Anda di halaman 1dari 11

Forum Bisnis Dan Kewirausahaan

Jurnal Ilmiah STIE MDP

Perbedaan Kinerja Saham Pada Perusahaan Agriculture


Sebelum dan Sesudah dan Pada Saat Krisis Ekonomi Global di
Bursa Efek Indonesia

Ervita Safitri, Arniza Nilawati, Putri Widyastuty

Universitas Muhammadyah Palembang


ervitasafitri@gmail.com, arniza.nt@yahoo.co.id, Putri@yahoo.co.id

Abstract : This research target to know the difference of share performance of at company Agriculture of before and
at the time of global economic crisis in Effect Exchange Indonesia. Sum up the company becoming population in this
research amount to 15 company of Agriculture. Technique of intake sample of this research use the purposive
sampling, that is intake sample by using certain criteria. Up to standard company to become the sample of this
research amount to 10 company. Pursuant to analysis which writer conduct hence share performance at company
Agriculture have the difference of before crisis and at the time of global economic crisis with the calculation of
method Sharpe and Jansen. But if use method Treynor do not own difference of before crisis and at the time of global
economic crisis. The same things of with the examination use test the paired sample T test each the method Sharpe
and Jansen have the difference of share performance before and the time time Global Economic Crisis . But if use
method Treynor have difference of before crisis and at the time of global economic crisis with the value tcount of sharpe
=-10,076, tcount of treynor=-0,950, tcount of jensen= -4,074 by t is tabels of= -2,262.

Keywords : difference of share performance, company agriculture.

Abstrak : Perbedaan Kinerja Saham Pada Perusahaan Agriculture sebelum dan pada saat krisis ekonomi global di
BEI. Kinerja saham dari berbagai saham dapat diukur menggunakan metode Sharpe, Treynor dan Jansen. Ketiga
metode ini mengasumsikan adanya hubungan linear antara pengembalian portofolio dengan pengembalian dari
beberapa indeks pasar. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan kinerja saham pada perusahaan
Agriculture sebelum dan pada saat krisis ekonomi global di Bursa Efek Indonesia. Jumlah perusahaan yang menjadi
populasi dalam penelitian ini berjumlah 15 perusahaan Agriculture. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini
menggunakan purposive sampling, yaitu teknik pengambilan sampel dengan menggunakan kriteria-kriteria tertentu.
Perusahaan yang memenuhi syarat untuk menjadi sampel pada penelitian ini berjumlah 10 perusahaan. Berdasarkan
analisa yang penulis lakukan maka kinerja saham pada Perusahaan Agriculture memiliki perbedaan sebelum dan
pada saat krisis ekonomi global dengan perhitungan metode Sharpe dan Jansen sedangkan perhitungan metode
Treynor tidak memiliki perbedaan sebelum dan pada saat krisis menggunakan pengujian One Way ANOVA. Sama
halnya dengan pengujian menggunakan uji paired sample T test perhitungan metode Sharpe dan Jansen memiliki
perbedaan kinerja saham antara sebelum dan pada saat krisis sedangkan metode Treynor tidak memiliki perbedaan
kinerja saham sebelum dan pada saat krisis dengan nilai thitung,Sharpe=-10,076, thitung Treynor= -0,950, thitung,Jensen=-4,074
dengan ttabel=-2,262.

Kata kunci : perbedaan kinerja saham, perusahaan agriculture

1. PENDAHULUAN negara-negara Asia termasuk Indonesia. Krisis yang


bermula ketika The Fed (Bank Sentral Amerika
Krisi global yang dirasakan sejak semester Serikat) menaikkan suku bunga pada saat sektor
kedua tahun 2008 ternyata berdampak pada Krisis properti mengalami booming mengakibatkan banyak
ekonomi yang berawal dari Amerika Serikat dan nasabah yang mengalami default (gagal bayar)
kemudian meluas menjadi krisis ekonomi secara sehingga sekuritas yang terkait nilainya anjlok yang

Hal - 26 Vol. 3 No. 1 September 2013


Forum Bisnis Dan Kewirausahaan
Jurnal Ilmiah STIE MDP

mengakibatkan sebagian besar investor menjual pengembalian (return) tertinggi baik berupa deviden
portofolionya untuk menutup kerugian. Ditambah maupun capital gain serta resiko (risk) terendah.
kebangkrutan yang dialami lembaga keuangan
Amerika Serikat (Lechman Brother) membuat pasar Evaluasi atas kinerja saham yang telah
bertambah panik sehingga muncul ekspektasi dibentuk dapat dilihat dari tingkat pengembalian
terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi global yang diharapkan maupun terhadap tingkat resiko
yang membuat harga minyak dan komoditi lainnya yang ditanggung. Adapun tujuan dari penilaian
cenderung menurun karena di dorong ekspektasi kinerja saham atau portofolio adalah untuk
perlemahan permintaan dunia. mengetahui dan menganalisis apakah portofolio
yang dibentuk telah dapat meningkatkan
Bagi Indonesia dampak krisis yang paling kemungkinan tercapainya tujuan investasi sehingga
terasa adalah timbulnya sentimen negatif bagi pasar dapat diketahui portofolio mana yang memiliki
keuangan Indonesia, yang tercermin dari anjloknya kinerja yang lebih baik jika ditinjau dari tingkat
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga level pengembalian dan resikonya masing-masing.
1.200 yang secara simultan menekan nilai tukar Penilaian ini dilakukan dengan cara
Rupiah melewati batas psikologis Rp9.500,00 per membandingkan kinerja berbagai portofolio dari
$US. Adanya tekanan bagi ekspor nasional dan berbagai saham dapat di ukur dengan menggunakan
investasi asing, serta hal ini juga mengakibatkan metode Sharpe, Treynor maupun metode Jansen.
nilai ekspor beberapa Perusahaan Indonesia Kinerja saham yang baik mutlak diperlukan bagi
mengalami penurunan dan adanya ketidakpastian perusahaan agar dapat menarik para investor.
terhadap harga komoditas yang akan berpengaruh
terhadap prospek inflasi. Sektor Agriculture mengalami penurunan
harga saham ketika krisis ekonomi global melanda
Ketidakpastian terhadap harga komoditas yang menjadi indikasi penurunan kinerja saham.
menyebabkan hampir semua sektor penggerak Menyadari betapa pentingnya kinerja saham bagi
perekonomian Indonesia tertekan, tidak suatu perusahaan serta perbedaan kinerja saham
terkecuali bagi sektor Agriculture (perkebunan, yang terjadi pada Perusahaan Agriculture sebelum
peternakan dan perikanan). Sektor Agriculture dan pada saat krisis ekonomi global maka
yang selama ini menjadi sektor utama bagi penelitian ini memfokuskan analisis masalah pada
perekonomian Indonesia pun mengalami resesi Perbedaan Kinerja Saham Pada Perusahaan
pertumbuhan akibat krisis ekonomi global. Agriculture Sebelum dan Pada Saat Krisis Ekonomi
Resesi ini dapat dibuktikan dari persentase Global di Bursa Efek Indonesia.
pertumbuhan laba perusahaan yang bergerak di
sektor ini yang mengalami penurunan
dibandingkan tahun sebelumnya bahkan ada
2. LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS
beberapa perusahaan yang persentase
pertumbuhannya mencapai angka minus.
2.1 Landasan Teori
Penurunan pertumbuhan laba perusahaan
selain menurunkan capital gain perusahaan juga Return merupakan hasil yang diperoleh dari
berdampak pada investasi saham sektor Agriculture, investasi. Return dapat berupa return realisasi yang
dimana banyak investor yang melepas sahamnya sudah terjadi dan return ekspektasi yang belum
setelah mengetahui pertumbuhan laba Perusahaan terjadi (Jogiyanto,2009:199). Return realisasi
Agriculture yang mengalami penurunan, sehingga dihitung menggunakan data historis. Return
menyebabkan nilai jual (harga) saham Perusahaan realiasasi penting karena digunakan sebagai salah
Agriculture pun anjlok pada saat krisis. karena pada satu pengukur kinerja dari perusahaan. Return
dasarnya investor yang melakukan investasi akan realisasi atau return historis ini juga berguna sebagai
berusaha untuk menanamkan dananya pada saham- dasar penentuan return ekspektasi (expected return)
saham perusahaan yang mampu memberikan dan resiko di masa yang akan datang. Perhitungan

Vol. 3 No. 1 September 2013 Hal - 27


Forum Bisnis Dan Kewirausahaan
Jurnal Ilmiah STIE MDP

return realisasi ini menggunakan return total. Return resiko portofolio (yaitu selisih rata-rata tingkat
total merupakan keseluruhan dari suatu investasi pengembalian portofolio dengan rata-rata
dalam suatu periode tertentu. tingkat bunga bebas resiko) dengan resiko
portofolio yang dinyatakan dengan standar
Menurut Jogiyanto (2009: 243) “return deviasi (total resiko). Hasil perhitung adalah
realisasi portofolio adalah rata-rata tertimbang dari kemiringan (slope) garis yang menghubungkan
return-return realisasi dari masing-masing sekuritas portofolio yang beresiko dengan bunga bebas
tunggal di dalam portofolio”. “return ekspektasi resiko. Kemiringan garis tersebut dinyatakan
portofolio adalah rata-rata tertimbang dari return- dengan (Rp-Rf)/ p. Dengan demikian,
return ekspektasi tiap-tiap sekuritas tunggal di semakin besar kemiringan garis tersebut berarti
dalam portofolio”. Risiko merupakan besarnya semakin baik portofolio yang membentuk garis
penyimpangan antara tingkat pengembalian yang tersebut. Karena, semakin besar rasio premi
diharapkan (expected return) dengan tingkat risiko portofolio terhadap standar deviasi dapat
pengembalian aktual (actual return). Semakin besar dikatakan bahwa kinerja portofolio tersebut
penyimpangannya berarti semakin besar pula semakin baik.
tingkat risikonya. (Halim,2005:42). Risiko dapat
dibedakan menjadi Risiko sistematik (systematic 2) Metode Treynor
risk) dan Risiko tidak sistematis (unsystematic risk). Dalam metode ini kinerja portofolio diukur
Menurut Jogiyanto (2009:245) Risiko portofolio dengan cara membandingkan antara premi
adalah varian return sekuritas-sekuritas yang resiko portofolio (yaitu selisih rata-rata tingkat
membentuk portofolio tersebut. Salah satu pengambilan portofolio dengan rata-rata bunga
pengukur risiko adalah deviasi standar atau varian bebas risiko) dengan risiko portofolio yang
yang merupakan kuadrat dari deviasi standar. dinyatakan dengan beta (resiko pasar atau risiko
sistematis).
Menurut Halim (2005:68) kinerja saham
merupakan tingkat pencapaian total return bulanan Hasil perhitungan adalah kemiringan garis
dari tiap-tiap saham dalam portofolio saham. yang menghubungkan portofolio yang
Menurut Sorensen, Miller dan Ooi (2000:47) berisiko dengan bunga bebas risiko. Kemiringan
kinerja saham dibedakan menjadi dua: garis tersebut dinyatakan dengan (Rp- Rf)/ p.
dengan demikian, semakin besar kemiringan garis
1) Kinerja saham yang lebih unggul (out perform) tersebut berarti semakin baik portofolio yang
Saham yang memiliki hasil perbandingan atau membentuk garis tersebut. Karena, semakin
pengurangan yang bernilai positif disebut juga besar rasio premi risiko portofolio terhadap beta,
saham berkinerja baik. dapat dikatakan bahwa kinerja portofolio tersebut
2) Kinerja saham lebih rendah (under perform) semakin baik.
Saham yang memiliki hasil perbandingan atau
pengurangan yang bernilai negatif disebut juga 3) Metode Jensen
saham berkinerja tidak baik. Metode ini didasarkan pada konsep garis pasar
sekuritas (security market line-SML) yang
Dengan berdasarkan teori pasar modal, merupakan garis yang menghubungkan
beberapa ukuran kinerja portofolio sudah portofolio pasar dengan kesempatan investasi
memasukkan faktor return dan risiko dalam yang bebas resiko, sehingga secara matematis
perhitungannya. Beberapa metode pengukuran dirumuskan Rp = Rf + (Rm-Rf) p. Kemiringan
kinerja saham menurut Halim (2005: 68) adalah SML dinyatakan sebagai (Rm-Rf)/ p dan
sebagai berikut: konstantanya adalah Rf. Dalam keadaan
equilibrium semua portofolio diharapkan berada
1) Metode Sharpe pada SML. Jika terjadi penyimpangan artinya
Dalam metode ini kinerja portofolio diukur jika dengan resiko yang sama tingkat
dengan cara membandingkan antara premi pengembalian pada SML, maka perbedaan

Hal - 28 Vol. 3 No. 1 September 2013


Forum Bisnis Dan Kewirausahaan
Jurnal Ilmiah STIE MDP

tersebut disebut dengan indeks Jensen dimana transformasi Z-score (Standardized). Hasil dari
risikonya dinyatakan dalam beta (risiko pasar transformasi Z-score menunjukkan bahwa indeks
atau risiko sistematis). Apabila tingkat Sharpe dan Jensen menempatkan portofolio PTBA
pengembalian aktual dari suatu portofolio lebih (Tambang Batubara Bukit Asam Tbk), yang terjadi
besar dari tingkat pengembalian yang sesuai pada tahun 2007 sebagai peringkat pertama.
dengan persamaan SML, berarti indeks Jensen Sedangkan indeks Treynor menghasilkan portofolio
akan bernilai positif. Sebaliknya, apabila tingkat ASII (Astra International Tbk) yang terjadi di tahun
pengembalian aktual dari suatu portofolio lebih 2005 akan menjadi rangking pertama.
kecil dari tingkat pengembalian yang sesuai
dengan persamaan SML, berarti indeks Jensen Hasil pengujian perbedaan pengukuran
akan bernilai negatif. kinerja portofolio menggunakan metode Sharpe,
Treynor, maupun Jensen dengan uji Kruskal Wallis
Penelitian Ruminih (2009) berjudul tidak menunjukkan adanya perbedaan yang
Evaluasi Kinerja Saham dengan menggunakan signifikan dalam mengukur kinerja dengan
Metode Sharpe, Treynor, dan Jensen di Jakarta menggunakan metode Sharpe, Treynor, maupun
Islamic Index di Bursa Efek Indonesia periode Jensen. Sedangkan uji antar treatment terhadap
tahun 2007-2008. Berdasarkan analisis kinerja ketiga metode juga tidak menunjukkan adanya
saham-saham JII dengan menggunakan metode perbedaan yang signifikan diantara ketiganya.
Sharpe, Treynor dan Jensen diperoleh hasil dengan Pengukuran selisih mean rank maka metode
menggunakan metode Sharpe dan metode Jensen, Treynor adalah yang paling menunjukkan
terdapat empat saham yang berkinerja tidak baik konsistensi terhadap ketidakbedaan antar ketiga
dengan nilai Sharpe dan nilai Jensen negatif yaitu pengukuran, karena Treynor memiliki selisih mean
BNBR, TLKM, BTEL, dan CTRA. Sementara rank yang paling rendah terhadap Sharpe maupun
sembilan saham lainnya berkategori baik dengan Jensen.
nilai Sharpe dan nilai Jensen positif. Diukur
menggunakan metode Treynor, terdapat sembilan 2.2 Hipotesis
saham yang berkinerja baik dan empat lainnya
berkinerja tidak baik. Berdasarkan rumusan masalah dapat
dikemukakan hipotesis: adanya perbedaan kinerja
Penelitian lain Analisis Kinerja Portofolio saham pada Perusahaan Agriculture sebelum dan
Saham dengan Metode Sharpe, Treynor dan Jensen pada saat krisis ekonomi global di Bursa Efek
Saham LQ-45 di Bursa Efek Indonesia Tahun 2003 Indonesia.
sampai 2007 oleh Agustin Sulistyorini
(2009).Berdasarkan hasil analisis bahwa Indeks
kinerja Sharpe, Treynor dan Jensen menunjukkan 3. METODE PENELITIAN
ada 4 saham LQ-45 dari tahun 2003 sampai tahun
2007 yang selalu menunjukkan indeks kinerja Penelitian dilakukan pada Perusahaan
bernilai negatif paling banyak yaitu; BCA (Bank Agriculture di Bursa Efek Indonesia. Datanya
Central Asia Tbk), INDF (Indofood Sukses Makmur diambil melalui website dengan alamat situs
Tbk), ISAT (Indosat Tbk), TLKM (Telekomunikasi www.idsaham.com. Populasi dalam penelitian ini
Indonesia Tbk), Pengukuran kinerja portofolio adalah seluruh perusahaan Agriculture di Bursa
dengan metode Sharpe, Treynor, maupun Jensen Efek Indonesia. Adapun jumlah perusahaan yang
akan memiliki karakteristik angka indeks yang menjadi populasi dalam penelitian ini berjumlah 15
berbeda satu sama lain sehingga tidak dapat Perusahaan Agriculture.
dibandingkan satu dengan lainnya secara logis
sehingga diperlukan standarisasi ukuran kinerja yang 3.1 Penentuan Sampel
dapat digunakan untuk membandingkan pengukuran
kinerja portofolio yang menggunakan metode Adapun teknik pengambilan sampel pada
Sharpe, Treynor, maupun Jensen yaitu dengan penelitian ini menggunakan purposive sampling,

Vol. 3 No. 1 September 2013 Hal - 29


Forum Bisnis Dan Kewirausahaan
Jurnal Ilmiah STIE MDP

yaitu teknik pengambilan sampel dengan harga saham bulanan selama periode 2007-2009.
menggunakan kriteria-kriteria tertentu Berdasarkan kriteria tersebut maka perusahaan
(Sugiono,2008). yang memenuhi syarat untuk menjadi sampel pada
penelitian ini berjumlah 10 perusahaan. Berikut ini
Adapun kriteria yang digunakan untuk
adalah nama-nama perusahaan yang menjadi
menentukan sampel pada penelitian ini yaitu
sampel pada penelitian ini :
perusahaan yang secara rutin melaporkan laporan
Tabel 1 : Daftar Perusahaan Sampel Penelitian

No Nama Perusahaan Kode


o
1. Tunas Baru Lampung Tbk. TBLA
2. SMART Tbk. SMAR
3. Dhama Samudera Fishing Industries Tbk DSFI
4. London Sumatra Tbk. LSIP
5. Inti Agri Resources Tbk. IIKP
6. Bakrie Sumatera Plant Tbk. UNSP
7. Bumi Teknokultura Unggul Tbk. BTEK
8. Astra Agro Lestari Tbk AALI
9. Central Proteinaprima Tbk CPRO
10. Cipendawa Tbk CPDW

Sumber : Penulis, 2012


Data yang digunakan dalam penelitian ini, akhir bulan selama periode 2007-2009.
menurut sumbernya, adalah data sekunder e. Metode Treynor adalah data harga saham setiap
(Sugiono,2008). Jenis data yang dikumpulkan adalah: akhir bulan selama periode 2007-2009.
f. Metode Jensen adalah data harga saham setiap
a. Laporan keuangan dan harga saham Perusahaan akhir bulan selama periode 2007-2009.
Agriculture periode 2007-2009.
b. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) periode 3.2 Operasionalisasi Variabel
2007-2009.
c. Suku bunga SBI periode 2007-2009. Dalam penelitian ini variabel yang diteliti
d. Metode Sharpe adalah data harga saham setiap adalah sebagai berikut :

Tabel 2 : Operasionalisasi Variabel


No Variabel Definisi Operasional Indikator

1. Kinerja saham Tingkat pencapaian total return a. Metode Sharpe


bulanan dari saham-saham dalam b. Metode Treynor
portofolio saham pada Perusahaan c. Metode Jensen
Agriculture di Bursa Efek Indonesia.

Sumber: Penulis, 2012

Hal - 30 Vol. 3 No. 1 September 2013


Forum Bisnis Dan Kewirausahaan
Jurnal Ilmiah STIE MDP

3.3 Teknik Analisis 1) Mencari nilai Aktual Return:

Pengertian dan batasan dari variabel- ( Pt Pt 1 ) Dt


variabel yang digunakan dalam analisis adalah Rit
Pt 1
sebagai berikut:
2) Mencari nilai Rata-Rata Tingkat Pengembalian
a. Menentukan kinerja masing-masing perusahaan Portofolio:
Agriculture sebelum dan pada saat krisis dengan
menggunakan metode Sharpe. Rit
Rpi
1) Mencari nilai Aktual Return: n

( Pt Pt 1 ) Dt 3) Menentukan Return Rata-Rata bulanan SBI:


Rit
Pt 1 R fi
E (R f )
Notasi : Ri : Return saham n
Pt : Harga saham pada saat t 4) Menentukan Beta Saham dengan rumus :
Pt-1 : Harga saham pada saat t-1
Dt : Deviden kas pada akhir periode
( Ri Ri )( Rm Rm)
saham
2) Mencari nilai Rata-Rata Tingkat Pengembalian ( Rm Rm) 2
Portofolio:
Rit 5) Menentukan nilai kinerja berdasarkan Metode
Rpi Treynor:
n
Rpi Rf
3) Menentukan Return Rata-Rata bulanan SBI Metode Treynor =
dengan rumus : saham

R fi c. Menentukan Kinerja masing-masing perusahaan


E (R f ) Agriculture sebelum dan pada saat krisis dengan
n menggunakan Metode Jensen.
4) Menentukan Standar Deviasi Portofolio dengan 1) Mencari nilai Aktual Return:
rumus :
( Pt Pt 1 ) Dt
( Ri Ri ) 2 Rit
SDpi Pt 1
(n 1)
2) Mencari nilai Rata-Rata Tingkat Pengembalian
Portofolio:
5) Menentukan nilai kinerja berdasarkan Metode
Sharpe: Rit
Rpi
( Rpi Rf ) n
Metode Sharpe =
SDpi 3) Menentukan Return Rata-Rata bulanan SBI:
b. MenentukanKinerja masing-masing perusahaan R fi
Agriculture sebelum dan pada saat krisis dengan E (R f )
menggunakan metode Treynor. n

Vol. 3 No. 1 September 2013 Hal - 31


Forum Bisnis Dan Kewirausahaan
Jurnal Ilmiah STIE MDP

4) Menentukan Return Market: Pengujian menggunakan uji dua sisi dengan


tingkat signifikansi = 5%. Tingkat signifikansi dalam
Rm hal ini berarti kita mengambil resiko salah dalam
Rm mengambil keputusan untuk menolak hipotesis yang
n
benar sebanyak-banyaknya 5% (signifikansi 5% atau
0,05 adalah ukuran standar yang sering digunakan
5) Menentukan Beta Saham dengan rumus :
dalam penelitian). Menentukan t tabel Dengan
menggunkan tingkat keyakinan 95%, = 5%, df1=
( Ri Ri )( Rm Rm) (jumlah variabel -1) dan df2 (n-2).
saham
( Rm Rm) 2
Kriteria pengujian :

6) Menentukan nilai kinerja berdasarkan metode - Ho diterima bila –ttabel < thitung < t tabel
Jensen : - Ho ditolak bila thitung > t tabel atau thitung < - t tabel

Ja ( Rpi Rf ) ( Rm Rf ) Kemudian Membandingkan thitung dengan t tabel


saham

3.4 Pengujian Hipotesis 4. HASIL PENELITIAN DAN


PEMBAHASAN
Uji T (Paired Sample T-Test)
Dari perhitungan metode Sharpe, Treynor dan
Jansen sebelum dan pada saat krisis, ternyata dari 10
Setelah mendapatkan nilai kinerja saham sampel saham perusahaan Agriculture kinerja saham
Perusahaan Agriculture sebelum dan pada saat dinilai dari ketiga metode secara keseluruhan memiliki
krisis dengan metode Sharpe, Treynor dan kinerja tidak baik dikarenakan tidak ada satu pun
Jensen, untuk menjawab pertanyaan adakah perusahaan yang memiliki nilai positif berdasarkan
perbedaan kinerja saham pada Perusahaan perhitungan dari ketiga metode tersebut. Akan tetapi
Agriculture sebelum dan pada saat krisis jika dilihat dari perhitungan masing-masing metode
ekonomi global di Bursa Efek Indonesia maka secara parsial antara sebelum krisis dan pada saat krisis
dapat diketahui juga dengan melakukan kinerja beberapa saham bernilai baik berdasarkan
pengujian beda rata-rata untuk variabel data perhitungan metode Sharpe,yaitu SMART,LSIP,IIKP
yang berpasangan (paired sample T-test) dengan dan AALI. Dengan metode Treynor hanya SMART
menggunakan program komputer SPSS 16.0. dan DSFI sedangkan metode Jansen terdapat satu
perusahaan saja yang posif yaitu LSIP
Program yang akan digunakan untuk
menguji adalah statistical product and service Pengukuran kinerja saham dalam penelitian ini
solution (SPSS) dengan pengujian hipotesis diukur menggunakan metode Sharpe, metode Treynor
paired sample T- Test yaitu untuk mengetahui dan metode Jansen. Metode Sharpe mengukur market
ada atau tidaknya perbedaan rata-rata untuk lebih performance dengan membagi excess return terhadap
dari dua kelompok sampel yang tidak standar deviasi return, metode Treynor mengukur
berhubungan. (Dwi Priyatno, 2008: 106). market performance dengan membagi excess return
terhadap risiko pasar atau risiko sistematis, sedangkan
Dengan hipotesis : metode Jansen menambahkan rata-rata return masa
lalu dengan required return. Penilaian ketiga model ini
Ho: Tidak ada perbedaan kinerja saham pada memiliki kesamaan dalam pengambilan keputusan.
perusahaan Agriculture sebelum dan pada saat Ketiganya sama-sama menganggap semakin tinggi
krisis ekonomi global di BEI. nilai yang dihasilkan, maka semakin baik kinerja suatu
Ha: Ada perbedaan kinerja saham pada perusahaan saham. Saham yang mempunyai nilai positif adalah
Agriculture sebelum dan pada saat krisis saham yang dalam ketiga model ini pantas untuk dibeli
ekonomi global di BEI. atau dimasukkan dalam portofolio investasi.

Hal - 32 Vol. 3 No. 1 September 2013


Forum Bisnis Dan Kewirausahaan
Jurnal Ilmiah STIE MDP

Tabel 3 : Kinerja Saham Perusahaan Agriculture Sebelum dan Pada Saat Krisis Ekonomi Global

Kinerja Saham Sebelum Krisis Kinerja Saham Pada Saat Krisis


Saham
Sharpe Treynor Jansen Sharpe Treynor Jansen
TBLA 0,2691 -28,9369 7,6574 -0,1244 -1,8396 -3,2397
SMART 0,2665 74,9662 4,9299 0,0055 0,1596 -0,7037
DSFI -0,0013 0,5639 0,0164 -0,4675 50,2629 -1,0470
LSIP 0,3181 -78,8798 4,2210 0,0505 0,8758 0,2243
IIKP 0,3085 -8,0671 11,2490 0,0057 0,2404 -0,1649
UNSP 0,2742 -31,3089 4,4838 -0,0776 -1,3067 -3,6793
BTEK 0,4401 -19,2877 16,6410 -0,1469 -5,7263 -2,9044
AALI 0,3724 -72,1141 5,3109 0,0357 0,6683 -0,0506
CPRO 0,1480 17,9900 6,4441 -0,1968 -3,5388 -5,8978
CPDW -0,1271 20,6413 -1,4878 -0,7309 -860,8964 -0,6532

Sumber : Hasil pengolahan data, 2012

Dari total 10 saham Perusahaan Agriculture 50,2629 yang dimiliki oleh saham perusahaan
sebelum krisis ekonomi global yang diteliti, DSFI. Sedangkan yang memiliki nilai Treynor rasio
ternyata sebanyak 8 saham Perusahaan Agriculture negatif sebanyak 5 Perusahaan Agriculture, dengan
yang memiliki Sharpe rasio positif dengan nilai nilai rasio terendah -860,8964 yang dimiliki oleh
rasio tertinggi 0,4401 yang dimiliki oleh saham saham perusahaan CPDW.
perusahaan BTEK. Sedangkan yang memiliki
Sharpe rasio negatif sebanyak 2 saham Perusahaan Saham 10 Perusahaan Agriculture sebelum
Agriculture dengan nilai Sharpe rasio terendah krisis ekonomi global yang diteliti, ternyata
sebesar -0,1271 yang dimiliki oleh saham CPDW. sebanyak 9 saham Perusahaan Agriculture yang
memiliki Jensen rasio positif dengan nilai rasio
Sedangkan pada saat krisis ekonomi global, tertinggi 16,641 yang dimiliki oleh saham
ternyata 4 perusahaan Agriculture memiliki sharpe perusahaa BTEK. Sedangkan yang memiliki Jansen
rasio positif dengan nilai rasio tertinggi 0,0505 rasio negatif sebanyak 1 saham Perusahaan
yang dimiliki oleh saham perusahaan LSIP. Agriculture dengan nilai Jansen rasio terendah
Sedangkan yang memiliki Sharpe rasio negatif sebesar -1,488 yang dimiliki oleh saham CPDW.
sebanyak 6 saham Perusahaan Agriculture dengan
nilai Sharpe rasio terendah sebesar -0,7309 yang Pada saat krisis ekonomi global, ternyata
dimiliki oleh saham CPDW. 1 perusahaan Agriculture memiliki Jensen rasio
positif dengan nilai rasio tertinggi 0,224 yang
Saham dari 10 Perusahaan Agriculture dimiliki oleh saham perusahaan LSIP. Sedangkan
sebelum krisis ekonomi global yang diteliti, yang memiliki Jansen rasio negatif sebanyak 9
ternyata sebanyak 4 saham perusahaan Agriculture saham Perusahaan Agriculture dengan nilai
yang memiliki Treynor rasio positif dengan nilai Jansen rasio terendah sebesar -5,898 yang dimiliki
rasio tertinggi 74,9962 yang dimiliki oleh saham oleh saham CPRO.
perusahaan SMART. Sedangkan yang memiliki
Treynor rasio negatif sebanyak 6 saham perusahaan Berdasarkan hasil peringkat kinerja masing-
Agriculture dengan nilai Treynor rasio terendah masing saham perusahaan Agriculture dihitung
sebesar -78,8798 yang dimiliki oleh saham menggunakan metode Sharpe, Treynor dan Jansen,
LSIP.Sedangkan pada saat krisis ekonomi global, ternyata dengan menggunakan metode Sharpe dan
ternyata 5 perusahaan Agriculture memiliki Jansen sebelum krisis saham perusahaan Bumi
Treynor rasio positif, dengan nilai rasio tertinggi Teknokultura Unggul,Tbk. (BTEK) yang bergerak di

Vol. 3 No. 1 September 2013 Hal - 33


Forum Bisnis Dan Kewirausahaan
Jurnal Ilmiah STIE MDP

bidang pertanian memiliki kinerja baik dengan baik dengan menduduki peringkat pertama, dengan
menduduki peringkat pertama, dengan nilai 0,4401 nilai 50,2629.
dan 16,641. Dilihat dengan menggunakan metode
Treynor sebelum krisis saham perusahaan Perbedaan Kinerja Saham Pada Perusahaan
SMART,Tbk. yang bergerak di bidang perkebunan Agriculture
memiliki kinerja baik dengan menduduki peringkat
pertama, dengan nilai 74,9662. a. Perbedaan Kinerja Saham Metode Sharpe

Berbeda halnya dengan menggunakan Dari perhitungan dengan menggunakan


metode Sharpe, Treynor dan Jansen pada saat krisis pengujian paired sample T-Test diperoleh bahwa
ekonomi global, saham perusahaan London nilai thitung (to) adalah -10,076, sedangkan untuk
Sumatera,Tbk. (LSIP) yang bergerak di bidang nilai ttabel diperoleh dengan t /2, n-1. Karena nilai
perkebunan memiliki kinerja baik dengan = 0,05 dan n = 10 maka t 0,025, 9 = -2,262.
menggunakan metode Sharpe dan Jansen Karena thitung < -ttabel, maka Ho ditolak dan Ha
menduduki peringkat pertama, dengan nilai 0,0505 diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
dan 0,224. Dilihat dengan menggunakan metode kinerja saham pada perusahaan Agriculture
Treynor pada saat krisis ekonomi global saham memiliki perbedaan antara kinerja saham
perusahaan Darma Samudera Fishing,Tbk (DSFI) sebelum dan pada saat krisis ekonomi global
yang bergerak di bidang perikanan memiliki kinerja dilihat dari metode Sharpe.

Tabel 4 : Hasil Uji t Tesh Statistic Perbedaan Kinerja Saham Metode Sharpe

Sumber : Hasil pengolahan data, 2012

b. Perbedaan Kinerja Saham Metode Treynor

Tabel 5 : Hasil Uji t Tesh Statistic Perbedaan Kinerja Saham Metode Treynor

Sumber : Hasil pengolahan data, 2012

Hal - 34 Vol. 3 No. 1 September 2013


Forum Bisnis Dan Kewirausahaan
Jurnal Ilmiah STIE MDP

Dari perhitungan dengan menggunakan c. Perbedaan Kinerja Saham Metode Jansen


pengujian paired sample T-Test diperoleh
bahwa nilai t hitung (t o ) adalah -0,950, sedangkan Hasil perhitungan dengan menggunakan
untuk nilai t tabel diperoleh dengan t /2, n-1. pengujian paired sample T-Test diperoleh bahwa
Karena nilai = 0,05 dan n = 10 maka t 0,025, 9 = nilai t hitung o) adalah -4,074 sedangkan untuk nilai t
(t
-2,262. Karena –ttabel < thitung < ttabel, maka Ho tabel diperoleh dengan t /2, n-1. Karena nilai = 0,05
diterima dan Ha ditolak. Sehingga dapat dan n = 10 maka t 0,025, 9 = -2,262. Karena thitung < -
disimpulkan bahwa kinerja saham pada ttabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima. Sehingga
perusahaan Agriculture tidak memiliki dapat disimpulkan bahwa kinerja saham pada
perbedaan antara kinerja saham sebelum dan perusahaan Agriculture memiliki perbedaan antara
pada saat krisis ekonomi global dilihat dari kinerja saham sebelum dan pada saat krisis ekonomi
metode Treynor. global dilihat dari metode Jansen.
Tabel 6 : Hasil Uji t Tesh Statistic Perbedaan Kinerja Saham Metode Jansen

Sumber : Hasil pengolahan data, 2012

5. KESIMPULAN DAN SARAN Agriculture sebaiknya dilakukan berbagai


pertimbangan dikarenakan kinerja saham
Kinerja saham pada Perusahaan perusahaan Agriculture kurang begitu
Agriculture memiliki perbedaan sebelum krisis dan menjanjikan karena sebagian produknya untuk
pada saat krisis ekonomi global menggunakan import.
perhitungan metode Sharpe dan Jansen. Sedangkan
perhitungan metode Treynor tidak memiliki
perbedaan sebelum dan pada saat krisis ekonomi DAFTAR PUSTAKA
global dengan nilai thitung,Sharpe=-10,076, thitung
Treynor= -0,950, thitung,Jensen=-4,074 dengan ttabel=- [1] Abdul Halim. 2005, Analisis Investasi, Jakarta
2,262. Jadi dari hasil pengujian terhadap ketiga : Salemba Empat.
metode. Pengukuran selisih mean t test maka
metode Treynor adalah yang paling menunjukkan [2] Agustin Sulistyorini. 2009, Analisis Kinerja
konsistensi terhadap ketidakbedaan antar ketiga
Portofolio Saham dengan Metode Sharpe,
pengukuran, karena Treynor memiliki selisih mean
Treynor dan Jensen Saham LQ-45 di Bursa
t test yang paling rendah terhadap Sharpe maupun
Efek Indonesia , Tesis.
Jensen

Bagi perusahaan Agriculture diharapkan [3] Dwi Priyatno. 2008, Mandiri Belajar SPSS,
agar dapat memperbaiki kinerja sahamnya agar Yogyakarta : Mediakom.
dapat menarik minat investor untuk berinvestasi
di perusahaan tersebut. Bagi calon investor yang [4] Jogiyanto. 2009. Teori Portofolio dan Analisis
tertarik untuk membeli saham perusahaan Investasi, Edisi Keenam, Yogyakarta : BPFE.

Vol. 3 No. 1 September 2013 Hal - 35


Forum Bisnis Dan Kewirausahaan
Jurnal Ilmiah STIE MDP

[5] Ruminih. 2009, “Evaluasi Kinerja Saham


dengan menggunakan Metode Sharpe,
Treynor, dan Jensen di Jakarta Islamic Index
di Bursa Efek Indonesia”, Tesis, UIN-Malang.

[6] Sorensen, Miller dan Ooi, 2000, “The .


Decision Tree Approach to Stock Selection”,
The Journal of Portofolio Management, pg.
42-52.

[7] Sugiyono. 2008, Metodologi Penelitian


Bisnis, Bandung : Alfabeta.

[8] Sulisyani. 2001, Dasar-Dasar Teori Portofolio


dan Analisis Sekuritas, Edisi Ketiga,
Yogyakarta : UPP AMP YKPN.

Hal - 36 Vol. 3 No. 1 September 2013