Anda di halaman 1dari 8

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Anak merupakan manusia dengan berbagai kebutuhan dasar yang

harus dipenuhi. Kebutuhan anak sangat tergantung pada orang dewasa

disekitarnya terutama orang tua. Tingkat kebutuhannya sesuai dengan tahapan

pertumbuhan dan perkembangannya. Tahap pertumbuhan dan perkembangan

anak menurut Erikson dimulai pada bayi ( 0-1 tahun ), toddler ( 1-3 tahun ),

pra sekolah ( 3-5 tahun ), masa sekolah ( usia 6 tahun sampai pubertas )

(Santrock, 2007). Usia anak-anak sangat rentan untuk terjadinya suatu

penyakit yang salah satunya adalah penyakit pada sistem pernapasan.

(Williams, 2010).

Menurut Fida dan Maya ( 2012 ), hampir 80-90% kematian anak

terjadi akibat serangan ISPA dan Bronkopneumonia. Bronkopneumonia

adalah infiltrate yang tersebar pada kedua belahan paru. Dimulai pada

bronkiolus terminalis, yang menjadi tersumbat oleh eksudat mukopurulent

yang disebut juga “Lobular Pneumonia” (Riyadi & Suharsono, 2010). Angka

kejadian tertinggi dijumpai pada anak yang berusia kurang dari 4 tahun.

Peradangan dari proses penyakit bronkopneumonia dapat mengakibatkan

beberapa masalah keperawatan diantaranya adalah peningkatan produksi

sekret sehingga mengalami ketidakefektifan bersihan jalan napas, gangguan

pertukaran gas dan ketidakefektifan pola napas (Nurdin, 2011).

1
2

Masalah yang sering muncul pada anak bronkopneumonia yang

dirawat di rumah sakit adalah distress pernapasan yang ditandai dengan nafas

cepat, retraksi dinding dada, nafas cuping hidung, dan stridor (WHO, 2009).

Distress pernafasan merupakan kompensasi tubuh terhadap kekurangan

oksigen, karena kosentrasi oksigen yang rendah akan menstimulus syaraf

pusat untuk meningkatkan frekuensi pernapasan. Jika upaya tersebut tidak

terkompensasi maka akan terjadi gangguan status oksigenasi dari tingkat

ringan hingga berat bahkan sampai menimbulkan kegawatan.

Menurut World Health Organization (WHO) (2013) sekitar 800

hingga 1 juta anak dibawah umur 5 tahun meninggal dunia tiap tahun akibat

bronkopneumonia Di Indonesia bronkopneumonia merupakan penyebab

kematian nomor tiga setelah penyakit kardiovaskuler dan TB paru, dengan

penderita sebanyak 791 kasus pada tahun 2014, 802 kasus pada tahun 2015

dan 503.738 kasus pada tahun 2016, di Jawa Timur kasus bronkopneumonia

sebanyak 90.256 kasus pada tahun 2016 (Riskesdas ,2016). Berdasarkan studi

pendahuluan kejadian bronkopneumonia di RSUD Blambangan didapatkan

3 tahun terakhir yaitu, 250 kasus pada tahun 2015, 228 kasus pada tahun 2016,

dan 193 kasus pada tahun 2017. Pada bulan Januari 2018 didapatkan jumlah

anak penderita bronkopneumonia sebanyak 17 anak.

Mekanisme masuknya kuman penyebab bronkopneumonia masuk ke

dalam jaringan paru-paru melalui saluran pernafasan atas ke bronchiolus,

kemudian kuman masuk ke dalam alveolus ke alveolus lainnya melalui poros

kohn sehingga terjadi peradangan pada dinding bronchus atau bronchiolus dan

alveolus sekitarnya. Kemudian menyebar secara progresif dari hilus paru ke


3

perifer sampai seluruh lobus. Kuman cenderung berkembangbiak pada

permukaan sel mukosa saluran nafas. Odema dinding bronkus dan timbulnya

secret yang memenuhi saluran nafas dan alveoli (Bennete, 2013). Penimbunan

cairan di antara kapiler dan alveolus meningkatkan jarak yang harus ditempuh

oleh oksigen dan karbondioksida maka perpindahan gas ini dalam darah

paling berpengaruh dan sering mengakibatkan penurunan saturasi oksigen

hemoglobin (Price, 2009).

Pursed Lips Breathing (PLB) dapat digunakan untuk membantu

mengatasi ketidakefektifan bersihan jalan nafas pada anak dengan

bronkopneumoni. PLB bermanfaat untuk meningkatkan pengembangan

alveolus pada setiap lobus paru sehingga tekanan alveolus meningkat dan

dapat membantu mendorong sekret pada jalan nafas saat ekspirasi dan dapat

menginduksi pola nafas menjadi normal. (wong, 2008)

PLB dapat dianalogikan dengan bermain dan salah satu permainan

yang dapat digunakan adalah meniup tiupan lidah cara meniupnya

menggunakan teknik PLB yaitu dengan nafas dalam dan mengeluarkan atau

ekspirasi dengan meniupkan udara kedalam mainan sehingga terisi oleh udara,

terapi bermain meniup tiupan lidah merupakan permainan yang memerlukan

inspirasi dalam dan ekspirasi yang memanjang. Tujuan terapi ini adalah

melatih pernapasan yaitu ekspirasi menjadi lebih panjang dari pada inspirasi

untuk memfasilitasi pengeluaran karbondioksida dari tubuh yang tertahan

karena obstruksi jalan napas (Williams, 2010). Fungsi paru terutama ventilasi

paru sangat dipengaruhi oleh recoil dan compliance paru. Terapi meniup

tiupan lidah dapat meningkatkan kekuatan otot pernapasan sehingga akan


4

memaksimalkan recoil dan compliance paru sehingga fungsi paru akan

meningkat pula (Sherwood, 2015). Hal ini sesuai dengan teori yang

menyatakan bahwa latihan dapat meningkatkan kekuatan otot dan ventilasi

paru pasien asma, hal ini disebabkan karena latihan dapat menyebabkan

perangsangan pusat otak yang lebih tinggi pada pusat vasomotor di batang

otak yang menyebabkan peningkatan tekanan arteri dan peningkatan ventilasi

paru (Sherwood, 2015). Hal ini tentu berdampak pada proses difusi eksternal

maupun internal dan peningkatan status oksigenasi dalam tubuh.

Beberapa tindakan alternatif yang efektif untuk mengatasi masalah

tersebut adalah fisioterapi dada, yang sering disebut sebagai fisioterapi

konvensional yang meliputi postural drainage, vibrasi dan perkusi (Perry &

Potter, 2009; Hockenberry & Wilson, 2009). Alternatif lain untuk mengatasi

masalah tidak efektifnya bersihan jalan napas pada anak yaitu dengan

Expiratory Flow Increase Technique (EFIT), tindakan ini bertujuan untuk

menghilangkan dampak dari peningkatan produksi sekret pada anak-anak

dengan fibrosis kistik dan digambarkan sebagai sebuah teknik untuk

meningkatkan bersihan mukosiliar dan ventilasi alveolar. Teknik ini

digunakan untuk meningkatkan aliran ekspirasi secara fisiologis, yang

dilakukan oleh fisioterapis sehingga dapat membantu mendorong,

menggerakkan dan memindahkan sekret keluar dari jalan napas sehingga

status oksigenasi anak menjadi lebih baik. Mekanisme kerja EFIT adalah

meningkatkan aliran udara saat ekspirasi dengan tujuan mengaktifkan silia

pada saluran napas untuk mengevakuasi sekret yang ada pada jalan napas

menuju bronkeal dan trakhea (Almeida, et al 2005). Selain EFIT, Pursed Lips
5

Breathing (PLB) juga bisa digunakan sebagai alternatif untuk membantu

mengatasi tidak efektifnya bersihan jalan napas pada anak. Strategi ini dibuat

dengan tujuan untuk membantu pasien mengontrol pola napas, meningkatkan

ventilasi pola napas, meningkatkan mekanisme batuk efektif, mencegah

atelektasis, meningkatkan kekuatan otot pernapasan, meningkatkan relaksasi

dan mencegah terjadinya kekambuhan dan sesak napas (Dechman, 2008).

Namun pada kenyataannya menginstruksikan teknik PLB pada anak

usia prasekolah bukan merupakan hal yang mudah, biasanya anak sulit untuk

diajak kerjasama karena tindakan tersebut kurang menarik minat anak.

Melalui pendekatan atraumatic care, PLB dapat dianalogikan dengan aktivitas

bermain seperti meniup gelembung busa, balon, bola kapas, kincir kertas, dan

lain lain (Hockenberry & Wilson, 2009). Sesuai dengan penelitian Titin

(2011) aktivitas bermain meniup tiupan lidah berpengaruh terhadap status

oksigenasi (yaitu menurunkan frekuensi RR 8.1%, meningkatkan fekuensi HR

6,25% dan meningkatkan SaO2 5.43%) pada anak usia prasekolah dengan

pneumonia yang dirawat di RSI Jakarta. Dan diperkuat penelitian Kadek

(2017) menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara fungsi paru

sebelum dan sesudah dilakukan terapi Pursed Lips Breathing (PLB) : Meniup

balon pada anak prasekolah dengan asma di RSUD Salatiga. Pengukuran yang

digunakan untuk menilai keberhasilan teknik ini dengan menilai Respiratory

Rate (RR), Heart Rate (HR) dan saturasi oksigen (SaO2) dengan menggunkan

oksimetri.
6

1.2 Rumusan Masalah

Adakah Pengaruh aktivitas bermain meniup tiupan lidah terhadap

status oksigenasi pada anak usia prasekolah dengan bronkopneumonia di

ruang anak RSUD Blambangan Banyuwangi tahun 2018?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui pengaruh aktivitas bermain meniup tiupan

lidah terhadap status oksigenasi pada anak usia prasekolah

dengan bronkopneumonia di ruang anak RSUD Blambangan

Banyuwangi Tahun 2018.

1.3.2 Tujuan Khusus

1.3.2.1 Mengidentifikasi status oksigenasi pada anak usia

prasekolah dengan bronkopneumonia sebelum diberikan

perlakuan bermain meniup tiupan lidah di ruang anak

RSUD Blambangan Banyuwangi Tahun 2018.

1.3.2.1 Mengidentifikasi status oksigenasi pada anak usia

prasekolah dengan bronkopneumonia sesudah diberikan

perlakuan bermain meniup tiupan lidah di ruang anak

RSUD Blambangan Banyuwangi Tahun 2018.

1.3.2.3 Menganalisa pengaruh aktivitas bermain meniup tiupan

lidah terhadap status oksigenasi pada usia anak prasekolah


7

dengan bronkopenumonia di ruang anak RSUD

Blambangan Tahun 2018.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Teoritis

Penelitian ini secara teoritis diharapkan dapat memberikan

pengetahuan mengenai ilmu keperawatan anak dengan adanya

data-data yang menunjukan adanya pengaruh aktivitas bermain

meniup tiupan lidah terhadap status oksigenasi pada usia anak

prasekolah dengan bronkopenumonia di ruang anak RSUD

Blambangan Tahun 2018.

1.4.2 Manfaat Praktis

1.4.2.1 Bagi Profesi Keperawatan

Diharapkan peneliti ini memberikan masukan bagi profesi

dalam mengembangkan asuhan keperawatan yang akan

dilakukan tetang pengaruh aktivitas bermain meniup

tiupan lidah terhadap status oksigenasi pada usia anak

prasekolah dengan bronkopenumonia di ruang anak RSUD

Blambangan Tahun 2018.

1.4.2.2 Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai data dasar

dalam melaksanakan penelitian lebih lanjut yang berkaitan


8

dengan aktivitas bermain meniup tiupan lidah terhadap

status oksigenasi pada usia anak prasekolah dengan

bronkopenumonia, dan mengaplikasikan ilmu yang

diperoleh di kampus yang berhubungan dengan

metodologi penelitian dan asuhan keperawatan pada anak

prasekolah dengan bronkupneumonia, serta menambah

pengalaman dalam penyusunan skripsi.

1.4.2.3 Bagi Responden

Penelitian ini diharapkan dapat mempercepat proses

kesembuhan pada pasien dan dapat mengembalikan status

oksigenasi pasien kembali menjadi normal dengan teknik

Pursed Lips Breathing (PLB) dengan cara aktivitas

bermain meniup tiupan lidah.

1.4.2.4 Bagi Tempat Penelitian

Hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi pelayanan

keperawatan di ruang anak dalam memberikan asuhan

keperawatan. Perawat diharapkan dapat memberikan

terapi teknik Pursed Lips Breathing (PLB) sebagai

implementasi yang cocok pada pasien anak dengan

bronkopneumonia yang bertujuan untuk mengembalikan

status oksigenasi menjadi normal beserta implementasi

keperawatan dan medis lainnya.