransportasikan, mengalami dekomposisi, dan
dibentuk kembali sebagai hasil dari proses internal dan eksternal Bumi. Siklus
batuan ini berjalan secara kontinyu dan tidak pernah berakhir. Siklus ini
adalah fenomena yang terjadi di kerak benua (geosfer) yang berinteraksi
dengan atmosfer, hidrosfer, dan biosfer dan digerakkan oleh energi panas
internal Bumi dan energi panas yang datang dari Matahari.
Siklus batuan di mulai dari magma yaitu cairan berpijar yang
terbentuk dalam mantel bumi, yang merambat keluar ke permukaan bumi
melalui rekahan-rekahan yang di sebut Volcano Eruption yang biasa terjadi di
Gunung Merapi. Magma tersebut mengalami perubahan suhu (Mendingin)
karena lingkungannya dan membentuk Batuan Beku.

Batuan beku atau sering disebut Igneous Rocks adalah batuan yang
terbentuk dari satu atau beberapa mineral dan terbentuk akibat pembekuan
dari magma. Batuan beku yang terbentuk terbagi atas 2 berdasarkan
lingkungan terbentuknya. Yang pertama adalah batuan beku dalam atau
Plutonic Rock adalah batuan beku yang terbentuk atau mendingin dalam
waktu yang sangat lama karena terbentuk dalam gunung atau korok-korok
gunung merapi karena perbedaan suhu lingkungannya tidak terlalu signifikan
sehingga terbentuk atau membeku dalam waktu yang relative lama, akibat dari
waktu proses terbentuknya maka jenis batuan ini memiliki ciri yaitu Kristal-
kristal dalam batuan ini relative besar karena prosesnya yang lama, Contoh
batuan beku plutonik ini seperti gabro, diorite, dan granit (yang sering
dijadikan hiasan rumah).

Yang kedua adalah batuan beku Ekstrusif atau batuan beku Luar atau
batuan beku vulkanik yakni batuan beku yang terbentuk akibat dari magma
yang ter-erupsi keluar ke permukaan bumi dan mendingin atau membeku
dalam waktu yang sangat cepat karena perbedaan suhu yang sangat signifikan,
akibat dari proses terbentuknya yang sangat cepat, ciri dari batuan ini adalah
Kristal yang terdapat dalam batuan sangat kecil akibat dari proses
terbentuknya yang cepat sehingga tidak sempat mengalami proses kristalisasi
yang sempurna. Contohnya adalah basalt, andesit, Obsidian, dan dacite.

Batuan Sedimen atau sering disebut sedimentary rocks adalah batuan


yang terbentuk akibat proses pembatuan atau lithifikasi dari hasil proses
pelapukan dan erosi yang kemudian tertransportasi dan seterusnya
terendapkan. Batuan sediment ini bias digolongkan lagi menjadi beberapa
bagian diantaranya batuan sediment klastik, batuan sediment kimia, dan
batuan sediment organik. Batuan Sedimen terbentuk apabila batuan beku
tersebut mangalami proses pelapukan akibat dari cuaca yang di alami di
lingkungannya, kemudian setelah mengalami pelapukan, hasil dari pelapukan
tersebut mengalami transportasi yang dapat melalui erosi tanah, angina atau
tertransportasi dalam es atau gletser, kemudian setelah mengalami proses
transportasi hasil pelapukan tadi mengalami proses pengendapan. Dalam
proses pengendapan ini material yang lebih berat akan mengendap di tempat
yang paling bawah sebaliknya material-material yang lebih ringan akan
mengendap di atasnya, dari sinilah terbentuknya yang namanya perlapisan
tanah. Lapisan yang bawah lama- kelamaan mendapatkan beban yang lebih
berat oleh material di atasnya sehingga kandungan airnya tertekan keluar dan
akan semakin kompak dan akan mengalami proses sementasi akibat adanya
semen seperti lempung dan silica sehingga terbentuklah batuan sedimen.

Batuan metamorf atau batuan malihan adalah batuan yang terbentuk


akibat proses perubahan temperature dan/atau tekanan dari batuan yang telah
ada sebelumnya. Batuan metamorf juga dapat terbentuk melalui batuan beku
apabila batuan beku tersebut mendapat perubahan tekanan dan suhu dari
lingkungannya yang mampu merubahnya menjadi batuan metamorf. Batuan
metamorf tidak merubah kandungan kimia batuan sebelumnya, namun hanya
merubah susunan mineral dari batuan sebelumnya yang tidak beraturan
menjadi susunan mineral yang sejajar atau memanjang, contohnya perubahan
batugranit menjadi batuan metamorf yaknik batugneiss (Doddys, 2008).
IV. KESIMPULAN

Batuan merupakan salah satu unsur pembentuk landscape, hal tersebut


dapat dilihat dari unsur pembentuk landsape yang meliputi bentuk permukaan
bumi, vegetasi alam dan binatang-binatang yang menempatinya, dan
penggunaan tanah. Stuktur batuan sangat mempengaruhi landscape.
V. DAFTAR PUSTAKA
Ashihara, Yoshinobu, 1974, Exterior Design in Architecture, Van Nostrand Reinhold
Co, New York.
Burton, R., 1995, Travel Geography, Second Edition, Singapore: Pitman Publishing.
Dodi Setya Graha. 1987. Batuan dan Mineral. Bandung: Nova.
Goodchild PH. 1990. Some Principles for The Conservation of Historic Landscape.
University of York. 58p.
Markham, E., 1955. General Chemistry. Boston: Houghton Mifflin Company.
Nasution. 2003. Metode Research, Jakarta : PT. Bumi Aksara.
Nurisjah S., Q. Pramukanto, dan S. Wibowo. 2001. Daya Dukung Kawasan dalam
Perencanaan Lanskap (Diktat Kuliah). Program Studi Arsitektur Lanskap,
Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, IPB (Tidak Dipublikasikan).
Bogor.
Simonds, John Ormbee, Landscape Architecture, McGraw-Hill Book Company,
USA, 1983.