Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM BOTANI DAN FARMAKOGNOSI

PRAKTIKUM I
MORFOLOGI DAUN, BATANG, AKAR, DAN RHIZOMA

Hari, Tanggal Praktikum : Kamis, 29 Maret 2018

Nama Pratikan : Kelompok 3


Kelas B2A
A.A Ngurah Pradipta Dwipayana (172200068)
Ni Luh Putu Yoni Apsari (172200069)
Ni Kadek Ayu Dita Arini (172200070)
Dewa Ayu Made Dwi Desy Ari (172200071)
Ni Made Yudi Trisna Dewi (172200072)
I Wayan Adi Putra Tanaya (172200073)
I Wayan Sudiarsa (172200074)

Nama dosen jaga :


I Gusti Ngurah Agung Windra Wartana Putra, S.Farm., M.Sc., Apt

PRAKTIKUM BOTANI DAN FARMAKOGNOSI


PROGRAM STUDI FARMASI KLINIS
INSTITUT ILMU KESEHATAN MEDIKA PERSADA
2018
PRAKTIKUM I
MORFOLOGI DAUN, BATANG, AKAR, DAN RHIZOMA

I. Tujuan Praktikum
1. Mampu menjabarkan klasifikasi taksonomi tumbuhan yang digunakan.
2. Mengenal dan menentukan ciri-ciri/karakter morfologi daun, batang, akar, dan
rhizoma :
a. Mampu menentukan bagian-bagian yang ada pada daun, mengidentifikasi daun
pada bagian ujung, pangkal, tepi, tulang daun, warna daun, dan permukaan
daun.
b. Mampu menentukan bagian-bagian yang ada pada batang, mengidentifikasi
bentuk batang, jenis batang, percabangan batang.
c. Mampu menentukan bagian-bagian yang ada pada akar, mengidentifikasi
sistem perakaran.
d. Mampu menentukan bagian-bagian yang ada pada rhizoma.

II. Dasar Teori


A. Daun
2.1 Pengertian Daun
Daun sebenarnya adalah batang yang telah mengalami modifikasi yang
kemudian berbentuk pipih dan juga terdiri dari sel-sel dan jaringan seperti yang
terdapat pada batang. Perbedaannya, batang mempunyai pertumbuhan yang tidak
terbatas, sedangkan daun mempunyai pertumbuhan terbatas, yang segera berhenti
tumbuh, berfungsi untuk beberapa musim lalu gugur (Tjitrosomo, 1983).
Organ pembuat makanan ini berbentuk pipih lebar, agar dapat melaksanakan
tugas utamanya, yaitu fotosintesis, seefektif-efektifnya. Bagian daun yang
menempel pada batang disebut pangkal daun. Daun dapat mempunyai tangkai
daun (petiolus) atau tidak. Daun tanpa tangkai ini disebut daun duduk (sessilis).
Bagian yang pipih lebar disebut helaian daun (lamina). Pada tanaman monokotil
pangkal daun pipih lebar dan membungkus batangnya. Bagian ini disebut pelepah
daun. Contohnya terdapat pada pisang, rumput, tebu. Pada tumbuhan dikotil
pangkal daun sering membengkak dan diapit oleh dua helai daun kecil yang
biasanya lekas tanggal sehingga hanya tinggal bekasnya pada batang. Daun kecil
ini disebut daun penumpu (stipula). Pada ercis daun penumpu lebar dan membantu
dalam fotosintesis (Tjitrosomo, 1983).
Bentuk daun pada dasarnya dinyatakan berdasarkan bentuk dari helaiannya
tanpa dipengaruhi oleh ada tidaknya torehan pada tepi daun. Istilah untuk
menyatakan bentuk daun tersebut biasanya digunakan kata-kata yang umum untuk
menyatakan bentuk suatu benda. Selain bentuk helaian daun, apeks dan pangkal
daun juga memperlihatkan bentuk yang beraneka ragam (Kusdianti, 2013).
Helaian daun ditopang oleh rangka daun yang disusun oleh tulang daun.
Tulang daun mengandung jaringan pembuluh (xilem dan floem) yang menyalurkan
air ke daun dan hasil-hasil fotosintesis dari daun. Sistem pertulangan daun ada tiga
tipe: pertulangan sejajar pada tumbuhan monokotil, pertulangan bersisip pada
tumbuhan dikotil, dan pertulangan dikotom pada paku-pakuan (Tjitrosomo, 1983).
Berdasarkan susunan daunnya, daun dibedakan menjadi daun tunggal dan daun
majemuk. Daun tunggal adalah daun yang memiliki satu daun pada setiap
tangkainya, sedangkan daun majemuk adalah daun yang memiliki beberapa (lebih
dari satu) daun pada satu tangkainya (Kusdianti, 2013).
Oleh karena setiap anak daun dari daun majemuk memiliki karakteristik yang
sama dengan daun tunggal, kadang-kadang sulit dibedakan antara daun tunggal
dengan anak daun dari daun majemuk, khususnya bila anak daun tersebut
berukuran besar. Di bawah ini adalah dua hal yang dapat dijadikan dasar
perbedaan antara daun tunggal dengan anak daun dari daun majemuk, yaitu:
(Kusdianti, 2013)
1. Pada ketiak daun tunggal terdapat tunas aksilar, sedangkan pada ketiak anak
daun dari daun majemuk tidak ada tunas aksilar.
2. Daun tunggal menempati bidang tiga dimensi pada batang atau dahan,
sedangkan anak daun dari daun majemuk menempati satu bidang.

2.2 Daun Tunggal


2.2.1. Bentuk Daun
Secara umum bentuk daun sangat bervariasi. Berdasarkan letak bagian
daun yang terlebar maka dapat kita bedakan ke dalam 4 golongan sebagai
berikut (Tjitrosoepomo, 1985)
1. Bagian daun terlebar berada di tengah-tengah helai daun
Daun dengan bagian daun terlebar berada di tengah-tengah helai daun.
 Bulat , bentuk daun disebut bulat (orbiculate) jika perbandingan
panjang : lebar = 1 : 1. Tangkai daunnya terdapat di bagian tepi, tidak
tertanam pada bagian helai daun. Daun teratai termasuk dalam kategori
ini berbentuk bulat, seperti tampah.
 Perisai (peltate), bentuk daun disebut perisai jika helai daunnya bulat
dan tangkai daunnya tertanam di bagian tengah helai daun. Contoh
daunya yaiu daun jarak.
 Jorong (elliptic), bentuk daun disebut jorong jika bagian daun terlebar
berada di tengah helai daun dan perbandingan panjang : lebar = 1,5
sampai 2. Daun nangka termasuk berbentuk jorong.
 Memanjang (oblong), bentuk daun disebut memanjang jika bagian daun
terlebar berada di tengah helai daun dan perbandingan panjang : lebar =
2.5 sampai 3. Daun srikaya termasuk berbentuk memanjang.
 Lanset , bentuk daun disebut lanset jika bagian daun terlebar berada di
tengah helai daun dan perbandingan panjang dan lebar = 3 sampai 5.
Daun kamboja termasuk dalam kriteria yang berbentuk lanset
(lanceolate)

Bentuk daun dengan bagian terlebar berada di tengah

2. Bagian daun terlebar terletak di bagian bawah, antara tengah daun,


pangkal daun tidak bertoreh/ berlekuk
Daun yang termasuk golongan ini berbentuk, seperti berikut :
a) Bulat telur (ovate), misalnya pada daun kembang sepatu.
b) Segitiga (triangulate), misalnya bunga pukul empat.
c) Delta (deltoid), misalnya pada bunga air mata pengantin.
d) Belah ketupat (rombhic), misalnya pada anak daun bengkuang
Bentuk daun dengan bagian terlebar berada di tengah

3. Bagian daun terlebar terletak di bagian bawah, pangkal daun bertoreh


Daun yang termasuk golongan ini berbentuk, seperti berikut.
a) Jantung (cordate), berbentuk bulat telur dengan ujung lancip dan
pangkal daun berlekuk, misalnya pada daun waru.
b) Ginjal (reniform), daun dengan ujung daun tumpul, pangkal
berlekuk, seperti ginjal, misalnya pada daun pagagan/tapal kuda.
c) Anak panah (sagittate), bagian ujung daun lancip, bagian pangkal
dengan lekukan yang lancip, misalnya pada daun eceng (Sagittaria
sagittifolia L.).
d) Tombak (hastate), bagian ujung daun runcing, sedangkan bagian
pangkalnya mendatar, misalnya pada daun wewehan (Monochoria
hastata Solms).
e) Bertelinga (auriculate), seperti bentuk tombak, tetapi pangkal daun
di sebelah kiri dan kanan membulat, misalnya pada daun
tempuyung.

Bentuk daun terlebar terletak di bagian bawah, pangkal daun bertoreh


4. Bagian daun terlebar terletak di bagian atas, antara tengah daun dan
ujung daun.
Daun dengan bagian helai daun terlebar di bagian atas tengah-tengah
helai daun yaitu berbentuk :
a) Bulat telur terbalik, contohnya daun sawo kecil
b) Jantung terbalik, contohnya daun smanggi gunung
c) Segitiga terbalik, contohnya daun semanggi
d) Sudip , contohnya daun tapak liman
e) Lanset terbalik

Bentuk Daun Terlebar terletak di Bagian Atas, antara Tengah Daun dan Ujung daun.

5. Bagian daun merata, tidak ada bagian daun yang terlebar.


Bentuk daun yang mempunyai helai daun dari bagian pangkal
hingga ke ujung lebarnya sama atau merata umum dijumpai pada
tumbuhan monokotil. Macam-macam bentuk daun ini adalah berbentuk
pita, berbentuk pedang , berbentuk agak silindris (seperti jarum)

2.2.2. Pangkal Daun (Basis Folii)


Pangkal daun merupakan bagian helaian daun yang berhubungan
langsung dengan tangkai daun. Pangkal yang terdapat di kiri-kanan tangkai
daun, baik berlekatan atau tidak, dapat dibedakan menjadi sedikitnya enam
macam yaitu: (Rosanti, 2013)
a. Runcing (acutus), biasanya terdapat pada bangun memanjang, lanset
dan belah ketupat.
b. Meruncing (acuminatus), biasanya terdapat pada bangun bulat telur.
c. Tumpul (obtusus), biasanya terdapat pada bangun bulat telur.
d. Membulat (rotundatus), terdapat pada bangun bulat telur dan jorong.
e. Rompang/rata (truncatus), terdapat pada bangun segitiga, delta dan
tombak.
f. Berlekuk (emarginatus), terdapat pada bangun jantung, ginjal dan anak
panah.

Bentuk pangkal daun


2.2.3. Ujung Daun (Apex Folii)
Ujung daun merupakan puncak daun, dimana letaknya paling jauh dari
tangkai daun. Ujung daun memiliki bentuk yang beraneka ragam, antara
lain: (Rosanti, 2013).
a. Runcing (acutus). Ujung daun mengecil dan menyempit di kiri dan
kanan secara bertahap dan membentuk sudut kurang dari 90°.
b. Meruncing (acuminatus). Hampir mirip dengan ujung runcing, namun
titik pertemuan tidak menyempit secara bertahap, tetapi memilki jarak
yang cukup tinggi pada akhir bagian ujung tersebut.
c. Tumpul (obtusus). Bila tulang daun yang berjarak jauh tiba-tiba
menyempit lalu membentuk sudut lebih besar dari 90°, maka ujung
daun tersebut dikatakan tumpul.
d. Membulat (rotundatus). Ujung daun tidak membentuk sudut sama
sekali.
e. Rompang (truncatus) ujung daun seperti garis.
f. Terbelah (retusus). Ujung daun memperlihatkan suatu lekukan.
g. Berduri (mucronatus), ujung daun ditutup oleh duri.

Bentuk ujung daun


2.2.4. Tepi Daun (Margo Folii)
Tepi daun hanya dibedakan dalam dua macam yaitu tepi yang rata
(integer) dan yang tidak rata. Tepi daun yang tidak rata disebut juga tepi
daun yang bertoreh (divisus) atau berlekuk (Rosanti, 2013).
2.2.5. Daging Daun (Intervenium)
Daging daun berbeda-beda, ada yang berdaging tebal dan ada yang
berdaging tipis. Karena itulah daging daun dapat dibedakan menjadi:
(Rosanti, 2013)
a. Tipis seperti selaput (membranaceus). Daging daun jenis ini mudah
sekali robek, karena berbentuk seperti sayap capung.
b. Tipis seperti kertas (papyraceus). Meskipun berdaging tipis,
strukturnya tegar dengan helaian daun yang tidak mudah robek. Bila
diremas, helaian daun akan kembali ke bentuk semula.
c. Tipis lunak (herbaceous). Daun yang memiliki daging tipis lunak
biasanya helaian daun banyak mengandung air.
d. Kaku (perkamenteus). Daging daun yang kaku. Meskipun kaku, daging
daun hampir sama tipis dengan daun berdaging seperti kertas.
e. Seperti kulit (coriaceus). Daging daun seperti kulit cukup tebal, kaku
dan keras tapi tidak berair.
f. Berdaging (carnosus). Struktur daging daun ini sangat tebal dan
mengandung air.
2.2.6. Pertulangan Daun (Nervatio)
Berdasarkan posisi tulang-tulang cabang terhadap ibu tulang daunnya,
sistem pertulangan daun dibedakan menjadi: (Rosanti, 2013)
a. Bertulang melengkung (cervinervis). Letak tulang cabang perpaduan
antara tulang daun menyirip dan menjari, yaitu terletak di kiri kanan
ibu tulang daun, hampir terpencar dari satu titik di pangkal daun,
namun tulang cabang tumbuh mengikuti arah tumbuh tepi daun menuju
satu titik di ujung daun.
b. Bertulang lurus/sejajar (rectinervis). Posisi tulang cabang terletak di
kiri-kanan ibu tulang daun. Arah tumbuh tulang cabang sejajar dengan
arah tumbuh ibu tulang daun.
c. Bertulang menjari (palminervis). Pada sistem pertulangan ini, tulang-
tulang cabang berpencar pada satu titik di pangkal ibu tulang daun
d. Bertulang menyirip (penninervis). Pada sistem tulang daun menyirip,
posisi tulang-tulang cabang tersusun di sebelah kanan dan kiri ibu
tulang daun.
e. Bertulang daun dikotom, tulang cabang daun bercabang dua, dan
cabang tersebut dapat bercabang dua lagi.
Daun bertulang menyirip dan menjari umumnya terdapat pada
tumbuhan dikotil, sedangkan daun bertulang melengkung dan sejajar
umumnya ditemukan pada tumbuhan monokotil (Rosanti, 2013).

Susunan tulang daun

2.2.7. Permukaan Daun


Permukaan daun dapat ditentukan dengan alat peraba (tangan). Ada
beberapa jenis permukaan daun, yaitu: (Rosanti, 2013)
a. Licin (laevis), dimana permukaan daun terlihat mengkilat atau berlapis
lilin.
b. Gundul (glaber), bila tidak ditemukan stuktur apapun pada permukaan
daun.
c. Berkerut (rugosus), terdapat kerutan pada permukaan daun.
d. Berbulu (pilosus), terdapat struktur bulu pada permukaan daun.
e. Bersisik (lepidus), terdapat struktur sisik mengkilat di permukaan
daun.
2.2.8. Warna Daun
Walaupun umum bahwa daun itu biasanya berwarna hijau, tetapi tak
jarang pula kita jumpai daun yang warnanya tidak hijau, lagipula warna
hijau pun dapat memperlihatkan banyak variasi atau nuansa. Sebagai
contoh antara lain: (Tjitrosoepomo, 2011).
a. Merah, misalnya daun bunga buntut bajing (Acalypha wilkesiana).
b. Hijau bercampur atau tertutup warna merah, misalnya bermacam-
macam daun puring (Codiaeum variegatum).
c. Hijau tua, misalnya daun nyamplung (Colophyllum inophyllum).
d. Hijau kekuningan, misalnya daun tanaman guni (Corchorus cap-
sularis).

2.3 Daun Majemuk


Pada suatu daun majemuk dapat kita bedakan bagian-bagian berikut:
(Tjitrosoepomo, 2011)
a. Ibu tangkai daun (petiolus communis), yaitu bagian daun majemuk yang
menjadi tempat duduknya helaian-helaian daunnya, yang disini dinamakan
masing-masing anak daun.
b. Tangkai anak daun (petiololus), yaitu cabang-cabang ibu tangkai yang
mendukung anak daun.
c. Anak daun (foliolum), bagian ini sesungguhnya adalah bagian-bagian helaian
daun yang karena dalam dan besarnya toreh menjadi terpisah-pisah.
d. Upih daun (vagina), yaitu bagian di bawah ibu tangkai yang lebar dan biasanya
memeluk batang, seperti dapat kita lihat pada daun pinang (Areca catechu).
Menurut susunan anak daun pada ibu tangkainya, daun majemuk dapat di
bedakan dalam dua golongan, yaitu: (Tjitrosoepomo, 2011)
1. Daun majemuk menyirip (pinnatus), jika anak daun tersusun seperti sirip pada
kanan kiri ibu tangkainya.
2. Daun majemuk menjari (palmatus).
3. Daun majemuk bangun kaki (pedatus).
4. Daun majemuk campuran (digitato pinnatus).

Bagian-bagian daun majemuk

B. Batang
2.1 Pengertian Batang
Batang merupakan sumbu dengan daun yang melekat padanya. Di ujung
sumbu titik tumbuhnya, batang dikelilingi oleh daun muda dan menjadi terminal.
Di bagian batang yang lebih tua, yang daunnya saling berjauhan, nodus tempat
daun melekat pada batang dapat dibedakan dari ruas, yakni bagian batang di antara
dua buku yang berturutan. Di ketiak daun biasanya terdapat tunas ketiak.
Bergantung pada pertumbuhan ruas dapat dibedakan beberapa macam bentuk
tumbuhan. Batang bisa memperlihatkan sumbu yang memanjang dengan buku dan
ruas yang jelas. Sebaliknya, batang dapat juga amat pendek dan letak daunnya
merapat membentuk roset. Taraf percabangan yanng terjadi jika tunas ketiak
tumbuh menjadi ranting menambah keragaman bentuk. Berkaitan dengan habitat
tumbuh dibedakan batang yang tumbuh dibawah tanah, di dalam air atau di darat.
Batang juga ada yang tegak, memanjat atau merayap. Ragam lain adalah susunan
daun pada batang, ada atau tidak adanya tunas ketiak yang tumbuh menjadi
cabang, serta taraf percabangan bila ada (Tjitrosoepomo, 2011).
Batang bagian tubuh tumbuhan yang amat penting, dan mengingat tempat serta
kedudukan batang bagi tumbuhan. Batang dapat disamakan dengan sumbu tubuh
tumbuhan. Pada umumnya batang mempunyai sifat-sifat seperti berikut
(Tjitrosoepomo, 2011) :
1. Umumnya berbentuk panjang bulat seperti silinder atau dapat pula mempunyai
bentuk lain. Akan tetapi selalu bersifat aktinomorf, artinya dapat dengan
sejumlah bidang dibagi menjadi dua bagian yang setangkup.
2. Terdiri atas ruas-ruas yang masing-masing dibatasi oleh buku-buku dan pada
buku-buku inilah terdapat daun.
3. Tumbuhnya biasanya keatas, menuju cahaya atau matahari.
4. Selalu bertambah panjang diujungnya oleh sebab itu sering dikatakan bahwa
batang mempunyai pertumbuhan yang tidak terbatas.
5. Mengadakan percabangan dan selama hidupnya tumbuhan tidak digugurkan
kecuali kadang-kadang cabang atau ranting yang kecil.
6. Umumnya tidak berwarna hijau, kecuali tumbuhan yang umurnya pendek
misalnya rumput dan waktu batang masing muda.
Sebagian dari bagian tumbuh-tumbuhan batang mempunyai tugas untuk
(Tjitrosoepomo, 2011) :
1. Mendukung bagian-bagian tumbuhan yang ada di atas tanah yaitu: daun,
bunga, dan buah.
2. Dengan percabangannya memperluas bidang asimilasi dan menempatkan
bagian-bagian tumbuhan di dalam ruang sedemikian rupa, sehingga dari segi
kepentingan tumbuhan bagian-bagian tadi terdapat dalam posisi yang posisi
yang paling menguntungkan.
3. Jalan pengangkutan air dan zat-zat makanan dari bawah ke atas dan jalan
pengangkutan hasil-hasil asimilasi ke atas ke bawah.
4. Menjadi tempat penimbunan zat-zat cadangan makanan.
Jika kita membandingkan berbagai jenis tumbuhan ada di antaranya yang jelas
kelihatan batangnya, tetapi ada pula yang tampaknya tidak berbatang. Oleh sebab
itu kita membedakan (Tjitrosoepomo, 2011) :
1. Tumbuhan yang tidak berbatang (Planta acaulis). Tumbuh-tumbuhan yang
benar tidak berbatang sesungguhnya tidak ada hanya tampaknya saja tidak ada.
Hal itu disebabkan karena batang amat pendek, sehingga semua daunnya
seakan-akan keluar dari bagian atas akarnya dan tersusun rapat satu sama lain
merupakan suatu rosert, misalnya lobak (Raphanus sativus L.), sawi (Brassica
juncea L.). Tumbuhan semacam ini akan memperlihatkan batang dengan nyata
pada waktu berbunga. Dari tengah-tengah roset daun akan muncul batang yang
tumbuh cepat dengan daun-daun yang jarang-jarang, bercabang-cabang, dan
mendukung bunga-bunganya.
2. Tumbuhan yang jelas berbatang, batang tumbuhan dapat dibedakan seperti
berikut :
a. Batang basah (herbaceus), yaitu batang yang lunak dan berair misalnya
pada bayam (Amaranthus spinosus L), krokot (Portulaca oleracea L).
b. Batang berkayu (lignosus), yaitu batang yang biasa keras dan kuat, karena
sebagian besar terdiri atas kayu, yang terdapat pada pohon-pohon dan
semak-semak pada umumnya. Pohon adalah tumbuhan yang tinggi besar,
batang berkayu dan bercabang jauh dari permukaan tanah, sedang semak
adalah tumbuhan yang tak seberapa besar, batang berkayu, bercabang-
cabang dekat permukaan tanah atau malahan dalam tanah. Contoh mangga
(Mangifera indica L), sidaguri (Sida rhombifolia L).
c. Batang rumput (calmus), yaitu batang yang tidak keras mempunyai ruas-
ruas yang nyata dan seringkali berongga misalnya pada padi (Oryza sativa
L) dan rumput (Gramineae) pada umumnya.
d. Batang mendong (calamus), seperti batng rumput tetapi mempunyai ruas-
ruas yang lebih panjang, misalnya pada mendong (Fimbristylis globulosa
Kunth.), wlingi (Scirpus grassu L.) dan tumbuhan sebangsa teki
(Cyperaceae), lainnya.
Bentuk batang pada umumnya bula, meskipun demikian beberapa tumbuhan
memiliki bentuk batang yang tidak bulat. Bentuk batang menjadi kunci dalam
determinasi dan mengklasifikasi tumbuhan. Pada tumbuh-tumbuhan yang
tergolong pada kelas monokotil biasanya mempunyai batang yang dasarnya
dianggap tidak berubah dari pangkal sampai ke ujung. Sedangkan pada tumbuh-
tumbuhan yang tergolong kelas dikotil bentuk batang pada umumnya mengecil
pada bagian atas, yang dianggap sebagai suatu kerucut sesuai dengan pertumbuhan
ujung batang dan cabang-cabangnya. Bentuk batang sendiri biasanya dilihat dari
penampang melintangnya. Berdasarkan hal ini, bentuk batang tumbuhan
dibedakan yaitu bulat, bersegi, dan pipih. Batang bulat jika penampang
melintangnya menunjukkan bangun lingkaran. Batang bulat dapat ditemukan pada
kebanyakan tumbuhan seperti pada batang bambu. Pada batang bersegi,
penampang melintang batang menunjukkan bangun segitiga dan segi empat.
Batang segitiga dapat ditemukan pada jenis-jenis teki (Cyperus sp). Tumbuhan
berbatang segi empat dapat ditemukan pada tumbuhan markisa (Passiflora
quadrangularis), anggur (Vitis sp), dan sebagainya. Untuk batang pipih,
penampang melintang batang yang terlihat biasanya berbentuk elips atau setengah
lingkaran. Batang pipih biasanya selalu melebar menyerupai daun, sehingga
mengambil alih tugas daun pula. Batang yang bersifat demikian dinamakan
filokladia (Phyllocladium) dan kladodia (Cladodium). Batang bersifat filokladia
jika bentuk batang sangat pipih dan mempunyai pertumbuhan yang terbatas,
misalnya pada jakang. Sedangkan batang bersifat kladodia, jika batang masih
tumbuh terus dan mengadakan percabangan, misalnya dari jenis-jenis kaktus.
(Rosanti, 2013)

2.2 Arah Tumbuh Batang


Walaupun batang umumnya tumbuh ke arah cahaya, menjauhi tanah
dan air, tetapi arahnya dapat memperlihatkan beberapa variasi, sehingga arah
tumbuh batang dibedakan menjadi (Rosanti, 2013) :
1. Tegak lurus (erectus)
Yaitu jika arahnya lurus ke atas. Batang tegak lurus biasanya tidak
bercabang, misalnya pepaya (Carica papaya L.), kelapa (Cocos nosifera)
dan beberapa jenis cemara.
2. Menggantung (dependens, pendulus)
Batang seperti ini hanya dimiliki oleh tumbuh-tumbuhan yang tumbuhnya
di lereng-lereng atau tepi jurang, misalnya Zebrina pendula atau tumbuh-
tumbuhan yang hidup di atas pohon sebagai epifit misalnya jenis anggrek
(Orchidaceae) tertentu.
3. Berbaring (humifusus).
Batang ini terletak pada permukaan tanah, hanya ujungnya saja yang
sedikit membengkok ke atas misalnya pada semangka (Citrillus vulgaris).
Kadang-kadang batang berbaring diberikan penunjang dari kayu, kawat,
atau besi agar bisa tumbuh ke atas.
4. Menjalar atau merayap (repens).
Batang menjalar hampir sama dengan batang berbaring, yang membedakan
terletak dari buku-bukunya yang mengeluarkan akar, sehingga dapat
tumbuh menjadi tunas. Batang menjalar dapat ditemukan pada kangkung
(Ipomoea crassicaulis), ubi jalar (Ipomoea batatas) dan sebagainya.
5. Serong ke atas atau condong (ascendens).
Pangkal batang seperti hendak berbaring, tetapi bagian lainnya lalu
membelok ke atas, misalnya pada kacang tanah (Arachis hypogaea).
6. Mengangguk (nutans).
Batang ini tumbuh tegak lurus ke atas, tetapi ujungnya lalu membengkok
kembali ke bawah seperti mengangguk. Contoh batang mengangguk dapat
dilihat pada bunga matahari (Helianthus annuus).
7. Memanjat (scandens).
Yaitu jika batang tumbuh ke atas dengan menggunakan penunjang.
Penunjang dapat berupa benda mati ataupun tumbuhan lain, dan pada
waktu naik ke atas batang menggunakan alat-alat khusus untuk
berpegangan pada penunjangnya ini, misalnya dengan akar pelekat,
contohnya pada sirih (Piper bettle) dan arisema (Arisaema sp.).
8. Membelit (volubilis).
Berbeda dengan batang memanjat yang menggunakan alat bantu untuk naik
ke atas, batang membelit tidak menggunakan alat bantu, tetapi batang
tumbuhan itulah yang membelit. Dengan kata lain batangnya sendiri naik
dengan melilit penunjangnya. Arah melilit terbagi dua, yaitu ke kiri dan ke
kanan. Membelit ke kiri, jika dilihat dari atas arah belitan berlawanan
dengan arah putaran jarum jam. Dengan kata lain jika kita mengikuti
jalanya batang yang membelit itu, penunjang akan selalu di sebelah kiri
yang melihat.

C. Akar
2.1 Pengertian Akar
Akar adalah salah satu organ fital yang dimiliki tumbuhan. Akar berfungsi
memperkuat tubuh tumbuhan, menyerap air dan unsur hara yang terkandung di
dalam tanah, mengangkut air dan zat-zat makanan yang sudah diserap dan dibawa
ketempat-tempat pada tubuh tumbuhanyang memerlukan dan kadang-kadang
sebagai tempat untuk penimbunan atau tempat penyimpanan cadangan makanan
(Rosanti, 2013).

2.2 Sistem Perakaran


A. Sistem akar serabut (Radix adventicia)
Akar utama pada saat perkecambahan (akar primer) berhenti tumbuh,
dan digantikan dengan akar lain yang sama ukurannya dan tumbuh hampir
bersamaan. Akar ini umumnya terdapat pada tumbuhan monokotil.
Walaupun kadang-kadang, tumbuhan dikotil juga memilikinya (dengan
catatan, tumbuhan dikotil tersebut dikembangbiakkan dengan cara
cangkok, atau stek). Fungsi utamanya adalah untuk memperkokoh
berdirinya tumbuhan.
Jenis akar pada sistem akar serabut, antara lain :
a. Akar yang menyusun akar serabut kecil – kecil berbentuk benang.
Misalnya pada padi (Oryza sativa )
b. Akar-akar serabut kaku keras dan cukup besar seperti tambang.
Misalnya pada pohon kelapa (Cocos nucifera)
c. Akar serabut besar-besar, hampir sebesar lengan, masing-masing tidak
banyak memperlihatkan percabangan. Misalnya pada pandan
(Pandanus
tectorius )
B. Sistem akar tunggang (Radix primaria)
Pada waktu perkecambahan, radikula terus tumbuh menjadi akar
primer, dan akar primer ini terus tumbuh dan bercabang-cabang. Fungsi
utamanya adalah untuk menyimpan makanan. Sistem akar ini biasa
terdapat pada tumbuhan biji belah (Dicotyledoneae) dan tumbuhan biji
telanjang (Gymnospermae). Sistem akar tunggang hanya di temukan pada
tanaman yang berkembang biak secara generatif (melalui biji).
Klasifikasi akar tunggang berdasarkan percabangan dan bentuk :
a. Akar tunggang yang tidak bercabang. Sekalipun ada sedikit cabang,
namun biasanya cabang ini hanya berbentuk serabut-serabut yang
halus. Akar tunggang ini seringkali berhubungan dengan fungsinya
sebagai tempat penimbunan cadangan makanan. Contohnya adalah akar
lobak
b. Akar tunggang bercabang. Akar tunggang ini tumbuh kurus ke bawah,
bercabang banyak, dan cabangnya dapat bercabang lagi, sehingga
daerah perakaran menjadi luas. Bentuk perakaran seperti ini dapat
memberi kekuatan yang lebih besar kepada batang, dan juga daerah
perakaran menjadi amat luas, hingga dapat diserap air dan zat-zat
makanan yang lebih banyak. Susunan akar ini terdapat pada pohon-
pohon yang ditanam dari biji (Rosanti, 2013)

D. Rhizoma
Rhizoma adalah batang beserta daun yang terdapat di dalam tanah,
bercabang-cabang dan tumbuh mendatar, dari ujungnya dapat tumbuh tunas
yang muncul di atas tanah dan dapat merupakan suatu tumbuhan baru.
Rhizoma adalah penjelmaan dari batang dan bukan akar, yang memiliki ciri-
ciri sebagai berikut :
1. Beruas-ruas, berbuku-buku, akar tidak pernah bersifat demikian.
2. Berdaun, tetapi daunnya telah menjelma menjadi sisik-sisik.
3. Mempunyai kuncup-kuncup.
4. Tumbuhnya tidak ke pusat bumi atau air, terkadang tumbuh ke atas,
muncul di atas tanah.
Rhizoma berfungsi sebagai alat perkembangbiakan dan tempat
penimbunan zat-zat cadangan makanan (Setiaji, 2009)

III. Alat dan Bahan


A. Alat
1. Mikroskop
2. Objek glass dan cover glass
3. Alat tulis dan pensil warna
4. Jurnal Praktikum
B. Bahan
1. Daun sirih (Piper betle L.)
2. Daun cempaka (Michelia champaca L.)
3. Daun suji (Pleomele angustifolia)
4. Daun singkong (Manihot esculenta C)
5. Daun adam hawa (Rheo discolor)
6. Herba meniran (daun dan akar) (Phllanthus niruri L.)
7. Bayam (daun dan akar) (Amaranthus L.)
8. Bawang Bombay (Allium cepa L.)
9. Batang bambu (Bambusa vulgaris L.)
10. Batang tebu (Saccharum officinarum L.)
11. Rimpang kunyit (Curcuma domestica Val)
12. Rimpang kencur (Kaemferia galangal L)
13. Rimpang lengkuas (Alpinia galanga L.)
14. Rimpang jahe (Zingiber officinale Roscoe)
IV. Cara Kerja
1. Ditulis nama jenis dan famili/suku dari bahan-bahan yang digunakan untuk
praktikum.
2. DAUN (Secara makroskopis dan organoleptis)

Diamati dan ditentukan helaian daun, bentuk ujung daun, bentuk daun, tepi
daun, susunan tulang daun, permukaan daun, daging daun

Diamati dan ditentukan jenis daun, apakah daun tunggal atau daun
majemuk, daun lengkap atau tidak lengkap.

Ditentukan tata letak daun pada batang.

3. BATANG (Secara makroskopis dan organoleptis)

Ditentukan bentuk batang, apakah bulat, bersegi atau pipih, percabangan


batang serta ruas batang.

Ditentukan jenis batang, apakah berkayu, batang basah, rumput,


ditentukan pula permukaan batang, arah tumbuh

4. AKAR (Secara makroskopis dan organoleptis)

Ditentukan sistem perakaran tanaman apakah sistem perakaran tunggang


atau serabut. Ditentukan pula bagian-bagian akar secara lengkap.

5. RHIZOMA

Diamati bagian-bagian rhizoma


6. Secara mikroskopis

Sampel diiris tipis secara melintang untuk mengamati epidermis

Sampel diletakkan diobjek glas, ditetesi akuadest dan ditutup dengn


cover glass

Diamati denan mikroskop dengan perbesaran 10


kali

V. Hasil Pengamatan
VI. Pembahasan
A. Daun
Daun merupakan salah satu bagian yang terpenting dari salah satu organ
tumbuhan. Karena fungsinya sebagai tempat membuat makanan melalui proses
fotosintesis, tempat pengeluaran air melalui trasfirasi dan gutasi, tempat menyerap
CO2 dari udara serta sebagai tempat respirasi.
Dari hasil pengamatan dapat diketahui bahwa yang termasuk daun tunggal
yaitu daun sirih, daun cempaka, daun suji, daun singkong dan daun adam hawa.
Sedangkan yang termasuk dalam daun majemuk yaitu daun meniran. Dalam satu
struktur daun terdiri dari satu pelepah daun, satu tangkai daun, dan satu helaian
daun. Pada keadaan lain, setangkai daun tidak memiliki satu buah helaian daun,
tetapi memiliki jumlah helaian lebih dari satu. Struktur seperti ini dikenal sebagai
daun majemuk (folium compositum). Daun majemuk merupakan modifikasi dari
daun tunggal, dimana dalam setiap satu tangkai daun terdiri dari beberapa daun
yang disebut anak daun. Dari seluruh daun tidak ada yang termasuk daun lengkap
dan yang termasuk daun tidak lengkap yaitu daun sirih, daun cempaka, daun suji,
daun singkong, daun adam hawa, dan daun meniran.
Bentuk daun beraneka ragam sehingga sering digunakan untuk mengenali jenis
tumbuhan. Bentuk umum daun ditentukan berdasarkan letak bagian daun yang
terlebar, perbandingan lebar dengan panjang helai daun, dan pertemuan antara
helai daun dengan tangkai daun, bentuk pangkal, ujung dan tepi daun. Keragaman
daun juga dapat dilihat pada susunan pertulangan daun, ketebalan helai daun dan
warna serta bagian permukaannya.
Daun sirih (Piper betle L.) merupakan daun yang tidak lengkap karena hanya
terdiri dari helai daun dan tangkai daun. Ciri-ciri daun sirih yaitu bangun daun
(circumscriptio) bulat oval atau bulat telur karena dibagian yang terlebar dibawah
helaian daun, daging daun (intervenium) tipis lunak, tepi daun (margo) rata karena
pada tepinya pada saat diraba tidak kasar, ujung daun (apex) meruncing
(acuminatus) karena pada ujung yang runcing tetapi titik pertemuan kedua tepi
daunnya jauh lebih tinggi dari dugaan, hingga ujung daun nampak sempit panjang
dan runcing, pangkal daun (basis) agak bulat, permukaan daun licin mengkilat,
susunan tulang daun (nervatio) melengkung karena mempunyai beberapa tulang
yang besar, satu ditengah, yaitu paling besar sedangkan yang lainnya mengikuti
jalannya tepi daun, berwarna daun hijau muda.
Daun cempaka (Magnolia x alba) merupakan daun yang tidak lengkap karena
hanya terdiri dari helai daun dan tangkai daun. Ciri-ciri daun cempaka yaitu
bangun daun (circumscriptio) bulat oval memanjang, tepi daun (margo) rata karena
pada tepinya pada saat diraba tidak kasar, ujung daun (apex) runcing (acutus)
karena kedua tepi daun di kanan kiri ibu tulang sedikit demi sedikit menuju ke atas
dan pertemuannya pada puncak daun membentuk suatu sudut lancip, pangkal daun
(basis) runcing (acutus), susunan tulang daun (nervatio) menyirip, dan berwarna
daun hijau.
Daun suji (Dracaena angustifolia) merupakan daun yang tidak lengkap karena
hanya terdiri dari helai daun dan tangkai daun. Ciri-ciri daun suji yaitu bangun
daun (circumscriptio) lanset, tepi daun (margo) rata karena pada tepinya pada saat
diraba tidak kasar, ujung daun (apex) runcing (acutus) karena kedua tepi daun di
kanan kiri ibu tulang sedikit demi sedikit menuju ke atas dan pertemuannya pada
puncak daun membentuk suatu sudut lancip, pangkal daun (basis) memeluk
batang, susunan tulang daun (nervatio) sejajar, dan berwarna daun hijau.
Daun singkong (Manihot esculenta Crantz) merupakan daun yang tidak
lengkap karena hanya terdiri dari helai daun dan tangkai daun. Ciri-ciri daun
singkong yaitu bangun daun (circumscriptio) berbentuk 5 jari dan lonjong, tepi
daun (margo) rata karena pada tepinya pada saat diraba tidak kasar, ujung daun
(apex) runcing, susunan tulang daun (nervatio) menjari, dan berwarna daun hijau.
Daun meniran (Phyllanthus urinaria L.) merupakan daun yang tidak lengkap
karena hanya terdiri dari helai daun dan tangkai daun. Termasuk daun majemuk,
tumbuhan ini dikatakan majemuk karena terdapat beberapa tangkai cabang dan
tiap cabangnya terdiri dari satu atau lebih helaian daun, tata letak daun berselang
seling. Ciri-ciri daun meniran yaitu bangun daun (circumscriptio) bulat oval, tepi
daun (margo) rata karena pada tepinya pada saat diraba tidak kasar, ujung daun
(apex) tumpul (obtusus), dan berwarna daun hijau.
Daun adam hawa (Rhoeo discolor) merupakan daun yang tidak lengkap karena
hanya terdiri dari helai daun dan tangkai daun. Ciri-ciri daun adam hawa yaitu
bangun daun (circumscriptio) lonjong memanjang, tepi daun (margo) rata karena
pada tepinya pada saat diraba tidak kasar, ujung daun (apex) runcing (acutus),
susunan tulang daun (nervatio) sejajar dan warna permukaan daun atas hijau
permukaan daun bawah berwarna ungu. Daun adam hawa diamati secara
mikroskopik dengan perbesaran 10x dipotong secara melintang terdapat kloroplas,
stomata, sel penutup, sel tetangga, dan pigmen atosianin. Sedangkan diamati
secara mikroskopik dengan potongan secara membujur terdapat jaringan palisade,
epidermis bawah, epidermis atas, dan hypodermis.
B. Batang
Berdasarkan hasil pengamatan menunjukan bahwa setiap tumbuhan memiliki
struktur batang yang berbeda-beda.
Batang tebu (Saccharum officinarum Linn) berbentuk tinggi ramping, tidak
mempunyai cabang dan tumbuh tegak keatas, kulit batang tebu berstruktur keras,
berwarna hijau, kuning, atau gabungannya, terdapat lapisan lilin pada batang tebu
yang berwarna putih keabuan, pada batang juga terdapat berkas pengangkut, cincin
tumbuh, mata, mata akar, alur mata, retakan tumbuh, ruas, dan buku ruas.
Batang bambu (Bambusa vulgaris Schrad) berbuku-buku, terdapat ruas-ruas,
cincin kelopak, dan mata tunas. Batang-batang bamboo muncul dari akar-akar
rimpang dan ketika sudah tua, batang mengeras dan biasanya berongga. Batang
bamboo ini mempunyai bentuk silinder memanjang dan terbagi dalam ruas-ruas.
Batang bamboo ini diselimuti oleh daun-daun yang disebut dengan pelepah batang
dan biasanya akan gugur ketika sudah tua. Di bagian ujung pelepah batang
terdapat perpanjangan tambahan yang berbentuk segitiga dan disebut subang.
C. Akar
Berdasarkan hasil pengamatan menunjukan bahwa setiap tumbuhan memiliki
struktur akar yang berbeda-beda. Perbedaan itu tergantung pada jenis tanaman
jenis apakah tanaman tersebut tergolong pada tanaman dikotil atau monokotil.
Akar bayam (Amaranthus sp.) termasuk sistem perakaran tunggang terdapat
batang, leher akar, akar primer, akar sekuder, tudung akar, rambut akar dan batang
akar. Akar berfungsi sebagai penopang berdirinya tanaman, batang berfungsi
sebagai penerus unsur hara yang diserap oleh akar tanaman dan disebarkan
keseluruh bagian tanaman yang membutuhkan, leher akar merupakan perbatasan
antara batang dan akar primer, akar primer merupakan akar utama yang terdapat
akar-akar sekunder, akar sekunder merupakan cabang dari akar-akar primer dan
terdapat rambut-rambut akar yang berfungsi menyerap air dan unsur hara,
sedangkan tudung akar merupakan tempat terjadinya pembelahan sel pada akar.
Akar meniran (Phyllanthus urinaria L.) termasuk akar tunggang. Terdiri atas
akar primer, akar sekunder, tudung akar, rambut akar. Akar berfungsi sebagai
penopang berdirinya tanaman, akar primer merupakan akar utama yang terdapat
akar-akar sekunder, akar sekunder merupakan cabang dari akar-akar primer dan
terdapat rambut-rambut akar yang berfungsi menyerap air dan unsur hara,
sedangkan tudung akar merupakan tempat terjadinya pembelahan sel pada akar.
D. Rhizoma
Rimpang kunyit (Curcuma longa L.) memiliki warna kulit luar coklat muda,
warna daging rimpang kuning, terdapat ruas, tunas, dan epidermis. Rasa pedas,
aroma khas kunyit, dan permukaan agak kasar.
Rimpang kencur (Kaempferia galanga L.) memiliki warna kulit luar coklat
bagian dalam berwarna putih, terdapat ruas, tunas, dan epidermis. Rasa sedikit
pedas, aroma khas tajam, dan permukaan kencur kasar.
Rimpang lengkuas (Alpinia galangal L.) berupa buah buni, berbentuk bulat,
keras. Berwarna merah muda, terdapat ruas, tunas, dan epidermis. Rasa pedas,
aroma khas, dan permukaan agak halus.
Rimpang jahe (Zingiber officinale Roscoe) memiliki warna kulit lapisan luar
coklat muda, warna daging coklat kekuningan, terdapat ruas, tunas, dan epidermis.
Rasa pedas, aroma khas, permukaan agak kasar.
Bawang Bombay (Alium cepa L.) berwarna colklat terang, berbentuk bulat,
umumnya memiliki ukuran sebesar kepalan tangan orang dewasa, kulit licin.
Bawang Bombay diamati secara mikroskopik dengan perbesaran 10x dipotong
secara melintang pada bagian luar terdapat ini sel dan dinding sel. Serta memiliki
akar serabut.
Pengamatan yang dilakukan sudah sesuai dengan dasar teori mengenai
jenis, bentuk serta karakteritik dari organ-organ tumbuhan seperti daun, akar,
batang, serta rhizoma.

VII.Kesimpulan
Berdasarkan praktikum dan pengamatan yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :
1. Uji yang dilakukan untuk mengetahui jenis dan karakteristik dari morfologi daun,
batang, akar, dan rhizoma dengan uji organoleptik, uji makroskopis serta uji
mikroskopis.
2. Setiap tumbuhan memiliki morfologi daun, batang, akar dan rhizoma yang
berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan tumbuhan tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

Kusdianti, R. 2013. Handout Mortum. Website: http://file.upi.edu/Direktori/


FPMIPA/JUR._PEND._BIOLOGI/196402261989032/R.KUSDIANTI/Handout_mortu
m_1.pdf. Diakses pada hari Senin, tanggal 9 April 2018 pada pukul 15.00 WIB.
Rosanti, Dewi. 2013. Morfologi Tumbuhan. Jakarta: Erlangga.
Tjitrosoepomo, G. 1985. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Tjitrosomo, Siti Sutarmi. 1983. Botani Umum I. Bandung: Penerbit Angkasa.
Setiaji, 2009. Struktur Anatomi Tumbuhan. Bina Akasara. Jakarta.