Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN KASUS

KERATITIS NUMULARIS

Disusun Oleh :
Yudha Maulana, S. Ked.
03012292

Pembimbing:
Dr.I Gede Eka Yudiasa, Sp.M

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA

RUMAH SAKIT ANGKATAN LAUT DR. MINTOHARDJO

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI

PERIODE 14 JANUARI-16 FEBRUARI 2019


LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN KASUS
KERATITIS

Diajukan untuk
Untuk Memenuhi Tugas Kepaniteraan Klinik dan Melengkapi Salah Satu Syarat
Menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter Bagian Ilmu Penyakit Mata
di RSAL dr. Mintohardjo

Telah disetujui dan dipresentasikan pada : Januari 2019

Disusun oleh :
Yudha Maulana, S.Ked.
03012292

Jakarta, Januari 2019...............


Dosen Pembimbing

Dr.I Gede Eka Yudiasa, Sp.M


LAPORAN KASUS MATA

1. IDENTITAS
Nama penderita : Tn. R
Umur : 32 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Alamat : Jakarta
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : TNI-AL
Status : Menikah
Tanggal ke poli : 25 Januari 2019
No. RM : 212472

2. ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 25 Januari 2019 pukul 10.00
WIB di bangsal Poliklinik Mata di RSAL dr. Mintohardjo.

Keluhan Utama : Penglihatan berkabut.

Riwayat Penyakit Sekarang :


Seorang pasien berumur 32 tahun datang ke poliklinik mata RSAL dr. Mintihardjo
dengan keluhan penglihatan berkabut pada mata kanan sejak 1 bulan yang lalu. Selain
penglihatan terasa buram, pasien mengeluhakan mata berwarana merah, mata terasa
mengganjal, berair, dan terasa silau jika melihat cahaya. Selama waktu 1 bulan tersebut
pasien mengobati dengan membeli obat tetes mata sendiri, seperti Rohto, Insto, dan
Cendo xitrol. Sehingga pada pada saat pasien datang keluhan mata merah sudah tidak
didapatkan lagi, dan hanya tersisa mata buram sebagian. Keluarnya sekret dari mata,
nyeri mata disangkal. Riwayat mengucek-ngucek mata, riwayat penggunaan lensa kotak,
riwayat teman yang mengalami penyakit yang sama disangkal. Pasien seharinya-harinya
bekerja di depan komputer.

Riwayat Penyakit Dahulu :


Pasien belum pernah mengalami keluhan seperti ini seblumnya dan tidak ada riwayat
hipertensi, diabetes mellitus, dan penyakit saluran pernapasan. Riwayat alergi disangkal.
Riwayat Penyakit Keluarga:
Hanya pasien yang sakit seperti ini. Ibu dari pasien mempunyai riwayat hipertensi.
Sedangkan riwayat diabetes mellitus, penyakit saluran pernapasan disangkal.

3. PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
 Keadaan Umum : Tampak sakit ringan
 Kesadaran : Compos mentis
 Tanda Vital
o Tekanan darah : 120/80 mmHg
o Nadi : 70 kali/menit
o Suhu : 36,8C
o Pernapasan : 16 kali/menit
 Antropometri
o Berat Badan : 68 kg
o Tinggi Badan : 163 cm
o BMI : 25,2

 Pemeriksaan thorax dan abdomen: dalam batas normal

I. Pemeriksaan Oftalmologi
1. Pemeriksaan Inspeksi
OD OS

Palpebra Edema (-) Edema (-)


Silia Normal, sekret (-) Normal, sekret (-)
Apparatus lakrimasi (+) lakrimasi (-)
lakrimalis
Konjungtiva Hiperemis (minimal) Hiperemis(-)
Bola mata Normal Normal
Kornea Sedikit keruh Jernih
Bilik Mata Normal Normal
Depan
Iris Hitam Hitam
Pupil Bulat, Sentral, RC - Bulat, Sentral, RC +
Lensa Jernih Jernih
Mekanisme Ke segala arah Ke segala arah
muscular

2. Pemeriksaan Palpasi
Palpasi OD OS
Tensi Okuler Tn Tn
Nyeri tekan (-) (-)
Massa tumor (-) (-)
Glandula preaurikuler Tidak ada pembesaran Tidak ada pembesaran

3. Tonometri
Tonometri Non-Contact OD OS
Tekanan Okuler 13 11

4. Visus
VOD : 6/6
VOS : 6/6

5. Pemeriksaan Slit Lamp


Pemeriksaan fluorosein: tampak bintik-bintik bulat (nummular) warna hijau pada
permukaan kornea
6. Pemeriksaan laboratorium
Tidak dilakukan pemeriksaan
7. Pemeriksaan Funduskopi
Tidak dilakukan pemeriksaan.
4. RESUME
Seorang laki-laki umur 21 tahun datang ke poli mata RSAL dengan keluhan penglihatan kabur
seperti berembun yang dirasakan sudah 1 bulan. Pasien juga mengeluh mata kanannya seperti ada
yang mengganjal, sering berair, serta terasa silau bila terkena cahaya. riwayat Riwayat
penggunaan lensa kontak (-). Riwayat penyakit dengan keluhan yang sama sebelumnya (-).
Riwayat diabetes melitus (-) riwayat hipertensi (-), riwayat alergi (-). Pemeriksaan visus VOD 6/6
dan VOS 6/6. Pada pemeriksaan Slit Lamp tampak bintik-bintik warna kehijauan pada permukaan
kornea yang menandakan flourosesnsi positif.

5. DIAGNOSIS
1. Diagnosa Kerja
 Keratitis numularis oculus dextra
2. Diagnosa banding

 Keratitis pungtata superfisial


 Keratitis dendritik
 Uveitis akut
 Glaukoma akut

6. TATALAKSANA
1. Famciclovir 3x500 mg atau Acyclovir 5x800 mg selama 7-10 hari.
2. Edukasi untuk tidak mengucek mata, menjaga higenitas mata dan tangan. Dan
beritstirat sejam sekali selama 5 menit ketika menggunakan komputer.

7. PROGNOSIS
 Ad vitam : bonam
 Ad sanationam : dubia ad bonam
 Ad functionam : bonam
BAB II

2. Keratitis
2.1 Definisi
Keratitis merupakan kelainan akibat terjadinya infiltrasi sel radang pada
kornea yang akan mengakibatkan kornea menjadi keruh. Akibat terjadinya
kekeruhan pada media kornea ini, maka tajam penglihatan akan menurun. Mata
merah pada keratitis terjadi akibat injeksi pembuluh darah perikorneal yang dalam
atau injeksi siliar(1).
Keratitis biasanya diklasifikasikan dalam lapis yang terkena seperti
keratitis superfisial dan profunda atau interstisial.

2.2 Etiologi
Keratitis dapat disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya:
1. Virus.
2. Bakteri.
3. Jamur.
4. Paparan sinar ultraviolet seperti sinar matahari.
5. Iritasi dari penggunaan berlebihan lensa kontak.
6. Mata kering yang disebabkan oleh kelopak mata robek atau tidak
cukupnya pembentukan air mata.
7. Adanya benda asing di mata.
8. Reaksi terhadap obat seperti neomisin, tobramisin, polusi, atau partikel
udara seperti debu, serbuk sari.
2.3 Klasifikasi
Menurut Biswell, keratitis dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa
(2)
hal .

1. Berdasarkan lapisan yang


terkena Keratitis dibagi menjadi:
a. Keratitis Pungtata (Keratitis Pungtata Superfisial dan Keratitis Pungtata
Subepitel)
Keratitis pungtata adalah keratitis dengan infiltrat halus pada kornea yang
dapat terletak superfisial dan subepitel.

1. Etiologi
Keratitis Pungtata ini disebabkan oleh hal yang tidak spesifik dan dapat
terjadi pada Moluskum kontangiosum, Akne rosasea, Herpes simpleks, Herpes
zoster, Blefaritis neuroparalitik, infeksi virus, vaksinisia, trakoma, trauma radiasi,
dry eye, keratitis lagoftalmos, keracunan obat seperti neomisin, tobramisin dan
bahaya pengawet lainnya.

Gambar 2.2. Keratitis Pungtata

2. Gejala klinis dapat berupa rasa sakit, silau, mata merah, dan merasa kelilipan.
3. Pemeriksaan laboratorium
Penyakit ini ditandai kekerutan epitel yang meninggi berbentuk lonjong
dan jelas yang menampakkan bintik-bintik pada pemulasan dengan fluoresein,
terutama di daerah pupil. Uji fluoresein merupakan sebuah tes untuk mengetahui
terdapatnya kerusakan epitel kornea. Dasar dari uji ini adalah bahwa zat warna
fluoresein akan berubah berwarna hijau pada media alkali. Zat warna fluoresein
bila menempel pada epitel kornea maka bagian yang terdapat defek akan
memberikan warna hijau karena jaringan epitel yang rusak bersifat lebih basa.
Kekeruhan subepitelial dibawah lesi epitel sering terlihat semasa penyembuhan
epitel ini, uji sensibilitas kornea juga diperiksa untuk mengetahui fungsi dari saraf
trigeminus dan fasial. Pada umumnya sensibilitas kornea juga akan menurun.

4. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada ketratitis pungtata superfisial pada prinsipnya
adalah diberikan sesuai dengan etiologi. Untuk virus dapat diberikan idoxuridin,
trifluridin atau asiklovir. Untuk bakteri gram positif pilihan pertama adalah
cafazolin, penisilin G atau vancomisin dan bakteri gram negatif dapat diberikan
tobramisin, gentamisin atau polimixin B. Pemberian antibiotik juga diindikasikan
jika terdapat sekret mukopurulen yang menunjukkan adanya infeksi campuran
dengan bakteri. Untuk jamur pilihan terapi yaitu natamisin, amfoterisin atau
fluconazol.
Selain terapi berdasarkan etiologi, pada keratitis pungtata superfisial ini
sebaiknya juga diberikan terapi simptomatisnya agar dapat memberikan rasa
nyaman seperti air mata buatan, sikloplegik dan kortikosteroid.

b. Keratitis Marginal
Merupakan infiltrat yang tertimbun pada tepi kornea sejajar dengan
limbus. Penyakit infeksi lokal konjungtiva dapat menyebabkan keratitis kataral
atau keratitis marginal ini. Keratitis marginal kataral biasanya terdapat pada
pasien setengah umur dengan adanya blefarokonjungtivitis.
1. Etiologi
Strepcoccus pneumonie, Hemophilus aegepty, Moraxella lacunata dan
Esrichia.

2. Gejala klinis
Penderita akan mengeluhkan sakit, seperti kelilipan, lakrimasi, disertai
fotofobia berat. Pada mata akan terlihat blefarospasme pada satu mata, injeksi
konjungtiva, infiltrat atau ulkus yang memanjang, dangkal unilateral dapat tunggal
ataupun multipel, sering disertai neovaskularisasi dari arah limbus.

3. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan kerokan kornea yang dipulas dengan pewarnaan Gram
maupun Giemsa dapat mengidentifikasi organisme, khususnya bakteri.

4. Penatalaksanaan
Pengobatan yang diberikan adalah antibiotika yang sesuai dengan
penyebab infeksi lokalnya dan steroid dosis ringan. Pada pasien dapat diberikan
vitamin B dan C dosis tinggi.

c. Keratitis Interstisial
Keratitis interstitial adalah kondisi serius dimana masuknya pembuluh
darah ke dalam kornea dan dapat menyebabkan hilangnya transparansi kornea.
Keratitis interstitial dapat berlanjut menjadi kebutaan. Sifilis adalah penyebab
paling sering dari keratitis interstitial(4).

1. Etiologi
Keratitis Interstisial dapat terjadi akibat alergi atau infeksi spiroket ke
dalam stroma kornea dan akibat tuberculosis.
2. Gejala klinis
Biasanya akan memberikan gejala fotofobia, lakrimasi, dan menurunnya
visus.
Menurut Hollwich(5) keratitis yang disebabkan oleh sifilis kongenital
biasanya ditemukan trias Hutchinson (mata: keratitis interstisial, telinga: tuli
labirin, gigi: gigi seri berbentuk obeng), sadlenose, dan pemeriksaan serologis
yang positif terhadap sifilis.
Pada keratitis yang disebabkan oleh tuberkulosis terdapat gejala
tuberkulosis lainnya.

3. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan kerokan kornea yang dipulas dengan pewarnaan gram
maupun Giemsa dapat mengidentifikasi organisme, khususnya bakteri/

4. Penatalaksanaan
Penatalaksanaannya dapat diberikan kortikosteroid tetes mata jangka
lama secara intensif setiap jam dikombinasi dengan tetes mata atropin dua kali
sehari dan salep mata pada malam hari.

2. Berdasarkan penyebabnya
Keratitis diklasifikasikan menjadi:
a. Keratitis Bakteri
1. Etiologi
Tabel 2.1. Penyebab Keratitis Bakterial
Causes of Bacterial Keratitis
Common Organisms Uncommon Organisms
Staphylococcus aureus Neisseria spp
Staphylococcus epidermidis Moraxella spp
Streptococcus pneumoniae and other Mycobacterium spp
Streptococcus spp
Pseudomonas aeruginosa (most Nocardia spp
common organism in soft contact lens
wearers)
Enterobacteriaceae (Proteus, Non-spore-forming anaerobes
Enterobacter, Serratia) Corynebacterium spp

2. Gejala klinis
Pasien keratitis biasanya mengeluh mata merah, berair, nyeri pada mata
yang terinfeksi, penglihatan silau, adanya sekret dan penglihatan menjadi kabur.
Pada pemeriksaan bola mata eksternal ditemukan hiperemis perikornea,
blefarospasme, edema kornea, infiltrasi kornea.

3. Pemeriksaan laboratorium
Menurut Kanski(6) pemeriksaan kultur bakteri dilakukan dengan
menggores ulkus kornea dan bagian tepinya dengan menggunakan spatula steril
kemudian ditanam di media cokelat (untuk Neisseria, Haemophillus dan
Moraxella sp), agar darah (untuk kebanyakan jamur, dan bakteri kecuali
Neisseria) dan agar Sabouraud (untuk jamur, media ini diinkubasi pada suhu
kamar). Kemudian dilakukan pewarnaan Gram.

4. Penatalaksanaan
Diberikan antibiotik spektrum luas sambil menunggu hasil kultur bakteri.
Berikut tabel pengobatan inisial antibiotik yang dapat diberikan(7):
Tabel 2.2.Penatalaksanaan Awal untuk Keratitis
Bakterial Initial Therapy for Bacterial Keratitis
Organism Antibiotic Topical Dose Subconjunctival
Dose
Gram-positive Cefazolin 50 mg/mL 100 mg in 0,5 mL
cocci Vancomycin* 25-50 mg/mL 25 mg in 0,5 mL
Moxifloxacin or 5or 3 mg/mL, Not available
gatifloxacin respectively
Gram-negative Tobramycin 9-14 mg/mL 20 mg in 0,5 mL
rods Ceftazimidine 50 mg/mL 100 mg in 0,5 mL
Fluoroquinolones 3 mg/mL Not available
No organism or Cefazolin with 50 mg/mL 100 mg in 0,5 mL
multiple types of Tobramycin or 9-14 mg/mL 20 mg in 0,5 mL
organisms fluoroquinolones 3 or 5 mg/mL
Gram-negative Ceftriaxone 50 mg/mL Not available
cocci Ceftazimidine 50 mg/mL 100 mg in 0,5 mL
Mycobacteria Clarithromycin 10 mg/mL 0,03%
Moxifloxacin or 5 or 3 mg/mL,
gatifloxacin respectively

b. Keratitis Jamur
Infeksi jamur pada kornea yang dapat disebut juga mycotic keratitis.

1. Etiologi

1) Jamur berfilamen (filamentous fungi) : bersifat multiseluler dengan


cabang-cabang hifa.
2) Jamur bersepta : Furasium sp, Acremonium sp, Aspergillus sp,
Cladosporium sp, Penicillium sp, Paecilomyces sp, Phialophora sp,
Curvularia sp, Altenaria sp.
3) Jamur tidak bersepta : Mucor sp, Rhizopus sp, Absidia sp.
4) Jamur ragi (yeast) yaitu jamur uniseluler dengan pseudohifa dan tunas :
Candida albicans, Cryptococcus sp, Rodotolura sp.
5) Jamur difasik. Pada jaringan hidup membentuk ragi sedang media
pembiakan membentuk miselium : Blastomices sp, Coccidiodidies sp,
Histoplastoma sp, Sporothrix sp.
2. Gejala klinis
Menurut Susetio(8) untuk menegakkan diagnosis klinik dapat
dipakai pedoman berikut :
1) Riwayat trauma terutama tumbuhan, pemakaian steroid topikal lama.
2) Lesi satelit.
3) Tepi ulkus sedikit menonjol dan kering, tepi yang ireguler dan tonjolan
seperti hifa di bawah endotel utuh.
4) Plak endotel.
5) Hipopion, kadang-kadang rekuren.
6) Formasi cincin sekeliling ulkus.
7) Lesi kornea yang indolen.

3. Pemeriksaan laboratorium
Diagnosis laboratorik sangat membantu diagnosis pasti, walaupun negatif
belum dapat menyingkirkan diagnosis keratomikosis. Hal yang utama adalah
melakukan pemeriksaan kerokan kornea (sebaiknya dengan spatula Kimura) yaitu
dari dasar dan tepi ulkus dengan biomikroskop. Kemudian dapat dilakukan
pewarnaan KOH, Gram, Giemsa atau KOH + Tinta India, dengan angka
keberhasilan masing-masing ± 20-30%, 50-60%, 60-75% dan 80%.
Sebaiknya melakukan biopsi jaringan kornea dan diwarnai dengan
Periodic Acid Schiff atau Methenamine Silver, tetapi memerlukan biaya yang
besar. Akhir-akhir ini dikembangkan Nomarski differential interference contrast
microscope untuk melihat morfologi jamur dari kerokan kornea (metode
Nomarski) yang dilaporkan cukup memuaskan. Selanjutnya dilakukan kultur
dengan agar Sabouraud atau agar ekstrak maltosa.

4. Penatalaksanaan
Menurut Susetio(8) terapi medikamentosa di Indonesia terhambat oleh terbatasnya
preparat komersial yang tersedia, tampaknya diperlukan.
kreativitas dalam improvisasi pengadaan obat. Hal yang utama dalam terapi
keratomikosis adalah mengenai jenis keratomikosis yang dihadapi, dapat dibagi:

1) Belum diidentifikasi jenis jamur penyebabnya.


Topikal amphotericin B 1,02,5 mg/ml, thiomerosal (10 mg/ml), natamycin
> 10 mg/ml, golongan imidazole.
2) Jamur berfilamen.
Untuk golongan II : Topikal amphotericin B, thiomerosal, natamycin (obat
terpilih), imidazole (obat terpilih).
3) Ragi (yeast).
Amphoterisin B, natamycin, imidazole
4) Golongan Actinomyces yang sebenarnya bukan jamur
sejati. Golongan sulfa, berbagai jenis antibiotik.

c. Keratitis Virus
1. Etiologi
Herpes simpleks virus (HSV) merupakan salah satu infeksi virus tersering
pada kornea. Virus herpes simpleks menempati manusia sebagai host, merupakan
parasit intraselular obligat yang dapat ditemukan pada mukosa, rongga hidung,
rongga mulut, vagina dan mata. Penularan dapat terjadi melalui kontak dengan
cairan dan jaringan mata, rongga hidung, mulut, alat kelamin yang mengandung
virus(9).

2. Gejala klinis
Pasien dengan HSV keratitis mengeluh nyeri pada mata, fotofobia,
penglihatan kabur, mata berair, mata merah, tajam penglihatan turun terutama jika
bagian pusat yang terkena.
Infeksi primer Herpes simpleks pada mata biasanya berupa konjungtivitis
folikularis akut disertai blefaritis vesikuler yang ulseratif, serta pembengkakan
kelenjar limfe regional. Kebanyakan penderita juga disertai keratitis epitelial dan
dapat mengenai stroma tetapi jarang. Pada dasarnya infeksi primer ini dapat
sembuh sendiri, akan tetapi pada keadaan tertentu dimana daya tahan tubuh sangat
lemah akan menjadi parah dan menyerang stroma(10).

3. Pemeriksaan laboratorium
Menurut Biswell(2) dilakukan kerokan dari lesi epitel pada keratitis HSV
dan cairan dari lesi kulit mengandung sel-sel raksasa. Virus ini dapat dibiakkan
pada membran korio-allantois embrio telur ayam dan pada banyak jenis lapisan
sel jaringan (misal sel HeLa, tempat terbentuknya plak-plak khas).

4. Terapi
1) Debridement
Cara efektif mengobati keratitis dendritik adalah debridement epithelial,
karena virus berlokasi didalam epitel. Debridement juga mengurangi beban
antigenik virus pada stroma kornea. Epitel sehat melekat erat pada kornea namun
epitel yang terinfeksi mudah dilepaskan. Debridement dilakukan dengan aplikator
berujung kapas khusus. Obat siklopegik seperti atropin 1% atau homatropin 5%
diteteskan kedalam sakus konjungtiva, dan ditutup dengan sedikit tekanan. Pasien
harus diperiksa setiap hari dan diganti penutupnya sampai defek korneanya
sembuh umumnya dalam 72 jam.

2) Terapi Obat menurut Ilyas(4):


IDU (Idoxuridine) analog pirimidin (terdapat dalam larutan 1% dan
diberikan setiap jam, salep 0,5% diberikan setiap 4 jam).

Vibrabin: sama dengan IDU tetapi hanya terdapat dalam bentuk salep.
 Trifluorotimetidin (TFT): sama dengan IDU, diberikan 1% setiap 4 jam.
 Asiklovir (salep 3%), diberikan setiap 4 jam.

Asiklovir oral dapat bermanfaat untuk herpes mata berat, khususnya pada
orang atopi yang rentan terhadap penyakit herpes mata dan kulit agresif.
3) Terapi Bedah
Keratoplasti penetrans mungkin diindikasikan untuk rehabilitasi
penglihatan pasien yang mempunyai parut kornea yang berat, namun hendaknya
dilakukan beberapa bulan setelah penyakit herpes nonaktif.

d. Keratitis Acanthamoeba
1. Etiologi
Keratitis yang berhubungan dengan infeksi Acanthamoeba yang biasanya
disertai dengan penggunaan lensa kontak(11).

2. Gejala klinis
Rasa sakit yang tidak sebanding dengan temuan kliniknya yaitu
kemerahan, dan fotofobia. Tanda klinik khas adalah ulkus kornea indolen, cincin
stroma, dan infiltrat perineural. Bentuk-bentuk awal pada penyakit ini, dengan
perubahan-perubahan hanya terbatas pada epitel kornea semakin banyak
ditemukan. Keratitis Acanthamoeba sering disalah diagnosiskan sebagai keratitis
herpes.

3. Pemeriksaan laboratorium
Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan kerokan dan biakan di atas
media khusus. Biopsi kornea mungkin diperlukan. Sediaan histopatologik
menampakkan bentuk-bentuk amuba (kista atau trofozoit). Larutan dan kontak
lensa harus dibiak. Sering kali bentuk amuba dapat ditemukan pada larutan kotak
penyimpan lensa kontak.

4. Penatalaksanaan
Terapi dengan obat umumnya dimulai dengan isetionat, propamidin
topikal (larutan 1%) secara intensif dan tetes mata neomisin. Bikuanid
poliheksametilen (larutan 0,01-0,02%) dikombinasi dengan obat lain atau sendiri,
kini makin populer.
Agen lain yang mungkin berguna adalah paromomisin dan berbagai
imidazol topikal dan oral seperti ketokonazol, mikonazol, itrakonazol. Terapi juga
dihambat oleh kemampuan organisme membentuk kista didalam stroma kornea,
sehingga memerlukan waktu yang lama.
Kortikosteroid topikal mungkin diperlukan untuk mengendalikan reaksi
radang dalam kornea. Keratoplasti mungkin diperlukan pada penyakit yang telah
lanjut untuk menghentikan berlanjutnya infeksi atau setelah resolusi dan
terbentuknya parut untuk memulihkan penglihatan.
Jika organisme ini sampai ke sklera, terapi obat dan bedah tidak berguna.
BAB III
ANALISIS KASUS

Diagnosa keratitis nummular ditegakan berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik,


dan pemeriksaan penunjang. Pada pasien diagnosa lebih didukung dari anemnesa,
pemeriksaan slit lamp dan pemeriksaan fluorosensin. Pada anamnesis, pada awal pasien
pertama kali terkena serangan (kurang lebih 1 bulan yang lalu) terdapat gambaran khas
keratitis seperti mata merah, visus turun, rasa mengganjal, pandangan buram dan
penglihatan berkabut. Namun seiring berjalannya waktu gambaran klinis tersebut hilang
karena penyakit sudah memasuki stadium resolusi, dan diduga juga etiologi dari penyakit
pasien adalah virus maka penyakit bisa sembuh sendiri (self-limiting disease).
Yang menjadi dasar penegakan diagnosis keratitis adalah pemeriksaan slit yang
didapatkan kornea sedikit keruh. Dan ditambah, terlihat adanya bintik-bintik bulat pada
kornea, yang dimana itu adalah gambaran khas pada keratitis numularis. Menurut
literature, keratitis numularis disebabkan oleh virus herpes zoster. Oleh karena itu, sesuai
etiologinya tatalaksana pada kasus ini adalah Famciclovir 3x500 mg atau Acyclovir 5x800
mg selama 7-10 hari. Dan karena sehari-hari pasien bekerja di depan komputer maka
pasien diedukasi agar mengistirahatkan matanya selam 3-5 menit setiap 1 jam bekerja di
depan komputer. Dan karena terjadi peradangan di mata pasien harus menjaga kebersihan
tangan dan mata dengan cara mencuci tangan dan tidak mengucek-ngucek mata karena
ditakutkan akan terjadi infeksi berkepanjangan atau infeksi sekunder.
Prognosis pada keratitis nummular biasanya bersifat ad bonam, namun ada
bebebrapa literature yang megatakan bahwa biasanya keratitis yabg disebabkan virus
biasanya akan terjadi lagi jika system imun pejamu turun. dan akan mengakibatkan ulkus
yang lebih luas dan dalam sehingga akan menggangu kosmetik dari mata atau yabg paling
parah bisa menimbulkan jaringan parut yang menetap.
DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas S, Mailangkay HHB, Taim H, Saman RR, Simarmata M, Widodo PS, editor.
Ilmu penyakit mata. 2nd ed. Jakarta: Sagung Seto; 2002. P. 113-31.
2. Biswell D.2010. Kornea. Dalam: Riordan-Eva P, Witcher JP, editor. Vaughan &
Ausbury oftalmologi Umum ed 17. Jakarta: EGC.
3. Berson FG. Basic opthalmology. 6th ed. 1993. San Fransisco: American Academy of
Ophtalmology;.
4. Ilyas S. Ilmu penyakit mata. 2007. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
5. Hollwich F. Oftalmologi: Cedera Mata. Jakarta; Binarupa Aksara.
6. Kanski JJ, Bowling B. Clinical ophtalmology: a systemic approach. 7th ed. 2011.
Amsterdam: Elsevier Saunders;.
7. American Academy of Ophthalmology, 2011. Fundamentals and Principles of
Ophthalmology. San Fransisco: Basic and Clinical Science Course.
8. Susetio B. Penatalaksanaan infeksi jamur pada mata dalam Cermin dunia kedokteran.
1993. Jakarta: Binarupa Aksara.
9. Holland, Edward J., and Gary S. Schwartz. "Classification of herpes simplex virus
keratitis." Cornea 18.2 1999: 144-154.
10. Kaye, Stephen, and Anshoo Choudhary. "Herpes simplex keratitis." Progress in retinal
and eye research 25.4 2006: 355-380.
11. Whitcher JP, Riordan-Eva P. Vaughan and Asbury ‘s general ophthalmology.2007.
17th ed. New York: McGraw-Hill.