Anda di halaman 1dari 7

SEJARAH DAN PEMIKIRAN AKUNTANSI SYARIAH

Sejarah lahirnya akuntansi syariah tidak lepas dari perkembangan agama Islam di Indonesia
maupun di dunia internasional. Ini ditandai dengan adanya kewajiban mencatat transaksi non
tunai yang tercantum dalam QS. Al-Baqarah: 282. Ini juga mendorong umat islam menjadikan
tradisi pencatatan ada di kalangan umat dan juga menjadi salah satu faktor yang mendorong
terciptanya kerjasama waktu itu.

 Perkembangan Awal Akuntansi

Akuntansi adalah bagian dari ilmu pasti yang perkembangannya bersifat akumulatif.
Setiap penemuan metode baru dalam akuntansi, dinilai dapat memperkaya ilmu akuntansi
tersebut. Akuntansi awalnya adalah buah pikir dari seorang ahli matematika seperti Luca
Paciolli dan Musa Al-khawarizmy.

Akuntansi dalam Islam adalah alat untuk melaksanakan perintah Allah yaitu dengan
melakukan pencatatan dalam kegiatan transaksi usaha. Islam memandang akuntansi tidak
hanya sekadar ilmu yang bebas nilai untuk melakukan pencatatan dan pelaporan saja, tetapi
juga sebagai alat untuk menjalankan nilai-nilai Islam (Islamic Values) sesuai ketentuan
syariah.

Sebenarnya Al-khawarizmy- lah yang memberikan kontribusi besar bagi perkembangan


matematika modern di Eropa. Akuntansi modern yang dikembangkan dari algebra dengan
konsep – konsep dasarnya untuk digunakan memcahkan persoalan pmebagian harta warisan
secara adil sesuai dengan syariah yang berdasar dari Al-Quran.

 Sejarah Akuntansi

Akuntansi adalah salah satu profesi tertua di dunia, dari sejak zaman prasejarah, keluarga
memiliki perhitungan tersendiri untuk mencatat makanan dan pakaian yang harus mereka
persiapkan dan mereka gunakan pada saat musim dingin. Ketika masyarakat mulai mengenal
adanya “perdagangan” maka pada saat itulah mereka telah mengenal konsep nilai (value) dan
mulai mengenal sistem moneter. Bukti tentang pencatatan (bookkeeping) tersebut dapat
ditemukan mulai dari kerajaan Babilonia (4500 SM), Firaun mesir dan kode-kode hammurabi
(2250 SM), sebagaimana ditemukan adanya kepingan pencatatan akuntansi di Ebla, Syiria
utara.

Akuntansi telah dimulai dari zaman pra sejarah, kita mengenal Luca Paciolli sebagai
bapak akuntansi modern, Paciolli adalah seorang ilmuan dan pengajar dibeberapa universitas
Tuscany-Italia. Ia adalah orang yang dianggap menemukan persamaan akuntansi untuk
pertama kali pada tahun 1494 dengan bukunya: Summa de Arithmatica Geometria et
Propotionalita (A Review of Arithmetic, Geometry and Proportions).

Menurut sejarahnya, kita mengetahui bahwa sistem pembukuan double entry muncul di
italia pada abad ke-13. Itulah catatan paling tua yang kita miliki mengenai sistem “Double
Entry” sejak akhir abad ke-13 itu.

Telah disebutkan diawal bab ini bahwa akuntansi sebagai bagian dari ilmu sosial,
memungkinkan terjadinya pengulangan diberbagai masyarakat, sehingga keterlibatan
akuntansi syariah dalam perkembangan akuntansi konvensional ataupun sebaliknya masih
diperdebatkan sampai saat ini.

 Perkembangan Akuntansi Syariah

Zaman Awal Perkembangan Islam

Pendeklarasian negara Islam di Madinah (tahun 622 M) atau bertepatan dengan tahun 1
H), sehingga seluruh kegiatan kenegaraan dilakukan bersama-sama dan gotong royong
dikalangan para Muslimin.

Telah menjadi tradisi bahwa bangsa Arab melakukan 2 kali perjalanan kafilah
perdagangan yaitu musim dingin dengan tujuan perdagangan ke Yaman dan musim panas
menuju ke Syam (sekarang Syiria, Lebanon, Jordania, Palestina, dan Israel)perdagangan
tersebut akhirnya berkembang hingga sampai ke eropa terutama setelah penaklukan mekkah.

Dalam perkembangan selanjutnya, ketika ada kewajiban zakat dan ‘ushr (pajak pertanian
dari muslim), dan perluasan wilayah sehingga dikenal adanya jizyah (pajak perlindungan dari
nonmuslim) dan kharaj (pajak penghasilan dari nonmuslim), maka Rasulullah mendirikan
Baitul Maal pada awal abad ke-7 konsep ini cukup maju pada zaman tersebut dimana seluruh
penerimaan dikumpulkan secara terpisah dengan pemimpin negara dan baru akan dikeluarkan
untuk kepentingan negara. Walaupun disebutkan pengelolaan baitul maal masih sederhana,
tetapi Nabi telah menunjuk petugas qadi, ditambah para sekretaris dan pencatat administrasi
pemerintah. Mereka ini berjumlah 42 orang dan dibagi dalam empat bagian yaitu : sekretaris
pernyataan, sekretaris hubungan dan pencatatan tanah, sekretaris perjanjian dan sekretaris
peperangan.

Zaman Empat Khaliafah

a. Abu Bakar Assidiq

Pada masa pemerintahan Abu Bakar, pengelolaan Baitul Maal masih sangat sederhana,
dimana penerimaan dan pengeluaran dilakukan secara seimbang, sehingga hampir tidak
pernah ada sisa.

b. Umar bin Khattab

Pada masa pemerintahan Umar bin Khattab sudah dikenalkan dengan istilah “Diwan”
yaitu tempat dimana pelaksana duduk, bekerja dan dimana akuntansi dicatat dan disimpan
yang berfungsi untuk mengurusi pembayaran gaji. Khalifah Umar menunjukkan bahwa
akuntansi berkembang dari suatu lokasi ke lokasi lain sebagai akibat dari hubungan antar
masyarakat. Selain itu Baitul Maal sudah diputuskan di daerah-daerah taklukan islam.

c. Utsman bin Affan

Pada masa pemerintahan khalifah Utsman, memperkenalkan tentang istilah khittabat al-
Rasull wa sirryaitu berarti memelihara pencatatan rahasia. Dalam hal pengawasan
pelaksanaan agama dan moral lebih difokuskan kepada muhtasib yaitu orang-orang yang
bertanggung jawab atas lembaga al hisbah, misalnya mengenai timbangan, kecurangan dalam
penjualan, orang yang tidak banyak hutang dan juga termasuk ke dalam perhitungan ibadah
bahkan termasuk memeriksa iman, dan juga masih banyak yang lain yang termasuk
perhitungan atau sesuatu ketidak adilan didunia ini untuk semua mahluk

d. Ali Bin Abi Thalib


Pada masa pemerintahan Ali yaitu adanya sistem administrasi Baitul Maal difokuskan
pada pusat dan lokal yang berjalan baik, surplus pada Baitul Maal dibagikan secara
profesional sesuai dengan ketentuan Rasulallah SAW. Adanya surplus ini menunjukkan
bahwa proses pencatatan dan pelaporan berlangsung dengan baik. Khalifah Ali memilki
konsep tentang pemerintahan, administrasi umum dan masalah-masalah yang berkaitan
dengannya secara jelas.

Jadi dapat disimpulkan bahwa akuntansi Islam adalah menyangkut semua praktik
kehidupan yang lebih luas tidak hanya menyangkut praktik praktik ekonomi dan bisnis
sebagaimana dalam sistem kapitalis. Akuntansi Islam sebenarnya lebih luas dari hanya
perhitungan angka, informasi keuangan atau pertanggung jawaban. Dia menyangkut semua
penegak hukum sehingga tidak ada pelanggaran hukum baik hukum sipil atau hukum yang
berkaitan dengan ibadah. Kalau ini yang kita anggap sebagai unsur utamanya akuntansi, maka
lebih compatible dengan sistem akuntansi Ilahiyah dan akuntansi Amal yang kita kenal dalam
Al-Quran atau lebih dekat dengan auditor dalam bahasa akuntansi kontemporer.

 Hubungan Akuntansi Modern dan Akuntansi Islam

Luca Paciolli sebagaimana telah diterangkan pada bagian sebelumnya, adalah seorang
ilmuwan sekaligus juga seorang pengajar dibeberapa universitas Italia seperti Venice, Milan,
Florence dan Roma. Untuk itu, beliau telah banyak membaca banyak buku termasuk buku
yang telah diterjemahkan.

Pada tahun 1429 M, angka Arab dilarang untuk digunakan oleh pemerintah Italia. Luca
Paciolli selalu tertarik untuk belajar tentang hal tersebut serta belajar dari Alberti seorang ahli
matematika yang belajar dari pemikir Arab dan selalu menjadikan karya Pisa sebagai rujukan.
Paciolli pergi dan bertemu dengan temannya Onofrio Dini Florence seorang pedagang yang
suka bepergian ke Afrika Utara dan Konstatinopel, sehingga diduga paciolli mendapat ide
tentang double entry tersebut dari temannya ini. Bahkan Alfred Lieber (1968) mendukung
pendapat tersebut bahwa memang ada pengaruh dari pedagang arab pada italia, walaupun arab
tidak hanya berarti muslim saja.

Penelitian tentang sejarah dan perkembangan akuntansi memang perlu dikaji lebih dalam
lagi mengingat masih dipertanyakan bukti-bukti autentik tentang hal tersebut.
 Beberapa istilah dalam akuntansi syariah::
1. Al- Jaridah adalah buku untuk mencatat transaksi, dan Al Jaridah perlu di-cap dengan
stempel Sultan, Al Jaridah sendiri sudah ada ketika masa Daulah Bani Umayyah dan
dikembangkan ketika Daulah Bani Abbasiyah dengan beberapa bentuk jurnal khusus seperti
berikut :
a. Jaridah Al-Kharaj diguanakan untuk berbagai jenis zakat seperti pendapatan yang
berasal dari tanah, tanaman, dan binatang ternak.
b. Jaridah Annafakat digunakan untuk mencatat jurnal pengeluaran.
c. Jaridah Al-Maal digunakan untuk mencatat jurnal pendanaan yang berasal dari
penerimaan dan pengeluaran zakat.
d. Jaridah Al-Musadereen digunakan untuk mencatat jurnal pendanaan khusus berupa
perolehan dana dari individu yang tidak harus taat dengan hukum islam seperti : non
muslim.
2. Daftar Al Yaumiah (buku harian/dalam bahasa persia ruznamah). Daftar tersebut digunakan
sebagai dasar untuk pembuatan Ash-Shahed (journal voucher). Journal voucher adalah
tanggung jawab Al Kateb dan disetujui oleh pimpinan Diwan dan Menteri.
Bentuk umum dari Daftar diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Dafatr Attawjihat : buku yang digunakan untuk mencatat anggaran pembelanjaan. Baik
berbentuk Mukarriyah (anggaran operasional) maupun Itlakiyah (anggaran untuk
posdikresi dari raja).
b. Daftar Attahwilat : buku yang digunakan untuk mencatat keluar masuknya dana antara
wilayah dan pusat pemerintahan.

Al-Khawarazmy membagi beberapa jenis daftar sebagai berikut :

a. Kaman al-Kharadj yang adalah dasar-dasar survei.


b. Al-Awardj menunjukkan daftar utang perindividu beserta daftar pembayaran cicilan.
c. Al-Ruznamadj atau buku harian yaitu melakukan pencatatan untuk pembayaran dan
penerimaan setiap hari.
d. Al-Khatma adalah laporan pendapatan dan pengeluaran per bulan.
e. Al-Khatma Al-Djami’a adalah laporan tahunan.
f. Al-Ta’ridj adalah tambahan catatan untuk menunjukkan katagori secara keseluruhan.
g. Al-Arida adalah tiga kolom jurnal yang totalnya terdapat dikolom ketiga.
h. Al-bara’a adalah penerimaan pembayaran dari pembayar pajak.
i. Al-Muwafaka wal-djama’a adalah akuntansi yang komprehensif disajikan oleh ‘amil,
apabila hasilnya benar maka akan ditandatangani oleh muwafaka, sedangkan apabila
terdapat perbedaan disebut dengan muhasaba.

Sedangkan orang yang memperkenalkan istilah daftar kepada tentara adalah Abu Muslim
yang pada akhirnya menjadi pedoman dimasa dinasti Abbasiyah. Namun demikian, ada
perbedaan dengan sistem regular yang diusulkan oleh Al-Khawarizmy. Pembagian akuntansi
untuk kantor militer (Diwab Al-Djaysh), Al-Khawarizmy membagi menjadi :

a. Al-Djaria Al-Sawda adalah daftar nama prajurit, silsilah, asal suku, dan deskripsi fisik
yang selalu disiapkan setiap tahun.
b. Radj’a adalah daftar permintaan yang dikeluarkan oleh mu’ti (pimpinan) utuk tentara
tertentu di daerah terpencil.
c. Al-Radj’a Al-Djami’a adalah permintaan umum yang dikeluarkan oleh mu’ti untuk akun
umum (tama’).
d. Al-Sakk, permintaan persediaan untuk akun umum yang menunjukkan pembayaran
dengan nomor dan jumlah serta tanda dari pihak yang memiliki otoritas.
e. Al-Mud’mara permintaan persediaan yang dikeluarkan selama periode akun umum.
f. Al-Istikrar adalah persediaan setelah dilakukan pembayaran.
g. Al-Muwasafa adalah daftar yang menunjukkan lingkungan dan penyebab terjadinya
perubahan pada lingkungan.
h. Al-Djarida Al-Musadjadjala adalah register yang tersegel.
i. Al-Fihrist adalah daftar persediaan yang terdapat pada diwan.
j. Al-Dastur copy umum atas beberapa draf.

3. Beberapa jenis laporan keuangan diantaranya :


a. Al Khitmah adalah laporan yang dibuat setiap akhir bulan yang menunjukkan total
penerimaan dan pengeluaran. Walaupun digunakan untuk laporan bulanan pemerintah
juga bisa digunakan oleh para pedagang dengan tujuan untuk mengetahui besarnya
keuntungan sebagai dasar perhitungan zakat.
b. Al Khitmah Al Jameeah adalah laporan yang disiapkan oleh Al Khateb tahunan dan
diberikan kepada atasannya berisi : pendapatan, beban dan surplus/defisit setiap akhir
tahun.
c. Dalam perhitungan dan laporan zakat akan dikelompokkan pada laporan keuangan
terbagi dalam 3 kelompok, yaitu :
1. Ar-Raj Minal Mal (yang dapat tertagih)
2. Ar-Munkasir Minal Mal (piutang tidak dapat tertagih)
3. Al Muta’adhir Wal Mutahayyer wal Muta’akkid (piutang yang sulit dan piutang
bermasalah sehingga tidak tertagih).

Pada perhitungan zakat, utang diklasifikasi menjadi tiga berdasarkan kemampuan bayar, yaitu:

a. Arra’ej Minal Maal (collectible debts)


b. Al Munkase Minal Mal (uncollectible debts)
c. Al Muta’adher wal Mutahayyer (complicated atau doubful debts).