Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Gravimetri merupakan cara pemeriksaan jumlah zat yang paling tua dan yang paling
sederhana dibandingkan dengan cara pemeriksaan kimia lainnya. Analisis gravimetri adalah
analisis kuantitatif berdasarkan berat tetap atau berat konstan-nya. Dalam analisis ini, unsur
atau senyawa yang dianalisis dipisahkan dari sejumlah bahan yang dianalisis. Bagian terbesar
analisis gravimetri menyangkut perubahan unsur atau gugus dari senyawa yang dianalisis
menjadi senyawa lain yang murni dan mantap (stabil), sehingga dapat diketahui beratnya
tetapnya.
Tahap pengukuran dalam metode gravimetrik adalah penimbangan. Analitnya secara
fisik dipisahkan dari semua komponen lain dari sampel itu maupun dari pelarutnya.
Pengendapan merupakan teknik yang paling meluas penggunaannya untuk memisahkan analit
dari pengganggu-pengganggunya.
Analisa gravimetri merupakan suatu cara analisa kimia kuantitatif yang didasarkan
pada prinsip penimbangan berat yang di dapat dari proses pemisahan analit dari zat – zat lain
dengan metode pengendapan. Zat yang telah diendapkan ini disaring dan dikeringkan serta
ditimbang dan diusahakan endapan itu harus semurni mungkin.
Saat ini sudah semakin luas aplikasinya, misalnya pada penentuan fraksi-fraksi dari
minyak bumi, penentuan kadar air dari berbagai produk seperti hasil pertanian, minyak bumi,
minyak goreng, dan gas alam, elektrogravimetri, dan thermal gravimetri. Dilihat dari betapa
pentingnya analisa gravimetri, maka untuk itu dilakukan percobaan analisa gravimetri ini.
Makalah ini dibuat untuk mereview buku-buku yang diambil yaitu dua buku dan
membandingkan antara kedua buku dengan judul “Reaksi Pengendapan dan Faktor
Gravimetri”.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Gravimetri ?
2. Apa keuntungan dan kerugian Gravimetri ?
3. Macam-macam metode Gravimetri ?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari Gravimetri
2. Untuk mengetahui keuntungan dan kerugian Gravimetri
3. Untuk mengetahui macam-macam metode Gravimetri

1
BAB II
RINGKASAN ISI BUKU
2.1 Identitas buku
 Buku I (buku utama)
1. Judul buku : Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro
2. Pengarang : G.Svehla,Ph.D, Sc, F.R.I.C
3. Penerbit : PT. Kalman Media Pustaka
4. Tahun terbit : 1990
5. Kota Terbit : Jakarta
6. Tebal Buku : 331 halaman
7. Ukuran : 24.5 x 16 cm

 Buku II (buku pembanding)


1. Judul buku : Kimia Analitik Kuantitatif
2. Pengarang : R.A. Day dan A.L. Underwood
3. Penerbit : Erlangga
4. Tahun terbit : 2002
5. Kota Terbit : Jakarta
6. Tebal Buku : 682 halaman
7. Ukuran : 23,5 x 15,5 cm
2.2 Ringkasan Isi Buku
 Buku I
Reaksi Pengendapan
2.2.1 Kelarutan Endapan
Endapan adalah zat yang memisahkan diri sebagai suatu fase padat keluar dari larutan.
Endapan mungkinberua kristal (kristalin) atau koloid, dan dapat dikeluarkan dari larutan
dengan penyaringan atau pemusingan (centrifuge). Endapan terbentuk jika larutan menjadi
terlalu jenuh dengan zat yang bersangkutan. Kelarutan (S) suatu endapan adalah sama dengan
konsentrasi si molar dari larutan jenuhnya. Kelarutan bergantung pada berbagai kondisi, seperti
suhu, tekanan, konsentrasi bahan-bahan lain dalam larutan itu, dan pada komposisi pelarutnya.
Kelarutan bergantung juga pada sifat dan konsentrasi zat-zat lain, terutama ion-ion
dalam campuran itu. Ion sekutu adalah suatu ion yang juga merupakan salah satu bahan
endapan. Dengan perak nitrat misalnya, baik ion perak maupun ion klorida merupakan ion

2
sekutu, tetapi semua ion lainnya adalah asing. Umumnya dapat dikatakan, bahwa keratutan
suatu endapan berkurang banyak sekali jika salah sau ion-sekutu terdapat dengan berlebihan,
meskipun efek ini mungkin mengimbangi dengan pembentukan suatu kompleks yang dapat
larut dengan ion-sekutu yang berlebihan itu. Dengan adanya ion-asing, kelarutan endapan
bertambah, tetapi pertambahannya ini umumnya sedikit, kecuali bila terjadi reaksi kimia antara
endapan dengan ion asing, pada mana pertambahan kelarutan lebih menyolok.
2.2.2 Hasil Kali Kelarutan
Larutan jenuh suatu garam, yang juga mengandung garam tersebut yang tak terlarut,
dengan berlebihan, merupakan suatu sistem kesetimbangan terhadap mana hukum kegiatan
massa dapat diberlakukan. Misalnya jika endapan perak klorida ada dalam kesetimbangan
dengan larutan jenuhnya, maka kesetimbangan berikut terjadi :
AgCl ↔ 𝐴𝑔+ + 𝐶𝑙−
Ini merupakan kesetimbangan heterogen, karena AgCl ada dalam fase padat,
sedangkan ion-ion 𝐴𝑔+ dan 𝐶𝑙− ada dalam fase terlarut. Tetapan kesetimbangan dapat ditulis
sebagai :
[𝐴𝑔+][𝐶𝑙−]
𝐾 = [𝐴𝑔𝐶𝑙]

Konsentrasi perak klorida dalam fase padat tidak berubah, dan karenannya dapat
dimasukkan dalam suatu tetapan baru, Ks, yang dinamakan hasil kali kelarutan.
Ks = [𝐴𝑔+] [𝐶𝑙−]
Jadi dalam larutan jenuh perak klorida pada suhu konstan (dan tekana konstan) hasil
kali konsentrasi ion perak dan ion klorida, adalah konstant. Apa yang telah dikatan untuk perak
klorida dapat diperluas secara umum. Untuk suatu larutan jenuh suatu elektrolit AvA BvB, yang
terion menjadi ion-ion vA 𝐴𝑚+ dan VB 𝐵𝑛− :
AvA BvB↔ vA𝐴𝑚+ + vB𝐵𝑛−
Hasil kali kelarutan (Ks) dapat dinyatakan sebagai :
(Ks) = [𝐴𝑚+ ]vA × [𝐵𝑛− vB]
2.2.3 Penerapan Hubungan Hasil Kali kelarutan
Meskipun mempunyai keterbatasan-keterbatasan(seperti yang telah diuraikan dalam
bagian sebelum ini), hubungan hasil kali kelarutan mempunyai nilai yang besar sekali dalam
analisis kualitatif, karena dengan bantuannya memungkinkan kita bukan saja untuk
menerangkan, melainkan juga meramal reaksi-reaksi pengendapan. Hasil kali kelarutan dalam
keadaan sebenarnya merupakan nilai akhir yang dicapai oleh hasilkali-ion ketika
kesetimbangan tercapai antara fase padat dari garam yang hanya sedikit larut dan larutan itu.

3
Jika kondisi-kondisi adalah sedemikian, sehingga hasilkali ion berbeda dengan hasilkali
kelarutan, sistem ini akan berusaha menyesuaikan dirinya sendiri , sehingga hasilkali ion
mencapai nilai hasilkali kelarutan. Jadi, jika hasil kali ion dengan sengaja dibuat lebih besar
dari hasilkali kelarutan, misalnya dengan menambahkan suatu garam lain dengan satu ion
sekutu, penyesuaian oleh sistem mengakibatkan mengendapnya garam padat. Sebaliknya, jika
hasilkali ion dibuat lebih kecil dari hasilkali kelarutan, misalnya dengan mengurangi
konsentrasi salah satu ion, kesetimbangan dalam sistem dicapai kembali dengan melarutnya
sebagian garam padat kedalam larutan.
Pengendapan sulfida, gas hidrogen sulfida sering dipakai sebagai reagensia dalam
analisi anorganik kualitatif. Bila gas hidrogen sulfida dialirkan kedalam larutan, sulfida-sulfida
logam mengendap. Untuk pengendapan ini, kaidah yang disebut diatas dapat diterangkan:
pengendapan hanya bisa terjadi, jika hasilkali konsentrasi-konsentrasi ion logam dan ion
sulfida melampaui nilai hasilkali kelarutan. Konsentrasi ion logam biasanya jatuh dalam daerah
1- 10−3 mol 𝐿−1, konsentrasi ion sulfida dapat berbeda bnyak sekali dan dapat dipilih dengan
mudah dengan menyesuaikan pH larutan sampai suatu nilai yang cocok
Pengendapan dan pelarutan hidroksida logam, prinsip hasilkali kelarutan dapat juga
dipakai untuk pembentukan endapan hidroksida logam. Endapan akan terbentuk hanya jika
konsentrasi ion logam dan hidroksil saat itu adalah lebih tinggi dari yang diperbolehkan oleh
hasil kali kelarutan. Karena konsentrasi ion logam dalam sampel yang sebenarnya tak jauh
berbeda satu sama lain, maka konsentrasi ion-hidroksil-lah yang memegang peranan
menentukan dalam pembentukan endapan-endapan demikian karena fakta bahwa dalam
larutan air, hasilkali konsentrasi ion hidrogendan hidroksil benarbenar konstan, pembentukan
suatu endapan hidroksida logam tergantung terutama pada pH larutan. Dengan memakai
prinsip hasilkali kelarutan, kita dapat menghitung pH (minimum) yang diperlukan untuk
pengendapan suatu hidroksida logam.
Kelarutan garam dari asam lemah yang sangat sedikit larut dalam asam-asam mineral
kuat, prinsip hasilkali kelarutan memungkinkan kita untuk memberi penjelasan yang sederhana
atas fenomena ini, yang relatif sering timbul dalam analisis kuantitatif. Contoh yang khas
adalah kearutan kalsium oksalat atau barium karbonat dalam asam klorida.
Pengendapan fraksional, perhitungan tentang dua garam yang sangat sedikit larut akan
diendapkan pada kondisi tertentu dapat juga dibuat dengan bantuan prinsip hasilkali kelarutan.
Satu contoh yang mempunyai arti penting adalah metode Mohr untuk menaksir halidahalida.
Dalam proses ini suatu larutan ion klorida dititer dengan larutan baku perak nitrat, dengan
ditambahkan sedikit kalium dikromat yang berfungsi sebagai indikator. Disini dua garam yang
4
sangat sedikit larut, dapat terbentuk, yaitu perak klorida (endapan putih) dan perak kromat
(yang bewarna merah).
2.2.4 Struktur Morfologi dan Kemurnian Endapan
Timbulnya endapan merupakan hasil dari penambahan suatu reagensia tertentu. Namun
demikian endapan tersebut masih bisa untuk dipisahkan yaitu dengan cara penyaringan dan
pencucian. Kemudahan suatu endapan untuk disaring dan dicuci tergantung pada struktur
morfologi endapan itu sendiri, yaitu bentuk dan ukuran kristal-kristalnya.
Bentuk kristal yang paling sederhana seperti kubus, oktahedron dan jarum-jarum.
Sedangkan ukuran kristal yang terbentuk selama pengendapan tergantung pada dua faktor ,
yaitu laju pembentukan inti dan laju pertumbuhan kristal.
Laju pembentukan inti dapat dinyatakan dengan jumlah inti yang terbentuk dalam
satuan waktu, sedangkan laju pertumbuhan kristal merupakan faktor yang mempengaruhi
kristal yang terbentuk selam pengendapan berlangsung. Struktur morfologi endapan sering
dapat diperbaiki dengan pengolahan lebih lanjut. Pengolahan tersebut berupa cara pematangan.
Dengan cara pematangan ini endapan yang telah terbentuk akan lebih mudah untuk disaring
dan dicuci.
2.2.5 Keadaan Koloid
Dalam analisa kualitatif, terkadang terjadi zat yang tidak muncul sebagai endapan
ketika pereaksi-pereaksi terdapat dalam konsentrasi demikian, sehingga hasil kali kelarutan zat
itu telah jauh dilampaui. Dan telah diambil tindakan-tindakan untuk mencegah terjadinya
keadaan lewat jenuh dari larutan tersebut. Jika suatu berkas cahaya dilewatkan pada larutan
dan diamati dengan mikroskop yang tegak lurus dengan datangnya cahaya akan terlihat sedikit
pembauran cahaya. Pembauran ini disebabkan adanya pantulan cahaya oleh partikel-partikel
yang tersuspensi dalam larutan yang disebut efek tyndall.

Buku 2 ( Buku Pembanding)


2.2.1 Prinsip Umum Analisis Gravimetrik
Suatu metode analisis gravimetri biasanya didasarkan pada reaksi kimia seperti :
aA+rR AaRr
dimana a molekul analit, A bereaksi dengan r molekul reagennya R. Produknya yakini
AarR, biasanya merupakan suatu substansi yang sedikit larut yang bisa ditimbang setelah
pengeringan untuk kemudian ditimbang. Biasanya reagen R ditambahkan secara berlebih untuk
menekan kelarutan endapan.

5
Persayaratan yang harus dipenuhi agar metode gravimetrik berhasil :
1. Proses pemisahan hendaknya cukup sempurna sehingga kuantitas analit yang tak
terendapkan secara analitis tak dapat terdeteksi
2. Zat yang ditimbang hendaknya mempunyai susunan yang pasti dan murni atau
sangat hampir murni.

2.2.2 Stoikiometri Reaksi Gravimetrik


Penggunaan Faktor Gravimetrik dalam Perhitungan Gravimetrik
Perhitungan berat endapan dengan penggunaan faktor gravometrik dapat dirumuskan
yaitu:
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑛 𝑥 𝑓𝑎𝑘𝑡𝑜𝑟 𝑔𝑟𝑎𝑣𝑖𝑚𝑒𝑡𝑟𝑖𝑘
%A= 𝑥 100
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙

2.2.3 a Pembentukan dan Sifat Endapan


Koloid
Sebagai aturan umum, dinyatakan bahwa suatu partikel berbentuk bola harus memiliki
diameter yang lebih besar dari sekitar10-4 cm sebelum ia terpisah dari larutan sebagai endapan.
Selama proses pertumbuhan endapan ukuran partikel melewati apa yang disebut kisaran koloid.
Partikel-partikel dengan diameter sekitar 10-7 hinga 10-4 cm (1 hingga 1000 nm) disebut koloid.
Muatan Permukaan Koloid
Partikel-pertikel kecil memiliki rasio permukaan terhadap massa yang besar, dan ion-
ion permukaan menarik ion yang muatannya berlawanan dari larutan. Lapisan-lapisan primer
dan sekunder diperkirakan menyusun suatu lapisan elektrik ganda yang memberikan derajat
stabilitas ke disperse koloid. Lapisan ini menyebabkan partikel koloid saling menolak satu
sama lain, sehingga mencegah terjadinya kombinasi untuk membentuk partikel besar yang
terpisah dari larutan.
Endapan Liofilik dan Liofobik
Material padat dalam koloid dinyatakan sebagai suatu emulsi atau liofilik yang berarti
memiliki afinitas kuat terhadap pelarut. Suatu koloid yang memiliki afinitas kecil terhadap air
disebut suspensoid atau liofobik.
Peptisasi
Proses disperse material tak larut ke dalam suatu cairan seperti koloid ini disebut
peptisasi dan harus dihindari dalam prosedur-prosedur kuantitatif

6
2.2.3. b Proses pengendapan dan ukuran Partikel
Proses pengendapan dan ukuran partikel terdiri dari :
1. Nukleasi dan pertumbuhan partikel
2. Teori von weimarn mengenai kelewatjenuhan relative
3. Memilih atau meramalkan kondisi eksperimen yang optimal dan teori con weimarn
4. Pencernaan pengendapan

2.2.3 c Kopresipitasi dan Kemurnian Endapan


zat-zat yang normalnya mudah larut dapat diturunkan selama pengendapan zat yang
diinginkan dengan suatu proses yang disebut kopresipitasi. Misalnya bila asam sulfat
ditambahkan kelarutan barium klorida yang mengandung sejumlah kecil ion nitrat, endapan
barium sulfat yang diperoleh mengandung barium nitrat. Maka dikatakan bahwa nitrat disebut
terkopresipitasi dengan sulfat.
1. Pengapungan (occlusion)
2. Adsorpsi permukaan
3. Adsorpsi pada endapan gelatin
4. Meminimalkan kopresipitasi
Berikut prosedur yang digunakan untuk meminimalkan kopresipitasi :Metode
penambahan dari kedua reagen, pencucian, pencernaan, pengendapan kembali, dan
pemisahan.
2.2.3 d Pengendapan dari Larutan Homogen
Contoh teknik pengendapan dari larutan homogeny yaitu metode yang paling banyak
dan terkenal adalah penggunaan hidrolisis urea untuk meningkatkan pH dan mengendapkan
hirous oksida.
2.2.3 e Pasca Pengendapan
Proses dengan mana suatu pengotoran diendapkan setelah pengendapan zat yang
diinginkan disebut pasca pengendapan. Contohnya terjadi bila larutan jenuh dengan zat asing
yang mengendap dengan sangat perlahan. Misalnya seng sulfida tidak mudah mengendap dari
dalam larutan yang mengandung ion seng, ion hydrogen, dan larutan yang jenuh dengan
hydrogen sulfida.
2.2.4 Pengeringan dan Pembakaran Endapan
Pengeringan udara (temperature lingkungan), sebagian endapan dapat dikeringkan secukupnya
untuk penentuan analitik tanpa harus melalui temperature yang tinggi.

7
Pengeringan udara (temperature rendah), sebagian endapan lagsung kehilangan air dalam suatu
oven pada temperature 100 hingga 130OC.
Pembakaran endapan, pembakaran pada temoeratur tinggi diperlukan untuk kehilangan secara
sempurna air yang terkepung atau teradsorpsi sangat kuat, dan untuk konversi seluruhnya dari
sebagian endapan menjadi senyawa yang diinginkan.\
Galat selama pembakaran, galat selain dari penghilangan seluruh air dapat terjadi selama
pembakaran.
Penentuan temperatur pengeringan dan pembakaran optimum, terdiri dari analisis
termogravimetrik dan instrumentasi untuk analisis termogravimetrik
2.2.5 Precipitan Organik
Reagen-reagen yang membentuk senyawa Kelat
Suatu senyawa yang netral dari jenis yang diberikan ini, pada hakekatnya bersifat
organic, dan sifat-sifatnya dan reaksinya yang biasa tak lagi mudah diperagakan.
Kelebihan dan kekurangan percipitan organic
Kelebihan:
1. Banyak senyawa logam yang sangat tak dapat larut dalam air
2. Bobot molekul pengendap organic itu sering kali mempunyai bobot molekul yang
besar.
3. Beberapa reagensia organic cukup selektif, hanya mengendapkan sejumlah terbatas
kation
4. Endapan-endapan yang diperoleh dengan reagensia organic sering kali kasar dan
bervolume meruah
Kekurangan:
1. Banyak senyawa kelat tidak mempunyai bentuk penimbangan yang bagus dan
digunakan hanya untuk pemisahan bukan penentuan
2. Ada suatu bahaya yang mencemarkan endapan dengan agen kelat itu sendiri
2.2.6 Penerapan Analisis Gravimetrik
1. Kuantitasi senyawa anorganik dan organic
2. Analisis unsur
3. Peranan analisis gravimetric dalam kimia analitik modern
4. Ketepatan dan kepekaan metode gravimetric
5. Spesifikasi metode gravimetric

8
BAB III
KELEBIHAN ISI BUKU

1.1 Kelebihan Buku I


1. Didalam penjelasan materi buku I (buku utama) memang cukup singkat
dibandingkan dengan buku 2 (buku pembanding) tetapi kedua buku hampir serupa
penjelasan materinya, yang berbeda hanya buku 2 memberikan materi gravimetric
beserta pengendapannya dan memberikan konsep atau definisi-definisnya,
sedangkan buku 1 hanya memberikan pengendapannya yang ditulis secara singkat,
padat dan jelas.
2. Buku I sangat bagus bagi pembaca pemula yang baru mempelajari materi
pengendapan, karena sebelum memasuki materi gravimetri, kita perlu tahu dahulu
apa itu pengedapan. Dan buku 1 ini penjabarannya walaupun singkat tapi sangat jelas
dan mudah untuk dipahami, dan terdapat contoh soal yang juga penyelesaiannya
mudah dipahami.
3. Pada buku I terdapat table hasilkali larutan tersebut sehingga apabila pembaca
mengerjakan soal, tidak membuat bingung dari mana datangnya angka hasil kali
kelarutan tersebut.
4. Bahasa buku I mudah dipahami dan dimengerti oleh pembaca karena bahasa buku
tersebut tidak bertele-tele dan tidak membuat bingung pembaca.

1.2 Kelebihan Buku II


1. Pada buku II ada pendahuluan/ilustrasi awal sebagai pengantar terhadap
materi/konsep yang akan dibahas, sedangkan pada buku I tidak ada.
2. Pada awal materi, diceritakan dahulu definisi-definisi atau contoh cerita yang dapat
membuat pembaca mengerti maksud penulis buku.
3. Pada buku II ini terdapat soal-soal yang dapat dikerjakan setelah membaca dan
memahami isi buku. Dan soal-soalnya berbanding lurus dengan materi dan contoh
soal yang ada.
4. Pada buku II terdapat contoh soal dan gambar yang akan membuat pembaca mudah
mengerti. Dan pada buku II terdapat ilustrasi-ilustrasi yang menambah wawasan
pembaca

9
BAB IV
KELEMAHAN ISI BUKU

4.1 Kelemahan Buku I


1. Pada buku I tidak ada pendahuluan/ilustrasi awal sebagai pengantar terhadap
materi/konsep yang dibahas, hanya ada pengertian kemudian contoh dari
pengertiannya tersebut
2. Pada setiap judul besar tidak ada pendahuluan awal pengantar terhadap materi yang
dibahas, langsung pada pokok pembahasannya.
3. Pada buku I terdapat grafik, yang grafik tersebut sulit untuk dimengerti, dan
penjelasannya itu juga tidak diperjelas sehingga membuat pembaca mengabaikan
grafik tersebut.
4. Pada buku I ini sangat disayangkan tidak mencantumkan gravimetric, karena
gravimetric sendiri banyak kajian yang dibahas.
5. Pada buku I ini hanya membahas tentang reaksi pengendapan saja, dan pada bab-
bab lain tidak ada ditemukan materi gravimetri, sedangankan pada buku II walaupun
judulnya tentang gravimetric, tetapi banyak juga membahas tentang pengendapan itu
sendiri, serta factor-faktor pengendapan itu.

4.2 Kelemahan Buku II


1. Pada buku II banyak kata-kata yang kurang dimengerti pembaca, sehingga sulit
untuk memahami konsep dan materi yang dibahas yaitu gravimetric
2. Karena setiap judulnya terdapat banyak sekali bacaan-bacaan jadi pembaca murah
bosan dengan membaca yang tidak menarik hati pembaca.
3. Terlalu banyak kata-kata yang membingungkan pembaca.

10
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari membandingkan kedua buku dan mereview keduanya didapatkan
bahwa, kedua buku tersebut sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Tetapi
antara kedua buku, buku karangan R.A. Day dan A.L Underwoodlah yang menurut saya bagus,
mengapa bagus? Karena selain memiliki banyak sekali kajian yang dikaji, walaupun bab
tersebut berjudul metode analisis gravimetric, tetapi masih menyinggung tentang endapan, apa-
apa saja reagen-reagennya dan lain-lain. Kalau buku karangan vogel, hanya menyinggung
tentang reaksi pengendapan saja, tidak ada tentang gravimetrinya.
5.2 Saran
Sarannya sebaiknya sebelum masuk kedalam topik bahasan, dicantumkan terlebih
dahulu pendahuluan awal dari topik yang akan dibahas. Dan pada buku yang belum ada kajian-
kajian yang belum terpenuhi, diharapkan pada revisi selanjutnya mencantumkanya, misalnya
gravimetric dan pengendapan, bahwa keduanya sejalan dan memang satu kajian yang harus
dibahas bersam-sama.

11

Anda mungkin juga menyukai