Anda di halaman 1dari 3

TUGAS OB 3

TEMA:

Disusun oleh:

Dosen Pembimbing:
drg. Shanty Chairani, M.Si

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2018
RANGKUMAN

Periodontitis merupakan salah satu penyakit jaringan periodontal yang


sering terjadi, yang bermanifestasi sebagai reaksi peradangan kronik pada jaringan
pendukung gigi terhadap infeksi bakteri dan mengarah pada pendarahan giginya
serta meyebabkan kehilangan gigi. Beberapa literatur menyatakan bahwa
periodontitis tidak hanya menyebabkan pendarahan gingiva dan kehilangan gigi
tapi juga merupakan faktor resiko terhadap kondisi penyakit sistemik yang
berhubungan dengan peradangan kronik, termasuk penyakit paru seperti penyakit
paru obstruksif kronik (PPOK).

PPOK adalah penyakit infeksi pernafasan bawah yang dikarakteristikkan


dengan keterbatasan aliran udara yang ireversibel, yang biasanya progresif dan
disebabkan oleh respons peradangan paru yang tidak normal terhadap partikel atau
gas berbahaya. Terdapat beberapa faktor resiko yang sering dikaitkan dengan
insidensi PPOK, antara lain infeksi bakteri, merokok, serta kesehatan mulut yang
buruk yang cenderung dikaitkan dengan periodontitis.
Hubungan periodontitis terhadap tingkat keparahan PPOK masih terus
diteliti, seperti penelitian yang dilakukan Sharma et al. dan Si et al. Kedua penelitian
tersebut menggunakan pemeriksaan periodontal meliputi pengukuran kedalaman
poket (PD), clinical attachmet loss (CAL), indeks pendarahan (BI),20 dan indeks
plak (PI), kerusakan tulang alveolar (ABL), simplified oral hygiene index (OHI)
untuk mengukur keparah penyakit periodontal yang diderita pasien PPOK tersebut.
Pada penelitian Sharma et al. didapatkan hasil bahwa nilai rata-rata GI, PI, OHI,
PD, dan CAL lebih tinggi secara signifikan pada kelompok PPOK dibandingkan
kelompok kontrol. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa faktor lain seperti
status sosioekonomi pasien yang rendah dan kebiasaan merokok cenderung lebih
rentan terhadap penyakit periodontal.
Penelitian tersebut selaras dengan Si et al. yang melihat hubungan penyakit
periodontal terhadap prognosis PPOK menggunakan indeks kapasitas latihan
(BODE) yang meliputi BMI, obstruksi aliran udara, dispnea, dan kapasitas latihan.
Pasien dengan skor BODE yang lebih tinggi (fugsi paru buruk) secara signifikan
memiliki nilai rata-rata BI, AL, PI, ABL yang jauh lebih tinggi, dan jumlah gigi
yang lebih sedikit. Hal tersebut diperparah dengan kebiasaan merokok yang buruk
pada pasien PPOK.
Infeksi pernafasan bawah dimulai dengan adanya kontaminasi pada
epitelium aliran udara bawah oleh mikroorganisme. Kondisi rongga mulut yang
buruk, menyediakan nutrisi untuk patogen dan mempengaruhi sekresi cairan mulut
sehingga mengandung mikroorganisme patogen tinggi. Bakteri dalam rongga mulut
dapat teraspirasi bersamaan dengan patogen pernafasan dan kemudian
mempengaruhi perlekatan organisme ke epitelium pernafasan, yang kemudian akan
memperparah penyakit paru.
Kedua penelitian tersebut menyimpulkan bahwa terdapat korelasi positif
antara penyakit periodontal dan resiko berkembangnya penyakit PPOK, sehingga
promosi kesehatan mulut penting dilakukan dalam hal upaya pencegahan dan
perawatan PPOK.