Anda di halaman 1dari 2

Kajian efektifitas pemakaian masker

Alat pelindung pernafasan merupakan alat yang digunakan untuk menutup mulut dan
hidung dengan bahan yang dapat menyaring masuknya debu atau uap (Harrianto
dalam Purwanti: 2014). Masker untuk melindungi debu atau partikel yang masuk ke
dalam pernafasan, dapat terbuat dari kain dengan ukuran tertentu (A.M. Sugend
Budiono dalam Miftasari: 2012). Masker berfungsi menyaring partikel pada saat udara
dihirup melalui mekanisme penangkapan dan pengendapan partikel oleh serat
pembentuk filter (Moeljosoedarmo dalam Purwanti: 2014). Purwanti (2014)
menyebutkan bahwa pemakaian masker dapat mencegah kemungkinan terjadinya
gangguan sistem pernafasan akibat terpapar udara yang kadar debunya tinggi.

Apabila partikel yang berukuran sekitar 5 mikron, bukan hanya iritasi yang
menyebabkan mata pedih serta batuk-batuk saja yang dapat terjadi, tetapi
dikhawatirkan dapat menyebabkan pneumoconiosis, yaitu penyakit yang disebabkan
oleh timbunan partikel di jaringan paru. Gangguan pernapasan berupa sesak napas,
batuk-batuk disertai produksi dahak yang banyak merupakan sebagian gejala yang
tampak. Namun demikian juga merupakan faktor yang mempermudah timbulnya
penyakit saluran pernapasan, antara lain influenza, bronchitis, tuberkolosis, dan asma
bronkhiale. (Anies : 2015)

Dokter spesialis paru RS Persahabatan dr Agus Dwi Susanto mengatakan asker


sekali pakai untuk melindungi diri dari polutan hanya dapat dipakai maksimal delapan
jam sejak dibuka dari kemasannya. "Dalam literatur disebutkan delapan jam untuk
masker disposable karena bahan yang terfiltrasi menempel di masker dan menjadi
sarang kuman," ujar Agus Dwi Susanto di Jakarta, Selasa (25/7).

Jika masker digunakan lebih dari delapan jam, kata dr Agus, maka justru dapat
memicu infeksi karena kelembapan menyebabkan terjadinya penumpukan
mikroorganisme. Masker tidak dapat dipakai berulang-ulang, meskipun setelah
dikeluarkan dari kemasan belum dipakai lama. Penggunaan masker, ucap Agus,
merupakan upaya pencegahan primer dan sekunder untuk melindungi diri dari polutan
yang dapat menurunkan kondisi kesehatan tubuh. Cara pemakaian masker yang betul
dapat meningkatkan efektivitas dalam melindungi diri serta memaksimalkan
kemampuan filtrasi masker. "Hasil dari pemakaian tidak bagus kemampuan filtrasi
menurun, bisa dari samping gas bisa masuk," tutur dia. (

Penelitian ini mengevaluasi efektivitas masker bedah sekali pakai sebagai


penghalang mikroba dengan 95% Bakteri Filtration Efficacy (BFE) sesuai dengan
waktu pemakaian (1, 2, 4 dan 6 jam). Masker menunjukkan penurunan kemanjuran
setelah 4 jam waktu pemakaian.

Referensi

http://www.scielo.br/scielo.php?script=sci_arttext&pid=S1517-83822006000300003