Anda di halaman 1dari 8

Teknik manipulasi

1. Teknik Molding-Tekanan
 Susunan gigi tiruan disiapkan untuk proses penanaman.
 Master model ditanam didalam dental stone yang dibentuk dengan tepat.
 Permukaan oklusal dan insisal elemen gigi tiruan dibiarkan sedikit terbuka untuk
memudahkan prosedur pembukaan kuvet.
 Penanaman dalam kuvet gigi tiruan penuh rahang atas. Pada tahap ini, dental stone
diaduk dan sisa kuvet diisi. Penutup kuvet perlahan-lahan diletakkan pada tempatnya
dan stone dibiarkan mengeras. Setelah proses pengerasan sempurna, malam
dikeluarkan dari mould. Untuk melakukannya, kuvet dapat direndam dalam air
mendidih selama 4 menit. Kuvet kemudian dikeluarkan atau diangkat dari air dan
kedua bagian kuvet dibuka. Kemudian malam luar dikeluarkan.Penempatan medium
pemisah berbasis alginat untuk melindungi bahan protesa (O’Brien, dkk., 1985).
2. Teknik Molding-Penyuntikan
 Setengah kuvet diisi dengan adukan dental stone dan model master diletakkan ke
dalam stone tersebut. Stone dibentuk dan dibiarkan mengeras.
 Sprue diletakkan dalam basis malam.
 Permukaan oklusal dan insisal gigi tiruan dibiarkan sedikit terbuka untuk
memudahkan pengeluaran protesa.
 Pembuangan malam dengan melakukan pemisahan kedua kuvet disatukan kembali.
 Resin disuntikkan ke dalam rongga mold.
 Resin dibiarkan dingin dan memadat
 Kuvet dimasukkan kedalam bak air untuk polimerisasi resin. Begitu bahan
terpolimerisasi, resin bahan dimasukkan ke dalam rongga mold. Setelah selesai, gigi
tiruan dikeluarkan, disesuaikan, diproses akhir yaitu dipoles (O’Brien, dkk., 1985)
Manipulasi resin akrilik
1. Perbandingan
Manipulasi Heat Cured Acrylic Perbandingan monomer dan polymer akan
menentukan sturktur resin. Perbandingan monomer dan polymer, biasanya 3 sampai
3,5:1 satuan volume atau 2,5:1 satuan berat. Bila ratio terlalu tinggi, tidak semua
polymer sanggup dibasahi oleh monomer akibatnya acrylic yang digodok akan
bergranula. Selain itu juga tidak boleh terlalu rendah karena sewaktu polimerisasi
monomer murni terjadi pngerutan sekitar 21% satuan volume. Pada adonan acrylic
yang berasal dari perbandingan monomer dan polymer yang benar, kontraksi sekitar
7%. Bila terlalu banyak monomer, maka kontraksi yang terjadi akan lebih besar.
2. Pencampuran
Ada 2 cara pencampuran powder dan liquid dari resin akrilik:
1. Cara pasif
- Liquid dimasukkan ke dalam pot atau gelas akrilik
- Powder dimasukkan sehingga semua powder dibasahi dengan liquid
- Pot/gelas akrilik ditutup dengan rapat dan setelah beberapa menit kemudian periksa
campuran apakah sudah mencapai fase dough atau sudah cukup baik untuk
dimasukkan ke dalam mould
2. Cara aktif
- Powder ditaburkan ke atas liquid di dalam pot atau gelas akrilik
- Campuran tersebut diaduk dengan spatula
- Pot digetar-getarkan untuk mengeluarkan gelembung udara
- Pot ditutup dengan rapat dan ditunggu sehingga campuran menjadi dough-like
untuk dimasukkan ke dalam mould
Pencampuran polymer dan monomer harus dilakukan dalam tempat yang terbuat
dari keramik atau gelas yang tidak tembus cahaya (mixing jar). Hal ini dimaksudkan
supaya tidak terjadi polymerisasi awal. Bila polymer dan monomer dicampuur, akan
terjadi reaksi dengan tahap-tahap sebagai berikut:
 Tahap 1 (sandy stage) : Adonan seperti pasir basah. Pada tahapan ini:
- Polimer dan monomer bertahap membentuk endapan
- Monomer akan bertahap meresap ke dalam polimer membentuk suatu fluid yang
tidak bersatu. Hal ini menyebabkan hanya sedikit bahkan dapat tidak ada interaksi
pada tingkat molekuler
- Butiran-butiran polimer akan tetap tidak berubah, konsistensi adukan masih kasar
dan berbentuk butiran
 Tahap 2 (mushy stage) : Adonan seperti Lumpur basah. Pda tahap ini:
- Monomer mulai meresap masuk ke dalam polimer
- Rantai polimer akan terdispersi ke dalam cairan monomer kemudian melepaskan
ikatan sehingga meningkatkan kekentalan dari adukan
 Tahap 3 (stringy stage) : Adonan apabila disentuh dengan jari atau alat bersifat lekat,
apabila ditarik akan membentuk serat Butir-butir polimer mulai larut, monomer bebas
meresap ke dalam polimer.
 Tahap 4 (dough stage) : Adonan bersifat plastis. Pada tahap ini:
- Sifat lekat hilang apabila disentuh menggunakan tangan maupun dengan spatula
- Adonan siap dibentuk dan dimasukkan ke dalam mould
- Adonan mudah dibentuk sesuai dengan yang kita inginkan
 Tahap 5 (rubbery stage) : Kenyal seperti karet. Pada tahap ini:
- Monomer tidak ada lagi yang tersisa, karena monomer telah bersatu meresap ke
dalam polimer dan sebagian lagi menguap. Monomer yang menguap jumlahnya
lebih banyak, terutama pada permukaannya sehingga terjadi permukaan yang
kasar
- Massa sudah berbentuk plastis dan tidak dapat lagi dibentuk/dimasukkan ke dalam
mould
 Tahap 6 (rigid stage) : Kaku dan keras. Pada tahap ini adonan telah menjadi keras dan
getas pada permukaannya, sedang keadaan bagian dalam adukan masih kenyal. Secara
klinis adonan terlihat sudah kering.

Waktu dough (waktu sampai tercapainya konsistensi liat) tergantung pada:


1. Ukuran partikel polimer. Partikel yang lebih kecil akan lebih cepat mencapai tahap
dough
2. Berat molekul polymer. Lebih kecil berat molekul lebih cepat terbentuk konsistensi
liat
3. Adanya Plasticizer yang bisa mempercepat terjadinya dough
4. Suhu. Pembentukan dough dapat diperlambat dengan menyiumpan adonan dalam
tempat yang dingin
5. Perbandingan monomer dan polymer. Apabila ratio tinggi, maka waktu dough akan
lebih singkat
3. Pengisian
Merupakan pengsian resin akrilik ke dalam ruang cetak (Mould Space). Ruang
cetak adalah rongga/ruangan yang telah disiapkan untuk diisi dengan acrylic. Ruang
tersebut dibatasi oleh gips yang tertanam dalam kuvet (pelat logam yang biasanya
terbuat dari logam). Sebelum rongga tersebut diisi dengan acrylic, lebih dulu diulasi
dengan bahan separator/pemisah, yang umumnya menggunakan could mould seal
(CMS). Ruang cetak diisi dengan akrilik pada waktu adonan mencapai tahap plastis
(dough stage). Masukkan campuran ke dalam mould sambil ditekan-tekan dengan ibu
jari. Kemudian diatas campuran tersebut diberi cellophan sheet dan ditutup dengan
kuvet antogonisnya. Kemudian press kuvet menggunakan press begel. Kuvet dibuka
dan akrilik yang berlebihan dibuang dengan lecron mass. Kemudian cellophan sheet
juga dibuang. Kuvet ditutup kembali dan di press dengan kuat. Kuvet seterusnya
dikunci.
Pemberian separator tersebut dimaksudkan untuk:
a) Mencegah merembesnya monomer ke bahan cetakan (gips) dan berpolimerisasi di
dalam gips sehingga menghasilkan permukaan yang kasar dan merekat dengan
bahan cetkan/gips.
b) Mencegah air dan bahan cetakan masuk ke dalam plak resin acrylic.

Hal-hal yang perlu diperhatikan saat melakukan pengisian ke dalam cetakan, yaitu:
- Mould harus terisi sempurna saat proses polimerisasi resin akrilik berlangsung.
Jika resin akrilik terlau banyak dinamakan overpacking menyebabkan basis gigi
tiruan menjadi lebih tebal dan akan merubah posisi elemen gigi tiruan, dan apabila
mould terisi terlalu sedikit resin akrilik dinamakan underpacking menyebabkan
basis gigi tiruan akan menjadi porous.
- Sewaktu dipress terdapat tekanan yang cukup pada cetakan, ini dapat dicapai
dengan cara mengisikan dough sedikit lebih banyak ke dalam cetakan. Selama
polimerisasi terjadi kontraksi yang mengakibatkan berkurangnya tekanan di dalam
cetakan. Pengisian yang kurang dapat menyebabkan terjadi shrinkage porosity.
Ruang cetak diisi dengan acrylic pada tahap adonan mencapai tahap plastis
(dough). Agar merata dan padat, maka dipelukan pengepresan dengan
menggunakan alat hydraulic bench press. Sebaiknya pengepresan dilakukan
dilakukan berulang-ulang agar rongga cetak terisi penuh dan padat.
Cara pengepresan yang benar adalah:
1. Adonan yang telah mencapai tahap dough dimasukkkan ke dalam rongga
cetak, kemudian kedua bagian kuvet ditutup dan diselipi kertas selofan.
Pengepresan awal dilakkukan sebesar 900psi, kelebihan acrylic dipotong
dengan pisau model. Kedua bagian kuvet dikembalikan, diselipi kertas
cellophan sheet.
2. Pengepresan dilakukan lagi seperti di atas, tetapi tekanan ditingkatkan menjadi
1200 psi. Kelebihan acrylic dipotong dengan pisau model. Kedua bagian kuvet
dikembalikan tanpa diselipi kertas cellophan
3. Pengepresan terakhir dilakukan dengan tekanan 1500 psi, kemudian kuvet
diambil dan dipindahkan pada begel.
4. Curing (Pemasakan)
Metode pemasakan dapat dilakukan dengan tiga metode pemasakan resin akrilik,
yaitu:
a) Kuvet dan begel dimasukkan ke dalam waterbath, kemudian diisi air setinggi 5 cm
diatas permukaan kuvet. Selanjutnya dimasak diatas nyala api hingga mencapai
temperatur 70 0C (dipertahankan selama 10 menit). Kemudian temperaturnya
ditingkatkan hingga mencapai 100 0C (dipertahankan selama 20 menit). Selanjutnya
api dimatikan dan dibiarkan dingin sampai temperatur ruang.
b) Memasak air sesuai kebutuhan hingga mendidih (100 0C), kemudian kuvet dan
begel dimasukkan dan ditunggu hingga mendidih kembali (dipertahankan selama 20
menit), api dimatikan dan dibiarkan dingin sampai temperatur ruang
c) Memasak air sesuai kebutuhan hingga mendidih (100 0C), kemudian kuvet dan begel
dimasukkan dan ditunggu hingga mendidih kembali. Setelah mendidih api segera
dimatikan dan dibiarkan selama 45 menit. Kuvet dan begel yang terletak dalam
waterbath harus dibiarkan dingin secara perlahan-lahan. Selama pendinginan
terdapat perbedaan kontraksi antara gips dan akrilik yang menyebabkan timbulnya
stress di dalam polimer. Pendinginan secara perlahan-lahan akan memberikan
kesempatan terlepasnya stress oleh karena perubahan plastis. Selama pengisian
mould space, pengepresan dan pemasakan perlu dikontrol perbandingan antara
monomer dan polimer. Berkurangnya jumlah monomer yang terlalu banyak karena
menguap dapat menyebabkan polimerisasi yang kurang sempurna dan terjadi
porositas pada permukaan akrilik.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan selama proses curing, yaitu :

a. Bila bahan mengalami kuring yang tidak sempurna , memungkinkan mengandung


monomer sisa tinggi.
b. Kecepatan peningkatan suhu tidak boleh terlalu besar. Monomer mendidih pada
suhu 100,3 0C . Resin hendaknya tidak mencapai suhu ini sewaktu masih terdapat
sejumlah bagian monomer yang belum bereaksi . Reaksi polimerisasi adalah
bersifat eksotermis. Maka apabila sejumlah besar massa akrilik yang belum
dikuring tiba – tiba dimasukkan ke dalam air mendidih , suhu resin bisa naik di
atas 100,3 C sehingga menyebabkan monomer menguap . Hal ini menyebabkan
gaseous porosity.

Setelah proses kuring, kuvet dibiarkan dingin secara perlahan . Pendinginan


dilakukan hingga suhu mencapai suhu kamar . Selama proses ini, harus dihindari
pendinginan secara tiba-tiba karena semalaman pendinginan terdapat perbedaan
kontrasksi antara gips dan akrilik yang menyebabkan timbulnya stress di dalam
polimer. Bila pendinginan dilakukan secara perlahan, maka stress diberi kesempatan
keluar akrilik oleh karena plastic deformation. Selanjutnya resin dikeluarkan dari
cetakan dengan hati – hati untuk mencegah patahnya gingiva tiruan, kemudian
dilakukan pemolesan resin akrilik.

Pada proses curing terjadi proses polimerisasi polimetil metakrilat yang terjadi
dengan reaksi kimia berupa reaksi adisi. Reaksi yang terjadi sewaktu polimerisasi
polimetil metakrilat berlangsung dengan tahap sebagai berikut (Umriati, 2000):
a) Aktivasi dan Initiasi
Untuk berlangsungnya polimerisasi dibutuhkan radikal bebas, yaitu senyawa
kimia yang sangat mudah bereaksi karena memiliki electron ganjil (tidak
mempunyai pasangan). Radikal bebas tersebut dibentuk misalnya, dalam
penguraian peroksida, dimana satu molekul benzoil peroksida dapat membentuk
dua radikal bebas. Radikal bebas inilah yang menggerakkan terjadinya
polimerisasi dan disebut inisiator. Sebelum terjadi inisiasi, inisiatornya perlu
diaktifkan dengan penguraian peroksida baik dengan sinar, ultraviolet, panas atau
dengan bahan kimia lain seperti tertian amina.
Proses yang terjadi pada tahap inisiasi adalah:
- Benzoil peroksida menghasilkan dua radikal bebas
- Radikal bebas dapat terurai dan menghasilkan radikal bebas lain.
b) Propagasi
Stadium terjadinya reaksi antara radikal bebas dengan monomer dan
mendorong terbentuknaya rantai polimer. Proses yang terjadi pada tahap ini
adalah:
- Radikal bebas bereaksi dengan monomer menjadi radikal bebas sehingga
monomer teraktifkan.
- Monomer teraktifkan dapat bereaksi dengan molekul monomer lain dan
seterusnya menjadi pertumbuhan rantai.
c) Terminasi
Tahap ini terjadi apabila dua radikal bebas bereaksi membentuk suatu
molekul yang stabil. Pertumbuhan rantai polimer merupakan suatu proses random
yaitu sebagian rantai tumbuh lebih cepat dan sebagian terminasi sebelum yang
lainnya sehingga tidak semua rantai mempunyai panjang yang sama. Terjadi
pergerakan rantai polimer dari rantai yang satu ke rantai lainnya sewaktu
menerima beban stress, sehingga semakin panjang rantai polimer semakin sedikit
monomer sisa pada basis gigi tiruan dan proses polimerisadi lebih sempurna
(Umriati, 2000).
5. Finishing dan polishing
Finishing merupakan kegiatan merapikan model kasar resin akrilik
menggunakan straingth hand piece (gambar 01) dan mata bur frazzer (gambar 02)
dengan membentuk sesuai outline dan membebaskan daerah mukosa bergerak dan tak
tidak bergerak (gambar 03).

Gambar 03 (strainght Gambar 02 (mata bur


hand piece) frazzer)
Peolishing merupakan proses penyelesaian yang paling halus dan akan
menghasilkan goresan yang sangat halus sehingga tidak terlihat kecuali dilihat dengan
mikroskop. Pemolesan bertujuan untuk mengurangi kekasaran permukaan (surface
roughness) sehingga dapat meningkatkan kesehatan rongga mulut dengan cara
mencegah sisa makanan dan bakteri patogen melekat pada restorasi ataupun protesa.
Bahan-bahan pemolesan:
a) Pumice, merupakan bahan silika yang berwarna abu-abu muda yang berasal dari
aktivitas gunung berapi yaitu dari batu vulkanik yang sangat halus dari Italia yang
digunakan untuk memoles banyak restorasi misalnya dari bahan resin akrilik,
amalgam, email gigi, dsb. Umumnya, berbentuk bubuk tapi ada juga yang
berbentuk abrasif karet.
b) Tripoli, berasal dari endapan batu silika yang ringan dan rapuh, berwarna putih,
merah muda, merah, abu-abu, atau kuning, yang paling sering digunakan di
bidang kedokteran gigi yaitu yang berwarna merah dan abu-abu. Tripoli ini
terlebih dahulu digiling menjadi partikel yang sangat halus kemudian dibentuk
menjadi batang-batang senyawa pemoles
c) Tin Oxide, merupakan bahan pemoles yang sangat halus yang digunakan sebagai
bahan pemoles untuk gigi, akrilik, dan restorasi logam di rongga mulut. Tin oxide
perlu dicampur dengan air, gliserin, atau alkohol untuk membentuk suatu pasta
abrasif yang ringan
Alat-alat pemolesan:
1. Brush wheel

2. Cone pada mesin pulas