Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH PENGAUDITAN 1

KELOMPOK 2
STANDAR PROFESIONAL AKUNTAN PUBLIK

NAMA KELOMPOK :
NIKEN ANUGRAHENI MUTIAH (14160174M)
SHANIA NURUL HUSNA (141601)
YULANDA NOVIA PUTRI (141601)

S1 AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
TAHUN 2018/2019
A. PERKEMBANGAN STANDAR PROFESIONAL AKUNTAN PUBLIK

Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) adalah kodifikasi berbagai pernyataan


standar teknis yang merupakan panduan dalam memberikan jasa bagi akuntan publik di
Indonesia. SPAP dikeluarkan oleh Dewan Standar Profesional Akuntan Publik Institut
Akuntan Publik Indonesia (DSPAP IAPI).Didalam SPAP terdapat beberapa tipe standar
profesional yang terbagi menjadi enam tipe standar profesional yang dikodifikasikan dalam
standar auditing, standar atestasi, standar jasa akuntansi dan review, standar jasa konsultasi,
standar pengendalian mutu, dan aturan etika kompartemen akuntan publik.\
Tahun 1972, pertama kalinya ikatan Akuntan Indonesia berhasil menerbitkan
NormaPemeriksaan Akuntan, yang disahkan dalam Kongres ke III Ikatan Akuntan Indonesia.
Norma Pemeriksaan Akuntan tersebut mencakup tanggung jawab akuntan publik, unsur-unsur
norma pemeriksaan akuntan yang antara lain meliputi: pengkajian dan penilaian pengendalian
intern, bahan pembuktian dan penjelasan informatif, serta pembahasan mengenai peristiwa
kemudian, laporan khusus dari berkas pemeriksaan. Pada Kongres IV Ikatan Akuntan
Indonesia tanggal 25-26 Oktober 1982, Komisi Norma Pemeriksaan Akuntan mengusulkan
agar segera dilakukan penyempurnaan atas buku Norma Pemeriksaan Akuntan yang lama, dan
melengkapinya dengan serangkaian suplemen yang merupakan penjabaran lebih lanjut norma
tersebut. Untuk melaksanakan tugas tersebut, telah dibentuk Komite Norma Pemeriksaan
Akuntan yang baru untuk periode kepengurusan 1982-1986, yang anggotanya berasal dari
unsur-unsur akuntan pendidik, akuntan publik dan akuntan pemerintah. Komite ini telah
menyelesaikan konsep Norma Pemeriksaan Akuntan yang disempurnakan pada tanggal 11
Maret 1984. Pada tanggal 19 April 1986, Norma Pemeriksaan Akuntan yang telah diteliti dan
disempurnakan oleh Tim Pengesahan, disahkan oleh Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia
sebagai norma pemeriksaan yang berlaku efektif selambat-lambatnya untuk penugasan
pemeriksaan atas laporan keuangan yang diterima setelah tanggal 31 Desember 1986. Tahun
1992, Ikatan Akuntan Indonesia menerbitkan Norma Pemeriksaan Akuntan, Edisi revisi yang
memasukkan suplemen No.1 sampai dengan No.12 dan interpretasi No.1 sampai dengan
Nomor.2. Dalam Kongres ke VII Ikatan Akuntan Indonesia tahun 1994, disahkan Standar
Profesional Akuntan Publik yang secara garis besar berisi:
1. Uraian mengenai standar profesional akuntan publik.
2. Berbagai pernyataan standar auditing yang telah diklasifikasikan.
3. Berbagai pernyataan standar atestasi yang telah diklasifikasikan.
4. Pernyataan jasa akuntansi dan review.
5. Pertengahan tahun 1999 Ikatan Akuntan Indonesia merubah nama Komite Norma
Pemeriksaan Akuntan menjadi Dewan Standar Profesional Akuntan Publik. Selama tahun 1999
Dewan melakukan perubahan atas Standar Profesional Akuntan Publik per 1 Agustus 1994 dan
menerbitkannya dalam buku yang diberi judul “Standar Profesional Akuntan Publik per 1
Januari 2001”.
Standar profesional akuntan publik per 1 januari 2001 terdiri atas limastandar, yaitu :
1. Pernyataan Standar Auditing ( PSA ) yang dilengkapi dengan Interpretasi Pernyataan
Standar Auditing ( IPSA )
2. Pernyataan Standar Atestasi ( PSAT ) yang dilengkapi dengan Interpretasi Pernyataan
Standar Atestasi ( IPSAT )
3. Pernyataan Standar Jasa Akuntansi dan Review ( PSAR ) yang dilengkapi dengan
Interpretasi Pernyataan Standar Jasa Akuntansi dan Review ( IPSAR )
4. Pernyataan Standar Jasa Konsultasi ( PSJK ) yang dilengkapi dengan Interpretasi
Pernyataan Standar Jasa Konsultasi ( IPSJK )
5. Pernyataan Standar Pengendalian Mutu ( PSPM ) yang dilengkapi dengan Interpretasi
Pernyataan Standar Pengendalian Mutu ( IPSM )

B. SEPULUH STANDAR AUDITING

Standar auditing yang telah ditetapkan dan disahkan oleh Institut


Akuntanpublic Indonesia terdiri atas Sepuluh Standar yang dikelompokan menjadi tiga
kelompok besar, yaitu :
a. Standar Umum
Audit harus dilaksanakan oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis
yang cukup sebagai auditor.
Dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan, independensidalam sikap mental harus
dipertahankan oleh auditor.
Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib menggunakan
kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama.
b. Standar Pekerjaan Lapangan
Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus disupervisi
dengan semestinya.
Pemahaman memadai atas pengendalian intern harus diperoleh unutk merencanakan audit dan
menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang akan dilakukan.
Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, permintaan
keterangan, dan konfirmasi sebagai dasar memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan
keungan yang diaudit.
c. Standar Pelaporan
Laporan auditor harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun sesuai
dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
Laporan auditor harus menunjukkan atau menyatakan, jika ada, ketidakkonsistenan penerapan
prinsip akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan periode berjalan dibandingkan dengan
penerapan prinsip akuntansi tersebut dalam periode sebelumnya.
Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan harus dipandang memadai, kecuali
dinyatakan lain dalam laporan auditor.
Laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendapat mengenai laporan keuangan secara
keseluruhan atau suatu asersi bahwa pernyataan demikian tidak dapat diberikan. Jika pendapat
secara keseluruhan tidak dapat diberikan, maka alasannya harus dinyatakan. Dalam hal nama
auditor dikaitkan dengan laporan keuangan, maka laporan auditor harus memuat petunjuk yang
jelas mengenai sifat pekerjaan audit yang dilaksanakan, jika ada, dan tingkat tanggung jawab
yang dipikul oleh auditor

PSA No. 01 ( SA Seksi 161 ) Mengatur hubungan standar auditing dengan standar
pengendalian mutu sebagai berikut :
01. Auditor independen Bertanggung jawab untuk memenuhi standar auditing yang
ditetapkan institute akuntan publik Indonesia dalam penugasan audit
02. Kantor akuntan publik juga harus mematuhi standar memenuhi standar auditing yang
ditetapkan institute akuntan publik Indonesia dalam penugasan audit
03. Standar auditing yang ditetapkan institute akuntan publik Indonesiaberkaitan dengan
pelaksanaan penugasan audit secara individual, standar pengendalian mutu berkaitan
dengan pelaksanaan praktik audit kantor akuntan public secara keseluruhan

C. PENJELASAN MASING MASING STANDAR AUDITING

Standar Umum
a. Standar Umum Pertama
Berbunyi “audit harus dilaksanakan oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian
pelatihan teknis yang cukup sebagai auditor”.
Standar umum pertama menegaskan bahwa betapa pun tingginya kemampuan
seseorang dalam bidang – bidang lain, termasuk dalam bidang bisnis dan keuangan, ia tidak
dapat memenuhi persyaratan yang dimaksudkan dalam standar auditing ini, jika tidak memiliki
pendidikan serta pengalaman memadai dalam bidang auditing.
b. Standar umum kedua
1. Berbunyi “ Dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi dalam
sikap mental harus dipertahankan oleh auditor.”
Hal – hal berikut ini dimuat dalam PSA No. 04 ( SA Seksi 220 ):
2. Standar ini harus mengharuskan auditor bersikap independen, artinya tidak mudah
dipengaruhi, karna ia melaksanakan pekerjaan untuk kepentingan umum, dengan demikian ia
tidak dibenarkan memihak kepentingan siapapun.
3. Kepercayaan masyarakat umum atas independensi sikap auditor independen sangat
penting bagi perkembangan profesi akuntan publik. Kepercayaan masyarakat akan menurun
jika terdapat bukti bahwa independensi sikap auditor ternayata berkurang.
4. Profesi akuntan publik telah menetapkan dalam kode etik profesi akuntan publik. Agar
anggota profesi menjaga dirinya dari kehilangan persepsi independensi dari masyarakat.
5. Bapepam-LK juga menetapkan persyaratan independensi bagi auditor yang melaporkan
informasi keuangan yang diserahkan kepada badan tersebut yang mungkin berbeda dengan
yang ditentukan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia.
6. Auditor harus mengelola praktiknya dalam semangat persepsi independensi dan aturan
yang ditetapkan untuk mencapai derajat independensi dalam melaksanakan pekerjaannya.
7. Untuk menekankan independensi auditor dari manajemen, penunjukan auditor di banyak
perusahaan dilaksanakan oleh dewan komisaris, Rapat Umum Pemegang Saham ( RUPS) atau
Komite Audit.
c. Standar Umum Ketiga
1. Berbunyi “ dalam pelaksanaan Audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib
menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama.”
Hal – hal berikut dimuat dalam PSA No. 04 ( SA Seksi 230 )
2. Standar ini menuntut auditor independen untuk merencanakan dan melaksanakan
pekerjaanya dengan menggunakan kemahiran profesionalnya secara cermat dan seksama.
3. Penggunaan kemahiran professional dengan cermat dan seksama menyangkut apa yang
dikerjakan auditor dan bagaimana kesempurnaan pekerjaanya tersebut.
4. Seorang auditor harus memiliki tingkat keterampilan yang umumnya dimiliki oleh
auditor pada umumnya dan harus menggunakan keterampilan tersebut dengan kecermatan dan
kesaksamaan yang wajar.
5. Para auditor harus ditugasi dan disupervisi sesuai dengan tingkat pengetahuan,
keterampilan, dan kemampuan sedimikian rupa sehingga mereka dapar mengevaluasi bukti
audit yang mereka periksa.
6. Auditor di tuntun untuk melaksanakan skeptisme professional. Sekptisme professional
adalah sikap yang mencangkup pikiran yang selalu mempertanyakan dan melakukan evaluasi
secara kritis bukti audit.
7. Pengumpulan dan penilaian bukti audit secara objektif menuntut auditor
mempertimbangkan kompetensi dan kecukupan bukti tersebut.
8. Auditor tidak menganggap bahwa manajemen tidak jujur, namun juga tidak menganggap
bahwa kejujuran menajemen tidak dipertanyakan lagi.
9. Penggunaan kemahiran professional dengan cermat dan seksama memungkinkan auditor
untuk memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material,
baik yang disebabkan oleh kekeliruan atau kecurangan.
10. Tujuan auditor independen adalah untuk memperoleh bukti kompeten yang cukup untuk
memberikan basis yang memadai baginya dalam merumuskan suatu pendapat.
11. Oleh karna karakteristik kecurangan terutama yang melibatkan penyembunyian dan
pemalsuan dokumentasi, audit yang direncanakan dan dilaksanakan semestinya mungkin tidak
dapat mendeteksi salah saji material.
12. Oleh karena pendapat auditor atas laporan keuangan didasarkan pada konsep pemerolehan
keyakinan memadai, auditor bukanlah penjamin dan laporannya tidak merupakan suatu
jaminan.
Standar Pekerjaan Lapangan
Standar pekerjaan lapangan berkaitan dengan pelaksanaan pemeriksaan akuntan di
lapangan ( audit field work ), mulai dari perencanaan audit dan supervisi, pemahaman dan
evaluasi pengendalian intern, pengumpulan bukti – bukti audit melalui compliance test,
substantive test, analytical review, sampai selesainya audit field work.
a. Standar Pekerjaan Lapangan Pertama
Berbunyi “pekerjaan harus direncanakan dengan sebaik baiknya dan jika digunakan
asisten harus di supervisi dengan semestinya,”
b. Standar Pekerjaan Lapangan Kedua
Berbunyi “ pemahaman memadai atas pengendalian intern harus diperoleh untuk
merancanakan audit dan menentukan sifat, saat dan lingkup pengujian yang dilakukan”.
c. Standar Pekerjaan Lapangan Ketiga
Berbunyi “ Bukti Audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi ,
pengamatan, pengajuan, pertanyaan, dan konfirmasi sebagai dasar memadai untuk
menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang di audit.”
Berikut ini dikutip beberapa hal mengenai asersi dari PSA No. 07 (SA Seksi 326):
Asersi (Assertions ) adalah pernyataan manajemen yang terkandung di dalam komponen
laporan keuangan. Pernyataan tersebut dapat bersifat implisit atau eksplisit serta dapat
diklasifikasikan berdasarkan penggolongan dasar sebagai berikut ini :
Keberadaan atau keterjadian ( existence or occurance )
Kelengkapan ( completense )
Hak dan Kewajiban ( right and obligation )
Penilian ( evaluation ) atau alokasi
Penyajian dan pengungkapan ( prensentation and disclosure )
Asersi tentang keberadaan atau keterjadian berhubungan dengan apakah asset atau utang
satuan usaha ada pada tanggal tertentu apakah transaksi yang dicatat telah terjadi selama
periode tertentu.
Asersi tentang kelengkapan berhubungan dengan apakah semua transaksi dan akun yang
seharusnya disajikan dalam laporan keuangan telah dicantumkan di dalamnya.
Asersi tentang hak dan kewajiban berhubungan dengan apakah aset merupakan hak
perusahaan dan utang merupakan kewajiban perusahaan pada tanggal tertentu
Asersi tentang penilaian atau alokasi berhubungan dengan apakah komponen – komponen
aset, kewajiban, pendapatan, dan biaya sudah dicantumkan dalam laporan keuangan pada
jumlah semestinya.
Di dalam memperoleh bukti audit yang mendukung asersi dalam laporan keuangan,
auditor independen merumuskan tujuan audit spesifik ditinjau dari sudut asersi tersebut
Auditor independen tidak perlu secara satu persatu menghubungkan tujuan audit dengan
prosedur audit.
Standar Pelaporan
Terdiri atas empat standar merupakan pedoman bagi auditor independen dalam
menyusun laporan auditnya.
a. Standar Pelaporan Pertama
1. Menyatakan “Laporan audit harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun
sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku umum di Indonesia”.
Menurut PSA No. 08 ( SA Seksi 410 ):
2. Istilah standar akuntansi yang berlaku umum di Indonesia yang digunakan dalam standar
pelaporan pertama dimaksudkan meliputi tidak hanya prinsip dan praktik akuntansi, tetapi juga
metode penerapannya. Standar pelaporan pertama tidak mengharuskan auditor untuk
menyatakan tentang fakta, namun standar tersebut mengharuskan auditor untuk menyatakan
suatu pendapat mengenai apakah laporan keuangan telah disajikan sesuai dengan standar
akuntansi tersebut.
3. Istilah “Standar akuntansi yang berlaku umum” adalah suatu istilah teknis akuntansi yang
mencangkup konvensi, aturan, dan prosedur yang diperlukan untuk membatasi praktik yang
berlaku secara umum di wilayah tertentu pada saat tertentu. Oleh karna itu, untuk laporan
keuangan yang akan didistribusikan kepada umum di Indonesia, harus disusun sesuai dengan
standar akuntansi yang berlaku secara umum di Indonesia.
b. Standar pelaporan kedua
1. Standar pelaporan kedua ( Disebut sebagai standar konsistensi ) Berbunyi “Laporan
auditor harus menunjukan, jika ada, ketidakonsistenan penerapan standar akuntansi dalam
penyusunan laporan keuangan periode berjalan dibandingkan dengan penerapan standar
akuntansi tersebut dalam periode sebelumnya”.
Menurut standar PSA No. 09 ( SA Seksi 420 )
2. Tujuan standar konsistensi adalah untuk memberikan jaminan bahwa jika daya banding
laporan keuangan diantara dua periode dipengaruhi secara material oleh perusahaan standar
akuntansi, auditor akan mengungkapkan perubahan tersebut dalam laporannya.
3. Penerapan semestinya standar konsistensi menurut auditor independen untuk memahami
hubungan antara konsistensi dengan daya banding laporan keuangan.
4. Perbandingan laporan keuangan suatu satuan usaha diantara beberapa periode dapat
dipengaruhi oleh:
Perubahan akuntansi
Kesalahan dalam laporan keuangan yang diterbitkan dalam periode sebelumnya
Perubahan penggolongan
Peristiwa atau transaksi yang sangat berbeda dengan yang dipertanggung jawabkan dalam
laporan keuangan yang disajikan dalam periode sebelumnya.
5. Perubahan dalam standar akuntansi yang mempunyai pengaruh material atas laporan
keuangan memerlukan penjelasan dalam laporan auditor independen dengan cara
menambahkan paragraf penjelasan ( yang disajikan setelah paragraf pendapat ).
c. Standar Laporan Ketiga
1. Berbunyi “ penunggkapan informatif dalam laporan keuangan harus dipandang, kecuali
dinyatakan lain dalam laporan auditor “
Menurut PSA No. 01 ( SA Seksi 431 )
2. Penyajian laporan keuangan sesuai dengan standar akuntansi mencangkup dimuatnya
pengungkapan informatif yang memadai atas hal – hal material. Hal – hal tersebut mencangkup
bentuk, susunan da nisi laporan keuangan serta catatan atas laporan keuangan.
3. Apabila manajemen menghilangkan dari laporan keuangan, informasi yang seharusnya
diungkapkan sesuai dengan standar akuntansi, termasuk catatan atas laporan keuangan, maka
auditor harus memberikan pendapat wajar dengan pengecualian atau pendapat tidak wajar
karena alas an tersebut dan harus memberikan informasi yang cukup dalam laporannya.
4. Di dalam mempertimbangkan cukup atau tidaknya pengunkapan dan dalam segala aspek
lain auditnya, auditor menggunakan informasi yang diterima dari kliennya atas dasar
kepercayaan yang diberikan oleh kliennya, bahwa auditor akan merahasiakan informasi
tersebut.
d. Standar pelaporan Keempat
Berbunyi “ laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendapat mengenai
laporan keuangan secara keseluruhan atau suatu asersi bahwa pernyataan demikian tidak
dapat diberiakan, jika pendapat secara keseluruhan tidak dapat diberikan, maka alasannya
harus dinyatakan.
Tujuan standar pelaporan keempat adalah untuk mencegah salah tafsir tentang tingkat
tanggung jawab yang dipikul oleh akuntan bila namanya dikaitkan dengan laporan keuangan.
1. Seorang akuntan dikaitkan dengan laporan keuangan jika ia mengizinkan namanya
dicantumkan dalam suatu laporan, dokumen, atau komunikasi tertulis yang berisi laporan
tersebut.
2. Akuntan dapat dikaitkan dengan laporan yang diaudit atau yang tidak diaudit.
D. KODE ETIK PROFESI AKUNTAN PUBLIK
Pernyataan kode etik profesi yang berlaku saat itu dapat dipakai sebagai interpretasi dan atau
aturan etika sampai dikeluarkannya aturan dan interpretasi baru untuk menggantikannya.
Prinsip etika profesi, yang merupakan landasan perilaku etika profesional, terdiri atas 8 prinsip
yaitu:
1. Tanggung Jawab Profesi
2. Kepentingan Umum
3. Integritas
4. Objektifitas
5. Kompetensi Dan Kehati hatian Profesional
6. Kerahasiaan
7. Perilaku Profesional
8. Standar Teknis

Aturan Etika Profesi Akuntan Publik


Keterterapan ( Aplicability )
Aturan etika ini harus diterapkan oleh anggota ikatan akuntan indonesia kompartemen akuntan
publik ( IAI – KAP ) dan staf profesioanl ( Baik Yang Anggota IAI – KAP Maupun Yang
Bukan Anggota IAI – KAP ( yang bekerja pada satu kantor akuntan publik (KAP))

Definisi/Pengertian
o Klien adalah pemberi kerja ( orang atau Badan ), yang memperkerjakan atau menugaskan
seseorang atau lebih anggota IAI – KAP atau anggota KAP tmepat anggota berkerja untuk
melaksanakan jasa profesional
o Laporan Keuangan adalah Suatu Penyajian data keuangan termasuk catatan yang
menyertainya, bila ada, yang dimaksudkan untuk mengkomunikasikan sumber daya ekonomi
( aset ) dan atau kewajiban suatu entitas pada saat tertentu atas perubahan atas aset dan atau
kewajiban selama satu periode tertentu sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku umum
atau basis akuntansi komprehensif selain standar akuntasi yang berlaku secara umum.
o Kantor Akuntan Publik ( KAP ) adalah suatu bentuk organisasi akuntan publik yang
memperoleh izin sesuai dengan peraturan perundang – undangan yang berusaha di bidang
pemberian jasa profesional dalam praktik akuntan publik
o Ikatan Akuntan Publik adalah wadah organisasi profesi akuntan indonesia yang diakuai
pemerintah
o Ikatan Akuntan Publik – Kompartemen Akuntan Publik ( IAI – KAP ) adalah wadah
organisasi para akuntan Indonesia yang menjalankan profesi sebagai akuntan publik atau
bekerja di kantor akuntan publik.
o Anggota Kantor Akuntan Publik ( anggota KAP ) adalah anggota IAI – KAP dan staf
profesional ( Baik yang anggota IAI – KAP maupun yang bukan anggota) yang berkerja pada
suatu KAP.
o Akuntan Publik adalah akuntan yang memiliki izin dari Menteri Keuangan atau pejabat yang
berwenang lainya untuk menjalankan praktik akuntan publik.
o Praktik Akuntan Publik adalah pemeberian jasa profesional kepada klien yang dilakukan oleh
anggota IAI – KAP yang dapat berupa jasa audit, jasa atestasi, jasa akuntansi dan review,
perpajakan, perencanaan keuangan perorangan, jasa pendukung litigasi, dan jasa lainnya yang
diatur dalam Standar Profesional Akuntan Publik.
Independensi, Integritas Dan Objektivitas
o Independensi
Dalam menjalankan tugasnya, anggota KAP harus selalu mempertahankan sikap mental
independen di dalam memberikan jasa profesional sebagaimana diatur dalam standar akuntan
publik yang ditetapkan oleh IAPI.
o Integritas dan Objektivitas
Anggota KAP harus mempertahankan integritas dan objektivitas, harus bebas dari benturan
kepentingan ( conflict of interest ) dan tidak boleh membiarkan faktor salah saji material
( material misstatement ) yang diketahuinya untuk mengalihkan ( mensubordinasikan )
pertimbanganya kepada pihak lain.
Standar Umum dan Standar Akuntansi
o Standar Umum
Anggota KAP harus mematuhi standar berikut ini beserta interpretasi yang terkait yang
dikeluarkan oleh badan pengatur standar yang ditetapkan IAPI :
a. Kompetensi Profesional. Anggota KAP hanya boleh melakukan pemberian jasa
profesional yang secara layak (reasonable) diharapkan dapat diselesaikan dengan
kompetensi profesional.
b. Kecermatan dan Keseksamaan Profesional. Anggota KAP wajib melakukan
pemberian jasa profesional dengan kecermatan dan keseksamaan profesional.
c. Perencanaan dan Supervisi. Anggota KAP wajib merencanakan dan
mensupervisi secara memadai setiap pelaksanaan pemberian jasa profesional.
d. Data Relevan Yang Memadai. Anggota KAP wajib memperoleh data yang
relevan yang memadai untuk menjadi dasar yang layak bagi simpulan atau
rekomendasi sehubungan dengan pelaksanaan jasa profesionalnya.
o Kepatuhan terhadap Standar
Anggota KAP yang melaksanakan penugasan jasa auditing, atestasi, review, kompliasi,
konsultasi manajemen, perpajakan, atau jasa profesional lainya wajib mematuhi standar yang
dikeluarkan oleh badan pengatur standar yang ditetapkan oleh IAPI.

o Standar Akuntansi
Anggota KAP tidak diperkenankan :
a. Menyatakan pendapat atau memberikan penegasan bahwa laporan keuangan atau data
keuangan lain suatu entitas disajikan dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum
b. Menyatakan bahwa ia tidak menemukan perlunya modifikasi material yang harus dilakukan
terhadap laporan atau data tersebut agar sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku
Tanggung Jawab Kepada Klien
o Informasi klien yang rahasia
Anggota KAP tidak diperkenankan mengungkapkan informasi klien yang rahasia, tanpa
persetujuan dari klien.
Ketentuan ini dimaksudkan untuk :
a. Membebaskan anggota KAP dari kewajiban profesionalnya sesuai dengan aturan etika
kepatuhan terhadap standar dan prinsip – prinsip akuntansi.
b. Mempengaruhi kewahiban anggota KAP dengan cara apa pun untuk mematuhi peraturan
perundang – undangan yang berlaku seperti panggilan resmi penyidikan pejabat pengusut atau
melarang kepatuhan anggota KAP terhadap ketentuan peraturan yang berlaku
c. Melarang review praktik profesional ( Review mutu ) seorang anggota sesuai dengan
kewenangan IAPI.
d. Menghalangi anggota dari pengajuan pengaduan keluhan atau pemberian komentar atas
penyidikan yang dilakukan oleh badan yang dibentuk IAPI – KAP dalam rangka penegakan
disiplin anggota.
o Fee Profesional
a. Besaran FEE
Besarnya fee anggota dapat bervariasi tergantung antara lain : risiko, penugasan, kompleksitas
jasa yang diberikan, tingkat keahlian yang diperlukan untuk melaksanakan jasa tersebut,
struktur biaya KAP yang bersangkutan dan pertimbangan profesional lainya.
b. Fee Kontinjen
Fee kontinjen adalah fee yang ditetapkan untuk pelaksanaan suatu jasa profesional tanpa
adanya fee yang akan dibebankan, kecuali ada temuan hasil tertentu dimana jumlah fee
tergantung pada temuan hasil tertentu tersebut.
Tanggung Jawab Kepada Rekan Seprofesi
o Tanggung jawab kepada Rekan seprofesi
Anggota wajib memelihara citra profesi, dengan tidak melakukan perkataan dan perbuatan
yang dapat merusak reputasi rekan seprofesi
o Komunikasi antar akuntan publik
Anggota wajib berkomunikasi tertulis dengan akuntan publik terdahulu bila akan mengadakan
perikatan ( engagement) audit menggantikan akuntan publik pendahulu atau untuk tahun buku
yang sama ditunjuk akuntan publik lain dengan jenis dan periode serta tujuan yang berlainan
o Perikatan atestasi
Akuntan publik tidak diperkenankan mengadakan perikatan atestasi yang jenis atestasi dan
periodenya sama dengan perikatan yang dilakukan oleh akuntan yang lebih dahulu ditnjuk
klien, kecuali apabila perikatan tersebut dilaksanakan untuk memenuhi ketentuan perundang –
undangan atau peraturan yang dibuat oleh badan yang berwenang.
Tanggung Jawab Dan Praktek Lain
o Perbuatan dan Perkataan yang Mendiskreditkan
Anggota tidak diperkenankan melakukan tindakan dan atau mengucapkan perkataan yang
mencemarkan profesi
o Iklan, Promosi, dan Kegiatan Pemasaran lainnya
Anggota dalam menjalankan praktik akuntan publik diperkenankan mencari klien melalui
pemasangan ilkan, melakukan promosi pemasaran dan kegiatan pemasaran sepanjang tidak
merendahkan citra profesi.
o Komisi dan Fee Referal
a. Komisi
Komisi adalah imbalan dalam bentuk uang atau barang atau bentuk lainya yang diberikan atau
diterima dari klien/pihak lain untuk memperoleh perikatan dari klien/pihak lain
b. Rujukan ( Fee Referal )
Rujukan ( Fee Referal ) Adalah Imbalan yang dibayarkan / diterima kepada /dari sesama
penyedia jasa profesional akuntan publik.
o Bentuk Organisasi dan KAP
Anggota hanya dapat berpraktik akuntan publik dalam bentuk organisasi yang diizinkan oleh
peraturan perundang – undangan yang berlaku dan atau yang tidak menyesatkan dan
merendahkan citra profesi.
Kode Etik Profesi Akuntan Publik
Sehubungan dengan perkembangan yang terjadi dalam tatanan global dan tuntutan
transparansi dan akuntabilitas yang lebih besar atas penyajian Laporan Keuangan, IAPI merasa
adanya suatu kebutuhan untuk melakukan percepatan atas proses pengembangan dan
pemutakhiran standar profesi yang ada melalui penyerapan Standar Profesi International.
Sebagai langkah awal IAPI telah menetapkan dan menerbitkan Kode Etik Profesi Akuntan
Publik, yang berlaku efektif tanggal 1 Januari 2010. Untuk Standar Profesional Akuntan
Publik, Dewan Standar Profesi sedang dalam proses “adoption” terhadap International Standar
on Auditing yang direncanakan akan selesai di tahun 2010, berlaku efektif 2011.
Kode Etik Profesi Akuntan Publik yang baru saja diterbitkan oleh IAPI menyebutkan
5 prinsip-prinsip dasar etika profesi, yaitu:
1. Prinsip Integritas
Prinsip integritas mewajibkan setiap praktisi untuk tegas, jujur, dan adil dalam hubungan
profesional dan hubungan bisnisnya.
Praktisi tidak boleh terkait dengan laporan, komunikais atau informasi lainnya yang
diyakininya terdapat :
a) Kesalahan material atau pernyataan yang menyesatkan;
b) Pernyataan atau informasi yang diberikan secara tidak hati-hati; atau
c) Penghilangan atau penyembunyian yang dapat menyesatkan atas informasi yang
seharusnya diungkapkan.
2. Prinsip Objektivitas
Prinsip objektivitas mengharuskan praktisi untuk tidak membiarkan subjektivitas, benturan
kepentingan atau pengaruh yang tidak layak dari pihak-pihak lain memengaruhi pertimbangan
profesional atau pertimbangan bisnisnya. Praktisi mungkin dihadapkan pada situasi yang dapat
mengurangi objektivitasnya. Karena beragam situasi tersebut, tidak mungkin untuk
mendefinisikan setiap situasi tersebut. setiap praktisi harus menghindari setiap hubungan yang
bersifat subjektif atau yang dapat mengakibatkan pengaruh yang tidak layak terhadap
pertimbangan profesionalnya.
3. Prinsip Kompetensi serta Sikap Kecermatan dan Kehati-hatian Profesional
Prinsip kompetensi serta sikap kecermatan dan kehati-hatian profesional mewajibkan setiap
praktisi untuk :
a) Memelihara pengetahuan dan keahlian profesional yang dibutuhkan untuk menjamin
pemberian jasa profesional yang kompeten kepada klien atau pemberi kerja; dan
b) Menggunakan kemahiran profesionalnya dengan saksama sesuai dengan standar profesi
dan kode etik profesi yang berlaku dalam memberikan jasa profesionalnya.
Pemberian jasa profesional yang kompeten membutuhkan pertimbangan yang cermat
dalam menerapkan pengetahuan dan keahlian profesional. Kompetensi profesional dapat
dibagi menjadi dua tahap yang terpisah sebagai berikut :
a) Pencapaian kompetensi profesional; dan
b) Pemeliharaan kompetensi profesional
Pemeliharaan kompetensi profesional membutuhkan kesadaran pemahaman yang
berkelanjutan terhdap perkembangan teknis profesi dan perkembangan bisnis yang relevan.
Pengembangan dan pendidikan profesional yang berkelanjutan sangat diperlukan untuk
meningkatkan dan memelihara kemampuan Praktisi agar dapat melaksanakan pekerjaannya
secara kompeten dalam lingkungan profesional.
Sikap kecermatan dan kehati-hatian profesional mengharuskan setiap praktisi untuk bersikap
dan bertindak secara hati-hati, menyeluruh dan tepat waktu sesuai dengan persyaratan
penugasan.
Setiap praktisi harus memastikan tersedianya pelatihan dan penyeliaan yang tepat bagi
mereka yang bekerja di bawah wewenangnya dalam kapasitas profesional.
Praktisi harus menjelaskan keterbatasan jasa profesional yang diberikan kepada klien, pemberi
kerja, atau pengguna jasa profesional lainnya untuk menghindari terjadinya kesalahtafsiran atas
pernyataan pendapat yang terkait dengan jasa profesional yang diberikan.
4. Prinsip Kerahasiaanan
Prinsip kerahasiaan mewajibkan setiap praktisi untuk tidak melakukan tindakan-tindakan
sebagai berikut :
a. Mengungkapkan informasi yang bersifat rahasia yang diperoleh dari hubungan
profesional dan hubungan bisnis kepada pihak di luar KAP atau jaringan KAP tempatnya
bekerja tanpat adanya wewenang khusus, kecuali jika terdapat kewajiban untuk
mengungkapkannya sesuai dengan ketentuan hukum atau peraturan lainnya yang berlaku; dan
b. Menggunakan informasi yang bersifat rahasian yang diperoleh dari hubungan profesional
dan hubungan bisnis untuk keuntungan pribadi atau pihak ketiga.
Setiap praktisi harus tetap menjaga prinsip kerahasiaan, termasuk dalam lingkungan
sosialnya. Setiap praktisi harus waspada terhadap kemungkinan pengungkapan yang tidak
disengaja, terutama dalam situasi yang melibatkan hubungan jangka panjang dengan rekan
bisnis maupun anggota keluarga langsung atau anggota keluarga dekatnya.
Setiap praktisi harus menjaga kerahasiaan informasi yang diungkapkan oleh calon klien
atau pemberi kerja harus mempertimbangkan pentingnya kerahasiaan informasi terjaga dalam
KAP atau jaringan KAP tempatnya bekerja.
Setiap praktisi harus menerapkan semua prosedur yang dianggap perlu untuk memastikan
terlaksananya prinsip kerahasiaan oleh mereka yang bekerja di bawah wewenangnya, serta
pihak lain yang memberkan saran dan bantuan profesionalnya.
Kebutuhan untuk mematuhi prinsip kerahasiaan terus berlanjut, bahkan setelah berakhirnya
hubungan antara praktisi dengan klien atau pemberi kerja. Ketika berpindah kerja atau
memperoleh klien baru, praktisi berhak untuk menggunakan pengalaman yang diperolehnya
sebelumnya. Namun demikian, praktisi tetap tidak boleh menggunakan atau mengungkapkan
setiap informasi yang bersifat rahasia yang diperoleh sebelumnya dari hubungan profesional
atau hubungan bisnis.
Situasi-situasi yang mungkin mengharuskan praktisi untuk mengungkapkan informasi yang
bersifat rahasia atau ketika pengungkapan tersebut dianggap tepat :
a. Pengungkapan yang diperbolehkan oleh hukum dan disetujui oleh klien atau pemberi
kerja;
b. Pengungkapan yang diharuskan oleh hukum, sebagai contoh :
(i) Pengungkapan dokumen atau bukti lainnya dalam sidang pengadilan; atau
(ii) Pengungkapan kepada otoritas publik yang tepat mengenai suatu pelanggaran hukum;
dan
c. Pengungkapan yang terkait dengan kewajiban profesional untuk mengungkapan, selama
tidak dilarang oleh ketentuan hukum :
(i) Dalam mematuhi pelaksanaan penelaahan mutu yang dilakukan oleh organisasi profesi
atau regulator;
(ii) Dalam menjawab pertanyaan atau investigasi yang dilakukan oleh organisasi profesi
atau regulator;
(iii) Dalam melindungi kepentingan profesional praktisi dalam sidang pengadilan; atau
(iv) Dalam mematuhi standar profesi dan kode etik profesi yang berlaku.
Dalam memutuskan untuk mengungkapkan informasi yang bersifat rahasia, setiap praktisi
harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :
a) Dirugikan tidaknya kepentingan semua pihak, termasuk pihak ketiga, jika klien atau
pemberi kerja mengizinkan pengungkapan informasi oleh praktisi;
b) Diketahui tidaknya dan didukung tidaknya semua informasi yang relevan. Ketika fakta
atau kesimpulan tidak didukung bukti, atau ketika informasi tidak lengkap, pertimbangan
profesional harus digunakan untuk menentukan jenis pengungkapan yang harus dilakukan; dan
c) Jenis komunikasi yang diharapkan dan pihak yang dituju. Setiap praktisi harus
memastikan tepat tidaknya pihak yang dituju dalam komunikasi tersebut.
5. Prinsip Perilaku Profesional
Prinsip perilaku profesional mewajibkan setiap praktisi untuk mematuhi setiap ketentuan
hukum dan peraturan yang berlaku, serta menghindari setiap tindakan yang dapat
mendiskreditkan profesi. Hal ini mencakup setiap tindakan yang dapat mengakibatkan
terciptanya kesimpulan yang negatif oleh pihak ketiga yang rasional dan memiliki pengetahuan
mengenai semua informasi yang relevan, yang dapat menurunkan reputasi profesi.
Dalam memasarkan dan mempromosikan diri dan pekerjaannya, setiap praktisi tidak boleh
merendahkan martabat profesi. Setiap praktisi harus bersikap jujur dan tidak boleh bersikap
atau melakukan tindakan :
a) Membuat pernyataan yang berlebihan mengenai jasa profesional yang dapat diberikan,
kualifikasi yang dimiliki atau pengalaman yang telah diperoleh
b) Membuat pernyataan yang merendahkan atau melakukan perbandingan yang tidak
didukung bukti terhadap hasil perkerjaan praktisi lain.