Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

“DESINFEKTANSIA SALURAN KEMIH”

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Kimia Farmasi

Dosen Pengampu : Prof. Dr. Ahmad Binadja, P.hd

Disusun oleh :

Aufa Laili Muhtarina 4301413086

Jefri Febriana Wulandari 4301413088

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2015
Kata Pengantar

Puji syukur dengan hati yang tulus dan pikiran yang jernih, kamipanjatkan kehadirat Ilahi
RabbiDzat Yang Maha Kuasa dan Maha Esa. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada
Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabatnya.Ucapan terima kasih penulis
sampaikan kepada Bapak Ahmad Binadja selaku dosen pengampu mata kuliah Kimia Farmasi
yang telah memberikan bimbingan kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan
penyusunan makalah ini.
Makalah ini di susun sebagai tugas kelompok untuk melengkapi tugas mata kuliah
Pembelajaran Bermaknadengan judul “Desinfektansia Saluran Kemih”.
Makalah ini masih memiliki banyak kekurangan bahkan tak luput dari kesalahan penulis.
Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan saran dan kritik dari semua pihak demi
kesempurnaan makalah ini.Kepada pembaca dan semua pihak yang telah memberikan kritik
dan saran demi kesempurnaan makalah ini kami mengucapkan terimakasih.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua dan semoga rahmat, taufik, dan hidayah-
Nya selalu tercurah kepada kita semua.
Amin Yarabbal ‘Alamin.

Semarang, 14 September 2015

Penulis

2
DAFTAR ISI

Kata Pengantar......................................................................................................2
DAFTAR ISI..........................................................................................................3
BAB I. PENDAHULUAN......................................................................................4
A. Latar Belakang Masalah..............................................................................4
B. Rumusan Masalah.......................................................................................4
C. Tujuan Penulisan.........................................................................................4
BAB II. PEMBAHASAN.......................................................................................4
A. Pengertian Desinfektansia .........................................................................4
B. Efektivitas ………………………………………………………………..5
C. Penggunaan dan Syarat Ideal.....................................................................6
D. Khasiat Desinfektansia..............................................................................8
E. Mekanisme Kerja Desinfektansia ............................................................8
F. Penggolongan Desinfektansia..................................................................8
G. Infeksi Saluran Kemih.............................................................................10
H. Obat-Obatan untuk Infeksi Saluran Kemih.............................................13
BAB III. PENUTUP...........................................................................................18
Simpulan................................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................18

3
BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah

Pada tahun 1847 seorang ginekolog Wina, Ignaz Semmelweis untuk pertama
kalinya menganjurkan penggunaan zat-zat kimia untuk membersihkan zat-zat kimia untuk
membersihkan tangan sebelum melakukan ‘pemeriksaan dalam’ pada wanita hamil.
Tujuannya adalah untuk menghindarkan infeksi yang dapat menimbulkan demam hamil,
yang saat itu sering kali menghantui ibu-ibu hamil. Dua dasawarsa kemudian bakteriolog
Perancis Louis Pasteur menemukan mikroba sebagai penyebab infeksi. Lalu ahli bedah
Inggris Joseph Lister memperkenalkan prinsip-prinsip pembedahan antiseptis. Untuk
menghindari timbulnya infeksi pada luka, Lister menggunakan larutan fenol 5% dalam air
untuk mensucihamakan tangan, daerah yang akan dibedah dan alat/instrument bedah.

Desinfektansia merupakan zat-zat kimiawi yang digunkan untuk mengurangi


jumlah mikroorganisme di berbagai macam permukaan jaringan hidup atau benda mati
dengan jalan mematikan atau menghentikan pertumbuhan hama pathogen yang terdapat
padanya. Desinfektan biasa digunakan pada pembersihan alat-alat di bidang kedokteran.
Desinfektan biasanya disandingkan dengan antiseptika, namun kedua hal itu merupakan hal
yang berbeda. Desinfektan digunakan untuk jaringan hidup maupun tak hidup, sedangkan
antiseptika digunakan untuk jaringan hidup saja.

2. Rumusan Masalah
a. Apa pengertian dari desinfektansia?
b. Bagaimana penggunaan dan apa saja syarat idealnya?
c. Apa khasiat dari desinfektansia ?
d. Bagaimana mekanisme kerja dan penggolongan dari desinfektansia?
e. Bagaimana pengertian dan obat-obat untuk infeksi saluran kemih?
3. Tujuan
a. Mengetahui pengertian dari desinfektansia
b. Mengetahui penggunaan dan syarat idealnya
c. Mengetahui khasiat dari desinfektansia
d. Mengetahui mekanisme kerja dan penggolongan dari desinfektansia
e. Mengetahui penyebab infeksi saluran kemih dan pengobatannya

4
5
BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengertian Desinfektansia
Desinfektansia merupakan zat-zat kimiawi yang digunkan untuk mengurangi jumlah
mikroorganisme di berbagai macam permukaan jaringan hidup atau benda mati dengan
jalan mematikan atau menghentikan pertumbuhan hama pathogen yang terdapat padanya.
Di Negara berbahasa inggris desinfektansia sering disebut antiseptic (yun, sepsis = busuk)
atau germicides (germ = hama pathogen). Perbedaan yang dahulu sering digunakan , yaitu
desinfektansia untuk penggunaan pada benda mati dan antiseptika bagi jaringan-jaringan
hidup, dewasa ini dianggap sebagai absolut dan kedua istilah ini dapat digunakan sebagai
tanpa perbedaan lagi.(Tan Hoan Tjay. 2006 : 242)
Pendapat lain terkait desinfektansia dari Wikipedia, mengatakan bahwa
Disinfektan adalah bahan kimia yang digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi atau
pencemaran olehjasad renik atau obat untuk membasmi kuman penyakit. Pengertian lain
dari disinfektan adalah senyawa kimia yang bersifat toksik dan memiliki kemampuan
membunuh mikroorganisme yang terpapar secara langsung oleh desinfektan. Desinfektan
tidak memiliki daya penetrasi sehingga tidak mampu membunuh mikroorganisme yang
terdapat di dalam celah atau cemaran mineral. Selain itu desinfektan tidak dapat
membunuh spora bakteri sehingga dibutuhkan metode lain
seperti sterilisasi dengan autoklaf.
Pada dasarnya ada persamaan jenis bahan kimia yang digunakan sebagai antiseptik
dan desinfektan. Tetapi tidak semua bahan desinfektan adalah bahan antiseptik karena
adanya batasan dalam penggunaan antiseptik. Antiseptik tersebut harus memiliki sifat tidak
merusak jaringan tubuh atau tidak bersifat keras. Terkadang penambahan bahan desinfektan
juga dijadikan sebagai salah satu cara dalam proses sterilisasi, yaitu proses pembebasan
kuman. Tetapi pada kenyataannya tidak semua bahan desinfektan dapat berfungsi sebagai
bahan dalam proses sterilisasi.
Bahan kimia tertentu merupakan zat aktif dalam proses desinfeksi dan sangat
menentukan efektivitas dan fungsi serta target mikroorganime yang akan dimatikan. Dalam
proses desinfeksi sebenarnya dikenal dua cara, cara fisik (pemanasan) dan cara kimia
(penambahan bahan kimia). Dalam tulisan ini hanya difokuskan kepada cara kimia,
khususnya jenis-jenis bahan kimia yang digunakan serta aplikasinya.

6
2. Efektivitas
Efektivitas disinfektan dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya :
a. Konsentrasi aman, efisien dan Efektif. Konsentrasi tinggi mahal, tidak praktis,
membakar kulit, bahaya bagi ternak.

b. Waktu kontak : 20 – 30 menit

c. Tanggal kadaluwarsa

d. Karakteristik m.o memiliki kapsula, spora. Kapsula Mycobacterium tuberculosis, virus


influenza, herpes virus mengandung lemak konsentrasi tinggi tahan terhadap
desinfektan yg larut air.

e. pH . Desinfektan menjadi sangat aktif pada pH asam sampai netral. pH derajat ionisasi.
Jika pH desinfektan atau material yg didisinfeksi terlalu ekstrim inaktivasi desinfektan.

pH merupakan faktor penting dalam menentukan efektivitas disinfektan, misalnya saja


senyawa klorin akan kehilangan aktivitas disinfeksinya pada pH lingkungan lebih dari
10. Contoh senyawa pengganggu yang dapat menurunkan efektivitas disinfektan adalah
senyawa organik.

3. Penggunaan dan Syarat Ideal Desinfektansia


a. Penggunaan Desinfektansia
 Pada jaringan hidup
Tujuan penggunaan antiseptika pada kulit adalah untuk membasmi
mikroorganisme yang kebetulan berada dipermukaan kulit, tetapi tidak
memperbanyak diri di tempat itu dan pada umumnya akan mati sendiri (transient
flora). Tetapi lebih penting adalah untuk membasmi resident flora, yakni jasad jasad
renik yang merupakan penghuni alamiah di kulit dan terutama terdiri dari mikrokok
pathogen.
Dalam rangka ini yang perlu mendapat perhatian khusus adalah pekerja di rumah
sakit yang melalui tangannya dapat meneruskan kuman/virus pathogen antar-pasien.
Flora ini teritama berada pada permukaan kulit, sehingga dapat dihilangkan secara
mekanis, misalnya mencuci secara intensif dengan sabun. Lebih baik lagi dengan
cara desinfeksi, terutama bila diperkirakan adanya kuman-kuman pathogen.
Misalnya sebelumnya melakukan operasi dokter bedah mencuci tangannya dengan
sabun antiseptic selama minimal 2 menit.
Desinfektansia berbeda dengan kemoterapeutika sistematis (antibiotika).
Antiseptika khusus mengenai toksisitasnya yang kurang atau tidak selektif. Oleh
7
karena itu, desinfektansia tidak dapat digunakan secara sistematis dan
penggunaanya hanya terbatas pada penggunaan local, yaitu pada kulit dan selaput
lendir (mukosa) sbb :
 Untuk membersihkan luka dan lokasi infeksi atau sebelumnya penyuntikan
alcohol 70%
 Pada infeksi mulut di mukosa (mulut, tenggorokan, telinga)
 Pada infeksi kulit guna melengkapi obat sistematis yang seringkali sukar
melintasi lapis tanduk untuk mencapai pusat infeksi di permukaan
 Preoperative untuk mendesinfeksi tangan dokter bedah dan lokasi operasi pada
kulit pasien diperlukan kerja lama: senyawa iod atau klorheksidin dalam alcohol.
 Pada benda mati
Desinfektansia juga banyak digunakan untuk mencucihamakan alat-alat medis
yang tidak tahan suhu tinggi dari sterilisasi, begitu pula untuk desinfeksi lantai dan
air minum atau kolam renang, juga untuk desinfeksi wadah penampung urin, ludah
dan tinja, atau permukaan yang yang berinfeksi dengan darah atau ludah penderita,
mis ludah pasien tbc. Untuk desinfeksi material yang tercemar darah pasien HIV
atau hepatitis B digunakan klor (1000 ppm), glutarol dan alcohol 70%. Lantai
terinfeksi sebaiknya didesinfeksi dengan larutan klor atau natriumhidroksida.

b. Syarat ideal
Persyaratan ideal bagi desinfektansia dapat dirumuskan sebagai berikut :
- Berkhasiat mikrobisid yang luas terhadap kuman, jamur dan spuranya, ragi, virus
serta protozoa (broad spectrum)
- Mulai kerjanya cepat dan bertahan lama (long acting)
- Lokasinya rendah dan begitu pula daya adsorpsinya melalui kulit dan mukosa
- Tidak merangsang kulit maupun mukosa, baunya pun tidak merangsang
- Daya kerjanya tidak dikurangi oleh zat-zat organis, seperti nanah dan darah
- Daya adsorbsinya rendah pada karet, zat-zat sintetis dan bahan lain
- Tidak korosif (bereaksi secara kimiawi) terhadap alat-alat yang didesinfek

4. Khasiat Desinfektansia
Pada umumnya desinfektansia memiliki khasiat bakterisid dengan spectrum kerja luas,
yang meliputi bakteri gram-positif dan gram-negatif, virus dan fungsi. Tetapi antara
kegiatannya masing-masing terdapat perbedaan besar. Spora kuman sukar dimatikan dan
hanya beberapa jenis desinfektan memiliki sifat sporisid yang cukup kuat misalnya,
8
senyawa klor, iod, aldehida, dan asam per- (misalnya asam perklorat). Spora jamur dan ragi
peka bagi kebanyakan desinfektansia, tetapi pada konsentrasi yang lebih besar dan atau
waktu yang lebih lama.
5. Mekanisme Kerja
Desinfektansia bekerja berdasarkan pelbagai proses kimiawi atau fisika dengan tujuan guna
meniadakan risiko transmisi dari jasad renik. Proses-proses ini adalah :
 Denaturasi protein mikroorganisme, yakni perubahan strukturnya hingga sift-sifat
khasnya hilang
 Pengendapan protein dalam protoplasma (zat-zat halogen, fenol, alcohol, dan garam
logam)
 Oksidasi protein (oksidansia)
 Mengganggu system dan proses enzim (zat-zat halogen, alcohol, dan garam-garam
logam)
 Modifikasi dinding sel dan atau membrane sitoplasma (desinfektansia dengan
aktivitas permukaan).
6. Penggolongan
a. Klorin
Senyawa klorin yang paling aktif adalah asam hipoklorit. Mekanisme kerjanya adalah
menghambat oksidasi glukosa dalam sel mikroorganisme dengan cara menghambat enzim-
enzim yang terlibat dalam metabolisme karbohidrat . Kelebihan dari disinfektan ini adalah
mudah digunakan, dan jenis mikroorganisme yang dapat dibunuh dengan senyawa ini juga
cukup luas, meliputi bakteri gram positif dan bakteri gram negatif. Kelemahan dari
disinfektan berbahan dasar klorin adalah dapat menyebabkan korosi pada pH rendah
(suasana asam), meskipun sebenarnya pH rendah diperlukan untuk mencapai efektivitas
optimum disinfektan ini. Klorin juga cepat terinaktivasi jika terpapar senyawa organik
tertentu.
b. Iodin
Iodin merupakan disinfektan yang efektif untuk proses desinfeksi air dalam skala
kecil. Dua tetes iodine 2% dalam larutan etanol cukup untuk mendesinfeksi 1 liter air
jernih. Salah satu senyawa iodine yang sering digunakan sebagai disinfektan
adalah iodofor. Sifatnya stabil, memiliki waktu simpan yang cukup panjang, aktif
mematikan hampir semua sel bakteri, namun tidak aktif mematikan spora, nonkorosif, dan
mudah terdispersi. Kelemahan iodofor diantaranya aktivitasnya tergolong lambat pada pH
7 (netral) dan lebih dan mahal. Iodofor tidak dapat digunakan pada suhu lebih tinggi dari
49 °C.
9
c. Alkohol

Alkohol disinfektan yang banyak dipakai untuk peralatan medis,


contohnya termometer oral. Umumnya digunakan etil alkohol dan isopropil alcohol dengan
konsentrasi 60-90%, tidak bersifat korosif terhadap logam, cepat menguap, dan dapat
merusak bahan yang terbuat dari karet atau plastik.

d. Ammonium Kuartener

Amonium kuartener merupakan garam ammonium dengan substitusi gugus alkil pada
beberapa atau keseluruhan atom H dari ion NH4+nya. Umumnya yang digunakan
adalah en:cetyl trimetil ammonium bromide (CTAB) atau lauril dimetil benzyl klorida.
Amonium kuartener dapat digunakan untuk mematikan bakteri gram positif, namun kurang
efektif terhadap bakteri gram negatif, kecuali bila ditambahkan dengan sekuenstran
(pengikat ion logam). Senyawa ini mudah berpenetrasi, sehingga cocok diaplikasikan pada
permukaan berpori, sifatnya stabil, tidak korosif, memiliki umur simpan panjang, mudah
terdispersi, dan menghilangkan bau tidak sedap. Kelemahan dari senyawa ini adalah
aktivitas disinfeksi lambat, mahal, dan menghasilkan residu.

e. Formaldehid

Formaldehida atau dikenal juga sebagai formalin, dengan konsentasi efektif sekitar 8%.
Formaldehida merupakan disinfektan yang bersifat karsinogenik pada konsentrasi tinggi
namun tidak korosif terhadap metal, dapat menyebabkan iritasi pada mata, kulit, dan
pernapasan[4]. Senyawa ini memiliki daya inaktivasi mikroba dengan spektrum luas.
Formaldehida juga dapat terinaktivasi oleh senyawa organik.

f. Kalium Permanganat

Kalium permanganat merupakan zat oksidan kuat namun tidak tepat untuk disinfeksi
air. Penggunaan senyawa ini dapat menimbulkan perubahan rasa, warna, dan bau pada air.
Meskipun begitu, senyawa ini cukup efektif terhadap bakteri Vibrio cholerae.

g. Fenol

Fenol merupakan bahan antibakteri yang cukup kuat dalam konsentrasi 1-2% dalam air,
umumnya dikenal dengan lisol dan kreolin. Fenol dapat diperoleh melalui distilasi produk
minyak bumi tertentu. Fenol bersifat toksik, stabil, tahan lama, berbau tidak sedap, dan
dapat menyebabkan iritasi, Mekanisme kerja senyawa ini adalah dengan
penghancuran dinding sel dan presipitasi (pengendapan) protein sel dari mikroorganisme
sehingga terjadi koagulasi dan kegagalan fungsi pada mikroorganisme tersebut.

10
7. Infeksi Saluran Kemih
Saluran kemih merupakan alur kolektif organ pembentuk, pengumpul,dan pengosongan
urin, yaitu ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra. Ginjal adalah sepasang organ saluran
kemih yang mengatur keseimbangan cairan tubuh dan elektrolit dalam tubuh, dan sebagai
pengatur volume dan komposisi kimia darah dengan mengeksresikan air yang dikeluarkan
dalam bentuk urine apabila berlebih) Diteruskan dengan ureter yang menyalurkan urine ke
kandung kemih. Sejauh ini diketahui bahwa saluran kemih atau urine bebas dari
mikroorganisme atau steril.
Masuknya mikroorganisme kedalam saluran kemih dapat melalui :
- Penyebaran endogen yaitu kontak langsung dari tempat infeksi terdekat (ascending)
- Hematogen
- Limfogen
- Eksogen sebagai akibat pemakaian berupa kateter.
Dua jalur utama terjadinya ISK adalah hematogen dan ascending, tetapi dari kedua
cara ini ascendinglah yang paling sering terjadi. Kuman penyebab ISK pada umumnya
adalah kuman yang berasal dari flora normal usus. Dan hidup secara komensal di dalam
introitus vagina, prepusium penis, kulit perineum, dan di sekitar anus. Mikroorganisme
memasuki saluran kemih melalui uretra – prostate – vas deferens – testis (pada pria) buli-
buli – ureter, dan sampai ke ginjal (Gambar 1).

Gambar 1. Masuknya kuman secara ascending ke dalam saluran kemih, (1) Kolonisasi
kuman di sekitar uretra, (2) masuknya kuman melalui uretra ke buli-buli, (3) penempelan
kuman pada dinding buli-buli, (4) masuknya kuman melalui ureter ke ginjal.
Meskipun begitu,faktor-faktor yang berpengaruh pada ISK akut yang terjadi pada wanita
tidak dapat ditemukan. Mikroorganisme yang paling sering ditemukan adalah jenis bakteri
aerob. Selain bakteri aerob, ISK dapat disebabkan oleh virus dan jamur.(3) Terjadinya infeksi
saluran kemih karena adanya gangguan keseimbangan antar mikroorganisme penyebab infeksi

11
sebagai agent dan epitel saluran kemih sebagai host. Gangguan keseimbangan ini disebabkan
oleh karena pertahanan tubuh dari host yang menurun atau karena virulensi agentmeningkat. (2)
Kemampuan host untuk menahan mikroorganisme masuk ke dalam saluran kemih disebabkan
oleh beberapa faktor, antara lain adalah :
1. pertahanan lokal dari host

2. peranan dari sistem kekebalan tubuh yang terdiri atas kekebalan humoral maupun
imunitas seluler.

Gambar 2. Faktor predisposisi terjadinya ISK (1)


Bermacam-macam mikroorganisme dapat menyebabkan ISK. Penyebab terbanyak
adalah Gram-negatif termasuk bakteri yang biasanya menghuni usus yang kemudian naik ke
sistem saluran kemih. Dari gram-negatif Escherichia coli menduduki tempat teratas.
Sedangkan jenis gram-positif lebih jarang sebagai penyebab ISK
sedangkan enterococcus dan staphylococcus aureus sering ditemukan pada pasien dengan
batu saluran kemih.

12
Gambar 3. Beberapa jenis mikroorganisme penyebab ISK
Kuman Escherichia coli yang menyebabkan ISK mudah berkembang biak di dalam
urine, disisi lain urine bersifat bakterisidal terhadap hampir sebagian besar kuman dan
spesies Escherichia coli. Sebenarnya pertahanan sistem saluran kemih yang paling baik adalah
mekanisme wash-out urine, yaitu aliran urine yang mampu membersihkan kuman-kuman yang
ada di dalam urine bila jumlah cukup. Oleh karena itu kebiasaan jarang minum menghasilkan
urine yang tidak adekuat sehingga memudahkan untuk terjadinya infeksi saluran kemih. ISK
juga banyak terjadi melalui kateterisasi yang terjadi di rumah sakit. Berikut data dari infeksi
nosokomial terbanyak yang terjadi di rumah sakit.

Gambar 3. infeksi nosokomial yang paling sering terjadi

Gejala klinis ISK sesuai dengan bagian saluran kemih yang terinfeksi sebagai berikut :
- pada ISK bagian bawah, keluhan pasien biasanya berupa rasa sakit atau rasa panas di uretra
sewaktu kencing dengan air kemih sedikit-sedikit serta rasa tidak enak di daerah
suprapubik
- Pada ISK bagian atas dapat ditemukan gejala sakit kepala, malaise, mual, muntah, demam,
menggigil, rasa tidak enak, atau nyeri di pinggang.

Obat Tepat Indikasi untuk Infeksi Saluran Kemih


Pada ISK yang tidak memberikan gejala klinis tidak perlu pemberian terapi, namun bila
sudah terjadi keluhan harus segera dapat diberikan antibiotika. Antibiotika yang diberikan
berdasarkan atas kultur kuman dan test kepekaan antibiotika. Tujuan pengobatan ISK adalah
mencegah dan menghilangkan gejala, mencegah dan mengobati bakteriemia, mencegah dan
mengurangi risiko kerusakan jaringan ginjal yang mungkin timbul dengan pemberian obat-

13
obatan yang sensitif, murah, aman dengan efek samping yang minimal. Banyak obat-obat
antimikroba sistemik diekskresikan dalam konsentrasi tinggi ke dalam urin. Karena itu dosis
yang jauh dibawah dosis yang diperlukan untuk mendapatkan efek sistemik dapat menjadi dosis
terapi bagi infeksi saluran kemih.
Untuk menyatakan adanya ISK harus ditemukan adanya bakteri di dalam urin. Indikasi
yang paling penting dalam pengobatan dan pemilihan antibiotik yang tepat adalah mengetahui
jenis bakteri apa yang menyebabkan ISK. Biasanya yang paling sering menyebabkan ISK
adalah bakteri gram negatif Escherichia coli. Selain itu diperlukan pemeriksaan penunjang
pada ISK untuk mengetahui adanya batu atau kelainan anatomis yang merupakan faktor
predisposisi ISK sehingga mampu menganalisa penggunaan obat serta memilih obat yang
tepat.
Bermacam cara pengobatan yang dilakukan pada pasien ISK, antara lain :
– pengobatan dosis tunggal
– pengobatan jangka pendek (10-14 hari)
– pengobatan jangka panjang (4-6 minggu)
– pengobatan profilaksis dosis rendah
– pengobatan supresif
Berikut obat yang tepat untuk ISK :

a. Sulfonamide :
Sulfonamide dapat menghambat baik bakteri gram positif dan gram negatif. Secara struktur
analog dengan asam p-amino benzoat (PABA). Biasanya diberikan per oral, dapat dikombinasi
dengan Trimethoprim, metabolisme terjadi di hati dan di ekskresi di ginjal. Sulfonamide
digunakan untuk pengobatan infeksi saluran kemih dan bisa terjadi resisten karena hasil mutasi
yang menyebabkan produksi PABA berlebihan.
Efek samping yang ditimbulkan hipersensitivitas (demam, rash, fotosensitivitas), gangguan
pencernaan (nausea, vomiting, diare), Hematotoxicity(granulositopenia, (thrombositopenia,
aplastik anemia) dan lain-lain. Mempunyai 3 jenis berdasarkan waktu paruhnya :
– Short acting
– Intermediate acting
– Long acting
Sulfanamida adalah anti mikroba yang digunakan secara sistemis maupun topikal untuk
beberapa penyakit infeksi. Sebelum ditemukan antibiotik, sulfa merupakan kemoterapi yang
utama, tetapi kemudian penggunaannya terdesak oleh antibiotik.Pertengahan tahun 1970
penemuan preparat kombinasi trimetoprim dan sulfametoksazol meningkatkan kembali

14
penggunaan sulfonamida.Selain sebagai kemoterapi derivat sulfonamida juga berguna sebagai
diuretik dan anti diabetik oral (ADO).
Sulfa bersifat bakteriostatik luas terhadap banyak bakteri gram positif dan negatif. Mekanisme
kerjanya berdasarkan antagonisme saingan antara PABA (Para Amino Benzoic Acid) yang
rumus dasarnya mirip dengan rumus dasar sulfa :

H2N – C6H4 – COOH

Sulfonamida adalah sebuah agen kemoterapi. Antimikroba ini kebanyakan merupakan


turunan sulfanilamida (p – aminobenzenasulfonamida : NH2.C6H4.SO2.NH2).
Sulfonamida bersifat mikrobiostatik untuk sejumlah besar bakteri gram positif dan gram
negatif, dan berbagai protozoa (seperti coccidia, Plasmodium spp).Sulfonamida digunakan
biasanya dengan kombinasi agen kemoterapi lainnya untuk merawat infeksi saluran kencing,
malaria, coccidiosis dll.
Sulfonamida bertindak sebagai analog struktural dari asam p-aminobenzoik (PABA),
yang menghambat PABA saat pembentukan asam dihidropteroik dalam sintesis asam
folat.Organisme yang membuat sendiri asam folatnya dan tidak dapat memakai pasokan
eksogen dari vitamin menjadi sensitif terhadap sulfonamida, karena selnya dapat menyerap obat
ini, sementara organisme yang memerlukan asam folat eksogen untuk pertumbuhannya tidak
sensitif.Penundaan periode beberapa generasi terjadi antara paparan sel yang sensitif pada
sulfonamida dan penghambatan pertumbuhan; pada saat ini sel menghabiskan pasokan asam
folat endogen yang telah dibuat sebelumnya.Efek penundaan ini memungkinkan sulfonamida
dipakai bersama dengan antibiotik (misalnya penisilin) yang hanya aktif terhadap organisme
yang tumbuh.
Efek penghambat sulfonamida dapat dinetralkan dengan memasok sel dengan metabolit
yang normalnya membutuhkan asam folat untuk sintesisnya (misalnya purin, asam amino
tertentu); zat demikian dapat hadir misalnya dalam pus, sehingga sulfonamida menjadi tidak
efektif dalam perawatan infeksi suppuratif tertentu.Bakteri yang siap mengembangkan
resistansi pada sulfonamida, seperti modifikasi Streptococcus pneumoniae yang dihasilkan
lewat mutasi satu langkah pada sintetase asam dihidropteroik dapat mengurangi afinitas enzim
sulfonamida tanpa mengurangi afinitasnya pada PABA.Hambatan dari plasmid juga muncul
dan dapat terlibat, misalnya plasmid tersandi sintase asam dihidropteroik resistan sulfonamida.
Analisis Kuantitatif

Metode Titrasi Bebas Air (TBA)

15
Metode titrasi bebas air digunakan pada sulfadiazin berdasarkan pada sifat asam dari gugus
- SO2 - NH - sehingga dapat dititrasi sebagai basa. Pelarut yang dapat digunakan adalah alcohol,
aseton, dimetil formamida dan butyl amin sedangkan sebagai titran digunakan larutan basa
dalam air atau larutan Na metoksida. Prosedur kerja lebih kurang 250 mg contoh sulfadiazin
yang ditimbang seksama dilarutkan dalam aseton netral, tambahkan 10 tetes campuran (0,025
bagian biru timol dan 0,075) bagian merah fenol yang dilarutkan dalam 50 bagian alkohol dan
50 bagian air). Titrasi dengan NaOH 0,1 N sampai terjadi perubahan warna menjadi biru.

b. Trimethoprim :
Mencegah sintesis THFA, dan pada tahap selanjutnya dengan menghambat enzim
dihydrofolate reductase yang mencegah pembentukan tetrahydro dalam bentuk aktif dari folic
acid. Diberikan per oral atau intravena, di diabsorpsi dengan baik dari usus dan ekskresi dalam
urine, aktif melawan bakteri gram negatif kecuali Pseudomonas spp. Biasanya untuk
pengobatan utama infeksi saluran kemih. Trimethoprim dapat diberikan tunggal (100 mg setiap
12 jam) pada infeksi saluran kemih akut.
Efek samping : megaloblastik anemia, leukopenia, granulocytopenia.

c. Trimethoprim + Sulfamethoxazole (TMP-SMX):


Jika kedua obat ini dikombinasikan, maka akan menghambat sintesis folat, mencegah
resistensi, dan bekerja secara sinergis. Sangat bagus untuk mengobati infeksi pada saluran
kemih, pernafasan, telinga dan infeksi sinus yang disebabkan oleh Haemophilus
influenza dan Moraxella catarrhalis. Karena Trimethoprim lebih bersifat larut dalam lipid
daripada Sulfamethoxazole, maka Trimethoprim memiliki volume distribusi yang lebih besar
dibandingkan dengan Sulfamethoxazole. Dua tablet ukuran biasa (Trimethoprim 80 mg +
Sulfamethoxazole 400 mg) yang diberikan setiap 12 jam dapat efektif pada infeksi berulang
pada saluran kemih bagian atas atau bawah. Dua tablet per hari mungkin cukup untuk menekan
dalam waktu lama infeksi saluran kemih yang kronik, dan separuh tablet biasa diberikan 3 kali

16
seminggu untuk berbulan-bulan sebagai pencegahan infeksi saluran kemih yang berulang-ulang
pada beberapa wanita.
Efek samping : pada pasien AIDS yang diberi TMP-SMX dapat menyebabkan demam,
kemerahan, leukopenia dan diare.
Analisis TMX-SMX
Analisis Scanning Electron Microscopy (SEM)
Sampel serbuk diletakkan pada sampel holder aluminium dan dilapisi dengan emas dengan
ketebalan 10 nm. Sampel kemudian diamati berbagai perbesaran alat SEM(Jeol, Japan). Voltase
diatur pada 20 kV dan arus 12 mA.
Analisis Difraksi Sinar-X Serbuk
Analisis difraksi sinar-X serbuk sampel dilakukan pada suhu ruang dengan menggunakan alat
tipe difraktometer Rigaku tipe RINT-2500. Kondisi pengukuran sebagai berikut : targe tlogam
Cu, filter Kα, voltase 40 kV, arus 40 mA, analisis dilakukan pada rentang 2 theta 5 - 35° .
Sampel diletakkan pada sampel holder (kaca) dan diratakan untuk mencegah orientasi partikel
selama penyiapan sampel.
Analisis Differential Scanning Calorimetry (DSC)
Analisis termal sampel dilakukan dengan menggunakan alat DSC yang dikalibrasi suhunya
dengan Indium. Sampel sejumlah 5-7 mg diletakkan pada pan aluminium yang tertutup. Alat
DSC diprogram pada rentang suhu 30 sampai 220 °C dengan kecepatan pemanasan 10 °C per
menit
d. Fluoroquinolones :
Mekanisme kerjanya adalah memblok sintesis DNA bakteri dengan menghambat
topoisomerase II (DNA gyrase) topoisomerase IV. Penghambatan DNA gyrase mencegah
relaksasi supercoiled DNA yang diperlukan dalam transkripsi dan replikasi normal.
Fluoroquinolon menghambat bakteri batang gram negatif
termasuk enterobacteriaceae, Pseudomonas, Neisseria. Setelah pemberian per oral,
Fluoroquinolon diabsorpsi dengan baik dan didistribusikan secara luas dalam cairan tubuh dan
jaringan, walaupun dalam kadar yang berbeda-beda. (7)Fluoroquinolon terutama diekskresikan
di ginjal dengan sekresi tubulus dan dengan filtrasi glomerulus. Pada insufisiensi ginjal, dapat
terjadi akumulasi obat.
Efek samping yang paling menonjol adalah mual, muntah dan diare.Fluoroquinolon dapat
merusak kartilago yang sedang tumbuh dan sebaiknya tidak diberikan pada pasien di bawah
umur 18 tahun.
– Norfloxacin :

17
Merupakan generasi pertama dari fluoroquinolones dari nalidixic acid, sangat baik untuk
infeksi saluran kemih.
– Ciprofloxacin :
Merupakan generasi kedua dari fluoroquinolones, mempunyai efek yang bagus dalam melawan
bakteri gram negatif dan juga melawan gonococcus, mykobacteria, termasuk Mycoplasma
pneumoniae.
– Levofloxacin
Merupakan generasi ketiga dari fluoroquinolones. Hampir sama baiknya dengan generasi kedua
tetapi lebih baik untuk bakteri gram positif.
Nitrofurantoin :
Bersifat bakteriostatik dan bakterisid untuk banyak bakteri gram positif dan gram negatif.
Nitrofurantoin diabsorpsi dengan baik setelah ditelan tetapi dengan cepat di metabolisasi dan
diekskresikan dengan cepat sehingga tidak memungkinkan kerja antibakteri sistemik. Obat ini
diekskresikan di dalam ginjal. Dosis harian rata-rata untuk infeksi saluran kemih pada orang
dewasa adalah 50 sampai 100 mg, 4 kali sehari dalam 7 hari setelah makan.
Efek samping : anoreksia, mual, muntah merupakan efek samping utama.Neuropati dan anemia
hemolitik terjadi pada individu dengan defisiensi glukosa-6-fosfat dehydrogenase.

Obat tepat digunakan untuk pasien ISK dengan kelainan fungsi ginjal
Ginjal merupakan organ yang sangat berperan dalam eliminasi berbagai obat sehingga
gangguan yang terjadi pada fungsi ginjal akan menyebabkan gangguan eliminasi dan
mempermudah terjadinya akumulasi dan intoksikasi obat. Faktor penting dalam pemberian obat
dengan kelainan fungsi ginjal adalah menentukan dosis obat agar dosis terapeutik dicapai dan
menghindari terjadinya efek toksik. Pada gagal ginjal, farmakokinetik dan farmakodinamik
obat akan terganggu sehingga diperlukan penyesuaian dosis obat yang efektif dan aman bagi
tubuh. Bagi pasien gagal ginjal yang menjalani dialisis, beberapa obat dapat mudah terdialisis,
sehingga diperlukan dosis obat yang lebih tinggi untuk mencapai dosis terapeutik. Gagal ginjal
akan menurunkan absorpsi dan menganggu kerja obat yang diberikan secara oral oleh karena
waktu pengosongan lambung yang memanjang, perubahan PH lambung, berkurangnya absorpsi
usus dan gangguan metabolisme di hati. Untuk mengatasi hal ini dapat dilakukan berbagai
upaya antara lain dengan mengganti cara pemberian, memberikan obat yang merangsang
motilitas lambung dan menghindari pemberian bersama dengan obat yang menggangu absorpsi
dan motilitas.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemberian obat pada kelainan fungsi ginjal adalah:
- penyesuaian dosis obat agar tidak terjadi akumulasi dan intoksikasi obat
18
- pemakaian obat yang bersifat nefrotoksik seperti aminoglikosida, Amphotericine B,
Siklosporin.

Bentuk dan dosis obat yang tepat untuk diberikan kepada pasien ISK dengan kelainan
fungsi ginjal
Pada pasien ISK yang terinfeksi bakteri gram negatif Escherichia coli dengan kelainan
fungsi ginjal adalah dengan mencari antibiotik yang tidak dimetabolisme di ginjal. Beberapa
jurnal dan text book dikatakan penggunaan Trimethoprim + Sulfamethoxazole (TMP-
SMX) mempunyai resiko yang paling kecil dalam hal gangguan fungsi ginjal. Hanya saja
penggunaanya memerlukan dosis yang lebih kecil dan waktu yang lebih lama. (9)
Pada ekskresi obat perlu diperhatikan fungsi ginjal, yang diikuti dengan penurunan Laju Filtrasi
Glomerulus (LFG), terutama obat yang diberi dengan jangka panjang harus selalu
memperhitungkan fungsi ginjal pasien. Secara praktis dapat diukur dengan creatine
clearance test. (1) LFG sangat berguna untuk menilai fungsi ginjal karena kreatinin merupakan
zat yang secara prima difiltrasi dengan jumlah yang cuma sedikit akan tetap bervariasi terhadap
bahan yang disekresi. (1)
Trimethoprim + Sulfamethoxazole (TMP-SMX) :
Dosis yang diberikan pada pasien ISK dengan kelainan fungsi ginjal haruslah lebih rendah.
Pada pasien dengan creatine clearance 15 hingga 30 ml/menit, dosis yang diberikan adalah
setengah dari dosis Trimethoprim 80 mg + Sulfamethoxazole 400 mg yang diberikan tiap 12
jam. (9) Cara pemberiannya dapat dilakukan secara oral maupun intravena. (7,9)
Penghitungan creatine clearance: TKK = (140 – umur) x berat badan
72 x kreatinin serum

BAB III
PENUTUP
1. Simpulan
Dari pemaparan di atas maka dapat disimpulkan bahwa :
a) Desinfektansia merupakan zat-zat kimiawi yang digunkan untuk mengurangi
jumlah mikroorganisme di berbagai macam permukaan jaringan hidup atau benda
mati dengan jalan mematikan atau menghentikan pertumbuhan hama pathogen
yang terdapat padanya.

19
b) Efektivitas disinfektan dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya: konsentrasi
aman, waktu kontak: 20 – 30 menit, tanggal kadaluwarsa, karakteristik m.o, dan
pH.
c) Jenis jenis dari desinfektan adalah klor, formaldehid, kalium permanganate, fenol,
ammonium kuwartener, alcohol, dan iodin.
d) Saluran kemih merupakan alur kolektif organ pembentuk, pengumpul,dan
pengosongan urin, yaitu ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra.
e) Dua jalur utama terjadinya ISK adalah hematogen dan ascending, tetapi dari
kedua cara ini ascendinglah yang paling sering terjadi

Daftar Pustaka

Kennedy ES. Pregnancy,Urinary Tract infections. http://www.eMedicine.com. last updated 8


August 2007. accesed 22 February 2008.

Jawetz E. Sulfonamid dan trimetoprim. In: Katzung BG (Ed): Farmakologi dasar dan
klinik. Jakarta, EGC.2002.

Stamm WE. An Epidemic of Urinary Tract Infections? N Engl J Med 2001; 345: 1055-1057.

Tjay, tan hoan, dan kirana rahardja. 2007. Obat-Obat Penting, Khasiat dan Penggunaanya
Edisi ke-6. Jakarta: PT. Elex Komputindo Gramedia.

20